Implementasi Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan Di Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Selawesi Tenggara
Teks penuh
(2) Hal tersebut kemudian diimplementasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan menerbitkan Permen KP No.18 Tahun 2016 Tentang Jaminan Perlindungan atas risiko Kepada Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam, yang salah satu programnya adalah Bantuan Premi Asuransi Bagi Nelayan (BPAN)sebesar Rp. 175 ribu per tahun di seluruh Indonesia dengan menggandeng perusahaan milik BUMN yakni PT. Jasa Asuransi Indonesia (JASINDO). Dalam konteks pelaksanaan program BPAN mengacu pada Pedoman petunjuk teknis yang dikeluarkan Dirjen Perikanan Tangkap Nomor 1/PerDJPT/2017,. yang. terdiri. beberapa. organisasi. pelaksana. yakni. KKP,DKP. Provinsi/Kabupaten/Kota, petugas pendamping dan penanggung (perusahaan asuransi).Di Kabupaten Buton Selatan Program BPAN ini dilaksanankan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan, yang terdiri dari petugas pendamping dan petugas verifikasi dan validasi data masing-masing berjumlah 3 orang. Petugas tersebut ditunjuk oleh Kepala DKP Busel sesuai dengan kompetensi yang membidangi perikanan tangkap. Hal ini sesuai dengan dokumen yang ada pada struktur organisasi DKP Busel bahwa ke enam petugas tersebut merupakan staff yang membidangi perikanan tangkap dan budidaya di DKP Busel. Sebagai suatu program nasional, programBPAN mempunyaimekanisme pelaksanaan yang sistematis, dilakukan melalui beberapa tahapan yakni:.
(3) Gambar 5.1. : Mekanisme Pelaksanaan Program BPAN Sumber: Juknis BPAN Tahun 2017, Dirjen Perikanan Tangkap a. Sosialisasi Kebijakan yang diimplementasikan ditengah-tengah masyarakat tidak selalu menjadi perhatian. Kadangkala kebijakan yang ada dan tengah berjalan sekalipun, belum tentu mendapatkan atensi dari masyarakat. Maka, untuk memancing atensi dan respon masyarakat maka perlu dilakukannyasosialisasi mengenai kebijakan untuk diketahui oleh masyarakat. Kebijakan Bantuan Premi Asuransi Bagi Nelayan sebagaimana yang tertuang dalam pedoman Juknis Bantuan Premi Asuransi Bagi Nelayan, berdasarkan hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa Dinas.
(4) Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton Selatan telah berupaya untuk menyosialisasikan program ini kemasyarakat. Hal ini kemudian diakui oleh bapak H. Ibrahim, SE. selaku Plt. Kepala DKP Busel, ia mengemukakan bahwa: “Saya mengundang seluruh Camat, kepala desa dan lurah untuk sosialisasi program BPAN ini, dan menekankan agar diteruskan di Kecamatan dan desa masing-masing untuk menyampaikan kepada sasaran program dalam hal ini para nelayan bahwa pentingnya berasuransi guna melindungi diri manakala terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya kecelakaan, apalagi program ini gratis, 100% preminya di bantu langsung oleh pemerintah” (Wawancara, 8 April 2018) Hal serupa juga kemudian disampaikan oleh Ibu Nani selaku pendamping, ia menunuturkan bahwa: “Pada saat program BPAN ini diluncurkan, kami langsung mengundang para Camat, kades, dan beberapa tokoh nelayan, menyampaikan agar nelayan diwilayah masing-masing diberitahu untuk ikut serta dalam program ini” (Wawancara 8 April 2018) Upaya DKP Busel untuk sosialisasi program BPAN dengan melibatkan para jajaran pemerintah lain tersebut karena keterbatasan sumberdaya yang ada baik itu staf maupun anggaran, menurut keterangan hasil wawancara penulis dengan bapak Ibrahim ia kembali menyampaikan bahwa: “pegawai di DKP sangat minim, yang kami tugaskan untuk urus program asuransi 3 orang, dan kita tau sendiri kan, wilayah kita sangat luas dan juga tidak adanya biaya operasional dalam pelaksanaan di lapangan, karena program ini digulirkan pada tengah tahun anggaran dan realisasinya diakhir tahun, maka pemkab Busel belum mengalokasikan anggaran operasional kegiatan pada penetapan APBD 2016, padahal anggaran ini sangat vital untuk operasional pengumpulan dan verifikasi data, sosialisasi, serta kegiatan lapangan lainnya” Namun ternyata tahap sosialisasi ini tidak sampai dibeberapa wilayah kepulauan, masih ada sebagian nelayan yang belum mengetahui program BPAN ini,.
(5) maka untuk mengonfimasi pernyataan pihak DKP Busel tersebut, penulis mewawancarai Bapak La Kajua salah satu nelayan di Pulau kadatua ia mengungkapkan: “Saya tidak tau juga kalau ada program asuransi ini, belum ada sama sekali penyampaian dari kepala desa, biasanya kalau ada bantuan atau apa kita dikasi tau”: (Wawancara, 12 April 2018) Untuk memperjelas pernyataan salah satu nelayan tersebut, penulis kembali mewawancari bapak La Ode Ali Yunus selaku Kepada Desa Banabungi, Kecamatan Kadatua, ia menuturkan bahwa: “tidak ada sosialiasi dalam bentuk pertemuan, saya hanya sampaikan saja kepada para perangkat saya, kepala dusun, untuk menyapaikan perihal program ini, kalau ada yang mau daftar langsung saja dirumah kita fasilitasi,” Dari penuturan beberapa informan diatas, dapat disimpulkan bahwa bentuk sosialisasi program BPAN yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton selatan tidak menyeluruh, meskipun upaya penyampaian informasinya disampaikan juga melalui para camat, kepala desa/lurah di masingmasing wilayah, namun tidak sampai ke semua nelayan, hal ini karena keterbatasan sumberdaya baik staf maupun anggaran yang di DKP Busel, maka kemudian menyebabkan kurangnya atensi masyarakat di wilayah kepulauan terhadap kebijakan Program BPAN. b. Pendataan dan verifikasi Pendataan dilakukan oleh Pendamping guna mendata dan membantu para Nelayan Calon Penerima Bantuan Premi Asuransi Nelayan (NCP-BPAN) untuk mengisi Dokumen Administrasi (DA) pendaftaran, oleh pihak DKP Busel pendataan.
(6) ini dilakukan dengan membuka posko pendaftaran bagi para NCP-BPAN di banyak tempat untuk wilayah Daratan Busel yang meliputi 3 kecamatan (Batauga, Sampolawa, dan Lapandewa) poskonya bertempat di kantor DKP Busel, sedangkan di wilayah Kepulauan yang meliputi 4 kecamatan (Kadatua, Siompu, Siompu Barat dan Batu Atas) pihak DKP Busel memberikan tanggung jawab kepada Kades/Lurah yang dibantu oleh para penyuluh perikanan untuk membuka posko pendaftaran di Kantornya masing-masing agar memudahkan NCP-BPAN untuk mendaftarkan diri. Berdasarkan data DKP Kabupaten Busel, jumlah nelayan kecil dan tradisional sebanyak 8666 nelayan, data tersebut masih menggunakan data dari Kabupaten Buton sebelum pemekaran, bila berpedoman pada juknis persyratan untuk mendapatkan program BPAN, maka jumlah nelayan diatas bisa terkafer, namun terkendala dengan kuota yang diberikan oleh pihak KKP nelayan di Kabupaten Busel.. hanya 3000.
(7) Tabel 5.1. Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) dan Nelayan Tangkap Menurut Kecamatan Kabupaten Buton Selatan. Nelayan Tangkap (Orang) No. Kecamatan. RTP. Jumlah Pancing. Jaring. Bubu. Lainnya. 1. Siompu Barat. 610. 1.185. 384. 74. 2. 1.645. 2. Siompu. 628. 904. 396. 94. 1. 1.395. 3. Batauga. 615. 1.185. 387. 3. 6. 1.581. 4. Sampolawa. 623. 1.371. 392. 17. 5. 1.785. 5. Batu Atas. 181. 559. 114. 14. 8. 695. 6. Lapandewa. 74. 159. 47. 64. 8. 278. 7. Kadatua. 434. 932. 273. 79. 3. 1.287. Jumlah. 3.165. 6.295. 1.993. 345. 33. 8.666. Sumber: Data Statistik Perikanan, DKP Busel Tahun 2016.
(8) Dengan keterbatasan kuota yang diberikan oleh KKP, pihak DKP Busel mengoptimalkan dengan memudahkan para nelayan dengan membuka banyak posko pendaftaran di beberapa wilayah agar semua nelayan terfasilitasi dalam program ini.Maka untuk mengetahui hal tersebut penulis mewawancaraiibu Nani, S.Pi. selaku pendamping I menyampaikanbahwa: “Untuk memudahkan para nelayan dalam mendaftarkan diri pada program BPAN ini kami membuka beberapa posko, di daratan ada satu posko yakni di Kantor DKP, jadi nelayan bisa langsung saja datang ke Kantor, sedangkan saudara-saudara kita nelayan di Kepulauan, kami berkoordinasi dengan para kades yang dibantu oleh penyuluh perikanan untuk membuka posko di desanya masing-masing” (Wawancara 16 April 2018) Hal senada juga dituturkan juga oleh ibu Wa Ode Ratna, S.Pi. selaku pendamping II bahwa: “Karena keterbatasan staf dan jangkauan terlalu jauh, kita manfaatkan saja sumber daya yang ada, kami sampaikan kepada kepala desa dan lurah diwilayah kepulauan, tolong dibantu para nelayan agar dimudahkan pendaftarannya, apalagi program ini gratis tidak dipungut biaya” (Wawancara 16 April 2018). Gambar 5.2: Penyerahan Kartu Asuransi Nelayan oleh petugas kepada Kepala Desa Banabungi Kecamatan Kadatua.
(9) Sumber: Dokumentasi DKP Busel Tahun 2017 Dari penuturan kedua informan diatas dapat disimpulkan bahwa berbagai upaya telah dilakukan DKP Busel melalui pendamping, sudah sangat serius, meskipun keterbatasan sumberdaya yang ada, tetapi disisi lain ternyata jumlah pendaftar masih minim. Data yang dihimpun oleh DKP Busel per Oktober 2017 sebanyak 2500 pendaftar, artinya dari total kuota yang diberikan pihak KKP sebanyak 3000 masih tersisa 900 nelayan yang belum terkafer. Hal tersebut juga disampaikan oleh bapak H.Ibrahim, SE. selaku Plt. Kepala DKP Busel bahwa: “dari laporan yang saya terima saat ini sudah 2500 nelayan yang telah mendaftarkan diri, tersisa 400 nelayan lainnya, hal ini kami masih mengupayakan agar seluruh kuota yang tersedia terpenuhi. Setelah pendataan,kemudian dilakukan verifikasi Dokumen Administrasi NCP-BPAN dan hasilnya disampaikan kepada kepala DKPKabupaten selanjutnya dikirim ke pokja pusat melalui email KKP dan bukti fisiknya dikirim melalui Pos Dari hasil wawancara peneliti dengan Bapak Ibrahin selaku Plt. Kepala DKP Busel, menyampakan bahwa: “Seluruh komponen Administrasi Calon penerima manfaat telah kami verifikasi dan dinyatakan lengkap, kesemuanya lolos total 2100, dan telah kami kirim ke pokja pusat. Hal serupa juga disampaikan oleh ibu Nani selaku pendamping: “dari hasil verifikasi kami dan teman-teman,keseluruhan administrasi pendaftar asuransi sangat lengkap, artinya petugas dilapangan sangat membantu nelayan untuk memenuhi kelengkapan adminsitrasinya..
(10) Dari penuturan kedua informan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses verifikasi Data NCP-BPAN tidak ada kendala administrasi semua dokumen para pendaftar lengkap.. Gambar 5.3 Kartu Asuransi dan Kartu Nelayan Buton Selatan Sumber: Data Observasi bulan April 2017 c. Validasi ValidasiData NCP-BPAN adalah konfirmasi data dengan mencocokkan data nelayan hasil verifikasi dengan data yang tersedia dalam aplikasi pupi kenelayanan KKP untuk menentukan data peserta yang akurat dansah, dalam proses pendataan dan verifikasi NCP-BPAN yang dilakukan oleh DKP Busel sebanyak 2200 nelayan,.
(11) data tersebut kemudian di validasi dengan mencocokan pada data aplikasi pupi, ternyata tidak semua terkafer untuk bisa diusulkan dalam program BPAN, ada beberapa kendala, sebagaimana diungkapkan oleh ibu Wa Ode Ratna selaku petugas validasi: “setelah kami melakukan pengecekan di data base pada aplikasi pupi online KKP, banyak nelayan kami yang belum masuk, ternyata data yang tersedia dalam aplikasi tersebut masih berdasar pada data gabungan kabupaten buton induk dulu waktu sebelum pemekaran, makanya ini kami masih terus mengupayakan” (wawancara, 14 April 2018) Hal serupa juga disampaikan oleh Ibu Nani selaku petugas Pendamping ia menunturkan bahwa “kita juga tidak tau, saya kira data nelayan kami ini sudah semua masuk dalam data base KKP itu, ternyata belum, kami terus upayakan agar para pendaftar ini semua masuk dalam program ini” (Wawancara, 14 April 2018) Tabel 5.2 : Data Nelayan Buton Selatan per Kecamatan dalam Apilaksi Pupi KKP Kecamatan. Jumlah. Sampolawa. 534. Batu atas. 263. Lapandewa. 102. Batauga. 683. Kadatua. 406. Siompu. 576.
(12) Siompu Barat. 569. Total. 3041. Sumber: Aplikasi Pupi KKP Tahun 2017, Diolah Berdasarkan wawancara diatas dapat diketahui bahwa kendala tidak terkafernya sebagian masyarakat nelayan, karena data yang masih menggunakan data lama atau belum dilakukannya updating data nelayan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton Selatan. d. Pengusulan Calon Penerima Asuransi Setelah proses verifikasidan validasi data Dokumen Administrasi Calon Penerima Bantuan Premi Asuransi Nelayan dinyatakan lengkap, kemudian dituangkan kedalam berita acara lalu disampaikan oleh kepala DKP Busel untuk diusulkan kepada Pokja pusat/direktur, usulan dilakukan dengan mengirim hasil rekapitulasi data nelayan tersebut ke email Pokja Pusat. Untuk mengetahui proses pengusulan Calon Penerima BPAN ini, penulis mewawancarai bapakH. Ibrahim selaku Kepala Plt. Kepala DKP Busel, sebagai berikut:.
(13) “untuk proses pengusulan ini sangat simple, ketika Dokumen Administrasi para nelayan ini kami verifikasi dan dinyatakan lengkap, langsung kami kirim via email KKP, dan selanjutnya kami tinggal menunggu konfirmasi balasan” (Wawancara, 15 April 2018) Mengomfirmasi pernyataan Kepala Plt DKP Busel tersebut penulis kembali mewawancarai Wa Ode Ratna selaku petugas verifikasi ia menyampaikan bahwa: “dalam proses pengusulan ini tidak ada kendala, malah pihak KKP sangat memudahkan kami didaerah, biasanyakan sebelum-sebelumnya dokumen fisiknya kami kirim juga kesana, tapi kali ini tidak, dokumennya kami scan lalu kirim via email KKP, simple aja.” Dari hasil wawancara terhadap kedua informan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pengusulan Calon penerima Asuransi Nelayan ini, pihak DKP Busel mengacu pada hasil rekapitulasi data, dan sangat dimudahkan. e. Penetapan Penerima Asuransi Sesuai dengan Pedoman Juknis pelaksanaan BPAN bahwa penetapan penerima BPAN dilakukan oleh Dirjen Perikanan Tangkap KKP RI atas dasar usulan yang telah diverifikasi dan divalidasi oleh pihak DKP Kabupaten/Kota, dan kemudian diterbitkan dalam Surat Keputusan Penetapan Penerima Program BPAN. Untuk mengetahui tahapan penetapan penerima Asuransi ini penulis melakukan wawancara dengan Bapak Ibrahim selaku Plt. Kepala DKP Busel bahwa: “seluruh proses pelaksanaan program BPAN ini, dimulai dari tahapan sosialisasi, verifikasi sampai validasi telah kami jalankan sesuai dengan ketentuan, usulan dari kami sebanyak 3000, namun ternyata yang ditetapkan oleh pihak KKP sendiri hanya 2100 nelayan, sisanya Insya Allah kami upayakan” (Wawancara, 15 April 2018).
(14) Apa yang disampaikan oleh Plt Kepala DKP Busel tersebut kemudian disetujui oleh Ibu Nani selaku petugas verifikasi bahwa: “semua prosedur yang ada dalam ketentuan program ini, sudah kami jalankan. Oleh Dirjen Perikanan tangkap sendirisudah ditetapkan, namun adasebagian nelayan yang belum terkafer, hal dikarenakandata yang kami miliki ternyata sebagian besar tidak masuk dalam database KKP..
(15) Tabel 5.3 : Jumlah Penerima BPAN di Kabupaten Buton Selatan Menurut Kecamatan No. Kecamatan. Jumlah Penerima. 1.. Batauga. 511. 2.. Sampolawa. 438. 3.. Lapandewa. 277. 4.. Kadatua. 361. 5.. Siompu. 188. 6.. Siompu Barat. 221. 7.. Batu Atas. 104. Jumlah. 2.100. Sumber: Data DKP Busel Tahun 2017 Berdasarkan wawancara diatas penetapan penerima program BPAN di Kabupaten Buton selatan, sudah sesuai dengan usulan yang disampaikan oleh pihak DKP Busel, hal ini dikarenakan acuan data oleh pihak KKP sendiri dalam menetapkan penerima program adalah dengan menggunakan database dalam aplikasi Pupi yang dimiliki KKP. 5.1.2. Proses Klaim Asuransi Dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dibidang perikanan dalam hal ini nelayan, risiko merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Salah satu hal yang dapat meminimalisir risiko tersebut adalah denganasuransi. Berdasarkan pasal 5 Poin (3) pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2016 disebutkan bahwa KKP memberi perlindungan kepada nelayan yang diberikan dalam bentuk asuransi Perikanan..
(16) Asuransi perikanan adalah perjanjian antara nelayan dan pihak perusahaan asuransi untuk mengikatkan diri dalam pertanggungan risiko penangkapan ikan. Pihak perusahaan asuransi yang dimaksud disini adalah PT. Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo)selaku Mitra kerja yang telah ditunjuk oleh KKP untuk melakukan pembayaran. klaim. atau. manfaat. atau. santunan. kepada. nelayan. tertanggungmanakala mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kematian atau cacat, Di Kabupaten Buton Selatan sejak digulirkan tahun 2016-2017 sudah lima orang yang mengalami kecelakaan, empat diantaranya telah dibayarkan klaim asuransinya. Untuk melihat proses klaim asuransi ini diuraikan sebagai berikut:.
(17) Gambar 5.4 : Proses Klaim Asuransi Sumber: Juknis BPAN Tahun 2017, Dirjen Perikanan Tangkap. 1. Pengajuan Klaim Dalam proses pengajuan klaim asuransi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Dirjen Perikanan Tangkap No 1 Tahun 2017 Tentang Petunjuk Teknis Program BPAN, bahwa: a. Masyarakat atau. keluarga atau. ahli waris nelayan tertanggung. melaporkan kejadian kecelakaan Lurah atau kepada Kepala Desa untuk mendapatkan surat pengantar b. Selanjutnya berdasarkan laporan tersebut syahbandar/Kepala DKP Kabupaten/Kota atau Polisi perairan setempat membuat Berita Acara Kejadian (BAK) c. Berdasarkan. BAK. yang. dibuat. oleh. syahbandar/Kepala. DKP. Kabupaten/Kota atau Polisi perairan setempat, selanjutnya Keluarga/Ahli Waris atau Nelayan tertanggung melaporkan kepada Kepala DKP Kabupaten/Kota d. Kepala. DKP. Kabupaten/Kota. menyampaikan. pengajuan. dengan. melampirkan BAK dan formulir klaim kepada penanggung (pelaksana Perusahaan asuransi kantor cabang terdekat) e. Selanjutnya Keluarga/ahli waris atau nelayan tertanggung melengkapi dokumen Klaim Nelayan tertanggung.
(18) Untuk. mengetahui. proses. pengajuan. klaim. asuransi. ini. penulis. mewawancarai ibu Nani S.Pi selaku pendamping, ia menunturkan bahwa: “ketika kepala desa melaporkan bahwa ditempatnya ada nelayan yang mengalami kecelakaan, kami langsung menghubunginya dan mengarahkan untuk segera memfoto KTP, Kartu Asuransi dan kartu Nelayan serta dibuatkan surat pengantar di Foto terus dikirim via WhatsApp saya, dan hari itu juga saya langsung buatkan berita acara” (Wawancara 18 April 2018) Hal ini kemudian dibenarkan oleh bapak La Ode Abdul Halim selaku Kepala Desa WawoangiKecamatan Sampolawa bahwa: “oh iya saya juga heran, saya kira administrasinya langsung diantarkan ke Kantor DKP, karena takutnya melewati batas waktu yang ditentukan, padahal tidak, saat warga saya kecelakaan, saya coba-coba telepon ibu Nani, kebetulan saya kenal, mau tanyakan ulang bagaimana proses administrasinya didesa, ternyata diarahkan bahwa semua berkasnya difoto saja dulu lalu dikirim di WA.nya dan nanti dokumen fisiknya menyusul sekalian sama-sama ahli waris untuk ke Kantor DKP” (Wawancara 19 April 2018). Gambar 5.5: Pengajuan klaim asuransi oleh ahli waris kepada DKP Busel Sumber: Dokumentasi DKP Busel Tahun 2017.
(19) Untuk mengklarifikasi kembali pernyataan kedua informan diatas penulis mewawancarai ibu Harfinah selaku ahli waris/istri dari La Ode Arumi, nelayan yang meninggal karena kecelakaan saat melaut, menuturkan bahwa: “waktu bapak meninggal dilaut itu, kepala desa kasi tau anak saya untuk segera mengurus dokumen bapak, katanya dibantu pengajuan asuransi, dan alhamdulillah uangnya cair, saya bersyukur sekali ada asuransi ini,tidak kebayang kalau tidak ada asuransi apa yang harus saya lakukan. Memang ada peninggalan perahu bapaknya, tapi untuk beli jaringnyakan tidak ada. Kami juga hidup pas-pasan kasian, (Wawancara 19 April 2018) Kemudian berkaitan dengan salah satu nelayan yang tidak bisa diproses pengajuan klaim asuransinya adalah karena kendala batas waktu, hal dikemukakan oleh bapak Dirman kerabat dari salah satu nelayan di Desa Mawambunga – kadatua yang mengalami kecelakaan: “kami masih berduka, tidak sempat mengurus klaim asuransi ini, perkiraan kami lepas tujuh harinya dulu baru kami mengurus, ternyata sudah lewat ya.. mau gimana lagi” (Wawancara 15 April 2018) Dapat disimpulkan bahwa pada tahap pengajuan klaim asuransi ini masyarakat nelayan yang mengalami kecelakaan sangat dipermudah untuk pengurusan administrasinya oleh Pihak Kepala Desa/Lurah setempat maupun DKP Busel sendiri. 2. Penanganan Klaim Proses penanganan ini merupakan proses ke dua dimana pihak penanggung dalam hal ini PT. Jasindo melakukan verifikasi klaim dan menetapkan status klaim, sejak dokumen yang diajukan pihak tertanggung (Nelayan/Ahli Waris) melalui DKP Busel yang dinyatakan lengkap..
(20) Dalam wawancara peneliti dengan ibu Nani selaku pendamping, ia memaparkan bahwa: “sejak dokumen administrasi dari pihak nelayan diajukan melalui kades setempat, dan bukti fisiknya telah distor ke kami, kami langsung membuat berita acaranya, kemudian kami scan dan kirim melalui email Jasindo Kendari, untuk ditinjau, setelah itu pihak Jasindo menghubungi kami kembali, apabila dinyatakan lengkap, sehari kemudian dokumen fisiknya kami langsung kirim melalui POS. Hal serupa juga disampaikan oleh Bapak Juhari selaku Pendamping 2: “pokoknya setelah mendapat konfirmasi dari pihak Jasindo Kendari bahwa dokumen Nelayan yang sebelumnya kami kirim ke email mereka dinyatakan lengkap dan bukti fisiknya telah kami kirim via POS, mereka langsung menyampaikan bahwa status Klaim Nelayan berhak mendapatkan tanggungan asuransi kecelakaan” Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa, dalam proses penanganan klaim asuransi pihak DKPBusel telah memfasilitasi pihak pengajuan klaim dengan baik, segala hal-hal yang menyangkut administrasi sangat dipermudah. 3. Keputusan Klaim Dalam proses pengambilan keputusan klaim asuransinelayan, perusahaan asuransi (PT Jasindo) menerima berbagai jenis klaim asuransi baik itu kecelakaan atau meninggal, tergantung risiko atau kerugian yang dialami oleh nelayan tertanggung. Pada umumnya, pengambilan keputusan apakah suatu klaim sah dan dapat di bayarkan atau tidak mencakup pemeriksaan fakta-fakta. Keputusan klaim asuransi nelayan ini berdasarkan pada hasil verifikasi klaim oleh pihak penanggung (PT. Jasindo) dengan menerbitkan Berita Acara Keputusan Klaim. (BAKK). yang. ditandatangai. oleh. pihak. Penanggung. dan. Nelayan.
(21) tertanggung/Ahli waris, jika dalam waktu 14 hari sejak kejadian kecelakaan diterima oleh pihak penanggung dari Kepala DKP Kabupaten/Kota belum terbit BAAK, maka pihak penanggung dinyatakan setuju terhadap klaim yang diajukan oleh Nelayan Tertanggung/Ahli Waris. Pada proses ini keputusan klaim tidak mengalami hambatan, semua dokumen yang diajukan oleh pihak tertanggung melalui pihak DKP Busel yang kemudian diajukan kepada pihak penanggung telah diverifikasi dengan baik, keputusannyapun disepakati oleh kedua belah pihak baik tertanggung maupun penanggung. Melalui wawancara penulis dengan ibu Harfinah selaku ahli waris dari nelayan La Ode Arimu yang meninggal kecelaan dilaut, ia menyampaikan bahwa: ”putusan klaim yang dilakukan oleh pihak Jasindo sudah sesuai dengan kesepakatan, artinya klaim yang saya ajukan tidak ada hal-hal yang harus diverifikasi atau ditinjau ulang” (Wawancara 19 April 2018) Kemudian berkaitan dengan dokumen administrasi yang diajukan oleh pihak tertanggung yang difasilitasi oleh Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Buton Selatan dan Berita Acara keputusan Klaim yang diberikan kepada Ahli Waris melalui DKP Busel sendiri, menurut paparan Bapak H. Ibrahim selaku Kepala Plt DKP Busel ia menuturkan bahwa: “Saat berita acara putusan klaim dikirimkan kepada kami, kami melihat ulang dulu apa-apa item-item dalam surat tersebut, jika poin pada surat tersebut ada yang kurang misalkan, pasti kami siap membantu ahli waris untuk komplain kepada pihak Jasindo, tetapi sudah beberapa nelayan yang kami fasilitasi terkait ajuan klaim ini, alhamdulliah tidak ada kendala, keputusannyapun sesuai dengan ajuan klaim oleh ahli sendiri” (Wawancara 18 April 2018).
(22) Berdasarkan wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa pada proses Keputusan klaim asuransi ini sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan, kedua belah pihak baik tertanggung maupun penanggung menyepakati dengan baik, untuk DKP Busel sendiri juga telah benar-benar memfasilitasi tertanggung dengan baik pula sampai proses selesai. 4. Pembayaran Klaim Pembayaran klaim asuransi adalah tahap akhir jika seluruh dokumen administrasi yang diajukan telah benar-benar sesuai dengan ketentuan-ketentuan, dalam pedoman juknis BPAN tahun 2017 diatur bahwa: a. Pembayaran klaim dilakukan pihak penanggung berdasarkan BAAK b. Manfaat klaim wajib dibayarkan selambat-lambatnya 4 (empat) hari kerja ke rekening nelayan tertanngung/ahli waris atau ke nomor rekening Pokja Kabupaten/Kota apabila Nelayan tertanggung atau ahli waris jika tidak memiliki tabungan c. Pokja kabupaten/kota dalam waktu paling lama 2 (dua) hari kerja wajib membayar sejumlah nilai manfaat kepada nelayan tertanggung/ahli waris. Selanjutnya fotocopy bukti pembayaran di sampaikan kepada direktur. Mengenai proses pembayaran santunan atau klaim asuransi, berbeda-beda, selain dilihat dari faktor musibah yang menimpa, faktor umur juga sangat mempengaruhi besar kecilnya santunan yang akan diterima, untuk klaim santuanan asuransi nelayan bila terjadi musibah kematian atau kecelakaan dilaut besarannya Rp.200. juta;. kecelakaan. didarat. akan. mendapatkan. santunan. sebesar. Rp.160juta.Sedangkan untuk yang mengalami musibah dan berakibat menjadi cacat tetap hilangnya bagian/fungsi anggota badan besaran santunannya disesuai dengan besaran % yang diatur polis.Maka untuk mengetahui perihal pembayaran klaim asuransi ini, penulis melakukan wawancara dengan ibu Nani selaku pendamping dan juga salah satu pegawai di DKP Busel ia menuturkan bahwa:.
(23) “Dalam proses pembayaran klaim asuransi ini, kami menyesuaikan dengan proses yang ada di Pihak Jasindo di Kendari, ketika mereka memberitahukan bahwa pembayaran telah ditransfer ke rekening kami, kami langsung menginformasikan kepada nelayan atau ahli waris bahwa kami akan datang ke tempatnya dan menyerahkan klaimnya secara langsung bersama-sama Bupati paing lambat 3 hari” Hal ini juga kemudian dipetegas kembali oleh Ibu Harfinah selaku ahli Waris dari Nelayan tertangungLa Ode Arimu yang mengalami kematian dilaut: “untuk pembayaran ini tidak ada hal yang menghambat atau penundaan, pokoknya sejak dokumen klaim kami serahkan, mereka langsung urus, tidak memakan waktu lama, uangnyapun tidak ada yang kurang, pokoknya sesuai dengan yang tertera pada dokumen klaim yang kami ajukan” (Wawancara 18 April 2018). Gambar 5.6: Penyerahan Klaim Asuransi oleh Bupati Busel kepada ahli waris Sumber: Dokumentasi DKP Busel Tahun 2017 Berdasarkan wawancara terhadap kedua informan diatas, dapat disimpulkan bahwa proses klaim asuransi tidak ada hambatan, Koordinasi antara Perusahaan Asuransi (PT. Jasindo) dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton Selatan selaku fasilitator telah benar-benar memproses klaim asuransi dan pembayaran.
(24) dengan baik, kemudian berkaitan dengan pembayaran santunan klaim juga diterima oleh pihak keluarga/ahri waris dengan baik, tanpa adanya komplain. 5.2.. Pembahasan. 5.2.1. Implementasi Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan di Kabupaten Buton Selatan Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya untuk menjalankan Undang-Undang Republik Indoneisa Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam. Hal itu diwujudkan oleh KKP melalui program Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN), sebagai salah satu program prioritas yang juga sejalan dengan Nawacita nomor lima yakni meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Nelayan sebagai salah satu faktor kunci dalam sektor kelautan dan perikanan, tapi kondisi nelayan Indonesia masih belum dapat dikatakan sejahtera. Usaha nelayan sangat dipengaruhi oleh faktor alam, hal ini mengakibatkan kontiniutas hasil produksi tidak terjamin. Skala usaha nelayan kecil belum efisien dan memiliki produktifitas usaha yang rendah. Selain itu, profesi nelayan memiliki risiko yang cukup tinggi, yang dapat mengancam jiwa dan keselamatan. Saat melakukan kegiatan penangkapan ikan, nelayan seringkali dihadapkan pada cuaca yang tidak bersahabat hingga mengakibatkan kecelakaan, dan seringkali terjadi tabrakan di laut. BPAN dimaksudkan untuk menjamin kegiatan nelayan yang lebih baik dalam usaha penangkapan ikan sehingga hak-hak dan kewajiban nelayan menjadi jelas.
(25) serta akan terlindungi dalam kegiatan usaha penangkapannya. Manfaat yang diperoleh antara lain ketentraman dan kenyamanan bagi nelayan, dan meningkatnya kesadaran nelayan untuk melanjutkan asuransi secara mandiri Program ini ditujukan kepada seluruh nelayan di Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Buton Selatan, yang mana dalam proses implementasi adalah sebagai berikut:: a. Sosialisasi Sosialisasi merupakan aspek yang sangat penting dalam seluruh proses kebijakan karena kebijakan yang telah di buat akan bermanfaat bila di sosialisasikan. Menurut Berger dan Luckman (1990:201) agar sosialisasi dapat berjalan lancar,tertib dan berlangsung terus menerus maka terdapat dua tipe sosialisasi yaitu: (a) formal, sosialisasi ini terbentuk melalui lembaga yang dibentuk oleh. pemerintah. dan. masyarakat. yang. memiliki. tugas. khusus. dalam. mensosialisasikan nilai, norma dan peranan-peranan yang harus dipelajari oleh masyarakat. dan (b) informal, sosialisasi ini terdapat dalam pergaulan sehari-hari yang bersifat kekeluargaan. Akan sangat sulit menjadikan suatu kebijakan berhasil, ketika target kebijakan, dalam hal ini adalah para nelayan kecil dan tradisional manakala tidak mengetahui program apa yang ditujukkan kepada mereka, Hal ini terbukti dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa masih banyaknya nelayan yang tidak mengetahui kebijakan program BPAN ini, khususnya diwilayah kepulauan, sebagian mereka mengakui bahwa tidak pernah ada sosialisasi maupun pemberitahuan dari pemerintah..
(26) Dalam konteks kabupaten buton selatan, sosialisasi program BPAN dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan selaku instansi yang ditunjuk dalam menjalankan kebijakan KKP perihal Program BPAN, diakui oleh pihak DKP Busel sosialisasi yang dilakukan adalah dengan upaya mengundang seluruhunsur pimpinan di wilayah kecamatan, desa, dan kelurahan yakni Camat, Kepala Desa dan Lurah, serta beberapa masyarakat untuk datang ke Kantor DKP dalam rangka sosialisasi. upaya sosialisasi ini memang kurang efektf, mengingat daya jelajah, kurangnya sumberdaya manusia dan anggaran, serta keadaan geografis yang sebagaian wilayah Kabupaten Busel merupakan kepulauan. Hal tersebut kemudian menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh DKP Busel masih kurang, sehingga menjadi salah satu faktor penghambat dalam kebijakan ini yang kemudian berujung kepada implementasi kebijakan yang tidak berjalan seperti yang diharapkan. b. Pendataan dan Verifikasi Verifikasi data merupakan proses kegiatan pemeriksaan dan pengkajian untuk menjamin kebenaran data.Maka untuk menetapkan kriteria penerima manfaat program terlebih dahulu melakukan pendataan kemudian diverifikasi agar benarbenar valid, sehingga program kebijakan tepat sasaran, dalam kaitannya dengan program BPAN dijelaskan dalam Permen KP No.18 Tahun 2016 Pasal 10 ayat (1) kemudahan pendaftaran untuk menjadi peserta Asuransi dilakukan pendataan dan verifikasioleh petugas verikasi yang telah ditunjuk oleh Kepala DKP Kabupaten/Kota dimasing-masing daerah..
(27) Di Kabupaten Buton Selatan saat ini jumlah Nelayan Kecil dan Tradisioal berdasarkan data DKP Busel tahun 2016 sebanyak 8000 nelayan, data tersebut masih menggunakan data lama yakni kabupaten induk sebelum pemekaran, dari total tersebut jumlah penerima manfaat program per oktober 2017 sebanyak1200 sedangkan Kuota penerima manfaat yang diberikan oleh KKP hanya 3000 artinya masih tersisa 900 lainnya yang belum terfasilitasi dalam program ini. Menurut pengakuan DKP Busel dalam proses pendataan dan verifikasi tidak ada kendala teknis, semua dokumen administrasi Nelayan Calon Penerima BPAN lengkap, namun problemnya adalah keiukutsertaan mereka dalam program ini sangat kurang, karena ternyata masih banyak yang belum mengetahui program ini. Maka dari analisis dan kajian dalam proses pendataan dan verifikasi perihal implementasi kebijakan program BPAN ini, dapat disimpulkan bahwa dalam proses pendataan dan verifikasi data nelayan Buton selatan masih valid dan relevan untuk menentukan kriteria penerima manfat. c. Pengusulan calon Penerima Asuransi Proses pengusulan Calon penerima asuransi berdasar pada rekapitulasi hasil verifikasi data dan validasi, dalam proses inisebagaimana dijelaskan pada pedoman petunjuk teknis pelaksanaan program BPAN bahwa setelah dilakukan verifikasi dokumen administrasi Calon penerima BPAN kemudian divalidasi, selanjutnya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota mengusulkan namanama Calon peserta tersebut ke Pokja Pusat..
(28) Dalam proses pengusulan Calon Penerima BPAN ini, diakui oleh pihak DKP Busel bahwa data yang telah diverikasi dan divalidasi dilakukan dengan benar-benar teliti, dari usulan tersebut, ternyata masih adanya nelayan yang tidak bisa diusulkan, dikarena ada beberapa calon peserta yang belum masuk dalam database aplikasipupi KKP, total nelayan yang mendaftar dalam program ini sebanyak 2300. Namun yang berhak diusulkan baru sebanyak 2100.Maka dapat disimpulkan bahwa, pihak DKP busel belum sepenuhnya memfasilitasi Calon peserta, hal tentu menjadi implementasi kebiajakn terhambat. d. Validasi Validasi merupakan suatu tindakan yang membuktikan bahwa suatu proses/metode dapat memberikan hasil yang konsisten sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dan terdokumentasi dengan baik. Dalam konteks Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan, proses validasi ini diharapkan mendapatkan data yang tepat dan akurat sesuai dengan data riil dilapangan, olehnya itu untuk memastikan bahwa data calon peserta BPAN benar-benar valid, maka data hasil verifikasi dicocokan dengan basis data kenelayanan pada ‘aplikasipupi’ online Kementerian Kelautan dan Perikanan. Diakui oleh pihak DKP Busel bahwa semua dokumen hasil verifikasi telah dicocokan dengan data base dalam aplikasi KKP, dari hasil validasi tersebut, banyak nelayan yang tidak terkafer, belum semua data nelayan masuk dalam database aplikasipupi KKP, hal ini karena tidak DKP Busel belum melakukan upgreat data dan memasukan data nelayan kedalam aplikasi pupi KKP..
(29) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa DKP Busel telah melakukan proses validasi Calon Peserta BPAN dengan baik, meskipun masih banyak nelayan yang tidak terkafer, karena updating data belum dilakukan. e. Penetapan Penerima BPAN Penetapan penerima BPAN ditetapkan oleh KKP melalui surat keputusan Dirjen Perikanan tangkap, keputusan iniberdasar padausulan yang telah diverifikasi dan divalidasi oleh pihak DKP Kabupaten/Kota, tujuannya adalah agar penerima benar-benarmerupakan masyarakat yangmembutuhkan bantuan sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana tertuang dalam pedoman juknis program BPAN. Di kabupaten buton selatan penerima manfaat program BPAN ini berjumlah 2100 orang, data ini merupakan usulan dari DKP Busel dari hasil verifikasi dan validasi, semula data pendaftar yang masuk di DKP Busel berjumlah 2500 orang, namun terkendala dengan data base kenelayanan dalam aplikasi Pupi yang dimiliki oleh KKP berbeda dengan data yang ada di DKP Busel, dalam hal ini data Calon peserta penerima BPAN sebagian tidak ada dalam data base KKP. 5.2.2. Proses Klaim Asuransi Klaim Asuransi merupakan permintaan peserta atau ahli warisnya kepada perusahaan asuransi atas terjadinya kerugian sebagaimana yang diperjanjikan, untuk memperoleh pertanggungan atas risiko atau kerugian yang dialaminya, pada prinsipnya pihak perusahaan asuransi memperhatikan masa depan kehidupan dan turut memikirkan serta berusaha untuk memperkecil kerugian yang mungkin timbul akibat terjadi risiko dalam melaksanakan kegiatan usaha.
(30) Dalam kaitannya dengan Asuransi nelayan yang dimaksud dengan pihak penanggung atau perusahaan asuransi disini adalah PT. Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo) selaku mitra kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menjalankan program Asuransi. Sedangkan pihak tertanggung adalah Penerima program BPAN, pada proses klaim asuransi nelayan ini, pihak tertanggung atau peserta (Penerima BPAN) apabila mengalami kecelakaan, dan melakukan klaim difasilitasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan di Kabupaten/Kota, Maka dengan hal tersebut, untuk melihat mekanisme proses klaim asuransi nelayan di Kabupaten Buton Selatan dapat diuraikan dengan sebagai berikut: 1. Pengajuan klaim Klaim Asuransi adalah tuntutan ganti rugi yang diajukan oleh tertanggung kepada penanggung atau perusahaan asuransi. Dalam pengajuan klaim, terdapat beberapa proses yang harus dilewati, dan harus dipenuhi oleh pihak nelayan tertanggung/ahli waris. Diatur pada Peraturan Dirjen Perikanan Tangkap tentang Juknis Program BPAN, bahwa jika nelayan tertanggung atau ahli waris mengajukan klaim terlebihi dahulu: Pertama, melapor kepada kepala desa/lurah untuk mendapatkan. surat. pengantar,. Kedua,. berdasarkan. laporan. tersebut. syahbandar/DKP Kabupaten/Kota membuat berita acara kejadian (BAK), Ketiga, DKP Kabupaten/Kota menyampaikan pengajuan klaim kepada pihak penanggung. Pada tahapan proses pengajuan Klaim asuransi ini pelaksana kebijakan didaerah dalam hal ini DKP Kabupaten/Kota untuk memfasilitasi proses pengajuan klaim, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya pada subbab hasil penelitian,.
(31) bahwa dalam proses pengajuan klaim asuransi nelayan ini, pihak DKP Busel sebagai fasilitator atau yang membantu mengajukan klaim kepada pihak penanggung yakni PT. Jasindo bilamana nelayan tertanggung mengalami kecelakaan. hasil temuan dilapangan sudah lima orang yang mengalami kecelakaan, empat diantaranya telah diajukan proses pengajuannya ke pihak Penanggung dan benar-benar difasilitasi oleh pihak DKP Busel, kemudian berkaitan dengan salah satu nelayan yang tidak diproses pengajuannya karena tidak memenuhi syarat sebagaimana yang telah ditentukan, hal tersebut dikarenakan tenggang waktu pengajuan yang begitu singkat, Jika merujuk pada pedoman juknis pelaksanaan klaim asuransi, pengajuan klaim selambat-selambatnya 5 hari sejak tanggal kejadian, setelah itu pihak tertanggung (nelayan), melaporkan kepada kepala desa/lurah untuk mendapatkan surat pengantar ke DKP Busel untuk diteruskan ke pihak penanggung. Disini pihak kepala desa/lurah harus benar-benar tanggap manakala warganya mengalami kecelakaan dalam artian dokumen adminitrasi nelayan segera diurus. Berdasarkan penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa pengajuan klaim oleh nelayang tertanggung atau ahli waris, yang difasilitasi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton Selatan telah benar-benar dilaksanakan, namun berkaitan salah satu nelayan yang tidak dapat diproses pengajuannya karena kendala ditingkat bawah, yakni kepekaan para kades dan lurah dalam membantu warganya..
(32) 2. Penanganan klaim Penanganan klaim dilakukan oleh pihak Penanggung (PT. Jasindo) dengan memverifikasi klaim dan menetapkan status klaim berdasarkan pengajuan pihak tertanggung atau ahli warisnya melalui koordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 4 hari kerja, berdasarkan temuan dilapangan dokumen yang diajukan kepada pihak tertanggung telah ditangani dengan baik oleh pihak penanggung. Kemudian oleh DKP Busel sendiri juga telah benar-benar memfasilitasi dan memudahkan pihak tertanggung dalam mengajukan klaim asuransinya. Pada proses penanganan klaim ini koordinasi antara pihak penanggung dan DKP Busel dalam menangani pengajuan klaim oleh pihak tertanggung telah berjalanan dengan baik tanpa adanya kendala. 3. Keputusan klaim Dalam pengambilan keputusan klaim asuransi diatur dalam Juknis BPAN tahun 2017, bahwa keputusan berdasar pada hasil verifikasi klaim yang dilakukan oleh penanggung dengan menerbitkan Berita Acara Keputusan Klaim (BAKK) yang ditandatangani oleh kedua belah pihak penanggung dan tertanggung/ahli waris, kemudian jika dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak pemberitahuan kejadian kecelakaan diterima oleh pihak penanggung dari Kepala DKP Kabupaten/Kota belum menerbitkan BAKK, maka pihak penanggung dinyatakan setuju terhadap klaim yang diajukan oleh Nelayan tertanggung/Ahli waris.
(33) Hasil temuan dilapangan pada proses ini keputusan klaim tidak mengalami hambatan, semua dokumen yang diajukan oleh pihak tertanggung melalui pihak DKP Busel yang kemudian diajukan kepada pihak penanggung telah diverifikasi dengan baik, keputusannyapun disepakati oleh kedua belah pihak baik tertanggung maupun penanggung. Berdasarkan hal dapat disimpulkan bahwa pada proses Keputusan klaim asuransi ini sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan, kedua belah pihak baik tertanggung maupun penanggung menyepakati dengan baik, untuk DKP Busel sendiri juga telah benar-benar memfasilitasi tertanggung dengan baik pula sampai proses selesai. 4. Pembayaran klaim Proses pembayaran klaim dilakukan penanggung berdasarkan Berita Acara Keputusan Klaim yang telah dikeluarkan dan disepakati oleh pihak penanggung dan nelayan tertanggung atau ahli waris. Manfaat klaim dibayarkan selambat-lambatnya empat. hari. kerja. Kabupaten/Kota.. kerekening. Berdasarkan. nelayan/ahli hasil. waris. dilapangan. atau proses. ke. rekening. DKP. pembayaran. tidak. mengalami hambatan, pembayaran klaim oleh pihak Perusahaan asuransi diitransfer melalui rekening DKP, Busel, setelah pembayaran tersebut ditranfer, selang dua hari nelayan tertanggung/ahli waris diundang ke Kantor DKP Busel untuk penyerahan santunan oleh Bupati Buton Selatan, Maka dalam proses pembayaran klaim ini dapat disimpulkan bahwa proses tidak ada hambatan, baik pihak penanggung, maupun DKP Busel, telah melakukan.
(34) tugasnya dengan baik, begitupun dengan pihak tertangggung menerima santunan dengan senang hati, tanpa adanya komplain. 5.2.3. Implementasi Kebijakan Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan Menurut Konsep Teori Implementasi Kebijakan Edward III Sebuah implementasi kebijakan yang melibatkan banyak organisasi dan tingkatan birokrasi dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Menurut Wahab (2005:63). “implementasi. kebijakan. dapat. dilihat. dari. sudut pandang (1). pembuat kebijakan, (2) pejabat-pejabat pelaksana di lapangan, dan (3) sasaran kebijakan (target group)”. Perhatian utama pembuat kebijakan menurut Wahab (2005:63) memfokuskan diri pada “sejauh mana kebijakan tercapai. dan. apa. alasan. yang. tersebut. telah. menyebabkan keberhasilan atau kegagalan. kebijakan tersebut”. Dari sudut pandang implementor, menurut Wahab (2005:64) implementasi akan terfokus pada “tindakan pejabat dan instansi di lapangan untuk mencapai keberhasilan program”. Sementara dari sudut pandang target groups, menurut. Wahab (2005:64) implementasi akan lebih dipusatkan pada. “apakah implementasi kebijakan tersebut benar-benar mengubah pola hidupnya dan berdampak positif. panjang. bagi. peningkatan. mutu. hidup. termasuk. pendapatan mereka”. Dalam konteks Kebijakan Program Bantuan Premi Asuransi nelayan (BPAN), Kementerian Kelautan dan Perikanan selaku pembuat kebijakan, yang kemudian dimplementasikan oleh Dirjen Perikanan Tangkap dengan melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten/Kota diseluruh Indonesia untuk memfasilitasi para Calon peserta guna mendaftarkan diri, adapun sasaran program(target group).
(35) ini adalah nelayan kecil dan tradisional dengan syarat dan kriteria sebagaimana tercantum dalam Pasal 12 Permen KP No. 18 tahun 2016, serta tahapan pelaksanakannya meliputi: Sosialisasi, pendataan dan verifikasi, pengusulan calon penerima asuransi, validasi, dan penetapan penerima asuransi. Perlu. disadari. bahwa. dalam implementasi. suatu kebijakan. tidak. selalu berjalan mulus, banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Untuk menggambarkan secara jelas variabel atau faktorfaktor yang berpengaruh penting terhadap implementasi kebijakanprogram BPANini, serta. menyederhanakanpemahaman,. dengan. melihat. tahapan. pelaksanaan. program BPAN sesuai Permen KP No. 18 tahun 2016 yang terdiri dari, Sosialisasi, Pendataan dan verifikasi, pengusulan calon penerima asuransi, validasi, dan penetapan, maka akan digunakan model implementasi kebijakan yang dikemukakan oleh Edward III (1985) yakni: Komunikasi, Sumberdaya, Disposisi dan Struktur Birokrasi. a. Komunikasi Salah satu hal yang penting dalam implementasi sebuah kebijakan yaitu isi dari kebijakan itu sendiri. Sebab kebijakan dapat berjalan dengan efektif apabila pelaksanaannya memahami isi yang menjadi maksud dan tujuan dari kebijakan yang telah ditetapkan, dimana maksud dan tujuan itu dapat dilihat dalam isi kebijakan yang tertuang dalam pasal di dalam permen KP No. 18 Tahun 2016. Implementasi kebijakan dapat gagal karena masih samarnya isi atau tujuan kebijakan serta tidak jelasnya sasaran kebijakan itu sendiri..
(36) Jika dilihat dari konteks komunikasi dalam Teori Implementasi kebijakan sebagaimana yang dikemukakan oleh Edward III ada tiga hal penting yang ditekankan dalam melakukan komunikasi adalahtransmisi, konsintesi dan kejelasan informasi yang disampaikan. 1. Transmisi Proses ini dapat mengalami kegagalan ketika terjadi salah pengertian. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari alur komunikasi yang telah melewati beberapa tingkatan birokrasi. Sehingga komunikasi yang diharapkan terdistrosi pada saat perpindahan komunikasi tersebut. Namun sebaliknya, ketika penyaluran komunikasi tersebut terjadi dengan baik, maka implementasi kebijakan akan baik pula, (Agustino, 2016). Pada pelaksanaan Program BPAN tentunya akan mengalami proses transmisi ini. Kementerian Kelautan dan Perikanan selaku pemegang kuasa dalam pembuatan kebijakan telah mentransmisikan kebijakan tersebut kepada jajaran dibawahnya melalui Dirjen Perikanan tangkap untuk menerbitkan Pedoman Juknis Program BPAN dalam hal ini tertuang pada Peraturan DJPT Nomor 1 Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bantuan Premi Asuransi Nelayan Tahun 2017, yang kemudian dipakai sebagai pedoman oleh Dinas Kelautan dan Perikanan untuk melaksanakan program BPAN di daerah.Pola komunikasi terjalin dalam proses ini, tidak hanya dengan DKP namun juga dengan melibatkan tataran pemerintahan daerah lainnya yakni Camat dan Lurah/Kepala desa. Pelaksanaan Program BPANdi Kabupaten Buton Selatan menunjukkan hal yang belum optimal dalam proses transmisi ini. Upaya yang dilakukan oleh DKP Busel melalui sosialisasi dengan mengundang para Camat dan Lurah/Kepala Desa.
(37) se-Busel dengan tujuan diteruskan penyampaian informasi terkait program BPAN kepada para nelayan di wilayahnya masing-masing.Namun, ternyata dibeberapa wilayah khususnya kepualauan para kepala desa hanya menyampaikan melalui orang per orang tidak melakukan penyampaian secara formal dalam artian tidak mengundang seluruh nelayan. Hal inilahyang kemudian menyebabkan proses transmisi tidak berjalan dengan baik. 2. Kejelasan Menurut Edward III dalam Agustino (2012:151) komunikasi yang diterima oleh. pelaksana. kebijakan. (street-level-bureaucrats). harus. jelas. dan. tidak. membingungkan atau tidak ambigu. Kejelasan komunikasi menentukan akan keberhasilan. implementasi. sebuah. kebijakan. publik.. Jika. kebijakan-. kebijakandiimplementasikan sebagaimana yang diinginkan, maka petunjuk-petunjuk pelaksanaan tidak hanya harus diterima oleh para pelaksana kebijakan, tetapi juga komunikasi kebijakan tersebut harus jelas. Ketidakjelasan pesan komunikasi yang disampaikan berkenaan dengan implementasi kebijakan akan mendorong terjadinya kesalahpahaman bahkan mungkin bertentangan dengan makna pesan awal. Kejelasan komunikasi dalam implementasi program BPAN di Kabupaten Buton Selatan, terdiri dari penyampaian informasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan kepada jajaran pemerintah dibawah dalam hal ini Camat, Lurah/Kepala Desa dan masyarakat Calon Penerima Program BPAN, dengan tujuan agar mereka mengetahui dengan jelas informasi apa saja yang akan disampaikan. Dalam hal memberikan kejelasan informasi perihal program BPAN ini, Dinas Kelautan dan.
(38) Perikanan Busel mengacu pada Pedoman Juknis, diuraikan dengan detail item-item program tersebut sangat jelas. Berdasarkan hasil informasi yang didapat melalui informan, disebutkan bahwa Kejelasan komunikasi yang dilakukan oleh DKP Busel berjalan dengan baik, seluruh konten kebijakan yang disampaikan sangat jelas, mudah ditangkap dan dipahami. 3. Konsistensi Konsistensi dari sebuah komunikasi yang memuat informasi di dalamnya akan sangat dibutuhkan dalam implementasi kebijakan. Tujuannya adalah agar para pelaksana tidak mengalami kebingungan, sehingga tujuan dari kebijakan dapat tercapai. Dalam pelaksanaan Program BPAN di Kabupaten Buton Selatan konsistensi daripada komunikasi yang terjadi sudah cukup baik. DKP Busel telah memberikan informasi yang cukup konsisten. Namun ditingkat Kelurahan/Desa nampak ada perubahan secara mendadak di tengah perjalanan dalam pelaksanaan kebijakan. Penyampaian informasi oleh Kades dan Lurah khususnya di kepulauan hanya melalui orang per orang, hal ini tentu membingungkan para sasaran kebijakan (nelayan), akibatnya banyak nelayan yang tidak mendaftar dalam program ini. b. Sumberdaya Dalam pelaksanaan kebijakan publik akan sangat dipengaruhi dengan ketersediaan sumber daya. Variabel ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi sebuah kebijakan. Tanpa adanya sumber daya maka tidak ada fasilitas dan yang terpenting adalah tidak ada yang penggerak dalam melaksanakan.
(39) kebijakan. Dengan demikian akan sia-sia sebuah kebijakan tanpa adanya sumber daya. Sumber daya yang dimaksudkan adalah staf, informasi, wewenang dan fasilitas (Edward III, 1980). Keempat hal iniah yang akan menunjang keberhasilan implementasi kebijakan publik. Termasuk dalam pelaksanaan Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan di Kabupaten Buton Selatan yang memerlukan keempat sumber daya tersebut. 1. Staf Staf atau dapat disebut juga dengan pegawai merupakan faktor terpenting dalam pelaksanaan kebijakan. Merekalah yang akan menjadi penggerak utama yang menjalankan kebijakan yang ada, (Agustino,2016). Implementasi kebijakan dapat gagal terlaksana ketika terjadi kekurangan staf. Di samping itu, kompetensi dari para staf ini juga akan menjadi faktor yang dapat mensukseskan ataupun menggagalkan kebijakan. Pelaksanaan program BPAN jika dilihat pada sumber daya staf, belum memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah pegawai yang barada di DKP Busel berjumlah 20 orang. Dari jumlah tersebut yang ditugaskan melaksanakan program BPAN ini hanya berjumlah 6 orang, diantaranya 3 orang petugas pendamping dan 3 orang petugas verifikasi dan validasi data peserta. Kuantitas staf dalam pelaksanaan program BPAN belum terpenuhi, sehingga hal ini mengakibatkan ilmpelementasi kebijakan belum berjalan dengan baik dimana proses sosialisi tidak dijalankan menyeluruh. Selanjutnya terkait kompetensi dari para implementor dalam Program BPAN ini berdasarkan hasil penelitian telah menunjukkan hasil yang positif. Dimana para staf yang bekerja.
(40) dalam program BPAN ini melaksanakan tugasnya dengan baik. Dalam hal ini verifikasi dan validasi data, Sebagai contoh, dalam pelaksanaan verifikasi data staf yang ditugaskan tersebut benar-benar memudahkan para peserta dengan membuka banyak posko pendaftaran, kemudian berkaitan dengan validasi staf tersebut sangat teliti dengan mencocokan data hasil verifikasi dengan data yang ada dalam database KKP. 2. Informasi Informasi merupakan bagian terpenting. lainnya dalam implementasi. kebijakan publik. Tanpa adanya informasi, maka tujuan dan maksud dari kebijakan akan tidak dapat diketahui oleh implementor. Informasi dalam impementasi kebijakan publik menurut Edward III, 1980 (dalam Agustino, 2016), yakni informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan, Ketersediaan informasi dalam pelaksanaan program BPAN juga sangat dibutuhkan. Informasi ini terkait tujuan Program BPAN hingga bagaimana melaksanakannya. Pelaksanaan Program BPAN dalam hal informasi ini akan terkait dengan kejelasan dan konsistensi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan kejelasan dan konsistensi yang telah baik tersebut menjadikan informasi dalam Program BPAN dapat dikatakan baik. Ketersediaan informasi dan bagaimana informasi ini disampaikan sudah cukup baik. Hal ini kemudian memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan kebijakan. Namun, jika digali secara lebih dalam bahwa informasi terkait Program BPAN ini sudah disampaikan secara detail, melalui peraturan yang dibuat oleh Dirjen Perikanan tangkap perihal Petunjuk Teknis Pelaksanaan BPAN tahun 2017 yang membuat seluruh rangkaian proses kegiatan,.
(41) mulai dari sosialisasi, pendataan dan validasi, pengusulan, penetapan dan proses klaim asuransi. 3. Wewenang Program BPAN sebagai program nasional dalam menjamin dan melindungi nelayan merupakan suatu hal yang telah memiliki status legal formal yang jelas. Program BPAN ditetapkan melalui Peraturan dirjen perikanan tangkap No. 1 tentang Petunjuk Teknis BPAN tahun 2017. Kebijakan ini merujuk kepada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2016 pasal 9 ayat 1 berbunyi Kementerian dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya memfasilitasi setiap nelayan menjadi peserta asuransi. Berdasarkan hal tersebut di atas maka dapat dikatakan program BPAN telah memenuhi unsur wewenang. Wewenang yang dimaskud adalah otoritas atau legitimasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan. Dengan adanya legitimasi ini memberikan kekuatan kepada para pelaksana khususnya di mata publik, (Agustino, 2016). Adanya peraturan yang resmi tersebut membuat para pelaksana BPAN memiliki kekuatan hukum yang jelas dimata publik. Dengan demikian kekuatan ini dapat menjadi “senjata” bagi mereka. “Senjata” dimaksudkan tindakan persuasif dari pelaksana ketika melibatkan pihak luar pemerintah dapat dilaksanakan dengan optimal. Tanpa adanya ketentuan hukum yang jelas akan sangan sulit menggerakkan masyarakat luas. Adanya wewenang tentunya merupakan bentuk legalitas yang baik, agar pelaksana kebijakan mendapat legitimasi di mata publik. Namun, Edward III (1980) menyampaikan bahwa dengan wewenang juga dapat membuat kebijakan gagal.
(42) diimplementasikan. Hal ini terjadi manakala wewenang diselewengkan oleh para pelaksana demi kepentingannya sendiri atau kepentingan kelompok. Dengan terjadinya hal ini akan menyebabkan turunnya efektivitas dari kebijakan yang ditetapkan. Dalam pelaksanaan Program BPAN, sejauh pengamatan dan hasil wawancara yang penulis lakukan tidak menunjukkan hal tersebut. DKP Busel dalam melaksanakan Kewenangan sebagai pelakasana di daerah, sudah sesuai dengan ketentuan dalam legal formal tersebut. Yakni memfasilitasi para nelayan calon pserta BPAN yaitu pertama memberi kemudahan pendaftaran; kedua, kemudahan akses terhadap perusahaan asuransi; ketiga, sosialisasi program. 4. Fasilitas Pada dasarnya ketersediaan fasilitas dalam implementasi program BPAN sangat berkaitan dengan kecukupan dana, dalam pelaksanaan program BPAN dana yang dimiliki DKP Busel sangat minim sehingga pelaksannya belum berjalan dengan baik, hal ini berdasarkan wawancara penulis dengan informan yakni kepala DKP Busel menyatakan bahwa tidak adanya biaya operasional dalam pelaksanaan di lapangan, karena program ini digulirkan pada tengah tahun anggaran, maka pemkab Busel belum mengalokasikan anggaran operasional kegiatan pada penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2016. Padahal anggaran ini sangat vital untuk operasional pengumpulan dan verifikasi data, sosialisasi, serta kegiatan lapangan lainnya. c. Disposisi Disposisi adalah watak atau karakteristik yang dimiliki oleh implementor. Disposisi menentukan keberhasilan sebuah implementasi kebijakan. Apabila.
(43) implementor memiliki disposisi yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Disposisi memegang salah satu peran penting dalam keberhasilan sebuah implementasi kebijakan. Hal ini dikarenakan dalam menjalankan tugasnya, seseorang harus paham dan memiliki pandangan yang baik terkait dengan kebijakan tersebut (Budi Winarno, 2007:174). Disposisi pada penelitian ini adalah tentang komitmen. Komitmen dibuktikan dengan melihat alasan implementor untuk dapat melaksanakanimplementasi, tujuan/perubahan yang ingin dicapai, dan perubahan yang telahdicapai para implementor untuk implementasi kebijakan program BPAN. Kebijakan program BPAN ini memiliki tujuan yaitu memberikan jaminan perlindungan atas risiko yang dialami nelayan dan memberikan kesadaran nelayan untuk berasuransi. Dinas. Kelautan. dan. Perikanan. Kabupaten. Buton. Selatan. telah. memperlihatkan bahwa komitmen yang dimiliki dalam menjalankan kebijakan program BPANini sudah baik namunada beberapa hal yang belum optimal, berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa komitmen para implementor yakni DKP Busel benar-benar serius diantaranya adalah memberikan informasi yang jelas kepada jajaran pemerintah lainnya yakni Lurah/Kepala Desa dan memfasilitasi para nelayan untuk ikut serta mendaftarkan diri, hal ini didasarkan pada hasil dilapangan bahwastaf yang ditugaskan sangat memudahkan urusan administrasi para nelayan calon peserta penerima program BPAN, namun disisi lain ketidakoptimalan tersebut berada pada tingkat desa dan kelurahan, nampak para kades/lurah tidak.
(44) memberikan informasi yang jelas, maka tak heran ada sebagian nelayan yang tidak mengetahui adanya program ini. d. Struktur Birokrasi Ketersediaan sumberdaya maupun komunikasi yang baik tidak selamanya membuat kebijakan dapat terimplementasi secara sempurna. Selain hal tersebut, sttuktur birokrasi juga menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan suatu kebijakan publik. Kompleksitas sebuah kebijakan, mengharuskan adanya kerjasama banyak orang. Kerjasama ini tentunya akan terjadi dalam sebuah struktur birokrasi, (Agustino, 2016). Pemeritah sebagai pelaksana kebijakan harus mendukung kebijakan yang telah ditetapkannya ini dengan melakukan koordinasi yang baik. Terdapat dua hal untuk melihat kinerja struktur birokrasi menurut Edward III (1980), yaitu adanya standar operating procedures (SOPs) dan melakukan fragmentasi. 1. Standar Operating Procedures (SOPs) Dalam pelaksanaan program BPAN telah tercantum dalam Peraturan Dirjen Perikanan Tangkap Nomor 1 tahun 2017 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Premi Asuransi Nelayan, organisasi pelaksana terdiri dari Pokja Pusat, Pokja Provinsi, Pokja Kabupaten Kota, Petugas Pendamping, Verifikasi dan Validasi, serta Perusahaan Asuransi. Pokja Kabupaten/Kota yang dimaksud disini adalah Para Petugas Pendamping, Verifikasi dan Validasi yang ditetapkan oleh kepala DKP,bertugas memfasilitasi dan memberikan sosialiasi kepada para Calon Peserta Asuransi guna mendaftar diri dalam program BPAN..
(45) Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa DKP Busel belum mengikuti SOP yang benar dalam melaksanakan kebijakan program BPAN ini, sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa para petugas yang ditunjuk adalah untuk menyosialisasikan program secara menyeluruh di Kabupaten Buton Selatan, namun realita dilapangan pihak DKP hanya menyampaikan ke sebagaian nelayan daratan dan kepala desa/lurah untuk meneruskan ke masing-masing wilayah.Hal tentu yang menyebabkan program BPAN belum berjalan dengan baik. 2. Fragmentasi Penyebaran tugas dan tanggung jawab dari berbagai kegiatan, aktivitas maupun program sangat dibutuhkan. Penyebaran ini akan disesuaikan dengan bidangnya masing-masing. Hal ini dilakukan agar implementasi kebijakan menjadi lebih efektif, karena dilaksanakan oleh orang yang tepat dan kompeten dibidangnya, (Agustino, 2016). Pembagian tanggung jawab ini kemudian akan disatukan dengan sebuah koordinasi. Tanpa adanya koordinasi antar lini maka sebaik apaun pembagian wewenang, maka kebijakan juga akan sulit terlaksana dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fragmentasi telah dilaksanakan dengan baik dalam pelaksanaan program BPAN oleh DKP Busel. Aktivitas dan kegiatan telah dibagi dan disesuaikan dengan bidangnya masingmasing. Sebagai contoh, kegiatan yang berkaitan dengan pendampingan perikanan tangkap dilaksanakan oleh staf yang membidangi bidang tersebut. Secara keseluruhan dari empat faktor implementasi kebijakan yaitu komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan juga struktur birokrasi dapat disimpulkan bahwa faktor komunikasi dalam implementasi kebijakan dalam hal ini proses.
(46) transmisi informasi tidak sepenuhnya berjalan, informasi berkaitan dengan program BPAN tidak disampaikan secara menyeluruh, sebagian besar nelayan di kepulauan tidak mengetahui adanya program tersebut, sedangkan faktor sumberdaya yakni sumberdaya manusia, ketersediaan tidak memadai staf yang ditugaskan berjumlah 6 orang, 3 petugas pendamping 3 lainnya petugas verifikasi dan validasi, begitupun dengan sumberdaya anggaran, biaya operasinal sangat minim, hal ini yang menyebabkan program tidak berjalan dengan baik, kemudian disposisi berkaitan dengan karateristik/komitmen pelaksana sudah cukup baik, pelaksana benar-benar berkomitmen dengan memudahkan urusan administrasi calon peserta, sedangkan faktor struktur birokrasi dalam implementasi kebijakan program BPAN, berupa SOP, DKP Busel belum sepenuhnya mengikuti SOP, yang seharusnya sosialisasi secara menyeluruh namun DKP Busel tidak melaksanakan..
(47)
(48)
Dokumen terkait
Abstrak. Tujuan kegiatan ini adalah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh industri mitra dengan bidang usaha pembuatan tahu dan tempe yang beralamat di Desa
Di wilayah timur Indonesia, provinsi Maluku Utara menjadi yang paling mampu menghapuskan kemiskinan secara langsung di wilayah timur dengan menduduki peringkat ke
Berdasarkan rumusan masalah, dari hasil analisis data, pengelolaan data dan pengujian hipotesis maka dapat disimpulkan bahwa. 1) terdapat pengaruh yang signifikan antara brand
Filtrat hasil destruksi dari sampel udang windu yang telah ditambahkan logam tembaga memberikan perubahan warna yang sesuai dengan larutan analit Cu 2+ pada
Sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran fiqih pokok bahasan wudlu, maka observasi difokuskan pada kemampuan siswa
Perencanaan, Mengacu hasil refleksi pada siklus II, maka untuk pelaksanaan penelitian siklus III dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III.
Metode yang digunakan untuk mengestimasi biaya konstruksi antara lain analisa harga satuan pekerjaan, namun pada umumnya dalam perhitungan anggaran biaya
6) Mesti mempunyai komitmen yang tinggi dengan tugas yang diberi. Setiap pemungut diberikan imbuhan atau sagu hati sebanyak RM1 bagi seorang anggota pada setiap sebulan. Sehingga