• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA TRANSAKSI MARKETING DAN IKLAN (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ETIKA TRANSAKSI MARKETING DAN IKLAN (1)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ETIKA TRANSAKSI, MARKETING DAN IKLAN

Kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan syariah. Menurut PSAK 2007 , paradigma transaksi syariah dibagi dalam kategori :

1. Paradigma syariah 2. Asas transaksi syariah

3. Karakteristik transaksi syariah

1. Paradigma syariah

Transaksi syariah berlandaskan pada paradigma dasar bahwa alam semesta dicipta oleh Tuhan sebagai amanah (kepercayaan ilahi) dan sarana kebahagiaan hidup bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kesejahteraan hakiki secara material dan spiritual ( al-falah .

Paradigma dasar ini menekankan setiap aktivitas umat manusia memiliki akuntabilitas dan nilai illahiah yang menempatkan perangkat syariah dan akhlak sebagai parameter baik dan buruk, benar dan salahnya aktivitas usaha. Paradigma ini akan membentuk integritas yang membantu terbentuknya karakter tata kelola yang baik good governance dan disiplin pasar market discipline yang baik.

2. Asas transaksi syariah a. Ukhuwah

Prinsip persaudaraan ( ukhuwah) esensinya merupakan nilai universal yang menata interaksi sosial dan harmonisasi kepentingan para pihak untuk kemanfaatan secara umum dengan semangat saling tolong menolong. Transaksi syariah menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaat ( sharing economics ) sehingga seseorang tidak boleh mendapat keuntungan di atas kerugian orang lain. Ukhuwah dalam transaksi syariah berdasarkan prinsip saling mengenal (ta’aruf ), saling memahami (tafahum), saling menolong ( ta’awun), saling menjamin (takaful ), saling bersinergi dan beraliansi

(tahaluf). b. ‘adalah

Prinsip keadilan ( ‘adalah ) esensinya menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya.

(2)

Prinsip kemaslahatan (mashlahah) esensinya merupakan segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif. Kemaslahatan yang diakui harusmemenuhi dua unsur yakni kepatuhan syariah (halal) sertabermanfaat dan membawa kebaikan ( thayib ) dalam semua aspek secara keseluruhan yang tidak menimbulkan kemudharatan.

d. Tawazun

Prinsip keseimbangan (tawazun) esensinya meliputi keseimbangan aspek material dan spiritual, aspek privat dan publik, sektor keuangan dan sektor riil, bisnis dan sosial, dan

keseimbangan aspek pemanfaatan dan pelestarian. Transaksi syariah tidak hanya menekankan pada maksimalisasi keuntungan perusahaan semata untuk kepentingan pemilik(shareholder). Sehingga manfaat yang didapatkan tidak hanya difokuskan pada pemegang saham, akan tetapi pada semua pihak yang dapat merasakan manfaat adanya suatu kegiatan ekonomi.

e. Syumuliyah

Prinsip universalisme (syumuliyah) esensinya dapat dilakukan oleh, dengan, dan untuk semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan, sesuai dengan semangat kerahmatan semesta (rahmatan lil alamin).

3. Karakteristik transaksi syariah

Hal-hal yang dilarang dalam transaksi syariah :

1. Haram baik dalam barang maupun jasa serta aktivitas operasionalnya 2. Riba dalam segala bentuk

3. Zalim, jika transaksi mengandung unsur yang merugikan orang lain dan lingkungan

4. Maysir, berarti mengandung judi atau spekulatif 5. Gharar mengandung unsur ketidakjelasan Beberapa bentuk gharar antara lain :

 tidak adanya kepastian penjual untuk menyerahkan obyek akad pada waktu

terjadi akad, baik obyek akad itu sudah ada maupun belum ada;  menjual sesuatu yang belum berada di bawah penguasaan penjual;  tidak adanya kepastian kriteria kualitas dan kuantitas barang/jasa;

 tidak adanya kepastian jumlah harga yang harus dibayar dan alat pembayaran;  tidak adanya ketegasan jenis dan obyek akad;

 kondisi obyek akad tidak dapat dijamin kesesuaiannya dengan yang ditentukan

(3)

 adanya unsur eksploitasi salah satu pihak karena informasi yang kurang atau

dimanipulasi dan ketidaktahuan atau ketidakpahaman yang ditransaksikan.

SIFAT TRANSAKSI SYARIAH

 transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling ridha;  prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik

(thayib);

 uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan

sebagai komoditas;

 tidak mengandung unsur riba;  tidak mengandung unsur kezaliman;  tidak mengandung unsur maysir;  tidak mengandung unsur gharar;  tidak mengandung unsur haram;

 tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time valueof money) karena

keuntungan yang didapat dalam kegiatan usaha terkait dengan risiko yang melekat pada kegiatan usaha tersebut sesuai dengan prinsip al-ghunmu bil ghurmi (no gain without accompanying risk);

 transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta

untuk keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain sehingga tidak diperkenankan menggunakan standar ganda harga untuk satu akad serta tidak menggunakan dua transaksi bersamaan yang berkaitan (ta’alluq) dalam satu akad;

 tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan ( najasy ), maupun

melalui rekayasa penawaran (ihtikar);

 dan tidak mengandung unsur kolusi dengan suap menyuap(risywah)

HUKUM SYARA’ BISNIS MLM

(4)

harus mempunyai jaringan; 5 orang di sebelah kanan, dan 5 orang di sebelah kiri, sehingga baru disebut satu level. Kemudian disambung dengan level -level berikutnya hingga sampai pada titik level tertentu ke bawah yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Masing -masing level tersebut kemudian mendapatkan bonus (komisi) sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh perusahaan yang bersangkutan. Meski perusahaan ini tidak menyebut dengan istilah multilevel marketing, namun diakui atau tidak, sejatinya praktek yang digunakan adalah praktek multilevel marketing.

Demikian halnya dengan praktek pebisnis yang lainnya dengan aturan dan mekanisme yang berbeda. Misalnya, dari atas ke bawah, tanpa ditentukan struktur horizontalnya, tetapi langsung dari atas ke bawah. Setelah itu, masing - masing level tadi mendapatkan bonus dari perusahaan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang dipatok oleh masing - masing perusahaan yang diikutinya. Untuk masuk dalam jaringan bisnis pemasaran seperti ini, biasanya setiap orang harus menjadi member (anggota jaringan) ada juga yang diistilahkan dengan sebutan distributor . kadangkala membership tersebut dilakukan dengan mengisi formulir membership dengan membayar sejumlah uang pendaftaran, disertai dengan pembelian produk tertentu agar member tersebut mempunyai point, dan kadang tanpa pembelian produk.

Dalam hal ini, perolehan point menjadi sangat penting , karena kadangkala suatu perusahaan multilevel marketing menjadikan point sebagai ukuran besar kecilnya bonus yang diperoleh. Point tersebut bisa dihitung berdasarkan pembelian langsung, atau tidak langsung. Pembelian langsung biasanya dilakukan oleh masi ng- masing member, sedangkan pembelian tidak langsung biasanya dilakukan oleh jaringan member tersebut.

Dari sini, kemudian ada istilah bonus jaringan. Karena dua kelebihan inilah, biasanya bisnis multilevel marketing ini diminati banyak kalangan. Ditambah dengan potongan harga yang tidak diberikan kepada orang yang tidak menjadi member. Namun, ada juga point yang menentukan bonus member ditentukan bukan oleh pembelian baik langsung maupun tidak, melainkan oleh referee (pemakelaran) sebagaimana istilah mereka yang dilakukan terhadap orang lain, agar orang tersebut menjadi member dan include di dalamnya pembelian produk. Dalan hal ini, satu member Gold Quest , misalnya, harus membangun formasi 5-5 untuk satu levelnya, dan cukup sekali pendaftaran diri menjadi member, maka member tersebut tetap berhak mendapatkan bonus. Tanpa dihitung lagi, berapa pembelian langsung maupun tak langsungnya.

(5)

membimbing down line -nya untuk mensponsori orang lain lagi dan membentuk jaringan. Sehingga orang yang menjadi up line akan mendapat bonus jaringan atau komisi kepemimpinan. Sekalipun tidak ditentukan formasi jaringan horizontal maupun vertikalnya.

Fakta Umum Multilevel Marketing

Dari paparan di atas, jelas menunjukkan bahwa multilevel marketing sebagai bisnis pemasaran tersebut adalah bisnis yang dibangun berdasarkan formasi jaringan tertentu; bisa top –down (atas - bawah) atau left- right (kiri-kanan), dengan kata lain, bisa berbentuk vertikal atau horizontal; atau perpaduan antara keduanya. Namun formasi seperti ini tidak akan hidup dan berjalan, jika tidak ada benefit (keuntungan) yang berupa bonus. Bentuknya, bisa berupa (1) potongan harga, (2) bonus pembelian langsung, (3) bonus jaringan istilah lainnya komisi kepemimpinan. Dari ketiga jenis bonus tersebut, jenis bonus ketigalah yang diterapkan di hampir semua bisnis multilevel marketing, baik yang secara langsung menamakan dirinya bisnis MLM ataupun tidak, seperti Gold Quest atau yang mengklaim sebagai MLM Syariah, seperti HPA al-Wahidah . Sementara bonus jaringan adalah bonus yang diberikan karena faktor jasa masing-masing member dalam membanguan formasi jaringannya. Dengan kata lain, bonus ini diberikan kepada member yang bersangkutan, karena telah berjasa menjualkan produk perusahaan secara tidak langsung. Meski, perusahaan tersebut tidak menyebutkan secara langsung dengan istilah referee (pemakelaran) seperti kasus Gold Quest, istilah lainnya sponsor, promotor namun pada dasarnya bonus jaringan seperti ini juga merupakan referee (pemakelaran)

Karena itu, posisi member dalam jaringan MLM ini, tidak lepas dari dua posisi: (1) pembeli langsung, (2) makelar. Disebut pembeli langsung manakala sebagai member, dia melakukan transaksi pembelian secara langsung, baik kepada perusahaan maupun melalui distributor atau pusat stockist

Disebut makelar, karena dia telah menjadi perantara melalui perekrutan yang telah dia lakukan

bagi orang lain untuk menjadi member dan membeli produk perusahaan tersebut. Inilah prakt ek yang terjadi dalam bisnis MLM yang menamakan multilevel marketing, maupun refereal business .

(6)

Padahal, bonus yang kedua merupakan bonus yang dihasilkan melalui proses pemakelaran, seperti yang telah dikemukakan di atas.

HUKUM SYARA’ SEPUTAR DUA AKAD DAN MAKELAR

Dari fakta-fakta umum yang telah dikemukakan di atas, bisa disimpulkan bahwa praktek multilevel marketing tersebut tidak bisa dilepaskan dari beberapa hukum di bawah ini , bisa salah satunya, atau semuanya sekaligus:

1. Hukum dua akad dalam satu transaksi, atau yang dikenal dengan istilah shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah . Akad pertama adalah akad jual-beli (bay’), sedangkan akad kedua akad samsarah(pemakelaran), atau akad dalal (mereferensi). 2. Hukum pemakelaran atas pemakelaran, atau samsarah ‘alasamsarah Up line atau TCO

atau apalah namanya, adalah simsar(makelar), baik bagi pemilik (malik) langsung, atau tidak, yang kemudian memakelari down line di bawahnya, dan selanjutnya down line di bawahnya menjadi makelar bagi down line di bawahnya lagi.

3. Hukum komisi dan bonus , baik bonus pembelian langsung, maupun tidak langsung yang lazim disebut bonus jaringan dan kepemimpinan;

4. Praktik ghabn fahisy (penipuan harga yang keji), yaitu dinaikannya harga berkali lipat dari harga pasar.

Dari batasan -batasan tentang makelar di atas, bisa disimpulkan, bahwa makelar itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (malik).Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain. Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah (mutawassith) atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; epentingan penjual (ba’i) dan pembeli (musytari ) . Jika dia menjadi penengah orang tengah (mutawassith al-mutawassith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah, sehinggagugurlah kedudukannya sebagai penengah (mutawassith), atau makelar ( simsar ) . Inilah fakta makelar ( samsarah ) dan member referensi ( dalal ) .

(7)

kebolehan tersebut harus tetap terikat dengan batasan yang telah dijelaskan di atas, yaitu sebagai orang tengah (mutawassith), atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; epentingan penjual (ba’i) dan pembeli (musytari). Jika tidak, maka hukum kebolehan samsarahtersebut tidak bisa diberlakukan, karena fakta hukum (manat)h hukumya berbeda.

HUKUM DUA AKAD DAN MAKELAR DALAM PRAKTEK MLM

Mengenai status MLM, maka dalam hal ini perlu diklasifikasikan berdasarkan fakta masing -masing. Dilihat dari aspek shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, maka bisa disimpulkan:

1. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, yang untuk itu orang yang akan menjadi member tersebut harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member apapun istilahnya, apakah membeli posisi ataupun yang lain disertai membeli produk. Pada waktu yang sama, dia menjadi referee (makelar) bagi perusahaan dengan cara merekrut orang, maka praktek MLM seperti ini, jelar termasuk dalam kategori hadits: shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah . Sebab, dalam hal ini, orang tersebut telah melakukan transaksi jual -beli dengan makelar secara bersama - sama dalam satu kesatuan akad. Praktek seperti ini jelas diharamkan ,sebagaimana hadits di atas.

2. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, tanpa harus membeli produk, meski untuk itu orang tersebut tetap harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member. Pada waktu yang sama membership (keanggotaan) tersebut mempunyai dampak diperolehnya bonus (point), baik dari pembelian yang dilakukannya di kemudian hari maupun dari jaringan di bawahnya, maka praktek ini juga termasuk dalam kategori shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah.Sebab, membership tersebut merupakan bentuk akad, yang mempunyai dampak tertentu. Dampaknya, ketika pada suatu hari dia membeli produk –meski pada saat mendaftar menjadi member tidak melakukan pembelian dia akan mendapatkan bonus langsung. Pada saat ang sama, ketentuan dalam membership tadi menetapkan bahwa orang tersebut berhak mendapatkan bonus, jika jaringan di bawahnya aktif, meski pada awalnya belum. Bahkan ia kan endapat bonus (point) karena ia telah mensponsori orang lain untuk menjadi member. Dengan emikian pada saat itu ia menandatangani dua akad yaitu akad membership dan akad samsarah (pemakelaran).

(8)

dalam jaringan MLM tersebut, umumnya lebih tinggi daripada harga pasar. Misalnya, produk tertentu di pasar dijual dengan harga Rp. 10,000 sementara di dalam jaringan bisnis MLM tersebut dijual dengan harga Rp. 20,000. Praktik seperti ini jelas masuk dalam kategori ghabn fahisy (manipulasi harga yang keji)

KESIMPULAN

Inilah fakta, dalil -dalil, pandangan ulama’ terhadap fakta dalil serta status tahqiq al -manathhukum MLM, dilihat dari aspek muamalahnya. Analisis ini berpijak kepada fakta aktivitasnya, bukan produk barangnya, yang dikembangkan dalam bisnis MLM secara umum. Jika hukum MLM dirumuskan dengan hanya melihat atau berpijak pada produknya apakah halal ataukah haram maka hal itu justru meninggalkan realita pokoknya, karena MLM adalah bentuk transaksi (akad) muamalah. Oleh karenanya hukum MLM harus dirumuskan dengan menganalisis keduanya, baik akad (transaksi) maupun produknya. Mengenai akad (transaksi) yang ada dalam MLM telah dijelaskan dalam paparan di atas. Adapun dari aspek produknya, memang ada yang halal dan haram. Meski demikian, jika produk yang halal tersebut diperoleh dengan cara yang tidak syar’i, maka akadnya batil dan kepemilikannya juga tidak sah. Sebab, kepemilikan itu merupakan izin yang diberikan oleh pembuat syariat (idzn asy-syari’) untuk memanfaatkan zat atau jasa tertentu. Izin syara’ dalam kasus ini diperoleh, jika akad tersebut dilakukan secara syar’i, baik dari aspek muamalahnya, maupun barangnya.

YANG DILARANG DALAM BISNIS ISLAMI 1. Prinsip islam tentang boleh tidaknya kegiatan

a. Prinsip dasarnya semua kegiatan muamalah diperbolehkan b. Hanya allah yang berhak melarang dan memperbolehkan sesuatu c. Melarang yang halal dan membiarkan yang haram adalah syirik d. Larangan atas sesuatu didasarkan pada sifat najis dan merusak e. Apa yang halal diperbolehkan dan yang haram dilarang f. Yang mendorong menuju haram adalah haram

g. Menganggap yang haram adalah halal dilarang

h. Niat yang baik tidak membuat yang haram menjadi halal i. Hal yang meragukan seharusnya dihindari

j. Yang haram terlarang bagi siapapun

k. Suatu keharusan menuntut perlunya kekecualian 2. Ketentuan fikih tentang haram

(9)

b. Jangan melakukan riba

c. Tidak melakukan jual beli saat khatib naik mimbar d. Tidak melakukan bisnis secara gharaar dan maysir e. Tidak berjudi

f. Tidak melakukan bisnis yang dilarang agama

g. Tidak melakukan kecurangan dalam berbagai bentuk h. Tidak melakukan pemborosan

3. Praktek bisnis yang diperbolehkan

Beberapa kegiatan ekonomi yang diperbolehkan antara lain : - Kegiatan perdagangan

- Kegiatan pertanian perkebunan - Peternakan/penggembalaan 4. Praktek bisnis yang diharamkan

Beberapa prakktek bisni yang dilarang dalam al quran antara lain : - Melaksanakan riba

- Mengambil hak dan harta orang secara batil - Kecurangan mengurangi timbangan

- Menipu atau mengurangi kualitas

- Memproduksi serta menjual barang haram yang merusak jiwa, badan dan masyarakat

- Melaksanakan dan membantu pelaksanaan yang dilarang seperti judi

- Berbisnis dengan ketidakpastian misal ijon, menjual barang yang tidak jelas - Melakukan berbagai bentuk penipuan

- Penimbunan barang

- Transaksi jual beli barang sebelum masuk pasar

- Monopoli, oligopoli, kartel, monopsoni yang merugikan - Persaingan tidak sehat

- KKN negatif

- Kegiatan pemborosan dan tidak efisien

- Hedonisme yang menimbulkan lupa mengingat tuhan - Spekulasi

5. Etika konsumsi

Pola konsumsi dalam islam harus menjamin agar konsumsi itu melahirkan serta dapat menciptakan jiwa yang sehat dan tenteram , badan dan tubuh yang sehat serta akhlak mulia, membahagiakan keluarga, menciptakan masyarakat sosial yang diridhai Allah swt.

6. Etika distribusi dan ritel

Beberapa etika yang dianjurkan dalam distribusi barang dan ritel : - Selalu dengan niat ibadah

- Memberikan informasi tentang barang secara jujur dan transparan

- Tidak mendistribusikan barang-barang yang membahayakan dan yang diharamkan - Metode distribusi bersifat amanah

- Tidak memakan harta secara batil - Tidak melakukan tindakan berbau riba

- Tidak mengurangi ukuran , standar, kualitas, timbangan secara curang - Harus tetap menjaga sifat adil dalam segala bentuk

- Melarang kegiatan monopoli

- Mempersiapkan diri menghadapi maut - Saling tolong menolong

(10)

- Melakukan kegiatan saling mewasiatkan kebenaran

- Tidak melakukan pameran barang yang menimbulkan salah persepsi - Membebaskan konsumen memilih barang sesuai keinginnanya - Memuat daftar komposisi dan isi barang

- Memberikan pelayanan purna jual yang jujur - Tidak melakukan praktek rakus riba

7. Etika pembeli

Referensi

Dokumen terkait

Ini bermakna, DTK bukan sahaja boleh digunakan untuk kepemilikan harta intelek menerusi pembelian lot pengiklanan digital dan karya NFT, tetapi boleh juga dijadikan

Tata letak fasilitas produksi pabrik tahu Srikandi juga memiliki kekurangan seperti pada penempatan ruang perendaman setelah ruang penggilingan yang tidak sesuai

Penelitian Fitri Rahayu (2006) tentang “ Analisis Pengaruh Sektor Pariwisata Terhadap Perekonomian Kota Bogor”. Memperlihatkan sektor pariwisata memiliki peran cukup penting

Adanya pemeraman dengan sari daun pepaya yang semakin meningkat dari T1 sampai T3 menyebabkan kandungan serat yang tidak dapat dicerna semakin tinggi yang kemudian berimbas

apabila seorang saudara atau saudari kedapatan telanjang dan mereka ke- kurangan makanan sehari-hari, 16 tetapi seseorang dari antara kamu berkata kepadanya, “Pergilah dengan

(3) Persyaratan untuk mendapatkan izin usaha Perusahaan Penilai Kerugian, Perusahaan Konsultan Aktuaria, dan Agen Asuransi yang berbentuk badan hukum, sebagaimana

Prosedur yang terdapat pada Sistem Pelayanan Prosedur Tambah Daya yang sedang berjalan adalah sebagai berikut:. Pelanggan memberikan ID pelanggan dan daya yang diminta kepada

(6) Apabila pagu jalur Perpindahan Tugas Orang tua tidak memenuhi ketentuan, maka sisa pagu jalur Perpindahan Tugas Orang tua akan digunakan bagi anak Guru yang