l. 1 Bahan berbahaya beracun B3.pdf

Teks penuh

(1)

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

1. Pendahuluaan

Sebagai dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang maka produksi, distribusi dan penggunaan bahan berbahaya semakin meningkat jumlahnya maupun jenisnya.

Penggunaan bahan berbahaya yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan penangananya dapat menimbulkan ancaman atau bahaya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Salah satu upaya untuk menghindarkan atau mengurangi resiko bahan berbahaya dilakukan melalui pemberian informasi yang benar tentang Bahan Berbahaya Beracun ( B3 ) dan cara penanganannya.

2. Dasar hukum

- Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja - Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tantang Kesehatan

- Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

- Peraturan pemerintah RI Nomor 74 tahun 2001 tantang Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun

- Peraturan Pemerintah RI Nomor 472/MENKES/PER/V/1996 tentang Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan

- Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

3. Pengertian

1. Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makluk hidup lainnya.

2. Pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan atau membuang B3.

(2)

mencegah dampak negatif B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makluk hidup lainnya. 4. Simbol B3 adalah gambar yang menunjukkan Klasifikasi

B3.

5. Label adalah uraian singkat yang menunjukkan antara lain klasifikasi dan jenis B3.

4. Klasifikasi B3

Yang termasuk klasifikasi bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang mempunyai sifat :

a. Mudah meledak (explosive) b. Pengoxidasi (oxidizing)

c. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) d. Sangat mudah menyala (highly flammable)

e. Mudah menyala (flammable)

f. Amat sangat beracun (extremely toxics) g. Sangat beracun (highly toxics)

h. Beracun (moderately toxics) i. Berbahaya (harmful)

j. Korosif (corrosive) k. Bersifat iritasi (irritant)

l. Bebbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) m. Karsinogenik (carcinogenic)

n. Teratogenik (teratogenic) o. Mutagenik (mutagenic)

5. Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya.

Faktor yang mendukung timbulnya situasi berbahaya/tingkat bahaya dipengaruhi oleh :

i. Daya racun

Dinyatakan dengan satuan LD50 atau LC50 dimana makin kuat nilai LD50 atau LC50 bahan berbahaya beracun/kimia menunjukkan makin tinggi daya racunya.

ii. Cara B3 masuk kedalam tubuh (route of entry) yaitu melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan dan penyerapan melalui kulit. Diantara yang sangat berbahaya adalah melalui saluran pernafasan karena tanpa disadari bahan kimia akan masuk ke dalam tubuh bersama udara yang dihirup yang diperkirakan sekitar 8,3 m2 selama 8 jam kerja dan sulit di keluarkan kembali dari tubuh.

(3)

terjadi apakah terus menerus atau terputus-putus menentukan jumlah dan dosis yang masuk ke dalam tubuh.

iv. Efek kombinasi B3

Yaitu paparan bermacam-macam B3 dengan sifat dan daya racun yang berbeda, menyulitkan tindakan tindakan pertolongan atau pengobatan.

v. Kerentanan calon korban paparan B3

Masing-masing individu mempunyai daya tahan yang berbeda-beda terhadap pengaruh B3. Semestinya individu terhadap pengaruh bahan kimia tergantung kepada umur, jenis kelamin, kondisi umum kesehatan dan lain-lain.

6. Pengaruh B3 terhadap kesehatan

i. menyebabkan iritasi yaitu terjadi luka bakar setempat akibat kontak bahan kimia dengan bagian-bagian tubuh tertentu seperti kulit, mata atau saluran pernafasan.

ii. Menimbulkan alergi, nampak sebagai bintik-bintik merah kecil atau gelembung berisi cairan atau gangguan pernafasan berupa batuk-batuk, nafas tersumbat dan nafas pendek.

iii. Menyebabkan sulit bernafas, seperti tercekik atau aspiksia karena kekurangan oksigen akibat diikat oleh gas inert seperti nitrogen dan karbondioksida.

iv. Menimbulkan keracunan sistemik, bahan kimia yang dapat mempengaruhi bagian-bagian tubuh, diantaranya merusak hati, ginjal, susunan syaraf dan lain-lain.

v. Menyebabkan kanker, akibat paparan jangka panjang bahan kimia, sehingga merangsang pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali dalam bentuk tumor ganas.

vi. Menyebabkan kerusakan/kelainan janin ditandai kelahiran dalam keadaan cacat atau kemandulan.

vii. Menyebabkan pneumokoniosis yaitu timbunan debu dalam paru-paru sehingga kemampuan paru-paru untuk menyerap oksigen menjadi kurang, akibatnya penderita mengalami nafas pendek.

viii. Menyebabkan efek bius (narkotik) yaitu bahan kimia, mengganggu sistem syaraf pusat menyebabkan orang tidak sadar, pingsan atau kematian.

7. MSDS dan label (disertai tanda tanda / poster)

a. MSDS (Material Safety Data Sheet (lembar data keselamatan bahan)) Lembar data keselamatan bahan-bahan secara garis besar harus memuat penjelasan-penjelasan antara lain :

(4)

nama produk atau kodenya, penggunaannya, klasifikasi dari bahan.

 Komposisi dan ciri-ciri fisik khusus dari bahan misalnya bentuk, warna, bau, titik didih, titik uap, pH, LEL.

 Informasi tentang bahaya bahan tersebut terhadap kesehatan.

 Tata cara penanggulangan bahaya dan prosedur penggunaan yang benar dari bahan.

 Tata cara penyimpanan bahan dan penggunaan yang aman dari bahan.

b. Label atau etiket

(5)
(6)

8. Prinsip pengendalian Bahan Berbahaya Beracun (B3)

1. identifikasi semua B3 dan instalasi yang akan ditangani untuk mengenal ciri-ciri dan karakteristiknya.

2. Evaluasi, untuk menentukan langkah-lagkah atau tindakan yang diperlukan sesuai sifat dan karakteristiknya dari bahan atau instalasi yang ditangani sekaligus memprediksi resiko yang mungkin terjadi apabila kecelakaan terjadi.

3. Pengendalian sebagai alternatif berdasarkan identifikasi dan evaluasi yang dilakukan meliputi :

b. pengendalian operasional seperti eliminasi, subsitusi, ventilasi, penggunaan alat pelindung diri yang sesuai dan menjaga hygiene perorangan.

c. Pengendalian organisasi administrasi, seperti pemasangan label, penyediaan lembar data kesehatan bahan (MSDS) pembuatan prosedur kerja, pengaturan tata ruang, pematauan rutin serta pendidikan dan latihan.

d. Inpeksi dan pemeliharaan sarana, prosedur dan proses kerja yang aman. e. Pembatasan keberadaan bahan kimia berbahaya ditempat kerja sesuai

dengan jumlah ambang batasnya.

9. Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat

Bila terjadi kecelakaan dan atau keadaan darurat yang diakibatkan Bahan Berbahaya dan beracun, maka setipa orang yang melakukan kegiatan pengolahan B3 wajib:

1. Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan.

2. Menginformasikan tentang adanya kecelakaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) kepada petugas tanggap darurat dengan mengaktifkan sistim tanggap darurat.

3. Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur tetap penanggulangan kecelakaan dan melakukan evakuasi bila diperlukan.

(7)

10.Ancaman Bahan Berbahaya dan Beracun

Adanya B3 di Rumah Sakit dapat menimbulkan bahaya bagi para penderita maupun para pekerjanya, baik bagi para dokter, perawat, teknisi dan semua yang berkaitan dengan pengelolaan rumah sakit maupun perawatan penderita. Walaupun orang menyadari arti bahan-bahan beracun dan bahayanya, kecelakaan bahan-bahan kimia (B3) terjadi semata-mata karena kurang hati-hati dan kurang peduli terhadap bahan-bahan (B3) tersebut. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan keracunan kronik akibat tumpahan-tumpahan,

kebocoran tempat penyimpanan dan ventilasi yang kurang baik. Bahan kimia yang mempunyai risiko mengakibatkan gangguan kesehatan antara lain adalah gas zat-zat anestetik (halothan, nitrous oxide, ethyl ether),

formaldehid, etilen oksida, mercuri. Karakteristik bahan kimia, risiko bahaya yang ditimbulkan, cara pengendaliannya serta ambang batas yang

diperkenankan dapat dilihat pada uraian berikut.

10.1.

GAS ANESTESI

10.1.1 HALOTAN

Nama lain/sinonim:

Alotano, Halothanum, Phthorothanum 2-Bromo-2-Chloro-1, 1, 1-Trifluroethane.

Nama Dagang:

Fluopan, Fluthane, Halovis, Rhodialotan, Somothane.

Pengantar

Halotan adalah zat anastetika yang diberikan melalui inhalasi mempunyai nilai konsentrasi alveolar minimum 0,75 % (MAC=Minimum Alveolar

Concentration). Tidak mudah terbakar dan tidak mudak meledak, bila

bercampur dengan oksigen pada tekanan atmosfir normal. Tidak menimbulkan nekrosis pada jaringan.

Menekan pengeluaraan air liur, lendir, bronchial, dan sekresi lambung serta dilatasi bronchiale.

Anestesi dipertahankan dengan konsentrasi 0,5-2 % V/V.

Menggigil dapat terjadi selama penyembuhan. Kegelisahan selama periode ini adalah indikasi terhadap analgesia post operative.Relaxasi otot yang cukup hanya dapat dicapai dengan anestesi yang dalam, sehingga relaxan otot diberikan untuk meningkatkan relaxasi otot.

Absorpsi dan ekskresi

(8)

fospolipida sel-sel otak. Koefisien partisi darah-gas rendah sampi dengan 80% halotan yang diberikan diekskresi tanpa diubah melalui paru, 20%

dimetabolisme oleh hati. Metabolik dalam urine berupa asam trifluoro asetat Garam bromide dan chloride berdifusi melalui plasenta.

Pengukuran

TWA (Time Weighted Averege Exposure Limit dalam ACGI

1986-1987):50ppm (400 mg/m3) selama 8 jam/hari kerja atau 40 jam/minggu kerja.

1.Efek kesehatan

Halotan menekan sistim kardiovaskuler dan menurunkan tekanan darah. Tanda-tanda over dosis adalah bradikardi dan hipotensi.

Dapat menimbulkan mual, muntah dan menggigil. Aritmia jantung dan depresi pernapasan dapat terjadi. Halotan meningkatkan sensifitas jantung pada

aktifitas beta-adrenergik. Dapat terjadi disfungsi hati, hepatitis, dan nekrosis lebih sering terjadi pada penggunaan berulang. Dilaporkan pula telah terjadi hiperpireksia maligna.

Penyalahgunaan

Dilaporkan 16 kasus penyalahgunaan anestetik modern. Halotan ditelan atau disuntikkan secara itravena untuk bunuh diri dan dihirup untuk meningkatkan

perasaan (mood). Dari 15 kasus penyalah gunaan halotan, 11 orang meninggal. 3 orang petugas

muda di rumah sakit meninggal, setelah menghirup halotan secara gelap. Dari pengujian postmortem memperlihatkan udem paru pada 3 korban dan kadar darah 0,36 %, 0,15 %, dan 0,5%. Kematian kemungkinan disebabkan oleh aritmia jantung. Kasus hepatitis terjadi pada 3 petugas Rumah sakit yang menghirup halotan secara gelap. Efek muncul

perlahan dan reversible pada 2 orang, sedangkan yang ketiga, yang menghisap halotan selama I tahun dan mengkonsumsi 1,25 liter sebulan sebelum

kematian mengalami aritmia jantung.

2. Alergi

Terjadi alergi terhadap halotan, timbul jerawat pada perawat di bagian anastetik.

Efek pada ginjal

- Adanya Kristal oksalat dalam urine

- Postoperatif gagal ginjal dengan peningkatan konsentrasi urea dan kreatinin darah

Efek pada hati

Kerusakan hati dianggap akibat efek samping halotan.

Pencegahan dan Penanggulangan :

- Halotan dapat menyebabkan hepatitis.

(9)

karena meningkatkan risiko perdarahan postpartum sehingga efek ergometri pada uterus berkurang.

- Bradikardi dan hipotensi dengan pemberiaan secara iv 200-300 mg atropine. Metoksamin diberikan pada hipotensi parah.

Hiperpireksia maligna diobati dengan pemberian dantrolen natrium.

10.1.2 NITROGEN OKSIDA

Nama lain/sinonim :

Azoto protossido, Dinitrogen monoxide, laughing gas, Nitrogen monoxide, Nitrogenii monoxidum, Nitrogeni Oksidum, Nitogenium Oksidulum, Oxide nitreux, Oxydum nitrosun, Protoxyde, Stick Oxidule.

Rumus Kimia : N2O

Nama Dagang : Entonox

Pengantar

Nitrogen oksida merupakan gas yang lebih berat dari udara, tak berwarna atau hampir tak berwarna; menyokong pembakaran. Dikemas dalam silinder logam bertekanan; seluruh silinder diberi warna biru; warna dan symbol kimia dari gas distensile pada cat, pada bahu silinder dan di cap secara jelas pada katup silinder.

Penyimpanan, silinder entonok (50% nitrogen oksida dan 50% oksigen) yang dikirim pada musim panas harus diletakkan pada posisi horizontal pada 5 derajat atau lebih selama paling sedikit 24 jam sebelum digunakan,

sebagaimana gas yang tidak mengandung jumlah oksigen yang cukup. Jika siliner telah dingin, dapat diletakkan pada posisi vertical. Nitrogen oksi adalah anastetika yang diberikan secara inhalasi; merupakan anastetika lemah dengan nilai konsentrasi alveolar minimum (MAC=Minimum Alveolar Concetration) 110%; bersifat analgesik kuat, tetapi menghasilkan sedikit relaksasi otot. Bila diberikan tanpa udara atau Nitrogen, Nitrogen oksida akan menghasilkan anesthesia yang dalam selama 1 menit, tetapi terjadi tanda-tanda hipoksia, karena itu dalam prakteknya prosedur ini tidak digunakan.

Induksi dapat dilakukan pada dosis 20 % oksigen dan dipertahankan sampai dosis 50%. Biasanya digunakan sebagai penyokong anastetika lain. Nitrogen oksida 59% dengan oksigen digunakan secara luas untuk analgesia terutama pada pembedahan. Campuran nitrogen dengan udara, sekarang jarang digunakan.

Absorpsi dan Ekskresi

Nitrogen oksida segera diabsopsi pada inhalasi, koefisien partisi darah/gas rendah dan umumnya nitrogen oksida segera dieliminasi melalui paru, meskipun sejumlah kecil terdifusi melalui kulit.

Pengukuran

(10)

Efek Kesehatan

Komplikasi utama yang menyertai penggunaan nitrogen oksida adalah bervariasi pada derajat hipoksia. Pemberian jangka panjang Nitrogen Oksida, menimbulkan anemia megaloblastik pada penderita dan neuropati perifer. Adanya risiko peningkatan tekanan dan volume rongga-rongga udara akibat difusi nitrogen oksida. Sebagai limbah gas, batas pemajanan yang dianjurkan oleh USA untuk nitrogen oksida adalah 25 ppm. Dampak lain terhadap kesehatan menurunkan fertilitas pekerja wanita.

Penyalahgunaan

Dari kuesioner kepada mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi memperlihatkan bahwa sampai 20% telah mengalami penyalahgunaan Nitrogen Oksida akibat keadaan social. Dari 524 responden hanya beberapa individu dilaporkan mengalami sianosis, mual dan sinkop. Dilaporkan pula adanya 2 penderita mengalami neuropati setelah penyalahgunaan Nitrogen Oksida.

Efek Pada Darah

Dilaporkan adanya perubahan hematologi akibat nitrogen oksida setelah pemajanan jangka panjang yang dapat menyebabkan perubahan seperti anemia megaloblastik dan leucopenia. Saat ini, diperkirakan bahwa nitrogen oksida mengoksidasi dan menghilangkan aktifitas vitamin B 12 (sebagai

metilkobalamin).

Pada studi prospektif pada penderita yang mengalami pembedahan by pass jantung, kedelapan penderita yang menerima campuran nitrogen Oksida 50% dan oksigen 50%, secara terus menerus selama 24 jam mengalami perubahan megaloblastik pada sumsum tulang dan adanya abnormalitas deoksinuri dan (indikasi adanya abnormalitas pada melabalsi (vitamin B 12). Dari 9 penderita yang sama yang menerima campuran oksigen Nitrogen Oksida dengan

oksigen selama operasi (5-12 jam), 3 orang mengalami eritropoesis megaloblastik sedang, dan 2 diantaranya serta 10 orang penderita lainnya, mengalami abnormalitas deoksi yuridin. Pemberiann hidroksicobalamin sebelum dan setelah operasi, pada seorang penderita pada kelompok pertama tidak mencegah timbulnya perubahan megaloblastik. Hal yang sama terjadi pada penderita sakit parah

yang menerima Nitogen Oksida, selama paling tidak 2 jam, mengalami perubahan megaloblastik.

Dilaporkan pula adanya hemopoisis megaloblastik pada seorang penderita yang menerima 50 % campuran nitrogen oksida per oksigen pada tahap pertama selama 15 sampai 20 menit, 3 kali sehari (dalam waktu pajanan 3 jam lebih selama 24 jam). Dan pada tahap II selama 20 menit, 2 kali sehari

(dengan waktu pajanan 9 jam lebih selama 14 hari).

Efek Pada suhu Tubuh

Anak perempuan 11 tahun, dimana ayahnya telah meninggal akibat hiperpireksia malignan, setelah anesthesia anak tersebut mengalami hiperpireksia malignan. Dengan pemberiaan obat-obat ;

diazepam,tiopenton,nitrogen oksid dan oksigen, suhu tubuh

(11)

Semula diperkirakan penyebabnya tiopenton, kemudian arak tersebut

diberikan anestetika dengan nitrogen oksida dan oksigen, ternyata menderita hoperpireksia. Akhirnya tiopenton diberikan secara bertahap.

Bahaya tehadap Penggunaan

Dilaporkan terjadi gejala neurologi parah pada 15 orang penderita ( 1 diantaranya dokter gigi), yang terpajan berat dalam jangka panjang terhadap nitrogen oksida dikaitkan dengan tugas kerja, pemberiaan sendiri, atau keduanya.

Gejala dini adalah biasanya baal atau kesemutan ditangan atau kaki. Gejala berikutnya meliputi perasat “lermitte” baal pada tubuh, gangguan

keseimbangan tubuh, tak mampu berjalan sendiri, impotensi, kerusakan sfingter, perubahan mental, disuria, gangguan rasa dan penciuman. 10 penderita telah berhenti bekerja. Gejala-gejala subakut disertai degenerasi sumsum tulang tulang belakang, dan diperkirakan menggangu kerja vitamin B12 pada sistim saraf. Pemberiaan kortikosteroid pada penderita tidak memberikan pengaruh. Dilaporkan adanya peningkatan keluhan neurologi pada dokter gigi yang bekerja dengan nitrogen oksida, gejalanya meliputi : baal, kesemutan, dan atau kelemahan otot.

Juga ditemukan adanya nitrogen oksida pada petugas film. Terjadinya pemajanan nitrogen oksida ditempat kerja, yang mengakibatkan penekanan aktifitas B 12, yang ditemukan pada perubahan dalam sumsum tulang pada kerusakan sintesis DNA (DEOXYRIBO NUCLEIC ACID). Pemajanan Nitrogen Oksida pada bidan di rumah sakit pada 3 dari 4 rumah sakit, rata-rata tidak lebih dari 100 ppm. Pada 1 rumah sakit rata-rata pemajanan 360 ppm, direduksi dengan faktor 2,5 ketika menggunakan “system cavenging trial”. Petugas rumah sakit dan bidan di laboratorium berisiko terpapar nitrogen oksida.

Pencegahan

Anestesia hipoksia berbahaya dan nitrogen oksida harus selalu diberikan dengan oksigen. Nitrogen Oksida berdifusi kedalam rongga-rongga tubuh dan perhatian khusus harus diberikan kepada penderita berisiko terhadap difusi dimana terjadi distensi abdominal, pneumothorax atau rongga tubuh yang sama seperti pericardium atau peritoneum.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada penderita selama atau setelah ensephalografi udara untuk anesthesia jangka panjang dengan nitrogen oksida, untuk mencegah difusi hipoksia dimana konsentrasi oksigen alveolar

dikurangi. Sebagai tambahan, campuran dengan bagian yang sama nitrogen oksida dengan oksigen tidak boleh diberikan pada penderita cedera kepala, gangguan kesedaran, kerusakan daerah pipi atau sakit dekompresi.

Tanda peringatan

(12)

10.2.

CAIRAN ANESTESI (ETHYL ETHER)

Nama lain : diethylether; ethoxyethane; ethyl oxide

Rumus Kimia : C2H5OC2H5

Pengertian

Ethyl ether di dapat dari ethyl alcohol dengan cara proses asam sulfat dan sebagai hasil sampingan dari produksi ethyl alcohol oleh hidrasi katalitik dari ethylene. Sebagai suatu anestetik inhalasi yang pertama kali, ethyl ether masih tetap digunakan secara intensif dengan penggunaannya saat ini.

Karateristik Kimia dan Fisik

Ethyl ether bersifat sangat mudah terbakar dan membentuk peroksida yang dapat meledak dengan adanya udara atau sinar matahari. Merupakan cairan yang tidak berwarna dengan bau yang khas.

Efek Kesehatan/Gejala Pemaparan

Efek fisiologis utama adalah anesthesia. Pemaparan berulang yang melampaui 400 ppm dapat menyebabkan iritasi hidung, nafsu makan hilang, sakit kepala, pusing, dan diikuti dengan rasa mengantuk. Kontak berulang terhadap kulit dapat menyebabakan kulit kering dan pecah-pecah. Gangguan mental akibat pemaparan jangka panjang yang terus menerus mungkin terjadi disamping timbulnya kerusakan ginjal.

Pengukuran dan Evaluasi

Peralatan sampling : gas sampler Perlatan analisis : gas chromatograph

Standar OSHA : 400 ppm atau 1.200 mg/m3 TWA STEL ACGIH : 500 ppm atau 1.500 mg/m3

Pengendalian

a. Secara Legislatif

Peraturan pelaksanaan dan pedoman penggunaan ether di rumah sakit terutama di ruang operasi dan ruang pemulihan dan keharusan menggunakan alat pelindung perorangan (masker)

b. Secara Administratif

Pengaturan dan pembagian tugas yang sesuai dengan kondisi kerja. Pekerja harus dalam kondisi sehat dan normal untuk mengurangi efek risiko

pemaparan.

c. Monitor konsentrasi gas diudara

Dengan melakukan sampling secara berkala, sistim ventilasi yang baik, ubsitusi bahan penggunaan alat pelindung perorangan (masker), dan pergunakan teknik kebocoran rendah (low leak technigue)

d. Dengan Pemeriksaan kesehatan

Pemeriksaan berkala atau pemeriksaan khusus bagi yang terjadi efek kesehatan

(13)

Semua petugas yang menangani atau berhubungan dengan ethyl ether harus mempunyai MSDS (Material Safety Data Sheet) sehingga dapat mempelajari bahaya-bahaya potensial, cara pencegahan dan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan.

Formaldehide atau formalin adalah bahan kimia yang sukar diawasi dan dipantau. Zat ini digunakan oleh rumah sakit di ruang otopsi, di laboratorium patologi bedah dan di bagian dialysis ginjal. Hasil studi dari Eropa

melaporkan bahwa konsentrasi yang bermakna dari formaldehid ditemukan dalam incubator yang digunakan untuk bayi premature.

Sejauh ini, efek toksik dan iritan dari formaldehid merupakan masalah utama dikalangan pekerja yang langsung terpapar terhadap zat tersebut. Data dari berbagai laboratorium dan studi epidemiologis menunjukkan bahwa formaldehid dapat menyebabkan kanker; sedangkan efek kesehatan lainya terhadap manusia masih belum pasti.

Karakteristik Kimia dan Fisika

Formaldehid murni adalah sangat larut air, gas yang tidak berwarna dengan bau yang menusuk dan merangsang. Biasanya dijual dalam bentuk larutan alcohol, formaldehid tetap bertahan baunya dan mampu mengiritasi mata dan selaput lender.

Efek kesehatan/Gejala Pemaparan.

Jalur masuk utama ke dalam tubuh manusia ialah melalui inhalasi dan absopsi kulit. Formaldehid bersifat iritan terhadap mata dan system saluran pernapasan atas. Kontroversi timbul tentang konsekuensi paparan jangka panjang dalam konsentrasi yang relative rendah. EPA menyimpulkan bahwa formaldehid mungkin dapat menimbulkan kanker (group B-2) berdasarkan studi

eksperimen dan studi epidemiologi manusia. Studi epidemiologi menunjukkan adanya peningkatan insiden dari tumor otak, leukemia, dan cirrhosis hati dikalangan para pekerja professional.

Studi laboratorium menunjukkan bahwa formaldehid dapat menyebabkan kanker hidung(nasal cancer) pada tikus dan tampak menyebabkan mutasi pada bacteria, yeast, lalat buah (Drosophila), mamalia dan sel manusia. Tidak ada bukti yang jelas tentang efeknya terhadap system reproduksi. Paparan akut terhadap formaldehid dapat menyebabkan terhadap keracunan dan mematikan pada konsentrasi diatas 100 ppm.

(14)

pneumonia, atau edema paru. Paparan pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan dermatitis, batuk-batuk dan penurunan kapasitas paru.

Gejala klasik dari pemaparan terhadap formaldehid konsentrasi rendah antara lain hidung berair, tenggorokan parau, sulit tidur, sakit kepala, kelelahan, kesulitan bernapas, iritasi sinus, sakit dada, mual dan bronchitis. Gejala-gejala dapat timbul pada konsentrasi sampai serendah 0,05 ppm, konsentrasi yang diusulkan untuk standar kualitas udara dalam ruang (indoor air quality standard).

Pada konsentrasi kurang dari 1,0 ppm, formalin sudah dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, hidung dan paru. Sebagai respon imunologik akan timbul asthma dan dermatitis. Serangan asthma biasanya timbul kemudian dan mencapai puncaknya setelah pekerja pulang ke rumah, yang dapat diartikan sebagai tidak ada hubungannya dengan pekerja (nonoccupational cause). Asthma mungkin dapat terjadi selama beberapa minggu setelah pemaparan dan sanitasi terhadap konsentrasi yang sangat rendah dapat berlangsung bertahun-tahun.

Percobaan dengan menggunakan hewan sebagai model menunjukkan formalin dapat mengakibatkan mutasi dan kanker (mutagenic and carcinogenic agent), menyebabkan perhatian terhadap paparan kronik terhadap konsentrasi yang sangat rendah pada

manusia. Walaupun studi epidemiologi tetap berlangsung, namun belum ada kajian yang pasti mengenai risiko terhadap manusia.

Ringkasan Efek Kesehatan :

- Kulit ; dermatitis kontak

- Saluran pernapasan; inflamasi saluran bagian atas,asthma,dan pneumonitis kimiawi.

- Asosiasi yang belum terbukti; potensial karsinogenik

(15)

Pengendalian

a. Secara Legislatif

Peraturan pelaksana dan pedoman penggunaan formalon di rumah sakit terutama di ruang otopsi, di laboratorium patologi anatomi dan bagian dialysis ginjal

Keharusan penggunaan alat pelindung perorangan (masker), sarung tangan, kaca mata pelindung)

b. Secara Administrasi

Pengaturan dan pembagian tugas yang sesuai dengan kondisi pekerja. Pekerja harus dalam kondisi sehat dan normal untuk mengurangi efek risiko

pemaparan. c. Secara teknis

Penataan ruang dan peralatan agar bisa menekan terjadinya pemaparan. Penurunan risiko terhadap bahaya pekerjaan dapat dilakukan dengan

melakukan sampling udara secara periodic, penggunaan “fume hood”. Dalam kegiatan tertentu sistem ventilasi yang baik, subsitusi bahan dan penggunaan alat pelindung perorangan (masker, kacamata pelindung, sarung tangan). Untuk keadaan darurat perlu disediakan “full-face respirator” bila terjadi tumpahan formalin yang dapat menyebabkan pemaparan dalam konsentrasi sangat tinggi.

d. Dengan Pemeriksaan Kesehatan

Pemeriksaan berkala atau pemeriksaan khusus bagi yang terjadi efek kesehatan

e. Dengan penyuluhan Kesehatan

Semua petugas yang menangani atau berhubungan dengan formalin harus mempunyai MSDS (Material Safety Data Sheet) sehingga dapat mempelajari bahaya-bahaya potensial, cara pencegahan dan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan.

10.4. MERKURI

Nama lain : Quicksilver

Rumus Kimia : Hg

Pengertian

Merkuri, logam cair berwarna putih-perak yang digunakan dalam

thermometer, adalah suatu neurotoksin yang paten, yang sapat menyebabakan kerusakan otak yang berat pada janin yang sedang berkembang dan tremor ringan serta gangguan keseimbangan emosi pada orang dewasa yang terpapar. Pemaparan terhadap merkuri dapat terjadi di bagian atau laboratorium

histology karena terjadinya tumpahan zat warana yang mengandung Hg, klinik gigi, peralatan biomedis, dan di “central supply”. Perhatian khusus ditujukan petugas wanita dalam usia reproduktif yang bekerja sebagai dokter gigi atau perawat gigi yang mungkin terpapar terhadap uap merkuri pada saat

(16)

Karakteristik kimia dan Fisik

Suatu elemen logam alamiah dan tergolong sebagai logam berat.

Merupakan satu-satunya metal dalam bentuk cair pada suhu ruang. Mercuri cair sangat mudah menguap dan akan dapat memenuhi ruangan dalam konsentrasi yang relative tinggi bila terjadi suatu kecelakaan (misalnya botol mercuri pecah dan tumpah dibagian laboratorium atau klinik gigi). Uap merkuri lebih berbahaya dibandingkan dengan bentuk cair karena dapat terhirup dan dengan mudah masuk aliran darah.

Selain mercuri (uap dan Larutan), senyawa mercuri dapat pula berbahaya. Senyawa inorganic tidak terlalu toksik, namun dengan mudah dapat diubah oleh bakteri ke dalam bentuk organic yang jauh lebih berbahaya, diantaranya yang paling dikenal adalah metilmerkuri.

Gejala pemaparan/Efek Kesehatan

Efek toksik merkuri tergantung bentuk kimianya. Uap merkuri yang terhirup terutama menyebabkan kerusakan pada system saraf.

Paparan ringan :

- Kehilangan daya ingat - Tremor

- Ketidak stabilan emosi (gelisah,mudah marah) - Insomnia

- Nafsu makan hilang/berkurang.

Paparan sedang :

- Gangguan mental dan motorik - Kerusakan ginjal

- Abortus spontan dan komlikasi kehamilan lainnya

Paparan berat :

- Gangguan mental berat

Pengukuran dan Evaluasi

Peralatan sampling : gas sampler

Peralatan analisa : Atomic Absorption Spectophotometer (AAS) Merkuri inorganic : NAB 0,1 mg/m3

Indeks pemaparan Biologis (ACGIH 1993-1994) :

- Total mercuri inorganic dalam urine (sebelum/shift kerja):35 ug/g kreatinin.

(17)

Pengendalian

a. Secara legislatif

Peraturan dan pedoman untuk penggunaan bahan/senyawa yang mengandung merkuri dan keharusan penggunaan alat pelindung perorangan.

b. Secara administratif

Pengaturan dan pembagian tugas yang sesuai dengan kondisi pekerja. c. Secara Teknis

Penataan ruang dan peralatan agar bisa menekan terjadinya pemaparan. Penurunan risiko terhadap bahaya pekerjaan dapat dilakukan dengan melakukan sampling udara secara berkala, system ventilasi yang baik, subsitusi bahan bila memungkinkan, penggunaan alat pelindung perorangan (masker, sarung tangan), dan melakukan perubahan jadwal pekerjaan. d. Dengan Pemeriksaan Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan berkala atau pemeriksaan khusus bagi yang terjadi efek kesehatan.

e. Dengan Penyuluhan kesehatan

Semua petugas yang menangani atau berhubungan dengan merkuri dan bahan-bahan yang mengandung merkuri harus mempunyai MSDS (Material Safety Data Sheet) untuk dipelajari sebagai bahaya potensial, cara

penanggulangannya serta tindakan yang harus dilakukan dalam keadaan darurat (misalnya kecelakaan tumpahan merkuri).

Pekerja yang bekerja dengan merkuri harus berhati-hati terhadap semua persyaratan dan peraturan serta harus segera membersihkan tumpahan merkuri. Pekerja wanita yang sedang hamil harus menghindari lingkungan kerja dimana merkuri digunakan.

10.5.

ETHYLENE OXIDE

Nama lain : Dimethylene oxide; 1,2 epoxy ethane; oxirane; EtO

Pengertian

Ethylene oksida adalah zat kimia penting yang digunakan sebagai fumigant dan zat untuk strerilisasi peralatan medik dan gigi. Ethylene oksida juga dapat diemisikan selama pembakaran bahan organic dan dari proses biologic

alamiah. Ethylene oksida digunakan untuk mensterilisasikan instrument yang tidak tahan atau akan rusak bila disterilisasi dengan system pemanasan.

Karakteristik kimia dan fisik.

 Merupakan gas yang tidak berwarna dan mudah terbakar pada temperature ruang

 Baunya seperti ether

 Paparan terhadap gas tersebut akan meninggalkan rasa yang aneh di mulut

(18)

Efek kesehatan / gejala pemaparan

Menghirup ethylene oksida dalam konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan depresi susunan saraf pusat, iritasi selaput lender dan saluran pernafasan,

muntah, kehilangan koordinasi, dan kejang. Pemaparan berulang pada dosis agak tinggi juga menyebabkan gejala yang sama. Kontak mata dan kulit terhadap larutan atau gas ethylene oksida dapat menyebabkan terbakar. Pemaparan berulang terhadap gas tersebut dapat menyebabkan katarak. Beberapa orang mengalami reaksi alergik terhadap zat tersebut.

Pada percobaan hewan ethylene oksida menyebabkan berbagai bentuk kanker. Bukti-bukti dari studi baik pada binatang maupun manusia menunjukkan bahwa ethylene oksida dapat menyebabkan leukemia, kanker lambung, tumor otak dan kemungkinan kanker payudara. Ethylene oksida juga dapat

menimbulkan kerusakan genetic pada beberapa percobaan, termasuk pada bakteri, binatang pengerat dan monyet. Jadi tampaknya dapat sebagai mutagen. Data terbatas yang ada pada manusia mendukung kesimpulan tersebut.

Ethylene oksida mungkin pula dapat mempengaruhi janin dalam kandungan. Zat tersebut menyebabkan kelainan bawaan pada tikus, mencit, dan kelinci pada dosis yang tidak menyebabkan efek sakit pada induknya. Paparan mungkin pula dapat meningkatkan risiko abortus spontan pada manusia.

Ringkasan efek kesehatan

 Kulit : dermatitis kontak dan alergika, luka bakar kimiawi

 Saluran pernafasan : asthma dan iritan

 Susunan saraf pusat : sakit kepala tidak spesifik, gangguan motorik dan sensoris

 Asosiasi yang belum terbukti: karsinogen, mutagen, reproductive toxin, efek hematologic

Pengukuran dan evaluasi

Peralatan sampling : gas sampler

Peralatan analisa : gas chromatography/spectophotometry Standar OSHA : 1 ppm TWA, 0,5 ppm action level Rekomendasi NIOSH : 0,1 ppm TWA,

0,5 ceilling (10 menit/hari kerja)

Pengendalian

a. Secara legislatif

Orang-orang yang bekerja di rumah sakit dan fasilitas perawatan lainnya yang menggunakan ethylene oksida untuk sterilisasi peralatan harus mencoba menghindari area dimana sterilisasi rutin digunakan. Operator dari alat tersebut harus selalu mematuhi peraturan dan prosedur pemakaian dan pelaksanaan sterilisasi, serta penggunaan alat pelindung perorangan. b. Secara administratif

Pengaturan dan pembagian tugas yang sesuai dengan kondisi pekerja. Kondisi pekerja harus sehat dan normal untuk mengurangi risiko efek pemaparan. c. Secara teknis

(19)

d. Dengan pemeriksaan kesehatan

Pemeriksaan berkala atau pemeriksaan khusus bagi yang terjadi efek kesehat

e. Dengan penyuluhan kesehatan

(20)

11.PROSEDUR PENGADAAN B3

1. Setiap jenis Bahan Berbahaya dan Beracun ( B3) yang akan diadakan, didistribusikan atau diedarkan harus terdaftar pada Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan di sertai tanda bukti pendaftaran.

2. Wajib menyertakan Lembar Data Keselamatan Bahan ( MSDS )

3. Diberikan Simbol dan Label

4. Setiap Bahan Berbahaya dan Beracun harus diberi wadah dan dikemas dengan

baik serta aman.

5. Pada wadah harus dicantumkan Penandaan :

- Nama sediaan / Nama dagang

- Nama Bahan Aktif

- Isi / Berat Netto

- Kalimat peringatan dan tanda atau simbol bahaya, petunjuk pertolongan pertama pada kecelakaan

- Penandaan ini harus mudah dilihat, dibaca, dimengerti, tidak mudah lepas dan luntur.

Figur

Gambar :

Gambar :

p.5

Referensi

Memperbarui...