160
BIAYA PERTAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA
Riswan1, Adip Mustofa1
1 Staf Pengajar Teknik Pertambangan UNLAM Email: [email protected]
ABSTRAK
Batubara merupakan satu dari energi alternatif dari sektor pertambangan merupakan kegiataan usaha padat modal sehingga memerlukan penanaman modal, pertambangan batubara secara umum beberapa tahapan yang dilakukan seperti perijinan, penyelidikan umum (prospeksi), eksplorasi, studi kelayakan, eksploitasi, pengolahan, pemurnian serta pengangkutan/penjualan dan reklamasi. Pada studi Kasus PT X akan diketahui contoh-contoh biaya pertambangan batubara yang mempunyai IUP dengan luas area 91 ha, direncanakan akan ditambang dengan tambang terbuka (open pit mining). Berdasarkan studi kelayakan SR cadangan yang tertambang 8,5 : 1. Jumlah batubara yang akan ditambang 657.383 ton dengan nilai kalori rata-rata 6998 kcak/kg, belerang < 1% dan kadar abu 15%. Dari desain tambang yang telah dibuat dapat diketahui bahwa pit potensial terdiri dari 1 pit yaitu pit A dengan panjang tambang searah jurus adalah 1000 meter dan lebar bukaan sekitar 100 meter. Besarnya biaya penambangan bergantung Stripping Ratio. Jumlah penerimaan dipengaruhi oleh Kualitas dan harga batubara dipasaran
161
1. PENDAHULUAN
Batubara merupakan satu dari energi alternatif yang termasuk memiliki pertumbuhan yang pesat, baik dari segi produksi maupun konsumsi. Hal ini yang membuat industri batubara kian populer, terutama setelah kenaikan harga bahan bakar utama, yaitu minyak bumi. Selain penggunaanya yang lebih efisien, batubara juga tersedia dalam jumlah yang melimpah di dunia sehingga memberikan kemungkinan untuk dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Selama kurun waktu tahun 1997-2008, produksi dan konsumsi batubara dunia telah naik lebih dari 35% (Asia Securities Industry Research - Sektor Batubara 2009 ), dengan kenaikan tertinggi terjadi di wilayah Asia Pasifik.
Kegiatan usaha di Sektor Pertambangan merupakan kegiatan usaha padat modal dan padat teknologi yang sarat dengan berbagai resiko, mulai dari pencarian cadangan, eksplorasi, sampai pada kegiatan ekploitasi. Resiko yang dihadapi dalam dunia usaha pertambangan antara lain resiko geologi, resiko teknologi, resiko politik dan resiko kebijaksanaan serta memiliki dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas lingkungan.
Tujuan investasi bagi para penanam modal adalah untuk mendapatkan return on investment yang wajar, sehingga segala kebijaksanaan yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan baik langsung maupun tidak langsung akan sangat mempengaruhi perkembangan investasi pertambangan batubara di Indonesia.
Di samping itu, pemerintah sebagai penyelenggara negara yang berhak atas kebijakan pertambangan seperti royalti dan pajak/iuran tambang harus mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun daerah.
Dalam usaha pertambangan batubara secara umum beberapa tahapan yang dilakukan seperti perijinan, penyelidikan umum (prospeksi), eksplorasi, studi kelayakan, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian serta pengangkutan/penjualan.
162 Analisis keuangan dan keekonomian dapat dilakukan berdasaran konsep aliran kas disconto (discounted cash flow analysis) sebagai dasar analisis,komponen-komponen biaya capital, biaya produksi, tingkat produksi batubara dan perkiraan harga jual batubara, dimana operasi penambangan dapat dilakukan sendiri dengan peralatan sewa atau operasi penambangan diserahkan kepada kontraktor.
2. PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN
Wewenang yang diberikan pemerintah kepada badan hukum maupun perorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan umum dikenal dengan istilah “Kuasa Pertambangan”. Adapun bentuk perizinan untuk melakukan investasi disektor pertambangan umum antara lain melalui Kontrak Karya (KK), yaitu perjanjian antara investor, berbadan hukum Indonesia dengan Pemerintah untuk mengusahakan pertambangan bahan galian mineral dalam rangka Penanaman Modal Asing.
Sedangkan bentuk perizinan untuk pengusahaan batubara adalah melalui Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Bentuk perizinan lainnya yang diusahakan oleh investor swasta nasional kita kenal dengan sebutan Kuasa Pertambangan (KP) dan perizinan untuk mengusahakan bahan galian golongan C adalah Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara tentang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Pasal 36 :
(1) IUP terdiri atas dua tahap:
a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan;
b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
163 Pasal 42 (4) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) tahun.
Pasal 47 IUP Operasi Produksi untuk Pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masingmasing 10 (sepuluh) tahun.
Pasal 60 WIUP batubara diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara lelang.
Pasal 61 (1) Pemegang IUP Eksplorasi Batubara diberi WIUP dengan luas paling
sedikit 5.000 (lima ribu) hektare dan paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hectare. (2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batubara dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda. (3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.
Pasal 62 Pemegang IUP Operasi Produksi batubara diberi WIUP dengan luas paling
banyak 15.000 (lima belas ribu) hektare.
Tabel 1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral
No. JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN
PAJAK SATUAN TARIF
1. Penerimaan dari Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral
a) Jasa Pelayanan Penelusuran Informasi serta Perhitungan dan Penetapan Koordinat batas Wilayah Pertambangan
1) Penelusuran informasi wilayah Per 15 menit Rp. 100.000,00 1) Perhitungan dan penetapan koordinat batas
wilayah dan penerbitan peta
Per blok Rp. 10.000.000,00
b) Jasa Pelayanan Pemberian Peta Informasi Wilayah Pertambangan dan/atau Peta Dokumen Perijinan
1) Peta informasi ukuran A0 Per penerbitan Rp. 1.500.000,00 2) Peta informasi ukuran A1 Per penerbitan Rp. 1.000.000,00 3) Peta informasi ukuran A3 Per penerbitan Rp. 500.000,00 4) Peta untuk lampiran dokumen perijinan
(3 eksemplar)
Per penerbitan Rp. 1.000.000,00
5) Peta digital wilayah pertambangan Per penerbitan Rp. 2.000.000,00 c) Jasa Kompilasi dan Evaluasi Data Wilayah Eks Kuasa Pertambangan (KP), Kontrak Karya
164 No. JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN
PAJAK SATUAN TARIF
Batubara (Kelas A)
1) luas wilayah ≤ 2.000 ha Per permohonan Rp. 75.000.000
2) luas wilayah > 2.000 - 10.000 ha Per permohonan Rp. 50.000.000 3) luas wilayah > 10.000 - 50.000 ha Per permohonan Rp. 150.000.000 4) luas wilayah > 50.000 - 100.000 ha Per permohonan Rp. 200.000.000 5) luas wilayah > 100.000 ha Per permohonan Rp. 250.000.000 Batubara (Kelas B)
1) luas wilayah ≤ 2.000 ha Per permohonan Rp. 25.000.000
2) luas wilayah > 2.000 - 10.000 ha Per permohonan Rp. 50.000.000 3) luas wilayah > 10.000 - 50.000 ha Per permohonan Rp. 75.000.000 4) luas wilayah > 50.000 - 100.000 ha Per permohonan Rp. 100.000.000 5) luas wilayah > 100.000 ha Per permohonan Rp. 150.000.000 2. Penerimaan dari Iuran Tetap/Landrent untuk Usaha Pertambangan dalam rangka
Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara a) Penyelidikan Umum
1) Tahap ke I untuk endapan laterit dan endapan permukaan (surface deporsits) yang meluas lainnya
Per ha/tahun US$ 2.00
2) Tahap ke II untuk endapan primer dan endapan
aluvial-aluvial Per ha/tahun US$ 4.00
3. Penerimaan dari Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty untuk Usaha Pertambangan dalam rangka Kuasa Pertambangan (KP), Kontrak Karya (KK), dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), dengan jenis mineral/bahan galian
a) Batubara (Open Pit) dengan tingkat kalori (Kkal/kg, airdried basis)
165 No. JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN
PAJAK SATUAN TARIF
2) > 5100 - 6100 Per ton 5,00% dari harga jual
3) > 6100 Per ton 7,00% dari harga jual
b) Batubara (Underground) Tingkat Kalori (Kualitas):
5) ≤5100 Per ton 2,00% dari harga jual
6) > 5100 - 6100 Per ton 4,00% dari harga jual
7) > 6100 Per ton 6,00% dari harga jual
c) Gambut Per ton 3,00% dari harga jual
Dari table diatas dapat diperkiran jumlah biaya yang dikeluarkan pada tahap perizinan, namun karena rumitnya birokrasi dan lamanya pengurusan kadang-kadang ada biaya-biaya yang tak terduga seperti biaya pelicin (pungutan liar) yang dapat mencapai ± 20% dari biaya normal .
Adapun besarnya bagi hasil penerimaan pertambangan umum berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 adalah sebagai berikut:
Iuran Tetap/Landrent : Pusat 20%, Provinsi 16% dan Kabupaten/Kota 64%.
Iuran Produksi/Royalty : Pusat 20%, Provinsi 16%, Kabupaten/Kota penghasil 32% dan Pemerataan Kabupaten/Kota 32%.
3. PENYELIDIKAN UMUM
Penyelidikan umum ini dilakukan untuk menetapkan tanda-tanda adanya bahan galian (potensi mineral). Kegiatan yang dilakukan meliputi penyelidikan geologi, geofisika, dan geokimia di daratan, perairan dan dari udara.
4. EKSPLORASI
166 Tabel 2. Jasa Teknologi Penyelidikan Umum dan Eksplorasi
1. Jasa Teknologi Konsultasi Eksplorasi Mineral, Batubara,
Panas Bumi dan Konservasi
2) Batubara Mineral Non Logam Per meter Rp1.000.000,00
2. Jasa Perbantuan Tenaga Ahli
a.Senior Geologist/Geophysist Per orang hari Rp 300.000,00 b. JuniorGeologist/Geophysist Per orang hari Rp 200.000,00
c. Surveyor Per orang hari Rp 175.000,00 dilakukan antara lain perencanaan teknik penambangan, pengolahan/ pemurnian dan pengangkutan, perencanaan insfrastruktur, fasilitas sosial, studi pemasaran dan analisis keuangan. Biaya yang dipersiapkan untuk studi kelayakan ± 500 jt (relative)
Tabel 3. Rencana Biaya Studi Kelayakan
No. Alokasi Biaya Nilai %
1 Operasional Tenaga Ahli 40
2 Operasional Survey, Laboratorium dan Analisa Data 40
3 Operasional Penyusunan Laporan 5
4 Operasional Pelaksanaan Sidang dan Rapat 5
5 Operasional Perbaikan dan Penyelesaian Laporan Akhir 5
6 Biaya Opersional Takterduga 5
167
(4)Carbon Padat / Fixed Carbon (Dengan Perhitungan/By
Difference) Per sampel Rp 25.000,00
c) Analisa Ultimat/Ultimate Analysis
(1) Carbon Total/Total Carbon (ASTM D.3178) Per sampel Rp 280.000,00
(2) Hydrogen Total/Total Hydrogen (ASTM D.3178) Per sampel Rp 70.000,00
(3) Nitrogen/Nitrogen (BS 1016 Part 677) Per sampel Rp 70.000,00
(4) Belerang Toatal/Sulfur Total (ASTM D.3177/BS 1015
Part 677) Per sampel Rp 70.000,00
(5) Oksigen/Oxygen (Dengan Perhitungan/By Difference) Per sampel Rp 70.000,00
d) Nilai Kalor / Calorivic Value (ASTM D.3286 atau D.2015) Per sampel Rp 50.000,00
e) Bentuk Belerang/Form of Sulfur
(1) Belerang Sulfat/Sulphate Sulphur Per sampel Rp 120.000,00
(2) Belerang Pirit/Pyritic Sulphur (ASTM D 2492/BS
1016 Part 11 77) Per sampel Rp 50.000,00
(3) Belerang Organik / Organic Sulphur (Dengan
Perhitungan/By Difference) Per sampel Rp 70.000,00
f) Khlor/Chiorine (BS 1016 Part 8 77) Per sampel Rp 75.000,00
g) Carbon Dioksida/Carbon Dioxide (BS 1016 Part 6 77) Per sampel Rp 70.000,00
h) Sifat Ketergerusan / Hardgrove Grindability Index (ASTM
D.409) Per sampel Rp 70.000,00
6. KAJI AMDAL (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN)
168 Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Biaya yang dipersiapkan ± 300 jt (relative)
Tabel 5. Rencana Biaya Mengenai Analisis Dampak Lingkungan
No. Alokasi Biaya Nilai %
1 Operasional Tenaga Ahli 30
2 Operasional survey, Laboratorium dan Analisa Data 40
3 Operasional Penyusunan Laporan AMDAL 10
4 Operasional Pelaksanaan Sidang dan Rapat Komisi AMDAL 5 5 Operasional Perbaikan dan Penyelesaian Laporan Akhir 10
6 Biaya Opersional Takterduga 5
Jumlah 100
7. KONSTRUKSI
Tahapan usaha ini dimaksudkan untuk persiapan ekploitasi/ produksi meliputi pekerjaan pembebasan lahan, penyiapan peralatan, pembangunan infrastruktur, pengupasan tanah penutup, pembangunan pabrik pengolahan/pemurnian dan tempat penimbunan.
8. EKSPLOITASI
Eksploitasi merupakan tahapan usaha pertambangan usaha yang dimaksudkan untuk menghasilkan/ produksi batubara dan memanfaatkannya.
9. PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN
169
10. PENGANGKUTAN DAN PENJUALAN
Tahapan ini merupakan usaha pemindahan dan penjualan bahan galian ini dari hasil tempat pengolahan/ pemurnian atau dari daerah eksplorasi untuk dijual kepasaran (konsumen).
Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008
Gambar 1. Perkembangan dan Proyeksi Harga Batubara Dunia
11. REKLAMASI
Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat usaha, agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukkannya.
170 Tabel 6. Rencana Biaya Reklamsi
No. Alokasi Biaya Nilai %
1 Rekontruksi Tanah 40
2 Revegetasi 40
3 Penanganan Potensi Air Asam Tambang 10
4 Pengaturan Drainase 10
Jumlah 100
12. STUDI KASUS PADA PT. X
PT. X mempunyai IUP dengan luas area 91 ha, direncanakan akan ditambang dengan tambang terbuka (open pit mining). Berdasarkan studi kelayakan SR cadangan yang tertambang 8,5 : 1. Jumlah batubara yang akan ditambang 657.383 ton dengan nilai kalori rata-rata 6998kcak/kg, belerang < 1% dan kadar abu 15%. Dari desai tambang yang telah dibuat dapat diketahui bahwa pit potensial terdiri dari 1 pit yaitu pit A dengan panjang tambang searah jurus adalah 1000 meter dan lebar bukaan sekitar 100 meter. Dalam kegiatan penambangannya dibagi menjadi 2 blok dengan panjang masing-masing blok 500 meter.
171 Penambangan akan dilakukan sendiri dengan kondisi sebagai berikut:
1) Pengadaan peralatan tambang utama, dengan sistem sewa 1 jam termasuk biaya bahan bakar
172 3) Investasi dilakukan pada beberapa peralatan dan fasilitas penunjang
4) Peke jaan di crushing plant diserabkan pada pihak kontraktor.
5) TransportasiIHauling baiubara tambang menuju crushing plan dan pelabuhan di kontrakan
6) Penanganan batubara di pelabuhan sampai ke dalam tongkang di kontrakan Apabila akan dilakukan penambangan sendiri maka total investasi untuk keseluruhan aktivitas penambangan selama 2 tahun adalah sebesar US$ 770.651. Perincian biaya proyek hingga tahun ke -2 dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Perkiraan Pembiayaan Proyek Tahun 0-1(US$)
NO DESKRIPSI TAHUN-0 TAHUN-1 TOTAL
1 Pre-development 613.691 613.691
2 Fasilitas camp 21.960
Total 770.651 802.325 1.572.976
Investasi Bangunan Fasilitas Camp dilakukan pada tahun awal penambangan adalah sebesar US$ 21.960 termasuk utility dan perlengkapan bangunan. Adapun perincian investasi bangunan dan infrastruktu pada awal
tahun ditampilkan pada table 10.
173
Upah tenaga kerja dihitung berdasarkan upah tahunan rata-rata selama 12 bulan. Upah Tahunan belum temasuk cuti tahunan, bonus dan insentif lainya. Besarnya biaya cuti tahunan, bonus dan insentif lainya dihitung dalam biaya jaminan sosial. Besarnya upah tenaga kerja diberikan pada table 11.
174
175 peralatan pendukung stockpile, kendaraan, dan tenaga kerja pendukung yang terlibat didalam proyek.
Tabel 12. Komponen BiayaPenambangan (US$)
AKTIVITAS BIAYA SATUAN
Penambangan batubara 0,33 US$/Ton Pengupasan tanah penutup* SR 8,5
(1,47 US$/Bcm) 12,47 US$/Ton
Pengangkutan batubara (include fee) 8,5 US$/Ton Pengolahan (crushing plant) 1,32 US$/Ton Penanganan batubara (pelabuhan) 4,5 US$/Ton
Lingkungan 0,26 US$/Ton
Pembebasan Lahan 0,4 US$/Ton
Royalti 2,78 US$/Ton
Total 30,55 US$/Ton
Berdasarkan analisis kualitas batubara, batubara yang akan ditambang dapat dijual seharga US$ 37 US$/ton di Pelabuhan. Berdasarkan rencana produksi, maka dapat di proyeksikan besarnya penerimaan penjualan batubara dengan eskalasi 3% seperti berikut:
Tabel 13. Perkiraan Penerimaan (US$)
TAHUN PENJUALAN BB (TON) PENDAPATAN (US$)
1 335.000 12.766.850
2 322.382 12.654.557
TOTAL 657.382 25.421.407
13. KESIMPULAN
1. Besarnya biaya penambangan bergantung Stripping Ratio
176
14. DAFTAR PUSTAKA
Asia Securities Industry Research - Sektor Batubara 2009 . PT. ASIA KAPITALINDO SECURITIES Tbk
Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral
Studi Kelayakan PT. X