View of Harta Bersama dalam Perkawinan Poligami Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Hukum Islam
Teks penuh
Dokumen terkait
Ketentuan tentang harta bersama ini harus jelas apalagi menyangkut keterlibatan perkawinan poligami di dalamnya, karena berdasarkan hukum positif yang berlaku di
Adapun tujuan penelitian tesis ini adalah agar dapat diketahui kedudukan hukum harta bersama dalam perkawinan menurut UUP dalam hal terjadinya perceraian antara
Akibat hukum kedudukan duda perkawinan sentana yang perkawinannya putus karena kematian yaitu duda dari perkawinan sentana hanya berhak menikmati warisan dari almarhumah
Hal ini diatur dalam Pasal 35 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu sebagai berikut: 1 Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama 2
Apabila terjadi perceraian, maka harta bersama dibagi menjadi dua bagian yang sama besarnya antara suami dan istri, sesuai dengan ketentuan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam,
Pada Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Jika diperhatikan maka Pasal 37
dari segi syarat-syarat perkawinan.13 Dalam Pasal 2 ayat 1 dikatakan, bahwa perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.14 Secara umum,
Di dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 46 yang artinya “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya