• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESPONS TANAMAN RADISH (Raphanus satufus L.) VARIETAS LONG WHITE LCICLE YANG DIPUPUK KNO3 BERBAGAI DOSIS TERHADAP APLIKASI MULSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RESPONS TANAMAN RADISH (Raphanus satufus L.) VARIETAS LONG WHITE LCICLE YANG DIPUPUK KNO3 BERBAGAI DOSIS TERHADAP APLIKASI MULSA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

RESPONS TANAMAN RADISH (Raphanus satufus L.)

VARIETAS LONG WHITE LCICLE YANG DIPUPUK

KNO

3

BERBAGAI DOSIS TERHADAP

APLIKASI MULSA

(Skripsi)

Oleh

Bambang Wijonarko

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

RESPONS TANAMAN RADISH (Raphanus satufus L.)

VARIETAS LONG WHITE LCICLE YANG DIPUPUK

KNO

3

BERBAGAI DOSIS TERHADAP

APLIKASI MULSA

Oleh

Bambang Wijonarko

Radish (Raphanus sativus L)sangat kaya akan kandungan nutrisi, mineral

kalsium, fosfor, dan juga kaya serat dan fitronutrien yang baik untuk kesehatan.

Pada tanaman radish pupuk KNO3 berfungsi untuk membantu meningkatkan

proses pembentukan umbi. Selain itu aplikasi KNO3 meningkatkan klorofil dalam

daun yang akan digunakan dalam fotosintesis. Hasil fotosintesis berupa fotosintat

akan dialokasikan pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman, hal tersebut

akan mempercepat proses metabolisme. Mulsa berfungsi untuk menghindari

kehilangan air melalui penguapan dan menekan pertumbuhan gulma.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh pemberian beberapa taraf

dosis pupuk KNO3 yang menghasilkan respons terbaik tanaman radish, (2)

mengetahui respons tanaman radish akibat aplikasi mulsa, (3) mengetahui respons

tanaman radish akibat pemupukan KNO3 berbagai dosis yang diaplikasikan pada

(3)

Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Kota Bandar Lampung

pada bulan Mei hingga Juni 2012.

Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan disusun secara faktorial (5 x 2).

Faktor pertama adalah dosis pupuk KNO3 (K) yang terdiri dari 5 taraf, yaitu 0

kg/ha (k0); 75 kg/ha (k1); 150 kg/ha (k2); 225 kg/ha (k3); dan 300 kg/ha (k4).

Faktor kedua adalah aplikasi mulsa (M) yang terdiri dari dua taraf yaitu tanpa

pemberian mulsa (m0), dan mulsa plastik hitam perak (m1). Rancangan

lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Teracak Sempurna

(rkts) dengan tiga ulangan. Keragaman data diuji dengan uji Bartlett dan sifat

kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data diolah dengan analisis ragam,

dilanjutkan dengan uji Polinomial Orthogonal dan ortogonal Kontras. Semua

pengujian dilakukan pada taraf nyata 5% dan 1%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Dosis pupuk KNO3 yang menghasilkan

respons terbaik tanaman radish yaitu pada dosis 300 kg/ha. (2) Aplikasi tanpa

mulsa memiliki respons/hasil yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan

mulsa untuk tanaman radish, pada peubah bobot umbi sampel yaitu 18,45%; bobot

kering brangkasan yaitu 18,27%; diameter umbi yaitu 8,17%; volume umbi yaitu

5,17%; produksi tanaman per petak yaitu 27,18%. (3) Pada dosis KNO3 yang

sama, tanpa menggunakan mulsa didapatkan produksi tanaman per petak yang

(4)

RESPONS TANAMAN RADISH (Raphanus satifus L.)

VARIETAS LONG WHITE LCICLE YANG DIPUPUK

KNO

3

BERBAGAI DOSIS TERHADAP

APLIKASI MULSA

Oleh

Bambang Wijonarko

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Pertanian

pada

Program Studi Hortikultura

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

Judul Skripsi : RESPONS TANAMAN RADISH

(RaphanussatufusL.) VARIETAS LONG WHITE LCICLE YANG DIPUPUK KNO3 BERBAGAI DOSIS TERHADAP APLIKASI MULSA

Nama Mahasiswa : Bambang Wijonarko

Nomor Pokok Mahasiswa : 0614012022

Program Studi : Hortikultura

Jurusan : Budidaya Pertanian

Fakultas : Pertanian

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Ir. Azlina H. Bakrie, M.S Ir. Dr. Kuswanta F. Hidayat, M.P.

NIP 19520311 198103 2 001 NIP 19641118 198903 1 002

2. Ketua Bidang Budidaya Pertanian

Prof. Dr. Ir. Setyo Dwi Utomo, M.Sc.

(6)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Ir. Azlina H. Bakrie, M.S.

Sekretaris : Dr. Ir. Kuswanta F. Hidayat, M.P.

Penguji

bukan Pembimbing : Ir. Yohanes Cahya Ginting, M.P.

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S.

NIP 19610826 198702 1 001

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Karang Endah, Lampung Tengah, pada tanggal 10

November 1987, sebagai anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak

Dimyadi dan Ibu Sri Wahyuni. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar

di SD N 4 Gunung Madu Plantation, Lampung tengah pada tahun 1999. Penulis

menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SLTP Satya Dharma

Sudjana Gunung Madu, Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah pada

tahun 2003. Pada tahun 2006, penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah

Menengah Atas di SMAN 1 Terbanggi Besar.

Pada tahun 2006, penulis diterima di Universitas Lampung sebagai mahasiswa

Program Studi Hortikultura, Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian

melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru(SPMB). Selama menjadi

Mahasiswa, penulis pernah aktif berorganisasi menjadi anggota Bidang

Kesekertariatan FOSI FP pada Tahun Ajaran 2007. Pada tahun 2010, penulis

melaksanakan Praktik Umum di Kelompok Tani Giri Mekar Kecamatan

Parongpong Kabupaten Bandung Barat yang bergerak pada bidang tanaman bunga

(8)

SANWACANA

Puji dan rasa syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

sebagai syarat mencapai gelar sarjana. Dengan selesainya skripsi ini, penulis

ucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Ir. Azlina H. Bakrie, M.S., selaku Dosen Pembimbing Akademik dan

Dosen Pembimbing Utama atas semua saran, ide, nasehat, motivasi, dan

bimbingan selama penelitian hingga penulisan skripsi ini;

2. Bapak Dr. Ir. Kuswanta F. Hidayat, M.P., selaku Pembimbing Kedua atas

semua bantuan, saran, motivasi, dan bimbingan yang diberikan selama

penelitian hingga penulisan skripsi ini;

3. Bapak Ir. Yohanes Cahya Ginting, M.S., selaku Penguji atas saran,

bimbingan, dan pengarahan yang diberikan kepada penulis;

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Setyo Dwi Utomo, M.Sc., selaku Ketua Bidang Budidaya

Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung;

5. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., selaku Dekan Fakultas

Pertanian Universitas Lampung;

6. Seluruh Dosen Fakultas Pertanian khususnya Budidaya Pertanian, saya

ucapkan terimakasih atas ilmu pengetahuan dan pengalaman yang telah

(9)

7. Ayah dan mama tercinta yang selalu dan tak pernah putus menyayangi

Penulis dengan belaian kasih lembutnya dan do’a yang selalu dipanjatkan,

atas bimbingan, nasehat, dan petuahmu yang selalu membuat penulis

bersemangat untuk melakukan semua hal baik dalam hidup;

8. Kakakku Mahendra Hari Murti, Amd., Herdian Prianjono, S.Com., Dian

Fajar Prihandika tersayang atas kebersamaan, persaudaraan kita dan

dukungan serta semangat sehingga menjadi spirit bagi penulis untuk bangkit

mempersembahkan yang terbaik;

9. Keluarga di Ratulangi Bapak Harni dan Ibu Harti, atas kasih sayang, nasehat,

dan kenyamanan tempat tinggal yang diberikan kepada penulis.

10. Saudaraku; Deni Satria, S.P., Ridho Hardiyan, S.P., Poniran, S.P., Yoga

Utama, S.P., Novarina Firzayanti, S.P, atas bantuan serta saran yang

diberikan keada penulis selama penulisan skripsi;

11. Teman-teman angkatan 2006 – 2008 yang telah memberikan dukungannya;

12. Teman-teman Kost Manja: Ichan, Ade, Diago, Udin, Muri, Kiki dan Andre;

adek-adek tercinta Ani, Desi, Eka, Ririn, dan Yeni yang senantiasa memberi

dukungan semangat dan kebaikannya kepada penulis;

13. Semua pihak yang telah membantu hingga selesainya skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi yang membaca dan penulis

berharap semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Bandar Lampung, Februari 2013 Penulis

(10)

Bukan masalah seberapa lambat berlangsung,

Sepanjang kamu tidak berhenti

Bambang Wijonarko

Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang

bodoh akan mengerjakannya tiga hari kemudian

(11)

PERSEMBAHAN

Ku persembahkan karya kecilku ini untuk Bapak Dimyadi, Ibu Sri Wahyuni tercinta yang telah melahirkan membesarkan ku

hingga saat ini, Kakak Mahendra Hari Murti tecinta

yang telah berkorban segalanya untuk aku dan teman-teman yang selalu mendukung dan memberi semangat

(12)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman

tumbuh-tumbuhan, diantaranya tanaman buah, tanaman hias dan tanaman sayur-sayuran.

Keadaan iklim yang tropis menjadikan beberapa macam tanaman bisa tumbuh dan

hidup subur.

Radish (Raphanus sativus L)sangat kaya akan kandungan nutrisi, mineral

kalsium, fosfor, dan juga kaya serat dan fitronutrien yang baik untuk kesehatan.

Selain kaya akan nutrisi, radish juga bisa diolah menjadi beragam hidangan.

Tanaman radish merupakan salah satu tanaman yang tergolong dalam keluarga

lobak. Menurut Rukmana (1995), radish mudah untuk dibudidayakan karena

memiliki adaptasi yang sangat baik sehingga dapat ditanam di dataran tinggi

ataupun dataran rendah. Struktur tanah yang baik untuk tanaman radish yaitu

remah, gembur serta memiliki ketersediaan hara yang cukup tinggi.

Sampai saat ini belum banyak penelitian yang bertujuan untuk memaksimalkan

produksi radish. Belum banyak pula petani di Indonesia yang mengenal dan

membudidayakan tanaman ini. Hal inilah yang kemudian membuat harga radish

(13)

2

Untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman radish diperlukan beberapa cara

untuk membudidayakannya. Penggunaan pupuk yang tepat diharapkan dapat

menghasilkan pertumbuhan yang optimal. Pada umumnya tanah tidak mampu

menyediakan dan memenuhi kebutuhan unsur hara yang diperlukan untuk

tanaman. Oleh karena itu perlu diberi tambahan hara dengan cara melakukan

pemupukan.

Menurut Lingga (1992), pemupukan adalah pemberian zat yang terdiri dari satu

unsur atau lebih yang digunakan untuk mengganti unsur hara yang habis terserap

oleh tanaman dari dalam tanah. Pemupukan memegang peranan penting dalam

menyediakan dan mengganti unsur hara yang habis terpakai oleh tanaman selama

proses pertumbuhan dan perkembangan (Setyamidjaja, 1986).

Pupuk KNO3 merupakan salah satu pupuk yang telah biasa digunakan petani

Indonesia. Pada tanaman radish pupuk KNO3 berfungsi untuk membantu

meningkatkan proses pembentukan umbi. Nitrogen merupakan unsur yang sangat

dibutuhkan tanaman terutama dalam perkembangan daun, merangsang tumbuhnya

tunas, meningkatkan warna hijau daun, dan juga memperbaiki kualitas kandungan

protein pada tanaman. Menurut Salisbury dan Ross (1995), nitrogen terdapat

dalam banyak senyawa penting dalam tumbuhan antara lain klorofil, asam

nukleat, dan asam amino sehingga pertumbuhan tanaman akan terhambat tanpa

nitrogen.

Selain mengandung unsur K, kalium nitrat (KNO3) juga mengandung nitrogen.

(14)

asam-3

asam amino untuk pembentukan protein yang dibutuhkan dalam proses

fotosintesis. Fotosintesis yang berjalan dengan baik akan menghasilkan fotosintat

yang lebih banyak yang kemudian akan ditranslokasikan ke organ-organ tanaman

sehingga pertumbuhan tunas-tunas baru akan lebih terpacu (Salisbury, 1995).

Secara umum peranan kalium didalam KNO3 berhubungan dengan proses

metabolisme, yaitu proses fotosintesis dan respirasi. Kalium juga berperan dalam

proses membuka dan menutup stomata (Novizan,2003). Kalium Nitrat (KNO3)

mengandung unsur K yang dapat mengaktifkan enzim penting dalam

pembentukan karbohidrat dan meningkatkan tekanan tugor. Kalium berperan

sebagai katalis dalam berbagai reaksi enzimatis serta dalam perkembangan

jaringan tanaman. Kalium juga berfungsi untuk mempercepat metabolisme unsur

nitrogen serta berperan dalam mengedarkan karbohidrat di dalam tanaman.

Pupuk kalium yang terikat dengan unsur N bentuk nitrat (KNO3) memberikan

hasil yang lebih baik bagi tanaman, hal ini disebabkan oleh nitrat yang terkandung

dalam KNO3 lebih mudah untuk diserap dan digunakan dalam tanaman (Wahyu

dan Prajnata, 2004). Nitrogen yang terkandung pada senyawa KNO3 berperan

dalam sintesis asam amino dan pembentukan protein. Selain itu aplikasi KNO3

meningkatkan klorofil dalam daun yang akan digunakan dalam fotosintesis. Hasil

fotosintesis berupa fotosintat akan dialokasikan pada pertumbuhan dan

perkembangan tanaman, hal tersebut akan mempercepat proses metabolisme.

Mulsa adalah bahan yang dipakai pada permukaan tanah dan berfungsi untuk

(15)

4

(Adisarwanto & Wudianto, 1999 dalam Mariano, 2003). Salah satu cara untuk

menghindari terjadinya erosi pada musim hujan dan penguapan air tanah pada

musim kemarau dapat digunakan pemberian penutup tanah yang dikenal dengan

sebutan mulsa = mulch (Widyawati, 1989).

Menurut Advisory Committee On Vegetable Crops (2009), kebutuhan nitrogen

pada tanaman radish yaitu 60 kg/ha. Sedangkan kebutuhan Kalium pada tanaman

radish menurut Cortez et al (2010) yaitu 120/ha. Kebutuhan tanaman radish akan

unsur lain tidak terlalu banyak seperti unsur N, P dan K.

Menurut Lamont (1993), penggunaan mulsa plastik antara lain dapat

mempercepat tanaman berproduksi, meningkatkan hasil per satuan luas, efisien

dalam penggunaan pupuk dan air, mengurangi erosi akibat hujan dan angin,

mengurangi serangan hama dan penyakit tanaman, menghambat pertumbuhan

gulma, mencegah pemadatan tanah dan mempunyai kesempatan untuk menanam

pada bedengan yang sama lebih dari satu kali.

Penggunaan mulsa dapat menekan evaporasi sehingga dapat memperbaiki

pengambilan zat hara yang diberikan lewat pupuk KNO3 yang digunakan.

Aplikasi pupuk KNO3 terhadap lahan yang diberi mulsa dapat meningkatkan

bobot umbi radish (Wachstum, 2002).

Rumusan masalah:

1. Berapakah dosis pupuk KNO3 yang menghasilkan respons terbaik pada

(16)

5

2. Apakah terdapat perbedaan respons tanaman radish akibat aplikasi mulsa dan

tanpa mulsa.

3. Apakah respons tanaman radish akibat pemupukan KNO3 berbagai dosis akan

berbeda jika diaplikasikan pada lahan dengan mulsa dan tanpa mulsa.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui pengaruh pemberian beberapa taraf dosis pupuk KNO3 yang

menghasilkan respons terbaik tanaman radish.

2. Mengetahui respons tanaman radish akibat aplikasi mulsa.

3. Mengetahui respons tanaman radish akibat pemupukan KNO3 berbagai dosis

yang diaplikasikan pada lahan dengan mulsa dan tanpa mulsa.

1.3 Landasan Teori

Tanaman Radish (Raphanus sativus L) memerlukan tanah yang subur dengan

unsur hara yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Menurut

Sutejo (1999), tanaman akan tumbuh dengan baik pada tanah yang subur dan

banyak mengandung humus. Tanah yang subur adalah tanah yang memiliki

ketersediaan hara yang cukup bagi tanaman. Tingkat kesuburan tanah akan

menurun disebabkan oleh hilangnya hara. Untuk menjaga ketersediaan hara

dalam tanah, maka dilakukakan usaha pemupukan.

Kalium nitrat (KNO3) berperan sebagai perangsang aktivitas enzim nitrat

(17)

6

untuk meningkatkan tekanan turgor yang diperlukan untuk pembukaan stomata

dan CO2 yang diterima dapat dipercepat. Hal tersebut menyebabkan laju

fotosintesis meningkat sehingga karbohidrat banyak tersedia untuk menunjang

pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Leopold dan Kriedmann, 1975).

Dalam hubungannya dengan aktivitas pembentukan karbohidrat, kalium dalam

KNO3 sangat diperlukan pada fase reproduktif tanaman. Penambahan kalium

yang tinggi pada fase generatif tanaman akan meningkatkan kualitas hasil

(Cahyono dan Ismail, 1999).

KNO3 mengandung dua unsur hara makro N dan K yang dapat meningkatkan pH

tanah sehingga baik untuk jangka panjang dan semua jenis tanaman, tidak mudah

terikat oleh partikel tanah, tidak mudah menyebabkan kebakaran pada daun

meskipun penggunaannya dengan dosis yang tinggi, mudah terserap oleh tanah

sehingga mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit,

dan dapat merangsang pembentukan bunga dan memperbaiki kualitas buah

(Sunarjono, 1984). Indonesia yang merupakan daerah tropis yang memiliki

intensitas cahaya matahari dan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun,

diperlukan salah satu teknik budidaya yang tepat untuk mengatasinya, yaitu

dengan pemulsaan.

Salah satu cara untuk menghindari terjadinya erosi pada musim hujan dan

penguapan air tanah pada musim kemarau dapat digunakan pemberian penutup

(18)

7

menyatakan, bahwa syarat mulsa yang baik adalah ekonomis, mudah tersedia,

mudah dibawa, dan tidak mengandung zat-zat beracun bagi tanaman.

1.4 Kerangka pemikiran

Tanaman radish memerlukan tanah yang gembur, subur dan pasokan hara yang

cukup selama proses pertumbuhan dan perkembangan. Karena tanah yang

memiliki pasokan hara yang cukup, gembur dan juga subur dapat meningkatkan

pertumbuhan umbi radish. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tanaman

yaitu dengan pemupukan.

Pemupukan merupakan penambahan unsur hara kepada tanaman sehingga

pertumbuhan tanaman menjadi meningkat dan produksi hasilnya maksimal. Pada

tanaman radish, akar merupakan tempat penyimpanan hasil fotosintesis sehingga

perlu dipacu dengan pemberian kalium nitrat. Dengan pemberian ini diharapkan

kalium nitrat (KNO3) dapat merangsang pembesaran akar, sehingga pembesaran

umbi dapat tumbuh dengan maksimal. Dalam tanaman KNO3 berfungsi dalam

pembukaan stomata sehingga penerimaan CO2 dapat dipercepat. Hal tersebut

menyebabkan laju fotosintesis meningkat sehingga karbohidrat banyak tersedia

untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama

perkembangan umbi pada radish sebagai tempat penumpukan hasil fotosintesis.

Selain dengan menggunakan pemupukan, pemulsaan pada tanaman diharapkan

dapat mempengaruhi produktivitas. Fungsi mulsa pada umumnya adalah

menahan peningkatan suhu permukaan tanah sehingga kehilangan air pada

(19)

8

pertumbuhan gulma yang dapat menjadi kompetitor tanaman. Pemulsaan

merupakan teknik yang penting untuk memperbaiki iklim mikro tanah, menjaga

kelembapan tanah, mencegah kerusakan akibat dampak radiasi sinar matahari dan

curah hujan juga mengurangi kebutuhan akan pengolahan tanah. Hal tersebut

akan mempengaruhi produktivitas atau jumlah kandungan air pada umbi, terutama

berhubungan dengan bobot umbi radish.

Pemulsaan tanah dapat mempertahankan kelembaban dan suhu tanah, sehingga

dapat memperbaiki pengambilan zat hara oleh akar-akar tanaman.

Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sayuran

terutama ditentukan melalui pengaruhnya terhadap keseimbangan cahaya yang

menerpa permukaan plastik yang digunakan. Secara umum seluruh cahaya

matahari yang menerpa permukaan plastik, maka sebagian cahaya tersebut akan

dipantulan kembali ke udara, dalam jumlah yang kecil diserap oleh mulsa plastik,

dan diteruskan mencapai pemukaan tanah yang ditutupi mulsa plastik. Cahaya

yang dipantulkan permukaan mulsa plastik ke amosfir akan mempengaruhi bagian

atas tanaman, sedangkan cahaya yang diteruskan ke bawah permukaan mulsa

plastik akan mempengaruhi umbi.

1.5 Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan,

dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

1. Terdapat dosis pupuk KNO3 yang akan menghasilkan respon terbaik tanaman

(20)

9

2. Terdapat perbedaan respons tanaman radish akibat aplikasi pada lahan dengan

mulsa dan tanpa mulsa.

3. Respons tanaman radish akibat pemupukan KNO3 berbagai dosis akan

(21)

10

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Radish

Radish (Raphanus sativus L.) merupakan tanaman semusim atau setahun (annual)

yang termasuk dalam famili Cruciferae dan berasal dari Cina bagian tengah. Di

Indonesia, radish sudah dikenal sejak tahun 1961 dan pada mulanya hanya di

beberapa daerah di dataran tinggi, di antaranya adalah Lembang, Pangalengan,

Pacet, dan Cipanas (Bogor).

Kedudukan tanaman radish dalam taksonomi diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Sub-divisi : Angiospermae (Berbiji tertutup)

Kelas : Dicotiledónea (biji berkeping dua)

Famili : Brassicaceae (cruciferae)

Genus : Raphanus

Spesies : Raphanus sativus L

Susunan tubuh tanaman radish pada dasarnya terdiri atas akar, batang, daun,

bunga, buah, dan biji. Batang tanaman radish sangat pendek, dengan struktur

berbuku-buku dan sedikit berkayu sebagai tempat melekatnya tangkai daun. Daun

radish berbentuk panjang lonjong, pinggirnya berlekuk-lekuk, dan permukaan

(22)

11

Tabel 1. Kandungan gizi radish dalam tiap 100 g bahan segar

Kandungan gizi Jumlah

Kalori 17 kal

Sumber: Lorenz dan Maynard (1988)

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Radish

Radish mudah untuk dibudidayakan karena cepat dan mudah tumbuh. Tanaman

ini dapat tumbuh di dataran rendah maupun di dataran tinggi (pegunungan).

Tanaman radish akan tumbuh secara optimum di dataran tinggi (pegunungan)

antara 1.000 – 1.500 m dpl dengan suhu antara 15,60– 21,10 C dan kelembaban

pada RH 70% – 90%, cukup mendapat sinar matahari dan keadaan air tanah

memadai. Tanaman radish tidak tahan terhadap curah hujan yang tinggi selama

masa pertumbuhannya, karena dapat menyebabkan umbi cepat busuk dan resiko

serangan penyakit cukup tinggi (Sutomo, 2009).

Tanaman radish dapat tumbuh pada segala jenis tanah, tetapi tanah- tanah yang

subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak banyak mengandung

(23)

12

membudidayakannya. Jenis tanah yang paling ideal adalah Andosol, yang

mempunyai ketebalan solum tanah antara 100 – 225 cm, berwarna hitam atau

kelabu sampai coklat tua, strukturnya remah dan gembur. Keadaan tanah yang

demikian dapat membentuk umbi radish dengan sempurna. Pada tanah yang

kurang subur ataupun mudah menggenang umbi radish kurang sempurna, bahkan

kadang kala bercabang (Rukmana, 1995).

2.3 Kalium Nitrat (KNO3)

Kalium nitrat merupakan garam-garam yang mudah larut, KNO3 mempengaruhi

aktivitas enzim nitrat reduktase yang mereduksi nitrat menjadi ammonium yang

selanjutnya diubah menjadi protein. Kalium nitrat mengandung 44% kalium

nitrat dan 13% nitrogen dalam nitrat, berbentuk butiran berwarna putih yang tidak

bersifat higroskopis dengan reaksi yang netral (Novizan, 2003).

Kalium nitrat adalah salah satu senyawa kimia yang dapat merangsang

pembungaan, khususnya berperan sebagai perangsang aktivitas enzim nitrat

reduktase (Bondad dan Lingsingan, 1979). Dalam tanaman, KNO3 juga berfungsi

meningkatkan daya serap air tanah sehingga dapat meningkatkan tekanan tugor

yang diperlukan untuk pembukaan stomata dan mempercepat masuknya CO2

melalui stomata, serta dapat meningkatkan aktivitas giberelin. Hal tersebut akan

menyebabkan laju fotosintesis meningkat sehingga karbohidrat banyak tersedia

untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Leopold dan

(24)

13

Nitrogen dalam KNO3 merupakan unsur yang mudah tersedia dalam waktu cepat

bagi tanaman, namun memiliki beberapa sifat yang tidak menguntungkan antara

lain mudah menguap dalam bentuk gas (Fatchullah dan Suwandi, 1994). Kalium

nitrat mengandung kalium yang berperan dalam pengaktifan lebih dari 60 enzim,

termasuk sintetase dan oksidureduktase. Enzim-enzim ini penting dalam proses

esensial seperti respirasi, pemanfaatan energy, sintesis pati, dan metabolism

nitrogen. Kalium juga berperan dalam memperkuat tanaman agar daun, bunga,

dan buah tidak mudah gugur, serta merupakan sumber kekuatan bagi tanaman

dalam menghadapi kekeringan dan penyakit (Lingga dan Marsono, 2003).

2.4 Pengaruh Kalium pada Tanaman

Unsur K merupakan salah satu unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman,

keberadaan unsur ini sangat diperlukan dalam proses fisiologi tanaman, meskipun

bukan kation penting dalam pembentukan komponen tanaman seperti

protoplasma, lemak, dan selulosa (Nyakpa dkk, 1988).

Sejak awal pertumbuhan tanaman, kalium sudah mulai dibutuhkan dalam jumlah

yang relatif banyak. Menurut Novizan (2005), pemberian unsur kalium secara

bertahap dapat lebih efektif mengingat unsur K dapat diserap oleh tanaman lebih

banyak dibanding unsur hara lain kecuali N, selain itu juga disebabkan oleh sifat

unsur kalium sendiri yang mudah tercuci.

Peranan unsur K secara umum berhubungan dengan proses metabolisme seperti

fotosintesis dan respirasi. Selain itu unsur K juga berperan dalam translokasi gula

(25)

14

stomata, mengatur ketersediaan air yang cukup di dalam tanaman, memperluas

pertumbuhan akar, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan

penyakit, memperkuat tubuh tanaman melalui peningkatan kadar lignin dari

jaringan sklerenkim dan memperbaiki ukuran serta kualitas buah pada masa

generatif (Novizan, 2005).

Penggunaan KNO3 sebagai pupuk susulan lebih menguntungkan dibandingkan

dengan menggunakan KCl. KNO3 hanya mengandung K dan N maka tidak terjadi

kelebihan unsur lain yang dapat menyebabkan peningkatan kadar garam di dalam

tanah, selain itu unsur N dalam bentuk nitrat yang terdapat pada KNO3 juga lebih

mudah diserap oleh tanaman, karena lebih cepat tersedia bagi tanaman (Ashari,

1995).

2.5 Mulsa

Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk

menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit

sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik (Mariano, 2003).

Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai.

Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau

karung. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi

sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya mahal, terutama mulsa

plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam budidaya cabai atau melon

(26)

15

2.6 Peranan Mulsa bagi Tanaman

Penggunaan mulsa, baik mulsa organik maupun sintetik dapat meningkatkan

pertumbuhan berbagai macam sayuran (Yusnita dan H. Pangaribuan, 1993).

Manfaat lain penggunaan mulsa adalah menjaga kelembaban tanah, mengurangi

pencucian hara, memelihara bahan organik tanah, melidungi agregat tanah,

mengurangi aliran permukaan dan mencegah pertumbuhan gulma (Yusnita dan H.

Pangaribuan, 1993). Oleh karena itu, pemulsaan merupakan langkah penting

untuk konservasi lahan.

Menurut Samadi (1995), kondisi permukaan tanah yang terbuka selalu

berubah-ubah sesuai kondisi lingkungan, pemadatan tanah yang disebabkan oleh curah

hujan yang tinggi dan penguapan air tanah pada musim kemarau akan

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, hal tersebut dapat

(27)

16

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

Universitas Lampung, Kota Bandar Lampung pada bulan Mei hingga Juni 2012.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan adalah benih radish (Raphanus sativus L.) varietas

Long White Lcicle, mulsa plastik hitam perak,dan pupuk KNO3. Alat-alat yang

digunakan untuk kegiatan penelitian ini adalah cangkul, koret, gembor, ember,

meteran, mistar, nampan plastik, gunting, cutter, timbangan, dan alat tulis.

3.3 Metode Penelitian

Untuk mendapatkan bukti empiris dan untuk menguji hipotesis disusun rancangan

percobaan sebagai berikut:

(1) Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (5 x 2). Faktor pertama adalah

dosis pupuk KNO3 (K) yang terdiri dari 5 taraf, yaitu 0 kg/ha (k0); 75 kg/ha

(k1); 150 kg/ha (k2); 225 kg/ha (k3); dan 300 kg/ha (k4). Faktor kedua adalah

aplikasi mulsa (M) yang terdiri dari dua taraf yaitu tanpa pemberian mulsa

(28)

17

(2) Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Teracak

Sempurna (rkts) dengan tiga ulangan. Keragaman data diuji dengan uji

Bartlett dan sifat kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data diolah

dengan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji Polinomial Orthogonal dan

ortogonal Kontras. Semua pengujian dilakukan pada taraf nyata 5% dan 1%.

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Persiapan Lahan

Lahan yang akan ditanami radish dicangkul terlebih dahulu hingga gembur

sedalam 20 cm. Pencangkulan lahan dilakukan dua minggu sebelum penanaman.

Kegiatan penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan waktu pengolahan

lahan. Lahan kemudian dibuat bedengan (petakan) sebanyak 30 yang dibagi

menjadi tiga ulangan dengan masing-masing kelompok berjumlah 10 petakan.

Luas petakan 2,25 m2 dengan ketinggian 20 cm.

3.4.2 Pemupukan

Setelah lahan diolah dan didiamkan selama satu minggu maka lahan diberi pupuk

kandang kambing dengan takaran 2 kg/petak kemudian diberakan selama 4 hari.

Pupuk dasar Urea dan SP36 diberikan secara bersamaan dengan cara ditabur

(29)

18

3.4.3 Pemasangan Mulsa

Pemasangan mulsa dilakukan setelah aplikasi pupuk. Setelah mulsa terpasang,

selanjutnya mulsa dilubangi sebanyak 24 lubang. Pemasangan mulsa dipasang

sesuai denah yang telah ditentukan.

3.4.4 Penanaman

Jarak tanam yang digunakan adalah 10 cm x 20 cm. Luas petakan sebesar 1 x 1,5

m yang nantinya akan ditanami benih radish sebanyak 24 benih per petak, dan

setiap lubang hanya ditanam 1 bibit saja, jadi jumlah keseluruhan benih yaitu 720

benih.

3.4.5 Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi pengairan atau penyiraman, pembumbunan,

penyiangan tumbuhan pengganggu, dan pemberantasan hama penyakit.

Penyiraman umumnya dilakukan jika lahan terlihat kering. Kegiatan penyiraman

tergantung musim, bila musim kemarau dilakukan dengan intensitas dua kali

sehari. Sedangkan bila musim hujan penyiraman dilakukan sesuai dengan

intensitas curah hujan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebusukan tanaman.

Waktu yang paling baik untuk menyiram tanaman radish adalah pagi atau sore

hari. Pengendalian tumbuhan penggangu perlu dilakukan, bertujuan untuk

menghindarkan tanaman dari persaingan dengan gulma dalam hal air, sinar

(30)

19

harus secara hati-hati agar akar tanaman tidak terganggu. Gulma dikendalikan

secara manual.

3.4.6 Pemanenan

Panen dilakukan 50 hari setelah tanam. Ciri-ciri radish siap panen adalah setelah

memiliki 10 – 14 helai daun yang tumbuh sempurna dan umbi terlihat. Untuk

kesegaran dan meminimalisir kerusakan waktu panen yang paling baik adalah

pagi hari, saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara yang rendah.

Cara panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan hati –

hati agar umbi tidak rusak. Untuk menganalisis tanaman yang telah ditentukan

sebagai sampel, dilakukan pengamatan.

3.5 Pengamatan

Untuk menguji kesahihan kerangka pemikiran dan hipotesis dilakukan

pengamatan terhadap komponen pertumbuhan dan produksi. Setiap petak

percobaan diambil tujuh sampel tanaman. Dengan variabel pengamatan meliputi

peubah sebagai berikut:

[1] Jumlah daun tanaman dihitung dengan satuan helai. Perhitungan dilakukan

setiap tiga hari sekali dengan menghitung daun yang telah membuka

sempurna..

[2] Bobot basah umbi radish diukur dengan satuan gram. Pengukuran dilakukan

sesudah panen dengan menimbang seluruh bagian umbi radish yang telah

(31)

20

[3] Bobot kering brangkasan. Perhitungan dilakukan sesudah panen dengan

menimbang seluruh umbi setelah dioven.

[4] Diameter umbi radish di ukur dengan satuan cm. Pengukuran dilakukan

sesudah panen dengan menggunakan jangka sorong.

[5] Voleme umbi radish diukur dengan satuan volume kubik (mm3).

Pengukuran dilakukan sesudah panen dengan memasukkan ke dalam gelas

ukur.

[6] Produksi tanaman per petak diukur dengan satuan gram. Perhitungan

dilakukan sesudah panen dengan menimbang seluruh umbi radish yang telah

(32)

33

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan:

1. Respons tanaman radish terhadap dosis KNO3 masih linier sampai dosis 300

kg/ha.

2. Aplikasi tanpa mulsa memiliki respons/hasil yang lebih baik dibandingkan

dengan menggunakan mulsa untuk tanaman radish pada peubah bobot umbi,

bobot kering brangkasan, diameter umbi, volume umbi, dan produksi tanaman

per petak.

3. Pada dosis KNO3 yang sama, tanpa menggunakan mulsa didapatkan produksi

tanaman per petak yang lebih tinggi dari pada menggunakan mulsa.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberikan saran perlunya penelitian lanjutan

dengan menggunakan berbagai jenis mulsa pada berbagai dosis KNO3 sehingga

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Advisory Committee on Vegetable Crops. 2009. Radish. Atlantic Provinces Agriculture Services Coordinating Committee. Atlantic Provinces. 5 hlm.

Ashari. 1995. Aspek Budidaya Hortikultura. Universitas Indonesia. Jakarta. 485 hlm.

Bondad, L.H. and Lingsangan. 1979. ―Flowering in Mango Induced With Potassium Nitrate.‖ HortSci. 14 : 527-528.

Cahyono, F.B. dan Ismail. 1999. Pupuk dan Pemupukan, Seri Praktek Ciputri Hijau: Tuntunan Membangun Agribisnis. PT Elex Media Komputindo Gramedia. Jakarta. 422 hlm.

Cortez J.W.M, Arthur B. Cecílio Filho, Edson L. Coutinho, and Anarlete Alves. 2010. Cattle Manure and N-urea in Radish Crop (Raphanus sativus). Ciencia e Investigacion Agraria. Brasil. Cien. Inv. Agr. 37(1):45-53.

Fatchullah, D dan Suwandi. 1994. ―Pengaruh Langsung Pupuk Nitrogen Pelepas Lambat (SRN/CDU) Pada Tanaman KENTANG.‖ Jurnal Hortikultura 4

(1) : 29-37.

Lamont, W.J. 1993. Plastic Mulches for The Production of Vegetable Crops. Hort Technology : 3(1):35-39.

Leopold, A.C. and Kriedemann. 1975. Plant Growth and Development. The Lowa State University press. New York. USA. 52 hlm.

(34)

Lorenz, A. O. And D. N. Maynard. 1988. Knott’s Handbook for Vegetable Growers: Third Edition. Wiley interscience. New York. 456 pp.

Mariano, A.S.A. 2003. Pengaruh Pupuk Foska dan Mulsa Jerami Terhadap Beberapa Sifat Fisik dan Kimia Tanah Serta Produksi Kedelai (Glycine L. Merr). (Tesis). Institut Pertanian Bogor. Hal. 11-12.

Novizan. 2005. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Gramedia Pustaka. Jakarta. 108 hlm.

Nyakpa, M. Y., A. M. Lubis, M. A. Pulung, M. G. Amrah, G. B. Hong dan N. Hakim. 1988. Kesuburan Tanah. Bandar Lampung. 285 hlm.

Rukmana, R. 1995. Bertanam Lobak. Kanisius. Malang

Salisbury, F.B dan C.W. Ross.1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Diterjemahkan oleh D.R Lukman dan Sumaryono dari buku Plant Physiology. Penerbit ITB. Bandung. 241 hlm.

_______________________ .1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid II. Diterjemahkan oleh D.R lukman dan sumaryono dari buku Plant Physiology. Penerbit ITB. Bandung. 241 hlm.

Samadi, Budi. 1995. Usahatani Melon. Kanisius. Yogyakarta. 125 hlm.

Setyamidjaja, D. 1986. Pupuk dan Pemupukan. CV. Simplex. Jakarta. 220 hlm.

Soepardi, G. 1989. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. 519 hlm.

Sunarjono, H. 1984. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Sinar baru. Bandung. 150 hlm.

Sutejo, M.M. 1999. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.

(35)

Wachstum W. S and E. S Rettich. 2002. Effect of Nitrogen Fertilization on Growth, Yield and Nitrogen Contents of Radishes. Department of Horticulture. Agricultural Faculty of Ataturk University. Erzurum. Turkey. 67(1). S. 23–27.

Waggoner, P.E., P.M. Miller, and H.E. deRoo. 1960. Plastic Mulching; Principles and Benefits. Conn. Agr. Exp. Sta. Bul. 643. 44 pp.

Wahyu, A. dan Prajnata. 2004. Potasium Nitrat Memperbesar dan Memperbanyak Umbi Bawang Merah. www.tanondo.co.id. Diakses 1 Maret 2010.

Widyawati. 1989. Pengaruh Mulsa Terhadap Pertumbuhan Tanaman Vanila. (Tesis). Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.

Yusnita, dan H. Pangaribuan. 1993. ―Pengaruh Berbagai Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah dan Cabe Merah‖ hal : 81—87.

Prosiding Seminar Nasional IV Budidaya Pertanian olah Tanah Konservasi. Bandar Lampung 4—5 Mei 1993.

(36)

Tabel 8. Koefisien polinomial ortogonal pengaruh penggunaan mulsa terhadap pemberian pupuk KNO3.

Tanggapan Terhadap M Pada

k0: m0 vs m1 -1 1

k1: m0 vs m1 -1 1

k2: m0 vs m1 -1 1

k3: m0 vs m1 -1 1

k4: m0 vs m1 -1 1

Tanggapan Terhadap K Pada

m0: K-Linier -2 -1 0 1 2

m0: K-Kuadratik -2 1 2 1 -2

m1: K-Linier -2 -1 0 1 2

Gambar

Tabel 1.  Kandungan gizi radish dalam tiap 100 g bahan segar
Tabel  8.  Koefisien polinomial ortogonal pengaruh penggunaan mulsa terhadap pemberian pupuk KNO3

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,