• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASKEP HARGA DIRI RENDAH DAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASKEP HARGA DIRI RENDAH DAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

ASKEP HARGA DIRI RENDAH

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No. 23 Tahun 1992, Pasal 1). Departemen Kesehatan (DEPKES) memberikan perhatian besar untuk meningkatkan derajat kesehatan bangsa Indonesia dengan visi dan misi Indonesia Sehat 2010. (http//www.pikiran rakyat.com)

Jumlah penduduk gangguan jiwa di Jawa Barat diperkirakan lebih dari 30% dari jumlah penduduk dewasa. Jumlah tersebut bakal semakin bertambah dengan kesulitan ekonomi yang disebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Keadaan tersebut diperparah dengan beberapa kejadian yang menimpa Indonesia seperti bencana alam, diantaranya tsunami di Aceh dan Pangandaran, Lumpur panas sidoarjo, serta gempa di Yogyakarta. Selain itu adanya gejolak politik lokal diberbagai daerah dan meningkatnya tingkat persaingan antar individu merupakan salah satu pemicu terjadinya gangguan mental.

Penyebab gangguan jiwa yang diderita terjadi karena frustasi, napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya), masalah keluarga, pekerjaan, organik dan ekonomi. Namun jika dilihat dari persentase, penyebab tertinggi yaitu karena frustasi.

Stigma penderita gangguan jiwa sat ini masih tinggi, tetapi masih sedikit yang sadar untuk meminta bantuan psikiater. Akibatnya banyak penderita gangguan jiwa yang sudah sembuh dan dipulangkan ke rumahnya, balik lagi ke rumah sakit. Para pasien itu memilih untuk tinggal lagi di rumah sakit karena mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di rumahnya. Keluarga mereka merasa malu karena ada anggota keluarganya yang tidak waras. Akibatnya tidak sedikit yang memilih kabur.

B. Tujuan penulisan

(2)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI

Harga diri (self esteem) adalah penilaian tentang individu dengan menganalisa kesesuaian prilaku dengan ideal diri

Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan-perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif,yang dapat diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung.individu yang mempunyai harga diri rendah cenderung untuk menilainya negatif dan merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. (Stuart dan sundeen,1991).

Gangguan harga diri adalah evaluasi diri yang negatif perasaan tentang diri, kemampuan diri yang dapat diekspresikan secara langsung atau tidak langsung. (Townsend, Mary C, 1998)

Gangguan harga diri adalah keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami evaluasi diri yang negatif tentang kemampuan atau diri. (Carpenito, Lynda Juall-Moyet, 2007)

(3)

Harga diri rendah merupakan perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan merasa rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri.

B. RENTANG RESPON

Responadaptif

Respon maladaptif

Depersonalisasi

(4)

Kerancuan identitas

Harga diri rendah

Konsep diri positif

(5)

(suliswati dkk,2005:91)

a. Aktuaisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang

pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.

b. Konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualisasi

diri dan menyadari hal-hal positif maupun yang negatif dari dirinya.

c. Harga diri rendah adalah individu cenderung untuk menilai dirinya negatif dan merasa lebih

rendah dari orang lain.

d. Identitas kacau adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa

kanak-kanak kedalam kematangan aspek psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis. e. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang

berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

C. FAKTOR PREDISPOSISI

Faktor- faktor yang mempengaruhi harga diri rendah meliputi : 1. Faktor predisposisi gangguan citra tubuh

a. Kehilangan atau kerusakan bagian tubuh (anatomi dan fungsi)

b. Perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh (akibat pertumbuhan dan perkembangan atau

penyakit)

c. Proses patologik penyakit dan dampaknya terhadap struktur maupun fungsi tubuh

d. Prosedur pengobatan seperti radiasi, kemoterpi, transplantasi

2. Faktor predisposisi gangguan harga diri

a. Penolakan dari orang lain

b. Kurang penghargaan

c. Pola asuh yang salah : terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan

tidak konsisten

(6)

e. Kesalahan dan kegagalan yang berulang

f. Tidak mampu mencapai standar yang ditentukan

3. Faktor predisposisi gangguan peran

a. Transisi peran yang sering terjadi pada proses perkembangan, perubahan situasi dan keadaan

sehat sakit

b. Ketegangan peran, ketika individu menghadapi dua harapan yang bertentangan secara terus

menerus yang tidak terpenuhi

c. Keraguan peran, ketika individu kurang pengetahuannya tentang harapan peran yang spesifik

dan bingung tentang tingkah laku peran yang sesuai d. Peran yang terlalu banyak

4. Faktor predisposisi gangguan identitas diri

a. Ketidak percayaan orang tua pada anak

b. Ketegangan peran, berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu

mengalaminya sebagai frustasi, ada tiga jenis transisi peran :

c. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normative yang berkaitan dengan pertumbuhan.

Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai dan tekanan penyesuaian diri.

d. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambahnya atau berkurangnya anggota keluarga melalui

kelahiran atau kematian.

e. Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit.

Transisi ini mungkin dicetuskan oleh : Kehilangan bagian tubuh. Perubahan bentuk, ukuran, panampilan, dan fungsi tubuh. Perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal. Prosedur medis keperawatan.

(7)

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri:

Harga diri rendah

Gangguan citra tubuh

F. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala yang muncul pada klien dengan harga diri rendah meliputi

1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit.

Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar matahari. 2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi bila saya segera ke rumah

sakit.

3. Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa menulis, tulisan saya jelek, saya orang bodoh

dan tidak tahu apa-apa.

4. Gangguan berhubungan sosial, seperti menarik diri, klien tidak ingin bertemu dengan orang lain

dan lebih suka sendiri.

5. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif

tindakan.

6. Menciderai. Akibat harga diri rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin

mengakhiri kehidupan. 7. SUMBER KOPING

a. Aktivitas olahraga dan aktivitas lain di luar rumah

b. Hobi dan kerajinan tangan

c. Seni yang ekpresif

d. Kesehatan dan kerawatan diri

e. Pekerjaan, vokasi, atau posisi

f. Bakat tertentu

(8)

h. Imaginasi dan kreativitas

i. Hubungan interpersonal

G. MEKANISME KOPING 1. Jangka pendek

a. Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis dentitas ( misal : konser musik,

bekerja keras, menonton televisi secara obsesif )

b. Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara ( misal : ikut serta dalam

aktivitas social, agama, klub politik, kelompok, atau geng )

c. Aktivitas sementara menguatkan perasan diri ( misal : olah raga yang kompetitif, pencapaian

akademik, kontes untuk mendapatkan poipularitas )

d. Aktivitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang

berarti dalam kehidupan individu (misal : penyalahgunaan obat ).

2. Jangka panjang

a. Punutupan identitas ; adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang yang penting bagi

individu tanpa memperlihatkan keinginan, aspirasi, dan potensi diri individu tersebut.

b. Identitas negatif ; asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai dan harapan

masyarakat.

c. Mekanisme pertahanan ego:

1. Penggunaan fantasi

2. Disosiasi

3. Isolasi

4. Projeksi

5. Pergeseran ( displasement )

6. Peretakan ( splitting )

7. Berbalik marah pada diri sendiri

8. Amuk

H. PERILAKU

(9)

2. Penurunan produktivitas

3. Destruktif yang diarahkan pada orang lain

4. Gangguan dalam berhubungan

5. Rasa penting yang berlebihan

6. Perasaan tidak mampu

7. Rasa bersalah

8. Mudah tersinggung atau marah berlebihan

9. Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri

10. Ketegangan peran yang dirasakan

11. Pandangan hidup pesimis

12. Penolakan tewrhadap kemampuan personal

13. Destruktif terhadap diri sendiri

14. Pengurangan diri

15. Menarik diri secara social

16. Penyalahgunaan zat

17. Menarik diri dari realitas

18. Khawatir

( Stuart, Gail Wiscarz, 2007) C. Konsep Psikofarmaka

1) Chlorpromazine ( CPZ ) : 3 x100 mg

a) Indikasi

Untuk sindrom psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi-fungsi mental : waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dam melakukan kegiatan rutin.

b) Cara kerja

Memblokade dopamine pada reseptor pasca sinap di otak khususnya sistem ekstra piramidal.

(10)

Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran yang disebabkan CNS Depresi.

d) Efek samping

(1) Sedasi

(2) Gangguan otonomik (hypotensi, antikolinergik / parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam

miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung).

(3) Gangguan ekstra piramidal ( distonia akut, akatshia, sindrom parkinsontremor, bradikinesia

rigiditas ).

(4) Gangguan endokrin ( amenorhoe, ginekomasti ).

(5) Metabolik ( Jaundice )

(6) Hematologik, agranulosis, biasanya untuk pemakaian jangka pan

(7)

2) Halloperidol ( HP ) : 3 x 5 mg

a) Indikasi

Penatalasanaan psikosis kronik dan akut, gejala demensia pada lansia, pengendalian hiperaktivitas dan masalah perilaku berat pada anak-anak.

b) Cara kerja

Halloperidol merupakan derifat butirofenon yang bekerja sebagai antipsikosis kuat dan efektif untuk fase mania, penyebab maniak depresif, skizofrenia dan sindrom paranoid. Di samping itu halloperidol juga mempunyai daya anti emetik yaitu dengan menghambat sistem dopamine dan hipotalamus. Pada pemberian oral halloperidol diserap kurang lebih 60–70%, kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2-6 jam dan menetap 2-4 jam. Halloperidol ditimbun dalam hati dan ekskresi berlangsung lambat, sebagian besar diekskresikan bersama urine dan sebagian kecil melalui empedu.

c) Kontra indikasi

Parkinsonisme, depresi endogen tanpa agitasi, penderita yang hipersensitif terhadap halloperidol, dan keadaan koma.

(11)

Pemberian dosis tinggi terutama pada usia muda dapat terjadi reaksi ekstapiramidal seperti hipertonia otot atau gemetar. Kadang-kadang terjadi gangguan percernaan dan perubahan hematologik ringan, akatsia, dystosia, takikardi, hipertensi, EKG berubah, hipotensi ortostatik, gangguan fungsi hati, reaksi alergi, pusing, mengantuk, depresi, oedem, retensio urine, hiperpireksia, gangguan akomodasi.

3) Trihexypenidil ( THP ) : 3 x 2 mg

a) Indikasi

Semua bentuk parkinson (terapi penunjang), gejala ekstra piramidal berkaitan dengan obat-obatan antipsikotik.

b) Cara kerja

Kerja obat-obat ini ditujukan untuk pemulihan keseimbangan kedua neurotransmiter mayor secara alamiah yang terdapat di susunan saraf pusat asetilkolin dan dopamin, ketidakseimbangan defisiensi dopamin dan kelebihan asetilkolamin dalam korpus striatum. Reseptor asetilkolin disekat pada sinaps untuk mengurangi efek kolinergik berlebih.

c) Kontra indikasi

Hipersensitivitas terhadap obat ini atau antikolonergik lain, glaukoma, ulkus peptik stenosis, hipertrofi prostat atau obstruksi leher kandung kemih, anak di bawah 3 tahun, kolitis ulseratif.

d) Efek samping

(12)

BAB III

TINJAUAN TEORI

A.

Pengkajian

Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan melalui data biologis , psikologis, social dan spiritual. (Keliat, Budi Ana, 1998 : 3 )

Adapun isi dari pengkajian tersebut adalah :

1.

Identitas klien

Melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang : nama mahasiswa, nama panggilan, nama klien, nama panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan. Tanyakan dan catat usia klien dan No RM, tanggal pengkajian dan sumber data yang didapat.

2.

Alasan masuk

Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang, atau dirawat di rumah sakit, apakah sudah tahu penyakit sebelumnya, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah ini.

3.

Faktor predisposisi

(13)

dan keluarga apakah ada yang mengalami gangguan jiwa, menanyakan kepada klien tentang pengalaman yang tidak menyenangkan.

4.

Pemeriksaan fisik

Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.

5.

Psikososial

a.

Genogram

Genogram menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh

b.

Konsep diri

c.

Gambaran diri

Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai, reaksi klien terhadap bagian tubuh yang tidak disukai dan bagian yang disukai.

d.

Identitas diri

Status dan posisi klien sebelum klien dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya, kepuasan klien sebagai laki-laki atau perempuan, keunikan yang dimiliki sesuai dengan jenis kelaminnya dan posisinya.

e.

Fungsi peran

Tugas atau peran klien dalam keluarga / pekerjaan / kelompok masyarakat, kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi atau perannya, perubahan yang terjadi saat klien sakit dan dirawat, bagaimana perasaan klien akibat perubahan tersebut.

f.

Ideal diri

Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien terhadap lingkungan, harapan klien terhadap penyakitnya, bagaimana jika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.

g.

Harga diri

(14)

h.

Hubungan sosial

Tanyakan orang yang paling berarti dalam hidup klien, tanyakan upaya yang biasa dilakukan bila ada masalah, tanyakan kelompok apa saja yang diikuti dalam masyarakat, keterlibatan atau peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat, hambatan dalam berhubungan dengan orang lain, minat dalam berinteraksi dengan orang lain.

i.

Spiritual

Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah / menjalankan keyakinan, kepuasan dalam menjalankan keyakinan.

j.

Status mental

1.

Penampilan

Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung kaki apakah ada yang tidak rapih, penggunaan pakaian tidak sesuai, cara berpakaian tidak seperti biasanya, kemampuan klien dalam berpakaian, dampak ketidakmampuan berpenampilan baik / berpakaian terhadap status psikologis klien.

2.

Pembicaraan

Amati pembicaraan klien apakah cepat, keras, terburu-buru, gagap, sering terhenti / bloking, apatis, lambat, membisu, menghindar, tidak mampu memulai pembicaraan.

3.

Aktivitas motorik

a.

Lesu, tegang, gelisah.

b.

Agitasi : gerakan motorik yang menunjukan kegelisahan

c.

Tik : gerakan-gerakan kecil otot muka yang tidak terkontrol

d.

Grimasem : gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak terkontrol klien

e.

Tremor : jari-jari yang bergetar ketika klien menjulurkan tangan dan merentangkan jari-jari

f.

Kompulsif : kegiatan yang dilakukan berulang-ulang

4.

Alam perasaan

(15)

c.

Khawatir : objeknya belum jelas

5.

Afek

a.

Datar : tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus yang menyenangkan atau menyedihkan.

b.

Tumpul : hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang sangat kuat

c.

Labil : emosi klien cepat berubah-ubah

d.

Tidak sesuai : emosi bertentangan atau berlawanan dengan stimulus

6.

Interaksi selama wawancara

a.

Kooperatif : berespon dengan baik terhadap pewawancara

b.

Tidak kooperatif : tidak dapat menjawab pertanyaan pewawancara dengan spontan

c.

Mudah tersinggung

d.

Bermusuhan : kata-kata atau pandangan yang tidak bersahabat atau tidak ramah

e.

Kontak kurang : tidak mau menatap lawan bicara

f.

Curiga : menunjukan sikap atau peran tidak percaya kepada pewawancara atau orang lain.

g.

Persepsi

Jenis-jenis halusinasi dan isi halusinasi, frekuensi gejala yang tampak pada saat klien berhalusinasi.

7.

Proses pikir

a.

Sirkumtansial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai pada tujuan

b.

Tangensial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai pada tujuan

c.

Kehilangan asosiasi : pembicaraan tidak ada hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya

d.

Flight of ideas : pembicaraan yang meloncat dari satu topik ke topik yang lainnya.

e.

Bloking : pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan dari luar kemudian dilanjutkan kembali

f.

Perseferasi : kata-kata yang diulang berkali-kali

(16)

a.

Obsesi : pikiran yang selalu muncul walaupun klien berusaha menghilangkannya.

b.

Phobia : ketakutan yang patologis / tidak logis terhadap objek / situasi tertentu.

c.

Hipokondria : keyakinan terhadap adanya gangguan organ tubuh yang sebenarnya tidak ada.

d.

Depersonalisasi : perasaan klien yang asing terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

e.

Ide yang terkait : keyakinan klien terhadap kejadian yang terjadi dilingkungan yang bermakna

yang terkait pada dirinya.

f.

Pikiran magis : keyakinan klien tentang kemampuannya melakukan hal-hal yang mustahil atau diluar kemampuannya.

g.

Waham :

1.

Agama : keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan

2.

Somatik : keyakinan klien terhadap tubuhnya dan diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai

dengan keyakinan

3.

Kebesaran : keyakinan klien yang berlebihan terhadap kemampuannya dan diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan

4.

Curiga : keyakinan klien bahwa ada seseorang yang berusaha merugikan, mencederai dirinya,

diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan

5.

Nihilistik : klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada didunia / meninggal yang dinyatakan

secara berulang-ulang dan tidak sesuai dengan kenyataan

6.

Waham yang bizar

a.

Sisip pikir : klien yakin ad aide pikiran orang lain yang disisipkan didalam pikirannya, disampaikan secara berulang-ulang dan tidak sesuai dengan kenyataan

b.

Siar pikir : klien yakin ada orang lain yang mengetahui apa yang klien pikirkan walaupun klien

tidak pernah menceritakannya kepada orang, disampaikan secara berulang-ulang dan tidak sesuai kenyataan

c.

Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar, disampaikan secara berulang-ulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.

6.

Tingkat kesadaran

(17)

b.

Sedasi : mengatakan merasa melayang-layang antara sadar atau tidak sadar

c.

Stupor : gangguan motorik seperti kekakuan, gerakan yang diulang-ulang, anggota tubuh klien dalam sikap yang canggung dan dipertahankan klien tapi klien mengerti semua yang terjadi dilingkungannya

d.

Orientasi : waktu, tempat dan orang

e.

Jelaskan apa yang dikatakan klien saat wawancara

f.

Memori

1.

Gangguan mengingat jangka panjang : tidak dapat mengingat kejadian lebih dari 1 bulan.

2.

Gangguan mengingat jangka pendek : tidak dapat mengingat kejadian dalam minggu terakhir.

3.

Gangguan mengingat saat ini : tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

4.

Konfabulasi : pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memasukan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan daya ingatnya.

5.

Tingkat konsentrasi

a.

Mudah beralih : perhatian mudah berganti dari satu objek ke objek lainnya.

b.

Tidak mampu berkonsentrasi : klien selalu minta agar pertanyaan diulang karena tidak menangkap apa yang ditanyakan atau tidak dapat menjelaskan kembali pembicaraan.

c.

Tidak mampu berhitung : tidak dapat melakukan penambahan atau pengurangan pada

benda-benda yang nyata

d.

Daya tilik diri

1.

Mengingkari penyakit yang diderita : klien tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik dan

emosi) pada dirinya dan merasa tidak perlu minta pertolongan / klien menyangkal keadaan penyakitnya, klien tidak mau bercerita tentang penyakitnya

2.

Menyalahkan hal-hal diluar dirinya : menyalahkan orang lain atau lingkungan yang menyebabkan timbulnya penyakit atau masalah sekarang

3.

Kebutuhan persiapan pulang

a.

Makan

(18)

b.

Buang Air Besar dan Buang Air Kecil

Observasi kemampuan klien untuk Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK), pergi menggunakan WC atau membersihkan WC.

c.

Mandi

Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, observasi kebersihan tubuh dan bau badan klien.

d.

Berpakaian

Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaian, observasi penampilan dandanan klien.

e.

Istirahat dan tidur

Observasi dan tanyakan lama dan waktu tidur siang atau malam, persiapan sebelum tidur dan aktivitas sesudah tidur.

f.

Penggunaan obat

Observasi penggunaan obat, frekuensi, jenis, dosis, waktu, dan cara pemberian.

g.

Pemeliharaan kesehatan

Tanyakan kepada klien tentang bagaimana, kapan perawatan lanjut, siapa saja sistem pendukung yang dimiliki.

h.

Aktivitas di dalam rumah

Tanyakan kemampuan klien dalam mengolah dan menyajikan makanan, merapikan rumah, mencuci pakaian sendiri, mengatur kebutuhan biaya sehari-hari.

i.

Aktivitas di luar rumah

Tanyakan kemampuan klien dalam belanja untuk keperluan sehari-hari, aktivitas lain yang dilakukan di luar rumah.

j.

Pola dan mekanisme koping

Data didapat melalui wawancara dengan klien atau keluarganya.

4. Aspek medis

(19)

5. Masalah Keperawatan

Dari pengkajian dapat disimpulkan masalah keperawatan yang dapat ditemukan pada klien dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah yaitu :

1. Isolasi sosial : menarik diri

2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah situasional

3. Gangguan citra tubuh

6. Pohon masalah

Bagan 1 Pohon masalah

(20)

Gangguan konsep diri :

Harga diri rendah

Gangguan citra tubuh

(21)

i. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan masalah keperawatan pasien yang mencakup baik respon sehat adaptif atau maladaptif serta stressor yang menunjang. (Stuart & Sundeen, 1998 : 41)

Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi. (Marilyn E. Doenges, 1999 : 8 )

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan adalah suatu cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi mencakup respon adaptif maupun maladaptif serta stresor yang menunjang.

Diagnosa keperawatan yang mungkin untuk masalah gangguan konsep diri : harga diri rendah adalah :

a. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

1) Definisi

Suatu kondisi dimana individu yang sebelumnya memiliki harga diri positif mengalami perasan negatif mengenai dirinya dalam berespon.

2) Batasan karakteristik

a) Mayor

(1) Kekambuhan episodik dari penghargaan diri negatif dalam berespon terhadap kejadian

(22)

(2) Pengungkapan perasaan negatif, mengenai diri ( ketidak berdayaan, kegunaan )

b) Minor

(1) Pengungkapan diri yang negatif

(2) Ekpresi malu

(3) Evaluasi diri sebagai tidak mampu menangani situasi-situasi / kejadian

(4) Kesukaran mengambil keputusan Gelisah

(5) Pengabaian diri

(6) Isolasi sosial

(Carpenito. L.J, 1998 : 353 ) b. Isolasi sosial : menarik diri

1) Definisi

Harga diri rendah situasional : suatu keadaan dimana seseorang memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang dirinya dalam berespon terhadap peristiwa ( kehilangan, perubahan ).

2) Batasan karakteristik

a) Mayor

Kejadian yang berulang atau berkala dari penilaian diri yang negatif dalam berespon terhadap peristiwa yang pernah dilihat secara positif menyatakan perasaan negatif tentang dirinya (putus asa, tidak berguna).

b) Minor

(1) Pernyataan negatif atas dirinya

(2) Mengekspresikan rasa malu, bersalah.

(23)

(4) Kesulitan membuat keputusan

(5) Mengabaikan diri (tidak peduli pada diri sendiri)

(6) Mengisolasi diri

( Carpenito .L.J, 1998 : 853) c. Gangguan citra tubuh

1) Definisi

Keadaan dimana individu mengalami atau beresiko untuk menglami gangguan dalam cara penerapan citra diri seseorang.

2) Batasan karakteristik

a) Mayor

Respon negatif verbal atau nonverbal terhadap perubahan aktual atau dalam struktur dan / atau fungsi (misal malu, keadaan yang memalukan, bersalah, reaksi mendadak)

b) Minor

(1) Tidak terlihat pada bagian tubuh

(2) Tidak menyentuh bgian tubuh

(3) Bersembunyi atau memanjakan bagian tubuhsecara berlebihan

(4) Perubahan dalam keterlibatan sosial

(5) Perasaan terhadap bagian tubuh, perasaan ketidak berdayaan, keputusasaan, tidak ada kekuatan,

kerentanan

(6) Larut dalam perubahan atau kehilangan

(24)

(8) Depersonalisasi bagian tubuh atau kehilangan

(9) Tingkah laku merusak diri (misal mutilasi, usahah bunuh diri, makan berlebihan, kurang makan)

(25)

3. Rencana Tindakan Keperawatan

Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal

nama perawat sambil berjabat tangan b. Jelaskan maksud hubungan interaksi

Setelah ... kali pertemuan, klien dapat mengidentifikasikan aspek positif klien, keluarga dan kemampuan yang dimiliki klien

a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif

yang dimiliki klien

b. Hindari memberi penilaian negatif,

utamakan memberi pujian yang realistis TUK 3 :

(26)

kemampuan yang

digunakan menilai kemampuan yang digunakanminimal 3 kemampuan / kegiatan. digunakan

b. Diskusikan kemampuan yang dapat

dilakukan setiap hari sesuai kemampuan b. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi

c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang

(27)

hubungan saling percaya. b. Ada kontak mata

h. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang

dihadapi klien

Dalam tiga kali pertemuan klien dapat menyebutkan:

a. Penyebab klien tidak merawat diri

b. Manfaat menjaga pearawatan diri untuk

keadaan fisik, mental, dan sosial c. Tanda-tanda perawatan diri yang baik

d. Penyait atau gangguan keseahatan yang

dialami oleh klien jika perawatan diri tidak adekuat

3. Klien mengetahui

cara-cara melakukan

perawatan diri

a. Dalam tiga kali pertemuan klien

menyebutkan frekuensi menjaga perawatan diri:

a. Diskusiakan frekuensi menjaga perawatan

(28)

Frekunsi mandi

(29)

5. Klien dapat

melaksanakan perawatan diri secara mandiri

Dalam tiga kali interaksi klien melaksanakan praktek perawatan diri yang mandiri:

a. Mandi dua kali sehari

b. Gosok gigi setelah makan

c. Keramas dua kali seminggu

d. Ganti pakaian satu kali sehari

e. Berhias sehabis mandi

f. Gunting kuku setelah mulai panjang

a. Pantau klien dalam melaksanakan dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri

3) Dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga

untuk meningkatkan kemampuan klien dalam perawatan diri

b. Diskusikan dengan keuarga tentang:

1) Sarana yang dipelukn klien untuk menjaga

perawatan diri klien

(30)

sarana tersebut

c. Diskusikan dengan keluarga hal-hal yang

perlu dilakukan keluarga dalam perawatan diri:

1) Anjurkan keluarga untuk mempraktekan

perawatan diri (mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, dan gunting kuku)

2) Ingatkan klien waktu mandi, gosok gigi,

keramas, ganti baju, dan gunting kuku 3) Bantu jika klien mengalami hambatan

dalam perawatan diri

4) Berikan pujian atas keberhasilan klien

(31)

4. Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan asuhan keperawatan oleh perawat dan klien. Petunjuk dalam implementasi :

a. Intervensi dilakukan sesuai dengan rencana.

b. Keterampilam interpersonal, intelektual, tekhnikal dilakukan dengan cermat dan efisien dalam

situasi yang tepat.

c. Dokumentasi intrvensi dan respon klien.

(Keliat, Budi Anna. 1998 : 15)

Dalam pelaksanaan implementasi, penulis menggunakan langkah-langkah komunikasi terapeutik yang terdiri dari :

1) Fase Pra Interaksi

Pra interaksi dimulai sebelum kontak pertama dengan klien, perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutannya sehingga kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat dipertanggung jawabkan.

2) Fase Perkenalan

Pada fase ini dimulai dengan pertemuan dengan klien, hal-hal yang perlu dikaji adalah alasan klien meminta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya rasa percaya antara perawat dengan klien.

3) Fase Orientasi

a) Memberi salam terapeutik

b) Mengevaluasi dan memvalidasi data subjektif dan objektif yang mendukung diagnosa

keperawatan.

c) Membuat kontrak untuk sebuah topik disertai waktu dan tempat dan serta mengingatkan kontrak

sebelumnya. 4) Fase Kerja

(32)

perawat mengeksplorasi stressor yang tepat mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, fikiran, perasaan dan perbuatan klien.

5) Fase Terminasi

Fase terminasi merupakan fase yang amat sulit dan penting dari hubungan intim terapeutik yang sudah terbina dan berada dalam tingkat optimal. Fase terminasi terbagi menjadi :

a) Terminasi sementara

Adalah terminasi akhir dari tiap pertemuan antara perawat dengan klien. b) Terminasi Akhir

(1) Mengevaluasi respon klien setelah tindakan keperawatan.

(2) Merencanakan tindak lanjut.

(3) Mengeksplorasi perasaan klien.

5.Evaluasi

Evaluasi adalah tindakan untuk mengidentifikasi sejauh mana tujuan dari perencanaan tercapai dan evaluasi itu sendiri dilakukan terus menerus melalui hubungan yang erat. Evaluasi dibagi menjadi dua macam yaitu :

a. Evaluasi formatif yaitu evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menilai hasil tindakan yang

telah dilakukan.

b. Sumatif yaitu evaluasi akhir yang ditujukan untuk menilai keberhasilan tujuan yang dilakukan.

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola pikir : S : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

O : Respon objektif klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan.

A : Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan masalah tetap atau muncul masalah baru atau data yang kontradiktif dengan masalah yang ada.

P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkakn hasil analisa pada respon klien. Rencana tindak lanjut berupa :

(33)

2) Rencana dimodifikasi, jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil tidak

memuaskan.

3) Rencana dibatalkan, jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang

ada serta diagnosa lama dibatalkkan.

4) Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan diperlukan adalah memelihara dan

mempertahankan kondisi baru.

Pada evaluasi sangat diperlukan reinforcement untuk menguatkan perubhan yang positif. Klien dan keluarga juga dimotifasi untuk melakukan self-reinforsement.

Hasil yang diharapkan saat merawat klien dengan respon konsep diri mal adatif adalah klien akan mencapai tingkat aktualitas diri yang maksimal untuk menyadari potensi dirinya.

Evaluasi keberhasilan pada klien dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah : Pada akhir keperawatan diharapkan :

a) Klien mampu :

1) Klien dapat mengidentifikasikan aspek positif klien, Keluarga dan kemampuan yang dimiliki

klien.

2) Klien menilai kemampuan yang digunakan.

3) Klien membuat rencana kegiatan

4) Klien membuat rencana kegiatan

5) Klien melakukan sesuai kondisi sakit dan kemampuanya

6) Klien mampu memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga

7) Melakukan kegiatan hidup sehari – hari sesuai jadwal yang dibuat klien.

8) Meminta bantuan keluarga

(34)

b) Keluarga mampu :

1) Mengidentifikasi terjadinya gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis

2) Merawat klien di rumah dan mendukung kegiatan klien.

Referensi

Dokumen terkait

Neraca eksergi dalam sistem menara pendingin (gambar 1) adalah jumlah eksergi masuk dan daya fan harus sama dengan eksergi keluar dan kerugian eksergi (irreversibilitas) yang

Konsentrasi dalam larutan berpengaruh pada pengambilan spesifik ion logam dan dengan adanya variasi konsentrasi maka dapat ditentukan kapasitas adsorpsi dengan

Terdapat 4 titik penting dengan banyak berudu, yaitu di Rowo Bayu, Sumber Kamulyan, Dewi Gangga, dan Kaputren, serta 1 titik yang merupakan mikrohabitat bagi genus

Maka dari itu, filsafat pendidikan sebagai salah satu bukan satu-satunya ilmu terapan, adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan

Dalam melakukan pengambilan contoh, Petugas Karantina Tumbuhan harus mengisi Laporan Pengambilan Contoh sesuai dengan format laporan pada Form 1 Laporan Pengambilan

masih dapat dipindahkan akan tetapi pada kedalaman 75 cm dari permukaan dijumpai batu yang besar dan tidak memungkinkan lagi untuk melakukan penggalian sampai 100 cm. Hal

Dari pengolahan data yang sudah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dengan menggunakan metode Hungarian, PERT dan CPM dapat mengatasi permasalahan yang

sehingga karyawan mampu memberikan yang terbaik untuk perusahaan. 2) Dari sisi self efficacy yang perlu dilakukan karyawan adalah harus lebih mampu melakukan