Analisis kebijakan publik pada undang-undang pornografi komisi VIII DPR RI dalam perspektif model rasional komprehensif

158  Download (0)

Teks penuh

(1)

MODEL RASIONAL KOMPREHENSIF

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Saraja Ilmu Komunikasi (S.Kom.I)

Disusun Oleh:

DWI ILHAMI

NIM. 107051002563

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

MODEL RASIONAL KOMPREHENSIF

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Saraja Ilmu Komunikasi (S.Kom.I)

Disusun Oleh:

DWI ILHAMI NIM. 107051002563

Dibawah Bimbingan

DR. Fatmawati, M.Ag NIP. 19760917 200112 2 002

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

Skripsi berjudul ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK PADA UNDANG-UNDANG PORNOGRAFI KOMISI VIII DPR RI DALAM PERSPEKTIF MODEL RASIONAL KOMPREHENSIF telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada tanggal 14 Juni 2011. skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Jakarta, 14 Juni 2011

Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Drs. Jumroni, M.Si Umi Musyaroffah, MA

NIP. 1963 0515 1992031006 NIP. 19710816 199703 2002

Penguji I Penguji II

Gun Gun Heryanto, M.Si DR. Suhaimi, M.Si NIP. 19760812 200501 1 005 NIP. 19670906 199403 1002

Pembimbing

(4)

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya saya

atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 30 Mei 2011

(5)

i Dwi Ilhami

Analisis Kebijakan Publik pada Undang-Undang Pornografi Komisi VIII DPR RI dalam Perspektif Model Rasional Komprehensif

DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) sebagai lembaga pembuat kebijakan sering sekali melalaikan aspek substansi dari pada aspek kepentingan. Maka, tidak jarang kebijakan yang dibuat dalam hal ini undang-undang banyak menuai kontroversi. Komunikasi kebijakan sebagai bagian dari kegiatan politik yang dilakukan justru tidak efektif, hal ini terbukti dengan kontroversi RUU APP (Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang berubah menjadi Rancangan Undang-Undang Pornografi pada tahun 2008. Konflik pro dan kontra tidak dapat terelakan, massa dari kedua kubu sama-sama menyuarakan aksinya secara eksplosif, tetapi kemudian DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) tetap melanjutkan pembahasan undang-undang tersebut meskipun kontroversi terjadi. Undang-Undang Pornografi tetap disahkan dan kontroversi tidak berhenti pula hingga kini.

Kemudian timbul pertanyaan bahwa bagaimana sebenarnya komunikasi politik memandang Undang-Undang Pornografi ini sebagai studi kebijakan publik? dan bagaimana pula langkah-langkah yang dilakukan dalam komunikasi kebijakan melalui Model Rasional Komprehensif?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, dapat dijelaskan bahwa komunikasi kebijakan yang dilakukan mencakup opini kebijakan sebagai proses penggambaran penyajian cara-cara alternatif dari opini rakyat, massa, dan kelompok yang diperhitungkan oleh pemegang jabatan dalam membentuk kebijakan pemerintah. Langkah-langkah alternatif yang ditempuh secara “rasional” dalam memilih alat yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang dinyatakan dan “komprehensif” dalam mempertimbangkan setiap faktor yang relevan dengan setiap pilihan.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konseptualisasi dari Komunikasi Politik, Kebijakan Publik, Teori Komunikasi Kebijakan (Model Rasional Komprehensif), dan Hubungan Opini Publik dan Kebijakan Publik dalam menganalisis Undang-Undang Pornografi sebagai studi komunikasi kebijakan publik.

Metodologi penelitian ini adalah metodologi kualitatif deskriptif dimana dalam menjawab permasalahan penelitian dikaji secara mendalam dan menyeluruh mengenai obyek yang diteliti, guna menghasilkan kesimpulan-kesimpulan penelitian dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan. Dalam penelitian mengenai proses kebijakan publik ini diperlukan pengungkapan informasi secara mendalam.

(6)

ii

مــــــــيِحَّلا ِنــــــــَمْحَّلا ِهــــــــَّلا ِمــــــــْسِب

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah

SWT atas segala nikmat dan karunia yang diberikan, sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada suri tauladan umat

Rasulullah SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang tetap istiqomah di

jalan Allah dan Rasul-Nya hingga yaumil akhir nanti. Skripsi yang berjudul “Analisis

Kebijakan Publik pada Undang-Undang Pornografi Komisi VIII DPR RI dalam

Perspektif Model Rasional Komprehensif” ini dibuat untuk memenuhi gelar Sarjana

Ilmu Komunikasi Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, oleh

karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan,

sehingga dapat terwujud karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada

pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua saya (Keluarga Besar Ustadz Drs. Sudarsono dan Budi

Suswanti), tempat limpahan kasih sayang yang rela mengerahkan segala

kekuatan demi meraih cita-cita anak-anaknya. Sekaligus atas doa, motivasi,

dan bantuannya baik secara moril maupun materil.

2. Bapak Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Bapak

Prof. Komarudin Hidayat.

3. Bapak Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Bapak Dr. H.

(7)

iii

5. Ibu Fatmawati Amir, Dosen Pembimbing atas bimbingan, nasehat serta

semangatnya kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Maaf ya bu atas

waktu yang sedikit tersita...

6. Bapak Ahmad Zainuddin Lc (Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI), atas waktu

dan informasinya dalam merampungkan skripsi ini. Terima kasih pak telah

menyita waktunya.

7. Pak Adi (Staf Ahli Bapak Ahmad Zainuddin) atas doa, semangat dan

bantuannya dalam mendapatkan informasi yang saya butuhkan.

8. Alm. Ibu Yoyoh Yusroh (Komisi I DPR RI) atas waktu dan informasinya

bu...semangat dan perjuangan ibu tidak akan pernah padam untuk wanita dan

anak-anak.

9. Dosen-dosen pada mata kuliah yang ada di jurusan Komunikasi Penyiaran

Islam, atas bimbingan dan pengetahuannya.

10. Kakak Siti Rubi Adni beserta Kak Asnawi yang selalu memberikan dukungan

dan semangat pantang menyerah.

11. Adik-adik saya Muhammad Arba Syuhada dan Mutiah Marsitoh Sudaryanti

yang mau mengalah untuk kakak tercinta.

12. Muhammad Hasbi Istaufa, keponakan ku imut dan lucu yang memberikan

energi baru dalam kehidupan keluarga besar kami.

13. Sahabat sekaligus kakak terbaik Kak Handri dan Kak Stefanus Pratama M

(Nenes), atas motivasi, semangat doa nya selalu untuk adik mu ini.

14. Teman-teman KPI 7 B, atas kebersamaan, dukungan serta perjuangannya

(8)

iv

16. Semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini dengan tidak

mengurangi rasa hormat, tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga Allah membalas kebaikannya dan semoga karya ini bermanfaat bagi

pembaca untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menjadikan kajian ini

menambah khasanah ilmu kita. Amin.

Jakarta, Mei 2011

(9)

v

ABSTRAK ...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...v

DAFTAR TABEL ...vii

DAFTAR GAMBAR ...viii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Metodologi Penelitian ... 7

E. Metode Penelitian ... 7

1. Subjek dan Objek Penelitian ... 8

2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 8

3. Teknik Pengumpulan Data ... 8

4. Teknik Analisis Data ... 9

F. Tinjauan Pustaka ... 9

G. Kerangka Teori ...13

H. Pedoman Penulisan ... 14

I. Sistematika Penulisan ...14

BAB II TINJAUAN TEORITIS ... 16

A. Komunikasi Politik ...16

(10)

vi

BAB III GAMBARAN UMUM DPR RI ………....…...39

A. Sejarah DPR RI ...39

B. Visi dan Misi DPR RI ...41

C. Keanggotaan DPR RI Periode 2009-2014 ...43

D. Tugas dan Wewenang DPR RI ...48

E. Hak dan Kewajiban DPR RI ...50

F. Masa Sidang dan Masa Reses DPR RI ...52

G. Mekanisme Kerja DPR RI ...57

H. Pengambilan Keputusan DPR RI ...58

I. Pembuatan Undang-Undang (UU) ...59

J. Komisi VIII DPR RI ...67

K. Harapan terhadap Fungsi Legislasi DPR RI ...69

BAB IV ANALISIS DAN TEMUAN ……….….. 71

A. Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Pornografi ...71

B. Undang-undang Pornografi sebagai Kebijakan Publik Komisi VIII DPR RI ...74

C. Implementasi Model Rasional Komprehensif ...81

D. Perkembangan dan Penerapan Undang-undang Pornografi ...94

BAB V PENUTUP ……….……99

A. Kesimpulan ...99

(11)

vii

Tabel 2.1 Klasifikasi Aktor Politik beserta Wewenangnya ...26

Tabel 3.1 Struktur Kepemimpinan ...43

Tabel 3.2 Jumlah Kursi DPR Berdasarkan Fraksi ...44

Tabel 3.3 Alat Kelengkapan DPR ...45

Tabel 3.4 Pengusul RUU Pada Periode 2004-2009 ...60

Tabel 3.5 Tingkat Pembahasan RUU dari Pemerintah ...62

Tabel 3.6 Tingkat Pembahasan RUU dari Inisiatif DPR ...65

Tabel 3.7 Keanggotaan Komisi VIII ...68

Tabel 3.8 Sekretariat Komisi VIII ...68

Tabel 3.9 Laporan Kerja Komisi VIII ...69

(12)

viii

Gambar 2.1 Proses Opini Publik Menjadi Sebuah Kebijakan ...36

Gambar 2.2 Proses Kebijakan sebagai Input dan Output ...37

Gambar 3.1 Skema Persidangan DPR ...53

Gambar 3.2 Prosedur Pendelegasian Aspirasi Masyarkat ...57

(13)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menjalani kehidupan sebagai warga negara tidak terlepas dari segala aturan

yang merupakan kewenangan dari pihak yang memiliki otoritas. Output dari

kewenangan tersebut adalah sebuah kebijakan yang harus dijalankan oleh

masyarakat. Pemerintah sebagai lembaga yang memiliki otoritas membuat suatu

kebijakan sangatlah penting jika kebijakan tersebut melihat kepentingan

masyarakat umum dengan baik.

Aturan perundang-undangan dibuat guna untuk menjaga ketertiban dan

keamanan masyarakatnya dalam kehidupan bernegara. Merumuskan sebuah

undang-undang harus memperhatikan proses yang berlangsung, banyaknya

kepentingan dalam sebuah proses politik juga menjadi hal yang harus

dipertimbangkan agar undang-undang tersebut mencakup berbagai aspek

kepentingan secara proposional.

Undang-undang sebagai produk dari suatu kebijakan publik dirasa perlu

untuk diteliti karena melihat selama ini setiap kebijakan publik yang dibuat oleh

pemerintah terkadang kurang memperhatikan aspirasi masyarakat yang

seharusnya menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan publik. Hasil

dari kebijakan publik itu sendiri nantinya akan dirasakan pula oleh masyarakat

(14)

dikarenakan studi mengenai kebijakan publik ini adalah kebijakan publik

memiliki sasarannya yaitu masyarakat.

Hal mengenai kebijakan publik merasa perlu untuk diteliti karena melihat

selama ini setiap kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah terkadang kurang

memperhatikan aspirasi masyarakat yang seharusnya menjadi pertimbangan

dalam merumuskan kebijakan publik. Hasil dari kebijakan publik itu sendiri

nantinya akan dirasakan pula oleh masyarakat sebagai sasaran suatu kebijakan.

Alasan lain mengapa tema mengenai kebijakan publik ini diambil dikarenakan

studi mengenai kebijakan publik ini adalah kebijakan publik memiliki sasarannya

yaitu masyarakat.

Bagi negara-negara yang menganut pemerintahan demokrasi seperti

Indonesia, kebijakan yang diambil oleh pemerintah berupa undang-undang untuk

kepentingan umum selalu memperhatikan suara dan kehendak rakyat. Umumnya

kebijakan publik berkaitan erat dengan pendapat-pendapat yang disampaikan oleh

orang-orang yang memiliki perhatian yang tinggi dan juga aktif secara langsung

dalam aktivitas politik dibanding dengan orang-orang yang tidak punya perhatian

atau bersikap pasif.

Kebijakan publik merupakan keputusan politik yang dikembangkan oleh

badan dan pejabat pemerintah. Dalam hal ini DPR RI sebagai lembaga otoritas

membuat suatu kebijakan. Fungsi DPR RI sebagai lembaga suprastuktur dari

sebuah kegiatan politik merupakan tanggung jawab yang diberikan melalui

perwakilan rakyat yang mereka emban.

Lembaga negara seperti DPR RI melaksanakan fungsi legislatifnya, selalu

(15)

mengalami posisi yang menjadi pusat perhatian dari seluruh masyarakat.

Kebijakan publik yang sering sekali mereka buat selalu mengundang kontroversi

baik yang menolak atau pun menerima kebijakan tersebut, hal ini dapat terlihat

dari opini publik yang berkembang dimasyarakat. Baik diketahui melalui media

massa yang meliput suara publik maupun lembaga-lembaga non pemerintah

seperti lembaga swadaya masyarakat yang menyampaikan aspirasinya kepada

DPR RI.

Fungsi DPR selaku badan legislatif lebih mengarah sebagai evaluator

daripada pihak yang melakukan monitoring. Padahal sebagaimana disebutkan tadi,

kegiatan monitoring merupakan langkah awal untuk mencapai proses evaluasi

yang sesuai dan mengarah pada tujuan kebijakan. Tampaknya di beberapa

lembaga tinggi negara di Indonesia, kegiatan monitoring belum dilakukan secara

khusus, namun disamakan dengan proses pengumpulan data yang dilakukan

sebagai bagian dari proses evaluasi kebijakan.

DPR RI sebagai lembaga negara yang memiliki wewenang membuat suatu

kebijakan, sering sekali langkah yang diambil cenderung tidak memihak kepada

rakyat, sebagai salah satu contohnya ketika DPR RI Komisi VIII yang menangani

bidang sosial, agama dan pemberdayaan perempuan membuat Undang-Undang

Pornografi yang sempat menjadi polemik dan kontroversi dari berbagai pihak

maupun kepentingan, maka hal tersebut merupakan faktor yang harus

diperhatikan untuk mampu merumuskan suatu kebijakan yang mana harus

mendengarkan pendapat dari publik yang berpolemik tersebut dan hal ini

(16)

Komisi VIII dalam hal ini merupakan bagian dari DPR RI yang juga aktif

membuat kebijakan terutama kebijakan dalam bidang sosial, agama, maupun yang

paling sensitif yaitu bidang pemberdayaan perempuan. Komisi VIII inilah yang

bidangnya secara khusus dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama kalangan

masyarakat bawah yang sarat dengan berbagai konflik kehidupan yang menjadi

sasaran tepat dalam sebuah kebijakan publik yang diatur oleh lembaga otoritas.

Dalam Komisi VIII bidang sosial merupakan aspek yang sering menjadi polemik,

dikarenakan peraturan perundang-undangan bidang sosial memiliki dampak yang

paling besar dalam merumuskan kebijakan.

Salah satu produk dari kebijakan publik Komisi VIII DPR RI adalah

Undang-undang Pornografi yang pada awalnya Rancangan Undang-undang Anti

Pornografi dan Pornoaksi. Undang-undang ini disahkan menjadi undang-undang

dalam Sidang Paripurna DPR pada tanggal 30 Oktober 2008, setelah melalui

proses yang cukup panjang dan alot. Pada mulanya undang-undang ini sudah

diajukan semenjak tahun 1997 di DPR, namun dalam perjalanannya draf RUU

APP terus mengalami tarik ulur karena banyaknya kepentingan. Kita menyadari

pada saat bergulirnya undang-undang ini mendapat banyak sekali kontroversi

yang terjadi. Banyak yang menyetujui, dan tidak sedikit pula yang menolak dari

awal pembentukannya hingga disahkan menjadi undang-undang.

Bagian yang menjadi kontroversi pada Undang-undang Pornografi ini

adalah mengenai isi pasal RUU APP yang disatu sisi dianggap

mendiskriminasikan dan disisi lain dianggap sebagai sesuatu yang harus

diperjuangkan. Kelompok-kelompok yang mendukung antara lain, MUI, ICMI,

(17)

dari aktivis perempuan (feminisme), seniman, artis, budayawan, dan akademisi. Jika aspirasi kedua kelompok tersebut tidak dijembatani oleh DPR RI selaku

pembuat kebijakan, maka bisa saja pertikaian terjadi diantara kelompok-kelompok

yang berseberangan. Pada akhirnya, kebijakan publik yang dibuat oleh DPR RI

Komisi VIII ini harus melakukan proses secara baik, agar kebijakan tersebut tidak

menjadi berat sebelah. Berdasarkan latar belakang di atas, saya tertarik untuk

meneliti masalah kebijakan publik melalui Undang-undang Pornografi, dan

penelitian ini diberi judul Analisis Kebijakan Publik pada Undang-undang Pornografi Komisi VIII DPR RI Bidang Sosial dalam Perpektif Model Rasional Komprehensif.”

B. Batasan dan Rumusan Masalah

Meskipun banyak perumusan kebijakan publik yang ditangani oleh Komisi

VIII DPR RI yang mencakup bidang sosial, agama dan pemberdayaan perempuan,

namun skripsi ini hanya membahas bidang sosial saja. Dalam bidang sosial pun

juga banyak sekali permasalahan yang dibahas, seperti kebijakan publik mengenai

penanganan fakir miskin, Program Keluarga Harapan (PKH), pornografi dan

pornoaksi, serta kelompok usaha bersama, namun yang menjadi batasan hanyalah

pada satu permasalahan saja, yaitu mengenai pornografi dan pornoaksi yang

diimplementasikan melalui kebijakan publik dalam Undang-undang Pornografi.

Mengetahui bagaimana proses pembuatan kebijakan itu dibuat, serta membatasi

permasalahan pada penetapan masalah, tujuan dan cara, pencapaian hasil, dan

penilaian terhadap hasil dari suatu kebijakan dalam perspektif Komunikasi Politik.

Untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka masalah tersebut

(18)

1. Bagaimana perspektif Komunikasi Politik dalam memandang

Undang-Undang Pornografi yang dibuat oleh Komisi VIII DPR RI sebagai

kebijakan publik?

2. Apa saja yang menjadi langkah-langkah dari proses yang dilakukan

dalam komunikasi kebijakan melalui model Rasional Komprehensif

pada Undang-Undang Pornografi Komisi VIII DPR RI?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui perspektif Komunikasi Politik dalam

memandang Undang-Undang Pornografi yang dibuat oleh

Komisi VIII DPR RI sebagai kebijakan publik.

b. Untuk mengetahui langkah-langkah dari proses yang dilakukan

dalam komunikasi kebijakan melalui model Rasional

Komprehensif pada Undang-Undang Pornografi Komisi VIII

DPR RI.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat pada penelitian ini adalah:

a. Manfaat Teoritis

Penelitian ini erat kaitannya dengan mata kuliah komunikasi

terutama komunikasi politik, maka diharapkan dapat membantu

usaha pengembangan keilmuan tentang proses kebijakan publik

dalam sebuah lembaga negara, pada jurusan Komunikasi dan

(19)

b. Manfaat Praktis

Diharapkan dalam penelitian ini bermanfaat bagi para

pembuat kebijakan publik yang dalam hal ini adalah lembaga otoritas

baik pada tingkat eksekutif, dan legislatif, serta pihak lain dalam hal

ini masyarakat sebagai tujuan dari kebijakan publik itu sendiri.

D. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, dimana dalam menjawab permasalahan penelitian dikaji

secara mendalam dan menyeluruh mengenai obyek yang diteliti, guna

menghasilkan kesimpulan-kesimpulan penelitian dalam konteks waktu

dan situasi yang bersangkutan. Dalam penelitian mengenai proses

kebijakan publik ini diperlukan pengungkapan informasi secara

mendalam, terutama dalam prosesnya tersebut menyangkut

kepentingan masyarakat secara luas pula.

Desain yang digunakan adalah desain kualitatif deskriptif

berdasarkan tujuannya dimana penelitian ini ingin mengungkap fakta

gejala dari sebuah proses kebijakan publik, serta mampu memberikan

gambaran tentang suatu masyarakat atau suatu kelompok. Dan melalui

format penelitian studi kasus yang merupakan penelitian untuk

meneliti suatu proses dalam sebuah lembaga, yang dalam hal ini adalah

lembaga pemerintah DPR RI Komisi VIII dalam membuat suatu

(20)

2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah DPR RI Komisi VIII Bidang

Sosial, yakni Wakil Ketua Komisi VIII Ahmad Zainuddin, Lc, dan Ibu

Yoyoh Yusroh selaku Wakil Ketua Pansus Undang-Undang Pornografi

tahun 2008, dan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah

mengenai proses kebijakan publik berupa Undang-Undang Pornografi

yang dibuat oleh lembaga pemerintah dilihat dari segi prosesnya.

3. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Gedung Nusantara 1 dan 2

MPR/DPR-RI, Jl. Jend. Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, dan waktu penelitian

dilaksanakan pada bulan Februari – April 2011.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah dengan wawancara, dan dokumentasi.

a. Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan

penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka

antara si penanya dengan yang ditanya (responden) dengan

menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Wawancara dilakukan dengan narasumber Wakil

Ketua Komisi VIII Ahmad Zainuddin, Lc dan Ibu Yoyoh

Yusroh selaku Wakil Ketua Pansus Undang-undang Pornografi

tahun 2008.

b. Dokumentasi adalah pengumpulan data yang diperoleh dari

(21)

milik sendiri maupun data-data milik responden. Data agenda

rapat dalam proses pembahasan sebuah undang-undang

dibentuk, dalam hal ini Undang-undang Pornografi maupun

situs resmi dari DPR RI pada website www.dprri.go.id dan

www.jurnalparlemen.com

5. Teknik Analisis Data

Data temuan ditafsirkan dan disimpulkan melalui Model Rasional Komprehensif dalam Ilmu Komunikasi Politik yang memiliki ruang lingkup Langkah-langkah “rasional” dalam memilih alat yang paling efektif

untuk mencapai tujuan yang dinyatakan. Ia “komprehensif” dalam

mempertimbangkan setiap faktor yang relevan dengan setiap pilihan..1

Model Rasional Komprehensif membuat kebijakan memilih suatu pilihan,

mereka mengumpulkan dukungan dari lembaga-lembaga utama dan publik

melalui propaganda, pemimpin kelompok, prosedur pemaksaan dan

sebagainya.

E. Tinjauan Pustaka

Penelitian mengenai kebijakan publik dalam perspektif komunikasi politik

memang belum begitu banyak seperti penelitian komunikasi pada umumnya,

karena kebijakan publik merupakan tinjauan teori ilmu politik. Namun pada

proses pengambilan keputusan atau kebijakan mengacu kepada ilmu komunikasi,

seperti menyangkut opini publik melalui media massa.

1

(22)

Penelitian sebelumnya yang sudah mulai mengenai kebijakan publik, yakni

terdapat pada peneltian:

1. Januar Azhari, Pola Komunikasi Organisasi Nur Mahmudi sebagai

Walikota Depok dalam Implementasi Kebijakan Publik, KPI, 2007,

UIN Jakarta, mengungkapkan bahwa kebijakan publik yang telah dibuat

mampu diimplementasikan dan disosialisasikan kepada masyarakat

serta Nur Mahmudi Ismail selaku walikota Depok mengupayakan

bagaimana kebijakan publik tersebut bisa terlaksana dengan baik.

2. Nurrohimah, Kebijakan Moneter BI terhadap Pengelolaan Bank-Bank

Syariah di Indonesia, MD, 2009, UIN Jakarta, mengungkapkan bahwa

kebijakan moneter sebagai kebijakan publik merupakan sebuah

instrumen dalam menjalankan sebuah lembaga dengan melihat beberapa

indikator yang dibuat sendiri oleh lembaga tersebut, bukan sebagai

proses dalam mengambil sebuah kebijakan publik. Kebijakan moneter

dipandang sebagai sebuah kebijakan pola keteraturan dalam manajemen

sebuah lembaga pengelolaan sebuah bank.

3. Iril Pramadhana Waty, Wacana Kontroversi Undang-Undang Pornografi,

Jurnalistik (FIKOM), 2010, UNPAD, mengungkapkan bahwa adanya

upaya pembentukan opini publik terhadap wacana kontroversi

Undang-Undang Pornografi media massa, yang dalam hal ini adalah koran

Republika dan koran Media Indonesia. Penelitian tersebut dilakukan

berdasarkan isu kontroversi Undang-Undang Pornografi yang diangkat

menjadi tajuk koran tersebut, yang kemudian dianalisis melalui metode

(23)

wacana pada tingkat teks, kognisi sosial penulis, dan konteks sosial.

Hasil penelitian menunjukan mulai dari penggunaan kata, kesadaran

mental pembuat tajuk, hingga kekuasaan dan akses yang digunakan

kedua media merupakan hal yang disengaja dan merupakan upaya

pembentukan opini publik terhadap wacana kontroversi

Undang-Undang Pornografi.

4. Asharul Hakim, Konstestasi gagasan pluralisme dalam pembahasan

RUU Pornografi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 2010, UIN

Jakarta, yang mengemukakan bahwa pembahasan Undang-Undang

Pornografi sarat dengan polemik mengenai isu pluralisme, tidak hanya

itu saja tetapi dalam pembahasannya undang-undang tersebut bagi yang

kontra adalah suatu bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan

anak-anak.

Dari keempat penelitian sebelumnya di atas dapat diketahui bahwa memiliki

kesamaan pada penelitian ini, yaitu pada penelitian Januar memiliki kesamaan

pada tinjauan teori yang diungkap yakni mengenai kebijakan publik, namun kajian

kebijakan publik dalam konteks skrispsi tersebut lebih kepada hasilnya saja dari

kebijakan yang telah dibuat oleh seorang pejabat, dalam hal ini adalah Walikota

Depok. Peneliti tersebut sebenarnya lebih mengedepankan mengenai hal pola

komunikasi yang menghasilkan kebijakan publik. Tetapi untuk metodologi

penelitian memiliki kesamaan, yaitu menggunakan pendekatan kualitatif untuk

(24)

Seperti contohnya, salah satu kebijakan yang dibuat yakni dengan

meluncurkan buku statistik dan perkembangan kota depok sebagai wadah

birokrasi dan program.

Jelas penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitan yang dilakukan

pada proposal ini, yang lebih menekankan pada bagaimana proses sebuah

kebijakan publik dibuat. Terlebih lagi kebijakan publik bukan sebagai kebijakan

sosialisasi program dari sebuah pola komunikasi yang dijalankan.

Kemudian pada penelitian kedua, Nurrohimmah memiliki persamaan dalam

konteks kebijakan publik, namun dalam hal ini kebijakan publik yang diambil

adalah kebijakan publik yang berupa kebijakan moneter dalam kajian ilmu

manajemen.

Sama halnya dengan penelitian yang dibahas sebelumnya, penelitian ini

menggunakan pendekatan yang sama yaitu sama-sama melakukan penelitian

dengan pendekatan kualitatif dan melihat kebijakan publik sebagai sebuah alat,

bukan bagaimana kebijakan itu sendiri dibuat.

Selanjutnya pada penelitian Iril dan Asharul Hakim, memiliki persamaan

pada penelitian ini yaitu kajian objek mengenai Undang-Undang Pornografi. Yang

membedakan penelitian ini dari keduanya adalah penelitian ini menitikberatkan

pada UUP sebagai hasil negosiasi dan tarik ulur kepentingan dari sebuah

kebijakan melalui proses yang dilalui, sedangkan pada penelitian Iril, kajian

Undang-Undang Pornografi diteliti sebagai sebuah wacana dalam media massa

dalam membentuk opini publik melalui analisis wacana kritis model Teun A. Van

(25)

F. Kerangka Teori

Dalam kajian ilmu komunikasi politik, kebijakan publik merupakan bagian

dari konsep yang terdapat didalamnya. Komunikasi politik sangat diperlukan

mengomunikasikan sebuah kebijakan yang telah dibuat untuk menghubungkan

antara pemerintah dengan rakyatnya. Dengan kata lain, pemerintah mampu

menjalankan proses sosialisasi politik melalui kebijakan publik.

Kebijakan publik yang dibuat pun sebelum sampai kepada masyarakat,

dalam prosesnya memerlukan proses komunikasi untuk dapat mencapai

kesepakatan. Komunikasi yang dilakukan pun dalam lingkup komunikasi politik

dengan proses dan tahapan-tahapan tertentu. Proses dan tahapan-tahapan dari

suatu kebijakan publik dianalisis melalui teori komunikasi kebijakan. Komunikasi

Politik

Komunikasi Kebijakan Publik

DPR

(Lembaga Pembuat Kebijakan)

UUP (Undang-Undang

Pornografi) Analisis Komunikasi

Kebijakan Publik

(26)

G. Pedoman Penulisan

Pedoman penulisan ini menggunakan buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Nasuhi, Hamid dan kawan-kawan Jakarta: CeQDA, 2007.

H. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN, yang mencakup latar belakang masalah yang

diteliti, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat dari penelitian ini,

metodologi penelitian yang digunakan, tinjauan pustaka, pedoman, dan

sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN TEORITIS, yang terdiri dari Komunikasi Politik mencakup pengertian, konsep-konsep yang terkait dengan komunikasi politik,

supra struktur, infrastruktur politik, dan fungsi komunikasi politik. Kebijakan

publik yang mencakup pengertian, sifat-sifat kebijakan publik, faktor-faktor

yang mempengaruhi kebijakan, aktor kebijakan publik, dan proses kebijakan

publik. Teori Komunikasi Kebijakan (Model Rasional Komprehensif) yang

mencakup pengertian, langkah-langkah yang dibuat, dan faktor luar

komunikasi kebijakan. Kemudian Opini Publik dan Kebijakan Publik yang

mencakup pengertian, hubungan antara opini publik dan kebijakan publik, dan

skema opini publik serta kebijakan publik.

BAB III GAMBARAN UMUM, mencakup Sejarah DPR RI, Visi dan Misi

DPR RI, Keanggotaan DPR RI Periode 2009-2014, Tugas dan Wewenang

DPR RI, Hak dan Kewajiban DPR RI, Masa Sidang dan Masa Reses DPR RI,

(27)

Undang-Undang (UU), Komisi VIII DPR RI, dan Harapan terhadap Fungsi

Legislasi DPR RI.

BAB IV ANALISIS PERUMUSAN UNDANG-UNDANG PORNOGRAFI

SEBAGAI KEBIJAKAN PUBLIK KOMISI VIII DPR RI, mencakup Latar Belakang Undang-undang Pornografi, Undang-undang Pornografi

sebagai Kebijakan Publik Komisi VIII DPR RI. Implementasi Model Rasional

Komprehensif, Penetapan Masalah (Fokus Masalah) dalam merumuskan

Undang-undang Pornografi, Tujuan, Nilai dan Sasaran Undang-undang

Pornografi, Alternatif Kebijakan serta Konsekuensi Perumusan

Undang-undang Pornografi, Pengorbanan dan Keuntungan dari setiap Alternatif

Pemecahan Undang-undang Pornografi. Perkembangan serta Penerapan

Undang-undang Pornografi.

BAB V PENUTUP, mencakup simpulan tentang hasil penelitian dan saran.

(28)

16

Dalam menganalisis sebuah kebijakan publik diperlukan beberapa teori

yang menjadi rujukan dalam memahami konsep tersebut. Untuk itu hal yang

berkaitan dengan proses kebijakan publik diantaranya, yaitu:

A. Komunikasi Politik

Segala bentuk kegiatan manusia pastinya memerlukan komunikasi dalam

menjalankan kegiatannya tersebut. Komunikasi masuk di segala bidang, dan salah

satunya dalam kegiatan politik ini. Politik sendiri menurut Deliar Noer dapat

diartikan sebagai aktifitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan

yang bermaksud untuk mempengaruhi dengan jalan mengubah atau

mempertahankan suatu bentuk susunan masyarakat.1

Komunikasi dalam proses politik, dimaknai sebagai upaya-upaya

pembentukan kesepakatan. Kesepakatan dalam hal ini adalah berupa

kepentingan-kepentingan yang ada dalam segala proses politik, sehingga memerlukan

komunikasi untuk mampu mengartikulasikannya dalam mencapai kesepakatan

tersebut.

Gabriel A. Almond, menyatakan bahwa komunikasi politik adalah salah

satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. “All of the functions perfomed in the political system, political socialization and recruitment, interest

1

(29)

articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication are performed by means of communication.”2 Komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan-pesan yang terjadi pada saat keenam fungsi

lainnya itu dijalankan.

Konsep-konsep yang terkait dalam komunikasi politik, yaitu:

a. Negara (State)

Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai

kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.

b. Kekuasaan (Power)

Kekuasaan merupakan kemampuan seseorang atau kelompok untuk

mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan

keinginan dari pelaku.

c. Pengambilan Keputusan (Decision Making)

Pengambilan keputusan adalah proses membuat pilihan di antara

beberapa alternatif sehingga keputusan itu tercapai sebagai konsep

pokok dalam politik dalam menyangkut keputusan-keputusan yang

diambil secara kolektif dan mengikat seluruh masyarakat.

d. Kebijakan (Policy)

Kebijakan adalah kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang

pelaku atau kelompok politik dalam memilih tujuan-tujuan dan

cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

e. Pembagian (Distribution) atau Alokasi (Allocation)

2

(30)

Pembagian dan pengalokasian dari nilai (values) dalam masyrakat, seperti pembagian dalam jabatan publik.3

Dalam kehidupan berpolitik, komunikasi politik biasa dilakukan oleh level

pemerintah maupun orang-orang dalam lingkup kegiatan politik, yang mencakup

supra struktur politik dan infra struktur politik, yaitu:

a. Supra Struktur Politik

Supra struktur politik merupakan struktur politik pemerintah atau

struktur politik kenegaraan. Struktur ini meliputi kehidupan politik

pemerintahan (the governmental political sphere). Seperti, MPR, DPR, BPK dan MA, komunikasi yang dijalankan mencakup:

1. Seluruh kebijakan yang menyangkut kepentingan warga.

2. Upaya meningkatkan loyalitas dan integrasi nasional.

3. Penerapan aturan dan perundang-undangan untuk menjaga

ketertiban dan kehormatan dalam hidup bernegara.

4. Mendorong terwujudnya partisipasi masyarakat dalam mencapai

tujuan nasional.

b. Infra Struktur Politik

Infra struktur politik merupakan struktur politik kemasyarakatan.

Berkenaan dengan suasana kehidupan politik rakyat (socio political sphere) yakni berkaitan dengan pengelompokan warga negara dan anggota masyarakat ke dalam berbagai macam golongan yang biasanya

disebut sebagai kekuatan sosial politik dalam masyarakat, yang

meliputi: partai politik (political party), kelompok kepentingan (interest

3

(31)

group), kelompok penekan (pressure group), media komunikasi politik (political communication media), dan tokoh politik (political figure). Komunikasi yang dilaksanakan oleh infrastruktur politik biasanya

adalah:

1. Sosialisasi yang merupakan transmisi nilai-nilai politik.

2. Edukasi yang merupakan proses pendidikan untuk penyadaran

hak-hak dan kewajiban politik masyarakat.4

Ada pun fungsi dari komunikasi politik yang dijalankan oleh para aktor

politik adalah:

1. Fungsi artikulasi, agregasi, sosialisasi, dan rekrutmen dalam kegiatan

politik para aktor politik.5

2. Fungsi sosialisasi politik kepada masyarakat,

3. sebagai penghubung antara pemerintah dengan rakyat, baik dalam

rangka mobilisasi sosial untuk implementasi hubungan, memperoleh

dukungan, kepatuhan, dan integrasi politik,

4. sebagai umpan balik (feed back) atas sejumlah output (kebijakan pemerintah),

5. menjadi cara atau teknik penyerahan tuntutan dan dukungan sebagai

input dalam sistem politik,

6. sebagai kekuatan kontrol sosial guna memelihara idealisasi sosial dan

keseimbangan politik,

4

Gun Gun Heryanto, Handout Perkuliahan Mata Kuliah Komunikasi Politik: Materi 2

(Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2010), h. 2.

5

(32)

7. memberi ancaman (coertion) untuk memperoleh kepatuhan sebelum alat paksa digunakan, sekaligus hal ini juga memberikan batasan-batasan

mengenai hal-hal yang ditabukan.6

B. Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah apa yang dipilih oleh pemerintah untuk

dikerjakan.7 Melalui definisi ini mendapat pemahaman bahwa terdapat perbedaan

antara apa yang akan dikerjakan pemerintah dan apa yang sesungguhnya harus

dikerjakan oleh pemerintah.

Dalam Ilmu Komunikasi Politik, kebijakan publik (Public Policy), adalah kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang pelaku atau kelompok politik

dalam memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Pada

prinsipnya pihak-pihak yang membuat kebijakan itu mempunyai kekuasaan untuk

melaksanakannya.

Kebijakan publik menitikberatkan pada apa yang Dewey katakan sebagai

“publik dan problem-problemnya,” dan kebijakan publik membahas soal

bagaimana isu-isu dan persoalan-persoalan tersebut disusun (constructed) dan didefinisikan serta bagaimana kesemuanya itu diletakkan dalam agenda kebijakan

dan agenda politik.8

6

Gun Gun Heryanto, Handout Perkuliahan Mata Kuliah Komunikasi Politik: Materi 2, h. 7-8.

7

Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik: Sebuah Bahasan Mengenai Ilmu Politik

(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), h. 165-166.

8

(33)

Kebijakan publik adalah tentang apa yang dilakukan pemerintah, mengapa

pemerintah mengambil tindakan tersebut, dan apa akibat dari tindakan tersebut.9

Sebuah analisis kebijakan merupakan kajian terhadap kebijakan publik yang

bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengontekstualisasikan model dan riset

dari disiplin-disiplin tersebut yang mengandung orientasi problem dan kebijakan.

Harold D. Laswell menyebutkan bahwa orientasi kebijakan meliputi hal-hal

berikut, yaitu:

a. multi method, tidak cukup jika hanya menggunakan satu pendekatan tetapi melalui beberapa faktor untuk mengetahui proses suatu kebijakan

publik,

b. multi disciplinary, kebijakan publik terdiri dari berbagai disiplin ilmu sosial,

c. berfokus pada problem (problem focused),

d. berkaitan dengan pemetaan kontekstualitas proses kebijakan, opsi

kebijakan, dan hasil kebijakan, dan

e. bertujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan ke dalam suatu disiplin

yang menyeluruh (overarching) untuk menganalisis pilihan publik dan pengambilan keputusan dan karenanya ia ikut berperan dalam

demokratisasi masyarakat.10

Dari definisi yang sudah berkembang, maka dapat disimpulkan beberapa

karakteristik utama dari suatu definisi kebijakan publik, yaitu:

9

Wayne Parson, Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan.

10

(34)

a. Pada umumnya kebijakan publik perhatiannya ditujukan pada tindakan

yang mempunyai maksud atau tujuan tertentu dari pada perilaku yang

berubah atau acak.

b. Kebijakan publik pada dasarnya mengandung bagian atau pola kegiatan

yang dilakukan oleh pejabat pemerintah daripada keputusan yang

terpisah-pisah.

c. Kebijakan publik merupakan apa yang sesungguhnya dikerjakan oleh

pemerintah dalam mengatur sebuah negara.

d. Kebijakan publik dapat berbentuk negatif maupun positif.

e. Kebijakan publik didasarkan pada hukum dan merupakan tindakan yang

bersifat memerintah.

Adapun sifat-sifat dari kebijakan publik, dapat dimengerti secara baik

dengan melihat kategorinya. Leo Agustino dalam bukunya Perihal Ilmu Politik membaginya dalam beberapa kategori yaitu:

1. Policy Demand (Permintaan Kebijakan)

Merupakan klaim yang dibuat oleh warga masyarakat secara pribadi atau

kelompok dengan resmi dalam sistem politik oleh karena adanya masalah

yang mereka rasakan.

2. Policy Decision (Putusan Kebijakan)

Putusan yang dibuat oleh pejabat publik yang memerintahkan untuk

memberi arahan pada kegiatan-kegiatan kebijakan, biasanya

mengumumkan perintah eksekutif.

(35)

Pernyataan secara formal atau artikulasi dari keputusan politik yang telah

ditetapkan. Dalam hal ini merupakan ketetapan legislatif.

4. Policy Output (Hasil Kebijakan)

Output kebijakan adalah apa yang dikerjakan pemerintah, yang

merupakan kebijakan yang dititikberatkan pada masalah-masalah seperti

pembangunan jalan, pedagang kaki lima, dan lain lain.

5. Policy Outcomes (Akibat dari Kebijakan)

Akibat dari kebijakan adalah konsekuensi kebijakan yang diterima

masyarakat, baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan, yang

berasal dari apa yang dikerjakan atau yang tidak dikerjakan oleh

pemerintah.11

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan

a. Political Values, nilai-nilai atau standar-standar politik. Pembuat keputusan dapat mengevaluasi alternatif kebijakan untuk kepentingan

partai politiknya atau kelompoknya, maka hal ini menggambarkan

bagaimana nilai-nilai politis dapat merangsek masuk dalam setiap

pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pengambil keputusan.

b. Organization Values, nilai-nilai atau standar-standar organisasional. hal yang paling menonjol adalah bagaimana, misalnya organisasi yang

berorientasi konservatif berhadapan dengan organisasi yang

berpandangan revolusioner akan menghasilkan

argumentasi-argumentasinya yang berbeda dalam penetapan keputusan.

11

(36)

c. Personal Values, atau nilai-nilai personal. Hal ini berkenaan dengan teori tentang ketidaksamaan manusia. Ketidaksamaan manusia ini bisa

dilihat dari dua sisi, yang pertama adalah ketidaksamaan yang

disebabkan oleh ketidakberpenuhan mental. Yang kedua, ketidaksamaan

kemampuan yang berbeda dari masing-masing individu.

d. Policy Values, adalah nilai-nilai atau standar-standar kebijakan yang berwarna kepentingan publik. Menyimpulkan bahwa keputusan politik

yang dibuat hanya dipengaruhi oleh pertimbangan politik, organisasi,

atau kepentingan pribadi. Pembuat keputusan dapat bertindak dengan

baik berdasarkan persepsi mereka mengenai kepentingan publik atau

kepercayaan pada kebijakan publik yang secara moral benar atau pantas.

e. Ideological Values, nilai-nilai atau standar-standar ideologis. Ideologis adalah sekumpulan kepercayaan dan nilai yang berhubungan secara

logis yang memberikan gambaran sederhana mengenai dunia dan cara

bertindak sebagai petunjuk bagi seseorang untuk berperilaku.12

Di Indonesia, pada era reformasi para aktor kebijakan (lembaga-lembaga

negara dan pemerintah yang berwenang membuat perundang-undangan atau

kebijakan publik) itu adalah:

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

DPR memiliki kedudukan yang strategis dalam membentuk sebuah

Undang-Undang. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan pada pasal 21

12

(37)

ayat (1), bahwa DPR memiliki hak legislasi, hak mengajukan dan

membuat Undang-Undang Dasar.

3. Presiden

Dalam menjalankan pemerintahan negara, kekuasaan dan tanggung

jawab ada di tangan Presiden (Concentration of power and responsibility upon the president). Presiden diberi wewenang mengatur sebagaimana dinyatakan dalam pasal 5 ayat (1) UUD 1945, pasal ini

memberikan wewenang kepada presiden untuk membentuk

undang-undang dengan persetujuan DPR. Dalam pasal lain, yaitu Pasal 22

bahkan presiden diberikan kewenangan untuk menetapkan peraturan

pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) dalam hal negara, jika

dalam suatu keadaan genting yang memaksa.

4. Pemerintah;

a. Presiden sebagai kepala pemerintahan (pemerintah pusat),

b. Menteri,

c. Lembaga Pemerintah Non-Departemen,

d. Direktorat Jenderal (Dirjen),

e. Badan-badan Negara Lainnya, (Bank Sentral, BUMN, dll),

f. Pemerintah Daerah Propinsi,

g. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota,

h. Kepala Desa,

5. Dewan Perwakilan Daerah Propinsi,

(38)

7. Badan Perwakilan Desa (BPD). 13

Dibawah ini terdapat tabel mengenai aktor kebijakan publik beserta

wewenang yang dilakukan, meskipun diketahui bahwa pasca reformasi

kemungkinan akan terjadinya perubahan dan pergeseran dari aktor maupun

perannya,

Tabel 2.1 Klasifikasi Aktor Politik beserta Wewenangnya

Nama Lembaga (Aktor)

Peran (Wewenang) Aktor

MPR a. Menetapkan UUD.

b.Menetapkan TAP MPR.

c. Menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara. Presiden a. Mengesahkan Undang-Undang Dasar

b.Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.

DPR Membentuk Undang-Undang Dasar

Pemerintah a. Menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) untuk melaksanakan Undang-Undang.

b.Menetapkan Keputusan Presiden (Keppres).

c. Menetapkan Instruksi Presiden (Inpres) yang berisi petunjuk-petunjuk kepada instansi dibawahnya dalam rangka melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam UUD, TAP MPR, UU, dan PP.

Menteri Menetapkan Peraturan Menteri (Permen) atau Keputusan Menteri (Kepmen) sebagai peraturan pelaksanaan.

Lembaga Pemerintah Non Depertemen

Menetapkan peraturan-peraturan yang bersifat teknis, yaitu peraturan pelaksanaan dari perundang-undangan yang lebih tinggi derajatnya.

Direktorat Jenderal (Dirjen) Menetapkan/mengeluarkan peraturan-peraturan pelaksanaan yang bersifat teknis di bidangnya masing-masing.

Badan-badan Negara Lainnya Mengeluarkan/menetapkan peraturan-peraturan pelaksanaan yang berisi perincian dari kententuan-ketentuan perundang-undangan yang mengatur dibidang tugas dan fungsinya masing-masing.

Pemerintah Propinsi Menetapkan Peraturan Daerah Propinsi (Perda Propinsi) atas persetujuan DPRD Propinsi.

Pemerintah Kabupaten/Kota Menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (Perda Kabupaten/Kota) atas persetujuan DPRD

13

(39)

Kabupaten/Kota.

Kepala Desa Menetapkan Peraturan dan Keputusan Desa dengan Persetujuan Badan Perwakilan Desa (BPD).

DPRD Propinsi Menetapkan Peraturan Daerah Propinsi (Perda Propinsi) bersama dengan Pemerintah Daerah Propinsi.

DPRD Kabupaten/Kota Menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota bersama-sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

BPD Menetapkan Peraturan Desa atau Keputusan Desa bersama-sama dengan Kepala Desa.

Sumber: http://www.unitomo.ac.id/

Dalam menganalisis sebuah kebijakan publik, sebenarnya cukup sulit

dikarenakan dalam mencapai kesepakatan sebuah keputusan diperlukan masukan

dari berbagai pihak yang mempunyai kepentingan dalam suatu permasalahan yang

akan dirumuskan. Komunikasi yang dilakukan tidak cukup berhasil jika tidak

adanya negosiasi, tarik ulur dari berbagai kepentingan di dalamnya, belum lagi

para pemilik kekuasaan yang mempunyai otoritas terbesar dalam suatu kebijakan.

Maka, diperlukan beberapa tahap untuk mengetahui proses suatu kebijakan bisa

dirumuskan hingga mampu diimplementasikan di masyarakat.

James Anderson sebagai pakar kebijakan publik, menetapkan proses

kebijakan publiksebagai berikut:

a. Formulasi masalah (problem formulation)

Untuk dapat mengkaji sesuatu masalah publik diperlukan teori,

informasi dan metodologi yang relevan dengan permasalahan yang

dihadapi. Sehingga identifikasi masalah akan tepat dan akurat,

selanjutnya dikembangkan menjadi policy question yang diangkat dari policy issues tertentu.

(40)

Dimana formulasi untuk mengembangkan alternatif-alternatif untuk

memecahkan masalah. Alternatif adalah sejumlah alat atau cara-cara

yang dapat dipergunakan untuk mencapai, langsung ataupun tidak

langsung sejumlah tujuan yang telah ditentukan. Alternatif-alternatif

kebijakan dapat muncul dalam pikiran seseorang karena beberapa hal:

(1) Berdasarkan pengamatan terhadap kebijakan yang telah ada. (2)

Dengan melakukan semacam analogi dari suatu kebijakan dalam

sesuatu bidang dan dicoba menerapkannya dalam bidang yang tengah

dikaji, (3) merupakan hasil pengkajian dari persoalan tertentu.

c. Penentuan kebijakan (adoption)

Alternatif-alternatif yang ada perlu dinilai berdasarkan kriteria

sebagaimana yang dimaksud pada point sebelumnya diatas. Tujuan

penilaian adalah mendapatkan gambaran lebih jauh mengenai tingkat

efektivitas dan fisibilitas tiap alternatif dalam pencapaian tujuan,

sehingga diperoleh kesimpulan mengenai alternatif mana yang paling

layak , efektif dan efisien.

d. Implementasi (implementation)

Menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dan masa lalu

dari diterapkannya alternatif kebijakan.

e. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi yang menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan

dari konsekuensi pemecahan atau pengatasan masalah. Mengetahui

adakah tuntutan untuk melakukan perubahan atau pembatalan. 14

14

(41)

Pada dasarnya, memang tidak ada kebijakan yang akan mencapai

kesempurnaan dan kepuasan sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan yang

masuk (input). Namun, baiknya sebuah kebijakan dibuat harus memperhatikan

segala faktor, mau mendengarkan dari manapun aspirasi yang datang.

C. Teori Komunikasi Kebijakan (Model Rasional Komprehensif)

Menskemakan garis-garis komunikasi dua arah menghubungkan warga

negara dan pejabat, yakni apa yang disebut dalam komunikasi politik. Pertama

bisa dilihat hubungan opini kebijakan sebagai proses penggambaran penyajian

cara-cara alternatif dari opini rakyat, massa, dan kelompok yang diperhitungkan

oleh pemegang jabatan dalam membentuk kebijakan pemerintah. Hal yang kedua,

dapat diteliti komplikasi-komplikasi yang berkaitan dengan tipe-tipe utama

komunikasi kebijakan. Langkah yang terakhir adalah dengan meninjau

masalah-masalah dalam mempertaruhkan proses kebijakan dalam demokrasi.

Model rasional komprehensif bermaksud melukiskan suatu cara

mengorganisasi komunikasi kebijakan untuk memperoleh keputusan.

Langkah-langkah yang ditempuh antara lain:

1. Pembuat kebijakan memperhitungkan masalah yang memerlukan

tindakan, masalah yang terpisah dari bidang masalah yang lain.

2. Pembuat kebijakan menjelaskan tujuan, nilai, dan sasaran yang harus

dicapai dalam menangani masalah tersebut.

3. Pembuat kebijakan mengidentifikasi pemecahan dan meneliti

masing-masing. Penelitian ini mempertimbangkan seluruh informasi mengenai

(42)

4. Pembuat kebijakan mempertimbangkan pengorbanan dan keuntungan

relatif dari setiap alternatif, membandingkan pilihan, dan memilih

alternatif yang memaksimalkan tujuan, nilai, dan sasaran yang telah

disepakati. 15

Langkah-langkah tersebut “rasional” dalam memilih alat yang paling efektif

untuk mencapai tujuan yang dinyatakan. Ia “komprehensif” dalam

mempertimbangkan setiap faktor yang relevan dengan setiap pilihan.

Setelah membuat kebijakan memilih suatu pilihan, mereka mengumpulkan

dukungan dari lembaga-lembaga utama dan publik melalui propaganda, pemimpin

kelompok, prosedur pemaksaan dan sebagainya. Jadi, prosedur rasional

komprehensif untuk merumuskan kebijakan mengandung hubungan yang erat

dengan pendekatan kontrol sosial untuk mencapai tatanan. Dalam buku Dan

Nimmo dikatakan, orang berkumpul untuk membahas arah tindakan bagi

kesejahteraan mereka bersama, untuk berbagi gagasan, dan untuk membuat

konsensus sehingga setelah cukup dipertimbangkan, mereka bisa bertindak secara

kolektif. Tujuannya adalah mencapai konsensus yang sebagian besar disepakati

oleh setiap orang.16

Akhirnya, dengan berasumsi bahwa kebijakan yang disepakati itu

merefleksikan pemecahan yang “terbaik,” cukup mengetahui persuasi untuk

menyadari bahwa meyakinkan penduduk terhadapnya (sehingga mereka akan

memberikan suara kepadanya dalam plebisit atau sekadar diam-diam

15

Dan Nimmo, Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 224.

16

(43)

menyetujuinya melalui perilaku patuh) melibatkan lebih daripada instruksi

pemerintah atas kebaikan kebijakan dan keburukkan pilihan lainnya.17

Dalam membuat sebuah keputusan yang akhirnya disahkan menjadi sebuah

kebijakan tidaklah mudah, banyak faktor yang harus diperhatikan meskipun sudah

dianalisis melalui cara, metode, dan model komunikasi yang dilakukan. Faktor

luar (external)dari komunikasi kebijakan antara lain:

a. Dukungan massa kepada lembaga pembuat kebijakan

Para pembuat kebijakan tidak hanya mengkhawatirkan popularitas

mereka, tetapi juga mengkhawatirkan berapa banyaknya dukungan yang

diberikan oleh rakyat kepada lembaga pembuat kebijakan. Konsensus

massa yang dikomunikasikan kepada pembuat kebijakan itu

menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya dalam arti abstrak dan

tergeneralisir, rakyat memberikan dukungan yang cukup kepada

lembaga-lembaga politik untuk pejabat pemerintah dalam menjalankan

pemerintahannya sehari-hari.

b. Peran media massa dalam komunikasi kebijakan

Sekurang-kurangnya disebutkan ada dua hal yang dilakukan media

massa sebagaisumber pesan bagi pembuat kebijakan dalam menaksir

opini publik, yaitu:

1. kecendrungan beberapa pejabat kebijakan untuk melakukan

kesalahan jurnalistik dengan menganggap bahwa isi berita dan isi

editorial pers sinonim dengan opini publik,

17

(44)

2. tindakan media massa sebagai sumber pesan politik ialah melalui

penetapan agenda dan pembuatan fungsi media, yakni memperbesar

kontroversi politik, mengajukannya agar mendapat perhatian

pembuat kebijakan, dan mengumpulkannya agar mendapat perhatian

pembuat kebijakan serta mengumpulkan dukungan melalui

kelompok kepentingan maupun kawan dan lawan.

c. Pesan dalam gerakan massa

Gerakan massa mengkomunikasikan tiga jenis tuntutan kepada

pembuat kebijakan:

1. Gerakan yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan material

seketika bagi penganutnya. Contoh: gerakan mendukung rencana

peredistribusian kekayaan Amerika bagi golongan tua.

2. Tuntutan tentang status. Contoh: gerakan yang mendukung

untuk mempertahankan status penguasa dari kelas kulit putih.

3. Menyajikan jalan keluar bagi pengungkapan perasaan. Contoh:

gerakan kebebasan wanita

d. Pesan dari yang terorganisasi: mendengarkan partai politik

Pandangan politik dari partai politik merupakan riwayat pemberian

suara dari pemegang jabatan. Partai politik biasa digunakan untuk

mengirimkan pesan kepada pejabat pembuat kebijakan. Dengan

bertindak sebagai garis utama komunikasi antara warga negara dan

(45)

e. Pesan dari yang terorganisasi: mendengarkan kelompok kepentingan

Orang yang berpartisipasi dalam kelompok kepentingan politik

jarang merupakan wakil opini rakyat ataupun opini massa rata-rata.

Schttchneider menuduh sistem tekanan (istilah yang dipakainya untuk

kelompok kepentingan khusus yang terorganisasi) memobilisasi

orang-orang dalam kelompok kepentingan dan mengorkanisasi prasangka

(bias) untuk kelompok kepentingan yang berusaha memperoleh hak-hak

istimewa.

Kemungkinan komunikasi lobbyists dalam kelompok kepentingan, lobbying yaitu komunikasi dengan pembuat kebijakan oleh orang yang mengklaim berbicara atas nama kepentingan dengan tujuan

mempengaruhi keputusan pemerintah.

f. Pesan dari yang terorganisasi: mendengarkan sesama pejabat

Penting untuk diingat bahwa pembuat kebijakan biasanya memiliki

jauh lebih banyak kesamaan satu sama lain sebagai sesama politikus dan

pejabat ketimbang dengan para pemilih mereka, loyalitas partai, atau

anggota golonga yang berpengaruh. Tidak mengherankan jika mereka

berbalik satu sama lain untuk meminta tolong dalam menyusun citra

tentang opini publik dan bagaimana bertindak sesuai dengan hal itu.18

Jika berbicara sesuai prosedural maupun idealis, sebenarnya banyak sekali

faktor yang harus diperhatikan oleh pejabat pembuat kebijakan untuk mencapai

sebuah kebijakan yang tepat sasaran. Memang tidak mudah, sehingga tidak jarang

18

(46)

kebijakan yang telah dibuat justru menjadi boomerang sendiri baik bagi si

pembuat kebijakan maupun rakyat yang menjadi target dari kebijakan.

Kebijakan baiknya diciptakan untuk dipatuhi karena dalam prosesnya sudah

harus melalui pertimbangkan dari berbagai pihak. Dan tidak sedikit pula aspirasi

yang ditampung. Pada akhirnya, kebijakan yang dibuat bisa menjadi baik atau

tidak tergantung bagaimana para pejabat pembuat kebijakan mampu

mengakomodir berbagai kepentingan dalam sebuah kebijakan.

D. Opini Publik dan Kebijakan Publik

Opini publik merupakan pendapat sebagian besar rakyat dalam mengkritisi

masalah publik. Dalam pengertiannya opini adalah suatu respon aktif terhadap

stimulus, suatu respon yang dikonstruksi melalui interpretasi pribadi yang

berkembang dari dan menyumbang imej. Sedangkan, publik merupakan kumpulan

orang-orang yang sama minat dan kepentingannya terhadap suatu isu. Jadi,opini

publik adalah suatu opini yang menyangkut isu, atau kejadian yang mengandung

keprihatinan (concern) publik.19

Bagi sebuah negara demokrasi, seperti Indonesia, opini publik merupakan

hal yang sangat mendasar. Karena, sebuah negara demokrasi merupakan

pemerintahan yang berdasarkan oleh kehendak rakyat, dimana suara rakyat

merupakan dasar dari sebuah pemerintah demokrasi yang dijalankan. Kekuasan

terbesar berada ditangan rakyat, maka jika suara rakyat diabaikan tidak mungkin

pula kekuasan akan dijatuhkan pula oleh rakyat.

19

Gun Gun Heryanto, Handout Perkuliahan Mata Kuliah Komunikasi Politik:Materi-6,

(47)

Hubungan antara opini publik dan kebijakan publik sangatlah erat, hal ini

bisa dilihat dari siapa yang mengeluarkan pendapat dan struktur dari pendapat

tersebut. Umumnya kebijakan publik berkaitan erat dengan pendapat-pendapat

yang disampaikan oleh orang-orang yang memiliki perhatian yang tinggi dan juga

yang aktif secara langsung dalam aktifitas politik dibanding dengan orang-orang

yang tidak punya perhatian atau bersikap pasif.20

Pada umumnya, opini publik yang menjadi perhatian dari pembuat

kebijakan terdapat dalam wawancara atau talk show di acara televisi, maupun di

media-media yang memuat suara pembaca, suara pemirsa, artikel surat kabar,

tulisan kolom, SMS, media online, dan sebagainya. Selain dari media, pendapat

umum (opini publik) lain yang menjadi perhatian adalah pendapat umum yang

diwadahi oleh organisasi kemasyarakatan seperti LSM yang biasa datang atau

melakukan orasi dengan berdemo untuk menyuarakan pendapatnya, atau datang

langsung ke lembaga pembuat kebijakan seperti DPR yang menyediakan Rapat

Dengar Pendapat (RDP) dengan mengundang atau datang sendiri untuk

menyatakan pendapat.

Kebijakan publik menunjuk pada keinginan penguasa atau pemerintah yang

idealnya dalam masyarakat demokratis merupakan cerminan pendapat umum

(opini publik). Untuk mewujudkan keinginan tersebut dan menjadikan kebijakan

tersebut efektif maka diperlukan beberapa hal, yaitu:

1. Adanya seperangkat hukum berupa peraturan dan perundang-undangan

sehingga dapat diketahui publik apa yang telah diputuskan.

2. Kebijakan juga harus jelas struktur pelaksanaan dan pembiayaannya.

20

(48)

3. Diperlukan adanya kontrol publik yakni mekanisme yang memungkinkan

publik mengetahui apakah kebijakan ini dalam pelaksanaannya

mengalami penyimpangan atau tidak. 21

Opini publik dalam sebuah kebijakan publik bisa berupa tuntutan atau

dukungan, berikut ini proses bagaimana sebuah opini baik berupa tuntuan maupun

dukungan menjadi sebuah kebijakan (output), yang bisa dilihat dari pendekatan

analisis sistem yang diungkapan oleh David Easton 22, yaitu:

Gambar 2.1 Proses Opini Publik Menjadi Sebuah Kebijakan

I O N Tuntutan Keputusan U P T

U P

T Dukungan Kebijakan U

T

Umpan Balik

Lingkungan Lingkungan

Sumber: Materi Pokok Opini Publik: 1-9 Universitas Terbuka

Penjelasan:

1. Bagi sebuah negara maju, apa yang menjadi kepentingan maupun

kebutuhan diri dan kelompok dikemukakan lewat berbagai saluran atau

kelompok baik kelompok kepentingan ataupun kelompok penekan.

Kelompok yang mengartikulasikan kepentingan anggota masyarakat ini

selanjutnya oleh Almond disebut dengan kelompok kepentingan.

21

Trubus Rahardiansah, Pengantar Ilmu Politik: Paradigma, Konsep Dasar, dan Relevansinya untuk Ilmu Hukum, h. 293.

22

Betty RFS. Soemirat dan Eddy Yehuda, Materi Pokok Opini Publik: 1-9: SKOM4321/3 SKS (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 25-26.

Konversi input

(49)

2. Tahapan berikutnya adalah tahapan agregasi kepentingan, dimana proses

pengubahan tuntutan yang disampaikan menjadi alternatif-alternatif

kebijakan.

3. Tahapan ketiga adalah tahapan pembuatan kebijakan merupakan proses

untuk mengubah tuntutan menjadi output. Output tersebut, berupa

peraturan-peraturan maupun perundang-undangan yang mampu

menanggapi kepentingan dan tuntutan yang masuk ke dalam agenda

pemerintah.

4. Tahapan yang terakhir adalah tahapan dimana tahapan artikulasi

kepentingan, agregasi kepentingan dan tahapan pembuatan keputusan

dimungkinkan terjadi tumpang tindih, hal ini terjadi selain karena batasan

antara ketiga aktifitas tersebut sangatlah tipis dan terjadi karena para

partisipan dalam pembuatan kebijakan sama.

Selanjutnya, Gabriel A. Almond menambahkan dengan memberikan

pengantar komprehensif mengenai input (artikulasi kepentingan), fungsi proses

(agregasi kepentingan,pembuatan kebijakan, implementasi, dan keputusan

kebijakan) dan fungsi kebijakan (extraction, regulasi, distribusi). Output kebijakan dikembalikan ke dalam sistem politik, yang berada dilingkungan domestik dan

internasional.23

23

(50)

Gambar 2.2 Proses Kebijakan sebagai Input dan Output

INPUT KEBIJAKAN OUTPUT

Persepsi Regulasi Aplikasi

Organisasi Distribusi Penguatan (Enforcement)

Permintaan Redistribusi Interpretasi

Dukungan Kapitalisasi Evaluasi

Apathy Kekuasaan Etis Legitimasi

Modifikasi (Penyesuaian) Penarikandiri /

pengingkaran

Sumber: Parson (2006)

Versi ini berusaha lebih banyak menjelaskan peran institusi ketimbang di

masa lalu, masa ketika ilmuwan politik cenderung mengabaikan fakta bahwa

institusi, aturan dan konstitusi adalah sesuatu yang benar-benar penting.

Konseptualisasi pada keempat teori tersebut merupakan konsep-konsep

yang berkenaan dengan analisis mengenai kebijakan publik pada Undang-Undang

Pornografi. Kebijakan publik yang dimaksud dalam hal ini Undang-Undang

Pornografi merupakan bagian dari kegiatan komunikasi politik, yang dalam ilmu

politik sendiri sebenarnya kebijakan publik sudah menjadi salah satu wacana yang

sering diperbincangkan. Dalam komunikasi kebijakan, hal-hal yang mengenai

produk kebijakan dikaitkan dengan opini publik yang berkembang, karena opini

publik merupakan opini masyarakat yang wajib diperhatikan oleh negara

demokrasi seperti Indonesia. Sebagai proses analisis pada bab IV (empat) konsep

yang menjadi landasan berpikir adalah teori mengenai Model Rasional

Komprehensif dan relevansi antara opini publik dan kebijakan publik yang akan

Figur

Tabel 3.9 Laporan Kerja Komisi VIII .................................................................69

Tabel 3.9

Laporan Kerja Komisi VIII .................................................................69 p.11
Gambar 2.1 Proses Opini Publik Menjadi Sebuah Kebijakan .................................36

Gambar 2.1

Proses Opini Publik Menjadi Sebuah Kebijakan .................................36 p.12
gambaran tentang suatu masyarakat atau suatu kelompok. Dan melalui

gambaran tentang

suatu masyarakat atau suatu kelompok. Dan melalui p.19
Tabel 2.1 Klasifikasi Aktor Politik beserta Wewenangnya

Tabel 2.1

Klasifikasi Aktor Politik beserta Wewenangnya p.38
Gambar 2.1 Proses Opini Publik Menjadi Sebuah Kebijakan

Gambar 2.1

Proses Opini Publik Menjadi Sebuah Kebijakan p.48
Gambar 2.2    Proses Kebijakan sebagai Input dan Output

Gambar 2.2

Proses Kebijakan sebagai Input dan Output p.50
Tabel 3. 1 Struktur Kepemimpinan

Tabel 3.

1 Struktur Kepemimpinan p.56
Tabel 3.2 Jumlah Kursi DPR Berdasarkan Fraksi

Tabel 3.2

Jumlah Kursi DPR Berdasarkan Fraksi p.57
Tabel 3.3  Alat Kelengkapan DPR

Tabel 3.3

Alat Kelengkapan DPR p.58
Tabel 3.4  Pengusul RUU Pada Periode 2004-2009

Tabel 3.4

Pengusul RUU Pada Periode 2004-2009 p.72
Gambar 3.3  Skema Prosedur Pembentukan UU

Gambar 3.3

Skema Prosedur Pembentukan UU p.73
Tabel 3.5 Tingkat Pembahasan RUU dari Pemerintah

Tabel 3.5

Tingkat Pembahasan RUU dari Pemerintah p.74
Tabel 3.6  Tingkat Pembahasan RUU dari Inisiatif DPR

Tabel 3.6

Tingkat Pembahasan RUU dari Inisiatif DPR p.77
Tabel 3.7 Keanggotaan Komisi VIII

Tabel 3.7

Keanggotaan Komisi VIII p.80
Tabel 3.8  Sekretariat Komisi VIII

Tabel 3.8

Sekretariat Komisi VIII p.81
Tabel  3.9   Laporan Kerja Komisi VIII

Tabel 3.9

Laporan Kerja Komisi VIII p.82
Tabel. 4.1 Kronologis Pembahasan RUU Pornografi di DPR RI Komisi VIII
Tabel. 4.1 Kronologis Pembahasan RUU Pornografi di DPR RI Komisi VIII p.90

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Analisis kebijakan publik pada undang-undang pornografi komisi VIII DPR RI dalam perspektif model rasional komprehensif Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Batasan dan Rumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Metode Penelitian Subjek dan Objek Penelitian Teknik Pengumpulan Data Kerangka Teori Pedoman Penulisan Sistematika Penulisan PENDAHULUAN , yang mencakup latar belakang masalah yang KAJIAN TEORITIS , yang terdiri dari Komunikasi Politik GAMBARAN UMUM , mencakup Sejarah DPR RI, Visi dan Misi ANALISIS PERUMUSAN UNDANG-UNDANG PORNOGRAFI SEBAGAI KEBIJAKAN PUBLIK KO Komunikasi Politik TINJAUAN TEORITIS Kebijakan Publik TINJAUAN TEORITIS Teori Komunikasi Kebijakan Model Rasional Komprehensif Opini Publik dan Kebijakan Publik Daftar Istilah TINJAUAN TEORITIS Sejarah DPR RI GAMBARAN UMUM DPR RI Keanggotaan DPR RI Periode 2009-2014 Tugas dan Wewenang DPR RI Hak dan Kewajiban DPR RI Masa Sidang dan Masa Reses DPR RI Mekanisme Kerja DPR RI Pengambilan Keputusan DPR RI Harapan terhadap Fungsi Legislasi DPR RI Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Pornografi Undang-undang Pornografi sebagai Kebijakan Publik Komisi VIII DPR RI Implementasi Model Rasional Komprehensif Perkembangan dan Penerapan Undang-undang Pornografi LARANGAN DAN PEMBATASAN Analisis kebijakan publik pada undang-undang pornografi komisi VIII DPR RI dalam perspektif model rasional komprehensif PERLINDUNGAN ANAK Analisis kebijakan publik pada undang-undang pornografi komisi VIII DPR RI dalam perspektif model rasional komprehensif PENCEGAHAN Analisis kebijakan publik pada undang-undang pornografi komisi VIII DPR RI dalam perspektif model rasional komprehensif