• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik underground : (studi fenomenologi mengenal konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik underground di Kota Bandung)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik underground : (studi fenomenologi mengenal konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik underground di Kota Bandung)"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

213 I. IDENTITAS DIRI

Nama : Afandi

Nama Panggilan : Apandi

NIM : 41808047

Tempat dan Tanggal Lahir : Pekalongan, 19 Januari 1990

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status Perkawinan : Belum Menikah

Agama : Islam

Hobby : Desain Layout, Desain Logo,

Digital Art, dan Musik

Alamat : Jl. Terusan Cibaduyut Gg. Mesjid RT 06/01,

Cangkuang Kulon, Dayeuhkolot, Kab.Bandung

Alamat e-mail : [email protected]

Motto : Ingatlah dengan apa yang diucapkan

(5)

II. IDENTITAS KELUARGA

NO NAMA HUBUNGAN PENDIDIKAN PEKERJAAN

1 Samudi Ayah Kandung - Wiraswasta

2 Rochyati Ibu Kandung SD Ibu Rumah Tangga

3 Rizki Mulyana Adik Kandung SD Pelajar

III. RIWAYAT PENDIDIKAN

NO TAHUN LULUS JENJANG SEKOLAH/PERG.TINGGI KETERANGAN

1 2008 - sekarang S1 Universitas Komputer Indonesia,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

NO TAHUN PENYELENGGARA KEGIATAN SEBAGAI

1 2009 Program Studi Ilmu

Komunikasi dan Public Relations Fisip Unikom

Table Manner Ciurse Peserta

2 2009 Program Studi Ilmu

Komunikasi dan Public Relations Fisip Unikom

Pelatihan Melejitkan Potensi dan Pengembangan Diri

Peserta

3 2009 Program Studi Ilmu

Komunikasi dan Public

4 2009 Program Studi Ilmu

Komunikasi dan Public Relations Fisip Unikom

(6)

5 2009 Program Studi Ilmu

7 2010 Program Studi Ilmu

Komunikasi dan Public

10 2011 FISIP Unikom Gerakan Ambil Sampah Panitia

(7)

Relations Fisip Unikom Seminar “How To Be A

Fun With Office 2010 Peserta

V. PENGALAMAN ORGANISASI

NO TAHUN ORGANISASI JABATAN

1 2010 - 2011 Himpunan Mahasiswa Ilmu

(8)

VII.KEMAMPUAN YANG DIKUASAI

NO BIDANG KEMAMPUAN KEAHLIAN

1 Bahasa Inggris Aktif/Pasif

2 Komputer :

- Software MS Office 2007/2010, Adobe

Photoshop, Adobe Indesain, CorelDRAW Graphics Suite.

- Internet Browsing

Demikian Daftar Riwayat Hidup ini dibuat dengan sesungguhnya, untuk

dapat dipergunakan seperlunya.

Bandung, Juli 2012 Penulis

(9)

Komunitas Musik Underground Di Kota Bandung)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (SI) Pada Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Humas

Oleh , AFANDI NIM. 41808047

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI HUMAS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG

(10)

vi

Assalamua’laikum Wr. Wb.

Segala puji penulis ucapankan kepada Allah SWT, Tuhan pencipta dan

pemelihara alam semesta yang menguasai segala kekuasaan, pemilik segala ilmu

yang sifatnya lakhiriah maupun yang bersifat bathiniah atas segala rahmat dan

karunianya sehingga penulis mendapatkan kelancar dalam penulisan penelitian

yang berjudul “Konsep Diri Penganut Straight Edge Dalam Komunitas Musik

Underground(Studi Fenomenologi Mengenai Konsep Diri Penganut Straight Edge Dalam Komunitas Musik Underground Di Kota Bandung).

Dalam penelitian ini, penulis mengucapkan rasa terima kasih

sebesar-besarnya kepada Ayah dan Ibu penulis yang tercinta, karena berkat kegigihan,

pengorbanan, dan kesetian mereka dalam mendampingi penulis sehingga

menghantarkan penulis sampai ke derajat mahasiswa serta menyelesaikan proses

akhir dalam perkuliahan dengan lancar.

Serta dengan segala rasa hormat dan kerendahan hati penulis

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Yth. Bapak Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia,

(11)

vii

3. Yth. Ibu Melly Maulin P., S.Sos., M.Si Selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Komputer Indonesia dan dosen penulis yang banyak

memberikan pengetahuan baru bagi penulis.

4. Yth. Bapak Sangra Juliano Prakasa, S.I.Kom selaku wali dosen penulis yang telah banyak memberikan bantuan dalam banyak hal terutama

mengenai perwalian maupun mengenai akademik dan memberikan

berbagai pembelajaran yang positif.

5. Yth. Bapak Arie Prasetio, S.Sos., M.Si. selaku dosen pembimbing penulis dalam penyusunan usulan penelitian ini, yang telah memberikan

nasehat, semangat, koreksi, serta dorongan motivasi kepada penulis.

6. Yth. Bapak/Ibu staf dosen yang berada di Universitas Komputer Indonesia khusunya Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan dukungan

dan semangat serta banyak membantu penulis.

7. Yth. Mbak Astri Ikawati, A.Md.Kom selaku Sekretariat Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Komputer Indonesia Bandung, yang telah membantu

(12)

viii

dengan adanya mereka.

9. Terima kasih kepada Novi Hardianti yang telah mau jadi tempat curhatan

hati peneliti mengenai penelitian dan bersedia membantu peneliti baik

susah maupun senang ketika berada dalam perkuliahan.

10.Terima kasih kepada Rengga, Septian, Oki, Widia, dan anak-anak satu

bimbingan yang selalu saling mengingatkan untuk melakukan bimbingan

serta bertukar pikiran mengenai penelitian.

11.Terima kasih kepada teman-teman IK Humas 1 2008 Bella, Dita, Ines,

Hary, Ilona, Devita, Abdur, Fanny, Bahtiar, Doni, Yuga, Alin, Santi,

Ading, Sigit, Fahrul, Randi, Rani, Nuky, dan lain-lain ayo semangat untuk

mengejar cita-cita kalian jangan sampai putus asa !!!

12.Terima kasih kepada teman-teman kelas IK 2 2008 khususnya Cecep, Rio,

Imam, Reza, Azhar, Nina, dan lainnya yang telah mengisi masa-masa awal

dari perkuliahan sampai dengan sekarang, hubungan kita jangan sampai

rapuh.

13.Terima kasih kepada teman-teman Ilmu Komunikasi 2008 yang telah

memberikan dorongan dan motivasi dalam pengerjaan penelitin ini.

14.Terima kasih kepada Tri Aldi, Adi Yoso, dan Asep Ucok yang telah

menemani proses penelitian ini serta memberikan arah mengenai

(13)

ix

melakukan perbuatan yang menyakiti perasaan kalian.

16.Terima kasih kepada Anna Yoana yang telah memberikan dukungan dan

do’anya dalam proses penelitian ini.

17.Terima kasih kepada sodara-sodara penulis yang telah memberikan

bantuan secara moril maupun material dalam proses pengerjaan penelitian

ini.

18.Terima kasih kepada teman-teman SD Al-Basyariah Bandung 2002,

SMPN 36 Bandung 2005 dan SMA Pasundan 7 Bandung 2008 yang telah

mewarnai masa-masa sekolah penulis.

19.Terima kasih kepada para pahlawan tanpa tanda jasa, para guru yang

sudah mendidik dan membagi ilmunya kepada penulis mulai dari penulis

SD, SMP, dan SMA. Jasamu sangatlah besar dan penulis ucapkan terima

kasih atas jasamu yang sungguh mulia.

20.Serta terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan

mendukungan, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga

kebaikan yang diberikan dapat di balas oleh Allah SWT.

Semoga Allah SWT. memberikan balasan yang berlimpah bagi

orang-orang yang telah membantu penulis dengan segala kesabaran dan keikhlasannya

(14)

x

Akhir kata penulis berharap semoga penelitian ini mendatangkan kebaikan

yang bagi banyak pihak, terima kasih. Amin.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

Bandung, Juli 2012 Penulis

(15)

xi

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PERSEMBAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 11

1.2.1 Pertanyaan Makro ... 11

1.2.2 Pertanyaan Mikro ... 11

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian... 12

1.3.1 Maksud Penelitian ... 12

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 12

1.4 Kegunaan Penelitian ... 13

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 13

(16)

xii

2.2.1 Pengertian Komunikasi ... 16

2.2.2 Tujuan Komunikasi ... 18

2.2.3 Fungsi Komunikasi ... 20

2.2.4 Proses Komunikasi ... 20

2.2.5 Unsur-unsur Komunikasi ... 22

2.3 Tinjauan Tentang Komunikasi Antarpribadi ... 24

2.3.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi ... 24

2.3.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi ... 26

2.3.3 Sifat Komuniaksi Antarpribadi ... 26

2.4 Tinjauan Tentang Psikologi Komunikasi... 27

2.5 Tinjauan Tentang Interaksi Simbolik ... 31

2.6 Tinjauan Tentang Konsep Diri... 37

2.6.1 Pengertian Konsep Diri ... 37

2.6.2 Aspek-aspek Konsep Diri ... 40

2.6.3 Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri ... 42

2.6.4 Komponen Pembentuk Konsep Diri ... 44

2.7 Tinjauan Tentang Komunitas ... 45

2.8 Tinjauan Tentang Musik ... 46

2.9 Tinjaun Tentang Underground ... 49

(17)

xiii

3.1.1 Sejarah Straight Edge ... 71

3.1.1.1Sejarah Simbol X Pada Straight Edge ... 72

3.1.1.2Era Straight Edge Pada Oldschool (1970 - awal 1980) ... 74

3.1.1.3Era Straight Edge Pada Youth Crew (pertangahan 1980) ... 74

3.1.1.4Era Straight Edge Pada Militan (1990) ... 76

3.1.1.5Era Straight Edge Pada 2000-an ... 76

3.1.1.6Straight Edge di Indonesia ... 77

3.1.2 Subjek Penelitian ... 77

3.2 Metode Penelitian ... 78

3.2.1 Desain Penelitian ... 78

3.2.2 Teknik Pengumpulan Data ... 84

3.2.2.1Studi Pustaka ... 84

3.2.2.2Studi Lapangan ... 85

3.2.2.3Internet Searching ... 86

3.2.3 Teknik Penentuan Informan ... 86

3.2.4 Teknik Analisis Data ... 88

3.2.5 Uji Keabsahan Data... 90

(18)

xiv

4.1 Data Informan ... 101

4.1.1 Proses Pendekatan Informan ... 102

4.1.2 Profil Informan ... 103

4.1.2.1Informan Penelitian (Penganut Straight Edge) ... 104

4.1.2.2Informan Pendukung ... 107

4.1.2.3Informan Kunci ... 109

4.2 Hasil Penelitian ... 110

4.2.1 Simbol-Simbol Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya ... 111

4.2.2 Komponen Kognitif Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya 121

4.2.3 Komponen Afektif Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya ... 126

4.2.4 Konsep Diri Penganut Straight Edge ... 131

4.3 Pembahasan... 138

4.3.1 Simbol-Simbol Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya ... 138

4.3.2 Komponen Kognitif Penganut Straight Edge Yang Dipengaruhi Oleh Orang Terdekat Maupun Lingkungannya 143

(19)

xv

5.1 Kesimpulan ... 152

5.2 Saran ... 153

DAFTAR PUSTAKA ... 155

LAMPIRAN ... 159

(20)

xvi

Tabel 3.2 Informan Pendukung Penelitian ... 88

Tabel 3.3 Key Informan Penelitian ... 88

(21)

xvii

Gambar 3.1 Ian Mackey ... 72

Gambar 3.2 Simbol X Pada Straight Edge... 74

(22)

xviii

Lampiran 2 : Berita Acara Bimbingan ... 161

Lampiran 3 : Lembar Revisi Sidang Skripsi ... 162

Lampiran 4 : Lembar Revisi Usulan Penelitian ... 163

Lampiran 5 : Surat Rekomendasi Pembimbing Untuk

Mengikuti Sidang Sarjana ... 164

Lampiran 6 : Pedoman Wawancara ... 167

Lampiran 7 : Wawancara Penelitian ... 185

(23)

145

Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

_________________. 2009. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa

Rekatama Media.

Cutlip, Scott M; Center, Allen H; Broom, Glen H. 2009. Effective Public Relations Edisi Kesembilan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Djohan. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Fisher, B. Aubrey., Penyuting: Rakhmat, Jalaluddin. 1986. Teori-teori Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

G, Widya. 2010. Punk: Ideologi Yang Disalah Pahami. Yogyakarta: Garasi House Of Book.

Haenfler, Ross. 2006. Straight Edge: Clean Living Youth, Hardcore Punk, and Change. Piscataway: Rutgers University Press.

Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi.

Bandung: Widya Padjadjaran.

Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antarpribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

(24)

Mulyana, Deddy. 2009. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

______________. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rakhmat, Jalaluddin. 1991. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Satori, Djam’an dan Komariah, Aan. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Alfabeta

Sobur, Alex. 2011. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Susilo, Taufik Adi. 2009. Kultur Underground: Yang Pekak Dan Berteriak Di Bawah Tanah. Yogyakarta: Garasi House Of Book.

Tantagode, Jube. 2008. Musik Underground Indonesia: Revolusi Indie Label. Yogyakarta: Harmoni

Widjaja, H.A.W. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sumber Lain : Skripsi

Feronika, Silfia. 2011. Konsep Diri Anak Tunagrahita Ringan: Studi

(25)

Putri, Andina Dwitya. 2011. Straight Edge dalam Scene Underground Jakarta: Studi Fenomenologi Mengenai Straight Edge di dalam Scene Hardcore

Jakarta. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Yulianti, Linda. 2011. Konsep Diri Mahasiswa Perokok di Kota Bandung: Studi Fenomenologi Konsep Diri Mahasiswa Perokok di Kota Bandung. Bandung: Universitas Komputer Indonesia.

Internet Searching

http://www.anneahira.com/psikologi-komunikasi-18667.htm , 18 April 2012, Pukul

20.00 WIB.

http://www.anneahira.com/underground.htm , 2 April 2012, Pukul 20.00 WIB.

http://betterdayzine.blogspot.com/2012/04/bertahan-dengan-straightedge.html , 12

Mei 2012, Pukul 12.00 WIB.

http://betterdayzine.blogspot.com/2012/05/pengabal-abalan-di-scene.html 12 Mei

2012, Pukul 12.10 WIB.

http://betterdayzine.blogspot.com/2009/11/straightedge-tidak-ekslusif.html 12 Mei

2012, Pukul 12.20 WIB.

http://betterdayzine.blogspot.com/2010/02/tentang-straightedge-dan-tentang.html 12

Mei 2012, Pukul 12.30 WIB.

http://books.google.co.id/books?id=7AgdUYZ6U0wC&pg=PA5&hl=id&source=gbs

_selected_pages&cad=3#v=onepage&q&f=false , 19 Februari 2012, Pukul

(26)

http://books.google.co.id/books?id=id1Bfdz0EDsC&printsec=frontcover&hl=id&sou

rce=gbs_vpt_buy#v=onepage&q&f=true , 19 Februari 2012, Pukul 20.30

WIB.

http://books.google.co.id/books?id=Rp_tVcHOV0oC&pg=PA302&lpg=PA302&dq=

free+download+book+Hardcore+Punk+straight+edge+%26+Radical+Politics

&source=bl&ots=5OD1CCQFr&sig=wrTYhdkdUMXwCPBVd8jRI59tI5o&h

l=en&sa=X&ei=561DT4SFEI7LrQeco_jABw&redir_esc=y#v=onepage&q&f

=true , 19 Februari 2012, Pukul 21.00 WIB.

http://jamrfirdaus.wordpress.com/tag/straight-edge/ , 20 Februari 2012, Pukul 20.00

WIB.

http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/08/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html , 21 Februari 2012, Pukul 20.00 WIB.

http://www.scribd.com/doc/28335794/BAB-II-PEMBAHASAN-a-Pengertian-Komunitas-Komunitas , 2 April 2012, Pukul 20.30 WIB.

http://www.scribd.com/doc/50252875/Psikologi-Komunikasi , 18 Maret 2012, Pukul

20.00 WIB.

http://sxeindonesia.tumblr.com/FAQ , 19 Februari 2012, Pukul 19.00 WIB.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://en.wikipedi

(27)

1 1.1Latar Belakang Masalah

Mungkin disebagian kalangan masyarakat tertentu banyak yang mengira

bahwa musik underground itu selalu identik dengan adanya histeria dan amuk

massa baik itu pada saat pertunjukan musik berlangsung maupun bagi para

pelaku dalam komunitas musik underground yang sering kali mengkonsumsi

narkoba, alkohol, maupun seks bebas. Banyak sekali kejadian-kejadian yang

setidaknya bersifat anarkisme dalam sebuah pertunjukan musik underground baik

itu yang berada di luar negri sana maupun yang ada di Indonesia.

Perkembangan musik underground yang ada di Indonesia dapat dikatakan

sangat pesat. Menurut Reggi Kayong Munggaran1 seorang pengamat musik

underground mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat pesat

perkembangannya dalam bidang musik underground khususnya Bandung

sehingga menempati posisi ke lima mengenai komunitas musik underground di

dunia. Di Bandung sendiri, banyak sekali musisi-musisi underground yang lahir

di kota kembang (salah satu sebutan untuk Bandung) seperti metal, punk,

hardcore, maupun indie.

Awal mulanya, musik underground lahir dari adanya gerakan-gerakan

oleh para generasi muda yang berada di Amerika. Tujuan gerakan yang di usung

oleh generasi muda ini sifatnya lebih kepada pemberontakan atau perlawan

1

(28)

terhadap ketidak adilan bagi kalangan masyarakat minor atau menengah ke

bawah.

Dalam penjelasan Susilo (2009:5) mengatakan bahwa musik underground

ini muncul tatkala kemapanan dan industrialisasi dianggap sudah tidak

memanusiakan manusia lagi. Musik underground sendiri lahir untuk mendobrak

tatanan seperti ini. Dimana musik underground merupakan bentuk reaksi

terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita.

Dalam perkembangannya yang begitu sangat pesat, maka musik

underground pun masuk dan menyebar sangat cepat di Indonesia. Banyak sekali

pelaku-pelaku yang terlibar dalam musik underground sendiri, baik itu para

musisinya atau penggemarnya yang mayoritas para generasi muda dari tahun ke

tahun. Akan tetapi, masuknya musik underground di Indonesia khususnya di kota

Bandung tidak terlepas dari adanya budaya yang telah melekat dalam musik

underground sendiri, yakni penggunaan narkoba, alkohol, seks bebas, dan

sejenisnya.

Selain penggunaan narkoba, alkohol, seks bebas dan lain sebagainya. Pola

pikir para pelaku musik underground lebih kritis terhadap realitas sosial yang

terjadi. Baik itu mengenai tentang lingkungan maupun ketidak adilan terhadap

kalangan masyarakat menengah ke bawah. Dimana mereka mencurahkan kritikan

mereka kedalam sebuah lagu yang mereka ciptakan.

Disisi lain, terdapat kenyataan yang tak bisa ditampik mengenai musik

underground, sebagaimana gerakan-gerakan lainnya dalam kontrakultur, diisi

(29)

underground. Akibatnya, terjadi miskonsepsi di dalam musik underground

seperti adanya perlawanan atas kapitalisme, akan tetapi yang mereka lakukan

ialah dengan melakukan tindakan penggunaan dan mengkonsumsi alkohol dan

narkoba yang mengatas namakan kebebasan dari musik underground itu sendiri.

Maka dari itu, muncul suatu pola pengendalin diri dalam komunitas musik

underground yang disebut dengan istilah Straight Edge. Pada dasarnya, straight

edge merupakan sebuah ideologi atau pergerakan untuk melakukan pengendalian

diri yang bertujuan untuk menjauhkan diri dari segala jenis produk yang dianggap

beracun yang diedarkan oleh kaum kapitalis. Straight edge sendiri muncul karena

adanya kesadaran bahwa kapitalisme telah dengan sengaja mendistribusikan

produk-produk yang cenderung menjadikan massa untuk menghancurkan diri.

Menurut Robert T. Wood (2006:1) menjelaskan dalam bukunya yang

berjudul Straight Edge Youth Complexity and Contradictions of Subculture

bahwa straight edge itu sebuah filosofi dan gaya hidup yang ditandai dengan

tidak mengkonsumsi rokok, alkohol, narkoba, seks bebas, dan zat-zat yang

berbahaya bagi tubuh, bahkan sampai tidak mengkonsumsi daging serta produk

hewani. Secara garis besar, straight edge merupakan pergerakan terhadap

penggunaan zat-zat yang dapat merusak tubuh seperti narkoba, alkohol, rokok,

dan seks bebas, sedangkan secara garis kerasnya ialah menghindari segala

sesuatu yang dapat merusak tubuh.

Pergerakan straight edge mencoba memberikan suatu alternatif baru

dalam kancah musik underground yang sempat identik dengan kebiasaan prilaku

(30)

pergerakan Straight edge ini lahir dari komunitas musik hardcore punk,

hardcore punk sendiri merupakan bagian dari musik underground.

Awalnya, straight edge bermula dari lagu “straight edge” yang diciptakan

oleh salah satu band hardcore punk yakni Minor Threat sekitaran tahun 1981. Ian

Mackaye, sang frontman dan vocalis Minor Threat memiliki suatu pandangan

bahwa dalam komunitas musik underground harus bisa melakukan perubahan

yang positif. Menurut Susilo (2099:70), lirik lagu “straight edge” pada dasarnya

mengatakan bahwa ada hal yang lebih baik daripada mabuk dan mengkonsumsi

narkotika lalu berakhir terkapar di acara konser.

Gambar 1.1 Minor Threat

Sumber : http://centrifugue.fr

Secara umum, pergerakan straight edge mempunyai simbol yang menjadi

identitas bagi para penganut straight edge yakni coretan “X” di punggung tangan.

(31)

bersama bandnya di atas panggung maupun datang ke gigs-gigs musik

underground. Selain itu, tanda X juga digunakan pada pin, t-shirt, jaket, serta

aksesoris lainya sebagai kampanye dari pergerakan straight edge. Sehingga,

tanda X menjadi identitas bagi para penganut straight edge yang disampaikan

melalui sebuah coretan X dengan menggunakan spidol di punggung tangan

maupun pada atribut-atribut yang lain.

Di Indonesia, pergerakan straight edge dalam komunitas musik

underground dapat dikatakan sangat pesat. Banyak sekali para generasi muda

baik itu di Bandung, Yogyakarta, Bali, maupun Jakarta sangat antusias dari

adanya pergerakan straight edge ini. Seperti halnya di kota Bandung, pergerakan

straight edge banyak digandrungi oleh anak-anak muda dari komunitas musik

underground baik itu seorang musisi maupun seorang penikmat musik

underground sehingga para penganut straight edge pun semakin menjamur di

kalangan generasi muda yang berada di Bandung.

Berdasarkan penjelasan dari Lagatutta dan Lahickey dalam Robert T.

Wood (2006:7) mengatakan bahwa keberadaan penganut straight edge tidak

lepas dari adanya generasi muda yang berkecimpung dalam komunitas musik

underground khususnya hardcore punk, baik itu pria maupun wanita yang

rata-rata masih remaja sekitaran belasan tahun. Tidak kemungkinan bahwa tahapan

tersebut merupakan tahapan pencarian diri atau adapatasi sebagai seorang

penganut straight edge. Berbeda halnya apabila telah berumur kepala tiga,

pergerakan straight edge ini dapat dijadikan sebuah pendirian dalam diri

(32)

Merujuk pada penjelasan dari Lagatutta dan Lahickey tersebut, memang

benar keberadaan penganut straight edge sendiri banyak sekali digandrungi oleh

para generasi muda dalam komunitas musik underground. Seperti halnya di

Bandung, kota yang penuh akan kreatifitasnya. Banyak diantara generasi muda

komunitas musik underground kota Bandung antusias adanya pergerakan straight

edge ini.

Seiring pergerakan para penganut straight edge yang semakin hari

semakin berkembang serta menjadi buah bibir baik itu dalam jejaring sosial,

forum, maupun di dalam komunitas musik underground. Serta pergerakan ini pun

didukung dengan semakin banyaknya orang-orang di komunitas musik

underground untuk memilih hidupnya menjadi seorang penganut straight edge

dalam sebuah bentuk komitmen diri yang bertanggung jawab.

Dari sudut pandang tertentu, pergerakan straight edge ini terdengar baik

ketika sebagian orang-orang dalam komunitas musik underground menghindari

penggunaan rokok, alkohol, narkoba, dan seks bebas. Namun apabila dilihat lebih

dalam lagi, dengan semakin maraknya penganut straight edge, maka pergerakan

ini menjadi semacam tren yang baru di dalam komunitas musik underground atau

bagi para generasi muda. Dan akibatnya ialah muncul beberapa orang-orang yang

belum paham sebenarnya mengenai straight edge akan tetapi sudah berani

mengklaim bahwa dirinya sebagai penganut straight edge dengan informasi yang

masih minim. Sehingga berakhir dengan pilihan sellout atau gagal.

Tentunya bagi para penganut straight edge yang lebih mengerti apa itu

(33)

komunitas musik underground pun tidak setuju dengan adanya tindakan yang

tidak bertanggung jawab seperti itu. Sehingga arti dan filosofi straight edge

sendiri merasa ternodai dengan adanya oknum-oknum yang mengatas namakan

dirinya sebagai penganut straight edge.

Dalam konteks komunikasi, hal tersebut merupakan bagian dari dalam

komunikasi antrapribadi yang dimana sebagai penganut straight edge harus bisa

mengpresentasikan dirinya sebagai seorang penganut straight edge kepada orang

lain. Menurut Deddy Mulyana (2009:81) mengatakan bahwa komunikasi

antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara

orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap

reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal.

Komunikasi yang dilakukan oleh para penganut straight edge sangat lah

berperan penting dalam pembentukan karakteristik seorang penganut straight

edge yang secara benar berdasarkan arti serta filosofinya. Hal ini juga berkaitan

dengan penggunaan komunikasi secara verbal dan nonverbal yang dilakukan oleh

para penganut straight edge dalam menjalin hubungan dengan komunitas yang

lain maupun individu yang lain.

Karakteristik merupakan hal yang paling melekat pada diri seorang

manusia dan akan menjadi sebuah identitas bagi seorang individu. Keberagaman

karakteristik yang menjadi identitas seorang individu terbentuk berdasarkan

beberapa faktor seperti lingkungan, tingkatan sosial, tingkatan ekonomi, serta

pendidikan.2

2

(34)

Dengan melalui proses komunikasi yang dilakukan oleh penganut straight

edge, maka para penganut straight edge dapat mengekspresikan mengenai

perasaannya sebagai seorang penganut straight edge. Dalam artian bahwa

komunikasi dapat menjadikan manusia mempunyai kemampuan untuk dapat

menganggapi diri sendiri baik itu secara sadar ataupun tidak sadar, dan

kemampuan tersebut memerlukan adanya daya pikir. Akan tetapi, tidak

kemungkinan bahwa suatu tindakan oleh individu dalam interaksi sosial

munculnya suatu reaksi yang secara spontan dan tanpa sadar tidak melalui

pemikiran.

Pada dasarnya manusia mampu membayangkan mengenai dirinya sendiri

secara sadar atas tindakannya yang berasal dari pandangan orang lain. Hal ini

menyebabkan manusia dapat membentuk perilakunya secara sengaja dengan

maksud menghadirkan respon tertentu dari pihak lain. Sehingga hal ini disebut

dengan konsep diri. Seperti halnya yang dikatakan oleh George H. Mead, bahwa

konsep diri adalah suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan

orang lain.(Mulyana, 2010:73)

Interaksi yang dilakukan oleh para penganut straight edge tidak pernah

lepas dari adanya penggunaan simbol-simbol yang terlibat didalamnya, seperti

coretan X pada punggung tangan, bahasa maupun isyarat-isyarat yang dilakukan

oleh mereka dalam mengisi keseharian hidupnya sebagai seorang penganut

straight edge baik itu dalam komunitasnya atau dengan orang lain yang ada

(35)

mengandung arti tersendiri bagi para penganut straight edge maupun

komunitasnya.

Proses interaksi yang dilakukan para penganut straight edge secara

keseluruahan bersifat simbolik baik dalam komunitas musik underground

maupun dilingkungan sekitar. Dimana makna-makna dalam simbol yang dimiliki

oleh para penganut straight edge dibentuk oleh adanya pikiran (mind) mengenai

diri (self) mereka dan menginterpretasikan makna tersebut di tengah masyarakat

(society).

Maka dari itu, proses interaksi yang dilakukan oleh para penganut straight

edge dengan melibatkan adanya simbol-simbol yang bermakna ini dapat

mempengaruhi prilaku mereka sebagai seorang penganut straight edge.

Pengaruh ini muncul berdasarkan atas adanya interaksi yang berlangsung baik itu

terjadi pada orang-orang terdekat maupun lingkungan seorang penganut straight

edge menetap.

Selain itu juga, interaksi yang mereka lakukan dapat mempengaruhi diri

mereka sebagai seorang penganut straight edge. Yang dimana, interaksi yang

berlandaskan pengetahuan yang luas, hasilnya akan mendapatkan respons yang

baik dari masyarakat maupun orang-orang terdekat. Apabila kondisinya terbalik

maka respons yang akan dihasilkan juga akan buruk terhadap diri kita sendiri.

Dalam kondisi saat ini straight edge di sebagaian kalangan dipergunakan

sebagai sebuah tren baru, sehingga tidak mengetahui apa arti dan filosofinya dari

(36)

melalui interaksi secara individu maupun interaksi terhadap individu yang lain.

Sehingga hasil yang mereka dapatkan pun tidak akan semaksimal mungkin.

Bagi seorang penganut straight edge sendiri, menjadi seorang penganut

straight edge tidak lah mudah, bukan hanya sebatas menghindari penggunaan

rokok, alkohol, narkoba, dan seks bebas. Akan tetapi, sebagai penganut straight

edge harus bisa menyikapi arti dan filosofinya dari straight edge itu sendiri. Serta

pengetahuan dan penilaian mengenai dirinya sendiri menjadi seorang penganut

straight edge, juga berpengaruh dalam pembentukan diri mereka sebagai

penganut straight edge.

Yang dimana dalam pembentukan diri ini tidak pernah lepas dari adanya

interaksi yang berasal dari pikiran seseorang mengenai diri mereka sendiri

sebagai seorang penganut straight edge lalu mengintrepresentasikan makna

tersebut di komunitasnya maupun di lingkungannya. Sehingga terjadi proses

pertukaran antara para penganut straight edge dengan penganut straight edge

yang lain maupun orang lain (bukan penganut straight edge).

Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, maka penulis perlu

melakukan sebuah penelitian yang mengkaji secara khusus mengenai konsep diri

seorang penganut straight edge dalam komunitas musik underground yang

berada di kota Bandung, karena konsep diri merupakan faktor yang sangat

penting dan menentukan dalam komunikasi antarpribadi serta muncul

berdasarkan atas pengaruh dari adanya pandangan orang lain mengenai individu

seorang penganut straight edge.

(37)

1.2Rumusan Masalah

1.2.1 Pertanyaan Makro

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka peneliti merumuskan

sebuah permasalah mengenai straight edge, yakni :

“Bagaimana Konsep Diri Penganut Straight Edge Dalam Komunitas

Musik Underground?”

1.2.2 Pertanyaan Mikro

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka

pertanyaan mikro dari penelitian ini yakni :

1. Bagaimana simbol-simbol seorang penganut straight edge dalam

komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh

orang-orang terdekat maupun lingkungannya ?

2. Bagaimana komponen kognitif seorang penganut straight edge dalam

komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh

orang-orang terdekat maupun lingkungannya ?

3. Bagaimana komponen afektif seorang penganut straight edge dalam

komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh

(38)

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian

Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini, yakni :

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan

bagaimana konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik

underground di kota Bandung. (Studi fenomenologi mengenai konsep diri

penganut straight edge dalam komunitas musik underground di kota Bandung)

1.3.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan mikro yang disebutkan pada rumusan masalah,

diatas, maka terdapat tujuan dari pertanyaan mikro dalam penelitian ini, yakni :

1. Untuk mengetahui simbol-simbol seorang penganut Straight Edge dalam

komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi oleh

orang-orang terdekat maupun lingkungannya.

2. Untuk mengetahui komponen kognitif seorang penganut straight edge

dalam komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi

oleh orang-orang terdekat maupun lingkungannya.

3. Untuk mengetahui komponen afektif seorang penganut Straight Edge

dalam komunitas musik underground di kota Bandung yang dipengaruhi

oleh orang-orang terdekat maupun lingkungannya.

Adapun tujuan dari pertanyaan makro dalam penelitian ini yang telah

(39)

1.4Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini, yakni :

1.4.1 Kegunaan Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan kajian

secara lebih lanjut guna memberikan sumbangan ilmu dan pengembangan dalam

bidang ilmu komunikasi khususnya komunikasi antarpribadi yang berhubungan

dengan masalah penelitian mengenai konsep diri.

1.4.2 Kegunaan Praktis 1. Bagi Peneliti

Kegunaan penelitian ini untuk peneliti adalah penelitian ini memberikan

wawasan baru bagi peneliti akan berbagai macam perilaku sosial yang ada di

dalam masyarakat serta pengembangan ilmu komunikasi dan sebagai bahan

pengalaman dan pengetahuan bagi peneliti.

2. Bagi Akademik

Kegunaan penelitian ini berguna bagi mahasiswa Universitas Komputer

Indonesia secara umum, program Ilmu Komunikasi secara khusus sebagai literatur

atau untuk sumber tambahan dalam memperoleh informasi bagi peneliti yang

akan melaksanakan penelitian dengan kajian yang sama.

3. Bagi Masyarakat

Kegunaan penelitian ini bagi masyarakat secara umum adalah untuk

mengetahui konsep diri penganut straight edge dalam komunitas musik

underground di kota Bandung, dimana keberadaan straight edge oleh sebagian

(40)

14 2.1Tinjauan Tentang Komunikasi

2.1.1 Pengertian Komunikasi

Dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek karya Onong Uchjana

Effendy (2002:9) mengatakan bahwa komunikasi atau dalam bahasa inggris

communication berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari kata

communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna.

Sedangkan Deddy Mulyana (2009:46) menjelaskan bahwa kata

komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari kata latin

communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau communicare

yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis)

yang paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar

dari kata-kata lating lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu

pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama.

Selain itu, banyak sekali para ahli yang mendefinisikan komunikasi

dengan berbeda-beda dan berdasarkan pandangan mereka sendiri. Seperti Carl I.

Hoveland (1948:371) dalam Mulyana (2009:68) menampilkan definisi mengenai

komunikasi ialah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator)

menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah

(41)

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949), bahwa

komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama

lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi

verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.

Sementara itu, Wilbur Schraam menjelaskan mengenai komunikasi

sebagai berikut :

“Komunikasi (setidaknya komunikasi manusia) adalah sesuatu yang dilakukan orang. Komunikasi tidak punya kehidupan dalam dirinya. Tidak ada keajaiban di dalamnya kecuali apa-apa yang dimasukan orang dalam hubungan komunikasi ke dalam komunikasi itu. Tidak ada makna dalam sebuah pesan kecuali makna yang dimasukan ke dalamnya oleh seseorang. Karenanya, ketika seseorang mempelajari komunikasi, maka dia juga mempelajari orang – berhubungan satu sama lain dan berhubungan dengan kelompok, organisasi, dan masyarakat mereka, saling mempengaruhi dan dipengaruhi, member informasi dan diberi informasi, mengajar dan diajar, menghibur dan dihibur – dengan menggunakan sinyal-sinyal tertentu yang eksis terpisah dari mereka. Untuk memahami proses komunikasi, kita harus memahami bagaimana orang saling berhubungan satu sama lain.” (Cutlip, Center, dan Broom, 2009:226)

Raymond S. Ross (1983: 8) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu

proses menyortir, memilih, dan mengirimkan symbol-simbol sedemikian rupa,

sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari

pikirannya yang serupa dengan yang dimaksukan oleh sang komunikator.

Sedangkan Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964:527)

mendefinisikan komunikasi, sebagai berikut: komunikasi adalah transmisi

informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunkan

symbol-simbol, dan sebagainya. Tindakan atau proses transimisi itulah yang

biasanya disebut komunikasi.

(42)

“Komunikasi adalah proses timbal balik (resiprokal) pertukaran sinyal

untuk memberikan informasi, membujuk, atau memberikan perintah,

berdasarkan makna yang sama dan dikondisikan oleh konteks hubungan

para komunikator dan konteks sosialnya.”

Everett M. Rogers dalam Mulyana (2009:69) menyatakan bahwa

komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu

penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku.

Onong Uchdjana Effendy dalam buku Dimensi-dimensi Komunikasi

menjelaskan bahwa :

Komunikasi adalah Proses penyampain suatu pesan oleh seseorang kepada

orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau

perilaku, baik langsung atau lisan, maupun tak langsung melalui media.

(Effendy, 2002:5)

2.1.2 Tujuan Komunikasi

Adapun tujuan komunikasi menurut Onong Uchdjana Effendy

(2002:11-19) yakni sebagai berikut :

1. Perubahan sikap (attitude change)

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat tujuan akhirnya supaya

masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi itu

disampaikan. Misalnya supaya masyarakat ikut serta dalam pilihan suara pada

pemilu atau ikut serta dalam berperilaku sehat, dan sebagainya.

(43)

Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan

supaya masyarakat akan berubah sikapnya. Misalnya kegiatan memberikan

informasi mengenai hidup sehat tujuannya adalah supaya masyarakat mengikuti

pola hidup sehat dan sikap masyarakat akan positif terhadap pola hidup sehat.

3. Perubahan perilaku (behavior change)

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat tujuan akhirnya supaya

masyarakat mau berubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi itu

disampaikan, misalnya dalam informasi mengenai pemilu. Terutama informasi

mengenai kebijakan pemerinatah yang biasanya selalu mendapat tantangan dari

masyarakat maka harus disertai penyampaian informasi yang lengkap supaya

pendapat masyarakat dapat terbentuk untuk mendukung kebijakan tersebut.

4. Perubahan sosial (social change)

Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan

supaya masyarakat akan berubah perilakunya. Misalnya kegiatan memberikan

informasi mengenai hidup sehat tujuannya adalah supaya masyarakat mengikuti

pola hidup sehat dan perilaku masyarakat akan positif terhadap pola hidup sehat

atau mengikuti perilaku hidup sehat.

Sedangkan Gordon I. Zimmerman dalam Mulyana (2009:4) merumuskan

bahwa kita dapat membagi tujuan komunikasi menjadi dua kategori besar.

Pertama, kita berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi

kebutuhan kita – untuk member makan dan pakain kepda diri-sendiri, memuaskan

(44)

untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain. Jadi fungsi

komunikasi mempunyai fungsi isi, yang melibatkan pertukaran informasi yang

kita perlukan untuk melesaikan tugas, dan fungsi hubungan yang melibatkan

pertukan informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain.

2.1.3 Fungsi Komunikasi

Judy C. Person dan Paul E. Nelson dalam Mulyana (2009:5)

mengemukakan bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk

kelangsungan hidup diri-sendiri yang meluputi keselamatan fisik, meningkatkan

kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai

ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk

memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan dukungan atas keberadaan

suatu masyarakat.

Masih dalam Mulyana (2009:5), Willam I. Gorden menjelaskan bahwa

fungsi komunikasi terdiri dari empat yakni :

1. Fungsi pertama : komunikasi sosial

2. Fungsi kedua : komunikasi ekspresif

3. Fungsi ketiga : komunikasi ritual

4. Fungsi keempat : komunikasi instrumental

2.1.4 Proses Komunikasi

Dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek karya Onong Uchjana

Effendy (2002:11) mengatakan bahwa proses komunikasi terbagai menjadi dua

(45)

1. Secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampain pikiran dan

atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang

(symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi

adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara

langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada

komunikan.

2. Secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh

seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media

kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

Sedangkan menurut Deddy Mulyana (2000:237), Proses komunikasi dapat

diklasifikasikan menjadi duabagian yaitu:

1. Komunikasi verbal

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan

satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk

ke dalam kategori pesan verbal disengaja yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara

sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Bahasa dapat juga

dianggap sebagai suatu sistem kode verbal.

2. Komunikasi non verbal

Secara sederhana pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan

kata-kata Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter komunikasi non verbal

(46)

komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh

individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima.

2.1.5 Unsur-unsur Komunikasi

Effendy (2002:18) menyebutkan sembilan unsur-unsur yang terdapat

dalam komunikasi, yakni sebagai berikut :

1. Sender ialah komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang

atau sejumlah orang.

2. Encoding ialah penyandian, yakni proses pengalihan pikiran ke dalam

bentuk lambang.

3. Message ialah pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna

yang disampaikan oleh komunikator.

4. Media ialah saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator

kepada komunikan.

5. Decoding ialah pengawasandian, yaitu proses di mana komunikan

menetapkan makna pada lambang yang disampaikan oleh komunikator

kepadanya.

6. Receiver ialah komunikan menerima pesan dari komunikator.

7. Response ialah tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah

(47)

8. Feedback ialah umpan balik, yakni tanggapan komunikan apabila

tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator.

9. Noise ialah gangguan tak terencana yang terjadi dlam proses komunikasi

sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda

dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

Sedangkan menurut Widjaja (2000:30) memaparkan lima unsur-unsur

komunikasi terdiri dari, sebagai berikut :

1. Sumber, yakni dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan

digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat

berupa orang, lembaga, buku, dan dokumen, ataupun sejenisnya.

2. Komunikator. Dalam komunikasi, setiap orang ataupun kelompok dapat

menyampaikan pesan-pesan komunikasi sebagai suatu proses, di mana

komunikator dapat menjadi komunikan, dan sebaliknya komunikan dapat

menjadi komunikator.

3. Pesan, yakni keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator.

Pesan ini mempunyai inti pesan (tema) yang sebenarnya menajdi pengarah

di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan.

Pesan dapat secara panjang lebar mengupas berbagai sege, namun inti

pesan dari komunikasi akan selalu mengarah kepada tujuan akhir

komuniaksi itu.

4. Channel atau saluran, yakni saluran penyampain pesan, bisa juga disebut

dengan media. Baik itu melalui media umum seperti radio CB, OHP dan

(48)

5. Effect, yakni hasil akhir dari suatu komunikasi, sikap dan tingkah laku

orang, sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Apabila sikap

dan tingkah laku orang lainitu sesuai, maka itu berarti komunikasi

berhasil, demikian juga sebaliknya.

2.2Tinjauan Tentang Komunikasi Antarpribadi 2.2.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi

Alo Liliweri (1997:41) mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi

merupakan suatu bidang ilmu komunikasi. Setiap hari bidang ilmu komunikasi

antarpribadi itu hadir dalam situasi-situasi yang berkaitan dengan hubungan

antarmanusia.

Sementara itu, Deddy Mulyana (2009:81) menjelaskan bahwa komunikasi

antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara

orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap

reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.

Sedangkan Devito dalam Liliweri (1997:12) mengatakan bahwa

komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan dari seseorang dan

diterima oleh orang lain dengan efek dan umpan balik yang langsung.

Effendy dalam Liliweri (1997:12) menjelaskan bahwa pada hakikatnya

komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara seseorang komunikator

dengan seorang komunikan. Jenis komunikasi tersebut dianggap paling efektif

untuk mengubah sikap, pendapat, atau prilaku manusia berhubungan prosesnya

(49)

Sementara itu, Dean C. Barnlud (1968) mengemukakan bahwa :

Komunikasi antarpribadi selalu dihubungkan dengan pertemuan antara dua, tiga atau mungkin emapt orang yang terjadi secara spontan dan tidak berstruktur. Rogers dalam depari (1988) mengemukakan pula, komunikasi antarpribadi merupakan komuniaksi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi. Tan (1981) mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi tatap muka antara dua atau lebih orang. (liliweri, 1997:12)

Devito (1976) dalam Liliweri (1997:13) mengemukakan bahwa

komunikasi antarpribadi mengandung lima ciri sebagai berikut :

1. Keterbukaan atau openness,

2. Empati (empathy),

3. Dukungan (suportiveness),

4. Perasaan positif (positivness), dan

5. Kesamaan (equality).

Alo Liliweri (1997:13) merumuskan beberapa ciri mengenai komunikasi

antarpribadi, yakni sebagai berikut:

1. Spontanitas, terjadi sambil lalu dengan media utama adalah tatap

muka,

2. Tidak mempunyai tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu,

3. Terjadi secara kebetulan di antara peserta yang identitasnya kurang

jelas, mengakibatkan damapak yang disengaja dan tidak disengaja,

4. Kerap kali berbalas-balasan,

5. Mempersyaratkan hubungan paling sedikit dua orang dengan

hubungan yang bebas dan bervariasi, ada keterpengaruhan,

(50)
(51)

2.2.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi

Dalam Widjaja (2000:122) terdapat enam tujuan dari komunikasi

antarpribadi yang dianggap penting, yakni :

1. Mengenal diri sendiri dan orang lain,

2. Mengentahui dunia luar,

3. Menciptakan dan memelihara hubungan,

4. Mengubah sikap dan perilaku,

5. Bermain dan mencari hiburan, dan

6. Membantu orang lain.

2.2.3 Sifat Komunikasi Antarpribadi

Menurut sifatnya, komunikasi antarpribadi dapat dibedakan menjadi

komunikasi diadik (dyadic communication) dan komunikasi kelompok kecil

(small group communication).

1. Komunikasi Diadik

Komunikasi diadik yaitu proses komunikasi yang berlangsung antara dua

orang atau lebih dalam situasi tatap muka. Bisa berupa percakapan, dialog, dan

wawancara.

2. Komunikasi Kelompok Kecil

Komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang berlangsung

antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, antar anggota saling berinteraksi.

Komunikasi kelompok kecil oleh banyak kalangan digolongkan ke dalam

(52)

a. Anggota-anggotanya terlibat dalam suatu proses komunikasi yang

berlangsung dengan tatap muka.

b. Pembicaraan yang dilakukan terjadi dengan terpotong-potong. Setiap

peserta bisa berbicara dengan posisi yang sama. Di sini, tidak ada

pembicara tunggal yang mendominasi percakapan.

c. Komunikasi ini sulit untuk mengidentifikasi sumber data penerima pesan

karena keduanya bisa berperan sebagai sumber maupun penerima.

Dalam komunikasi kelompok kecil, tidak ada batasan yang menentukan

dengan tegas berapa besar jumlah individu yang terlibat. Namun, biasanya antara

2-3 orang. Bahkan, bisa sampai 30 orang tetapi tidak sampai 50 orang.

2.3Tinjauan Tentang Psikologi Komunikasi

Psikologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari mengenai kejiwaan

manusia atau seseorang. Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani,

yaitu psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berate “ilmu”. Jadi, secara

harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang

gejala-gejala kejiwaan.

Menurut Mussen dan Rosenzwieg (1975:5) mengartikan psikologi sebagai

ilmu yang mempelajari mind (pikiran), namun dalam perkembangannya, kata

mind berubah menjadi behavior (tingkah laku), sehingga psikologi didefinisikan

sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.

Dalam perkembangannya, psikologi terbagi menjadi dua kelompok yakni

(53)

mempelajari, menguraikan, dan menyelidik berbagai kegiatan atau aktivitas

psikis manusia pada umumnya, antara lain pengamatan, inteligensi, perasaan,

emosi, kehendak, dan motif-motif. Sedangkan psikologi khusus ialah psikologi

yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi-situasi khusus.

Psikologi khusus terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu psikologi

perkembangan, psikologi sosial, psikologi pendidikan, psikologi kepribadian,

psikopatologi, psikologi diferensial, psikologi kriminal, parapsikologi, psikologi

komparatif, dan psikologi penyesuaian. Adapun penjelasan mengenai

bagian-bagian dalam psikologi khusus yang diambil dari buku psikologi umum karya

Alex Sobur (2011:57-58), yakni sebagai berikut :

1. Psikologi perkembangan ialah psikologi yang membicarakan

perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai masa tua.

2. Psikologi sosial ialah subdisiplin dari psikologi yang mencari

pengertian tentang hakikat dan sebab-sebab dari perilaku dan

pikiran-pikiran individu dalam situasi sosial.

3. Psikologi pendidikan ialah subdisiplin psikologi yang mempelajari

tingkah laku individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula

pengertian tentang proses belajar dan mengajar.

4. Psikologi kepribadian ialah psikologi yang menguraikan tentang

struktur kepribadian manusia sebagai suatu keseluruhan dan jenis-jenis

atau tipe-tipe kepribadian.

5. Psikopatologi ialah psikologi yang khusus mempelajari kegiatan atau

(54)

6. Psikologi diferensial ialah psikologi yang menguraikan

perbedaan-perbedaan antar individu dalam taraf inteligensi, kecakapan, ciri-ciri

kepribadian lainnya, dan tentang cara-cara guna menentukan

perbedaan-perbedaan tersebut.

7. Psikologi kriminal ialah psikologi yang khusus berhubungan dengan

tindak kejahatan atau kriminalitas.

8. Parapsikologi ialah subdisiplin psikologi yang mempelajari fenomena

supernormal dengan alat-alat eksperimen atau alat-alat sistematis

lainnya.

9. Psikologi komparatif ialah psikologi yang mempelajari tingkah laku

manusia yang dibandingkan dengan tingkah laku hewan atau

sebaliknya.

10.Psikologi penyesuaian ialah suatu cabang psikologi yang

menggambarkan sejumlah cabang ilmu lainnya, termasuk psikologi

perkembangan, kepribadian, sosial, dan eksperimental.

Sebenarnya bagian-bagian dalam psikologi masih banyak lagi, salah

satunya yang menjadi bagian dalam psikologi ialah psikologi komunikasi. Dimana

psikologi merupakan bagian dari psikologi sosial. Psikologi komunikasi

merupakan bagian dari psikologi sosial. Karena komunikasi adalah peristiwa

sosial atau peristiwa yang terjadi ketika kita berinteraksi dengan manusia lainnya.

Psikologi memandang bahwa komunikasi ini selain sebagai suatu usaha

pertukaran simbol-simbol atau lambang-lambang baik itu verbal amupun

(55)

stimuli dari alat-alat indera yang akan dilanjutkan ke otak. Peristiwa penerimaan

dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh diantara berbagai didalam

diri organisme dan diantara organisme.

Psikologi juga mengarahkan perhatian perilaku manusia yang meneliti

mengenai proses kesadaran dan pengalaman manusia. Seperti yang dikatakan

Fisher yang dikutip oleh Rakhmat mengatakan bahwa :

Empat ciri pendekatan psikologi pada komunikasi: Penerimaan stimuli secara inderawi (sensory reception of stimuli), proses yang mengantarai stimuli dan respon (internal mediation of stimuli), prediksi respon (prediction of response), dan peneguhan respon (reinforcement of response). (Rakhmat, 1991:8)

Fisher (1978:136-142) masih dalam Rakhmat (1991:9) mengatakan bahwa

psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respons yang terjadi pada masa lalu

dapat meramalkan respons yang akan datang. Kita harus mengetahui sejarah

respons sebelum meramalkan respons individu masa ini. Dari sinilah timbul

perhatian pada gudang memori (memory storage) dan set (penghubung masa lalu

masa sekarang). Salah satu unsur sejarah respons adalah peneguhan. Peneguhan

adalah respons lingkungan (atau orang lain pada respons organisme yang asli).

Bergera dan Lambert menyebutnya feedback (umpan balik).

Psikologi memandang komunikasi bukan hanya sebagai proses yang

mempunyai makna yang luas, yang meliputi segala penyampaian energi.

Psikologi juga mempelajari komponen komunikasi, bahkan psikologi juga

memandang lambang-lambang pada proses komunikasi. Sangat jelas kaitannya

antara psikologi dengan komunikasi. Oleh karena itu, psikologi komunikasi ialah :

(56)

adalah apa yang disebut internal mediation of stimuli, sebagai akibat berlangsungnya komunikasi. Peristiwa Behavioral adalah apa yang nampak ketika orang berkomunikasi. (Rakhmat, 1991:9)

2.4Tinjauan Tentang Interaksi Simbolik

Esensi interaksi simbolik yang dijelaskan oleh Mulyana (2010:68) adalah

suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau

pertukaran simbol yang diberi makna. Blummer mengintegrasikan

gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat tulisan-tulisannya, terutama pada tahun

1950-an dan 1960-an, diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey,

William I. Thomas, Dan Charles H. Cooley.

Selain Blummer terdapat ilmuan-ilmuan lain yang memberikan andil pada

pengembangan interaksi simbolik, seperti Manford H. Kuhn, Howard S. Becker,

Norma K. Denzin, Arnold Rose, Gregory Stone, Anselm Strauss, Jereme Manis,

Bernard Meltzer, Alfred Lindesmith, Dan Tomotsu Shibutani, seraya

memanfaatkan pemikiran ilmuwan lain yang relevan, seperti Georg Simmel atau

Kenneth burke. Hal itu mereka lakukan lewat interpretasi dan

penelitian-penelitian mereka untuk menerapkan konsep-konsep dalam teori Mead.

Masih dalam Mulyana (2010:70), perspektif interaksi simbolik berusaha

memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini

menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang

memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan

(57)

Para ahli teori interaksi simbolik mengasumsikan bahwa orang-orang

berkomunikasi melalui masyarakat yang menciptakan dan menggunakan

simbol-simbol, termasuk bahsa. Orang-orang mengasumsikan peran-peran berdasarkan

symbol-simbol yang ditafsirkan ke dalam kelompok mereka dan intraksi melalui

peran. Melalui peran ini, orang-orang melahirkan ide-ide dan pikiran melalui

interaksi, bentuk-bentuk masyarakat. Teori ini berdasarkan pada tiga premis,

yakni :

1. Orang-orang bertindak menghadapi sesuatu berdasarkan pemaknaan

yang mereka miliki,

2. Pemaknaan tentang sesuatu diperoleh dari atau tidak muncul, interaksi

sosial,

3. Pemaknaan dinegoisasikan melalui proses interpretative.

Menurut Heath dalam Ardianto (2010:159), teori interaksi simbolik

mengemukakan bahwa setiap orang dari orang-orang ini atau orang-orang

membuat makna melalui sebuah proses yang dipertajam oleh pemaknaan orang

lain dan proses pembuatan makna.

Secara teoritis interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah

interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Mereka tertarik pada cara

manusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang mereka

maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yang

ditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yang

(58)

Penganut interaksi simbolik berpandangan bahwa perilaku manusia pada

dasarnya adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia di sekeliling mereka,

jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan. Sementara itu

perilaku dipilih sebagai hal yang layak dilakukan berdasarkan cara individu

mendefinisikan situasi yang ada.

George Ritzer dalam Mulyana (2010:73) meringkaskan teori interaksi

simbolik ke dalam prinsip-prinsip, sebagai berikut :

1. Manusia, tidak seperti hewan lebih rendah, diberkahi dengan

kemampuan berpikir.

2. Kemampuan berpikir itu dibentuk oleh interaksi sosial.

3. Dalam interaksi sosial orang belajar makna dan simbol yang

memungkinkan mereka menerepkan kemampuan khas mereka sebagai

manusia, yakni berpikir.

4. Makna dan simbol memungkinkan orang melanjutkan tindakan

(action) dan interaksi yang khas manusia.

5. Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang

mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi

mereka atas situasi.

6. Orang mampu melakukan modifikasi dan perubahan ini karena,

mempunyai kemampuan berinteraksi dengan diri-sendiri, yang

memungkinkan mereka memeriksa tahapan-tahapan tindakan, menilai

(59)

7. Pola-pola tindakan dan interaksi yang jalin-menjalin ini membentuk

kelompok dan masyarakat.

Mead yang merupakan seorang guru besar filsafat pada Universitas

Chicago juga mempunyai perhatian yang besar dalam bidang komunikasi

antarpribadi serta psikologi sosial dan sosiologi. Mead yang bakal melahirkan

perspektif interaksionisme simbolik meberikan sumbangan terbesar di dalam

perkembangan komunikasi antarpribadi. Pikiran mead sebenarnya menyanggah

pikiran-pikiran sebelumnya, bahwa model SR (Stimulus Respons) itu tidak

lengkap.

Mead seorang penganut behaviorisme sosial itu mengetengahkan bahwa suatu kenyataan sosial sebenarnya muncul melalui proses interaksi, yakni interaksi dengan simbol. Seperti namanya maka teori ini berkaitan dengan simbol di mana interaksi itu terjadi. Teori ini meliputi pula analisis mengenai kemampuan manusia untuk menciptakan dan memanipulasi simbol-simbol. Mead berpendapat bahwa seorang individu dapat menempatkan dirinya dalam posisi ornag lain dan melihat tindakannya sendiri seperti orang lain melihat dia, jadi orang lain menjadi objek bagi dirinya sendiri. Mead juga berpendapat bahwa simbol-simbol dapat digunakan untuk menciptakan pengertian-pengertian yang baru yang masih berada dalam konteks pengalaman bersama seperti layaknya bahasa dalam membahasakan suatu objek. (Liliweri, 1997:106-107)

Karya Mead yang paling terkenal yang berjudul Mind, Self, and Society

(Mead; 1934), menggarisbawahi tiga konsep kritis yang dibutuhkan dalam

menyusun sebuah diskusi tentang teori interaksi simboli. Hal pertama yang harus

dicatat adalah bahwa tiga konsep ini saling mempengaruhi satu sama lain dalam

term interaksi simbolik. Dari itu, pikiran manusia (mind) dan interaksi diri

(diri/self dengan yang lain) digunakan untuk menginterpretasikan dan memediasi

(60)

Berdasarkan penjelasan Mead, maka interaksi simbolik erat kaitannya

dengan Mind (pikiran), Self (diri) dan Society (masyarakat). Adapun definisi

singkat dari ke tiga ide dasar interaksi simbolik, antara lain :

1. Pikiran (Mead) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana setiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain,

2. Diri (Self) adalah kemapuan untuk merefleksikan diri setiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan

3. Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikontruksikan oleh setiap individu ditengah masyarakat, dan setiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakat.1

Tiga tema konsep pemikiran Mead yang mendasari interaksi simbolik

antara lain:

1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia,

2. Pentingnya konsep mengenai diri,

3. Hubungan antara individu dengan masyarakat. (Ardianto, 2010:159)

Adapun penjelasan mengenai tiga tema konsep pemikiran George Herbert

Mead yang dikutip melalui blog pribadinya Ahmad Kurnia, S.Pd., M.M., dalam

sebuah artikel yang berjudul sejarah interaksi simbolik2, yakni sebagai berikut :

Tema pertama pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya

membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik

tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada

artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu

1

http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/08/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html oleh

Ahmad kurnia, SPd,MM , tanggal akses 14 Maret 2012, pukul 20.00 WIB.

2 http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/08/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html oleh

Gambar

Table Manner Ciurse
Gambar 1.1 Minor Threat
Gambar 3.1 Ian Mackey
Tabel 3.2 Informan Pendukung Penelitian
+4

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motif anggota bergabung ke dalam komunitas Hip Hop RUN BDG movement Bandung, mengetahui pemaknaan anggota komunitas

Anita Rohmatur Rizki, D0212015, POLA KOMUNIKASI KOMUNITAS DALAM MEMBANGUN KONSEP DIRI POSITIF (Studi Deskriptif Kualitatif Pola Komunikasi Komunitas Stroke Happy

Dalam hal ini dengan kata lain Pergeseran Makna Fashion Mohawk itu sendiri Dalam Komunitas Punk di Kota Bandung untuk di jadikan ajang gaya-gayaan saja karena

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk komunikasi “Komunitas Hijab Syar’i” dalam membentuk konsep diri adalah konsep diri yang terdapat di dalam “Komunitas Hijab

Dalam melawan dominasi dari Industri musik populer Bandung Pyrate Punk juga mampu menciptakan metode penjualan merchandise yang jarang dilakukan oleh komunitas lain, penjualan

Dalam melawan dominasi dari Industri musik populer Bandung Pyrate Punk juga mampu menciptakan metode penjualan merchandise yang jarang dilakukan oleh komunitas lain, penjualan

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN HARGA DIRI PADA WARIA YANG TERHIMPUN DALAM KOMUNITAS SRIKANDI PASUNDAN DI BANDUNG.. Ferdinan Sihombing*), Fransiska Setiyani Purwanti**)

Anita Rohmatur Rizki, D0212015, POLA KOMUNIKASI KOMUNITAS DALAM MEMBANGUN KONSEP DIRI POSITIF (Studi Deskriptif Kualitatif Pola Komunikasi Komunitas Stroke Happy