• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Krisis perekonomian yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 menunjukkan sektor pertanian masih dan akan menjadi sektor penting dalam pertumbuhan ekonomi sosial. Sektor pertanian mampu menjadi andalan penduduk, bahkan tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian telah menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam menghadapi suatu krisis dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya, terutama sektor industri. Hanya bagaimana mengatur strategi pembangunan pertanian sehingga negara Indonesia mampu menjadi negara maju dengan dukungan kekayaan SDMnya (Rahardja, 1996).

Ketahanan dalam menghadapi krisis tidak serta merta mendorong penduduk untuk menjadikan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utamanya. Penduduk cenderung menjadikan sektor pertanian sebagai alternatif pekerjaan disaat belum memperoleh pekerjaan yang diharapkan. Kondisi tersebut tentunya patut disyukuri mengingat pekerjaan di sektor pertanian tetap dapat dilestarikan. Pekerjaan sektor pertanian telah menjadi cara hidup (way of live) bagi penduduk di Indonesia yang menyangkut aspek ekonomi, aspek sektor budaya, aspek kepercayaan, aspek keagamaan, dan tradisi (Rahardja, 1996).

Kendati demikian terdapat permasalahan sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian. Permasalahan tersebut meliputi kapasitas pengetahuan, keterampilan dan sikap serta faktor eksternal lainnya seperti kepemilikan tanah, kekuatan modal yang dimiliki hingga sarana dan prasarana yang sangat terbatas. Berkaitan dengan hal tersebut konversi lahan dari pertanian ke non pertanian semakin memprihatinkan. Salah satu daerah yang mengalami konversi lahan ke non pertanian adalah Bali. Perkembangan pesat sektor pariwisata memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pembangunan di Bali. Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Propinsi Bali tahun 2006, selama periode waktu tahun 2000 s.d 2005, total luas lahan sawah telah mengalami penurunan sekitar 4.566 hektar, yaitu dari 85.776 hektar menjadi

(2)

81.210 hektar. Jadi, rata-rata konversi lahan terjadi sebesar 913,20 hektar per tahunnya (Nggauk, 2011).

Bagian terpenting pertanian Bali yang paling terkena imbas akan konversi lahan adalah subak. Subak pada dasarnya adalah suatu lembaga adat yang berfungsi sebagai pengelola air irigasi untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat (petani). Adanya konversi lahan tentu mengancam keberadaan sistem irigasi subak secara fisik. Hal ini dapat dilihat dari kondisi jumlah areal sawah di Bali yang telah berkurang, yakni masing-masing pada tahun 1997, 1998, dan 1999, berturut-turut seluas 100.221,53 ha, 98.117 ha, dan 95.338 ha (Windia, 2006). Luas lahan pertanian yang semakin sempit menyebabkan subak harus selalu beradaptasi dengan perubahan kondisi yang ekstrim guna menghindari ancaman kepunahannya. Patut diperhatikan bahwa subak di perkotaan merupakan subak yang paling terancam keberadaanya, mengingat perkotaan sebagai pusat pembangunan. Upaya penyelamatan lahan dan subak merupakan salah satu tindakan untuk menghindari dampak negatif pembangunan.

Salah satu pemicu adanya alih fungsi lahan adalah tawaran harga jual lahan pertanian yang tinggi sehingga menyebabkan tidak sedikit petani tergiur untuk menerima tawaran tersebut. Keadaan tersebut menyebabkan para petani mungkin lebih memilih untuk bertani di Bank, berupa uang hasil menjual sawah yang ditanam di bank dan tinggal menunggu bunganya saja setiap bulan, sehingga bisa jadi hasilnya jauh lebih besar dibandingkan jika bertani di sawah. Mencermati hal tersebut, jika penyusutan lahan pertanian terus berlanjut, dikhawatirkan organisasi subak akan terancam punah. Oleh karena itu, para petani anggota subak perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah pengalihfungsian lahan sawah yang berada dalam wilayah subak yang bersangkutan.

Kekhawatiran terhadap kelangsungan organisasi subak dapat pula dicermati dari penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian. Sektor pertanian hanya menyerap 1,71% dari total penduduk yang bekerja di Kota Denpasar. Penyerapan ini tergolong rendah bila dibandingkan dengan sektor non pertanian (perdagangan, hotel, dan restoran serta pariwisata) yakni sebesar 39,55% (BPS Propinsi Bali, 2013). Pesatnya perkembangan sektor non pertanian

(3)

memicu para generasi muda untuk menekuni sektor tersebut (Soentoro dalam Kasryono, 1984). Kondisi tersebut pada akhirnya mengganggu regenerasi pada organisasi subak. Rendahnya minat generasi muda menekuni pekerjaan di sektor pertanian disebabkan oleh persepsi mereka terhadap pekerjaan di sektor tersebut. Penduduk cenderung memandang pekerjaan di sektor pertanian merupakan pekerjaan rendah dan dapat menurunkan status sosial karena dituntut bergulat dengan lumpur dan kotor, becek dan terpanggang oleh sinar matahari (Rahardja, 1996). Keadaan tersebut secara tidak langsung merupakan imbas dari keinginan para orang tua agar anaknya bekerja di sektor non pertanian dan menyukai pekerjaan bersih seperti pegawai negeri, padahal sebagian besar orang tua merupakan petani dan menetap di perdesaan.

Rendahnya penyerapan tenaga kerja muda untuk bekerja di sektor pertanian dapat dibuktikan dengan kondisi petani di Subak Anggabaya, Desa Penatih, Kecamatan Denpasar Timur yang seluruhnya telah berkeluarga. Subak tersebut memiliki anggota aktif sebanyak 69 orang. Meski sebagian besar petani menginginkan anaknya bekerja di luar sektor pertanian tidak serta merta menyebabkan para petani meninggalkan pekerjaannya. Di tengah berbagai kendala dalam menekuni pekerjaan di sektor pertanian, para petani enggan untuk bekerja di luar sektor pertanian.

Tidak adanya generasi muda yang berkecimpung di sektor pertanian secara perlahan akan memutus siklus tenaga kerja sehingga berakibat terhadap pelestarian sistem subak. Hal tersebut berdampak negatif bagi eksistensi subak, terutama mengenai pelestarian berbagai upacara keagamaan. Ketika para pemuda tidak memiliki minat untuk menekuni sektor pertanian, tentunya masih ada para tenaga kerja bayaran yang mampu menjalankan berbagai kegiatan usahatani pemilik lahan. Permasalahan muncul ketika regenerasi yang berjalan buruk tersebut mengancam pelestarian berbagai upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh subak.

Mencermati hal tersebut diperlukan suatu upaya guna menghindari ancaman kepunahan organisasi subak. Dalam hal ini para petani harus meyakinkan dirinya agar tidak tergiur tawaran harga jual tanah yang tinggi serta menanamkan pola pikir pelestarian subak kepada generasi muda. Tanpa dilandasi

(4)

pola pikir yang kuat tentunya para generasi muda akan tetap enggan untuk berkecimpung di sektor pertanian. Pada dasarnya Subak Anggabaya telah memiliki pola pikir yang sangat kuat dalam sistemnya. Hal tersebut dibuktikan dengan tegasnya awig-awig yang mengatur pengelolaan lahan pertanian dengan menyatakan tidak diperkenankannya kegiatan alih fungsi lahan untuk non pertanian.

Dengan latar belakang tersebut, diharapkan subak akan tetap eksis di Anggabaya. Hal tersebut juga didukung dengan penetapan subak sebagai warisan budaya dunia (WBD) oleh UNESCO (Sulistyanto, 2012). Adanya penetapan tersebut tentunya akan mendorong wisatawan untuk mengunjungi subak sebagai salah satu destinasi wisata. Kunjungan wisatawan ke subak tentunya akan memberi tambahan pemasukan bagi para petani sehingga kondisi tersebut diharapkan dapat menekan terjadinya alih fungsi lahan.

Kenyataannya petani tidak terlalu memperhatikan usaha pemerintah dalam penetapan subak sebagai WBD. Menurut Subagia (2011) pandangan petani tersebut seolah menggambarkan bahwa gelar WBD sebenarnya tidak memberi pengaruh yang besar terhadap hidup mereka. Pemerintah terus gencar memperjuangkan pemberian gelar terhadap subak sebagai salah satu WBD tanpa memperhatikan kondisi petani. Warisan budaya dunia diharapkan dapat memberi pengaruh positif terhadap kepentingan bersama. Dari segi ekonomis, adanya gelar WBD ini mampu menambah pemasukan dan perhatian pemerintah terhadap keadaan petani. Disamping memiliki keuntungan sebagai warisan dunia, gelar Status World Heritage memiliki konsekuensi untuk menjaga kelestarian subak. Usaha ini tentunya sangat memerlukan dukungan nyata dari para anggota subak. Mereka juga harus memikirkan solusi untuk menjaga regenerasi organisasi sehingga pengelolaannya terus berlanjut.

Guna mengatasi hal tersebut dibutuhkan upaya yang intensif untuk meningkatkan kepercayaan penduduk terhadap pekerjaan di sektor pertanian. Dalam hal ini pemerintah perlu menetapkan kebijakan nyata yang berpihak pada pengembangan pekerjaan di sektor pertanian. Dengan adanya kebijakan tersebut tentunya dapat menjadi pertimbangan bagi penduduk untuk menekuni pekerjaan di sektor pertanian.

(5)

Kendati demikian kiranya sangat diperlukan pula upaya untuk menanamkan pola pikir pelestarian subak kepada para anggota subak dan para generasi muda. Tanpa adanya keyakinan dari anggota subak dan perubahan paradigma dari generasi muda sangat mustahil bagi subak untuk tetap eksis. Berdasarkan hal tersebut, maka jelas bahwa pola pikir petani merupakan hal penting bagi eksistensi pertanian sistem subak di perkotaan. Jika petani cenderung tetap berpersepsi negatif, maka sangat disayangkan upaya pelestarian sistem subak di Subak Anggabaya menjadi sia-sia sehingga akan berdampak negatif bagi regenerasi tenaga kerja di Subak Anggabaya. Atas dasar uraian tersebut, permasalahan ini perlu untuk diteliti.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini bagaimana persepsi petani perkotaan terhadap aktivitas sistem subak di Subak Anggabaya Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur Kota Denpasar ?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi petani perkotaan terhadap aktivitas sistem subak di Subak Anggabaya Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur Kota Denpasar.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut.

1. Dengan mengetahui persepsi petani perkotaan terhadap aktivitas sistem subak di Subak Anggabaya Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur Kota Denpasar, maka dapat memberikan informasi dan bertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam mengambil kebijakan pembangunan, khususnya kebijakan pembangunan pertanian perkotaan.

2. Bagi petani, penelitian ini sebagai upaya untuk membantu petani dalam memecahkan permasalahan, khususnya masalah yang terkait dengan

(6)

pekerjaan sektor pertanian dalam usaha peningkatan produktivitas demi tercapainya kesejahteraan.

3. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk memperluas kasanah ilmu pengetahuan dan pengembangan lebih lanjut bagi peneliti yang lain terkait dengan massalah ini.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah kajian mengenai persepsi petani perkotaan terhadap aktivitas sistem subak di Subak Anggabaya Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur Kota Denpasar berdasarkan aspek pola pikir, sistem sosial, dan artefak.

Referensi

Dokumen terkait

kot ke pelaku pasar (Identifikasi Persoalan) Pembentukan lembaga khusus Penataan Terpadu Kawasan Arjuna sbd perwakilan stakeholder Persiapan Penilaian (Tahap Perencanaan)

1) Mengembangkan kurikulum mata pelajaran IPS. a) Menelaah prinsip-prinsip pengembangan kurikulum IPS. b) Memilih pengalaman belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS.

Hasil uji Signifikansi Parsial (Uji-t) menunjukkan bahwa variabel Market Value Added (MVA) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Pendapatan Saham,

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah virus Covid-19 adalah dengan menerapkan perilaku Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di mana dalam penerapannya

Reaktivitas : Tidak ada data tes khusus yang berhubungan dengan reaktivitas tersedia untuk produk ini atau bahan bakunya... Stabilitas

Berdasarkan hasil statistik yang telah dilakukan serta hasil uraian pembahasan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu variabel pertumbuhan kredit dan

Hasil dari tahap ini, terbentuk sebuah pola perilaku jaringan pada kondisi normal sebagai model awal untuk deteksi atas anomali yang disebabkan oleh

penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti lainnya, dalam pandangan penulis Algorithm based dan precision akan menjadi topic yang menarik untuk dibahas terutama dari sisi