Fenomena Menguatnya Radikalisme di Indonesia
Mencermati dinamika kehidupan kebangsaan dan merebaknya fenomena radikalisme dan terorisme, domestik maupun internasional, di era demokrasi saat ini, menyisahkan sebuah pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana radikalisme bisa berkembang dalam sebuah negara demokrasi seperti Indonesia? Apakah benar konsep demokrasi yang dibanggakan saat ini kompatibel (mampu bergerak dan bekerja dengan keserasian dan kesesuaian) dengan kebudayaan Islam atau tidak? Pertanyaan tersebut setidaknya menjadi pemicu untuk merefleksikan kembali kualitas kehidupan keberagamaan kita dalam perkembangan demokrasi Indonesia masa kini.
Realitas kebangsaan kekinian menunjukkan bahwa kekerasan, politik uang, kemiskinan, dan korupsi masih mendominasi warna kehidupan politik Indonesia. Tragedi yang menimpa warga Ahmadiyah, Syiah, dan konflik agama yang sering terjadi telah menodai harmoni kehidupan keberagamaan. Kilas balik dari kekerasan yang pernah terjadi lebih kejam berlangsung dalam konflik antaretnis dan antaragama, seperti Pontianak, Sampit, Ambon, dan Poso. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, menguatnya kembali isu terorisme dan radikalisme agama yang ditandai dengan kehadiran gerakan ISIS yang terus merebak di beberapa wilayah nusantara, menggejolaknya ancaman terorisme Poso, adanya pencekalan akibat penggunaan nama Muhammad dan Ali di bandara yang diidentikan dengan teroris, semakin menohok kuat dalam memperuncing ketidakstabilan kehidupan keberagamaan dan bangsa.
luar Islam yang merasa tak aman lagi, bahkan terhadap negara, yaitu adanya motivasi dan perjuangan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.
Apa yang telah terjadi, sebenarnya tidak lepas dari berbagai sebab. Sebagaimana berbagai realitas kebangsaan hari ini. Khususnya dengan merebaknya diskursus gerakan radikalisme dan terorisme yang semakin menggila. Hal ini tentu memiliki akar permasalahan yang tak luput dari persoalan bangsa yang sedang melanda negeri ini. Penelusuran akar permasalahan tersebut setidaknya akan memberikan sedikit pemahaman atas motif dari semakin menguatnya gerakan-gerakan tersebut akhir-akhir ini.
Membaca Sebab
Radikalisme memiliki keterkaitan erat dengan terorisme, keduanya merupakan tindakan kekerasan atau ancaman bagi kehidupan keberagamaan. Tindak kejahatan tersebut sesungguhnya dilakukan oleh sekelompok minoritas orang yang menolak dan sekaligus tidak percaya lagi pada sistem dan proses demokrasi yang ada. Gerakan tersebut menginginkan adanya perubahan sosial dan politik secara drastis dengan kekerasan. Sedang agama yang dijadikan sebagai fondasi kemudian dipahami secara ekstrem. Namun, benarkah radikalisme dan terorisme merupakan watak bawaan dari bentuk keberagamaan masyarakat Indonesia?
Jika ditelusuri lebih dalam, pada dasarnya ada dua sebab utama berkembangnya gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia; pertama, warisan sejarah umat Islam yang konfliktual dengan rezim yang otoriter. Di era itu, ada modus-modus penindasan politik Islam yang terjadi pada beberapa bagian sejarah, khususnya Orde Baru. Misalkan, beberapa pemberontakan lahir di Sulawesi Selatan (Kahar Muzakkar), Kalimantan Selatan (Ibnu Hajar), Jawa Barat (Kartosuwiryo), dan Aceh (Daud Beureueh) yang masih terwariskan dan teraktifasi sampai pada generasi masa kini. Kedua, tidak terciptanya keadilan sosial dan ketimpangan secara ekonomi. Dalam frame ini, radikalisme muncul karena akses kapitalisme yang menciptakan dan menjadikan kelompok-kelompok tersebut tak bisa memiliki akses pada sumber-sumber modal penghidupan. Secara umum, perkembangan radikalisme dinilai sebagai akibat langsung dari kemiskinan, ketidaksetaraan, dan marginalisasi dalam aspek ekonomi dan sosial. Kondisi itu menjadikan lebih mudah bagi orang miskin teradikalisasi (peny. korban radikalisasi)
Singkatnya, munculnya gerakan radikalisme bukan hanya merupakan aspirasi ideologis yang berkutat pada romantisme sejarah untuk mengembalikan daulat khilafah, tetapi juga sebagai respons atas kegagalan negara dalam memenuhi hak-hak warganya sehingga mengakibatkan kesenjangan. Ada tanggung jawab negara yang tak terpenuhi sehingga demokrasi saat ini dianggap gagal memahami pluralitas kehidupan keberagamaan dan membawa cita-cita kesejahteraan. Namun, jika betul bahwa kesenjangan menjadi sebab, maka gerakan radikalisme yang terjadi bisa saja dipahami sebagai salah satu bentuk gerakan sosial baru.
dan logika publik dalam pluralitas. Perbincangan tersebut, ternyata berkesinambungan dengan Samuel Huntington yang menganggap kebudayaan non-Barat, terutama kebudayaan Islam, tidak kompatibel terhadap pengembangan kebebasan individu, demokrasi politik, negara hukum serta Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Berbagai hal tadi, menurut Huntington, membedakannya dengan kebudayaan Barat yang unik dimana perbedaan peradaban menjadi faktor penghambat bagi demokrasi antara demokrasi Barat dan non-Barat, khususnya di Indonesia.
Jika ditelisik lebih jauh, ada semacam pergeseran dan penyebaran gagasan demokrasi sebagai akibat perbedaan karakteristik budaya dan masyarakatnya. Di Indonesia, komunalitas lebih kental dari pada masyarakat Eropa yang lebih individualis, sehingga komunitas atau kelompok memilik pengaruh yang lebih besar dalam mengikat imajinasi seseorang. Akibatnya, terkadang nilai-nilai toleransi, kedamaian, dan pengampunan menjadi milik masing-masing kelompok secara ekslusif. Konsekuensinya, kehidupan demokratis dalam bernegara tersandera oleh kepentingan kelompok. Kekhawatiran selanjutnya adalah munculnya pertentangan dan permusuhan dalam pola hubungan konflik yang tak berkesudahan, saling menuduh bahkan saling mengkafirkan. Puncak ekstremnya adalah munculnya fenomena kekerasan atas nama agama.
Dalam narasi yang lain, pola hubungan konfliktual yang tak jarang melibatkan kekerasan antar kelompok agama pada akhirnya terjebak pada politik angka dan watak misionaris dari agama-agama. Ada semacam persaingan dalam hal jumlah pengikut dan perebutan ruang dakwah di antara kelompok-kelompok agama. Ditengarai, mengerasnya konflik di antara agama-agama samawi, terutama yang melibatkan kekerasan, merupakan akibat logis dari habisnya ruang ekspansi (peny. Perluasan wilayah) masing-masing kelompok agama dalam memperbesar angka pengikut menyusul ditaklukkannya agama-agama suku yang pernah bersemai di nusantara.
pemblokiran tersebut menyisahkan sebuah permasalahan atas nama kebebasan (HAM) yang merupakan prinsip dasar demokrasi. Adanya keresahan sosial masyarakat dan ancaman keamanan terhadap negara kemudian menjadi alasan bagi pemerintah untuk melakukan pemblokiran tersebut. Respon kritik pun pelak semakin menguat dari berbagai kelompok sosial atas kejadian itu dengan menggandeng demokrasi sebagai fondasi argumentasinya. Pada titik ini, demokrasi berada pada kondisi kritisnya. Akhirnya, semua akan meninggalkan masalah yang berkepanjangan akibat perseteruan dan konflik dengan menggunakan berbagai dalil pembenaran dibalik tameng agama maupun demokrasi.
Ditengarai, dalil kebebasan dalam demokrasi telah menyediakan ruang ekspresi bagi menguatnya wacana gerakan radikalisme dan ancaman terorisme yang berakhir pada terjadinya kekerasan simbolik. Masifnya wacana itu telah mengobok-obok, memancing, dan mengekploitasi hasrat dan perasaan massa, dengan manipulasi, provokasi yang berlangsung melalui berbagai media cetak dan virtual. Dalam hal ini, perkembangan teknologi yang semakin canggih telah menjadi media untuk menyemai gagasan dan menyebarkan benih-benih radikalisme di kalangan masyarakat Indonesia. Padahal banyak dari mereka yang belum melek pendidikan dan masuk dalam kategori ekonomi lemah. Mereka yang masuk dalam dua kategori tersebut rawan disusupi gerakan-gerakan radikal dengan iming-iming peningkatan kesejahteraan hidup. Tak hanya itu, dengan perkembangan tersebut, kebanyakan orang sekarang menjadikan mesin pencari (google dll) sebagai tempat bertanya dan mencari jawaban atas keresahan spritualnya. Terkait dengan itu, Ahmad Mustofa Bisri mengatakan, banyak orang yang ingin meniru Nabi secara salah kaprah, banyak orang atau kelompok Islam yang merasa sudah seperti nabi ketika memakai jubah, surban, dan berjenggot. Dengan kata lain, menyalahgunakan nama Tuhan untuk melakukan kerusakan.
negara demokrasi dalam menciptakan kesejahteraan dan kerukunan. Pada titik ini, pemurnian agama sebagai basis nilai yang menopang demokrasi dan politik (negara), sebagai struktur untuk mempertemukan kepentingan publik menjadi penting untuk direfleksikan penyelesaiannya di berbagai persoalan ketimpangan sosial dan diskriminasi ekonomi, serta problem pluralitas keberagamaan, yang kesemuanya merupakan persoalan dasar dari semakin menguatnya gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Pemurnian akan mengajak para pemeluk agama menghormati nilai-nilai toleransi, kedamaian, pengampunan, dan komitmen pada janji. Mereka diajak untuk tidak hanya berhenti pada kehendak baik yang akan mudah kandas, tapi juga membangun institusi yang akan membantu menjamin stabilitas nilai-nilai tersebut. Ini berarti membutuhkan sistem politik yang mampu menopang pluralitas dan menyelesaikan konflik-konflik dengan cara damai, yaitu demokrasi yang berbasis pada nilai-nilai tersebut.
Akhirnya, semakin menguatnya pengaruh gerakan radikalisme dan terorisme yang didukung oleh berbagai perkembangan teknologi yang semakin canggih terkait erat dengan situasi sosial yang masih menyisahkan kesenjangan, diskriminasi, dan marginalisasi yang berbuntut pada kekerasan. Namun demikian, penyelesaian dari persoalan-persoalan tersebut tidak bisa hanya semata-mata disorot dalam asumsi keamanan sebagai ancaman yang perlu dibasmi karena mereka adalah masyarakat yang menjadi korban, atau asumsi agama sebagai bentuk perjuangan suatu kelompok atas nama jihad yang mengakibatkan tindakan kekerasan dan kebencian antar agama, tapi lebih pada sebab dasar dari kegagalan negara dalam menciptakan tatanan sosial yang berkeadilan dan berkemanusiaan. (LMA/FH)