• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemupukan Tanah Atau Cair Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemupukan Tanah Atau Cair Indonesia"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SEMINAR UMUM

PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA BUDIDAYA TANAMAN TOMAT (Solanum lycopersicum L.)

Disusun Oleh:

HELENA LEOVINI 09/281775/PN/11596 Program Studi: Agronomi

Hari/Tanggal Presentasi : Rabu/12 Desember 2012

Dosen Pembimbing : Erlina Ambarwati, S.P., M.P.

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA BUDIDAYA TANAMAN TOMAT (Solanum lycopersicum L.)

Disusun oleh:

Nama : Helena Leovini

NIM : 09/281775/PN/11596

Makalah Seminar ini telah disahkan dan disetujui sebagai kelengkapan mata kuliah

pada semester I tahun ajaran 2012/2013 di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

Menyetujui: Tanda Tangan Tanggal

Dosen Pembimbing

Erlina Ambarwati, S.P., M.P. ……….. ………

Mengetahui :

Komisi Seminar

Jurusan Budidaya Pertanian

Ir. Sri Muhartini, M.S. ……….. ………

Mengetahui :

Ketua Jurusan

Budidaya Pertanian

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ……… iii

DAFTAR TABEL ………... iv

INTISARI ... 1

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 2

II. SYARAT TUMBUH DAN KEBUTUHAN UNSUR TANAMAN TOMAT .. 3

A. Asal dan Penyebaran Tanaman Tomat ..………..……... 3

B. Ciri Morfologi Tanaman Tomat ... 3

C. Syarat Tumbuh Tanaman Tomat ……… 5

D. Unsur-Unsur yang Dibutuhkan Tanaman Tomat ……….…….. 6

III. PUPUK ORGANIK CAIR DAN PEMANFAATANNYA ... 14

A. Pengertian Pupuk Organik Cair dan Pemupukan ….………... 14

B. Macam dan Cara Aplikasi Pupuk Organik Cair ..……… 14

C. Kelebihan Pupuk Organik Cair Dibandingkan Pupuk Lainnya ………….. 16

D. Kendala Penggunaan Pupuk Organik Cair ……….. 16

E. Upaya Mengatasi Kendala pada Penggunaan Pupuk Organik Cair …….… 17

F. Manfaat Pupuk Organik Cair pada Budidaya Tanaman Tomat ………….. 17

IV. PENUTUP... 23

A. Kesimpulan... 23

B. Saran ... 23

DAFTAR PUSTAKA ... . 24

(4)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair terhadap

Tinggi Tanaman Tomat ... 19

Gambar 2. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair terhadap

Berat Kering Tanaman Tomat ... 20

Gambar 3. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair terhadap

Jumlah Buah Tomat per Tanaman ... 20

Gambar 4. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair terhadap

Bobot Buah Tomat per Tanaman ... 21

Gambar 5. a) Buah Tomat Kualitas Baik ... 22

(5)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Serapan Unsur Hara Esensial pada Buah Tanaman Tomat

dalam Bobot Buah 22,40 ton/ha ... 6

Tabel 2. Kadar Unsur Hara Esensial Makro dan Mikro pada Tanaman

(6)

PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA BUDIDAYA TANAMAN TOMAT (Solanum lycopersicum L.)

INTISARI

Tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting dalam memenuhi kebutuhan pasar dan mayarakat. Produktivitas tomat dapat ditingkatkan dengan menggunakan pupuk organik cair secara tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu sehingga unsur-unsur hara yang tersusun dalam pupuk tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman tomat secara optimal. Pupuk organik cair berperan penting dalam pertumbuhan akar, tunas, bunga, dan bakal buah, serta meningkatkan daya tahan terhadap hama, patogen terhadap penyakit, dan juga cekaman lingkungan.

Kata kunci: tomat, pupuk organik cair

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tomat (Solanum lycopersicum L.) memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Hal ini dapat dilihat pada keunggulan-keunggulannya dalam memenuhi beberapa fungsi

penting kehidupan. Fungsi-fungsi tersebut, antara lain fungsi pemenuhan kebutuhan

pangan, fungsi pemenuhan kebutuhan ekonomi, fungsi kesehatan, dan fungsi estetika.

Selain itu, tomat juga memiliki keunggulan pada jangkauan persebarannya. Tanaman ini

dapat tumbuh di daerah tropis hingga daerah sub-tropis tanpa harus bergantung pada

musim tanam.

Dari tahun ke tahun, permintaan pasar terhadap tomat semakin meningkat,

sedangkan produktivitas tomat belum mampu menyeimbangkan peningkatan tersebut.

Produktivitas tomat perlu lebih ditingkatkan lagi guna memenuhi kebutuhan dalam

negeri maupun ekspor. Banyak hal yang dapat dilakukan guna meningkatkan

produktivitas tomat, mulai dari perbaikan teknis budidaya tomat hingga perlakuan

pascapanen. Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam perbaikan teknik

budidaya tomat ialah ketersediaan hara yang cukup sebagai bahan makanan tanaman

untuk tumbuh dan berkembang sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil

tomat. Ketersediaan hara ini berkaitan dengan mineral-mineral yang disediakan oleh

(7)

untuk mencukupi kebutuhan tanaman, maka semakin baik media tanam tersebut dan

hasil tanaman pun akan semakin baik pula. Tidak semua media tanam memiliki tingkat

kesuburan yang sama. Oleh sebab itu, dibutuhkan pemasukkan unsur-unsur hara dari

luar, contohnya dengan cara pemberian pupuk.

Pemupukan sangat menentukan dalam peningkatkan produktivitas tanaman.

Petani sayuran dalam teknik pemupukan saat ini sering kali melebihi dosis anjuran. Hal

ini dikhawatirkan dalam jangka panjang dapat merusak sifat fisik, kimia, dan biologi

tanah (Wahyunindyawati et al., 2012). Untuk menanggulangi hal tersebut, diperlukan

suatu sistem pemupukan yang ramah terhadap lingkungan dan aman bagi tanaman.

Pupuk organik dapat menjadi salah satu alternatif yang tepat dalam mengatasi

permasalahan tersebut karena fungsinya yang dapat memberikan tambahan bahan

organik, hara, memperbaiki sifat fisik tanah, serta mengembalikan hara yang terangkut

oleh hasil panen.

Penggunaan pupuk organik diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah

sekaligus menyediakan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tomat. Pupuk

organik cair adalah salah satu jenis pupuk yang dapat digunakan untuk meningkatkan

produktivitas tomat. Hal ini didukung karena pupuk organik cair mengandung unsur

hara makro dan mikro yang cukup tinggi sebagai hasil senyawa organik bahan alami

yang mengandung sel-sel hidup aktif dan aman terhadap lingkungan serta pemakai.

Bentuk pupuk organik cair yang berupa cairan dapat mempermudah tanaman

dalam menyerap unsur-unsur hara yang terkandung di dalamnya dibandingkan dengan

pupuk lainnya yang berbentuk padat. Dalam pengaplikasiannya, selain diberikan

melalui tanah yang kemudian diserap oleh akar tanaman, pupuk organik cair juga dapat

diaplikasikan melalui daun tanaman tomat guna mendukung penyerapan unsur hara

secara optimal. Hal ini diharapkan dapat memberikan pertumbuhan, hasil, dan mutu

tanaman tomat yang lebih baik.

B. Tujuan

Untuk mengetahui manfaat pupuk organik cair pada budidaya tanaman tomat

(8)

II. SYARAT TUMBUH DAN KEBUTUHAN UNSUR TANAMAN TOMAT

A. Asal dan Penyebaran Tanaman Tomat

Kata tomat berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian yaitu xitomate atau

xitotomate. Tomat berasal dari Amerika Latin dan merupakan tumbuhan asli Amerika

Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru (Desmarina, 2009). Tanaman ini

pertama kali ditemukan di Amerika Latin, tepatnya di sekitar Peru, Equador. Kemudian

tanaman ini menyebar ke seluruh bagian daerah tropis Amerika. Tidak lama setelah itu,

orang Meksiko mulai membudidayakan tanaman ini. Pada awal abad ke-16, tanaman

tomat ini mulai masuk ke Eropa, sedangkan penyebarannya ke benua Asia dimulai dari

Filipina melewati jalur Amerika Selatan. Tanaman ini sudah muncul di Malaysia sekitar

tahun 1650.

Penyebaran buah tomat di Benua Afrika dilakukan oleh para pedagang Portugis

yang mendarat di Mesir atau Sudan. Kemudian, penyebaran tersebut terus berlanjut

hingga ke wilayah Afrika Barat. Orang Amerika Serikat terlambat mengenal tanaman

ini, meskipun nenek moyang buah tomat berasal dari Benua Amerika. Sekitar abad

ke-18, mereka baru mengenal tanaman ini karena sebelumnya tanaman ini kurang

mendapat sambutan yang hangat ketika mulai masuk Amerika Serikat. Hal ini karena

orang Amerika Serikat mengganggap tomat sebagai cendawan beracun sehingga mereka

mengabaikan tanaman ini, bahkan takut untuk memakannya. Saat ini daerah penanaman

tomat sudah cukup luas hampir meliputi seluruh daerah tropis, mulai dari daerah tropis

Asia seperti India, Malaysia, dan Filipina hingga mencapai daerah tengah, timur, dan

barat Afrika, serta daerah tropis Amerika dan daerah Karibia (Trinidal, Haiti, dan Puerto

Rico) (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2009).

B. Ciri Morfologi Tanaman Tomat

Berikut ini merupakan klasifikasi tanamn tomat (Plantamor, 2012).

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

(9)

Ordo : Solanales

Famili : Solanaceae (suku terung-terungan)

Genus : Solanum

Spesies : Solanum lycopersicum L.

Tanaman tomat berbentuk perdu atau semak dengan tinggi bisa mencapai 2 meter.

Tanaman ini termasuk tanaman semusim (annual) yang berarti memiliki siklus hidup

yang singkat dan umurnya hanya untuk satu kali periode panen, yaitu sekitar 4 bulan.

Tanaman ini akan mati setelah berproduksi (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2009).

Tomat mempunyai akar tunggang tumbuh menembus ke dalam tanah dan akar serabut

menyebar ke arah samping tetapi dangkal. Batang tanaman tomat berbentuk persegi

empat hingga bulat, menebal pada buku-bukunya, berbatang lunak sedikit berkayu

tetapi cukup kuat, berbulu atau berambut halus warnanya hijau keputihan dan diantara

bulu-bulu tersebut terdapat rambut kelenjar, batang tanaman tomat dapat bercabang.

Bentuk daun tanaman tomat adalah oval dan letaknya berseling. Bagian ujung daun

berbentuk runcing, namun pangkalnya membulat. Bagian tepi daun bergerigi dan

membentuk celah-celah yang menyirip serta agak melengkung ke dalam. Daun

berwarna hijau merupakan daun majemuk ganjil, yaitu antara 5-7 helai. Di sela-sela

daun terdapat 1-2 pasang daun kecil. Tomat mempunyai bunga majemuk yang tumbuh

dari batang (cabang) yang masih muda, berkumpul dalam rangkaian berupa tandan dan

membentuk jurai yang terdiri atas dua baris bunga. Tiap-tiap jurai terdiri atas 5 hingga

12 bunga. Mahkota bunganya berbentuk bintang, berjumlah enam, dan berwarna kuning

muda. Bakal buahnya ada yang membulat panjang, ada yang berbentuk bola, dan ada

yang berbentuk jorong melintang. Bunganya merupakan hermafrodit berjenis kelamin

dua yang melakukan penyerbukan sendiri dengan garis tengah 2 cm. Benang sari

tanaman tomat berjumlah enam dan berwarna kuning cerah. Benang sari mengelilingi

putik bunga. Kelopak bunga berjumlah enam dan letaknya menggantung (Pracaya,

1998; Rosalina, 2008).

Buah tomat berdaging, kulitnya tipis licin mengkilap, beragam dalam bentuk

maupun ukurannya, biasanya berbentuk bulat agak lonjong atau bulat telur, dan

warnanya kuning atau merah. Buah ini banyak mengandung biji lunak yang pipih

berwarna kekuning-kuningan yang tersusun berkelopak dan dibatasi oleh daging buah.

Tomat merupakan bentuk hasil buah segar. Sifat- sifat fisik buah tomat merupakan salah

(10)

mempengaruhi besarnya harga jual buah tomat (Desmarina, 2009; Balai Penelitian

Tanaman Sayur, 1997).

C. Syarat Tumbuh Tanaman Tomat a. Iklim

a) Tanaman tomat dapat tumbuh di daerah tropis maupun sub-tropis. Curah hujan

yang dikehendaki dalam pelaksanaan budidaya tomat ini ialah sekitar 750-1.250

mm/tahun. Keadaan tersebut berhubungan erat dengan ketersediaan air tanah bagi

tanaman, terutama di daerah yang tidak terdapat irigasi teknis. Curah hujan yang

tinggi (banyak hujan) juga dapat menghambat persarian.

b) Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan tanaman tomat mudah terserang

penyakit, baik parasit maupun non-parasit. Sinar matahari berintensitas tinggi

akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi.

Penyerapan unsur hara yang maksimal oleh tanaman tomat akan dicapai apabila

pencahayaan selama 12-14 jam/hari, sedangkan intensitas cahaya yang

dikehendaki adalah 0,25 mj/m2 per jam (Didit, 2010).

b. Suhu

Anomsari dan Prayudi (2012) menyatakan bahwa kisaran temperatur yang baik

untuk pertumbuhan tomat ialah antara 20-27ºC. Jika temperatur berada lebih dari

30ºC atau kurang dari 10ºC, maka akan mengakibatkan terhambatnya pembentukan

buah tomat. Di negara-negara yang mempunyai empat musim, biasanya digunakan

pemanas (heater) untuk mengatur udara ketika musim dingin, udara panas dari

heater disalurkan ke dalam green house melalui saluran fleksibel warna putih.

c. Kelembaban

Kelembaban relatif yang baik untuk pertumbuhan tanaman tomat ialah 25 %.

Keadaan ini akan merangsang pertumbuhan untuk tanaman tomat yang masih muda

karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih

banyak. Akan tetapi, kelembaban relatif yang tinggi juga dapat merangsang

mikroorganisme pengganggu tanaman.

d. Media Tanam

Secara umum, tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai dari tanah

pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, berporus, banyak

(11)

kemasaman tanah (pH) yang sesuai untuk budidaya tomat ialah berkisar 5,0-7,0.

Akar tanaman tomat rentan terhadap kekurangan oksigen. Oleh karena itu, tanaman

tomat tidak boleh tergenangi oleh air. Dalam pembudidayaan tanaman tomat,

sebaiknya dipilih lokasi yang topografi tanahnya datar sehingga tidak perlu dibuat

teras-teras dan tanggul.

e. Ketinggian Tempat

Tanaman tomat dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, baik di dataran tinggi

maupun di dataran rendah, tergantung varietasnya. Tanaman tomat yang sesuai untuk

ditanam di dataran tinggi, misalnya varietas Kada, sedangkan varietas yang sesuai

ditanam di dataran rendah, misalnya varietas Intan, varietas Ratna, varietas LV, dan

varietas CLN. Selain itu, ada varietas tanaman tomat yang cocok ditanam di dataran

rendah maupun di dataran tinggi, antara lain varietas tomat GH 2, varietas tomat GH

4, varietas Berlian, dan varietas Mutiara (Didit, 2010).

D. Unsur-Unsur yang Dibutuhkan Tanaman Tomat

Tanaman tomat membutuhkan unsur hara makro dan mikro untuk memenuhi

kebutuhan makanannya. Unsur hara makro yang diperlukan terdiri dari unsur karbon

(C), hidrogen (H), oksigen (O), natrium (N), fosfat (P), kalium (K), sulfur (S),

magnesium (Mg), dan kalsium (Ca), sedangkan unsur hara mikro yang diperlukan,

antara lain molibdenium (Mo), tembaga (Cu), boron (B), seng (Zn), besi (Fe), klor (Cl),

dan mangan (Mn). Unsur-unsur tersebut di atas dapat diperoleh melalui beberapa

sumber, seperti udara, air, mineral-mineral dalam media tanam, dan pupuk.

Serapan unsur hara esensial pada tanaman tomat dalam buah tomat disajikan pada

Tabel 1 sebagai berikut.

(12)

Tabel 2. Kadar Unsur Hara Esensial Makro dan Mikro pada Tanaman

Peranan-peranan unsur hara bagi tanaman tomat dapat dilihat sebagai berikut (Klinik

Tani Organik, 2012).

a. Karbon (C)

Sumber: Unsur karbon yang diperlukan tanaman tomat dapat diserap dari udara

(CO2) dan dari dalam tanah (kemungkinan HCO3-). Unsur ini diasimilasi

oleh tanaman sebagai CO2. Proses ini dinamakan karboksilasi yang

memfiksasi CO2 untuk fotosintesis.

Unsur karbon berperan sebagai pembangun bahan organik karena sebagian besar

bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik.

Gejala kekurangan: Proses fotosontesis akan terganggu sehingga terjadi kesulitan

dalam menghasilkan unsur organik.

b. Hidrogen (H)

Sumber: Unsur hidrogen ini diambil oleh tanaman tomat dalam bentuk air (H2O) dan

urin ternak. Unsur ini diserap dalam bentuk air dari larutan tanah atau dari

udara jika kondisinya humid.

Unsur hidrogen berperan sebagai elemen pokok pembangun bahan organik.

(13)

c. Oksigen (O)

Sumber: Unsur oksigen ini diambil oleh tanaman tomat dalam bentuk oksigen bebas

(O2) atau dapat juga diperoleh dari air (H2O).

Unsur oksigen berperan sebagai pembangun bahan organik, respirasi, dan pembakar

energi.

Gejala kekurangan: Terjadi kesulitan dalam memperoleh zat organik.

d. Nitrogen (N)

Sumber: Unsur nitrogen diserap dalam bentuk NH4+ atau NO3- dari larutan tanah atau

gas NH3 dan N2 dari udara. Unsur ini biasanya tersedia dalam kotoran

ternak, urin ternak, dan seresah daun jenis kacang-kacangan.

Unsur nitrogen berperan dalam:

1. Membantu pembentukan sel baru.

2. Mengganti sel-sel yang rusak.

3. Membantu dalam pembentukan klorofil dalam fotosintesis.

4. Mendukung pembentukan vitamin dan protein.

5. Mempercepat pertumbuhan tanaman muda.

6. Meningkatkan penyerapan unsur hara lainya, seperti fosfor dan kalium.

Gejala kekurangan: Tanaman menjadi layu, menguning, dan kekurangan zat hijau

daun.

Gejala kelebihan: Bunga dan buah terhambat karena pertumbuhan vegetatif

meningkat, pematangan buah terhambat, ukuran buah kecil, dan

tidak tahan terhadap penyakit.

3. Meningkatkan daya tahan terhadap penyakit.

(14)

Gejala kekurangan: Perakaran tanaman tidak sempurna, tanaman kerdil dan kurus,

daun menjadi mongering, dan warnanya menjadi

kemerah-merahan dan coklat.

f. Kalium (K)

Sumber: Unsur kalium tersedia bagi tanaman dalam bentuk kation K+. Unsur ini

biasanya tersedia dalam kotoran ternak, urin ternak, dan rumput gajah.

Unsur kalium berperan dalam:

1. Membantu pembentukan zat karbohidrat.

2. Merangsang pembentukan hijau daun dan bunga.

3. Meningkatkan daya serap akar.

4. Meningkatkan daya tahan terhadap penyakit.

5. Mengatur kesetimbangan pupuk nitrogen dan fosfat.

6. Meningkatkan kadar gula, lemak, dan rasa pada buah.

Gejala kekurangan: Pembentukan lamban dan tanaman menjadi kerdil, pucuk daun

menguning seperti terbakar pada tepi-tepinya, kematian pucuk

akar dan akar rambut, serta penyerapan unsur hara terganggu.

g. Sulfur (S)

Sumber: Unsur sulfur diserap dari larutan tanah dalam bentuk SO42- dan dapat

diserap dari udara sebagai SO2. Fraksi organik S dapat tersedia untuk

tanaman melalui proses mineralisasi yang dilakukan oleh mikrobia.

Tanaman dapat pula memanfaatkan SO2 sebagai bagian dari pasokan S.

Senyawa SO2 diadsorpsi melalui stomata dan didistribusikan ke seluruh

tubuh tanaman sehingga menjadi bagian dari protein S, asam amino S, dan

sulfat S. Unsur ini biasanya tersedia dalam kotoran ternak dan air kelapa.

Unsur sulfur berperan dalam:

1. Membantu pembentukan butir hijau daun sehingga daun menjadi lebih hijau.

2. Menambah kandungan protein dan vitamin hasil panen.

3. Mendukung proses pembulatan zat gula.

4. Memperbaiki kualitas dan meningkatkan produksi serta nilai gizi hasil panen

karena peningkatan kadar protein, gula, lemak, dan vitamin.

5. Memperbaiki rasa dan warna hasil panen.

6. Menjaga tanaman agar lebih sehat dan lebih tahan terhadap hama, penyakit, dan

(15)

Gejala kekurangan: Daun berwarna hijau kekuning-kuningan, pertumbuhannya

terhambat dan kerdil, dan batang berdiameter kecil.

h. Magnesium (Mg)

Sumber: Unsur ini biasanya tersedia dalam kotoran ternak dan air kelapa.

Unsur magnesium berperan dalam:

1. Sebagai unsur yang esensial dalam sintesis klorofil.

2. Terlibat dalam fungsi beberapa kerja enzim pada proses fotosintesis, respirasi, dan

reproduksi.

Gejala kekurangan: Warna daun tua berubah menjadi kuning dan bercak-bercak

merah coklat, sedangkan tulang daun biasanya tetap hijau,

batang menjadi kurus dan terdapat garis-garis berwarna hijau

kekuningan, kuning muda atau putih pada seluruh permukaan

daun, pembakaran oleh sinar matahari mudah terjadi karena

daun tidak mempunyai lapisan lilin, dan daya tumbuh biji

3. Memperkokoh struktur dinding sel tanaman.

4. Memperlancar transportasi sel dan retensi unsur-unsur lainnya dalam tanaman.

5. Mencegah efek garam, alkali, dan asam organik.

Gejala kekurangan: Daun-daun muda dan ujung-ujung dari titik tumbuh keriput dan

akhirnya mengering, daun-daun yang lebih tua nampak

berkeriput, daun di beberapa tempat mati, kuncup-kuncup yang

tumbuh kembali akan mati, dan tanaman menjadi lemah.

j. Molibdenum (Mo)

Sumber: Unsur ini biasanya tersedia dalam kotoran ternak.

Unsur molibdenum berperan dalam:

1. Mendukung terjadinya sintesis protein.

(16)

3. Mendukung proses fotosintesis.

Gejala kekurangan: Pertumbuhan tanaman terhambat, daun menjadi pucat dan mati,

serta pembentukan bunga terlambat.

k. Tembaga (Cu)

Sumber: Unsur ini biasanya tersedia dalam kotoran ternak dan air kelapa.

Unsur tembaga berperan:

1. Sebagai unsur yang esensial yang dibutuhkan untuk mengaktifkan beberapa enzim

yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman.

2. Mendukung terjadinya proses fotosintesis sehingga meningkatkan pemanfaatan

energi.

3. Terlibat dalam memproduksi lignin untuk dinding sel, biji, dan perkembangan

buah.

4. Meningkatkan resistensi terhadap penyakit tanaman.

Gejala kekurangan: Pembuahan terganggu, warna daun muda kuning dan kerdil,

daun-daun lemah, layu, dan pucuk mengering serta batang dan

tangkai daun lemah.

l. Boron (B)

Sumber: Unsur boron biasanya berasosiasi dengan bahan organik. Tanah dengan

kandungan bahan organik yang tinggi biasanya mengandung boron dalam

jumlah yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Di dalam tanah dan di

dalam larutan tanah ada dalam bentuk H3BO3 ataupun B(OH)4-.

Unsur boron berperan:

1. Sebagai unsur yang esensial bagi ujung akar, tabung serbuk sari, dan pertumbuhan

tunas.

2. Mendukung terjadinya sintesis DNA dan RNA.

Gejala kekurangan: Pertumbuhan terhambat pada jaringan meristematik (pucuk

akar), tanaman mati pucuk (die back), mobilitas rendah, dan

buah yang sedang berkembang sangat rentan terserang penyakit.

m.Seng (Zn)

Sumber: Unsur ini biasanya tersedia dalam kotoran ternak.

Unsur seng berperan dalam:

1. Mengaktifkan sebagian besar enzim yang terlibat dalam pertumbuhan dan

(17)

2. Mendukung terjadinya sintesis dan merangsang terbentuknya klorofil.

3. Terlibat dalam sistem hormon dan bertindak sebagai katalis untuk pengatur

pertumbuhan tanaman, auksin.

Gejala kekurangan: Tanaman kerdil, ruas-ruas batang memendek, daun mengecil

dan mengumpul, klorosis pada daun-daun muda dan

intermedier, serta adanya nekrosis.

n. Besi (Fe)

Sumber: Unsur ini biasanya tersedia dalam kotoran ternak dan air kelapa.

Unsur besi berperan:

1. Sebagai unsur esensial bagi sintesis klorofil.

2. Terlibat dalam aktivasi enzim yang digunakan pada proses fotosintesis dan

respirasi.

Gejala kekurangan: Pada daun muda, mula-mula daun berwarna hijau pucat dan

hijau kekuningan, tulang daun terjadi klorosis. Daun yang

semula berwarna hijau berubah menjadi warna kuning dan ada

pula yang menjadi warna putih.

o. Klor (Cl)

Sumber: Unsur klor ini diambil atau diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Cl- oleh

akar tanaman dan dapat diserap pula berupa gas atau larutan oleh bagian

atas tanaman, misalnya daun. Sumber unsur ini sering berasal dari air hujan.

Unsur klor berperan:

1. Sebagai pemindah hara tanaman.

2. Meningkatkan osmose sel.

3. Mencegah kehilangan air yang tidak seimbang.

4. Memperbaiki penyerapan ion lain.

Gejala kekurangan: Pola percabangan akar abnormal, gejala wilting (daun lemah dan

layu), dan warna keemasan (bronzing) pada daun.

p. Mangan (Mn)

Sumber: Unsur mangan terlarut berada dalam bentuk Mn2+, tetapi 80-90 % dari Mn

di dalam larutan tanah berda dalam kompleks dengan bahan organik.

Ketersediaan Mn di lapangan sukar untuk diprediksi karena kelarutan Mn

(18)

Mn lebih banyak berhubungan dengan cuaca. Suhu yang sejuk juga dapat

menghambat proses mineralisasi Mn organik.

Unsur mangan berperan dalam:

1. Meningkatkan pertumbuhan akar.

2. Meningkatkan resistensi terhadap penyakit tanaman.

3. Mendukung perkembangan buah.

4. Mendukung terjadinya sintesis klorofil.

5. Terlibat dalam aktivasi berbagai enzim yang terlibat dalam proses fotosintesis dan

respirasi.

Gejala kekurangan: Warna daun muda berubah dan di beberapa tempat jaringan

daun mati, pertumbuhan kerdil, dan pembentukan biji kurang

(19)

III. PUPUK ORGANIK CAIR DAN PEMANFAATANNYA DALAM BUDIDAYA TANAMAN TOMAT

A. Pengertian Pupuk Organik Cair dan Pemupukan

Secara umum, pupuk merupakan suatu bahan yang digunakan untuk menambah

hara tanah dan menambah kesuburan tanah sehingga tanaman yang ditanam pada media

tersebut dapat memperoleh cukup hara guna memenuhi kebutuhan untuk tumbuh dan

berkembang secara optimal. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-bahan

organik yang ramah terhadap lingkungan, seperti tumbuhan, hewan, ataupun limbah

organik lainnya, sedangkan pupuk organik cair merupakan pupuk organik yang

memiliki wujud berupa cairan sehingga pupuk ini mudah larut saat digunakan.

Secara luas, pemupukan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pemberian bahan

kepada tanah dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah. Secara

khusus, pemupukan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pemberian bahan yang

dimaksudkan untuk menambah hara tanaman pada tanah. Pemberian pupuk harus

disesuaikan dengan bentuk pupuk, jenis pupuk, kondisi lahan dan tanaman, sistem

perakaran tanaman, dan daya serap tanaman serta tanah terhadap unsur hara agar

pemupukan dapat lebih efektif dan efisien.

B. Macam dan Cara Aplikasi Pupuk Organik Cair

Berdasarkan teknik pembuatannya, pupuk organik cair terbagi menjadi 2 macam,

antara lain:

1. Pupuk organik cair secara sederhana

Pupuk organik cair ini dibuat dengan cara yang sederhana, yaitu menggunakan

bahan-bahan yang mudah didapatkan, seperti limbah peternakan, limbah pertanian,

dan beberapa bahan organik lain yang dibutuhkan.

a. Pupuk organik cair berbahan dasar limbah peternakan

Beberapa bahan yang berasal dari limbah peternakan dapat dimanfaatkan menjadi

pupuk organik cair, seperti urin hewan ternak, kotoran ternak, susu basi, dan

limbah peternakan lainnya. Urin sapi merupakan suatu bahan organik yang

mengikat zat pembangun berupa unsur fosfor secara baik. Pupuk ini dapat

(20)

tanam. Selain itu, pupuk ini juga dapat diaplikasikan melalui daun dengan cara

menyemprotkannya ke permukaan daun.

b. Pupuk organik cair berbahan dasar limbah pertanian

Beberapa bahan yang berasal dari limbah pertanian dapat dimanfaatkan menjadi

pupuk organik cair, seperti dedaunan, buah-buahan yang sudah busuk, air kelapa,

dan limbah pertanian lainnya. Rangga et al. (2008) menyatakan bahwa air kelapa

mengandung unsur kalium cukup banyak. Selain kaya mineral, air kelapa juga

mengandung gula dan protein. Mineral lain yang terkandung dalam air kelapa,

antara lain natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe), tembaga (Cu),

fosfor (P) dan sulfur (S). Disamping itu, air kelapa juga mengandung berbagai

macam vitamin, seperti asam sitrat, asam nikotinat, asam pantotenal, asam folat,

niacin, riboflavin, dan thiamin. Pupuk ini dapat diaplikasikan melalui akar

tanaman dengan cara menyiramkannya ke media tanam. Selain itu, pupuk ini juga

dapat diaplikasikan melalui daun dengan cara menyemprotkannya ke permukaan

daun.

2. Pupuk organik cair hasil industri

Pupuk organik cair ini diproduksi secara industrial sehingga menghasilkan

bermacam-macam merek dagang yang komersial dan memiliki spesifikasi tertentu.

Biasanya pupuk organik ini mencantumkan komposisi unsur hara yang terkandung

secara jelas. Contoh pupuk organik cair ini, antara lain: Elang Biru, Promo,

Superbiota Plus, Organik RI 1, Super A1, Super Boy, Sitto, Nutrisi Saputra, dan

Biokultur.

Aplikasi pupuk organik cair dapat dilakukan dengan 2 cara, antara lain: aplikasi

melalui akar tanaman dan aplikasi melalui daun tanaman.

1. Aplikasi melalui akar tanaman

Cara ini biasanya dilakukan dengan mengaplikasikan pupuk secara langsung ke

media tanam, seperti tanah. Taufika (2011) menyatakan bahwa tanaman akan mudah

mengatur penyerapan komposisi pupuk yang dibutuhkan jika terjadi kelebihan

kapasitas pupuk organik cair yang diberikan pada tanah karena bentuknya yang cair.

Pupuk organik cair dalam pemupukan jelas lebih merata, tidak akan terjadi

penumpukan konsentrasi pupuk di satu tempat. Hal ini disebabkan pupuk organik

(21)

2. Aplikasi melalui daun tanaman

Aplikasi pupuk melalui daun tanaman ini biasa dikenal dengan nama foliar

application. Pupuk disemprotkan pada permukaan daun. Hal ini dilakukan sebagai

cara untuk melengkapi pemberian pupuk melalui tanah untuk meminimalisir gejala

kekahatan yang mungkin muncul, terutama hara mikro dan hara yang immobil dalam

tubuh tanaman. Hara masuk ke dalam tubuh tanaman melalui mulut stomata secara

difusi atau osmosis. Pupuk disemprotkan langsung kepada daun dengan alat

penyemprot biasa (hand sprayer).

Aplikasi pupuk ini disesuaikan juga dengan dosis atau takaran dan waktu aplikasi yang

dianjurkan agar pertumbuhan dan hasil tanaman dapat optimal.

C. Kelebihan Pupuk Organik Cair Dibandingkan Pupuk Lainnya

1. Pupuk organik cair memiliki jumlah kandungan nitrogen, fosfor, kalium, dan air

yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pupuk organik padat yang berbahan

dasar kotoran sapi padat.

2. Bentuk pupuk organik cair yang berupa cairan mempermudah tanaman dalam

menyerap unsur-unsur hara yang terkandung di dalamnya.

3. Pupuk organik cair mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat digunakan

sebagai pengatur tumbuh tanaman (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2012).

4. Pada pupuk organik cair yang berbahan dasar urin hewan ternak, aroma atau bau

yang dihasilkan sangat khas sehingga dapat mencegah datangnya berbagai hama

tanaman.

5. Jika dibandingkan dengan pupuk anorganik, pupuk organik cair ini memiliki sifat

yang aman bagi kesehatan dan ramah terhadap lingkungan.

D. Kendala Penggunaan Pupuk Organik Cair

Berikut ini adalah kendala-kendala yang sering dihadapi dalam penggunaan

pupuk organik cair.

1. Respon yang ditunjukkan oleh penggunaan pupuk organik cair terhadap produksi

tanaman tidak secepat seperti menggunakan pupuk anorganik (kimia buatan).

2. Membutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengaplikasikan pupuk pada

(22)

3. Membutuhkan waktu yang relatif lebih lama karena aplikasi pupuk diharapkan

merata untuk masing-masing tanaman, khususnya yang diaplikasikan melalui daun.

4. Tidak semua pupuk organik cair memiliki komposisi kandungan unsur hara secara

jelas sehingga pemberian dosis pupuk terhadap tanaman sulit untuk ditentukan.

E. Upaya Mengatasi Kendala pada Penggunaan Pupuk Organik Cair

Berikut ini merupakan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi

kendala pada penggunaan pupuk organik cair.

1. Diperlukan peran nyata dari pemerintah dalam menggiatkan program pertanian

organik sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap pertanian berkelanjutan

sehingga para petani mengetahui peran dan manfaat pupuk organik cair bagi tanaman

dan lingkungan.

2. Untuk menghindari kekhawatiran para petani akan lambatnya respon dari

penggunaan pupuk organik cair terhadap produktivitas tanamannya dibandingkan

dengan penggunaan pupuk anorganik, maka penggunaan pupuk organik cair masih

perlu diikuti dengan penggunaan pupuk anorganik dengan jumlah yang terbatas. Hal

ini berkaitan juga dengan pentingnya pengetahuan tentang pupuk berimbang

sehingga antara waktu, tenaga, dan jumlah pupuk yang digunakan menjadi lebih

efektif dan efisien, serta bersifat lebih aman dan ramah terhadap lingkungan.

F. Manfaat Pupuk Organik Cair pada Budidaya Tanaman Tomat

Pemupukan merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan pada bidang

pertanian. Kegiatan ini harus dilakukan secara tepat dan benar. Kekurangan pupuk akan

mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan hara dalam tanah. Begitupun juga bila

terjadi kelebihan pupuk, dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Fungsi pemupukan adalah untuk menambah dan memperbaiki kesuburan tanah

sehingga tanah dapat dijadikan sebagai media yang baik bagi pertumbuhan dan

perkembangan tanaman.

Pupuk organik cair mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh tanaman

tomat. Selain itu, sifatnya yang organik ini mampu menyediakan senyawa-senyawa

organik yang alami dan aman bagi lingkungan, maupun bagi penggunanya. Pupuk cair

lebih mudah terserap oleh tanaman karena unsur-unsur di dalamnya sudah terurai.

(23)

menyerap hara sehingga ada manfaatnya apabila pupuk cair tidak hanya diberikan di

sekitar tanaman saja, tapi juga di atas daun-daun. Penggunaan pupuk cair lebih

memudahkan pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair berarti dapat melakukan tiga

macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu memupuk tanaman, menyiram tanaman,

dan mengobati tanaman (Anonim, 2008).

Adapun beberapa manfaat yang dimiliki oleh pupuk organik cair dalam

mendukung pertumbuhan dan perkembangan serta hasil tomat, antara lain:

1. Dengan menggunakan pupuk organik cair, tanaman tomat dapat memperoleh

unsur-unsur hara yang diperlukan untuk mendukung pembentukan klorofil sehingga dapat

meningkatkan terjadinya proses fotosintesis.

2. Beberapa unsur esensial yang terkandung di dalam pupuk organik cair dapat

merangsang pembentukan bunga dan buah serta pertumbuhan akar dan tunas.

3. Aplikasi pupuk organik cair dapat mengurangi terjadinya pengguguran daun, bunga,

dan bakal buah.

4. Adapun unsur-unsur tertentu yang mengaktivasi beberapa enzim yang berkaitan

dengan pertumbuhan tanaman tomat, seperti merangsang pertumbuhan cabang

produksi tanaman tomat.

5. Pupuk organik cair ini juga bermanfaat memperkuat struktur dinding sel tanaman

tomat dan memperkokoh tanaman serta meningkatkan resistensi tanaman terhadap

hama, patogen penyebab penyakit, dan cekaman lingkungan (cekaman kekeringan

dan cekaman cuaca).

Manfaat-manfaat tersebut di atas akan terlihat secara nyata jika di dukung dengan

aplikasi dosis pupuk organik cair, cara aplikasi, dan waktu yang tepat. Dosis pupuk

organik cair yang tepat ini merupakan suatu besaran yang digunakan pada saat aplikasi

pupuk guna menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman yang optimal. Apabila dosis

pupuk yang diberikan kurang dari kebutuhan hara tanaman tomat, maka hasil yang

diperoleh pun tidak optimal karena jumlah unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh

tanaman tidak terpenuhi secara baik sehingga metabolisme dalam tubuh tanaman tidak

berlangsung baik. Begitu pula sebaliknya, jika dosis pupuk organik cair melebihi batas

toleransi tanaman tomat, maka pertumbuhan tanaman tomat akan terhambat sehingga

hasil yang diperoleh pun tidak optimal. Hal ini disebabkan oleh berlebihnya unsur-unsur

hara yang diberikan yang dapat menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam

(24)

dan unsur-unsur hara oleh akar di dalam tanah secara osmosis dapat terganggu karena

adanya perbedaan konsentrasi yang cukup tinggi antara tanah dan akar tanaman.

Pekatnya pupuk organik cair yang digunakan akan meningkatkan konsentrasi larutan

pada tanah. Keadaan ini juga akan mengakibatkan penyusutan pada protoplasma sel

akar sehingga akan mengganggu sistem penyerapan air dan unsur-unsur hara, bahkan

air akan ikut keluar jika tekanan di dalam sel akar lebih rendah dibandingkan tekanan di

sekitar sel. Hal ini akan berlangsung hingga mencapai keseimbangan tekanan antara

keduanya. Fenomena tersebut sejalan dengan penelitian Lestari (2012) bahwa

konsentrasi pupuk organik cair sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil

tanaman tomat. Pertumbuhan dan hasil tersebut dapat dilihat dari grafik-grafik di bawah

ini tentang pengaruh konsentrasi pupuk organik cair Nutrisi Saputra terhadap tinggi

tanaman tomat, berat kering tanaman tomat, jumlah buah tomat per tanaman, dan bobot

buah tomat per tanaman.

Gambar 1 menunjukkan pengaruh konsentrasi pupuk organik cair terhadap tinggi

tanaman tomat. Perlakuan tanpa pupuk organik cair pada tanaman tomat memberikan

hasil tinggi tanaman yang paling rendah. Peningkatan tinggi tanaman terus berlangsung

ketika konsentrasi pupuk organik cair dinaikkan hingga konsentrasi pupuk mencapai

6000 ppm. Pupuk organik cair dengan konsentrasi 6000 ppm menghasilkan tinggi

tanaman yang paling baik. Peningkatan konsentrasi pupuk organik cair lebih dari 6000

ppm menunjukkan penurunan pada tinggi tanaman tomat.

Gambar 1. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair terhadap Tinggi Tanaman Tomat

(25)

Gambar 2 menunjukkan pengaruh konsentrasi pupuk organik cair terhadap berat

kering tanaman tomat. Perlakuan tanpa pupuk organik cair pada tanaman tomat

memberikan hasil berat kering tanaman yang paling rendah. Peningkatan berat kering

tanaman terus berlangsung ketika konsentrasi pupuk organik cair dinaikkan hingga

konsentrasi pupuk mencapai 6000 ppm. Pupuk organik cair dengan konsentrasi 6000

ppm menghasilkan berat kering tanaman yang paling tinggi. Peningkatan konsentrasi

pupuk organik cair lebih dari 6000 ppm menunjukkan penurunan pada berat kering

tanaman tomat.

Gambar 3 menunjukkan pengaruh konsentrasi pupuk organik cair terhadap jumlah

buah tomat per tanaman. Perlakuan tanpa pupuk organik cair pada tanaman tomat

memberikan hasil buah tomat yang paling sedikit per tanaman. Pertambahan jumlah

buah tomat terus berlangsung ketika konsentrasi pupuk organik cair dinaikkan hingga Gambar 3. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik

Cair terhadap Jumlah Buah Tomat per Tanaman

Sumber: Lestari (2012)

Gambar 2. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair terhadap Berat Kering Tanaman Tomat

(26)

konsentrasi pupuk mencapai 6000 ppm. Pupuk organik cair dengan konsentrasi 6000

ppm menghasilkan jumlah buah tomat per tanaman yang paling banyak. Peningkatan

konsentrasi pupuk organik cair lebih dari 6000 ppm menunjukkan penurunan pada

jumlah buah tomat per tanaman.

Gambar 4 menunjukkan pengaruh konsentrasi pupuk organik cair terhadap bobot

buah tomat per tanaman. Perlakuan tanpa pupuk organik cair pada tanaman tomat

memberikan hasil buah tomat yang paling sedikit per tanaman. Peningkatan bobot buah

tomat terus berlangsung ketika konsentrasi pupuk organik cair dinaikkan hingga

konsentrasi pupuk mencapai 6000 ppm. Pupuk organik cair dengan konsentrasi 6000

ppm menghasilkan bobot buah tomat per tanaman yang paling tinggi. Peningkatan

konsentrasi pupuk organik cair lebih dari 6000 ppm menunjukkan penurunan pada

bobot buah tomat per tanaman.

Manfaat yang diperoleh dari penggunaan pupuk organik cair tidak hanya sampai

pada hasil buah. Mutu buah yang dihasilkan juga dapat diperhatikan. Hal ini penting

karena hasil tomat yang dipasarkan adalah buahnya. Berdasarkan Standarisasi Nasional

Indonesia (SNI), grading pada komoditas tomat dapat dibedakan menjadi tiga kelas,

yaitu: kelas A dengan ukuran buah spesial besar besar (> 150 gram), kelas B dengan

ukuran buah menengah (100-150 gram), dan kelas C dengan ukuran buah kecil (<100

gram). Penetapan standar mutu tersebut dapat mempengaruhi harga jual, namun hal ini

belum mutlak untuk pasar domestik. Standar mutu untuk ekspor dapat dibagi menjadi 2,

yaitu Mutu I dan Mutu II. Kriteria tomat Mutu I, meliputi: varietas seragam, tidak

terlalu matang, tidak lunak, ukuran buah seragam, kotoran maksimal 5 %, dan busuk Gambar 4. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik

Cair terhadap Bobot Buah Tomat per Tanaman

(27)

maksimal 1 %, sedangkan Mutu II, meliputi: varietas seragam, tidak terlalu matang,

tidak lunak, ukuran buah seragam, kotoran maksimal 10 %, dan busuk maksimal 1 %

(Adiyoga et al., 2004).

Gambar 5 menunjukan perbedaan kualitas buah tomat yang dihasilkan. Hal ini

dapat terjadi oleh beberapa hal, salah satunya adalah kebutuhan hara. Buah yang busuk

dapat diakibatkan oleh serangan hama dan patogen penyebab penyakit. Serangan ini

memperlihatkan ketahanan tanaman tomat yang kurang baik. Ketahanan tanaman tomat

terhadap serangan organisme pengganggu tersebut dapat dicegah dengan memenuhi

unsur P, K, S, Ca, Cu, dan Mn yang berperan dalam meningkatkan resistensi terhadap

serangan organisme pengganggu tanaman dan membentuk dinding sel yang kokoh

sebagai antisipasi serangan tersebut.

a) b)

Sumber: Didit (2010)

(28)

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

Pupuk organik cair memiliki manfaat yang baik bagi pertumbuhan dan hasil

tanaman tomat bila diaplikasikan dengan cara, waktu, dan dosis yang tepat. Manfaat ini

dapat dilihat secara nyata pada pertumbuhan dan hasil tanaman tomat, seperti

merangsang pertumbuhan akar, tunas, bunga, dan bakal buah, serta meningkatkan daya

tahan terhadap hama, patogen terhadap penyakit, dan juga cekaman lingkungan

sehingga hasil tanaman tomat menjadi optimal.

B. Saran

Dalam aplikasi pupuk organik cair, perlu dilakukan tinjauan terhadap aspek-aspek

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga, W., R. Suherman, T. A. Soetiarso, B. Jaya, B. K. Udiarto, R. Rosliani, dan D. Mussadad. 2004. Laporan Akhir Profil Komoditas Tomat. Proyek/Bagian Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif (PPATP), Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Anonim. 2008. Pupuk Alami. <http://images.redhr.multiply.multiplycontent.com/attach ment/0/SK6dJwoKCqEAAH1veLA1/Pupuk%20cair.doc?key=redhr:journal:1&n mid=111721253>. Diakses pada tanggal 21 November 2012.

Anomsari, S. D. dan B. Prayudi. 2012. Budidaya Tomat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Semarang.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005. Pengembangan Model Permintaan dan Penawaran Komoditas Pertanian Utama. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.

Balai Penelitian Tanaman Sayur. 1997. Teknologi Produksi Tomat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2012. Pembuatan Pupuk Organik Cair. <http://sulsel.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=artic le&id=666:pembuatan-pupuk-organik&catid=133:pertanian&Itemid=207>. Diakses pada tanggal 2 Desember 2012.

Desmarina, R. 2009. Respon tanaman tomat terhadap frekuensi dan taraf pemberian air. Skripsi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Didit. 2010. Cara Budidaya Tomat (Lycopersicon esculentum Mill). <http://tani.blog.fisip.uns.ac.id/2010/11/24/cara-budidaya-tomat-lycopersicon-esculentum-mill/>. Diakses pada tanggal 9 Desember 2012.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Klinik Tani Organik. 2012. Kebutuhan Tanaman terhadap Unsur Hara Mikro. <http://kliniktaniorganik.com/?p=5208>. Diakses pada tanggal 21 November 2012.

Lestari, A. P. 2011. Pengaruh pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Jurnal Agroqua 9 : 1-7.

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. <http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/ 2009/04/kadar-dan-serapan-hara-tanaman.html>. Diakses pada tanggal 9 Desember 2012.

(30)

Pracaya. 1998. Bertanam Tomat. Kanisius, Yogyakarta.

Rosalina, R. 2008. Pengaruh konsentrasi dan frekuensi penyiraman air limbah tempe sebagai pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Skripsi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang, Malang.

Rangga, M. F., H. Kifli, I. M. Ridha, P. P. Lestari, dan H. Wulandari. 2008. Kombinasi limbah pertanian dan peternakan sebagai alternatif pembuatan pupuk organik cair melalui proses fermentasi anaerob. Prosiding Seminar Nasional Teknoin Bidang Teknik Kimia.

Taufika, R. 2011. Pengujian beberapa dosis pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman wortel (Daucus carota L.). Jurnal Tanaman Hortikultura.

Tim Penulis Penebar Swadaya. 2009. Budidaya Tomat Secara Komersial. Penerbar Swadaya.

(31)

LAMPIRAN

Daftar pertanyaan dan jawaban hasil diskusi seminar kelas “Pemanfaatan Pupuk Organik Cair pada Budidaya Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.)”.

1. Siti Afrohul Qonita (11849)

Pertanyaan:

a. Kapan waktu yang tepat untuk pengaplikasian pupuk organik cair?

b. Apakah ada perbedaan waktu antara aplikasi pupuk yang melalui daun dan aplikasi

pupuk yang melalui akar?

Jawaban:

a. Pupuk organik cair tepat diaplikasikan pada pagi hari saat matahari belum terik. Jika

diaplikasikan pada siang hari, pupuk organik cair cenderung akan cepat menguap dan

menjadi kurang efektif.

b. Tidak ada perbedaan waktu aplikasi di antara keduanya, yaitu pada pagi hari, hanya

saja aplikasi pupuk melalui daun belum dapat dilakukan pada masa pembibitan

karena pada masa pembibitan daun belum tumbuh sempurna. Dalam hal ini, daun

cenderung hanya sebagai lubuk (sink) yang belum dapat memenuhi proses

fotosintesis, sedangkan aplikasi melalui daun ini dilakukan selagi stomata daun

terbuka. Jika aplikasi pupuk melalui daun ini dilakukan saat stomata daun menutup,

dimungkinkan pupuk organik cair yang disemprotkan hanya menempel di permukaan

daun. Apabila konsentrasi pupuk terlalu pekat saat aplikasi tersebut, maka sangat

dimungkinkan juga akan terjadi kerusakan pada jaringan tanaman tersebut.

2. Taufik Afif (11603)

Pertanyaan:

a. Salah satu macam pupuk organik cair adalah air kelapa. Bagaimana cara aplikasi

dengan bahan air kelapa, apakah hanya disiramkan juga?

b. Air kelapa yang bagaimana yang baik digunakan sebagai pupuk, apakah kelapa muda

atau kelapa tua?

c. Apakah ada perbedaan hasil tanaman yang diperoleh antara pemberian pupuk yang

berasal dari limbah pertanian dan pemberian pupuk yang berasal dari limbah

(32)

Jawaban:

a. Apabila aplikasi melalui akar, air kelapa dapat disiramkan secara langsung ke media

tanam, sedangkan bila aplikasi melalui daun, air kelapa dapat disemprotkan secara

langsung ke permukaan daun.

b. Air kelapa yang baik digunakan sebagai pupuk ialah air kelapa muda karena masih

mengandung banyak unsur yang dibutuhkan tanaman dan hormon tumbuh, seperti

auksin, giberillin, dan sitokinin. Pada kelapa tua, unsur-unsur yang dibutuhkan

tanaman sudah banyak dimanfaatkan untuk pembentukan endosperma sehingga

kurang efektif untuk digunakan sebagai pupuk.

c. Secara umum, pupuk yang berasal dari limbah pertanian dan peternakan memiliki

kemiripan, seperti urin sapi dengan air kelapa. Keduanya memiliki unsur-unsur hara

penting yang dibutuhkan oleh tanaman.

3. Ahmad Irfan S. (10852)

Pertanyaan:

Tanah yang cocok bagi pertanaman tomat adalah tanah yang berporositas baik, tetapi

tidak baik pada kondisi tergenang. Bagaimana dengan penggunaan pupuk organik cair?

Apakah ada perhitungan khusus dalam menentukan dosis di suatu media tanam?

Jawaban:

Penggunaan pupuk organik cair tentunya diaplikasikan sesuai dengan dosis dan tidak

sampai tergenang. Untuk perhitungan dalam menentukan dosis pupuk, dapat dilakukan

dengan cara pengenceran sesuai dengan kebutuhan tanaman.

4. Mariana Susilowati (11571)

Pertanyaan:

Kapankah waktu yang tepat untuk pengaplikasian pupuk organik cair pada tanaman

tomat? Berapakah dosis yang tepat dalam pengaplikasian tersebut?

Jawaban:

Pupuk organik cair dapat diaplikasikan sebagai pupuk dasar pada awal masa tanam dan

juga dapat diaplikasikan sebagai pupuk susulan. Dosis yang tepat dapat disesuaikan

dengan macam pupuk yang digunakan. Khusus untuk pupuk hasil industri, biasanya

(33)

5. Galuh Asrinda (11772)

Pertanyaan:

Apakah sudah ditemukan hasil penelitian mengenai perbedaan aplikasi pupuk yang

antara yang melalui daun dan yang melalui akar? Bila ada, mana yang lebih baik

hasilnya?

Jawaban:

Sejauh ini saya belum dapat menemukan jurnal ataupun hasil penelitian mengenai

perbedaan aplikasi pupuk yang antara yang melalui daun dan yang melalui akar.

Aplikasi pupuk yang melalui daun biasanya ditujukan untuk melengkapi pemupukan

yang telah dilakukan melalui akar. Selain itu, pemupukan yang melalui daun juga

digunakan untuk meminimalisir gejala kekahatan yang mungkin terjadi. Lagipula

pemupukan melalui daun belum dapat dilakukan ketika masa atau fase pembibitan.

6. Yohanes Tri Santosa (11539)

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini terdapat fenomena penyakit “Busuk Pantat” pada tanaman tomat, pemupukan yang seperti apakah yang dapat mengatasi masalah penyakit tersebut?

Jawaban:

Penyakit “Busuk Pantat” ini biasa disebut dengan “Blossom End Root”. Pada kondisi ini, tanaman mengalami kekurangan unsur kalsium (Ca) sehingga pemupukan yang

tepat untuk kasus ini adalah dengan menambah unsur kalsium guna memperkokoh

Gambar

Tabel 1. Serapan Unsur Hara Esensial pada Buah Tanaman Tomat dalam Bobot Buah 22,40 ton/ha
Tabel 2. Kadar Unsur Hara Esensial Makro dan Mikro pada Tanaman
Gambar 1. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik  Cair terhadap Tinggi Tanaman Tomat
Gambar 2. Grafik Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik  Cair terhadap Berat Kering Tanaman Tomat
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pupuk organik cair adalah larutan yang mengandung unsur hara N, P, K yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman serta dapat memperbaiki unsur hara dalam tanah.Tujuan dari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi pupuk organik cair terhadap produktivitas tanaman tomat ( Lycopersicum esculentum Mill.) dengan

Pupuk organik cair adalah larutan yang mengandung unsur hara N, P, K yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman serta dapat memperbaiki unsur hara dalam tanah.Tujuan dari

Pemberian dosis pupuk organik 10 ton/ha pada tanaman kedelai mampu memperbaiki keadaan tanah, seperti ketersediaan unsur hara, oksigen, dan air yang

Untuk meningkatkan produktivitas pala petani, kombinasi penggunaan pupuk organik kompos yang diberikan melalui tanah, dan pupuk organik cair melalui penyemprotan kanopi

Hal ini disebabkan oleh unsur hara yang terkandung di dalam pupuk organik cair limbah cair tahu dengan penambahan abu sabut kelapa dapat diserap dengan baik dan memenuhi unsur yang

Dokumen ini membahas pengaruh pemberian dosis kompos ela sagu dan dosis pupuk organik cair terhadap perbaikan distribusi pori tanah