Kerentanan Perkebunan Teh Terhadap Perubahan Iklim di
Wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango
Subhan Maulana Syifa
1, Sobirin
2, Tito Latif Indra
3Departemen Geografi, FMIPA UI, Kampus UI Depok 16424 [email protected]
Abstrak
Hingga saat ini terjadinya perubahan iklim beserta dampaknya sudah mulai dirasakan hampir di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Perubahan iklim memiliki dampak yang penting dalam produksi tanaman teh. Tanaman teh sangat bergantung pada distribusi curah hujan dan suhu udara yang baik. Perubahan iklim akan menyebabkan kerentanan pada perkebunan teh sehingga perlu untuk memetakan kerentanan perkebunan teh terhadap perubahan iklim di wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango. Penilaian kerentanan dilihat dari tiga aspek yaitu keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptasi. Pemetaan kerentanan dilakukan menggunakan analisis spasial dengan teknik skoring yang dipadukan dengan metode AHP dan weighted sum, sehingga diperoleh hasil yang menunjukan bahwa sebagian besar (sekitar 80 persen) area perkebunan teh di wilayah Puncak memiliki kerentanan wilayah terhadap perubahan iklim dalam kategori sedang. Perkebunan teh yang paling rentan (kerentanan tinggi) adalah perkebunan teh Gunung Mas yang disebabkan oleh tingginya dampak potensial dan rendahnya kapasitas adaptasi yang dimiliki, sebagian besar lahan perkebunan teh yang sangat rentan terhadap perubahan iklim berada di sebelah utara puncak Gunung Gede Pangrango.
Kata Kunci : kerentanan, perubahan iklim, perkebunan teh, wilayah Puncak
Abstract
Until now, climate change and its impacts are already being felt almost all over the world, including in Indonesia. Climate change has a significant impact in the production of tea plants. Plants are highly dependent on the distribution of rainfall and air temperature. Climate change will lead to vulnerabilities in the tea plantation so it is necessary to map the vulnerability to climate change of tea plantations in the Peak region. Vulnerability assessment viewed from three aspects: exposure, sensitivity and adaptive capacity. Vulnerability mapping using spatial analysis by scoring technique combined with the AHP and the weighted sum method, so that the obtained results show that the majority (approximately 80 percent) in the tea plantation area of the Peak has areas of vulnerability to climate change in the medium category. Tea plantations are most vulnerable (high vulnerability) is Gunung Mas tea plantation is due to high potential impact and low adaptive capacity owned, tea plantations mostly highly vulnerable to climate change are in the north peak of Gede Pangrango Mountain.
Keywords : vulnerability, climate change, tea plantation, peak region
1.
PENDAHULUAN
Hingga saat ini terjadinya perubahan iklim beserta dampaknya sudah mulai dirasakan dimana-mana hampir di seluruh dibelahan dunia ini, termasuk juga yang terjadi di Indonesia. Laporan ilmiah tentang perubahan iklim telah dirilis oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada awal Februari 2007 yang lalu berupa laporan tentang hasil pengamatan dan proyeksi dampak perubahan iklim di dunia dalam berbagai skenario. Seperti diketahui, iklim adalah rata-rata dan variasi dari unsur keadaan atmosfer atau cuaca seperti curah hujan, temperatur, tekanan, kelembaban, penguapan, angin, penyinaran matahari selama periode tertentu yang berkisar dalam hitungan bulan, tahun, dekade, abad bahkan hingga jutaan tahun.
Perubahan iklim memiliki dampak yang penting dalam produksi tanaman teh. Karena tanaman teh sangat bergantung pada distribusi curah hujan yang
baik, pertambahan suhu udara dan perubahan pola curah hujan yang akan berpengaruh pada kuantitas dan kualitas dari produksi tanaman teh. Ancaman terutama menyebabkan kerentanan pada petani kecil dan pemilik perkebunan teh (ITC, 2014).
Fenomena perubahan iklim berpengaruh terhadap kondisi iklim mikro di wilayah Puncak. Salah satu fenomena perubahan iklim yang terjadi di wilayah Puncak adalah meningkatnya suhu udara. Saat ini udara di wilayah Puncak tidak sedingin seperti dahulu karena adanya peningkatan gas CO2 akibat kendaraan bermotor dan banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi perumahan, hotel, ataupun villa (Wikantika dkk, 2006).
perkebunan teh terhadap perubahan iklim di wilayah Puncak.
2.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana kerentanan perkebunan teh terhadap perubahan iklim di wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango?
3.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan kerentanan perkebunan teh terhadap perubahan iklim di wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango.
4.
BATASAN PENELITIAN
a Daerah penelitian adalah perkebunan teh yang
berada di wilayah Gunung Gede Pangrango yang berada pada ketinggian di atas 500 mdpl dan dilalui oleh jalan Raya Puncak-Cianjur.
b Perubahan iklim pada penelitian ini menggunakan
perubahan curah hujan dan suhu udara sebagai indikator adanya perubahan iklim di wilayah Puncak.
c Curah hujan dan suhu udara yang diteliti yaitu dari
tahun 1981-2010 dengan melihat adanya perubahan tren curah hujan dan suhu udara yang terjadi selama 30 tahun. Tren adalah kecenderungan perubahan nilai parameter iklim naik atau turun pada suatu periode tertentu (BMKG, 2012).
d Perkebunan teh yang diteliti adalah perkebunan teh
milik negara dan perkebunan teh milik swasta. Terdapat dua perkebunan teh milik negara yaitu Gedeh dan Gunung Mas. Dan terdapat empat perkebunan teh milik swasta yaitu Ciliwung, Ciseureuh, Maleber dan Pasir Sarongge.
e Pemeliharaan teh yang dimaksud adalah cara
pembudidayaan teh yang dilakukan oleh perusahaan agar teh yang dihasilkan berkualitas baik. Pemeliharaan teh ini dilihat dari pengendalian hama dan penyakit, dan pemupukan.
f Intensitas serangan hama dan penyakit yang
dimaksud adalah persentasi luas lahan yang terkena serangan hama dan penyakit dibandingkan dengan luas seluruh lahan di perkebunan teh.
g Jenis tanaman teh adalah persebaran mayoritas
jenis tanaman teh unggulan atau jenis tanaman teh bukan unggulan. Tanaman teh unggulan yaitu jenis Tea Research Institute (TRI) dan jenis tanaman teh bukan unggulan yaitu jenis Gambung (GMB).
h Pendapatan perusahaan adalah besar pendapatan
(rupiah) yang didapat perusahaan perkebunan teh dalam setahun per luas lahan dalam hektar (ha).
i Teknologi pengolahan adalah teknologi yang
digunakan oleh perusahaan setelah melakukan panen teh agar teh yang dihasilkan dapat dikonsumsi. Pengolahan teh terdiri dari pengolahan teh modern dan tradisional. Pengolahan teh modern menggunakan teknologi pengolahan Cutting, Tearing and Curling (CTC) sedangkan pengolahan
teh tradisional menggunakan teknologi pengolahan Orthodoks.
5.
METODE PENELITIAN
Penilaian kerentanan dilihat dari tiga aspek yaitu keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu curah hujan, suhu udara, luas lahan, intensitas serangan hama dan penyakit, jenis tanah, jenis tanaman teh, ketinggian, pemeliharaan teh, pendapatan perusahaan, dan teknologi pengolahan.
Metode pengumpulan data terdiri dari data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan melalui kajian atau studi literatur, survei instansi, wawancara dan pengamatan langsung (direct observation).
Data primer dikumpulkan dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada para informan kunci (key informan) yang terdiri dari para pihak yang berkompeten menangani masalah perubahan iklim dan perkebunan teh.
Data sekunder berasal dari dokumen atau data
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor,
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Balai Penelitian Tanah, Badan Informasi Geospasial,
Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara dan Perusahaan Swasta.
Penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) dalam mengolah data primer dan sekunder untuk dilakukan pemetaan. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process), interpolasi IDW (Inverse Distance Weighting) dan metode Weighted Sum.
Tabel 1. Kriteria dan skor pada setiap variabel
kerentanan
Faktor Variabel Kriteria Skor
Sensitivitas
Jenis Tanah
Andisol 1
Latosol dan Podzolik 2 Selain jenis tanah
Tidak ada pengolahan 3
Tradisional 2
Modern 1
[Sumber : Wawancara dan studi literatur]
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial dan analisis deskriptif. Analisis spasial digunakan untuk menghasilkan peta pada setiap variabel dan menghasilkan peta kerentanan perkebunan teh terhadap perubahan iklim di wilayah puncak. Pada setiap peta variabel dimasukkan nilai atau skor tingkat kerentanan dan digunakan metode Weighted Sum untuk memasukkan bobot sehingga dapat dihasilkan peta kerentanan perkebunan teh. Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan penjelasan dari data fakta di lapangan dan untuk menjelaskan peta kerentanan perkebunan teh di wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango.
6.
HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Perubahan Iklim
6.1.1 Curah Hujan
Gambar 1. Persebaran curah hujan di wilayah
Puncak Gunung Gede Pangrango
Jika dilihat dari peta persebaran curah hujan periode 1 hingga periode 3, maka telah terjadi penurunan intensitas curah hujan selama 30 tahun di wilayah Puncak.
Tren curah hujan tahunan di Stasiun Meteorologi Citeko dan Gunung Mas menunjukkan variasi sebesar 1.500 mm, curah hujan tahunan menunjukan kecenderungan (tren) penurunan sebesar 8,3 mm per tahun, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Tren curah hujan tahunan
Tren curah hujan musim hujan (Oktober-Maret) di Stasiun Meteorologi Citeko dan Gunung Mas menunjukkan variasi sebesar 1.200 mm, curah hujan musim hujan menunjukan kecenderungan (tren) penurunan sebesar 0,67 mm per tahun, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.
Gambar 3. Tren curah hujan musim hujan
Tren curah hujan musim kemarau (April-September) di Stasiun Meteorologi Citeko dan Gunung Mas menunjukkan variasi sebesar 1.100 mm, curah hujan musim kemarau menunjukan kecenderungan (tren) penurunan sebesar 7,63 mm per tahun, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 4.
Gambar 4. Tren curah hujan musim kemarau
maka penurunan curah hujan akan semakin tinggi, seperti diperlihatkan pada Gambar 5.
Gambar 5. Penurunan curah hujan di wilayah
PuncakGunung Gede Pangrango
6.1.2 Suhu Udara
Gambar 6. Persebaran suhu udara di wilayah Puncak
Gunung Gede Pangrango
Jika dilihat dari peta persebaran suhu udara periode 1 hingga periode 3, maka telah terjadi peningkatan suhu udara selama 30 tahun di wilayah Puncak.
Tren suhu rata-rata tahunan di Stasiun Meteorologi Citeko menunjukkan variasi sebesar 1,5 ºC, suhu udara rata-rata tahunan menunjukan kecenderungan (tren) peningkatan sebesar 0,004 ºC per tahun, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 7.
Gambar 7. Tren suhu udara rata-rata tahunan
Suhu udara maksimum absolute tahunan adalah nilai suhu maksimum harian paling rendah dalam satu tahun (BMKG, 2012). Tren suhu udara maksimum absolut tahunan di Stasiun Meteorologi Citeko
menunjukkan variasi sebesar 1,5 ºC, suhu udara maksimum absolut tahunan menunjukan kecenderungan (tren) peningkatan sebesar 0,04 ºC per tahun, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.
Gambar 8. Tren suhu udara maksimum absolut
tahunan
Suhu udara minimum absolute tahunan adalah nilai suhu minimum harian paling rendah dalam satu tahun (BMKG, 2012). Tren suhu udara minimum absolut tahunan di Stasiun Meteorologi Citeko menunjukkan variasi sebesar 3,3 ºC, suhu udara minimum absolut tahunan menunjukan kecenderungan (tren) peningkatan sebesar 0,04 ºC per tahun, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 9.
Gambar 9. Tren suhu udara minimum absolut
tahunan
Peningkatan suhu udara di wilayah Puncak didominasi oleh peningkatan suhu udara sebesar kurang dari 0,02 ºC yang terletak di sebelah barat daya wilayah Puncak Semakin ke arah utara dan selatan wilayah Puncak maka peningkatan suhu udara akan semakin tinggi, seperti diperlihatkan pada Gambar 10.
Gambar 10. Peningkatan suhu udara di wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango
6.2 Hasil Pembobotan Menggunakan Metode AHP
Hasil akhir dalam menghitung bobot adalah dengan menghitung nilai rata-rata bobot dari semua informan. Nilai rata-rata bobot pada setiap variabel adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Persentase bobot
Variabel Persentase Bobot
Curah Hujan 18,6%
Suhu Udara 10,3% Luas Lahan
Perkebunan 3,5% Intensitas Serangan
Hama & Penyakit 12,0% Jenis Tanah 2,3%
Jenis Tanaman Teh 5,7%
Ketinggian 24,7%
Pemeliharaan Teh 11,9% Pendapatan
Perusahaan 2,5% Teknologi
Pengolahan 8,6%
Jumlah 100%
[Sumber : Pengolahan Data, 2014]
Variabel yang memiliki nilai bobot tertinggi adalah variabel ketinggian dengan nilai bobot 24,7%. Artinya bahwa variabel ketinggian memiliki pengaruh yang paling besar dalam tingkat kerentanan perkebunan teh. Sedangkan untuk variabel yang memiliki nilai bobot terendah adalah variabel jenis tanah dengan nilai bobot 2,3%. Artinya bahwa variabel jenis tanah memiliki pengaruh yang paling kecil dalam tingkat kerentanan perkebunan teh.
6.3 Kerentanan Perkebunan Teh
Kerentanan perkebunan teh terhadap perubahan iklim di wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango diperoleh dari semua variabel yang telah dilakukan klasifikasi nilai kerentanan kemudian dilakukan pembobotan dengan menggunakan metode AHP. Pembuatan peta kerentanan diolah dengan menggunakan metode Weighted Sum dalam perangkat lunak Arcgis 10 sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
Gambar 11. Kerentanan perkebunan teh terhadap
perubahan iklim di wilayah Puncak Gunung Gede Pangrango
Kerentanan perkebunan teh terhadap perubahan iklim didominasi oleh tingkat kerentanan sedang (warna kuning). Persebaran tingkat kerentanan tinggi (warna merah) terletak di sebelah utara Gunung Gede-Pangrango dan sebagian kecil terletak di sebelah timur Gunung Gede-Pangrango.
Tabel 3. Luas dan persentase tingkat kerentanan
Tingkat
Kerentanan Luas (ha)
Persentase (%)
Kerentanan
Rendah 203,00 6,29 Kerentanan
Sedang 2617,02 81,11 Kerentanan
Tinggi 406,44 12,60 [Sumber : Pengolahan Data, 2014]
Tingkat kerentanan perkebunan teh terbesar adalah pada kelas kerentanan sedang yaitu dengan luas sebesar 2617,02 ha dengan persentase sebesar 81,11 %.
Selanjutnya pada kelas kerentanan tinggi yaitu dengan luas sebesar 406,44 ha dengan persentase sebesar 12,60
%. Kemudian kelas kerentanan rendah yaitu dengan luas sebesar 203,00 ha dengan persentase sebesar 6,29
Tabel 4. Luas tingkat kerentanan pada setiap perkebunan teh
Tingkat Kerentanan
Luas Lahan Pada Perkebunan Teh (ha)
Ciliwung Ciseureuh Gedeh Gunung
Mas Maleber Pasir Sarongge Kerentanan
Rendah 31,36 26,41 0 0 83,29 61,94
Kerentanan
Sedang 568,20 515,93 991,55 541,33 0 0 Kerentanan
Tinggi 0 113,49 21,02 271,93 0 0
[Sumber : Pengolahan Data, 2014]
Pada kelas kerentanan rendah, perkebunan yang memiliki luas terkecil adalah perkebunan teh Gunung Mas karena perkebunan teh ini tidak memiliki lahan dengan tingkat kerentanan rendah, sedangkan perkebunan yang memiliki luas terbesar adalah perkebunan teh Maleber yaitu sebesar 83,29 ha. Pada kelas kerentanan sedang, perkebunan yang memiliki luas terkecil adalah perkebunan teh Maleber dan Pasir Sarongge karena perkebunan teh ini tidak memiliki lahan dengan tingkat kerentanan sedang, sedangkan perkebunan yang memiliki luas terbesar adalah perkebunan teh Gedeh yaitu sebesar 991,55 ha. Pada kelas kerentanan tinggi, perkebunan yang memiliki luas terkecil adalah perkebunan teh Ciliwung, Maleber dan Pasir Sarongge karena perkebunan teh ini tidak memiliki lahan dengan tingkat kerentanan tinggi, sedangkan perkebunan yang memiliki luas terbesar adalah perkebunan teh Gunung Mas yaitu sebesar
271,93 ha.
Perkebunan teh Gunung Mas memiliki luas yang terbesar pada kategori kerentanan tinggi disebabkan oleh tingginya dampak potensial (potential impact) dan rendahnya kapasitas adaptasi (adaptif capacity) yang dimiliki. Dampak potensial yang memiliki kategori kerentanan tingi terlihat pada variabel intensitas serangan hama dan penyakit, dan luas lahan. Intensitas serangan hama dan penyakit di perkebunan teh Gunung Mas yaitu sebesar lebih dari 30 persen sedangkan luas lahan yaitu sebesar lebih dari 700 ha. Kapasitas adaptasi yang rendah (kategori kerentanan tinggi) terlihat pada variabel pendapatan perusahaan dan pemeliharaan teh. Pendapatan perusahaan di perkebunan teh Gunung Mas yaitu sebesar kurang dari Rp 18.000.000,00 , sedangkan pemeliharaan teh yang dilakukan kurang baik.
7.
KESIMPULAN
DAFTAR ACUAN
(1) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.
(2012). Buku Informasi Perubahan Iklim dan Kualitas Udara di Indonesia. Jakarta.
(2) Intergovernmental Panel on Climate Change.
(2007). Summary for Policy Makers, Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Climate Change: The Physical Science Basis. Paris.
(3) International Trade Centre. (2014). Mitigating
Climate Change in Tea Sector. Geneva. Switzerland.
(4) Wikantika, K., & Agus, A. (2006). Analisis