Prinsip Dasar Investasi
Terdapat 3 bagian pembahasan mengenai pengenalan prinsip dasar investasi, yaitu: A. Investasi Secara Umum
B. Lima Pertimbangan dalam Berinvestasi C. Jenis-jenis Instrumen Investasi
A. Investasi Secara Umum
Pengertian investasi secara umum adalah: “Penanaman modal dalam jangka waktu tertentu (pendek/panjang) dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan “. Tidak ada seorang pun yang ingin menanamkan dananya untuk investasi kemudian merugi.
Ada 2 bentuk investasi:
1. Investasi pada Aktiva Riil; yaitu investasi dalam bentuk yang dapat dilihat secara fisik, seperti emas, intan, perak, real estate/rumah, tanah, ruko, logam mulia, dan Iain-lain.
2. Investasi pada Aktiva Finansial; yaitu investasi dalam bentuk yang biasanya diwakilkan dalam surat-surat berharga, seperti surat berharga, deposito, dan Iain-lain. Ada 2 cara dalam berinvestasi pada Aktiva Finansial:
1. Investasi Secara Langsung
Artinya: dengan memiliki surat berharga tersebut maka pemilik surat berharga tersebut dapat menentukan jalannya kebijaksanaan yang juga berpengaruh pada investasi surat berharga yang dimilikinya. Contoh: Saham.
2. Investasi Secara Tidak Langsung
Artinya: pengelolaan surat berharga tersebut diwakilkan oleh suatu badan atau lembaga yang mengolah investasi para pemegang surat berharganya untuk sedapat mungkin menghasilkan keuntungan yang memuaskan para pemegang surat berharganya. Contoh: Reksadana.
B. Lima Pertimbangan dalam Berinvestasi
Apa saja yang menjadi pertimbangan Anda sebelum melakukan investasi? Sebelum melakukan investasi, ada 5 pertimbangan yang harus kita ketahui, yaitu:
1. Tujuan Investasi
Tujuan investasi yang utama adalah bahwa setiap orang mengharapkan sesuatu, yang lebih layak di masa depan dari investasi yang dilakukannya, dengan kata lain
mengharapkan^untSgairTiari investasinya. Tujuan investasi yang kedua adalah untuk mengurangi tekanan inflasi.
Dari tahun 1980 hingga 2007 terjadi inflasi terhadap ekonomi, jika kita tidak
menginvestasikan uang/dana kita, maka nilai uang kita akan semakin kecil atau di masa depan tidak akan mendapatkan barang sebanyak yang bisa didapatkan dahulu atau saat ini. Oleh karena itu dalam melakukan investasi setiap orang berharap dan menginginkan hasil yang lebih baik dari inflasi yang tengah berjalan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada 2 tujuan utama dalam berinvestasi, yaitu: A. Mendapatkan keuntungan di masa depan
B. Mengantisipasi tekanan inflasi Contoh:
uang kita akan bertambah karena suku bunga, tetapi secara nilai atau daya beli uang, maka uang kita mengalami penurunan yang secara kasar adalah sekitar 3.5%. Oleh karena itu untuk mengantisipasinya kita harus melakukan investasi dengan tingkat suku bunga lebih dari 8.5% atau minimal sama dengan tingkat inflasi.
2. Jangka Waktu Investasi
Jika berbicara jangka waktu investasi, maka hanya ada 2 yaitu panjang dan pendek.
Jangka waktu investasi erat sekali hubungannya dengan tujuan investasi. Jika kita ingin mempersiapkan investasi untuk membeli mobil tahun depan, maka kita bisa berinvestasi pada instrumen investasi jangka pendek. Sedangkan jika ingin mempersiapkan pensiun maka kita dapat melakukan investasi pada instrumen investasi jangka panjang.
Jangka waktu investasi juga berhubungan erat sekali dengan risiko investasi. Jika kita ingin berinvestasi pada deposito (instrumen investasi jangka pendek), maka kita akan mendapatkan hasil yang pasti pada saat jatuh tempo dengan resiko yang relatif kecil, dan mendapatkan keuntungan yang juga kecil. Sedangkan jika kita ingin berinvestasi di saham (instrumen investasi jangka panjang) maka keuntungan atau kerugian bisa terjadi jika hanya melihat pada jangka waktu investasi yang relatif pendek. Sedangkan jika kita lakukan dalam jangka waktu investasi yang relatif panjang, maka hal ini dapat menekan fluktuasi yang muncul pada jangka pendek.
Berinvestasi dalam jangka pendek bisa menggunakan instrumen investasi seperti: Deposito atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI) karena kedua instrumen investasi ini dapat memberikan kepastian hasil investasi dalam jangka waktu yang relatif pendek (kurang dari 3 tahun) dengan hasil berupa bunga.
Sebaliknya jika mengharapkan hasil investasi yang lebih besar, maka bisa menggunakan instrumen investasi jangka panjang seperti: Saham atau Obligasi.
3. Risiko
“Apakah kita mengetahui besok Dollar akan naik atau turun, minggu depan Dollar akan naik atau turun, bulan depan Dollar akan naik atau turun?”
Artinya kita tidak mengetahui apakah kita akan untung atau rugi pada saat melakukan investasi. Kadang bisa rugi kadang bisa untung. Ini yang dimaksud dengan hubungan risiko dengan pendapatan tidak tetap, atau tidak dapat ditetapkan apakah akan memperoleh keuntungan atau akan merugi.
Jika ingin mendapatkan keuntungan yang besar harus siap dengan risiko yang besar pula, dan jika hanya ingin risiko yang kecil maka keuntungannya juga akan kecil. Konsep ini lebih dikenal dengan istilah high risk, high return dan low risk, low return.
4. Likuiditas
Aktiva finansial adalah aktiva yang lebih likuid dibandingkan dengan aktiva riil. Contoh: Sertifikat Deposito lebih mudah diuangkan dibandingkan dengan investasi properti. Mengapa demikian? Karena nilai aktiva finansial lebih mudah diukur sesuai dengan nilai yang tertera pada portofolio/surat berharga tersebut. Sedangkan nilai pada aktiva riil akan lebih sulit diukur karena orang akan menilai/melakukan penawaran terhadap aktiva riil yang dijual sehingga akan terjadi tawar menawar untuk menentukan nilai atau harga yang pantas.
5. Pajak
Kebijakan dalam melakukan investasi diatur oleh pemerintah termasuk dalam hal pajak. Hasil investasi akan dikenakan pajak bukan pada pokoknya melainkan pada hasil
investasinya. Besar pajak pada investasi di Indonesia kurang lebih berkisar 20%.
Melakukan perhitungan/melihat besar kecilnya pajak sebelum melakukan investasi adalah hal yang bijaksana. Artinya, “seorang investor sebaiknya memikirkan terlebih dahulu berapa besar keuntungan yang bisa didapat dari hasil investasinya dibandingkan dengan pajak yang akan dikenakan pada hasil investasinya tersebut. Perhitungan ini akan membantu para investor untuk dapat mengalokasikan dengan tepat instrumen investasi dan pilihan waktu investasi yang akan diambil sehingga ia dapat menentukan hasil investasi bersih setelah pajak.
C. Jenis-Jenis Investasi pada Aktiva Finansial
Pasar investasi secara garis besar dikatagorikan menjadi 2 bagian, yaitu: 1. Investasi di Pasar Uang
2. Investasi di Pasar Modal
Kedua jenis instrumen investasi tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Kesesuaian satu instrumen dibandingkan dengan instrumen yang lain kembali disesuaikan dengan 5 pertimbangan dasar dalam berinvestasi yang sudah dibahas sebelumnya.
Investasi di Pasar Uang
Instrument investasi yang ada di pasar uang bersifat jangka pendek dan memiliki risiko yang relatif rendah. Jenis-jenis instrumen investasi yang ada di pasar uang seperti: 1. Deposito
Karakteristik berinvestasi pada deposito yaitu: investor menanamkan dana dalam jangka waktu tertentu, biasanya dalam jangka pendek, dan memperoleh hasil investasi berupa bunga. Bunga atau hasil investasi pada instrumen ini biasanya kecil sesuai dengan risikonya.
Deposito terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: a) Deposito Berjangka
Investor menanamkan sejumlah dana dalam jangka waktu tertentu (jangka pendek), dan pada saat jatuh tempo akan menerima kembali dana yang diinvestasikan bersama dengan bunga/hasil investasinya. Jangka waktu pada instrumen ini biasanya tidak lebih dari 1 tahun, dan pada portofolio/surat berharga tersebut akan tertera besar dana yang diinvestasikan, jangka waktu, nama nasabah/investor, serta besar bunga yang akan didapat pada saat jatuh tempo.
b) Sertifikat Deposito
awal. Instrumen investasi ini mempunyai jangka waktu yang kurang lebih sama dengan Deposito Berjangka, yaitu di bawah 1 tahun. Pada portofolio/surat berharganya hanya tertulis besar dana yang diinvestasikan, jangka waktu, dan besar bunga. Nama
nasabah/investor tidak tertulis di sini, oleh karena itu instrumen investasi ini bisa diperjual belikan.
2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Sertifikat Bank Indonesia merupakan surat, pengakuan hutang dari Bank Indonesia. Bank Indonesia mengeluarkan portofolio/surat berharga yang sudah tertera nilai dari
portofolio/surat berharga tersebut, dengan jangka waktu tertentu, dan besar hasil
investasi yang dijanjikan pada saat jatuh tempo. Jika investor membeli surat berharga ini maka ia akan mendapatkan keuntungan berupa hasil investasi yang berbentuk bunga pada saat jatuh tempo. Bunga pada SBI biasanya berkisar 1% hingga 2% di atas rata-rata bunga bank umum. Tidak tercantum nama nasabah/investor dalam portofolio/surat berharga ini sehingga dapat diperjual belikan.
3. Surat Berharga (Commercial Paper)
Surat Berharga ini diterbitkan oleh perusahaan umum guna mendapatkan modal untuk pengembangan bisnis atau usahanya. Tidak ada jaminan spesifik dan pasti karena jika perusahaan tersebut pailit/bangkrut maka tidak ada jaminan yang pasti bagi para investornya. Penjualan Surat Berharga ini biasanya dilakukan melalui perantaraan bank umum. Serupa dengan Sertifikat Deposito atau Sertifikat Bank Indonesia, Surat Berharga ini tidak memuat nama nasabah/investor sehingga dapat diperjual belikan. Surat
Berharga ini kurang diminati oleh masyarakat umum karena memberikan hasil yang kecil tetapi memiliki risiko yang relatif besar.
Investasi di Pasar Modal
Instrumen investasi pada pasar modal biasanya memiliki risiko yang relatif besar, namun dapat memberikan hasil investasi yang besar. Investasi pada pasar modal sebaiknya dilakukan dalam jangka waktu yang panjang (lebih dari 5 tahun) sehingga dapat meredam fluktuasi kerugian investasi yang mungkin terjadi pada jangka pendek. Instrumen investasi pada pasar modal terbagi atas:
1. Obligasi
Instrumen investasi yang memberikan hasil investasi tetap berupa bunga atau yang lebih dikenal dengan nama Kupon pada instrumen investasi ini. Kupon adalah bunga yang didapat pada Obligasi dan besarnya sudah ditetapkan sejak awal, serta tidak dapat diubah hingga jatuh tempo. Walaupun pada saat tertentu nilai Obligasi tersebut
mengalami penurunan atau kenaikan, besarnya bunga atau kupon yang sudah dijanjikan di awal tidak akan berubah hingga saat jatuh tempo Obligasi berakhir.
Obligasi dikeluarkan dengan tujuan agar perusahaan yang mengerluarkan obligasi tersebut mendapatkan sejumlah dana untuk mengembangkan bisnisnya dengan menerbitkan dan menjual surat berharga tersebut dan memberikan janji berupa bunga (kupon) yang tetap sebagai kewajiban yang harus dibayarkan perusahaan hingga jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, perusahaan membeli kembali surat berharga tersebut sesuai dengan nilainya. Oleh karena itu Obligasi juga dikenal dengan Surat Hutang.
2. Saham
70% saham dari satu perusahaan, maka 70% aset perusahaan tersebut menjadi hak pemilik saham tersebut. Jika memiliki saham mayoritas pada suatu perusahaan, tentu saja pemilik saham mayoritas tersebut memiliki hak terbanyak untuk menentukan jalannya perusahaan, dan berhak mendapatkan hasil terbanyak sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya.
Dalam hal keuntungan, instrumen investasi ini bisa memberikan keuntungan yang relatif sangat besar, sekaligus memiliki risiko yang besar pula. Keuntungan pada saham disebut juga dengan Dividen. Selain itu, keuntungan pada saham juga bisa didapat dari selisih harga pada saat membeli dengan harga pada saat menjual, atau dikenal dengan istilah Capital Gain. Namun jika harga jual lebih murah dari harga belinya, maka akan terjadi kerugian, atau dikenal dengan istilah Capital Loss.
Instrumen Investasi Apakah yang Paling Tepat?
Untuk menentukan instrumen investasi mana atau komposisi aset seperti apa yang paling tepat bagi Anda, Anda harus memperhatikan dua pertanyaan berikut:
1) Apa tujuan investasi Anda?
2) Bagaimana tingkat toleransi Anda terhadap risiko?
Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito bank, serta instrumen pasar uang lainnya adalah instrument investasi yang relatif rendah risikonya, sehingga umumnya lebih tepat untuk kcbutuhan jangka pendek dan cocok bagi mereka yang tidak menyukai risiko dalam berinvestasi. Sementara, saham adalah instrument investasi dengan tingkat fluktuasi yang tinggi untuk jangka yang pendek. Karena itu, instrumen saham lebih sesuai bagi mereka yang siap menerima fluktuasi kinerja investasi yang berisiko lebih tinggi serta memiliki tujuan investasi jangka panjang. Investasi pada obligasi lebih sesuai bagi mereka yang memiliki tingkat toleransi menengah terhadap risiko atau yang ingin berinvestasi pada jangka menengah.
Namun mengapa memilih instrumen investasi yang berisiko tinggi jika terdapat
Pengertian Investasi menurut Fitzgeral, Investasi adalah suatu aktivitas yang berhubungan dengan usaha penarikan sumber-sumber (dana) yang dipakai untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang dan dengan barang modal akan dihasilkan aliran produk baru di masa yang akan datang. Dari definisi ini investasi dikonstruksikan sebagai sebuah kegiatan untuk :
1. Penarikan sumber dana yang digunakan untuk pembelian barang modal. 2. Barang modal itu akan dihasilkan produk baru.
Menurut Kamaruddin Ahmad, Pengertian Investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang atau dana tersebut. Pengertian investasi ini menekankan pada penempatan uang atau dana. Tujuan investasi ini adalah untuk memperoleh keuntungan. Hal ini erat kaitannya dengan penanaman investasi di bidang pasar modal.
Salim HS dan Budi Sutrisno mengemukakan pengertian investasi,Investasi ialah penanaman modal yang dilakukan oleh investor, baik investor asing maupun domestik dalam berbagai bidang usaha yang terbuka untuk investasi, yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan.
Pengertian Investasi dalam Ensiklopedia Indonesia, Investasi yaitu penanaman modal atau penanaman uang dalam proses produksi dengan membeli gedung-gedung, mesin-mesin, bahan-bahan cadangan, penyelenggaraan uang kas serta perkembangannya. Dalam hal ini cadangan modal barang diperbesar selama tidak ada modal barang yang harus diganti.
Hakikat investasi dalam definisi ini adalah penanaman modal yang dipergunakan untuk proses produksi. Dalam hal ini investasi yang ditanamkan hanya digunakan untuk proses produksi saja. kegiatan investasi dalam realitanya tidak hanya dipergunakan untuk proses produksi, tetapi juga pada kegiatan untuk membangun berbagai sarana dan prasarana yang dapat menunjung kegiatan investasi.
Selanjutnya Kamarauddin memberikan pengertian investasi dalam tiga artian, yaitu :
(1) Investasi yaitu suatu tindakan untuk membeli saham, obligasi atau suarat penyertaan lainnya.
(2) Investasi merupaan suatu tindakan untuk membeli barang-barang modal.
(3) Investasi adalah pemanfaatan dana yang tersedian untuk dipergunakan dalam produksi dengan pendapatan di masa yang akan datang.
Dalam definisi ini, investasi dikonstruksikan sebagai tindakan membeli saham, obligasi dan barang-barang modal. Hal ini erat kaitannya dengan pembelian saham pada pasal modal, padahal penanaman investasi tidak hanya dipasar modal saja, tetapi juga diberbagai bidang lainnya seperti di bidang pariwisata, pertambangan minyak dan gas
bumi, pertanian, kehutanan dan lain sebagainya.
Isilah Investasi sendiri berasal dari kata investire yang berarti memakai atau menggunakan. Investasi adalah memberikan sesuatu kepada orang lain untuk dikembangkan dan hasil dari sesuatu yang dikembangkan tersebut akan dibagi sesuai dengan yang diperjanjikan.
investasi yang bersumber dari pembiayaan dalam negeri. Investasi pada umumnya digunakan untuk pengembangan usaha yang terbuka dan tujuan investasi tersebut untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.
https://financialplanners.wordpress.com/investments/
| Jenis-jenis Investasi |
Jenis-jenis investasi dapat digolongkan berdasarkan aset, pengaruh, ekonomi, menurut sumbernya dan cara penanamannya.
1. Jenis Investasi berdasarkan Asetnya
Jenis investasi berdasarkan asetnya merupakan penggolongan investasi dari aspek modal atau kekayaan. Investasi berdasarkan asetnya terbagi atas dua jenis, yaitu real asset dan financial asset.
Real Asset adalah investasi yang berwujud seperti gedung-gedung, kendaraan dan lain sebagainya, sedangkan Financial Asset merupakan dokumen (surat-surat) klaim tidak langsung dari pemegangnya terhadap aktivitas riil pihak yang menerbitkan sekuritas tersebut.
2. Jenis Investasi berdasarkan Pengaruhnya
Jenis investasi menurut pengaruhnya merupakan investasi yang didasarkan pada faktor-faktor yang memengaruhi atau tidak berpengaruh dari kegiatan investasi. Jenis investasi berdasarkan pengaruhnya dapat dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu investasi autonomus (berdiri sendiri) dan Investasi Induces(memengaruhi atau menyebabkan).
Investasi Autonomus adalah investasi yang tidak dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, bersifat spekulatif. Contoh investasi ini : pembelian surat-surat berharga.
Investasi Induced ialah investasi yang dipengaruhi kenaikan permintaan akan barang dan jasa serta tingkat pendapatan. Contoh investasi ini : penghasilan transitori, yaitu penghasilan yang diperoleh selain dari bekerja, seperti bungan dan sebagainya.
3. Jenis Investasi berdasarkan Sumber Pembiayaannya
Jenis investasi berdasarkan sumber pembiayaannya merupakan investasi yang didasarkan pada asal-usul investasi yang diperoleh. Jenis investasi ini dapat dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu investasi yang besumber dari modal asing dan investasi yang bersumber dari modal dalam negeri.
4. Jenis Investasi berdasarkan bentuknya.
Jenis investasi berdasarkan bentuknya merupakan investasi yang didasarkan pada cara menanamkan investasinya. Jenis investasi ini dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu investasi portofolio dan investasi langsung.
Sekian pembahasan mengenai pengertian investasi dan jenis jenis investasi, semoga tulisan saya mengenai pengertian investasi dan jenis jenis investasi dapat bermanfaat.
Sumber : Buku dalam Penulisan Pengertian Investasi dan Jenis Jenis Investasi :
Resiko Investasi
Share :
Facebook19
Twitter Google+
Biasanya, ada 3 resiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka akan melakukan investasi, yaitu :
Untuk mengurangi resiko, cara termudah adalah berinvestasi di berbagai sarana investasi. Cara ini disebut dengan membuat portofolio investasi. Tujuan dari cara ini adalah mengurangi kerugian investasi yang mungkin timbul dari suatu sarana investasi dengan menutupnya menggunakan keuntungan yang diperoleh dari sarana investasi yang lain. Misalnya berinvestasi pada reksa dana dan pada tabungan. Jika keduanya memberikan keuntungan maka investor tidak akan menderita kerugian.
Tetapi bagaimana jika salah satunya mengalami kerugian, misalnya nilai reksa dana turun atau bank dilikuidasi? Dengan adanya portofolio ini maka diharapkan kerugian salah satu investasi dapat dikurangi oleh keuntungan dari investasi lain. Kalau dua-duanya rugi, berarti itu cobaan jika investor menggunakan investasi secara syariah dan mungkin peringatan atau bahkan azab jika investasi tersebut tidak sesuai syariah.
Jadi inti mengurangi resiko investasi adalah portofolio : "jangan meletakkan banyak telur dalam satu keranjang" karena jika terjatuh, maka telur akan lebih banyak yang pecah dibandingkan jika ditaruh pada beberapa keranjang jika keranjang yang lain tidak jatuh.
1. Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah uang saya akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau ditanya seperti itu. Karena tidak ada orang yang mau kehilangan uangnya. Akan tetapi, setiap investasi pasti ada resikonya. Perbedaannya hanya pada ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil.
Sekarang jika Anda berinvestasi, kita harus mempertimbangkan seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 20 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang bersedia Anda tanggung, ingatlah bahwa itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang disebut dengan kerugian, sesekali memang harus kita alami. Karena dengan adanya kerugian, itu adalah pengalaman yang membuat kita jadi lebih banyak belajar dalam berinvestasi.
2. Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau menerima atau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang secara fisik robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, yaitu mereka yang hobi akan lukisan juga, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan bagi orang yang menjualnya. Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, sebaiknya ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.
3. Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa.
Bayangkan jika Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai.
Mungkin beberapa dari Anda menginginkan produk investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa. Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin belum Anda ketahui, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang.
Cara Mengurangi Resiko Investasi
Untuk mengurangi resiko, cara termudah adalah berinvestasi di berbagai sarana investasi. Cara ini disebut dengan membuat portofolio investasi. Tujuan dari cara ini adalah mengurangi kerugian investasi yang mungkin timbul dari suatu sarana investasi dengan menutupnya menggunakan keuntungan yang diperoleh dari sarana investasi yang lain. Misalnya berinvestasi pada reksa dana dan pada tabungan. Jika keduanya memberikan keuntungan maka investor tidak akan menderita kerugian.
Tetapi bagaimana jika salah satunya mengalami kerugian, misalnya nilai reksa dana turun atau bank dilikuidasi? Dengan adanya portofolio ini maka diharapkan kerugian salah satu investasi dapat dikurangi oleh keuntungan dari investasi lain. Kalau dua-duanya rugi, berarti itu cobaan jika investor menggunakan investasi secara syariah dan mungkin peringatan atau bahkan azab jika investasi tersebut tidak sesuai syariah.
http://www.infovesta.com/infovesta/learning/learning.jsp?id=35
Kata investasi tidak akan jauh dari kata risiko dan imbal hasil atau risk and return. Emang risiko sendiri apa si? Ada berapa macam jenis risiko dari sebuah investasi? Nah dalam artikel kali ini, Tim Finansialku akan membahas mengenai risiko atas sebuah investasi. Sebelumnya pasti ada yang bingung kayanya salah ketik kata Risiko. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penulisan kata yang tepat adalah risiko bukan resiko. Jadi ada baiknya Tim Finansialku menggunakan penulisan risiko. Kita mulai: definisi risiko kemudian dilanjutkan risiko – risiko dari investasi.
Sebelum berinvestasi ada baiknya pelajari terlebih dahulu produknya, berikut ini ada liputan mengenai investasi bodong.
http://youtu.be/oalScmJVIxA
Definisi Risiko
Definisi risiko banyak sekali, kami mencoba mendefinisikan berdasarkan referensi dari Gitman – Principles of Managerial Finances: Risiko adalah sebuah besaran atau ukuran dari sebuah ketidakpastian yang menggambarkan variansi (bukan varias, variansi adalah perbedaan besaran satu dengan rata-rata nilai) dari imbal hasil sebuah investasi.
Setiap produk investasi pasti memiliki potensi risiko. Tetapi ada hal yang membedakan antara risiko dan berisiko. Kata risiko merujuk pada potensi risiko dari masing-masing produk investasi, sedangkan kata berisiko merujuk pada orang yang berinvestasi (baca: investor). Semakin seseorang mampu mengendalikan investasinya maka risikonya semakin berkurang.
Risiko dari Investasi
Risiko berikut adalah potensi risiko dari sebuah produk investasi. Ada beberapa jenis risiko yang umumnya melekat pada produk investasi: risiko likuiditas, risiko investai, risiko gagal bayar, risiko kredit, risiko pajak, risiko inflasi, risiko bunga, risiko mata uang dan risiko-risiko lainnya. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya:
Risiko Likuiditas (Marketability or Liquidity)
biasanya lebih mudah diperjual belikan di bursa saham, dibanding saham perusahaaan yang sedang merugi.
Risiko Investasi (Investment risk)
Pernakah Anda merasa sudah berinvestasi di produk yang katanya high risk high return ternyata imbal hasil atau returnnya lebih kecil dari deposito? Nah itulah risiko investasi. Hubungannya adalah semakin besar kemungkinan investasi kita mendapatkan hasil yang rendah atau rugi, dapat dikatakan investasi kita berisiko.
Risiko Gagal Bayar/wanprestasi (default)
Nah kalau yang satu ini pasti pada tau kan, ada beberapa jenis investasi emas yang baru-baru ini mengalami risiko gagal bayar. Jadi investasi kita tidak dapat dikembalikan oleh penyedia investasi. Risiko gagal bayar adalah risiko yang disebabkan peminjam/penerbit produk investasi yang tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran sesuai dengan yang dijanjikan/disepakati pada waktunya.
Risiko Pajak (tax)
Risiko pajak erat kaitannya dengan hal kewajiban perpajakan karena kita berinvestasi. Struktur pajak di Indonesia relatif masih sederhana, karena jumlah wajib pajak perorangan (bukan badan usaha) yang jumlahnya relatif belum banyak. Hal ini membuat perencanaan pajak perorangan dengan menggunakan produk-produk investasi di Indonesia belum bisa dilakukan dengan maksimal.
Risiko Inflasi (inflation)
Pasti Anda sudah tak asing dengan kata inflasi kan. Bagi yang belum mengenal kata inflasi dapat diartikan sebagai sebuah kenaikan harga. Risiko inflasi berkaitan dengan adanya potensi penurunan riil nilai pokok investasi dan hasil investasi di masa depan. Inflasi akan menggerogoti nilai uang kita, karena ‘bunga’ yang diberikan oleh produk investasi jangka pendek (seperti deposito) umumnya tidak cukup untuk menutupi kenaikan biaya hidup.
Risiko Bunga (interest rate)
Apakah Anda berinvestasi di beberapa produk perbankan seperti ORI, deposito? Bagi teman-teman yang tahu atau sering berinvestasi di produk-produk tersebut pasti sudah tidak asing dengan risiko bunga. Risiko bunga berhubungan dengan peningkatan atau penurunan suku bunga yang memiliki dampak pada hasil investasi kita. Di Indonesia suku bunga berkaitan erat dengan suku bunga yang ditetapkan Bank Indonesia atai BI rate dan suku bunga SBI. Misal saat sekarang suku bunga di Indonesia mengalami kenaikan, sehingga bunga tabungan, deposito dan termasuk bunga pinjaman mengalami kenaikan.
Apakah Anda berinvestasi pada produk-produk investasi berbasis mata uang asing atau kerennya foreign exchange? Risiko mata uang adalah risiko investasi yang berkaitan dengan nilai mata uang negara lain dalam hubungannya dengan mata uang dalam negeri (Indonesia). Contohnya Anda berinvestasi pada perdagangan mata uang asing, tentu sangat rentan terkena risiko mata uang.
Artikel di atas menggambarkan beberapa jenis potensi risiko terhadap produk-produk investasi. Sebuah produk bisa jadi memiliki satu atau bahkan beberapa risiko sekaligus. Kenali risiko tapi jangan ditakuti. Risiko dapat Anda kendalikan, caranya tingkatkan pendidikan Anda mengenai investasi tersebut, tingkatkan pengalaman Anda dan tentunya siapkan dana untuk berjaga-jaga.
Artikel mengenai risiko dari investasi di atas di ambil dari beberapa sumber, antara lain:
Gitman – Principles of Managerial Finances
Aidil A – Rich Game.
Robert T. Kiyosaki – Cashflow Quadrant
Pasar Modal
Pengantar
Tentu Anda pernah mendengar Bursa/Pasar Modal bukan? Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan pasar modal? Produk apa saja yang diperjualbelikan? siapa saja para pelaku pasar modal dan apa keuntungan dan kelemahan dari pasar modal?
Pada pasar modal diperjualbelikan instrumen keuangan jangka panjang. Contohnya saham, yaitu bentuk penyertaan modal pihak pembeli saham kepada penerbit saham (emiten). Selain itu, di pasar modal terdapat juga obligasi yaitu surat bukti pengakuan hutang dari perusahaan penerbit kepada pembeli. Produk pasar modal yang paling banyak diminati masyarakat adalah saham. Terutama saham blue chip, yaitu saham unggulan yang bernilai tinggi karena dianggap paling aman dan paling menguntungkan, dikeluarkan oleh perusahaan yang dikenal dengan perusahaan yang menjadi lembaga penunjang pasar modal seperti Biro Administrasi Efek, Bank Kustodian dan lain-lain. Tahukah Anda apa saja manfaat/keuntungan serta kerugian/kelemahan pasar modal? Untuk mengetahui lebih jauh, silahkan Anda pelajari materi ini.
http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/edukasi.net/SMA/Ekonomi/Pasar.Modal/
Konsep Pasar Modal Setiap perusahaan membutuhkan pasar keuangan atau financial market untuk mendukung sumber dananya. Pasar keuangan terdiri dari pasar uang (money market) dan pasar modal (capital market). Pasar modal (capital market) adalah suatu pasar di mana-mana jangka panjang baik hutang maupun modal sendiri diperdagangkan. Dana jangka panjang yang
diperdagangkan tersebut diwujudkan dalam surat-surat berharga. Pengertian pasar modal secara umum menurut Keputusan Menteri Keuangan RI No.
yang beredar. Sedangkan dalam arti sempit pasar modal adalah suatu tempat dalam pengertian fisik yang mengorganisasikan transaksi penjualan efek atau disebut sebagai bursa efek. Pengertian bursa efek atau stoc exchange adalah suatu sistim terorganisir yang mempertemukan antara penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya. Bursa efek ini berfungsi untuk menjaga kontinuitas pasar dan menciptakan harga efek yang wajar melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Konsep pasar modal yang efisien (efficient capital markets) merupakan tema yang dominan di kalangan akademisi sejak tahun 1960an. Menurut Blake (1990: 243) istilah pasar modal yang efisien memiliki beberapa konsep yang berbeda yaitu :(1) Efisiensi secara alokasi (allocatively efficient); (2) Efisiensi secara operasional (operationally efficient) dan (3) Efisiensi secara informasi (informationally efficient) yaitu suatu pasar dikatakan efisien secara informasi jika harga pasar saat ini segera dan sepenuhnya merefleksikan semua informasi yang tersedia. Walaupun terdapat beberapa konsep pasar efisien, istilah pasar efisien pada umumnya hanya dikaitkan dengan salah satu dari tiga konsep tersebut, yaitu efisiensi secara informasi (informationally efficient). Adapun tujuan pasar modal di Indonesia yaitu: a. Mempercepat tujuan perluasan pengikut sertaan masyarakat dalam kepemilikan saham perusahaan, b. Pemerataan pendapatan masyarakat melalui pemerataan pemilikan saham, c. Menggairahkan partisipasi masyarakat dalam pengerahan dan penghimpunan dana untuk digunakan secara produktif. Kondisi dan Mekanisme Pasar Modal Yang Efisien Pasar modal yang efisien merupakan suatu bentuk pasar yang terdiri dari banyak penjual dan pembeli yang saling berinteraksi di dalamnya dan memiliki karakter yang bersifat bebas (free market), di mana cukup mudah bagi para investor baru untuk masuk dan mengadakan transaksi dan sebaliknya, juga cukup mudah bagi lainnya untuk meninggalkan pasar setiap saat. Beberapa aspek tambahan lainnya yang merupakan syarat utama terbentuknya suatu pasar modal yang efisien adalah aspek-aspek : a. Ketersediaan dan penyebaran informasi Informasi tersedia bagi masyarakat secara bebas dan relatif tanpa biaya. Pentingnya ketersediaan dan penyebaran informasi ini disebabkan oleh investor membutuhkan informasi terkait secara cepat dan terus menerus untuk melakukan penilaian harga saham, sehingga informasi tersebut dapat dengan segera tercermin pada harga saham. b. Harga saham berfluktuasi bebas Harga saham tidak dapat dikendalikan oleh penjual dan pembeli di pasar modal. Investor individu tidak cukup kuat untuk mempengaruhi pergerakan harga saham. Ada beberapa investor institusi yang cukup kuat mempengaruhi harga. Investor ini dikendalikan melalui peraturan pasar modal sehingga tidak dapat melakukan manipulasi harga c. Terdapat analis investasi dalam jumlah besar di pasar modal Dikenal adanya dua tipe analis investasi yang membantu terjadinya perubahan harga saham secara acak di pasar modal Pertama, para analis fundamental berusaha mempelajari kondisi perekonomian secara umum. Kedua, para analis teknikal yang berusaha
mempelajari pergerakan harga saham di masa lalu dan mencari suatu pola-pola tertentu dari perubahan harga di masa lalu tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa semakin banyak analisis investasi dan maraknya persaingan antar mereka akan membuat pasar modal setiap saat menunjukkan harga saham yang mencerminkan semua informasi yang relevan
Keuntungan Risiko dan Manfaat Pasar Modal
Keuntungan dari Pasar Modal
Menyediakan sumber pembiayaan jangka panjang untuk dunia usaha.
Sarana untuk mengalokasikan sumber dana secara optimal bagi investor.
Memungkinkan adanya upaya diversifikasi.
Selain keuntungan, manfaat Pasar Modal adalah :
Manfaat bagi Investor :
Memperoleh deviden bagi pemegang saham
Memperoleh capital gain jika ada kenaikan harga saham
Memperoleh bunga bagi pemegang obligasi
Mempunyai hak suara dalam RUPS
Dapat dengan mudah mengganti instrumen investasi
Manfaat bagi Emiten :
Mendapatkan dana yang lebih besar
Perusahaan dapat lebih fleksibel dalam mengolah dana
Memperkecil ketergantungan terhadap bank
Besar kecilnya deviden tergantung besar kecilnya keuntungan
Tidak ada kewajiban yang terikat sebagai jaminan
Manfaat bagi Pemerintah :
Membantu pemerintah dalam mendorong perkembangan pembangunan
Membantu pemerintah dalam mendorong kegiatan investasi
Membantu pemerintah dalam menciptakan kesempatan kerja
Risiko dari Pasar Modal
Risiko daya beli
Daya beli berkaitan dengan kemungkinan terjadinya inflasi yang menyebabkan nilai riil pendapatan akan lebih kecil.
Risiko bisnis
Menurunnya kemampuan perusahaan memperoleh laba, menyebabkan menurunnya kemampuan emiten membayar bunga atau deviden.
Risiko tingkat bunga
Risiko likuiditas
Kemampuan surat berharga untuk dapat segera diperjualbelikan
Kelemahan Pasar Modal
Selain kerugian, Pasar Modal juga memiliki kelemahan antara lain :
Mekanisme pasar modal yang cukup rumit menyulitkan pihak-pihak tertentu yang akan terlibat di dalamnya.
Saham pasar modal bersifat spekulatif sehingga dapat merugikan pihak tertentu.
Jika kurs tidak stabil, maka harga saham ikut terpengaruh.
http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/edukasi.net/SMA/Ekonomi/Pasar.Modal/materi04.html
Resiko Yang Umum Dalam Berinvestasi di Reksa Dana
Setiap investasi selalu disertai dengan unsur-unsur risiko. Oleh sebab itu, sebelum berinvestasi, calon investor harus mempertimbangkan faktor-faktor risiko sebagai berikut.
1. Keuntungan Tidak Dijamin
Investor harus menyadari bahwa dengan berinvestasi dalam Reksa Dana, tidak ada jaminan untuk mendapatkan pembagian dividen, keuntungan, ataupun kenaikan modal investasi.
2. Risiko Umum Pasar Modal
Setiap pembelian efek akan melibatkan beberapa unsur risiko pasar. Oleh karena itu, Reksa Dana mungkin rentan terhadap perubahan kondisi pasar yang merupakan hasil dari:
o global, regional atau perkembangan ekonomi nasional;
o kebijakan pemerintah atau kondisi politik;
o development in regulatory framework, law and legal issues
o pergerakan suku bunga secara umum;
o sentimen investor yang luas, dan
o guncangan eksternal (misalnya: bencana alam , perang dan lain-lain)
3. Risiko Efek
4. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas dapat didefinisikan sebagai seberapa mudah sebuah efek dapat dijual pada atau mendekati nilai wajarnya tergantung pada volume yang diperdagangkan di bursa.
5. Risiko Inflasi
Risiko tingkat inflasi adalah risiko potensi kerugian daya beli investasi Anda karena terjadinya kenaikan rata-rata harga konsumsi.
6. Risiko Pembiayaan Pinjaman
Jika dana pembelian unit Reksa Dana didapat dari pinjaman, maka investor perlu memahami bahwa:
o Pinjaman meningkatkan kemungkinan baik untuk untung maupun rugi;
o Jika nilai investasi turun dibawah tingkat tertentu, investor mungkin diminta oleh lembaga keuangan untuk menambah agunan, atau mengurangi jumlah pinjaman ke level yang disyaratkan;
o Biaya pinjaman dapat bervariasi dari waktu ke waktu tergantung pada fluktuasi suku bunga;
o Risiko menggunakan pinjaman harus di pertimbangkan secara berhati-hati karena mengandung risiko.
7. Risiko Ketidakpatuhan
Hal ini mengacu pada risiko terhadap Reksa Dana dan keuntungan investor yang dapat timbul karena ketidak-sesuaian terhadap hukum, aturan, peraturan, etika dan Policy and Procedure internal dari Manajer Investasi.
8. Risiko Manajer Investasi
Kinerja setiap Reksa Dana sangat bergantung antara lain pada, pengalaman, pengetahuan, keahlian, dan teknik / proses investasi yang diterapkan oleh Manajer Investasi, dan setiap kekurangan dari syarat tersebut akan berdampak buruk pada kinerja Reksa Dana sehingga akan merugikan investor.
http://www.cimb-principal.co.id/Investor's_Guide-@-General_Risks_of_Investing_in_Mutual_Funds.aspx
DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO
Beberapa investor melakukan diversifkasi portofolio dengan jalan memasukkan
berbagai aktiva dari seluruh kelompok aktiva yang ada, seperti saham, obligasi, dan
real estate.
Para investor yang mengkhususkan diri dalam satu kelompok aktiva misalnya
saham, juga menganggap perlu dilakukan diversifikasi portofolio. Yang dimaksud
dengan diversifikasi portofolio dalam hal ini adalah seluruh dana yang ada
seharusnya tidak diinvestasikan ke dalam bentuk saham satu perusahaan saja, tapi
portofolio harus terdiri dari saham banyak perusahaan.
Diversifikasi Naif
Strategi diversifikasi naïf dicapai pada saat investor melakukan investasi pada
sejumlah saham yang berbeda atau kelompok aktiva yang berbeda dan berharap
bahwa varians dari pengembalian diharapkan atas portofolio dapat diperkecil.
Investasi hanya pada satu kelompok aktiva dapat mengundang risiko yang lebih
besar yang umunya ditandai dengan kovarians pengembalian yang tinggi.
Diversifikasi Markowitz
Diversifikasi Markowtiz berusaha menggabungkan aktiva-aktiva dalam portofolio
dengan pengembalian yang memiliki kolerasi positif kurang dari sempurna, dengan
tujuan mengurangi risiko portofolio (varians) tanpa mengurangi pengembalian.
Diersifikasi Markowitz berbeda dari diversifikasi naïf dan lebih efektif karena
diversifikasi ini berusaha mempertahankan pengembalian yang ada, dan
mengurangi risiko melalui analisis kovarians antara pengembalian aktiva.
Secara matematis, pengembalian yang diharapkan dinyatakan sebagai berikut:
E (R
i) = p
1r
1+ p
2r
2+ ….. + p
Nr
NDimana,
r
n= tingkat pengembalian ke-n yang mungkin bagi aktiva i
p
n= probabolita memperoleh tingkat pengembalian n bagi aktiva i
N = jumlah penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian
Diasumsikan seseorang ingin melakukan investasi, saham XYZ, yang memilih
distribusi probalita bagi tingkat pengembalian selama periode waktu tertentu
ditunjukkan pada tabel 4-1. Dalam praktiknya, distribusi probabilita didasarkan pada
pengembalian histories.
Dengan memiliki banyak portofolio, yang ditujukan untuk prioritas tujuan yang
berbeda, akan banyak memakan waktu untuk mengorganisasinya dan apalagi bisa
anda harus meninjau dan merevisinya bila dibutuhkan. Dua hal negatif dalam
memiliki banyak portofolio untuk berbagai macam prioritas tujuan yang dimiliki
adalah biaya dan waktu.
Biaya
Memiliki setiap instrumen investasi pasti mengandung biaya, baik fee manajemen,
biaya pembelian, penjualan dan pengalihan untuk reksadana dan biaya transaksi
untuk jual beli saham. Dengan memiliki banyak portofolio, maka anda akan terus
dibebankan dengan biaya yang sama untuk masing-masing instrumen. Bila anda
memiliki 5 reksadana dengan jenis yang sama maka anda akan terbebani dengan 5
kali biaya pembelian, penjualan atau pengalihan bila anda bertransaksi.
Waktu
Mengelola uang anda membutuhkan waktu. Bila anda secara aktif mengikuti
perkembangan portofolio anda, maka sangat mungkin akan menghabiskan 10 jam
sebulan (atau malah lebih) untuk menganalisa apa yang anda miliki, bagaimana
performannya dan bagaimana anda dapat lebih mengoptimalkan. Itu hanya untuk
satu portofolio. Bayangkan bila anda memiliki 5 prioritas tujuan dengan
masing-masing portofolionya, berapa waktu yang harus anda habiskan? Yang harus
dimengerti disini adalah, anda tetap Menempatkan dana untuk tujuan jangka pendek
dalam instrumen investasi jangka pendek dan alokasi dana untuk prioritas tujuan
jangka panjang bisa dalam instrumen saham.
Referensi:
Douglas Hearth. 2004. Contemporary Investments: Security and Portfolio Analysis.
ZVI Bodie, Alex Kane, Alan J. Marcus. 2009. Investments
Diversifikasi Internasional
Konsep diversifikasi berawal dari disertasi Harry Markowitz pada 1952. Dia menurunkan manfaat utama diversifikasi secara kuantitatif dengan menggunakan portofolio yang terdiri atas dua aset berisiko. Dengan matematika sederhana, Markowitz berhasil membuktikan kalau risiko portofolio dapat menjadi minimum jika kedua aset itu mempunyai koefisien korelasi negatif sempurna yaitu -1. Markowitz juga menemukan bahwa diversifikasi selalu dapat menurunkan risiko portofolio sepanjang koefisien korelasi tidak positif sempurna atau lebih kecil dari satu.
Menurut Rodoni (2008) faktor yang penting dalam diversifikasi ialah korelasi yang rendah antara keuntungan. Semakin rendah korelasi ini, maka semakin besar manfaat diversifikasi portofolio. Lessard (1973) telah menujukan bahwa koefisien determinasi berhubungan secara terbalik dengan keinginan menginvestasikan di satu negara.
Dampak globalisasi yang terjadi pada abad 21 terhadap ekonomi menyebabkan pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa kedalam sebuah sistim ekonomi global. Semangat globalisasi ini mendorong para investor di berbagai negara melakukan diversifikasi internasional yang memperoleh manfaat pengurangan resiko pada tingkat keuntungan tertentu. Besarnya manfaat yang akan diperoleh investor akan sangat tergantung dari koefisien korelasi, resiko dan tingkat return di masing-masing pasar modal tersebut (Eduardus Tandelilin, 2010).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemodal asing untuk menanamkan modalnya di pasar modal (Rawley, 1987) dalam Rodoni (2008 antara lain:
a. Nilai kapitalisasi sekuritas yang terdapat disuatu bursa. b. Likuiditas sekuritas yang terdapat di bursa.
c. Peraturan yang melindungi pemodal dari kecurangan. d. Mutu dan penyebaran informasi.
ANALISA SAHAM : FUNDAMENTAL DAN TEKNIKAL
Dalam dunia investasi saham ada 2 jenis cara analisa saham, yaitu analisa Fundamental dan Teknikal. Kedua cara menganalisa ini yang kemudian membedakan tipe seorang investor, apakah ia seorang Trader atau Value Investor. Keuntungan dan resiko dari kedua teknik analisa tersebut tentunya jauh berbeda. Jika anda bertanya mengenai Warrent Buffet, maka beliau adalah salah satu orang yang berhasil dalan berbisnis saham dengan menjalankan cara yang pertama, yaitu dengan menganalisa fundamental sebuah perusahaan sebelum memutuskan untuk membeli sahammnya dan bahkan sama sekali tidak mempertimbangkan teknikalnya atau penilaiannya pada grafik harganya saat ini.
Pengertian
Dari masing-masing istilah transaksi saham ini mempunyai pengertiannya masing-masing yang dilihat berdasarkan cara pengamatannya, yaitu :
1. Analisa Fundamental Saham
Teknik analisa fundamental adalah analisa yang menitikberatkan pada dua poin penilaian, yakni pada aspek finansial yang di dalamnya mencakup pendapatan per saham atau EPS - Earning per Share, Nilai buku Saham atau PBV - Price Book Value, serta rasio pengeluaran dan nilai buku ekuitas dari saham itu sendiri. Sedang orangnya yang cenderung memilih metode analisa seperti ini disebut juga dengan 'Value Investor'. Jadi yang menjadi cakupannya pada analisa pertama ini ada 4 jenis. Adapun poin penilaian kedua dari seorang investor adalah pada laporan
Jika anda telah paham poin penting analisanya maka selajutnya ketahui dengan benar Langkah-langkah dalam Melakukan Analisa Fundamental Saham agar lebih akurat dan terhindar dari kecemasan walau saat anda jauh dari komputer dan tidak bisa selalu uptodate pada kondisi pasar.
2. Analisa Teknikal Saham
Orang yang memilih metode ini disebut juga dengan 'Trader'. Sangat berbeda dengan jenis analisa di atas, dalam hal Teknikal maka investor melakukan penilaian pada hal yang berbeda yang mana mereka, yakni lebih cenderung pada pengolahan data-data pasar yang terkini. Itulah
sebabnya orang yang memilih jalan menjadi trader lebih senang fokus pada pergerakan harga saham dibanding harus repot menaganalisa laporan keuangan dari perusahaan yang umumnya memakan waktu lama dan lebih rumit.
Jika diperbandingkan dengan yang pertama, analisa teknikal hanya butuh 2 jenis data untuk memutuskan layak beli atau tidaknya suatu saham, yakni perubahan suatu harga saham yang sekaligus mencari pula sebab dan info lain berkaitan hal tersebut, serta berapa besar nilai transaksi yang terjadi dalam sehari dari saham yang akan dibeli, biasanya ini yang umum
diistilahkan dengan 'Liquid' atau banyaknya volume dan frequensi pembelian dan penjualan saham dalam sehari yang dilakukan oleh banyak investor. Itulah sebabnya dalam dunia saham lahir istilah 'LQ45' (45 saham yang digolongkan dalam saham yang liquid).
Intinya, seorang chartist (istilah untuk trader saham yang selalu membaca grafik pergerakan harga saham) menggunakan grafik sebagai bahan analisanya untuk mengetahui tren yang terjadi, apakah trennya akan terus berlanjut atau ia akan bergerak pada tren tertentu yang mereka sandarkan pada beberapa pedoman cara membaca grafik. Mengenai ini maka anda wajib tahu beberapa istilah dalam mebaca saham yang menjadi pedoman para investor beraliran Trader.
Demikian ulasan singkat dari CEObisnis.com mengenai cara analisa saham secara fundamental dan Teknikal. Kedua cara ini pula yang kemudian mengelompakkan jenis investor apakah ia memilih menjadi seorang value investor yang memutuskan pembelian saham karena valuasinya atau kah memilih sebagai seorang Trader yang keputusan jual dan belinya berdasarkan grafik dari harga dan liquiditas dari saham emiten.
http://www.ceobisnis.com/2014/12/analisa-saham-fundamental-dan-teknikal.html
ANALISIS FUNDAMENTAL
100% tepat dan konsisten untuk meramalkan arah pergerakan harga saham,
tetapi kita bisa mendapatkan gambaran tren utama di pasar.
Secara prinsip untuk melakukan analisis fundamental idealnya
dilakukan secara
top-down
seperti digambarkan pada gambar di bawah ini.
1.
Analisis Fundamental (Makro) Ekonomi / Analisis Market
Langkah awal yang paling mendasar untuk melakukan analisis
fundamental adalah menganalisis kondisi makro ekonomi negara dan
bahkan dunia, yaitu faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi kondisi
Pasar Modal atau lebih spesifik harga saham. Mengapa? Sekarang ini kita
tidak bisa hanya berpikir dalam ruang lingkup negara kita saja, kita harus
berpikir global, dunia. Bisa dikatakan, sekarang ini tidak ada batas antar
negara, semua saling terkait dan saling mempengaruhi.
Faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi dan bahkan menentukan arah
pasar saham antara lain:
a.
Gross Domestic Product (GDP)
GDP didefinisikan sebagai nilai pasar barang dan jasa yang dihasilkan oleh
ekonomi dalam suatu masa tertentu (biasanya satu tahun). Sehingga bisa
disimpulkan, GDP merupakan salah satu faktor yang mencerminkan kondisi
ekonomi suatu negara, yang sudah pasti akan mempengaruhi kondisi pasar
saham. Dengan mengunakan logika sederhana, perubahan GDP berbanding
lurus dengan arah pergerakan harga saham. Peningkatan GDP mendorong
tren di pasar saham ke arah
bullish
, demikian sebaliknya, penurunan GDP
mendorong pasar saham menjadi
bearish
. Perubahan GDP cenderung
membentuk siklus bisnis.
b.
Siklus Bisnis
terpisah. Hubungan antara ekonomi dan pasar saham sebagai berikut:
harga saham yang tercermin dari
Composite Index
atau kalau di Bursa Efek
Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum
merupakan
leading indicator
ekonomi suatu negara. Berdasarkan fakta
tersebut di atas, tantangan dalam meramalkan arah pergerakan harga
saham adalah harga saham cenderung bergerak lebih dulu sebelum kondisi
ekonomi. Artinya, sebelum krisis terjadi biasanya harga saham sudah turun
terlebih dahulu.
c.
Suku Bunga
Tingkat suku bunga bisa menjadi salah satu acuan kondisi ekonomi. Tingkat
suku bunga yang tinggi akan menghambat bergeraknya sektor riil,
sebaliknya sektor riil akan bergairah saat suku bunga rendah. Walaupun
sebenarnya masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi sektor riil,
seperti kebijakan fiskal, insentif pajak, stabilitas politik, kemanan,
infrastruktur, dan sebagainya. Secara umum, kenaikan tingkat suku bunga
akan menyerap likuiditas di pasar yang pada akhirnya akan memicu
penurunan harga saham karena banyak pelaku pasar menjual sahamnya.
Sebaliknya, penurunan tingkat suku bunga akan membuat pelaku pasar
optimis terhadap kondisi sektor riil sehingga mendorong pelaku pasar untuk
melakukan pembelian saham yang tentu saja akan membuat harga saham
bergerak naik.
d.
Inflasi
Tingkat inflasi cukup berpengaruh terhadap harga saham dengan hubungan
yang berbanding terbalik. Harga saham akan naik jika inflasi rendah, dan
sebaliknya harga saham cenderung turun saat inflasi tinggi.
e.
Kurs
Untuk di Indonesia, penguatan nilai mata uang utama dunia (contoh: US
Dollar, Euro, Yen), terutama US Dollar, akan mendorong investor besar
untuk mengalihkan investasinya ke mata uang tersebut yang pada akhirnya
mendorong penjualan saham sehingga harga saham turun. Pelemahan nilai
Rupiah secara umum juga mengurangi optimisme pelaku pasar sehingga
melemahkan gairah pasar saham.
f.
Pernyataan/
release
dari pejabat/lembaga berwenang
Pernyataan dari Gubernur Bank Sentral (untuk Indonesia: BI), Menteri
Ekonomi, atau pejabat tinggi negara yang lain sangat penting dicermati oleh
para investor. Pernyataan-pernyataan, terutama yang terkait dengan
kebijakan ekonomi, moneter atau yang langsung terkait dengan sektor riil
bisa sangat mempengaruhi arah pergerakan harga saham.
Saat kita berbicara dalam konteks global, suatu negara dengan
P/E
ratio
yang rendah akan menarik investor dari negara lain untuk masuk
berinvestasi di pasar saham negara tersebut. Masuknya investor asing akan
mendorong pasar saham bergairah dan menyebabkan harga saham
cenderung naik.
2.
Analisis Sektor Industri
Sukses tidaknya suatu investasi banyak ditentukan juga dari pemilihan
sektor industri yang tepat. Hal ini bisa tergambar dari pergerakan Indeks
Harga Saham secara sektoral yang menunjukkan variasi. Ada sektor
industri tertentu yang peningkatannya besar, ada yang cenderung mendatar
(
flat
) ada juga sektor industri yang cenderung turun. Bisa disimpulkan,
perkembangan (
growth
) dari investasi kita salah satunya tergantung kepada
sektor industri yang kita pilih.
Sektor industri juga bisa dikelompokkan untuk memudahkan pemilahan
sebelum memilih sektor industri. Misalnya, kelompok sektor industri yang
defensif (stabil,
growth
rendah):
consumer goods
,
retail
; kelompok sektor
industri yang menjadi primadona (
volatile
,
growth
cenderung tinggi):
perkebunan, telekomunikasi, pertambangan & energi; dan masih banyak
kelompok-kelompok lain yang bisa kita buat.
Dalam menganalisis sektor industri, perlu dipahami juga tentang siklus
hidup industri. Ada empat tahapan yang akan dilewati oleh industri,
yaitu:
pioneering
stage
(fase
awal),
expansion
stage
(fase
perkembangan),
stabilization/maturity
stage
(fase
stabil/dewasa),
deceleration in growth and/or decline stage
(fase
perlambatan dan/atau penurunan).
a.
Pioneering stage
(fase awal)
Pada fase awal ini, pertumbuhan penjualan dan pendapatan cenderung
sangat tinggi dengan resiko tingkat kegagalan yang tinggi pula. Artinya,
banyak perusahaan yang tidak mampu mengembangkan lebih jauh lagi
akhirnya bangkrut/tutup. Investor memiliki potensi untung yang besar
dengan mempertaruhkan resiko yang tinggi (
high risk – high return
).
b.
Expansion stage
(fase perkembangan)
Kebijakan finansial perusaan mulai stabil,
profit margin
sangat tinggi dan
biasanya sudah bisa membagikan deviden.
c.
Stabilization/maturity stage
(fase stabil/dewasa)
Pada tahap ini, pertumbuhan sudah moderat dan biasanya merupakan fase
terlama dalam siklus hidup industri. Produk sudah standar, minim inovasi,
penuh dengan kompetisi, biaya (
costs
) stabil. Tantangan utama perusahaan
dalam sektor industri yang sudah dewasa adalah efisiensi, baik efisiensi
produksi maupun mengontrol biaya. Pertumbuhan industri pada fase ini
biasanya relatif sama dengan pertumbuhan ekonomi negara.
d.
Deceleration in growth and/or decline stage
(tahap perlambatan dan/atau
penurunan)
Industri mulai masuk fase ini biasanya pada saat muncul produk baru yang
bisa menggantikan atau arah kebijakan global tidak mendukung. Contoh
sektor industri yang berada pada fase ini adalah industri mesin tik, televisi
hitam putih, dan radio transistor. Pada fase ini, keuntungan perusahaan
bisa sangat rendah bahkan rugi.
Pemahaman terhadap siklus hidup industri akan membantu investor dalam
memilih saham yang sesuai untuk portfolio mereka.
Aspek yang lain yang harus dipertimbangkan dalam analisis sektor
industri adalah aspek kualitatif. Aspek kualitatif yang penting adalah:
a.
Sejarah performa secara jangka panjang.
Investor harus
mempertimbangkan data historis pertumbuhan penjualan dan pendapatan,
serta pertumbuhan harga. Meskipun data tersebut tidak bisa dipastikan
mencerminkan performa industri tersebut ke depan, tetapi data tersebut
bisa memberikan gambaran informasi yang berharga.
b.
Kompetisi. Kompetisi yang harus dipertimbangkan meliputi 5 faktor
kompetisi dasar, yaitu: kompetitor baru, kekuatan posisi tawar pembeli,
persaingan dengan kompetitor yang sudah ada, potensi adanya produk/jasa
yang bisa menggantikan, dan kekuatan posisi tawar pemasok.
c.
Pengaruh Pemerintah. Peraturan dan kebijakan pemerintah bisa
sangat signifikan mempengaruhi industri.
d.
Perubahan struktur yang terjadi pada ekonomi. Sebagai gambaran,
dewasa ini era industri bergeser ke arah industri berbasis Teknologi
Informasi. Industri yang tidak bisa menyesuaikan perubahan ini pasti akan
menurun dan bahkan pada akhirnya mati.
Aspek kualitatif ini bisa menjadi faktor yang menentukan, bahkan vital untuk
meramalkan prospek industri ke depan.
Setelah menganalisis fundamental ekonomi (negara & dunia), kemudian
masuk lebih dalam ke fundamental sektor industri, tahap selanjutnya
melangkah lebih dalam lagi yaitu menganalisis fundamental perusahaan.
Analisis fundamental perusahaan tidak bisa terlepas dari menganalisis
laporan keuangan perusahaan yang meliputi Neraca, Laporan Rugi-Laba,
dan Laporan Arus Kas.
Banyak variabel yang bisa menjadi acuan dalam menganalisis laporan
keuangan perusahaan. Variabel-variabel keuangan dasar bisa memberikan
gambaran nilai intrinsik perusahaan. Termasuk di dalam variabel keuangan
dasar antara lain penjualan, profit margin, depresiasi, pajak, sumber
pembiayaan, pemanfaatan aset, dan faktor-faktor yang lain. Sebagai
tambahan, perlu juga diperhatikan posisi perusahaan dalam kompetisi
dengan perusahaan lain dalam satu sektor, ketenagakerjaan, perubahan
teknologi, kompetisi dari luar negeri (jika ada), dan sebagainya. Hasil yang
diharapkan setelah melakukan analisis fundamental perusahaan adalah
memahami variabel-variabel keuangan perusahaan, dan sebuah perhitungan
perkiraan nilai perusahaan dan potensinya.
Secara praktis, rasio-rasio keuangan yang perlu diperhatikan dalam
laporan keuangan perusahaan antara lain:
a.
P/E ratio
P/E mencerminkan besarnya investasi yang diperlukan untuk mendapatkan
pendapatan secara relatif terhadap pendapatan tersebut. Satu faktor terkait
yang perlu dicermati adalah kebijakan rasio pembayaran deviden. P/E bisa
menjadi acuan dengan membandingkannya terhadap P/E sektor industri
tersebut. P/E yang tinggi mengindikasikan harga saham tersebut mahal,
sebaliknya P/E yang rendah mengindikasikan harga saham tersebut murah.
b.
RoE dan RoA
RoE merupakan hasil akhir dari beberapa variabel penting, sehingga bisa
dikatakan bahwa RoE merupakan komponen kunci yang bisa
menggambarkan pertumbuhan pendapatan dan pertumbuhan deviden. RoE
bisa dihitung dari berbagai pendekatan yang melibatkan kombinasi yang
berbeda dari berbagai rasio keuangan.
RoE = (
Net Income after taxes
)/(
Stockholder’s equity
)
RoE = RoA x
Leverage
RoA = (
Net Income/Sales
) x (
Sales/Total assets
)
Leverage
=
Total assets
/
Stockholder’s equity
ANALISIS TEKNIKAL
Analisis teknikal bisa dedefinisikan sebagai penggunaan data dari
pasar untuk menganalisis harga saham. Martin J. Pring, dalam
bukunya
Technical Analysis
, menyatakan:
”The technical approach to investing is essentially a reflection of the idea
that prices move in trends which are determined by the changing attitudes
of investors toward a variety of economic, monetary, political and
psychological forces. The art of technical analysis – for it is an art
[emphasis added] – is to identify trend changes at an early stage and to
maintain an investment posture until the weight of evidence indicates that
the trend is reversed”
Analisis teknikal pada dasarnya adalah meramalkan arah pergerakan harga
saham berdasarkan indikator-indikator teknis dan data-data yang ada di
pasar. Indikator-indikator teknis mencerminkan tren arah pergerakan harga
saham dan/atau memberikan gambaran harga suatu saham relatif murah
atau mahal. Sehingga dari analisis teknikal investor bisa mendapatkan
petunjuk kapan harus masuk ke market (membeli) dan kapan keluar
(menjual).
Menggunakan analisis teknikal artinya kita meyakini bahwa
perubahan harga saham bergerak dengan pola tertentu sesuai dengan pola
yang terjadi di masa lalu. Pola ini mudah diikuti dengan melihat grafik
pergerakan harga saham. Pendapat ini masih banyak pro dan kontra. Fakta
yang ada di BEI, cukup banyak – bahkan mungkin mayoritas – investor
memilih menggunakan anasisis teknikal daripada analisis fundamental. Hal
ini wajar, mengingat lebih mudah dan cepat melakukan analisis teknikal
daripada fundamental, apalagi saat ini investor banyak dibantu dengan
adanya
software
untuk melakukan analisis teknikal. Secara awam, semua
orang bisa melakukan ’analisis teknikal’ dengan sudut pandang dan cara
mereka sendiri.
Instrumen utama yang digunakan untuk membantu analisis teknikal adalah grafik.
Grafik pergerakan harga saham disajikan dalam berbagai bentuk grafik, antara lain
bar
chart
,
candlestick chart
, garis, dan sebagainya. Grafik tersebut biasanya juga dilengkapi
dengan berbagai informasi dan data yang lain seperti volume transaksi dan juga
indikator-indikator teknis.
http://rinaldy-tuhumury.blogspot.co.id/2012/07/analisis-fundamental-analisis-teknikal.html
Indeks Harga Saham
Share :
Twitter Google+
A. INDEKS HARGA SAHAM
Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham dalam suatu periode. Indeks ini berfungsi sebagai indikator trend pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah keadaan pasar sedang aktif atau sedang lesu.
Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui trend pergerakan harga saham saat ini; apakah sedang naik, stabil atau turun. Misal, jika di awal bulan nilai indeks 300 dan saat ini di akhir bulan menjadi 360, maka kita dapat mengatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 20%.
Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham. Karena harga-harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit, maka nilai indeks pun bergerak turun naik dalam hitungan waktu yang cepat pula.
Di Bursa Efek Indonesia terdapat 7 (tujuh) jenis indeks, antara lain:
1. Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang tercatat di BEI.
2. Indeks Harga Saham Sektoral, menggunakan semua saham yang termasuk dalam masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan, pertambangan, dan lain-lain. Di BEI indeks sektoral terbagi atas sembilan sektor yaitu: pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan jasa, dan manufaktur.
3. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (Composite Stock Price Index), menggunakan semua saham yang tercatat sebagai komponen penghitungan indeks.
4. Indeks LQ 45, yaitu indeks yang terdiri 45 saham pilihan dengan mengacu kepada 2 variabel yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang masuk kedalam LQ 45 tersebut.
5. Indeks Syariah atau JII (Jakarta Islamic Index). JII merupakan indeks yang terdiri 30 saham mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau Indeks yang berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam Indeks ini dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam syariat Islam. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti:
6. Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan. Yaitu indeks harga saham yang secara khusus didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.
7. Indeks KOMPAS 100. merupakan Indeks Harga Saham hasil kerjasama Bursa Efek Indonesia dengan harian KOMPAS. Indeks ini meliputi 100 saham dengan proses penentuan sebagai berikut :
B. INDEKS OBLIGASI PEMERINTAH
Indeks Obligasi memberikan nilai lebih, antara lain :
a. Sebagai barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi. • Sebagai alat analisa teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
• Benchmark dalam mengukur kinerja portofolio obligasi
b. Analisa pengembangan instrumen obligasi pemerintah.Formula yang digunakan dalam pengembangan informasi Indeks Obligasi Pemerintah:
• Price (Performance) Index • Yield Index
• Total Return Index
http://www.infovesta.com/infovesta/learning/learning.jsp?id=48
MENGENAL PRODUK–PRODUK
SYARIAH DI PASAR MODAL SYARIAH
Diposting Oleh: Chamid Riyadi August 27, 2015 Di Kategori Artikel, Opini
Total:0
0
(foto: OJK)