MAKALAH
DASAR-DASAR TEORI TINGKAT BUNGA
Oleh :
Mulkan Abdullah 20141221042
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis beserta teman-teman kelompok 6 dapat menyelesaikan makalah tentang “Dasar-Dasar Teori Tingkat Bunga ”.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen mata kuliah Ekonomi Moneter yaitu Dr. Siti Maro’ah, M.Pd.
Penulis mengharapkan makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang Eknomi Moneter.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan kelompok yang telah mendukung dan menjalin kerjasama yang baik sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari makalah ini terdapat banyak kekurangan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik. Kami mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Surabaya, 19 Oktober 2015
Daftar Isi
Kata Pengantar... i
Daftar Isi... ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah... 1
1.3 Tujuan... 1
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Dasar... 2
2.2 Fungsi Tingkat Bunga Dalam Perekonomian... 2
2.3 Kurva Berbagai Kesempatan Melakukan Investasi... 3
2.4 Pilihan Waktu... 4
2.5 Tingkat Bunga Sebagai “Harga” Uang... 7
2.6 Mengapa Ada Bunga ?... 7
2.7 Klasik : Loanable Funds... 7
2.8 Keynesian : Liquidity Preference... 8
2.9 Sintesis Klasik Dan Keynesian : Is Lm... 8
2.10 Tingkat Bunga Nominal... 9
2.11 Tingkat Bunga Riil...10
2.12 Teori Paritas Tingkat Bunga...10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
... 12
3,2 Saran
... 12
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dasar-dasar teori tingkat bunga adalah bagian dari ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi termasuk didalam kelompok ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial berhubungan dengan perbuatan atau tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. Perbuatan manusia itu mempunyai motivasi yang berbeda satu sama lain, meskipun mungkin perbuatannya itu sendiri sama. Dari sini timbul kesulitan yang pertama didalam ilmu sosial, yaitu bahwa jawaban atau pemecahan atas sesuatu masalah bersifat kemungkinan. Tidak eksak.jawaban atau pemecahan atas sesuatu masalah bersifat pilihan. Kebenarannya bersifat relatif, bukann kebenarannya mutlak. Dengan demikian ilmu ekonomi perusahaan juga teriak oleh ciri-ciri ilmu-ilmu sosial pada umumnya.
1.2 Rumusan Masalah
Dengan adanya pembahasan ini semoga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dibidang mata kuliah Moneter dan Perpajakan khususnya dalam bahasan ini yakni Dasar-Dasar Teori Tingkat Bunga. Yang dapat kita aplikasikan di kehidupan kita baik secara formal maupun secara informal yang dapat menambah dinamika ilmu pengetahuan kita.
1.3 Tujuan
Dalam hal ini tujuan yang dapat kita ambil dalam pembahsan ini adalah bagai mana kita dapat mengetahui apa yang padabahsan kita bahas pada ini mengenai. Dan bagai mana untuk memanfaatkannya dan mengaplikasikannya dalam berbagai keperluan yang mengenai hal demikian yang dapat menambah pemehamankita khususnya dalam ruang lungkup Dasar-Dasar Teori Tingkat
Bunga. Dengan hal demikian kita dapat mengembangkan secara luas apa yang
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dasar
Dalam perekonomian yang mendasarkan diri dalam mekanisme pasar, maka keputusan ekonomi didasarkan atas pertimbangan pasar. Artinya sistem ekonomi di atur melalui bekerjanya mekanisme pasar, yakni pasar untuk berbagai barang dan jasa yang berbeda-beda. Berapa banyaknya sesuatu barang akan di produsir, ditentukan oleh pasar, yakni permintaan akan barang tersebut. Misalnya, apabila masyarakat lebih menyukai kopi daripada the, maka mereka akan membeli kopi dan bukan the di toko. Toko tersebut kemudian akan membeli kopi dari para produsen, yang selanjutnya akan mendorong produsen ini memprodusir kopi lebih banyak dibandingkan dengan teh. Dalam contoh ini konsumen yang menentukan berapa banyak sesuatu barang di hasilkan.
Mekanisme ini berfungsi melalui apa yang di sebut dengan harga. Harga mempunyai fungsi alokasi faktor produksi kearah produksi barang-barang yang lebih disukai oleh masyarakat dari produksi barang yang tidak disukainya. Dengan menurutkan contoh diatas, ternyata produsen atau petani tidak begitu mudah mengubah produksi dari the kekopi. Oleh karena itu, produsen kopi akan meminta harga yang lebih tinggi dan apabila konsumen mau membayar tentu saja mereka akan dapat memperoleh kopi. Kenaikan harga ini dapat pula di pandang sebagai ongkos ganti penggunaan faktor produksi dari produksi teh ke kopi. Dalam kaitannya dengan tingkat harga, pertanyaan timbul ” apa peranan tingkat bunga” seperti halnya harga kopi dan teh di atas tingkat bunga tidak lain adalah harga yang terjadi di pasar uang dan modal. Jadi tingkat bunga juga mempunyai fungsi alokatip dalam perekonomian, khususnya dalam penggunaan uang atau modal.
2.2 Fungsi Tingkat Bunga Dalam Perekonomian
Dua masalah pokok yang harus dipecahkan oleh setiap sistem ekonomi adalah, pertama beberapa banyak faktor produksi yang harus digunakan atau dilokasikan untuk menghasilkan beberapa barang yang bebeda pada waktu atau saat yang bersamaan. Misalnya, kayu jati gelondongan itu dapat di buat untuk kayu gergajian, meja, kursi, almari atau pintu. Dalam sistem ekonomi pasar, alokasi penggunaan kayu gelondongan tersebutdi tentukan oleh harga meja, kursi, almari, pintu atau kayu gergaji. Kedua, adalah masalah alokasi penggunaan faktor produksi untuk menghasilkan barang yang akan digunakan sekarang atau dikemudian hari. Fungsi yang kedua adalah yang antara lain dilakukan oleh tingkat bunga, yakni alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang di pakai sekarang dan dikemudian hari.
menyisihkan sebagian dari hasil yang diperoleh sekarang untuk penggunaan di waktu yang akan datang. Seperti yang dilakukan di Rusia alokasi ini lebih banyak di tentukan oleh pemerintah. Tetapi pada sistem ekonomi pasar (seperti di Amerika Serikat), alokasi antara nanti dan sekarang adalah hasil interaksi keputusan masing-masing individu.
2.3 Kurva Berbagai Kesempatan Melakukan Investasi
Untuk mengetahui sifat masalah ekonomi diatas, akan lebh mudah di pahami apabila disajikan suatu contoh. Dengan contoh yang sederhana diharapkan prinsip-prinsip utama masalah alokasi antarwaktu (sekarang dengan nanti) dapat dengan mudah dijelaskan. Misalnya suatu masyarakat yang hidup di sekitar hutan kayu jati dan hanya ada satu jenis barang yang dihasilkan, yakni kayu gergajian. Apabila masyarakat tersebut makin banyak penebang kayu jati di hutan, tahun ini, maka makin sedikit kayu jati yang akan bisa ditebang tahun yang akan bisa ditebang tahun yang akan datang. Namun, banyaknya kayu jadi gergajian. Apabila masyarakat tersebut makin banyak menebang kayu jati di hutan, tahun ini, maka makin sedikit kayu jati yang akan bisa ditebang tahun yang akan datang. Namun, banyaknya kayu jadi gergajian yang dihasilkan sekarang dengan tahun yang akan datang tidak satu banding satu. Artinya kalau tahun ini menghasilkan 10 kayu gergajian lebih banyak tidak berarti tahun depan produksi kayu gergajian turun dengan 10 buah. Masalah yang dihadapi masyarakat tersebut adalah penentuan jumlah pohon yang ditebang tahun ini dan tahun depan. Dengan kata, masyarakat tersebut perlu menyelesaikan masalah alokasi alokasi antara jumlah produksi tahun ini dengan tahun depan.
Masalah alokasi tersebut dapat digambarkan dengan grafik sebagai berikut.
Gambar 9.1
Kurva kesempatan melakukan investasi
anggapan bahwa hubungan turunnya produksi tahun depan tidak satu banding satu.
Dari kurva ini dapat di simpulkan dangan tidak menebang tahun ini (dus menabung), berarti melakukan investasi pohon untuk produksi tahun depan. Masyarakat tersebut harus menentukan pilihannya, yakni titik mana dalam kurva tersebut. Ahli ekonomi sering menamakan fungsi alokatip ini sebagai pilihan waktu (time preference), yakni menyatakan pilihan mereka antara kosumsi (penggunaan) sekarang dengan waktu yang akan datang.
2.4 Pilihan Waktu
Ada beberapa cara untuk memecahkan masalah pilihan waktu ini, yakni melalui tradisi, keputusan pemerintah serta pilihan individu.
Yang dimaksud dengan cara tradisi adalah masyarakat itu melakukan pilihan atas dasar apa yang dipakai nenek moyangnya, tanpa adanya perubahan dan selalu berulang begitu seterusnya. Dengan cara ini maka masyarakat tersebut akan memilih, misalnya pada titik C, menebang secukupnya tahun ini guna memperoleh kayu gergajian sebanyak 10 buah tahun depan. Cara ini terus tetap di pertahankan dari tahun ke tahun tanpa perubahan.
Pilihan yang didasarkan atas keputusan pemerintah secara sederhana dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut. Seandainya perintah ini dapat diibaratkan sebagai seorang “raja” yang dapat menentukan berapa kayu gergajian yang dihasilkan tahun ini dan berapa tahun depan yang berlaku bagi sekelompok masyarakat. Bagaiman caranya si raja ini menentukan jumlah tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan suatu konsep apa yang di sebut dengan kurva indifference pilihan waktu dari si raja tersebut pesisi sama dengankurva indifference seorang konsumen seperti gambar berikut:
Gambar 9.2
Kurva indifference pilihan waktu
alat pemuas. Secara grafik dapat di tunjukan dengan titik singgung antara kurva indifference dengan kurva berbagai kesempatan investasi titik E pada gambar berikut:
Gambar 9.3
Fungsi alokasi dengan keputusan pemerintah
Pilihan individu didasarkan pada keputusan masing-masing individu dalam masyarakat mereka secara terpisah menentukan pilihan waktu, yang kadang-kadang tidak sama antara satu individu dengan individu yang lain. Bagaimana caranya mereka menentukan pilihan tersebut? Caranya cukup sederhana. Pertama, setiap individu mempunyai kurva indifference. Sekelompok individu (misalnya kelompok konsumen) mungkin mau menunda sebagian penggunaan barang sekarang untuk memperoleh barang lebih banyak di kemudian hari. Sebaliknya, kelompok yang lain (misalnya pengusaha),karena mereka mengharapkan dapat melakukan investasi dari penundaan penggunaan barang sekarang untuk memperoleh keuntungan di masa datang, biasanya mereka mau mengorbankan penggunaan barang dikemudian hari yang lebih banyak (15 buah kayu misalnya) untuk ditukarkan dengan pengunaan barang sekarang yang jumlahnya lebih sedikit (10 buah kayu). Dari dua kelompok individu ini karena kesukaan mereka tidak sama, bahkan bernalikan, maka timbulah semacam pasar (pinjam meminjam). Dari contoh diatas maka kelompok konsumen akan bersedia mengorbankan penggunaan barang sekarang sedang pengelompok usaha justru mau menggunakan penggunaan barang sekarang dan bersedia mengganti dengan jumlah lebih banyak dikemudian hari. Dari proses ini timbulah nilai tukar atau harga, yang dalam hal ini dapat di sebut tingkat bunga.
Gambar 9.4 Tingkat bunga
Garis lurus yang turun miring dari kiri atas kekanan bawah menggambarkan tingkat harga, yakni perbandingan nilai tukar antara jumlah barang yang dapatt di pakai sekarang dengan yang dapat dipaai kemudian har. Misalnya 10 buah gergajian yang dapat di pakai tahun ini dapat di tukar dengan 11 buah untuk tahun depan. Nilai tukar, yang juga menggambarkan tingkat harga, besarnya ditentukan oleh lereng garis tersebut. Makin datar berarti makin berarti makin banyak barang tahun depan yang bisa di peroleh dengan sejumlah tertentu barng tahun ini, jadi berarti tingkat bunganya makn tinggi. Sebaliknya, makin tegak garis itu,, berarti makin rendah/kecil tingkat bunganya. Dari gambar itu dapat pula diketahui adanya tindakan memberi pinjaman (lending) dan juga meminjam (borrowing). Gerakan dari atas ke bawah sepanjang garis itu menunjukkan adanya tindakan memberi pinjaman. Sebaliknya, gerakan dari bawah ke atas menujukakan adanya tindakan meminjam, karena menukarkan penggunaan barang kemudian hari (yang jumlahnya lebih banyak) dengan penggunaan barang sekarang (yang jumlahnya lebih sedikit).
Gambar 9.5 Alokasi waktu
Bagaimana individu X menyelesaikan masalah alokasi? Tanpa adanya pinjam meminjam, individu X akan memilih pada titik B sebab untuk kurva kesempatan investasi tertentu dia sudah mencapai kurva indifference yang tertinggi. Dengan adanya transaksi pinjam meminjam dengan individu Y, terbuka kesempatan yang lebih baik. Sekarang dia akan memilih produksi pada titik A dan meminjamkan, kelebihan produksinya (sebesar jarak A dan B) pada tingkat bunga yang berlaku di pasar. Dikemudian hari dia akan dapat menggunakan kayu gergajian yang lebih banyak yang ditunjukakan oleh titik C. pada titik C ini individu X posisinya menjadi lebih baik, yang di tunjukakn dengan kurva indifference yang lebih tinggi.
Sekarang penyelesaian individu Y dapat dijelaskan dengan cara yang sama dengan individu X di atas. Keduanya mempunyai kurva kesempatan investasi yang sama serta menghadapi nilai tukar/tingkat bunga yang sama pula. Bedanya terletak pada faktor subyektif, yang ditunjukan dengan perbedaan letak kurva indifferencenya. Tanpa adanya transaksi pinjam meminjam, individu Y akan berada pada titik D dengan penggunaan barang (kayu) dikemudian hari dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada sekarang. Dengan melakukan transaksi individu Y akan berproduksi pada titik A dan akan meminjam. Dengan meminjam ini posisinya menjadi lebih baik yang di tunjukan dengan titik E, yang berada pada kurva indifference yang lebih tinggi.
2.5 Tingkat Bunga Sebagai “Harga” Uang
Dalam Bab ini telah kita sebutkan suatu pengertian dari tingkat bunga, yaitu sebagai harga dari pengguna uang yang jangka waktu tertentu. Tingkat bunga sebesar 18% setahun berarti bahwa apa bila saya meminjam Rp. 100,00 sekarang maka setahun lagi kita harus mengembalikan Rp 118,00 yang terdiri dari Rp 100,00 (pokok) dan Rp 18,00 (bunga) kepada kreditur tersebut. (sebaliknya) apabila saya meminjamkan kepada seseorang Rp 100,00 dengan bunga 18% setahun, maka saya mengharapkan akan menerima setahun kemudian uang sebanyak Rp 118,00.
Pengertian tingkat bunga sebagai “harga” ini bisa juga dinyatakan sebagai harga yang harus dibayar apa bila terjadi “pertukaran” antara satu rupiah sekarang dengan satu rupiah yang akan datang (misanya satu tahun lagi) “pembelian” dari satu rupiah sekarang dan sekaligus juga “penjualan” dari satu rupiah sekarang dan sekaligus juga “pembelian” satu rupiah nanti, adalah orang yang meminjamkan (kredit). Debitur harus membayar kepada kreditur “harga” dari pertukaran tersebut, dan harga ini adalah bunga yang dibayar debitur (dan diterima kas kreditur)
2.6 Mengapa Ada Bunga ?
Kita perlu mengkaji lebih mendalam dan menayakan mengapa orang haru membayar suatu “bunga” untuk pengguna bunga ? atau denga kata lain perkataan, kita menayakan mengapa timbul suatu tingkat bunga yang positif (tidak nol) ? adakah yang mendasari yang mengharuskan timbulnya tingkat bunga yang positif tersebut ?
Ada dua jawaban untuk pertanyaan tersebut antara lain : Terkait dengan nasabah Klasik dan yang lain terkait dengan nasabah Keynesan. Dalam perkembangannya, kedua jawaban tersebut dipadukan menjadi suatu sintesa. Dan sintesa ini sekarang yang diterima oleh kebanyakan oleh ahli ekonmi sebagai jawaban utama pertanyaan tersebut di atas.
2.7 Klasik : Loanable Funds
Bunga adalah “harga”dari (penggunaan) Loanable Funds. Terjemahan
langsung dari istilah tersebut adalah dana yang sedia untuk dipinjamkan. Terjemahan lebih bebas kita gunakan istilah “dana investasi” sebab menurut teori klasik bunga adalah “harga” yang terjadi di pasar dan investasi.
Selanjutnya para “penabung” dan para “investor” ini bertemu di pasarLoanable
Funds. Dan dari proses tawar menawar antar mereka akhirnya akan dihasilkan
tingkat bunga kesepakatan (atau keseimbangan). Gambar 3.1 berikut mereka terjadinya tingkat bunga keseimbangan di pasar dan investasi Loanable
Mengapa kurva penawaran dan investasi (S) menaik dari kurva permintaan akan dana investasi (I) menurun ? teori Klasik mempunyai jawaban untuk ini sebagai berikut :
Untuk tabungan (penawaran) yang menarik apa bila tingkat bunga naik , jawabannya berdasarkan atas perilaku anggota yang sejalan dengan perilaku memaksimumkan kepuasan (utility) dalam teori permintaan konsumen. Anggapan bahwa Tuan B mempunyai aliaran pendapat sebesar Y1 dalam periode 1 dan
Y2 dalam periode 2, apabila pola konsumsinya mengikuti pola pendapatan
(artinya, dalam setiap periode.
2.8 Keynesian : Liquidity Preference
Dalam teori Keynes tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang. Menurut teori ini ada tiga motif (transaksi, berjaga-jaga, dan spekulasi. Tiga motif inilah yang merupakan sumber timbulnya “ permintaan akan uang” yang diberi nama liquidity preference. Nama ini memiliki makna tertentu, bahwa permintaan akan uang menurut Keynes berlandaskan pada konsepsi bahwa orna gpada umumnya menginginkan dirinya tetap liquid untuk memenuhi tiga motif tersebut. Memegang uang tunaituk penggunaaan uang. (atau “rupiah sekarang”) menjamin liquiditas orng tersebut.
Keingian untuk tetap liquid, inilah yang membuat orang bersedia membayar harga tertentu untuk penggunaan uang. Teori Keynes khususnya menekankan hubungan langsung antara kesediaan orang membayar harga uang terebut(tingkat bunga) denga unsure permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi . permintaan besar apabila tingkat bunga rendah, dan permintaan kecil apabila tingkat bunga tinggi. Untuk berspekulasi di pasar surat berharga orng perlu memegang uang tunai, dan karena kegiatan spekulasi tersebut bisa menghasilkan keuntungna maka orang bersedia membayar harga tertentu pemegangan uang tunai untuk tujuan tersebut. Kemungkinan keuntungna itu sendiri karena adanay ketidak pastian mengenai perkembangan tingkat bunga (harga obligasi) dimasa depan. Hanay dalam suasana ketidak pastian orang bias berspekulasi.
2.9 Sintesis Klasik Dan Keynesian : Is Lm
Mashab klasik menekankan bahwa bunga timbul karena uang adalah “produktif” dalam arti bahwa dengan dana ditangan seorng pengusaha bias menambah alat produksinya (modal) yang bias mengahasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, uang bias meningkatkan produktifitas, dan adanya kenaikan produktivitas inilah orang mau membayar bunga.
Sedangkan menurut mashab Keynesian , uang bias “produktif” dengan cara lain. Dengan uang tunai ditangan orang bias berspekulasi di pasar surat-surat berharga dengna kemungkinan memperoleh keuntungan. Dan karena adanya kemungkinan keuntungan ini orang mau membayar bunga.
digunakan untuk memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari pasar surat berharga.
Uang sebenarnya adalah dua-duanya yaitu sbagai aktiva liquid dan sekaligus sebagai dana investasi. Tingkat bugna adalah “harga uang” yang dihasilkan dari keseimbangan antara permintaan dan penawaran dana investasi (loanable founds). Tinkgat bunga adalah juga “harga uang” yang timbul dari keseimbangan antara permintaan dan penawaran uang sebagai aktiva liquid.
Menurut Sir John HicksTingkat bunga bisa dikatakan benar-benar merupakan tingkat bunga keseimbangna bagi suatu perekonomian apbila tingkat bunga tersebut memenuhi keseimbangna dipasar dana investasi (loanable founds) dan sekaligus keseimbangan dipasar uang (sebagai aktiva / asset liquid). Hick menyatakan bahwa tabungan tidak hanya ditentukan oleh tingkat bunga tetapi juga tingkat pendapatan (marginal propensity tosave.
Jadi , tingkat bunga keseimbangan sesungguhgnya, menurut sintesis Hicks adalah tingkat bunga yang meruppakan tingkat bunga keseimbangan dipasar investasi dan sekaligus merupakan tingkat keseimbangan pasar uang.
2.10 Tingkat Bunga Nominal
Tingkat bunga ini yang harus dibayar kepada debitur kepada kreditur disamping pengembalian pinjaman pokoknya pada saat jatuh tempo. Seperti yang telahh kita sebutkan diatas, tingkat bunga nominal ini sebenarnya adalah penjumlahan dari unsure-unsur tingkat bunga yaitu tingkat bunga (murni) / pure interst rate, premi resiko (risk premium), biaya transaksi (transaction costs) dan premi untuk infalsi yang diharapkan. perubahan pasar berubah apa bila unsure-unsur berubah. Yang perlu kita catat adalah bahwa masing-masing unsure oleh factor-faktor yang berbeda.
2.11 Tingkat Bunga Riil
Tingkat bunga rill adalah tingkat bunga nominal minus laju inflasi tang terjadi selama periode yang sama.
Dimana : R = tingkat bunga rill Ri = laju inflasi
Perhatikan bahwa Ri adalah symbol untuk laju inflasi yang benar-benar terjadi selama periode tersebut, sedangkan R*I adalah laju inflasi yang diharapkan terjadi
selama periode yang sama (dan laju inflasi yang diharapkan ini menambah tingkat bunga sebagai unsure “premi inflasi”. Kita bias mendevenisikan pula
R*I = R*n – R*I (3)
Atau dari persamaan (1) diatas :
R*r = R*m + R*p + Rt (4)
R*r adalah tingkat bunga riil yang diharapkan (extected real of interest)
Sedangkan Rr dalam persamaan (2) bbisa disebut tingkat bunga rill actual (actual
real rate of interest).
Selama laju inflasi yang diharapkan orang tidak persis terjadi. Rr ≠ R*r. hanya
apabila orang benar-benar melihat apa yang akan terjadi, atau apa bila laju inflasi yang diharapkan (R*i) kebetulan sama dengan inflasi yang benar-benar terjadi
(Ri), maka Rr =R*r. keadaan seperti ini hanya bisa terjadi “ dalam jangka
panjang”
Bagi kreditur maupun debitur tingkat bugna riil (yang diharapkan) adalah yang relevan dalam memutuskan apakah mereka akan mengadakan transaksi pinjam-meminjam atau tidak. Bagi kreditur, tingkat bunga riil merupakan imbalan riil bagi pengorbanannya untuk menyerahkan penggunaan uangnya untuk jangka waktu tertentu. Bagi debitur , tingkat bugna riil menrupakan beban riil atas penggunaan uang orang alin. Beban ini disebut “biaya(riil) dari capital “ atau (real) cost of capital bagi debitur tersebut(terutama apabila sidebitur adalah investor dibidang produksi barang-barang dan jasa
2.12 Teori Paritas Tingkat Bunga
Teori paritas tingkat bunga adalah salah satu teori yang penting mengenai penentu tingkat bunga system devisa bebas (yaitu, apabuila penduduk masing-masing negara memperjual belikan devisa ). Teori pada pokony amenyatakan bahwa :
Dalam system devisa bebas tingkat bunga dinegara satu akan cenderung sama dengan tingkat bunga dinegara lain, setelah ini diperhitungkan mengenai laju
depresiasi terhadap mata uang yang satu dengan negara yang lain.
atau secara aljabar
Rn ≈ Rf + E*
Dimana Rn = tingkat bunga (nominal) didalam negeri Rf = tingkat bunga nominal di luar negeri
E* = laju depresi mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing yang diperkirakan akan terjadi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Potensi output yang dapat dihasilkan tergantung pda tingkat teknologi dan banyaknya faktor produksi tenaga kerja. Makin tinggi tingkat teknologi dan makin tinggi jumlah serta kualitas tenaga kerja tingkat output potensial yang dapat dihasilkan juga makin besar. Artinya, tingkat full employment output dapat menjadi lebih besar. Keadan yang selalu full employment ini dapat tercapai melalui bekerjanya mekanisme pasar, yang oleh Adam Smith disebut dengan invisible hand.
Bila seseorang ingin bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan, dia tentu akan menurunkan upah yang dikehendakinya samapai ada pengusaha yang mau mempekerjakannya. Demikian pula apabila terdapat pengusaha yang tidak dapat menjual semua hasil produksinya, maka dia akan menurunkan harganya sampai terjual habis. Upah dan harga yang bebas berubah akan menjamin selalu terdapatnya keseimbanagn dalam pasar tenaga kerja dan pasar barang sebagai hasilsaling mempengaruhinya antara permintaan dan penawaran melalui prinsip laissez faire (bebas, tanpa ada campur tangan pemerintah)
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Boediono. 1985. Ekonomi Moneter Edisi 3. Yogyakarta:BPFE. Manulang. 1980. Ekonomi Moneter. Jakarta:Galia Indonesia. Nopirin. 1986. Ekonomi Moneter 1. Yogyakarta:BPFE.