• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRIMARY SCHOOL TEACHER PERFORMANCE EVALUATION IN LEARNING IN NATAR DISTRICT SOUTH LAMPUNG REGENCY EVALUASI KINERJA GURU SEKOLAH DASAR DALAM PEMBELAJARAN DI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PRIMARY SCHOOL TEACHER PERFORMANCE EVALUATION IN LEARNING IN NATAR DISTRICT SOUTH LAMPUNG REGENCY EVALUASI KINERJA GURU SEKOLAH DASAR DALAM PEMBELAJARAN DI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

ii

ABSTRACT

PRIMARY SCHOOL TEACHER PERFORMANCE

EVALUATION

IN LEARNING IN NATAR DISTRICT

SOUTH LAMPUNG REGENCY

By

Diah Mustika Wardani

This study aims to evaluate the performance of teachers in the elementary schools in Learning in Natar South Lampung regency, specifically to analyze: (1) the school environment, the vision and the mission of the school, the support of the leadership in implementing learning and development of curriculum conducted at school, (2) the availability of facilities and infrastructure of learning, human resource competencies, educational qualifications and knowledge of teachers in learning, (3) the ability of teachers in designing of learning, implementing of learning and evaluation of learning, (4) the performance of the teacher in the learning outcomes of student learning.

The population of the research were all teachers of high Indonesian Language subject of elementary school in Natar sub-district of South Lampung regency totaling 104 people. The samples taken were 25 people conducted by using purposive sampling technique. The data collection was taken by using observation guidance, test, questionnaire and documentation. Data analysis was performed by using quantitative descriptive analysis technique.

The evaluation result showed that the performance of Primary School Teachers Learning in Natar District, South Lampung regency achieved good category with the acquisition 60.69 %. This was supported by the findings from: 1) Context Components of 68 % with good category. 2 ) Component Inputs of 62.6 % with good category 3 ) Process Components of 52.5 % with enough category, 4 ) Product Components of 59.68 with enough categories .

(2)

iii

ABSTRAK

EVALUASI KINERJA GURU SEKOLAH DASAR

DALAM PEMBELAJARAN DI KECAMATAN NATAR

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh

Diah Mustika Wardani

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja guru Sekolah Dasar dalam Pembelajaran di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan, yang secara khusus untuk menganalisis: (1) lingkungan sekolah, visi dan misi sekolah, dukungan pimpinan dalam pelaksanaan pembelajaran, dan pengembangan kurikulum yang dilakukan di sekolah, (2) ketersediaan sarana dan prasaran pembelajaran, kompetensi SDM, kualifikasi pendidikan dan pengetahuan guru dalam pembelajaran, (3) kemampuan guru dalam merancang pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran, (4) kinerja guru dalam pembelajaran yaitu hasil belajar siswa. Populasi dalam penelitian ini yaitu guru bahasa Indonesia kelas tinggi Sekolah Dasar di Kecamatan Natar kabupaten Lampung Selatan berjumlah 104 orang. Sampel 25 orang dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi, tes, angket dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis diskriptif kuantitatif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kinerja guru sekolah dasar dalam pembelajaran di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan mencapai kategori baik dengan perolehan nilai 60,69%. Hal ini didukung dengan temuan dari: 1) komponen context

sebesar 68% dengan katagori baik. 2) Komponen input sebesar 62,6% dengan kategori baik 3) komponen process sebesar 52,5% dengan kategori cukup, dan 4) Komponen product; sebesar 59,68 kategori cukup.

(3)
(4)

i (Tesis)

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Pada

Program Pascasarjana Magister Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Oleh

Diah Mustika Wardani NPM 0923011015

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(5)
(6)
(7)
(8)

x

























dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (Q.S. An-Nahal:53)





















































(9)

xi

PERSEMBAHAN

Bismillaahirrahmaanirrahim

Karya sederhana ini kupersembahkan kepada :

Suamiku tersayang Jauhari, anak-anaku terkasih Hardi Fernanda, Hardi Prayoga, Hardia Izzaty Rafifah dan Mamiku tercinta Salmah, serta keluargaku yang selalu

(10)

vii

HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING ... v

HALAMAN PENGESAHAN TESIS ... vi

LEMBAR PERNYATAAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

MOTTO ... x

PERSEMBAHAN ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 9

1.3 Batasan Penelitian ... 10

1.4 Perumusan Masalah ... 11

1.5 Tujuan Penelitian ... 12

1.6 Manfaat Penelitian ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 14

2.1 Kinerja ... 14

2.2 Guru ... 15

2.2.1 Hakikat Guru ... 15

2.2.2 Kompetensi Guru ... 16

2.3 Kinerja Guru dalam Pembelajaran ... 23

2.3.1 Pengertian Kinerja Guru ... 23

2.3.2 Tugas Guru dalam Pembelajaran ... 24

2.3.3 Penilaian Kinerja Guru ... 34

2.3.4Teori Pembelajaran dalam Organisasi ... 35

2.4 Penelitian yang Relevan ... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

3.1 Rancangan Penelitian ... 42

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 45

3.3 Kriteria Evaluasi ... 45

3.4 Populasi dan Teknik Sampel ... 49

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 51

3.6 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel ... 54

3.7 Kisi-kisi Instrumen Penilaian ... 56

(11)

viii

4.1.3 Kompetensi Guru dalam Pembelajaran ... 92

4.1.4 Sumberdaya Guru Di Sekolah ... 107

4.1.5 Kualifikasi Pendidikan Guru ... 108

4.1.6 Pengetahuan Guru tentang Pembelajaran... 109

4.1.7 Perencanaan Pembelajaran ... 111

4.1.8 Hasil Evaluasi Belajar ... 116

4.2 Pembahasan Hasil Evaluasi ... 118

4.2.1 Lingkungan Pembelajaran ... 118

4.2.2 Ketersediaan Sarana dan Prasarana ... 125

4.2.3 Kompetensi Guru dalam Pembelajaran ... 126

4.2.4 Sumberdaya Guru Di Sekolah ... 131

4.2.5 Kualifikasi Pendidikan Guru ... 132

4.2.6 Pengetahuan Guru tentang Pembelajaran... 134

4.2.7 Perencanaan Pembelajaran ... 137

4.2.8 Hasil Prestasi Belajar ... 140

4.2.9 Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 140

4.3 Keterbatasan Penelitian ... 142

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 143

5.1 Kesimpulan ... 143

5.2 Rekomendasi ... 145

DAFTAR PUSTAKA ... 147

LAMPIRAN ... 152

(12)

xiv

3.3 Kisi-Kisi Instrumen Penilaian ... 57

3.4 Kriteria Standar Keberhasilan Pengambilan Keputusan ... 74

4.1 Hasil Analisis Deskriptif Indikator Lingkungan Sekolah ... 83

4.2 Hasil Analisis Deskriptif Indikator Visi dan Misi ... 85

4.3 Hasil Analisis Deskriptif Indikator Dukungan Pimpinan ... 86

4.4 Hasil Analisis Deskriptif Indikator Lingkungan Kurikulum ... 88

4.5 Presentasi Ketersediaan Sarana dan Prasarana ... 90

4.6 Memahami Karakteristik Peserta Didik ... 93

4.7 Penguasaan Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran ... 94

4.8 Pengembangan Kurikulum ... 95

4.9 Bertindak Sesuai dengan Norma Agama ... 97

4.10 Penampilan Diri Sebagai Pribadi yang Jujur ... 98

4.11 Bersikap Inklusif, Bertindak Objektif dan Tidak Deskriminatif ... 100

4.12 Berkomunikasi Secara Efektif, Empatik, dan Santun ... 101

4.13 Penguasaan Materi, Struktur, Konsep, dan Pola Pikir Keilmuan ... 103

4.14 Penguasaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran yang Diampu ... 104

4.15 Pengembangan Materi Pembelajaran yang Diampu ... 105

4.16 Sumberdaya Guru Di Sekolah ... 107

4.17 Kualifikasi Pendidikan Guru ... 108

4.18 Skor Komponen Kemampuan Merencanakan Pembelajaran ... 112

4.19 Komponen Melaksanakan Pembelajaran ... 115

4.20 Ketuntasan Kriteria Minimal Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ... 117

(13)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar: Halaman

2.1 Bagan Alur Penelitian Evaluasi Kinerja Guru Sekolah Dasar ... 38

4.1 Grafik Kemampuan Merencanakan Pembelajaran... 114

4.2 Grafik Kemampuan Melaksanakan Pembelajaran ... 116

4.3 Grafik Persentase Pencapaian Skor Lingkungan Sekolah ... 120

4.4 Grafik Persentase Pencapaian Skor Visi dan Misi Sekolah ... 121

4.5 Grafik Persentase Pencapaian Skor Dukungan Pimpinan ... 123

4.6 Grafik Persentase Pencapaian Skor Kurikulum ... 124

4.7 Grafik Persentase Pencapaian Skor Ketersediaan Sarana dan Prasarana... 126

4.8 Grafik Persentase Pencapaian Skor Kompetensi Pedagogik ... 127

4.9 Grafik Persentase Pencapaian Skor Kompetensi Kepribadian... 129

4.10 Grafik Persentase Pencapaian Skor Kompetensi Sosial... 130

4.11 Grafik Persentase Pencapaian Skor Profesional ... 131

4.12 Grafik Persentase Pencapaian Skor SDM Guru ... 132

4.13 Grafik Persentase Pencapaian Skor Kualifikasi Pendidikan Guru ... 133

4.14 Grafik Persentase Pencapaian Skor Pengetahuan Guru ... 135

4.15 Grafik Persentase Pencapaian Skor Kemampuan Merencanakan Pembelajaran ... 138

4.16 Grafik Persentase Pencapaian Skor Komponen Melaksanakan Pembelajaran ... 139

(14)

xvi

III Pengetahuan Guru dalam Pembelajaran... 162

IV Lembar Dokumentasi Komponen Input ... 169

V IPKG I ... 170

VI IPKG 2 ... 176

VII Lembar Validasi Pakar ... 179

VIII Penilaian Pakar Instrumen Evaluasi Kinerja Guru... 186

IX Hasil Analisis Ketersediaan Sarana dan Prasarana ... 187

X Hasil Analisis Sumber Daya Guru Di Sekolah ... 189

XI Hasil Analisis Kualifikasi Pendidikan Guru ... 190

XII Hasil Analisis Pengetahuan Guru tentang Pembelajaran ... 191

XIII Hasil Analisis Laporan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ... 193

XIV Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2007………….... 194

XV Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 19 tahun 2007 ... 197

XVI Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 tahun 2007 ... 202

XVII Peraturan Pemerintah No 74 tahun 2008 ... 212

XVIII Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 20 tahun 2007 ... 216

(15)

viii

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan nikmat dan karunia-Nya.

Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul: ”Evaluasi Kinerja Guru

Sekolah Dasar Dalam Pembelajaran Di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan”.

Tesis ini dibuat sebagai tugas akhir dalam rangka menyelesaikan studi pada Program

Pascasarjana Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Lampung. Penyelesaian

penulisan Tesis ini tidak terlepas dari adanya bimbingan dan bantuan pihak-pihak terkait.

Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada yang terhormat :

1. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si, selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.

2. Bapak Prof. Dr. H. Sudjarwo, M.S, selaku Direktur Pascasarjana Universitas Lampung.

3. Ibu Dr. Adelina Hasyim, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Teknologi

Pendidikan FKIP Universitas Lampung.

4. Ibu Dr. Herpratiwi, M.Pd., selaku Sekretaris Program Studi Pascasarjana Teknologi

Pendidikan FKIP Universitas Lampung dan Pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan, saran, serta arahan kepada penulis dalam menyusun tesis ini.

5. Ibu Dra. Sasmiati, M.Hum., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,

saran, serta arahan kepada penulis dalam menyusun tesis ini.

7. Bapak Drs. Sugiman, M.Pd., selaku Pembahas yang telah memberikan bimbingan dan

saran.

8. Bapak Dr. Ngadimun, M.Pd., selaku Pembahas dan Penguji yang telah memberikan

(16)

ix

Kecamatan Natar yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan

penelitian di Sekolah Dasar Wilayah Kecamatan Natar.

11. Bapak, Ibu Guru, Pengawas, dan Kepala Sekolah di Kecamatan Natar yang telah

membantu penulis selama melaksanakan penelitian.

12. Ibu, suami, anak-anak tersayang yang selalu mendukung dan mendoakan kesuksesanku.

13. Ibu Dr. Ulfa Maria, M.Pd., Ibu Dr. Rinderiyana, M.Pd., Bapak Hardian Ashari, M.Pd.

yang selalu memberikan semangat, saran dan membantu dalam penyelesaian tesis ini,

serta teman-teman di LPMP Lampung, mahasiswa Program Pascasarjana Magister

Teknologi Pendidikan Universitas Lampung dan berbagai pihak yang tidak dapat kami

sebutkan satu per satu yang telah memberikan dukungan moril sehingga penulis dapat

menyelesaikan tesis ini.

Semoga Allah SWT dapat memberikan balasan yang setimpal sesuai dengan amal yang telah

diberikan. Akhirnya tak lupa harapan penulis semoga tesis ini dapat bemanfaat bagi siapa

saja yang membaca. Amin.

Bandar Lampung, Januari 2014

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 11 ayat 1 mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu (berkualitas) bagi setiap warga negara. Terwujudnya pendidikan yang bermutu membutuhkan upaya yang terus menerus untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan memerlukan upaya peningkatan kualitas pembelajaran (instructional quality) karena muara dari berbagai program pendidikan adalah pada terlaksananya program pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu, usaha meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan tercapai tanpa adanya peningkatan kualitas pembelajaran.

(18)

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI pasal 39 dikatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan.

Selanjutnya menurut Permendiknas RI No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Kualifikasi akademik dan kompetensi guru ini ditetapkan dengan harapan diperoleh tenaga guru yang profesional.

Hal itu dipertegas dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 tentang Guru dan Dosen sebagai landasan yuridis tentang kompetensi dan sertifikasi pasal (2) berbunyi Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sedangkan pasal (3) disebutkan bahwa kompetensi sebagaimana dimaksud dalam pasal (2) merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

(19)

estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian. Sebagaimana ketentuan dalam Permendiknas RI No. 41 tahun 2007 yang telah diganti dengan Permendikbud RI No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dijelaskan bahwa telah terjadi pergeseran paradigma proses pendidikan yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Sehingga tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru. Oleh sebab itu, profesi guru perlu dikembangkan secara terus menerus dan proporsional menurut jabatan fungsional guru. Selain itu, agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka diperlukan penilaian kinerja guru (PK GURU) yang menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan (Kemdiknas, 2011:1).

(20)

Proses pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Proses pembelajaran yang baik dapat dilihat dari efektivitas pembelajaran. Salah satu faktor penting untuk efektivitas pembelajaran adalah bahasa. Bahasa mempunyai peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang ilmu yang lain, pelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain.

Berdasarkan laporan hasil Evaluasi Diri Sekolah (EDS/M) dan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) terhadap 8 Standar Nasional Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan yang dilakukan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) tahun 2011 yang berkaitan dengan standar isi dan standar proses diperoleh data sebagai berikut: dari 60 sekolah yang dijadikan sampel penelitian belum ada yang mencapai tahap 4 (melampaui standar nasional pendidikan), sekolah yang sudah mencapai tahap 3 (memenuhi standar nasional pendidikan) hanya 1 sekolah atau 1,67%, yang mencapai tahap 2 (memenuhi standar pelayanan minimal) sebanyak 36 sekolah atau 60,00%, dan yang mencapai tahap 1 (belum memenuhi standar nasional pendidikan) sebanyak 23 sekolah atau 38,33%.

(21)

pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan, dari 60 sekolah yang dijadikan sampel penelitian belum ada yang mencapai tahap 4 (melampaui standar nasional pendidikan) dan tahap 3 (memenuhi standar nasional pendidikan), sekolah yang mencapai tahap 2 (memenuhi standar pelayanan minimal) sebanyak 32 sekolah atau 53,33%, dan yang mencapai tahap 1 (belum memenuhi standar nasional pendidikan) sebanyak 28 sekolah atau 46,67%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah dalam menyusun silabus dan RPP belum sepenuhnya mempertimbangkan standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan KTSP.

Berdasarkan data di atas, terlihat untuk Kabupaten Lampung Selatan baik pada standar isi yang berkaitan dengan kurikulum sekolah dan standar proses yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran masih dapat dikatakan kurang baik.

(22)

Jatiagung 2,51, Kecamatan Sidomulyo 2,71, Kecamatan Palas 2,58, dan Kecamatan Kalianda 2,94.

Selanjutnya pada komponen pelaksanaan pembelajaran pada Kecamatan Bakauheni yang diperoleh 2,54, Kecamatan Natar sebesar 2,27, Kecamatan Jatiagung adalah 2,67, Kecamatan Sidomulyo adalah 2,89, Kecamatan Palas adalah 2,75, dan Kecamatan Kalianda adalah 3,08.

Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian evaluasi di Kabupaten Lampung Selatan khususnya pada Kecamatan Natar, karena melihat hasil pemetaan yang dilakukan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) terlihat untuk Kecamatan Natar baik pada perencanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia masih dapat dikatakan kurang baik, sehingga hal ini menarik perhatian untuk dilakukan penelitian lebih dalam di Kecamatan Natar dalam bentuk penelitian evaluasi guru dalam pembelajaran.

(23)

Pendidikan Dasar. Dalam kurikulum tersebut salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagaimana fungsi bahasa merupakan salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.

Berdasarkan temuan tersebut di atas, untuk Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan, selama ini belum ada yang melakukan penelitian secara khusus mengenai evaluasi kinerja guru dalam mengelola pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan penulis ingin melakukan penelitian di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan ini.

(24)

pembelajaran hanya untuk memenuhi kewajiban administrasi, bukan untuk acuan melaksanakan pembelajaran di kelas sehingga pelaksanaan pembelajaran di kelas relatif tidak terencana, akibatnya hasil belajar yang dicapai siswa relatif belum menggembirakan.

Sebagian guru hanya mengadopsi secara utuh rencana pembelajaran buatan orang lain, sehingga apa yang dibuat belum tentu sesuai dengan kondisi, situasi, dan karakteristik peserta didiknya, selain itu pembelajaran yang dilakukan guru hanya mengandalkan buku paket dan cenderung hanya berorientasi pada penguasaan materi, bukan membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Guru tidak mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata di lingkungan masyarakat agar dapat mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang diperoleh dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.

Kecenderungan sebagian guru yang mengadopsi secara utuh rancangan pembelajaran yang dibuat dari orang lain yang belum tentu sesuai dengan karakteristik peserta didiknya, maka hal ini akan berdampak terhadap pembelajaran yang dikelola di kelas, guru hanya akan melaksanakan pembelajaran dengan buku pegangan yang ada dan bukan mengacu pada rancangan pembelajaran yang dibuat guru sebelumnya.

(25)

Adapun kompetensi yang akan dilakukan evaluasi adalah kompetensi pedagogik guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kompetensi pedagogik yang dimaksud berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 yaitu kemampuan guru dalam merancang pembelajaran, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran serta kemampuan guru dalam menilai atau melakukan evaluasi dari pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Evaluasi terhadap kinerja guru Sekolah Dasar ini ditujukan untuk mengetahui kinerja guru Sekolah Dasar dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan cara mengetahui efektivitas masing-masing komponen yang mendukung dalam pembelajaran. Atas dasar hal tersebut maka perlu ada suatu penelitian tentang evaluasi kinerja guru sekolah dasar dalam pembelajaran di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

1.2

Identifikasi Masalah

1. Rendahnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

2. Rendahnya kemampuan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran. 3. Kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran masih kurang.

4. Sebagian besar guru dalam membuat perencanaan pembelajaran (silabus dan RPP) mengadobsi dari sekolah lain.

(26)

1.3

Batasan Penelitian

Lingkup permasalahan penelitian ini akan dibatasi pada aspek evaluasi kinerja guru Sekolah Dasar dalam pembelajaran yaitu mata pelajaran bahasa Indonesia kelas tinggi di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan yang meliputi: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian hasil belajar dengan mengacu pada evaluasi CIPP yaitu konteks (context), masukan (input),

proses (process), dan produk (product):

1. Context evaluasi kinerja guru dalam program pembelajaran yaitu lingkungan pembelajaran meliputi: lingkungan sekolah, visi, misi sekolah, dukungan pimpinan, dan kurikulum.

2. Input evaluasi kinerja guru dalam program pembelajaran meliputi: ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, kompetensi, sumber daya manusia, kualifikasi pendidikan, dan pengetahuan guru tentang pembelajaran. 3. Process yaitu proses kinerja guru dalam pembelajaran meliputi: kemampuan

guru mempersiapkan pembelajaran (perencanaan pembelajaran), kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.

(27)

1.4

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan penelitian, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kinerja guru Sekolah Dasar dalam pembelajaran di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dengan rincian sebagai berikut:

1. Rumusan tentang konteks (context) yaitu:

a. Bagaimanakah lingkungan sekolah dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran di sekolah?

b. Bagaimanakah visi dan misi sekolah?

b. Bagaimanakah dukungan pimpinan dalam melaksanakan pembelajaran? c. Bagaimanakah pengembangan kurikulum yang dilakukan di sekolah? 2. Rumusan tentang masukan (input) yaitu:

a. Bagaimanakah kondisi sarana dan prasarana pembelajaran di sekolah? b. Bagaimanakah ketersediaan guru dalam melaksanakan program

pembelajaran berdasarkan kompetensinya? c. Bagaimanakah sumber daya guru di sekolah? d. Bagaimanakah kualifikasi pendidikan guru?

e. Bagaimanakah pengetahuan guru tentang pembelajaran? 3. Rumusan tentang proses (process) yaitu:

a. Bagaimanakah kemampuan guru dalam merancang pembelajaran?

b. Bagaimanakah kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran?

(28)

4. Rumusan tentang produk (product) yaitu: “Bagaimanakah hasil belajar siswa di sekolah?”

1.5

Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang kinerja guru Sekolah Dasar dalam pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia kelas tinggi di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan yang secara khusus bertujuan untuk mengungkapkan dan memperbaiki kinerja guru berdasarkan variabel:

1. konteks (context): evaluasi kinerja guru dalam program pembelajaran yang berkaitan dengan lingkungan sekolah, visi dan misi sekolah, dukungan pimpinan dalam melaksanakan pembelajaran, dan pengembangan kurikulum yang dilakukan di sekolah.

2. masukan (input): evaluasi kinerja guru dalam program pembelajaran yang berkaitan dengan ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, kompetensi, sumber daya manusia, kualifikasi pendidikan, dan pengetahuan guru dalam pembelajaran.

3. proses (process): proses kinerja guru dalam pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.

(29)

1.6

Manfaat Penelitian

1.6.1 Secara teori

Sebagai sebuah penelitian evaluatif temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teori maupun praktis, kegunaan secara teori dikaitkan dengan teknologi pembelajaran yang menyangkut tentang desain (rencana) dan pengelolaan pembelajaran memberikan kontribusi di kawasan penilaian untuk membagi konsep, teori, prinsip, dan prosedur teknologi pembelajaran.

1.6.2 Secara praktis

(30)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kinerja

Kinerja dalam bahasa Indonesia disebut juga prestasi kerja. Kinerja atau prestasi kerja (performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Prestasi kerja (performance) diartikan sebagai suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang dihasilkan baik kuantitas maupun mutunya. Pengertian di atas menyoroti kinerja berdasarkan hasil yang dicapai seseorang setelah melakukan pekerjaan. Simamora (2002:423) memberi batasan kinerja, kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, performance atau job performance tetapi dalam bahasa Inggrisnya sering disingkat menjadi performance saja.

Bernardin dan Rusel dalam Rucky (2002:15) memberikan definisi tentang

performance sebagai berikut: “Performance is defined as the record of autcomes produced on a specified job function or activity during a specified time period

(prestasi adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu).

(31)

yang jelas atas hasil kerja). Hal ini juga bisa disimpulkan dengan kalimat “berkerja dengan Profesional”.

Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya setiap orang yang bekerja menginginkan kinerja yang baik dalam arti diakui oleh atasan maupun teman sekerjanya. Seperti termasuk guru Sekolah Dasar yang salah satu perannya sebagai penyusun program, merancangkan desain pembelajaran di mana siswa dapat belajar secara individual maupun klasikal sehingga kemampuan siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dasar minat dan bakatnya. Prestasi kerja yang baik dapat diperoleh melalui beberapa cara misalnya melalui motivasi kerja, melalui peningkatan pengetahuan, pendidikan, pelatihan, penataran, seminar, dan sebagainya.

Kinerja akan tercapai dengan baik apabila seorang guru termotivasi dalam diri sendiri dan dari luar dirinya. Selain itu motivasi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan atau pengalaman kerja masing-masing pribadi guru, karena tanpa adanya motivasi yang jelas atas dasar kesadaran diri sendiri pribadi maupun motivasi dari atasan serta rekan yang lebih senior hasil kerja kurang optimal.

2.2 Guru

2.2.1 Hakikat Guru

(32)

Undang-undang no. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 1 ayat 1 disebutkan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Usman (2002:1) menyatakan bahwa guru merupakan jabatan profesi yang memerlukan keahlian khusus. Menurut Permendiknas RI No. 35 tahun 2010 tentang Juknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit menyatakan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru yang profesional diharapkan mampu berpartisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian.

2.2.2 Kompetensi Guru

(33)

bermartabat. Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 4 menegaskan bahwa guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib memiliki syarat tertentu, salah satu diantaranya adalah kompetensi.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 tentang Guru dan Dosen sebagai landasan yuridis tentang kompetensi dan sertifikasi pasal (3) kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, (4) kompetensi profesional.

1. Kompetensi Pedagogik

(34)

menyempurnakan program pembelajaran berdasarkan umpan balik yang telah dikumpulkan secara sistematik.

Kompetensi pedagogik ini berkaitan pada saat guru mengadakan proses belajar mengajar di kelas. Mulai dari membuat skenario pembelajaran memilih metode, media, juga alat evaluasi bagi anak didiknya. Karena bagaimanapun dalam proses belajar mengajar sebagian besar hasil belajar peserta didik ditentukan oleh peran guru. Guru yang cerdas dan kreatif akan mampu menciptakan suasana belajar yang efektif dan efisien sehingga pembelajaran tidak berjalan sia-sia.

Jadi kompetensi pedagogik ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yakni persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran, memilih metode, media, serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif, efektif, maupun psikomotorik siswa.

(35)

proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester.

Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

2. Kompetensi Kepribadian

Berdasarkan Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa guru harus mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan kemantapan dan integritas kepribadian seorang guru. Aspek-aspek yang diamati adalah:

a. bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

b. menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

c. menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.

d. menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.

e. menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3. Kompetensi Sosial

(36)

kemampuan sosial dengan masyarakat dalam rangka pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif. Dengan dimilikinya kemampuan tersebut, otomatis hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan lancar, sehingga jika ada keperluan dengan orang tua siswa, para guru tidak akan mendapat kesulitan. Kemampuan sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerja sama, bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan. Berdasarkan Permendiknas RI No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa guru sebagai bagian dari masyarakat harus mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan kepribadian sosial. Kriteria yang harus dilakukan guru adalah:

a. bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi. b. berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik,

tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

c. beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.

d. berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

4. Kompetensi Profesional

(37)

untuk mencapai tujuan pembelajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran. Guru harus selalu meng-update dan menguasai materi pelajaran yang disajikan. Persiapan diri tentang materi diusahakan dengan jalan mencari informasi melalui berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses dari internet, selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang disajikan.

Berdasarkan Permendiknas RI No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, kompetensi atau kemampuan profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek:

a. dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola proses pembelajaran. Kegiatan pembelajarannya harus disambut oleh siswa sebagai suatu seni pengelolaan proses pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus.

(38)

c. dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip didaktik metodik sebagai ilmu keguruan. Misalnya bagaimana menerapkan prinsip apersepsi, perhatian, kerja kelompok, korelasi, dan prinsip-prinsip lainnya.

d. dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat. Diharapkan pula guru dapat menyusun butir secara benar, agar tes yang digunakan dapat memotivasi siswa belajar.

Selanjutnya menurut Permendiknas RI No. 41 tahun 2007 yang telah diganti dengan Permendikbud RI No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses tersebut diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Menurut permendiknas ini proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien.

Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran dapat diamati dari aspek-aspek:

(39)

b. menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.

c. mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif.

d. mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

e. memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Berdasarkan penjelasan tentang kompetensi guru di atas, maka dalam penelitian ini akan dipilih kompetensi pedagogik sebagai wilayah yang akan penulis teliti berkaitan dengan kinerja guru dalam pembelajaran.

2.3 Kinerja Guru Dalam Pembelajaran

2.3.1 Pengertian Kinerja Guru

Istilah kinerja guru berasal dari kata job performance/actual permance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Jadi, menurut bahasa kinerja bisa diartikan sebagai prestasi yang nampak sebagai bentuk keberhasilan kerja pada diri seseorang. Keberhasilan kinerja juga ditentukan dengan pekerjaan serta kemampuan seseorang pada bidang tersebut. Keberhasilan kerja juga berkaitan dengan kepuasan kerja seseorang (A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, 2000:67).

(40)

seluruh kompetensi yang dimilikinya dan juga manfaatkan serta ciptakan situasi yang ada di lingkungan sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kemudian Anwar Prabu Mangkunegara (2000:67) mendefinisikan kinerja (prestasi kerja) sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Dalam kamus bahasa Indonesia. Kinerja berarti sesuatu yang dicapai, prestasi diperlihatkan, kemampuan kerja.

Dengan demikian, dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah kemampuan seseorang untuk melaksanakan tugasnya yang menghasilkan hasil yang memuaskan, guna tercapainya tujuan organisasi kelompok dalam suatu unit kerja.

Jadi, kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar yang memiliki keahlian mendidik anak didik dalam rangka pembinaan peserta didik untuk tercapainya institusi pendidikan.

2.3.2 Tugas Guru dalam Pembelajaran

(41)

Menurut Permendiknas RI No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses disebutkan tugas guru dalam pembelajaran meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Selanjutnya menurut Sukadi (2001:26) sebagai seorang profesional, guru memiliki lima tugas pokok, merencanakan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran, menindaklanjuti hasil pembelajaran, serta melakukan bimbingan dan konseling.

Adapun penjelasan dari kelima tugas pokok tersebut yaitu: a. Merencanakan Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran sebagai suatu proses, dalam pelaksanaannya tentunya menuntut adanya langkah-langkah yang dapat mendukung agar mencapai hasil yang diharapkan. Untuk itu perlu dilakukan suatu perencanaan pembelajaran yang dituangkan dalam rencana pembelajaran.

Fungsi perencanaan pembelajaran ialah untuk mempermudah guru dalam melaksanakan tugas selanjutnya. Sehingga proses belajar mengajar akan benar-benar terskenario dengan baik, efektif, dan efesien.

(42)

program semester, (3) Silabus/ satuan pelajaran, (4) Rencana pembelajaran, (5) Program perbaikan dan pengayaan.

Dalam membuat lima rencana tersebut biasanya guru di bantu oleh kepala sekolah juga rekannya yang biasanya dimusyawarahkan dalam kelompok kerja guru. Organisasi guru semacam ini biasanya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Dari lima persiapan perencanaan pembelajaran di atas, yang akan penulis kaji difokuskan pada perencanaan proses pembelajaran yaitu silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Menurut Permendiknas RI No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dijelaskan bahwa, perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

(43)

berdasarkan pada latar belakang, kemampuan, dan keragaman peserta didik, 2) proses, berfokus pada bagaimana isi kurikulum itu diajarkan, dengan memanfaatkan berbagai metode dan sumber belajar yang didasarkan pada cara belajar peserta didik agar dapat terpenuhi kebutuhan pembelajarannya, 3) lingkungan, berfokus pada penggunaan sumber belajar dalam proses pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan psiko-sosial peserta didik, 4) evaluasi, berfokus pada ketercapaian penguasaan kompetensi yang telah ditetapkan.

b. Melaksanakan Kegiatan Pembelajaran

Setelah guru membuat rencana pembelajaran, maka tugas guru selanjutnya adalah melaksanakan pembelajaran yang merupakan salah satu aktivitas inti di sekolah.

Pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah proses yang diatur dengan tahapan-tahapan tertentu, agar pelaksanaannya mencapai hasil yang diharapkan. Tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran menurut Majid (2005:104) meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

(44)

1. Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan, guru:

a. Menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;

b. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;

c. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; d. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai

silabus. 2. Kegiatan Inti

Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

a. Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

(45)

2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

b. Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

1) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;

2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

4) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; 5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk

meningkatkan prestasi belajar;

6) rnemfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

(46)

8) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan,

9) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

c. Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,

2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,

3) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,

4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar,

b) membantu menyelesaikan masalah,

c) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi,

d) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh,

(47)

3. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

a. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;

b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi,

program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Berdasarkan uraian di atas, pelaksanaan pembelajaran dapat deskripsikan dari tiga kegiatan utama, yaitu membuka pembelajaran, menyampaikan materi pelajaran, dan menutup pembelajaran.

c. Mengevaluasi Hasil Pembelajaran

(48)

Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 21 dijelaskan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

Menurut Permendiknas RI No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian pendidikan dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar dapat dilaksanakan oleh guru dilakukan pada saat penyusunan silabus yang penjabarannya merupakan bagian dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

(49)

Evaluasi dalam proses pembelajaran dilaksanakan dalam rangka untuk menilai pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah: 1) guru dapat mengajukan pertanyaan lisan maupun tulisan dari materi yang telah disampaikan sebelumnya, 2) memberikan tugas kepada siswa yang berhubungan dengan materi yang telah disampaikan untuk menilai keluasan pemahaman terhadap materi (Fathurrohman, 2007:75).

Selanjutnya Oemar Hamalik (2007:147) menyatakan, fungsi dari dilaksanakannya evaluasi adalah: 1) memberikan umpan balik kepada pendidik sebagai dasar untuk memperbaiki program rencana dan proses pembelajaran, 2) menentukan hasil kemajuan belajar peserta didik untuk keperluan laporan kepada orang tua, menentukan kenaikan kelas, serta menentukan kelulusan, 3) menempatkan peserta didik dalam situasi pembelajaran yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki peserta didik, 4) mengenal latar belakang psikologik, fisik, dan lingkungan peserta didik sebagai dasar perbaikan dan pembimbingan.

(50)

2.3.3 Penilaian Kinerja Guru

Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009, penilaian kinerja guru adalah penilaian yang dilakukan terhadap setiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya.

Sistem penilaian kinerja guru adalah sebuah sistem pengelolaan kinerja berbasis guru yang didesain untuk mengevaluasi tingkatan kinerja guru secara individu dalam rangka mencapai kinerja sekolah secara maksimal yang berdampak pada peningkatan prestasi peserta didik. Ini merupakan bentuk penilaian yang sangat penting untuk mengukur kinerja guru dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai bentuk akuntabilitas sekolah.

(51)

Penilaian kinerja guru dilakukan terhadap kompetensi guru sesuai dengan tugas pembelajaran, pembimbingan, atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Bagi guru kelas/mata pelajaran dan guru bimbingan dan konseling/konselor, kompetensi yang dijadikan dasar untuk penilaian kinerja guru adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007.

2.3.4 Teori Pembelajaran dalam Organisasi

Konsep pembelajaran dalam organisasi muncul dalam konteks perubahan lingkungan dan daya saing, di mana suatu organisasi membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Organisasi manapun tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Kondisi ini terjadi dikarenakan adanya perubahan lingkungan yang mempengaruhi organisasi sehingga menyebabkan organisasi tersebut tidak pernah selesai untuk belajar. Organisasi yang belajar berfokus terhadap keberlangsungan sebagai bagian realitas normal serta aktivitas proaktif (Herpratiwi, 2009:68).

Peter Senge yang dikutip oleh Herpratiwi (2009:68) mengemukakan, organisasi belajar merupakan pedoman disiplin untuk mengembangkan potensi individu agar berkembang secara terus menerus untuk mewujudkan masa depan. Komponen disiplin menurut Peter Senge tersebut yang dikenal dengan The Fifth Dicipline

(52)

1. Berfikir Sistem (Systems Thinking)

Setiap prilaku manusia merupakan sistem. Ini merupakan jembatan untuk melihat bagaimana memandang sebuah organisasi secara utuh dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

2. Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)

Penguasaan pribadi merupakan suatu disiplin yang menunjukkan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran serta memandang realita secara objektif. 3. Pola Mental (Mental Models)

Pola mental akan mempengaruhi pikiran dan tindakan, ini sering tidak disadari oleh individu. Untuk itu perlu dikembangkan setiap orang perlu berpikir secara reaktif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya mengenai dunia sekitar. Ini perlu diperhatikan mengingat pola mental memiliki fungsi bagaimana individu memandang dunia sekitar dan akan bertindak atas dasar asumsi yang terlihat. 4. Visi Bersama (Shared Vision)

Merupakan wahana untuk membangun komitmen bersama dalam rangka mengembangkan image diri tentang masa depan yang diciptakan.

5. Belajar Beregu (Team Learning)

Merupakan unsur penting karena dalam organisasi bukan perorangan melainkan unit belajar utama untuk saling memahami pola interaksi antar masing-masing anggota organisasi.

(53)

bersemangat serta terus mentransformasikan diri pada pengumpulan, pengelolaan, dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik keberhasilan organisasi.

Herpratiwi (2009:71) mengatakan ciri organisasi yang belajar adalah organisasi tersebut tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, memiliki kemampuan bersaing, dan beradaptasi terhadap kecepatan perubahan di lingkungan eksternalnya.

(54)
[image:54.595.104.528.114.490.2]

Gambar 2.1. Bagan Alur Penelitian Evaluasi Kinerja Guru Sekolah Dasar dalam Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas Tinggi di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan

2.4 Penelitian yang Relevan

Berdasarkan kajian teori sebelumnya, evaluasi merupakan proses menyediakan informasi yang dirancang untuk membantu dalam pengambilan keputusan tentang objek yang dievaluasi, sedangkan objek evaluasi tersebut bisa berupa perencanaan, program, kebijakan, organisasi, produk, maupun individual. Berkaitan dengan hal ini terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu:

PROGRAM PEMBELAJARAN

EVALUASI KINERJA GURU DALAM PEMBELAJARAN

CONTEXT INPUT PROCESS

Lingkungan pembelajaran: 1. Lingkungan

sekolah 2. Visi dan misi

sekolah 3. Dukungan pimpinan 4. Kurikulum 1. Ketersedian Sarana dan Prasarana 2. Kompetensi guru

(55)

1. Mahmud Akrom (2009) melakukan penelitian tentang evaluasi program pembelajaran Bilingual di SMPN 2 Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan evaluasi terhadap pelaksanaan program pembelajaran bilingual dengan menggunakan model evaluasi CIPP. Dalam tulisannya aspek-aspek yang dievaluasi untuk konteks yaitu: adanya keselarasan antara visi dan misi sekolah, peraturan, kebijakan dan program pemerintah di bidang pendidikan, harapan orang tua siswa, serta kondisi lingkungan akademis yang ada di sekolah dengan program pembelajaran bilingual yang diterapkan. Input yaitu: adanya manajemen, strategi penunjang keberhasilan program, pembiayaan, kurikulum, sarana dan prasarana, serta motivasi dan kompetensi guru dan siswa untuk melaksanakan proses pembelajaran secara bilingual. Proses yaitu: adanya perencanaan proses pembelajaran oleh guru, penggunaan metode dan media, ketepatan dan perimbangan penggunaan bahasa, serta interaksi guru dan siswa guna mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. Produk

yaitu nilai Ujian Nasional maupun Ujian Akhir Sekolah (UAS) lulusan kelas bilingual dan hasil belajar siswa kelas bilingual pada mata pelajaran bahasa Inggris, Matematika, IPA mengalami peningkatan.

(56)

dukungan pimpinan yang memberikan kekuatan kepada para dosen untuk berkarya. Komponen input ketersediaan sarana dan prasarana, motivasi, jenjang pendidikan, dan latar belakang dosen turut mendukung kinerja guru. Selanjutnya komponen proses pada perencanaan pembelajaran, pelaksanakan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran para dosen sudah melaksanakan pembelajaran dengan cukup baik.

3. Hasil penelitian Sobirin (2011) tentang evaluasi penyelenggaraan rintisan sekolah menengah atas bertaraf internasional, yang mengambil sampel di SMA Negeri 2 Bandar Lampung. penelitian ini merupakan evaluasi terhadap penyelenggaraan rintisan sekolah bertaraf internasional menggunakan model evaluasi context, input, process, dan product (CIPP). Pada komponen context

memperoleh skor 82,56% atau Middle, artinya masih perlu dibimbing untuk menuju SBI. Komponen Input, kemampuan toefl guru, kemampuan TIK guru dan TU, upaya peningkatan kualifikasi tenaga kependidikan/program S2, toelf siswa, peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana RSBI semuanya telah dilakukan dan adanya suatu peningkatan positif. Komponen process, adanya peningkatan pendekatan pembelajaran yang lebih baik dan aktivitas siswanya sangat aktif, sehingga kegiatan pembelajaran dan kreativitas kesiswaan terus berjalan dengan baik. Pada komponen product, prestasi belajar siswa dilihat dari hasil ujian nasional telah mencapai rata-rata di atas 75 untuk mata pelajaran IPA dan IPS.

(57)

RA Jinan tergolong baik (86,6%) artinya bersifat edukatif, menarik, menyenangkan dan bernuansa anak. Dalam komponen input ketersediaan sarana dan dana belum sesuai kebutuhan kategori kurang, sedangkan aspek motivasi, dukungan orang tua dan siswa kategori tinggi. Pada komponen proses menunjukkan kategori cukup baik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program. Komponen produk yang kategori baik adalah tujuan pengembangan secara fisik sedangkan tujuan pengembangan aspek pembentukan sikap dan prilaku kategori kurang.

(58)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian evaluasi kualitatif yang bersifat deskriptif, karena penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologik yaitu penelitian yang memungkinkan untuk mengungkap realita dan mendeskripsikan situasi secara komprehensif dalam konteks yang sesungguhnya berkaitan dengan kinerja guru. Model evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah context, input, process, product (CIPP) dari Stufflebeam.

Penjelasan mengenai aspek-aspek yang dievaluasi dalam model CIPP ini adalah sebagai berikut:

1. Evaluasi Konteks

(59)

Evaluasi konteks dalam penelitian ini akan melihat lingkungan pembelajaran yakni: lingkungan sekolah, visi dan misi sekolah, dukungan pimpinan, dan kurikulum.

2. Evaluasi Input

Tujuan evaluasi input adalah untuk mengidentifikasi dan mengukur kapabilitas sistem, alternatif strategi program, desain prosedural untuk pelaksanaan strategi, anggaran, dan penjadwalan. Evaluasi input menyediakan data untuk menentukan bagaimana penggunaan sumber-sumber yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan program. Hal ini berkaitan dengan relevansi, kepraktisan, pembiayaan, efektivitas yang dikehendaki, dan alternatif-alternatif yang dianggap unggul. Evaluasi ini mencakup kegiatan identifikasi dan penilaian terhadap: a) Kemampuan sistem yang digunakan dalam program; b) Strategi-strategi untuk mencapai tujuan-tujuan program; c) Rancangan implementasi strategi yang dipilih. Evaluasi input dalam penelitian ini adalah sarana dan prasarana, kompetensi, sumber daya guru, kualifikasi pendidikan guru, dan pengetahuan guru tentang pembelajaran.

3. Evaluasi Proses

(60)

Evaluasi proses ini dapat dilakukan dengan cara memonitor kegiatan, melakukan interaksi secara terus menerus, dan mengobservasi kegiatan pelaksanaan program. Dalam evaluasi ini dokumentasi tentang prosedur kegiatan pelaksanaan program akan membantu untuk kegiatan analisis akhir tentang hasil-hasil program yang telah dicapai. Evaluasi proses dalam penelitian ini meliputi observasi dan dokumentasi terhadap kemampuan guru dalam merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.

4. Evaluasi Produk

Menurut Suharsimi (2007:30) evaluasi produk diarahkan pada hal-hal yang menunjukkan perubahan yang terjadi, evaluasi produk merupakan tahapan akhir dari serangkaian evaluasi program. Tujuan evaluasi produk untuk mengukur, menginterpretasi, dan menilai pencapaian program.

Evaluasi pada tahap ini dilakukan untuk menolong pembuat keputusan selanjutnya, apa hasil yang telah dicapai dan apa yang mesti dilakukan setelah program berjalan. (Tayibnafis, 2008:14). Jadi evaluasi produk diarahkan pada hal-hal yang menunjukkan perubahan yang terjadi pada input. Pertanyaan yang dapat diajukan: Apa hasil yang telah dicapai? dan Apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah program berjalan?

(61)

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian evaluasi kinerja guru Sekolah Dasar dalam pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia kelas tinggi di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei s.d. Juni 2012.

3.3 Kriteria Evaluasi

Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Permendiknas tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan Panduan KTSP Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah yang meliputi: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, dan, (7) standar penilaian.

[image:61.595.110.525.565.747.2]

Secara garis besar penentuan kriteria evaluasi kinerja guru seperti yang diuraikan berikut ini.

Tabel 3.1 Kriteria Evaluasi

Kriteria Variabel Sub Variabel Instrumen Subjek

1. Permendiknas RI No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana. 2. Permendiknas

RI No. 19 tahun 2007 tentang Standar

Pengelolaan 3. Permendiknas

RI No. 22 tahun

Context Lingkungan

Pembelajaran, meliputi: 1. Lingkungan Sekolah 2. Visi dan misi sekolah 3. Dukungan pimpinan 4. Kurikulum

(62)

Kriteria Variabel Sub Variabel Instrumen Subjek 2006 tentang

Standar Isi 1.Permendiknas

RI No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi 2.Permendiknas

RI No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana 3.Permendiknas

RI No. 19 tahun 2007 tentang Standar

Pengelolaan,

bagian B,

subbagian 7 tentang bidang sarana dan prasarana

Input Ketersediaan sarana dan prasarana, meliputi: 1. Adanya kurikulum

pendidikan,

2. Ketersediaan ruang belajar,

3. Ketersediaan alat pembelajaran, 4. Ketersediaan sumber

belajar meliputi: perpustakaan.

Dokumentasi Guru

Permendiknas RI No. 16 tahun 2007, tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

Kompetensi guru dalam pembelajaran, meliputi: 1. Kompetensi

Pedagogik, 2. Kompetensi

Kepribadian, 3. Kompetensi Sosial, 4. Kompetensi

Profesional.

Angket Guru

Permendiknas RI No. 16 tahun 2007, tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

Sumber daya guru di sekolah, meliputi: 1. Pelatihan yang pernah diikuti. 2. Pengalaman

mengajar.

Dokumentasi Guru

Permendiknas RI No. 16 tahun 2007, tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

Kualifikasi pendidikan guru, meliputi:

1. Jenjang pendidikan. 2. Kesesuaian

pendidikan guru dengan mata pelajaran yang di ampu.

(63)

Kriteria Variabel Sub Variabel Instrumen Subjek 1. Sesuai dengan

PP No. 74 tahun 2008

2. Permendiknas RI No. 41 tahun 2007, tentang Standar Proses

bagian II

subbagian B dan C

Pengetahuan guru tentang pembelajaran, meliputi:

1.Pengetahuan guru tentang pembuatan silabus,

2.Pengetahuan guru tentang pembuatan RPP,

3.Pengetahuan guru tentang teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran.

Tes Guru

1. Permendiknas RI No. 41 tahun 2007, tentang Standar Proses

bagian II

subbagian B dan C

Process Perencanaan Pembelajaran Adanya perencanaan pembelajaran yang dituangkan dalam Silabus dan RPP meliputi:

1.Kejelasan rumusan tujuan pembelajaran, 2.Pemilihan materi

ajar, 3.Pengorganisasian materi ajar, 4.Pemilihan sumber/media pembelajaran, 5.Kejelasan skenario

pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran: awal, inti, dan penutup), 6.Kerincian skenario

pembelajaran, 7.Kelengkapan

instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran).

Dokumentasi Guru

Permendiknas RI No. 41 tahun 2007, tentang Standar Proses bagian III subbagian A, B,

Pelaksanaan Pembelajaran Pelaksanaan

pembelajaran sesuai dengan kegiatan

(64)

Kriteria Variabel Sub Variabel Instrumen Subjek

dan C pembelajaran yang

dimulai dari:

1.Kegiatan pembukaan (pendahuluan) terdiri dari kegiatan: a. Membuka pelajaran, b. Menyampaikan tujuan pembelajaran, c. Melakukan kegiatan apersepsi.

2.Kegiatan inti, terdiri dari kegiatan: a. Menyampaikan materi untuk mencapai kompetensi dasar, b. Mengkaitkan materi dengan realitas kehidupan, c. Melakukan kegiatan eksplorasi, d. Melakukan kegiatan elaborasi, e. Melakukan kegiatan konfirmasi, f. Mendorong siswa

untuk berpartisipasi aktif, g. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi berupa tes (formatif dan sumatif). 3.Kegiatan penutup,

(65)

Kriteria Variabel Sub Variabel Instrumen Subjek dengan peserta

didik atau sendiri membuat

rangkuman atau kesimpulan pelajaran. b. Melakukan

penilaian atau repleksi terhadap kegiatan yang sudah

dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.

Gambar

Gambar 2.1.  Bagan Alur Penelitian Evaluasi Kinerja Guru Sekolah Dasar dalam Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas Tinggi di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan
Tabel 3.1 Kriteria Evaluasi
Tabel 3.2.  Teknik Pengumpulan Data Evaluasi Kinerja Guru Sekolah Dasar dalam Pembelajaran di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan
Tabel 3.3.  Kisi-kisi Instrumen Penelitian Evaluasi Kinerja Guru Sekolah
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan (1) Tingkat kinerja penyuluh pertanian di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan secara umum berada pada klasifikasi sedang, (2) Tingkat

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN, PENGETAHUAN DAN TINDAKAN IBU TENTANG PENCEGAHAN DIARE DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI POSYANDU DESA NATAR.. KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keuntungan usahatani dan sistem pemasaran jagung manis di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.. Lokasi penelitian

Edy Suwaspodo selaku Kepala Desa memberikan penjelasan mengenai Kinerja Aparatur Sipil Negara dalam Pelayanan Masyarakat di Desa Natar Kecamatan Natar Kabupaten Lampung

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diketahui bahwa faktor risiko dismenore primer pada siswi SMP X Kecamatan Natar Kabupaten Lampung selatan, yang paling

Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dari pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Larangan Perjudian di Desa Natar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kinerja guru di SMK Swadhipa 2 Natar Lampung Selatan termasuk dalam kategori sangat baik, (2) Kemampuan manejerial kepala sekolah

Raudhatul Athfal Darussalam Banjar Negeri Kecamatan Natar Lampung Selatan, Tesis Program Pascasarjana IAIN Metro. Pendidikan sejak usia dini itu dikatakan sangat penting,