Angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara Association of South East Asia Nations (ASEAN) lainnya. Menurut data survei demografi
kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup, AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup.
Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu yang 90% terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, yaitu perdarahan 28%, eklamsi 24%, infeksi 11%, partus lama 5%, dan abortus 5% (DEPKES RI, 2010). Kematian ibu juga diakibatkan oleh beberapa faktor keterlambatan diantaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan, terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat keadaan emergensi. Salah satu upaya pencegahannya dengan melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan ( KEMENKES , 2011).
Menurut hasil Riset kesehatan dasar (RISKESDAS, 2010) persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin baru mencapai sekitar
69,3%, sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%. Keadaan seperti ini banyak terjadi disebabkan kendala biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan.
Dalam upaya menjamin akses pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB, maka pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan upaya terobosan berupa jaminan persalinan (JAMPERSAL). JAMPERSAL dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan, yang di dalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan , dan pelayanan bayi baru lahir. JAMPERSAL merupakan salah satu program andalan di bidang kesehatan ditujukan untuk masyarakat yang belum mempunyai jaminan pelayanan kesehatan, dan tidak terbatas pada masyarakat miskin atau kurang mampu. Dengan demikian, kehadiran JAMPERSAL diharapkan dapat menurunkan AKI dan AKB sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs , khususnya MDGs 4 dan 5.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Siti (2012) dalam penelitiannya yang berjudul hubungan antara pengetahuan dan pendidikan mengenai JAMPERSAL di RSUD Kota Bandung tahun 2012 dengan hasil didapatkan bahwa ada hubungan antara pendidikan dan pengetahuan ibu hamil mengenai JAMPERSAL.
Kemudian, Purba (2012) dalam penelitiannya yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan JAMKESMAS di wilayah Puskesmas Kota Jambi Tahun 2011. Dari hasil penelitiannya didapatkan bahwa 78,2% responden memperoleh dukungan tinggi dari keluarga memanfaatkan kartu JAMKESMAS, 24,4% responden memperoleh dukungan rendah dari keluarga juga memanfaatkan kartu JAMKESMAS. Uji statistic diperoleh P value= 0,0005 dan menunjukkan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan pemanfaatan kartu JAMKESMAS.
Sitorus (2009) dalam penelitiannya yang berjudul analisis faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan program JAMKESMAS di Kabupaten Labuhan Batu. Hasil dari penelitian ini menunjukan uji regresi logistik ganda menunjukkan variabel yang berpengaruh secara
signifikan yaitu pengetahuan, sarana dan prasarana, dan
kondisi kesehatan. Faktor yang paling dominan berpengaruh
terhadap pemanfaatan JAMKESMAS adalah kondisi kesehatan
dengan OR (odd rate) 3,606(95% CI:0,180-1,066).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu tahun 2012 jumlah ibu hamil yang ada di wilayah Puskesmas Kota Bengkulu berjumlah 6856 orang dengan cakupan K1 berjumlah 6013 orang dan cakupan K4 berjumlah 5588. Ibu hamil yang memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL berkisar 32,23 % untuk cakupan K1 dan 36,1 % untuk cakupan K4. Kemudian dari 6542 orang jumlah ibu bersalin yang bersalin di tolong tenaga kesehatan 5419 orang. Total ibu bersalin yang memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL hanya 2316 atau berkisar 42,74 %.
pemakaian KB JAMPERSAL IUD berkaisar 746 orang, 147 orang untuk KB implant dan 873 orang untuk KB suntik.
Salah satu unit pelayanan kesehatan yang menerima pasien JAMPERSAL yaitu Pusat kesehatan masyarakat (PUSKESMAS). PUSKESMAS merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan (DEPKES RI, 2004).
Puskesmas Sawah Lebar merupakan salah satu puskesmas di Kota Bengkulu yang memberikan pelayanan dan keperawatan kesehatan. Dari laporan Dinas Kesehatan Kota Bengkulu tahun 2012, Puskesmas Sawah Lebar memiliki angka pemanfaatan JAMPERSAL tertinggi di Kota Bengkulu yaitu dengan jumlah 275 orang dari 400 orang (68,75%).
Dari hal yang telah diuraikan di atas masih banyaknya masyarakat yang belum memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL dikarenakan beberapa hal tertentu. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan JAMPERSAL di wilayah Puskesmas Sawah Lebar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian adalah masih sedikitnya ibu bersalin yang memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL yang berkisar hanya 42,74%, dengan pertanyaan penelitian apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan JAMPERSAL di Puskesmas Sawah Lebar Tahun 2013.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan JAMPERSAL di Puskesmas Sawah Lebar.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan ibu bersalin yang memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL.
b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pendidikan ibu bersalin yang memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL.
c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi aksebilitas ibu bersalin yang memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL.
d. Untuk mengetahui distribusi frekuensi dukungan keluarga yang memanfaatkan pelayanan JAMPERSAL.
e. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan pemanfaatan pelayanan JAMPERSAL di wilayah Puskesmas Sawah Lebar.
f. Untuk mengetahui hubungan antara aksesibilitas dengan pemanfaatan pelayanan JAMPERSAL di wilayah Puskesmas Sawah Lebar.
g. Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan pemanfaatan pelayanan JAMPERSAL di wilayah Puskesmas Sawah Lebar.
Sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi Puskesmas, selaku pemberi pelayanan kesehatan (PPK) JAMPERSAL, dalam memantau pemanfaatan JAMPERSAL, serta meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya bagi peserta JAMPERSAL.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan JAMPERSAL serta informasi perpustakaan terutama untuk penelitian terkait.
3. Bagi Peneliti
Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir karya ilmiah di Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Serta menerapkan ilmu yang didapat, menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan JAMPERSAL.
E. Keaslian Penelitian
2. Purba, Theresia Rhabina Noviandari (2012), dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan JAMKESMAS di wilayah Puskesmas Kota Jambi Tahun 2011.Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan pengetahuan, aksebilitas, dan dukungan keluarga dalam pemanfaatan JAMKESMAS.
3. Sitorus, Sopar (2009), dengan judul analisis faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan program JAMKESMAS di Kabupaten Labuhan Batu. Hasil dari penelitian ini menunjukan uji regresi logistik ganda menunjukkan variabel yang berpengaruh secara
signifikan yaitu pengetahuan, sarana dan prasarana, dan
kondisi kesehatan. Faktor yang paling dominan
berpengaruh terhadap pemanfaatan JAMKESMAS adalah
kondisi kesehatan dengan OR (odd rate) 3,606(95%
CI:0,180-1,066).
Persamaan dalam penelitian ini sama-sama meneliti
mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Perbedaannya terletak pada desain penelitian, variabel,