• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Hukum Pidana dan Pemidanaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Hukum Pidana dan Pemidanaan"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pergaulan manusia dalam kehidupan masyarakat tidak selamanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah atau pertentangan dan konflik kepentingan antar sesamanya. Dalam keadaan yang demikian ini hukum diperlakukan untuk menjaga keseimbangan dan ketertiban dalam masyarakat.

Sebenarnya tujuan dari pidana itu adalah untuk mencegah timbulnya kejahatan dan pelanggaran. Kejahatan-kejahatan yang berat dan pidana mati dalam sejarah hukum pidana adalah merupakan dua komponen permasalahan yang berkaitan erat. Hal ini nampak dalam KUHP Indonesia yang mengancam kejahatankejahatan berat dengan pidana mati.

Waktu berjalan terus dan di berbagai negara terjadi perubahan dan perkembangan baru. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau ternyata sejarah pemidanaan diberbagai bagian dunia mengungkapkan fakta dan data yang tidak sama mengenai permasalahan kedua komponen tersebut diatas. Dengan adanya pengungkapan fakta dan data berdasarkan penelitian sosio-kriminologis, maka harapan yang ditimbulkan pada masa lampau dengan adanya berbagai bentuk dan sifat pidana mati yang kejam agar kejahatan-kejahatan yang berat dapat dibasmi, dicegah atau dikurangkan, ternyata merupakan harapan hampa belaka.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Pidana dan Pemidanaan? 2. Apa teori dan tujuan Pemidanaan? 3. Apa jenis-jenis sanksi dan tindakan?

(2)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Pidana dan Pemidanaan

Penggunaan istilah pidana itu sendiri diartikan sebagai sanksi pidana. Untuk pengertian yang sama, sering juga digunakan istilah-istilah yang lain, yaitu hukuman, penghukuman, pemidanaan, penjatuhan pidana, pemberian pidana, dan hukuman pidana.

Sudarto memberikan pengertian pidana sebagai penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Sedangkan Roeslan Saleh mengartikan pidana sebagai reaksi atas delik, dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan Negara pada pelaku delik itu.1

“Istilah hukuman yang merupakan istilah umum dan konvensional, dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. Istilah tersebut tidak hanya sering digunakan dalam bidang hukum, tetapi juga dalam istilah sehari-hari dibidang pendidikan, moral, agama, dan sebagainya. Oleh karena pidana merupakan istilah yang lebih khusus, maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukan cirri-ciri atau sifat-sifatnya yang khas”.2

Pada dasarnya pidana dan tindakan adalah sama, yaitu berupa penderitaan. Perbedaanya hanyalah, penderitaan pada tindakan yang lebih kecil atau ringan daripada penderitaan yang diakibatkan oleh penjatuhan pidana. Pidana berasal dari kata straf (Belanda) yang adakalanya disebut dengann istilah hukuman. Istilah pidana lebih tepat dari istilah hukuman, karena hukum sudah lazim merupakan terjemahan dari recht.3

Berdasarkan pengertian pidana di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur dan ciri-ciri, yaitu (1) pidana itu pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan; (2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang), dan

1 Mahrus Ali. Dasar-Dasar Hukum Pidana. Sinar Grafika. Jakarta. 2012. hlm 185. 2 Ibid, h. 185 – 186

(3)

(3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang, dan (4) pidana itu merupakan pernyataan pencelaan oleh negara atas diri seseorang karena telah melanggar hukum.

B. Teori dan Tujuan Pemidanaan

Teori pemidanaan yang digunakan adalah teori pemidanaan yang lazim dikenal didalam sistem hukum eropa kontinental, yaitu teori absolut, teori relatif, dan teori gabungan.4

1. Teori Absolut

Teori ini bertujuan untuk memuaskan pihak yang dendam baik masyarakat sendiri maupun pihak yang dirugikan atau menjadi korban. Menurut Johannes Andenaes tujuan dari pidana menurut teori absolut ialah” untuk memuaskan tuntutan pengadilan” (to statisfy the claim of justice), tuntutan keadilan yang sifatnya absolut ini terlihat dengan jelas dalam pendapat Immanuel Kant di dalam bukunya “philosophy of law “sebagai berikut: “pidana tidak pernah dilaksanakan semata-mata sebagai sarana untuk mempromosikan tujuan atau kebaikan lain, baik bagi pelaku sendiri maupun bagi masyarakat. Tetapi dalam semua hal harus dikenakan hanya karena orang bersangkutan telah melakukan suatu kejahatan.

Karl O.christian sen mengidentifikasi 5 ciri pokok dari teori absolut yakni:5

a. Tujuan pidana hanyalah sebagai pembalasan

b. Pembalasan adalah tujuan utama dan di dalamnya tidak mengandung sarana untuk tujuan lain seperti kesejahteraan masyarakat.

c. Kesalahan moral sebagai satu-satunya syarat pemidanaan d. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan si pelaku

e. Pidana melihat ke belakang, ia sebagai pencelaan yang murni dan bertujuan tidak untuk memperbaiki, mendidik dan meresosailisasi sipelaku

Dalam kaitan dengan pertanyaan sejauhmana pidana perlu diberikan kepada pelaku kejahatan, teori absolut menjelaskan sebagai berikut:6

4 Mahrus Ali. Op.Cit. h. 186 – 187 5Ibid, h. 188 – 189

(4)

a. Dengan pidana tersebut akan memuaskan perasaan balas dendam si korban, baik perasaan adil bagi dirinya, temannya, keluarganya serta masyarakat. Perasaan tersebut tidak dapat dihindari dan tidak dapat dijadikan alasan untuk menuduh tidak menghargai hukum, tipe ini disebut vindicative.

b. Pidana dimaksudkan untuk memberikan peringatan pada pelaku kejahatan dan anggota masyarakat yang lain bahwa setiap ancaman yang merugikan orang lain atau memperoleh keuntungan dari orang lain secara tidak wajar, akan menerima ganjarannya. Ini disebut dengan fairness

c. Pidana dimaksudkan untuk menunjukan adanya kesebandingan antara apa

yang disebut dengan the gratify of the offence dengan pidana yang dijatuhkan. Tipe absolut ini disebut dengan proporsionality

Dalam perkembangannya, teori absolut mengalami modifikasi dengan munculnya teori absolut modern yang menggunakan konsep “ ganjaran yang adil (just desert) yang didasarkan atas filsafat Kant. Menurut konsep tersebut, seseorang yang melakukan kejahatan telah memperoleh suatu keuntungan yang tidak fair dari anggota masyarakat yang lain.

2. Teori Relatif,

Teori ini mengajarkan bahwa penjatuhan pidana dan pelaksanaanya setidaknya harus berorientasi pada upaya mencegah terpidana (special prevention) dari kemungkinan mengulangi kejahatan lagi dimasa mendatang, serta mencegah masyarakat luas pada umumnya (general prevention) dari kemungkinan melakukan kejahatan baik seperti kejahatan yang telah dilakukan terpidana maupun lainnya.

Teori ini memang sangat menekankan pada kemampuan pemidanaan sebagai suatu upaya mencegah terjadinya kejahatan (prevention of crime ) khususnya bagi terpidana. Oleh karena itu, implikasinya dalam praktik pelaksanaan pidana sering kali bersifat out of control sehingga sering terjadi kasus-kasus penyiksaan terpidana secara berlebihan oleh aparat dalam rangka menjadikan terpidana jera untuk selanjutnya tidak melakukan kejahatan lagi.

Secara umum ciri-ciri pokok atau karakteristik teori relatif ini sebagai berikut:7

(5)

a. Tujuan pidana adalah pencegahan ( prevention )

b. Pencegahan bukan tujuan akhir tetapi hanya sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan masyarakat

c. Hanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan kepada sipelaku saja yang memenuhi syarat untuk adanya pidana

d. Pidana harus ditetapkan berdasarkan tujuannya sebagai alat untuk pencegahan kejahatan

e. Pidana melihat kedepan ( bersifat prospektif ) pidana dapat mengandung unsur pencelaan, tetapi baik unsur pencelaan maupun unsur pembalasan tidak dapat diterima apabila tidak membantu pencegahan kejahatan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat

3. Teori Gabungan

Munculnya teori gabungan pada dasrnya merupakan respon terhadap kritik yang dilancarkan baik terhadap teori absolut maupun teori relatif. Penjatuhan suatu pidana kepada seseorang tidak hanya berorientasi pada upaya untuk membalas tindakan orang itu, tetapi juga agar ada upaya untuk mendidik atau memperbaiki orang itu sehingga tidak melakukan keahatan lagi yang merugikan dan meresahkan masyarakat.

Selain teori pemidanaan, hal tidak kalah pentingnya adalah tujuan pemidanaan. Di Indonesia sendiri hukum pidana positif belum pernah merumuskan tujuan pemidanaan. Selama ini wacana tentang tujuan pemidanaan tersebut masih dalam tataran yang bersifat teoritis. Namun sebagai kajian, konsep KUHP telah menetapkan tujuan pemidanan pada pasal 54 yaitu8

a. Pemidanaan bertujuan

1) Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat.

2) Memasyarakatkan terpidanan dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna

3) Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat

4) Membebaskan rasa bersalah pada terpidana.

(6)

b. Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia.

Berdasarkan tujuan pemidanaan di atas perumus konsep KUHP tidak sekadar mendalami bahan pustaka barat dan melakukan transfer konsep-konsep pemidanaan dari negeri seberang (Barat), tetapi memperhatikan pula kekayaan domestik yang dikandung dalam hukum adat dari berbagai daerah dengan agama yang beraneka ragam.

Harkristuti juga mengatakan bahwa tujuan pemidanaan dalam konsep KUHP nampak lebih cenderung ke pandangan konsekuensialis., falsafah utilitarian memang sangat menonjol, walaupun dalam batas-batas tertentu aspek pembalasan sebagai salah satu tujuan pemidanaan masih dipertahankan.

C. Jenis-jenis Sanksi Pidana dan Tindakan

Dalam sistem hukum pidana ada dua jenis sanksi yang keduanya mempunyai kedudukan yang sama, yaitu sanksi pidana dan sanksi tindakan.

Sanksi tindakan merupakan jenis sanksi yang lebih banyak tersebar di luar KUHP, walaupun dalam KUHP sendiri mengatur juga bentuk-bentuknya, yaitu berupa perawatan dirumah sakit dan dikembalikan pada orang tuanya atau walinya bagi orang yang tidak mampu bertanggungjawab (Pasal 44). Hal ini berbeda dengan bentuk-bentuk sanksi tindakan yang tersebar di luar KUHP yang lebih variatif sifatnya, seperti pencabutan surat ijin mengemudi, perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana, perbaikan akibat tindak pidana, latihan kerja, rehabilitasi, dan perawatan di suatu lembaga. Kedua jenis sanksi tersebut (sanksi pidana dan sanksi tindakan) dalam teori hukum pidana lazim disebut dengan double track system (sistem dua jalur), yaitu sistem sanksi dalam hukum pidana yang menempatkan sanksi pidana dan sanksi tindakan sebagai suatu sanksi yang mempunyai kedudukan yang sejajar dan bersifat mandiri. Sanksi pidana diartikan sebagai suatu nestapa atau penderitaan yang ditimpakan kepada seseorang yang bersalah melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana, dengan adanya sanksi tersebut diharapkan orang tidak akan melakukan tindak pidana.9

(7)

Jenis-jenis pidana tercantum di dalam pasal 10 KUHP. Jenis-jenis pidana ini berlaku juga bagi delik yang tercantum di luar KUHP, kecuali ketentuan undang-undang itu menyimpang. Jenis-jenisnya dibedakan antara pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok terdiri dari pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda, dna pidana tutupan. Sedangkan pidana tambahan terdiri dari pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang tertentu, dan pengumuman putusan hakim. Pidana tambahan hanya dijatuhkan jika pidana pokok dijatuhkan, kecuali dalam hal tertentu.

Pertama adalah pidana pokok yang terdiri dari lima jenis pidana: 1. Pidana mati.

Pidana mati adalah salah satu jenis pidana yang paling tua, setua umat manusia. Pidana mati, paling menarik dikaji oleh para ahli karena memiliki nilai kontradiksi atau pertentangan yang tinggi antara yang setuju dengan yang tidak setuju. Kalau di negara lain satu persatu menghapus pidana mati, maka sebaliknya yang terjadi di Indonesia. semakin banyak detik yang diancam dengan pidana mati. Paling tidak delik yang diancam dengan pidana mati di dalam KUHP ada 9 buah, yaitu sebagai berikut:10

a. Pasal 104 KUHP (makar terhadap presiden dan wakil presiden)

b. Pasal 111 ayat (2) KUHP (membujuk negara asing untuk bermusuhan atau berperang, jika permusuhan itu dilakukan atau berperang)

c. Pasal 124 ayat (1) KUHP (membantu musuh waktu perang)

d. Pasal 124 Bis KUHP (menyebabkan atau memudahkan atau menganjurkan huru-hara).

e. Pasal 140 ayat (3) KUHP (makar terhadap raja atau presiden atau kepala negara sahabat yang direncanakan atau berakibat maut)

f. Pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)

g. Pasal 365 ayat (4) KUHP (pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan luka berat atau mati)

h. Pasal 444 KUHP (pembajakan di laut, di pesisir dan di sungai yang mengakibatkan kematian).

i. Pasal 479 k ayat (2) Pasal 479 o ayat (2) KUHP, (Kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan).

(8)

Baik berdasarkan pasal 69 maupun berdasarkan hak yang tertinggi bagi manusia, pidana mati adalah pidana yang terberat. Karena pidana ini berupa pidana yang terberat, yang pelaksanaannya berupa penyerangan terhadap hak hidup bagi manusia, yang sesungguhnya hak ini hanya berada di tangan Tuhan, maka tidak heran sejak dulu sampai sekarang menimbulkan pendapat pro dan kontra, bergantung dari kepentingan dan cara memandang pidana mati itu sendiri.

Selain itu, kelemahan dan keberatan pidana mati ini ialah apabila telah dijalankan, maka tidak dapat memberi harapan lagi untuk perbaikan, baik revisi atas jenis pidananya maupun perbaikan atas diri terpidananya apabila kemudian ternyata penjatuhan pidana itu terdapat kekeliruan, baik kekeliruan terhadap orang atau pembuatnya/petindaknya, maupun kekeliruan atas tindak pidana yang mengakibatkan pidana mati itu dijatuhkan dan dijalankan atau juga kekeliruan atas kesalahan terpidana.11

2. Pidana Penjara

Pidana penjara adalah berupa pembatasan kebebasan bergerak dari seorang terpidana yang dilakukan dengan menempatkan orang tersebut di dalam sebuah Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang menyebabkan harus mentaati semua peraturan tata tertib bagi mereka yang telah melanggar. Pidana penjara adalah jenis pidana yang dikenal juga dengan istilah pidana pencabutan kemerdekaan atau pidana kehilangan kemerdekaan, pidana penjara juga dikenal dengan sebutan pidana kemasyarakatan.

Pidana penjara dalam KUHP bervariasi dari pidana penjara sementara minimal 1 hari sampai pidana penjara seumur hidup. Pidana penjara seumur hidup hanya tercantum dimana ada ancaman pidana mati (pidana mati atau seumur hidup atau pidana dua puluh tahun).

3. Pidana Kurungan

Pidana kurungan pada dasarnya mempunyai dua tujuan:12

a. Custodia Hunesta

Untuk delik yang tidak menyangkut kejahatan kesusilaan, yaitu delik-delik culpa dan beberapa delik-delik dolus, seperti pasal 182 KUHP tentang

(9)

perkelahian satu lawan satu dan pasal 39 KUHP tentang pailit sederhana. Kedua pasal tersebut diancam dengan pidana penjara. b. Custodia Simplex

Yaitu suatu perampasan kemerdekaan untuk delik pelanggaran

Pidana kurungan hakikatnya lebih ringan daripada pidana penjara dalam hal penentuan masa hukuman kepada seseorang. Hal ini sesuai dengan stelsel pidana dalam pasal 10 KUHP, dimana pidana kurungan menempati urutan ketiga dibawah pidana mati dan pidana penjara.13

Perbedaan antara pidana penjara dengan pidana kurungan adalah dalam segala hal pidana kurungan lebih ringan daripada pidana penjara. Lebih ringannya itu terbukti sebagai berikut:14

a. Dari sudut macam/jenis tindak pidana diancam dengan pidana kurungan, tampak bahwa pidana kurungan itu hanya diancamkan pada tindak pidana yang lebih ringan daripada tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara. Pidana kurungan banyak diancamkan pada jenis pelanggaran. Sementara itu, pidana penjara banyak diancamkan pada jenis kejahatan.

b. Ancaman maksimum umum dari pidana penjara (yakni 15 tahun) lebih tinggi daripada ancaman maksimum umum pidana kurungan (yakni 1 tahun). Bila dilakukan dalam keadaan yang memberatkan, pidana kurungan diperberat tetapi tidak boleh lebih dari 1 tahun 4 bulan (18 ayat 2), sedangkan untuk pidana penjara bagi tindak pidana yang dilakukan dalam keadaan yang memberatkan, misalnya perbarengan (65) dan pengulangan dapat dijatuhi pidana penjara dengan ditambah sepertiganya, yang karena itu bagi tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara maksimum 15 tahun dapat menjadi maksimum 20 tahun.

c. Pidana penjara lebih berat daripada pidana kurungan (berdasarkan Pasal 69 KUHP)

d. Pelaksanaan pidana denda tidak dapat diganti dengan pelaksanaan pidana penjara. Akan tetapi, pelaksanaan pidana denda dapat diganti

13 Ibid,

(10)

dengan pelaksanaan kurungan disebut kurungan pengganti denda (Pasal 30 ayat 2).

e. Pelaksanaan pidana penjara dapat saja dilakukan di lembaga Pemasyarakatan di seluruh Indonesia (dapat dipindah-pindahkan). Akan tetapi, pidana kurungan dilaksanakan di tempat (lembaga Pemasyarakatan) di mana ia berdiam ketika putusan hakim dijalankan (tidak dapat dipindah) apabila ia tidak mempunyai tempat kediaman di daerah ia berada, kecuali bila menteri kehakiman, atas permintaan terpidana, meminta menjalani pidana di tempat lain (pasal 21).

f. Pekerjaan-pekerjaan yang diwajibkan pada narapidana penjara lebih berat daripada pekerjaan-pekerjaan yang diwajibkan pada narapidana kurungan (pasal 19)

g. Narapidana kurungan dengan biaya sendiri dapat sekadar meringankan nasibnya dalam menjalankan pidananya menurut aturan yang ditetapkan (hak pistole, Pasal 23)15.

4. Pidana Denda

Pidana denda adalah jenis pidana yang dikenal secara luas di dunia, dan bahkan di Indonesia. pidana denda dijatuhkan terhadap delik-delik ringan, berupa pelanggaran atau kejahatan ringan. Dengan pemahaman ini, pidana denda adalah satu-satunya pidana yang dapat dipikul oleh orang lain selain terpidana.16

Dalam KUHP pidana denda diatur dalam pasal 30 dan Pasal 31. Pasal 30 menyatakan:17

a. Denda paling sedikit adalah dua puluh lima sen. b. Jika denda tidak dibayar, lalu diganti dengan kurungan

c. Lamanya kurungan pengganti paling sedikit adalah satu hari dan paling lama adalah enam bulan.

d. Dalam putusan hakim lamanya kurungan pengganti ditetapkan demikian. Jika dendanya lima puluh sen atau kurang, dihitung satu

15Teguh Prasetyo. Hukum Pidana. (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 121 16 Mahrus Ali. Op.Cit. h. 198

(11)

hari, jika lebih dari lima puluh sen dihitung paling banyak satu hari, demikian pula sisanya yang tidak cukup lima puluh sen.

e. Jika ada pemberatan denda, disebabkan karena ada perbarengan atau pengulangan, atau karena ketentuan pasal 52 dan 52a, maka kurungan pengganti paling lama dapat menjadi delapan bulan.

f. Kurungan pengganti sekali-kali tidak boleh lebih dari delapan bulan. Pasal 31 KUHP menyatakan:

a. Orang yang dijatuhi denda, boleh segera menjalani kurungan sebagai pengganti dengan tidak usah menunggu sampai waktu harus membayar denda itu.

b. Setiap waktu ia berhak dilepaskan dari kurungan pengganti jika membayar dendanya.

c. Pembayaran sebagian dari denda, baik sebelum maupun sesudah dan mulai menjalani kurungan pengganti, membebaskan terpidana dari sebagian kurungan bagian denda yang telah dibayar.

Ada beberapa keistimewaan tertentu dari pidana denda, jika dibandingkan dengan jenis-jenis lain dalam kelompok pidana pokok. Keistimewaan itu adalah sebagai berikut:18

a. Dalam hal pelaksanaan pidana, denda tidak menutup kemungkinan dilakukan atau dibayar oleh orang lain, yang dalam hal pelaksanaan pidana lainnya kemungkinan seperti ini tidak bisa terjadi. Jadi dalam hal ini pelaksanaan pidana denda dapat melanggar prinsip dasar dari pemidanaan sebagai akibat yang harus dipikul/diderita oleh pelaku sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas perbuatan (tindak pidana) yang dilakukannya.

b. Pelaksanaan pidana denda boleh diganti dengan menjalani pidana kurungan (kurungan pengganti denda, Pasal 30 ayat 2). Dalam putusan hakim yang menjatuhkan pidana denda, dijatuhkan juga pidana kurungan pengganti denda sebagai alternatif pelaksanaannya, dalam arti jika benda tidak dibayar terpidana wajib menjalani pidana kurungan pengganti denda itu. Dalam hal ini terpidana bebas

(12)

memilihnya. Lama pidana kurungan pengganti denda ini minimal umum satu hari dan maksimal umum enam bulan.

c. Dalam hal pidana denda tidak terdapat maksimum umumnya yang ada hanyalah minimum umum yang menurut pasal 30 ayat 1 adalah tiga rupiah tujuh puluh lima sen. Sementara itu, maksimum khususnya ditentukan pada masing-masing rumusan tindak pidana yang bersangkutan, yang dalam hal ini sama dengan jenis lain dari kelompok pidana pokok.

5. Pidana Tutupan

Pidana tutupan merupakan jenis pidana yang tercantum dalam KUHP sebagai pidana pokok berdasarkan UU No. 20 Tahun 1946.

Dalam Pasal 2 UU No. 20 Tahun 1946 menyatakan:

a. Dalam mengadili orang yang melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara, karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati, hakim boleh menjatuhkan hukuman tutupan.

b. Peraturan dalam ayat 1 tidak berlaku jika perbuatan yang merupakan kejahatan atau cara melakukan perbuatan itu atau akibat dari perbuatan tadi adalah demikian sehingga hakim berpendapat, bahwa hukuman penjara lebih pada tempatnya.

Pidana tambahan yang terdiri dari tiga jenis. Pertama, pencabutan hak-hak tertentu. Pidana tambahan berupa pencabutan hak-hak tertentu tidak berarti hak-hak terpidana dapat dicabut. Pencabutan hak-hak tertentu itu adalah suatu pidana di bidang kehormatan dengan melalui dua cara, yaitu (1) tidak bersifat otomatis tetapi harus ditetapkan dengan putusan hakim, dan (2) tidak berlaku selama hidup, tetapi menurut jangka waktu menurut undang-undang dengan suatu putusan hakim.

Pasal 35 KUHP menyatakan hak-hak tertentu yang dapat dicabut, yaitu: a. Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu

(13)

b. Hak menjalankan jabatan dalam angkatan bersenjata/TNI;

c. Hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan aturan-aturan umum;

d. Hak menjadi penasihat atau pengurus menurut hukum, hak menjadi wali pengawas, pengampu atau pengampu pengawas, atas orang yang bukan anak sendiri;

e. Hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwakilan atau pengampunan atas anak sendiri

f. Hak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu.

Kedua, perampasan barang-barang tertentu. Pidana tambahan ini merupakan pidana kekayaan, seperti juga halnya dengan pidana denda. Ada dua macam barang yang dapat dirampas, yaitu barang-barang yang didapat karena kejahatan, dan barang-barang yang dengan sengaja digunakan dalam melakukan kejahatan.

Pasal 39 KUHP menyatakan:

(2) barang-barang kepunyaan terpidana yang diperoleh dari kejahatan atau sengaja dipergunakan untuk melakukan kejahatan, dapat dirampas. (3) Dalam hal pemidanaan karena kejahatan yang tidak dilakukan dengan

sengaja, atau karena pelanggaran, dapat juga dirampas seperti di atas, tetapi hanya dalam hal yang ditentukan dalam undang-undang.

(4) Perampasan dapat juga dilakukan terhadap orang yang bersalah yang oleh hakim diserahkan kepada pemerintah, tetapi hanya atas barang-barang yang disita.

Ketiga, pengumuman putusan hakim. Di dalam pasal 43 KUHP ditentukan bahwa apabila hakim memerintahkan supaya diumumkan berdasarkan kitab undang-undang ini atau aturan umum yang lain, maka harus ditetapkan pula bagaimana cara melaksanakan perintah atas biaya terpidana.

Tempat dan menjalani pidana tutupan, serta segala sesuatu yang perlu untuk melaksanakan UU No. 20 tahun 1946 diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1948, yang dikenal dengan Peraturan Pemerintah Tutupan.

(14)

karena keadaan rumah tutupan itu, serta fasilitas-fasilitasnya adalah lebih baik dari yang ada pada penjara, misalnya dapat kita baca dalam pasal 55 2 dan 5, 36 ayat 1 dan 3, 37 ayat 2. Pasal 33 menyatakan bahwa makanan orang dipidana tutupan harus lebih baik dari makanan orang dipidana penjara. Uang rokok bagi yang tidak merokok diganti dengan uang seharga rokok tersebut.

Dari ketentuan-ketentuan yang diatur dalam PP Nomor 8 tahun 1948 tersebut, dapat diketahui bahwa narapidana tutupan itu lebih banyak mendapatkan fasilitas daripada narapidana penjara. Hal ini disebabkan karena orang yang dipidana tutupan itu tidak sama dengan orang-orang yang dipidana penjara. Tindak pidana yang dilakukannya itu merupakan tindak pidana yang didorong oleh maksud yang patut dihormati.

Berdasarkan bunyi pasal 2 ayat 1 PP ini, tampaknya pidana tutupan bukan jenis pidana yang berdiri sendiri, melainkan pidana penjara juga. Perbedaannya hanyalah terletak pada orang yang dapat dipidana tutupan hanya bagi orang yang melakukan tindak pidana karena didorong oleh maksud yang patut dihormati. Sayangnya dalam UU itu maupun PP pelaksanaannya itu tidak dijelaskan tentang unsur maksud yang patut dihormati itu. Karena itu penilaiannya, kriterianya diserahkan sepenuhnya kepada hakim.

Pengertian Sanksi Tindakan dan Jenis-jenisnya

(15)

pendidikan paksa, pengobatan paksa, memasukkan kedalam rumah sakit, dan lainnya.19

Dalam KUHP sanksi tindakan memiliki beberapa jenis yaitu:

a. Penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggung jawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu penyakit. (Pasal 44 ayat (2) KUHP)

b. Bagi anak yang belum berumur 16 tahun melakukan tindak pidana, hakim dapat mengenakan tindakan berupa: (Pasal 45 KUHP)

1) Mengembalikan kepada orang tuanya, walinya atau pemeliharanya, atau;

2) Memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah c. Dalam hal ini yang ke-2, anak tersebut dimasukkan dalam rumah

pendidikan Negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa

d. Penempatan di tempat bekerja Negara bagi penganggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian, serta menggangu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan, bergelandangan atau perbuatan asosial.

D. Perbedaan Antara Sanksi Pidana dan Tindakan

Sanksi pidana bersumber pada ide dasar : "Mengapa diadakan pemidanaan?". Sedangkan sanksi tindakan bertolak dari ide dasar: "untuk apa diadakan pemidanaan itu?". Dengan kata lain, sanksi pidana sesungguhnya bersifat reaktif terhadap suatu perbuatan, sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat antisifatif terhadap pelaku perbuatan tersebut. Jika fokus sanksi pidana tertuju pada perbuatan salah seseorang lewat pengenaan penderitaan (agar yang bersangkutan menjadi jera), maka fokus sanksi tindakan terarah pada upaya memberi pertolongan agar dia berubah. Jelaslah, bahwa sanksi pidana lebih menekankan unsur pembalasan (pengimbalan). Ia merupakan penderitaan yang sengaja dibebankan kepada seorang pelanggar.

(16)

Perbedaan ide dasar antara sanksi pidana dan sanksi tindakan seperti tersebut di atas, dapat pula ditemukan dalam teori-teori pemidanaan. Substansi teori absolute dan teori relative sesungguhnya berkisar pada perbedaan hakikat ide dasar sanksi pidana dan sanksi tindakan. Teori absolute memandang bahwa pemidanaan merupakan pembalasan dari kesalahan yang telah dilakukan. Teori retribusi mencari pendasaran pemidanaan dengan memandang ke masa lampau (backward looking), yakni memusatkan argumennya pada tindakan kejahatan yang telah dilakukan. Menurut teori ini, pemidanaan diberikan karena si pelaku harus menerima sanksi itu demi kerugian yang sudah diakibatkan, demi alasan itu pemidanaan dibenarkan secara moral.20

Teori relatif (teori tujuan) berporos pada tiga tujuan utama pemidanaan, yaitu preventif, deterrence, dan reformatif. Tujuan prevention dalam pemidanaan adalah untuk melindungi masyarakat dengan menempatkan pelaku kejahatan terpisah dari masyarakat. Dalam kepustakaan pemidanaan, hal ini disebut incapacitation. Tujuan menakuti atau deterrence dalam pemidanaan adalah untuk menimbulkan rasa takut melakukan kejahatan.

Teori relatif memandang bahwa pemidanaan bukan sebagai pembalasan atas kesalahan si pelaku, tetapi sebagai sarana mencapai tujuan yang bermanfaat untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat. Dari teori ini muncullah tujuan pemidanaan sebagai sarana pencegahan, baik pencegahan khusus yang ditujukan pada si pelaku maupun pencegahan umum yang ditujukan pada masyarakat.

E. Hal-hal yang menggugurkan Penuntutan Pidana

Di dalam KUHP terdapat empat hal yang dapat menggugurkan penuntutan pidana, yaitu ne bis in ide, terdakwa meninggal dunia, daluarsa, dan penyelesaian perkara di luar pengadilan. Pertama, ne bis in idem. Ketentuan mengenai ne bis in dem atau tidak boleh suatu perkara dituntut dua kali atas perbuatan yang oleh hakim telah diadili dengan putusan yang berkekuatan tetap yang menjadi dasar gugurnya penuntutan pidana diatur di dalam Pasal 76 KUHP yang berbunyi:

(17)

“Kecuali dalam hal putusan hakim masih mungkin diulangi, orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh Hakim Indonesia terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang menjadi tetap.”

Ketentuan pasal ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum kepada masyarakat maupun kepada setiap individu agar menghormati putusan tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan putusan yang telah berkekuatan tetap dapat berupa:

1. Putusan bebas

2. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum 3. Putusan pemidanaan

Kedua, terdakwa meninggal dunia. Ketika terdakwa meninggal dunia, makal itu dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penuntutan pidana. Penjatuhan suatu pidana harus ditujukan kepada pribadi orang yang melakukan perbuatan pidana. Apabila orang yang melakukan perbuatan pidana meninggal dunia, tidak ada lagi penuntutan bagi perbuatan yang dilakukannya. Jika orang itu meninggal dunia, maka penuntutan pidana kepadanya menjadi gugur, atau dengan kata lain, kewenangan menuntut pidana hapus jika terdakwa meninggal dunia.

Ketiga, daluarsa. Latar belakang yang mendasari daluarsa sebagai alasan yang menggugurkan penuntutan pidana adalah dikaitkan dengan kemampuan daya ingat manusia dan keadaan alam yang memungkinkan petunjuk alat bukti lenyap atau tidak memiliki nilai untuk hukum pembuktian. Daya ingat manusia baik sebagai terdakwa maupun sebagai saksi seringkali tidak mampu untuk menggambarkan kembali kejadian yang telah terjadi di masa lalu. Bahan pembuktian yang diperlukan dalam perkara yang telah terjadi di masa lalu.21

Berdasarkan ketentuan pasal 78 ayat (1) KUHP terdapat empat macam daluarsa yang didasarkan pada sifat perbuatan pidana yang dilakukan, antara lain:

a. Tenggang waktu bagi kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan dengan percetakan adalah satu tahun.

b. Tenggang waktu bagi kejahatan yang diancam pidana denda, kurungan atau penjara paling lama tiga tahun adalah enam tahun.

(18)

c. Tenggang waktu lagi kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lebih dari tiga tahun adalah dua belas tahun.

d. Tenggang waktu bagi kejahatan yang diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana mati adalah delapan belas tahun .

Keempat, penyelesaian perkara di luar pengadilan. Ketentuan mengenai penyelesaian perkara di luar pengadilan sebagai alasan yang menggugurkan penuntutan pidana di atur di dalam pasal 82 ayat (1) KUHP yang berbunyi:

“Kewenangan menuntut pelanggaran yang diancam dengan denda saja menjadi hapus, kalau dengan sukarela dibayar denda maksimum denda dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan kalau penuntutan telah dimulai, atau kuasa pejabat yang ditunjuk untuk itu oleh aturan-aturan umum dan dalam waktu yang ditetapkan olehnya.”

Ketentuan pasal 82 ayat (1) KUHP tersebut seringkali disebut lembaga penebusan (afkoop) atau lembaga hukum perdamaian (Schikking) sebagai alasan yang menggugurkan penuntutan pidana hanya dimungkinkan pada perkara tertentu, yaitu perkara pelanggaran yang hanya diancam dengan pidana denda secara tunggal, pembayaran denda harus sebanyak maksimum ancaman pidana denda beserat biaya lain yang harus dikeluarkan, atau penebusan harga tafsiran bagi barang yang terkena rampasan, dan harus bersifat sukarela dari inisiatif terdakwa sendiri yang sudah cukup umum.

Dalam konsep KUHP gugurnya kewenangan penuntutan pidana tidak hanya empat hal sebagaimana terdapat dalam ketentuan KUHP, tetapi diperluas menjadi sebelas hal, yaitu telah ada putusan yang memperoleh kekuatan hukum tetap, terdakwa meninggal dunia, daluarsa, penyelesaian di luar proses, maksimum denda di bayar dengan sukarela bagi tindak pidana yang dilakukan hanya diancam dengan pidana denda paling banyak kategori II, maksimum denda dibayar dengan sukarela bagi tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak kategori III, Presiden memberi amnesti atau abolisi, penuntutan dihentikan karena penuntutan diserahkan kepada negara lain berdasarkan perjanjian, tindak pidana aduan yang tidak ada pengaduan atau pengaduannya ditarik kembali, atau pengenaan asas oportunitas oleh jaksa agung.22

F. Hal – hal Yang Menggugurkan Pelaksanaan Pidana

(19)

Selain hal-hal yang menggugurkan penuntutan pidana, KUHP juga mengatur mengenai hal-hal yang menggugurkan pelaksanaan pidana. Terhadap orang yang dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, orang tersebut diwajibkan menjalankan atau melaksanakan hukuman atau pidana yang dijatuhkan padanya. Namun demikian, dalam hal tertentu orang pelaksanaan pidana yang harus dijalankan orang itu menjadi gugur.23

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Pidana adalah istilah yuridis sebagai terjemahan dari bahasa Belanda straf, dan dalam bahasa Inggris disebut sentence, serta dalam bahasa latin sanctio. Digunakannya istilah pidana di sini dan bukan hukuman adalah bertujuan untuk memfokuskan makna yang terkandung dari istilah pidana tersebut.

Dari penjelasan definisi pidana tersebut, tujuan pemidanaan ini berkaitan dengan aliran-aliran dalam hukum pidana yang mana aliran-aliran ini berusaha untuk memperoleh suatu sistem hukum pidana positif yang prektis yang bermanfaat sesuai dengan perkembangan persepsi manusia tentang hak-hak asasi manusia.

Terdapat tiga hal yang menggugurkan pelaksanaan pidana yang diatur di dalam KUHP. Pertama, terpidana meninggal dunia. Dalam hukum pidana terdapat suatu doktrin yang menyatakan bahwa hukuman atau pidana dijatuhkan semata-mata kepada pribadi terpidana, karenanya tidak dapat dibebankan kepada ahli warisnya. Pasal 83 KUHP menyatakan bahwa Kewenangan menjadikan atau melaksanakan pidana hapus jika terpidana meninggal dunia.

B. Saran

Demikian makalah yang kami susun, semoga dapat memberikan manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya. Penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami

(20)
(21)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mahrus. 2012. Dasar-Dasar Hukum Pidana. Sinar Grafika. Jakarta.

Chazawi, Adama. 2013, Pelajaran Hukum Pidana I, Rajawali Pers, Jakarta. Hlm.

Referensi

Dokumen terkait

Penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana pencurian dalam keluarga yang diatur dalam Pasal 367 KUHP telah berjalan sesuai dengan peraturan dan ketentuan-ketentuan

Hukum pidana khusus adalah ketentuan – ketentuan tentang hukum pidana yang ada diluar kodifikasi hukum pidana itu sendiri (KUHP), maka untuk itu oleh SUDARGO

Dalam buku II dan III KUHP Indonesia terdapat berbagai cara atau teknik perumusan perbuatan pidana (delik), yang menguraikan perbuatan melawan hukum yang dilarang

Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu dalam pasal 2 KUHP yang menyatakan : “ Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan suatu

- Agar dalam perumusan rancangan KUHP ke depan dilakukan revisi lagi dengan menambahkan rumusan mengenai sanksi pidana terhadap pengguna wanita tuna susila/pekerja seks komersial

Dengan demikian ketentuan-ketentuan pidana yang dirumuskan dalam KUHP mendesak untuk segera diselesaikan menjadi KUHP buatan bangsa Indonesia yang baru, bukan

Penyelesaian tindak pidana di luar pengadilan hanya dapat dilakukan terhadap pelanggaran dengan sanksi pidana denda (Pasal 82 KUHP). Ketentuan Pasal 82 KUHP Indonesia itu berasal

Penyertaan dalam KUHPM mengacu kepada ketentuan yang ada pada KUHP, tetapi penyertaan di dalam KUHPM ada yang berdiri sendiri atau mempunyai ketentuan pidana sendiri,