MUSEUM ARKEOLOGI BAWAH AIR INDONESIA (STUDI KASUS:
SISA KAPAL KARAM DI PERAIRAN LAUT JAWA, CIREBON)
Faiz dan Dr. Heriyanti Ongkodharma
Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
[email protected] [email protected]
Abstrak
Kajian temuan dan muatan bangkai kapal karam hasil pengangkatan di situs arkeologi bawah air di perairan laut Jawa, Cirebon merupakan potensi awal untuk mendirikan sebuah museum arkeologi bawah air di Indonesia yang bertujuan memanfaatkan hasil budaya material yang dikembangkan dan dihadirkan kedalam tema museum tetap atau secara jangka panjang. Museum memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi, komunikasi dan publikasi dari berbagai sumber ilmu pengetahuan yang dimiliki. Melalui hasil temuan budaya material situs bangkai kapal karam Nan Han Cargo di Cirebon kemudian dilakukan studi komparasi berbagai penerapan konsep pameran museum-museum arkeologi bawah air yang telah diterapkan berbagai negara, salah satunya Southeast Asia Experiental Maritime Museum di Singapura. Melalui hasil komparasi tersebut kemudian dapat diperoleh desain dan program tema museum untuk diterapkan dalam konsep museum arkeologi bawah air Indonesia dalam sudut pandang New Museology.
Abstract
The study of the findings and ladings of shipwreck at underwater archaeological site in the Sea of Java, Cirebon is the early potential to create an underwater archaeological museum in Indonesia. The museum aims to utilize material culture which is developed and presented in long term themes at the museum. Museum has strategic role as an education, communication and publication space from various knowledge. This is a comparison study between the material culture of Nan Han Cargo shipwreck site and various concepts of underwater archaeological museum applied some countries, one of them is Southeast Asia Experiental Maritime Museum in Singapore. Result of the study, through the comparison study, obtains the design and program for the museum theme to be applied at the underwater archaological museum in New Museology perspective.
Pendahuluan
Bagi Indonesia sumberdaya budaya material situs arkeologi bawah air sangat representatif untuk mendirikan secara khusus museum arkeologi bawah air. Namun dalam menempatkan paradigma untuk menampilkan sumberdaya budaya material kedalam penerapan museum dengan konteks arkeologi bawah air perlu dilakukan dengan melakukan kajian dan paradigma
new museology yang akan menghasilkan sebuah desain dari pemanfaatan budaya material bawah air kedalam bentuk pameran interaktif dan sekaligus akan lebih memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, terutama ketika pengunjung akan mendatangi museum ini. Melalui desain dan penempatan koleksi yang sesuai dengan konteks ruang dan tempat dari situs arkeologi bawah air yang mereka saksikan didalam museum arkeologi bawah air maka pengunjung akan lebih „menggali‟ dan mengenali serta memahami „jiwa dan identitas masyarakat maritim‟ yang menjadi bagian dari warisan budaya bangsa Indonesia dari hasil interpretasi yang dimiliki setiap pengunjung museum ini. Hal ini juga sekaligus merupakan upaya untuk mendorong minat dan pengetahuan masyarakat tentang perbedaan kajian arkeologi maritim dan arkeologi bawah air sehingga mereka memperoleh manfaat edukasi melalui interpretasinya dengan menempatkan koleksi arkeologi bawah air yang berdasarkan rekonstruksi konteks lingkungan dan situs arkeologi bawah air yang sesungguhnya. Ketika hal ini dapat terwujud, maka upaya membentuk museum arkeologi bawah air dengan memanfaatkan sumberdaya budaya material hasil pengangkatan dari situs arkeologi bawah air akan lebih memiliki makna dengan tema museum arkeologi bawah air. Kajian terhadap budaya material bawah air ini dapat ditinjau dari sudut pandang arkeologi sebagai bagian dari epistimologi budaya material manusia di masa lalu dan sejarah untuk memperoleh berbagai literatur untuk menceritakan setiap informasi yang terdapat dari wujud budaya material yang berasal dari situs-situs arkeologi bawah air, sehingga setiap koleksi yang dipertunjukkan didalam museum ini akan mampu merekonstruksikan segala aktivitas dan peristiwa manusia di masa lalu dan juga akan berperan langsung ditengah masyarakat sebagai bagian dari kajian strategis pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya budaya bawah air Indonesia.
Maka untuk mengimplementasikan sebuah pendirian museum arkeologi bawah air di Indonesia memang memerlukan kajian terlebih dulu untuk menguji baik secara teori dan metodik terhadap budaya material dari situs arkeologi bawah air. Dengan memperoleh hasil kajian konteks situs arkeologi bawah air dan budaya material yang diperoleh dari situs bawah air maka dapat diperoleh sebuah gambaran untuk menempatkan hasil rekonstruksi situs arkeologi bawah air yang nantinya akan dipertunjukkan kedalam museum. Mempertunjukkan sebuah situs arkeologi bawah air yang terangkai didalam sebuah desain replika dan rekonstruksi bangkai kapal karam yang terdapat di salah satu perairan Indonesia, maka bagi masyarakat dapat berinteraksi dan melihat langsung situs bawah air yang selama ini tidak dapat mereka lihat langsung di lautan lepas.
Adapun penemuan-penemuan situs arkeologi bawah air di Indonesia jauh sebelum berkembangnya arkeologi bawah air di Indonesia di abad ke-20 dan menjadi perhatian dunia internasional saat itu, yaitu pelelangan hasil budaya material situs arkeologi bawah air di Balai Lelang Christie‟s Amsterdam tahun 1986 yang diawali dari penelusuran bangkai kapal karam dan pengangkatan muatan kapal Geldermalsen yang merupakan kapal kargo dengan tipe east indiaman berjenis kapal spigelretour yang digerakkan dengan layar buatan tahun 1746 digunakan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk melayani rute pelayaran
Kamer van Zeeland (Batavia) kemudian berlayar ke Cina tahun 1951 dan kembali melakukan rute pelayaran ke Batavia dan karam tahun 1952 di wilayah perairan Kepulauan Riau. Kapal
pengangkatan yang dilakukan diperoleh seratus dua puluh enam batangan emas lantakan dengan seratus enam puluh ribu keramik Dinasti Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1644-1911). Hasil pengangkatan ini kemudian dilelang melalui Balai Lelang Christi‟e dengan nilai jual mencapai 15 juta dollar AS (Garabello dan Scovassi, 2003: 23-28; Stevanus, 2014: 29). Hasil penemuan situs arkeologi bawah air selanjutnya yang menjadi perhatian arkeologi internasional lainnya di Indonesia adalah pengangkatan situs bangkai kapal karam di Cirebon pada tahun 2001 yang dilakukan oleh Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam atau disingkat PANNAS BMKT yang tergabung dari beberapa institusi pemerintah yaitu Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Pangkalan dan Pertahanan Armada Angkatan Laut Republik Indonesia yang secara tidak langsung melakukan penelitian awal dalam melakukan perekaman data dan pengangkatan secara keilmuan dan metodologi dalam penyelaman arkeologi bawah air terlengkap dalam sejarah penemuan dan pengangkatan muatan budaya material kapal karam yang tenggelam di Indonesia.
Saat ini berbagai hasil survei, pemetaan, pengangkatan dan pelestarian cagar budaya bawah air yang telah dilakukan masih berorientasi terhadap upaya penyelamatan muatan kapal tenggelam, sementara struktur atau bangkai kapal yang merupakan bagian dari konteks diperolehnya muatan kapal belum mendapatkan perhatian yang optimal, terutama dalam hal edukasi terhadap budaya material peninggalan bawah air, khususnya dari hasil pengangkatan dan situs bangkai kapal di perairan laut Jawa, Cirebon. Hal ini disebabkan berbagai kendala yang seringkali dihadapi ketika ditemukannya situs arkeologi bawah air, tidak dapat diidentifikasi bentuk utuh atau pun memperoleh data konstruksi kapal yang lengkap akibat bahan atau budaya material tersebut telah mengalami pelapukan yang disebabkan oleh lingkungan ditemukannya yang berada didalam air sehingga dapat mempercepat proses kerusakan serta menghilangkan bagian-bagian tertentu dari bangkai kapal akibat berbagai faktor, yakni terjadinya proses pelapukan secara alami, pengrusakan dan pengambilan material yang ditimbulkan oleh aktifitas manusia (pencarian dan pencurian harta karun). Keterbatasan memperoleh dan mendapatkan sumber informasi berupa catatan pelayaran kapal-kapal di masa lalu pun menjadi kendala untuk mengidentifikasi jenis kapal, nama kapal, dan asal kapal yang berlayar dan akhirnya karam dan tenggelam di perairan Indonesia. Beberapa kendala yang diuraikan tersebut merupakan persoalan terbesar untuk dapat diuraikan kedalam sebuah alur cerita (stroyline) sekaligus sebagai sebuah media komunikasi antara hasil benda atau budaya material yang diperoleh dari situs arkeologi bawah air dengan masyarakat.
Pada dasarnya situs-situs arkeologi yang berada di bawah air memiliki aspek manfaat jangka panjang bagi kepentingan pendidikan masyarakat terutama didalam peran ilmu pengetahuan serta kepentingan penelitian dari berbagai disiplin ilmu. Keberlanjutan dari upaya memberikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan melalui peran museum melakukan komunikasi terhadap koleksi atau budaya material yang diperoleh dari berbagai situs bangkai kapal karam di Cirebon. Berbagai dugaan yang begitu kuat melalui pengungkapan muatan bangkai kapal di Cirebon yang mengkaitkannya dengan berbagai penelusuran catatan pelayaran melalui arsip-arsip kuna di abad pertengahan serta upaya pengungkapan melalui pencocokan dengan relief kapal yang terdapat di Candi Borobudur memberikan sebuah hasil interpretasi yang cukup menjelaskan identitas dari temuan di situs bangkai kapal karam di Cirebon.
teori proses penggambaran arkeologi dalam buku Archaeology and Society oleh Graham Clark (1939:1) yang dikutip David Crowther (1991), bahwa:
….. Archaeology is often defined as the study of antiquities. A better definition
would be that it is the study of how men lived in the past. It is true that your archaeologist is compelled by circumstances to rely upon the material remains surviving from the people he is studying to arrive at any idea of their daily life; yet however much he may appear to be preoccupied with things, often in themselves unattractive, he is really interested all the time in people (p.36).
Melalui gagasan inilah penerapan dan kajian museologi dapat dilakukan untuk mengkaji lebih dalam potensi sumberdaya peninggalan bawah air untuk dipamerkan kedalam museum khusus arkeologi bawah air Indonesia, sekaligus sebuah langkah awal untuk memulai penelitian budaya material yang berasal dari hasil pengangkatan bawah air dengan memberikan gambaran melalui hasil rekonstruksi replika bangkai kapal beserta dengan muatannya dan lingkungan sejumlah situs cagar budaya bawah air di Indonesia, agar dapat ditampilkan kedalam model konteks museum bawah air dengan merancang desain dan penataan pameran museum arkeologi bawah air, dan storyline terhadap koleksi bawah air.
Dengan memberikan solusi dan memanfaatkan sumberdaya potensi budaya material dari hasil temuan situs dan pengangkatan muatan bangkai kapal karam Nanhan Cargo di perairan laut Jawa, Cirebon tersebut agar dapat ditampilkan kedalam sebuah museum untuk dapat ditampilkan secara utuh sesuai dengan hasil perolehan dan perekaman data baik melalui hasil penggambaran piktorial dan verbal, sebagai bentuk dari tanggung jawab institusi dan akademik dalam melakukan edukasi serta meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap peran penting pelestarian cagar budaya bawah air di Indonesia serta eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara maritim dari masa lalu hingga akan datang.
Tinjauan Teoritis
memanfaatkan peranan teknologi animasi untuk memberikan penggambaran yang dapat digunakan secara bergantian bagi pengunjung seperti yang digunakan Southeast Asia Maritime and Experiental Museum Singapore. Peranan kurator museum pun disini sangat penting untuk lebih aktif didalam memberikan interpretasi terhadap koleksi dan tidak hanya sebatas menampilkan kemudian meletakkan koleksi museum begitu saja untuk dipertunjukkan kepada pengunjung. Berbagai jenis dan koleksi dari hasil budaya material di masa lalu pun tidak mesti memiliki banyak teks yang bersifat deskriptif untuk menjelaskan bentuk-bentuk, bahan, dan ukuran dari koleksi (artifact oriented), tetapi yang terpenting didalamnya adalah menempatkan konteks dalam cerita (storyline) dari budaya material, dan merekonstruksikan peristiwa (fact reconstruction) untuk menghasilkan informasi secara visual sehingga membantu pengunjung untuk berinteraksi serta lebih mudah memahami setiap bagian dari koleksi budaya material yang ditampilkan melalui model presentasi yang dapat disediakan dalam pilihan dan rancangan program aplikasi informasi dan teknologi. Secara tidak langsung dengan membentuk museum seperti ini, maka tujuan museum sebagai pusat pendidikan, ruang interaksi dan memberikan interpretasi terhadap koleksi budaya material, sekaligus sebagai ruang hiburan dan permainan, serta ruang bagi setiap orang bisa merasakan dan mengalami setiap aktifitas di masa lalu. Pierre Bourdieu (1984) mengemukakan teorinya, bahwa “… that people who go to museums have the most cultural capital, that is, the
education, taste, manners, and style, to understand museum exhibits and to know how to
behave in museums” (Merriman 1989:161). Kemudian teori tersebut ditambahkan Merriman
dengan menyatakan, bahwa:
……. “People who have acquired the cultural competence to understand museums
feel comfortable in a museum setting and are most likely to visit museums. People without cultural capital are uncomfortable in museums, confused, and often overwhelmed, and therefore less likely to visit, he suggested. His theory does not account for the current popularity of museums among the public, or the efforts of museologists to include all aspects of the community in museum programs” ….. (Merriman, 1989: 163).
Berdasarkan tuntutan perubahan paradigma didalam konsep dasar museologi yang selama ini hanya menjadi fungsi kontrol bagi kekuasaan dan politik yang semata di desain menjadi “produk budaya”, maka dari berbagai penelitian museum dan melahirkan banyaknya teori-teori museum yang kontemporer terkait dengan timbulnya pertanyaan terhadap perubahan karakter museum itu sendiri, evolusi museum dan ketepatan penggunaan metode yang interpretatif, korelasi antara museum dengan komunitas sosial di masyarakat, kemudian sampai pada model mempertunjukkan suatu koleksi budaya material untuk dapat mempengaruhi pengalaman (experience) dan pengetahuan
1992:4; Macdonald, 1996:2, Weil, 2002: 4-5; Scott-Ireton, 2005: 14). Bagi Andrea Hauenschild (1988) menyatakannya sebagai berikut:
“According to new museology, the “new” museum is defined by its socially
relevant objectives and basic principles. Its works as an educational institution is directed toward making a population aware of its identity, strengthening that
identity, and instilling confidence in a population’s potential for development”
(p.5).
Melalui perubahan konseptual museum diatas, yang merupakan sudut pandang didalam mewujudkan “New Museology” atau pandangan terhadap “Museum Baru” menjadi sebuah institusi mendefiniskan diri sebagai lembaga fungsi sosial dengan memiliki prinsip dasar ilmu pengetahuan yang berguna untuk memperkuat identitas dan kepercayaan diri masyarakat ditengah pesatnya arus globalisasi pembangunan karakter dibidang pendidikan, yakni :
1. Kajian Museologi
Gagasan utama mengusulkan sebuah desain dan program museum arkeologi bawah air Indonesia dengan memanfaatkan studi hasil pengangkatan di situs bangkai kapal karam di perairan laut Jawa, Cirebon tidak terlepas dari upaya melakukan pelestarian warisan sejarah dan budaya secara jangka panjang didalam museum yang berdasarkan dari ketiga fungsi utama museum yang dikemukakan Van Mesch (2013), bahwa museum memiliki fungsi Penelitian (Research), Pelestarian (Preservation), dan Komunikasi
(Communication) (p.10). Museum disini ditempatkan, memiliki peranan penting bagi keberlangsungan dan eksistensi jangka panjang bagi masyarakat sekaligus menjadi salah satu upaya melestarikan warisan budaya bangsa. Magetsari (2008) mengatakan bahwa, “Museum merupakan suatu sarana, alat yang dimiliki oleh masyarakat untuk menemukan, memberi bentuk, tanda dan batas identitas mereka, dalam arti batas teritorial maupun kurun waktu dalam hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaan lain” (p.9). Untuk hal tersebut, museum memiliki peranan strategis menjadi publikasi dan penyebarluasan informasi secara terpadu antara arkeologi dan penerapan studi museum khususnya peninggalan cagar budaya bawah air kepada masyarakat agar lebih memahami aspek sejarah dan politik, dinamika ilmu pengetahuan, sosial masyarakat di masa lalu dan keanekaragaman budaya suatu bangsa.
2. Edukasi
Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2010). Brüninghaus-Knubel (2004) menyatakan bahwa :
….. Museums add special values to the formal school and college education
system, as part of the informal sector of education. They enlarge the formal education and offer different ways of learning, enjoying and discussing. All museum professional, whatever their particular job or specialization, need to have a strong belief in the need to share with as many persons of all ages or social levels as possible knowledge of the importance of discovering and understanding the roots of mankind and their creation of culture as well as the natural heritage of our planet (p.119).
Dengan begitu, tujuan pengembangan konsep museum arkeologi bawah air memiliki peranan yang sangat strategis terutama berhubungan dengan masyarakat, pengetahuan mengenai tradisi, budaya dan kontak antar budaya luar, terutama saat museum merancang kebijakan dengan menggabungkannya dengan dunia pendidikan dan kuratorial museum. Acuan pengembangan konsep museum arkeologi bawah air merupakan kajian museum khusus yang berupaya melestarikan cagar budaya bawah air dari berbagai jenis dan berbagai proses pengangkatan secara legal dan ilegal maupun menjadi bagian menyelamatkan data arkeologi dengan melakukan proses perekaman data secara verbal dan visual. Melalui proses tersebut maka pengembangan museum arkeologi bawah air dan penerapannya dapat mencerminkan sumber dan nilai-nilai nasional dan internasional.
3. Komunikasi
Saat ini dapat kita cermati kondisi masyarakat seringkali melupakan sejarah atau mengabaikan sejarah tradisi dan budaya mereka sendiri dan kurangnya tentang pengetahuan budaya lain dan warisan budaya yang lebih luas. Untuk itu kajian museum arkeologi bawah air berperan untuk mendorong kesadaran masyarakat untuk ikut melestarikan dan menjaga warisan sumberdaya cagar budaya bawah air bagi kepentingan bersama. Sedangkan bagi kepentingan keilmuan arkeologi dan museologi dapat melakukan penelitian-penelitian melalui tinggalan dan budaya immaterial yang diperoleh dari situs peninggalan bawah air dan hasil proses pengangkatan untuk dipelajari serta dilestarikan oleh museum sehingga bermanfaat untuk mendidik pengunjung.
Sehingga pada dasarnya konsep komunikasi dalam penelitian ini merupakan sebuah media untuk memberikan penggambaran proses sebuah kekuatan budaya dan makna ideologi yang berada dalam posisi dominan melalui cara dimana terjadinya hubungan sosial dan pengetahuan yang diproduksi serta bertransformasi sebagai “ideologi populer” ditengah masyarakat. Peranan komunikasi yang diterjemahkan kedalam bentuk media atau menempatkannya kedalam museum merupakan sebuah cara yang paling signifikan dan konsisten sebagai pusat informasi untuk menjadi dan menciptakan kembali atau mendekosntruksikan sebuah perilaku masyarakat menjadi lebih transparansi dan memahami pesan yang disampaikan melalui sebuah koleksi dan alur cerita (storyline)
didekonstruksikan kembali kedalam pengetahuan ideal yang mereka miliki melalui peran komunikasi yang ditampilkan melalui media teks atau alur cerita yang terdapat pada alur pameran dalam museum (p.22).
1. Pameran
Program pameran di museum meliputi dua aspek, yaitu program pameran dan museum dan program edukasi. Melalui penelitian ini, akan dikaji kedua hal tersebut. Pada dasarnya program pameran di museum dibedakan dalam tiga aspek, yakni pameran tetap, pameran temporer dan pameran keliling. Kategori pameran tetap merupakan pameran yang memiliki desain yang menampilkan berbagai pameran koleksi dan menempatkan alur cerita pada ruang tetap didalam museum dan dilengkapi dengan tema-tema khusus berdasarkan visi dan misi museum dan tujuan yang akan dicapai melalui program museum. Kategori pameran temporer merupakan pameran yang di desain dan dilaksanakan dalam periode waktu tertentu serta memiliki waktu yang relatif singkat, dan kategori pameran keliling merupakan pameran yang memiliki desain dan dilaksanakan di luar lingkungan museum dan memiliki tema khusus melalui program yang telah direncanakan untuk jangka waktu tertentu. Pada penelitian ini yang diupayakan adalah mewujudkan sebuah desain dan program pameran yang lingkupnya merupakan pameran tetap untuk mendirikan sebuah konsep museum arkeologi bawah air Indonesia, dengan memanfaatkan data arkeologi bawah air yang berasal dari hasil temuan dan pengangkatan muatan budaya material situs bangkai kapal karam di perairan laut Jawa, Cirebon, yang mengacu pada konsep alur pameran museum yakni fase konseptual yang meliputi pengumpulan gagasan dan fase pengembangan yang meliputi perencanaan dalam program-program pameran museum arkeologi bawah air Indonesia.
2. Partisipatoris dan Program Publik
Metode Penelitian
Prosedur dan strategi didalam penelitian ini adalah dengan melakukan tahapan kajian terhadap potensi budaya material dari hasil pengangkatan bawah air di situs bangkai kapal karam Nanhan Cargo di perairan laut Jawa, Cirebon dan hasil pelaksanaan dari metode survei, perekaman dan hasil rekonstruksi berupa penggambaran data secara visual maupun piktorial dari situs bawah air tersebut, serta proses ekskavasi pengangkatan dan penanganan temuan yang sudah dilakukan dan hingga sekarang sebagian hasil muatan kapal masih tersimpan di warehouse Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam, Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Upaya penelitian dan pengungkapan data arkeologi terhadap budaya material dari situs bangkai kapal karam di Cirebon tersebut, kemudian dimanfaatkan dan diterjemahkan kedalam desain dan program dalam kajian museologi dengan melakukan komparasi atau perbandingan di Southeast Asia Experiental Maritime Museum, Singapura serta berbagai museum-museum dari berbagai negara yang memiliki desain dan tema museum arkeologi bawah air. Sehingga penelitian ini pun nantinya yang akan memiliki hasil yang serupa terhadap program museum dan memiliki desain baru berdasarkan sudut pandang dan kajian new museology untuk diterapkan kedalam pendirian dan model museum arkeologi bawah air Indonesia, dengan mengutamakan hasil pengangkatan dan penelitian budaya material dari situs bangkai kapal karam di perairan laut Jawa, Cirebon. Alur proses penelitian ini dilakukan agar dapat memperoleh kebutuhan data secara umum atas hasil data yang ideal untuk dapat dikembangkan dalam penelitian seiring dengan potensi sumber data yang diperoleh dari berbagai penelusuran, baik secara literatur dan hasil-hasil penelitian maupun pengamatan langsung di warehouse Panitia Nasional, Barang Muatan Kapal Tenggelam di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Selain hal tersebut, digunakan pula sebagian metodologi pendekatan seperti yang dikemukakan John, W. Creswell (2003) dalam penerapan elemen penting didalam metodologi kualititaf, yakni elemen constructivism (konstruksivisme); understanding
(pemahaman); dan participatory (partisipatoris); collaborative (kolaborasi) dan change-oriented (perubahan orientasi sudut pandang) untuk menjelaskan data dari budaya material arkeologi bawah air di situs bangkai kapal karam di Cirebon dan penerapan teori-teori dalam penerapan new museology.
Studi pustaka, observasi data : hasil pengangkatan muatan bangkai kapal, Cirebon
Warehouse PANNAS BMKT di Cileungsi dan Southeast Asia Experiental Maritime Museum
Singapura Teori: Postprocessual
Archaeology – New Museology –
Ruang Lingkup Kajian Arkeologi Bawah Air – Otentisitas – Konsep
Pameran
Analisis Komparasi (Kualitatif) Data/ Dokumen Penelitian Situs ABA Cirebon – Publikasi/ Program Pameran ABA – Museum-Museum ABA Southeast Asia Experiental Museum
Singapura, dll
Klasifikasi potensi koleksi hasil data dan rekonstruksi kapal dan pengangkatan muatan bangkai kapal karam di situs ABA
Cirebon
Konsep desain dan tema program Museum Arkeologi Bawah Air Indonesia
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengangkatan muatan bangkai kapal karam yang berasal dari situs arkeologi bawah air di perairan laut Jawa, Cirebon saat ini masih tetap tersimpan di ruang warehouse
Panitia Nasional Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Upaya penanganan dengan melakukan inventarisasi, dokumentasi dan desalinasi terhadap budaya material masih terus dilakukan terutama untuk melakukan penataan ruang yang tepat terhadap penyimpanan benda berharga muatan kapal tenggelam yang diperoleh dari hasil pengangkatan di situs bangkai kapal karam di Cirebon. Tercatat jumlah muatan yang berhasil diangkat dari muatan bangkai kapal Nan Han Cargo yang ditemukan di perairan Cirebon, sebanyak 271.000 item, dan kini masih tersimpan didalam ruang penyimpanan warehouse tersebut.
Berbagai jenis budaya material yang menjadi muatan dari bangkai kapal karam Nan Han Cargo ditemukan bersamaan dengan bangkai kapal yang dapat dikatakan relatif masih dalam kondisi yang cukup lengkap pada bagian lambung kapal dan berbagai jenis konstruksi yang digunakan masih dapat diamati dan masih dapat direkonstruksi kembali untuk memperoleh penggambaran secara utuh dari bentuk konstruksi kapal yang digunakan saat itu. Seperti yang tergambarkan didalam hasil layout yang memperlihatkan bentuk bangkai kapal karam NanHan Cargo yang ditemukan di dasar laut perairan laut Jawa, Cirebon.
Berdasarkan hasil penggambaran dari bangkai kapal karam Nan Han Cargo tersebut, merupakan sebuah bukti dan upaya yang otentik untuk mengungkap sejarah dan alur proses pelayaran dan perdagangan aktifitas manusia di masa lalu. Melalui penggambaran dari keletakan bangkai kapal karam saat ditemukan memperlihatkan; kondisi lunasnya yang tertanam didalam pasir, lambung kapal dibagian haluan miring ke kanan dan sebagian lainnya dari lambung tertimbun oleh benda-benda muatan kapal di bagian buritan, dan memperlihatkan posisi tenggelamnya kapal tidak tenggelam dengan posisi terbalik. Bangkai kapal karam ini memiliki ukuran panjang ± 60 meter, lebar ± 30 meter dan tinggi gundukan ± 3 meter.
Ruang penyimpanan berbagai muatan hasil pengangkatan dari situs bangkai kapal karam Nan Han Cargo di perairan laut Jawa, Cirebon. (Sumber: Koleksi pribadi, 2015).
Pengangkatan budaya material yang diperoleh dari muatan bangkai kapal karam Nan Han Cargo yang ditemukan di perairan laut Jawa, Cirebon telah menjadi sebuah bukti secara arkeologis sebagai salah satu hasil penemuan dan pengangkatan yang terbesar diawal abad ini dari situs arkeologi bawah air di Indonesia, dari sekian banyaknya dugaan titik lokasi dan hasil survei maupun pendataan situs arkeologi bawah air yang pernah dilakukan; selain hasil pengangkatan barang muatan kapal tenggelam yang pernah dilakukan oleh Michael Hatcher di lokasi situs arkeologi bawah air bangkai kapal karam yang diduga kapal Geldermaldsen atau juga dikenal dengan nama TheNanking Cargo di perairan Karang Heluputan, dan situs arkeologi bawah air lainnya yang berada di Kepulauan Riau. Situs bangkai kapal karam Nan Han Cargo yang ditemukan di Cirebon, setelah melalui berbagai tahapan dan proses yang cukup lama dari awal memulai pengangkatan sampai pada tahapan merekonstruksi bangkai kapal beserta dengan muatannya dan menempatkan interpretasi berdasarkan konteks peristiwa sejarah politik dan perdagangan masa lalu, diperoleh sebuah kesimpulan sementara bahwa, bangkai kapal Nan Han Cargo tersebut merupakan sebuah kapal yang berasal dari abad ke-10 yang memiliki hubungan dengan peristiwa pelayaran dan perdagangan jalur sutera di abad pertengahan. Dan diperkirakan berada dalam kurun waktu antara 968 sampai 971 Masehi atau sekitar abad 10 Masehi atau di masa Nanhan Dynasty.
Analisa muatan kapal situs bangkai kapal karam di perairan laut Jawa, Cirebon, sebagai interpretasi kapal Nan Han Cargo/ Cirebon abad ke-10, merupakan sebuah penemuan yang sangat luar biasa dari kondisi tingkat keutuhan yang di bayangkan, dimana kapal tersebut diduga hanya terisi oleh air akibat kebocoran yang dialami dan akhirnya tenggelam hingga ke dasar lautan. Lambung dan muatan kapal memang cukup relatif untuk bisa dikatakan cepat tenggelam hingga ke dasar lautan dan mengalami proses lapisan sedimentasi dengan lingkungan laut sekitarnya sehingga material yang terkandung dapat sedikit tercegah dari kerusakan yang cukup parah. Hasil dan jumlah keseluruhan muatan kapal yang diperoleh dari pengangkatan di situs bawah air tersebut semuanya mencapai sekitar 500.000 artefak dari luas situs yang terjangkau di dasar laut sekitar 1200 m2. Meskipun tidak semua muatan kapal tersebut diangkat dari dasar laut, namun dari hasil pengangkatan muatan kapal yang dilakukan telah menghasilkan 150.000 catatan terkait dengan jenis, bahan, kategorisasi dan menggambarkan keletakan temuan saat akan dilakukan pengambilan (Liebner, 2014: 85). Hasi catatan muatan barang berupa budaya material dari kapal tenggelam di Cirebon ini belum termasuk dengan jumlah muatan lainnya (manifest) penumpang (manusia) dan hewan bawaan yang biasanya hewan-hewan tersebut dibawa untuk menjadi hewan peliharaan, persembahan/ upeti, dijual atau sebagai bekal makanan selama pelayaran.
Tercatat sebanyak 292.762 berbagai item dari jenis keramik-keramik yang telah teridentifikasi yang diperoleh dari klasifikasi hasil pengangkatan muatan bangkai kapal karam Nan Han
Cargo di Cirebon. Masing-masing keramik ini dapat dikategorikan atas tiga jenis bahan, yakni keramik berbahan porselin yang memiliki unsur penggunaan bahan dari kaolin, alumina dan silika dengan teknik pembakaran yang umumnya mencapai suhu 1350° (derajat) celcius sampai 1500° celcius. Jenis keramik stoneware (keramik batu) pada umumnya memiliki teknik pembakaran dengan suhu 1200° celcius sampai 1300° celcius, sedangkan jenis tembikar atau gerabah (earthenware), yang memiliki unsur bahan tanah liat atau lempung umumnya memiliki menggunakan teknik suhu pembakaran mencapai 1000° celcius.
Jenis keramik yang memiliki bahan porselin dan stoneware yang ditemukan dalam hasil pengangkatan muatan situs bangkai kapal karam Nan Han Cargo di Cirebon yang disimpan dan untuk dilakukan pemanfaatan selanjutnya sebanyak 221.124 item yang terdiri dari porselin dan bahan batuan (stoneware) dan jenis keramik bahan tembikar atau gerabah
(earthenware) sebanyak 35.819 item. Keseluruhan jenis dan tipe (bentuk) keramik ini cukup bervariasi yang terdiri dari sembilan tipe (bentuk) klasifikasi dari berbagai jenis bahan keramik, yakni mangkuk, piring, cepuk, pasu, teko, guci, buli-buli, pedupaan, dan tempat tinta. Sementara masih terdapat tipe (bentuk) lainnya yang belum teridentifikasi berbagai bentuk tutup yang belum diketahui pasangan wadahnya.
Persentase jenis temuan keramik dari muatan bangkai kapal Nan Han Cargo, Cirebon.
Melihat hasil analisis temuan yang telah dilakukan oleh tim Panitia Nasional Barang Berharga Muatan Kapal Tenggelam, bahwa jenis-jenis keramik temuan muatan bangkai kapal karam
Nan Han Cargo di Cirebon diperoleh bahwa hampir seluruh muatan keramik yang ditemukan didominasi keramik berbahan porselin (porcelain), dan keramik berbahan stoneware, maka dipastikan keramik-keramik tersebut merupakan komoditas perdagangan yang berasal dari Tiongkok.
Secara keseluruhan muatan bangkai kapal karam Nan Han Cargo yang ditemukan di laut Jawa, Cirebon terbagi dalam lima kategori hasil budaya material yang terdiri dari wujud idiofak, sosiofak dan tehnofak, dimana ketiga wujud kelompok ini merupakan penggolongan berdasarkan fungsi yang diperoleh dari wujud budaya material atau seringkali diistilahkan sebagai artefak yang merefleksikan sebuah benda yang dibentuk berdasarkan ketiga wujud
84% 8%
4% 3% 1%
0,003%
0,24% 0,19% 0,03%
0,01% 0,006% 0,003% 0,007%
Persentase Bentuk Keramik
Mangkuk Piring Guci Tutup Cepuk Teko Buli-buli
fungsi hasil budaya material tersebut, serta satu kategori satu kategori jenis muatan bangkai kapal karam berupa jenis wujud data berupa ekofak yang berasal dari temuan biotik.
Daftar Temuan dan Jenis Muatan
Daftar temuan dan jenis muatan bangkai kapal Nan Han Cargo, Cirebon.
Hasil persentase keseluruhan daftar dan jenis muatan barang dari temuan bangkai kapal Nan Han Cargo memperlihatkan, muatan jenis keramik sangat mendominasi yang mencapai hingga 61 persen atau setengah dari muatan kapal tersebut. Kemudian timah 17 persen, koin 11 persen, botol dan vas 5 persen, manik-manik 2 persen, manik coral dan lapiz lazuli
masing-masing 1 persen. Jika dilihat dari jenis temuan maka dapat diidentifikasi bahwa, bangkai kapal Nan Han Cargo tersebut merupakan salah satu jenis kapal perdagangan dan muatan keramik merupakan sebuah barang atau komoditas perdagangan yang sangat berpengaruh dalam fungsi perdagangan di masa lalu dengan memperlihatkan kuantitas muatan keramik yang menjadi muatan kapal tersebut.
Keramik
Dari rekonstruksi dan interpretasi koleksi budaya material hasil pengangkatan muatan bangkaikapal karam di Cirebon yang sekarang masih tersimpan di warehouse BMKT, akan dapat diwujudkan sebuah desain dan program melalui tema museum arkeologi bawah Indonesia yang sesuai dengan konsep museologi baru. Melalui desain tata pamer maka museum dapat memiliki kewenangan untuk membangun konstruksi identitas suatu bangsa melalui presentasi warisan peninggalan budaya (McLean, 2005:1-4).
Adapun pendapat Noerhadi Magetsari (2011), bahwa museum memiliki misi khusus untuk membekali masyarakat dengan identitas, dari koleksi yang telah menghasilkan interpretasi kedalam narasi budaya maupun sejarah bangsa dapat disajikan sebagai nilai simbolik sehingga masyarakat ataupun pengunjungnya dapat memberikan makna baru dalam memahami warisan budaya (Magetsari, 2011: 3). Untuk itu desain museum arkeologi bawah air Indonesia yang menjadi judul penelitian ini harus mempunyai tujuan akan selaras dengan tema dan program-program new museology.
Museum Arkeologi Bawah Air Indonesia dengan contoh kasus situs bangkai kapal karam dengan pengangkatan muatan kapal di Cirebon dapat secara konsisten menjadikan koleksinya sebagai sumber data yang diperoleh dari proses penelitian yang berkelanjutan. Seperti yang ditampilkan pada ilustrasi bagan proses pameran koleksi situs arkeologi bawah air kedalam museum dibawah ini dengan mengambil contoh kasus pengangkatan muatan kapal karam di Cirebon:
Shipwreck Penemuan dan Survei
E
V
A
L
U
A
SI
Dokumentasi – Ekskavasi – Pengangkatan
Ruang Penyimpanan (Stored) Analisis dan
Rekonstruksi
Laporan Penelitian – Arsip
Perencanaan Publikasi
Konservasi (Perawatan dan
pembersihan)
Karya Ilmiah – Buku Pameran Publikasi
Analisis dan Studi Museum (Peneliti/Kurator Museum)
Museum –Stored– Konservasi – Pelestarian
Tema dan Program Pameran Museum Interpretasi dan Simulasi Koleksi (Otentik dan Replika)
Publikasi Pameran
Alur bagan diatas dapat dijadikan sebuah penggambaran proses untuk menampilkan hasil penelitian dan ekskavasi arkeologi bawah air terhadap penemuan situs dan muatan bangkai kapal karam Nan Han Cargo dari dasar perairan laut Jawa di Cirebon kedalam desain museum arkeologi bawah air Indonesia.
Display 3 Dimensi Visual Modelling Sisa Kapal Karam Nan Han Cargo
Sebuah rancangan rekonstruksi situs kapal karam di Cirebon merupakan pusat dari gagasan museum ini, dan pameran yang ditampilkan adalah hasil dari perekaman data dan penggambaran saat dilakukannya penyelaman. Dari perekaman data yang telah dihasilkan tersebut maka dapat ditampilkan bentuk bangkai kapal karam dan letak muatan kapal yang sesuai dengan lingkungan asli situs ketika berada didalam air.
Program Pameran Museum Arkeologi Bawah Air
Dalam menyelenggarakan program pameran museum terdapat empat fase yaitu; fase konseptual; pengumpulan gagasan, fase pengembangan; perencanaan program dan pembuatan program, fase fungsional; operasional dan pembatasan, fase penilaian; evaluasi dan pengumpulan gagasan. Keempat fase tersebut masing-masing memiliki inti yang meliputi
product oriented activities (orientasi produk aktivitas), management activities (aktivitas manajemen), dan result (hasil).
1. Desain Museum
Diawal tema skema pertama ruang pameran museum museum arkeologi bawah air Indonesia, pengunjung diberikan gambaran umum berupa peta digital atau story board seperti yang ditampilkan Southeast Asia Experiental Maritime Museum, dan ruang theater terbuka berupa film dokumentasi situs cagar budaya arkeologi bawah air yang telah ditemukan. Setelah melewati skema ruang ilustrasi pertama, kemudian pengunjung museum diajak masuk kedalam skema ruang pameran kedua; situs bangkai kapal karam di Cirebon dengan menampilkan bentuk-bentuk rekonstruksi situs dan transformasi bangkai kapal karam ketika berada didalam lingkungan bawah air yang sebenarnya, serta ruang simulasi pengetahuan fisika menyelam, cara melakukan pekerjaan arkeologi bawah air, ekskavasi bawah air dan konservasi bangkai kapal karam yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada pengunjung museum. Dalam skema ruang kedua akan diberikan pilihan, yang bertujuan untuk mengantisipasi jumlah pengunjung ketika akan melihat dan melakukan berbagai simulasi pengalaman merekonstruksi dan konservasi situs arkeologi bawah air, yaitu dengan menyediakan ruang pameran yang memiliki hubungan dengan jalur perdagangan Nusantara abad ke-10 dan jalur perdagangan Cina abad ke-10 berupa koleksi-koleksi budaya material yang berasal dari berbagai situs arkeologi bawah air dan situs arkeologi di darat serta
pengunjung ditempatkan didalam ruang theater tertutup untuk menyaksikan program film animasi berdurasi pendek yang memiliki tema dalam jangka waktu tertentu. Ruang theater tertutup ini dilengkapi dengan berbagai kecanggihan teknologi dengan memberikan efek 4 dimensi sehingga pengunjung seakan-akan merasakan kondisi nyata sekaligus memperoleh manfaat serta menambah pemahaman yang lebih luas terhadap warisan ilmu pengetahuan sejarah dan budaya masyarakat di masa lalu. Skema ruang ketiga; merupakan ruang pameran yang memiliki hubungan dengan muatan bangkai kapal karam di Cirebon yang telah diangkat kemudian ditampikan kedalam display koleksi bawah air yang digambarkan secara berurutan letak awal ditemukannya saat masih berada didalam lambung bangkai kapal, dan kemudian menampilkan berbagai koleksi budaya material muatan bangkai kapal yang telah dibersihkan melalui proses konservasi untuk membersihkan bagian terumbu karang yang melekat dipermukaan artefak dan kemudian diawetkan untuk ditampilkan kedalam display pameran koleksi desain musem arkeologi bawah air. Kemudian terakhir adalah skema ruang keempat, merupakan tema pameran yang menampilkan rekonstruksi dan simulasi konstruksi utuh kapal yang memiliki hubungan dengan bangkai kapal karam di perairan laut Jawa, Cirebon. Rekonstruksi secara utuh kapal ini untuk memperlihatkan sekaligus memberikan ruang interpretasi bagi pengunjung terkait dengan asal usul kapal terutama berkaitan dengan tema program pameran yang dikembangkan yakni “Kapal Nan Han Cargo ataukah Kapal
K’un,lun” yang merupakan sebuah kapal Nusantara seperti yang tergambarkan pada relief
Candi Borobudur. Ruang ini juga sekaligus dapat menjadi ruang pengembangan didalam mengkonfirmasi; evaluasi ataupun antitesa dari rekonstruksi jenis kapal yang ditampilkan, sehingga akan bermanfaat bagi kepentingan penelitian dan museum selanjutnya.
2. Tema Museum “Temuan dan Muatan Sisa Kapal Karam Nan Han Cargo”
Budaya material hasil muatan kapal dan bangkai kapal yang berasal dari abad ke-10 masehi, masih menyimpan sebuah pertanyaan dibenak para tim peneliti arkeologi dan sejarawan baik nasional maupun internasional. Tidak dapat dipungkiri, bukti-bukti secara arkeologis dan berbagai hasil penelitian yang dilakukan berbagai ahli, telah memberikan jalan sebuah interpretasi, bahwa situs bangkai kapal yang ditemukan di Cirebon tersebut merupakan kapal perdagangan berdasarkan dari hasil temuan muatan yang secara umum memiliki hubungan dengan barang-barang atau komoditas perdagangan diantaranya keramik, logam, dan kaca serta hasil penggambaran simulasi 3D virtual modelling konstruksi bangkai kapal dari situs bangkai kapal karam Nan Han Cargo di Cirebon. Meskipun identifikasi dan interpretasi terhadap bangkai kapal karam di Cirebon tersebut masih terus diperbincangkan mengenai asal muasal kapal tersebut dengan menghubungkannya dengan konstruksi kapal Nusantara atau kapal K’un-lun seperti yang tergambarkan pada relief panel dinding Candi Borobudur serta menghubungkannya dengan berbagai catatan dan informasi pelayaran yang bersumber dari masa Dinasti Wu diakhir abad ke-3 masehi, namun hal tersebut merupakan hal yang wajar didalam pengembangan dan dinamika ilmu pengetahuan. Terlepas dari persoalan perbedaan sudut pandang tersebut, dengan menghadirkan sebuah desain dan program museum yang akan menjadi dasar pendirian konsep museum arkeologi bawah air Indonesia dengan memanfaatkan potensi data arkeologi dari hasil temuan muatan bangkai kapal karam di Cirebon yang hingga saat ini sebagian masih tersimpan sangat membutuhkan perhatian secara khusus, terutama untuk dimanfaatkan menjadi koleksi pameran untuk ditempatkan kedalam museum arkeologi bawah air seperti yang telah banyak diterapkan di sejumlah negara, sehingga informasi terhadap hasil temuan muatan bangkai kapal karam Nan Han Cargo
3. Alur Cerita (Storyline)
Alur cerita (storyline) merupakan informasi untuk memandu pengunjung museum dalam memperoleh setiap informasi yang mereka peroleh dari budaya material yang dipamerkan. Dasar menempatkan alur cerita diperoleh dari berbagai dokumen dan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan untuk menafsirkan dan rekonstruksi setiap artefak dan situs arkeologi agar dapat ditempatkan kedalam bentuk narasi dan outline pameran. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh dari berbagai hipotesa yang tentu harus didukung dengan berbagai teori-teori didalam mengungkap informasi dari budaya material yang telah dihasilkan dari kehidupan masa lalu dan manfaatnya di masa sekarang. Proses ini merupakan hal utama dalam membuat pameran karena cara ini, maka museum bisa membuat spekulasi-spekulasi yang dapat menjadi bahan pengunjung sehingga pameran dan alur cerita menjadi hidup melalui kemampuan intelektual pengunjung yang diperolehnya dari latar ilmu pengetahuan yang berbeda-beda.
Ilmu pengetahuan yang ingin disampaikan didalam desain museum ini adalah untuk menunjukkan kepada pengunjung sebuah bukti-bukti warisan sejarah dan budaya yang memiliki aspek pendidikan dan latar belakang sejarah dan budaya Indonesia di masa lalu untuk menjadi indentitas diri bangsa di masa sekarang dan akan datang, seperti yang telah diungkapkan dalam tahap gagasan. Sedangkan outline pameran merupakan topik didalam tema yang ditempatkan dalam daftar koleksi yang akan ditampilkan.
Alur cerita didalam pameran museum arkeologi bawah air Indonesia sebagai berikut:
Topik
Peta sebaran situs-situs cagar budaya bawah air di Indonesia
Potensi peninggalan cagar budaya bawah air di Indonesia dan ruang lingkup kajian arkeologi bawah air
Peran dan pengaruh bangsa
Tabel alur cerita (storyline) di atas, merupakan potensi data yang merupakan informasi yang dapat ditampilkan didalam koleksi-koleksi pameran museum arkeologi bawah air Indonesia. Meskipun terdapat sejumlah pertanyaan terkait dengan keberadaan artefak budaya yang masih tersimpan dan yang dimiliki oleh perusahaan pengangkatan dari muatan bangkai kapal karam di Cirebon, dan beberapa koleksi yang memiliki relevansi dengan tema museum ini, misalnya di Museum Nasional Indonesia, bukan berarti koleksi tersebut tidak bisa ditampilkan di dalam desain museum arkeologi bawah air Indonesia.
4. Partisipatoris dan Interpretasi Publik
Kesimpulan
Peranan studi museum didalam memanfaatkan dan melestarikan warisan cagar budaya pun dapat dilakukan, dengan menerapkan berbagai program dan tema museum yang berorientasi kepada publik untuk memberikan manfaat ilmu pengetahuan, pendidikan, hiburan dan pengalaman untuk lebih mengenal dan belajar akan manfaat warisan sejarah dan budaya yang diperoleh dari situs arkeolgi bawah air di Cirebon. Melalui penerapan kajian new museology
dan berbagai contoh penerapan program dan tema-tema museum yang telah lama hadir untuk menjadikan situs dan budaya material dari situs-situs arkeologi bawah yang dimiliki, cukup berhasil untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman dari program yang dirancang untuk dipamerkan didalam museum.
Hingga saat ini, terkait hasil pengangkatan muatan barang kapal tenggelam yang telah dilakukan sejak mulai ditemukan tahun 2003 sampai akhirnya dilakukan pengangkatan dan kemudian dilakukan penanganan secara berkala di lokasi penyimpanan atau warehouse
Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam, Direktorat Pesisir dan Pulau-Pulau Pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan belum menemukan solusi yang tepat didalam pemanfataan sumberdaya koleksi dan nilai pendidikan yang luas dari peninggalan cagar budaya bawah air. Adapun upaya yang telah dilakukan untuk memberikan manfaat dari hasil pengangkatan muatan barang bangkai kapal tenggelam di perairan laut Jawa, Cirebon, masih bersifat sementara dan belum menjangkau kalangan masyarakat yang lebih luas, diantaranya dengan melakukan publikasi berupa buku-buku, jurnal, artikel, diserta dan sejumlah laporan-laporan hasil penelitian, pameran atau event yang bersifat sementara, serta dengan melakukan lelang barang, belum memberikan manfaat yang luas bagi kepentingan masyarakat untuk memberikan ruang didalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Bahkan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat terhadap nilai penting ilmu pengetahuan masih belum optimal, dan masih memiliki perspektif warisan sejarah dan budaya yang berasal dari situs arkeologi bawah air, hanya melihat dari sudut pandang nilai ekonomi yang terutama menjadi salah faktor keterancaman pelestarian situs-situs arkeologi bawah, sebab masyarakat semakin tertarik untuk mencari dan menjual barang-barang tersebut, karena dinilai sebagai sebuah “harta karun” yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Melalui program, tema dan skema konsep desain ruang pameran museum arkeologi bawah air, juga akan memberikan manfaat bagi para peneliti didalam menghasilkan sebuah hipotesa dalam perkembangan ilmu pengetahuan; arkeologi, sejarah, antropologi dan lain sebagainya. Secara tidak langsung upaya penelitian yang menghasilkan interpretasi dan rekonstruksi dari budaya material dari masa lalu, akan memberikan konfirmasi data yang telah didesain dalam ruang interpretasi publik ketika pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan objek koleksi yang di pamerkan didalam museum.
Referensi
Bambang Budi Utomo. (Ed). 2008. Kapal Karam Abad Ke-10 di Laut Jawa Utara Cirebon. Jakarta. PANNAS BMKT.
Creswell, John W. (2003). “Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods
Approaches”. Second Edition. University of Nebraska, Lincoln. London & New
Delhi. Sage Publications.
Crowther, David. (1991). “Archaeology, Material Culture and Museums”. Dalam Susan M. Pearce. (Ed). Museum Studies in Material Culture (pp. 35-46). United States of America. Smithsonian Institution Press.
Hauenschild, Andrea. (1988). “Claims and Reality of New Museology: Case Studies in Canada, the United States and Mexico”. Disertasi Doktor. Hamburg University. Liebner, Horst Hubertus. (2010). “Cargoes for Java: Interpreting Two 10th Century
Shipwrecks”. Leeds University.
---. (2014). “The Siren of Cirebon” A Tenth-Century Trading Vessel Lost in The Java Sea. Disertasi Doktor. Leeds University.
Macdonald, Sharon & Gordon Fyfe. (eds.). (1996). “Theorizing Museums”. Blackwell. Oxford, UK.
Macdonald, Sharon and Paul Basu. (Ed). (2007). “Exhibition Experiments”. Blackwel Publishing.
Marstine, Janet. (2006). “Introduction: What is New Museum Theory?”. Dalam Janet Marstine. (Ed). New Museum Theory and Practice: An Introduction (pp. 1-36). Australia. Blackwell Publishing.
McLean, Kathleen. (1993). “Planning For People in Museum Exhibitions”. Association of Science-Technology Centers. Michigan. Malloy Lithographing, Ann Arbor.
Merriman, Nick. (1989). “Museum Visiting as a Cultural Phenomenon”. In the New Museology. Dalam Peter Vergo (ed.). (pp. 149-171). Reaction Books. London, UK. ---. (1991). “Beyond the Glass Case”. Institute of Archaeology. UCL. Nurhadi Magetsari. (2008). “Filsafat Museologi” dalam Makalah Seminar Peringatan 100
Tahun Kebangkitan Nasional. Jakarta: Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata.
---. (2011). “Museum Di Era Pascamodern” makalah dalam Seminar Towards Indonesian Postmodern Museum. Departemen Arkeologi Universitas Indonesia, Depok.
Pearce, Susan.M. (1991). “Museum Studies in Material Culture”. Dalam Susan M. Pearce. (Ed). Museum Studies in Material Culture (pp. 1-10). Washington. DC. Smithsonian Institution Press.
Sabloff, Jeremy. (2005). “Public Archaeology/Museology/Conservation/Heritage” dalam Colin Renfrew and Paul Bahn (Ed.) Archaeology The Key Concepts. New York: Routledge.
Scott-Ireton, Della Aleta & John Jameson. (2004). “Introduction: Imparting Values/ Making Connections In out of the Blue”. Dalam John Jameson dan Della Scott-Ireton. (eds.). (pp. 1-7). Springer New York, New York.
Scott-Ireton, Della Aleta. (2005). “Preserves, Parks, and Trails: Strategy and Response in
Maritime Cultural Resource Management”. The Florida State University. DigiNote Commons.
Van Mesch, Peter. (1992). “The Museology Discourse”. Dalam Towards a Methodology of Museology. Universty of Zagreb.
---. (2003). “Museology and Management: enemies or friends?”. Konferensi Tahunan JMMA 4th7 Desember. Tokyo, Jepang.