Tinjauan Historis dan Refleksi:
Politik Sumber Daya Alam dan Gerakan Lingkungan
1
Oleh: Dewa Gumay2
“Ketika Hutan dan Sungai terakhir telah rusak, Ketika sumber‐sumber kehidupan terakhir telah musnah. Dan, ketika itu manusia baru sadar bahwa hidup tidak bisa makan uang !.”
Pengantar
ada dasarnya, kelahiran gerakan‐gerakan sosial ataupun gerakan lingkungan selalu ditandai dengan ketimpangan, mulai dari kondisi ketimpangan sosial, politik, dan carut‐marutnya pengelolaan sumber daya alam. Tulisan ini mencoba mendedah titik balik lahirnya Gerakan Lingkungan International dan menjalar ke Indonesia dalam perspektif historis atau dalam lebih luas adalah Gerakan penentangan terhadap ketimpangan pengelolaan sumber daya alam.
Lahirnya Gerakan Lingkungan atau sumber daya alam didasari oleh sebuah keyakinan yang kuat bahwa terjadi sebuah konspirasi dan kapitalisasi oleh negara maju terhadap akses sumber daya alam yang timpang, yang dirasakan oleh negara ketiga atau lebih dikenal dengan hubungan Utara – Selatan, atau politik sumber daya alam yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara berkembang
Periodisasi berdasarkan tinjauan historis‐nya, politik sumber daya alam dapat dibedah menjadi tiga periode penting: Pra Perang Dunia Pertama, yaitu periode penguasaan sumber daya alam oleh kaum feodalisme/monarki, kolonialisme (penguasaan secara langsung melalui penjajahan), dan perang dunia kedua, kemudian Pasca Perang Dunia Kedua, yaitu periode tatanan ekonomi dunia baru ditandai dengan lahirnya Bank Dunia dan IMF, impor dan pengalihan industri ke‐negara ketiga yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Periode ketiga adalah kerusakan lingkungan dan pengurasan sumber daya alam, mengakibatkan pemiskinan struktural. Periode inilah yang dikemudian hari menjadi titik balik lahirnya Gerakan Lingkungan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Pemindahan secara besar‐besaran industri dinegara maju ke‐negara berkembang, pada hakikatnya adalah memindahkan potensi dampak lingkungan yang akan terjadi dinegaranya, selain memudahkan mendapat bahan baku dan tenaga kerja yang murah, serta pasar yang melimpah.
1 Materi Politik Sumber Daya Alam dan Gerakan Lingkungan, pada beberapa kesempatan disampaikan
oleh Penulis dalam pelatihan ‘KALABAHU’ Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh dan lembaga lainnya, didasarkan pada muatan ‘Pendidikan Hukum Kritis’.
2 Dewa Gumay adalah Pegiat Lingkungan, tinggal di Banda Aceh. Pernah terlibat pada Advokasi Sumber
Daya Alam di LBH Palembang dan Walhi Sumsel pada periode 2000 ‐ 2005, dan di Walhi Aceh pada periode 2005 – 2007. Tulisan‐tulisan Dewa Gumay bisa diakses di weblog:
Sehingga dalam perkembangannya, dinamika Gerakan Lingkungan terus mengalami perubahan, terutama di Indonesia. Pada awalnya gerakan lingkungan masih bersifat parsial, tidak menyentuh akar persoalan, dan masih didominasi oleh kelompok hobby atau pecinta alam. Mulai periode 80‐an hingga 90‐an muncul kesadaran baru bahwa persoalan lingkungan adalah bagian dari persoalan politik. Sehingga penyelesaian kasus lingkungan harus dilakukan dengan jalan politik atau lebih dikenal dengan istilah ‘Politik Hijau’ dimana semua instrumen pembangunan harus memperhatikan aspek lingkungan atau ekologi.
Pra Perang Dunia Pertama
ejak awal perkembangan sistem ekonomi yang beorientasi modal, kawasan lingkungan alam yang kemudian disebut Sumber Daya Alam (SDA) sudah menjadi salah satu faktor penting disamping modal dan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai suatu ideologi yang bertujuan melakukan penumpukan modal (Capital Accumulation) melalui proses penanaman modal (Capital Investment).
Dalam prakteknya tak lain adalah mendorong dan mengharuskan adanya ekspansi keluar dalam bentuk penguasaan pasar, sumber pasokan bahan baku dan tenaga kerja semurah mungkin. Pada zaman kolonialisme akumulasi modal yang tersentralisasi di Eropa (Inggris) di distribusikan kebeberapa penjuru dunia, yang pada gilirannya ia menghadirkan segenap kemiskinan di wilayah jajahannya.
Keyakinan akan akibat dari proses dialektika materialis‐lah, ideologi akumulasi modal muncul. Pandangan ini kemudian dipertegas oleh Weber dengan deskripsinya tentang “adanya sebuah gerakan individualisme sebagai penentangan atas eksploitasi kejam yang dilakukan oleh feodalisme”.
Feodalisme di Yunani dan Romawi muncul dari kelas militer, sedangkan di Eropa Tengah muncul dari kelas Tuan Tanah. Kondisi inilah yang melahirkan kelas‐kelas penguasa atau pemegang hak milik atas aset produksi, kelas sosial ini kemudian hari dilawan dengan gerakan individualisme yang merupakan cikal bakal sistem akumulasi modal.
Di Perancis ditandai dengan jatuhnya penjara bastile dan kemarahan rakyat kelas petani sehingga melahirkan Revolusi Perancis pada 1789 dan 17993. Revolusi Perancis
merupakan kritik terhadap feodalisme yang dilakukan oleh kelas petani, buruh, dan semua kelas yang tersakiti oleh kekuasaan feodalisme atau monarki4.
3 Revolusi Perancis adalah masa dalam sejarah Perancis antara tahun 1789 dan 1799 di mana
para demokrat dan pendukung republikan menjatuhkan monarki absolut di Perancis dan memaksa Gereja Katolik Roma menjalani restrukturisasi yang radikal. Meski Perancis kemudian akan berganti sistem antara republik, kekaisaran, dan monarki selama 75 tahun setelah Republik Pertama Perancis jatuh dalam kudeta yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte, revolusi ini dengan jelas mengakhiri ancien régime (bahasa Indonesia: Rezim Lama; merujuk kepada kekuasaan dinasti seperti Valois dan Bourbon) dan menjadi lebih penting daripada revolusi‐revolusi berikutnya yang terjadi di Perancis.
4 Banyak faktor yang menyebabkan revolusi ini, salah satu di antaranya adalah karena sikap orde yang
lama terlalu kaku dalam menghadapi dunia yang berubah. Penyebab lainnya adalah karena ambisi yang berkembang dan dipengaruhi oleh ide Pencerahan dari kaum borjuis, kaum petani, para buruh, dan individu dari semua kelas yang merasa disakiti. Sementara revolusi berlangsung dan kekuasaan beralih
Periode di atas ditandai dengan pemenuhan kebutuhan pokok dengan kehadiran industri sandang di Inggris (abad ke‐16 sampai abad ke‐18). Walaupun industri sandang tersebut masih menggunakan mesin pemintal yang sangat sederhana, namun kepesatannya pada gilirannya mampu meningkatkan apa yang disebut sebagai ‘surplus sosial’. Pada akhirnya surplus sosial itu telah berubah menjadi perluasan kapasitas produksi, perluasan demi perluasan dengan justifikasi produktifitas yang dilakukan selanjutnya menghadirkan fenomena dramatis dengan munculnya kolonisasi kedaerah‐ daerah lain yang tak memiliki keseimbangan produksi.
Menurut Dudley Dillard5, pase ini didukung dengan tiga faktor penting; Pertama,
dukungan agama dengan menanamkan sikap dan karakter kerja keras dan anjuran untuk hidup hemat. Kedua, hadirnya mitos logam mulia terhadap distribusi pendapatan atas upah, laba, dan sewa. Ketiga, keikutsertaan negara dalam membantu membentuk modal untuk berusaha.
Pergeseran prilaku yang semula hanya sekedar perdagangan publik, kearah dan wilayah jangkauan yang lebih luas lagi, yaitu industri. Transformasi dari dominasi modal perdagangan ke dominasi modal industri merupakan ciri Revolusi Industri di Inggris yang terjadi pada 1760 – 18306. Perubahan dalam cara menentukan pilihan teknologi
dan cara ber‐organisasi berhasil memindahkan industri dari pedesaan ke sentra‐sentra perdagangan lama diperkotaan.
Kesuksesan secara ekonomis tersebut kemudian disusul dengan kesuksesan di bidang politik (hubungan kapital dengan negara), kondisi ini akhirnya menentukan gaya eksplorasi, eksploitasi dan perluasan daerah‐daerah kekuasaan sebagai tempat untuk mendistribusikan hasil limpahan produksi.
Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa disana mereka juga melakukan eksploitasi kekayaan setempat. Pada periode kolonisasi, banyak negara Utara melakukan invasi kenegara‐negara Selatan atau negara dunia Ketiga (Asia, Afrika, dan Amerika Latin). Invasi ini pada hakekatnya ialah mencari sumber daya alam baru atau bahan baku untuk mengerakkan mesin‐mesin industri di negara Utara.
Dari sinilah kemudian fenomena imperialisme dapat dilacak, negara‐negara Utara yang telah memulai proses industrialisasi yang dipacu oleh revolusi industri itu kemudian berlomba‐lomba untuk mengirim ekspedisi mencari daerah atau wilayah baru. Konflik untuk memperebutkan sumber‐sumber bahan mentah atau bahan baku dan juga konflik
dari monarki ke badan legislatif, kepentingan‐kepentingan yang berbenturan dari kelompok‐kelompok yang semula bersekutu ini kemudian menjadi sumber konflik dan pertumpahan darah.
5 Dudley Dillard, Kapitalisme, dalam Dawam Raharjo.
6 Istilah Revolusi Industri diperkenalkan oleh Friederich Engels dan Louis‐Auguste Blanqui di
pertengahan abad ke‐19. Revolusi Industri adalah perubahan teknologi, sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad ke‐18 dan awal abad ke‐19 yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi mesin. Revolusi ini dimulai
untuk memperebutkan pasar untuk melemparkan hasil produksi dengan demikian menjadi fenomena yang tidak terhindarkan. Inilah sebenarnya hakekat imperialisme itu, penaklukan menjadi kebutuhan dan penjajahan menjadi konsekuensi logis. Daerah jajahan/koloni akhirnya kehilangan kedaulatan dan martabatnya, sementara perekonomian mereka dibentuk sedemikian rupa untuk melayani kepentingan tuan‐ tuan kolonial.
Ketimpangan ekonomi yang ditimbulkan akibat penjajahan itu pada akhirnya menjadi pangkal dari krisis lingkungan hidup, yang ditandai dengan eksploitasi besar‐besaran sumber daya alam di negara dunia ketiga.
Pasca Perang Dunia Kedua
olonisasi langsung ini pada perkembangannya disadari oleh negara kolonial terlalu transparan, terlihat tidak adil dan diyakini tidak dapat berlangsung terus. Maka pada tahun 1944, sebanyak 44 negara berkumpul di Bretton Woods (kota kecil di negara bagian New Hampshire, AS), untuk membicarakan Tata Ekonomi Dunia Baru pasca Perang Dunia Kedua.
Tujuan utama dari pertemuan ini ialah “menciptakan perdamaian, karena itu harus dimulai dengan menciptakan kemakmuran ekonomi bagi semua negara di dunia ini”, akhirnya lahirlah dua lembaga internasional yang dikenal dengan nama Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (World Bank dan IMF, yang mulai beroperasi tahun 1947).
Lahirnya Bank Dunia dan IMF merupakan babak baru dalam sejarah umat manusia, dimana pembangunan negara‐negara juga menjadi urusan negara‐negara lain di dunia ini, tampaknya ini merupakan awal mula globalisasi yang semakin pesat didorong dengan perkembangan teknologi komunikasi.
Pada proses globalisasi pembangunan yang ditandai dengan munculnya Bank Dunia dan IMF, masalah dunia yang dulunya hanya kemiskinan dan perang bertambah satu yaitu
‘perusakan lingkungan’.
Masalah perusakan lingkungan ini tidak terjadi secara proses alamiah yang tidak disengaja, namun lebih merupakan masalah kerusakan lingkungan yang dilakukan secara aktif oleh manusia yang serakah mencari keuntungan pribadi. Tidak dapat disangkal bahwa proses globalisasi pembangunan dengan titik sentral pengembangan teknologi industri yang pesat dibarengi pula dengan polusi udara, polusi laut, kerusakan hutan, dampak rumah kaca, dampak limbah nuklir, chlorine, dsb.
Perusakan lingkungan tersebut merupakan impak dari hubungan antara negara penerima hutang (negara dunia ketiga) dengan negara pemberi hutang, hubungan yang semula diharapkan menghasilkan kemakmuran bagi semua negara, bergeser menjadi kemakmuran bagi negara pemberi hutang atau negara pertama di satu sisi dan kemiskinan yang sangat menonjol di belahan dunia lainnya.
Negara dunia ketiga mengalami cekikan hutang, penurunan nilai tukar bagi barang‐ barang yang dihasilkan, ketergantungan yang sangat tinggi pada negara donor, yang
pada akhirnya memaksa negara dunia ketiga untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya semaksimal mungkin. Dalam peristilahan ekonomi hal itu berarti eksploitasi produksi dan ekspor bahan‐bahan mentah maupun komoditas yang lebih cepat. Pendapatan ekspor (plus pertukaran luar negeri yang lain yang terjadi dalam bentuk pinjaman, bantuan dan investasi) dipakai untuk pembayaran impor barang‐barang konsumen dari negara‐negara asing (terutama negara‐negara donor, dan menyangkut barang‐barang mewah bagi kelompok elit lokal) serta berbagai masukan mesin‐mesin berteknologi usang atau sampah maupun teknisi‐teknisi asing yang tidak terpakai di negaranya.
Proses ekonomi ini bermuara pada krisis besar di bidang lingkungan hidup, eksploitasi bahan‐bahan mentah dan tanaman perdagangan ini mengakibatkan penipisan dan habisnya sumber daya alam yang merupakan faktor penting bagi produksi yang berkelanjutan–telah dikuras sedemikian cepat dan membabi buta dalam periode pasca perang.
Diseluruh dunia sekarang argumentasi lingkungan digunakan sebagai salah satu unsur baru dan kuat dalam perebutan kekuasaan atas sumber daya lokal. Persekutuan‐ persekutuan politik yang aneh sengaja dikaburkan yang antara lain, ditemukan adanya lembaga donor asing yang bekerjasama dengan para politisi etnis setempat dengan agenda‐agenda lingkungan mereka.
Makin lemah pihak penerima bantuan, makin kuat para donotur internasional itu bisa memaksakan persyaratan‐persyaratan lingkungan hidup (acoconditionalities) mereka. Sebaliknya, makin kuat perekonomian negara penerima, dan justru ketika makin mendesaknya persyaratan‐persyaratan lingkungan diterapkan pada negara tersebut sesuai dengan tuntutan pelestarian lingkungan, maka makin lemah pula dampak keprihatinan lingkungan global tersebut terlaksana di negeri tadi.
Uniknya krisis lingkungan hidup ini, dijawab dengan resep obat penenang (palliatives), misalnya; pembabatan hutan besar‐besaran di injeksi dengan kewajiban penanaman kembali pohon bagi pengusaha hutan, Impor teknologi sampah atau teknologi usang asal dibarengi dengan kewajiban pembuatan AMDAL7 (sebagai syarat formal) sebagai
penenang masyarakat sekitar lokasi, penyelesaian konflik lingkungan lewat Win‐win Solution. Dan uniknya lagi resep‐resep obat penenang tersebut sengaja diciptakan oleh negara‐negara donatur, demi melanggengkan sistem ekonomi global yang diterapakan di negara dunia ketiga.
Jadi jargon “pembangunan berkelanjutan” hakikatnya ialah berkelanjutannya sistem ekonomi yang selalu berupaya mengakumulasikan modal. Atau dapat di analogikan dengan “Pangeran rupawan (Bank Dunia & IMF) yang menyembunyikan pedang dibelakang punggungnya, siap memberikan kecupan hangat pada gadis cantik jelita yang baru bangun dari tidurnya (negara dunia ketiga)”.
7 AMDAL atau Analisis Dampak Lingkungan adalah instrumen yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia
untuk menilai kelayakan sebuah usaha berada dibawah ambang batas baku mutu pencemaran lingkungan. AMDAL sama halnya dengan instrumen EIA (Environmental Impact Assessment) yang digunakan oleh Pemerintah Amerika, perbedaannya terletak pada penetapan tingkat ambang batas baku mutu limbah, dimana nilai yang digunakan oleh EIA jauh lebih ketat disbanding AMDAL.
Menurut Martin Khor Kok Peng8, (Imperialisme Ekonomi Baru. Putaran Uruguay dan
Kedaulatan Dunia Ketiga, 1993) kesalahan ini terjadi dikarenakan “Kekuatan‐kekuatan telah berusaha dan berhasil ‘mengelola’ transisi dari dunia kolonial ke dunia pasca‐ kolonial, dengan cara‐cara yang sesungguhnya semakin mengetatkan kontrol mereka terhadap pemanfaatan berbagai sumber daya yang ada di dunia ini, sementara mereka juga menyebarkan model pembangunan, budaya, dan gaya hidup Barat ke negara‐ negara yang baru merdeka ini”.
Caranya ialah melalui tekanan hutang, perundingan‐perundingan dalam kerangka GATT (General Agreement on Trade and Tariff ) dan Putaran Uruguay, pemaksaan model pembangunan yang menguntungkan negara‐negara yang lebih kuat lewat apa yang disebut Program Penyesuaian Struktural atau SAP (Structural Adjusment Program).
Krisis Ekologi di Negara Ketiga
ata ekonomi dunia baru pasca perang, ditandai dengan lahirnya Bank Dunia dan IMF, cara‐cara imperialisme atau penjajahan langsung tidak dilakukan lagi seiring dengan berakhirnya perang dunia kedua, tetapi model penguasaan atas sumber daya alam tetap berlangsung.
Bahkan, pada perkembangannya peran Bank Dunia dan IMF jauh lebih luas dalam mengontrol pasar dan ekonomi di negara ketiga melalui paket pinjaman (loan). Negara maju berlomba melakukan investasi ke‐negara berkembang, pada hakikatnya ada empat alasan yang sangat kuat perpindahan industri dari negara maju ke negara berkembang,
pertama, pasokan bahan baku atau sumber daya alam yang melimpah, kedua, tenaga kerja yang murah, ketiga, pasar yang akan menjadi konsumen, keempat, transfer teknologi usang dan transaksi teknologi.
Beberapa negara maju justru menggunakan kebijakan double standart terhadap eksploitasi sumber daya alam, mereka menerapkan kebijakan yang sangat ketat dalam memperoleh izin eksploitasi, seperti Australia (kasus perusahaan tambang di Kalimantan), tetapi beberapa perusahaan Australia begitu mudah mendapatkan izin eksploitasi di Indonesia.
Selain perpindahan industri, negara maju juga mendukung project‐project pembangunan jalan, dam/waduk, dan project industri skala besar yang mengakibatkan kerusakan hutan dan konflik pertanahan. Lambat laun tanpa disadari ‘tata ekonomi dunia baru’ yang dicita‐citakan telah menjadikan negara ketiga sebagai tempat sampah, limbah, dan gulai industri.
Di beberapa negara berkembang seperti brazil dan Indonesia, tutupan hutannya setiap tahun berkurang drastis untuk memenuhi kebutuhan industri kertas, sementara limbah dari pabriknya mengotori sungai – sungai yang menjadi sumber air masyarakat. Penguasaan tanah oleh industri perkebunan besar dan industri tambang telah
8 Martin Khor Kok Peng dalam bukunya Imperialisme Ekonomi Baru, Putaran Uruguay dan Kedaulatan
menyebabkan masyarakat kehilangan aset produksinya dan tanah‐tanah masyarakat di Papua dan Kalimantan menjadi kolong‐kolong tailing dan air asam tambang.
Beberapa peristiwa penting kerusakan lingkungan antara lain: Kasus tambang Freeport di Papua, kasus waduk kedung Ombo, konflik tambang Inco di Sulawesi, tambang emas dan batubara KPC di kalimantan, kasus konflik perkebunan kelapa sawit sinar mas di Sumatera, kasus pabrik pulp and paper di Riau dan Indorayon di Sumut, kasus Mobil Oil, Exxon Mobil, HPH (Hak Penguasaan Hutan) di Aceh, dan ratusan kasus lingkungan yang berimplikasi terhadap konflik land tenure, konflik horizontal, dan proyek pengamanan oleh aparat militer. Semua konflik tersebut berjalin kelindan dengan persoalan politik sumber daya alam yang dilakukan oleh negara – negara utara atau negara maju melalui Bank Dunia dan IMF.
Krisis ekologi dinegara ketiga terus berlangsung dan secara perlahan telah melahirkan perlawanan terhadap ketidak‐adilan tersebut, hal ini kemudian memunculkan kelompok‐kelompok yang bergerak dalam barisan gerakan lingkungan yang tersebar di seluruh dunia.
Gerakan Lingkungan
ebelum masuk pada pola dan bentuk‐bentuk Gerakan Lingkungan di dunia dan Indonesia, ada banyak definisi tentang istilah Gerakan Lingkungan, setidaknya ada tiga pengertian merujuk istilah Gerakan Lingkungan: Pertama, sebagai penggambaran perkembangan tingkah laku kolektif (collective behavior). Kedua, sebagai jaringan konflik‐konflik dan interaksi politis seputar isu‐isu lingkungan hidup dan isu‐isu lain yang terkait. Ketiga, sebagai perwujudan dari perubahan opini publik dan nilai‐nilai yang menyangkut lingkungan9.
Sekali‐lagi, lahirnya gerakan lingkungan diseluruh dunia merupakan refleksi gagalnya instrumen pembangunan yang tidak menggunakan pendekatan ekologi, dan refleksi dari carut‐marutnya pengelolaan sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial. Sehingga untuk menyelesaikan persoalan‐persoalan tersebut diperlukan sebuah pendekatan ‘politik jalan ketiga10’ atau politik hijau yaitu
semua kebijakan pembangunan yang dibuat oleh Pemerintah harus mempertimbangkan keberlangsungan ekologi. Pendekatan ini kemudian hari menjadi cikal bakal lahirnya green party di beberapa negara maju.
Hari Bumi
22 April 1970 atau 41 tahun lalu, ditandai dengan lahirnya sebuah gerakan kepedulian terhadap lingkungan hidup atas prakarsa seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson sekaligus sebagai staf pengajar lingkungan hidup. Saat itu ia berhasil mengumpulkan 20 juta orang turun ke jalan mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Gagasan tentang Hari Bumi ini dicetuskan Nelson saat berpidato di seattle pada 1969, dimana gagasannya mendapat dukungan luar biasa, yang sebagian
9 Berdasarkan literature Sosiologi.
10 Pendekatan Politik jalan ketiga diperkenalkan oleh Antony Giddens dan Dryzek, atau lebih dikenal
dengan istilah pendekatan politik hijau yaitu kemajuan demokrasi dan pembangunan harus memasukkan pertimbangan ekologi sebagai pendekatan untuk menyelesaikan krisis lingkungan yang melanda dunia.
besar berasal dari kelompok demonstan anti‐perang generasi 60‐an. Gagasan Nelson merefleksikan kehancuran sungai‐sungai dan lingkungan di Amerika akibat kemajuan industri yang tidak mengakomodir kepentingan ekologi dan sekaligus sebagai seruan untuk membangun kesadaran dan sekaligus apresiasi terhadap Bumi sebagai tempat tinggal seluruh umat manusia, sejak saat itu setiap 22 April di peringati sebagai Hari Bumi yang dilakukan oleh masyarakat International.11
Gerakan ‘CHIPKO’ Vandana Shiva
Pemihakan Vandana Shiva pada alam, pada petani dan kelompok tertinggal, khususnya perempuan, tak sulit dilacak latar belakangnya. Perempuan yang dilahirkan pada tanggal 5 November tahun 1952 di Dehradun, kota tua di Pegunungan Himalaya, India, itu membangun penghargaannya pada alam melalui pengalaman kesehariannya bersama ayahnya, seorang penjaga kelestarian hutan dan ibunya yang petani.
Cita‐citanya menjadi ilmuwan juga dibangun sejak kecil. Keinginannya untuk mengetahui bagaimana alam bekerja membuatnya mencintai fisika. Einstein adalah inspirasinya. Vandana Shiva juga memiliki gelar kedua di bidang filsafat mendapatkan gelar PhD‐nya di bidang fisika kuantum dari University of Western Ontario pada tahun 1979.
Vandana Shiva dan seluruh sepak terjangnya telah mematahkan pandangan tentang ilmuwan dan menara gadingnya. Sejak tahun 1970‐an, ia sudah memimpin aksi damai menolak penebangan pohon di hutan dengan memeluk pohon tersebut tatkala sebuah buldozer akan menumbangkannya. Peristiwa ini dikenal sebagai gerakan ‘Chipko Movement”12.
Sejak itu, ibu satu anak ini banyak terlibat dalam aksi‐aksi mempertahankan kepemilikan petani dan kaum marjinal lainnya. Pandangan‐pandangannya membuat banyak orang tidak menyukainya. Namun, jalan sunyi yang dulu ia tapaki sendiri, kini sudah semakin ramai dihuni.
Vandana Shiva menjadi inspirasi dunia bagi upaya pelestarian alam dan lingkungan, serta pembangkit perempuan untuk berani ikut serta dalam upaya tersebut dan mendapatkan hak‐haknya yang adil sebagai warga negara. Dia disebut sebagai feminis lingkungan atau eko‐feminis.
11 PBB sendiri merayakan hari bumi pada 20 Maret, sebuah tradisi yang dicanangkan aktivis
perdamaian John McConnell pada tahun 1969, adalah hari dimana matahari tepat diatas khatulistiwa yang sering disebut Ekuinoks Maret.
12 Aksi memeluk pohon khejri ini, di kemudian hari menjadi inspirasi bagi lahirnya gerakan‐gerakan
lingkungan di dunia. Di India gerakan chipko menjadi inspirasi lahirnya gerakan ekofeminisme Vandana Shiva. Vandana Shiva pernah menuliskan “Peluklah pohon‐pohon kita” pada salah satu halaman bukunya yang terkenal, Staying Alive: Women, Ecology and Survival in India. Dia mengutip kalimat itu dari sebuah puisi yang digubah pada 1972 oleh Raturi. Puisi itu mengungkapkan betapa heroik dan puitisnya aktivitas memeluk erat pohon yang dilakukan sejumlah perempuan India untuk menyelamatkan hutan dari agresi keserakahan manusia. Puisi tersebut merupakan sumber dokumentasi awal dari apa yang kini disebut (gerakan) Chipko.
Pemikir yang menggabungkan pandangannya tentang lingkungan hidup, pertanian, spiritualitas, dan hak‐hak perempuan ke dalam filosofi yang sangat kuat ini
memaparkan dengan sangat jernih hubungan antara hilangnya mata pencaharian dan perampasan sumber daya alam melalui cara‐cara yang licik dan menggunakan saluran‐ saluran demokrasi.
Bagi Vandana Shiva, benih adalah inti kehidupan. Untuk sumbangannya bagi gerakan penyadaran dan perlindungan lingkungan, ia menerima 15 penghargaan nasional dan internasional, termasuk The Earth Day International Award pada tahun 1993 dan The International Award of Ecology pada tahun 1997.
Kelompok Greenpeace
Greenpeace sebagai organisasi yang berdiri sejak 1971 bertujuan memperjuangkan kelestarian lingkungan dan perdamaian dunia. Di mana ada kerusakan lingkungan, di situlah Greenpeace hadir menjadi saksi mata bagi dunia. Sampai saat ini Greenpeace mempunyai perwakilan disetiap regional dunia13.
Greenpeace berhasil mengubah kebijakan pemerintahan dunia dari yang tidak berpihak pada pelestarian lingkungan dan perdamaian menjadi kebijakan yang pro‐lingkungan dan perdamaian. Tonggak keberhasilan Greenpeace pertama adalah menghentikan percobaan nuklir Amerika Serikat di Amchitka Island, Alaska. Aksi Greenpeace mampu mengubah kebijakan AS. Pemerintah AS menghentikan percobaan senjata nuklir dikawasan itu dan memetakan kawasan itu sebagai kawasan lindung untuk burung‐ burung.
Bagaimana Greenpeace mampu bertahan selama kurang lebih 37 tahun? Jawabannya karena Greenpeace memegang teguh dan menjaga nilai‐nilai dan prinsip‐prinsip organisasi sejak awal berdiri dengan konsisten sehingga menjadi organisasi yang kuat selama lebih dari 30 tahun.
Apa saja nilai‐nilai dan prinsip‐prinsip yang membuat Greenpeace menjadi organisasi global yang diakui oleh lawan maupun kawan? Greenpeace tidak meminta atau menerima dana dari pemerintah, perusahaan atau partai politik. Greenpeace mendapatkan dana dari sumbangan individual sebagai pendukung (supporter) dan dana hibah dari yayasan‐yayasan yang sudah teruji komitmennya. Greenpeace mendapatkan dana paling besar dari individu yang bersimpati pada Greenpeace dan memiliki kepedulian yang sama dengan Greenpeace. Nilai ini membantu Greenpeace lebih independen ketika harus berhadapan dengan pemerintah dan perusahaan.
Masih terkait dengan sumber dana, Greenpeace tidak mencari atau menerima sumbangan yang akan mengkompromikan kemandirian, tujuan, atau integritasnya. Sikap ini penting untuk menunjukkan independensi Greenpeace dari pemberi dana.
13 Greenpeace South East Asia resmi berdiri tanggal 1 Maret 2000. GPSEA yang berkantor pusat di
Greenpeace memegang teguh prinsip‐prinsip: tanpa kekerasan (non‐violence). Aksi Greenpeace menghadang kapal tanker berisi minyak sawit di Riau sering disalahartikan sebagai aksi yang mempertunjukkan kekerasan (violence). Greenpeace menyebut setiap aksinya, seperti mengikatkan tubuh pada rel kereta (protes transportasi limbah nuklir) atau pada pohon, menghadang kapal laut penangkap ikan paus dan aksi serupa, sebagai non‐violence direct action atau aksi langsung tanpa kekerasan.
Direct action adalah aksi protes di mana aktivis atau pemrotes melawan melalui aksi yang dirancang bukan hanya untuk mengubah kebijakan pemerintah atau mengubah opini publik melalui media, tetapi juga mengubah kondisi lingkungan di sekeliling mereka secara langsung.
Greenpeace sudah memulai bearing witness dan direct action sejak awal, ketika tahun 1971 para pendiri Greenpace menggunakan kapal ikan tua belayar “Phyllis Cormack” dari Vancouver, Kanada, menuju Pulau Amchitka, pulau kecil di Tepi Barat Alaska. Meskipun hanya kapal kecil tua, Phyllis Cormack dicegah oleh tentara Amerika Serikat sebelum tiba di Pulau itu.
Greenpeace berusaha mempertahankan independensinya dari politik (political independence). Greenpeace tidak dipengaruhi oleh paham politik mana pun dan dari negara atau partai apa pun. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip “no permanent allies orenemies.”
Greenpeace tidak memiliki sekutu atau musuh permanen (no permanent allies or enemies). Greenpeace sebagai organisasi terbuka tidak lepas dari pengaruh lingkungannya. Situasi politik, ekonomi, sosial, terkait dengan isu lingkungan tertentu mendorong Greenpeace mengambil strategi bersekutu dengan pemerintah atau organisasi non‐pemerintah lainnya untuk mencapai tujuan.
Persekutuan ini tidak permanen. Untuk satu isu lingkungan tertentu mungkin saja Greenpeace bersekutu dengan pemerintah, tetapi untuk isu yang berbeda Greenpeace memposisikan pemerintah sebagai musuh. Misalnya untuk isu perdagangan limbah B3, Greenpeace memposisikan negara berkembang (termasuk Indonesia) sebagai sekutu dan pemerintah negara maju sebagai “musuh.” Tetapi untuk isu kehutanan, Greenpeace memposisikan Pemerintah Indonesia (Departemen Kehutanan) sebagai “musuh.”
Greenpeace, sebagai organisasi non‐pemerintah, memegang teguh prinsip transparan dan akuntabilitas. Dua prinsip ini menjadi penting karena Greenpeace harus mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangannya kepada para supporterindividu dan foundation yang memberikan dana. Setiap tahun keuangan Greenpeace diaudit dan laporan audit terbuka untuk diperiksa oleh parasupporter.
Gerakan Revolusi SDA di Amerika Latin
Di Kuba, tokoh revolusioner, pejuang pembebasan rakyat Kuba yang fenomenal. Fidel Castro. Sejarah perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, tentang insiden Teluk Babi, yang mempersoalkan tentang penempatan senjata rudal nuklir milik Soviet di Kuba, tahun 1962, sehingga sempat membuat panas Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy.
Selain Castro, tokoh berjuang menggulingkan Batista, tahun 1958, yakni: Che Guevara. Bahkan hingga kini foto Che Guevara tetap dijadikan ‘ikon revolusioner kaum muda’ dengan cirri khasnya mengenakan baret yang ditempeli pin ‘ bintang merah’.
Argentinapun memiliki pahlawan pembela rakyat miskin yang melegenda, bahkan ada lagu khusus yang meratapi kepergiannya, yaitu: ‘Don’t cry for me Argentina’. Evita Peron, istri Presiden Juan Peron, yang memerintah dari tahun 1946 hingga 1973. Berkat ideology yang diusungnya, yaitu: Peronisme, ‘first lady’ Argentina ini mengangkat taraf kehidupan masyarakat miskin di Argentina dengan cara melayani langsung dan memberikan perhatian atas pemenuhan kebutuhan‐kebutuhan pokok hidupnya agar sesuai dengan taraf hidup layak yang manusiawi.
Pada abad ke 21 kini, Benua Amerika Latin juga memunculkan tokoh‐tokoh ‘neo‐ sosialism’ yang muncul secara serentak dengan pelopornya, Presiden Venezuela: Hugo Chavez. Selanjutnya berturut‐turut menyusul, yaitu: Presiden Bolivia: Evo Morales, Presiden Argentina: Christina Fernandez, Presiden Brazil: Lula Da Silva, dan Presiden Ekuador: Rafael Correra.
Ciri dari gerakan kiri di benua Amerika Latin merupakan kaitan langsung dari refleksi penguasaan sumber daya alam oleh rezim kapitalisme, terhadap sumur minyak dan bahan tambang mineral, yang memunculkan ketimpangan struktural di Amerika Latin.
Gerakan Revolusi SDA di Amerika Latin memiliki corak dan pandangan yang hampir sama dengan Gerakan Lingkungan sesungguhnya, perbedaannya hanya terletak pada pelaku/aktor utama, pada kasus Amerika Latin diperankan oleh negara secara langsung, sedangkan dibelahan dunia yang lain diperankan oleh oposisi dan kelompok green party, hal ini membenarkan teori Anthony Giddens tentang opsi ‘politik jalan ketiga’ dimana negara terlibat langsung dalam penentuan kebijakan.
Green Party
Seperti namanya, Green Party adalah partai politik penganut ideology hijau. Ideology ini hadir untuk mengkonter pembangunan ekonomi yang dibawa oleh modernisasi yang praktek di lapangan sangat anthroposentris. Sifat pembangunan dan modernisasi sangat bergantung pada tiga hal yakni ilmu pengetahuan, teknologi dan sumber daya manusia. Dengan pendekatan modernisasi membuat ide‐ide pembangunan seakan bebas untuk melakukan eksploitasi sumber daya alam secara besar‐besarnya.
New Zealand hingga menjadi perbincangan serius di parlemen Inggris dengan lahirnya ecology party14.
Munculnya green party di tahun 1970‐an oleh banyak kalangan dilihat sebagai aksi‐ refleksi terhadap kejenuhan masyarakat dunia akibat perang urat syaraf yang dilakukan oleh negara dunia pertama. Perilaku ekonomi yang secara capital didominasi oleh dunia pertama dengan mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di kawasan dunia ketiga (Negara berkembang) telah melahirkan kesadaran baru dalam memandang hubungan manusia dan alam. Kemudian lahirnya konsep etika lingkungan hidup yang sebagian besar mengkritik etika antroposentrisme dan biosentrisme. Etika lingkungan hidup yang populis adalah ekosentrisme (deep ecology) dan ekofeminism15.
Di negara maju, lingkungan hidup telah dianggap sebagai suatu kebutuhan mutlak atau bahkan sebagai spirit kehidupan. Misalnya saja pada tahun 1975 di California, Amerika Serikat, muncul gerakan yang menamakan dirinya The Universal Pantheis Society, yang meyakini, alam dan seisinya memiliki jiwa yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak boleh saling merusak.
Bahkan jauh sebelumnya, pada dasawarsa 1970‐an, gerakan pro lingkungan telah mulai marak di lingkungan akademisi internasional, yaitu dengan terbitnya tulisan The Historical Roots of Our Ecological Crisis oleh Lynn White (1967) dan The Tragedy of The Commons oleh Garet Hardins (1968). Partai politik seperti yang populer di Jerman, Norwegia, Austria, Australia, Selandia Baru, dan Swedia ini menawarkan konsep harmoni kehidupan dengan menyeimbangkan antara kualitas sumber daya alam dan sumber daya manusia.
Meski menjadikan lingkungan hidup sebagai perjuangan utama, green party tidak hanya berbicara masalah alam dan lingkungan seperti banjir, longsor, pencemaran air, dan udara, melain‐kan juga berbicara soal peradaban yang di dalamnya termasuk kebudayaan, adat istiadat, politik, ekonomi, teknik, teknologi sistem infrastruktur dan lain‐lain. Mereka berpikir, lingkungan hidup dan manusia saling memengaruhi.
Di Jerman, misalnya, green party berhasil memunculkan kebijakan penerapan pajak lingkungan (ecotax system) terhadap konsumsi energi dalam rangka menekan penggunaan energi secara berlebihan. Bermodalkan isu‐isu lingkungan hidup serta dukungan banyak konsep dan pemikiran para penggiat dan pakar lingkungan hidup yang selama ini tidak mendapatkan tempat dalam proses pembuatan kebijakan lingkungan.
Gerakan Lingkungan di Indonesia
Di Indonesia istilah gerakan lingkungan hidup di pakai dalam konsorsium : “15 tahun Gerakan Lingkungan Hidup: Menuju Pembangunan Berwawasan Lingkungan”. Yang di selenggarakan oleh kantor Meneg Kependudukan Dan Lingkungan Hidup di Jakarta, 5 Juni 1972.
Denton E Morrison mengusulkan bahwa yang di sebutkan gerakan lingkungan hidup sesungguhnya terdiri dari 3 komponen yaitu komponen pertama, the organized or
voluntary enviromental movement (gerakan lingkungan yang terorganisir atau gerakan yang sukarela) termasuk dalam kategori ini adalah organisasi lingkungan seperti Enviromental Devense Fund, Green Peace atau di Indonesia WALHI dan Jaringan Pelestarian Hutan “SKEPHI”.
Komponen kedua, The public enviromental movement (gerakan lingkungan publik ) adalah khalayak ramai yang dengan sikap sehari‐hari dalam tindakan dan kata‐kata mereka menyatakan kesukaan mereka terhadap ekosistem tertentu, pola hidup tertentu serta flora dan fauna tertentu.
Komponen ketiga, The Institusional Enviromental Movement (gerakan lingkungan terlembaga) ini sangat menentukan dalam negara negara berkembang dimana peranan negara sangat dominan dan peranan aparat‐aparat birokrasi resmi mempunyai kewenangan hukum (yuridiksi) terhadap kebijakan umum tentang lingkungan hidup atau yang berkaitan dengan lingkungan hidup sebagai contoh di Amerika ada Badan Perlindungan Lingkungan ( EPA ‐ Enviromental Protection Agency), Taman Nasional (National Park Service) padanannya di Indonesia adalah Kantor Meneg KLH, DEPHUT.16
WALHI sebagai tonggak sejarah gerakan lingkungan di Indonesia
Berdiri pada 15 Oktober 198017, beranggotakan 400‐an organisasi diseluruh Indonesia.
Tujuan WALHI adalah mengembalikan kedaulatan rakyat atas sumberdaya alam, pada awalnya, WALHI tidak kompromi terhadap berbagai perusak lingkungan, tetapi hal tersebut bukan akar persoalan, karena semua itu ditentukan oleh berbagai peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Dalam perkembangannya Walhi melakukan reposisi dan memutuskan masuk dalam advokasi, yaitu melakukan perubahan kebijakan lingkungan hidup.
Pada awal terbentuknya, style organisasi ini hanyalah kumpulan individu yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan, dan aktivitas‐nya terbatas pada persoalan direct action, seperti pembersihan sungai, dan aksi‐aksi langsung lainnya. Metamorfosis WALHI sebagai organisasi gerakan lingkungan mulai terasa di tahun 1988, dimana munculnya kesadaran baru tentang akar persoalan lingkungan adalah persoalan kesalahan kebijakan yang dilakukan Pemerintah pada waktu itu.
Sejalan dengan hal tersebut, sikap kritis WALHI terus terasah melihat berbagai kebijakan dan eksploitasi sumberdaya alam yang merugikan masyarakat. Kampanye terhadap dampak pertambangan di PT. Freeport Indonesia mengawali langkah WALHI dalam hard campign, di mana sikap tegas dan tidak kompromi terhadap perusak lingkungan menjadi ciri khas WALHI selanjutnya.
Pada tahun 1988, Badan Eksekutif WALHI mulai mengkampanyekan tentang Reformasi Lingkungan Hidup fokus pada hal‐hal makro yang meliputi kebijakan lingkungan dan kelembagaan lingkungan. Kebijakan tersebut dilandasi oleh pernyataan bahwa
16 George Junus Aditjondro,2003. Pola‐pola Gerakan Lingkungan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
17 Pada awal berdirinya WALHI, juga melibatkan beberapa tokoh nasional seperti; Emil Salim dan Erna
kebijakan lingkungan harus memenuhi rasa keadilan, melindungi lingkungan, dan bisa dinikmati oleh masyarakat.
Bulan Desember 1989, Walhi memutuskan untuk menggugat enam pejabat negara karena mengijinkan pembangunan pabrik pulp dan rayon, PT Inti Indorayon Utama di Porsea. Kasus ini pertama kalinya NGO melakukan legal standing. Ini merupakan catatan pembaharuan hukum acara di Indonesia, karena sebelumnya Indonesia menganut “asas tiada gugatan tanpa kepentingan hukum”.
Saat itu, kepentingan hukum biasanya dikaitkan dengan kepentingan kepemilikan atau kerugian yang dialami langsung oleh penggugat. Dalam perkembangannya, setelah beberapa kali WALHI mengajukan gugatan, akhirnya legal standing WALHI diterima di Pengadilan. Meskipun dari pengalaman beberapa sidang di pengadilan, legal standing WALHI selalu saja diperdebatkan. Namun, dalam perjalanannya, akhirnya legal standing LSM ini diakomodir dalam UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang diartikan sebagai Hak Gugat Organisasi Lingkungan.
Dalam gugatan Porsea, Walhi memang akhirnya kalah, tetapi klaim mereka sebagai organisasi lingkungan hidup yang mewakili lingkungan (legal standing) diterima oleh pengadilan. Inilah tonggak pertama LSM Indonesia diakui melakukan legal standing. Selanjutnya hal tersebut menjadi tonggak sejarah Walhi untuk legal standing untuk melawan pemerintah atau menggugat.
Tercatat ada delapan gugatan yang dilakukan WALHI pada periode 1988 – 2000, yaitu menggugat Amdal PT. Inti Indorayon Utama (1988), Dana Reboisasi (1999), Amdal PT. Freeport Indonesia, (1995), Pencemaran air di Surabaya (1995), Penyelewengan dana Reboisasi oleh PT. Kiani Kertas (1997), Kebakaran Hutan di Sumsel (1998), Proyek Pengembangan Lahan Gambut 1 Juta Hektar (1999), Hak Atas Informasi atas informasi yang diberikan PT. Freeport (2000), Hak Penguasaan Hutan di Palu (2001), Banjir di Sumatera Utara (2002).
Dari sepuluh kasus gugatan lingkungan, hanya satu kasus yang dimenangkan, yaitu Hak Atas Informasi. Dalam putusannya, Majelis hakim hanya mengabulkan gugatan WALHI sebagian dan mengakui bahwa PT Freeport Indonesia telah melakukan perbuatan melawan hukum.
Kemenangan ini menjadi catatan sejarah, bahwa lingkungan dapat dimenangkan meskipun harus melewati perjalanan panjang. Hal ini sekaligus sebagai pembelajaran bagi kelompok lingkungan bahwa banyak jalan untuk menegakkan lingkungan. Meskipun disadari bahwa keputusan tersebut tampak masih ragu‐ragu dan belum mencerminkan keberpihakan pengadilan atas kepedulian yang dipersoalkan Walhi, yaitu PTFI bertanggung jawab atas disinformasi yang dilakukannya18.
18 Sejarah perkembangan WALHI sebagai organisasi Gerakan Lingkungan dapat juga di akses di
Aksi – Refleksi Gerakan Lingkungan ‘Kontemporer’
erakan lingkungan kontemporer (terkini) sebagaimana lazimnya sebuah gerakan, pada dasarnya juga mempraktekkan teknik‐teknik dan alur Advokasi, sebagaimana hal ber‐ advokasi maka ‘gerakan lingkungan’ haruslah komprehensif dalam melancarkan aksi‐aksi perubahan atau menuju ‘Gerakan Advokasi Lingkungan’, dimana perubahan kebijakan dalam konteks lingkungan menjadi arus utama atau tujuan bagi pelaku, pegiat, dan aktivitis lingkungan.
Ada perbedaan mendasar antara gerakan lingkungan sebelum dan sesudah periode 90‐ an. Periode sebelum 90‐an biasanya dicirikan oleh gerakan yang dilakukan oleh kelompok pecinta lingkungan atau hobby, dan periode ini ditandai dengan aksi‐aksi yang bersifat theaterikal dan seruan moral, sedangkan setelah periode 90‐an gerakan lingkungan telah masuk ke‐ranah advokasi yang lebih luas yaitu mendesak terjadinya perubahan kebijakan, dengan berbagai upaya yang dilakukan secara terstruktur mengikuti lazimnya alur advokasi.
Gerakan lingkungan ‘kontemporer’ sudah menerapkan teknik investigasi mendalam, sebagaimana advokasi kasus‐kasus korupsi, pendampingan terhadap korban, membangun jaringan dan kampanye yang luas, aksi dan lobby, bahkan sudah masuk hingga ke ranah pengadilan atau upaya litigasi.
Gambar. Alur Advokasi19
19 Dewa Gumay, dalam Pengantar Advokasi dan Pengorganisasian.
Perubahan ciri yang paling mendasar dalam gerakan lingkungan kontemporer adalah; 1. Investigasi. Gerakan lingkungan telah mendasarkan sebuah gerakan lingkungan
melalui penelusuran mendalam, sebagaimana kasus‐kasus korupsi.
2. Basis Korban. Sebagaimana gerakan buruh, tani, miskin kota, gerakan lingkungan juga telah melakukan pengorganisasian massa atau korban.
3. Jaringan kerja dan kampanye. Periode sebelumnya gerakan lingkungan sangat kuat atau bertumpu pada ‘aksi‐aksi kampanye’ simpatik dan berjaringan terbatas pada kelompok tertentu. Sedangkan, dalam konteks kekinian, tidak jarang issue lingkungan dilakukan Advokasi bersama (antar elemen), dengan membidik angle lain terhadap sebuah kasus, misalnya; kasus kerusakan hutan oleh perusahaan x, tidak harus dilakukan advokasi dari sisi perusakan lingkungan, tetapi bisa dilakukan dari sisi aspek korupsi dan pelanggaran lainnya, yang bertujuan terjadinya perubahan kebijakan dalam hal kemenangan besar atau kecil.
4. Aksi dan Lobby. Melakukan aksi‐aksi dan lobby kepada orang‐orang berpengaruh atau penguasa, bahkan dalam konteks Green Party, mereka terlibat langsung dalam mempengaruhi keputusan politik negaranya untuk persoalan lingkungan.
5. Litigasi. Aksi gugatan pada periode sebelumnya tidak dilakukan, justru sebaliknya, melakukan gugatan menjadi cara yang paling efektif pada gerakan lingkungan terkini sebagai pintu masuk kampanye.
Gerakan lingkungan terkini, bahkan sudah dilakukan dengan menggunakan teknologi dalam proses pemantauan, investigasi, dan analisis. Misalnya; menggunakan analisis citra satelit dan penggunaan Analisis Spasial. Pada akhirnya, perkembangan politik, iklim investasi, dan science dunia menyebabkan pola dan cara advokasi gerakan lingkungan berkembang, oleh karena itu memahami konteks sejarah perkembangan gerakan lingkungan adalah dasar untuk menentukan langkah maju, sejauh mana relevansinya baik dalam konteks pengetahuan advokasi, maupun hal yang lebih substansi, yaitu; filosofis dasar atau keyakinan, Mengapa Saya Melakukan Gerakan Advokasi Lingkungan?. Pertanyaan tersebut, tidak akan terjawab melalui bahan bacaan ataupun seberapa kerap mengikuti seminar dan workshop, ataupun pintarnya seseorang dalam memahami teks‐teks kebijakan, dan argumentatif, tanpa melakukan praxis, melihat langsung dampak lingkungan dan korban‐korban yang dimiskinkan secara struktural akibat kebijakan yang timpang. Wajah‐wajah tersebut hanya dapat dilihat pada; lubang‐ lubang tambang, lahan‐lahan yang digusur, petani dikriminalisasi, dan lain‐lain. []
“Bantuan memelintir kebenaran dengan cumbu rayunya. Ajarilah Manusia khilaf menolak nafsu yang terpendam dalam sebuah kata untung; Ajarilah dia bahwa negeri sendiri bertumpuk ketangguhan, sekalipun amat papa. Mungkin masih menyimpan setumpuk berkah …”20
“Tunduk tertindas atau bangkit melawan, karena diam adalah pengkhianatan”21