MAKALAH
MANUSIA DAN MASYARAKATINDONESIA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas ujian tengah semester Mata Kuliah Manusia dan Masyarakat Indonesia
Dosen Pembimbing Dr. Priyono M.Si.
AVNI PRASETIA PUTRI
NPM. 1406619496
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
Pentingnya pemahaman mengenai manusia dan masyarakat Indonesia bagi kita sebagai bagian darinya merupakan sebuah kewajiban untuk lebih mengenal jati diri bangsa Indonesia yang terdiri dari daratan dan lautan yang sangat luas dari sabang hingga merauke yang memiliki identitas kedaerahan masing-masing.
Dalam makalah ini penulis akan mencoba untuk menjawab dan menjelaskan beberapa pertanyaan mengenai manusia dan masyarakat Indonesia. Pertama adalah mentalitas apa yang dibutuhkan oleh Individu-Individu dalam masyarakat dalam rangka menyongsong pembangunan. di Indonesia. Kedua, penjabaran mengenai konflik yang dihadapi manusia masyarakat Indonesia, penyebab terjadinya konflik, serta bagaimana menyikapi dan menyelesaikan konflik secara bijaksana. Ketiga, bagaimana bangsa kita harus membangun identitas Indonesia-nya di tengah kemajemukan identitas yang dimiliki oleh setiap warga negara? Bagaimana membuat corak multikulturalisme Indonesia tidak bertentangan bahkan saling melengkapi dengan identitas mereka sebagai warga satu bangsa Indonesia? Yang dalam konteks kemajemukan identitas,setiap manusia dapat saja menjadi bagian dari beberapa afiliasi identitas dalam kehidupan sehari-hari seperti sukubangsa,agama, profesi,golongan sosial,dan lain-lain. Amartya Sen melihat dinamika interaksi manusia dalam berbagai pengalaman hidupnya. Memang manusia tidak saja hidup dalam ruang lingkup kesukubangsaan, melainkanjuga dalam ruang lingkup lingkungan: sosial lainnya seperti tersebut diatas. Dengan corak interaksinya masing-masing.
Makalah ini diharapkan mampu untuk membantu pembaca maupun pihak penulis sendiri dalam mengenal lebih jauh mengenai metalitas-mentalitas seperti apa yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Apakah mentalitas itu berdampak baik, buruk atau netral terhadap pembangunan Indonesia. Selain itu pemahaman mengenai mentalitas dan kemajemukan di Indonesia dapat menjadi pedoman untuk menelaah lebih lanjut mengenai penyebab berbagai konflik dan menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Selain itu kita juga dapat memahami pentingnya penanaman dan pengamalan nilai Multikuluralisme juga merupakan sebuah tantangan yang besar bagi bangsa ini, sehingga kita dapat menghindari konflik-konflik yang disebabkan oleh kemajemukan ini dan meyakinkan diri bahwa kita memiliki Identitas
Sebentar lagi Indonesia akan berumur 70 tahun semenjak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Umur tersebut terbilang sudah lama dan cukup bagi suatu negara untuk melakukan pembangunan yang menyeluruh. Namun kenyataannya Indonesia masih termasuk dalam kategori negara berkembang, masih banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan, yang rata-rata bekerja sebagai petani atau nelayan. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, begitupun dengan sumber daya manusia yang sangat banyak sebagai “bonus demografi”. Kedua hal ini merupakan harta yang sangat berharga bagi bangsa kita. Sejak zaman dahulu bangsa ini sudah menarik banyak perhatian dari pihak luar, seperti Spanyol, Portugis,Belanda,Inggris, dan Jepang yang selama ratusan tahun telah berkuasa di tanah air ini dengan melakukan kolonialisme dan Imprealisme. Mereka bahkan dengan sukarela masyarakat Indonesia. Ciri-ciri mental manusia Indonesia terbagi kedalam tiga golongan yaitu ciri-ciri mental asli, mental yang berkembang sejak zaman penjajahan, dan mental yang berkembang baru sejak kira-kira seperempat abad yang lalu (Koentjaraningrat, 1969). Menurut D. Ricardo dalam Koentjaraningrat (1969) syarat untuk berkembangannya perekonomian suatu negara adalah faktor-faktor susunan masyarakat, selanjutnya J.Schumpter dalam Koentjaraningrat (1969) menambahkan bahwa hal ini juga akan terjadi apabila pada masyarakat tersebut terdapat banyak tokoh-tokoh yang mempunyai bakat berusaha (enterpreuners) dengan sistem ekonomi-budaya yang cocok untuk memungkinkan para enterpreuners itu mengambil risiko berusaha. Berikut ini adalah mental yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang menjadi rintangan dalam pembangunan ekonomi:
2.1.1 Ciri Mental manusia Indonesia asli (Petani) dan mental yang harus diubah untuk mendorong pembangunan Di Indonesia
Menurut beberapa ahli seperti Boeke, Kluckohn bahwa masyarakat Indonesia tidak suka bekerja, bersifat statis, tidak mempunyai inisiatif suka ”membebek” kepada orang-orang yang memiliki kedudukan atau kekuasaan lebih tinggi misalnya orang-orang-orang-orang dari kota. Selanjutnya Kluckhohn menambahkan bahwa petani, terutama di Jawa pada dasarnya menganggap hidupnya itu sebgai suatu hal yang buruk, penuh dosa dan kesengsaraan, serta kebanyakan dari mereka bekerja yang berorientasi pada saat sekarang bukan hari esok. Mental yang masih juga sangat kental hingga sekarng pada petani adalah gotong-royong. ciri-ciri yang disebutkan oleh kedua ahli ini merupakan mental-mental yang menjadi kendala untuk pembangunan di Indonesia.
(Koentjaraningrat, 1969).ketiga Hakekat kedudukan manusia dalam ruang waktu dimana yang berorientasi pada waktu sekarang, harus diubah dengan juga berorientasi pada waktu yang akan datang, hal ini akan menjadi dorongan untuk melakukan perencanaan matang yang akan membuat pembangunan berjalan dengan lebih baik. Keempat,adalah mentalitas menguasai alam, karena mental ini merupakan pangkal dari semua inovasi dan kemajuan teknologi yang merupakan salah satu syarat primer bagi pembangunan ekonomi. Terakhir hakekat manusia dengan sesamanya yang sudah disebutkan sebelumnya yaitu gotong royong, menurut koentjaraningrat (1969) mental ini sebenarnya bisa tidak berpengaruh terhadap pembangunan, bisa juga menghambat, teapi kadang-kadang juga membantu dalam pembangunan. Untuk alasan ke dua, ini disebabkan tidak memberkan perangsang untuk kemajuan, terdapat konformisme dan anggapan bahwa orang itu sebaiknya jangan berusaha untuk memnonjol melebihi sesamanya dalam masyarakat, maka orang yang bisa mneghasilkan prestasi yang lebih dari yang lain, tidak akan dipuji, melainkan dicela (Koentjaraningrat, 1969). padahal dalam pembanguan ekonomi persaingan antar individu untuk meraih prestasi dan kemajuan mutlak diperlukan.
2.1.2 Ciri Mental Manusia Indonesia Sejak Zaman Kolonial (Priyayi) dan mental yang harus diubah untuk mendorong pembangunan Di Indonesia
Ciri mental ini (Priyayi) memberikan banyak pengaruh terhadap para usahawan dan pedagang. Sama seperti mental petani yang menganggap bahwa hidup itu buruk, tetapi menyadari bahwa hal tersebut harus diingkari. Mental priyayi atau pegawai menganggap karya manusia pada hakekatnya untuk mencapai kedudukan serta lambang-lambangnya, mental seharusnya diubah, karena kenyataannya kegiatan usaha itu akan berhenti pada saat kedudukan sudah tercapai. Berbeda dengan mental petani mengenai hakekat hubungan manusia dengan alam, mental priyayi berpandangan bahwa manusia harus menyelaraskan dirinya dengan alam, hal ini juga tidak cocok dengan pembangunan ekonomi yang mebutuhkan manusia untuk menguasai alam dengan teknologi. Kaum priyayi beranggapan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia diarahkan dan berorientasi pada sang pemimpin, atasan maupun seniornya. Hal in tidak akan cocok dengan karena cenderung mneghambat proses pembangunan ekonomi, sebab mematikan kreativitas individu, serta memperkuat feodalisme di Indonesia.
2.1.3 Ciri-ciri Mental Manusia Indonesia Sejak Zaman Perang Dunia II
Ini adalah mental yang muncul dimulai dari zaman penjajahan, ketika Indonesia mengalami zaman kemunduran ekonomi, yaitu sikap yang tidak menyadari akan arti dari kualitas, adanya keinginan untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa rela berusaha langkah demi selangkah, tidak tanggung jawab, dan tidak percaya diri ayng diikuti dengan munculnya sikap apatis dan lesu.
dari hari ke hari etrbukti dengan pemimpin yang menyuarakan hal tersebutlah yang menjadi terdakwa kasus korupsi. Sikap manusia Indonesia yang munafik seperti ini yang memungkinkan korupsi begitu hebat berlangsung terus-menerus selama belasan tahun di Pertamina, umpanya dan meskipun fakta-fakta sudah jelas dan terang, akan tetapi hingga hari ini belum ada tindakan hukum diambil terhadap para pelakunya (Lubis,2001).
2.2 Konflik yang dihadapi manusia masyarakat Indonesia, penyebab, serta cara menyikapi dan menyelesaikan konflik secara bijaksana.
Konflik berasal dari kata kerja latin Configere yang berarti saling memikul. Secar sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Kemunculan awal dari sebuah konflik adalah sebuah perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan kepentingan-kepentingan , disamping hal-hal mendasar seperti Suku, Agama, Ras dan Golongan (SARA) yang memang dusah sejak lama diperbincangkan sebagai dalang dari konflik yang terjadi, baik itu berdiri sendiri maupun gabungan dari kepentingan yang terdapat didalam SARA. Pemicu konflik yang paling sering terjadi Indonesia adalah kurangnya kepercayaan dari satu pihak atau kelompok kepada pihak lainnya yang juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia serta rasa dendam dan cemburu kepada pihak atau kelompok lain. Hal ini memunculkan sikap saling mencurigai , yang tak jarang menjadi awal dari sebuah kesalapahaman dan berbuah pada konflik yang berakibat kepada disintegrasi bangsa. Kofllik yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah Konflik yang berasal dari dan terjadi pada ruang masyarakat itu sendiri atau bisa disebut sebagai konflik Internal.Konflik Internal yang terjadi dapat bercorak vertikal, antara negara dan masyarakat atau pemerintah dengan kelompok-kelompok sosial, maupun corak horizontal, yang sedang dan masih mengancam integrasi nasional dan sosial (Abdullah,2001). Adapun konflik vertikal yang dihadapi oleh masyarakat yaitu pemberontakan, kerusuhan, demonstrasi berdarah, dan konflik horizontal yang berupa perang antar-desa atau suku. Konflik yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia bukan hanya bersifat antar etnis atau agama yang berbeda, melainkan juga terjadi sesama satu etnis atau agama misalnya dalam kasus Singaraja bali. Konflik-Konflik Komunal atau horizontall yang pernah dihadapi oleh Indonesia seperti Masalah Ambon, Kerusuhan Poso, Konflik Internal Antar Masyarakat Bali, masalah Masyarakat Madura di Kalimantan Barat dan Kasus wamena. Sementara konflik vertikal seperti persoalan tanah di deli, Aceh, pergolakan di Sulawesi Selatan dan Riau merdeka versus Riau kepulauan.
panjang boleh jadi terancam oleh dominasi dan kekuatan Islam yang dilestarikan melalui Islam (Ida,2001). Kedua, munculnya semangat untuk saling menghancurkan antara komunitas Kristen dengan Islam, yang ditandai adanya pembantaian umat islam oleh kelompok yang dikenal dengan “kelelawar hitam”. Komunitas Kristen merasa terancam oleh dominasi kekuasaan dan ekonomi dari orang-orang islam yang menduduki posisi kekuasaan atau pusat perkotaan, yang menimbulkan perasan ekslusif serta diperkuat dengan adanya pemisahan wilayah pemukiman yang secara gamblang menunjukkan ekslusifitas agamanya masing-masing, sehingga ini akan memudahkan dalam melakukan koordinasi untuk suatu gerakan atau perlawanan yang terbuka terhadap kelompok lain. Meskipun konflik di Poso mengatas namakan agama sebagai permasalahan utamnya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu aktor, ideologi institusi dan Informasi yang ketiganya tidak mempertimbangkan nilai dari pluralisme kebangsaan.
Sebagai masyarak Indonesia yang disatukan dalam Ideologi negara yang sama yaitu Pancasila, seharunya kita dapat menyelesaikan konflik yang ada dengan mudah yaitu mengamalkan nilai-nilai yang terdapat pancasila, yaitu musyawarah untuk mencapai mufakat. Jalan penyelesaian dengan musyawarah adalah yang paling tepat dalam menyelesaikan sebuah konflik, dimana pihak-pihak yang terlibat konflik dipertemukan dan ditegahi oleh pihak ketiga yang bersifat netral atau tidak memihak, kemudian pihak-pihak yang terlibat konflik mengemukakan pendapat dan masalah masing-masing secara jujur dan terbuka (mengingat salah satu mental yang dikemukakan oleh Mochtar Lubis bawa masyarakat Indonesia itu Hipokratis dan munafik) dengan tata cara penyampaian yang sopan dan santun, serta menghormati setiap pihak yang terlibat dalam musyawarah, hingga nantinya tercapai kata mufakat, dan bila perlu kesepakatan tersebut dituliskan dalam bentuk hitam diatas putih dan ditandatangani oleh pihak yang terlibat.
Melihat dari banyaknya konflik yang pernah terjadi di Indonesia, seharusnya manusia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dapat mengambil pembelajaran dari sejarah yang ada untuk dijadikan cermin pembelajaran dimasa yang akan datang. Mengingat masalah utama dari sebuah konflik adalah perbedaan, oleh karena itu perlu adanya peningkatan kesadaran pluralisme nasional, yaitu sikap yang menerima akan adanya perbedaan diantara kita, karena sebagai bagian dari masyarakat kita harus berinteraksi dengan orang lain yang seringkali berbeda baik dari suku, agam,ras,bangsa,bahasa dan adat istiadat.
2.3 Pembangunan Identitas Indonesia di tengah kemajemukan identitas yang dimilliki warga negara, serta cara menjadikan corak multikulturalisme Indonesia tidak bertentangan bahkan saling melengkapi dengan identitas mereka sebagai warga satu bangsa Indonesia
untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia yang berkedudukan sebagai individu dan baian dari masyarakat.
Tonggak utama dari Identitas nasional Indonesia adalah peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, yang berisikan janji para pemuda bangsa Indonesia yaitu bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, menjujung bahasa perastuan bahasa Indonesia. Selanjutnya identitas nasional ini dituangkan dalam dasar negara kita Pancasila. Pancasila berperan sebagai Jati Diri bangsa, identitas nasional, yang membedakan Indonesia dengan negara lainnya. Identitas ini bukan hanya mengacu kepada sekelompok orang atau organisasi yang disebut negara, namun juga individu-individu yang berada didalamnya yang diikat karena adanya persamaan secara fisik seperti budaya, agama dan bahasa, maupun non fisik seperti keinginan, tujuan dan cita-cita. Identitas nasional Indonesia adalah identitas yang disepakati bersama ketika negara ini terbentuk, dan muncul setelah lama adanya identitas kesukubangsaan yang dimiliki oleh berbagai daerah di indonesia. Identitas nasional Indonesia kini lebih terperinci tercantum dalam konstitusi Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 35-36C. Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut:; Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Bendera negara yaitu Sang Merah Putih. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya Lambang Negara yaitu Pancasila. Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila. Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Konsepsi Wawasan Nusantara. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional.
Kemajemukan yang berada di bangsa ini merupakan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kemajemukan ini adalah hasil dari ciri utama manusia yaitu artistik, dimana sejak ratusan tahun lampau sampai kini hasil daya cipta artistik manusia telah diyong ke luar tanah air kita, dan kini di museum-museum penting di eropa, Amerika dan berbagai negeri lain koleksi tembaga, tenun, batik, patung bambu dan kayu, ukiran kayu, tenunan Lampung, Batak, Toraja, Sumba, ukiran Bali, kerajinan perak dan emas, Kalimantan, maluku, merupakan koleksi yang patut dibanggakan dan digemari (Lubis, 2008).
Memang kemajemukan yang ada membuat beberapa perbedaan dan saling bertentangan antara satu warga dengan warga lain (bisa juga kelompok) perbedaan ini memang sangat berpotensi sebagai pemicu perpecahan dikalangan masyarakat yang tidak dapat menerimanya, Oleh karena itu perlu adanya pendidikan Multikulturalisme maupun Pluralisme yang ditanamkan bagi seluruh generasi yang disosialisasikan oleh agen-agen sosialisasi yang ada seperti keluarga, peer group, organisasi maupun lembaga terkait untuk menghayati nili-nilai panacasila sebagai pemersatu bangsa ditengah keadaan yang bersifat Heterogen ini, dan menurunkan ekslusifisme suatu kelompok dengan menanamkan nilai bahwa setiap identitas yang dimiliki setiap warga bernilai sama baik dan buruk seperti yang dimilikinya. Selain itu, pentingnya kesadaran akan perbedaan bukanlah suatu penghalang untuk berhubungan, berinteraksi atau sesuatu yang buruk, namun sebaliknya kemajemukan ini merupakan suatu keunggulan kita sebagai bangsa yang besar dengan keberagamannya.
BAB III
KESIMPULAN
Manusia dan masyarakat Indonesia memiliki beberapa mentalitas yang tidak cocok untuk pembangunan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya sehingga hal ini adalah tantangan bagi kita untuk merubah mentalitas tersebut untuk mendorong pembangunan di Negeri ini. Keberagaman atau kemajemukan Indonesia dapat menajdi sebuah kekayaan atau harta yang tak ternilai harganya, namusn disisi lain juga dapat menjadi awal bencana, yang diwujudkan dalam bentuk Konflik yang dapat memecah-belajkan bangsa Indonesia atau istilahnya Disintegrasi Bangsa. Untuk itu perlu adanya penanaman nilai multikulturalisme yaitu sebuah paham yang menerima dan memahami akan sebuah kemajemukan atau perbedaan yang dimiliki oleh setiap warga, mengingat bahwa Indonesia terdiri dari masyarakat yang sangat majemuk baik kebudayaan, golongan sosial maupun profesi, selain itu mempertegas paradigma atau persepektif Struktural Fungsional kepada masyarakat untuk memperkecil pandangan negatif terhadap berbagai perbedaan yang ada serta kesadaran Identitas Nasinal sebagai pemersatu perbedaan. Keseluruhan dari penjelasan diatas adalah tuntutan produk akhir berupa mentalitas yang baru guna mencapai kehidupan yang lebih baik sesuai dengan Ideologi dan Konstitusi negara.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2001.Kumpulan Makalah Diskusi sejarah Lokal : Pembangkangan Sipil dan Konflik Vertikal II. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
Koentjaraningrat. 1969. Rintangan-Rintangan Mental dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia. Jakarta: Bharata Djakarta
Koentjaraningrat. 1979. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djamban
Lubis, Mochtar. 1993. Budaya, Masyarakat dan Manusia Indonesia. Jakarta: Yayan Obor Indonesia
Lubis, Mochtar. 2008. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945