• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungsi dan Implikasi Makna Logis Pantun Melayu Deli

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Fungsi dan Implikasi Makna Logis Pantun Melayu Deli"

Copied!
379
0
0

Teks penuh

(1)

FUNGSI DAN IMPLIKASI MAKNA LOGIS

PANTUN MELAYU DELI DAN SERDANG

DISERTASI

Untuk Memperoleh Gelar Doktor dalam Ilmu Linguistik

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

di bawah pimpinan Rektor Universitas Sumatera Utara

Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H.M.Sc (CTM), Sp.A(K)

dipertahankan pada tanggal 2 Juni 2012

di Medan, Sumatera Utara

ROZANNA MULYANI

NIM 078107006/LNG

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

FUNGSI DAN IMPLIKASI MAKNA LOGIS

PANTUN MELAYU DELI DAN SERDANG

DISERTASI

Untuk Memperoleh Gelar Doktor dalam Ilmu Linguistik

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Terbuka

Pada Hari

: Sabtu

Tanggal

: 2 Juni 2012

Pukul

: 09.00 WIB

Oleh

(3)

JUDUL DISERTASI : FUNGSI DAN IMPLIKASI MAKNA LOGIS

PANTUN MELAYU DELI DAN SERDANG

NAMA MAHASISWA : ROZANNA MULYANI

N I M : 078107006

Program Studi : Linguistik

Menyetujui

Komisi Pembimbing,

Promotor

Prof. T. Silvana Sinar, M. A, Ph. D

Prof. Amrin Saragih, M. A, Ph. D

Ko-Promotor Ko-Promotor Dr. Syahron Lubis, M. A

Ketua Program Studi Linguistik Direktur Sekolah

Pascasarjana

(4)

NIP. 195409161980032003 NIP. 195208151980031001

HASIL PENELITIAN DISERTASI INI TELAH DISETUJUI UNTUK

SIDANG TERBUKA TANGGAL 2 JUNI 2012

Oleh

Promotor

Prof. T. Silvana Sinar, M. A, Ph. D

Ko-Promotor

Prof. Amrin Saragih, M. A, Ph. D Dr. Syahron Lubis, M. A

Mengetahui

Ketua Program Studi Linguistik

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

(5)

NIP 19540916 198003 2 003

Telah diuji pada Ujian Tertutup

Tanggal : 27 Februari 2012

PANITIA PENGUJI DISERTASI

Ketua : Prof. T. Silvana Sinar, M. A, Ph. D USU Medan

Anggota : Prof. Amrin Saragih, M. A, Ph. D UNIMED Medan

Dr. Syahron Lubis, M. A USU Medan

Prof. Dr. Bahren Umar Siregar, Ph. D Atmajaya Jakarta

Prof. Dr. Robert Sibarani, M. S USU Medan

Dr. Eddy Setia, M. Ed. TESP USU Medan

Dr. T. Thyrhaya Zein, M. A USU Medan

Dengan Surat Keputusan

Rektor Universitas Sumatera Utara

(6)

Tanggal : 24 Maret 2012

Diuji pada Ujian Disertasi (Promosi)

Tanggal : 2 Juni 2012

PANITIA PENGUJI DISERTASI

Ketua : Prof. T. Silvana Sinar, M. A, Ph. D USU Medan

Anggota : Prof. Amrin Saragih, M. A, Ph. D UNIMED Medan

Dr. Syahron Lubis, M. A USU Medan

Prof. Dr. Bahren Umar Siregar, Ph. D Atmajaya Jakarta

Prof. Dr. Robert Sibarani, M. S USU Medan

Dr. Eddy Setia, M. Ed. TESP USU Medan

Dr. T. Thyrhaya Zein, M. A USU Medan

Dengan Surat Keputusan

Rektor Universitas Sumatera Utara

(7)

Tanggal : 24 Maret 2012

TIM PROMOTOR

Prof. Tengku Silvana Sinar, M.A, Ph.D

Prof. Amrin Saragih, M.A, Ph.D

(8)

TIM PENGUJI LUAR KOMISI

Prof. Dr. Bahren Umar Siregar, Ph. D

Prof. Dr. Robert Sibarani, M. S

Dr. Eddy Setia, M. Ed. TESP

(9)

PERNYATAAN

Judul Disertasi

FUNGSI DAN IMPLIKASI MAKNA LOGIS PANTUN

MELAYU DELI DAN SERDANG

Dengan ini saya menyatakan bahwa Disertasi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Doktor dari Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya sendiri.

Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Disertasi ini, telah saya cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Disertasi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

(10)

ROZANNA MULYANI

BIODATA

A. Data Pribadi

Nama Lengkap : Rozanna Mulyani N I P : 1960609 198612 2 001 Pangkat/Golongan : Pembina / IV A

Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

Pekerjaan : Staf Pengajar Departemen

Sastra Daerah

Instansi : Fakultas Ilmu Budaya USU Alamat Kantor : Jln. Universitas No. 19

Medan 20155 Nama Ayah : H. M. Ridwan Rasyid

Nama Ibu : Hj. Rohana Ridwan

Alamat Rumah : Komp. Bougenviel Indah B 54 Sunggal Telp/HP : 085275776566

B. Riwayat Pendidikan

1. SD Negeri : SD Negeri 1 Binjai, lulus tahun 1972 2. SMP : SMP Negeri II Binjai, lulus tahun 1975 3. SMA : SMA Negeri II Binjai, lulus tahun 1979 4. S-1 Fakultas Sastra USU Jurusan Bahasa Daerah, lulus tahun 1985 5. S-2 University Kebangsaan Malaysia, lulus tahun 1998

6. S-3 Sekolah Pascasarjana USU-Linguistik, lulus tahun 2012

C. Pengalaman Kerja

(11)

D. Kegiatan Penulisan Karya Ilmiah di dalam Jurnal dan Prosiding :

I. Jurnal

1. Kalimat Dasar Bahasa Melayu Dialek Deli Medan, Jurnal Linguistik Indonesia, 2004

2. Bahasa dan Ideologi Matriakhi Aplikasi dalam Masyarakat dan Budaya Minangkabau, Majalah Wacana, 2009

3. Wacana : Novel-novel Perempuan di Indonesia, Majalah Wacana, 2009

II. Prosiding

1. Kalimat Pasif Bahasa Melayu Dialek Deli Medan : Suatu Tinjauan Transformasi Generatif.

Prosiding : International Seminar. Language Literature, and Culture in Southeast Asia.

Theme : Malay and Indonesian Studies 3 – 5 Juni 2010, Thumrin Thana Hotel, Trang, Thailand.

2. Implikasi Makna Logis Pantun Melayu Deli dan Serdang. Prosiding : Seminar Budaya Etnik IV Laboratorium Medan.

3. Bahasa dan Ideologi Matriarkhi Aplikasi dalam Budaya Minangkabau. Seminar Nasional Budaya Etnik III. Pardede International Hotel Medan 25 April 2009.

E. Penghargaan / Tanda Kehormatan

1. Satyalencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Republik Indonesia.

F. Organisasi Profesi

1. Anggota Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) 2. Anggota Linguistik Sistemik Fungsional

(12)

KARYA ILMIAH INI KUPERSEMBAHKAN UNTUK

AYAHANDA DAN IBUNDA TERCINTA

ALM. H. M. RIDWAN RASYID

Hj. ROHANA RIDWAN

SUAMI TERCINTA

DR. Ir. HASANUDDIN, M. S

ANAK-ANAKKU TERKASIH

RIZKA ANNISA HASANUDDIN, SKM

(13)

ABSTRAK

Penelitian ini memilih judul “Fungsi dan Implikasi Makna Logis pantun Melayu Deli dan Serdang”, sebagai judulnya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), yang digagas oleh Halliday (2004), dan diadaptasi oleh Saragih (2006), dan Sinar (2008).

Ada empat masalah yang akan diberikan jawabannya dalam penelitian ini. Masalahnya adalah : (1) bagaimanakah fungsi logis direalisasikan pada pantun Melayu Deli dan Serdang, (2) pola fungsi logis apakah yang digunakan dalam konteks sosial pengguna pantun Melayu Deli dan Serdang, (3) bagaimanakah implikasi makna logis dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, (4) mengapa fungsi logis terjadi di dalam pantun Melayu Deli dan Serdang.

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggali bentuk wacana budaya Melayu Deli dan Serdang, yaitu pantun, dan kajian ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk pemertahanan budaya daerah (lokal) sebagai bagian dari kebudayaan Nasional. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi fungsi logis yang direalisasikan pantun Melayu Deli dan Serdang, merumuskan pola fungsi logis yang digunakan dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, menganalisis implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang, dan menginterpretasi implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang.

Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, hasil pemerian sebagai jawaban terhadap keempat masalah penelitian tersebut akan menjadi bahan informatif tentang fungsi dan implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang. Untuk itu penulis mengumpulkan data pantun tertulis, yang terdiri atas dua puluh pantun anak – anak (PAA), dua puluh pantun orang muda (POM), dan dua puluh pantun orang tua (POT). Tiap – tiap pantun terdiri dari empat klausa kompleks, semuanya berjumlah 239 klausa. Kemudian data pantun lisan (berbalas pantun) berjumlah sepuluh (10) bait pantun, dan pantun adat pernikahan berjumlah dua belas (12) bait.

Hasil penelitan ini menemukan bahwa pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dalam PAA, POM, dan POT yang terdiri atas masing – masing 20 klausa kompleks, dan semuanya berjumlah 60 klausa kompleks, setelah direalisasikan 10 jenis fungsi logis, didapati bahwa fungsi logis (hubungan logis) yang dominan ada dua, yaitu Ganda Hipotaktik (α×β), dan Ekstensi Parataktik, yaitu sama – sama berjumlah 21 (35%). Pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dan isi (3) – (4) ada empat jenis hubungan logis yang kosong, yaitu lokusi Parataktik (1”2), lokusi Hipotaktik (α”β), ide Parataktik (1’2), dan ide Hipotaktik (α’β). Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (1) – (3) PMD didapati bahwa PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu 54 (90%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 19. Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (2) – (4) didapati bahwa pada PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2), yaitu 53 (88,33%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 18.

(14)

kalau, kalaupun,. Pada POT sifat hubungan logis Eksplisit sampiran hanya 1, yaitu ganda Hipotaktik (α×β). Sedangkan pada PAA tidak dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran (1) – (2). Pada Sifat hubungan logis Implisit Isi (3) – (4) ini, konjungsi sebagai fungsi logis tidak nyata, akan tetapi keberadaannya dapat dipahami. Pada PAA dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran, seperti Elaborasi Parataktik (1×2), Ekstensi Parataktik, Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α×β). Pada POM dijum pai Ekstensi Parataktik (1+2), Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α× β). Pada sifat hubungan logis Implisit semua klausa menggunakan konjungsi, terutama konjungsi dan.

Pada sifat hubungan logis Eksternal Sampiran dan Isi (1) – (3) Sifat hubungan logis Eksternal pada PAA didapati pada Ekstensi Parataktik (1+2) pada PAA (3, 7,11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 59, 63, 67, 71, 75, 79) semuanya menggunakan konjungsi dan. Pada POM juga dijumpai Ekstesi Parataktik (1+2), yaitu 167, 175, 179, 183, 187, 191, 195, 199, 203, 207, 211, 215, 219, 223, 227, 231, 235, 239, seluruhnya menggunakan konjungsi dan.

Pada sifat hubungan logis internal Sampiran dan Isi (2) – (4) pada PAA dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu (4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 40, 44, 48, 52, 56, 60, 64, 68, 72, 76, 80) seluruhnya menggunakan konjungsi

Ganda Hipotaktik (α×β) 163 dengan konjungsi α×β.

dan, ganda Hipotaktik (α×β) yaitu (36) menggunakan konjungsi untuk. Pada POM dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 84, 88, 92, 96, 100, 104, 108, 112, 116, 120, 124, 128, 132, 148, 152, 160, seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (α×β), yaitu (140, 144, 156). Pada POT dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 168, 172, 176, 180, 188, 196, 200, 204, 208, 212, 216, 220, 224, 228, 236, 280, seluruhnya menggunakan konjungsi dan,

Pada analisis Proses dan Sirkumstan PAA, POM, dan POT baris (1) – (2), dijumpai PAA proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang dominan Sirkumstan Lokasi : Tempat Proses dan Sirkumstan pada baris (3) dan (4) yang dominan adalah Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Sebab. Pada POM Proses dan Sirkumstan baris (1) – (2) didapati proses yang dominanpaling tinggi adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan Lokasi : Tempat . Pada Proses dan Sirkumstan pada baris (3) – (4), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan Lokasi : Waktu, tempat, Sirkumstan Cara, dan Sirkumstan Hal. Pada POT Proses dan Sirkumstan Baris (1) – (2), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan tang tertinggi Sirkumstan lokasi : Tempat. Proses dan Sirkumstan Baris (3) – (4), Proses yang dominan Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Hal.

ganda Hipotaktik (1×2), yaitu 192, 164.

(15)
(16)

ABSTRACT

The title of this study is “Function and Implication of Logical Meaning of pantun Melayu Deli and Serdang”. This study employed Functional Systemic Linguistics (FSL) theory developed by Halliday (2004) and adapted by Saragih (2006) and Sinar (2008).

There were four research questions to be answered in this study such as (1) how the logical function is materialized in pantun Melayu Deli and Serdang, (2) which pattern of logical function is used in the social context of the users of pantun Melayu Deli and Serdang, (3) what implication of logical meaning is found in pantun Melayu Deli and Serdang, and (4) why the logical function occurred in pantun Melayu Deli?

The purpose of this study, in general, was to explore the form of cultural discourse of Melayu Deli such as pantun, and the result of this study is expected to be a contribution to maintain local culture as part of national culture. In particular, the purpose of this study was to describe the logical function materialized in pantun Melayu Deli and Serdang, to formulate the pattern of logical function used in pantun Melayu Deli and Serdang, and to interprete the implication of logical meaning of pantun Melayu Deli and Serdang.

This is a qualitative descriptive study, the answers to the four research questions will be an informative materials about the function and implication of logical meaning of pantun Melayu Deli and Serdang. For that purpose, the writer collected the data of written pantun consisting of 20 (twenty) pantun for children (PAA), 20 (twenty) pantun for young people (POM), and 20 (twenty) pantun for old people (POT). Each pantun consists of 4 (four) complex clauses and all of them are 239 clauses. Then the data of oral pantun (exchanging pantun) consisted of 10 (ten) stanzas, and pantun for traditional marriage ceremony comprised 12 (twelve) stanzas.

The result of this study showed that in the logical relationship of sampiran (1) – (2) in PAA, POM, and POT which consisted of 20 (twenty) complex clauses respectively, and all together there were 60 complex clauses, after being materialized there were 10 kinds of logical functions, and it was found out that there were two dominant logical functions (logical relationships), namely, multiple Hypotactic (αx

(17)

(αxβ) marked with real conjunction such as dari, kalau, kalaupun. In POT, only 1

(one) logical relationship trait was found, namely multiple Hypotactic (αxβ). While in PAA, no trait of logical relationship of Explicit Sampiran (1) – (2) was found. In the traits of logical relationship of Implicit Isi (Content) (3) – (4), conjunction as logical function was unreal, but its existence was understandable. The traits of logical relationship of Explicit Sampiran were found in PAA such as Paratactic Elaboration (1x2), Paratactic Extension, Multiple Paratictic (1x2), and Multiple Hypotactic (αxβ). In POM, Par

atactic Extension (1+2), Multiple Paratactic (1x2), and multiple Hypotactic (αx

In the traits of logical relationship of Explicit Sampiran and Isi (Content) (1) – (3), the traits of external logical relationship were found in Paratactic Extension (1+2) in PAA (3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 59, 63, 67, 71, 75, 79) which all of them used conjunction “dan”. Paratactic Extension (1+2) was also found in POM (167, 175, 179, 183, 187, 191, 195, 199, 203, 207, 211, 215, 219, 223, 227, 231, 235, 239) which all of them also used conjunction “dan”. Multiple Hypotactic (α

β) were found. In the traits of implicit logical relationship, all of the clauses used conjunction, especially conjunction “dan”.

xβ) (163) was with conjunction αx

In the traits of internal logical relationship of Sampiran and Content (2) – (4), a Paratactic Extension (1+2) was found in PAA (4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 40, 44, 48, 52, 56, 60, 64, 68, 72, 76, 80) which all of them used conjunction “dan”, Multiple Hypotactic (α

β.

xβ) (36) was with conjunction “untuk”. Paratactic

Extension (1+2) was also found in POM (84, 88, 92, 96, 100, 104, 108, 112, 116, 120, 124, 128, 132, 148, 152, 160) which all of them used conjunction “dan”, and Multiple Hypotactic (αx

In the analysis of Process and Circumstance of PAA, POM, and POT line (1) – (2), the dominant process found in PAA was Material Process, and the dominant circumstance was Location of Circumstance: The dominant location of Process and Circumstance in lines (3) – (4) was Mental Process and the dominant Circumstance was Circumstance of Cause. In the Process and Circumstance lines (1) – (2) in POM, it was found out that the highest dominant process wa Material Process , and the highest Circumstance was the Circumstance of Location: Place. In the Process and Circumstance in lines (3) – (4), the dominant Process was Material Process, and the highest Circumstance was Circumstance of Location: Time, Place, Circumstance of Way, and Circumstance of Thing. In the Process and Circumstance in lines (1) – (2) of POT, the dominant Process was Material Process, and the highest Circumstance was Circumstance of Location: Place. In the Process and Circumstance in lines (3) – (4), the dominant Process was Mental Process, and the dominant Circumstance was Circumstance of Thing.

β) (140, 144, 156). Paratactic Extension (1+2) was also found in POT (168, 172, 176, 180, 188, 196, 200, 204, 208, 212, 216, 220, 224, 228, 236, 280) which all of them used conjunction “dan”, and Multiple Hypotactic (1x2) (192, 164).

(18)

opponents, the rule of the pantun was well maintained. Its ab-ab rhyme was well maintained. It was also found out that the pantuns for marriage ceremony were either phonological logogenetic or ethnographical phylogenetic in nature.

(19)

KATA PENGANTAR

Dengan kerendahan hati dan keiikhlasan yang mendalam penulis memanjatkan puji syukur ke Hadirat Illahi Rabbi, yang telah memberikan setitik ilmu bagi penulis, sehingga dapat menyelesaikan disertasi ini. Shalawat serta salam semoga dicurahkan-Nya kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan kita para pengikutnya sampai akhir zaman nanti.

Ada rasa kebahagian dan kelegaan yang penulis rasakan, dan sukar untuk dilukiskan, ketika penulis berhasil menyelesaikan disertasi yang berjudul “ Fungsi dan Implikasi Makna Logis Pantun Melayu Deli”, pada program Studi Linguistik Universitas Sumatera Utara Medan ini. Hanya puji syukur kepada Illahi Rabbi sebagai puncak pengungkapannya.

Penulis sadar bahwa di dalam penyelesaian disertasi ini banyak orang dan instansi yang terlibat, oleh sebab itu dalam kesempatan ini sudah sepantasnyalah penulis dengan hati yang tulus ikhlas mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis, sehingga dapat mewujudkan disertasi seperti sekarang ini.

Dengan tidak bermaksud mengadakan pengistimewaan, penulis ingin mengucapkan terima kasih secara khusus kepada :

(20)

dukungan materil kepada penulis, untuk melanjutkan studi ke program Doktor Linguistik di Universitas Sumatera Utara (USU).

2. Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE dan mantan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. Chairun Nisa B, M.Sc, yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menambah ilmu di program Doktor Linguistik Universitas Sumatera Utara (USU).

3. Ketua program Studi Linguistik, Prof. Tengku Silvana Sinar, M.A, Ph.D., yang telah bersedia menerima penulis untuk mengikuti program doktor Linguistik, dan beliau juga memberikan kemudahan dalam menggunakan sarana dan fasilitas di Sekolah Pascasarjana USU.

4. Dr. Syahron Lubis, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, tempat penulis bekerja mendedikasikan ilmu, mantan Dekan, Prof. Dr. Bahren Umar Siregar, dan Prof. Syaifuddin, M.A, Ph.D., yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menuntut ilmu di program doktor Linguistik Universitas Sumatera Utara.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penyelesaian disertasi ini, mereka adalah :

(21)

2. Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., selaku ko-promotor, yang telah mencurahkan perhatiannya kepada disertasi penulis. Beliau tidak pernah terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan penulis, dan selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan membaca disertasi penulis. Ketelitian beliau dalam membaca disertasi penulis sangat penulis hargai.

3. Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku ko-promotor penulis, yang telah bersusah payah dalam memeriksa disertasi penulis.

4. Kepada para dosen Program Studi Linguistik Pasca sarjana Universitas Sumatera Utara Medan: Prof. Dr. Robert Sibarani, MS., Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D., Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., Prof. Dr. Bahren Umar Siregar, Prof. Dr. Jawasi Naibaho, M.Hum., Asrudin B Tou, M.A, Ph.D., yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama perkuliahan. Dan juga kepada Dr. Edy Setia, M.Ed., TESP, atas penyediaan bahan bacaan yang bermanfaat dalam penulisan disertasi ini, dan juga diskusi-diskusinya.

5. Kepada teman-teman sejawat di Departemen Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya USU ; Herlina, Asriaty, Warisman, Asni, Flansius, Jamorlan, Sumurung, Yos Rizal, terima kasih atas perhatiannya. Mereka selalu mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan studi doktor penulis.

(22)

penulis untuk menjadi dosen di Fakultas Sastra, yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Semoga jasa dan amal ibadah beliau diterima disisi-Nya.

Ungkapan yang tulus penulis haturkan kepada kedua orang tua penulis yang sangat penulis hormati dan cintai, almarhum ayahanda H.M. Ridwan Rasyid, dan Ibunda Hj. Rohana Ridwan yang keduanya adalah guru dan pahlawan bagi kehidupan penulis. Beliau berdua telah mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan keluhuran bagi penulis. Semoga almarhum ayahanda diberikan Allah tempat yang mulia disisi-Nya, buat ibunda terima kasih buat perhatian dan kasih sayang bunda yang tak pernah pupus, semoga Allah SWT memberikan balasan berlipat ganda buat ayah dan bunda.

Kepada kakanda dan abangda ; almarhum Dr. Rizalwan dan Istri, Kakanda Dra. Med Roswati Dianna dan Dr. Nurmadi Saleh, Kol. Laut, Drs. Rusdi Ridwan, dan Istri Dra. Nining Indra Saleh, M.Si, DR. Rahmawati, Apoteker,MS., almarhum Drs. Raflis Ridwan dan Istri, Ir. Rita Mindayani, M.Si dan Suami, Rini Lidiawati, SE, M.M., Rudi Siswanto, ST dan istri. Terima kasih atas kasih sayang, perhatian dan kebersamaan yang sangat berarti bagi penulis.

(23)

sampai tengah malam yang sepi dalam menyelesaikan disertasi ini. Terima kasih anak-anakku sayang, mudah-mudahan anak-anak mama akan mengikuti semangat papa dan mama dalam menuntut ilmu.

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Pada kesempatan ini penulis mohon maaf atas kesalahan yang terjadi, ketika masa-masa kebersamaan kita. Semoga disertasi ini dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi kepentiangan pengembangan ilmu linguistik, khususnya Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). Tiada gading yang tak retak. Tidak ada sesuatupun yang sempurna, yang sempurna itu milik Allah.

Medan, September 2011 Penulis

Rozanna Mulyani

(24)

DAFTAR ISI

DAFTAR ARTI SINGKATAN DAN LAMBANG ... xxx

GLOSARIUM ... xxxiii 1.5 Manfaat atau Kegunaan Penelitian ... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA/KERANGKA TEORITIS ... 13

(25)

2.3.2 Fungsi Interpersonal ... 38 2.4.1.4 Proses Tingkah Laku (behavioral) ... 47 2.4.1.5 Proses Verbal ... 47

2.10.1 Discourse Analysis of Indonesian Newspaper Text: A Study

of Reality Action and Reaction (Saragih, 1995) ... 85 2.10.2 Phasal and Experensial Realisation in Lecture Discourse: A

Systemic Functional Analysis (Sinar, 2002) ... 85 2.10.3 Klausa kompleks dan Realisasi Pengalaman Dalam Teks

Peradilan (Kasus Bom Bali) : Sebuah Analisis LFS (Setia,

(26)

2.10.4 Makna Metafungsional Teks Ilmiah Dalam Bahasa Indonesia Pada Jurnal Ilmiah (Sebuah Analisis Sistemik

Fungsional) (Wiratno, 2009) ... 88 2.10.5 Representasi Ideologi Masyarakat Melayu Serdang Dalam

Teks, Situasi, dan Budaya. (T. Thyrhaya, 2009) ... 90 2.10.6 Representasi Leksikogramatika Teks Pidato Kenegaraan

Presiden Soeharto dan Presiden Susilo Bambang udhayono

(Nurlela, 2010) ... 93 2.10.7 Ujaran Interpersonal Dalam Wacana Kelas (Analisis

Linguistik Sistemik Fungsional) (Andriany, 2011) ... 96 2.11 Pantun ... 97 2.12 Konstruk Penelitian ... 108 2.13 Konstruk Penelitian ... 109

BAB III MELAYU DELI DAN SERDANG DALAM SEJARAH DAN

TRADISI ... 111

3.1 Medan : Latar Belakang Secara Umum ... 117 3.2 Melayu Serdang ... 122 3.2.1 Kewilayahan Serdang ... 123 3.3 Adat Budaya Melayu Deli dan Serdang ... 124 3.3.1 Makna dan filosofi Tepak Sirih... 126 3.4 Tradisi Berpantun Pada Masyarakat Melayu Deli dan Serdang ... 129 3.4.1 Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Deli dan Serdang ... 131 3.4.2 Peranan Pantun dalam Acara Merisik dan Meminang ... 134

BAB IV METODE PENELITIAN ... 141

(27)

5.2 Fungsi Logis ... 153 5.2.1 Hubungan Logis Dalam Sampiran (1)-(2) PMDS ... 153 5.2.2 Hubungan Logis Dalam Isi (3)-(4) PMDS ... 154 5.2.3 Hubungan Logis Dalam Sampiran dan Isi (1)-(3) PMDS ... 156 5.2.4 Hubungan Logis Dalam Sampiran dan Isi (2)-(4) PMDS ... 158 5.2.5 Sifat Hubungan Logis Eksplisit atau Implisit PMDS ... 160

5.2.5.1 Sifat Hubungan Logis Eksplisit Sampiran (1)-(2)

PMDS ... 160 5.2.5.2 Sifat Hubungan Logis Implisit Isi (3)-(4) PMDS ... 162 5.2.6 Sifat Hubungan Logis Eksternal atau Internal Sampiran dan

Isi (1)-(3) dan (2)-(4) ... 166 5.2.6.1 Sifat Hubungan Logis Eksternal Sampiran dan Isi

(1)-(3) PAA, POM dan POT ... 166 5.3.1.5 Hubungan Proses, Sirkumstan (1)-(2) dengan Proses,

Sirkumstan (3)-(4) ... 188 5.4 Faktor Penyebab terjadinya Fungsi Logis dalam PMDS ... 191

5.4.1 Fungsi Logis Sampiran (1)-(2) PMDS pada PAA, POM, dan

POT ... 191 5.4.2 Fungsi Logis Isi (3)-(4) PAA, POM, dan POT ... 195 5.5 Implikasi Makna Logis ... 200 5.5.1 Konteks Sosial Penggunaan PMDS Lisan ... 200

(28)

Pantun ... 202 5.5.1.2 Analisis Konteks Situasi Pantun Perkawinan ... 209 5.5.1.3 Konteks Budaya Penggunaan Pantun Perkawinan ... 218 5.5.1.4 Hubungan Semiotik Sampiran (1)-(2) dan ISI (3)-(4) ...

pada PAA, POM, POT ... 219

BAB VI PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN ... 223

6.1 Pembahasan ... 223 6.2 Implikasi Makna Logis PMDS ... 241

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 251

7.1 Simpulan ... 251 7.2 Saran ... 253

DAFTAR PUSTAKA ... 255

LAMPIRAN 1 : Pantun Tertulis Melayu Deli dan Serdang ... 263

LAMPIRAN 2 : Pantun Lisan Acara Berbalas Pantun di Taman Budaya ... 275

LAMPIRAN 3 : Berbalas pantun Adat Perkawinan Antara Pihak Laki-laki dan ... 278

Perempuan ...

LAMPIRAN 4 : Fungsi Logis Pada PMDS ... 282 Pantun Anak-Anak (PAA)

Pantun Orang Muda-Mudi (POM) Pantun Orang Tua (POT)

LAMPIRAN 5 : Hubungan Proses, Sirkumstan (1)-(2) dengan Proses,

Sirkumstan (3)-(4) ... 306

(29)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Matafungsi dan Refleksinya dalam Tata Bahasa ... 32 Tabel 2.2 : Klausa Relasional ... 44 Tabel 2.3 : Jenis Proses dan Kategori ... 48 Tabel 2.4 : Label Partisipan ... 50 Tabel 2.5 : Sirkumstan ... 51 Tabel 2.6 : Makna Logis ... 55 Tabel 2.7 : Nuansa Makna Logis ... 57 Tabel 2.8 : Konjungsi ... 58 Tabel 2.9 : Perbedaan Konjungsi Eksternal dan Internal ... 59 Tabel 2.10 : Makna Logis ... 65 Tabel 2.11 : Taksis dan Hubungan Logis Semantik ... 66 Tabel 2.12 : Rincian Perluasan Makna Ekstensi dan Jenisnya ... 69 Tabel 2.13 : Ganda Parataksis, Makna dan Realisasinya ... 71 Tabel 2.14 : Konjungsi dan Preposisi dalam ganda Hipotaksis ... 72 Tabel 2.15 : Proyeksi ... 76 Tabel 3.1 : Suku Bangsa Penduduk Penduduk Sumatera Timur Tahun 1920 ... 110 Tabel 3.2 : Persentase Penduduk Hamparan Perak dan Sunggal berdasarkan

(30)

Tabel 5.5 : Sifat Hubungan Logis Eksplisit Sampiran (1) – (2) ... 155 Tabel 5.6 : Sifat Hubungan Logis Implisit Isi (3) – (4) PAA ... 156 Tabel 5.7 : Sifat Hubungan Logis Implisit Isi (3) – (4) POM ... 157 Tabel 5.8 : Sifat Hubungan Logis Implisit Isi (3) – (4) POT ... 159 Tabel 5.9 : Sifat Hubungan Logis Eksternal Sampiran dan Isi (1) – (3) PAA ... 161 Tabel 5.10 : Sifat Hubungan Logis Eksternal Sampiran dan Isi (1) – (3) POM ... 162 Tabel 5.11 : Sifat Hubungan Logis Eksternal Sampiran dan Isi (1) – (3) POT ... 163 Tabel 5.12 : Sifat Hubungan Logis Internal Sampiran dan Isi (2) – (4) PAA ... 164 Tabel 5.13 : Sifat Hubungan Logis Internal Sampiran dan Isi (2) – (4) POM ... 165 Tabel 5.14 : Sifat Hubungan Logis Internal Sampiran dan Isi (2) – (4) POT ... 166 Tabel 5.15 : Distribusi dan Frekuensi Jenis – Jenis Proses pada baris (1) PAA,

POM, dan POT ... 171 Tabel 5.16 : Distribusi dan Frekuensi Sirkumstan pada baris (2) PAA, POM,

dan POM ... 173 Tabel 5.17 : Distribusi dan Frekuensi Jenis – Jenis Proses pada baris (3) PAA,

POM, dan POT ... 176 Tabel 5.18 : Distribusi dan Frekuensi Sirkumstan pada baris (4) PAA, POM,

(31)

DAFTAR FIGURA

(32)

DAFTAR ARTI SINGKATAN DAN LAMBANG

Daftar Arti Singkatan

LSF : Linguistik Sistemik Fungsional PMD : Pantun Melayu Deli

(33)

Daftar Arti Lambang

^ : Diikuti

1, 2, 3 : Klausa Parataksis α, β, γ, δ, ε : Klausa Hipotaksis

= : Elaborasi

+ : Ekstensi

× : Ganda

“ : Lokusi

‘ : Ide

1 = 2 : Elaborasi Parataksis α = β : Elaborasi Hipotaksis

1 + 2 : Ekstensi Parataksis α + β : Ekstensi Hipotaksis

1 × 2 : Ganda Parataksis α × β : Ganda Hipotaksis

1 “ 2 : Lokusi Parataksis α “ β : Lokusi Hipotaksis

(34)

Glosarium

Menurut Linguistik Sistemik Fungsional

1. Ekspansi : Hubungan antarklausa yang menunjukkan

bahwa klausa kedua (2 atau β) memperluas makna klausa pertama (1 atau α)

2. Ekstensi : Hubungan antar klausa yang memberikan pengertian bahwa makna klausa kedua (2, β) sama dengan makna klausa pertama (1, α) yang mendahuluinya.

3. Elaborasi : Hubungan antarklausa yang memberikan

pengertian bahwa makna klausa kedua (2, β) sama dengan makna klausa pertama (1, α) yang mendahuluinya.

4. Fungsi : Tugas, peran atau kerja yang dilakukan oleh satu unit linguistik dalam unit yang lebih besar. 5. Fungsi tekstual : Fungsi yang menunjukkan pengorganisasian

atau perangkaian pengalaman . Fungsi tekstual menentukan pengalaman yang mana disampaikan sesudah suatu pengalaman disampaikan.

6. Fungsi logis : Fungsi yang menunjukkan hubungan satu unit linguistik dengan unik linguistik yang lain. Fungsi logis direalisasikan oleh klausa kompleks yang mencakupi status dan hubungan makna logis.

7. Finit (finite) : Fungsi gramatikal yang dapat digunakan untuk menentukan (1) polaritas (positif atau negatif ; (2) bentuk tanya ; dan (3) kala (tense) terutama dalam bahasa Inggris . Finit dapat berdiri sendiri pada klausa yang mempunyai struktur “Subjek ^ Finit//Predikator”. Namun demikian Finit juga dapat berfusi (bergabung) dengan predikator di dalam verba (pada struktur “Subjek ^ Finit/Predikator”) dengan komplemen (pada struktur “Subjek ^ Finit/Komplemen”), dan dengan keterangan (pada struktur “Subjek ^ Finit/Keterangan”).

(35)

mengungkapkan realitas sosial serta berkenaan dengan interaksi antara penutur/penulis dan pendengar/pembaca. Fungsi Tekstual : fungsi untuk mengungkapkan realitas Semiotis/Simbol dan berkenaan dengan cara penciptaan teks dalam konteks.

9. Genre : Secara sempit, jenis – jenis teks atau wacana, secara luas, konteks budaya yang melatarbelakangi lahirnya teks. Secara teknis, genre adalah proses sosial yang berorientasi kepada tujuan yang dicapai secara bertahap (astaged, goal – oriented social process) (Martin, 1992). Dikatakan “sosial” karena orang menggunakan genre untuk berkomunikasi kepada orang lain ; dikatakan “berorientasi tujuan” karena orang menggunakan genre untuk mencapai tujuan komunikasi ; dikatakan “bertahap” karena untuk mencapai tujuan tersebut, biasanya dibutuhkan beberapa tahap melalui pembabakan dalam genre (Martin dan Rose, 2003).

10. Grafologi : pengungkapkan dalam bentuk kata – kata tang ditulis, sebagai pedoman dari fonologi yang merupakan pelafalan kata – kata secara lisan. 11. Ganda : Hubungan (paling sedikit) dua klausa yang di

dalam hubungan itu makna klausa kedua (2, β) melipatgandakan klausa pertama (1. α).

12. Hubungan logis semantik : Makna antarklausa yang secara rinci menunjukkan fungsi atau makna klausa kedua terhadap klausa pertama.

13. Ide : Proyeksi makna dengan proses pemroyeksi

proses mental.

14. Ideologi : Kontruksi atau konsep sosial yang menentukan apa seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan seseorang sebagai anggota masyarakat.

15. Klausa : Unit tata bahasa tertinggi yang sekaligus mambawa ketiga metafungsi

(36)

17. Konjungsi : Bentuk linguistik yang berfungsi manghubungkan dua klausa atau lebih, seperti dan, atau, karena, jadi, tetapi dan sebelum. 18. Konteks : Segala sesuatu yang mendampingi (pemakaian)

bahasa atau teks. Konteks terdiri atas konteks linguistik dan konteks sosial. Konteks linguistik, konteks internal, atau konteks mengacu kepada unit linguistik lain yang mendampingi (mendahului atau mengikuti) suatu unit linguistik yang dibicarakan.

Konteks sosial, Konteks eksternal, atau konteks mencakup konteks situasi, konteks budaya, dan ideologi.

19. Konteks budaya : Aktivitas sosial bertahap untuk mencapai suatu tujuan. Dengan pengertian ini konteks budaya mencakup tiga hal, yaitu (1) batasan kemungkinan ketiga unsur konteks situasi, (2) tahap yang harus dilalui dalam satu interaksi sosial, (3) tujuan yang akan dicapai dalam interaksi sosial.

20. Konteks situasi : Satu unsur konteks sosial yang terdiri atas apa yang dibicarakan, siapa membicarakan suatu bahasan, dan bagaimana interaksi dilakukan.

21. Leksikogramatika : kata – kata dalam susunannya. Leksikogramatika terdiri atas “leksis” dan “gramatika”. Pada LSF, leksis adalah kata yang selalu berada dalam konteks pengunaan pada teks. Leksis juga tidak pernah dipisahkan dari gramatika, yaitu seperangkat Sistem bahasa yang menunjukkan pilihan makna.

Pada LSF, gramatika merupakan bagian dari Leksikogramatika (di samping leksis), yang terdiri atas morfologi dan sintaksis (yang masing – masing tidak dipisahkan menjadi domain – domain yang berbeda). Gramatika dan leksis (pada kombinasinya di dalam leksikogramatika) direalisasikan oleh fonologi/grafologi.

22. Linguistik : Ilmu yang mempelajari bahasa sebagai system komunikasi manusia.

(37)

kumpulan kata atau aturan tata bahasa, (b) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk – bentuk kebahasaan untuk merealisasikan makna, (c) bahasa bersifat fungsional, yaitu bentuk bahasa yang digunakan mencerminkan ide, sikap, nilai dan ideologi penggunanya (Wiratno, 2009)

24. Lokusi : Proyeksi kata yang secara spesifik dapat dikatakan bahwa satu pengalaman linguistik direpresentasikan oleh kata.

25. Makna (meaning) : bahasa yang mengekspresikan tentang dunia nyata atau dengan segala kemungkinan ataupun dunia imajinasi.

26. Makna metafungsional : makna yang secara simultan terbangun dari tiga fungsi bahasa, yaitu fungsi ideasional, fungsi interpersonal, dan fungsi tekstual. Makna ideasional : makna yang tercipta sebagai hasil dari realisasi unsur – unsur leksikogramatika yang digunakan untuk memahami alam sekitar dan untuk mengorganisasikan pengalaman penutur atau penulis tentang dunia nyata atau rekaan.

27. Makna interpersonal : makna yang tercipta sebagai hasil dari realisasi unsur – unsur leksikogramatika yang digunakan untuk melakukan aksi terhadap orang lain. 28. Makna tekstual : makna sebagai hasil dari realisasi unsur – unsur

leksikogramatika yang menjadi media terwujudnya sebuah teks, tulis atau lisan, yang tuntun dan yang sesuai dengan situasi tertentu pada saat bahasa itu dipakai dengan struktur yang bersifat periodik (Martin, 1992 : 13 – 21)

29. Metafungsi (nomina), Metafungsional (adjektiva)

: fungsi abstrak bahasa, yaitu fungsi yang memungkinkan terciptanya makna pada saat bahasa digunakan . Metafungsi meliputi tiga wilayah fungsi sekaligus : ideasional, interpersonal, dan tekstual.

30. Makna antarpersona : Makna yang wujud dalam pertukaran pengalaman

(38)

32. Metafungsi : Fungsi bahasa dalam pemakaian bahasa yang terdiri atas memaparkan pengalaman (ideational function), mempertukarkan pengalaman (interpersonal function), dan merangkai pengalaman (textual function). Fungsi paparan atau ideational function, terdiri atas paparan gambar pengalaman. (experiential function) dan hubungan antar pengalaman (logical function). 33. Partisipan : Orang atau benda yang terlibat dalam suatu

proses. Label pelaku, gol, pengindra fenomenon, tanda, nilai, pembawa, atribut, pemilik, milik, wujud, jangkauan, pembermanfaat resipien, klien, dan penerima adalah label partisipan.

34. Pelibat : Siapa atau apa yang ikut serta atau terlibat dalam satu interaksi.

35. Proses : Fungsi yang menunjukkan kegiatan, keadaan atau kondisi. Proses terdiri atas proses material mental, relasional, tingkah laku, verbal, dan wujud.

36. Proyeksi : Representasi atau paparan kembali pengalaman linguistik ke pengalaman linguistik lain. Di dalam tata bahasa tradisional proyeksi dikenal sebagai aspek kalimat langsung dan tidak langsung. Proyeksi terdiri atas lokusi dan ide. 37. Ranah semantik : Isi atau pokok yang digarap atau dan yang

berada pada dua kontinuen (+) spesialisasi di satu sisi dan (-) spesialisasi di sisi lain. Dengan batasan ini bahasan hal, masalah, atau isi yang (+) Spesialisasi adalah topik yang hanya dapat diikuti oleh para spesialis, seperti para pakar botani fisika, kimia, atau sastra yang membicarakan masalah tanaman, bahan, dan novel sementara topik yang (-) spesialisasi adalah bahasan yang tidak memerlukan pengetahuan khusus karena semua orang dapat ikut serta membicarakannya , seperti topik pembicaraan mengenai cuaca, hobi, makanan. 38. Semiotik : kajian tentang pembentukan dan interpretasi arti

dalam ekspresi atau bentuk.

(39)

40. Semiotik konotatif : Semiotik yang memiliki arti, tetapi tidak memiliki ekspresi atau bentuk. Oleh karena itu semiotik konotatif meminjam atau menggunakan ekspresi atau bentuk semiotik lain. Ideologi, konteks budaya, dan konteks situasi merupakan semiotik konotatif.

41. Sirkumstan : Lingkungan tempat terjadinya proses yang melibatkan partisipan. Sirkumstan mencakup rentang, lokasi, cara, lingkungan, penyerta, peran, sebab, masalah, dan sudut pandangan. 42. Taksis : Status atau kesalingtergantungan antarklausa.

Dua klausa dapat memiliki status sama yang disebut parataksis, dan status tidak sama yang disebut hipotaksis.

43. Register : pilihan variasi bentuk bahasa yang dipengaruhi oleh konteks situasi (Halliday, 1975), register mencakup tiga aspek, yaitu medan (field), pelibat (tenor), dan moda (mode).

Medan : Seperangkat urutan – urutan aktivitas yang berorientasi kepada tujuan – tujuan institusional secara global (Martin, 1992 : 536). Medan berhubungan dengan organisasi objek atau aktivitas secara singkat, dapat dikatakan bahwa medan berkaitan dengan pokok persoalan yang dibicarakan melalui penggunaan bahasa. Medan berurusan dengan apa yang sedang berlangsung dan siapa melakukan apa dengan siapa.

Pelibat : negosiasi yng mencerminkan hubungan sosial di antara pengguna bahasa yang terdapat di dalam teks (Martin, 1992: 523). Dalam konfigurasi makna interpersonal, pelibat berkenaan dengan jarak semiotika sosial yang mencakup tiga fungsi hubungan, yaitu status (status), kontak (contact), dan afek (affect). Status adalah posisi masing – masing partisipan di dalam teks, misalnya sejajar atau tidak sejajar. Kontak adalah intensitas hubungan atau derajat keterlibatan di antara partisipan, misalnya hubungan ini bersifat permanen, regular atau temporal. Adapun afek berkaitan dengan muatan emosional dalam hubungan di antara partisipan, sehingga afek fapat menunjukkan penilaian atau Justifikasi positif/negatif di antara partisipan terhadap masalah yang terungkap di dalam teks. Moda (mode) : seleksi pilihan dalam rangka system teks

(40)

peranan yang dimainkan oleh bahasa dalam merealisasikan makna sosial (Martin, 1992 : 508). Moda mencakup dua sisi, media dan sarana (channel). Dari sisi media, teks dapat dinyatakan secara lisan atau tulis. Dari sisi sarana, teks dapat dipublikasikan melalui televisi, radio, buku, jurnal, dan sebagainya. Teks : Satuan lingual yang dimediakan secara tulis atau

lisan dengan tata organisasi tertentu untuk mengungkapkan makna dalam konteks tertentu pula. Istilah “teks” dan “wacana” dianggap sama, dan hanya dibedakan dalam hal bahwa wacana lebih bersifat abstrak dan merupakan realisasi makna dari teks.

(41)

ABSTRAK

Penelitian ini memilih judul “Fungsi dan Implikasi Makna Logis pantun Melayu Deli dan Serdang”, sebagai judulnya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), yang digagas oleh Halliday (2004), dan diadaptasi oleh Saragih (2006), dan Sinar (2008).

Ada empat masalah yang akan diberikan jawabannya dalam penelitian ini. Masalahnya adalah : (1) bagaimanakah fungsi logis direalisasikan pada pantun Melayu Deli dan Serdang, (2) pola fungsi logis apakah yang digunakan dalam konteks sosial pengguna pantun Melayu Deli dan Serdang, (3) bagaimanakah implikasi makna logis dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, (4) mengapa fungsi logis terjadi di dalam pantun Melayu Deli dan Serdang.

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggali bentuk wacana budaya Melayu Deli dan Serdang, yaitu pantun, dan kajian ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk pemertahanan budaya daerah (lokal) sebagai bagian dari kebudayaan Nasional. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi fungsi logis yang direalisasikan pantun Melayu Deli dan Serdang, merumuskan pola fungsi logis yang digunakan dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, menganalisis implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang, dan menginterpretasi implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang.

Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, hasil pemerian sebagai jawaban terhadap keempat masalah penelitian tersebut akan menjadi bahan informatif tentang fungsi dan implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang. Untuk itu penulis mengumpulkan data pantun tertulis, yang terdiri atas dua puluh pantun anak – anak (PAA), dua puluh pantun orang muda (POM), dan dua puluh pantun orang tua (POT). Tiap – tiap pantun terdiri dari empat klausa kompleks, semuanya berjumlah 239 klausa. Kemudian data pantun lisan (berbalas pantun) berjumlah sepuluh (10) bait pantun, dan pantun adat pernikahan berjumlah dua belas (12) bait.

Hasil penelitan ini menemukan bahwa pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dalam PAA, POM, dan POT yang terdiri atas masing – masing 20 klausa kompleks, dan semuanya berjumlah 60 klausa kompleks, setelah direalisasikan 10 jenis fungsi logis, didapati bahwa fungsi logis (hubungan logis) yang dominan ada dua, yaitu Ganda Hipotaktik (α×β), dan Ekstensi Parataktik, yaitu sama – sama berjumlah 21 (35%). Pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dan isi (3) – (4) ada empat jenis hubungan logis yang kosong, yaitu lokusi Parataktik (1”2), lokusi Hipotaktik (α”β), ide Parataktik (1’2), dan ide Hipotaktik (α’β). Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (1) – (3) PMD didapati bahwa PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu 54 (90%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 19. Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (2) – (4) didapati bahwa pada PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2), yaitu 53 (88,33%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 18.

(42)

kalau, kalaupun,. Pada POT sifat hubungan logis Eksplisit sampiran hanya 1, yaitu ganda Hipotaktik (α×β). Sedangkan pada PAA tidak dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran (1) – (2). Pada Sifat hubungan logis Implisit Isi (3) – (4) ini, konjungsi sebagai fungsi logis tidak nyata, akan tetapi keberadaannya dapat dipahami. Pada PAA dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran, seperti Elaborasi Parataktik (1×2), Ekstensi Parataktik, Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α×β). Pada POM dijum pai Ekstensi Parataktik (1+2), Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α× β). Pada sifat hubungan logis Implisit semua klausa menggunakan konjungsi, terutama konjungsi dan.

Pada sifat hubungan logis Eksternal Sampiran dan Isi (1) – (3) Sifat hubungan logis Eksternal pada PAA didapati pada Ekstensi Parataktik (1+2) pada PAA (3, 7,11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 59, 63, 67, 71, 75, 79) semuanya menggunakan konjungsi dan. Pada POM juga dijumpai Ekstesi Parataktik (1+2), yaitu 167, 175, 179, 183, 187, 191, 195, 199, 203, 207, 211, 215, 219, 223, 227, 231, 235, 239, seluruhnya menggunakan konjungsi dan.

Pada sifat hubungan logis internal Sampiran dan Isi (2) – (4) pada PAA dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu (4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 40, 44, 48, 52, 56, 60, 64, 68, 72, 76, 80) seluruhnya menggunakan konjungsi

Ganda Hipotaktik (α×β) 163 dengan konjungsi α×β.

dan, ganda Hipotaktik (α×β) yaitu (36) menggunakan konjungsi untuk. Pada POM dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 84, 88, 92, 96, 100, 104, 108, 112, 116, 120, 124, 128, 132, 148, 152, 160, seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (α×β), yaitu (140, 144, 156). Pada POT dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 168, 172, 176, 180, 188, 196, 200, 204, 208, 212, 216, 220, 224, 228, 236, 280, seluruhnya menggunakan konjungsi dan,

Pada analisis Proses dan Sirkumstan PAA, POM, dan POT baris (1) – (2), dijumpai PAA proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang dominan Sirkumstan Lokasi : Tempat Proses dan Sirkumstan pada baris (3) dan (4) yang dominan adalah Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Sebab. Pada POM Proses dan Sirkumstan baris (1) – (2) didapati proses yang dominanpaling tinggi adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan Lokasi : Tempat . Pada Proses dan Sirkumstan pada baris (3) – (4), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan Lokasi : Waktu, tempat, Sirkumstan Cara, dan Sirkumstan Hal. Pada POT Proses dan Sirkumstan Baris (1) – (2), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan tang tertinggi Sirkumstan lokasi : Tempat. Proses dan Sirkumstan Baris (3) – (4), Proses yang dominan Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Hal.

ganda Hipotaktik (1×2), yaitu 192, 164.

(43)
(44)

ABSTRACT

The title of this study is “Function and Implication of Logical Meaning of pantun Melayu Deli and Serdang”. This study employed Functional Systemic Linguistics (FSL) theory developed by Halliday (2004) and adapted by Saragih (2006) and Sinar (2008).

There were four research questions to be answered in this study such as (1) how the logical function is materialized in pantun Melayu Deli and Serdang, (2) which pattern of logical function is used in the social context of the users of pantun Melayu Deli and Serdang, (3) what implication of logical meaning is found in pantun Melayu Deli and Serdang, and (4) why the logical function occurred in pantun Melayu Deli?

The purpose of this study, in general, was to explore the form of cultural discourse of Melayu Deli such as pantun, and the result of this study is expected to be a contribution to maintain local culture as part of national culture. In particular, the purpose of this study was to describe the logical function materialized in pantun Melayu Deli and Serdang, to formulate the pattern of logical function used in pantun Melayu Deli and Serdang, and to interprete the implication of logical meaning of pantun Melayu Deli and Serdang.

This is a qualitative descriptive study, the answers to the four research questions will be an informative materials about the function and implication of logical meaning of pantun Melayu Deli and Serdang. For that purpose, the writer collected the data of written pantun consisting of 20 (twenty) pantun for children (PAA), 20 (twenty) pantun for young people (POM), and 20 (twenty) pantun for old people (POT). Each pantun consists of 4 (four) complex clauses and all of them are 239 clauses. Then the data of oral pantun (exchanging pantun) consisted of 10 (ten) stanzas, and pantun for traditional marriage ceremony comprised 12 (twelve) stanzas.

The result of this study showed that in the logical relationship of sampiran (1) – (2) in PAA, POM, and POT which consisted of 20 (twenty) complex clauses respectively, and all together there were 60 complex clauses, after being materialized there were 10 kinds of logical functions, and it was found out that there were two dominant logical functions (logical relationships), namely, multiple Hypotactic (αx

(45)

(αxβ) marked with real conjunction such as dari, kalau, kalaupun. In POT, only 1

(one) logical relationship trait was found, namely multiple Hypotactic (αxβ). While in PAA, no trait of logical relationship of Explicit Sampiran (1) – (2) was found. In the traits of logical relationship of Implicit Isi (Content) (3) – (4), conjunction as logical function was unreal, but its existence was understandable. The traits of logical relationship of Explicit Sampiran were found in PAA such as Paratactic Elaboration (1x2), Paratactic Extension, Multiple Paratictic (1x2), and Multiple Hypotactic (αxβ). In POM, Par

atactic Extension (1+2), Multiple Paratactic (1x2), and multiple Hypotactic (αx

In the traits of logical relationship of Explicit Sampiran and Isi (Content) (1) – (3), the traits of external logical relationship were found in Paratactic Extension (1+2) in PAA (3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 59, 63, 67, 71, 75, 79) which all of them used conjunction “dan”. Paratactic Extension (1+2) was also found in POM (167, 175, 179, 183, 187, 191, 195, 199, 203, 207, 211, 215, 219, 223, 227, 231, 235, 239) which all of them also used conjunction “dan”. Multiple Hypotactic (α

β) were found. In the traits of implicit logical relationship, all of the clauses used conjunction, especially conjunction “dan”.

xβ) (163) was with conjunction αx

In the traits of internal logical relationship of Sampiran and Content (2) – (4), a Paratactic Extension (1+2) was found in PAA (4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 40, 44, 48, 52, 56, 60, 64, 68, 72, 76, 80) which all of them used conjunction “dan”, Multiple Hypotactic (α

β.

xβ) (36) was with conjunction “untuk”. Paratactic

Extension (1+2) was also found in POM (84, 88, 92, 96, 100, 104, 108, 112, 116, 120, 124, 128, 132, 148, 152, 160) which all of them used conjunction “dan”, and Multiple Hypotactic (αx

In the analysis of Process and Circumstance of PAA, POM, and POT line (1) – (2), the dominant process found in PAA was Material Process, and the dominant circumstance was Location of Circumstance: The dominant location of Process and Circumstance in lines (3) – (4) was Mental Process and the dominant Circumstance was Circumstance of Cause. In the Process and Circumstance lines (1) – (2) in POM, it was found out that the highest dominant process wa Material Process , and the highest Circumstance was the Circumstance of Location: Place. In the Process and Circumstance in lines (3) – (4), the dominant Process was Material Process, and the highest Circumstance was Circumstance of Location: Time, Place, Circumstance of Way, and Circumstance of Thing. In the Process and Circumstance in lines (1) – (2) of POT, the dominant Process was Material Process, and the highest Circumstance was Circumstance of Location: Place. In the Process and Circumstance in lines (3) – (4), the dominant Process was Mental Process, and the dominant Circumstance was Circumstance of Thing.

β) (140, 144, 156). Paratactic Extension (1+2) was also found in POT (168, 172, 176, 180, 188, 196, 200, 204, 208, 212, 216, 220, 224, 228, 236, 280) which all of them used conjunction “dan”, and Multiple Hypotactic (1x2) (192, 164).

(46)

opponents, the rule of the pantun was well maintained. Its ab-ab rhyme was well maintained. It was also found out that the pantuns for marriage ceremony were either phonological logogenetic or ethnographical phylogenetic in nature.

(47)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian

Kemajuan zaman yang pesat membawa perubahan lingkungan kita, yang tidak terduga sebelumnya. Nilai – nilai mengalami desakralisasi, gaya dan selera hidup cenderung berubah mengikuti trend budaya populer. Proses perubahan ini mengalami percepatan yang luar biasa dengan dukungan media cetak dan elektronik. Hal tersebut dengan mudah membawa efek berupa penjauhan, dari akar sosiokultural kita. Kita kehilangan minat dan apresiasi terhadap produk budaya dan sastra yang sebenarnya memiliki nilai-nilai luhur. Fungsi sastra bukan sekadar menjadi konsumsi otak, tetapi juga lebih jauh untuk konsumsi hati. Dengan fungsi itu sastra bermanfaat untuk menyublimasi kepribadian kita agar lebih lembut dan santun serta memungkinkan kita untuk memandang keindahan dunia yang disinyalir mengalami proses perubahan dan pemudaran.

(48)

banyak masyarakat di Nusantara ini mengenal pantun, namun hanya masyarakat Melayu yang mengenal budaya berbalas pantun, yang dalam budaya ini konteks situasi memiliki ciri (-jarak Waktu/ Tempat), sementara dalam budaya Batak sifat pemakaian pantun berciri (+jarak Waktu/ Tempat). Orang Melayu di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand mempunyai kebiasaan menggunakan pantun dalam berinteraksi sebagai ungkapan tulus yang berbudi. Dalam konteks Indonesia secara khusus pantun adalah budaya Melayu, karena suku atau kelompok etnis Melayulah yang sering menggunakan pantun (Saragih 2007 : 120).

Hal ini sama seperti yang dikatakan Za’ba (2002) bahwa semenjak orang Melayu belum tahu surat menyurat mereka telah pandai berpantun dan biasa berbalas-balas pantun. Sejalan dengan ini Soetarno (2008:20) juga mengatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat Melayu sehari-hari, pantun merupakan sastra lisan yang paling populer.

(49)

Sejak dahulu hingga kini kehidupan manusia dalam keseharian sebenarnya sudah dikepung puisi. Bentuk puisi yang paling populer dalam sastra lisan Melayu adalah pantun. Dalam kehidupan masyarakat Melayu pantun digunakan oleh setiap kalangan, tua–muda, lelaki-perempuan, kaya–miskin, pejabat-rakyat biasa.

Pantun juga merupakan alat yang digunakan oleh masyarakat Melayu untuk mengungkapkan pikiran dengan jalan bahasa bersajak, bahasa pantun jauh lebih sukar, karena seringkali pikiran itu harus diringkaskan, diibaratkan, atau diajuk dan sindirkan oleh karena itu pula bagi orang yang memiliki pengetahuan dan keindahan dalam jiwanya, pantun lebih indah rasanya, karena lebih tajam dan dalam maknanya. Sesungguhnya dalam pantun banyak tersembunyi rahasia bahasa Melayu. Melalui pantun itulah tergambar bagaimana sifat, pikiran, dan perasaan orang Melayu.

(50)

Dari sekian banyak puisi lama yang dimiliki masyarakat Melayu, pantun merupakan salah satu yang masih dapat bertahan lama hingga hari ini. Walau keberadaannya tidak dapat diperkirakan sampai kapan, paling tidak sampai sekarang pantun masih dapat kita dengar dan saksikan dalam berbagai acara, misalnya pada acara pernikahan orang Melayu, dari mulai merisik sampai ke acara ijab kabul. Kemudian pantun juga bisa kita saksikan pada tayangan TVRI dan TV Swasta yang mengambil topik kedaerahan. Demikian juga dengan siaran radio dan media cetak selalu menyediakan kolom khusus untuk pantun.

Selain hal-hal yang menggembirakan di atas, ada juga perasaan sedih melihat perkembangan pantun. Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Dengan perjalanan waktu, hidup mengalami perubahan antara satu dengan yang lain saling pengaruh menpengaruhi, tak terkecuali dalam hal kebudayaan. Puisi sebagai hasil kebudayaan akan selalu berubah dan berkembang sejalan dengan perubahan dan perkembangan masyarakat yang menghasilkan kebudayaan itu. Demikian juga halnya dengan pantun yang sedikit banyak terkena bias perubahan, perubahan itu dapat dilihat dari perkembangan pergaulan anak-anak muda sekarang. Dalam senda gurau mereka selalu juga menggunakan pantun, tapi lebih kepada pantun kilat yang sudah tidak lagi memperhatikan kaidah-kaidah pantun yang biasa, seperti terlihat di bawah ini;

Jauh kali di tengah payau Entahlah yau………

Atau

(51)

Pantun kilat disebut juga dengan karmina adalah pantun yang terdiri atas dua larik. Larik pertama merupakan sampiran dan larik kedua adalah isi. Adapun ciri-ciri pantun kilat (karmina) adalah (1) larik pertama berupa sampiran, (2) jeda larik ditandai koma (,), (3) sajak akhirnya lurus (a-a), (4) larik kedua merupakan isi. Ikatan pantun kilat atau karmina sama seperti ikatan pantun, hanya lariknya lebih singkat, yaitu terdiri atas 4-6 kata, maka disebut pantun kilat.

Dua buah pantun kilat, di atas kiranya mementingkan kesamaan bunyi, tanpa memperhatikan perkataan dan suku kata dalam tiap barisnya atau dari segi bentuk maupun jumlah baris tidak berketentuan, tetapi dari segi penyampaian masih tetap menggunakan irama pantun walaupun sumbang.

Mengapa hal ini dapat terjadi pada pantun? Jangankan pantun yang masih merupakan salah satu bahasa, bahasa itu sendiri terus mengalami perkembangan, seperti bahasa gaul dan bahasa prokem.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, peneliti mencoba untuk masuk ke dalam rahasia pantun lisan lama yang telah dituliskan, karena menurut peneliti pantun tertulis ini masih dapat dijamin bentuknya, masih mengikuti kaidah-kaidah yang mengatur pantun. Walaupun demikian ada beberapa pantun, yang merupakan pantun lisan masa kini. Hal ini penulis lakukan untuk melihat secara faktual situasi langsung dari peristiwa berpantun.

(52)

muda. Berdasarkan isi, pantun terdiri atas pantun anak-anak (PAA), pantun orang muda (POM), dan pantun orang tua (POT). Pantun pada mulanya adalah senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan (Fang, 1993 : 14). Pantun lahir sebagai akibat kesenangan orang – orang Melayu memakai kata-kata yang sebunyi dan sugestif (Wiana,2004 : 2).

(53)

sosial, dan hubungan darah.. Sesuai sumber data yang diambil pada masa kini, pemakaian pantun dalam masyarakat masih ada, misalnya seorang pejabat negara dalam pidato resminya atau seorang khatib sedang berkhutbah menyelipkan pantun di antara fatwa dan ceramah agama yang disampaikan, demikian pula dalam acara perkawinan seorang telangkai menyampaikan nasihatnya melalui pantun. Artinya pantun masih ada dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Melayu. Di mana saja, kapan saja dan dapat dibawakan siapa saja, tanpa melanggar tabu. Yang keenam, pantun berperan memelihara bahasa, fungsi kata, dan menjaga alur berpikir. Artinya, pantun dapat melatih seseorang untuk berpikir asosiatif, yakni dengan mengaitkan suatu kata dengan kata lain. Pantun bukan sekadar permainan bunyi atau kata-kata, tetapi juga ditujukan pada pikiran kita. Hal ini berkaitan dengan logika. Dengan kata lain di dalam pantun berlangsung fungsi atau makna logis. Seseorang mungkin menggunakan pantun yang di tingkat permulaan tidak ada artinya, tetapi jika dipahami akan ditemukan makna pantun itu.

(54)

dalam pantun dan bagaimana implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang (disingkat PMDS).

Penelitian mengenai pantun menggunakan teori sastra telah banyak dilakukan seperti kajian estetika yang hanya mengungkap keindahan karya sastra, seperti pantun, estetika dan stilistika yang hanya melihat gaya saja. Memandangkan bahwa hubungan logis dapat dikaji, untuk itu peneliti mamilih judul kajian pantun dengan teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). Untuk mencari fungsi dan implikasi makna logis PMDS.

Alasan kedua mengapa penelitian ini perlu dilakukan adalah kondisi masyarakat yang sedang berkembang terhadap pencerobohan dalam penggunaan bahasa Indonesia bahwa dengan bentuk nyata pencampuran pemakaian kata asing dengan bahasa Indonesia dan ketidaktaatan dalam kaidah pemakaian bahasa Indonesia, pelecehan juga terjadi dalam penggunaan pantun. Orang awam menganggap bahwa kalau digunakan kata bersajak dan bertaut dalam kesamaan bunyi sudah dianggap berpantun. Kenyataannya ini memicu perlunya perspektif linguistik.

Peneliti memilih judul ”Fungsi dan Implikasi makna logis Pantun Melayu Deli dan Serdang”. Kajian tentang Fungsi logis perlu dilakukan untuk menilai makna pantun. Pantun Melayu Deli dan Serdang perlu dipertahankan agar tetap memiliki makna yang santun dan tetap bersajak ab-ab , dan terdiri atas empat baris setiap satu bait. Pantun Melayu Deli dan Serdang mempunyai persamaan, dan dari segi sejarah Melayu Deli dan Serdang juga mempunyai hubungan yang sangat dekat, dan yang paling penting mempunyai adat istiadat yang sama.

(55)

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, maka penulis mencoba mengangkat pantun berdasarkan isisnya, khususnya makna logis. Masalah inti dalam disertasi ini terdiri atas sebagai berikut :

(1) Bagaimanakah fungsi logis direalisasikan pada PMDS? (2) Pola fungsi logis apakah yang digunakan dalam PMDS? (3) Mengapa fungsi logis terjadi di dalam PMDS?

(4) Bagaimanakah implikasi makna logis dalam PMDS dalam konteks sosial?

Permasalahan itu kemudian diuraikan secara khusus, sebagai berikut. Pertama masalah yang berkaitan dengan fungsi logis yang direalisasikan pada konstruksi. Klausa kompleks yang terdapat pada PMDS, yang terdiri atas PAA, POM, dan POT dibatasi pada:

(1) Hubungan logis dalam Sampiran (1)-(2) dan Isi (3)-(4), dan hubungan logis Sampiran dan Isi (1)-(3), dan (2)-(4).

(2) Sifat hubungan logis Eksplisit atau Implisit Sampiran (1)-(2) dan Isi (3)-(4). Selanjutnya sifat hubungan logis Eksternal atau Internal (1)-(3) dan (2)-(4) Sampiran dan Isi.

(56)

1.3Tujuan penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menggali bentuk wacana budaya Melayu Deli dan Serdang, yang sampai saat ini masih terpelihara dan masih digunakan oleh masyarakat Melayu Deli dan Serdang, yaitu pantun. Kajian ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk pemertahanan budaya daerah (lokal) sebagai bagian dari kebudayaan Nasional.

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan di atas, yaitu :

(1) Bagaimanakah fungsi logis direalisasikan pada PMDS? (2) Pola fungsi logis apakah yang digunakan dalam PMDS? (3) Mengapa fungsi logis terjadi di dalam PMDS?

(4) Bagaimanakah implikasi makna logis PMDS dalam konteks sosial? Permasalahan besar itu kemudian diuraikan secara khusus, sebagai berikut. Pertama masalah yang berkaitan dengan fungsi logis yang direalisasikan pada kontruksi, klausa kompleks yang terdapat pada PMDS, yang terdiri atas PAA, POM, dan POT dibatasi pada

(1) Hubungan logis dalam Sampiran (1)-(2) dan Isi (3)-(4), dan hubungan logis Sampiran dan Isi (1)-(3), dan (2)-(4).

(57)

Kedua penelitian ini melihat fungsi logis yang dominan pada PMDS yang terdiri atas PAA, POM, dam POT, kemudian penelitian ini menganalisis implikasi makna logis, melalui Proses dan Sirkumstan. Ketiga menganalisis faktor penyebab terjadinya fungsi logis dalam PMDS. Keempat menganalisis pantun berdasarkan konteks sosial melalui pantun lisan. Konteks sosial mengacu kepada segala sesuatu di luar yang tertulis atau terucap, yang mendampingi bahasa atau teks dalam peristiwa pemakaian bahasa atau interaksi sosial. Konteks sosial terdiri atas tiga unsur, yaitu konteks situasi, konteks budaya, dan konteks ideologi. Dalam kajian ini hanya melihat konteks situasi dan konteks budaya.

1.4 Lingkup Kajian

Penelitian ini memfokuskan perhatian pada Fungsi dan Implikasi makna logis pada PMDS, dengan beberapa lingkup kajian sebagai berikut :

Pertama analisis dilakukan pada PMDS, yang terdiri atas PAA, POM, dan POT dengan menerapkan 10 fungsi logis, peneliti menganalisis, hubungan logis dalam Sampiran (1)-(2) dan Isi (3)-(4). Kemudian menganalisis hubungan logis Sampiran (1)-(3) dan isi (2)-(4). Fungsi logis pada PMDS tidak semua nyata maka analisis juga dilakukan terhadap sifat hubungan logis, yang terdiri atas Eksplisit atau Implisit Sampiran (1)-(2) dan Isi (3)-(4), dari sifat hubungan logis Eksternal atau Internal (1)-(3) - (2)-(4) sampiran dan isi.

(58)

Kemudian menganalisis implikasi makna logis, melalui Proses dan Sirkumstan.

Ketiga menganalisis faktor penyebab terjadinya fungsi logis dalam PMDS. Keempat menganalisis konteks sosial, yaitu konteks situasi terhadap pantun lisan.

1.5Manfaat atau Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis kajian ini diharapkan dapat menambah khasanah analisis yang menggunakan objek kajian sastra tulisan lisan dan dengan teori LSF dalam sastra bahasa percontohan bahasa Melayu Deli dan Serdang. Selanjutnya temuan kajian ini dapat memverifikasi sifat LSF yang intruder, maksudnya adalah teori LSF dapat menganalisis semua bidang ilmu apabila bidang ilmu tersebut menggunakan bahasa.

Secara praktis temuan kajian ini akan bermanfaat untuk :

(1) menunjang pelaksanaan program pemerintah, khususnya program kajian langka Dikti 2009-2014 Mendikbut dalam upaya melestarikan tradisi lisan, di Indonesia, dan pantun, sebagai salah satu kajian langka di Indonesia, (2) melestarikan PMDS, agar tidak punah sebagai alat komunikasi pergaulan,

baik dalam situasi formal maupun nonformal, dan dengan nilai kearifan yang terkandung di dalamnya,

(59)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA / KERANGKA TEORETIS

2.1 Teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF)

Teori yang digunakan dalam disertasi ini adalah teori LSF yang dikemukakan oleh Halliday (1985, 1994), Saragih (2006), dan Sinar (2008) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia.

Sinar (2008 : 14) mengatakan bahwa bahasa atau teks selalu berada pada pemakaiannya. Saragih pada (2007 : 1) mengatakan secara historis teori ini dikembangkan oleh Halliday (2004), dan para pakar lainnya, seperti Martin (2003), Halliday dan Mattiessen (2001), Kress (2002). Teori LSF ini berkembang di Inggris, tetapi perkembangan yang sangat pesat terjadi di Australia di University of Sydney. Sejak Departemen Linguistik dibuka pada tahun 1976.

Sinar (2003 : 14) mengatakan bahwa istilah ’Teori Linguistik’ mempunyai dua implikasi. Implikasi pertama analisis wacana harus menggunakan teori yang memiliki kerangka penelitian analisis wacana dalam konteks linguistik dengan mengikuti prinsip-prinsip teori LSF. Kedua, investigasi fenomena analisis wacana mengisyaratkan pemilihan pendekatan bahasa yang secara interpretatif bersifat semiotik, tematis, dan antardisiplin.

(60)

diinvestigasi melibatkan sistem-sistem makna. Sistem-sistem tersebut mendasari analisis bahasa, baik yang berada di belakangnya, di bawahnya, di atasnya, di sekelilingnya, atau di seberang fenomena yang sedang diinvestigasi.

Istilah Fungsional mengimplikasikan tiga hal pula. Ketiga hal tersebut menekankan bahwa analisis wacana memberi perhatian pada realisasi fungsional sistem dalam struktur-struktur dan pola-pola yang secara struktur bersifat horizontal dan sintagmatis. Perhatian juga difokuskan pada fungsi-fungsi atau makna yang terdapat pada bahasa tersebut dan fungsi-fungsi atau makna-makna yang beroperasi di dalam tingkat dan dimensi yang bervariasi dalam bahasa yang bersangkutan.

Menurut Saragih (2007 : 1-6) pendekatan fungsional memiliki tiga pengertian yang saling berhubungan. Pertama, pendekatan fungsional berpendapat bahwa bahasa terstruktur berdasarkan fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, bahasa terstruktur berdasarkan tujuan penggunaan bahasa, Halliday dan Hasan (1976:1) mengatakan bahwa teks adalah unit dari penggunaan bahasa. Bahasa yang digunakan untuk suatu fungsi atau tujuan disebut teks. Jadi dengan pengertian pertama ini, teks berbeda-beda sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

(61)

kuantitatif. Perbedaan kualitatif maksudnya adalah apabila dalam dua teks yang berbeda tujuannya, pemunculan aspek tata bahasa terjadi pada satu teks, sementara dalam teks yang satu lagi aspek tata bahasa tidak muncul. Perbedaan kuantitatif menunjukkan bahwa tingkat probabilitas pemunculan aspek tata bahasa lebih tinggi dari pada teks yang satu lagi, (Saragih, 2007 : 2).

Gambar

Figura 2.1 Bahasa dan Konteks Sosial Saragih (2003 : 3; Martin 1984)
Figura 2.2 Hubungan Konteks Sosial Dengan Bahasa (Martin 1992 : 494)
Figura 2.3  Realisasi Metafungsi dalam Semiotik Pemakaian Bahasa (Saragih, 2010 : 41)
Tabel 2.1: Metafungsi dan Refleksinya dalam Tata Bahasa  (Halliday, 2004 : 61)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan diksi dan makna yang terkandung pada kumpulan pantun Adat Istiadat Perkawinan Melayu Karya Tamrin

Manfaat penelitian adalah untuk memberi sumbangan secara teoritis tentang berbagai bentuk pakaian - pakaian adat Melayu Deli tersebut, dan menambahkan wawasan dan

ini pada awalnya adalah satu, dan Serdang tak lebih dari pecahan Kesultanan Deli. Di dalam penelitian ini penulis akan akan membahas tentang fungsi

dilengkapi dengan kopiah, kain samping yang terbuat dari kain tenunan

Penelitian Lembaga Adat Melayu Deli Riau Lpnu Pers.. Husny,

Selanjutnya gagasan dan fungsi pantun dalam prosesi perkawinan budaya adat melayu Deli adalah gagasan yang terkandung di dalam pantun pembuka kata di atas adalah

Ciri dan warna pada ornamen rumah Melayu lontiok menggambarkan kehidupan dan kepribadian sehari-hari masyarakat Melayu yang kental dengan adat istiadat yang harus

Ciri dan warna pada ornamen rumah Melayu lontiok menggambarkan kehidupan dan kepribadian sehari-hari masyarakat Melayu yang kental dengan adat istiadat yang harus