“
Tema: 6 Rekayasa Sosial dan Pengembangan Perdesaan
”
Salah satu program yang dikembangkan di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran adalah Program Integrasi Kakao-Kambing PE. Pilihan komoditas ini sesuai dengan konsep TTP adalah suatu kawasan implementasi inovasi berskala pengembangan dan berwawasan agribisnis hulu-hilir yang bersifat spesifik lokasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan program integrasi kakao-kambing dan prospek ke depannya. Teknik penelitian ini dilakukan dengan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD). Sampel petani sejumlah 30 orang diambil secara simple random sampling dan data yang diperoleh dianalisis deskriptif dengan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program integrasi sudah terjadi di Nglanggeran, dengan kombinasi tanaman dan ternak, khususnya kambing. Informasi mengenai program integrasi kakao-kambing sebagian besar diperoleh dari kelompok tani (73%). Selain dari kelompok tani, petani juga memperoleh informasi dari penyuluh (3%) dan BPTP (23%). Cara mengikuti program ini seragam yakni seluruh anggota kelompok tani yang membudidayakan kakao, dan tergabung dalam gapoktan wajib menjadi peserta program. Kegiatan yang banyak dilakukan adalah pelatihan yakni pelatihan budidaya kambing, pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing, budidaya kakao, serta fermentasi biji kakao. Program ini dinilai petani dapat menambah pengetahuan (70%) dan memberikan manfaat berupa bertambahnya pengalaman membudidayakan kakao sehingga mampu meningkatkan pendapatan. Untuk kelangsungan program ini perlu dilakukan koordinasi yang lebih baik antara BPTP dengan peserta program, sehingga tujuan dari program dapat lebih cepat tercapai dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terkait.
Kata kunci: integrasi kakao-kambing, petani.
ABSTRACT
cocoa cultivation and cocoa beans fermentation. This program is considered by farmers to increase their knowledge (70%) and to enhance their experience of cocoa cultivation, so that can increase their revenue. For the continuity of this program needs to be done with better coordination between BPTP and the participants, so the goal of the program can be more quickly achieved and provide benefits for those who included in this program.
Keywords: integration of cocoa-goat, farmer.
PENDAHULUAN
Indonesia pernah menjadi salah satu pengekspor kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading
dan Ghana, yaitu pada tahun 2002 dan tahun 2004 (Anonim, 2007). Potensi kakao yang besar ini
belum diimbangi dengan kualitas produk yang baik. Hal ini diakibatkan karena kurangnya
pengetahuan petani mengenai cara budidaya dan pengolahan pasca panen kakao. Rendahnya
pengetahuan petani menyebabkan kualitas produk kakao rendah, sehingga harga jual kakao yang
juga rendah. Hal ini bertolak belakang dengan harga jual produk kakao yang beredar dipasaran
yang cukup tinggi. Oleh karena itu perlu diciptakan teknologiyang mampu meningkatkan hasil
produksi kakao baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Salah satu teknologi yang dapat
dilakukan adalah dengan mengintegrasikan tanaman dengan ternak.
Sistem pertanian yang mengintegrasikan antara tanaman dengan ternak sebenarnya telah
dilakukan oleh petani sejak lama. Walaupun integrasi tanaman dengan ternak dilakukan secara
sederhana, namun cukup memberikan keuntungan bagi petani. Menurut Subayono (2004),
pengembangan sistem integrasi antara tanaman dengan ternak akan memberikan manfaat secara
langsung dan tidak langsung, terutama bagi kesejahteraan petani sekaligus peternak, baik berupa
tambahan penghasilan dari penjualan hasil produksi ternak, pemanfaatan limbah serta penyediaan
tambahan lapangan kerja. Petani terbiasa menanam serta mengusahakan beberapa jenis tanaman
dan ternak sekaligus. Integrasi tanaman dengan ternak menjadi semakin maju dengan semakin
baiknya teknologi terutama di bidang pertanian. sebagai sumber bahan organik untuk pupuk
tanaman kakao (Priyanto, 2008). Salah satunya teknologi integrasi tanaman-ternak yaitu teknologi
integrasi tanaman kakao dengan kambing Peranakan Etawa yang dilakukan oleh Taman Teknologi
Pertanian (TTP) Nglanggeran di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul,
Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Integrasi Kakao-Kambing berjalan dengan memanfaatkan
tanaman kakao dalam memberikan dukungan pakan terhadap ternak kambing, sebaliknya ternak
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode wawancara dan
FocusGroup Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada Bulan Juli hingga Agustus 2017.
Pengambilan data dilakukan kepada 30 responden yang merupakan petani kakao sekaligus
peternak kambing PE di Desa Nglanggeran Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul,
Daerah Istimewa Yogyakarta yang diambil secara
simplerandom sampling. Pemilihanlokasi penelitian yaitu Desa Nglanggeran dikarenakan program integrasi kakao-kambing
PE dilakukan di wilayah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan
program integrasi kakao-kambing di Taman Teknologi Nglanggeran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Desa Nglanggeran sebagai sentra pekebunan kakao di Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta
Desa Nglanggeran terletak di Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Desa Nglanggeran merupakan salah satu sentra perkebunan kakao yang ada
di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Desa Nglanggeran sebesar 762,8 ha dengan
luas lahan yang ditanami kakao seluas 101 hektare. Dengan kondisi wilayah yang didominasi oleh
pegunungan-perbukitan serta dengan ketinggian tempat sekitar 200-700 mdpl, maka daerah ini
merupakan salah satu daerah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman kakao.
Tanaman kakao sudah mulai dibudidayakan di wilayah ini sejak belasan tahun yang lalu.
Perkebunan kakao yang sudah ada cukup lama ini berjalan secara turun-temurun menjadi warisan
untuk keturunan selanjutnya, begitu juga dengan teknik budidaya yang diterapkan pada perkebunan
kakao mereka. Teknik yang digunakan merupakan teknik budidaya secara turun temurun. Teknik
budidaya yang tidak berubah sejak awal masuknya kakao hingga kurun waktu yanng cukup lama
menyebabkan hasil produksi yang tidak meningkat. Hingga pada tahun 2015, Balai Penelitian dan
Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mulai masuk ke Desa Nglanggeran dengan membawa
teknik budidaya kakao yang baru bagi petani kakao di Desa Nglanggeran.
Taman Teknologi Pertanian atau biasa disebut TTP merupakan salah satu program dari Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran
merupakan salah satu TTP yang ada di Indonesia. TTP Nglanggeran secara spesifik
kambing PE, unit pengolahan kakao dan susu kambing PE, kawasan kebun buah, kawasan
hortikultura, taman krisan dan tanaman sayuran hidroponik, yang terletak di Desa Nglanggeran,
Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul (Anonim, 2015).
B.
Informasi mengenai program integrasi kakao dengan kambing PE
Awal mula keikutsertaan petani kakao dalam program ini adalah tergabungnya petani dalam
gabungan kelompok tani (gapoktan) yang ada di Desa Nglanggeran. Petani kakao yang tergabung
dalam gapoktan diwajibkan untuk menjadi anggota dalam program integrasi kakao dengan
kambing PE di TTP Nglanggeran. Keikutsertaan petani dalam program tersebut diharapkan dapat
menambah pengetahuannya tentang kakao dan kambing. Dengan ilmu yang semakin baik,
harapannya hasil dari perkebunan kakao yang selama ini telah ditekuni petani mampu
menghasilkan produksi yang lebih tinggi, baik dari kualitas maupun dari kuantitasnya.
Informasi mengenai program integrasi kakao dengan kambing PE di Desa Nglanggeran yang
tersebar ke seluruh petani tidak lepas dari peran BPTP, penyuluh pertanian serta kelompok tani.
Persentase sumber informasi mengenai adanya program integrasi kakao dengan kambing PE di
Desa Nglanggeran dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1. Sumber informasi yang didapatkan petani di Desa Nglanggeran mengenai TTP
Nglanggeran
No Sumber Informasi Jumlah Persentase
1 Kelompok tani 22 73
2 BPTP 7 23
3 Penyuluh 1 2
Jumlah 30 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2017
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar petani mengetahui informasi
mengenai adanya program integrasi kakao dengan kambing PE yang dilaksanakan oleh TTP
Nglanggeran berasal dari kelompok tani yaitu sebesar 73%. Kelompok tani berperan besar program
ini karena kelompok tani merupakan sumber informasi yang paling awal yang menyebarkan
informasi tentang program ini. Kelompok tani juga merupakan organisasi yang diikuti oleh seluruh
petani yang ada di Desa Nglanggeran sehingga lebih mudah dalam menyebarkan informasi baru.
Selain dari kelompok tani, petani juga mengetahui program integrasi kakao dengan kambing PE
C.
Program-program di Taman Teknologi Pertanian Nglanggeran
Pertanian terpadu atau pertanian terintegrasi sebenarnya sudah diterapkan oleh petani sejak
lama. Pertanian terpadu tidak dapat dilepaskan dari kehidupan petani, karena setiap petani biasanya
akan mengusahakan berbagai macam tanaman maupun ternak secara bersama-sama. Petani akan
membudidayakan padi di sawah dan beternak sapi sekaligus. Limbah dari tanaman padi dapat
dijadikan sebagai pakan sapi, begitu juga dengan kotoran sapi yang bisa digunakan sebagai pupuk
kandang. Masuknya teknologi dari TTP Nglanggeran mampu memberikan pengetahuan mengenai
integrasi tanaman dengan ternak yang baru, yaitu pemanfaatan limbah kakao (kulit kakao) untuk
pakan ternak serta pemanfaatan kotoran kambing sebagai pupuk organik, baik pupuk padat maupun
pupuk cair.
Sebelum memberikan teknologi integrasi kakao dengan kambing PE, TTP terlebih dahulu
memberikan pelatihan budidaya kakao. Mulai dari pemupukan, pengairan, waktu dan cara
pemanenan yang baik, cara fermentasi kakao, pengolahan hasil buah kakao hingga. Sebelum
masuknya TTP ke Desa Nglanggeran, petani kakao membudidayakan tanamannya dengan ilmu
turun temurun sesuai dengan pengalaman leluhur mereka. Setelah TTP masuk ke Nglanggeran,
maka teknik budidaya yang dilakukan petani mulai berubah sehingga perlahan-lahan hasil
produksinya menjadi semakin baik. Jika sebelumnya cara fermentasi kakao hanya dilakukan 1-2
hari saja, maka setelah adanya pengarahan dari TTP, maka petani melakukan fermentasi kakao
minimal 5 hari. Lama fermentasi akan mempengaruhi kualitas kakao yang dihasilkan. Hasil
panenan kakao biasanya dijual mentah oleh para petani. Namun, setelah adanya teknologi
pengolahan pasca panen kakao, maka petani diajarkan cara mengolah kakao menjadi bahan
setengah jadi maupun bahan jadi, sehingga akan meningkatkan harga jual kakao.
Perawatan kambing PE juga merupakan salah satu program TTP Nglanggeran. Perawatan
kambing dimulai dari penggunaan kandang panggung, pemberian pakan yang tepat, pemerahan
susu kambing, pembersihan kandang hingga pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing, baik
pupuk padat maupun pupuk cair. Hasil susu perahan juga dioleh TTP Nglanggeran menjadi dodol
susu dan permen susu (Anonim, 2015). Pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini diharapkan mampu
meningkatkan pengetahuan petani mengenai ternak kambing sehingga mampu meningkatkan
ketrampilan serta pendapatan petani.
Petani di Desa Nglanggeran yang mengikuti Program Integrasi Kakao-Kambing PE
merupakan petani kakao yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (gapoktan) di desa
Tabel 3.2. Daftar kelompok tani yang ada di Desa Nglanggeran
Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa program integrasi kakao dengan kambing
PE diikuti oleh petani-petani yang tersebar dari lima dusun di Desa Nglanggeran, yaitu Dusun
Karangsari, Dusun Doga, Dusun Nglanggeran Kulon, Dusun Nglanggeran Wetan, dan Dusun
Gunung Butak. Selain petani, program dari TTP Nglanggeran ini juga diikuti oleh hampir seluruh
komponen yang ada di Desa Nglanggeran. Sebagai contoh, pada program pengolahan kakao
menjadi produk coklat serta susu kambing menjadi produk makanan maupun minuman.
Pengolahan ini membutuhkan ketrampilan dari ibu-ibu PKK sebagai sumberdaya pengolah
produk-produk tersebut. Pemuda juga merupakan komponen penting yang mendukung keberhasilan
program di TTP Nglanggeran. Pemuda diharapkan mampu mengenalkan
program-program tersebut ke dunia luar melalui media sosial.
D.
Manfaat program
Banyaknya program yang ada di TTP Nglanggeran mampu memberikan manfaat bagi
masyarakat. Baik bagi warga daerah sekitar TTP Nglanggeran, maupun warga di luar daerah.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa petani kakao di Desa
Nglanggeran memperoleh ilmu pengetahuan baru mengenai teknik bertani yang baru seperti teknik
budidaya kakao yang benar, teknik berternak kambing PE, pengolahan hasil panen kakao serta
pengolahan susu kambing PE yaitu sebesar 70%.
Program integrasi kakao-kambing yang diusung oleh TTP Nglanggeran mampu memberikan
pengetahuan baru bagi petani kakao dalam budidaya kakao yang baik dan benar, mulai dari
penanaman hingga pasca panennya. Ilmu yang baru ini tentunya mampu memberikan keuntungan
bagi petani, karena dengan teknik yang benar akan menghasilkan kakao dengan kualitas yang baik.
Pengolahan biji kakao yang baik juga akan menghasilkan kualitas coklat yang baik, sehingga harga
jualnya akan tinggi. Petani juga semakin mudah dalam menyediakan pakan bagi ternak mereka.
Seperti yang diketahui bahwa di daerah ini akan sulit mendapatkan pakan ternak pada musim
kemarau. Petani harus mencari pakan ke daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak
mereka. Namun dengan adanya teknologi ini, maka petani cukup terbantu dalam memenuhi pakan
Petani yang sebelumnya belum mengenal ternak kambing Peranakan Etawa (PE) juga
menjadi tahu bagaiamana kambing jenis PE ini mampu dikembangkan dan memiliki potensi yang
baik. Petani mampu menciptakan pupuk secara mandiri sehingga mengurangi pengeluaran untuk
pembelian pupuk untuk tanaman kakaonya. Selain itu, petani juga memiliki tambahan pendapatan
dari hasil penjualan susu maupun pupuk.
Selain petani, komponen masyarakat lain yang merasakan keuntungan dari adanya program
integrasi kakao-kambing ini adalah ibu-ibu di Desa Nglanggeran. Ibu-ibu diajarkan cara
pengolahan kakao menjadi bahan makanan baik perman coklat, coklat batangan, bubuk minuman
coklat instan, dan jenis makanan lain. Kelompo ibu-ibu ini juga mendapat edukasi tentang
pengolahan susu kambing hasil perahan menjadi berbagai macam olahan seperti permen susu dan
susu bubuk.
Selain bermanfaat bagi perseorangan, adanya program ini juga membawa nama baik bagi
Desa Nglanggeran secara keseluruhan. Karena selain sebagai wahana edukasi, adanya program dari
TTP ini juga mampu menciptakan wahana wisata yang baru. TTP Nglanggeran yang terletak di
daerah ekowisata Gunung Api Nglanggeran dan Embung Nglanggeran menjadi salah satu daya
tarik tersendiri. Dengan adanya program ini, maka menambah wahana wisata yang ada di Desa
Nglanggeran, khususnya wisata edukasi. Karena selain sebagai wahana edukasi, adanya program
dari TTP ini juga mampu menciptakan wahana wisata yang baru. TTP Nglanggeran yang terletak
di daerah ekowisata Gunung Api Nglanggeran dan Embung Nglanggeran menjadi salah satu daya
tarik tersendiri.
KESIMPULAN
1. Informasi yang diperoleh petani tentang adanya program integrasi kakao-kambing PE di TTP
Nglanggeran berasal dari kelompok tani, BPTP, dan penyuluh.
2. Petani memperoleh pengetahuan baru dari adanya program integrasi kakao-kambing sebesar
70% dan sisanya memberikan manfaat lain yang dapat meningkatkan pendapatan
3. Program integrasi kakao-kambing dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat di Desa
Nglanggeran baik petani, pemuda maupun ibu-ibu.
DAFTAR PUSTAKA
Henriyadi. 2015. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: Pedoman Umum Pengembangan Taman Sains dan Teknologi Pertanian (TSTP). IAARD Press, Jakarta.
Priyanto, D. 2008. Model Usahatani Integrasi Kakao Kambing dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Petani. WARTAZOA 18 (I) : 46-56.