• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN MOTIVASI BERPARTISIPASI DALAM pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBEDAAN MOTIVASI BERPARTISIPASI DALAM pdf"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENGELOLA JURNAL PENJAKORA

ISSN 2356-3397 Jurnal PENJAKORA Volume 2 Nomor 1 April 2015

Jurnal PENJAKORA merupakan

jurnal hasil penelitian, kajian pustaka dan karya ilmiah dalam bidang pendidikan jasmani, kepelatihan dan olahraga

Penanggung Jawab:

Dekan Fakultas Olahraga dan Kesehatan

Redaktur: I Wayan Artanayasa

Penyunting/ Editor I Nyoman Kanca (Undiksha)

Made Sri Undi Mahardika (Unesa Surabaya) Wawan Suherman (UNY Yogyakarta)

Rusdianto (UM Malang) Yudha M. Saputra (UPI Bandung) Bambang Sudiyono (UNJ Jakarta) I Made Danu Budhiarta (Undiksha) I Gusti Lanang Agung Parwata (Undiksha)

I Ketut Budaya Astra (Undiksha)

Desain Grafis: I Nyoman Sudarmada

Luh Putu Tuti Ariani Ni Kadek Alit Arsani

Sekretariat: I Made Satyawan I Gusti Lanang Oka

I Made Arsana

Alamat Redaksi:

Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha Jalan Udayana Singaraja-Bali, Telpon dan Fax (0362) 32559 Kode Pos 81116

(3)

ISSN 2356-3397

JURNAL

VOLUME 2, NOMOR 1, EDISI APRIL 2015

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

(4)

JURNAL PENJAKORA

ISSN 2356-3397

Volume 2, Nomor 1, Edisi April 2015

WACANA

Pembaca yang terhormat, penerbitan jurnal PENJAKORA merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha. Terbitan ini merupakan terbitan kedua Volume 2, Nomor 1, edisi April 2015. Jurnal ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi peneliti dalam bidang pendidikan jasmani, kepelatihan olahraga dan ilmu keolahragaan dalam publikasi karya-karya ilmiahnya.

Penerbitan jurnal PENJAKORA direncanakan dua kali setahun, yaitu pada bulan April dan September. Pada terbitan edisi April 2015 ini ditampilkan delapan artikel sebagai berikut: (1) Pengaruh Metode Pelatihan Praktik Padat dan Praktik Terdistribusi Terhadap Hasil Belajar Forehand dan Backhand Drive dalam Belajar Tenis Lapangan bagi Pemula (Penulis I Ketut Budaya Astra); (2) Efektivitas Media Audiovisual dan Media Berbasis Teks (Cetakan) Terhadap Hasil Belajar Chest Pass (Penulis Agung Sunarno); (3) Survei Sarana dan Prasarana dalam Pembelajaran Penjasorkes di SMA/SMK/MA Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2014/2015 (Penulis I Made Satyawan); (4) Pengaruh Pelatihan Fisik Anaerob Terhadap Peningkatan Volume Oksigen Maksimal Pemain Sepakbola (Penulis Suratmin); (5) Latihan Peregangan Otot Pergelangan Tangan, Tangan dan Lengan Sebagai Bentuk Usaha Pencegahan dan Rehabilitas Carpal Tunnel Syndrome (Penulis Sendhi Tristanti Puspitasari dan Febrita Paulina Heynoek); (6) Pengaruh Model Pembelajaran dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Teknik Dasar Tendangan Pencak Silat pada Mahasiswa Jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha (Penulis Luh Putu Spyanawati); (7) Perbedaan Motivasi Berpartisipasi dalam Olahraga antara Suku Jawa, Madura, dan Cina (Penulis Danang Ari Santoso); (8) Hubungan Indek Masa Tubuh dengan Kesegaran Jasmani Pada Anak Usia 13-15 Tahun di SMP N 3 Singaraja (Penulis Gede Doddy Tisna MS).

(5)

JURNAL PENJAKORA

ISSN 2356-3397

Volume 2 Nomor 1, Edisi April 2015

DAFTAR ISI

(6)

1

PENGARUH METODE PELATIHAN PRAKTIK PADAT DAN PRAKTIK TERDISTRIBUSI TERHADAP HASIL BELAJAR FOREHAND DAN BACKHAND DRIVE DALAM BELAJAR TENIS LAPANGAN BAGI PEMULA

I Ketut Budaya Astra

Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha e-mail: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pelatihan massed practice dan distributed practice terhadap teknik forehand dan backhand dalam olahraga tenis. Jenis penelitian adalah eksperimen semu dengan rancangan the modificated pre-test post-test design. Subjek penelitian mahasiswa petenis pemula jurusan penjaskesrek FOK Undiksha tahun 2014/2015 sebanyak 50 orang. Forehand dan backhand diukur dengan tes keterampilan forehand dan backhand drive.

Data dianalisis dengan uji paired-sampels t-test yaitu dengan membandingkan hasil keterampilan forehand dan backhand dari kelompok perlakuan massed practice dan distributed practice dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikansi 5%

(α=0,05). Maka diperoleh 8,97>2,01 untuk metode pelatihan massed practice terhadap variabel forehand dan 10,91>2,01 untuk variabel backhand, sedangkan untuk metode pelatihan distributed practice diperoleh hasil 18,82>2,01 untuk variabel forehand dan 11,34>2,01 untuk variabel backhand. Sehingga hipotesis metode pelatihan massed practice dan distributed practice berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand diterima. Dilanjutkan dengan uji independent-sampels t-test untuk mengetahui adanya perbedaan diantara kedua kelompok tersebut, hasil uji independent-sampels t-test untuk keterampilan forehand diperoleh harga,9,88>2,01 sedangkan untuk keterampilan backhand diperoleh hasil 11,04>2,01.

Disimpulkan bahwa: (1)Metode pelatihan massed practice dan distributed practice berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand, (2)Metode pelatihan distributed practice memberikan hasil yang lebih baik daripada metode pelatihan massed practice terhadap ketrampilan forehand dan backhand.

(7)

2 PENDAHULUAN

Tenis lapangan (lown tenis) merupakan salah satu bentuk olahraga yang mempergunakan bola kecil dan setiap pemainnya memakai raket sebagai alat pemukul. Permainan ini dilakukan di atas lapangan berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lapangan tenis internasional pada area keseluruhan adalah mencapai 36 m x 18 m, sedangkan ukuran lapagan tenis pada area permainan atau game court sekitar 10,97m x 23,78m. Olahraga tenis lapangan merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang sangat populer karena banyak diminati oleh masyarakat. Kebutuhan akan tenis lapangan semakin meningkat karena banyaknya orang yang gemar bermain tenis lapangan mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya club tenis lapangan yang ada di masing-masing daerah.

Di samping itu, sekarang sudah banyak lapangan tenis yang dibangun di setiap daerah di Indonesia. Tetapi dari sisi prestasi yang dicapai oleh para atlet tenis lapangan nasional, baik ditingkat regional maupun internasional masih jauh dari harapan.Oleh karena itu cabang olahraga ini perlu mendapatkan perhatian secara serius demi pengembangan olahraga ini, terutama dalam aspek pembinaan prestasi agar bisa tampil sebagai juara pada arena nasional maupun internasional.

Untuk pencapaian prestasi yang optimal dalam permainan tenis lapangan dapat dicapai melalui peranan yang sangat penting dari seorang pelatih.Seorang pelatih perlu mempelajari, memahami dan mampu menerapkan berbagai strategi, dan

metode latihan. Strategi merupakan perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan latihan. Dalam proses latihan diperlukan adanya metode latihan untuk membantu pencapaian tujuan latihan, semakin tepat metode latihan maka makin efektif pencapaian tujuan latihan. Oleh karena itu pelatih harus mampu menyusun program, memilih, dan menerapkan metode latihan sesuai dengan tujuan latihan itu sendiri. Selain pelatih, orang tua dan atlet itu sendiri mempunyai peranan dan tanggung jawab yang sama dalam pencapaian prestasi. Usaha pemasalan, pembinaan, dan pengembangan untuk mencapai prestasi tersebut perlu diadakan pendekatan ilmiah, adanya sarana yang menunjang dan metode latihan yang tepat.

(8)

3 latihan harus didistribusikan atau digabungkan, kapan periode istirahat harus diberikan. Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan metode latihan yang tepat dan pemanfaatan waktu latihan yang tepat atau baik akan meningkatkan efisiensi untuk pencapaian tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu pemanfaatan waktu harus diatur dengan baik sehingga pemain tidak mengalami kelelahan.

KAJIAN PUSTAKA Pelatihan

Menurut Bompa (2009:8), pelatihan adalah proses yang terorganisir dimana tubuh dan pikiran terus-menerus dihadapkan pada tekanan dari berbagai volume dan intensitas. Pelatihan adalah suatu proses latihan fisik yang terprogram secara sistematis, dilakukan secara berulang-ulang dengan beban semakin bertambah secara bertahap, sehingga memiliki sasaran perbaikan fungsi organ tubuh, serta untuk mempersiapkan atlet pada tingkat tertinggi penampilannya (Kanca, I Nyoman, 2004:49).

Menurut Nala (1998:1) pelatihan merupakan suatu gerakan fisik atau aktivitas mental yang dilakukan secara sistematis berulang-ulang (repetitif) dalam jangka waktu (durasi) lama, dengan pembebanan yang meningkat secara progresif dan individual, yang bertujuan untuk memperbaiki sistem serta fungsi fisiologi dan psikologi tubuh agar pada waktu melakukan aktivitas olahraga dapat mencapai penampilan yang optimal.

Secara ringkas pelatihan dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas fisik yang dilakukan secara sistematis dan berulang-ulang dalam durasi yang panjang dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan

fisik dan teknik, memperbaiki fungsi fisiologis dan psikologis tubuh. Pelatihan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan teknik guna mencapai pretasi yang maksimal. Untuk mencapai prestasi yang maksimal maka suatu pelatihan harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip latihan.

Praktik Padat

Untuk mencapai tingkat keterampilan suatu cabang olahraga, maka dalam pelaksanaan latihan seorang atlet harus melakukan gerakan dengan frekuensi sebanyak-banyaknya. Magill (2001:270) mengatakan bahwa latihan praktik padat adalah latihan dimana jumlah atau lamanya waktu istirahat yang diberikan di sela-sela latihan sangat pendek atau tidak ada sama sekali. Dengan kata lain latihan tersebut secara relatif dilaksanakan terus menerus. Schmidt (1998:74) menjelaskan bahwa latihan terus menerus sebagai suatu bentuk latihan di mana waktu yang diberikan untuk istirahat di antara bagian-bagian dari kegiatan tersebut lebih pendek daripada waktu yang disediakan untuk melakukan satu bagian dari kegiatan latihan. Metode latihan terdistribusi dan metode latihan padat adalah dua jenis metode latihan yang memperhitungkan perbandingan waktu kerja dan istirahat. Metode latiha praktik padat adalah melakukan latihan secara terus-menerus tanpa selang waktu istirahat Singer (1980:419).

Eka (2012:23) menyatakan, metode praktik padat merupakan pengaturan giliran latihan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa diselingi istirahat. Berkaitan dengan metode praktik padat Rusli Lutan

(9)

4 padat adalah kegiatan latihan yang dilakukan dalam satu rangkaian dengan selang waktu istirahat yang amat kecil di antara kegiatan

mencoba”. Menurut Sugianto & Sudjarwo (1994:284) mengemukakan mempraktekkan gerakan keterampilan bisa dilakukan secara terus menerus tanpa istirahat, cara ini disebut massed conditions. Sedangkan Scmidt (1988:384) menyatakan praktik padat merupakan sesi latihan dimana jumlah waktu latihan dalam sebuah percobaan lebih besar daripada jumlah istirahat diantara percobaan, yang akhirnya mengarah pada kelelahan berbagai tugas. Menurut Iwan Setiawan (dalam Eka, 2012:24) praktik padatadalah praktek suatu keterampilan olahraga yang dipelajari dilakukan dengan berkesinambungan dan konsisten tanpa diselingi istirahat.

Praktik Terdistribusi

Magil (2001:217) menjelaskan bahwa latihan terdistribusi sebagai suatu bentuk latihan, di mana waktu istirahat yang diberikan disela-sela kegiatan latihan cukup banyak. Schmidt (1988:74) mendefinisikan bahwa latihan terdistribusi adalah bentuk latihan di mana kegiatan latihan tersebut dibagi-bagi oleh sejumlah waktu istirahat. Waktu yang dipergunakan untuk istirahat sama atau lebih lama daripada waktu yang disediakan untuk melakukan satu rangkaian dari kegiatan latihan tersebut. Rusli Lutan

(1988:113) “praktik terdistribusi adalah serangkaian kegiatan latihan melibatkan istirahat yang cukup

diantara kegiatan mencoba”.

Menurut Eka (2012:21)

Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa

metode praktik terdistribusi adalah prinsip pengaturan giliran praktik keterampilan yang pada pelaksanaanya diselingi dengan waktu istirahat diantara waktu latihan. Berikut ini disajikan batasan latihan terdistribusi yang dikemukakan beberapa ahli sebagai berikut : 1) Menurut Sugianto & Sudjarwo (1994:284) mengemukakan waktu istirahat yang diberikan tidak perlu menunggu sampai mencapai kelelahan, tetapi juga jangan terlalu sering. Yang terpenting adalah mengatur agar rangsangan terhadap sitem-sistem yang menghasilkan gerakan tubuh diberikan secara cukup, atau tidak kurang atau tidak kelebihan. 2) Menurut Scmidt (1988:384) bahwa

“dalam praktik terdistribusi, disela -sela percobaan yang dilakukan terdapat waktu istirahat yang sama atau melebihi banyaknya waktu dalam percobaan, yang mengarah ke

suatu urutan yang lebih santai”. 3) Menurut Iwan Setiawan (1985:46)

menyatakan “praktik suatu

keterampilan olahraga yang dipelajari dilakukan dalam waktu relatif singkat dan sering diselingi

waktu istirahat”.

Olahraga Tenis Lapangan (lown tenis)

(10)

5 pemukulan berirama, 3)Menjaga keseimbangan badan, 4)Memelihara efisiensi (tidak membuat gerakan-gerakan yang sia-sia), 5)Memukul dengan keras. Permainan dapat dilakukan dilapangan dengan permukaan keras (hardcourt) dengan ukuran panjang 23,77 m dan lebar 10,97 m serta dibatasi net dengan tinggi 1,07 cm pada bagian tepi dan 91,4 cm pada bagian tengahnya. Permainan dapat dilakukan secara tunggal dan ganda dengan beberapa jenis kemenangan (game).

Adapun teknik dasar dalam permainan tenis adalah :1)forehand, 2)backhand, 3)volley, 4)smash, dan 5)service. Menurut Visbeen (1987:29) ada 3 pukulan dasar dalam tenis: forehand, backhand dan service. Sedangkan Loman (1985:47) menyatakan bahwa yang termasuk jenis pukulan groundstroke adalah pukulan–pukulan drive, lob, drop shot dan half volley. Pukulan volley terdiri atas volley biasa, drop volley, volley drill dan lob volley. Yang termasuk jenis pukulan overhead adalah pukulan – pukulan service dan smash. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa dasar pukulan dalam permainan tenis terdiri dari : 1) drive, 2) lob, 3) drop shot, 4) half volley, 5) volley, 6) service dan 7) smash. Dasar-dasar pukulan tersebut dapat dilakukan dengan forehand maupun backhand kecuali pukulan service yang harus dilakukan dengan telapak tangan menghadap kearah bola.

Forehand

Pukulan forehand merupakan pukulan (stroke) yang paling umum dipakai dalam tenis lapangan (Lardner 1990:31). Pukulan Forehand merupakan salah satu teknik dasar bermain tenis lapangan

yang harus dikuasai oleh setiap pemain, menurut Handono (2002:20)

“Pukulan forehand biasanya selalu digunakan sebagai senjata utama pemain, karena pukulan forehand biasanya lebih keras dari pukulan backhand.” Pukulan forehand dapat dibedakan melalui pegangan raket, yaitu pegangan eastern forhand, westernforehand, dan semi westernforehand.

Backhand

Backhand, merupakan pukulan dasar kedua dalam bermain tenis lapangan. Backhand adalah pukulan yang dilakukan dengan mengayun tangan dari tepi badan menuju depan atau menggunakan bagian belakang raket untuk memukul bola dan telapak tangan membelakangi bola. Pukulan ini terdiri dari 2 jenis yaitu, backhand menggunakan satu tangan dan backhand menggunakan dua tangan. Masing-masing pukulan memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, pukulan backhand dua tangan lebih banyak dipakai karena efektivitasnya.

METODE

Penelitian ini merupakan eksperimen semu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah: the modificated pre-test pos-test design (Kanca, 2010:82). Rancangan yang dimaksud adalah:

K1 X1 T2

S T1 R

K2 X2 T2

Gambar 1.Rancangan penelitian

Keterangan: S= Subjek

T1= Tes awal (pre-test) R= Random

(11)

6 KI= Kelompok 1

K2= Kelompok 2

X1= Perlakuan dengan praktik padat (massed practice) X2= Perlakuan praktik terdistribusi

(distributed practice)

Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah penyimpangan yang terjadi dalam pengukuran terhadap subyek masih berada dalam batas akdemik. Uji normalitas data dilakukan pada data forehand dan backhand dengan instrumen uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program SPSS 16,0 pada taraf signifikansi (α) 0,05.

Uji Homogenitas

Uji homogenitas data dalam penelitian ini menggunakan uji Levene dengan bantuan SPSS 16,0

taraf signifikansi α = 0,05. Kriteria

pengambilan keputusan jika nilai signifikansi Levene>α, maka variasi subjek sama (homogen) sedangkan jika signifikansi Levene<α, maka variasi setiap subjek tidak sama (tidak homogen) (Santoso, 2011: 192).

Uji Hipotesis

Pada penelitian ini akan menguji perbedaan hasil pre-test dan pos-test setelah subjek mendapatkan perlakuan massed practice ataupun distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand dengan menggunakan uji-t berpasangan. Rumus untuk uji-t berpasangan adalah sebagai berikut.

Keterangan :

1

X = Rata-rata sampel 1 (pre-test)

2

X = Rata-rata sampel 2 (post-test) S1 = simpangan baku sampel 1 untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikan metode pelatihan massed practice dan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand.

Untuk mengetahui adanya perbedaan pengaruh antara metode pelatihan massed practice dan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand maka dilakukan dengan menggunakan rumus Uji-t independent (tidak berkorelasi). Adapun rumus tersebut adalah sebagai berikut :

2

X = Rata-rata sampel 1 (perlakuan massed practice)

(perlakuan massed practice) n2 = jumlah subjek sampel 2

(12)

7 Jika anggota sampel n1 = n2 dan

varians homogen, maka, db (n1+n2) -2

Hasil uji coba dibandingkan ttabel dengan taraf signifikan 0,05

(5%) untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh antara metode pelatihan massed practice dan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand.

HASIL

Deskripsi data penelitian sampel kelompok perlakuan massed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand untuk data pre-test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 20,36 dengan median (nilai tengah) sebesar 21 dan modus sebesar 26. Hasil minimal sebesar 11 dan maksimal sebesar 27. Sedangkan untuk data post-test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 26,28 dengan median (nilai tengah) sebesar 26 dan modus sebesar 26. Hasil minimal sebesar 22 dan maksimal sebesar 31.

Deskripsi data penelitian subjek kelompok perlakuan massed practice terhadap peningkatan keterampilan backhand untuk data pre-test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 18,28 dengan median (nilai tengah) sebesar 18 dan modus sebesar 18. Hasil minimal sebesar 8 dan maksimal sebesar 26. Sedangkan untuk data post-test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 25,52 dengan median (nilai tengah) sebesar 25 orang dan modus sebesar 25 orang.

Hasil minimal sebesar 22 dan maksimal sebesar 29.

Deskripsi data penelitian sampel kelompok perlakuan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand untuk data pre-test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 20,60 dengan median (nilai tengah) sebesar 21 dan modus sebesar 15. Hasil minimal sebesar 11 dan maksimal sebesar 29. Sedangkan untuk data post test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 33,00 dengan median (nilai tengah) sebesar 33 dan modus sebesar 31. Hasil minimal sebesar 28 dan maksimal sebesar 37.

Deskripsi data penelitian sampel kelompok perlakuan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan backhand untuk data pre-test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 19,80 dengan median (nilai tengah) sebesar 21 dan modus sebesar 14. Hasil minimal sebesar 10 dan maksimal sebesar 28. Sedangkan untuk data post-test diketahui sebanyak dari N (subjek) sebanyak 25 orang diperoleh rata-rata hasil pukulan sebesar 31,28 dengan median (nilai tengah) sebesar 31 dan modus sebesar 31. Hasil minimal sebesar 27 dan maksimal sebesar 34.

Uji Normalitas

(13)

8 sedangkan untuk kelompok forehand massed practice post-test0,107 dengan signifikansi 0,200. Pada taraf signifikansi α=0,05 signifikansi pada kelompok forehand massed practice pre-test dan kelompok forehand massed practice post-test lebih besar daripada α (sig>0,05) sehingga data yang diuji merupakan data yang berdistribusi normal.

Dari hasil uji normalitas data dengan instrumen Uji Kolmogorof- Smirnov program SPSS 16,0 diperoleh hasil untuk kelompok forehand distributed practice pre-test 0,078 dengan signifikansi 0,200, sedangkan untuk kelompok forehand distributed practice post-test 0,146 dengan signifikansi 0,177. Pada taraf signifikansi α=0,05 signifikansi pada kelompok forehand distributed practice pre-test dan kelompok forehand distributed practice post-test lebih besar daripada α (sig>0,05) sehingga data yang diuji merupakan data yang berdistribusi normal.

Dari hasil uji normalitas data dengan Instrumen Uji Kolmogorof-Smirnov program SPSS 16,0 diperoleh hasil untuk kelompok backhand massed practice pre-test 0,089 dengan signifikansi 0,200, sedangkan untuk kelompok backhand massed practice post-test 0,168 dengan signifikansi 0,067. Pada taraf signifikansi α = 0,05 signifikansi pada kelompok backhand massed practice pre-test dan kelompok backhand massed practice post-test lebih besar daripada α (sig>0,05) sehingga data yang diuji merupakan data yang berdistribusi normal.

Dari hasil uji normalitas data dengan instrumen Uji Kolmogorof- Smirnov program SPSS 16,0 diperoleh hasil untuk kelompok backhand distributed practice

pre-test 0,143 dengan signifikansi 0,200, sedangkan untuk kelompok backhand distributed practice post-test 0,098 dengan signifikansi 0,113. Pada taraf signifikansi α=0,05 signifikansi pada kelompok backhand distributed practice pre-test dan kelompok backhand distributed practice post-test lebih besar daripada α (sig>0,05) sehingga data yang diuji merupakan data yang berdistribusi normal.

Uji Homogenitas

Dari hasil uji homogenitas menggunakan instrumen uji levene dengan bantuan program SPSS 16,0 diperoleh nilai uji 0,688 dan signifikansi 0,501 untuk variabel forehand massed practice. Nilai signifikansi levene untuk variabel forehand massed practice lebih besar

dari α (sig>0,05) sehingga data yang diuji berasal dari data yang homogen.

Dari hasil uji homogenitas menggunakan instrumen uji levene dengan bantuan program SPSS 16,0 diperoleh nilai uji 0,954 dan signifikansi 0,123 untuk variabel forehand distributed practice. Nilai signifikansi levene untuk variabel forehand distributed practice lebih

besar dari α (sig>0,05) sehingga data yang diuji berasal dari data yang homogen.

Dari hasil uji homogenitas menggunakan instrumen uji levene dengan bantuan program SPSS 16,0 diperoleh nilai uji 12,198 dan signifikansi 0,150 untuk variabel backhand massed practice. Nilai signifikansi levene untuk variabel backhand massed practice lebih

(14)

9 Dari hasil uji homogenitas menggunakan instrumen uji levene dengan bantuan program SPSS 16,0 diperoleh nilai uji 0,969 dan signifikansi 0,203 untuk variabel backhand distributed practice. Nilai signifikansi levene untuk variabel backhand distributed practice lebih besar dari α (sig>0,05) sehingga data yang diuji berasal dari data yanghomogen.

Pengaruh Metode Pelatihan Massed Practice Terhadap peningkatan keterampilan Forehand

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus uji t berpasangan, diketahui bahwa metode pelatihan massed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan teknik forehand pada mahasiswa Jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015, dimana ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberi pelatihan massed practice (thitung sebesar 8,97,

dibandingkan dengan harga ttabel

untuk db 48 dengan taraf signifikansi 5% (α=0,05) adalah 2,01).

Pengaruh Metode Pelatihan Massed Practice Terhadap peningkatan keterampilan Backhand

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus uji t berpasangan, diketahui bahwa metode pelatihan massed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan teknik backhand pada mahasiswa Jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015, dimana ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberi pelatihan massed practice (thitung sebesar

10,9166, dibandingkan dengan harga ttabel untuk db 48 dengan taraf

signifikansi 5% (α=0,05) adalah 2,01).

Pengaruh Metode Pelatihan Distributed Practice Terhadap peningkatan keterampilan Forehand

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus uji t berpasangan, diketahui bahwa metode pelatihan distributed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan teknik forehand pada mahasiswa Jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015, dimana ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberi pelatihan distributed practice (thitung sebesar

18,82, dibandingkan dengan harga ttabel untuk db 48 dengan taraf

signifikansi 5% (α=0,05) adalah 2,01).

Pengaruh Metode Pelatihan Distributed Practice Terhadap peningkatan keterampilan Backhand

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus uji t berpasangan, diketahui bahwa metode pelatihan distributed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan teknik backhand pada mahasiswa Jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015, dimana ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberi pelatihan distributed practice (thitung sebesar

11,34, dibandingkan dengan harga ttabel untuk db 48 dengan taraf

(15)

10 Ada Perbedaan Pengaruh Antara Metode Pelatihan Massed Practice Dan Distributed Practice Terhadap peningkatan keterampilan Forehand

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Uji-t independent, diketahui bahwa terdapat perbedaan secara signifikan antara metode pelatihan massed practice dan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand. (thitung 9,88,

dibandingkan dengan harga t pada tabel dengan db 48 dengan taraf signifikansi 5% (α=0,05) adalah 2,01).

Ada Perbedaan Pengaruh Antara Metode Pelatihan Massed Practice Dan Distributed Practice Terhadap Peningkatan Keterampilan Backhand

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Uji-t independent, diketahui bahwa terdapat perbedaan secara signifikanantara metode pelatihan massed practice dan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan backhand (thitung

11,045, dibandingkan dengan harga t pada tabel dengan db 48 dengan taraf signifikansi 5% (α=0,05) adalah 2,01).

PEMBAHASAN

Dari hasil analisis data yang sudah didapatkan, maka akan dibuat suatu pembahasan mengenai hasil-hasil dari penelitian tersebut. Pembahasan di sini membahas penguraian hasil penelitian tentang pengaruh perbedaan pemberian metode pelatihan massed practice dan metode pelatihan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand pada mahasiswa petenis pemula

jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian tentang bagaimana pengaruh kedua bentuk metode pelatihan tersebut (massed practice dan distributed practice) terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand, dan terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara metode pelatihan massed practice dengan metode pelatihan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand. Untuk selanjutnya akan dibahas dan diuraikan secara lengkap tentang hasil-hasil yang sudah diperoleh sebagai berikut:

Kelompok Metode Pelatihan Massed Practice Berpengaruh

Terhadap Peningkatan

Keterampilan Forehand

Melihat hasil perhitungan dengan menggunakan uji t menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan massed practice dan metode latihan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand, berdasarkan hasil perhitungan hasil pre-test dan post-test untuk metode pelatihan massed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand diketahui bahwa jumlah thitung sebesar 8,97,

(16)

11 dapat disimpulkan bahwa metode pelatihan massed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan teknik forehand pada mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

Hasil tersebut memberikan bukti nyata bahwa metode latihan massed practice merupakan salah satu bentuk metode latihan keterampilan yang fungsinya untuk melatih keterampilan forehand dalam olahraga tenis lapangan. Bagi atlet tenis lapangan, khususnya atlet pemula metode latihan massed practice merupakan salah satu bentuk metode latihan yang tepat, karena dapat meningkatkan keterampilan forehand dengan efektif, hal tersebut sangat baik untuk menunjang ketika melakukan metode latihan teknik dasar forehand (groundstroke) dalam cabang olahraga tenis lapangan.

Menurut Lutan Rusli (1988:163), latihan forehand dengan latihan padat memiliki keuntungan, yaitu dengan adanya ingatan jangka pendek (short term memory), yaitu sistem memori yang berfungsi untuk menyimpan sejumlah besar informasi yang diterima selama periode waktu yang singkat. Setelah melakukan pukulan forehand, short term sensory store atlet mencatat di dalam short term memory. Apa yang baru saja dilakukan masih terkonsep dan tersimpan di dalam memori selama beberapa saat, dan memori itu akan hilang setelah beberapa lama. Dengan latihan secara terus menerus (massed practice), maka sebelum memori itu hilang, pemain melakukan gerakan lagi sehingga konsep gerakan forehand yang

dilakukan terkonsep ke dalam memori dengan lebih kuat.

Kelompok Metode Pelatihan Massed Practice Berpengaruh

Terhadap Peningkatan

Keterampilan Backhand

Melihat hasil perhitungan dengan menggunakan uji t menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan massed practice dan metode latihan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan backhand, berdasarkan hasil perhitungan hasil pre-test dan post-test untuk metode pelatihan massed practice terhadap peningkatan keterampilan backhand diketahui jumlah thitung sebesar 10,9166 jika thitung>ttabel 10,9166>2,01 sehingga H0

ditolak dan H1 diterima. Ini berarti

bahwa ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah kelompok diberi perlakuan massed practice. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pelatihan massed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatkan keterampilan teknik backhand pada mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

(17)

12 metode latihan massed practice merupakan salah satu bentuk metode latihan keterampilan yang fungsinya untuk melatih keterampilan backhand dalam olahraga tenis. Bagi atlet tenis, khususnya atlet pemula metode latihan massed practice merupakan salah satu bentuk metode latihan yang tepat, karena dapat meningkatkan keterampilan backhand dengan efektif, hal tersebut sangat baik untuk menunjang ketika melakukan metode latihan teknik dasar backhand (groundstroke) dalam cabang olahraga tenis lapangan.

Menurut Lutan Rusli (1988:163), latihan backhand dengan latihan padat memiliki keuntungan, yaitu dengan adanya ingatan jangka pendek (short term memory), yaitu sistem memori yang berfungsi untuk menyimpan sejumlah besar informasi yang diterima selama periode waktu yang singkat. Setelah melakukan pukulan forehand, short term sensory store atlet mencatat di dalam short term memory. Apa yang baru saja dilakukan masih terkonsep dan tersimpan di dalam memori selama beberapa saat, dan memori itu akan hilang setelah beberapa lama. Dengan latihan secara terus menerus (massed practice), maka sebelum memori itu hilang, pemain melakukan gerakan lagi sehingga konsep gerakan backhand yang dilakukan terkonsep ke dalam memori dengan lebih kuat.

Kelompok Metode Pelatihan Distributed Practice Berpengaruh

Terhadap Peningkatan

Keterampilan Forehand

Melihat hasil perhitungan dengan menggunakan uji t menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap

peningkatan keterampilan forehand. Berdasarkan hasil perhitungan data pre-test dan post-test diketahui thitung

sebesar 18,82, jika dibandingkan dengan harga t pada tabel dengan

perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah kelompok diberi perlakuan distributed practice. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pelatihan distributed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan teknik forehand pada mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa pemberian metode latihan distributed practice berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan forehand. Hasil tersebut memberikan bukti nyata bahwa metode latihan distributed practice merupakan salah satu bentuk metode pelatihan tehnik dasar forehand yang fungsinya untuk meningkatkan keterampilan forehand. Hal ini sangat berguna bagi atlet tenis khususnya atlet pemula pada saat melatih teknik forehand.

(18)

13 pelatih dan pada saat tertentu pemain diberikan waktu untuk istirahat. Istirahat yang diberikan ini dapat digunakan untuk relaksasi atau pelatih dapat memberikan koreksi dari latihan yang telah dilakukan oleh pemain atau atlet.

Kelompok Metode Pelatihan Distributed Practice Berpengaruh

Terhadap Peningkatan

Keterampilan Backhand

Melihat hasil perhitungan dengan menggunakan uji t menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan backhand, Berdasarkan hasil perhitungan data pre-test dan post-test diketahui jumlah thitung sebesar 11,34 jika

dibandingkan dengan harga t pada tabel dengan db=n1+n2–2=50-2=48. Harga ttabel untuk db 48 dan dengan

taraf signifikansi 5% (α=0,05) adalah 2,01. Dengan demikian, harga thitung

lebih besar daripada harga ttabel,

11,34>2,01 sehingga H0 ditolak dan

H1 diterima. Ini berarti bahwa ada

perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah kelompok diberi perlakuan distributed practice. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pelatihan distributed practice memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan teknik backhand pada mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa pemberian metode latihan distributed practice berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan backhand. Hasil tersebut memberikan bukti nyata bahwa metode latihan distributed practice merupakan salah satu bentuk metode pelatihan tehnik dasar backhand

yang fungsinya untuk meningkatkan keterampilan backhand. Hal ini sangat berguna bagi atlet tenis khususnya atlet pemula pada saat melatih teknik dasar backhand.

Metode pelatihan praktik terdistribusi (distributed practice) memberikan kontribusi dalam meningkatkan keterampilan backhand. Latihan backhand dengan menggunakan metode latihan distributed practice dapat meningkatkan keterampilan teknik backhand. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya atlet melakukan gerakan sesuai dengan intruksi dari pelatih dan pada saat tertentu pemain diberikan waktu untuk istirahat. Istirahat yang diberikan ini dapat digunakan untuk relaksasi atau pelatih dapat memberikan koreksi dari latihan yang telah dilakukan oleh pemain.

Perbedaan Antara Kelompok I dan II (Metode Pelatihan Massed Practice dan Distributed Practice)

Terhadap Peningkatan

Keterampilan Forehand

Melihat hasil perhitungan dengan menggunakan uji t menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan massed practice dengan metode latihan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand. Pemberian metode pelatihan distributed practice dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada pemberian metode pelatihan massed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand pada mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

(19)

14 kelebihan dan kekurangannya tersendiri, namun untuk metode pelatihan praktik terdistribusi (distributed practice) memberikan kontribusi lebih besar dalam peningkatan keterampilan teknik forehand.

Perbedaan Antara Kelompok I dan II (Metode Pelatihan Massed Practice dan Distributed Practice)

Terhadap Peningkatan

Keterampilan Backhand

Melihat hasil perhitungan dengan menggunakan uji t menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan massed practice dengan metode latihan distributed practice terhadap peningkatan keterampilan backhand. Pemberian metode pelatihan distributed practice dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada pemberian metode pelatihan massed practice terhadap peningkatan keterampilan backhand pada mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

Perbedaan dari kedua metode tersebut disebabkan karena masing-masing metode pelatihan memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri, namun untuk metode pelatihan praktik terdistribusi (distributed practice) memberikan kontribusi lebih besar dalam peningkatan keterampilan teknik forehand. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan dengan Magil (2001:299)

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: 1).Metode pelatihan massed practice dan distributed practice berpengaruh

terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015. 2).Metode pelatihan distributed practice memberikan hasil yang lebih baik daripada metode pelatihan massed practice terhadap ketrampilan forehand dan backhand mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015. Metode pelatihan distributed practice memberikan hasil yang lebih baik (efektif) daripada massed practice terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand mahasiswa petenis pemula jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha tahun akademik 2014/2015.

DAFTAR PUSTAKA

Bompa, O Tudor. 2009. Periodization Theory and Methodology of Training. Kanada: Human Kinetics. Budaya Astra, I Ketut. 2004.

Pengaruh Penggunaan Alat Bantu Pelontar Bola dan Power Lengan Terhadap peningkatan keterampilan Memukul Forehand dan Backhand Drive Dalam Belajar Tenis Pemula. Tesis (tidak diterbitkan) Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Eka Budi Darmawan, Gede. 2012.

Perbedaan Pengaruh Metode Latihan dan Kemampuan Gerak (Motor Ability) Terhadap Peningkatan

(20)

15 Basket”. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Kanca, I Nyoman. 2004. Pengaruh Pelatihan Fisik Aerobik dan Anaerobik terhadap Absorpsi Karbohidrat dan Protein di Usus Halus Rattus Norvegicusn Strain Wistar. Surabaya : Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Kanca, I Nyoman. 2010. Metode

Penelitian Pengakademik Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Singaraja: Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha.

Lankor. 2007. Teori Kepelatihan Dasar: Materi Untuk Kepelatihan Tingkat Dasar. Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga Jakarta.

Loman, Lucas. 1985. Petunjuk Praktis Bermain Tenis. Bandung: Angkasa. Magill A. Richard. 2001. Motor

Learning: Concepts and Applications 6th ed. New York: Mc. Graw-Hill Companies.

Handono, Murti. 2002. Tenis Sebagai Prestasi dan Profesi, Jakarta: Tyas Biratno Pallal.

Lardner Rex.1990. Teknik Dasar Tenis Strategi dan Taktik yang Akurat.Semarang: Dahara Prize.

Rusli Lutan. 1988. Belajar Keterampilan Motorik. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

Schimdt, Richard A. 1988. Motor Learning and Control: A Behavorial Emphasis. Champagain, Illinois: Human Kinetics Publisher, Inc.

Sugiyanto & Sudjarwo, 1994. Perkembangan Gerak dan Belajar Gerak. Jakarta: Depdikbud. Singer, Robert, N. 1980. Motor

Learning and Human Perfomance.New York: Me Milan Publising Company, Inc.

(21)

16

EFEKTIVITAS MEDIA AUDIOVISUAL DAN MEDIA BERBASIS TEKS (CETAKAN) TERHADAP HASIL BELAJAR CHEST PASS

Agung Sunarno

Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Medan

e-mail: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pembelajaran dengan menggunakan media audiovisual dan media berbasis teks (cetakan) terhadap hasil belajar chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi 316 orang dari kelas VII SMP Negeri 20 Medan dan yang dijadikan sebagai sampel 40 orang dengan teknik purposive sampling. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-test post-test, desain yakni 20 orang ditetapkan sebagai kelompok media pembelajaran audiovisual (X1) dan 20 orang siswa ditetapkan sebagai kelompok media pembelajaran

berbasis teks (cetakan) (X2). Instrumen penelitian menggunakan tes hasil belajar

chest pass bola basket.

Hasil analisis data diperoleh bahwa: (a) media pembelajaran audiovisual memberikan pengaruh terhadap hasil belajar chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013, (thitung = 5,04 > ttabel = 1,73) (b) media pembelajaran berbasis teks (cetakan) memberikan pengaruh terhadap hasil belajar chest pass pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013, (thitung = 3,71 > ttabel = 1,73) (c) media pembelajaran audiovisual sama-sama berpengaruh dengan media pembelajaran berbasis teks (cetakan) terhadap hasil pelajaran pelajaran chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013 (thitung =0.812 < ttabel = 1,70).

Simpulannya adalah media pembelajaran audiovisual dan media berbasis teks sama-sama memberikan pengaruh terhadap hasil belajar chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013, dan media pembelajaran audiovisiual memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan media berbasis teks (cetakan).

Kata-Kata Kunci: Media, Hasil Belajar, Bola Basket

PENDAHULUAN

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Lutan, dkk

(22)

17 dalam bentuk interaksi belajar

mengajar.

Dunia pendidikan juga erat kaitannya dengan perkembangan teknologi. Dimana ilmu teknologi sebagai wadah riset yang dapat menciptakan berbagai alat yang dapat dipergunakan dalam membantu proses penyampaikan materi pembelajaran di sekolah. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Di samping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.

Dari hasil observasi peneliti dengan guru bidang studi pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (Penjasorkes) kelas VII SMP Negeri 20 Medan mengatakan bahwa “peserta didik kurang mampu melakukan chest pass dengan baik dan tepat, sehingga hasil belajar bola basket mereka kurang memuaskan, kemudian konsentrasi peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar (PBM) yang sedang mereka ikuti juga masih kurang. Hal ini terlihat dari lemparan bola dan ketepatan chest pass peserta didik pada saat memberikan operan kepada

temannya”. Guru Penjasorkes

tersebut juga memberikan beberapa kesempatan pengulangan untuk melakukan chest pass pada siswa-siswa tersebut. Namun hasilnya masih kurang memuaskan, ini dapat dilihat dari banyaknya bola terlepas dari tangan, bahkan dalam permainna bola basket pun, ketika chess pass dilakukan bola basket yang dipegang

oleh peserta didik tidak dapat dioper kepada temannya. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, apakah itu dikarenakan penggunaan media pembelajaran yang kurang tepat, jam pelajaran yang kurang memadai, materi yang terlalu sulit, atau hal-hal yang lain yang dialami peserta didik.

Media pembelajaran audiovisual merupakan media pembelajaran yang bersifat memakai suatu alat bantu untuk mempermudah suatu proses kegiatan belajar mengajar. Dimana alat bantu atau media yang tersedia terdapat materi beserta cara pengajaran yang telah dirancang oleh seorang guru untuk melaksanakan kegiatan belajar. Disamping itu, media audiovisual yang dapat digunakan dan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.Audiovisual yang menampilkan pesan haruslah bersifat memotivasi.

Menurut Magnesan (dalam Ariyani dan Haryanto, 2010:35) bahwa hasil belajar diperoleh “10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 50 % dari apa yang dilihat dan didengar, 70 % dari apa yang dikatakan, 90% dari apa yang dilakukan.” Berpijak kepada konsep Magnesan, pembelajaran dengan mempergunakan tekhnologi audio visual dijamin mampu meningkatkan pemahaman belajar siswa sebesar 50%, dari pada dengan tanpa menggunakan media. Audio visual dapat melibatkan indera pendengaran dan indra penglihatan peserta didik. Selain itu audio visual dapat memberikan pesan secara menyeluruh kepada siswa.

(23)

18 tidak seharusnya digunakan dalam

setiap situasi, namun hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.Media pembelajaran berbasis teks cetak (print out) adalah berbagai media penyampai pesan pembelajaran dimana padanya terkandung teks (bacaan) dan ilustrasi-ilustrasi pendukungnya. Berbagai bentuk media pembelajaran jenis ini contohnya: buku teks pembelajaran, majalah, buku kerja, LKS, guntingan koran; majalah, leaflet, brosur, dan sebagainya. Media berbasis teks (cetakan) dapat berhasil jika digunakan: (1) pada pelajaran manipulatif, (2) pada pengembangan pengertian, (3) untuk menunjukkan bagaimana melakukan praktek-praktek baru, (4) untuk memperkuat penerimaan terhadap sesuatu yang baru dan memperbaiki cara melakukan sesuatu.

KAJIAN LITERATUR Permainan Bola Basket

Wissel (1996:3) mengemukakan: “Permainan bola basket dimainkan oleh dua tim dengan 5 orang pertim. Tujuannya adalah mendapatkan nilai (skor) dengan memasukkan bola ke keranjang dan mencegah tim lain melakukan hal serupa. Bola basket berbentuk bulat bundar (spherical) dan berwarna orange. Keliling bola basket untuk laki-laki adalah maksimum 30 inci dan minimum 29,5 inci, sedangkan untuk wanita maksimum adalah 29 inci dan minimum 28,5 inci. Papan ring (back board) berbentuk persegi panjang dengan permukaan datar, berukuran horisontal 6 kaki dan vertikal 3,5 kaki atau 4 kaki. Suatu kotak persegi panjang berukuran 24 inci horisontal dan 18 inci vertikal diletakkan dibekang ring dengan sejajar ring

dengan garis bawahnya sejajar dengan ring.Tiap keranjang berdiameter 18 inci dan dengan sisi permukaan 10 kaki di atas lantai dan sisi dalam terdekat berjarak 6 kaki dari papan ring”.

Memegang bola dengan benar adalah modal utama dalam bermain bola basket. Jika caramemegang ini tidak baik, maka gerakan selanjutnya akan kurang baik juga. Bola dipegang tapi tidak dipaksakan, telapak tangan tidak mengenai bola. Dengan memegang bola dengan benar, maka akan lebih mudah untuk melanjutkan gerakan berupa mengoper, menggiring, ataupun menembakkan bola ke ring basket.

Passing berarti mengoper bola.Operan merupakan teknik dasar pertama.Dengan operan, para pemain dapat melakukan gerakan mendekati ring basket untuk kemudian ditembakkan.Operan dapat dilakukan dengan cepat dan keras, yang penting bola dapat dikuasai oleh teman yang menerimanya.Operan juga dapat dilakukan secara lunak.Jenis operan tersebut bergantung pada situasi keseluruhan, yaitu kedudukan teman, situasi teman, waktu, dan taktik yang digunakan.Untuk dapat melakukan operan dengan baik dalam berbagai situasi, pemain harus menguasai bermacan-macam teknik dasar mengoper bola dengan baik, yaitu teknik dasar mengoper (passing) dalam bola basket.

(24)

19 depan dada (chest pass) dengan

menggunakan dua tangan mungkin merupakan operan yang paling sering digunakan dalam pertandingan bola basket. Ini adalah operan yang bisa diandalkan dan dilakukan untuk memindahkan bola dari seorang pemain ke rekan satu timnya.

Media Pembelajaran Audiovisual Media audiovisual disebut juga sebagai media video. Video merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media video terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual.Adanya unsur audio memungkinkan siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur visual memungkinkan penciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi.

Menurut Sulaiman (2008:11) media audio visual disebut juga dengan alat-alat audio visual yaitu alat-alat yang “audible” artinya dapat didengar dan alat- alat yang layak (visible) artinya dapat dilihat. Yang termasuk alat-alat audio visual yakni gambar, foto, slide, model, pita kaset tape-recorder, film bersuara dan televisi. Hal ini seiring dengan pendapat Burhanudin, dkk (2009:6) media audio visual yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambaryang bisa dilihat, misalnya rekaman video.

Audio visual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi), meliputi media yang dapat dilihat dan didengar” (Rohani,

dalam http://www.media-audio- visual.html).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media audiovisual adalah merupakan media perantara atau penggunaan materi dan penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Menurut Ariani dan Haryanto (2010:93) bahwa media audio visual terdiri atas: (1) Media video, merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, bisa dikemas dalam bentuk VCD dan (2) Media komputer. Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara, dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.

(25)

20 video adalah merupakan rangkaian

gambar elektronis yang disertai oleh unsur suara audio juga mempunyai unsur gambar yang dituangkan melalui pita video. Rangkaian gambar elektronis tersebut kemudian diputar dengan suatu alat yaitu video cassette recorder atau video player.

Video sebagai media audiovisual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin populer dalam masyarakat kita.Pesan yang disajikan bisa bersifat fakta (kejadian/ peristiwa penting, berita) maupun fiktif, bisa bersifat informatif, eduaktif maupun instruktional. Menurut Dale (dalam Arsyad, 2002: 23) mengemukakan

“bahan-bahan audiovisual dapat

memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran”.

Media audiovisual merupakan media yang menggunakan penggabungan dua panca indra. Dimana media ini memerlukan sebuah objek yang bergerak dan mengeluarkan suara, sehingga terkadang banyak dijumpai kesulitan dalam memperoduksinya. Pada awal pelajaran, media harus mempertunjukkan sesuatu yang dapat menarik perhatian siswa. Hal ini diikuti dengan jalinan logis dari keseluruhan program yang dapat membangun rasa berkelanjutan, sambung-menyambung dan kemudian menuntun kepada kesimpulan atau rangkuman.

Teknologi audiovisual dapat menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual.Jadi, pengajaran melalui audiovisual adalah produksi dan penggunaan materi yang

penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung kepada pemahaman kata atau simbol-simbol yang serupa.

Berikut merupakan bentuk tampilan media audiovisual disertai dengan penjelasan:

1. Tampilan Awal Media Pembelajaran Audiovisual

2. Tampilan ini merupakan tahapan chest pass bola basket

(26)

21 4. Tampilan ini adalah tampilan

tolakan teknik chest pass bola basket

5. Tampilan ini adalah tampilan sikap lanjutan teknik chest pass bola basket

6. Tampilan ini merupakan tampilan gerakan chest pass bola basket secara utuh

7. Tampilan ini merupakan tampilan chest pass bola basket dengan berpasangan

8. Tampilan akhir dari media audiovisual

Media Pembelajaran Berbasis

Teks

(27)

22 Media pembelajaran berbasis

cetak adalah media yang cara menyajikan pesan atau informasi melaui huruf atau gambar yang diilustrasikan untuk lebih memperjelas pesan atau informasi yang akan disampaikan.Media

pembelajaran cetak memiliki kelebihan seperti dapat menyajikan informasi dalam jumlah yang banyak, mudah dibawa dan dapat dipelajari kapan saja, perbaikan dapat dilakukan dengan mudah. Tetapi media cetak juga memiliki kekurangan seperti proses pembuatannya yang memakan waktu yang lama, bahan cetak jika tidak dirawat mudah rusak, dan lain-lain (http://zulkifliblog004.blogspot.com/ 2013/12/media-berbasis-cetak.html) Materi pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas.Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu diperhatikan pada saat merancang, yaitu konsistensi, format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf, dan penggunaan spasi kosong. Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis. Kelompok media hasil teknologi cetak meliputi teks, grafik, foto, atau representasi fotografik, dan reproduksi.

Teks terprogram adalah suatu jenis media cetakan yang banyak digunakan.Dalam buku teks terprogram, informasi disajikan secara terkendali dalam arti bahwa siswa hanya memiliki akses untuk melihat (dan membaca) yang diinginkan langkah demi langkah.Teks informasi ini

merupakan sitimulus yang meminta siswa untuk memberikan respons, kemudian siswa diberitahukan jawaban benar dengan membandingkan jawabannya dengan jawaban yang disampaikan pada halaman buku itu.

Media cetak meliputi bahan-bahan yang disiapkan di atas kertas untuk pengajaran dan informasi.Disamping buku teks atau buku ajar, termasuk pula lembaran penuntun berupa daftar cek tentang langkah-langkah yang harus diikuti ketika mengoperasikan sesuatu peralatan atau memelihara peralatan.Surat kabat dan majalah adalah media komunikasi masa dalam bentuk cetak yang tidak perlu diragukan lagi peranan dan pengaruhnya terhadap masyarakat pembaca pada umunya. Ditinjau dari segi isinya, surat kabar atau majalah dapat dibedakan menjadi surat kabar dan majalah umum, surat kabar, dan majalah sekolah.

(28)

23 cetak adalah brosur dan newslatter.

Brosur merupakan pengumuman atau pemberitahuan mengenai suatu

program atau pelayanan, sedangkan newslatter berisikan laporan kegiatan suatu organisasi.

Tabel 1. Perbandingan Media Audiovisual dan Media Bebasis Teks (Cetakan)

No.

Media Audiovisual Media Berbasis Teks (Cetakan)

Kelebihan Kelebihan

1. Film dan video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman besar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktek, dan lain-lain.

Peserta didik dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing.

2. Film, dan video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu.

Peserta didik dapat mengulangi materi dan mengikuti urutan pikiran secara logis.

3. Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video menanamkan sikap dan segi-segi eefektif lainnya.

Perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak sudah merupakan hal yang lumrah, hal ini dapat menambah daya tarik dan memperlancar pemahaman informasi yang disajikan dua format, verbal dan visual.

4. Film dan video dapat ditunjukkan kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen, maupun perorangan.

Khusus pada teks terprogram, siswa akan berpartisipasi/ berintraksi dengan aktif.

5. Dengan kemampuan dan teknik-teknik pengambilan gambar frame demi frame

dapat menunjukkan dan menampilkan gerakan yang tidak terlihat dengan jelas oleh mata.

Dapat diproduksi dengan ekonomis dan mudah di distribusikan.

No. Keterbatasan Keterbatasan

1. Pengadaan video dan film umumnya memerlukan biaya yang mahal dan waktu yang banyak.

Sulit menampilkan gerak dalam halaman media cetak.

2. Pada saat video dan film ditunjukkan, gambar-gambar bergerak terus-menerus, sehingga tidak semua siswa mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui video dan film tersebut.

Biaya pencetakan akan mahal apabila akan menampilkan ilustrasi, gambar atau foto yang berwarna-warni.

3. Video dan film yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan, kecuali video

dan film yang diproduksi dirancang khusus kebutuhan sendiri.

Proses pencetakan media seringkali memakan waktu beberapa hari sampai berbulan-bulan.

4. Pergantian unit-unit pelajaran dalam

media cetak harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak membosankan.

5. Sangat sulit dalam menampilkan emosi,

sikap dan perasaan.

6. Jika tidak dirawat dengan baik, media

(29)

24 METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian eksperimen yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui, menguji, dan membuktikan ada tidaknya pengaruh perlakuan yang dikerahkan pada subjek yaitu siswa siswi.Populasi berjumlah 316 orang dan jumlah sampel 40 orang dengan menggunakan purposive sampling. Desain penelitian ini terdiri dari rangkaian kegiatan berupa:

pelaksanaan pre-test untuk melihat kemampuan awal chest pass siswa, setelah itu pemberian perlakuan pada siswa kelas VII-1 dengan membagi dalam kedalam dua kelompok yaitu kelompok 1 diajarkan dengan media audiovisual dan kelompok 2 diajarkan dengan media berbasis teks (cetakan). Setelah perlakuan diberikan, maka dilakukan post-test untuk megetahui hasil kedua media pembelajaran eksperimen tersebut.

Tabel 2. Portofolio Unjuk Kerja Instrumen Hasil Belajar Chest Pass Nama : ………

Total Skor : ………

Indikator

Penilaian Deskriptor Penilaian

Skala Penilaian Kualitas

Gerak(√) Jumlah Nilai 1.Fase Persiapan

(Sikap Awal)

Peserta didik melihat target

Peserta didik berdiri dengan sikap seimbang

Tangan memegang bola dengan posisi rileks

Bola diletakkan didepan dada, siku agak masuk/ rapat

2.Fase Pelaksanaan (Sikap Saat Pelaksanaan)

Peserta didik melihat target, pandangan kedepan tidak melihat kekanan atau kekiri

Peserta didik melangkahkan salah satu kakinya kedepan dan badan dicondongkan kedepan

Tangan memegang bola dengan erat Peserta didik memegang bola dengan erat kemudian bola dan jari- jari tangan memegang bola dengan rapat

3.Fase Follow Through(Sikap Lanjutan)

Peserta didik melihat target Lengan direntangkan kedepan Telapak tangan menghadap ke bawah Jari- jari menunjuk pada target

Sumber.Wissel (1996:74) Keterangan:

(30)

25

Gambar : Desain Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

1. Data Kelompok Media Audiovisual

Deskripsi hasil penelitian tentang hasil belajar chess pass

dalam permainan bola basket siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan dengan Media Audiovisual dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil Belajar Chess Pass dengan Media Audiovisual Kelompok Pree test Post test Beda

Media Audio Visual 57,89 56,67 17,51.

SD 15,88 10,97

N 20 20 -

2. Data Kelompok Media Teks (Cetakan)

Deskripsi hasil penelitian tentang hasil belajar chess pass

dalam permainan bola basket siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan dengan Media Audiovisual dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 4. Hasil Belajar Chess Pass Siswa Kelas VII SMP Negeri 20 Medan dengan Media Teks (Cetakan)

Kelompok Pree test Post test Beda

Media Teks (Cetakan) 56,67 72,08 15,41

SD 14,45 13,84

N 20 20 -

Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis pertama dan kedua menunjukan bahwa terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara media audiovisual dengan media pembelajaran berbasis teks (cetakan) terhadap hasil belajar chest pass

dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata post test hasil belajar chest pass dalam permainan bola basket yang diajarkan dengan menggunakan media pembelajaran audiovisual

MEDIA

AUDIOVISUAL

POST-TEST

POPULASI PRE-TEST MATCHING BY PAIRED

Gambar

gambar  elektronis  yang  disertai
gambar-gambar bergerak terus-menerus,
Tabel 3. Hasil Belajar Chess Pass dengan Media Audiovisual
Tabel Kondisi Sarana dan Prasarana Penunjang Aktifitas Pembelajaran Penjasorkes pada SMA/SMK/MA di Kabupaten Buleleng
+7

Referensi

Dokumen terkait

Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan

Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral dalam sistem pendidikan di sekolah, seyogianya dikelola secara efektif oleh Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah

Berdasarkan evaluasi / assessment terhadap Indikator Penerapan Fungsi Audit Intern dan membandingkannya dengan kriteria peringkatnya serta penetapan Peringkat Faktor dapat

Tabel 4.10 Tabel Koefisien Determinan Variabel Produk Terhadap Keputusan Pembelian.

Sebagai lembaga yang berwenang menangani dan menyelesaikan sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen, BPSK dalam kewenangannya dapat menempuhnya dengan cara

a Badan Karantina Ikan, Pengendalian rran Hasil Perikanan Nomor 55 /KEP- ntang Penetapan Balai Uji Standar ?engendalian Mutu dan Keamanan Hasil i Laboratorium Acuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kecerdasan intelegensi siswa dan keterampilan mengajar guru berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata

Pelanggan yang menolak, selalu Anda sarankan agar selalu menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks.. Pelanggan sering