• Tidak ada hasil yang ditemukan

FENOMENA BUDAYA SUNGKEM MASYARAKAT JAWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FENOMENA BUDAYA SUNGKEM MASYARAKAT JAWA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

FENOMENA BUDAYA SUNGKEM MASYARAKAT JAWA DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SESEORANG

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki ciri khas tertentu yang membedakan dari negara lain. Keanekaragaman suku dan budaya yang ada di Indonesia menjadi salah satu ciri khas masyarakat Indonesia. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia[ CITATION Mul06 \l 1033 ].

Fong berpendapat bahwa identitas budaya merupakan konstruksi sosial yang diidentitaskan komunikasi dari sistem perilaku simbolik verbal dan non verbal yang memiliki arti dan yang dibandingkan antara anggota kelompok yang memiliki rasa saling memiliki dan yang membagi tradisi, warisan, bahasa dan norma-norma yang sama [ CITATION Waf14 \l 1033 ]. Wafda (2014) juga menambahkan, orang Jawa selalu bergaul ditengah masyarakat dengan menerapkan etika (sopan-santun atau tata krama). Penerapan etika ini dapat disaksikan melalui tradisi ujung pada saat hari lebaran, dimana orang-orang muda datang kepada para sesepuh untuk melakukan sungkeman. Selain itu, orang Jawa selalu mengucapkan kata permisi saat melewati orang-orang yang tengah duduk berkumpul atau makan bertamu pada seseorang. Etika dalam kehidupan orang Jawa pula ditunjukkan melalui tutur kata atau sikapnya yang terkesan halus dan merendah.

(2)

hormat kepada orangtua, menurut Dyah N. Khafifah (2013) juga memiliki manfaat memberikan ketenangan kepada pelaku dan keterkaitan batin dengan orangtua nya.

Seorang doktor psikologi dari Harvard, GW Allport juga mendefinisikan kepribadian sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum. [ CITATION Mar11 \l 1033 ]. Dari latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam dari budaya sungkeman yang merupakan salah satu budaya di Jawa, yang dari budaya dan kebiasaaan tersebut akan membentuk norma-norma perilaku kepribadian seorang pelakunya, khususnya di masyarakat Jawa.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan budaya sungkem dan bagaimana masyarakat Jawa mendefinisikan sungkem?

2. Bagaimana pengaplikasian sungkem pada masayarakat Jawa ?

3. Bagaimana prosesbudaya sungkem mampu mempengaruhi kepribadian pelakunya ? 4. Bagaimana pengaruh sungkem terhadap perilaku masyarakat Jawa?

1.3. Tujuan

1. Mengetahui dan memahami maksud budaya sungkem dan bagaimana masyarakat Jawa mendefinisikan sungkem tersebut.

2. Mengetahui dan memahami pengaplikasian sungkem pada masayarakat Jawa. 3. Mengetahui dan memahami proses budaya sungkem mampu mempengaruhi

kepribadian pelakunya.

(3)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Identitas Budaya

2.1.1. Pengertian Umum tentang Budaya

Budaya merupakan suatu tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, agama, waktu dan peranan sosial yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha seorang individu dan kelompok. Suatu budaya membentuk diri individu agar melakukan dan mejadikan sesuatu itu apa adanya. Tanpa sengaja budaya akan terbawa oleh individu dalam kehidupan sehari-harinya.

Larry A. Samovar, Richard E. Porter, dan Edwin R. McDaniel (2010), dalam bukunya Communication Between Cultures, mengungkapkan kebudayaan merupakan elemen subjektif dan objektif yang dibuat manusia dimasa lalu meningkatkan kemungkinan untuk bertahan hidup dan berakibat dalam kepuasan pelaku dalam ceruk ekologis, dan demikian tersebar diantara mereka yang dapat berkomunikasi satu sama lainnya, karena mereka mempunyai kesamaan bahasa dan mereka hidup dalam waktu dan mereka hidup dalam waktu dan tempat yang sama [ CITATION Sam10 \l 1033 ].

Menurut Deddy Mulyana (2004), Profesor Ilmu Komunikasi Unpad, budaya diartikan sebagai pemrograman kolektif atas pikiran yang membedakan anggota-anggota suatu kategori orang dengan kategori lainnya. Menyebutkan bahwa nilai-nilai adalah inti suatu budaya, sedangkan simbol-simbol merupakan manifestasi budaya paling dangkal, sementara pahlawan-pahlawan dan ritual-ritual berada diantara lapisan luar dan lapisan dalam model budaya tersebut. Simbol, pahlawan, dan ritual tercakup dalam praktik-praktik. Unsur-unsur ini terlihat oleh pengamat luar, tetapi maknanya tersembunyi dan makna persisnya terdapat dalam penafsiran orang dalam [ CITATION Mul04 \l 1033 ].

(4)

Kebudayaan berhubungan dengan suatu sudut pandang dalam kehidupan seseorang. Sejak manusia itu dilahirkan pastinya dipengaruhi oleh budaya. Tanpa kita sadari sebagian besar budaya mempunyai pengaruh dalam kehidupan, sehingga budaya membentuk pola kehidupan seseorang.

2.1.2. Pembentukan Identitas Budaya

Identitas budaya merupakan suatu kepemilikan serta kebanggaan terhadap budayanya sendiri dalam rangka kehidupan bersama. Karakteristik atau sebuah identitas dari tiap budaya yang sudah melekat dan tidak dapat berubah lagi. Terbentuknya identitas budaya diantaranya melalui bahasa, sejarah, kepercayaan, pola pemikiran, hubungan sosial dan agama yang sudah membudaya sehingga membentuk suatu identitas pada setiap individu. Suatu identitas budaya itu dibentuk menurut budayanya masing-masing. Sehingga setiap kelompok kebudayaan masing-masing memiliki suatu tatanan yang membentuk diri individu [ CITATION Barnd \l 1033 ].

Prof. H.A.R. Tilaar, yang merupakan tokoh pendidikan nasional menilai, masyarakat dipengaruhi oleh budayanya serta kebudayaan tersebut merupakan konstruksi dari manusia itu sendiri. Antara kebudayaan dan manusia terdapat suatu hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik tersebut terutama dari sudut pandang manusianya haruslah dalam posisi yang kritis dan bukan menerima apa adanya [ CITATION Til07 \l 1033 ]. Fong berpendapat bahwa identitas budaya merupakan konstruksi sosial yang diidentitaskan komunikasi dari sistem perilaku simbolik verbal dan non verbal yang memiliki arti dan yang dibandingkan antara anggota kelompok yang memiliki rasa saling memiliki dan yang membagi tradisi, warisan, bahasa dan norma-norma yang sama [ CITATION Sam10 \l 1033 ].

Secara teoritis Alo Liliweri (2007), seorang Doktor Ilmu Komunikasi berpendapat pembentukan identitas merupakan pemberian makna dari (self-meaning) yang ditampilkan dalam relasi antarmanusia. Identitas budaya dikembangkan melalui proses yang meliputi beberapa tahap antara lain:

(5)

c. Identitas Budaya Yang Diperoleh d. Konformasi: Internalisasi

e. Resistensi dan Separatisme f. Integrasi

Kesimpulan dari identitas budaya, merupakan suatu tradisi atau karakteristik yang sudah diwarisi secara turun-temurun terhadap budaya masing-masing yang sudah menjadikan kebiasaan oleh budaya tersebut. Pada dasarnya setiap budaya tentunya mempunyai karakteristik dan kebiasaan masing-masing yang terbawa ke dalam kehidupan bersosialisasi, salah satu contohnya adalah sungkeman.

2.1.4. Identitas Suku Jawa

Budaya suku Jawa merupakan esensi seseorang yang memiliki jiwa-jiwi. Dalam artian, seorang dianggap sebagai orang Jawa apabila telah menerapkan prinsip-prinsip ke-Jawa-annya di dalam kehidupan kesehariannya. Orang Jawa selalu bergaul ditengah masyarakat dengan menerapkan etika (sopan-santun atau tata krama). Penerapan etika ini dapat disaksikan melalui tradisi ujung pada saat hari lebaran, dimana orang-orang muda datang kepada para sesepuh untuk melakukan sungkeman. Selain itu, orang Jawa selalu mengucapkan kata permisi saat melewati orang-orang yang tengah duduk berkumpul atau makan bertamu pada seseorang yang juga dapat disebut dengan etika. Etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya [ CITATION Mag84 \l 1033 ].

Masyarakat Jawa mengatur interaksi-interaksinya melalui dua prinsip, prinsip kerukuna dan prinsip hormat. Dua prinsip itu menuntut bahwa dalam segala bentuk interkasi, konflik-konflik harus dicegah [ CITATION End10 \l 1033 ].

Achmad Charris Zubair, seorang budayawan berpendapat bahwa manusia disebut etis, ialah manusia yang secara utuh dan menyeluruh mampu memnuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan anatar kepentingan pribadi dengan soisalnya, antara rohani dengan jasmaniahnya, dan atar sebagai makhluk berdiri sendiri dengan khalik-nya

(6)

2.2. Fenomena Budaya Sungkeman

Fenomena terikat pada objek yang secara logis menjadi pengalaman manusia melalui deskripsi orientasi. Fenomenologi berhubungan dengan kenyataan tekstur fenomena, nilai, objek yang “aestetik”, kepercayaan dan bahkan agama. Jadi, dari pengalaman atas objek selalu berdasarkan pada apa yang terlintas pada konteks objek tersebut dan tidak pada konteks lain. Pengalaman itu terjadi “di sini” dan belum tentu di sana” pada konteks lain [ CITATION Lil07 \l 1033 ].

Arti dari kata sungkem adalah yang dilakukan oleh kedua pengantin kehadapan orang tua serta keluarga yang lebih tua dari kedua belah pihak, atau juga dapat diartikan sebagai menunjukkan tanda bakti dan rasa terimakasih atas bimbingan dari lahir sampai ke perkawinan. Selain itu dapat berarti mohon doa restu dalam menjalani suatu kegiatan, agar selalu mendapatkan berkat dan rahmat Tuhan [ CITATION Bra90 \l 1033 ].

Kesimpulannya bahwa fenomena sungkeman, yang merupakan salah satu budaya di masyarakat Jawa, adalah suatu objek yang diambil dari pengalaman seseorang yang berhubungan dengan fenomena yang sudah dialaminya. Seseorang mendefinisikan dan memberikan makna pada dunia berdasarkan pengalaman yang sudah terjadi. Melalui pengalaman seseorang dan kehidupan yang sudah terjadi di interpretasikan yang terkait dengan kompleksitas makna secara menyeluruh.

2.3. Kepribadian

Menurut Florence Littauer (2006) dalam bukunya yang berjudul Personality Plus, kepribadian adalah keseluruhan perilaku seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Maka dari itulah situasi diciptakan dalam pembelajaran harus diseimbangkan dengan kebiasaan dan tindakan seorang anak, sehingga terdapat perasaan yang memaksa atau tertekan dalam diri anak.

(7)

yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum. [ CITATION Mar11 \l 1033 ].

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan suatu susunan sistem psikofisik (psikis dan fisik yang berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku) yang kompleks dan dinamis dalam diri seorang individu, yang menentukan penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya, sehingga akan tampak dalam tingkah lakunya yang unik dan berbeda dengan orang lain. Kepribadian sebenarnya merupakan organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi suatu individu baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Purwanto (2006) salah satu faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah budaya. Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di mana seseorang itu dibesarkan. Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain nilai-nilai (values), adat dan tradisi, pengetahuan dan keterampilan, bahasa, dan milik kebendaan (material possessions).

2.4. Pengukuran Kepribadian

Alex Sobur (2003) dalam bukunya Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah, menyatakan bahwa terdapat beberapa cara untuk mengukur kepribadian, diantaranya yaitu dengan cara sebagai berikut:

1. Observasi Langsung (Direct)

Observasi direk merupakan observasi yang berbeda dengan observasi biasa. Observasi ini mempunyai sasaran yang khusus, sedangkan observasi biasa mengamati seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk dilakukan dengan memilih situasi tertentu, yaitu pada saat dapat diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang ingin diteliti, dilakukan dalam situasi yang dikontrol, dapat diulang dan dapat dibuat replikasinya. Observasi direk juga disebut dengan observasi quasi experimental. Ada tiga tipe metode dalam observasi direk, yaitu:

(8)

Setiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Periode tersebut bisa berlangsung selama beberapa detik, beberapa menit, atau bahkan beberapa jam, tergantung pada tipe tingkah laku atau indikator atau ciri-ciri yang ingin diteliti. b) Incident Sampling Method

Dalam metode ini, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku. Laporan observasinya berupa catatan-catatan yang mencakup intensitas, lama waktunya, dan efek-efek setelah respon.

c) Metode Buku Harian Terkontrol

Dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah laku khusus yang ingin diketahui oleh yang bersangkutan. Syarat penggunaan metode ini yaitu peneliti adalah orang dewasa dan cukup inteligen, serta dilakukan untuk pengabdian pada perkembangan ilmu pengetahuan.

2. Wawancara (Interview) a) Stress Interview

Stress Interview digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang untuk bertahan terhadap hal-hal yang mengganggu emosinya dan seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya setelah tekanan ditiadakan.

b) Exhaustive Interview

Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama, dan diselenggarakan secara nonstop. Tujuannya adalah membuat interviewee lelah dan melepaskan sikap defensifnya dengan berbicara terus terang. Cara ini biasanya digunakan untuk meneliti para tersangka tindak kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga. Selain itu juga digunakan dalam memilih pegawai untuk jabatan penting.

3. Tes Proyektif

(9)
(10)

DAFTAR PUSTAKA

Barker, C. (nd). Cultural Studies Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka. Bratawidjaja, T. W. (1990). Upacara Perkawinan Adat Sunda. Jakarta: Pustaka Sinar

Harapan.

Endraswara, Suwardi. (2010). Etika Hidup Orang Jawa. Jakarta: Narasi.

Khafifah, DN. (2013). Memudarnya Tradisi Sungkeman Dan Cium Tngan Orang Tua. https://dyahnurkhafifah.wordpress.com/2013/05/21/memudarnya-tradisi-sungkeman-dan-cium-tngan-orang-tua/

Liliweri, A. (2007). Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: PT LKIS Pelangi.

Littaurer, Florence. 2006. Personality Plus. Jakarta: PT. Rosdakarya. hlm 38

Magnis-Suseno, F. (1984). Etika Jawa: Sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.

Marlinah, S. (2011). Peran Kebudayaan Dalam Membentuk Kepribadian. Bekasi: Universitas Gunadarma.

Mulyana, D. (2004). Komunikasi Effektif Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. &. (2006). Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Purwanto, Ngalim. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Rosyik, Fakor. 2016. Etika Perilaku Jawa. http://fakorrosyik.blogspot.co.id/2016/01/etika-perilaku-jawa.html. diakses pada: 21 April 2016

Samovar, L. A., Porter, R. E., & McDaniel, E. R. (2010). Communication Between Cultures (Terjemahan: Komunikasi Lintas Budaya). Jakarta: Salemba Humanika.

Sinaga, E. R. (2011). Pembelajaran Membaca Cepat dengan Menggunakan Teknik Quantum. Speed Reading (QSR) pada Siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Bandung: Universitad Pendidikan Indonesia.

(11)

Tilaar, H. A. (2007). Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Wafda, I. K. (2014). Peran Identitas Suku Jawa Dalam Komunikasi Antarbudaya. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Data pada penelitian ini berupa bentuk tuturan yang mengandung reduksi maksud pragmatik Insya Allah di kalangan masyarakat muslim berlatar belakang budaya Jawa di

Adapun objek dalam penelitian ini ialah bentuk- bentuk tuturan yang mengandung reduksi maksud pragmatik Insya Allah dikalangan masyarakat muslim berlatar belakang

Meliputi bentuk pelanggaran, faktor yang mempengaruhi perilaku berlalu lintas masyarakat Jawa, nilai – nilai budaya dilihat dari perilaku berlalu lintas masyarakat

Temuan yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwaPersepsi masyarakat tentang pernikahan dini ditinjau dari latar belakang budaya yaitu Batak dan Jawa

Terkait adanya budaya bersih bagi Masyarakat Jepang merupakan hal menarik, karena negara Jepang salah satu negara yang menjunjung tinggi nilai kebersihan dan

Mata kuliah Visi Budaya dan Perubahan Masyarakat Jawa dimaksudkan sebagai kajian teoritik dan praktik bagaimana budaya Jawa bertahan dengan identitasnya di tengah pengaruh budaya

Penelitian ini menunjukan masyarakat Jawa Timur memiliki kemampuan lintas budaya, dalam arti menerima orang luar Jawa sebagai presiden Indonesia asalkan

Objek pembanding dalam pepindhan tentang aktivitas anggota badan berkaitan erat dengan budaya yang ada di masyarakat Jawa.. Objek-objek tersebut meliputi hewan,