PENDAHULUAN
Manusia senantiasa bertumbuh dan berkembang sepanjang kehidupannya. Mulai dari manusia dikonsepsi dalam rahim, dilahirkan, kemudian tumbuh dari bayi menjadi anak-anak. Dari anak-ana manusia tumbuh menjadi remaja dan kemudian memasuki masa dewasa. Sampai pada akhirnya manusia memasuki masa tua dan kemudian meninggal. Pada setiap tahapan-tahapan kehidupannya, manusia senantiasa mengembangkan tingkah laku yang kemudian mencirikan tahapan kehidupan tersebut.
Tingkah laku merujuk pada cara seseorang, organisme, dan atau kelompok untuk memberikan respon terhadap seperangkat kondisi-kondisi tertentu. Tingkah laku manusia dapat dibedakan atas dua, yaitu tingkah laku yang tampak dan tingkah laku yang tidak tampak. Istilah untuk tingkah laku yang tampak pada manusia adalah overt behavior atau dalam bahasa riset adalah observable behavior. Tingkah laku yang tidak tampak dikenal sebagai covert behavior atau unobservable behavior. Covert behavior ini dapat berupa sikap (attitude), persepsi, emosi dan motif-motif. Apabila hal itu ditampakkan dalam wujud tingkah laku yang dapat diamati secara langsung maka disebutlah overt behavior.
behavior. Banyak faktor lain yang tercakup dalam konteks lain, misalnya konteks sosial, yang menentukan perilaku (Sarwono & Meinarno, 2011).
Hubungan sikap dan perilaku dapat dipengaruhi oleh kuat lemahnya sikap yang dimiliki yang bergantung pada ekstremitas dan pengalaman pribadi masing-masing orang. Teori tentang hubungan sikap dan perilaku (hubungan overt dan covert behavior) dijelaskan dalam teori perilaku beralasan/theory of reason action (Fishbein & Ajzen, 1980); teori perilaku berencana/ theory of planned behavior (Ajzen, 1991); dan teori tentang hubungan spontan antara sikap dan perilaku yang dijelaskan dalam attitude-to-behavior process model (Fazio, 1989) (Sarwono & Meinarno, 2011).
Teori-teori tentang perilaku manusia berkembang seiring dengan perkembangan ilmu psikologi, yang merupakan ilmu yang mengkaji mengenai perilaku manusia. Berbagai konsep dan istilah tentang perilaku muncul, di antaranya adalah konsep tentang perilaku berisiko (risk behavior/risky behavior) atau dikenal juga dengan perilaku pengambilan risiko (risk-taking behavior). Risk behavior merupakan suatu konsep yang sangat luas meliputi berbagai konteks dalam kehidupan. Risk behavior dari sisi psikologi sendiri dapat dipandang dari perspektif psikologi sosial dan juga perspektif psikologi klinis.
Fenomena perilaku berisiko dapat dipandang sebagai fenomena sosial, misalnya merokok serta penggunaan obat-obatan terlarang. Apabila perilaku tersebut menimbulkan suatu abnormalitas pada diri individu maka perspektif psikologi klinis dapat digunakan. Dewasa ini, psikologi klinis berupaya memasuki wilayah makro, bukan sekedar wilayah mikro. Konsep mengenai risk behavior ini dapat juga dibahas dari sisi klinis makro yang berarti memerlukan perspektif sosial.
Survey ini menggambarkan beberapa perilaku yang termasuk berisiko, yaitu personal safety; penggunaan rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang; perilaku dan orientasi seksual; body image; serta nutrisi dan aktivitas fisik. Dalam suatu artikel ilmiah yang diterbitkan oleh Ohio State University, beberapa perilaku remaja yang dikategorikan sebagai perilaku berisiko adalah penggunaan produk tembakau (merokok), kekerasan, penggunaan marijuana dan minuman keras, serta perilaku seks bebas (Newby & Snyder, 2009).
Perilaku berisiko juga dipandang sebagai perilaku negatif di kalangan masyarakat Indonesia secara umum. Hal ini diantaranya didukung oleh definisi perilaku berisiko dalam modul Pendidikan Remaja Sebaya Palang Merah Indonesia. Perilaku dikategorikan berisiko, apabila perilaku itu bisa berpeluang mendatangkan kerugian saat ini dan atau di masa yang akan datang terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kerugian ini bisa berupa material, fisik, harga diri, rasa malu, kehilangan kesempatan, kehilangan masa depan, dan seterusnya (PMI, 2008).
Lebih lanjut perilaku dikatakan berisiko bergantung pada dampak atau konsekuensinya. Pada dasarya tidak mudah untuk melabel bahwa apakah suatu perilaku berisiko atau tidak karena ada perilaku yang dianggap negatif ternyata memiliki hasil yang positif (Schulenberg (Skaar, 2009) dan perilaku yang secara umum dipertimbangkan positif ternyata dapat memberikan hasil negatif. Studi kualitatif baru-baru ini menunjukkan bahwa remaja memahami risiko dikaitkan dengan keputusan dan aktivitas yang diterima secara sosial (Skaar, 2009).
subjektif yang ditunjukkan sebagai keresahan dan kekhawatiran dalam pertemuan interpersonal (Buss; Leary & Schlenker; Zimabardo (Gökhan, 2010)
Faktor shyness dibahas lebih spesifik karena faktor tersebut belum memiliki kedudukan yang pasti terkait dengan pengaruhnya terhadap perilaku berisiko. Dengan kata lain, pengaruhnya terhadap perilaku berisiko dapat bersifat negatif dan juga positif. Ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa shyness menjadi faktor yang memengaruhi kecenderungan remaja terlibat dalam perilaku berisiko. Namun sebaliknya, ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa shyness yang merupakan karakteristik personal ini dapat mencegah remaja untuk terlibat dalam perilaku berisiko. Hasil penelitian yang kedua ini dapat memberikan informasi kepada pembaca bahwa shyness yang umumnya dipandang sebagai suatu karakter yang negatif ternyata memiliki pengaruh yang positif pula.
Meskipun telah banyak literatur yang membahas mengenai perilaku berisko, topik tersebut tetap dibahas oleh penulis dalam tulisan ini. Sisi yang ingin diperlihatkan dalam tulisan ini adalah pergeseran pandangan mengenai perilaku berisiko. Perilaku berisiko tidak selamanya dipandang sebagai perilaku negatif melainkan juga perilaku yang lebih positif. Perilaku berisiko bukan hanya ditinjau dari perspektif psikologi negatif. Psikologi positif sebagai cabang yang relatif baru dari psikologi juga dapat digunakan untuk memandang perilaku berisiko tersebut. Selain itu, tulisan ini menekankan faktor-faktor yang dapat memengaruhi perilaku berisiko, termasuk shyness yang dibahas secara lebih spesifik sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya.
Perilaku berisiko dalam tulisan ini tetap berfokus pada remaja. Hal ini didasarkan pada data-data bahwa perilaku berisko yang negatif banyak dikembangkan oleh remaja di seluruh dunia. Masa remaja memang dianggap sebagai masa ketika perilaku berisiko mulai meningkat. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa status biologis khususnya status pubertas menjadi faktor signifikan dalam perilaku remaja (Richey, 2005). Selain itu, sasaran dalam pendidikan kesehatan yang digeluti oleh penulis adalah remaja, yaitu dengan pendekatan pendidikan sebaya (peer educators). Lebih dari itu, masyarakat umumnya masih berasumsi bahwa remaja merupakan masa yang sulit. Perubahan yang pesat dari berbagai aspek perkembangan terjadi ketika masa remaja. Ketika individu dapat melalui masa remaja dengan baik maka masa-masa selanjutnya juga akan diikuti dengan perkembangan yang baik.
Secara umum, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji mengenai konsep perilaku berisko. Secara khusus tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan perkembangan pengertian ataupun pandangan terhadap perilaku berisko. Juga memahami mengenai karakteristik perilaku berisiko dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Faktor yang dikaji secara lebih spesifik adalah shyness. Pemahaman mengenai karakteristik perilaku berisiko dan faktor yang mungkin berkaitan dengan perilaku berisiko pada remaja diperlukan oleh berbagai pihak, terutama orang tua dan para pembina remaja lainnya, untuk kemudian bisa memberikan intervensi-intervensi yang tepat sebagai upaya mengurangi dampak negatif perilaku berisko pada remaja. Upaya pengurangan dampak negatif dan peningkatan dampak positif dari perilaku remaja ini akan mengarah pada pengembangan kesehatan mental pada remaja. Kondisi yang sehat mental pada remaja tentunya akan menjadikan remaja lebih mampu berkontribusi secara positif agar dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
TEORI DAN KONSEP DASAR
dibahas oleh berbagai perspektif pendekatan teori. Dalam ilmu psikologi, ada empat perspektif utama yang membahas mengenai dinamika tingkah laku yang diangkat oleh penulis, yaitu perspektif behavioristik, perspektif psikoanalisa, perspektif humanistik, dan perspektif kognitif. Dalam perkembangannya, bermunculan berbagai teori dalam psikologi yang berorientasi pada dua atau lebih perspektif tersebut. Salah satu teori tersebut adalah Teori Lapangan (Field Theory) yang disebut juga sebagai Teori Psikodinamika (Sarwono, 2013). Teori ini menggunakan perspektif kognitif karena berangkat dari aliran Psikologi Gestalt. Teori Lapangan yang dikembangkan oleh Lewin ini banyak digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku-perilaku sosial. Dalam paper ini, perilaku berisiko lebih dipandang sebagai perilaku sosial. Dengan demikian, teori dasar untuk tentang perilaku berisiko yang digunakan Penulis dirujuk dari Teori Lapangan.
Dalam paper ini, konsep perilaku berisiko tidak dibahas dari satu ahli saja. Perilaku berisiko juga tidak dibahas dari satu perspektif. Perilaku berisiko dibahas dari berbagai perspektif dan dari berbagai sudut pandang peneliti. Meskipun demikian, konsep-konsep mengenai perilaku berisiko banyak diambil dari penelitian Laura Richey (2005) dan Nicole Skaar (2009). Tulisan-tulisan keduanya banyak merujuk pada pemikiran peneliti terdahulu mengenai perilaku sosial, termasuk perilaku berisiko.
Perilaku berisiko yang dibahas sebagai konsep dasar adalah perilaku berisiko yang didasarkan pada pandangan klasik mengenai perilaku berisiko, yaitu perilaku yang mengarah pada dampak negatif. Jurnal-jurnal ilmiah mengenai perilaku berisiko pada remaja banyak dipublikasikan pada tahun 1900-an. Pada saat itu, perilaku berisiko banyak dibahas sebagai suatu masalah pada remaja, terutama masalah sosial. Irwin dan Yates adalah dua diantara peneliti yang mengkaji mengenai perilaku berisiko yang merupakan suatu perilaku yang berdampak negatif. Hasil-hasil studi mereka banyak dimuat dalam jurnal perilaku berisiko pada remaja dan jurnal mengenai kesehatan remaja.
risiko sebagai suatu konsep multidimensional dan mengusulkan definisi yang mencakup pertimbangan potensi kerugian, probabilitas kerugian, dan signifikansi dari potensi kerugian. Definisi tersebut membahas potensi hasil yang merugikan, tetapi gagal untuk mengatasi hasil yang berpotensi konstruktif. Perilaku tersebut sering merujuk pada definisi seperti penyalahgunaan obat-obatan, perilaku seksual berisiko, dan perilaku nekad lainnya (seperti perkelahian, aktivitas dalam geng dan mengemudi dengan ceroboh). Penelitian telah jelas menunjukkan bahwa perilaku tersebut dikaitkan dengan dampak terhadap kesehatan dan pendidikan yang negatif. Sampai saat ini, pandangan terhadap perilaku berisiko memang masih cenderung pada suatu hal yang negatif bagi remaja. De Guzman dan Pohlmeier (2014) menyatakan bahwa perilaku berisiko yang tinggi adalah semua perilaku yang dapat memberikan efek yang merugikan terhadap keseluruhan perkembangan dan kesejahteraan (well-being) remaja, atau mungkin dapat mencegah mereka mencapai kesuksesan dan perkembangan masa depan.
Bersesuaian dengan pengertian di atas maka karakteristik perilaku berisiko ditandai setidaknya oleh dua hal. Pertama adalah memberikan dampak yang merugikan secara signifikan bagi remaja baik pada saat ini maupun pada masa yang akan datang. Kedua adalah berpotensi memberikan kemungkinan kerugian bagi perkembangan remaja saat ini dan di masa yang akan datang. Secara lebih nyata, perilaku berisiko adalah perilaku yang dapat menyebabkan perkembangan remaja terganggu serta ketidakmampuan remaja mencapai well-being. Beberapa konsekuensi negatif yang signifikan dari perilaku berisiko adalah penularan penyakit seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, putus sekolah, pengangguran, kecelakaan, ketergantungan zat dan alkohol, pengeluaran biaya medis yang besar, hukuman penjara, disabilitas fisik dan psikologis dan kematian (Arnett; Irwin et al.; Muuss & Porton; Spear (Richey, 2005).
Severson; Boyer (Skaar, 2009). Pengambilan keputusan tentunya melibatkan persepsi dan pengetahuan individu. Pengambilan keputusan membutuhkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pengatahuan tentang konsekuensi negatif perilaku berisiko tidak mencegah remaja dari keterlibatan dalam perilaku berisiko (Arnett; Igra & Irwin; Levitt, Selman & Richmond; Muuss & Porton (Richey L, 2005). Meskipun demikian, beberapa bukti menunjukkan bahwa remaja mendesak kemampuan kognitif dengan mengakui konsekuensi dari keputusan mereka (Keating; in Graber & Brooks-Gunn (Richey L, 2005). Penelitian lain mengklaim bahwa remaja lebih sering mengakui konsekuensi jangka pendek daripada mengakui konsekuensi jangka panjang (Igra & Irwin; Muuss & Porton (Richey L., 2005).
Para ahli perspektif biologis menduga bahwa perilaku berisiko dihasilkan dari proses biologis seperti terjadinya lonjakan hormon secara natural (Urdy (Skaar, 2009), waktu kematangan pubertas (Irwin & Milstein (Skaar, 2009), dan trait yang secara personal diwariskan (Zuckerman, Bone, Neary, Mangelsfoff & Brustman (Skaar, 2009). Usia remaja dapat berkaitan dengan level hormon meskipun secara tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa aspek biologis, khususnya pubertas kemungkinan menjadi faktor signifikan dalam perilaku remaja (Richey, 2005).
pada masa anak-anak (Arnett; Crockett & Petersen; Igra & Irwin; Irwin et al.; Muuss & Porton; Ponton (Richey, 2005); de Guzman & Pohlmeier, 2014)
Tingkat perilaku berisiko yang tinggi juga dikaitkan dengan tingkat pencarian sensasi yang tinggi (Arnett; Spear (Richey, 2005). Pengaruh teman sebaya juga ditandai sebagai faktor sosial yang utama, yang menyebabkan perilaku berisiko pada remaja. Pada masa remaja, pendapat teman sebaya lebih diprioritaskan oleh remaja dibandingkan pendapat keluarga (Arnett; Crockett & Petersen; Igra & Irwin; Irwin et al. (Richey, 2005). Orang tua juga memiliki pengaruh yang besar terhadap keterlibatan anak dalam perilaku berisiko. Remaja yang memiliki orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan yang authoritarian atau permisif akan lebih cenderung mengambil risiko dibandingkan remaja yang orang tuanya menerapkan pola asuh authoritative (Crockett & Petersen; Irwin et al.; Levitt, Selman, & Richmond (Richey, 2005). Komunikasi anak dan orang tua yang kurang, pengawasan orang tua yang rendah (misalnya, orang tua tidak sadar dengan apapun yang dilakukan anak remajanya), dan kurangnya dukungan keluarga, menjadi faktor familial yang memengaruhi perilaku berisiko pada remaja (de Guzman & Pohlmeier, 2014).
Variabel ektra-familial juga memainkan peranan dalam keterlibatan remaja pada perilaku berisiko. Beberapa faktor tersebut, yaitu remaja yang mengalamai iklim negatif di sekolah, kualitas kehidupan tetangga yang buruk, status sosioekonomi yang rendah, dan hubungan yang buruk dengan orang dewasa selain orang tua (de Guzman & Pohlmeier, 2014). Media juga memiliki pengaruh yang kuat pada perilaku remaja (Igra & Irwin; Irwin et al.; Ponton (Richey, 2005). Media sering menggambarkan remaja-remaja yang terlibat dalam perilaku berisiko seperti merokok, meminum minuman keras, serta seks pranikah.
REVIEW JURNAL HASIL PENELITIAN
sebelumnya yang sudah ada, juga untuk melihat kemungkinan lain berkaitan dengan perilaku berisiko. Penelitian yang dilakukan juga menggunakan berbagai metode. Penelitian yang berhubungan dengan perkembangan remaja umumnya berupa penelitian longitudinal. Metode lainnya seperti penelitian survey dan cross-sectional. Penelitian mengenai perilaku berisiko menggunakan pendekatan kualitatif ataupun kuantitatif, juga menggunakan kedua pendekatan tersebut dalam satu penelitian. Penelitian-penelitian ini penting untuk melihat perkembangan konsep perilaku berisiko.
maladaptif dengan hasil negatif yang potensial dan perilaku adaptif dengan potensi pertumbuhan psikologis dan fisik. Definisi ini membuka pintu untuk pandangan yang lebih positif terhadap perilaku berisiko dan menciptakan potensi untuk memahami partisipasi dalam perilaku berisiko sebagai kekuatan, bukan sekedar pembatasan (Skaar, 2009).
Selanjutnya, berkaitan dengan faktor yang memengaruhi perilaku berisiko maka faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan dalam model yang lebih komperehensif, yaitu model biopsikososial. Perspektif ini memandang bahwa perilaku berisiko merupakan perilaku fungsional yang dihasilkan dari interaksi genetik, lingkungan sosial, lingkungan yang dipersepsi, trait personal dan pengalaman dalam berperilaku. Model tersebut menjadikan perilaku berisiko sebagai suatu kebutuhan untuk remaja dalam mencapai tugas perkembangannya. Dengan demikian, perspektif yang paling baru pada perilaku berisiko remaja konsisten dengan gagasan bahwa peningkatan perilaku berisiko pada remaja adalah fungsi dari tipe perkembangan (Steinberg, 2007).
Model perkembangan menyediakan perspektif yang berbeda di mana perilaku berisiko dipertimbangkan pada level makro dibandingkan level mikro. Perspektif perkembangan memandang bahwa perilaku berisiko adalah bagian dari perkembangan remaja untuk mencapai kematangan. Untuk bisa mencapai perkembangan maka individu memang harus mengambil suatu risiko. Remaja juga mengambil risiko dalam perkembangannya dalam cakupan dunia yang lebih luas dan ruang gerak yang lebih lebar. Kemampuan kognitif dan sosial digunakan untuk menganalisis dan memilih perilaku beirisko. Remaja ditandai dengan tahap dalam kehidupannya ketika self-awareness dan identitas personal menjadi suatu konflik dengan pihak otoritas. Remaja yang dapat melalui konflik dapat bertransformasi menjadi seorang dewasa muda yang percaya diri sehingga tujuan karir akan lebih muda dicapai (Skaar, 2009).
Meskipun demikian, risiko yang dipersepsikan lebih tinggi dapat menyebabkan tindakan protektif yang kurang (Brewer, Weinstein, Cuite, & Herrington, 2004). Padahal seyogianya persepsi risiko yang tinggi dapat meningkatkan tindakan protektif.
Berkaitan dengan penilaian terhadap perilaku berisiko, Steinberg (2007) menemukan bahwa kecenderungan remaja yang lebih besar untuk mengambil risiko bukan dikarenakan perbedaan usia terkait penilaian atau persepsi terhadap risiko, tetapi perbedaan usia terkait faktor psikososial yang memengaruhi regulasi diri (self-regulation). Ini menunjukkan bahwa masa remaja merupakan suatu periode yang memiliki kerentanan yang tinggi terhadap pengambilan risiko karena suatu disjungsi antara hal-hal baru dan pencarian sensasi (yang keduanya meningkat secara dramatis pada masa pubertas) dan perkembangan kompetensi regulasi diri, yang mana belum sepenuhnya matang sampai mencapai masa dewasa awal. Disjungsi ini didorong secara biologis, normatif, dan tidak mungkin diperbaiki melalui intervensi pendidikan yang didesain untuk mengubah persepsi, penilaian ataupun pemahaman remaja terhadap risiko. Intervensi seyogyanya dimulai dari anggapan dasar bahwa remaja secara inheren cenderung mengambil risiko dibandingkan orang dewasa dan seyogyanya berfokus pada penurunan bahaya yang berhubungan dengan perilaku berisiko.
terhadap perilaku kesehatan berisiko pada remaja. Secara lebih spesifik, hubungan keduanya dimediasi oleh loneliness (kesepian). Loneliness berhubungan dengan perilaku merokok. Parental attachment berasosiasi dengan law abidance. Law abidance adalah bagian dari konformitas sosial. Law abidance kemudian berhubungan dengan perilaku seksual, hanya bagi remaja perempuan (Christopherson & Conner, 2012).
Perilaku berisiko diasosiasikan dengan kondisi keluarga yang mendukung. Keluarga yang suportif dihubungkan dengan peningkatan kepercayaan diri, toleransi terhadap stres yang lebih tinggi, dan memiliki self-initiation yang lebih tinggi (Skaar, 2009). Sebaliknya keluarga yang kurang suportif dapat membuat remaja cenderung berperilaku berisiko. Misalnya, orang tua remaja yang minum alkohol cenderung mempengaruhi remaja untuk berperilaku berisiko lebih besar dibandingkan dengan remaja dengan orang tua yang tidak minum alkohol. Sementara remaja yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) cenderung lebih berperilaku berisiko dibanding remaja yang tidak mengalami KDRT (Hidayangsih, Tjandrarini, Mubasyiroh dan Supanni, 2011)
perlu mempertimbangkan efek protektif dari hubungan antara orang tua dan anak serta pengawasan orang tua yang signifikan.
Hal yang dikaitkan dengan hubungan orang tua dan anak adalah status ibu yang bekerja. Pandangan umum masyarakat adalah ibu-ibu yang bekerja tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk mengurusi aktivitas anaknya termasuk perilaku kesehatan berisiko. Hal itu tidak cukup kuat untuk dijadikan suatu argumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku kesehatan berisiko di kalangan remaja memiliki pervalensi yang sama-sama baik pada remaja yang memiliki ibu yang bekerja sebagai pegawai maupun yang tidak bekerja. Sehingga disimpulkan bahwa pola pekerjaan ibu tidak memengaruhi perkembangan remaja selama pengawasan ibu cukup efektif terhadap anak. Kurangnya pengawasan remaja yang memadai membuatnya lebih cenderung untuk mengembangkan perilaku beirisko. Meskipun demikian, remaja yang memiliki ibu yang tidak bekerja ditemukan lebih merasa puas dengan peran ibunya dalam keidupan sehari-hari dibandingkan remaja yang ibunya bekerja (Adhikari & Adhikari, 2014).
persempitan secara signifikan (menurun) pada dekade akhir-akhir ini (Abbott-Chapman, Denholm, & Wyld, 2008). Artinya, pada saat ini perbedaan gender tidak memberikan pengaruh yang begitu kuat terhadap pengambilan risiko pada remaja. Hubungan antara gender dan keterlibatan dalam perilaku berisiko adalah hubungan yang kompleks dan mungkin berdasar pada sejumlah faktor-faktor biologis dan lingkungan (Christopherson & Conner, 2012).
Faktor sosial lainnya yang dihubungan dengan perilaku berisiko adalah budaya. Pertanyaan bahwa apakah budaya berpengaruh terhadap perilaku pengambilan risiko remaja merupakan pertanyaan yang tidak dapat dipastikan jawabannya. Suatu studi di Amerika memaparkan bahwa remaja Amerika berasal dari latar belakang ras dan etnis yang beragam, tetapi mereka masih remaja yang dapat terlibat dalam perilaku risiko (Christopherson & Jordan-Marsh, 2004). Pada dasarnya jika kita merujuk pada perspektif perkembangan, maka semua remaja di dunia ini dapat terlibat dalam perilaku berisiko meskipun mereka berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Meskipun demikian, budaya dapat menjadi variabel yang berpengaruh terkait dengan konsep kesehatan remaja itu didefinisikan.
Para pembina remaja perlu mengatasi kebutuhan-kebutuhan khusus remaja terkait budayanya. Pembina remaja dapat menjadi seseorang yang kompeten secara budaya dengan menjadi sadar diri, mengembangkan pengetahuan tentang kesehatan dan perbedaan budaya, dan belajar untuk melihat orang-orang muda dan komunitas mereka sebagai suatu mitra dan tetap berhati-hati untuk menyamakan budaya dari setiap etnis yang ada. Secara keseluruham, penting untuk mengenali nilai-nilai budaya tradisional, dan mengakui atribut pribadi remaja untuk mempromosikan gaya hidup sehat dan mencegah perilaku pengambilan risiko (Christopherson & Jordan-Marsh, 2004).
Tjandrarini, Mubasyiroh dan Supanni, 2011). Meskipun demikian, hubungan antara pendidikan dan pekerjaan dengan perilaku berisiko sejalan dengan hubungan gender dan usia terhadap perilaku berisiko. Faktor tersebut bukanlah faktor tunggal. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, yang dapat memediasi hubungan antara pendidikan dan pekerjaan dengan perilaku berisiko.
Secara lebih luas, suatu studi intergenerasi di Australia menunjukkan bagaimana perbedaan perilaku berisiko pada remaja dan generasi ibunya yang tergolong dewasa. Meskipun pola aktivitas berisiko kompleks, tampak bahwa level konsumsi alkohol dan perilaku minum berlebihan (binge drinking) lebih tinggi pada remaja perempuan dibandingkan generasi ibu mereka (Abbott-Chapman, Denholm, & Wyld, 2008). Hal ini mengindikasikan adanya perubahan perilaku berisiko dari masa ke masa, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain faktor eksternal, faktor internal yang lebih bersifat personal juga memengaruhi perilaku berisiko. Beberapa faktor sudah disebutkan, seperti motivasi, persepsi, regulasi-diri, stress, loneliness serta shyness. Faktor-faktor tersebut dapat saling berhubungan. Shyness berhubungan secara positif dengan loneliness (Gökhan, 2010; Christopherson & Conner, 2012). Telah disebutkan bahwa loneliness berhubungan dengan perilaku merokok (Christopherson & Conner, 2012).
lainnya bahwa shyness meningkatkan risiko penggunaan zat-zat terlarang pada remaja (Christopherson & Conner, 2012).
Chack dan Leung (2004) menunjukkan bahwa tingkat shyness yang lebih tinggi berasoisasi dengan peningkatan adiksi terhadap penggunaan internet. Meskipun diasosiasikan dengan adiksi yang moderat, namun secara statistik hal itu signifikan dalam peningkatan adiksi internet. Adiksi terhadap internet dapat mengantarkan remaja pada perilaku berisiko seperti pelecehan seksual, agresivitas dan malas belajar. Di sisi lain, shyness dapat berdampak pada penurunan kecenderungan perilaku beirisiko. Zalk, Kerr M, dan Weaver (2011) menunjukkan dalam hasil penelitiannya bahwa shyness dapat menjadi suatu moderator atau buffer terhadap perilaku berisiko bagi remaja awal. Sejalan dengan penelitiannya yang serupa bahwa shyness dapat menjadi faktor protektif terhadap masalah perilaku bagi remaja.
impulsivitas dan orang yang pemalu secara umum lebih kurang impulsif dan lebih ragu-ragu (Caspi & Silva (Zalk, Kerr & Tilton-Weaver, 2011). Oleh karena itu, karakteristik shyness seperti kurangnya impulsivitas, ketakutan dan keragu-raguan, dapat bersifat protektif terhadap partisipasi remaja dalam perilaku bermasalah.
Cara lain yang menunjukkan bahwa shyness dapat mengurangi risiko keterlibatan dalam perilaku berisiko adalah dengan pembatasan pada kesempatan untuk terlibat dalam hubungan romantis, dalam hal ini berpacaran. Remaja awal yang sedang berpacaran secara otomatis mulai berafiliasi dengan kelompok sebaya dimana hubungan seksual dan meminum minuman keras bersifat normatif. Shyness membatasi keterlibatan remaja dalam perilaku bermasalah dalam beberapa cara. Pertama, terkait dengan hubungan yang romantis. Remaja dan orang dewasa yang pemalu lebih jarang berkencan dan lebih sedikit melakukan hubungan seksual, dibandingkan dengan orang lain yang tidak pemalu dalam berhubungan (Asendorpf & Wilpers; Jones & Carpenter; Leary & Dobbins; Prisbell; Zimbardo (Zalk, Kerr & Tilton-Weaver, 2011). Kedua, terhadap situasi sosial. Ketika orang dewasa yang pemalu mengatasi keraguan mereka dan mengambil bagian dalam peristiwa sosial, mereka tidak banyak berbicara dengan orang lain dan cenderung menghabiskan waktu lebih sedikit pada beberapa kejadian (Asendorpf & Wilpers; Dodge, Heimberg, Nyman, & O'Brien; Himadi, Arkowitz, Hinton, & Perl; Twentyman & McFall; Watson & Friend (Zalk, Kerr & Tilton-Weaver, 2011). Dengan demikian, shyness dapat membatasi kesempatan bagi remaja yang terlibat dalam suatu hubungan romantis untuk terlibat dalam kegiatan minum minuman keras atau terlibat dalam pengalaman seksual.
telah menunjukkan bahwa alkohol dapat menurunkan kecemasan sosial dan shyness (Hartman; O’Hare; Burke & Stevens (Zalk, Kerr & Tilton-Weaver, 2011). Sebenarnya, dewasa muda yang pemalu melaporkan bahwa perilaku meminum alkohol dalam situasi sosial merupakan upaya untuk mengatasi rasa malu dan peminum yang bermasalah cenderung memiliki tingkat shyness yang tinggi (Lewis & O’ Neill, 2000).
Alasan kedua yang memungkinkan shyness dapat meningkatkan risiko perilaku bermasalah adalah bahwa shyness dikaitkan dengan self-esteem yang rendah, khususnya selama masa remaja awal (Cheek & Melchior; Crozier; Kemple; Schmidt & Robinson; Smith & Betz (Zalk, Kerr & Tilton-Weaver, 2011). Remaja dengan self-esteem yang rendah akan lebih mudah mendapatkan pengaruh teman sebaya (Brown; Brown, Clasen, & Eicher (Zalk, Kerr & Tilton-Weaver, 2011). Penelitian telah menunjukkan bahwa pada beberapa individu, shyness dapat ditandai dengan konformitas terhadap ide dan mempertahankan sikap netral terhadap orang lain (Cheek & Krasnoperova; Leary & Kowalski; Lewinsky (Zalk, Kerr & Tilton-Weaver, 2011). Hal ini dapat dengan mudah dibayangkan bahwa remaja yang takut secara sosial dan memiliki self-esteem yang rendah dapat melakukan sesuatu yang mereka percayai harus dilakukan, seperti melakukan hubungan seks pranikah dan mabuk-mabukan. Dengan demikian, shyness dapat memperburuk risiko partispasi remaja dalam perilaku berisiko, dalam hal ini perilaku kesehatan berisiko.
Shyness dapat memengaruhi munculnya perilaku adapatif dan maladaptif pada anak-anak dalam bergaul dengan teman sebayanya. Hal tersebut bergantung pada dua aspek dari kemampuan regulasi emosi, yaitu regulasi fisiologis anak-anak dan sosialisasi emosi maternal (Davis & Buss, 2012). Hal ini menunjukkan pentingnya regulasi diri sejak dini untuk mencegah perilaku-perilaku berisiko yang negatif. Selain itu, hal ini menunjukkan pentingnya peran orang tua, khususnya ibu, dalam sosialisasi emosi dan membangun hubungan emosional yang dekat dengan anaknya. Hal ini dapat mencegah anak terlibat dalam perilaku berisiko negatif.
pada gilirannya dapat menimbulkan stres dan atau depresi. Stres dapat mendorong remaja terlibat dalam perilaku berisiko. Hasil penelitian eksperimen menunjukkan bahwa remaja akhir yang mengalami kondisi stress mengambil risiko yang lebih dibandingkan mereka yang tidak berada di bawah kondisi stres. Meskipun demikian, perbedaan dalam pengambilan risiko di bahwa kondisi stres berhubungan dengan dasar kecenderungan pengambilan risiko (Johnson, Dariotis & Wang, 2012). Dalam penelitian tersebut diobservasi tiga tipe risk-takers, yaitu conservative (keakuratan yang tinggi, perencanaan rendah, pengambilan risiko rendah, serta kondisi impulsif kognitif yang moderat), calculated (keakuratan paling tinggi dan perencanaan yang baik berpasangan dengan kondisi impulsif kognitif yang paling rendah dan pengambilan risiko yang tinggi), dan impulsive (keakuratan yang sangat kurang, perencanaan yang kurang, pengambilan risiko tinggi dan kondisi impusif kognitif yang juga tinggi) (Johnson, Dariotis & Wang, 2012).
Berkaitan dengan upaya untuk mengetahui perilaku berisiko maka dikembangkan berbagai bentuk asesmen terhadap perilaku berisiko. Asesmen ini banyak dikembangkan di Amerika Serikat. Upaya pertama yang dilakukan adalah dengan menggunakan self-report. Namun dalam perkembangannya hasil self-report ini dipertanyakan reiabilitas dan validitasnya secara statistik. Oleh karena itu, dipertimbangkan alat ukur lain dapat mendeteksi kemungkinan ketidakjujuran dalam menuliskan self-report, yaitu The Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI).
masih sama. Item-item pertanyaannya meminta responden untuk melaporkan seberapa sering dalam waktu yang spesifik mereka berpartisipasi dalam suatu aktivitas dan pilihan respon didaftar dalam format pilihan ganda (multiple choice). Selain YRBS, sekolah-sekolah tertentu juga mengembangkan instrumen sendiri untuk penggunaan di sekolah yang bersangkutan.
Asesmen yang terbaru dikembangkan oleh Skaar (2009). Skaar (2009) mengembangkan suatu alat ukur terhadap perilaku berisiko dan persepsi terhadap perilaku berisiko. Skaar mengembangkan Adolescent Exploratory and Risk Behavior Rating Scale (AERRS). Skala ini dikembangkan dengan berdasarkan pada beberapa asesmen perilaku berisiko, yaitu YRBS, Iowa Youth Survey (IYS), dan Adolescent Risk Behavior Questionnaire (ARQ) dari Australia. AERRS ini tentunya memiliki realibilitas dan validitas yang terjamin secara statistik dan dapat digunakan secara umum di beberapa negara-negara, terutama di Amerika.
KERANGKA PIKIR
Dari hasil review jurnal ilmiah berkaitan dengan perilaku berisiko dan faktor-faktor yang memengaruhinya maka dapat digambarkan kerangka untuk memahami kedudukan perilaku berisiko. Perilaku berisiko dapat dilihat sebagai suatu hasil (output) dari suatu proses psikologis dalam diri individu. Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku berisiko dari luar individu dapat dilihat sebagai suatu masukan (input) terhadap proses dalam diri individu.
Faktor tersebut dapat dikategorikan sebagai bagian dari faktor perkembangan manusia dari berbagai aspek, yaitu aspek fisik, kognitif, sosial, emosi dan moral. Dengan perkataan lain faktor-faktor internal tersebut dihubungankan dengan perkembangan individu.
intervensi-intervensi. Intervensi tersebut memerkulan keterlibatan berbagai pihak yang dapat memengaruhi kecenderungan remaja dalam berperilaku, misalnya orang tua, guru dan teman.
Dari kerangka pikir di atas, berbagai variabel-variabel dapat kita tentukan untuk melakukan penelitian mengenai perilaku berisiko. Perilaku berisiko itu sendiri dapat menjadi variabel dependen atau juga menjadi variabel independen. Dari kerangka pikir di atas, perilaku berisiko cenderung menjadi variabel dependen yang dapat dipengaruhi oleh berbagai variabel independen, seperti pengaruh teman sebaya di sekolah, hubungan orang tua dan anak, dukungan keluarga, budaya, pekerjaan dan sebagainya. Karakter dan proses-proses psikologis, seperti hormon, shyness, kemampuan regulasi diri, coping stres, konformitas, dan sebagainya dapat dijadikan sebagai variabel independen. Faktor-faktor yang bersifat internal dan psikologis dapat dijadikan pula sebagai variabel antara/intervening, yang memediasi hubungan antara variabel independen (faktor eksternal) dan variabel dependen. Varibel lainnya juga dapat menjadi variabel kontrol apabila peneliti mengkaji perilaku berisiko dan intervensinya dalam suatu desain eksprimen.
PENUTUP
Perilaku berisiko merupakan suatu bahasan yang luas dan kompleks. Sejalan dengan perkembangan psikologi positif maka penting untuk memandang perilaku berisiko sebagai perilaku yang wajar bagi remaja dalam perkembangannya. Perilaku berisiko, dalam hal ini exploratory behavior, pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang perlu dilalui remaja untuk mencapai tugas perkembangannya. Pandangan yang lebih positif terhadap perilaku berisiko tentu akan menggeser cara kita memberikan asesmen dan intervensi. Perilaku tersebut dapat ditingkatkan atau setidaknya dipertahankan apabila memberikan dampak positif bagi perkembangan remaja. Jalan lain adalah bagaimana pihak pembina remaja menyalurkan respon dan lonjakan hormon karena perkembangan remaja ke arah exploratory behavior sehingga remaja tidak terjerumus dalam perilaku kesehatan berisiko.
Selain itu, dari pembahasan-pembahasan di atas, keluarga menjadi pihak yang perlu memberikan perhatian lebih dalam upaya pengurangan dampak negatif dari perilaku kesehatan berisiko. Keluarga menjadi suatu wadah dasar pembinaan anak sehingga dapat berkembang menjadi remaja yang sehat dan terbebas dari dampak-dampak negatif perilaku kesehatan berisiko. Peran-peran yang diperlukan dalam keluarga adalah peran ibu dan ayah, dibantu oleh pihak di luar keluarga seperti guru dan orang-orang lainnya yang signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abbott-Chapman, J., Denholm, C., & Wyld, C. (2008). Gender differences in risk taking: Are they diminishing? Youth and Society. 40, 131-154.
Adhikari, B. & Adhikari, B. (2014). Effect of mothers employment status on prevalence of risk behavior among adolescent students in Lalitpur Nepal. International Journal of Research in Health Sciences. 2 (3), 724 – 728. Brewer, N.T., Weinstein, N.D., Cuite, C.L. & Herrington, J.E. (2004). Risk
Perceptions and Their Relation to Risk Behavior. Annals of Behavioral Medicine. 21 (2), 125 – 130
Broh, B. (2002). Linking extracurricular programming to academic achievement: Who benefits and why? Sociology of Education. 75, 69-95.
Chak, K & Leung, L. (2004). Shyness and Locus of Control as Predictors of Internet Addiction and Internet Use. Cyber Psychology & Behavior. 7 (4), 559 – 570
Christopherson, M. & Jordan-Marsh, M. (2004). Culture and Risk Taking in Adolescent’s Behaviors. MCN. 29 (2), 100 – 105.
Christopherson, T.M. & Conner, B.T. (2012). Mediation of Late Adolescent Health-Risk Behaviors and Gender Influences. Public Health Nursing (PHN). 29 (6), 510 – 524. Doi: 10.1111/j.1525-1446.2012.01007.x
Cooper, H. Valentine, J.C., Nye, B., Lindsay, J. J. (1999). Relationships between five after-school activities and academic achievement. Journal of Educational Psychology. 91, 369-378.
David, E.L. & Buss, K.A. (2012). Moderators of the Relation between Shyness and Behavior with Peers: Cortisol Dysregulation and Maternal Emotion Socialization. Social Development. 21 (4), 801 – 820. doi: 10.1111/j.1467-9507.2011.00654.x.
de Guzman, M.R.T & Pohlmeier, L.A.(2014). High-Risk Behavior in Youth. NebGuide. University of Nebraska
Department of Health, Division of Health Surveillance. (2013). The 2013 Vermont Youth
Ebeling-Witte, S. Frank, M.L. & Lester, D. (2007). Shyness, Internet Use, and Personality. Cyber Psychology & Behavior. 10 (5), 713 – 716.
Gökhan BAŞ. (2010). An Investigation of the Relationship between Shyness and Loneliness Levels of Elementary Students in a Turkish Sample. International Online Journal of Educational Sciences. 2 (2), 419-440. Harris, C., Jenkins, M., & Glaser, D. (2006). Gender differences in risk
assessment: Why do women take fewer risks than men? Judgment and Decision Making. 1, 48–63.
Hidayangsih, P.S., Tjandrarini, D.H., Mubasyiroh, R. & Supanni. (2009). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Berisiko Remaja di Kota Makassar Tahun
2009. Retrieved on December, 14, 2014, from:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=70996&val=4882
Johnson, S.B., Dariotis, J.K. & Wang, C. (2012). Adolescent risk-taking under stressed and non-stressed conditions: Conservative, calculating and impulsive types. Journal Adolescent Health. 51(2), 34–40. Doi:10.1016/j.jadohealth.2012.04.021.
Lewis, B. A. & O’Neill, H. K. (2000). Alcohol expectancies and social deficits relating to problem drinking among college students. Addictive Behaviors. 25, 295–299.
Newby, K. & Snyder, A. (2009). Teen Risk Behavior. Fact Sheet, Family and Consumer Sciences. HYG-5240-09, p. 1 – 6.
Richey, Laura. (2005). The Relationship between Risk-Taking and Adolescent Pubertal Status. Retrieved on February 8, 2014 from: http://people.westminstercollege.edu/staff/mjhinsdale/Research_Journal_1/l aura_paper.pdf
Sarwono, W.S. (2013). Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Press Sarwono, S.W. & Meinarno, E.A. (2011). Psikologi Sosial: Jakarta: Salemba
Humanika
Skaar, N.R. (2009). Development of the Adolescent Exploratory and Risk Behavior Rating Scale. Dissertation of University of Minnesota. Retrieved
on February 9, 2014, from:
http://conservancy.umn.edu/bitstream/handle/11299/53807/Skaar_umn_013 0E_10490.pdf?sequence=1
Steinberg, L. (2004). Risk Taking in Adolescence, What Changes and Why?. Annals New York Academy of Sciences. 1021, 51 – 58