DOI: 10.22146/buletinpsikologi.31164 https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi
Internet Addiction
pada Remaja Pelaku
Substance Abuse
:
Penyebab atau Akibat?
Ajeng Intan Nur Rahmawati1Prodi Pascasarjana Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang
Abstract
The purpose of this article to find out which variables are the causes and effects between
substancial abuse and internet addiction through conceptual studies. Internet addiction and
substance abuse are known to have correlation. But this becomes overlapping, which is the cause and the result. The results of this conceptual study explain that adolescents who experience substance abuse will tend to be the cause of increased prevalence internet addiction, because the use of addictive substances will determine how fast internet addiction develops. Conversely, adolescents who experience Internet addiction is not necessarily the cause of the emergence of substance abuse. It can be concluded that substance abuse is the cause of high levels of internet addiction in adolescents, likewise the internet addiction has the potential to cause substance abuse.
Keywords : adolescent; correlational; internet addiction; substance abuse
Pengantar
Tidak 1dapat dipungkiri bahwa kehidupan
generasi remaja saat ini sangat erat dengan
segala kecanggihan dan modernisasi
teknologi (Issa & Isaias, 2016; Ozkan & Solmaz, 2015). Tidak sulit bagi mereka untuk dapat mengakses apapun karena internet menjadi salah satu kemudahan yang ditawarkan pada era ini. Sejauh ini internet telah menjadi pemasok utama kebutuhan akademik dan non-akademik remaja sehingga mereka tidak dapat lepas dari penggunaan internet dalam kehidupan sehari-harinya (LaRose, Connolly, Lee, Li, & Hales, 2014).
Kemunculan internet tentu memberi-kan dampak positif, namun tidak menutup kemungkinan adanya dampak negatif.
1Korespondensi mengenai artikel ini dapat dilakukan
melalui: [email protected]
Kemudahan dan kecanggihan yang tidak perlu diragukan lagi menjadi dampak positif dalam dunia global (Yung, Eickhoff, Davis, Klam, & Doan, 2015), sedangkan di sisi lain dapat menyebabkan munculnya bentuk adiksi yakni kecanduan internet
atau internet addiction. Beberapa penelitian
menjelaskan bahwa individu yang
meng-alami internet addiction memiliki korelasi
dengan penyalahgunaan zat adiktif atau substance abuse (Bakken, Wenzel, Testam, Johansson, & Ren, 2009; Padilla-Walker, Nelson, Carroll, & Jensen, 2010; Preedy, 2016). Korelasi ini menjelaskan bahwa
perilaku substance abuse ini mungkin sekali
terjadi karena adanya kemudahan akses internet dan tersedianya akun yang memperdagangkan zat adiktif tersebut (Preedy, 2016). Remaja yang pada usianya masih labil akan lebih mudah tertarik dan terkecoh untuk mencoba dan mengakses
situs tersebut. Pernyataan tersebut didukung dengan hasil beberapa penelitian yang menyatakan bahwa remaja masih dalam fase yang labil dan mudah mengalami depresi, mencari kebebasan, dan mencari kesenangan akan lebih mudah untuk menyalahgunakan kemudahan akses internet ke dalam penyalahgunaan zat adiktif (BNN, 2016; Hawkins, Catalano, Miller, & Hawkins, 1992; Preedy, 2016). Perilaku substance abuse sendiri adalah salah satu bentuk penyalahgunaan zat adiktif seperti nikotin, heroin, alkohol, dan zat psikotropika lainnya. Perilaku ini mengun-dang banyak masalah dalam kehidupan individu, baik secara mental, fisik, dan sosial
Namun penelitian lain juga menegas-kan adanya bentuk adiksi lain seperti internet addiction akibat adanya substance abuse (Castro-Calvo, Ballester-Arnal, Gil-Llario, & Giménez-García, 2016; Jorgenson, Hsiao, & Yen, 2016; Lee, Han, Kim,
Renshaw, 2013; Yung et al., 2015). Selain itu
hasil penelitian lain juga menyatakan bahwa remaja yang telah mengkonsumsi zat adiktif lebih dini akan diprediksi terkena bentuk adiksi yang lain, salah satunya adalah internet addiction.
Kedua hal ini memang memiliki korelasi, pernyataan ini telah dibuktikan oleh hasil beberapa penelitian yang mene-mukan adanya keterkaitan antara substancial abuse dan internet addiction (Cerniglia, et al.,
2017; Jorgenson et al., 2016; Lee et al., 2013;
Yu et al., 2017), namun belum diketahui mana sebab dan mana akibat. Dengan demikian artikel ini akan membahas mengenai variabel manakah yang menjadi penyebab dan akibat di antara keduanya
melalui studi konseptual. Hal ini
dimaksudkan agar para terapis dan konselor dapat memberikan layanan yang tepat sasaran terkait dengan permasalahan internet addiction dan substance abuse sesuai
dengan konsep-konsep yang telah
dipaparkan. Layanan tersebut nantinya akan berguna untuk mencegah terjadinya permasalahan yang berkelanjutan.
Pembahasan
Internet AddictionPenggunaan internet tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, khususnya remaja. Hal tersebut dikarenakan hampir sebagian
besar kegiatan remaja membutuhkan
internet, baik untuk kebutuhan akademik maupun non-akademik. Pemakaian internet akan baik jika dipakai sesuai dengan waktu dan kebutuhan, namun akan berdampak negatif jika disalahgunakan (segi waktu dan
manfaat). Sebutan istilah internet addiction
bermakna yakni pemakaian internet secara berlebih sehingga memunculkan
permasa-lahan-permasalahan dalam kehidupan
individu (Kuss & Griffiths, 2014; Kuss &
Lopez-Fernandez, 2016; Lee et al., 2013;
Young, 1996). Adapun faktor risiko yang dimunculkan beragam, baik secara sosial, personal, dan gejala-gejala mental.
Remaja yang terkena internet addiction
dapat dilihat dari beberapa unsur yakni dari frekuensi, durasi penggunaan, intensitas, adanya gejala penarikan diri, munculnya beragam konflik, dan kekambuhan (Gómez, Rial, Braña, Golpe, & Varela, 2017; Kuss & Griffiths, 2014; Salicetia, 2015). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian bahwa
individu yang mengalami internet addiction
akan sulit tidur, mengalami depresi, mem-bolos, mengalami konflik dengan keluarga, mengalami kecemasan, gangguan suasana hati, daya tahan tubuh rendah dan mun-culnya gangguan kepribadian (Jorgenson et al., 2016)
Selain itu juga ditemukan adanya karakteristik temperamen, respon otak dan faktor kekambuhan pada individu yang
mengalami internet addiction (Jorgenson et al., 2016; Kuss & Lopez-Fernandez, 2016). Individu yang telah mengalami kecanduan internet akan memperlihatkan suasana hati yang tidak nyaman dan merasa hampa
ketika offline. Secara garis besar internet
telah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupannya (Macur, Király, Maraz, Nagygyörgy, & Demetrovics, 2016; Young, 1996; Young, 1999).
Remaja yang kecanduan internet akan
memiliki dalih bahwasanya kegiatan online
mereka adalah cara untuk meredakan stress, menghilangkan rasa sepi, dan sebagai hiburan. Alasan ini sebenarnya hanyalah kamuflase, karena pada dasarnya individu yang gemar melakukan aktivitas online merasa tidak puas dengan
interak-sinya dengan kehidupan offline dan merasa
bahwa lebih mudah mencapai aktualisasi
diri online daripada dalam kehidupan yang
nyata (Stead & Bibby, 2017; Young, 1999). Interaksi dengan internet secara berlebih lama kelamaan akan memengaruhi kese-hatan mental dan fisik, merusak hubungan pertemanan, mengganggu pekerjaan, dan
mengarah pada isu-isu cyberbullying
(Calvete, Gámez-Guadix, & Cortazar, 2017; Jorgenson et al., 2016).
Substance Abuse
Kehidupan dan permasalahan para remaja tidak pernah lepas dari kacamata khalayak. Salah satunya adalah penyalahgunaan zat adiktif (substancial abuse) yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, tidak terkecuali di Indonesia. Penyalah-gunaan zat adiktif adalah pemakaian obat-obatan secara berlebih tanpa panduan dari pihak-pihak yang berwenang. Kerapkali alasan yang muncul dari pengguna zat
adiktif ini adalah untuk mencari
kesenangan (fun seeking) dan pereda stress (Das, Salam, Arshad, Finkelstein, & Bhutta,
2016; Hawkins et al., 1992). Pada masa ini
mereka juga cenderung selalu ingin tahu, memiliki emosi yang tidak stabil, dan proses pencarian jati diri.
Bentuk penyalahgunaan zat yang sering dilakukan oleh remaja adalah penyalahgunaan zat nikotin (perokok aktif), minum-minuman keras (alcoholic), dan narkoba (Ahmad & Mazlan, 2014). Rata-rata hasil beberapa penelitian menjelaskan
bahwa remaja yang mengalami substance
abuse adalah mereka yang masih menginjak
usia belasan tahun (Das et al., 2016;
Hawkins et al., 1992; Lee et al., 2013).
Terkait dengan pembahasan di atas, tentu banyak dampak penyalahgunaan zat,
baik secara fisik, mental dan sosial (Das et
al., 2016). Remaja yang menggunakan zat-zat adiktif akan lebih mudah untuk terkena depresi, gangguan tidur, gangguan
emo-sional, penarikan diri, rendahnya self-esteem
dan resiliensi, traumatik, serta gangguan psikis (Ahmad & Mazlan, 2014; Aromin,
2016; Das et al., 2016; Hawkins et al., 1992;
Kaminer, Burleson, & Goldberger, 2002; Preedy, 2016; Smith, Mattick, Jamadar, & Iredale, 2014). Tentu saja dampak tersebut menghambat perkembangan remaja untuk mengoptimalkan potensinya. Pasalnya pada usia ini mereka diharapkan mampu berkarya positif sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing.
Mudahnya akses untuk mendapatkan zat adiktif tersebut malah memicu
berkem-bangnya perilaku substance abuse pada
remaja. Hal ini berkaitan erat dengan
munculnya internet (Preedy, 2016).
Mengapa demikian? Perilaku substance abuse
mengandung variabel relapse atau “candu”
(Lee et al., 2013) yang artinya perilaku
tersebut akan terus berulang dan menyiksa. Alhasil remaja yang telah teridentifikasi
mengalami substance abuse akan mencari
cara bagaimana mendapatkan zat adiktif tersebut. Menindaklanjuti hal tersebut, maka akses internet memiliki andil di
dalamnya. Pasalnya kemudahan akses internet menjadi jalan bagi remaja untuk
mendapatkan zat-zat terlarang. Hasil
penelitian (Schifano, et al., 2006)
menyimpulkan adanya website (10% dari
1633 website) yang terdeteksi melakukan jual beli zat adiktif secara ilegal.
Remaja yang telah mengalami substance abuse akan terus berinteraksi dengan internet guna memenuhi kebutuhan zat adiktif tersebut, dan lama kelamaan akan
menjadikannya tidak hanya terkena
substance abuse, tetapi juga internet addiction
(Lee et al., 2013; Smith et al., 2014).
Permasalahan ini dapat terjadi karena adanya pengaruh zat adiktif terhadap sistem otak sehingga memicu
berkem-bangnya adiksi yang lain seperti internet
addiction (Young & De Abreu, 2017). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian bahwa ternyata terdapat bagian otak yang sama
pada individu yang mengalami substance
abuse dan internet addiction, yakni
tergang-gunya pada bagian visual imagery dan
memory (Preedy, 2016). Bahkan hasil penelitian Young (1996) yang
mengikut-sertakan individu-individu substance abuse
menyimpulkan bahwa mereka memiliki
potensi untuk menambah tingginya
pravelensi internet addiction.
Remaja yang telah mengalami internet
addiction memang memiliki karakteristik yang sama dengan remaja yang mengalami substance abuse, namun hasil beberapa penelitian mengatakan bahwa individu
yang mengalami internet addiction belum
tentu mengarah kepada substance abuse. Hal
ini dikarenakan variabel dalam internet
addiction (penggunaan waktu, penggunaan
aplikasi game dan media sosial) belum
mengandung unsur-unsur substance abuse
(Kuss & Lopez-Fernandez, 2016). Namun, memang benar jika internet dapat menjadi akses kemudahan remaja untuk mendapat-kan zat-zat adiktif karena terdapat
situs-situs web yang menyediakan zat adiktif tersebut (Preedy, 2016; Schifano et al., 2006). Dengan demikian remaja yang kecanduan internet (internet addiction) akan berpotensi untuk melakukan penyalahgunaan zat adiktif.
Sedangkan remaja yang melakukan
penyalahgunaan zat adiktif memiliki
pravelensi yang tinggi terhadap internet
addiction. Hal ini dapat terjadi karena
adanya sistem-sistem reward otak yang
sama antara substance abuse dengan internet
addiction (Cerniglia et al., 2017; Lee et al., 2013) sehingga penggunaan zat adiktif
menentukan seberapa cepat tingkat
kecanduan internet tersebut berkembang.
Perilaku substance abuse juga memiliki
tingkat ketagihan sehingga mendorong pelakunya untuk terus menggunakan internet sebagai jalan pemenuhan nafsunya. Dengan demikian dapat diketahui
bahwa remaja yang mengalami substance
abuse dapat dipastikan memiliki gejala internet addiction pula dikarenakan adanya karakteristik yang sama pada gejala dan dampak serta pengaruh zat adiktif pada sistem otak sehingga gejala internet addiction semakin berkembang. Oleh karena itu maka
remaja yang mengalami substance abuse
perlu mendapatkan layanan yang dapat mencegah adanya adiksi berkelanjutan
pasca mengalami substance abuse. Terdapat
dua tema layanan yang dapat dilakukan oleh terapis dan konselor yakni dengan mindfulness dan psikoedukasi (Çikrıkci, 2016).
Penutup
Hasil studi konseptual menemukan bahwa remaja yang mengalami substance abuse akan cenderung menjadi penyebab meningkat-nya pravelensi internet addiction. Sebalikmeningkat-nya,
remaja yang mengalami internet addiction
ekster-nal (pola asuh orang tua, lingkungan, pola pertemanan) sebagai penyebab dalam
mengalami substance abuse. Dengan
demi-kian dapat disimpulkan bahwa substance
abuse menjadi penyebab tingginya tingkat
remaja mengalami internet addiction,
demikian juga internet addiction mempunyai potensi untuk menyebabkan terjadinya substance abuse. Sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai layanan
preventif seperti psikoedukasi dan
mindfulness agar keduanya tidak menjadi
masalah yang berkelanjutan (Calvete et al.,
2017; Çikrıkci, 2016).
Daftar Pustaka
Ahmad, A., & Mazlan, N. H. (2014). Substance abuse and childhood trauma
experiences: Comparison between
incarcerated and non-incarcerated
youth. Procedia-Social and Behavioral
Sciences, 113, 161–170. doi: 10.1016/ j.sbspro.2014.01.023
Aromin, R. A. (2016). Substance abuse prevention, assessment, and treatment
for lesbian, gay, bisexual, and
transgender youth. Pediatric Clinics of
North America, 63(6), 1057–1077. doi: 10.1016/j.pcl.2016.07.007
Bakken, I. J., Wenzel, H. G., testam, K. G., Johansson, A., & ren, A. (2009). Internet addiction among Norwegian adults: A stratified probability sample study. Scandinavian Journal of Psychology, 50(2), 121–127. doi: 10.1111/j.14679450. 2008. 00685.x
Badan Narkotika Nasional (BNN). (2016). Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok rumah tangga di 20 provinsi tahun 2015. Jakarta: Pusat Penelitian Data dan Informasi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.
Calvete, E., Gámez-Guadix, M., & Cortazar, N. (2017). Mindfulness facets and
problematic Internet use: A six-month
longitudinal study. Addictive Behaviors,
72 (January), 57–63. doi: 10.1016/
j.addbeh.2017.03.018
Castro-Calvo, J., Ballester-Arnal, R., Gil-Llario, M. D., & Giménez-García, C. (2016). Common etiological pathways between toxic substance use, Internet and cybersex addiction: The role of expectancies and antisocial deviance
proneness. Computers in Human
Behavior, 63, 383–391. doi: 10.1016/ j.chb.2016.05.066
Cerniglia, L., Zoratto, F., Cimino, S., Laviola, G., Ammaniti, M., & Adriani, W. (2017). Internet addiction in adolescence:
Neurobiological, psychosocial and
clinical issues. Neuroscience and
Biobehavioral Reviews, 76, 174–184. doi: 10.1016/j.neubiorev.2016.12.024
Çikrıkci, Ö. (2016). The effect of internet use on well-being: Meta-analysis. Computers in Human Behavior, 65, 560–566. doi: 10.1016/j.chb.2016.09.021
Das, J. K., Salam, R. A., Arshad, A., Finkelstein, Y., & Bhutta, Z. A. (2016). Interventions for adolescent substance abuse: An overview of systematic
reviews. Journal of Adolescent Health,
59(2), S61–S75. doi: 10.1016/ j.jadohealth. 2016.06.021
Gómez, P., Rial, A., Braña, T., Golpe, S., &
Varela, J. (2017). Screening of
problematic internet use among spanish adolescents: Prevalence and related
variables. Cyberpsychology, Behavior, and
Social Networking, 20(4), 259–267. doi: 10.1089/cyber.2016.0262
Hawkins, J. D., Catalano, R. E., Miller, J. Y., & Hawkins, D. (1992). Risk and protective factors for alcohol and other drug problems in adolescence and early adulthood: Implications for substance
112(1), 64–105. doi: 10.1037/0033-2909. 112.1.64
Issa, T., & Isaias, P. (2016). Internet factors influencing generations Y and Z in Australia and Portugal: A practical
study. Information Processing and
Management, 52(4), 592–617. doi: 10.1016/j.ipm.2015.12.006
Jorgenson, A. G., Hsiao, R. C. J., & Yen, C. F. (2016). Internet addiction and other
behavioral addictions. Child and
Adolescent Psychiatric Clinics of North America, 25(3), 509–520. doi: 10.1016/ j.chc.2016.03.004
Kaminer, Y., Burleson, J. A., & Goldberger, R. (2002). Cognitive-behavioral coping skills and psychoeducation therapies for
adolescent substance abuse. The Journal
of Nervous and Mental Disease, 190(11), 737–745. doi: 10.1097/ 01.NMD. 000 003 8168.51591.B6
Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2014). Internet addiction in psychotherapy. Basingstoke: Palgrave Macmillan. doi: 10.1057/ 97811 37465078.0001
Kuss, D. J., & Lopez-Fernandez, O. (2016). Internet addiction and problematic Internet use: A systematic review of
clinical research. World Journal of
Psychiatry, 6(1), 143. doi: 10.5498/ wjp.v6.i1.143
LaRose, R., Connolly, R., Lee, H., Li, K., &
Hales, K. D. (2014). Connection
overload? A cross cultural study of the
consequences of social media
connection. Information Systems
Management, 31(1), 59–73. doi: 10.1080/ 10580530.2014.854097
Lee, Y. S., Han, D. H., Kim, S. M., & Renshaw, P. F. (2013). Substance abuse
precedes internet addiction. Addictive
Behaviors, 38(4), 2022–2025. doi: 10.1016/j.addbeh.2012.12.024
Macur, M., Király, O., Maraz, A.,
Nagygyörgy, K., & Demetrovics, Z.
(2016). Prevalence of problematic
internet use in Slovenia. Zdravstveno
Varstvo, 55(3), 202–211. doi: 10.1515/ sjph-2016-0026
Ozkan, M., & Solmaz, B. (2015). Mobile addiction of generation z and its effects
on their social lifes. Procedia - Social and
Behavioral Sciences, 205(May), 92–98. doi: 10.1016/j.sbspro.2015.09.027
Padilla-Walker, L. M., Nelson, L. J., Carroll, J. S., & Jensen, A. C. (2010). More than a just a game: Video game and internet use during emerging adulthood. Journal of Youth and Adolescence, 39(2), 103–113. doi: 10.1007/s10964-008-9390-8
Preedy, V. R. (2016). Neuropathology of drug
addictions and substance misuse - volume 2. Cambridge: Academic Press.
Salicetia, F. (2015). Internet addiction
disorder (IAD). Procedia - Social and
Behavioral Sciences, 191, 1372–1376. doi: 10.1016/j.sbspro.2015.04.292
Schifano, F., Deluca, P., Baldacchino, A., Peltoniemi, T., Scherbaum, N., Torrens, M., … Ghodse, A. H. (2006). Drugs on the web; the Psychonaut 2002 EU
project. Progress in
Neuro-Psychopharma-cology and Biological Psychiatry, 30(4), 640–646. doi: 10.1016/ j.pnpbp. 2005. 11.035
Smith, J. L., Mattick, R. P., Jamadar, S. D., & Iredale, J. M. (2014). Deficits in behavioural inhibition in substance abuse and addiction: A meta-analysis. Drug and Alcohol Dependence, 145, 1–33. doi: 10.1016/j.drugalcdep.2014.08.009 Stead, H., & Bibby, P. A. (2017). Personality,
fear of missing out and problematic internet use and their relationship to
subjective well-being. Computers in
Human Behavior, 76, 534–540. doi: 10.1016/j.chb.2017.08.016
use: XL. Addictive use of the Internet: A
case that breaks the stereotype.
Psychological Reports, 79(3 Pt 1), 899–902. doi: 10.2466/pr0.1996.79.3.899
Young, K. S. (1999). Internet addiction: Symptoms, evaluation, and treatment. Innovations in Clinical Practice, 17, 19–31. doi: 10.1007/ s10879-009-9120-x
Young, K. S., & De Abreu, C. N. (2017). Kecanduan konseling: Panduan konseling dan petunjuk untuk evaluasi dan penanganan. (K. S. Young, Ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yu, Q., Zhang, L., Wu, S., Guo, Y., Jin, S., & Sun, Y. (2017). The influence of juvenile
preference for online social interaction on problematic Internet use: The moderating effect of sibling condition and the moderated moderating effect of
age cohort. Computers in Human
Behavior, 68, 345–351. doi: 10.1016/ j.chb.2016.11.026
Yung, K., Eickhoff, E., Davis, D. L., Klam, W. P., & Doan, A. P. (2015). Internet addiction disorder and problematic use of Google Glass™ in patient treated at a residential substance abuse treatment
program. Addictive Behaviors, 41, 58–60.