Fiqih muamalah jual beli kredit (1)

13  13  Download (0)

Teks penuh

(1)

FIQIH MUAMALAH

JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT

Makalah ini disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih Muamalah

Dosen Pengampu: Imam Mustofa, S.H.I., M.S.I.

DisusunOleh :

Aldi Bagus Kusuma ( 1502100151 )

Kelas A

PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

(2)

A. PENDAHULUAN

Hukum-hukum mengenai muamalah telah dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan dijelaskan pula oleh Rasulullah dalam As-Sunnah yang suci. Adanya penjelasan itu perlu, karena manusia memang sangat membutuhkan keterangan tentang masalah tersebut dari kedua sumber utama hukum Islam. Juga karena manusia memang membutuhkan makanan untuk memperkuat kondisi tubuh, membutuhkan pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan lainnya yang digolongkan sebagai manusia dalam hidupnya. Jual beli menurut pandangan Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma, dan qiyas adalah boleh. Allah berfirman: “Allah menghalalkan jual beli”. (Al-Baqarah:275).

(3)

B. DEFINISI JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT

Jual beli dengan sistem kredit adalah jual beli yang dilakukan tidak secara kontan di mana pembeli sudah menerima barang sebagai objek jual beli, namun belum membayar harga, baik keseluruhan maupun sebagian. Pembayaran dilakukan secara angsur sesuai dengan kesepakatan. Sulaiman bin Turki mendefinisikan jual beli kredit:

Jual beli kredit yaitu di mana barang diserah terimakan terlebih dahulu, sementara pembayaran dilakukan beberapa waktu kemudian berdasarkan kesepakatan.

Ulama dari empat mazhab, Syafi'iyah, Hanafiyah, Malikiyah, Hanbaliyah, Zaid bin Ali dan mayoritas ulama membolehkan jual beli dengan sistem ini, baik harga barang yang menjadi objek transaksi sama dengan harga cash maupun lebih tinggi. Namun demikian mereka mensyaratkan kejelasan akad, yaitu adanya kesepahaman antara penjual dan pembeli bahwa jual beli itu memang dengan sistem kredit. Dalam transaksi semacam ini biasanya si penjual menyebutkan dua harga, yaitu harga cash dan harga kredit. Si pembeli harus jelas hendak membeli dengan cash atau kredit.1

Sebagai deskripsi untuk memperjelas, Aldy hendak menjual motornya,ia menawarkannya kepada Aji “Aji belilah motorku ini kalau cash 50 juta kalau kredit selama satu tahun 65 juta.” Kemudian aji menjawab ”Oke, Aku beli dengan sistem kredit 65 juta dalam satu tahun maka transaksi semacam ini di bolehkan.2

Berbeda jika terjadi tawar menawar atau transaksi yang tidak jelas. Misalnya Andi menawarkan “Kiki belilah motorku ini, kalau cash 50 juta kalau kredit selama satu tahun 65 juta.” Kemudian Kiki menjawab “Oke, Aku beli.” Tanpa ada kejelasan, apakah Kiki membeli secara cash atau kredit, maka transaksi semacam ini batal, sementara

(4)

menurut Hanafiyah adalah fasid, transaksi yang mengandung 2 akad sekaligus dan di larang berdasarkan dalam hadis nabi:

َد ُواَد ﻲِﺑَ ِﻷ َو

:

ﻲِﻓ ِنْﯾَﺗَﻌْﯾَﺑ َعﺎَﺑ ْنَﻣ

ﺎَﻣُﮭُﺳَﻛ َوَأ ُﮫَﻠَﻓ ٍﺔَﻌْﯾَﺑ

,

ﺎَﺑﱢرﻟَا ْوَأ

Menurut riwayat Abu Dawud: Barang siapa melakukan dua jual-beli dalam satu transaksi, maka baginya harga yang murah atau ia termasuk riba. 3

Jual beli dengan cara mengangsur pembayaran harga barang dalam kurun waktu tertentu dan jumlah nominal tertentu belum ada pada zaman Rasul. Jual beli kredit dalam istilah fikih mu‟amalah kontemporer disebut al-bai bittaqsith. Model jual beli masyarakat Arab abad VII M, baru mengenal jual beli tangguh bayar (al-bai‟ ila ajalin), belum sampai pada cara mengangsur. Pada masa itu telah dikenal banyak model jual beli dengan pembayaran tangguh, seperti jual beli inah. Model ini dilakukan untuk menghindari riba. Seseorang membutuhkan modal seolah-olah menjual barang miliknya kepada orang lain dan membeli kembali barang tersebut dengan harga lebih tinggi dibanding saat menjual, karena pembayarannya tunda. Persoalan Akademis yang muncul dari praktek jual beli bayar tangguh masa itu adalah status harga yang lebih mahal dari harga saat dibayar cash dan munculnya praktek dua akad dalam satu transaksi. Akad tersebut dilarang oleh Nabi. Ada pertentangan praktek tersebut dengan norma hukum Islam, yang menjadi panduan hidup muslim. Hukum Islam bidang muamalah digali dari nash; al-Qur‟an, hadis dan akal budi.4

C. DASAR HUKUM JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT

Secara umum, jual beli dengan sistem kredit diperbolehkan oleh syariat. Hal ini berdasarkan pada beberapa dalil, di antaranya adalah:

3 Sultan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah Produk-Produk Dan Aspek-Aspek Hukumnya (Jakarta:PT.Adhitya Andhrebina Agung,2014), h. 185

(5)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya Al Baqarah : 282)5

Telah terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang hukum jual beli dengan cara kredit. Penyebab dari perbedaan pendapat ulama’ tersebut adalah terletak pada adanya penambahan harga sebagai konsekwensi dari ditundanya pembayaran apakah ia masuk tidak kepada larangan hadits yang berbunyi :

Hilali dalam kitab Mausu’ah Mereka berpendapat

orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya

Telah terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang hukum jual beli dengan cara kredit. Penyebab dari perbedaan pendapat ulama’ h terletak pada adanya penambahan harga sebagai konsekwensi dari ditundanya pembayaran apakah ia masuk tidak kepada larangan hadits yang berbunyi : “Dari Abu Hurairah dari Rasulullah

beliau melarang dua transaksi jual beli dalam

(HR. Tirmidzi, Nasa’I dan lainnya) .ada dua anggapan yang menyatakan bahwa jual beli kredit itu haram dan jual beli kredit di

di haramkan.

yang berpendapat demikian dari kalangan adalah Al Albani yang beliau cantumkan dalam diantaranya Silsilah Ahadits Ash Shohihah. Juga Syaikh

Mausu’ah Al Manahi Asy Syar’iyah dan berpendapat bahwa jual beli secara kredit adalah masuk

dua transaksi dalam satu transaksi sebagaimana hadits.

Muhammad Shir Shur,Bai’ al-Murrabahah lil Amir bi al-Syira,(Digital Library al sani,2005), I/81

orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS.

(6)

Mereka menafsirkan hadits “Dua transaksi jual beli daam satu transaksi” adalah seperti ucapan seorang penjual atau pembeli : “Barang ini kalau tunai harganya segini sedangkan kalau kredit maka harganya segitu.” Dari sini, pendapat ini menyimpulkan bahwa ucapan seseorang : “Saya jual barang ini padamu kalau kontan harganya sekian dan kalau ditunda pembayarannya harganya sekian.” Adalah sistem jual beli yang saat ini dikenal dengan nama jual beli kredit dan haram hukumnya.

2. Jual beli kredit diperbolehkan.

Kementrian Waqaf dan Urusan Agama Islam Kuwait semua sepakat bahwa tidak ada larangan bagi penjual menentukan harga secara kredit lebih tinggi dari pada ketentuan harga kontan. Penjual boleh saja mengambil keuntungan dari penjualan secara kredit dengan ketentuan dan perhitungan yang jelas.

Dalil-dalil yang digunakan oleh pendapat ini diantaranya adalah :

a) Dalil-dalil yang memperbolehkan jual beli dengan pembayaran tertunda.

ﻰًّﻣَﺳُﻣ ٍلَﺟَأ ﻰَﻟِإ ٍنْﯾَدِﺑ ْمُﺗْﻧَﯾاَدَﺗ اَذِإ اوُﻧَﻣآ َنﯾِذﱠﻟا ﺎَﮭﱡﯾَأ ﺎَﯾ ُهوُﺑُﺗْﻛﺎَﻓ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.(QS. Al Baqarah : 282)6

Ayat di atas adalah dalil bolehnya akad hutang-piutang, sedangkan akad kredit merupakan salah satu bentuk hutang, sehingga keumuman ayat di atas bisa menjadi dasar bolehnya akad kredit dengan syarat penjual dan pembeli sepakat dengan ketentuan dan si pembeli ridho dengan kesepakatan menambah harga dalam jangka waktu yang telah di tentukan saat akan melakukan transaksi dengan memusyawarahkan kenaikan harga jika akan di bayar dengan di ansur ( bertahab dalam pembayaran dengan kenaikan harga yang telah di tentukan dan waktu jatuh tempo yang di sepakati bersama )

(7)

D. RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT a) Rukun jual beli dengan sistem kredit

Oleh karena jual beli ini merupakan suatu perbuatan hukum yang mempunyai konsekuensi terjadinya peralihan hak atas sesuatu barang dari pihak penjual kepada pembeli, maka dengan sendirinya dalam perbuatan hukum ini haruslah dipenuhi rukun dan syarat sahnya jual beli. Mengenai rukun dan syarat jual beli hanya ijab dan qabul saja,

menurut mereka yang menjadi rukun dalam jual beli hanyalah kerelaan antara kedua belah pihak. Namun karena ada unsur kerelaan berhubungan dengan hati yang tidak kelihatan, maka diperlukan indikator (qarinah) yang menunjukkan kerelaan yaitu dalam bentuk ijab qabul. Dalam fiqih terkenal dengan istilah (ba’iul muatto) menurut Jumhur ulama’ rukun jual beli ada empat antara lain:

a. Orang yang berakad (penjual dan pembeli). b. Sigat (lafal ijab dan qabul).

c. Ada barang yang dibeli.

d. Ada nilai tukar pengganti barang

(8)

atras matrai dengan penuh keridhoan

saja dan tidak di haramkan hukumnya karena tidak merugikan kedua belah pihak.7

b) Syarat jual beli

a) Berakal, agar dia tidak terkicuh, orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya. Adapun yang dimaksud berakal, yaitu dapat membedakan atau memilih mana yang terbaik bagi dirinya, dan apabila salah satu pihak tidak berakal maka jual beli yang diadakan tidak sah

pembeli tidak tau men

bertahap maka jual beli tersebut tidak sah atau hukumnya di haramkan.

b) Dengan kehendaknya sendiri (bukan dipaksa), bahwa dalam melakukan perbuatan jual

tidak

lainnya,sehingga pihak yang lain tersebut melakukan perbuatan jual

batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan

7 Sulaiman Rasyit,Fikih Islam (Jakarta:

atras matrai dengan penuh keridhoan. Hal tersebut menurut saya sah di haramkan hukumnya karena tidak merugikan kedua

dengan sistem kredit

Berakal, agar dia tidak terkicuh, orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya. Adapun yang dimaksud berakal, yaitu dapat membedakan atau memilih mana yang terbaik bagi dirinya, dan apabila salah satu pihak tidak berakal maka jual beli yang diadakan tidak sah karena jika salah satu atau si pembeli tidak tau menau akan kenaikan harga jika di bayar bertahap maka jual beli tersebut tidak sah atau hukumnya di haramkan.

Dengan kehendaknya sendiri (bukan dipaksa), bahwa dalam melakukan perbuatan jual beli tersebut salah satu pihak

melakukan suatu tekanan atau paksaan kepada pihak lainnya,sehingga pihak yang lain tersebut melakukan perbuatan jual beli bukan lagi disebabkan kemauannya sendiri, tapi disebabkan adanya unsur paksaan, jual beli yang dilakukan bukan atas dasar “kehendaknya

adalah tidak sah. Adapun yang menjadi dasar bahwa suatu jual beli harus dilakukan atas dasar kehendak sendiri para pihak, dapat dilihat dalam ketentuan Al- Qur’an surat An Nisa’ ayat 29

Yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan

Rasyit,Fikih Islam (Jakarta:Attahiriyah,2005), h. 270.

. Hal tersebut menurut saya sah-sah di haramkan hukumnya karena tidak merugikan kedua

Berakal, agar dia tidak terkicuh, orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya. Adapun yang dimaksud berakal, yaitu dapat membedakan atau memilih mana yang terbaik bagi dirinya, dan apabila salah satu pihak tidak berakal maka jual karena jika salah satu atau si au akan kenaikan harga jika di bayar bertahap maka jual beli tersebut tidak sah atau hukumnya di

Dengan kehendaknya sendiri (bukan dipaksa), bahwa dalam beli tersebut salah satu pihak melakukan suatu tekanan atau paksaan kepada pihak lainnya,sehingga pihak yang lain tersebut melakukan beli bukan lagi disebabkan kemauannya disebabkan adanya unsur paksaan, jual beli bukan atas dasar “kehendaknya sendiri” Adapun yang menjadi dasar bahwa suatu dilakukan atas dasar kehendak sendiri para Qur’an surat An-

(9)

suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.8

E. Ketentuan jual beli dengan sistem kredit

a) Ketentuan jual beli dengan sistem kredit dalam fiqih

Di dalam ilmu fikih, akad jual beli kredit lebih familiar dengan istilah jual beli taqsith, Secara bahasa, taqsith itu sendiri berarti membagi atau menjadikan sesuatu beberapa bagian.

Meskipun sistem ini adalah sistem klasik, namun terbukti hingga kini masih menjadi trik yang sangat jitu untuk menjaring pasar, bahkan sistem ini terus-menerus dikembangkan dengan berbagai modifikasi.

Dalam fikih ada aturan, jual beli termasuk akad yang tidak boleh dibatasi masanya. Misalnya seseorang berkata, ”Saya jual rumah saya untuk satu bulan dengan harga Rp 1.000.000,-“. Pernyataan seseorang tersebut bukanlah jual beli, tetapi sewa. Hukum yang harus diterapkan adalah sewa bukan jual beli. Jual beli membawa konsekwensi perpindahan kepemilikan untuk selamanya. Mengenai pemilihan kata

dalam akad tidak merubah substansi aturan transaksi.Pendapat-pendapat

ulama fikih tentang jual beli dengan sistem kredit di antaranya yaitu :

Fiqh Hanafiyah

Harga bisa dinaikkan karena penundaan waktu. Penjualan kontan dengan kredit tidak bisa disamakan. Karena yang ada pada saat ini lebih bernilai dari pada yang belum ada. Pembayaran kontan lebih baik dari pada pembayaran berjangka

Fiqh Malikiyah

Imam Asy Syathibi :

Penundaan salah satu alat tukar bisa menyebabkan pertambahan harga.

Imam Az Zarqoni menegaskan :

(10)

Karena perputaran waktu memang memiliki bagian nilai, sedikit atau banyak, tentu berbeda pula nilainya.

 Fiqh Syafi’iyah

Imam Asy Syirozi berkata :

Kalau seseorang membeli sesuatu dengan pembayaran tertunda, tidak perlu diberitahu harga kontannya, karena penundaan pembayaran memang memiliki nilai tersendiri.

Fiqh Hanbali

Imam Ibnu Taimiyah berkata :

Putaran waktu memang memiliki jatah harga.

F. Jual beli kredit lewat pihak ketiga (leasing)

Jual beli secara kredit asalnya boleh selama tidak melakukan hal yang terlarang. Namun perlu diperhatikan bahwa kebolehan jual beli kredit harus melihat beberapa kriteria. Jika tidak diperhatikan, seseorang bisa terjatuh dalam jurang riba.

 Kriteria pertama, barang yang dikreditkan sudah menjadi milik penjual (bank). Kita contohkan kredit mobil. Dalam kondisi semacam ini, si pembeli boleh membeli mobil tadi secara kredit dengan harga yang sudah ditentukan tanpa adanya denda jika mengalami keterlambatan. Antara pembeli dan penjual bersepakat kapan melakukan pembayaran, apakah setiap bulan atau semacam itu. Dalam hal ini ada angsuran di muka dan sisanya dibayarkan di belakang.

(11)

adalah bank, bukan lagi pihak ketiga. Pada saat ini, si pembeli boleh melakukan membeli barang tersebut dari bank dengan kesepakatan harga. Namun sekali lagi, jual beli bentuk ini harus memenuhi dua syarat:

1. harganya jelas di antara kedua pihak, walau ada tambahan dari harga beli bank dari pihak ketiga.

2. tidak ada denda jika ada keterlambatan angsuran.

Jika salah satu dari dua syarat di atas tidak bisa dipenuhi, maka akan terjerumus pada pelanggaran. Pertama, boleh jadi membeli sesuatu yang belum diserahterimakan secara sempurna, artinya belum menjadi milik bank, namun sudah dijual pada pembeli. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu

anhuma,Rasulullah shallallahu alaihi wasallambersabda,

yang artinya : barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525)

(12)

G. PENUTUP

1) KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, bisa ditarik garis kesimpulan sebagai berikut :

Kredit adalah Pembayaran secara tertunda dan dalam

bentuk cicilan dalam waktu-waktu yang ditentukan.

 Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini, ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan. Dan yang paling umum adalah dibolehkannya jual beli kredit dengan beberapa syarat dan ketentuan. Sedangkan yang mengharamkan adalah jika transaksi tersebut tidak mengandung kejelasan.

2) SARAN

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Imam Mustora,Fiqih Mu’amalah Kontemporer,Rajawali Pers,Jakarta,2016

Sultan Remy Sjahdeini,Perbankan Syariahproduk-Produk Dan Aspek-Aspek Hukumnya,Adhitya Andhrebina Agung,Jakarta,2014

Ahmad Fadlan Lubis,Analisis Prilaku Masyarakat Muslim Terhadap Tansaksi Jual Beli, Dalam Jurnal Ekonomi Dan Keuangan,Desember Vol. 1,No.1,2012

Muhammad Shir Shur,Ba’i Al-Murabahah Lil Amir Bi Al-Syira,Digital Library Al-Maktabah Al-Syamilah Al-Isdar Al-Sani,2005

Sulaiman Rasyit,Fiqih Islam,Attahiriyah,Jakarta,2005

Dja’far Amir,Ilmu Fiqih,Ramadhani,1991

Hasbi Ash Shiddieqy,Pengantar Fiqih Muamalah,Bulan Bintang,Jakarta,1997

Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah Studi Ntentang Teori Akad Dalam Fiqih Muamalat,Raja Grafindo Persada,Jakarta,2007

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...