• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGEMBANGKAN KECERDASAN GERAK KINESTETI docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MENGEMBANGKAN KECERDASAN GERAK KINESTETI docx"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MENGEMBANGKAN KECERDASAN GERAK-KINESTETIK MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL GO BACK TO DOOR

Oleh :

Puspodari, M.Pd

Rahman Diputra, M.Pd

Dosen Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi Universitas Nusantara PGRI Kediri

Abstrak :

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik anak dengan permainan tradisional go back to door. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dalam tiga siklus.Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode wawancara, dan kajian dokumentasi. Teknik keabsahan data diperiksa dengan triangulasi.

Subjek penelitian adalah siswa kelas II SD, berjumlah 20 orang, terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi guru dan siswa. Data diolah dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, berdasarkan hasil kegiatan penelitian tindakan kelas dalam pembahasan dan analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan permainan tradisional go back to door dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik gerak anak kelas II di SDN Kandangan III Surabaya.

Kata kunci : Kecerdasan Gerak-Kinestetik dan permainan tradisional go back to door

PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia memiliki berbagai macam budaya, suku, permainan tradisional dari

berbagai daerah yang berbeda-beda. Salah satu kultur budaya yang ada di masyarakat yang

menjadi aset bangsa untuk dilestarikan dalam mengatasi permasalahan globalisasi maka

dibutuhkan suatu pendidikan. Dari pendidikan formal maupun non formal.

Sekolah merupakan suatu unit sosial yang bertugas khusus untuk melaksanakan proses

pendidikan dan merupakan suatu jenis lingkungan pendidikan disamping lingkungan keluarga,

masyarakat dan alam. Jenjang pendidikan disekolah dimulai dari SD, SLTP, SLTA dan perguruan

(2)

Sekolah dasar merupakan suatu jenjang pendidikan yang paling penting keberadaannya

dalam mendukung pendidikan nasional sehingga mutu pendidikan nasional harus dimulai dengan

peningkatan mutu disekolah dasar.

Anak-anak disekolah dasar mereka sulit duduk diam. Jika diam di kelas dirasakan suatu

hal yang sangat menyiksa. Mereka sebentar-bentar melihat arloji yang dirasakan jalannya sangat

lambat. Sewaktu tanda waktu/bel dibunyikan, mereka berhambur keluar menuju tempat untuk

bermain. Anak-anak tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bermain jika memang ada.

Kesempatan anak untuk melatih potensi-potensi adalah waktu mereka bermain. Bermain

sebenarnya merupakan dorongan dari dalam diri anak atau disebut sebagai naluri. Semua naluri

harus diusahakan untuk disalurkan secara baik dan terkontrol. Oleh karena itu bermain bagi anak

merupakan kebutuhan hidupnya (Soemitro, 1992:1).

Kecerdasan gerak-kinestetik berkaitan dengan kemampuan menggunakan gerak seluruh

tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan menggunakan tangan

untuk mencipta atau mengubah sesuatu (Tadkiroatun Musfiroh, 2008: 50). Kecerdasan ini

meliputi kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan,

kekuatan, kelenturan, kecepatan dan keakuratan menerima rangsang, sentuhan, dan tekstur.

Stimulasi kecerdasan kinestetik terjadi pada saat bermain. Pada saat bermain itulah anak

berusaha melatih koordinasi otot dan gerak. Stimulasi terjadi dalam wilayah-wilayah berikut: 1.

Koordinasi mata-tangan dan mata-kaki, seperti menggambar, menulis, memanipulasi objek,

menaksir secara visual, melempar, menendang, menangkap; 2. Keterampilan lokomotor, seperti

berjalan, berlari, melompat, berbaris, meloncat, mencongklak, merayap, berguling, dan

merangkak; 3. Keterampilan nonlokomotor, seperti, membungkuk, menjangkau, memutar tubuh,

(3)

tubuh seperti menunjukan kesadaran tubuh, kesadaran ruang, kesadaran ritmik, keseimbangan,

kemampuan untuk mengambil start, kemampuan menghentikan gerak, dan mengubah arah

(Catron & Allen, 1999).

Melalui Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, permainan tradisional dapat

disajikan sebagai bahan pelajaran pendidikan jasmani, karena setiap permainan tersebut harus

terlebih dahulu dikaji nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut seperti nilai

pendidikan, dalam permainan tradisional juga memiliki unsur-unsur seperti sportivitas,

kejujuran, kecermatan, kelincahan, ketepatan menentukan langkah serta kemampuan bekerja

sama dalam kelompok, mudah aturan permainannya, disamping jumlah pemain yang dapat

melibatkan seluruh siswa dikelas yang bersangkutan dan dalam permainan guru dapat

mengontrol siswanya karena adanya factor bahaya sehingga harus ada yang dapat

mempertanggung jawabkannya.

Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan merupakan bagian integral pendidikan

secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan

gerak, keterampilan kritis, keterampilan social, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral

dan pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan

kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan

nasional (BSNP, 2006:1).

Dari uraian diatas, maka hal tersebut mendorong penulis untuk mengadakan penelitian

yang berjudul Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik Gerak pada Anak Kelas II di Sekolah

Dasar Melalui Permainan Tradisional Go Back To Door.

(4)

Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah

Meningkatkan kecerdasan kinestetik gerak pada anak Sekolah dasar melalui permainan

tradisional Go Back To Door

TUJUAN PENELITIAN

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kecerdasan

kinestetik gerak anak melalui permainan tradisional Go Back To Door di sekolah dasar.

MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini bermanfaat bagi perbaikan pembelajarn bai sekolah dasar itu sendiri.

1. Secara Teoritis

a) Anak dapat mengembangkan kecerdasan kinestetik gerak dengan permainan

tradisional go back to door

b) Dapat dijadikan suatu alternative pembelajaran dalam meningkatkan kecerdasan

kinestetik gerak siswa sekolah dasar c) Meningkatkan prestasi anak

2. Secara Praktis

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pihak

sekolah dasar diantaranya adalah :

a) Sebagai bahan masukan bagi guru Penjas dalam merencanakan, melaksanakan,

menempatkan dan mengevaluasi pembelajaran dalam mengembangkan

kecerdasan kinestetik gerak

b) Sebagai bahan masukan bagi pimpinan untuk memfasilitasi guru dalam

merumuskan konsep dalam mengembangkan kecerdasan kinestetik gerak di masa

yang akan datang

c) Dapat menjadikan sekolah lebih maju dan berkembang dengan adanya

(5)

KAJIAN PUSTAKA

Hakikat Kecerdasan Kinestetik Gerak

Kecerdasan kinestetik gerak berkaitan dengan kemampuan gerak seluruh tubuh untuk

mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan menggunakan tangan untuk

menciptaka atau mengubah sesuatu (Tadkiroatun Musfiroh, 2008:50).

Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi,

keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, kecepatan dan keakuratan menerima

rangsang, sentuhan, dan tekstur.

Stimulasi kecerdasan kinestetik terjadi pada saat bermain. Pada saat bermain itulah anak

berusaha melatih koordinasi otot dan gerak. Stimulasi terjadi dalam wilayah-wilayah berikut: 1.

Koordinasi mata-tangan dan mata-kaki, seperti menggambar, menulis, memanipulasi objek,

menaksir secara visual, melempar, menendang, menangkap; 2. Keterampilan lokomotor, seperti

berjalan, berlari, melompat, berbaris, meloncat, mencongklak, merayap, berguling, dan

merangkak; 3. Keterampilan nonlokomotor, seperti, membungkuk, menjangkau, memutar tubuh,

merentang, mengayun, berjongkok, duduk, berdiri; 4. Kemampuan mengontrol dan mengatur

tubuh seperti menunjukan kesadaran tubuh, kesadaran ruang, kesadaran ritmik, keseimbangan,

kemampuan untuk mengambil start, kemampuan menghentikan gerak, dan mengubah arah

(Catron & Allen, 1999).

Anak yang cerdas dalam gerak-kinestetik terlihat menonjol dalam kemampuan fisik

(terlihat lebih kuat, lebih lincah) daripada anak-anak seusianya. Mereka cenderung suka

bergerak, tidak bisa duduk diam berlama-lama, mengetuk-ngetuk sesuatu, suka menirukan gerak

(6)

mengandalkan kekuatan gerak seperti memanjat, berlari, melompat, berguling. Selain itu, anak

yang cerdas dalam gerak-kinestetik suka menyentuh barang-barang.

Anak yang memiliki kecerdasan gerak-kinestetik memiliki koordinasi tubuh yang baik.

Gerakan-gerakan mereka terlihat seimbang, luwes, dan cekatan. Mereka cepat menguasai

tugas-tugas motoric halus seperti menggunting, melipat, menjahit, menempel, merajut, menyambung,

mengecat dan menulis. Secara artistic mereka mempunyai kemampuan menari dan menggerakan

tubuh mereka dengan luwes dan lentur. Mereka memerlukan kegiatan belajar yang bersifat

kinestetik dan dinamis. Oleh karena itu proses pembelajaran yang menuntut konsentrasi anak

dalam konteks pasif (duduk tenang di kelas) hendaklah dikurangi.

Menurut Gardner, nkecerdasan gerak kinestetik mempunyai lokasi di otak serebeum (otak

kecil), basal ganglia (otak keseimbangan) dan motor korteks. Kecerdasan ini memiliki wujud

relative bervariasi, bergantung pada komponen-komponen kekuatan dan fleksibilitas serta

dominan seperti tari dan olahraga.

PERMAINAN TRADISIONAL GO BACK TO DOOR

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki berbagai macam suku, ras, budaya, alam

yang indah serta memiliki bermacam cabang permainan tradisional. Permainan tradisional

merupakan simbolik dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam

fungsi atau pesan dibaliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan

permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan

menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan. Permainan Go Back To Door

seringkali disebut dengan permainan Hadang Rintang.

Lapangan dan peralatan

(7)

 Ukuran : panjang 15m dan lebar 9 m diseuaikan dengan keadaan sekolah.

 Garis-garis dapat dibuat dengan kapur, atau tali yang tidak membahayakan pemain

hadang

 Garis pembagi lapangan permainan menjadi 2 bagian memanjang disebut garis tengah.

 Lapangan permainan ditandai dengan garis selebar 5 m

Peraturan permainan :

1) Sebelum permainan dimulai diadakan undian, yang kalah sebagai penjaga dan yang

menang sebagai penyerang.

2) Regu penjaga menempati garisnya masing-masing dengan kedua kaki berada diatas garis,

sedangkan regu penyerang siap untuk masuk.

3) Permainan dimulai setelah ada tanda aba-aba atau peluit dari guru.

4) Penyerang berusaha melewati garis depan dengan menghindari tangkapan atau sentuhan

(8)

5) Penjaga berusaha menyentuh penyerang dengan tangan dalam posisi kedua kaki berpijak

di atas garis atau salah satu kaki berpijak diatas garis, sedangkan kaki yang satu

melayang.

6) Apabila kedua kaki dari garis samping lapangan dan pemain disentuh oleh penjaga maka

dinyatakan salah atau mati.

7) Setiap pemain yang telah berhasil melewati seluruh garis dari garis depan sampai dengan

garis belakang dan garis belakang sampai dengan garis depan lagi maka dilanjutkan

dengan tukar posisi yang tadinya menjadi penyerang berganti menjadi penjaga.

8) Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh selama permainan

berlangsung.

Permainan hadang atau go back to door ini sangat mudah untuk dimainkan dan mengandung

unsur-unsur yang positif bagi pelakunya. Unsur-unsur itu diantaranya adalah : ketangkasan,

kelincahan, kerjasama, daya tahan, reaksi yang dapat meningkatkan kesegaran jasmani.

(Soemitro, 1992:173).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut study ilmiah yang dikembangkan oleh Prof. Howard permainan merupakan sarana

pengembangan mental yang memberikan rangsangan terhadap kecerdasan berupa tantangan,

pengulangan, kegiatan yang melibatkan beberapa panca indera sekaligus serta memberikan

umpan balik yang menurut kreativitas. Setiap orang memiliki kelebihan masng-masing.

Kelebihan tersebut bisa kita sebut bakat atau talenta. Setiap bakat atau talenta tersebut bisa

diasah dan dilatih agar lebih kuat. Dan salah satu cara terbaik adalah dengan permainan. Ada

puluhan, ratusan bahkan ribuan permainan didunia ini. Baik permainan tradisional maupun

(9)

bak sodor. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, subyek penelitian ini adalah anak

didik kelas II SDN Kandangan III Surabaya. Penelitian ini bersifat kolaborasi antara guru kelas

dan peneliti. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode

wawancara, dan kajian dokumentasi. Teknik keabsahan data diperiksa dengan triangulasi. Data

dianalisis dengan pengumpulan data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan reduksi data.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan penguasaan kecerdasan kinestetik

melalui permainan tradisional gobak sodor dalam satu kelas sebelum tindakan mencapai 40%

siklus I mencapai 53,33%, siklus II mencapai 68,14% dan siklus III mencapai 83,70%. Metode

ini mempunyai peran yang cukup penting dalam peningkatan kecerdasan kinestetik anak karena

dapat membantu meminimalkan permasalahan yang dihadapi pada saat pembelajaran.

KESIMPULAN

Kecerdasan kinestetik merupakan suatu hal yang penting bagi kehidupan. Dari kecerdasan

kinestetik, sumber daya manusia dapat terbentuk karena kecerdasan kinestetik merupakan

kecerdasan yang menggunakan pengendalian gerak tubuh yang dikoordinasikan dengan mata,

otot, dan otak, sehingga sangat penting untuk perkembangan anak. Dalam penelitian ini bahwa

melalui permainan tradisional gobak sodor dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik anak kelas

II SD Kandangan III Surabaya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek edisi revisi VI Jakarta: PT.

Bumi Aksara

Kuntaraf, J. 2007 dalam 100 Permainan Kecerdasan Kinestetik. Jakarta: PT Gramedia

(10)

Motolalu, B.E.F. dkk. Bermain dan Permainan. Jakarta: Universitas Terbuka

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pengamalan industri takaful, syarikat merupakan wakil (al-Wakil) kepada peserta dan peserta sebagai pewakil (al-muwakkil), skim takaful atau dana yang diuruskan

Dasar dari konsep diri yang positif adalah adanya penerimaan diri. Hal ini disebabkan orang yang memiliki konsep diri positif mengenal dirinya dengan baik. Tidak seperti

▪ 4.11 Menyusun teks lisan dan tulis, untuk menyatakan dan menanyakan tentang tindakan/kegiatan/kejadian tanpa perlu menyebutkan pelakunya dalam teks ilmiah, dengan

sama halnya dengan Discharge Planning yang ada di RSU Sari Mutiara Medan, dari hasil survey peneliti di ruang rawat inap merak Lantai II Gedung Lama RSU Sari Mutiara

Hasil Wawancara dengan Ibu Nur Azizah Selaku pembeli atau pelangan hasil budidaya ikan tambak, wawancara dilakukan tgl.. Indramanyu, Subang, Sumedang, Bandung, Sukabumi, Bogor

Berdasarkan penelitian tentang pembinaan anak jalanan melalui rumah singgah Holi di Kel. Tanjung Hilir, Kec Pontianak Utara, dapatdisimpulkan sebagai berikut : 1)

Segala puji bagi Allah SWT penulis panjatkan atas rahmat serta hidayahNya, sehingga pada saat ini penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pelestarian Budaya Piil

Oleh itu, penting untuk melaksanakan program dalam pemaham- an dan persepsi apa yang didengar daripada Akidah Islamiah secara khu- sus dan ilmu-ilmu syariat yang lain, yang