HUBUNGAN ANAK YANG MENGALAMI SIBLING RIVALRY TERHADAP
PERILAKU TOILET TRAINING
Susilowati*, Ike Tilam Masitotul M.** *Dosen Akper Pamenang Pare–Kediri
**Perawat Puskesmas Badas
Toilet training merupakan hal yang penting pada masa balita. Pada beberapa anak mungkin melakukan toilet training tanpa menemukan adanya masalah, tetapi beberapa anak lainnya akan mengalami kesulitan, menakutkan atau bahkan tidak perlu.
Tujuan penelitian ini untuk membuktikan adanya Hubungan Anak yang yengalami Sibling Rivalry terhadap Perilaku Toilet Training di Posyandu Rambutan Dusun Bumirejo Desa Krecek Kecamatan Badas. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan sampel yang diambil adalah seluruh anak di Posyandu Rambutan sebanyak 16 anak dengan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah anak yang mengalami sibling rivalry, sedangkan variabel dependennya adalah perilaku toilet training. Instrumen yang digunakan adalah dengan menggunakan kuesioner.
Dari hasil penelitian setelah dilakukan penghitungan menggunakan crosstab/ tabulasi silang didapat hasil sebagian besar responden mengalami sibling rivalry berat dan perilaku toilet trainingnya ketergantungan sebanyak 14 responden (87,5%).
Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Spearmen Rho, dengan nilai a = 0,05 didapat hasil signifikan 0,000 (p < 0,05) karena nilai signifikansi < 0,05 yang berarti ada Hubungan yang nyata dan sangat erat.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, dibutuhkan pengenalan kasih sayang oleh orang tuanya terhadap saudara kandungnya sejak saudaranya dalam masa kandungan. Pengetahuan yang cukup akan membuat anak lebih mandiri dan mencegah terjadinya sibling rivalry yang membuat perilaku toilet trainingnya terganggu.
Kata kunci : Anak, Sibling Rivalry, Toilet Training.
Latar Belakang
Toilet training merupakan hal yang penting pada masa balita. Pada beberapa anak mungkin melakukan toilet training tanpa menemukan adanya masalah, tetapi beberapa anak lainnya akan mengalami kesulitan, menakutkan atau bahkan tidak perlu. Namun, dengan sedikit kesabaran dan pendidikan yang terlatih, orangtua dan balita dapat mengatasi rintangan dan berhasil dalam melakukan toilet training (Melindacare, 2011).
Anak dibawah usia 2 tahun mengompol karna belum sempurnanya control kandung kemih atau Toilet Training nya. Ada beberapa penelitian dan literatur yang menyebutkan kira kira setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Bahkan beberapa ahli menganggap bahwa anak umur 6 tahun masih mengompol itu wajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12% anak umur 6 tahun (Asti, 2008).
dalam perilakunya yang bertepatan dengan kedatangan si bayi (Woolfsoon, 2004).
Berdasarkan hasil survey yang di lakukan di Posyandu Rambutan Dusun Bumirejo Desa Krecek Kecamatan Badas di dapatkan bahwa terdapat anak usia 1 – 3 tahun yang mempunyai saudara kandung sebanyak 14 anak laki–laki dan 11 anak perempuan dan diketahui sebagian besar anak masih mengompol sebanyak 20 anak (80%).
Sibling rivalry biasanya muncul ketika selisih usia saudara kandung terlalu dekat. Hal ini terjadi karena kehadiran adik dianggap menyita waktu dan perhatian terlalu banyak. Jarak usia yang lazim memicu munculnya sibling rivalry adalah jarak usia antara 1-3 tahun dan muncul pada usia 3-5 tahun kemudian muncul kembali pada usia 8 – 12 tahun (Setiawati, 2008). Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuanya secara terbuka dengan kembali berperilaku seperti anak kecil, seperti mengompol pura-pura sakit atau menjadi nakal. perilaku ini semua bertujuan untuk mencari perhatian (Elisabet, 2009).
Apabila rasa cemburu pada diri anak muncul, orang tua sebaiknya memberi contoh yang baik dan selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Kasih sayang, permintaan yang wajar, penilaian yang jujur pada anak akan membantunya mencapai kepercayaan kepada dirinya. Dengan memberi terlalu banyak perhatian dapat merubahnya menjadi anak temperamental, memanjakan anak yang merasa tidak empati dengan orang lain dan tidak mampu membuat keputusan yang sesuai dengan hatinya. Disisi lain jika orang tua tersebut terlalu ketat, anak akan takut terhadap orang tuanya. Dengan mengabaikan anak akan menyebabkan dia menjadi dingin, tidak bersahabat, dan akan menjadi anak yang tidak merasa aman terhadap dirinya (Fung, 2003).
Seorang anak minimal di ajarkan sejak usia 1 tahun. Bila anak di ajarkan ketika berusia lebih dari 3 tahun dikhawatirkan akan agak susah mengubah perilaku anak. Selain itu, bila anak sudah lebih dari 3 tahun belum mampu untuk toilet training, boleh jadi ia mengalami kemunduran. Karena pada saat usia 1 sampai 3 tahun ia belum mampu melakukan buang air sesuai dengan waktu dan tempat yang telah di tentukan (Asti, 2008).
Sebagai bagian dari tenaga professional dibidang kesehatan, perawat mempunyai peran yang cukup penting dalam membantu memberikan bimbingan dan pengarahan pada orang tua, sehingga setiap fase dari kehidupan anak yang kemungkinan mengalami trauma, seperti latihan buang air besar/ kecil (Toilet Training) dan ketakutan yang abstrak pada usia prasekolah dapat dibimbing secara bijaksana (Hastuti, 2012). Dalam hal ini peran perawat/ tenaga kesehatan sangat diharapkan untuk membantu memberikan informasi seputar Toilet Training pada anak usia 1 – 3 tahun. Agar nantinya pada usia 3 tahun lebih anak dapat melakukan buang air kecil dan buang air besar tanpa bantuan orang tuanya.
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengkaji secara lebih tentang Hubungan Anak Yang Mengalami Sibling Rivalry Terhadap Perilaku Toilet Training.
Identifikasi Masalah
Pertanyaan masalah dalam penelitian ini adalah
”Apakah ada Hubungan Anak Yang Mengalami Sibling Rivalry Terhadap Perilaku Toilet Training?”
Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan anak yang mengalami Sibling Rivalry terhadap perilaku Toilet Training. 2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi anak yang mengalami Sibling Rivalry.
b. Mengidentifikasi perilaku Toilet Training pada usia Toddler.
c. Menganalisa hubungan anak yang mengalami Sibling Rivalry terhadap perilaku Toilet Training.
Desain Penelitian
dengan kriteria penelitian. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan cara purposive sampling. Peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian, bila bersedia menjadi responden maka peneliti mempersilahkan responden menandatangani lembar persetujuan. Responden diberikan penjelasan cara pengisian kuesioner dan dipersilahkan bertanya jika kurang mengerti tentang pertanyaan. Setelah itu dilakukan wawancara pada responden. Kuesioner yang telah diisi dikumpulkan dan diperiksa kelengkapanya. Untuk mengetahui Hubungan Anak Yang Mengalami Sibling Rivalry Terhadap Perilaku Toilet Training, dilakukan uji statistik Spearmen Rho yaitu untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas yang berskala ordinal dan variabel tergantung yang berskala ordinal
(Sugiyono, 2006). Jika ρ < 0,05 maka Ho (hipotesa
nol) ditolak, artinya ada Hubungan Anak Yang Mengalami Sibling Rivalry Terhadap Perilaku Toilet Training.
Hasil Penelitian Data Khusus
a. Karakteristik Responden Berdasar Sibling Rivalry
Berdasarkan Diagram diatas dapat diketahui seluruh responden mengalami Sibling Rivalry yaitu sebanyak 16 responden (100%).
b. Karakteristik Responden Berdasar Toilet Training
Berdasarkan diagram diatas dapat diketahui sebagian besar responden tidak pernah dapat informasi tentang toilet training yaitu sebanyak 13 responden (81%).
c. Tabulasi Silang Sibling Rivalry dengan Perilaku Toilet Training
Perilaku Toilet Training
No. Sibling Rivalry
Keter-gantungan Mandiri Total Hasil % Hasil %
1 Ringan 0 0% 0 0% 0 (0%) 2 Sedang 0 0% 0 0% 0 (0%) 3 Berat 14 87,5% 2 12,5% 16
(100%) Total 14 87,5% 2 12,5% 16
(100%)
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mengalami sibling rivalry berat dan perilaku toilet trainingnya ketergantungan sebanyak 14 responden (87,5%).
Pembahasan
1. Anak yang mengalami Sibling Rivalry
Dari Hasil penelitian didapatkan seluruh responden mengalami sibling rivalry berat sebanyak 16 responden (100%).
Dari kamus kedokteran Dorland : Sibling (Anglo-Saxon) sib sanak + saudara laki-laki atau perempuan. Sedangkan Rivalry keadaan kompetisi atau antagonism. Sibling Rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu atau kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih (Suherni dkk, 2009).
Persaingan dengan saudara kandung adalah perasaan cemburu dan benci yang biasanya dialami oleh seseorang anak terhadap kehadiran /kelahiran saudara kandungnya (Nursalam, 2005).
adalah reaksi tidak langsung seperti, munculnya kenakalan, rewel, mengompol atau pura-pura sakit (Setiawati, 2008).
Sibling Rivalry mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting, diantaranya adalah bagaimana menghargai nilai dan perspektif (pandangan) orang lain. Disamping itu, dengan Sibling Rivalry juga merupakan cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi, serta mengontrol (mencegah) dorongan untuk bertindak agresif. Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat di capai, maka orang tua harus menjadi fasilitator (Suherni dkk , 2009).
Menurut Rivacons (2009), anak yang merasa selalu kalah dari saudaranya akan merasa minder atau rendah diri, anak jadi benci terhadap saudara kandungnya sendiri. Dampak negative anak menjadi egois, minder, merasa tidak di hargai, pengunduran diri kearah bentuk perilaku infantile atau regresi.
Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh responden di Posyandu Rambutan mengalami sibling rivalry dikarenanakan anak usia toddler masih labil sehingga timbul rasa cemburu dan rasa bersaing antara saudara kandungnya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain/ kedua orang tuanya. Kecemburuan dan rasa persaingan ini akan mendorong anak untuk berkompetisi untuk menjadi lebih baik dihadapan orang tuanya. Sibling rivalry ini akan membuat anak tidak berkembang baik dari segi psikologis maupun psikososial yang nantinya berdampak pada perilaku toilet trainingnya dan dalam perilaku sehari - harinya.
2. Perilaku Toilet Training
Dari Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden perilaku toilet trainingnya ketergantungan yaitu sebanyak 17 responden (75%).
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2007).
Latihan untuk berkemih dan defekasi adalah tugas perkembangan anak usia toddler (Supartini, 2004).
Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB)
Suatu tugas yang besar pada usia balita adalah toilet training atau pendidikan menjadi ceria/bersih (Nursalam, 2005 ).
Menjadikan latihan toilet sebagai aktivitas keluarga itu adalah suatu hal yang mudah, jika semuanya memberikan pujian dan semangat ketika anak anda memakai toilet. Bagi mereka pujian saudara dan orang dewasa yang mengagumi mereka itu membuat mereka puas karena sudah mencapai prestasi (Mackonochie, 2009).
Gagasan ini adalah dapat untuk menciptakan suatu situasi dimana anak dapat mengenali dan merespon kebutuhan untuk buang air kecil dan buang air besar dalam waktu yang sangat singkat. Orang tua hanya perlu memberikan minum yang banyak, membujuk anak untuk menggunakan pispot/ toiletnya sendiri, dan memberikan anak banyak pujian karena anak berhasil menjaga agar celana dalamnya tetap kering (Mackonochie, 2009).
Keberhasilan perilaku toilet training pada anak usia toddler sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang baik antara orang tua dengan anaknya. Sebagian besar responden di posyandu rambutan toilet trainingnya ketergantungan. Sebagian besar responden kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya dalam hal perilaku toilet training. Diharapkan orang tua mengetahui tentang perlunya latihan toilet training pada anak usia toddler. Orang tua harus selalu dalam kondisi siap saat anaknya mau buang air besar atau buang air kecil untuk membantu dan melatihnya. Diperlukan pula suatu reward/ pujian kepada anaknya saat anaknya mulai bisa melaksanakan perilaku toilet training yang dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk menjalin hubungan kedekatan/ keeratan terhadap anaknya.
3. Hubungan Anak Yang Mengalami Sibling Rivalry Terhadap Perilaku Toilet Training
Setelah dilakukan penghitungan menggunakan crosstab/ tabulasi silang didapat hasil sebagian besar responden mengalami sibling rivalry berat dan perilaku toilet trainingnya ketergantungan sebanyak 14 responden (87,5%).
Perilaku Toilet Training Di Posyandu Rambutan Dusun Bumirejo Desa Krecek Kecamatam Badas adalah nyata dan sangat erat.
Sibling Rivalry adalah kecemburuan, persaingan, dan perkelahian antara saudara, baik itu saudara kandung maupun bukan saudara kandung (Anggriyani, 2011).
Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB).
Sibling Rivalry mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting, diantaranya adalah bagaimana menghargai nilai dan perspektif (pandangan) orang lain. Disamping itu, dengan Sibling Rivalry juga merupakan cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi, serta mengontrol (mencegah) dorongan untuk bertindak agresif. Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat di capai, maka orang tua harus menjadi fasilitator (Suherni dkk , 2009).
Menjadikan latihan toilet sebagai aktivitas keluarga itu adalah suatu hal yang mudah, jika semuanya memberikan pujian dan semangat ketika anak anda memakai toilet. Bagi mereka pujian saudara dan orang dewasa yang mengagumi mereka itu membuat mereka puas karena sudah mencapai prestasi (Mackonochie, 2009).
Dari hasil penelitian didapat data bahwa anak yang mengalami sibling rivalry sebagian besar perilaku toilet trainingnya masih ketergantungan. Anak dengan sibling rivalry perkembangan psikologi dan psikososialnya tidak berkembang dengan baik, perlu dukungan orang tua untuk lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya agar perilaku kesehariannya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan anak seusianya khususnya perilaku toilet trainingnya. Hal ini merupakan bentuk protes dari anak yang terpendam sehingga perlu digali psikologisnya terutama tentang kasih sayang terhadap saudaranya. Orang tua sebagai pengasuh harus selalu siap baik moril maupun material untuk menyambut pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Hal itu juga dibutuhkan pengenalan kasih sayang terhadap saudara kandungnya sejak saudaranya dalam masa kandungan. Pengetahuan yang cukup akan membuat anak lebih mandiri dan
mencegah terjadinya sibling rivalry yang membuat perilaku toilet trainingnya terganggu.
Kesimpulan
1. Anak yang mengalami sibling rivalry berat sebanyak 16 responden (100%).
2. Sebagian besar anak perilaku toilet trainingnya ketergantungan yaitu sebanyak 14 responden (87,5%) dan sebagian kecil anak perilaku toilet trainingnya mandiri yaitu sebanyak 2 responden (12,5%).
3. Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Spearmen Rho, dengan nilai a = 0,05 didapat hasil signifikan 0,000 (p < 0,05) karena nilai signifikansi < 0,05 yang berarti ada Hubungan Anak Yang Mengalami Sibling Rivalry Terhadap Perilaku Toilet Training Di Posyandu Rambutan Dusun Bumirejo Desa Krecek Kecamatam Badas adalah nyata dan sangat erat.
Saran
1. Bagi orang tua
Anak dengan sibling rivalry perkembangan psikologi dan psikososialnya tidak berkembang dengan baik, perlu dukungan orang tua untuk lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini merupakan bentuk protes dari anak yang terpendam sehingga perlu digali psikologisnya terutama tentang kasih sayang terhadap saudaranya agar perilaku tidak terganggu lainnya khususnya toilet trainingnya.
2. Bagi petugas kesehatan
Diharapkan Tenaga Kesehatan terus aktif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kejadian sibling rivalry dan perilaku toilet training melalui penyuluhan dan konseling yang diadakan rutin dikader–kader posyandu dan puskesmas. 3. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk memperdalam lagi konsep teori tentang sibling rivalry dan perilaku toilet training.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Asti. 2008. Toilet Training Sejak Dini. Http: // keluargasehat. wordpress. com/ 2008/ 04/ 02/ toilet-training-sejak-dini.html
Boyle, J. (2004). Sibling rivalry : adult siblings. http://www.foreverfamilies.nextxml.
Cahyaningsih, Dwi Sulistyo. 2008. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dan Remaja. Penerbit Buku Kesehatan.
Gunarsa, S. (2002). Psikologi Untuk Membimbing. Jakarta. PT. BPK Gunung Mulia.
_________. (2001). Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta. PT. BPK Gunung Mulia.
Hastuti, Puji Apriyani. 2012. Petunjuk Antisipasi (Anticipatory Guidance) Dan Toilet Training Pada Anak. http://www. wordpress. com. [Download : 24 Oktober 2012].
Hidayat, Alimul Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.
Mackonichie, Alison. 2009. Latihan Toilet. Bandung : Karisma Publishing.
Melindacare. 2011. Toilet Training Pada Anak. Http : / Www. Melindacare : Toilet Training Pada Anak. Html. [Download : 12 September 2012].
Nursalam, 2005. Asuhan Keperawatan Bayi Dan Anak. Jakarta : Salemba Medika.
Nurwijayanti, S. (2003). Manajemen konflik dalam persaingan antar saudara sekandung. Skripsi. Fakultas Psikologi.UMM. Rosita, R. (2003). Sibling Rivalry pada anak kembar. Skripsi. Fakultas Psikologi. UMM.
Notoadmojo, Soekidjo. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Setiadi. 2007. Konsep Dan Penulisan Riset
Keperatawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu. Solomon. (2003). Sibling rivalry. http: //www.
med. umich.edu/ 1libr/ yuorchild/ sibriv. Htm.
Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Bandung ; Penerbit Alfabeta.
Sumartihana, Reni Ika. 2011. Hubungan Pengetahuan Orang Tua Tentang Toilet Training Terhadap Keberhasilan Toilet Training Pada Anak Usia Toddler. Akper Pamenang.
Suririnah. 2010. Buku Pintar Mengasuh Batita. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Tamsuri, Anas. 2008. Riset Keperawatan. Pare :
Akademi Keperawatan Pamenang.
Wong, Dona L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Woolfson, R. C. (2004). Seri Panduan Praktis