Surahmat
Jurusan Tadris Matematika, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung Jl. Mayor Sujadi Timur No. 46 Tulungagung
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Islam adalah agama Allah SWT yang diturunkan untuk menuntun manusia dari jalan kegelapan menuju jalan terang penuh perdamaian, melalui kitabnya al-qur’an menjadikannya sebagai pedoman hidup umat islam dalam menjalani proses kehidupannya. Al-Qur’an yang didalamnya berisikan dalil-dalil, hujjah-hujjah, aturan-aturan, dan nasihat-nasihat menjadikannya sebagai faktor umat manusia memperoleh jalan yang lurus, lebih terang atau memperoleh hidayah-Nya. Petunjuk dalam al-Qur’an lebih lurus, adil, dan paling benar dalam persoalan keyakinan (aqidah), amalan, dan akhlak. Erat kaitannya Islam dengan matematika, matematika dalam al-Qur’an banyak bermanfaat dalam kehidupan manusia, dalam al-Qur’an matematika dijelaskan sekaligus dengan penerapannya, semisal konsep relasi (hubungan) dalam islam dijelaskan dalam hubungan umat islam dengan umat islam lain (maksudnya adalah laki-laki dan perempuan yang belum menikah) diperbolehkan bergaul selama tidak menumbulkan fitnah dan tidak keluar dari syariat, setiap orang boleh berteman dengan orang lain tanpa ada batasan. Matematika dijadikan Allah sebagai penjaga keaslian Al-Qur’an.
Kata kunci: Islam, al-Qur’an, Matematika
PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang diturukan allah untuk membebaskan manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh kedamaian. Islam diciptakan melalui al-quran yang digunakan sebagai petunjuk umatnya dalam keberlangsungan hidupnya. Seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an:
ُمَوْقَأ َيِه يِتّلِل يِدْهَي َنآ ْرُقْلا اَذَٰه ّنِإ
“Sesungguhnya AL-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus...(Al-Isra’/17:9).1 Dalam ayat di atas Allah menyampaikan pujian-Nya terhadap kitab yang diturunkan kepada Rasull Muhammad SAW, bahwa al-Qur’an sebagai kitab samawi yang paling agungdan sangat luas cakupannyamenyangkut semua jenis ilmu, al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan Allah sebagai penyempurna dari kitab-kitab sebelumya.
Al-Qur’an yang didalamnya berisikan dalil-dalil, hujjah-hujjah, aturan-aturan, dan nasihat-nasihat menjadikannya sebagai faktor umat manusia memperoleh jalan yang lurus, lebih terang atau memperoleh hidayah-Nya. Petunjuk dalam al-Qur’an lebih lurus, adil, dan paling benar dalam persoalan keyakinan (aqidah), amalan, dan akhlak.
َنوُنِم ْؤُي ٍم ْوَقِل ًةَمْحَرَو ىًدُه ٍمْلِع ٰىَلَع ُهاَنْلّصَف ٍباَتِكِب ْمُهاَنْئِج ْدَقَلَو
1
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur`ân) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. [al-A’râf/7:52].2 Ayat diatas memperkuat bahwa Al-Qur’an merupakan satu-satunya petunjuk yang bagi umat manusia mencapai kedamaiannya di dunia dan setelahnya.
Petunjuk-petunjuk yang ada dalam alQur’an mencamgkup segala hal yang ada di kehidupan manusia, mulai dari hal mendasar hingga yang tidak tidak mampu di pikirkan manusia. Al-Qur’an diciptakan untuk mempermudah keberlangsungan kehidupan manusia, banyak ilmu-ilmu yang tertuang dalam al-Qur’an. Salah satunya adalah ilmu-ilmu hitung, yang sekarang sering disebut dengan matematika.
Matematika muncul bukan tanpa petunjuk sebelumya, dalam kajian umat manusia saat ini banyak beranggapan bahwa ilmu matematika bersumber dari peradaban yunani, mungkin bisa dibenarkan hal itu. Namun bukan tidak ada dalam al-Qur’an yang menjelaskan adanya matematika. Dalam al-Qur’an matematika dijelaskan sekaligus dengan penerapannya, semisal konsep relasi (hubungan) dalam islam dijelaskan dalam hubungan umat islam dengan umat islam lain (maksudnya adalah laki-laki dan perempuan yang belum menikah) diperbolehkan bergaul selama tidak menumbulkan fitnah dan tidak keluar dari syariat, setiap orang boleh berteman dengan orang lain tanpa ada batasan. Bahkan setiap orang diperbolehkan bergaul dengan umat beragama lain, seperti yang dalam QS Al-insaan ayat 24 yang artinya: “Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka”.( QS.Al Insaan: 24).3
Al-Qur’an berisikan aturan-aturan yang menuntun manusia untuk melakukan kebajikan dan menjauhi kemungkaran, hal ini juga da kaitannya dengan matematika. Setiap perbuatan manusia selama dia hidup selalu dicatat amal perbuatannya, perbuatan baik maupun perbuatan buruk, hubungnganya dengan ilmu matematika adalah tentang statistika, yaitu pengumpulan dan penyajian data. Dalam hal ini yang digolongkan adalah amal perbuatan antara baik dan buruk. Seperti yang terdapat dalam QS Al-Mujadillah ayat 6, yang artinya: “Dan segala sesuatu Telah kami catat dalam suatu kitab”. Yang dimaksud kitab dalam ayat diatas adalah buku catatan amal perbuatan manusia.
Terlepas dari pembahasan di atas, islam adalah agama yang tidak menyusahkan hambanya dalam hal apapun. Banyak yang beranggapan bahwa mempelajari ilmu hukum islam itu sulit, seperti dalam thaharoh, sholat, haji, zakat, dan mawaris yang mengharuskan adanya angka dan perhitungan. Namun Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 1854, yang artinya: “Allah
2
Ibid.
3
Ibid.
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklahkamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yangdiberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
Dan masih banyak lagi keterkaitan antara matematika dan islam. Dalam penelitian ini akan mencoba menelisik relasi antara limas segi enam dengan islam.
METODE
Penelitian ini termasuk pada jenis penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat menganalisis relasi antara limas segi enam dengan islam.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui literatur buku-buku dan wawancara singkat dengan tokoh di padepokan Pusat Kajian Filsafat dan Teologi Tulungagung.
Dalam penelitian ini menggunakan alalisis data menurut Miles dan Huberman. Model analisis data dari Miles dan Huberman disebut juga sebagai Model Interaktif. Miles dan Huberman seperti yang dikutip oleh Heris Herdiansyah (2012: 164) menyatakan bahwa ada empat tahapan yang dilakukan dalam pengolahan data kualitatif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, tahap display data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Tahapan-tahapan tersebut saling berkaitan selama dan sesudah pengumpulan data.
Data dalam penelitian ini disahkan melalui teknik triangulasi. Tringulasi yang digunakan adalah triangulasi teknik dan tringulasi sumber. Tringulasi teknik dilakukan dengan menanyakan suatu hal yang sama dengan teknik berbeda melalui wawancara, dan dokumentasi. Tringulasi sumber dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda (Sugiyono, 2008: 209).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keterkaitan antara matematika dengan Al-Qur’an
Istilah Mathematics (Inggris) berasal dari bahasa Yunani, Mathematike yang berarti “relating to learning”. Berasal dari akar kata Mathema yang berarti pengetahuan/ilmu, dan berhubungan erat dengan kata Mathanein yang berarti belajar/berpikir. Jadi, berdasarkan etimologi, kata Matematika berarti “ilmu yang diperoleh dengan bernalar”.
Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya. Secara empiris, diproses dalam struktur kognitif dan akhirnya disimpulkan dalam konsep matematika.
Matematika juga merupakan bahasa universal Ilmu Pengetahuan. Ilmuwan Jepang bisa berkomunikasi dengan Ilmuwan Jerman dengan Matematika, tidak perlu pakai bahasa inggris. Matematika juga merupakan “bahasa tuhan” dalam menciptakan alam semesta. Allah mendeskripsikan matematika dalam Al-Qur’an, untuk memelihara komitmen isi dan bacaan serta kandungan yang ada didalamnya. Mempelajari matematika dalam Al-Qur’an sangat menarik, terutama saat mengupas angka demi angka yang terdapat pada kitab umat muslim ini. Sungguh Allah SWT telah menciptakan alam dengan sangat teliti .
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Jin ayat 28, Artinya : "Supaya dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu."
Dalam QS.Al-Jin:28 di atas, jelas sekali dipaparkan bahwasanya Allah telah memperhitungkan dan memperkirakan dengan pasti segala bentuk penciptaan dan dalam setiap kekuasaan yang dimiliki-Nya, “Tuhan menciptakan sesuatunya dengan hitungan teliti.”
Dalam ayat lain Allah juga menegaskan, Artinya : “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.” (QS Maryam ayat 93-94)
Sesuai dengan ayat Al-Qur’an QS.Maryam:93-94 diatas, memperjelas bahwa segala sesuatu yang tercipta dan yang terjadi di dunia ini tidak dengan unsur kebetulan. Tetapi semuanya telah diatur secara pasti oleh Allah swt. dengan perhitungan yang sangat teliti dan jauh dari kesalahan.
Seorang ilmuwan Galileo (1564-1642 AD) pernah mengungkapkan bahwa : “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini).”
B. Pembuktian Al-Qur’an dengan Matematika
berbagai cara. Salah satunya dengan menghubungkan Al-Qur’an dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada.
Sejalan dengan pengertian matematika, perlu kita ketahui pula, bahwasanya salah satu jenis mukjizat dari Al-Qur’an adalah i’jaz ‘abadi (Mukjizat yang bersifat bilangan). I’jaz ‘abadi inilah yang kemudian dijadikan rujukan sebagai sebuah pendekatan pembuktian mukjizat baru, yaitu dengan ilmu matematika. Seperti yang pernah dilakukan oleh A.Salma Alif Sampayya, Abu Zahra An-Najdi, dsb.
Pembuktian Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu sains non-matematik sangat berbeda dengan pembuktian secara matematika. Matematika membuktikan kebenaran Al-Qur’an bukan dengan observasi terhadap alam, namun dengan mencari titik temu dan keseimbangan bilangan dalam Al-Qur’an. Di antaranya ditemukannya keseimbangan jumlah kata Syahr (bulan) sebanyak 12 kali, Sholawat (jama’ dari kata Sholat) adalah 5 kali, Ad-dunya dan Al-akhiroh yang disebutkan dalam frekuensi yang sama, yaitu 115 kali.
C. Hubungan Limas Segi Enam Dengan Islam
Dalam matematika kita mengenal bangun ruang limas segi enam yang memiliki alas berbentuk segi enam dan memiliki sisi tegak yang berbentuk segi tiga. Dalam Islam kita mengenal rukun iman yang terdiri dari enam point.
Limas segi enam dalam pembahasan ini erat kaitannya dengan Islam khususnya rukun iman. Limas segi enam memiliki alas segi enam yaitu ABCDEF, dan T sebagai titik puncak seperti gambar dibawah ini.
Gambar 1. Limas Segi Enam
Keterangan:
A : Beriman kepada Allah B : Beriman kepada Malaikat
Limas segi enam dalam pembahasan ini dikaitkan dengan rukun iman dalam agama islam, yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada Kitab Allah, iman kepada Rasul, iman kepada Hari Akhir, dan iman kepada Takdir Allah. Yang dari keseluruhan iman itu akan mencapai puncak tertinggi yaitu iman yang sempurna terhadap Allah SWT.
Sebelum masuk dalam pembahasan, harus terlebih dahulu diketahui apa pengertian dari iman? Kata iman berasal dari bahasa Arab yang artinya percaya, seperti yang diriwayatkan dalam HR. Ibnu Majah, Rassulullah bersabda yang artinya: “Iman adalah membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dalam perbuatan”, pernyataan ini sama halnya dengan pandangan Tauhid. Dalam agama islam iman terbagi menjadi beberapa bagian yang disebut rukun iman. Terdapat enam bagian yang digambarkan dalam matematika sebagai limas segi enam, yaitu:
a. Iman Kepada Allah
Yang dimaksud iman kepada Alah adalah membenarkan adanya Allah swt, dengan cara meyakini dan mengetahui bahwa Allah swt wajib adanya karena dzatnya sendiri (Wajib Al-wujud li Dzathi), Tunggal dan Esa, Raja yang Maha kuasa, yang hidup dan berdiri sendiri, yang Qadim dan Azali untuk selamanya. Dia Maha mengetahui dan Maha kuasa terhadap segala sesuatu, berbuat apa yang ia kehendaki, menentukan apa yang ia inginkan, tiada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan dia Maha mengetahui.5
Berdasarkan firman Allah yang artinya: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." QS. Al- Baqarah ;285
Jadi iman kepada Allah adalah mempercayai adanya Allah swt beserta seluruh ke Agungan Allah swt dengan bukti-bukti yang nyata kita lihat, yaitu dengan diciptakannya dunia ini beserta isinya.
Sedangkan keterkaitan dengan mtematika dalam limas segi enam adalah sebagai berikut: Penjelasan rukun iman yang ada 6, jika angka 6 diposisikan menjadi urutan surah dalam Al-Qur’an, maka surah ke-6 adalah al-An’am, dengan total ayat sebanyak 165
5
ayat. Penjumlahan antara nomor surah dengan jumlah ayatnya adalah 6 + 165 = 171. Apa makna angka 171?
Kalau angka 21 di atas merupakan deret hitung dari 1 sampai dengan 6, ternyata angka 171 juga merupakan deret hitung dari 1 sampai dengan 18, yaitu:
171 = 1+2+3+4+ . . . . +18. Pemampatan angka 171 dan 18 memiliki nilai yang sama, yaitu 9.
1 + 7 + 1 = 9 1 + 8 = 9
Kedua angka yang sama ini jika disandingkan maka diperoleh angka 99. Angka ini merupakan jumlah Asmaul Husna (asma Allah). Hal ini jelas suatu keseimbangan yang sudah diatur. Apakah ini sebuah kebetulan? Tidak. Karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Selain itu, rukun iman yang pertama yaitu iman kepada Allah swt yang hanya ada 1, jika dikaitkan lagi dengan Al-Qur`an surat pertama (Alfatihah) ayat 1, dimulai dengan kalimat “bismillahirrahmaanirrahiim”,artinya Al-Qur`an sebagai pedoman hidup diawali dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
b. Iman kepada Malaikat
Syaikh Hafizh bin Ahmad Hakami mengatakan, yang di maksud iman kepada malaikat adalah meyakini adanya 24 malaikat, sebagai hamba Allah yang selalu tunduk dan beribadah.6 Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan Perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya” dan dalam ayat lain juga disebutkan yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, mengatakan dalam bukunya: malaikat adalah makhluk agung, jumlahnya banyak dan tak terbilang, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah semata. Allah meciptakan mereka dari cahaya, menciptaka mereka dengan tabiat baik, tidak mengenal kejahatan, dan mereka tidak dperintahkan atapun melakukan itu. Karena itu mereka taat kepada Rabb, tidak mendurhkai apapun yang diperintahkan, dan melakukan perintah yang disampaikan. Mereka bertasbih memahasucikan Allah siang dan malam tanpa kenal lelah, tidak jemu untuk beribadah kepada Allah ataupun sombong.7
6
Syaikh Hafidz bn Ahmad Hakami, 222Kunci Aqidah Yang Lurus (Jakarta Selatan, 2001).
Penjelasan di atas dapat dibuktikan kebenarannya dalam matematika sebagai berikut: Malaikat yang wajib diimani oleh setiap umat muslim jumlahnya ada 10, yang merupakan bagian dari rukun iman yang ada 6. Jika angka 10 dan 6 kita operasikan sebagai berikut:
Penjumlahan: 10 + 6 = 16 Pengurangan: 10 – 6 = 4
Dari hasil operasi penjumlahan dan pengurangan tersebut diperoleh dua buah angka yaitu 16 dan 4. Jika kita opersikan kali, maka:
16 x 4 = 64
Hasil 64 yang diperoleh tersebut jika dihubungkan dengan Al-Qur`an terdapat surah yang terdiri dari 64 ayat, yaitu Surah An-Nur yang artinya cahaya. kita mengetahui bahwa Malaikat diciptkan dari cahaya. Kebenara-kebenaran ini sungguh menakjubkan.
Sehingga Iman kepada Para Malaikat adalah percaya bahwa malaikat adalah makhluk ciptaan Allah swt yang tidak pernah membangkang perintah-Nya, juga makhluk gaib yang menjadi perantara-perantara Allah swt dengan Para Rasul. Kita percaya bahwa malaikat merupakan makhlk pilihan Allah, mereka tidak berbuat dosa, tidak melawan kepada-Nya, pekerjaannya semata-mmata menjunjung tinggi tugas yang diberikan kepada mereka masing-masing.16
c. Iman kepada kitab Allah
Makna beriman kepada kitab-kitab ilahi yang merupakan bagian dari akidah mukmin ialah membenarkan secara pasti kalam khusus Allah yang Dia Wahyukan kepada Rasul pilihan-Nya, kemudian disatukan dan dsusun menjadi lembaran-lembaran atau kitab-kitab suci. Lembaran-lembaran dan kitab-kitab yang dketahui wajib diimani secara rinci, dan yang tidak diketahui wajib diimani secara garis besar. Satu-satunya referensi yang menjadi sumber untuk mengetahui kitab-kitab Ilahi secara rinci adalah Al-Qur’an, karena Al-Qur’an dalah kitab yang terjaga sedemikian rupa, tidak ada penambahan ataupun pengurangan, tidak ada pendistorsian, tidak ada perubahan ataupun penggantian sama sekali di dalamnya. Al-Qur’an akan terus terjaga dengan penjagaan Allah hingga mendekati ambang batas akhir kehdupan dunia ini.
Beriman kepada kitb-kitab wajib secara syar’i maupun logika. Adapun ia wajib secara syar’i, karena Allah memerintahkannya secara pasti dan tidak menunjukkan apa pun selain harus taat kepada-Nya dalam hal ini, melarang durhaka kepada-Nya, melalui firman terkait perintah untuk beriman. Yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab Allah adalah membenarkan bahwa kitab-kitab tersebut telah diturunkan oleh Allah. Kitab
tersebut diturunkan melalui firman-firman-Nya. Ada yang disampaikan secara langsung kepaa para Rasul tanpa perantara, ada yang disampaikan melalui perantara malaikat, dan ada yang dia tulis sendiri.8
Allah berfirman dalam surat asy- syuura; 51 yang Artinya: Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
Dalam QS Annisa juga disebutkan yang artinya: Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.
Iman kepada kitab-kitab Allah swt ialah meyakini bahwa kitab-kitab tersebut datang dari sisi Allah swt yang diturunkan kepada sebagian Rasulnya. Dan bahwasanya kitab- kitab itu merupakan firman Allah swt yang Qadim, dan segalasegala yang termuat didalamnya merupakan kebenaran.9 Dan kita tahu kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul itu ada empat yaitu kitab Taurat yang diturunkankepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa, Zabur kepada Nabi Daud dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Jika dinyatakan dalam perhitungan matematis sebagai berikut, Berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa dalam agama islam jumlah kitab yag diturunkan Allah swt. kepada para Rasul-Nya yang wajib diimani oleh setiap umat muslim ada 4. Jika kita sandingkan angka ke-3 rukun iman dengan jumlah kitab yang wajib diimani ada 4, maka menjadi angka 34. Angka 34 merupakan hasil pembagian dari 136 oleh 4, yaitu:
136 : 4 = 34
Kenapa penulis ambil angka 136 dan 4, karena dalam Al-Qur`an Surah ke- 4 (An-Nisa) ayat 136 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkr kepada Allah, malaikat-malikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat tersesat sangat jauh”. Ayat ini merupakan dalil tentang rukun iman yang didalamnya terdapat iman kepada Allah, para Malaikat, kitab-kitab, Nabi dan Rasul, dan hari kemudian.
8
Syaikh Hafidz bn Ahmad Hakami, “222 Kunci Aqidah Yang Lurus,” 2001, 85.
9
d. Iman kepada Para Rasul
Iman kepada Rasul adalah percaya dan yakin bahwa Allah swt telah mengutus para Rasul kepada manusi untuk memberi petunjuk kepada manusia, dan Nabi yang wajib kita percayai itu ada dua puluh lima.
Dari penjelasan sebelumnya kita ambil kembali penjumlahan dari rukun iman yaitu dari 1 sampai dengan 6.
1 + 2 + 3 + 4 + 6 = 21
Angka 21 yang dihasilkan ini jika dikaitkan dengan surah ke- 21 dalam Al-Qur`an maka surahnya adalah Surah Al-Anbiyya yang artinya “Nabi-Nabi” dalam surah ini menjelaskan kisah beberapa orang Nabi dan Rasul diantaranya Nabi Musa , Nabi Harun, Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ayub, Nabi Ismail, Nabi Idris, Nabi Dzulkipli, Nabi Yunus, Nabi Zakariya, Nabi Muhammad SAW dan Nabi yang lain.
Untuk memperkuat hal ini kita perhatikan angka 21. Dan kita mengetahui bahwa iman kepada para Nabi dan Rasul termasuk rukun iman yang ke- 4, dan jika dijumlahkan dengan 21 maka hasilnya 25 (4+21=25), sekali lagi ini membuktikan bahwa para Nabi dan Rasul yang wajib kita imani jumlahnya ada 25.
e. Iman kepada Hari Akhir
Hari akhir ialah Hari kiamat, termasuk kebangkitan (alba’ts), yaitu keluarnya manusia dari kubur mereka dalam keadaan hidup, sesudah jazad mereka dikembalikan dengan seluruh bagiannya seperti dulu kala di dunia.10
Kita ambil lagi angka 21 dari hasil penjumlahan 1 sampai dengan 6. Dari iman kepada hari Kiamat, kita kenal ada 2 jenis Kiamat (Kiamat Sughra dan Kiamat Kubra). Jika dijumlahkan:
21 + 2 = 23,
kemudian dikalikan 5 (iman kepada hari kiamat)
23 x 5 = 115, angka 115 dapat diperoleh dari penjumlahan 75 dengan 40, yang operasinya sebagai berikut:
23 x 5 = 115
= 75 + 40
Penulis ambil angka 75 dan 40 karena dalam Al-Qur`an Surah ke-75 yaitu Surah Al-Qiyyamah (Hari Kiamat) dan karena Surah ini terdiri dari 40 ayat. Dalam ayat pertama Allah swt. bersumpah dengan hari kiamat. Sudah jelas bahwa kiamat itu ada. Menarik bukan?
10
f. Iman kepada Taqdir (Qadha dan Qadhar)
Iman kepada Qadha dan Qadhar adalah percaya bahwa segala hak, keputusan, perintah, ciptaan Allah swt yang berlaku pada makhluknya termasuk dari kita (manusia) tidaklah terlepas (selalu berlandaskan pada) kadar, ukuran, aturan dan kekuasaan Allah swt.11
Rukun iman yang keenam yaitu iman kepada qadha dan qadar merupakan yang terakhir dari rukun iman. Berdasarkan pengertian bahwa secara istilah, qadha adalah ketentuan atau ketetapan Allah swt dari sejak zaman azali tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya sesuai dengan iradah (kehendak-Nya), meliputi baik dan buruk, hidup dan mati dan seterusnya. Sedangkan, qadar secara istilah adalah perwujudan ketetapan (qadha) terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya yang telah sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya.
Dalam beriman kepada qadha dan qadar, ada yang disebut dengan takdir yaitu ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai qadar atau ukurannya, tempat maupun waktunya. Takdir ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu Takdir muallaq yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar makhluk. Dan yang kedua takdir mubram yaitu takdir yang terjadi pada makhluk dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh makhluk.
Dari penjelasan diatas kita peroleh angka 2 sebagai jenis daripada takdir, sebagaimana takdir merupakan bagian dari qadha dan qadar. Iman kepada qada dan qadar merupakan rukun iman yang ke- 6. Apabila angka 2 kita pangkatkan 6, maka hasilnya 64. Jika kita perhatikan angka 64 merupakan pen-jumlahan dari 24 dan 40. Dan jika diuraikan lagi secara berturut-turut angka 24 merupakan hasil penjumlahan dari 13 dengan 11, sedangkan 40 merupakan penjumlahan dari 7 dengan 34. Secara matematis dijelaskan sebagai berikut:
26 = 64 = 24 + 40
= (13 + 11) + (7 + 34)
Angka 13 dan 11 penulis satukan dalam tanda kurung, begitupun dengan angka 7 dan 34. Ini alasannya:
Angka 13 dan 11, dalam Al-Qur`an Surah ke- 13 (Ar-Ra`d) ayat 11, dalam ayat tersebut terdapat kalimat yang artinya: “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri... ”. Ternyata ayat ini merupakan dalil yang menjelaskan tentang takdir muallaq. Yaitu takdir yang masih dapat diusahakan oleh ikhtiar makhluk.
11
Angka 7 dan 34, dalam Al-Qur`an Surah ke- 7 (Al-A`raf) ayat 34, yang artinya : “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu), apabila ajalnya telah tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat apapun.” Penjelasan ayat 34 dari Surah ke- 7 ini ternyata dalil dari takdir mubram. Yaitu takdir yang sudah tidak dapat diusahakan dengan ikhtiar makhluk.
SIMPULAN
Dari pembahasan diats dapat ditarik kesimpulan, Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Erat kaitannya matematika dengan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an digunakan untuk menjaga keaslian dari-Nya.
Terdapat hubunga antara Limas segi eman denga Islam, hubungan ini ada kaitannya dengan rukun iman dalam agama islam, limas segi enam menggambarkan 6 sisi yang membangun berdirinya Iman. Dari setiap perhitungan matematika ditemukan banyak keistimewaan dalam Al-Qur’an, ini dapat kita jadikan sebagai tolak ukur ketaqwaan umat Islam.
DAFTAR RUJUKAN
Al-jazairi, Syakh abu bakar jabir. Aqidatu Mu’min Kupas Tuntas Aqidah Seorang Mu’min. Solo, 2014.
Habib Zain bin Ibrahim bin Sumarth, Hidayatuth Thalibin Fi Bayan Muhimmatid Din, Terj. Afif Muhammad. Mengenal Mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ikhsan Secara Terpadu., 1998.
Hakami, Syaikh Hafidz bn Ahmad. “222 Kunci Aqidah Yang Lurus,” 2001, 85. ———. 222Kunci Aqidah Yang Lurus. Jakarta Selatan, 2001.