• Tidak ada hasil yang ditemukan

Internet Addiction pada Remaja Pelaku Substance Abuse: Penyebab atau Akibat?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Internet Addiction pada Remaja Pelaku Substance Abuse: Penyebab atau Akibat?"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

DOI: 10.22146/buletinpsikologi.31164 https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi

Internet Addiction

pada Remaja Pelaku

Substance Abuse

:

Penyebab atau Akibat?

Ajeng Intan Nur Rahmawati1

Prodi Pascasarjana Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Abstract

The purpose of this article to find out which variables are the causes and effects between

substancial abuse and internet addiction through conceptual studies. Internet addiction and

substance abuse are known to have correlation. But this becomes overlapping, which is the cause and the result. The results of this conceptual study explain that adolescents who experience substance abuse will tend to be the cause of increased prevalence internet addiction, because the use of addictive substances will determine how fast internet addiction develops. Conversely, adolescents who experience Internet addiction is not necessarily the cause of the emergence of substance abuse. It can be concluded that substance abuse is the cause of high levels of internet addiction in adolescents, likewise the internet addiction has the potential to cause substance abuse.

Keywords : adolescent; correlational; internet addiction; substance abuse

Pengantar

Tidak 1dapat dipungkiri bahwa kehidupan

generasi remaja saat ini sangat erat dengan

segala kecanggihan dan modernisasi

teknologi (Issa & Isaias, 2016; Ozkan & Solmaz, 2015). Tidak sulit bagi mereka untuk dapat mengakses apapun karena internet menjadi salah satu kemudahan yang ditawarkan pada era ini. Sejauh ini internet telah menjadi pemasok utama kebutuhan akademik dan non-akademik remaja sehingga mereka tidak dapat lepas dari penggunaan internet dalam kehidupan sehari-harinya (LaRose, Connolly, Lee, Li, & Hales, 2014).

Kemunculan internet tentu memberi-kan dampak positif, namun tidak menutup kemungkinan adanya dampak negatif.

1Korespondensi mengenai artikel ini dapat dilakukan

melalui: [email protected]

Kemudahan dan kecanggihan yang tidak perlu diragukan lagi menjadi dampak positif dalam dunia global (Yung, Eickhoff, Davis, Klam, & Doan, 2015), sedangkan di sisi lain dapat menyebabkan munculnya bentuk adiksi yakni kecanduan internet

atau internet addiction. Beberapa penelitian

menjelaskan bahwa individu yang

meng-alami internet addiction memiliki korelasi

dengan penyalahgunaan zat adiktif atau substance abuse (Bakken, Wenzel, Testam, Johansson, & Ren, 2009; Padilla-Walker, Nelson, Carroll, & Jensen, 2010; Preedy, 2016). Korelasi ini menjelaskan bahwa

perilaku substance abuse ini mungkin sekali

terjadi karena adanya kemudahan akses internet dan tersedianya akun yang memperdagangkan zat adiktif tersebut (Preedy, 2016). Remaja yang pada usianya masih labil akan lebih mudah tertarik dan terkecoh untuk mencoba dan mengakses

(2)

situs tersebut. Pernyataan tersebut didukung dengan hasil beberapa penelitian yang menyatakan bahwa remaja masih dalam fase yang labil dan mudah mengalami depresi, mencari kebebasan, dan mencari kesenangan akan lebih mudah untuk menyalahgunakan kemudahan akses internet ke dalam penyalahgunaan zat adiktif (BNN, 2016; Hawkins, Catalano, Miller, & Hawkins, 1992; Preedy, 2016). Perilaku substance abuse sendiri adalah salah satu bentuk penyalahgunaan zat adiktif seperti nikotin, heroin, alkohol, dan zat psikotropika lainnya. Perilaku ini mengun-dang banyak masalah dalam kehidupan individu, baik secara mental, fisik, dan sosial

Namun penelitian lain juga menegas-kan adanya bentuk adiksi lain seperti internet addiction akibat adanya substance abuse (Castro-Calvo, Ballester-Arnal, Gil-Llario, & Giménez-García, 2016; Jorgenson, Hsiao, & Yen, 2016; Lee, Han, Kim,

Renshaw, 2013; Yung et al., 2015). Selain itu

hasil penelitian lain juga menyatakan bahwa remaja yang telah mengkonsumsi zat adiktif lebih dini akan diprediksi terkena bentuk adiksi yang lain, salah satunya adalah internet addiction.

Kedua hal ini memang memiliki korelasi, pernyataan ini telah dibuktikan oleh hasil beberapa penelitian yang mene-mukan adanya keterkaitan antara substancial abuse dan internet addiction (Cerniglia, et al.,

2017; Jorgenson et al., 2016; Lee et al., 2013;

Yu et al., 2017), namun belum diketahui mana sebab dan mana akibat. Dengan demikian artikel ini akan membahas mengenai variabel manakah yang menjadi penyebab dan akibat di antara keduanya

melalui studi konseptual. Hal ini

dimaksudkan agar para terapis dan konselor dapat memberikan layanan yang tepat sasaran terkait dengan permasalahan internet addiction dan substance abuse sesuai

dengan konsep-konsep yang telah

dipaparkan. Layanan tersebut nantinya akan berguna untuk mencegah terjadinya permasalahan yang berkelanjutan.

Pembahasan

Internet Addiction

Penggunaan internet tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, khususnya remaja. Hal tersebut dikarenakan hampir sebagian

besar kegiatan remaja membutuhkan

internet, baik untuk kebutuhan akademik maupun non-akademik. Pemakaian internet akan baik jika dipakai sesuai dengan waktu dan kebutuhan, namun akan berdampak negatif jika disalahgunakan (segi waktu dan

manfaat). Sebutan istilah internet addiction

bermakna yakni pemakaian internet secara berlebih sehingga memunculkan

permasa-lahan-permasalahan dalam kehidupan

individu (Kuss & Griffiths, 2014; Kuss &

Lopez-Fernandez, 2016; Lee et al., 2013;

Young, 1996). Adapun faktor risiko yang dimunculkan beragam, baik secara sosial, personal, dan gejala-gejala mental.

Remaja yang terkena internet addiction

dapat dilihat dari beberapa unsur yakni dari frekuensi, durasi penggunaan, intensitas, adanya gejala penarikan diri, munculnya beragam konflik, dan kekambuhan (Gómez, Rial, Braña, Golpe, & Varela, 2017; Kuss & Griffiths, 2014; Salicetia, 2015). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian bahwa

individu yang mengalami internet addiction

akan sulit tidur, mengalami depresi, mem-bolos, mengalami konflik dengan keluarga, mengalami kecemasan, gangguan suasana hati, daya tahan tubuh rendah dan mun-culnya gangguan kepribadian (Jorgenson et al., 2016)

Selain itu juga ditemukan adanya karakteristik temperamen, respon otak dan faktor kekambuhan pada individu yang

(3)

mengalami internet addiction (Jorgenson et al., 2016; Kuss & Lopez-Fernandez, 2016). Individu yang telah mengalami kecanduan internet akan memperlihatkan suasana hati yang tidak nyaman dan merasa hampa

ketika offline. Secara garis besar internet

telah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupannya (Macur, Király, Maraz, Nagygyörgy, & Demetrovics, 2016; Young, 1996; Young, 1999).

Remaja yang kecanduan internet akan

memiliki dalih bahwasanya kegiatan online

mereka adalah cara untuk meredakan stress, menghilangkan rasa sepi, dan sebagai hiburan. Alasan ini sebenarnya hanyalah kamuflase, karena pada dasarnya individu yang gemar melakukan aktivitas online merasa tidak puas dengan

interak-sinya dengan kehidupan offline dan merasa

bahwa lebih mudah mencapai aktualisasi

diri online daripada dalam kehidupan yang

nyata (Stead & Bibby, 2017; Young, 1999). Interaksi dengan internet secara berlebih lama kelamaan akan memengaruhi kese-hatan mental dan fisik, merusak hubungan pertemanan, mengganggu pekerjaan, dan

mengarah pada isu-isu cyberbullying

(Calvete, Gámez-Guadix, & Cortazar, 2017; Jorgenson et al., 2016).

Substance Abuse

Kehidupan dan permasalahan para remaja tidak pernah lepas dari kacamata khalayak. Salah satunya adalah penyalahgunaan zat adiktif (substancial abuse) yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, tidak terkecuali di Indonesia. Penyalah-gunaan zat adiktif adalah pemakaian obat-obatan secara berlebih tanpa panduan dari pihak-pihak yang berwenang. Kerapkali alasan yang muncul dari pengguna zat

adiktif ini adalah untuk mencari

kesenangan (fun seeking) dan pereda stress (Das, Salam, Arshad, Finkelstein, & Bhutta,

2016; Hawkins et al., 1992). Pada masa ini

mereka juga cenderung selalu ingin tahu, memiliki emosi yang tidak stabil, dan proses pencarian jati diri.

Bentuk penyalahgunaan zat yang sering dilakukan oleh remaja adalah penyalahgunaan zat nikotin (perokok aktif), minum-minuman keras (alcoholic), dan narkoba (Ahmad & Mazlan, 2014). Rata-rata hasil beberapa penelitian menjelaskan

bahwa remaja yang mengalami substance

abuse adalah mereka yang masih menginjak

usia belasan tahun (Das et al., 2016;

Hawkins et al., 1992; Lee et al., 2013).

Terkait dengan pembahasan di atas, tentu banyak dampak penyalahgunaan zat,

baik secara fisik, mental dan sosial (Das et

al., 2016). Remaja yang menggunakan zat-zat adiktif akan lebih mudah untuk terkena depresi, gangguan tidur, gangguan

emo-sional, penarikan diri, rendahnya self-esteem

dan resiliensi, traumatik, serta gangguan psikis (Ahmad & Mazlan, 2014; Aromin,

2016; Das et al., 2016; Hawkins et al., 1992;

Kaminer, Burleson, & Goldberger, 2002; Preedy, 2016; Smith, Mattick, Jamadar, & Iredale, 2014). Tentu saja dampak tersebut menghambat perkembangan remaja untuk mengoptimalkan potensinya. Pasalnya pada usia ini mereka diharapkan mampu berkarya positif sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing.

Mudahnya akses untuk mendapatkan zat adiktif tersebut malah memicu

berkem-bangnya perilaku substance abuse pada

remaja. Hal ini berkaitan erat dengan

munculnya internet (Preedy, 2016).

Mengapa demikian? Perilaku substance abuse

mengandung variabel relapse atau “candu”

(Lee et al., 2013) yang artinya perilaku

tersebut akan terus berulang dan menyiksa. Alhasil remaja yang telah teridentifikasi

mengalami substance abuse akan mencari

cara bagaimana mendapatkan zat adiktif tersebut. Menindaklanjuti hal tersebut, maka akses internet memiliki andil di

(4)

dalamnya. Pasalnya kemudahan akses internet menjadi jalan bagi remaja untuk

mendapatkan zat-zat terlarang. Hasil

penelitian (Schifano, et al., 2006)

menyimpulkan adanya website (10% dari

1633 website) yang terdeteksi melakukan jual beli zat adiktif secara ilegal.

Remaja yang telah mengalami substance abuse akan terus berinteraksi dengan internet guna memenuhi kebutuhan zat adiktif tersebut, dan lama kelamaan akan

menjadikannya tidak hanya terkena

substance abuse, tetapi juga internet addiction

(Lee et al., 2013; Smith et al., 2014).

Permasalahan ini dapat terjadi karena adanya pengaruh zat adiktif terhadap sistem otak sehingga memicu

berkem-bangnya adiksi yang lain seperti internet

addiction (Young & De Abreu, 2017). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian bahwa ternyata terdapat bagian otak yang sama

pada individu yang mengalami substance

abuse dan internet addiction, yakni

tergang-gunya pada bagian visual imagery dan

memory (Preedy, 2016). Bahkan hasil penelitian Young (1996) yang

mengikut-sertakan individu-individu substance abuse

menyimpulkan bahwa mereka memiliki

potensi untuk menambah tingginya

pravelensi internet addiction.

Remaja yang telah mengalami internet

addiction memang memiliki karakteristik yang sama dengan remaja yang mengalami substance abuse, namun hasil beberapa penelitian mengatakan bahwa individu

yang mengalami internet addiction belum

tentu mengarah kepada substance abuse. Hal

ini dikarenakan variabel dalam internet

addiction (penggunaan waktu, penggunaan

aplikasi game dan media sosial) belum

mengandung unsur-unsur substance abuse

(Kuss & Lopez-Fernandez, 2016). Namun, memang benar jika internet dapat menjadi akses kemudahan remaja untuk mendapat-kan zat-zat adiktif karena terdapat

situs-situs web yang menyediakan zat adiktif tersebut (Preedy, 2016; Schifano et al., 2006). Dengan demikian remaja yang kecanduan internet (internet addiction) akan berpotensi untuk melakukan penyalahgunaan zat adiktif.

Sedangkan remaja yang melakukan

penyalahgunaan zat adiktif memiliki

pravelensi yang tinggi terhadap internet

addiction. Hal ini dapat terjadi karena

adanya sistem-sistem reward otak yang

sama antara substance abuse dengan internet

addiction (Cerniglia et al., 2017; Lee et al., 2013) sehingga penggunaan zat adiktif

menentukan seberapa cepat tingkat

kecanduan internet tersebut berkembang.

Perilaku substance abuse juga memiliki

tingkat ketagihan sehingga mendorong pelakunya untuk terus menggunakan internet sebagai jalan pemenuhan nafsunya. Dengan demikian dapat diketahui

bahwa remaja yang mengalami substance

abuse dapat dipastikan memiliki gejala internet addiction pula dikarenakan adanya karakteristik yang sama pada gejala dan dampak serta pengaruh zat adiktif pada sistem otak sehingga gejala internet addiction semakin berkembang. Oleh karena itu maka

remaja yang mengalami substance abuse

perlu mendapatkan layanan yang dapat mencegah adanya adiksi berkelanjutan

pasca mengalami substance abuse. Terdapat

dua tema layanan yang dapat dilakukan oleh terapis dan konselor yakni dengan mindfulness dan psikoedukasi (Çikrıkci, 2016).

Penutup

Hasil studi konseptual menemukan bahwa remaja yang mengalami substance abuse akan cenderung menjadi penyebab meningkat-nya pravelensi internet addiction. Sebalikmeningkat-nya,

remaja yang mengalami internet addiction

(5)

ekster-nal (pola asuh orang tua, lingkungan, pola pertemanan) sebagai penyebab dalam

mengalami substance abuse. Dengan

demi-kian dapat disimpulkan bahwa substance

abuse menjadi penyebab tingginya tingkat

remaja mengalami internet addiction,

demikian juga internet addiction mempunyai potensi untuk menyebabkan terjadinya substance abuse. Sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai layanan

preventif seperti psikoedukasi dan

mindfulness agar keduanya tidak menjadi

masalah yang berkelanjutan (Calvete et al.,

2017; Çikrıkci, 2016).

Daftar Pustaka

Ahmad, A., & Mazlan, N. H. (2014). Substance abuse and childhood trauma

experiences: Comparison between

incarcerated and non-incarcerated

youth. Procedia-Social and Behavioral

Sciences, 113, 161–170. doi: 10.1016/ j.sbspro.2014.01.023

Aromin, R. A. (2016). Substance abuse prevention, assessment, and treatment

for lesbian, gay, bisexual, and

transgender youth. Pediatric Clinics of

North America, 63(6), 1057–1077. doi: 10.1016/j.pcl.2016.07.007

Bakken, I. J., Wenzel, H. G., testam, K. G., Johansson, A., & ren, A. (2009). Internet addiction among Norwegian adults: A stratified probability sample study. Scandinavian Journal of Psychology, 50(2), 121–127. doi: 10.1111/j.14679450. 2008. 00685.x

Badan Narkotika Nasional (BNN). (2016). Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok rumah tangga di 20 provinsi tahun 2015. Jakarta: Pusat Penelitian Data dan Informasi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.

Calvete, E., Gámez-Guadix, M., & Cortazar, N. (2017). Mindfulness facets and

problematic Internet use: A six-month

longitudinal study. Addictive Behaviors,

72 (January), 57–63. doi: 10.1016/

j.addbeh.2017.03.018

Castro-Calvo, J., Ballester-Arnal, R., Gil-Llario, M. D., & Giménez-García, C. (2016). Common etiological pathways between toxic substance use, Internet and cybersex addiction: The role of expectancies and antisocial deviance

proneness. Computers in Human

Behavior, 63, 383–391. doi: 10.1016/ j.chb.2016.05.066

Cerniglia, L., Zoratto, F., Cimino, S., Laviola, G., Ammaniti, M., & Adriani, W. (2017). Internet addiction in adolescence:

Neurobiological, psychosocial and

clinical issues. Neuroscience and

Biobehavioral Reviews, 76, 174–184. doi: 10.1016/j.neubiorev.2016.12.024

Çikrıkci, Ö. (2016). The effect of internet use on well-being: Meta-analysis. Computers in Human Behavior, 65, 560–566. doi: 10.1016/j.chb.2016.09.021

Das, J. K., Salam, R. A., Arshad, A., Finkelstein, Y., & Bhutta, Z. A. (2016). Interventions for adolescent substance abuse: An overview of systematic

reviews. Journal of Adolescent Health,

59(2), S61–S75. doi: 10.1016/ j.jadohealth. 2016.06.021

Gómez, P., Rial, A., Braña, T., Golpe, S., &

Varela, J. (2017). Screening of

problematic internet use among spanish adolescents: Prevalence and related

variables. Cyberpsychology, Behavior, and

Social Networking, 20(4), 259–267. doi: 10.1089/cyber.2016.0262

Hawkins, J. D., Catalano, R. E., Miller, J. Y., & Hawkins, D. (1992). Risk and protective factors for alcohol and other drug problems in adolescence and early adulthood: Implications for substance

(6)

112(1), 64–105. doi: 10.1037/0033-2909. 112.1.64

Issa, T., & Isaias, P. (2016). Internet factors influencing generations Y and Z in Australia and Portugal: A practical

study. Information Processing and

Management, 52(4), 592–617. doi: 10.1016/j.ipm.2015.12.006

Jorgenson, A. G., Hsiao, R. C. J., & Yen, C. F. (2016). Internet addiction and other

behavioral addictions. Child and

Adolescent Psychiatric Clinics of North America, 25(3), 509–520. doi: 10.1016/ j.chc.2016.03.004

Kaminer, Y., Burleson, J. A., & Goldberger, R. (2002). Cognitive-behavioral coping skills and psychoeducation therapies for

adolescent substance abuse. The Journal

of Nervous and Mental Disease, 190(11), 737–745. doi: 10.1097/ 01.NMD. 000 003 8168.51591.B6

Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2014). Internet addiction in psychotherapy. Basingstoke: Palgrave Macmillan. doi: 10.1057/ 97811 37465078.0001

Kuss, D. J., & Lopez-Fernandez, O. (2016). Internet addiction and problematic Internet use: A systematic review of

clinical research. World Journal of

Psychiatry, 6(1), 143. doi: 10.5498/ wjp.v6.i1.143

LaRose, R., Connolly, R., Lee, H., Li, K., &

Hales, K. D. (2014). Connection

overload? A cross cultural study of the

consequences of social media

connection. Information Systems

Management, 31(1), 59–73. doi: 10.1080/ 10580530.2014.854097

Lee, Y. S., Han, D. H., Kim, S. M., & Renshaw, P. F. (2013). Substance abuse

precedes internet addiction. Addictive

Behaviors, 38(4), 2022–2025. doi: 10.1016/j.addbeh.2012.12.024

Macur, M., Király, O., Maraz, A.,

Nagygyörgy, K., & Demetrovics, Z.

(2016). Prevalence of problematic

internet use in Slovenia. Zdravstveno

Varstvo, 55(3), 202–211. doi: 10.1515/ sjph-2016-0026

Ozkan, M., & Solmaz, B. (2015). Mobile addiction of generation z and its effects

on their social lifes. Procedia - Social and

Behavioral Sciences, 205(May), 92–98. doi: 10.1016/j.sbspro.2015.09.027

Padilla-Walker, L. M., Nelson, L. J., Carroll, J. S., & Jensen, A. C. (2010). More than a just a game: Video game and internet use during emerging adulthood. Journal of Youth and Adolescence, 39(2), 103–113. doi: 10.1007/s10964-008-9390-8

Preedy, V. R. (2016). Neuropathology of drug

addictions and substance misuse - volume 2. Cambridge: Academic Press.

Salicetia, F. (2015). Internet addiction

disorder (IAD). Procedia - Social and

Behavioral Sciences, 191, 1372–1376. doi: 10.1016/j.sbspro.2015.04.292

Schifano, F., Deluca, P., Baldacchino, A., Peltoniemi, T., Scherbaum, N., Torrens, M., … Ghodse, A. H. (2006). Drugs on the web; the Psychonaut 2002 EU

project. Progress in

Neuro-Psychopharma-cology and Biological Psychiatry, 30(4), 640–646. doi: 10.1016/ j.pnpbp. 2005. 11.035

Smith, J. L., Mattick, R. P., Jamadar, S. D., & Iredale, J. M. (2014). Deficits in behavioural inhibition in substance abuse and addiction: A meta-analysis. Drug and Alcohol Dependence, 145, 1–33. doi: 10.1016/j.drugalcdep.2014.08.009 Stead, H., & Bibby, P. A. (2017). Personality,

fear of missing out and problematic internet use and their relationship to

subjective well-being. Computers in

Human Behavior, 76, 534–540. doi: 10.1016/j.chb.2017.08.016

(7)

use: XL. Addictive use of the Internet: A

case that breaks the stereotype.

Psychological Reports, 79(3 Pt 1), 899–902. doi: 10.2466/pr0.1996.79.3.899

Young, K. S. (1999). Internet addiction: Symptoms, evaluation, and treatment. Innovations in Clinical Practice, 17, 19–31. doi: 10.1007/ s10879-009-9120-x

Young, K. S., & De Abreu, C. N. (2017). Kecanduan konseling: Panduan konseling dan petunjuk untuk evaluasi dan penanganan. (K. S. Young, Ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yu, Q., Zhang, L., Wu, S., Guo, Y., Jin, S., & Sun, Y. (2017). The influence of juvenile

preference for online social interaction on problematic Internet use: The moderating effect of sibling condition and the moderated moderating effect of

age cohort. Computers in Human

Behavior, 68, 345–351. doi: 10.1016/ j.chb.2016.11.026

Yung, K., Eickhoff, E., Davis, D. L., Klam, W. P., & Doan, A. P. (2015). Internet addiction disorder and problematic use of Google Glass™ in patient treated at a residential substance abuse treatment

program. Addictive Behaviors, 41, 58–60.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun Pandangan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang terhadap pelaksanaan Persidangan secara Elektronik dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 yakni memberikan

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak etanol daun patikan kebo ( Euphorbia hirta L.) terhadap kadar LDL darah mencit putih jantan.. Ekstrak

dengan kejadian pencemaran asap lintas batas yang menyebabkan terganggunya lingkungan negara lain merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip – prinsip

Raja Ampat ABSEN Daerah terpencil dan Transportasi 18 14320622010344 YAKOBUS BEAY Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Kab.. Raja Ampat ABSEN Daerah terpencil dan Transportasi

Perangkat untuk menentukan toleransi modelling dies ada 3 variabel dasar (Nevis dan Whitney, 1989) yaitu (a) perangkat fasilitas, yang diperlukan untuk mendukung

spiritual pada pasien, bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran terhadap spiritual pada pasien, bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran terhadap agama yang

Bentuk perilaku yang muncul adalah strategi penanggulangan terhadap postpartum blues itu sendiri, seperti yang dilakukan ibu- ibu selama mengalami keletihan setelah melahirkan

Sebagai sebuah dokumen kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi guru dan kurikulum sebagai implementasi adalah realisasi dari pedoman tersebut dalam