KINERJA SEKRETARIS DESA DALAM TERTIB ADMINISTRASI DESA DI DESA NATAR KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

62  26  Download (2)

Teks penuh

(1)
(2)

ABSTRACT

PERFORMANCE OF VILLAGE SECRETARY IN ARRANGING VILLAGE ADMINISTRATIVE DISTRICT ON NATAR VILLAGE DISTRICT SOUTH

LAMPUNG REGENCY By

RAHMAD KARDIANSYAH

Conditions of Village Administrative District on Natar Village District South Lampung Regency is not in accordance with the Regulation of the Minister of Home Affairs Number 32 Year 2006 on the Village Administration. It is known from still mixed between documents or data in variety of village administration, when it should be a book for each of the separate administration with each other.

Formulation of the problem in this research is: " How is performance of village secretary in arranging village administrative district on Natar Village District South Lampung Regency?” The purpose of this research is to investigate the performance of village secretary in arranging village administrative district on Natar Village District South Lampung Regency.

(3)
(4)

ABSTRAK

KINERJA SEKRETARIS DESA DALAM TERTIB ADMINISTRASI DESA DI DESA NATAR KECAMATAN NATAR

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Oleh

RAHMAD KARDIANSYAH

Kondisi buku Administrasi Desa Natar Kecamatan Natar belum sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006 Tentang Administrasi Desa. Hal ini diketahui dari masih bercampur baurnya dokumen atau data mengenai berbagai administrasi desa, padahal seharusnya buku untuk masing-masing administrasi tersebut terpisah antara satu dengan yang lain.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: ”Bagaimanakah kinerja Sekretaris Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dalam tertib administrasi desa?” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja Sekretaris Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dalam tertib administrasi desa.

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

DAFTAR ISI

B. Tinjauan Tentang Pemerintahan Desa ... 15

1. Pengertian Pemerintahan Desa ... 16

2. Pengertian Pemerintah Desa ... 19

3. Kedudukan Kepala Desa... 20

4. Wewenang Kepala Desa ... 20

5. Kedudukan dan Fungsi Perangkat Kepala Desa ... 21

6. Sekretaris Desa ... 22

C. Tinjauan Tentang Tertib Administrasi Desa ... 22

1. Pengertian Administrasi ... 22

2. Pengertian Tertib Administrasi Desa ... 24

(10)

G. Teknik Analisis Data ... 33

IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 35

A. Sejarah Singkat Desa Natar ... 35

B. Batas Wilayah Desa Natar ... 37

C. Luas Wilayah Desa Natar ... 38

D. Orbitasi Desa Natar ... 38

E. Keadaan Penduduk ... 39

F. Pemerintahan Desa Natar ... 40

V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Pengetahuan Sekretaris Desa Natar Terhadap Administrasi Desa .... 51

B. Keterampilan Sekretaris Desa Natar Terhadap Administrasi Desa .. 64

C. Kemampuan Sekretaris Desa Natar Terhadap Administrasi Desa .... 76

VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Saran ... 87 DAFTAR PUSTAKA

(11)

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan pembangunan yang dihadapi dewasa ini dan di masa mendatang mensyaratkan perubahan paradigma kepemerintahan, pembaruan sistem kelembagaan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bangsa yang mengarah pada terselenggaranya tata pemerintahan yang baik (good governance).

Fenomena perubahan mendasar yang dimanifestasikan dengan melahirkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang direvisi dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah memberikan arah perubahan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kepegawaian Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai implikasi langsung terhadap kesiapan pengembangan sumber daya manusia, dan ketersediaan sumber daya lainnya.

Menurut Mardiasmo (2002: 46):

(12)

Implikasi dari adanya kewenangan urusan pemerintah yang begitu luas yang diberikan kepada daerah dalam rangka otonomi daerah, di satu sisi dapat merupakan berkah bagi daerah, namun pada sisi lain bertambahnya kewenangan daerah tersebut sekaligus juga merupakan beban yang menuntut kesiapan daerah untuk melaksanakannya, karena semakin bertambahnya urusan pemerintah yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan daerah tersebut permasalahan yang kemudian muncul adalah kinerja sumber daya manusia, yakni pemerintahan daerah dan seluruh perangkatnya, mulai dari pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, dituntut untuk memiliki sumber daya manusia manusia yang handal dalam pelayanan publik

(13)

3

Demokratisasi pemerintahan desa memiliki makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan dan pembangunan desa harus mengakomodasi aspirasi masyarakat melalui lembaga kemasyarakatan sebagai mitra pemerintah desa. Pemberdayaan masyarakat memiliki makna penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di desa ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui penetapan kebijakan, program dan kegiatan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat, yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(14)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2007, diketahui bahwa Sekretaris Desa diisi dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memenuhi persyaratan. Desa merupakan sasaran pelaksanaan urusan pemerintahan dan pembangunan serta merupakan sumber data dan informasi dalam penetapan kebijakan pemerintah. Kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah Kabupaten yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kabupaten/Kota. Hal itu untuk meringankan beban tugas Pemerintahan Pusat, serta lancarnya pelaksanaan pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah melalui tahapan-tahapan tertentu yang ditetapkan setiap lima tahun sekali, sehingga nantinya dapat dirasakan bersama hasilnya. Oleh karena tujuan pembangunan itu adalah untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat, maka diperlukan keterlibatan masyarakat dalam kerjasama melaksanakan tugas-tugas pemerintah.

(15)

5

Demikian kondisi yang dapat terjadi terhadap implementasi kebijakan pemerintah pada UU Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2007 yang mengamanatkan Sekretaris Desa diisi oleh PNS, baik melalui pengangkatan Sekretaris Desa menjadi PNS maupun penempatan PNS di daerah menjadi Sekretaris Desa. Keberhasilan implementasi kebijakan tersebut, tergantung kepada optimalisasi terhadap berbagai dampak positif yang akan terjadi dalam implementasi ketentuan tentang status PNS bagi Sekretaris Desa tersebut, dan juga tergantung kepada langkah antisipasi pemerintah terhadap berbagai dampak negatif yang mungkin terjadi. Upaya-upaya pengembangan dan antisipasi yang optimal terhadap berbagai dampak positif dan negatif tersebut, maka implementasi ketentuan tentang status PNS bagi Sekretaris Desa akan dapat berjalan dengan baik sehingga mampu mewujudkan desa yang modern, maju dan mandiri, dengan cara memberikan pelayanan publik yang sebaik-baiknya kepada masyarakat desa.

Menurut Pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 9 Tahun 2006 tentang Susunan Organisasi Pemerintah Desa:

a. Sekretaris desa berkedudukan sebagai unsur staf pembantu Kepala Desa dan memimpin Sekretariat Desanya sendiri.

b. Sekretaris desa mempunyai tugas menjalankan administrasi pemerintahan; pembangunan dan kemasyarakatan di desa serta memberikan pelayanan administrasi kepada Kepala Desa.

c. Untuk melaksanakan tugasnya Sekretaris Desa mempunyai fungsi: (1) Melaksanakan urusan surat menyurat, kearsipan dan laporan; (2) Melaksanakan urusan keuangan;

(3) Melaksanakan administrasi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan;

(16)

Berdasarkan prariset di Kantor Pemerintahan Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan, maka dapat dinyatakan bahwa kondisi buku Administrasi Desa Natar Kecamatan Natar belum sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006 Tentang Administrasi Desa. Hal ini dapat dilihat dari masih bercampur baurnya dokumen atau data mengenai berbagai administrasi desa, seperti Administrasi Umum, Administrasi Penduduk, Administrasi Keuangan dan Administrasi Pembangunan, padahal seharusnya buku untuk masing-masing administrasi tersebut terpisah antara satu dengan yang lain. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kurang optimalnya kinerja sekretaris desa dalam pelaksanaan tertib administrasi desa (Sumber: Prariset di Kantor Pemerintahan Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan pada tanggal hari Jumat, 07 September 2012).

Upaya untuk melaksanakan tugas dan fungsi Sekretaris Desa tersebut harus disertai dengan kinerja yang baik. Kinerja yang dimaksud dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Hasibuan (2006: 176):

Kinerja (perfomance) adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah ditetapkan. Kinerja merefleksikan kesuksesan suatu organisasi, maka dipandang penting untuk mengukur karakteristik tenaga kerjanya. Kinerja merupakan kulminasi dari tiga elemen yang saling berkaitan yakni keterampilan, upaya sifat keadaan dan kondisi eksternal. Tingkat keterampilan merupakan bahan mentah yang dibawa seseorang ke tempat kerja seperti pengalaman, kemampuan, kecakapan antar pribadi serta kecakapan teknik.

(17)

7

Menurut Pasal 1 ayat (6) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006 Tentang Administrasi Desa, yang menyatakan bahwa Administrasi Desa adalah keseluruhan proses kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada Buku Administrasi Desa.

Secara terperinci jenis-jenis administrasi desa tersebut disebutkan pada Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006 Tentang Administrasi Desa, bahwa jenis administrasi desa dibedakan menjadi:

1. Administrasi Umum adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai kegiatan Pemerintahan Desa pada Buku Administrasi Umum

2. Administrasi Penduduk adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai penduduk dan mutasi penduduk pada Buku Administrasi Penduduk 3. Administrasi Keuangan adalah kegiatan pencatatan data dan informasi

mengenai pengelolaan keuangan desa pada Buku Administrasi Keuangan 4. Administrasi Pembangunan adalah kegiatan pencatatan data dan informasi

pembangunan yang akan, sedang dan telah dilaksanakan pada Buku Administrasi Pembangunan

5. Administrasi Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan BPD adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai BPD

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka penulis akan melakukan penelitian mengenai kinerja sekretaris desa dalam tertib administrasi desa di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

B. Rumusan Masalah

(18)

C.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja Sekretaris Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dalam tertib administrasi desa.

D. Kegunaan Penelitian

kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan konstribusi pemikiran dan turut menyumbangkan teori-teori Ilmu Pemerintahan, terutama teori-teori tentang manajemen pemerintahan.

2. Secara Praktis

(19)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Kinerja

1. Pengertian Kinerja

Menurut Soewarno Handayaningrat (2004: 19), kinerja adalah cara menjalankan tugas dan hasil yang diperoleh. Kinerja adalah cara dalam mana suatu tindakan atau tugas dilakukan. Kusnadi mengartikan kinerja sebagai setiap gerakan, perbuatan, pelaksanaan, kegiatan atau tindakan sadar yang diarahkan untuk rnencapai suatu tujuan atau target tertentu.

(20)

Menurut Siagian (2004: 65), kinerja pada dasarnya adalah hasil kerja seseorang pegawai selama periode tertentu dibandingkan dengan kemungkinan, misalnya standar, target/sasaran atau kinerja yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah di sepakati bersama. Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai. Kinerja pegawai adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi. Perbaikan kinerja baik untuk individu maupun kelompok menjadi pusat perhatian dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka yang dimaksud dengan kinerja dalam penelitian ini adalah hasil kerja yang dicapai oleh suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya atau sebagai gambaran mengenai tentang besar kecilnya hasil yang dicapai dari suatu kegiatan baik dilihat secara kualitas maupun kuantitas sesuai dengan visi, misi suatu organisasi yang bersangkutan.

2. Ruang Lingkup Kinerja

Menurut Soewarno Handayaningrat (2004: 21, ruang lingkup kinerja dapat adalah sebagai berikut :

a. Kinerja merupakan aktivitas dasar, dan dijadikan bagian essensial dari kehidupan manusia.

b. Kinerja itu memberikan status, dan mengikat pada individu lain dan masyarakat.

(21)

11

terletak pada kondisi psikologis dan kondisi sosial dari pekerjaan itu dan tidak pada kondisi individu yang bersangkutan.

d. Insentif kerja itu banyak sekali bentuknya; diantaranya ialah uang.

e. Moral pekerja dan pegarvai itu tidak mernpunyai kaitan langsung dengan kondisi fisik dan materiil dari pekerjaan. Pekerjaan yang betapapun berat, kotor, dan berbahayanya, akan dilaksanakan dengan senang hati oleh satu tim kerja yang, memiliki solidaritas kelompok yang kokoh dan moral tinggi.

Sementara itu menurut A.S. Moenir (2000:4), ruang lingkup kinerja adalah: a. Pekerjaan yang diorganisir, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang:

(1) Tunduk terhadap aturan organisasi yang bersangkutan

(2) Ada analisa, uraian metode, dan hubungan antara pekerjaan itu (3) Satu dengan yang lain saling tergantung dan terikat

(4) Terbagi pada beberapa orang atau kelompok orang

(5) Pada umumnya basil akhir merupakan gabungan kesatuan dari berbagai jenis pekerjaan

(6) Hasil pekerjaan atau jerih payah tidak secara langsung dapat dinikmati oleh pekerja yang besangkutan.

(7) Menimbulkan dampak terhadap pemberian gaji, upah, dan sejenisnya yang merupakan penghasilan untuk pemangku pekerjaan yang bersangkutan b. Pekerjaan bebas, tidak terorf;anisir mempunyai sifat-sifat pokok:

(22)

3. Penilaian Kinerja

Menurut Siagian (2004: 67), penilaian kinerja adalah salah satu tugas penting untuk dilakukan oleh seorang pimpinan, walaupun demikian pelaksanaan kinerja yang obyektif bukanlah tugas yang sederhana. Penilaian harus dihindarkan adanya kesukaan dan ketidaksukaan dari penilai, agar obyektifitas penilaian dapat terjaga. Kegiatan penilaian ini penting, karena dapat digunakan untuk memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada para pegawai tentang kinerja mereka.

Pengertian di atas menunjukkan bahwa kinerja sebagai hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Kinerja berhubungan dengan bagaimana melakukan suatu pekerjaan dan menyempurnakan hasil pekerjaan berdasarkan tanggungjawab namun tetap mentaati segala peraturan-peraturan, moral maupun etika.

Menurut Siagian (2004: 68), penilaian kinerja pegawai dalam organisasi memiliki dua kegunaan, yaitu:

(23)

13

b) Kegunaan pengembangan potensi individu yang dilakukan dengan melakukan survey, test, atau evaluasi sehingga pengukuran tersebut dapat menghasilkan nilai yang menjadi gambaran potensi individu.

Selanjutnya menurut Siagian (2004: 67), komponen-komponen penilaian kinerja adalah sebagai berikut:

a. Komponen input, mengukur sumber daya yang diinvestasikan dalam suatu proses, program, maupun aktivitas untuk menghasilkan keluaran (output maupun outcome). Komponen ini mengukur jumlah sumberdaya seperti anggaran (dana), sumber daya manusia, informasi, kebijaksanaan/peraturan perundang-undangan dan sebagainya yang dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan.

b. Komponen output adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari sesuatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan / atau non fisik. Komponen ini digunakan untuk mengukur output yang dihasilkan dari suatu kegiatan. Dengan membandingkan output yang direncanakan dan yang betul-betul terealisir, instansi dapat menganalisis sejauh mana kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana. Komponen output hanya dapat menjadi landasan untuk menilai kemajuan suatu kegiatan apabila tolok ukur dikaitkan dengan sasran-sasaran kegiatan yang terdefinisi dengan baik dan terukur. Komponen output harus sesuai dengan lingkup dan kegiatan instansi.

c. Komponen outcome, adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya output (efek langsung) pada jangka menengah. Dalam banyak hal, informasi

(24)

pendekatan untuk mengukur outcome dari output suatu kegiatan. Pengukuran komponen outcome seringkali rancu dengan pengukuran komponen output. Contohnya, penghitungan jumlah bibit unggul yang dihasilkan oleh sesuatu kegiatan merupakan tolok ukur output. Akan tetapi perhitungan besar produksi per hektar yang dihasilkan oleh bibit-bubit unggul tersebut merupakan komponen outcome.

d. Komponen benefit, menggambarkan manfaat yang diperoleh dari komponen outcome. Benefit (manfaat) tersebut pada umumnya tidak segera tampak.

Setelah beberapa waktu kemudian, yaitu dalam jangka menengah atau jangka panjang dari benefitnya tampak. Komponen benefit menunjukan hal-hal yang diharapkan untuk dicapai bila output dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat lokasi dan tepat waktu).

e. Komponen impact memperlihatkan pengaruh yang ditimbulkan dari benefit yang diperoleh. Seperti halnya komponen benefit, komponen impact juga baru dapat diketahui dalam jangka waktu menengah atau jangka panjang. Komponen impact menunjukan dasar pemikiran dilaksanakannya kegiatan yang menggambarkan aspek makro pelaksanaan kegiatan, tujuan kegiatan secara sektoral, regional dan nasional.

B. Tinjauan Tentang Pemerintahan Desa

(25)

15

asal usul dan nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada masyarakat setempat namun harus diselenggarakan dalam perspektif administrasi pemerintahan negara yang mengikuti perkembangan jaman.

Otonomi desa memiliki makna berbeda dengan otonomi daerah, otonomi daerah lebih diartikan sebagai pemberian wewenang oleh pemerintah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang bersangkutan. Sedangkan makna otonomi desa lebih bersifat otonomi asli, yaitu pengaturan penyelenggaraan Pemerintahan Desa tetap dikembalikan pada desa sendiri, yaitu disesuaikan dengan adat istiadat serta kebiasaan masyarakat setempat. Otonomi desa merupakan hak, wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat berdasarkan hak asal usul dan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat setempat diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan desa itu sendiri.

1. Pengertian Pemerintahan Desa

(26)

pengaturan mengenai desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat.

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, mengakui otonomi yang dimiliki oleh desa melalui pemerintahan desa dapat diberikan penugasan ataupun pendelegasian dari pemerintah ataupun pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah tertentu. Sedangkan desa di luar desa geneologis yaitu desa yang bersifat administratif seperti desa yang dibentuk karena pemekaran desa ataupun karena transmigrasi ataupun karena alasan lain yang warganya pluralistis, majemuk, ataupun heterogen, maka otonomi desa akan diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan desa itu sendiri.

Desa dapat melakukan perbuatan hukum, baik publik maupun perdata, memiliki kekayaan, harta benda, dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan. Kepala Desa dengan persetujuan BPD mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan desa, bantuan pemerintah dan pemerintah daerah, pendapatan lain-lain yang sah, sumbangan pihak ketiga dan pinjaman desa. Berdasarkan hak asal-usul desa yang bersangkutan.

(27)

17

Peraturan Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan keputusan Kepala Desa. Di desa dibentuk lembaga kemasyarakatan yang berkedudukan sebagai mitra kerja pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat desa.

Kepala Desa pada dasarnya bertanggungjawab kepada rakyat desa yang dalam tata cara dan prosedur pertanggungjawabannya disampaikan kepada Bupati melalui Camat. Kepada Badan Permusyawaratan Desa, Kepala Desa wajib memberikan keterangan laporan pertanggung jawabannya dan kepada rakyat menyampaikan informasi pokok-pokok pertanggungjawabannya namun tetap harus memberi peluang kepada masyarakat melalui Badan Permusyawaratan Desa untuk menanyakan dan atau meminta keterangan lebih lanjut terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pertanggungjawaban tersebut.

(28)

Penyelenggaraan pemerintah desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintah sehingga desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Pemerintah Desa dalam menjalankan tugas dan fungsinya menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi. Dalam menyelenggarakan tugas dan fungsinya, kepala Desa bertanggung jawab kepada rakyat melalui BPD dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati tembusan Camat.

Kepala Desa dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai penanggungjawab utama dalam bidang pembangunan dapat dibantu lembaga kemasyarakatan yang ada di desa. Sedangkan dalam menjalankan tugas dan fungsinya, sekretaris desa, kepala seksi, dan kepala dusun berada di bawah serta tanggungjawab kepada Kepala Desa, sedang kepala urusan berada di bawah dan bertanggungjawab kepada sekretaris desa.

Menurut Pasal 209 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, urusan pemerintah yang menjadi kewenangan desa adalah:

a. Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa.

b. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten atau kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa.

c. Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi, dan atau pemerintah kabupaten atau kota.

(29)

19

2. Pengertian Pemerintah Desa

Menurut Pasal 202 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa dan Perangkat Desa. Kepala Desa adalah pemimpin pemerintah desa, sedangkan perangkat desa adalah unsur pemerintah desa yang terdiri dari unsur staf, unsur pelaksana teknis, dan unsur wilayah. Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya.

Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya bertanggungjawab kepada rakyat melalui BPD dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya kepada Bupati dengan tembusan Camat. Sedangkan perangkat Desa dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Desa. Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Desa dan perangkat Desa berkewajiaban melaksanakan koordinasi atas segala pemerintahan desa, mengadakan pengawasan, dan mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas masing-masing secara berjenjang. Apabila terjadi kekosongan perangkat desa, maka Kepala Desa atas persetujuan BPD mengangkat pejabat perangkat desa.

3. Kedudukan Kepala Desa

Kepala Desa berkedudukan sebagai berikut: a. Pemimpin organisasi Pemerintah Desa; b. Pemimpin masyarakat desa;

c. Hakim perdamaian desa;

(30)

e. Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya.

4. Wewenang Kepala Desa

Kepala Desa mempunyai wewenang sebagai berikut:

a. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Desa;

b. Membina kehidupan masyarakat Desa; membina ketentraman dan ketertiban masyarakat Desa;

c. Mengadakan kerjasama antar Desa untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan melaporkan kepada Bupati dengan tembusan Camat.

5. Kedudukan dan Fungsi Perangkat Desa

Perangkat desa berkedudukan sebagai unsur pelaksana yang membantu Kepala Desa, melakukan pembinaan administratif dan memberikan pelayanan teknis administratif pada seluruh organisasi Desa. Perangkat Desa mempunyai fungsi: a. Membantu Kepala Desa sesuai dengan tugas pokok sebagai unsur pelaksana

teknis lapangan di Desa;

b. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa. Perangkat Desa mempunyai tugas sebagai berikut:

a. Melakukan urusan pertanian;

b. Melakukan urusan pembinaan dan pengembangan kegiatan pertanian Desa; c. Melakukan urusan pembinaan dan pengaturan pengairan perdesaan;

(31)

21

e. Melakukan urusan pembinaan keamanan masyarakat Desa; f. Melakukan urusan pembinaan ketertiban masyarakat Desa; g. Melakukan urusan pembinaan program bela negara di Desa; h. Melakukan urusan pembinaan kesejahteraan rakyat perdesaan; i. Melakukan urusan kelahiran, perkawinan, perceraian, dan kematian; j. Melakukan urusan pembantuan di bidang keagamaan masyarakat di Desa; k. Melakukan urusan pembantuan secara umum pada kegiatan pemerintah Desa; l. Melakukan urusan lain yang diberikan oleh Kepala Desa.

6. Sekretaris Desa

Sekretaris Desa diangkat oleh Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota atas nama Bupati/Walikota. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya Sekretaris desa bertanggung jawab kepada kepala desa.

a. Sekretaris desa berkedudukan sebagai unsur staf pembantu Kepala Desa dan memimpin Sekretariat Desanya sendiri.

b. Sekretaris desa mempunyai tugas menjalankan administrasi pemerintahan; pembangunan dan kemasyarakatan di desa serta memberikan pelayanan administrasi kepada Kepala Desa.

c. Untuk melaksanakan tugasnya Sekretaris Desa mempunyai fungsi: (1) Melaksanakan urusan surat menyurat, kearsipan dan laporan; (2) Melaksanakan urusan keuangan;

(32)

(4) Melaksanakan tugas dan fungsi kepala desa apabila kepala desa berhalangan melakukan tugasnya.

C. Tinjauan Tentang Tertib Administrasi Desa

1. Pengertian Administrasi

Menurut S.Prajudi Atmosudirdjo (2001: 5), administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang terlibat dalam suatu bentuk usaha bersama demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Konsep administrasi mencakup sebagai berikut: a) Administrasi adalah fungsi daripada atau apa yang harus dijalankan oleh setiap orang yang memimpin atau mengepalai suatu organisasi. b) Administrasi adalah dari pimpinan, pembinaan, pengarahan dan pengendalian daripada suatu organisasi secara keseluruhan.

Menurut Lembaga Administrasi Negara (2007: 1), pengertian administrasi adalah sebagai suatu fungsi, yaitu dalam hal fungsi penyelenggaraan dan pelaksanaan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah digariskan Administrasi Negara adalah organisasi dan management keseluruhan aparatur pemerintah negara dengan cara yang setepat-tepatnya

(33)

23

yaitu kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang terlebih dahulu telah ditetapkan. Kegiatan itu meliputi antara lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka yang dimaksud dengan administrasi dalam penelitian ini adalah segenap rangkaian perbuatan penyelenggaraan dalam setiap usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu secara tepat.

2. Pengertian Tertib Administrasi Desa

Menurut Pasal 1 Angka (6) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006 Tentang Administrasi Desa, yang menyatakan bahwa Administrasi Desa adalah keseluruhan proses kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada Buku Administrasi Desa.

Secara terperinci jenis-jenis administrasi desa tersebut disebutkan pada Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006 Tentang Administrasi Desa, bahwa jenis administrasi desa dibedakan menjadi:

a. Administrasi umum

Administrasi Umum adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai kegiatan Pemerintahan Desa pada Buku Administrasi Umum. Bentuk administrasi umum terdiri dari:

1) Buku data peraturan desa

(34)

3) Buku data inventaris desa

4) Buku data aparat pemerintah desa

5) Buku data tanah milik desa/tanah kas desa 6) Buku data tanah di desa

7) Buku agenda 8) Buku ekspidisi

b. Administrasi penduduk

Administrasi Penduduk adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai penduduk dan mutasi penduduk pada Buku Administrasi Penduduk. Bentuk administrasi penduduk terdiri dari:

1) Buku Data Induk Penduduk Desa 2) Buku Data Mutasi Penduduk Desa

3) Buku Data Rekapitulasi Jumlah Penduduk Akhir Bulan 4) Buku Data Penduduk Sementara

c. Administrasi keuangan

Administrasi Keuangan adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai pengelolaan keuangan desa pada Buku Administrasi Keuangan. Bentuk administrasi keuangan terdiri dari:

1) Buku Anggaran Penerimaan 2) Buku Anggaran Pengeluaran Rutin

3) Buku Anggaran Pengeluaran Pembangunan 4) Buku Kas Umum

(35)

25

6) Buku Kas Pembantu Pengeluaran Rutin

7) Buku Kas Pembantu Pengeluaran Pembangunan

d. Administrasi Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

Administrasi Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan BPD adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai BPD. Bentuk administrasi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) terdiri dari:

1) Buku Data Anggota BPD

Menurut Pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 9 Tahun 2006 tentang Susunan Organisasi Pemerintah Desa:

a. Sekretaris desa berkedudukan sebagai unsur staf pembantu Kepala Desa dan memimpin Sekretariat Desanya sendiri.

b. Sekretaris desa mempunyai tugas menjalankan administrasi pemerintahan; pembangunan dan kemasyarakatan di desa serta memberikan pelayanan administrasi kepada Kepala Desa.

c. Untuk melaksanakan tugasnya Sekretaris Desa mempunyai fungsi: (1) Melaksanakan urusan surat menyurat, kearsipan dan laporan; (2) Melaksanakan urusan keuangan;

(3) Melaksanakan administrasi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan;

(36)
(37)

III. METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang diterapkan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Muhammad Nazir (2001: 67), penelitian deskriptif adalah tipe penelitian yang digunakan untuk menggambarkan suatu fenomena atau keadaan berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan.

Selanjutnya menurut Bugdon dan Taylor dalam Moleong (2005: 5-6):

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif adalah prosedur analisis yang tidak menggunakan analisis statistik atau cara kuantifikasi/ perhitungan.

Berdasarkan pengertian di atas maka tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan fenomena berupa kinerja Sekretaris Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dalam pengelompokan administrasi desa.

B. Fokus Penelitian

(38)

Sekretaris Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dalam tertib administrasi desa yang terdiri dari:

1. Pengetahuan Sekretaris Desa terhadap administrasi desa, dengan indikator: a. Mengetahui Buku-Buku Administrasi Desa

b. Mengetahui Tertib Administrasi Desa

2. Keterampilan Sekretaris Desa terhadap administrasi desa, dengan indikator: a. Terampil Menyusun Buku-Buku Administrasi Desa

b. Terampil melaksanakan Tertib Administrasi Desa

3. Kemampuan Sekretaris Desa terhadap administrasi desa, dengan indikator: a. Mampu Menyusun Tertib Administrasi Desa

b. Mampu Melaksanakan Tertib Administrasi Desa

C. Informan Penelitian

Penelitian kualitatif pada umumnya mengambil jumlah informan yang lebih kecil dibandingkan dengan bentuk penelitian lainnya. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu atau perorangan. Untuk memperoleh informasi yang diharapkan, peneliti terlebih dahulu menentukan informan yang akan dimintai informasinya. Dalam penelitian ini informan peneliti dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan informan secara tidak acak, tetapi dengan pertimbangan dan kriteria tertentu, yaitu sebagai berikut:

(39)

32

2. Informan merupakan subyek yang masih trika secara penuh aktif pada lingkungan atau kegiatan yang menjadi sasaran dan perhatian peneliti.

3. Informan merupakan subyek yang dalam memberikan informasi tidak cenderung diolah atau dikemas terlebih dahulu.

Berdasarkan ketentuan tersebut maka informan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kepala Desa Natar (Bapak M. Arif) : 1 orang 2. Sekretaris Desa Natar (Wiryo Sudarmo) : 1 orang 3. Kepala Urusan Pemerintahan (Nasir Hasanudin) : 1 orang 4. Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Nurmilawati) : 1 orang 5. Kepala Urusan Pembangunan (Salimah) : 1 orang 6. Kepala Urusan Umum dan Keuangan (Suhariyati) : 1 orang 7. Perwakilan Masyarakat Desa Natar (Hardiansyah) : 1 orang 8. Anggota BPD Desa Natar (Slamet) ` : 1 orang +

8 orang D. Jenis Data

Jenis data penelitian ini meliputi:

1. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber atau lokasi penelitian, yaitu dengan melakukan wawancara pada informan penelitian. 2. Data Sekunder adalah data tambahan yang diperoleh dari berbagai sumber

(40)

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan:

1. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara turun langsung ke lapangan penelitian untuk mengamati dan mencatat berbagai hal yang berkaitan dengan penelitian.

2. Wawancara, yaitu teknik yang digunakan untuk memperoleh data melalui percakapan langsung dengan para informan yang berkaitan dengan masalah penelitian dan dilakukan menggunakan pedoman wawancara. Alat yang digunakan adalah pedoman wawancara.

3. Dokumentasi, yaitu teknik untuk mendapatkan data dengan cara mencari informasi dari berbagai sumber atau referensi yang terkait dengan penelitian. 4. Kuisioner, yaitu teknik untuk mendapatkan data dengan memberikan

pertanyaan tertulis kepada masyarakat untuk mengetahui tanggapan mereka terhadap kinerja Sekretaris Desa.

F. Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan:

1. Tahap editing, yaitu memeriksa ulang data yang telah diperoleh di pada pelaksanaan penelitian, baik dari hasil wawancara dan dokumentasi sehingga sesuai dengan fokus penelitian.

(41)

34

G. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan mengatur catatan lapangan, dan bahan lainnya yang ditemukan di lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yang berpijak dari data yang didapat dari hasil wawancara serta hasil dokumentasi, melalui tahapan sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan dituangkan ke dalam bentuk laporan selanjutnya direduksi, dirangkum, difokuskan pada hal-hal penting. Dicari tema dan polanya disusun secara sistematis.

2. Penyajian Data (Display Data)

Untuk melihat gambaran keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian harus diusahakan membuat bermacam matriks, grafik, jaringan, dan bagian atau bisa pula dalam bentuk naratif saja.

3. Mengambil Kesimpulan atau Verifikasi Data.

(42)

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Singkat Desa Natar

Berdasarkan keterangan yang didapat dari tokoh masyarakat serta peninggalan dokumen yang ada, Desa Natar dibuka Tahun 1803 oleh tiga orang barsaudara yaitu:

1) Ratu Pengikhan Dulu Kuning 2) Lanang Batin

3) Tuan Raja Lama

(43)

36

Dalam peresmiannya dilaksanakan kira-kira tahun 1811 yang dihadiri semua penyimbang penyimbang yang dalam adat Pepadun yaitu Pubian Telu Suku, untuk penghonnatannya. Maka Ratu Pengikhan Dulu Kuning , Lanang Batin, dan Tuan Raja Lama beserta semua ahli warisnya memotong kerbau sebanyak 41 ekor.

Beberapa buay (marga) lain yang berjasa pada pembukaan Desa Natar adalah sebagai berikut:

1) Buay Kuning Balau

2) Buay Kuning Balau Khulung Gedung 3) Buay Gunung Khulung Bujung

4) Buay Gunung Khulung Tanoh Bih 5) Buay Pemuka Pati

Kelimanya menyimpulkan pantun Tiuh Adat yaitu: “Dalom Bangsa Kemala Lain Sai Tali Nanggai Jemaja Bintang Lima Sepakai Jakni Pesai” Pada 1917 Pemerintah Belanda membuat jalan Kereta Api dalam jalur wilayahnya membelah Desa Natar, maka pada tahun itu pula bergeserlah Desa Natar ke Desa yang sekarang. Pada ketentuan Desa Natar adalah Bandar Natar dan pada kira-kira tahun 1925 berubah menjadi distrik IV Natar. Dan pada tahun 1945 berubah menjadi Asisten Widana Natar. Pada Th. 1960 berubah menjadi Kecamatan Natar. Untuk membangun Kantor Camat di bangun di desa Merak Batin karena ada tanah bekas asing yaitu cina. Kalau dilihat dari data diatas jelas desa natar adalah Desa yang tertua diantara Desa dalam Wilayah Kota Kecamatan Natar.

(44)

penggantian Kepala Desa yaitu:

1) Tahun 1901 - 1903 dijabat oleh pangeran Dulu Kuning 2) Tahun 1903 - 1905 dijabat oleh Dalem Mak Isah 3) Tahun 1905 -1910 dijabat oleh Kepala Hukum 4) Tahun 1910 - 1915 dijabat oleh Tuan Raja 5) Tahun 1915 - 1917 dijabat oleh St. Lanang

6) Tahun 1917 - 1926 dijabat oleh Kep. Sangtfn Ratu 7) Tahun 1926 - 1928 dijabat oleh Tuan Raja

8) Tahun 1928 - 1935 dijabat oleh Kep.Sangon Ratu 9) Tahun 1935 - 1944 dijabat oleh Pangeran Bandar 10)Tahun 1944 - 1948 dijabat oleh St.Ratu Sebujung 11)Tahun 1948 - 1961 dijabat oleh IIyas St.Ratu Hukum 12)Tahun 1961-1964 dijabat oleh Wagimun

13)Tahun 1964 - 1977 dijabat oleh Sukur St.Ngemum 14)Tahun 1977-1979 dijabat oleh A.Razak St.Niti Hukum 15)Tahun 1979 - 1984 dijabat oleh Radiman

16)Tahun 1984 - 2002 dijabat oleh Hi.Yakub.AD.St. Haji 17)Tahun 2002 - 2007 dijabat oleh Suparyono . A.

18)Tahun 2007 - sampai sekarang dijabat oleh M.Arif,S.pdi. St. Perwira

(Sumber: Monografi Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013).

B. Batas Wilayah Desa Natar

(45)

38

2) Sebelah selatan : Desa Pemanggilan

3) Sebelah Barat : Desa Negri Sakti - Negara Ratu 4) Sebelah Timur : Desa Merak Batin – Sidosari

(Sumber: Monografi Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013).

C. Luas Wilayah Desa Natar

Luas Wilayah Desa Natar adalah sebagai berikut: 1) Pemukiman 24,63 ha

2) Pertanian Sawah tadah hujan 244,01 ha 3) Ladang/tegalan 249 ha

4) Sekolah 3.215 ha

Dokumen RPJMDes harus menyesuaikan dengan RPJMDes Kabupten Lampung Selatan agar pembanggunan di Kabupaten bisa berjalan serasi antara desa dan Kabupaten. Sebagai bahan usulan program desa yang akan dijalankan melalui proses musenbangdes untuk mennyusun APBD Kabupaten setiap tahun anggaran. (Sumber: Monografi Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2013).

D. Orbitasi Desa Natar

Orbitasi atau jarak tempuh Desa Natar adalah sebagai berikut: 1. Jarak ke ibu kota kecamatan terdekat : 0,5 KM 2. Lama jarak tempuh ke ibu kota kecamatan : 0,15 jam

3. Jarak ke ibu kota kabupetan : 90 KM

(46)

(Sumber: Monografi Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013).

E. Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan adalah 3172 jiwa yang terdiri dari 684 Kepala Keluarga (KK).

1. Mata Pencaharian Penduduk

Untuk mengetahui mata pencaharaian penduduk di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Mata Pencaharian Penduduk di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013

No Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa)

1 Angkatan Belum Bekerja 952

2 Petani/Penggarap Kebun/Ladang 1322

3 Pedagang 354

4 Peternak 279

5 Wiraswasta 220

6 PNS/TNI/Polri 45

Jumlah 3172

Sumber: Monografi Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa mayoritas mata pencaharian penduduk di Desa Natar bekerja sebagai Petani/Penggarap Kebun/Ladang dengan jumlah 1322 orang dan mata pencaharian penduduk yang paling sedikit adalah PNS/TNI/Polri 45 orang. Angkatan belum bekerja (usia sekolah dan usia lanjut usia) mencapai 952 orang.

2. Latar Belakang Pendidikan Penduduk

(47)

40

Tabel 3. Latar belakang pendidikan penduduk Penduduk di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013

No Jenjang Pendidikan Jumlah

1 Prasekolah 697

Sumber: Monografi Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa mayoritas latar belakang pendidikan penduduk di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan adalah tamatan SMP atau sederajat dengan jumlah 875 orang, sedangkan latar belakang pendidikan penduduk yang paling sedikit adalah Pendidikan Sarjana yaitu 22 orang.

F. Pemerintahan Desa Natar

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, Pemerintah Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(48)

a. Dari segi politis bertujuan untuk menjaga tetap tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang dikonstruksikan dalam sistem pemerintahan yang memberi peluang turut sertanya rakyat dalam mekanisme penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

b. Dari segi formal dan konstitusional yang bertujuan untuk melaksanakan ketentuan dan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Perundangan yang mengatur mengenai Desa.

c. Dari segi operasional yang bertujuan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan di desa, terutama dalam pelaksanaan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat.

d. Dari segi administrasi pemerintahan, yang bertujuan untuk lebih memperlancar dan menertibkan tata pemerintahan agar dapat terselenggara secara efektif, efisien dan produktif dengan menerapkan prinsip-prinsip rule of law dan demokrasi.

Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup;

a. Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa.

b. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa.

c. Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provimsi, dan/atau Pemerintah Kabupaten/kota.

(49)

42

Pemerintah Desa dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Desa dan Perangkat Desa. Kepala Desa sebagai pemimpin organisasi Pemerintah Desa dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihannya diatur dengan Peraturan Daerah yang berpedoman kepada peraturan Pemerintah.Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa didefinisikan, Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Perangkat Desa terdiri dari Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya. Dalam Undang-Undang Pemerintah Desa Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Sekretaris Desa sebagai Perangkat Desa diisi oleh pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. Dan untuk Sekretaris Desa yang selama ini bukan Pegawai Negeri Sipil secara bertahap diangkat menjadi pegawai negeri sipil sesuai peraturan perundang-undangan.

Perangkat Desa lainnya dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 202 Ayat (2) adalah perangkat pembantu Kepala Desa yang terdiri dari Sekretaris Desa, pelaksana teknis lapangan, seperti kepala urusan, dan unsur kewilayahan seperti dusun atau dengan sebutan lain.

(50)

pembantuan dari pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan atau dari Pemerintah Kabupaten.

1. Kepala Desa

Kepala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihannya diatur dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Calon Kepala Desa yang memiliki suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Desa ditetapkan sebagai Kepala Desa. Masa jabatan Kepala Desa adalah enam Tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Namun masa jabatan ini dapat dikecualikan bagi kesatuan masyarakat hukum adat yang keberadaannya masih hidup dan diakui yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Kepala Desa pada dasarnya bertanggung jawab kepada rakyat desa yang dalam tata cara dan prosedur pertanggungjawabannya disampaikan kepada bupati atau walikota melalui camat. Kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Kepala Desa wajib memberikan keterangan laporan pertanggungjawabannya dan kepada rakyat memberikan informasi pokok-pokok pertanggungjawabannya.

(51)

44

a. Wewenang Kepala Desa

1) Memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD.

2) Mengajukan rancangan Peraturan Desa

3) Menetapkan Peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD

4) Menyusun dan mengajukan rancangan Peraturan Desa mengenai APBDes untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD.

5) Membina kehidupan masyarakat desa 6) Membina perekonomian desa

7) Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif.

8) Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

9) Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

b. Kewajiban Kepala Desa

1) Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahan-kan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

(52)

5) Melaksanakan prinsip tata Pemerintahan Desa yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme.

6) Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja Pemerintahan Desa.

7) Mentaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. 8) Menyelenggarakan administrasi Pemerintahan Desa yang baik

9) Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa.

10)Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa. 11)Mendamaikan perselisihan masyarakat desa.

12)Mengembangkan pendapatan masyarakat desa.

13)Membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat.

14)Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa.

15)Mengembangkan potensi sumberdaya alam dan melestarikan lingkungan hidup.

2. Perangkat Desa

(53)

46

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, Pasal 12 Ayat (2), menyebutkan bahwa Perangkat Desa terdiri dari Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya, yang dimaksud Perangkat Desa lainnya pada Pasal 12 Ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005, terdiri atas Sekretaris Desa, Pelaksana Teknis Lapangan dan Unsur Kewilayahan. Perangkat Desa bertugas membantu Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa menyebutkan Perangkat Desa terdiri dari: a. Sekretaris Desa

Sekretaris Desa dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Pasal 25 Ayat (1) diisi dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi persyaratan, yaitu:

1) Berpendidikan paling rendah lulusan SMU atau sederajat; 2) Mempunyai pengetahuan tentang teknis pemerintahan; 3) Mempunyai kemampuan di bidang administrasi perkantoran;

4) Mempunyai pengalaman administrasi keuangan dan bidang perencanaan;

5) Memahami sosial budaya masyarakat setempat; dan 6) Bersedia tinggal di desa yang bersangkutan.

b. Perangkat Desa lainnya

(54)

diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Adapun Perangkat Desa lainnya menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 terdiri dari:

1) Sekretaris Desa

Sekretaris Desa mempunyai tugas membantu Kepala Desa di bidang pembinaan administrasi dan pemberian pelayanan teknis administrasi kepada seluruh perangkat Pemerintah Desa.

2) Pelaksana Teknis Lapangan

Pelaksana teknis lapangan dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 202 Ayat (2) itu seperti kepala urusan.

3) Unsur Kewilayahan

Unsur wilayah adalah unsur pembantu Kepala Desa di wilayah bagian desa yang disebut kepala dusun atau dengan sebutan lain. Kepala dusun mempunyai tugas membantu melaksanakan tugas-tugas operasional Kepala Desa di dalam wilayah kerjanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk melaksanakan tugas tersebut kepala dusun mempunyai fungsi:

a) Membantu pelaksanaan tugas Kepala Desa.

b) Pelaksana kegiatan pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan serta ketenteraman dan ketertiban di masyarakat. c) Pelaksana keputusan desa di wilayah kerjanya

d) Pelaksana kebijakan Kepala Desa

(55)

48

f) Pelaksana kegiatan penyuluhan program pemerintah.

g) Pelaksana tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa.

3. Badan Permusyawaratan Desa

Badan Permusyawaratan Desa dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah sebutan nama Lembaga Perwakilan Desa sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Badan Permusyawaratan Desa dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 209 berfungsi menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Anggota badan ini adalah wakil dari penduduk desa bersangkutan yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat dengan masa jabatan enam Tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu masa jabatan berikutnya. Syarat dan tata cara penetapan anggota dan pimpinan Badan Permusyawaratan Desa diatur dalam Peraturan Daerah yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

(56)

sebelas orang, dengan memperhatikan luas, jumlah penduduk, dan kemampuan keuangan desa.

Fungsi dan wewenang Badan Permusyawaratan Desa (BPD) diatur dalam Perda Kabupaten masing-masing. Adapun wewenang BPD dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 72 adalah sebagai berikut.

a. Membahas rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa.

b. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa dan peraturan Kepala Desa.

c. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Desa. d. Membentuk panitia Pemilihan Kepala Desa.

e. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

f. Menyusun tata tertib BPD.

Hak dan kewajiban Badan Permusyawaratan Desa di tiap-tiap kabupaten di seluruh Indonesia kemungkinan tidak sama persis. Adapun yang menjadi hak Badan Permusyawaratan Desa adalah Meminta keterangan kepada Pemerintah Desa, dan Menyatakan pendapat. Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memiliki hak, diantaranya yaitu:

a. Mengajukan rancangan Peraturan Desa. b. Mengajukan pertanyaan.

c. Menyampaikan usul dan pendapat. d. Memilih dan dipilih

(57)

50

Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memiliki kewajiban sebagai berikut:

a. Mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 dan mentaati segala peraturan perundang-undangan.

b. Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

c. Mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. Menyerap, menampung, menghimpun, dan menindaklajuti aspirasi masyarakat.

e. Memproses Pemilihan Kepala Desa.

f. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.

g. Menghormati nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat.

h. Menjaga nama dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga kemasyarakatan.

(58)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa kinerja Sekretaris Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dalam tertib administrasi desa, terdiri dari:

1. Sekretaris Desa belum memiliki pengetahuan yang optimal tentang Buku Administrasi Umum Desa, Buku Administrasi Penduduk, Buku Administrasi Keuangan Desa, Buku Administrasi Pembangunan Desa dan Buku Administrasi BPD. Belum optimalnya pengetahuan tersebut disebabkan oleh minimnya pendidikan dan pelatihan di bidang administrasi desa dan kurangnya bimbingan teknis dari pemerintah Kecamatan Natar.

2. Sekretaris Desa belum terampil dalam menyelenggarakan tertib administrasi desa karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki sekretaris desa. Kurang terampilnya penyelenggaraan tertib administrasi desa tersebut disebabkan oleh minimnya pendidikan dan pelatihan di bidang administrasi desa dan kurangnya bimbingan teknis dari pemerintah Kecamatan Natar.

(59)

87

Buku Administrasi BPD. Kurangnya kemampuan tersebut berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan sehingga penyelenggaraan tertib administrasi desa masih belum maksimal serta keterbatasan sarana dan prasarana pengarsipan dan sistem komputerisasi pengolahan data administrasi desa juga menjadi kendala dalam tertib administrasi desa di Desa Natar.

B. Saran

Saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah Kecamatan Natar disarankan untuk meningkatkan bimbingan teknis dan pendidikan serta pelatihan bagi para Sekretaris Desa dalam pengelolaan Buku Administrasi Umum Desa, Buku Administrasi Penduduk, Buku Administrasi Keuangan Desa, Buku Administrasi Pembangunan Desa dan Buku Administrasi BPD. Upaya ini penting dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan Sekretaris Desa dalam tertib administrasi desa.

(60)
(61)

\

DAFTAR PUSTAKA

Beratha, I. N. 1982. Desa, Masyarakat Desa dan Pembangunan Masyarakat Desa. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Dwiyanto, Agus. 2008. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Handayaningrat, Soewarno. 2004. Manajemen Personalia, Rineka Cipta, Jakarta. Moenir, AS. 2000. Manajemen Pelayanan. Tarsito, Bandung.

Moeleong Lexy J, 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosda Karya, Bandung,

Nazir, Mohammad. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu. 1991. Dimensi-Dimensi Pemerintahan Desa. Bumi Aksara Jakarta.

Passolong, Harbani. 2007. Teori Administrasi Publik. Alfabeta: Bandung.

Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Sarwoto. 2003. Upaya Memotivasi Karyawan. Pelita Ilmu. Surabaya. Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendy. 2002. Metode Penelitian Survey.

P3ES. Jakarta.

Sedarmayanti, 2002. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Rajawali Press. Jakarta.

(62)

Globalisasi. Widya Praja, Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 2002. Pengantar Sosiologi. Rajawali Grafindo. Jakarta. Sugiyono. 2005. Metode Penelitian. Tarsito. Bandung.

Suwartinah. 2001. Komunikasi Antar Manusia. Mandar Maju. Bandung.

Surianingrat, Bayu. 1992. Pemerintahan Administrasi Desa Menurut UU Nomor 5 Tahun 1979. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Syani Abdul, 1987. Sosialisasi Kelompok dan Masalah Sosial. Fajar Agung. Jakarta.

Widodo, J.S. 2001. Dasar-Dasar Pelayanan Publik. Rineka Cipta. Jakarta. Wijaya, Albert. 2003. Metode Analisis Isi. Bina Ilmu. Jakarta.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Figur

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

Gambar 1.

Kerangka Pikir Penelitian p.36
Tabel 2. Mata Pencaharian Penduduk di Desa Natar Kecamatan Natar   Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013

Tabel 2.

Mata Pencaharian Penduduk di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013 p.46
Tabel 3. Latar belakang pendidikan penduduk Penduduk di Desa Natar   Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013

Tabel 3.

Latar belakang pendidikan penduduk Penduduk di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013 p.47

Referensi

Memperbarui...