• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Rantai Pasok: Tinjauan Teori Berbasis Sumber Daya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Integrasi Rantai Pasok: Tinjauan Teori Berbasis Sumber Daya"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

Conference on Industrial Engineering and Halal Industries (CIEHIS)

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2019 ISSN 2715-5382

308

INTEGRASI RANTAI PASOK: TINJAUAN TEORI BERBASIS

SUMBER DAYA

Yandra Rahadian Perdana

Jurusan Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta, Telp 0274-512474

Abstrak

Manajemen rantai pasok merupakan bentuk kolaborasi antar internal dan eksternal organisasi melalui pertukaran sumber daya. Berdasarkan perkembangan literatur diketahui bahwa masih terbatas penelitian yang menjelaskan integrasi rantai pasok berdasarkan sudut pandang teori berbasis sumber daya. Oleh karena itu, penelitian ini berkontribusi melalui pembahasan teori berbasis sumber daya pada integrasi rantai pasok. Teori berbasis sumber daya mengasumsikam organisasi menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif melalui pengumpulan dan integrasi sumber daya yang berharga (valuable), langka (rare) harus tidak dapat ditiru dengan sempurna (imperfectly imitable resources) dengan dukungan organisasi (organization). Sumber daya menjadi modal organisasi untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Integrasi rantai pasok menekankan berbagi sumber daya antar organisasi pada jejaring rantai pasok. Secara konseptual, teori berbasis sumber daya memandang bahwa integrasi rantai pasok sebagai suatu mekanisme untuk memperoleh sumber daya pelengkap yang menjadi modal organisasi untuk menghasilkan kinerja operasional terbaik. Sumber daya tersebut terwujud dalam bentuk informasi tingkat persediaan, peramalan, strategi promosi penjualan dan pemasaran, aset, serta kemampuan spesifik di bidang logistik. Hubungan kemitraan yang saling menguntungkan dalam pertukaran sumber daya antar organisasi pada jejaring rantai pasok menjadi asumsi utama dari teori berbasis sumber daya. Kata kunci: Integrasi rantai pasok; Teori berbasis sumber daya; Keunggulan kompetitif Pendahuluan

Manajemen rantai pasok (supply chain management) merupakan kebutuhan organisasi dalam menghadapi persaingan bisnis. Manajemen rantai pasok mengasumsikan bahwa organisasi menetapkan strategi untuk mendapat keunggulan kompetitif melalui kolaborasi antar anggota rantai pasok internal dan eksternal. Anggota rantai pasok internal merupakan departemen-departemen yang berada pada suatu organisasi, sedangkan anggota eksternal terdiri dari pemasok, konsumen, serta penyedia jasa logistik (Lambert et al., 1998). Inti dari manajemen rantai pasok adalah adalah integrasi proses, informasi, pengetahuan, dan strategi pada jejaring rantai pasok (Stevens dan Johnson, 2016). Manajemen rantai pasok dapat dipandang sebagai suatu pengetahuan dengan cara mememahami pola hubungan antar organisasi dengan asumsi tertentu (Mears-Young dan Jackson, 1997). Hal ini berarti manajemen rantai pasok dibangun menggunakan asumsi teori tertentu dalam menjelaskan suatu fenomena (Neuman, 2014). Salah satu teori utama dalam menjelaskan hubungan antar organisasi adalah teori berbasis sumber daya. Namun perkembangan literatur menunjukkan bahwa masih terbatas penelitian yang menjelaskan integrasi rantai pasok berdasarkan sudut pandang teori berbasis sumber daya. Oleh karena itu penelitian ini mengisi kesenjangan literatur yang membahas teori berbasis sumber daya pada integrasi rantai pasok.

Literature dan Tinjauan Teori Teori Berbasis Sumber Daya

Asumsi dari teori berbasis sumber daya adalah organisasi menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif melalui pengumpulan dan integrasi sumber daya yang berharga (valuable), langka (rare), tidak dapat ditiru (inimitable), dan tidak dapat disubstitusikan (non-substitutable) yang disingkat sebagai VRIN (Barney, 1991; Wernerfelt, 1984). Kemudian, Barney dan Clark (2007) mengembangkan VRIN menjadi VRIO. Organisasi selain memiliki sumber daya yang berharga (valuable), langka (rare) harus tidak dapat ditiru dengan sempurna (imperfectly imitable resources), tetapi juga harus dapat dimanfaatkan melalui organisasi (organization). Hal tersebut dikenal sebagai VRIO. Penjelasan masing-masing asumsi sumber daya adalah sebagai berikut:

a. Sumber Daya yang Berharga (valuable)

Sumber daya organisasi dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif atau mempertahankan keunggulan kompetitif saat sumber daya dapat dikelola sebagai strategi organisasi untuk memanfaatkan peluang atau memitigasi ancaman dari lingkungan eksternal organisasi. Sumber daya yang berharga menjadi modal organisasi

(2)

309

untuk meningkatkan nilai ekonomi produk dan layanan sehingga konsumen bersedia membayar dan menggunakan produk dan atau layanan dari organisasi tersebut.

b. Sumber Daya yang Langka (rare)

Sumber daya organisasi yang berharga, tetapi dimiliki oleh sejumlah organisasi lain maka sumber daya tersebut tidak lagi menjadi sumber keunggulan kompetitif. Jika sumber daya organisasi yang berharga tertentu dimiliki oleh organisasi lain maka masing-masing organisasi memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi sumber daya itu dengan cara yang sama. Oleh karena itu, organisasi cenderung akan menerapkan strategi sama yang tidak memberi keunggulan kompetitif kepada organisasi.

c. Sumber Daya yang Tidak Dapat Ditiru Secara Sempurna (Imperfectly Imitable Resources)

Asumsi bahwa sumber daya organisasi yang langka dan berharga dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif adalah gambaran keuntungan yang diperoleh organisasi melalui pengelolaan sumber daya. Namun, sumber daya organisasi yang langka dan berharga hanya bisa menjadi sumber keunggulan jika organisasi lain tidak dapat meniru dengan sempurna. Sumber daya organisasi tidak dapat ditiru secara sempurna dikarenakan tiga alasan, yaitu (1) kemampuan organisasi untuk memperoleh sumber daya bergantung pada kondisi historis yang unik; (2) ketidakjelasan hubungan sebab akibat; (3) kompleksitas sosial. Faktor sejarah, ambiguitas kausal, dan kompleksitas sosial membuat organisasi lain sulit untuk meniru strategi yang dimiliki oleh organisasi fokal, tetapi jika terdapat sumber daya pengganti sejenis maka organisasi lain dapat menerapkan strategi yang sama. d. Organisasi (organization)

Sumber daya yang berharga, langka, dan sulit ditiru hanya bisa menjadi modal keunggulan jika organisasi terkelola dengan baik dalam memanfaatkan kepemilikian sumber daya tersebut. Komponen organisasi seperti sistem pelaporan, sistem kontrol, dan sistem kompensasi memengaruhi kemampuan organisasi dalam penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien. Komponen tersebut disebut sumber daya dan kemampuan komplementer karena mereka memiliki kemampuan terbatas untuk menghasilkan keunggulan kompetitif. Kombinasi seluruh sumber daya dapat membuat organisasi mewujudkan keunggulan kompetitif.

Kerangka sumber daya berbasis VRIO terilustrasi pada gambar berikut ini.

Firm resource heterogeneity

Firm resource immobility

Value

Rareness

Imperfect imitability

history dependent

causal ambiguity

social complexity

Organization

Sustained competitive advantage

Gambar 1. Kerangka sumber daya berbasis VRIO (

Barney dan Clark, 2007)

Berdasarkan Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa sumber daya yang dianggap berpengaruh adalah sumber daya yang memiliki sifat heterogen dan bersifat tidak dapat bergerak dari suatu organisasi ke organisasi lainnya (immobility). Pengertian dari sifat ini adalah bahwa organisasi tidak akan unggul bila organisasi lain dapat memiliki sumber daya yang sama dan tidak ada hambatan untuk memperolehnya sehingga barrier to entry tercipta jika sumber daya bersifat heterogen (Barney, 1991). Teori berbasis sumber daya menjadi teori yang menjelaskan perbedaan keunggulan kompetitif organisasi berdasarkan pengelolaan sumber daya. Sumber daya dapat disebut berharga dan langka bila organisasi pesaing tidak memiliki sumber daya tersebut dan sumber daya pengganti yang sejenis dan sulit untuk ditiru secara sempurna. Namun, keunggulan sumber daya menjadi percuma jika tidak ditunjang kemampuan manajemen organisasi yang baik. Keunggulan kompetitif tercipta melalui kemampuan pengelolaan sumber daya internal yang dimiliki organisasi untuk merespon peluang eksternal melalui strategi yang tidak dimiliki oleh pesaing (Barney dan Clark, 2007).

Barney dan Clark (2007) menyatakan bahwa sumber daya organisasi dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu sumber daya modal fisik, sumber modal finansial, sumber daya manusia, dan sumber modal organisasi. Kategori pertama, sumber daya modal fisik meliputi teknologi fisik yang digunakan di organisasi, pabrik, dan peralatan organisasi, lokasi geografis, dan akses terhadap bahan baku. Kedua, sumber daya modal keuangan mencakup semua pendapatan organisasi, termasuk hutang, ekuitas, dan laba ditahannya. Ketiga, sumber daya modal manusia meliputi pelatihan, pengalaman, penilaian, kecerdasan, hubungan, dan wawasan para manajer dan pekerja individual di organisasi. Kategori terakhir, sumber daya organisasi meliputi atribut koleksi individu yang terkait

(3)

310

dengan organisasi seperti budaya organisasi, struktur pelaporan formal, perencanaan formal, informal, pengendalian dan sistem koordinasi, reputasi pasar, serta hubungan informal antar kelompok di dalam organisasi dan organisasi dengan organisasi lainnya.

Integrasi Rantai Pasok

Mentzer et al. (2001) menjelaskan bahwa organisasi agar dapat mengintegrasikan berbagai aktivitas antar mitra rantai pasok seperti pemasok, produsen, dan penyedia jasa logistik. Berbagi informasi merupakan filosofi integrasi rantai pasok. Informasi menjadi sumber daya strategis dan taktis bagi anggota rantai pasok lainnya. Informasi tersebut dapat diartikulasikan dalam bentuk informasi tingkat persediaan, peramalan, strategi promosi penjualan, dan pemasaran. Integrasi rantai pasok adalah suatu proses saling berbagi risiko melalui kolaborasi untuk tujuan keuntungan bersama. Kolaborasi merupakan gambaran aktivitas terkoordinasi yang dilakukan oleh suatu organisasi dalam lingkup hubungan bisnis untuk menghasilkan keuntungan timbal balik (Wu et al., 2014). Bentuk kolaborasi terwujud dalam perencanaan, koordinasi, pengendalian, dan evaluasi. Manajemen rantai pasok dapat berhasil jika semua anggota rantai pasok memiliki tujuan dan fokus yang sama dalam melayani konsumen (Li dan Wang, 2007).

Manajemen rantai pasok sebagai proses dipandang sebagai bentuk pengelolaan hubungan, informasi, dan material melalui sinkronisasi arus barang dan informasi dari hulu hingga hilir (Chang et al., 2016). Organisasi yang terhubung dalam rantai pasok harus menyadari bahwa aktivitasnya diatur melalui suatu proses yang mencakup manajemen hubungan konsumen, manajemen layanan konsumen, manajemen permintaan, pemenuhan pesanan, manajemen produksi, pengadaan, pengembangan produk dan komersialisasi (Whipple dan Russell, 2007). Integrasi mencakup keputusan dari sisi hilir, yaitu manajemen hubungan dengan konsumen, perencanaan permintaan kolaboratif, dan distribusi. Kemudian, sisi hulu mencakup manajemen hubungan pemasok, perencanaan pasokan, dan penjadwalan produksi, kolaboratif desain produk (Schmitz et al, 1995). Integrasi bertujuan menghasilkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen melalui penggunaan sumber daya yang tepat (Cooper et al., 1997). Komitmen bersama, hubungan yang berdedikasi, peningkatan proses interorganisasional, berbagi pengetahuan, dan perancangan produk dan sistem pengembangan menjadi ciri dari integrasi rantai pasok (Zhao et al, 2008).

Integrasi mengarah pada pertukaran pengetahuan di antara organisasi-organisasi dalam jaringan rantai pasok untuk penciptaan pengetahuan baru (Vallet-Bellmunt et al., 2011). Integrasi bukan hanya tentang pengembangan hubungan pertukaran informasi antara organisasi fokal dengan pemasok dan konsumen. Integrasi dalam perkembangannya diperluas dengan melibatkan penyedia jasa logistik atau third party logistics (Anderson et al., 2011). Implementasi manajemen rantai pasok membutuhkan integrasi proses dari sumber bahan baku, organisasi fokal, dan distribusi. Manajemen rantai pasok yang efektif terdiri dari serangkaian kemitraan dan bersifat hubungan jangka panjang (Done et al., 2011). Tidak semua kegiatan di rantai pasok dapat dilakukan oleh satu organisasi. Oleh karena itu diperlukan hubungan kemitraan antara produsen, pemasok, konsumen, dan penyedia jasa logistik untuk memberikan keunggulan kompetitif (Panayides dan So, 2005).

Tinjauan Teori Berbasis Sumber Daya pada Integrasi Rantai Pasok

Teori berbasis sumber daya mendefinisikan organisasi memiliki kumpulan sumber daya yang khas yang dikonversikan menjadi landasan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Teori berbasis sumber daya mengartikan keunggulan kompetitif sebagai kemampuan yang dimiliki organisasi tertentu dalam menerapkan strategi penciptaan nilai yang unggul dibanding pesaing melalui pengelolaan sumber daya internal. Sumber daya yang dimiliki organisasi didefinisikan sebagai aset yang berwujud dan tidak berwujud (Barney, 1991), sedangkan sumber daya dalam konteks manajemen rantai pasok dikategorikan sebagai berikut (Olavarrieta dan Ellinger, 1997): a. Faktor Input adalah sumber daya umum yang dapat diperoleh di pasar yang mencakup sumber daya fasilitas

truk forklift, gudang, persediaan. Selain itu juga terdapat sumber daya berupa keterampilan seperti keterampilan keterampilan pengoperasian komputer. Faktor input menjadi bagian dari aset atau kemampuan organisasi dan berkontribusi secara langsung dalam proses produksi.

b. Aset adalah persediaan yang dimiliki atau dikendalikan oleh organisasi. Aset hanya bisa dihasilkan melalui proses akumulasi investasi dari waktu ke waktu. Contoh aset adalah peralatan, paten, merek, pengetahuan yang diartikulasikan dan dikodifikasi. Contoh aset terkait logistik adalah gudang, pabrik, truk, teknologi komunikasi berbasis satelit, dan sistem informasi terpadu pengelolaan sumber daya organisasi.

c. Kemampuan adalah kumpulan dari keterampilan, aset, dan pengetahuan yang dimiliki oleh organisasi. Contoh kemampuan logistik adalah kemampuan untuk bekerja dalam tim, kemampuan untuk mengelola hubungan pemasok, kemampuan teknologi, pengembangan produk baru, pemberian layanan, dan pemenuhan pesanan.

Logistik sebenarnya merupakan sumber strategis bagi organisasi untuk mendapatkan keunggulan kompetitif, tetapi pada awalnya fungsi logistik dianggap sebagai entitas terpisah dari aktivitas organisasi (Olavarrieta dan Ellinger, 1997). Kemudian, logistik berkembang menjadi manajemen rantai pasok yang merupakan kunci bagi organisasi untuk bersaing. Manajemen rantai pasok menekankan pengelolaan sumber daya yang

(4)

311

mempunyai nilai. Hal tersebut sesuai jika ditinjau dari tujuan rantai pasok yang menekankan penghilangan aktivitas yang tidak bernilai tambah pada setiap rantai proses di internal dan eksternal organisasi. Penghilangan aktivitas yang tidak bernilai tambah akan menciptakan biaya total sebagai modal untuk bersaing. Sebagai contoh departemen pembelian mempunyai fungsi untuk mendapatkan bahan baku dengan harga yang sesuai dengan strategi organisasi. Ketersediaan bahan baku yang murah dan berkualitas akan membantu organisasi dalam menciptakan keunggulan kompetitif dari aspek harga (Barney, 2012).

Suatu organisasi tidak akan mampu bersaing jika tidak didukung oleh organisasi lain yang terhubung dalam jaringan bisnis. Hubungan antar organisasi tersebut bersifat saling tergantung. Hal tersebut didasari adanya pemikiran bahwa tiap organisasi dalam rantai pasok memiliki sumber daya spesifik yang dapat saling ditukarkan atau digunakan dalam bentuk integrasi atau kolaborasi. Integrasi terbentuk dengan dasar kepercayaan sebagai komitmen organisasi untuk saling melengkapi sumber daya dalam rantai pasok (Rungtusanatham et al., 2003). Akuisisi sumber daya eksternal dalam konteks teori berbasis sumber daya dapat diartikan sebagai bentuk strategi organisasi fokal untuk mendapatkan kemampuan dan keahlian logistik yang khas (Halldorsson et al., 2007). Organisasi memiliki batas kemampuan maka organisasi harus mampu menentukan batas kemampuan, kemudian batasan tersebut dialih dayakan dan dikelola melalui kemitraan. Proses akuisisi sumber daya dilakukan dalam atas dasar kemitraan. Hal tersebut berarti hubungan yang dilakukan memberikan keuntungan pada dua pihak untuk menghindari eksploitasi (Selviaridis dan Spring, 2007).

Teori berbasis sumber daya memandang integrasi rantai pasok sebagai suatu keputusan yang menentukan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bagi organisasi. Integrasi dilakukan dengan memfasilitasi akses, transfer, dan pemanfaatan sumber daya dan kemampuan yang melengkapi didalam jaringan rantai pasok (Danese et al., 2013). Teori berbasis sumber daya berasumsi bahwa motif integrasi berdasarkan tingkat ketergantungan dan keinginan untuk mendapatkan sumber daya pelengkap. Hubungan saling ketergantungan diperlukan untuk menjaga hubungan kemitraan tetap aktif (Siew-Phaik et al, 2013). Teori berbasis sumber daya dalam konteks rantai pasok menjelaskan bahwa setiap aktivitas sepanjang rantai pasok memerlukan sumber daya. Organisasi dapat mengurangi biaya yang lebih besar atau mendapatkan peningkatan keuntungan dengan bantuan mitra dalam rantai pasok tersebut. Kemampuan yang diberikan oleh masing-masing mitra di sepanjang rantai pasok diintegrasikan sehingga rantai pasok dapat mencapai hasil yang lebih efektif dan efisien (Hitt et al., 2016).

Kesimpulan

Teori berbasis sumber daya mengasumsikan bahwa keputusan integrasi merupakan bentuk organisasi melakukan pertukaran sumber daya dan memanfaatkannya sebagai sumber keunggulan. Keputusan integrasi didasari situasi bahwa persaingan dalam rantai pasok bukanlah persaingan antar organisasi, tetapi persaingan antar jejaring rantai pasok. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang memengaruhi antar organisasi. Masing-masing organisasi memiliki sumber daya spesifik yang saling melengkapi sehingga integrasi dapat mendorong tercipatnya kinerja operasional organisasi yang lebih efektif dan efisien. Sumber daya hanya dapat menjadi sumber keunggulan jika organisasi mampu mengelola dan memanfaatkannya dengan tepat. Sumber daya yang dimiliki organisasi dapat dikelola dengan dukungan manajemen rantai pasok yang menghubungkan kemampuan antar departemen secara internal dan eksternal (pemasok, konsumen, dan penyedia jasa logistik). Sumber daya internal dan eksternal bersifat saling melengkapi sehingga perpaduan keduanya dapat mendorong terciptanya keunggulan kompetitif. Teori berbasis sumber daya dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya dalam menjelaskan konsep integrasi rantai pasok.

Daftar Pustaka.

Anderson, E. J. et al. (2011) ‘What Drives the Choice of A Third-Party Logistics Provider?’, Journal of Supply Chain Management. Blackwell Publishing Inc, 47(2), pp. 97–115. doi: 10.1111/j.1745-493X.2011.03223.x. Barney, J. (1991) ‘Firm Resources and Sustained Competitive Advantage’, Journal of Management, 17(1), pp. 99–

120. doi: 10.1177/014920639101700108.

Barney, J. and Clark, D. (2007) Resource-based theory creating and sustaining competitive advantages. New York: Oxford University Press, USA.

Barney, J. B. (2012) ‘Purchasing, Supply Chain Management and Sustained Competitive Advantage: The Relevance of Resource-based Theory’, Journal of Supply Chain Management, 48(2), pp. 3–6. doi: 10.1111/j.1745-493X.2012.03265.x.

Chang, W. et al. (2016) ‘Supply chain integration and firm financial performance: A meta-analysis of positional advantage mediation and moderating factors’, European Management Journal, 34(3), pp. 282–295. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.emj.2015.11.008.

Cooper, M. et al. (1997) ‘Meshing Multiple Alliances’, Journal of Business Logistics, 18(1), pp. 67–69.

Danese, P., Romano, P. and Formentini, M. (2013) ‘The impact of supply chain integration on responsiveness: The moderating effect of using an international supplier network’, Transportation Research Part E: Logistics and Transportation Review, 49(1), pp. 125–140. doi: 10.1016/j.tre.2012.08.002.

(5)

312

Done, A., Voss, C. and Rytter, N. G. (2011) ‘Best practice interventions: Short-term impact and long-term outcomes’, Journal of Operations Management. Elsevier B.V., 29(5), pp. 500–513. doi: 10.1016/j.jom.2010.11.007.

Halldorsson, A. et al. (2007) ‘Complementary theories to supply chain management’, Supply Chain Management: An International Journal. Emerald Group Publishing Limited, 12(4), pp. 284–296. doi: 10.1108/13598540710759808.

Hitt, M. A., Xu, K. and Carnes, C. M. (2016) ‘Resource based theory in operations management research’, Journal of Operations Management, 41, pp. 77–94. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.jom.2015.11.002.

Lambert, D. M., Cooper, M. C. and Pagh, J. D. (1998) ‘Supply Chain Management: Implementation Issues and Research Opportunities’, The International Journal of Logistics Management, 9(2), pp. 1–20. doi: 10.1108/09574099810805807.

Li, X. and Wang, Q. (2007) ‘Coordination mechanisms of supply chain systems’, European Journal of Operational Research, 179(1), pp. 1–16. doi: 10.1016/j.ejor.2006.06.023.

Mears-Young, B. and Jackson, M. C. (1997) ‘Integrated logistics—call in the revolutionaries!’, Omega, 25(6), pp. 605–618. doi: http://dx.doi.org/10.1016/S0305-0483(97)00032-7.

Mentzer, J. T. et al. (2001) ‘Defining Supply Chain Management’, Journal of Business Logistics, 22(2), pp. 1–25. doi: 10.1002/j.2158-1592.2001.tb00001.x.

Neuman, W. L. (2014) social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. Seventh. Pearson Education Limited.

Olavarrieta, S. and Ellinger, A. E. (1997) ‘Resource‐ based theory and strategic logistics research’, International Journal of Physical Distribution & Logistics Management, 27(9/10), pp. 559–587. doi: 10.1108/09600039710188594.

Panayides, P. M. and So, M. (2005) ‘Logistics service provider-client relationships’, Transportation Research Part E: Logistics and Transportation Review, 41(3), pp. 179–200. doi: 10.1016/j.tre.2004.05.001.

Rungtusanatham, M. et al. (2003) ‘Supply-chain linkages and operational performance: A resource-based-view perspective’, International Journal of Operations & Production Management, 23(9), pp. 1084–1099. doi: 10.1108/01443570310491783.

Schmitz, J. M., Frankel, R. and Frayer, D. J. (1995) ‘Vertical Integration without Ownership: Strategic Alliances Offer a Managerial Alternative’, Journal of Marketing Theory and Practice. Taylor & Francis, Ltd., 3(3), pp. 23–30. Available at: http://www.jstor.org/stable/40469761.

Selviaridis, K. and Spring, M. (2007) ‘Third party logistics: a literature review and research agenda’, The International Journal of Logistics Management, 18(1), pp. 125–150. doi: 10.1108/09574090710748207. Siew-Phaik, L., Downe, A. G. and Sambasivan, M. (2013) ‘Strategic alliances with suppliers and customers in a

manufacturing supply chain’, Asia - Pacific Journal of Business Administration, 5(3), pp. 192–214. doi: 10.1108/APJBA-11-2012-0077.

Stevens, G. C. and Johnson, M. (2016) ‘Integrating the Supply Chain … 25 years on’, International Journal of Physical Distribution & Logistics Management, 46(1), pp. 19–42. doi: 10.1108/IJPDLM-07-2015-0175. Vallet-Bellmunt, T., Martínez-Fernández, M. T. and Capó-Vicedo, J. (2011) ‘Supply chain management: A

multidisciplinary content analysis of vertical relations between companies, 1997–2006’, Industrial Marketing Management, 40(8), pp. 1347–1367. doi: https://doi.org/10.1016/j.indmarman.2011.03.002. Wernerfelt, B. (1984) ‘a Resource-Based View of the Firm’, Strategic Management Journal, 5(2), pp. 171–180. doi:

10.1002/smj.4250050207.

Whipple, J. M. and Russell, D. (2007) ‘Building supply chain collaboration: a typology of collaborative approaches’, The International Journal of Logistics Management, 18(2), pp. 174–196. doi: 10.1108/09574090710816922.

Wu, I. L., Chuang, C. H. and Hsu, C. H. (2014) ‘Information sharing and collaborative behaviors in enabling supply chain performance: A social exchange perspective’, International Journal of Production Economics. Elsevier, 148, pp. 122–132. doi: 10.1016/j.ijpe.2013.09.016.

Zhao, X. et al. (2008) ‘The impact of power and relationship commitment on the integration between manufacturers and customers in a supply chain’, Journal of Operations Management, 26(3), pp. 368–388. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.jom.2007.08.002.

Gambar

Gambar 1. Kerangka sumber daya berbasis VRIO ( Barney dan Clark, 2007)

Referensi

Dokumen terkait

“Manajemen sumber daya manusia didefinisikan sebagai suatu strategi dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen yaitu planning, organizing, leading and controlling, dalam setiap

Dukungan teori terhadap pengaruh faktor strategi pemasaran berbasis digital dan kualitas sumber daya manusia insani terhadap keputusan membeli suatu produk jasa asuransi jiwa

Menurut resource based theory, intellectual capital merupakan sumber daya unik yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan sehingga dapat meningkatkan kinerja

Analisis Komitmen Organisasi, Kesiapan Sumber Daya Manusia, Infrastruktur Serta Sistem Informasi Dalam Menerapkan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual (Studi

Dari pengertian di atas maka pengembangan sistem sumber daya manusia merupakan proses merubah sumber daya manusia yang dimiliki organisasi, dari suatu keadaan ke

Bank Syariah Mandiri Salatiga telah menerapkan teori strategi manajemen sumber daya manusia sesuai dengan teori yang ada dan BSM Salatiga selalu berupaya dalam menjaga

Dari pengertian di atas maka pengembangan sistem sumber daya manusia merupakan proses merubah sumber daya manusia yang dimiliki organisasi, dari suatu keadaan ke

Inovasi organisasi Inovasi dalam organisasi merupakan perubahan yang dilakukan dalam pengaturan kerja untuk mendorong terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif.91