• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH VARIASI SUHU FERMENTASI TERHADAP KADAR LEMAK DAN KEASAMAN SOYGHURT KULIT BUAH PISANG RAJA (Musa textillia) | Mulyani | Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia 9021 19162 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH VARIASI SUHU FERMENTASI TERHADAP KADAR LEMAK DAN KEASAMAN SOYGHURT KULIT BUAH PISANG RAJA (Musa textillia) | Mulyani | Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia 9021 19162 1 PB"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/jkpk

ISSN 2503-4154 (online)

4 8

PROFIL KADAR PROTEIN, KADAR LEMAK, KEASAMAN, DAN

ORGANOLEPTIK

SOYGHURT

KULIT BUAH PISANG RAJA

(

Musa textillia

) PADA VARIASI SUHU DAN WAKTU

FERMENTASI

Sri Mulyani*, Nur Fajariyah, dan Wiwit Pratiwi

Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta

*Keperluan Korespondensi, telp:081548603734, email: [email protected]

ABSTRAK

Soyghurt adalah hasil fermentasi susu kedelai oleh mikroba yang digunakan dalam pembuatan yogurt. Soyghurt kulit buah pisang raja adalah soyghurt yang dalam proses fermentasinya ditambahkan krim kulit buah pisang raja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profilsoyghurtkulit buah pisang raja berdasarkan kadar protein pada variasi waktu fernentasi, kadar lemak pada variasi suhu fermentasi, serta keasaman dan sifat organoleptik pada variasi suhu dan waktu fermentasi. Penelitian ini dilakukan dengan eksperimen di laboratorium. Variasi suhu yang digunakan adalah 28°C, 37°C dan 44°C, dengan waktu fermentasi 20 jam, sedangkan variasi waktu fermentasi adalah 18, 20, dan 22 jam pada 39°C. Uji kadar protein dilakukan dengan metode Kjeldahl, uji kadar lemak menggunakan metode ekstraksi, dan uji kadar keasamaan berdasarkan SNI 2981:2009. Uji organoleptik terhadap rasa, aroma, tekstur, dan warnasoyghurtkulit buah pisang raja dilakukan menggunakan angket dengan skala hedonik 1- 4 terhadap 20 responden tidak terlatih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variasi waktu 18, 20, dan 22 jam kadar protein soygurt kulit buah pisang raja masing masing adalah 1,67 ± 0,02 %, 2,20 ± 0,11 %, dan 4,06 ± 0,02 % dan keasaman berdasarkan kadar asam laktatnya adalah 0,50 ± 0,02 %, 0,55 ± 0,02 %, dan 0,62 ± 0,01 %. Sedangkan pada variasi 28°C, 37°C dan 44°C kadar lemaknya seperti yang dilaporkan oleh Fajariyah dan Mulyani (2016) masing masing adalah 0,35 ± 0,02 %, 0,32 ± 0,05 %, dan 0,28 ± 0,01 % dan untuk kadar keasamannya masing masing adalah 1,23 ± 0,01 %, 0,50 ± 0,03 %, dan 0,51 ± 0,03 %. Hasil uji organoleptik meliputit: (1)rasayang lebih disukai dengan nilai 3,6 adalah hasil fermentasi pada 44°C, 20 jam dan pada 39oC, 22 jam; (2)aromadengan nilai 3,3 pada 28°C dan 37°C serta 39°C dalam waktu 20 jam; (3)Teksturdengan nilai 3,3 pada 39oC, 22 jam; (4)warnadengan nilai 3,8 pada 28°C, 20 menit.

Kata Kunci :soyghurt, kulit pisang raja, kadar lemak, kadar protein, kadar keasamaan

ABSTRACT

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/jkpk

Received: August 4, 2016 Accepted: August 15, 2016 Online Published: August 31, 2016

(2)

PENDAHULUAN

Susu Kedelai adalah produk olahan

hasil ekstraksi protein kacang kedelai. Susu

kedelai merupakan makanan pengganti

susu bagi orang yang alergi terhadap susu

hewani. Kandungan gizi susu kedelai tidak

kalah dengan susu hewani (susu sapi)

(Tabel 1) [1].

Tabel 1. Komposisi Gizi Susu Kedelai Cair

dan Susu Sapi (dalam 100g)

Komponen Susu

Kedelai

Susu Sapi

Kalori (kkal) 41,00 61,00

Protein (gr) 3,50 3,20

Lemak (gr) 2,50 3,50

Karbohidrat (gr) 5,00 4,30

Kalsium (mgr) 50,00 143,00

Fosfor (gr) 45,00 60,00

Besi (gr) 0,70 1,70

Vitamin A (SI) 200,00 130,00

Vitamin B1 (tiamin) (mgr 0,08 0,03

Vitamin C (mgr) 2,00 1,00

Pemanfaatan susu kedelai masih

terbatas karena penyimpanannya yang tidak

lama dan cita rasanya yang kurang disukai

(langu). Sehingga dipilih alternatif bentuk

pengolahan lainnya yaitu dengan

mem-fermentasinya menjadi yogurt yang lebih

dikenal dengan istilah Soyghurt. Proses

pembuatan soyghurt dan kultur (biakan

murni) starter yang digunakan sama pada

pembuatanyoghurt. Starter yang digunakan

adalah bakteri Lactobacillus bulgaricus dan

Streptococcus thermophillus. Beberapa

keuntungan yoghurt antara lain: (1) adanya

kedua bakteri hidup tersebut akan aktif

memproduksi enzim laktase, enzim yang

jumlahnya kurang pada anak dengan

intoleransi laktosa, menyebabkan yoghurt

lebih mudah dicerna dibandingkan dengan

susu. Proses pengulturan akan memecah

laktosa menjadi glukosa dan galaktosa,

sehingga lebih mudah diserap oleh anak

dengan intoleransi laktosa, disamping itu

juga akan dihasilkan asam laktat dan

berbagai komonen aroma dan cita rasa; (2)

adanya Lactobacteria akan meningkatkan

bakteri baik pada kolon, memperbaiki

keseimbangan flora di saluran cerna,

sehingga akan menurunkan risiko kanker

kolon; dan (3) adanya asam laktat pada

yoghurt akan membantu mencerna kalsium

susu, sehingga kalsium akan lebih mudah

diserap [2].

Susu kedelai berbeda dengan susu

sapi. Susu kedelai tidak mengadung laktosa

sehingga susu ini cocok untuk dikonsumsi

penderita intoleransi laktosa, yaitu

seseorang yang tidak mempunyai enzim

laktase dalam tubuhnya sehingga tidak

dapat mencerna makanan yang berlaktosa

[3]. Dibandingkan denganyoghurtsusu sapi, based on laktic acid content is 0.50 ± 0.02%, 0.55 ± 0.02%, and 0.62 ± 0.01%, respectively. While on the variation of 28 °C, 37 °C and 44 °C the fat contents as reported by Fajariyah and Mulyani (2016), is 0.35 ± 0.02%, 0.32 ± 0.05%, and 0, 28 ± 0.01%, respectively, and for each acidity levels is 1.23 ± 0.01%, 0.50 ± 0.03%, and 0.51 ± 0.03%. The organoleptic test results include: (1) the preferred value of taste of 3.6 is soygurt kulit pisang raja fermented at 44 °C, 20 hours and at 39oC, 22 hours; (2) flavor with a prefered value of 3.3 at 28 °C, 37 °C and 39 °C within 20 hours; (3) Texture with a prefered value of 3.3 at 39oC, 22 hours; (4) color with a prefered value of 3.8 at 28 °C, 20 hours.

(3)

pembuatan soyghurt memerlukan starter

yang lebih sedikit dan pembuatannnya

dapat dilakukan pada suhu kamar. Proses

fermentasi pada pembuatan soyghurt

dengan inokulasi secara langsung terdapat

kesulitan. Hal ini karena jenis karbohidrat

yang terdapat dalam susu kedelai sangat

berbeda dengan karbohidrat dari susu sapi.

Hasil penelitian menunjukkan, apabila susu

kedelai langsung diinokulasi (ditambah)

dengan starter dan diinkubasi selama 4 jam

pada suhu 45oC tidak menghasilkan

perubahan, baik pH maupun kekentalannya

(soyghurt tidak terbentuk) [4]. Maka supaya

proses fermentasinya berhasil, susu kedelai

terlebih dahulu ditambah sumber gula

sebanyak 3,6 sampai 4,5 %, sebelum

diinokulasi [1]. Sukrosa, fruktosa, glukosa

maupun laktosa dalam susu skim bubuk

dapat digunakan sebagai sumber gula.

Aroma soyghurt berbeda dengan

yoghurtpada umumnya. Hal ini di sebabkan

bau langu dari susu kedelai. Oleh karena itu,

dibutuhkan bahan tambahan yang bisa

mengatasi bau langusoyghurt. Di Indonesia

khususnya di Surakarta banyak orang

memanfaatkan buah pisang raja (Musa

textillia) akan tetapi membuang kulit

buahnya, sehingga menimbulkan limbah

baru. Kulit pisang raja masih memberikan

aroma dan rasa pisang serta masih memiliki

kandungan zat gizi (Tabel 2) [5].

Kulit pisang raja (Gambar 1) juga

mengandung lignin sebesar 32,24%. Lignin

merupakan senyawa aromatik yang terdiri

dari unit fenilpropana, memiliki gugus

metoksil dan inti phenol yang saling

berikatan dengan ikatan eter atau ikatan

karbon dan mempunyai berat molekul tinggi

[6]. Sehingga kulit pisang juga dapat

dijadikan bahan dasar pembuatan yoghurt

maupun jelly [7].

Tabel 2. Komposisi zat gizi kulit pisang

No Zat gizi per 100 gram Kadar, %

1. Air 68,90

2. Karbohidrat 18,50

3. Lemak 2,11

4. Protein 0,32

5. Kalsium 715

6. Fosfor 117

7. Zat besi 1,60

8. Vitamin B 0,12

9. Vitamin C 17,50

(A) (B)

Gambar 1. Kulit Pisang (A) dan Pisang raja (

Musa textillia

)

(B)

Proses fermentasi pada umumnya

dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantara-nya adalah kondisi lingkungan yang

diperlukan bagi pertumbuhan mikroba yaitu

suhu, udara (oksigen), kelembaban, garam,

dan asam [8]. Oleh karena itu pada

penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

profil soyghurt kulit buah pisang raja

berdasarkan kadar protein pada variasi

waktu fernentasi, kadar lemak pada variasi

suhu fermentasi, serta keasaman dan sifat

organoleptik pada variasi suhu dan waktu

(4)

METODE PENELITIAN

Waktu dan tempat penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium

Biologi dan laboratorium Kimia FKIP UNS

serta Laboratorium pelayanan Umum

Fakultas Pertanian UGM. Penelitian

dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan

Oktober 2015.

Alat dan Bahan

Alat: neraca analitik dengan ketelitian 0,1

mg, thermometer, kaca arloji, blender,

inkubator, pipet volumetrik 25 ml, penangas

air, kertas saring, soklet, batu didih, bulb, erlenmeyer, gelas beaker,heat mantle, labu alas bulat, pipet ukur, kondensor, spatula, oven, desikator, gelas ukur, tang/penjepit, tutup labu, buret mikro, buret 10 ml

terkalibrasi, dan erlemenyer 250 ml, Labu

Kjeldahl 100 ml.

Bahan:

-Susu kedelai dari penjual di daerah

Kentingan Surakarta, susu skim, aquades,

gula pasir,

-kulit pisang raja dari penjual pisang di

Pasar Gede Surakarta, Jawa Tengah yang

diambil secara acak.

-Starter: Lactobacillus bulgaricus dan

Streptococus thermophillus, diperoleh dari

Fakultas Pertanian UNS.

-H2SO4 pekat, indikator fenolftalein 0,5%, petroleum atau pelarut lemak lainnya

seperti etil eter, kloroform, dan karbon

tetraklorida, larutan katalis CuSO4.5H2O

bebas nitrogen 0,05 g/ml, katalis selen dan

katalis sulfat bebas nitrogen, indikator

MR/BCG, larutan H3BO3, laritan NaOH

30% larutan Indkator PP 1%, larutam HCl

0,1 M, Larutan NaOH 0,1 N

Prosedur Penelitian

a. Proses Pembuatan Kulit Buah Pisang

Raja

Kulit buah pisang raja yang telah

dibersihkan dan dicuci dengan air bersih

kemudian direbus selama kurang lebih 10

menit. Kemudian rebusan kulit buah pisang

ditiriskan dan didinginkan, setelah itu kulit

buah pisang dicincang dan ditambahkan air

lalu diblender hingga menjadi krim kulit buah

pisang [9].

b. Proses Pembuatansoyghurt

Proses pembuatan soygurt

mengi-kuti prosedur dari Herawati dan Wibawa [10]

dengan sedikit modifikasi untuk konsentrasi

gula maupun susu skimnya seperti yang

sudah diuraikan oleh Fajariyah dan Mulyani

[9]. Variasi suhu fermentasi ada 3, yaitu

280C, 370C dan 440C dengan lama waktu 20

jam; sedangkan variasi waktu fermentasi

ada 3 juga yaitu 18, 20, dan 22 jam dengan

suhu fermentasi 370C.

c. Uji Kadar Lemak dalamSoyghurt

(SNI 2981:2009)

Uji kandungan lemak dengan variasi

suhu fermentasi, yaitu 280C, 370C dan 440C

dilakukan dengan metode ekstraksi menurut

prosedur yang diuraikan oleh Fajariyah dan

Mulyani [9].

.

d. Uji Kadar Protein dalamSoyghurt (SNI 2981:2009)

Uji kandungan Protein dengan variasi

lama waktu fermentasi 18, 20, dan 22 jam

dilakukan dengan metode Kjeldahl. Satu

gram contoh (W) di dalam labu Kjeldahl

ditambah 15 g K2SO4, 1 ml larutan katalis

(5)

ml H2SO4 pekat. Campuran dipanaskan

(didestruksi) dalam penangas listrik sampai

mendidih dan larutan menjadi jernih

kehijau-hijauan, kemudian dibiarkan dingin dan

selanjutnya diencerkan dengan air

secukupnya. Larutan NaOH 30% sebanyak

75 ml ditambahkan sehingga campuran

menjadi basa (dengan indikator PP).

Campuran selanjutnya disuling selama 5-10

menit (atau jumlah destilas sudah mencapai

sekitar 150 ml)dan ditampung dalam wadah

yang berisi 50 ml larutan H3BO3 4%. Ujung

pendingin dibilas dengan air suling, destilat

selanjutnya dititrasi dengan larutan HCl 0,1

N. Penentapan blangko dikerjakan dengan

cara yang sama. Kadar protein dihitung

dengan rumus:

C (%) = (V1-V2)xNx14,007x6,38x100% x 100% W

Dengan:

C = Kadar protein

V1= volum untuk titrasi contoh (ml)

V1= volum untuk titrasi blangko (ml)

N = Normalitas larutan standar HCl

W = bobot contoh (mg)

14,007 =bobot atom Nitrogen

6,38 adalah faktor protein untuk susu.

e. Uji Keasaman (SNI 2981:2009)

Contoh sebanyak 20 g dimasukkan ke

dalam erlenmeyer, ditambah air bebas CO2

sebanyak 2 kali volum dan ditambahkan 2

ml indikator PP kemudian dititrasi dengan

larutan NaOH 0,1 N sampai terbentuk warna

merah muda. ditimbang dan dimasukkan ke

dalam erlenmeyer. Kadar asam dihitung

dengan rumus:

Jumlah asam (%) = V x N x 90 x 100% W

Dengan:

90 = bobot setara asam laktat

V = volum untuk titrasi contoh (ml)

N = Normalitas larutan standar NaOH

W = bobot contoh (mg)

f. Uji Organoleptik

Uji organoleptik dilakukan seperti

yang digambarkan oleh Pratiwi untuk

menguji bau, rasa, tekstur dan warna

soighurt. Panelis tidak terlatih sebanyak 20

orang diminta memberikan penilaian kesan

suka atau tidak suka terhadap 4 karakteristik

mutu Soighurt yang disajikan dengan

menuliskan tingkat kesukaan dengan skala

hedonik 1-4. Tingkat kesukaan 1 = amat

suka, 2 = suka, 3 = tidak suka, dan 4 = amat

tidak suka. Dalam melakukan penilaian

panelis menggunakan indera peraba,

pembau, penglihatan, dan pencicip dan

bersifat subyektif sesuai dengan kondisi

orang tersebut [11].

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pembuatan Krim kulit buah pisang Raja

danSoyghurtKulit Buah Pisang Raja

Kulit buah pisang raja yang telah

dibersihkan dan dicuci dengan air bersih

kemudian direbus selama kurang lebih 10

menit dengan tujuan mengurangi getah

pada kulit buah pisang. Setelah dingin

diblender sampai halus membentuk krim

yang masih memiliki aroma pisang raja dan

warna coklat muda yang khas. Krim ini

memberikan warna yang khas pula pada

Soighurthasil olahan.

Pembuatan soyghurt dengan bahan

baku 500 ml susu kedelai yang ditambah

dengan 5% gula pasir (sukrosa) dan 5%

(6)

rata mengandung 5% karboh

sehingga total sumber

ditambahkan sebanyak 5,25

melebihi jumlah yang disaran

sampai 4,5 % [1]. Dalam

dengan penambahan 5,25 %

soyghurt masih bisa dipero

yang diperoleh berwarna

teksturnya sedikit kur

dibandingkan yoghurt namun

aroma dan rasa yang asam

Aroma dan rasa asam yang

aktivitas mikroba yang digu

fermentasi, yaitu campuranS

danL. bulgaricusdalam perb

sama (1 : 1).

S. thermophilus dan

akan memanfaatkan sumbe

ditambahkan sebagai sumb

thermopilusakan tumbuh dulu

menghasilkan asam laktat

runkan pH medium. Pada

pertumbuhanS. thermopilusa

tetapi sebaliknya akan mer

tumbuhan.L. bulgaricusakan

asam laktat yang lebih

mengakibatkan penurunan p

bisa mencapai kisaran pH 3

susu (kasein) akan meng

kisaran pH 4,6-4,7. Dengan

thermophilus dan L. bulgar

sama memfermentasi laktos

menjadi asam laktat yang

protein terdenaturasi sehingga

semi-padat, dan berasa

proteolitik dari L. bulgaricus

terurainya protein susu meng

– asam amino dan peptida

tosa dalam susu

g menyebabkan

ditambahkan susu skim un

asupan laktosa yang tidak

susu kedelai. Sehingga d

dalam pembuatan Soyghu

berperan dalam pemb

soyghurt seperti yoghurt

thermopilusberperan dala

rasa asamsoyghurt[12, 13

2. Kadar protein soygh

pisang pada variasi wa

Dari data percobaan

pada variasi waktu 18, 20,

protein soygurt kulit bu

masing masing adalah 1,67

0,11 %, dan 4,06 ± 0,02 %

Gambar 2. Kadar proteinso pisang raja pad fermentasi

Dari Gambar 2

semakin lama waktu ferm

kadar proteinnya makin

memenuhi syarat mutu ka

yoghurt (minimum 3,5%,

adalah pada 22 jam. Selam

masih terpenuhi, makin la

fermentasi maka mikro

makin banyak selama mas 0

as yoghurt. Oleh

mbuatan soyghurt

untuk memberikan

ak terdapat dalam

dikatakan bahwa

ghurt kulit buah

waktu Fermentasi pada variasi waktu

tampak bahwa

asih dalam fase log 20 jam

22 jam 2,2

(7)

pertumbuhan. Di dalam m

mempunyai kandungan pr

banyak mikroorganismenya

nya juga makin banyak.

kurvanya yang cenderung p

dimungkinkan juga terjad

material non protein menjadi

metabolisme sel mikroba [14]

3. Kadar lemak Soyghurt

pisang pada variasi suhu

Gambar 3 menggam

analisis kadar lemak soygh

pisang raja pada variasi su

Pada variasi suhu 28°C, 37

kadar lemaknya seperti ya

oleh Fajariyah dan Mulyan

masing adalah 0,35 ± 0,02 %

%, dan 0,28 ± 0,01 %

Gambar 3. Kadar lemak soyg pisang raja pada fermentasi (Sumb dan Mulyani [9].

(A)

Gambar 4. Kadar asam laktat dan (B) variasi wak 0

urt kulit buah

hu Ferementasi

ambarkan hasil

ghurt kulit buah

suhu fermentasi.

Berdasarkan nilai ka

Soyhgurt ini dapat dikateg

yoghurt rendah lemak

lemaknya kurang dari 1%.

diketahui kenaikan su

cenderung menurunkan

meskipun tidak berbeda sec

44°C diketahui merupakan

dari pertumbuhan L. Bu

asam laktat ini akan mem

lipase yang akan men

menjadi asam lemak, se

lemak ini akan diuraikan m

senyawa yang memiliki aro

[3] . Kadar lemaksoyghurt

raja yang dibuat dalam pe

memenuhi SNI 2981:2009

yogurtdengan lemak maks

%(b/b).

4. Kadar asam laktatSoy

pisang pada variasi s

Ferementasi

Keasaman soygh

kadar asam laktatnya adala

0,55 ± 0,02 %, dan 0,62

variasi waktu fermentasi 18

Sedangkan pada variasi

44°C kadar keasamannya

(B)

tatsoyghurtkulit buah pisang raja pada (A) varias waktu fermentasi.

Berdasarkan nilai kadar lemak maka

Soyhgurt ini dapat dikategaorikan sebagai

yoghurt rendah lemak karena kadar

lemaknya kurang dari 1%. Dari Gambar 3

diketahui kenaikan suhu fermentasi

cenderung menurunkan kadar lemaknya

meskipun tidak berbeda secara nyata. Suhu

44°C diketahui merupakan suhu optimum

dari pertumbuhan L. Bulgaricus. Bakteri

asam laktat ini akan memproduksi enzim

lipase yang akan menguraikan lemak

menjadi asam lemak, selanjutnya asam

lemak ini akan diuraikan menjadi

senyawa-senyawa yang memiliki aroma khasyoghurt

[3] . Kadar lemaksoyghurtkulit buah pisang

raja yang dibuat dalam penelitian ini sudah

memenuhi SNI 2981:2009 yaitu syarat mutu

yogurtdengan lemak maksimum adalah 3,8

(8)

adalah 1,23 ± 0,01 %, 0,50 ± 0,03 %, dan

0,51 ± 0,03 % [9].

Dari profil asam laktat yang

dihasilkan selama fermentasi (Gambar 4)

tampak bahwa pada variasi suhu fermentasi

nilai maksimum asam laktat diperoleh pada

suhu 28°C sedangkan pada variasi waktu

fermentasi ada kecenderungan meningkat

dengan bertambahnya waktu fermentasi.

Secara keseluruhan asam laktat pada

soyghurt kulit buah pisang raja melebihi

ketentuan SNI 2981:2009 yaitu syarat mutu

yogurt dengan keasaman yang dihitung

sebagai asam laktat adalah sebesar

0,5%-2,0%. Agar kandungan asam laktanya

memenuhi SNI maka bisa disarankan

bahwa proses fermentasinya bisa dilakukan

pada suhu 37°C dengan waktu fermentasi

18 jam.

5.

Uji organoleptik Soyghurt kulit buah

pisang pada variasi suhu dan waktu

fermentasi

Hasil uji organoleptik dari soyghurt

kulit buah pisang raja dengan variasi suhu

maupun waktu fermentasi disajikan dalam

tabel 3. Sifat organoleptik soyghurt ini

ditinjau dari rasa, aroma, tekstur, dan warna.

Penilaian melibatkan 20 responden yang

tidak terlatih. Responden mengisi kuesioner

dengan memberikan skala hedonik 1-4

untuk masing-masing komponen sifat

organoleptik. Nilai “1” untuk penilaian

pane-lis apabila “amat kurang suka” terhadap

rasa, aroma, tekstur, dan warna dari

soy-ghurt yang dibuat dalam penelitian ini. Nilai

“2” untuk penilaian “kurang suka”, nilai “3”

untuk suka dan nilai “4” untuk “amat suka”.

TABEL 3. Hasil Uji Organoleptik soyghurt kulit buah pisang raja dengan variasi suhu dan waktu fermentasi

Sifat

Orga-noleptik Rasa Aroma Tekstur Warna

VARIASI WAKTU FERMETASI (dengan suhu fermentasi 39oC)

18 jam 2,7 2,5 3,1 2,9

20 jam 3,2 3,3 3,1 2,9

22 jam 3,6 2,6 3,3 3,0

VARIASI SUHU FERMENTASI (dengan lama waktu fermentasi 20 jam)

28°C 2,7 3,3 3,0 3,8

37°C 3,4 3,3 3,2 3,1

44°C 3,6 3,2 3,2 3,3

Keterangan: Skala Hedonik:

Amat kurang suka = 1; Kurang suka = 2 Suka = 3; Amat suka =4

Hasil uji organoleptik dalam tabel 3

menunjukkan bahwa rasa soyghurt kulit

pisang yang lebih disukai adalah hasil

fermentasi suhu 44°C, selama 20 jam dan

pada 39oC selama 22 jam. Sedangkan untuk

aroma-nya adalah hasil fermentasi pada

28°C dan 37°C, dan dalam waktu 20 jam.

Serta pada 20 jam 39°C. Tekstur-nya yang

lebih disukai pada suhu 37°C dan 44°C

selama 20 jam dan dalam waktu 22 jam

pada 39°C. Untuk warna-nya responden

lebih menyukai yang difermentasi pada suhu

28°C selama 20 jam dan dalam waktu 22

jam pada 39°C.

Warna soyghurt kulit buah pisang

raja pada suhu fermentasi 28°C, 37°C, dan

44°C memberikan perbedaan yang

signifikan, masing-masing berwarna putih

susu, coklat kekuningan dan coklat.

Degradasi warna dari putih susu menjadi

coklat ini menunjukkan bahwa

produk-produk senyawa yang dihasilkan semakin

(9)

atau senyawa-senyawa produk berwarna

lebih gelap, sehingga dengan bertambahnya

senyawa tersebut memberikan intensitas

warna yang lebih tinggi sehingga terkesan

lebih coklat. Warna yang timbul sebenarnya

didominasi oleh warna krim kulit pisang

yang ditambahkan.

Aroma pada soyghurt dipengaruhi

oleh asam laktat, sisa-sisa asetaldehid,

diasetil, asam asetat, dan bahan-bahan

mudah menguap lainnya setelah proses

fermentasi [12]. Pada fermentasi selama 18

jam soyghurt masih beroma pisang

sedangkan setelah 20 jam aroma khas

yoghurt tercium lebih segar, aroma pada 22

jam kurang disukai panelis karena lebih

menyengat. Aroma khas yoghurt juga

tercium pada fermentasi yang dilakukan

pada suhu 28°C dan 37°C. Sedangkan pada

suhu 44°C aromanya tidak segar,

kemungkinan pada suhu ini beberapa

senyawa beraroma khas yoghurt sudah

menguap, sehingga aroma yang tercium

kurang disukai oleh panelis.

Terdapat perbedaan rasa yang

signifikan antara soyghurt kulit buah pisang

raja dengan variasi suhu fermentasi 280C,

370C, dan 440C, maupun yang dengan

variasi lama waktu fermentasi 18 jam, 20

jam, dan 22 jam.. Rasa susu kedelai, seperti

pisang, dan asam khas yoghurt didapati

pada semuasoyghurt kulit buah pisang raja.

Semakin tinggi suhu fermentasi, maka

semakin asam soyghurt, begitu juga

semakin lama waktu fermentasi rasa

soyghurtsemakin masam.

L. bulgaricusbekerta optimum pada

suhu 45°C, adanya asam laktat hasil

fermentasi dari S. thermopilus akan

merangsang pertumbuhan. L. bulgaricus

untuk menghasilkan asam laktat yang lebih

banyak sehingga pH akan turun lebih lanjut

[12]. Semakin banyak asam laktat yang

diproduksi maka rasa asam makin lama

makin berasa. Berdasarkan data panelis

soyghurt kulit buah pisang raja yang

difermentasi pada suhu 440C dan dalam waktu 22 jam memiliki rasa asam khas

yoghurtyang paling baik atau paling disukai.

Tekstur dari yoghurt yang dihasilkan

menentukan apakah yoghurt tersebut

berkualitas baik.Yoghurt yang baik memiliki

tekstur yang lembut seperti bubur, tidak

terlalu encer dan tidak pula terlalu padat

[6]. Beberapa faktor yang mempengaruhi

teksturyoghurtadalah perlakuan pada susu

sebelum diinokulasi, ketersediaan nutrisi,

bahan-bahan pendorong, produksi

metabolis oleh lactobacilli, interaksi antara

bakteri biakan lainnya, penanganan bakteri

sebelum digunakan dan juga ada atau

tidaknya antibiotika dalam susu [7]. Dalam

penelitian inisoyghurt kulit buah pisang raja

yang difermentasi pada suhu 37°C dan 44°C

serta difermentasi dalam waktu 22 jam

memiliki tekstur halus serta kental dan

paling disukai , sedangkan suhu fermentasi

28°C memiliki tekstur yang agak kasar dan

kental. Menurut Purwati dkk, penambahan

susu skim pada pembuatan soyghurt

menyebabkan tekstursoyghurt menggumpal

sedangkan penambahan susu fullcream

menyebabkan tekstur soyghurt mengental

[12]. Berbeda dalam percobaan ini, dengan

penambahan susu skim dan krim kulit buah

pisang raja menyebabkan tekstur soyghurt

tidak menggumpal melainkan halus serta

(10)

KESIMPULAN

Berdasakan hasil penelitian dan

pem-bahasan dapat disimpulkan bahwasoyghurt

yang dibuat dengan penambahan krim kulit

buah pisang raja dan 5% susu skim

menghasilkan tekstur yang halus dan kental.

Kadar protein pada suhu fermentasi 37°C

makin lama diperam signifikan makin tinggi,

dan paling tinggi dihasilkan pada lama

waktu 22 jam, yaitu sebesar 4,06 ± 0,02 %.

Kadar lemak pada fermentasi selama 20

jam ada kecenderungan berkurang dengan

meningkatnya suhu fermentasi. Kadar lemak

paling tinggi dihasilkan pada suhu 28°C

yaitu sebesar 0,35 ± 0,02 %.

Kadar keasaman berdasarkan total asam

laktat pada soyghurt kulit buah pisang raja.

Pada fermentasi selama 20 jam paling tinggi

kadarnya pada suhu 28oC, yaitu sebesar

1,23 ± 0,01 %, sedangkan fermentasi pada

suhu 37oC paling tinggi kadarnya yang

difermentasi dengan lama waktu 22 jam

yaitu sebesar 0,62 ± 0,01 %.

Uji organoleptik soyghurt kulit pisang raja

yang dilakukan dengan angket berskala

hedonik 1-4 terhadap 20 responden tidak

terlatih, memberikan hasil sebagai berikut:

(1) rasayang lebih disukai dengan nilai 3,6

adalah hasil fermentasi pada 44°C, 20 jam

dan pada 39oC, 22 jam; (2) aroma dengan

nilai 3,3 pada 28°C dan 37°C serta 39°C

dalam waktu 20 jam; (3) Tekstur dengan

nilai 3,3 pada 39oC, 22 jam; warna dengan

nilai 3,8 pada 28°C, 20 menit.

DAFTAR RUJUKAN

[1] Santosa, B. 2009. Susu dan Yogurt kedelai, laboratorium kimia pangan Faperta, Uwg.

[2] Carmen dan Siagian, 2007, dalam Surya Pratama, 2012, “Yoghurt”, http://pratama dansurya.blogspot.com/ 2010/12/yoghurt.html Di akses tanggal 1 April 2012.

[3] Cahyadi, W. 2006. Kedelai Khasiat & Tekhnologi. Bandung: CV. Putra Setia

[4] Koswara, S., 2009, Teknologi PembuatanYogurt. http://ebookpangan.

com. Diakses pada 26 November 2015.

[5] Zuhrina, 2011. Pengaruh Penambahan Tepung Kulit Pisang (Musa paradise-ciaca) Terhadap Daya Terima Kue Donut. Skripsi. Program Sarjana. Medan: Universitas Sumatera Utara.

[6] Sjostrom, E., 1995. Kimia Kayu Edisi 2 Dasar Dasar dan Penggunaan. Yogyakarta: UGM Press

[7] Ago, A.Y, Wirawan, Santosa, B., 2015.: Jurnal Pertanian. Vol. 2, No. 2: 11-12.

[8] Rohman, A., 2013.Analisis Komponen

Makanan.Yogyakarta: Graha Ilmu.

[9] Fajariyah, N. dan Mulyani, S. 2016, Pengaruh Variasi Suhu fermentasi terhadap Kadar Lemak dan keasaman soyghurt kulit buah pisang raja ( Musa textillia), SNKPK VIII, Surakarta, 14 Mei 2016.

[10] Herawati, DA dan Wibowo AA, 2006. Pengaruh konsentrasi Susu Skim dan Waktu Fermentasi terhadap Hasil Pembuatan Soyghurt, Surakarta: Universitas Setia Budi.

[11] Pratiwi, A. 2012, Ilmu dan Teknologi

Pangan: Penentuan Kualitas Pangan & Uji organoleptik, Semarang: UNDIP.

[12] Purwati, H., Istiawaty, H., Aylianawaty,

dan Soetaredjo, F.E., 2008, Widya Teknik, 7(2), 134-143

[13] Layadi N., Sedyandini P., Aylianawati, dan Soetaeredjo FE, 2009, Widya Teknik, 8(1), 1-11

[14] Gaman PM., dan Sherington KB,

Gambar

Tabel 1. Komposisi Gizi Susu Kedelai Cair
Tabel 2. Komposisi zat gizi kulit pisang
Gambar 2. Kadar protein sopisang raja padfermentasisoyghurt kulit buahpada variasi waktu
Gambar 3 menggamambarkan hasil
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ragi dan lama fermentasi serta mengetahui perlakuan yang optimal untuk mendapatkan kadar alkohol dari kulit

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan kulit pisang raja (Musa paradisiaca L.) dalam pembuatan etil asetat..

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan etil asetat dari dari bahan baku kulit pisang raja melalui proses fermentasi dan dilanjutkan dengan reaksi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan etil asetat dari dari bahan baku kulit pisang raja melalui proses fermentasi dan dilanjutkan dengan reaksi

Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “Pembuatan Etil Asetat Dari Hasil Hidrolisis, Fermentasi Dan Esterifikasi Kulit Pisang Raja (Musa paradisiaca L.)”,

Kulit buah pisang belum dimanfaatkan secara optimal, hanya menjadi limbah organik dan makanan ternak. Kulit pisang yang berwarna kuning kaya senyawa kimia antioksidan,

Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “ Pembuatan Etil Asetat Dari Hasil Hidrolisis, Fermentasi Dan Esterifikasi Kulit Pisang Raja (Musa paradisiaca L.) ” ,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan lama pengeringan berpengaruh nyata terhadap kehalusan, rendemen, kelarutan, kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar serat kasar, warna,