• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Konservasi Tanah dan Air

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Konservasi Tanah dan Air"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konservasi tanah dan air atau yang sering disebut pengawetan tanah merupakan usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produktifitas tanah, kuantitas dan kualitas air. Apabila tingkat produktifitas tanah menurun, terutama karena erosi maka kualitas air terutama air sungai untuk irigasi dan keperluan manusia lain menjadi tercemar sehingga jumlah air bersih semakin berkurang. Pada kenyataannya semakin banyak terjadi degradasi lahan dan air yag disebabkan oleh banyak faktor yang dapat menyebabkan rusaknya atau berkurangnya kualitas dan kuantitas suatu tanah dan air yang dapat berdampak buruk pada lingkungan kita bahkan dapat menyebabkan suatu bencan alam seperti longsor yang merupakan bentuk dari erosi (Subagyono dkk, 2003).

Teknik pembangunan bangunan konservasi tanah dan air pada lahan terdegradasi yang tidak dibangun dengan baik akan menghasilkan besar erosi yang lebih besar dimana erosi yang terjadi pada suatu lahan sangat berdampak terhadap kesuburan tanah serta kemampuan tanah untuk mengikat dan menyimpan air akan berkurang. Di samping itu, erosi juga dapat mengurangi ketebalan tanah bagian atas yang subur akan unsur hara (Saleh, B. 2008).

(2)

identifikasi jenis-jenis erosi yang terjadi di kawasan Hutan Pendidikan Bengo-Bengo dan untuk usaha pengendalian erosi dilakukan pembuatan bangunan konservasi tanah dan air sesuai dengan metode-metode yang ada.

B. Tujuan dan Kegunaan

Adapun tujuan dari kegiatan praktek lapang ini adalah 1. Untuk mengidentifikasi jenis-jenis erosi

2. Untuk mengetahui besar laju infiltrasi

3. Untuk menginventarisasi pohon yang terdapat dalam plot

4. Untuk membuat bangunan atau model teknik konservasi tanah dan air sesuai dengan jenis erosi yang ditemukan.

(3)

A. Tanah

Tanah menurut pengertian sehari-hari ialah tempat berpijak makhluk hidup di darat, fondasi tempat tinggal, dan sebagainya. Secara ilmiah, tanah merupakan media tempat tumbuh tanaman. Dalam tulisan Beydha (2002) menjelaskan bahwa, menurut Simmonson (1957), tanah adalah permukaan lahan yang kontiniu menutpi kerak bumi kecuali di tempat-tempat berlereng terjal, puncak-puncak pegunungan, daerah salju abadi. Sedangkan menurut Soil Survey Staff (1973), tanah adalah kumpulan tubuh alami pada permukaan bumi yang dapat berubah atau dibuat oleh manusia dari penyusun-penyusunnya, yang meliputi bahan organik yang sesuai bagi perkembangan akar tanaman.

Secara umum tanah (dengan bahan induk mineral) tersusun atas 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara. Sedangkan pada tanah organik (misalnya gambut), bahan padatan tersebut terdiri atas 5% bahan organik dan 45% bahan mineral). Bahan organik dalam tanah terdiri atas mikroorganisme 10%, akar 10% dan humat 80%, meskipun jumlahnya sedikit namun memiliki fungsi sangat penting (Yuwono, 2011).

B. Erosi

(4)

glacier yang dapat meretakkan batuan jika celah-celah batuan yang terisi dengan air yang membeku (Widayati, 2014).

Intensitas curah hujan yang tinggi di suatu lokasi yang tekstur tanahnya merupakan sedimen, misalnya pasir serta letak tanahnya juga agak curam menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Selain faktor curah hujan, tekstur tanah dan kemiringannya, tutupan tanah juga mempengaruhi tingkat erosi. Tanah yang gundul tanpa ada tanaman pohon atau rumput akan rawan terhadap erosi (Widayati, 2014).

Erosi mempunyai dampak yang kebanyakan merugikan, karena terjadi kerusakan lingkungan hidup. Menurut penelitian bahwa 15% permukaan bumi mengalami erosi. Kebanyakan disebabkan oleh erosi air kemudian oleh angin. Jika erosi terjadi di tanah pertanian maka tanah tersebut berangsur-angsur akan menjadi tidak subur, karena lapisan tanah yang subur makin menipis, dan jika terjadi di pantai, maka bentuk garis pantai akan berubah. Dampak lain dari erosi merupakan sedimen dan polutan pertanian yang terbawa air akan menumpuk di suatu tempat. Hal ini bisa menyebabkan pendangkalan air waduk, kerusakan ekosistem di danau, pencemaran air minum (Widayati, 2014).

(5)

Pada dasarnya erosi dipengaruhi oleh iklim, sifat tanah, panjang dan kemiringan lereng, adanya penutup tanah berupa vegetasi dan aktivitas manusia. a) Faktor Iklim

Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung atau tidak langsung. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetik air hujan, terutama intensitas dan diameter butiran air hujan. Pada hujan yang intensif dan berlangsung dalam waktu pendek, erosi yang terjadi biasanya lebih besar dari pada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya hujan lebih lama. Pengaruh iklim tidak langsung ditentukan melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetasi. Dengan kondisi iklimyang sesuai, vegetasi dapat tumbuh secara optimal. Sebaliknya, pada daerah dengan perubahan iklim besar, misalnya di daerah kering, pertumbuhan vegetasi terhambat oleh tidak memadainya intensitas hujan. Tetapi, sekali hujan turun, intensitas hujan tersebut umumnya sangat tinggi (Asdak, 2002).

Hujan merupakan faktor yang paling penting di daerah tropika sebagai agensi yang mampu merusak tanah melalui kemampuan energi kinetiknya yang dijabarkan sebagai intensitas, durasi, ukuran butiran hujan dan kecepatan jatuhnya. Faktor iklim dibedakan dalam dua kategori yakni bila curah hujan tahunan <2500 mm diperhitungkan daya rusaknya akan lebih kecil dari pada >2500 mm (Kementrian Lingkungan Hidup, 2008).

(6)

lebih besar daripada daya tahan tanah. Hancuran dari tanah ini akan menyumbat pori-pori tanah, maka kapasitas infiltrasi tanah akan menurun dan mengakibatkan air mengalir di permukaan tanah dan disebut sebagai limpasan. Limpasan permukaan mempunyai energi untuk mengikis dan mengangkut pertikel-partikel tanah yang telah dihancurkan. Selanjutnya jika tenaga limpasan permukaan sudah tidak mampu lagi mengangkut bahan-bahan ini akan diendapkan. Dengan demikian ada tiga proses yang bekerja secara berurutan dalam proses erosi, yaitu diawali dengan penghancuran agregat-agregat, pengangkutan, dan diakhiri dengan pengendapan (Utomo, 1989).

Curah hujan tinggi dalam suatu waktu mungkin tidakmenyebabkan erosi jika intensitasnya rendah. Demikian pula bila hujandengan intensitas tinggi tetapi terjadi dalam waktu singkat. Hujan akan menimbulkan erosi jika intensitasnya cukup tinggi dan jatuhnya dalam waktu yang relatif lama. Ukuran butir hujan juga sangat berperan dalam menentukan erosi. Hal tersebut disebabkan karena dalam proses erosi energi kinetik merupakan penyebab utama dalam menghancurkan agregat-agregat tanah. Besarnya energi kinetik hujan tergantung pada jumlah hujan, intensitas dan kecepatan jatuhnya hujan. Kecepatan jatuhnya butir-butir hujan itu sendiri ditentukan ukuran butir-butir hujan dan angin (Utomo, 1989).

(7)

Secara fisik, tanah terdiri dari partikel-partikel mineral dan organik dengan berbagai ukuran, partikel-partikel tersusun dalam bentuk materi dan poriporinya kurang lebih 50 % sebagian terisi oleh air dan sebagian lagi terisi oleh udara. Secara esensial, semua penggunaan tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah (Suripin, 2002).

Kerusakan yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi berupa kemunduran sifat-sifat kimia dan fisika tanah seperti kehilangan unsur hara dan bahan organik, dan meningkatnya kepadatan serta ketahanan penetrasi tanah, menurunnya kapasitas infiltrasi tanah serta kemampuan tanah menahan air. Akibat dari peristiwa ini adalah menurunnya produktivitas tanah, dan berkurangnya pengisian air dalam tanah (Asdak, 2002).

Adapun sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat kesuburan tanah. Berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda. Kepekaan erosi tanah atau mudah tidaknya tanah tererosi adalah fungsi berbagai interaksi sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Sifat-sifat fisik dan kimia tanah yang mempengaruhi erosi adalah (1) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi infiltrasi, permeabilitas, dan kapasitas menahan air, dan (2) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur, terhadap dispersi, dan penghancuran agregat tanah oleh tumpukan butir-butir hujan dan aliran permukaan (Arsyad S, 2010).

(8)

Tekstur tanah akan mempengaruhi kemampuan tanah menyimpan dan menghantarkan air, menyimpan dan menyediakan unsur hara tanaman. Untuk keperluan pertanian berdasarkan ukurannya, bahan padatan tanah digolongkan menjadi tiga partikel yaitu pasir, debu, dan liat. Tanah berpasir yaitu tanah dengan kandungan pasir >70%, porositasnya rendah <40%, aerasi baik, daya hantar air cepat, tetapi kemampuan menyimpan air dan zat hara rendah. Tanah berliat, jika kandungan liatnya >35%, kemampuan menyimpan air dan hara tanaman tinggi (Utomo, 1989).

Menurut Asdak (2002), Empat sifat tanah yang penting dalam menentukan erodibilitas tanah (mudah tidaknya tanah tererosi) adalah :

1) Tekstur tanah, biasanya berkaitan dengan ukuran dan porsi partikel-partikel tanah dan akan membentuk tipe tanah tertentu. Tiga unsur utama tanah adalah pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay). Di lapangan, tanah terbentuk oleh kombinasi ketiga unsur tersebut. Misalnya, tanah dengan unsur dominan liat, ikatan antar partikel-partikel tanah tergolong kuatdan dengan demikian tidak mudah tererosi. Sebaliknya, pada tanah dengan unsur utama debu dan pasir lembut serta sedikit unsur organik, memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya erosi.

(9)

3) Struktur tanah, adalah susunan partikel-partikel tanah yang membentuk agregat. Struktur tanah mempengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap air tanah. Misalnya struktur tanah yang mempunyai kemampuan besar dalam meloloskan air larian, dan dengan demikian, menurunkan laju air larian dan memacu pertumbuhan tanaman.

4) Permeabilitas tanah, menunjukan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Struktur dan tekstur tanah serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam menentukan permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian, menurunkan laju air larian.

c) Faktor topografi

Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari.

(10)

semakin banyak. Jika lereng permukaan dua kali lebih curam, banyaknya erosi 2 sampai 2.5 kali lebih besar (Sinukaban, 1986).

Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian. Kecepatan aliran air yang besar umumnya ditentukan oleh kemiringan lereng yang tidak terputus dan panjang serta terkonsentrasi pada saluran-saluran sempit yang mempunyai potensi besar untuk terjadinya erosi alur dan erosi parit. Kedudukan lereng juga menentukan besar kecilnya erosi. Lereng bagian bawah lebih mudah tererosi dari pada lereng bagian atas karena momentum air larian lebih besar dan kecepatan air larian lebih terkonsentrasi ketika mencapai lereng bagian bawah. Daerah tropis dengan topografi bergelombang dan curah hujan tinggi sangat potensial untuk terjadinya erosi dan tanah longsor (Asdak, 2002).

d) Faktor vegetasi

(11)

perakaran akan meningkatkan kekuatan mekanik tanah (Styczen and Morgan, 1995 dalam Arsyad S, 2010).

Vegetasi mempengaruhi erosi karena vegetasi melindungi tanah terhadap kerusakan tanah oleh butir-butir hujan. Pada dasarnya tanaman mampu mempengaruhi erosi karena adanya : Intersepsi air hujan oleh tajuk dan adsorpsi melalui energi air hujan, sehingga memperkecil erosi. Daun tanaman contohnyadaun jagung adalah daun sempurna. Karena bentuknya yang memanjang. Setiap stomata dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.

1) Pengaruh terhadap struktur tanah melalui penyebaran akar-akarnya.

2) Pengaruh terhadap limpasan permukaan yang dihalangioleh jenis vegetasi yang tumbuh kokoh dan kuat. Dengan jarak tanam tertentu maka laju air limpasan dapat tertahan.

3) Peningkatan aktivitas biologi dalam tanah. Dengan adanya hewan-hewan mikro di dalam tanah membantu menambah kadar bahan organik dalam tanah yang mampu membentuk pori-pori tanah untuk peresapan air hujan yang turun.

4) Peningkatan kecepatan kehilangan air karena transpirasi. Pengaruh vegetasi tersebut berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman, perakaran tinggi tanaman, tajuk, dan tingkat pertumbuhan dan musim.

(12)

struktur tajuk yang berlapis sehingga dapat menurunkan kecepatan terminal air hujan dan memperkecil diameter tetesan air hujan (Sukmana dan Soewardjo, 1978).

e) Faktor manusia

Pada akhirnya manusialah yang menentukan apakah tanah diusahakannya akan rusak dan menjadi tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari (Arsyad U, 2010). Perbuatan manusia yang mengelola tanahnya dengan cara yang salah telah menyebabkan intensitas erosi semakin meningkat. Misalnya pembukaan hutan, pembukaan areal lainnya untuk tanaman perladangan, dan lain sebagainya. Maka dengan praktek konservasi, tanaman diharapkan dapat mengurangi laju erosi yang terjadi. Faktor penting yang harus dilakukan dalam usaha konservasi tanah,yaitu teknik inventarisasi dan klasifikasi bahaya erosi dengan tekanan daerah hulu. Untuk menentukan tingkat bahaya erosi suatu bentang lahan diperlukan kajian terhadap empat faktor, yaitu jumlah, macam dan waktu berlangsungnya hujan serta faktor-faktor yang berkaitan dengan iklim, jumlah dan macam tumbuhan, penutup tanah, tingkat erodibilitas di daerah kajian, dan keadaan kemiringan lereng (Asdak, 2002).

(13)

Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan di tempat lain. Pengikisan dan pengangkutan tanah tersebut terjadi oleh media alami, yaitu air dan angin (Arsyad S, 2010).

a) Erosi air

Erosi air terlihat di banyak bagian dunia. Bahkan, air bersih adalah agen yang paling umum dari erosi tanah. Hal ini termasuksungai yang mengikis daerah aliran sungai, air hujan yang mengikis berbagai bentang alam, dan gelombang laut yang mengikis daerah pesisir.

Erosi air mengikis dan mengangkut partikel tanah dari ketinggian yang lebih tinggi dan deposito mereka di daerah dataran rendah. Suripin (2002), memaparkan mengenai jenis erosi berdasarkan bentuknya yaitu :

1) Erosi percikan (splash erosion) adalah erosi oleh butiran air hujan yang jatuh ke tanah. Karena benturan butiran air hujan, partikel-partikel tanah yang halus terlepas dan terlempar ke udara.

2) Erosi aliran permukaan adalah erosi yang terjadi hanya dan jika intensitas dan/atau lamanya hujan melebihi kapasitas infiltrasi atau kapasitas simpan air tanah. Mengingat bahwa aliran permukaan terjaditidak merata dan arah alirannya tidak beraturan, maka kemampuan untuk mengikis tanah juga tidak sama atau tidak merata untuk semua tempat.

(14)

permukaan sehingga membentuk alur-alir kecil dengan kedalamanbeberapa senti meter. Erosi ini terjadi pada permukaan tanah yang landai dan memiliki daya tahan yang seragam terhadap erosi.

4) Erosi parit (Gully erosion) yaitu erosi oleh air yang mengalir di permukaan tanah yang miring atau di lereng perbukitan yang membentuk alur-alur yang dalam dan lebarnya mencapai beberapa meter, hampir sama dengan erosi alur, sehingga pada mulanya erosi parit ini dianggap sebagai perkembangan lanjut dari erosi alur.

5) Erosi Tebing Sungai adalah erosi yang terjadi akibat pengikisan tebing oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing atau olehterjangan arus air sungai yang kuat terutama pada tikungan-tikungan. Erosi tebing akan lebih hebat jika tumbuhan penutup tebing telah rusak atau pengolahan lahan terlalu dekat dengan tebing.

6) Erosi internal adalah proses terangkutnya partikel-pertikel tanah ke bawah masuk ke celah-celah atau pori-pori akibat adanya aliran bawah permukaan. Akibat erosi ini tanah menjadi kedap air dan udara sehingga menurunkan kapasitas infiltrasi dan meningkatkan aliran permukaan atau erosi alur.

(15)

b) Erosi oleh gelombang yaitu erosi yang terjadi oleh gelombang laut yang memukul ke pantai. Erosi ini dapat dibedakan menjadi :

1) Erosi oleh pukulan gelombang yang memukul ke tebingpantai. Pukulan gelombang menyebabkan batuan pecah berkeping-keping.

2) Abrasi atau corrasi (abrasion / corrasion) adalah erosi oleh material yang diangkut gelombang ketika gelombang memukul ke tebing pantai.

3) Erosi angin paling sering disaksikan di daerah-daerah kering di mana angin kencang sikat terhadap berbagai bentang alam, menerobos dan melonggarkan partikel tanah, yang terkikis dan diangkut menuju arah di mana angin mengalir. Contoh terbaik dari struktur yang dibentuk oleh erosi angin adalah batu jamur, biasanya ditemukan di padang pasir.

c) Erosi gletser

Erosi gletser yaitu erosi yang umumnya terjadi di daerah dingin di ketinggian. Ketika terjadi kontak antara tanah dengan gletser yang bergerak besamaan menyebabkan tanah tersebut diangkut oleh gletser, dan ketika mulai mencair maka akan disimpan dalam perjalanan saat bergerak dalam bentuk bongkahan es.

E. Laju Infiltrasi

(16)

segi hidrologi penting karena hal ini menandai peralihan air permukaan yang bergerak cepat ke air tanah yang bergerak lambat dari air tanah (Hardjowigeno, 1993).

Infiltrasi didefinisikan sebagai proses masuknya air ke dalam tanah melalui permukaan tanah. Umumnya, infiltrasi yang dimaksud adalah infiltrasi vertikal, yaitu gerakan ke bawah dari permukaan tanah (Jury dan Horton, 2004). Infiltrasi tanah meliputi kumulatif, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi. Infiltrasi kumulatif adalah jumlah air yang meresap ke dalam tanah pada suatu periode infiltrasi. Laju infiltrasi adalah jumlah air yang meresap ke dalam tanah dalam waktu tertentu. Sedangkan kapasitas infiltrasi adalah laju infiltrasi maksimum air meresap ke dalam tanah (Haridjaja dkk, 1991).

Kapasitas infiltrasi suatu tanah dipengaruhi sifat fisinya yaitu derajat kemantapannya, kandungan air dan permeabilitas laposan bawah permukaan nisbi air dan iklim mikro tanah. Air yang berinfiltrasi pada suatu tanah hutan disebabkan karena pengaruh gravitasi dan daya tarik kapiler atau disebabkan pula oleh tekanan dari pukulan air hujan pada permukaan tanah. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh tekstur dan struktur, kelengasan tanah, kadar materi tersuspensi dalam air, dan waktu (Haridjaja dkk, 1991).

F. Definisi Konservasi Tanah dan Air

(17)

erosi. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat di hilirnya. Oleh karena itu konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua hal yang berhubungan erat sekali, berbagai tindakan konservasi tanah adalah juga tindakan konservasi air (Suripin, 2002).

Menurut Arsyad (1989), konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan menurut Dephut (2003), konservasi air adalah upaya penyimpanan air secara maksimal pada musim penghujan dan pemanfaatannya secara efisien pada musim kemarau. Konservasi tanah dan konservasi air selalu berjalan beriringan dimana saat melakukan tindakan konservasi tanah juga dilakukan tindakan konservasi air.

G. Teknik Konservasi Tanah dan Air

(18)

Manusia mempunyai keterbatasan dalam mengendalikan erosi sehingga perlu ditetapkan kriteria tertentu yang diperlukan dalam tindakan konservasi tanah. Salah satu pertimbangan yang harus disertakan dalam merancang teknik konservasi tanah adalah nilai batas erosi yang masih dapat diabaikan (tolerable soil loss) (Harjadi, 2014).

Jika besarnya erosi pada tanah dengan sifat-sifat tersebut lebih besar daripada angka erosi yang masih dapat diabaikan, maka tindakan konservasi sangat diperlukan. Ketiga teknik konservasi tanah secara vegetatif, mekanis dan kimia pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengendalikan laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakan untuk diterapkan sangat berbeda (Isur dan Putri, 2011).

a. Metode Vegetatif

Teknik konservasi tanah secara vegetatif adalah setiap pemanfaatan tanaman/vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan, peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat tanah, baik sifat fisik, kimia maupun biologi. Tanaman ataupun sisa-sisa tanaman berfungsi sebagai pelindung tanah terhadap daya pukulan butir air hujan maupun terhadap daya angkut air aliran permukaan (run off), serta meningkatkan peresapan air ke dalam tanah (Maryono dan Santoso,

2006).

(19)

bahan organik tanaman, serta meningkatkan nilai tambah bagi petani dari hasil sampingan tanaman konservasi tersebut. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat (Departemen Kehutanan, 2003) :

 Memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan

memperbesar granulasi tanah.

 Penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi.

 Di samping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang

mengakibatkan peningkatan porositas tanah, sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi.

 Fungsi lain daripada vegetasi berupa tanaman kehutanan yang tak kalah

pentingnya yaitu memiliki nilai ekonomi sehingga dapat menambah penghasilan petani.

b. Metode Teknis

Selain metode Vegetatif bisa juga dilakukan konservasi pertanian lahan kering dengan metode teknis yaitu suatu metode konservasi dengan mengatur aliran permukaan sehingga tidak merusak lapisan olah tanah (Top Soil) yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Konservasi dengan metode teknis ini bias dilakukan dengan berbagai alternative penanganan yang pemilihannya tergantung dari kondisi di lapangan. Beberapa teknik yang dapat dilakukan diantaranya (Beydha, 2002) :

 Pengolahan tanah menurut kontur,  Pembuatan guludan,

(20)

Untuk menahan air dan mencegah kehilangan air melalui aliran permukaan, perkolasi, dan evaporasi diperlukan teknologi konservasi air. Dan konservasi tanah diterapkan untuk mengendalikan erosi dan mencegah degradasi lahan. Berikut diuraikan berbagai macam teknologi konservasi tanah dan air (Isur dan Putri, 2011) :

1. Sistem Pertanaman Lorong

Adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar. Sistem in sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi, dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama N untuk tanaman lorong.

2. Strip Rumput

Adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong, tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip, semakin efektif mengendalikan erosi.

3. Tanaman Penutup Tanah

Merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Bermanfaat untuk menutupi tanah dari terpaan langsung curah hujan, mengurangi erosi, menyediakan bahan organik tanah, dan menjaga kesuburan tanah.

(21)

Sistem pengendalian erosi secara mekanis yang berupa barisan gulud yang dilengkapi rumput penguat gulud dan saluran air di bagian lereng atasnya. Ini mengurangi laju limpasan permukaan dan menyebabkan resapan air.

5. Teras Bangku

Adalah teras yang dibuat dengan cara memotong lurus dan meratakan tanah di bidang olah sehingga terjadi deretan menyerupai tangga teras bangku. Ini berfungsi sebagai pengendali aliran permukaan dan erosi.

6. Rorak

Adalah lubang atau penampung yang dibuat memotong lereng yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air aliran permukaan. Rorak ini berguna untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah, memperlambat limpasan air pada saluran peresapan, dan sebagai pengumpul tanah yang tererosi, sehingga sedimen tanah lebih mudah dikembalikan ke bidang olah.

7. Embung

Merupakan bangunan penampung air yang berfungsi sebagai pemanen limpasan air permukaan dan air hujan. Fungsinya sebagai penyedia air di musim kemarau.

8. Daun Parit

Adalah suatu cara mengumpulkan atau membendung aliran air pada suatu parit dengan tujuan untuk menampung aliran air permukaan, sehingga dapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya. Daun parit dapat menurunkan aliran permukaan, erosi, dan sedimentasi.

9. Teknik Biopori

(22)

yaitu metode resapan air yang ditujukan untuk membantu mengatasi banjir dan genangan air serta sampah organik di pemukiman warga. Peningkatan daya resap air pada tanah dikeluarkan dengan membuat lubang silindris yang dibuat secara pertikel ke dalam tanah dengan melebihi kedalaman muka air tanah. Pada lubang itu dimasukkan sampah organik berupa daun-daun, pangkasan rumput atau limbah dapur sisa-sisa makanan untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbun di dalam tanah akan menghidupi fauna tanah yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah.

10. Teknik Groundwater Conservation Area

Merupakan teknik yang mengusahakan suatu kawasan atau wilayah tertentu yang khusus diperuntukkan sebagai daerah pemanenan air hujan (peresapan air hujan) yang dijaga diversifikasi dan konstruksi apapun tidak boleh dibangun di atas area tersebut. Untuk keperluan ini harus dipilih daerah yang mempunyai peresapan tinggi dan bebas dari kontaminasi polutan.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

(23)

B. Alat dan Bahan

1. Identifikasi Jenis Erosi

Alat yang digunakan dalam praktek identifikasi jenis erosi adalah : a. GPS, berfungsi dalam menentukan titik koordinat.

b. Roll meter, berfungsi untuk mengukur panjang plot yang akan di amati dan panjang erosi.

c. Kompas, digunakan untuk menentukan arah erosi. d. Abney level, digunakan untuk mengukur kelerengan. e. Mistar, digunakan untuk mengukur kedalaman erosi. f. Parang, digunakan untuk membuka jalan.

g. Alat tulis menulis, digunakan untuk mencatat hasil pengamatan. h. Kamera, digunakan untuk mendokumentasikan proses pengamatan.

Bahan yang digunakan dalam praktik identifikasi jenis erosi adalah : a. Tally sheet, mencatat hasil pengamatan di lapangan.

b. Tali rafia, menentukan (menandai) plot pengamatan. 2. Pembuatan Bangunan Konservasi Tanah dan Air

Alat yang digunakan dalam praktik Pembuatan bangunan konservasi tanah dan air adalah :

a. GPS, menentukan titik koordinat b. Parang, membuka jalan

c. Kamera, mendokumentasikan proses pengamatan

Bahan yang digunakan dalam Pembuatan bangunan konservasi tanah dan airadalah :

a. Batu, sebagai bahan pembuatan bangunan konservasi tanah dan air. b. Bambu, sebagai bahan pembuatan bangunan konservasi tanah dan air. c. Tali rafia, sebagai bahan pengikat bambu agar tidak mudah terlepas.

C. Prosedur kerja.

1. Identifikasi jenis erosi

Adapun prosedur kerja dari kegiatan identifikasi jenis erosi adalah sebagai berikut:

a. Memasukkan titik koordinat yang akan dicari di GPS.

b. Membuat plot dengan cara menentukan titik P1 plot yang akan di amati dan menentukan koordinatnya.

(24)

d. Menarik roll meter sepanjang 100 m dengan sudut 90° dari P2 untuk mendapatkan P3 dan menentukan koordinatnya

e. Menarik roll meter sepanjang 100 m dengan sudut 90° dari P3 untuk mendapatkan P4 dan menentukan koordinatnya

f. Menandai plot dengan tali raffia.

g. Mengamati jenis-jenis erosi yang terjadi dalam plot yang telah ditentukan dan menghitung kelerengan, lebar, panjang erosi dan bentuk sedimentasi yang terbentuk serta koordinat erosi yang terjadi. h. Mengamati pohon-pohon yang ada dalam plot dan menghitung jumlah

masing-masing jenis pohon yang ada.

i. Mencatat hasil pengamatan yang dilakukan dalam tally sheet j. Mendokumentasikan proses pengamatan dengan kamera. 2. Pembuatan Bangunan Konservasi Tanah dan Air

Adapun prosedur kerja dalam pembuatan bangunan konservasi tanah dan air adalah sebagai berikut:

a. Menentukan lokasi yang akan dibuat bangunan konservasi tanah dan air dengan melihat erosi yang ada

b. Membuat bangunan konservasi tanah dan air yang sebelumnya telah didiskusikan jenis bangunan yang akan dibuat dengan cara menyiapkan bahan yang akan digunakan berupa bambu, batu dan tali rafia. Selanjutnya membagi bambu mejadi beberapa bagian, lalu menancapkannya kedalam tanah, lalu mengikat bambu dengan tali rafiah agar kuat. Menyusu batu pada bagian luar agar bangunan terlihat kokoh dan tahan lama..

(25)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Identifikasi Jenis-jenis Erosi

Titik koordinat pada plot berukuran 100 m x 100 , yaitu P0 : (04⁰ 58’ 09.3’’ S) (119⁰ 46’ 36.2’’ E)

P1 : (04⁰ 58’ 01.4’’ S) (119⁰ 46’ 41.8’’ E)

P2 : (04⁰ 58’ 08.6’’ S) (119⁰ 46’ 40.8’’ E)

P3 : (04⁰ 58’ 9.6’’ S) (119⁰ 46’ 38.9’’ E)

Adapun data pengamatan pada tally sheet adalah sebagai berikut :

No. Jenis

Erosi Koordinat Erosi S (%)

Karakteristik Erosi

Penutupan lahan Dimensi erosi

Panjang (m)

Lebar (cm)

Kedalaman (cm)

Arah Erosi

(26)

1 Alur X : 4°58΄07.7˝

Y : 119°46΄37.4˝ 53.17 7.5 28 15.17 S

Batuan kecil ±Ѳ 3 cm dan tanah liat

(27)

2 Alur X : 04°58΄07.9˝

Y : 119°46΄37.7˝ 48.77 4 23 13.87 T

Batuan kecil ±Ѳ 1cm dan tanah liat

Aleurites moluccanus : 1 pohon.

(28)
(29)

± 10 cm

Y : 119°46΄36.8˝ 119.17 10.29 90 82.67 B

(30)

10 Alur X : 04°58΄07.8˝

2. Pembuatan Bangunan Konservasi Tanah dan Air a. Titik koordinat

05o 00’ 20.2’’S

119o45’59.5’’

(31)

B. Pembahasan

1. Identifikasi Jenis-jenis Erosi

Pada kegiatan identifikasi jenis erosi yang dilakukan pembuatan plot 100m x 100 m terdapat dua belas erosi yang ditemukan, yang terdiri atas dua jenis erosi yaitu erosi alur sebanyak sebelas erosi dan erosi parit sebanyak satu erosi.

Erosi alur ini terjadi karena pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air, serta karena curah hujan yang terjadi pada wilayah tersebut tinggi vegetasi penutup lahannya juga kurang. Akan tetapi, alur-alur yang terjadi ini masih dangkal dan dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah. Sedangkan erosi parit (Gully erosion) proses terjadinya sama dengan erosi alur, tetapi alur-alur tang telah terbentuk sudah semakin dalam sehingga tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa.

Selain itu erosi yang ditemukan pada plot kami juga disebabkan oleh panjang dan kemiringan lereng dimana pada plot kelompok kami memiliki kelerengan dari curam hingga sangat curam dengan panjang lereng dari cukup panjang hingga sangat panjang. Menurut Asdak (2002) ketika suatu area memiliki kemiringan lereng yang curam dan tidak terputus-putus dapat mengakibatkan potensi erosi yang akan terjadi lebih besar. Karena ketika hujan turun, aliran permukaan permukaan pada lereng tersebut mengalir sangat cepat sehingga menyebabkan nilai erosi yang terjadi semakin besar. 2. Pembuatan Bangunan Konservasi Tanah dan air

(32)

dengan nama bangunan DAM penahan yang terdiri atas susunan batu yang ditopang dengan bambu agar lebih kokoh dan tahan lama.

DAM penahan ini dibuat untuk menahan sedimen yang ikut terbawa dengan aliran, sedangkan air sendiri dapat lolos dari bangunan konservasi yang dibuat. Teknik pembangunan bangun ini sangat cocok dilakukan pada bagian tengah sungai karena jika bangunan ini terdapat di bagian tengah sungai memiliki peluang yang lebih besar untuk menjaga kedalaman sungai pada bagian hilir agar tidak dangkal sehingga masyarakat pada bagian hilir dapat mengkonsumsi air lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik karena air tidak membawa sedimentasi dalam jumlah yang besar.

Disamping hal itu, DAM penahan juga dapat berfungsi seperti sistem perakaran vegetasi yaitu menghambat laju aliran permukaan sehingga erosi yang terjadi akan lebih kecil membuat potensi infiltrasi didalam tanah akan semakin lebih besar.

3. Vegetasi Penutup Lahan

Vegetasi penutup lahan pada plot dididentifikasi terdapat 10 jenis diataranya Ficus sp., Swietenia mahoni, Aleurites moluccanus, Mangifera indica,

Arenga pinnata, Flacourtia enermis, Pinus merkusi, Artocarpus

heterophyllus, Areca catechu, dan Garcinia mangostana. Adapun jumlah

vegetasi yang didapat sebanyak 74, dimana yang di inventarisasi hanya pohon.

(33)

Sedangan pada akar serabut ukuran kecil dan tidak memiliki akar utama sehingga tidak mampu menembus tanah lebih dalam jika dibandingkan dengan akar tunggang sehingga vegetasi akar tunggang lebih tidak mudah tumbang pada saat terjadi hujan yang deras disertai dengan angina yang kencang. Selain itu vegetasi akar tunggang yang kuat mampu memperlambat aliran permukaan dan memiliki kapasitas penyimpanan air yang lebih besar dalam tanah yang diikat oleh akar tersebut sehingga memiliki infiltrasi yang lebih besar dan tanah tidak cepat jenuh (terpenuhi air) jika dibandingkan dengan akar serabut.

4. Laju infiltrasi

Pada kegiatan ini tidak di lakukan karena adanya presipitasi berupa hujan, yang dapat menyebabkan laju infiltrasi melambat karena tanah pada daerah tersebut sudah jenuh terhadap air.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Kegiatan identifikasi jenis erosi pada plot 100 m x 100 m ditemukan erosi

sebanyak 12, yang terdiri dari 11 erosi alur dan 1 erosi parit

2. Pembuatan bangunan konservasi tanah dan air dilakukan pada titik koodinat 05o 00’ 20.2’’S dan119o 45’ 59.5’’E yang merupakan bangunan

(34)

3. Vegetasi penutup lahan pada plot dididentifikasi terdapat 10 jenis diataranya Ficus sp., Swietenia mahoni, Aleurites moluccanus, Mangifera indica, Arenga pinnata, Flacourtia enermis, Pinus merkusi, Artocarpus

heterophyllus, Areca catechu, dan Garcinia mangostana.

4. Laju infiltrasi pada kegitan ini tidak dilaksanakan karena adanya presipitasi berupa hujan.

5. Pada plot kami ditemukan banyak erosi disebabkan oleh tingkat kemiringan kelerengan dari curam hingga sangat curam dan memiliki panjang kelerengan

B. Saran

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala.1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor.

Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. UPT Produksi Media Informasi Lembaga Sumberdaya, IPB. Bogor Press.

Arsyad, U. 2010. Analisis Erosi Pada Berbagai Tipe Penggunaan Lahan dan Kemiringan Lereng di Daerah Aliran Sungai Jeneberang Hulu. Disertasi

Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, UNHAS.Makassar.

Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Penerbit Gadjah Mada University Press, Bulaksumur, Yogyakarta.

Beydha, Inon. 2002. Konservasi Tanah dan Air di Indonesia Kenyataan dan Harapan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi,

(36)

Departemen Kehutanan. 2003. Kebijakan Penyusunan Masterplan Rehabilitasi Hutan dan Lahan. http://dephut.go.id. Dakses tanggal 4 Mei 2015.

Hadi, Mochamad. 2012. Konservasi Sumberdaya Alam dan Pengelolaan Lingkungan. Lab Ekologi & Biosistematik Jurusan Biologi Fmipa Undip

Hardjowigeno, S. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta.

Haridjaja, O., Murtilaksono, K. dan Rachman, L.M. 1991. Hidrologi Pertanian. IPB. Bogor.

Harjadi, B. 2014. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Pertemuan Ilmiah Kelompok Fungsional DIY dan Jawa Tengah-2014. Yogyakarta.

Kementrian Lingkungan Hidup. 2008. Peraturan Pemerintah Negera Lingkungan Hidup Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang

Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten/Kota dan Peraturan Pemerintah

Negara Lingkungan Hidup Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknis

Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Daerah

Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. Kementrian Lingkungan Hidup,

Jakarta.

Isur dan Putri. 2011. Teknik Konservasi Tanah dan Air. http://[email protected] diakses tanggal 28 April 2016.

(37)

Maryono, A. dan E.N. Santoso. 2006. Metode Memanen dan Memanfaatkan Air Hujan untuk Penyediaan Air Bersih, Mencegah Banjir dan Kekeringan.

Kementrian Lingkungan Hidup, Jakarta.

Sinukaban, N. 1994. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. Faperta IPB. Bogor.

Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. ANDI. Yogyakarta. Utomo, W.H. 1989. Konservasi Tanah di Indonesia. CV.Rajawali. Jakarta.

http://www.g-excess.com/id/pengertian-erosi-dandampaknya.html. Diakses pada tanggal 26 April 2016).

Subagyono, K. dkk. 2003. Teknik Konservasi Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Departemen Pertanian. Bogor.

Widayati, Sri. 2014. Pengertian Erosi dan dampaknya.

http://www.artikelsiana.com/2014/10/pengertian-erosi-macam-macam-erosi.html. Diakses tanggal 28 April 2016.

Yuwono, N.W. 2011. Pengertian dan Susunan Tanah.

Referensi

Dokumen terkait

C = faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman yaitu nisbah antara besarnya erosi dari suatu tanah dengan vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman tertentu

Tata air tanah pada kelas kemiringan lereng agak landai, kapasitas lapang vegetasi rumput 63,4 % lebih rendah dari kapasitas lapang vegetasi hutan sebesar 150 %, titik layu

 Dari nilai resistivasnya, terlihat bahwa untuk lapisan tanah penutup dan lapisan akuifer dangkal telah terjadi pencemaran, terlihat dari harga resistivitas semu yang

Pada kenyataannya semakin banyak terjadi degradasi lahan dan air yag disebabkan oleh banyak faktor yang dapat menyebabkan rusaknya atau berkurangnya kualitas dan kuantitas suatu

rendah.Sedangkan tersusun dalam agregat yang bergumpal seperti yang kerap kali terjadi pada tanah-tanah yang bertekstur sedang yang besar kandungan bahan organiknya,

Sehingga, pada suatu lapisan tanah dengan struktur remah atau kwarsa sangat berpengaruh dalam satuan porositas karena dengan struktur tanah tersebut umumnya

Erosi tanah merupakan kejadian alam yang pasti terjadi dipermukaan daratan bumi. Besarnya erosi sangat tergantung dari faktor-faktor alam ditempat terjadinya erosi tersebut, akan tetapi saat ini manusia juga berperan penting atas terjadinya erosi. Adapun faktor-faktor alam yang mempengaruhi erosi adalah erodibilitas tanah, karakteristik landskap dan iklim. Akibat dari adanya pengaruh manusia dalam proses peningkatan laju erosi seperti pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan/atau pengelolaan lahan yang tidak didasari tindakan konservasi tanah dan air menyebakan perlunya dilakukan suatu prediksi laju erosi tanah sehingga bisa dilakukan suatu manajemen lahan. Manajeman lahan berfungsi untuk memaksimalkan produktivitas lahan dengan tidak mengabaikan keberlanjutan dari sumberdaya lahan.