213 I. IDENTITAS DIRI
Nama : Afandi
Nama Panggilan : Apandi
NIM : 41808047
Tempat dan Tanggal Lahir : Pekalongan, 19 Januari 1990
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Hobby : Desain Layout, Desain Logo,
Digital Art, dan Musik
Alamat : Jl. Terusan Cibaduyut Gg. Mesjid RT 06/01,
Cangkuang Kulon, Dayeuhkolot, Kab.Bandung
Alamat e-mail : [email protected]
Motto : Ingatlah dengan apa yang diucapkan
II. IDENTITAS KELUARGA
NO NAMA HUBUNGAN PENDIDIKAN PEKERJAAN
1 Samudi Ayah Kandung - Wiraswasta
2 Rochyati Ibu Kandung SD Ibu Rumah Tangga
3 Rizki Mulyana Adik Kandung SD Pelajar
III. RIWAYAT PENDIDIKAN
NO TAHUN LULUS JENJANG SEKOLAH/PERG.TINGGI KETERANGAN
1 2008 - sekarang S1 Universitas Komputer Indonesia,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
NO TAHUN PENYELENGGARA KEGIATAN SEBAGAI
1 2009 Program Studi Ilmu
Komunikasi dan Public Relations Fisip Unikom
Table Manner Ciurse Peserta
2 2009 Program Studi Ilmu
Komunikasi dan Public Relations Fisip Unikom
Pelatihan Melejitkan Potensi dan Pengembangan Diri
Peserta
3 2009 Program Studi Ilmu
Komunikasi dan Public
4 2009 Program Studi Ilmu
Komunikasi dan Public Relations Fisip Unikom
5 2009 Program Studi Ilmu
7 2010 Program Studi Ilmu
Komunikasi dan Public
10 2011 FISIP Unikom Gerakan Ambil Sampah Panitia
Relations Fisip Unikom Seminar “How To Be A
Fun With Office 2010 Peserta
V. PENGALAMAN ORGANISASI
NO TAHUN ORGANISASI JABATAN
1 2010 - 2011 Himpunan Mahasiswa Ilmu
VII.KEMAMPUAN YANG DIKUASAI
NO BIDANG KEMAMPUAN KEAHLIAN
1 Bahasa Inggris Aktif/Pasif
2 Komputer :
- Software MS Office 2007/2010, Adobe
Photoshop, Adobe Indesain, CorelDRAW Graphics Suite.
- Internet Browsing
Demikian Daftar Riwayat Hidup ini dibuat dengan sesungguhnya, untuk
dapat dipergunakan seperlunya.
Bandung, Juli 2012 Penulis
Komunitas Musik Underground Di Kota Bandung)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (SI) Pada Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Humas
Oleh , AFANDI NIM. 41808047
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI HUMAS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG
vi
Assalamua’laikum Wr. Wb.
Segala puji penulis ucapankan kepada Allah SWT, Tuhan pencipta dan
pemelihara alam semesta yang menguasai segala kekuasaan, pemilik segala ilmu
yang sifatnya lakhiriah maupun yang bersifat bathiniah atas segala rahmat dan
karunianya sehingga penulis mendapatkan kelancar dalam penulisan penelitian
yang berjudul “Konsep Diri Penganut Straight Edge Dalam Komunitas Musik
Underground”(Studi Fenomenologi Mengenai Konsep Diri Penganut Straight Edge Dalam Komunitas Musik Underground Di Kota Bandung).
Dalam penelitian ini, penulis mengucapkan rasa terima kasih
sebesar-besarnya kepada Ayah dan Ibu penulis yang tercinta, karena berkat kegigihan,
pengorbanan, dan kesetian mereka dalam mendampingi penulis sehingga
menghantarkan penulis sampai ke derajat mahasiswa serta menyelesaikan proses
akhir dalam perkuliahan dengan lancar.
Serta dengan segala rasa hormat dan kerendahan hati penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Yth. Bapak Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia,
vii
3. Yth. Ibu Melly Maulin P., S.Sos., M.Si Selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Komputer Indonesia dan dosen penulis yang banyak
memberikan pengetahuan baru bagi penulis.
4. Yth. Bapak Sangra Juliano Prakasa, S.I.Kom selaku wali dosen penulis yang telah banyak memberikan bantuan dalam banyak hal terutama
mengenai perwalian maupun mengenai akademik dan memberikan
berbagai pembelajaran yang positif.
5. Yth. Bapak Arie Prasetio, S.Sos., M.Si. selaku dosen pembimbing penulis dalam penyusunan usulan penelitian ini, yang telah memberikan
nasehat, semangat, koreksi, serta dorongan motivasi kepada penulis.
6. Yth. Bapak/Ibu staf dosen yang berada di Universitas Komputer Indonesia khusunya Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan dukungan
dan semangat serta banyak membantu penulis.
7. Yth. Mbak Astri Ikawati, A.Md.Kom selaku Sekretariat Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Komputer Indonesia Bandung, yang telah membantu
viii
dengan adanya mereka.
9. Terima kasih kepada Novi Hardianti yang telah mau jadi tempat curhatan
hati peneliti mengenai penelitian dan bersedia membantu peneliti baik
susah maupun senang ketika berada dalam perkuliahan.
10.Terima kasih kepada Rengga, Septian, Oki, Widia, dan anak-anak satu
bimbingan yang selalu saling mengingatkan untuk melakukan bimbingan
serta bertukar pikiran mengenai penelitian.
11.Terima kasih kepada teman-teman IK Humas 1 2008 Bella, Dita, Ines,
Hary, Ilona, Devita, Abdur, Fanny, Bahtiar, Doni, Yuga, Alin, Santi,
Ading, Sigit, Fahrul, Randi, Rani, Nuky, dan lain-lain ayo semangat untuk
mengejar cita-cita kalian jangan sampai putus asa !!!
12.Terima kasih kepada teman-teman kelas IK 2 2008 khususnya Cecep, Rio,
Imam, Reza, Azhar, Nina, dan lainnya yang telah mengisi masa-masa awal
dari perkuliahan sampai dengan sekarang, hubungan kita jangan sampai
rapuh.
13.Terima kasih kepada teman-teman Ilmu Komunikasi 2008 yang telah
memberikan dorongan dan motivasi dalam pengerjaan penelitin ini.
14.Terima kasih kepada Tri Aldi, Adi Yoso, dan Asep Ucok yang telah
menemani proses penelitian ini serta memberikan arah mengenai
ix
melakukan perbuatan yang menyakiti perasaan kalian.
16.Terima kasih kepada Anna Yoana yang telah memberikan dukungan dan
do’anya dalam proses penelitian ini.
17.Terima kasih kepada sodara-sodara penulis yang telah memberikan
bantuan secara moril maupun material dalam proses pengerjaan penelitian
ini.
18.Terima kasih kepada teman-teman SD Al-Basyariah Bandung 2002,
SMPN 36 Bandung 2005 dan SMA Pasundan 7 Bandung 2008 yang telah
mewarnai masa-masa sekolah penulis.
19.Terima kasih kepada para pahlawan tanpa tanda jasa, para guru yang
sudah mendidik dan membagi ilmunya kepada penulis mulai dari penulis
SD, SMP, dan SMA. Jasamu sangatlah besar dan penulis ucapkan terima
kasih atas jasamu yang sungguh mulia.
20.Serta terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan
mendukungan, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga
kebaikan yang diberikan dapat di balas oleh Allah SWT.
Semoga Allah SWT. memberikan balasan yang berlimpah bagi
orang-orang yang telah membantu penulis dengan segala kesabaran dan keikhlasannya
x
Akhir kata penulis berharap semoga penelitian ini mendatangkan kebaikan
yang bagi banyak pihak, terima kasih. Amin.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb
Bandung, Juli 2012 Penulis
xi
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
LEMBAR PERSEMBAHAN ... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 11
1.2.1 Pertanyaan Makro ... 11
1.2.2 Pertanyaan Mikro ... 11
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian... 12
1.3.1 Maksud Penelitian ... 12
1.3.2 Tujuan Penelitian ... 12
1.4 Kegunaan Penelitian ... 13
1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 13
xii
2.2.1 Pengertian Komunikasi ... 16
2.2.2 Tujuan Komunikasi ... 18
2.2.3 Fungsi Komunikasi ... 20
2.2.4 Proses Komunikasi ... 20
2.2.5 Unsur-unsur Komunikasi ... 22
2.3 Tinjauan Tentang Komunikasi Antarpribadi ... 24
2.3.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi ... 24
2.3.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi ... 26
2.3.3 Sifat Komuniaksi Antarpribadi ... 26
2.4 Tinjauan Tentang Psikologi Komunikasi... 27
2.5 Tinjauan Tentang Interaksi Simbolik ... 31
2.6 Tinjauan Tentang Konsep Diri... 37
2.6.1 Pengertian Konsep Diri ... 37
2.6.2 Aspek-aspek Konsep Diri ... 40
2.6.3 Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri ... 42
2.6.4 Komponen Pembentuk Konsep Diri ... 44
2.7 Tinjauan Tentang Komunitas ... 45
2.8 Tinjauan Tentang Musik ... 46
2.9 Tinjaun Tentang Underground ... 49
xiii
3.1.1 Sejarah Straight Edge ... 71
3.1.1.1Sejarah Simbol X Pada Straight Edge ... 72
3.1.1.2Era Straight Edge Pada Oldschool (1970 - awal 1980) ... 74
3.1.1.3Era Straight Edge Pada Youth Crew (pertangahan 1980) ... 74
3.1.1.4Era Straight Edge Pada Militan (1990) ... 76
3.1.1.5Era Straight Edge Pada 2000-an ... 76
3.1.1.6Straight Edge di Indonesia ... 77
3.1.2 Subjek Penelitian ... 77
3.2 Metode Penelitian ... 78
3.2.1 Desain Penelitian ... 78
3.2.2 Teknik Pengumpulan Data ... 84
3.2.2.1Studi Pustaka ... 84
3.2.2.2Studi Lapangan ... 85
3.2.2.3Internet Searching ... 86
3.2.3 Teknik Penentuan Informan ... 86
3.2.4 Teknik Analisis Data ... 88
3.2.5 Uji Keabsahan Data... 90
xiv
4.1 Data Informan ... 101
4.1.1 Proses Pendekatan Informan ... 102
4.1.2 Profil Informan ... 103
4.1.2.1Informan Penelitian (Penganut Straight Edge) ... 104
4.1.2.2Informan Pendukung ... 107
4.1.2.3Informan Kunci ... 109
4.2 Hasil Penelitian ... 110
4.2.1 Simbol-Simbol Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya ... 111
4.2.2 Komponen Kognitif Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya 121
4.2.3 Komponen Afektif Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya ... 126
4.2.4 Konsep Diri Penganut Straight Edge ... 131
4.3 Pembahasan... 138
4.3.1 Simbol-Simbol Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya ... 138
4.3.2 Komponen Kognitif Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya 143
xv
5.1 Kesimpulan ... 152
5.2 Saran ... 153
DAFTAR PUSTAKA ... 155
LAMPIRAN ... 159
xvi
Tabel 3.2 Informan Pendukung Penelitian ... 88
Tabel 3.3 Key Informan Penelitian ... 88
xvii
Gambar 3.1 Ian Mackey ... 72
Gambar 3.2 Simbol X Pada Straight Edge... 74
xviii
Lampiran 2 : Berita Acara Bimbingan ... 161
Lampiran 3 : Lembar Revisi Sidang Skripsi ... 162
Lampiran 4 : Lembar Revisi Usulan Penelitian ... 163
Lampiran 5 : Surat Rekomendasi Pembimbing Untuk
Mengikuti Sidang Sarjana ... 164
Lampiran 6 : Pedoman Wawancara ... 167
Lampiran 7 : Wawancara Penelitian ... 185
145
Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
_________________. 2009. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa
Rekatama Media.
Cutlip, Scott M; Center, Allen H; Broom, Glen H. 2009. Effective Public Relations Edisi Kesembilan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Djohan. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher.
Effendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Fisher, B. Aubrey., Penyuting: Rakhmat, Jalaluddin. 1986. Teori-teori Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
G, Widya. 2010. Punk: Ideologi Yang Disalah Pahami. Yogyakarta: Garasi House Of Book.
Haenfler, Ross. 2006. Straight Edge: Clean Living Youth, Hardcore Punk, and Change. Piscataway: Rutgers University Press.
Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi.
Bandung: Widya Padjadjaran.
Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antarpribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Mulyana, Deddy. 2009. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
______________. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin. 1991. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Satori, Djam’an dan Komariah, Aan. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Alfabeta
Sobur, Alex. 2011. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Susilo, Taufik Adi. 2009. Kultur Underground: Yang Pekak Dan Berteriak Di Bawah Tanah. Yogyakarta: Garasi House Of Book.
Tantagode, Jube. 2008. Musik Underground Indonesia: Revolusi Indie Label. Yogyakarta: Harmoni
Widjaja, H.A.W. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumber Lain : Skripsi
Feronika, Silfia. 2011. Konsep Diri Anak Tunagrahita Ringan: Studi
Putri, Andina Dwitya. 2011. Straight Edge dalam Scene Underground Jakarta: Studi Fenomenologi Mengenai Straight Edge di dalam Scene Hardcore
Jakarta. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Yulianti, Linda. 2011. Konsep Diri Mahasiswa Perokok di Kota Bandung: Studi Fenomenologi Konsep Diri Mahasiswa Perokok di Kota Bandung. Bandung: Universitas Komputer Indonesia.
Internet Searching
http://www.anneahira.com/psikologi-komunikasi-18667.htm , 18 April 2012, Pukul
20.00 WIB.
http://www.anneahira.com/underground.htm , 2 April 2012, Pukul 20.00 WIB.
http://betterdayzine.blogspot.com/2012/04/bertahan-dengan-straightedge.html , 12
Mei 2012, Pukul 12.00 WIB.
http://betterdayzine.blogspot.com/2012/05/pengabal-abalan-di-scene.html 12 Mei
2012, Pukul 12.10 WIB.
http://betterdayzine.blogspot.com/2009/11/straightedge-tidak-ekslusif.html 12 Mei
2012, Pukul 12.20 WIB.
http://betterdayzine.blogspot.com/2010/02/tentang-straightedge-dan-tentang.html 12
Mei 2012, Pukul 12.30 WIB.
http://books.google.co.id/books?id=7AgdUYZ6U0wC&pg=PA5&hl=id&source=gbs
_selected_pages&cad=3#v=onepage&q&f=false , 19 Februari 2012, Pukul
http://books.google.co.id/books?id=id1Bfdz0EDsC&printsec=frontcover&hl=id&sou
rce=gbs_vpt_buy#v=onepage&q&f=true , 19 Februari 2012, Pukul 20.30
WIB.
http://books.google.co.id/books?id=Rp_tVcHOV0oC&pg=PA302&lpg=PA302&dq=
free+download+book+Hardcore+Punk+straight+edge+%26+Radical+Politics
&source=bl&ots=5OD1CCQFr&sig=wrTYhdkdUMXwCPBVd8jRI59tI5o&h
l=en&sa=X&ei=561DT4SFEI7LrQeco_jABw&redir_esc=y#v=onepage&q&f
=true , 19 Februari 2012, Pukul 21.00 WIB.
http://jamrfirdaus.wordpress.com/tag/straight-edge/ , 20 Februari 2012, Pukul 20.00
WIB.
http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/08/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html , 21 Februari 2012, Pukul 20.00 WIB.
http://www.scribd.com/doc/28335794/BAB-II-PEMBAHASAN-a-Pengertian-Komunitas-Komunitas , 2 April 2012, Pukul 20.30 WIB.
http://www.scribd.com/doc/50252875/Psikologi-Komunikasi , 18 Maret 2012, Pukul
20.00 WIB.
http://sxeindonesia.tumblr.com/FAQ , 19 Februari 2012, Pukul 19.00 WIB.
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://en.wikipedi
1 1.1Latar Belakang Masalah
Mungkin disebagian kalangan masyarakat tertentu banyak yang mengira
bahwa musik underground itu selalu identik dengan adanya histeria dan amuk
massa baik itu pada saat pertunjukan musik berlangsung maupun bagi para
pelaku dalam komunitas musik underground yang sering kali mengkonsumsi
narkoba, alkohol, maupun seks bebas. Banyak sekali kejadian-kejadian yang
setidaknya bersifat anarkisme dalam sebuah pertunjukan musik underground baik
itu yang berada di luar negri sana maupun yang ada di Indonesia.
Perkembangan musik underground yang ada di Indonesia dapat dikatakan
sangat pesat. Menurut Reggi Kayong Munggaran1 seorang pengamat musik
underground mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat pesat
perkembangannya dalam bidang musik underground khususnya Bandung
sehingga menempati posisi ke lima mengenai komunitas musik underground di
dunia. Di Bandung sendiri, banyak sekali musisi-musisi underground yang lahir
di kota kembang (salah satu sebutan untuk Bandung) seperti metal, punk,
hardcore, maupun indie.
Awal mulanya, musik underground lahir dari adanya gerakan-gerakan
oleh para generasi muda yang berada di Amerika. Tujuan gerakan yang di usung
oleh generasi muda ini sifatnya lebih kepada pemberontakan atau perlawan
1
terhadap ketidak adilan bagi kalangan masyarakat minor atau menengah ke
bawah.
Dalam penjelasan Susilo (2009:5) mengatakan bahwa musik underground
ini muncul tatkala kemapanan dan industrialisasi dianggap sudah tidak
memanusiakan manusia lagi. Musik underground sendiri lahir untuk mendobrak
tatanan seperti ini. Dimana musik underground merupakan bentuk reaksi
terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita.
Dalam perkembangannya yang begitu sangat pesat, maka musik
underground pun masuk dan menyebar sangat cepat di Indonesia. Banyak sekali
pelaku-pelaku yang terlibar dalam musik underground sendiri, baik itu para
musisinya atau penggemarnya yang mayoritas para generasi muda dari tahun ke
tahun. Akan tetapi, masuknya musik underground di Indonesia khususnya di kota
Bandung tidak terlepas dari adanya budaya yang telah melekat dalam musik
underground sendiri, yakni penggunaan narkoba, alkohol, seks bebas, dan
sejenisnya.
Selain penggunaan narkoba, alkohol, seks bebas dan lain sebagainya. Pola
pikir para pelaku musik underground lebih kritis terhadap realitas sosial yang
terjadi. Baik itu mengenai tentang lingkungan maupun ketidak adilan terhadap
kalangan masyarakat menengah ke bawah. Dimana mereka mencurahkan kritikan
mereka kedalam sebuah lagu yang mereka ciptakan.
Disisi lain, terdapat kenyataan yang tak bisa ditampik mengenai musik
underground, sebagaimana gerakan-gerakan lainnya dalam kontrakultur, diisi
underground. Akibatnya, terjadi miskonsepsi di dalam musik underground
seperti adanya perlawanan atas kapitalisme, akan tetapi yang mereka lakukan
ialah dengan melakukan tindakan penggunaan dan mengkonsumsi alkohol dan
narkoba yang mengatas namakan kebebasan dari musik underground itu sendiri.
Maka dari itu, muncul suatu pola pengendalin diri dalam komunitas musik
underground yang disebut dengan istilah Straight Edge. Pada dasarnya, straight
edge merupakan sebuah ideologi atau pergerakan untuk melakukan pengendalian
diri yang bertujuan untuk menjauhkan diri dari segala jenis produk yang dianggap
beracun yang diedarkan oleh kaum kapitalis. Straight edge sendiri muncul karena
adanya kesadaran bahwa kapitalisme telah dengan sengaja mendistribusikan
produk-produk yang cenderung menjadikan massa untuk menghancurkan diri.
Menurut Robert T. Wood (2006:1) menjelaskan dalam bukunya yang
berjudul Straight Edge Youth Complexity and Contradictions of Subculture
bahwa straight edge itu sebuah filosofi dan gaya hidup yang ditandai dengan
tidak mengkonsumsi rokok, alkohol, narkoba, seks bebas, dan zat-zat yang
berbahaya bagi tubuh, bahkan sampai tidak mengkonsumsi daging serta produk
hewani. Secara garis besar, straight edge merupakan pergerakan terhadap
penggunaan zat-zat yang dapat merusak tubuh seperti narkoba, alkohol, rokok,
dan seks bebas, sedangkan secara garis kerasnya ialah menghindari segala
sesuatu yang dapat merusak tubuh.
Pergerakan straight edge mencoba memberikan suatu alternatif baru
dalam kancah musik underground yang sempat identik dengan kebiasaan prilaku
pergerakan Straight edge ini lahir dari komunitas musik hardcore punk,
hardcore punk sendiri merupakan bagian dari musik underground.
Awalnya, straight edge bermula dari lagu “straight edge” yang diciptakan
oleh salah satu band hardcore punk yakni Minor Threat sekitaran tahun 1981. Ian
Mackaye, sang frontman dan vocalis Minor Threat memiliki suatu pandangan
bahwa dalam komunitas musik underground harus bisa melakukan perubahan
yang positif. Menurut Susilo (2099:70), lirik lagu “straight edge” pada dasarnya
mengatakan bahwa ada hal yang lebih baik daripada mabuk dan mengkonsumsi
narkotika lalu berakhir terkapar di acara konser.
Gambar 1.1 Minor Threat
Sumber : http://centrifugue.fr
Secara umum, pergerakan straight edge mempunyai simbol yang menjadi
identitas bagi para penganut straight edge yakni coretan “X” di punggung tangan.
bersama bandnya di atas panggung maupun datang ke gigs-gigs musik
underground. Selain itu, tanda X juga digunakan pada pin, t-shirt, jaket, serta
aksesoris lainya sebagai kampanye dari pergerakan straight edge. Sehingga,
tanda X menjadi identitas bagi para penganut straight edge yang disampaikan
melalui sebuah coretan X dengan menggunakan spidol di punggung tangan
maupun pada atribut-atribut yang lain.
Di Indonesia, pergerakan straight edge dalam komunitas musik
underground dapat dikatakan sangat pesat. Banyak sekali para generasi muda
baik itu di Bandung, Yogyakarta, Bali, maupun Jakarta sangat antusias dari
adanya pergerakan straight edge ini. Seperti halnya di kota Bandung, pergerakan
straight edge banyak digandrungi oleh anak-anak muda dari komunitas musik
underground baik itu seorang musisi maupun seorang penikmat musik
underground sehingga para penganut straight edge pun semakin menjamur di
kalangan generasi muda yang berada di Bandung.
Berdasarkan penjelasan dari Lagatutta dan Lahickey dalam Robert T.
Wood (2006:7) mengatakan bahwa keberadaan penganut straight edge tidak
lepas dari adanya generasi muda yang berkecimpung dalam komunitas musik
underground khususnya hardcore punk, baik itu pria maupun wanita yang
rata-rata masih remaja sekitaran belasan tahun. Tidak kemungkinan bahwa tahapan
tersebut merupakan tahapan pencarian diri atau adapatasi sebagai seorang
penganut straight edge. Berbeda halnya apabila telah berumur kepala tiga,
pergerakan straight edge ini dapat dijadikan sebuah pendirian dalam diri
Merujuk pada penjelasan dari Lagatutta dan Lahickey tersebut, memang
benar keberadaan penganut straight edge sendiri banyak sekali digandrungi oleh
para generasi muda dalam komunitas musik underground. Seperti halnya di
Bandung, kota yang penuh akan kreatifitasnya. Banyak diantara generasi muda
komunitas musik underground kota Bandung antusias adanya pergerakan straight
edge ini.
Seiring pergerakan para penganut straight edge yang semakin hari
semakin berkembang serta menjadi buah bibir baik itu dalam jejaring sosial,
forum, maupun di dalam komunitas musik underground. Serta pergerakan ini pun
didukung dengan semakin banyaknya orang-orang di komunitas musik
underground untuk memilih hidupnya menjadi seorang penganut straight edge
dalam sebuah bentuk komitmen diri yang bertanggung jawab.
Dari sudut pandang tertentu, pergerakan straight edge ini terdengar baik
ketika sebagian orang-orang dalam komunitas musik underground menghindari
penggunaan rokok, alkohol, narkoba, dan seks bebas. Namun apabila dilihat lebih
dalam lagi, dengan semakin maraknya penganut straight edge, maka pergerakan
ini menjadi semacam tren yang baru di dalam komunitas musik underground atau
bagi para generasi muda. Dan akibatnya ialah muncul beberapa orang-orang yang
belum paham sebenarnya mengenai straight edge akan tetapi sudah berani
mengklaim bahwa dirinya sebagai penganut straight edge dengan informasi yang
masih minim. Sehingga berakhir dengan pilihan sellout atau gagal.
Tentunya bagi para penganut straight edge yang lebih mengerti apa itu
komunitas musik underground pun tidak setuju dengan adanya tindakan yang
tidak bertanggung jawab seperti itu. Sehingga arti dan filosofi straight edge
sendiri merasa ternodai dengan adanya oknum-oknum yang mengatas namakan
dirinya sebagai penganut straight edge.
Dalam konteks komunikasi, hal tersebut merupakan bagian dari dalam
komunikasi antrapribadi yang dimana sebagai penganut straight edge harus bisa
mengpresentasikan dirinya sebagai seorang penganut straight edge kepada orang
lain. Menurut Deddy Mulyana (2009:81) mengatakan bahwa komunikasi
antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara
orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap
reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal.
Komunikasi yang dilakukan oleh para penganut straight edge sangat lah
berperan penting dalam pembentukan karakteristik seorang penganut straight
edge yang secara benar berdasarkan arti serta filosofinya. Hal ini juga berkaitan
dengan penggunaan komunikasi secara verbal dan nonverbal yang dilakukan oleh
para penganut straight edge dalam menjalin hubungan dengan komunitas yang
lain maupun individu yang lain.
Karakteristik merupakan hal yang paling melekat pada diri seorang
manusia dan akan menjadi sebuah identitas bagi seorang individu. Keberagaman
karakteristik yang menjadi identitas seorang individu terbentuk berdasarkan
beberapa faktor seperti lingkungan, tingkatan sosial, tingkatan ekonomi, serta
pendidikan.2
2
Dengan melalui proses komunikasi yang dilakukan oleh penganut straight
edge, maka para penganut straight edge dapat mengekspresikan mengenai
perasaannya sebagai seorang penganut straight edge. Dalam artian bahwa
komunikasi dapat menjadikan manusia mempunyai kemampuan untuk dapat
menganggapi diri sendiri baik itu secara sadar ataupun tidak sadar, dan
kemampuan tersebut memerlukan adanya daya pikir. Akan tetapi, tidak
kemungkinan bahwa suatu tindakan oleh individu dalam interaksi sosial
munculnya suatu reaksi yang secara spontan dan tanpa sadar tidak melalui
pemikiran.
Pada dasarnya manusia mampu membayangkan mengenai dirinya sendiri
secara sadar atas tindakannya yang berasal dari pandangan orang lain. Hal ini
menyebabkan manusia dapat membentuk perilakunya secara sengaja dengan
maksud menghadirkan respon tertentu dari pihak lain. Sehingga hal ini disebut
dengan konsep diri. Seperti halnya yang dikatakan oleh George H. Mead, bahwa
konsep diri adalah suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan
orang lain.(Mulyana, 2010:73)
Interaksi yang dilakukan oleh para penganut straight edge tidak pernah
lepas dari adanya penggunaan simbol-simbol yang terlibat didalamnya, seperti
coretan X pada punggung tangan, bahasa maupun isyarat-isyarat yang dilakukan
oleh mereka dalam mengisi keseharian hidupnya sebagai seorang penganut
straight edge baik itu dalam komunitasnya atau dengan orang lain yang ada
mengandung arti tersendiri bagi para penganut straight edge maupun
komunitasnya.
Proses interaksi yang dilakukan para penganut straight edge secara
keseluruahan bersifat simbolik baik dalam komunitas musik underground
maupun dilingkungan sekitar. Dimana makna-makna dalam simbol yang dimiliki
oleh para penganut straight edge dibentuk oleh adanya pikiran (mind) mengenai
diri (self) mereka dan menginterpretasikan makna tersebut di tengah masyarakat
(society).
Maka dari itu, proses interaksi yang dilakukan oleh para penganut straight
edge dengan melibatkan adanya simbol-simbol yang bermakna ini dapat
mempengaruhi prilaku mereka sebagai seorang penganut straight edge.
Pengaruh ini muncul berdasarkan atas adanya interaksi yang berlangsung baik itu
terjadi pada orang-orang terdekat maupun lingkungan seorang penganut straight
edge menetap.
Selain itu juga, interaksi yang mereka lakukan dapat mempengaruhi diri
mereka sebagai seorang penganut straight edge. Yang dimana, interaksi yang
berlandaskan pengetahuan yang luas, hasilnya akan mendapatkan respons yang
baik dari masyarakat maupun orang-orang terdekat. Apabila kondisinya terbalik
maka respons yang akan dihasilkan juga akan buruk terhadap diri kita sendiri.
Dalam kondisi saat ini straight edge di sebagaian kalangan dipergunakan
sebagai sebuah tren baru, sehingga tidak mengetahui apa arti dan filosofinya dari
melalui interaksi secara individu maupun interaksi terhadap individu yang lain.
Sehingga hasil yang mereka dapatkan pun tidak akan semaksimal mungkin.
Bagi seorang penganut straight edge sendiri, menjadi seorang penganut
straight edge tidak lah mudah, bukan hanya sebatas menghindari penggunaan
rokok, alkohol, narkoba, dan seks bebas. Akan tetapi, sebagai penganut straight
edge harus bisa menyikapi arti dan filosofinya dari straight edge itu sendiri. Serta
pengetahuan dan penilaian mengenai dirinya sendiri menjadi seorang penganut
straight edge, juga berpengaruh dalam pembentukan diri mereka sebagai
penganut straight edge.
Yang dimana dalam pembentukan diri ini tidak pernah lepas dari adanya
interaksi yang berasal dari pikiran seseorang mengenai diri mereka sendiri
sebagai seorang penganut straight edge lalu mengintrepresentasikan makna
tersebut di komunitasnya maupun di lingkungannya. Sehingga terjadi proses
pertukaran antara para penganut straight edge dengan penganut straight edge
yang lain maupun orang lain (bukan penganut straight edge).
Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, maka penulis perlu
melakukan sebuah penelitian yang mengkaji secara khusus mengenai konsep diri
seorang penganut straight edge dalam komunitas musik underground yang
berada di kota Bandung, karena konsep diri merupakan faktor yang sangat
penting dan menentukan dalam komunikasi antarpribadi serta muncul
berdasarkan atas pengaruh dari adanya pandangan orang lain mengenai individu
seorang penganut straight edge.
1.2Rumusan Masalah
1.2.1 Pertanyaan Makro
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka peneliti merumuskan
sebuah permasalah mengenai straight edge, yakni :
“Bagaimana Konsep Diri Penganut Straight Edge Dalam Komunitas
Musik Underground?”
1.2.2 Pertanyaan Mikro
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka
pertanyaan mikro dari penelitian ini yakni :
1. Bagaimana simbol-simbol seorang penganut straight edge dalam
komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh
orang-orang terdekat maupun lingkungannya ?
2. Bagaimana komponen kognitif seorang penganut straight edge dalam
komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh
orang-orang terdekat maupun lingkungannya ?
3. Bagaimana komponen afektif seorang penganut straight edge dalam
komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh
1.3Maksud dan Tujuan Penelitian
Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini, yakni :
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan
bagaimana konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik
underground di kota Bandung. (Studi fenomenologi mengenai konsep diri
penganut straight edge dalam komunitas musik underground di kota Bandung)
1.3.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan mikro yang disebutkan pada rumusan masalah,
diatas, maka terdapat tujuan dari pertanyaan mikro dalam penelitian ini, yakni :
1. Untuk mengetahui simbol-simbol seorang penganut Straight Edge dalam
komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh
orang-orang terdekat maupun lingkungannya.
2. Untuk mengetahui komponen kognitif seorang penganut straight edge
dalam komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi
oleh orang-orang terdekat maupun lingkungannya.
3. Untuk mengetahui komponen afektif seorang penganut Straight Edge
dalam komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi
oleh orang-orang terdekat maupun lingkungannya.
Adapun tujuan dari pertanyaan makro dalam penelitian ini yang telah
1.4Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini, yakni :
1.4.1 Kegunaan Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan kajian
secara lebih lanjut guna memberikan sumbangan ilmu dan pengembangan dalam
bidang ilmu komunikasi khususnya komunikasi antarpribadi yang berhubungan
dengan masalah penelitian mengenai konsep diri.
1.4.2 Kegunaan Praktis 1. Bagi Peneliti
Kegunaan penelitian ini untuk peneliti adalah penelitian ini memberikan
wawasan baru bagi peneliti akan berbagai macam perilaku sosial yang ada di
dalam masyarakat serta pengembangan ilmu komunikasi dan sebagai bahan
pengalaman dan pengetahuan bagi peneliti.
2. Bagi Akademik
Kegunaan penelitian ini berguna bagi mahasiswa Universitas Komputer
Indonesia secara umum, program Ilmu Komunikasi secara khusus sebagai literatur
atau untuk sumber tambahan dalam memperoleh informasi bagi peneliti yang
akan melaksanakan penelitian dengan kajian yang sama.
3. Bagi Masyarakat
Kegunaan penelitian ini bagi masyarakat secara umum adalah untuk
mengetahui konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik
underground di kota Bandung, dimana keberadaan straight edge oleh sebagian
14 2.1Tinjauan Tentang Komunikasi
2.1.1 Pengertian Komunikasi
Dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek karya Onong Uchjana
Effendy (2002:9) mengatakan bahwa komunikasi atau dalam bahasa inggris
communication berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari kata
communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna.
Sedangkan Deddy Mulyana (2009:46) menjelaskan bahwa kata
komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari kata latin
communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau communicare
yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis)
yang paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar
dari kata-kata lating lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu
pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama.
Selain itu, banyak sekali para ahli yang mendefinisikan komunikasi
dengan berbeda-beda dan berdasarkan pandangan mereka sendiri. Seperti Carl I.
Hoveland (1948:371) dalam Mulyana (2009:68) menampilkan definisi mengenai
komunikasi ialah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator)
menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949), bahwa
komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama
lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi
verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.
Sementara itu, Wilbur Schraam menjelaskan mengenai komunikasi
sebagai berikut :
“Komunikasi (setidaknya komunikasi manusia) adalah sesuatu yang dilakukan orang. Komunikasi tidak punya kehidupan dalam dirinya. Tidak ada keajaiban di dalamnya kecuali apa-apa yang dimasukan orang dalam hubungan komunikasi ke dalam komunikasi itu. Tidak ada makna dalam sebuah pesan kecuali makna yang dimasukan ke dalamnya oleh seseorang. Karenanya, ketika seseorang mempelajari komunikasi, maka dia juga mempelajari orang – berhubungan satu sama lain dan berhubungan dengan kelompok, organisasi, dan masyarakat mereka, saling mempengaruhi dan dipengaruhi, member informasi dan diberi informasi, mengajar dan diajar, menghibur dan dihibur – dengan menggunakan sinyal-sinyal tertentu yang eksis terpisah dari mereka. Untuk memahami proses komunikasi, kita harus memahami bagaimana orang saling berhubungan satu sama lain.” (Cutlip, Center, dan Broom, 2009:226)
Raymond S. Ross (1983: 8) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu
proses menyortir, memilih, dan mengirimkan symbol-simbol sedemikian rupa,
sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari
pikirannya yang serupa dengan yang dimaksukan oleh sang komunikator.
Sedangkan Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964:527)
mendefinisikan komunikasi, sebagai berikut: komunikasi adalah transmisi
informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunkan
symbol-simbol, dan sebagainya. Tindakan atau proses transimisi itulah yang
biasanya disebut komunikasi.
“Komunikasi adalah proses timbal balik (resiprokal) pertukaran sinyal
untuk memberikan informasi, membujuk, atau memberikan perintah,
berdasarkan makna yang sama dan dikondisikan oleh konteks hubungan
para komunikator dan konteks sosialnya.”
Everett M. Rogers dalam Mulyana (2009:69) menyatakan bahwa
komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu
penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku.
Onong Uchdjana Effendy dalam buku Dimensi-dimensi Komunikasi
menjelaskan bahwa :
Komunikasi adalah Proses penyampain suatu pesan oleh seseorang kepada
orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku, baik langsung atau lisan, maupun tak langsung melalui media.
(Effendy, 2002:5)
2.1.2 Tujuan Komunikasi
Adapun tujuan komunikasi menurut Onong Uchdjana Effendy
(2002:11-19) yakni sebagai berikut :
1. Perubahan sikap (attitude change)
Memberikan berbagai informasi pada masyarakat tujuan akhirnya supaya
masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi itu
disampaikan. Misalnya supaya masyarakat ikut serta dalam pilihan suara pada
pemilu atau ikut serta dalam berperilaku sehat, dan sebagainya.
Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan
supaya masyarakat akan berubah sikapnya. Misalnya kegiatan memberikan
informasi mengenai hidup sehat tujuannya adalah supaya masyarakat mengikuti
pola hidup sehat dan sikap masyarakat akan positif terhadap pola hidup sehat.
3. Perubahan perilaku (behavior change)
Memberikan berbagai informasi pada masyarakat tujuan akhirnya supaya
masyarakat mau berubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi itu
disampaikan, misalnya dalam informasi mengenai pemilu. Terutama informasi
mengenai kebijakan pemerinatah yang biasanya selalu mendapat tantangan dari
masyarakat maka harus disertai penyampaian informasi yang lengkap supaya
pendapat masyarakat dapat terbentuk untuk mendukung kebijakan tersebut.
4. Perubahan sosial (social change)
Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan
supaya masyarakat akan berubah perilakunya. Misalnya kegiatan memberikan
informasi mengenai hidup sehat tujuannya adalah supaya masyarakat mengikuti
pola hidup sehat dan perilaku masyarakat akan positif terhadap pola hidup sehat
atau mengikuti perilaku hidup sehat.
Sedangkan Gordon I. Zimmerman dalam Mulyana (2009:4) merumuskan
bahwa kita dapat membagi tujuan komunikasi menjadi dua kategori besar.
Pertama, kita berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi
kebutuhan kita – untuk member makan dan pakain kepda diri-sendiri, memuaskan
untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain. Jadi fungsi
komunikasi mempunyai fungsi isi, yang melibatkan pertukaran informasi yang
kita perlukan untuk melesaikan tugas, dan fungsi hubungan yang melibatkan
pertukan informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain.
2.1.3 Fungsi Komunikasi
Judy C. Person dan Paul E. Nelson dalam Mulyana (2009:5)
mengemukakan bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk
kelangsungan hidup diri-sendiri yang meluputi keselamatan fisik, meningkatkan
kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai
ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk
memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan dukungan atas keberadaan
suatu masyarakat.
Masih dalam Mulyana (2009:5), Willam I. Gorden menjelaskan bahwa
fungsi komunikasi terdiri dari empat yakni :
1. Fungsi pertama : komunikasi sosial
2. Fungsi kedua : komunikasi ekspresif
3. Fungsi ketiga : komunikasi ritual
4. Fungsi keempat : komunikasi instrumental
2.1.4 Proses Komunikasi
Dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek karya Onong Uchjana
Effendy (2002:11) mengatakan bahwa proses komunikasi terbagai menjadi dua
1. Secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampain pikiran dan
atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang
(symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi
adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara
langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada
komunikan.
2. Secara sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media
kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Sedangkan menurut Deddy Mulyana (2000:237), Proses komunikasi dapat
diklasifikasikan menjadi duabagian yaitu:
1. Komunikasi verbal
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan
satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk
ke dalam kategori pesan verbal disengaja yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara
sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Bahasa dapat juga
dianggap sebagai suatu sistem kode verbal.
2. Komunikasi non verbal
Secara sederhana pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan
kata-kata Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter komunikasi non verbal
komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh
individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima.
2.1.5 Unsur-unsur Komunikasi
Effendy (2002:18) menyebutkan sembilan unsur-unsur yang terdapat
dalam komunikasi, yakni sebagai berikut :
1. Sender ialah komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang
atau sejumlah orang.
2. Encoding ialah penyandian, yakni proses pengalihan pikiran ke dalam
bentuk lambang.
3. Message ialah pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna
yang disampaikan oleh komunikator.
4. Media ialah saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator
kepada komunikan.
5. Decoding ialah pengawasandian, yaitu proses di mana komunikan
menetapkan makna pada lambang yang disampaikan oleh komunikator
kepadanya.
6. Receiver ialah komunikan menerima pesan dari komunikator.
7. Response ialah tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah
8. Feedback ialah umpan balik, yakni tanggapan komunikan apabila
tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator.
9. Noise ialah gangguan tak terencana yang terjadi dlam proses komunikasi
sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda
dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.
Sedangkan menurut Widjaja (2000:30) memaparkan lima unsur-unsur
komunikasi terdiri dari, sebagai berikut :
1. Sumber, yakni dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan
digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat
berupa orang, lembaga, buku, dan dokumen, ataupun sejenisnya.
2. Komunikator. Dalam komunikasi, setiap orang ataupun kelompok dapat
menyampaikan pesan-pesan komunikasi sebagai suatu proses, di mana
komunikator dapat menjadi komunikan, dan sebaliknya komunikan dapat
menjadi komunikator.
3. Pesan, yakni keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator.
Pesan ini mempunyai inti pesan (tema) yang sebenarnya menajdi pengarah
di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan.
Pesan dapat secara panjang lebar mengupas berbagai sege, namun inti
pesan dari komunikasi akan selalu mengarah kepada tujuan akhir
komuniaksi itu.
4. Channel atau saluran, yakni saluran penyampain pesan, bisa juga disebut
dengan media. Baik itu melalui media umum seperti radio CB, OHP dan
5. Effect, yakni hasil akhir dari suatu komunikasi, sikap dan tingkah laku
orang, sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Apabila sikap
dan tingkah laku orang lainitu sesuai, maka itu berarti komunikasi
berhasil, demikian juga sebaliknya.
2.2Tinjauan Tentang Komunikasi Antarpribadi 2.2.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi
Alo Liliweri (1997:41) mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi
merupakan suatu bidang ilmu komunikasi. Setiap hari bidang ilmu komunikasi
antarpribadi itu hadir dalam situasi-situasi yang berkaitan dengan hubungan
antarmanusia.
Sementara itu, Deddy Mulyana (2009:81) menjelaskan bahwa komunikasi
antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara
orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap
reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.
Sedangkan Devito dalam Liliweri (1997:12) mengatakan bahwa
komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan dari seseorang dan
diterima oleh orang lain dengan efek dan umpan balik yang langsung.
Effendy dalam Liliweri (1997:12) menjelaskan bahwa pada hakikatnya
komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara seseorang komunikator
dengan seorang komunikan. Jenis komunikasi tersebut dianggap paling efektif
untuk mengubah sikap, pendapat, atau prilaku manusia berhubungan prosesnya
Sementara itu, Dean C. Barnlud (1968) mengemukakan bahwa :
Komunikasi antarpribadi selalu dihubungkan dengan pertemuan antara dua, tiga atau mungkin emapt orang yang terjadi secara spontan dan tidak berstruktur. Rogers dalam depari (1988) mengemukakan pula, komunikasi antarpribadi merupakan komuniaksi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi. Tan (1981) mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi tatap muka antara dua atau lebih orang. (liliweri, 1997:12)
Devito (1976) dalam Liliweri (1997:13) mengemukakan bahwa
komunikasi antarpribadi mengandung lima ciri sebagai berikut :
1. Keterbukaan atau openness,
2. Empati (empathy),
3. Dukungan (suportiveness),
4. Perasaan positif (positivness), dan
5. Kesamaan (equality).
Alo Liliweri (1997:13) merumuskan beberapa ciri mengenai komunikasi
antarpribadi, yakni sebagai berikut:
1. Spontanitas, terjadi sambil lalu dengan media utama adalah tatap
muka,
2. Tidak mempunyai tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu,
3. Terjadi secara kebetulan di antara peserta yang identitasnya kurang
jelas, mengakibatkan damapak yang disengaja dan tidak disengaja,
4. Kerap kali berbalas-balasan,
5. Mempersyaratkan hubungan paling sedikit dua orang dengan
hubungan yang bebas dan bervariasi, ada keterpengaruhan,
2.2.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi
Dalam Widjaja (2000:122) terdapat enam tujuan dari komunikasi
antarpribadi yang dianggap penting, yakni :
1. Mengenal diri sendiri dan orang lain,
2. Mengentahui dunia luar,
3. Menciptakan dan memelihara hubungan,
4. Mengubah sikap dan perilaku,
5. Bermain dan mencari hiburan, dan
6. Membantu orang lain.
2.2.3 Sifat Komunikasi Antarpribadi
Menurut sifatnya, komunikasi antarpribadi dapat dibedakan menjadi
komunikasi diadik (dyadic communication) dan komunikasi kelompok kecil
(small group communication).
1. Komunikasi Diadik
Komunikasi diadik yaitu proses komunikasi yang berlangsung antara dua
orang atau lebih dalam situasi tatap muka. Bisa berupa percakapan, dialog, dan
wawancara.
2. Komunikasi Kelompok Kecil
Komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang berlangsung
antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, antar anggota saling berinteraksi.
Komunikasi kelompok kecil oleh banyak kalangan digolongkan ke dalam
a. Anggota-anggotanya terlibat dalam suatu proses komunikasi yang
berlangsung dengan tatap muka.
b. Pembicaraan yang dilakukan terjadi dengan terpotong-potong. Setiap
peserta bisa berbicara dengan posisi yang sama. Di sini, tidak ada
pembicara tunggal yang mendominasi percakapan.
c. Komunikasi ini sulit untuk mengidentifikasi sumber data penerima pesan
karena keduanya bisa berperan sebagai sumber maupun penerima.
Dalam komunikasi kelompok kecil, tidak ada batasan yang menentukan
dengan tegas berapa besar jumlah individu yang terlibat. Namun, biasanya antara
2-3 orang. Bahkan, bisa sampai 30 orang tetapi tidak sampai 50 orang.
2.3Tinjauan Tentang Psikologi Komunikasi
Psikologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari mengenai kejiwaan
manusia atau seseorang. Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani,
yaitu psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berate “ilmu”. Jadi, secara
harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang
gejala-gejala kejiwaan.
Menurut Mussen dan Rosenzwieg (1975:5) mengartikan psikologi sebagai
ilmu yang mempelajari mind (pikiran), namun dalam perkembangannya, kata
mind berubah menjadi behavior (tingkah laku), sehingga psikologi didefinisikan
sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
Dalam perkembangannya, psikologi terbagi menjadi dua kelompok yakni
mempelajari, menguraikan, dan menyelidik berbagai kegiatan atau aktivitas
psikis manusia pada umumnya, antara lain pengamatan, inteligensi, perasaan,
emosi, kehendak, dan motif-motif. Sedangkan psikologi khusus ialah psikologi
yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi-situasi khusus.
Psikologi khusus terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu psikologi
perkembangan, psikologi sosial, psikologi pendidikan, psikologi kepribadian,
psikopatologi, psikologi diferensial, psikologi kriminal, parapsikologi, psikologi
komparatif, dan psikologi penyesuaian. Adapun penjelasan mengenai
bagian-bagian dalam psikologi khusus yang diambil dari buku psikologi umum karya
Alex Sobur (2011:57-58), yakni sebagai berikut :
1. Psikologi perkembangan ialah psikologi yang membicarakan
perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai masa tua.
2. Psikologi sosial ialah subdisiplin dari psikologi yang mencari
pengertian tentang hakikat dan sebab-sebab dari perilaku dan
pikiran-pikiran individu dalam situasi sosial.
3. Psikologi pendidikan ialah subdisiplin psikologi yang mempelajari
tingkah laku individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula
pengertian tentang proses belajar dan mengajar.
4. Psikologi kepribadian ialah psikologi yang menguraikan tentang
struktur kepribadian manusia sebagai suatu keseluruhan dan jenis-jenis
atau tipe-tipe kepribadian.
5. Psikopatologi ialah psikologi yang khusus mempelajari kegiatan atau
6. Psikologi diferensial ialah psikologi yang menguraikan
perbedaan-perbedaan antar individu dalam taraf inteligensi, kecakapan, ciri-ciri
kepribadian lainnya, dan tentang cara-cara guna menentukan
perbedaan-perbedaan tersebut.
7. Psikologi kriminal ialah psikologi yang khusus berhubungan dengan
tindak kejahatan atau kriminalitas.
8. Parapsikologi ialah subdisiplin psikologi yang mempelajari fenomena
supernormal dengan alat-alat eksperimen atau alat-alat sistematis
lainnya.
9. Psikologi komparatif ialah psikologi yang mempelajari tingkah laku
manusia yang dibandingkan dengan tingkah laku hewan atau
sebaliknya.
10.Psikologi penyesuaian ialah suatu cabang psikologi yang
menggambarkan sejumlah cabang ilmu lainnya, termasuk psikologi
perkembangan, kepribadian, sosial, dan eksperimental.
Sebenarnya bagian-bagian dalam psikologi masih banyak lagi, salah
satunya yang menjadi bagian dalam psikologi ialah psikologi komunikasi. Dimana
psikologi merupakan bagian dari psikologi sosial. Psikologi komunikasi
merupakan bagian dari psikologi sosial. Karena komunikasi adalah peristiwa
sosial atau peristiwa yang terjadi ketika kita berinteraksi dengan manusia lainnya.
Psikologi memandang bahwa komunikasi ini selain sebagai suatu usaha
pertukaran simbol-simbol atau lambang-lambang baik itu verbal amupun
stimuli dari alat-alat indera yang akan dilanjutkan ke otak. Peristiwa penerimaan
dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh diantara berbagai didalam
diri organisme dan diantara organisme.
Psikologi juga mengarahkan perhatian perilaku manusia yang meneliti
mengenai proses kesadaran dan pengalaman manusia. Seperti yang dikatakan
Fisher yang dikutip oleh Rakhmat mengatakan bahwa :
Empat ciri pendekatan psikologi pada komunikasi: Penerimaan stimuli secara inderawi (sensory reception of stimuli), proses yang mengantarai stimuli dan respon (internal mediation of stimuli), prediksi respon (prediction of response), dan peneguhan respon (reinforcement of response). (Rakhmat, 1991:8)
Fisher (1978:136-142) masih dalam Rakhmat (1991:9) mengatakan bahwa
psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respons yang terjadi pada masa lalu
dapat meramalkan respons yang akan datang. Kita harus mengetahui sejarah
respons sebelum meramalkan respons individu masa ini. Dari sinilah timbul
perhatian pada gudang memori (memory storage) dan set (penghubung masa lalu
masa sekarang). Salah satu unsur sejarah respons adalah peneguhan. Peneguhan
adalah respons lingkungan (atau orang lain pada respons organisme yang asli).
Bergera dan Lambert menyebutnya feedback (umpan balik).
Psikologi memandang komunikasi bukan hanya sebagai proses yang
mempunyai makna yang luas, yang meliputi segala penyampaian energi.
Psikologi juga mempelajari komponen komunikasi, bahkan psikologi juga
memandang lambang-lambang pada proses komunikasi. Sangat jelas kaitannya
antara psikologi dengan komunikasi. Oleh karena itu, psikologi komunikasi ialah :
adalah apa yang disebut internal mediation of stimuli, sebagai akibat berlangsungnya komunikasi. Peristiwa Behavioral adalah apa yang nampak ketika orang berkomunikasi. (Rakhmat, 1991:9)
2.4Tinjauan Tentang Interaksi Simbolik
Esensi interaksi simbolik yang dijelaskan oleh Mulyana (2010:68) adalah
suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau
pertukaran simbol yang diberi makna. Blummer mengintegrasikan
gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat tulisan-tulisannya, terutama pada tahun
1950-an dan 1960-an, diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey,
William I. Thomas, Dan Charles H. Cooley.
Selain Blummer terdapat ilmuan-ilmuan lain yang memberikan andil pada
pengembangan interaksi simbolik, seperti Manford H. Kuhn, Howard S. Becker,
Norma K. Denzin, Arnold Rose, Gregory Stone, Anselm Strauss, Jereme Manis,
Bernard Meltzer, Alfred Lindesmith, Dan Tomotsu Shibutani, seraya
memanfaatkan pemikiran ilmuwan lain yang relevan, seperti Georg Simmel atau
Kenneth burke. Hal itu mereka lakukan lewat interpretasi dan
penelitian-penelitian mereka untuk menerapkan konsep-konsep dalam teori Mead.
Masih dalam Mulyana (2010:70), perspektif interaksi simbolik berusaha
memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini
menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang
memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan
Para ahli teori interaksi simbolik mengasumsikan bahwa orang-orang
berkomunikasi melalui masyarakat yang menciptakan dan menggunakan
simbol-simbol, termasuk bahsa. Orang-orang mengasumsikan peran-peran berdasarkan
symbol-simbol yang ditafsirkan ke dalam kelompok mereka dan intraksi melalui
peran. Melalui peran ini, orang-orang melahirkan ide-ide dan pikiran melalui
interaksi, bentuk-bentuk masyarakat. Teori ini berdasarkan pada tiga premis,
yakni :
1. Orang-orang bertindak menghadapi sesuatu berdasarkan pemaknaan
yang mereka miliki,
2. Pemaknaan tentang sesuatu diperoleh dari atau tidak muncul, interaksi
sosial,
3. Pemaknaan dinegoisasikan melalui proses interpretative.
Menurut Heath dalam Ardianto (2010:159), teori interaksi simbolik
mengemukakan bahwa setiap orang dari orang-orang ini atau orang-orang
membuat makna melalui sebuah proses yang dipertajam oleh pemaknaan orang
lain dan proses pembuatan makna.
Secara teoritis interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah
interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Mereka tertarik pada cara
manusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang mereka
maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yang
ditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yang
Penganut interaksi simbolik berpandangan bahwa perilaku manusia pada
dasarnya adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia di sekeliling mereka,
jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan. Sementara itu
perilaku dipilih sebagai hal yang layak dilakukan berdasarkan cara individu
mendefinisikan situasi yang ada.
George Ritzer dalam Mulyana (2010:73) meringkaskan teori interaksi
simbolik ke dalam prinsip-prinsip, sebagai berikut :
1. Manusia, tidak seperti hewan lebih rendah, diberkahi dengan
kemampuan berpikir.
2. Kemampuan berpikir itu dibentuk oleh interaksi sosial.
3. Dalam interaksi sosial orang belajar makna dan simbol yang
memungkinkan mereka menerepkan kemampuan khas mereka sebagai
manusia, yakni berpikir.
4. Makna dan simbol memungkinkan orang melanjutkan tindakan
(action) dan interaksi yang khas manusia.
5. Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang
mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi
mereka atas situasi.
6. Orang mampu melakukan modifikasi dan perubahan ini karena,
mempunyai kemampuan berinteraksi dengan diri-sendiri, yang
memungkinkan mereka memeriksa tahapan-tahapan tindakan, menilai
7. Pola-pola tindakan dan interaksi yang jalin-menjalin ini membentuk
kelompok dan masyarakat.
Mead yang merupakan seorang guru besar filsafat pada Universitas
Chicago juga mempunyai perhatian yang besar dalam bidang komunikasi
antarpribadi serta psikologi sosial dan sosiologi. Mead yang bakal melahirkan
perspektif interaksionisme simbolik meberikan sumbangan terbesar di dalam
perkembangan komunikasi antarpribadi. Pikiran mead sebenarnya menyanggah
pikiran-pikiran sebelumnya, bahwa model SR (Stimulus Respons) itu tidak
lengkap.
Mead seorang penganut behaviorisme sosial itu mengetengahkan bahwa suatu kenyataan sosial sebenarnya muncul melalui proses interaksi, yakni interaksi dengan simbol. Seperti namanya maka teori ini berkaitan dengan simbol di mana interaksi itu terjadi. Teori ini meliputi pula analisis mengenai kemampuan manusia untuk menciptakan dan memanipulasi simbol-simbol. Mead berpendapat bahwa seorang individu dapat menempatkan dirinya dalam posisi ornag lain dan melihat tindakannya sendiri seperti orang lain melihat dia, jadi orang lain menjadi objek bagi dirinya sendiri. Mead juga berpendapat bahwa simbol-simbol dapat digunakan untuk menciptakan pengertian-pengertian yang baru yang masih berada dalam konteks pengalaman bersama seperti layaknya bahasa dalam membahasakan suatu objek. (Liliweri, 1997:106-107)
Karya Mead yang paling terkenal yang berjudul Mind, Self, and Society
(Mead; 1934), menggarisbawahi tiga konsep kritis yang dibutuhkan dalam
menyusun sebuah diskusi tentang teori interaksi simboli. Hal pertama yang harus
dicatat adalah bahwa tiga konsep ini saling mempengaruhi satu sama lain dalam
term interaksi simbolik. Dari itu, pikiran manusia (mind) dan interaksi diri
(diri/self dengan yang lain) digunakan untuk menginterpretasikan dan memediasi
Berdasarkan penjelasan Mead, maka interaksi simbolik erat kaitannya
dengan Mind (pikiran), Self (diri) dan Society (masyarakat). Adapun definisi
singkat dari ke tiga ide dasar interaksi simbolik, antara lain :
1. Pikiran (Mead) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana setiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain,
2. Diri (Self) adalah kemapuan untuk merefleksikan diri setiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan
3. Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikontruksikan oleh setiap individu ditengah masyarakat, dan setiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakat.1
Tiga tema konsep pemikiran Mead yang mendasari interaksi simbolik
antara lain:
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
2. Pentingnya konsep mengenai diri,
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat. (Ardianto, 2010:159)
Adapun penjelasan mengenai tiga tema konsep pemikiran George Herbert
Mead yang dikutip melalui blog pribadinya Ahmad Kurnia, S.Pd., M.M., dalam
sebuah artikel yang berjudul sejarah interaksi simbolik2, yakni sebagai berikut :
Tema pertama pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya
membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik
tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada
artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu
1
http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/08/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html oleh
Ahmad kurnia, SPd,MM , tanggal akses 14 Maret 2012, pukul 20.00 WIB.
2 http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/08/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html oleh