Pengaruh Bladder Training Terhadap Minimalisasi Inkontinensia
Urin Paska Kateterisasi Di RSUP Haji Adam Malik Medan
Fransiska A. Sinaga
Skripsi
Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara
Judul :Pengaruh Bladder Training Terhadap Minimalisasi Inkontinensia Urin Paska Kateterisasi Di RSUP Haji Adam Malik Medan
Nama :Fransiska A. Sinaga
Jurusan :Fakultas Keperawatan USU
Tahun :2008/2009
Pembimbing Penguji 1
(Cholina T. Siregar, M.Kep Sp.KMB) (Cholina T. Siregar, M.Kep Sp.KMB) NIP. 1977072620012 2 001 NIP. 1977072620012 2 001
Penguji 2
(Dudut Tanjung S,Kp, M.kep Sp. KMB) NIP. 19731015200112 1 002
Penguji 3
(Fatwa Imelda., S.Kep, Ns)
Fakultas Keperawatan telah menyetujui skripsi ini sebagai bagian dari persayaratan kelulusan Sarjana Keperawatan
(Erniyati, S.Kp, MNS) dr. Dedi Ardinata, M.Kes
DAFTAR ISI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pemasangan kateter ... 6
1.1 Tipe Kateter ... 6
1.2 Indikasi Pemasangan Kateter ... 9
2. Inkontinensia Urin ... 9
2.1 Defenisi Inkontinensia Urin ... 9
2.2 Tipe Inkontinensia Urin ... 11
3. Bladder Training ... 14
3.1 Defenisi Bladder Training ... 14
3.2 Tujuan Bladder Training ... 15
3.3 Indikasi Bladder Training ... 16
3.4 Prosedur Bladder Training ... 17
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 1. Kerangka Penelitian ... 19
2. Defenisi Operasional Variabel Penelitian ... 20
3. Hipotesis Penelitian ... 21
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian ... 22
2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 22
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian ... 28
1.1Deskripsi Karakteristik Responden ... 28
1.2Inkontinensia Kelompok intervensi dan kontrol ... 29
1.3Pengaruh Bladder training terhadap minimalisasi inkontinensia ... 30
2. Pembahasan ... 31
2.1 Karateristik Responden ... 31
2.2 Pengaruh Bladder Training Terhadap Minimalisasi Inkontinensia .. 33
BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. Kesimpulan ... 35
2. Rekomendasi ... 36
DAFTAR LAMPIRAN
1. Instrumen Penelitian
2. Lembar Persetujuan Menjadi Responden 3. Surat Izin Penelitian
4. Table Frequencies 5. Chi square
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Defenisi operasional variabel penelitian ... 20 Tabel 5.1 Distribusi frekuensi kelompok intervensi dan kontrol berdasarkan
data demografi di RSUP Haji Adam Malik Medan pada bulan
Juli-Agustus 2009 (N=30) ... ... 29 Tabel 5.2 Inkontinensia Urin Kelompok Intervensi Dan Kontrol di RSUP
Haji Adam Malik Medan bulan Juli-Agustus 2009 (N=30)... 30 Tabel 5.3 Analisa Perbedaan terjadinya inkontinensia pada kedua kelompok setelah dilakukan bladder training di RSUP Haji Adam Malik
Medan bulan Juli-Agustus 2009……….. 30
DAFTAR SKEMA
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Kateter urin merupakan suatu tindakan dengan memasukkan selang ke
dalam kandung kemih yang bertujuan untuk membantu mengeluarkan urin.
Pemasangan kateter urin dapat menjadi tindakan yang menyelamatkan jiwa,
khususnya bila traktus urinarius tersumbat atau pasien tidak mampu melakukan
urinasi. Tindakan pemasangan kateter juga dilakukan pada pasien dengan
indikasi lain, yaitu: untuk menentukan jumlah urin sisa dalam kandung kemih
setelah pasien buang air kecil, untuk memintas suatu obstruksi yang menyumbat
aliran urin, untuk menghasilkan drainase pascaoperatif pada kandung kemih,
daerah vagina atau prostat, atau menyediakan cara-cara untuk memantau
pengeluaran urin setiap jam pada pasien yang sakit berat (Smelzter, 2001).
Smith (2003) melaporkan pemasangan kateter dilakukan lebih dari lima
ribu pasien setiap tahunnya, dimana sebanyak 4 % penggunaan kateter dilakukan
pada perawatan rumah dan sebanyak 25 % pada perawatan akut. Sebanyak
15-25% pasien di rumah sakit menggunakan kateter menetap untuk mengukur
haluaran urin dan untuk membantu pengosongan kandung kemih (The Joanna
Briggs Institute, 2000).
Tindakan pemasangan kateter membantu pasien yang tidak mampu
mengontrol perkemihan atau pasien yang mengalami obstruksi. Namun tindakan
ini bisa juga menimbulkan masalah lain seperti infeksi, trauma pada uretra, dan
menurunnya rangsangan berkemih. Menurunnya rangsangan berkemih terjadi
kemih tidak akan terisi dan berkontraksi sehingga pada akhirnya kandung kemih
akan kehilangan tonusnya. Apabila hal ini terjadi dan kateter dilepas, maka otot
detrusor mungkin tidak dapat berkontraksi dan pasien tidak dapat mengontrol
pengeluaran urinnya (Smelzter, 2001).
Ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urin atau inkontinensia jarang
dikeluhkan oleh pasien atau keluarga karena dianggap sesuatu yang biasa, malu
atau tabu untuk diceritakan pada orang lain maupun pada dokter, dianggap sesuatu
yang wajar tidak perlu diobati. Inkontinensia urine bukan penyakit, tetapi
merupakan gejala yang menimbulkan gangguan kesehatan, sosial, psikologi serta
dapat menurunkan kualitas hidup (Rochani, 2002).
Menurut data dari WHO, 200 juta penduduk dunia mengalami
inkontinensia urin. Di Amerika Serikat, jumlah penderita inkontinensia mencapai
13 juta dengan 85 persen diantaranya perempuan. Jumlah ini sebenarnya masih
sangat sedikit dari kondisi sebenarnya, sebab masih banyak kasus yang tidak
dilaporkan (PDPERSI, 2001).
Di Indonesia sekitar 5,8 persen penduduk Indonesia menderita
inkontinensia urin. Jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa, angka ini
termasuk kecil. Hasil survey yang dilakukan di rumah sakit-rumah sakit
menunjukkan, penderita inkontinesia di seluruh Indonesia mencapai 4,7 persen
atau sekitar 5-7 juta penduduk dan enam puluh persen diantaranya adalah wanita.
Meski tidak berbahaya, namun gangguan ini tentu sangat mengganggu dan
membuat malu, sehingga menimbulkan rasa rendah diri atau depresi pada
Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak
yang merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah
terus, risiko terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat
menimbulkan rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera
ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin
(Hariyati, 2000).
Penanganan inkontinensia urin sebagian besar tergantung kepada
penyebabnya. Salah satu usaha untuk mengatasi kondisi ini berupa program
latihan kandung kemih atau bladder training (Long, 1996). Bladder training atau
latihan kandung kemih merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk
mencegah kejadian ini. Bladder training atau latihan kandung kemih merupakan
upaya mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan, ke
keadaan normal atau fungsi optimalnya sesuai dengan kondisinya semula (Lutfie,
2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Fantl (1991) mengenai efektivitas bladder
training didapatkan, bahwa sebanyak 50 % dari sampel percobaan menjadi
mampu mengontrol kencing, dan 12 % menjadi total kontinen. Sedangkan
penelitian yang dilakukan Hariyati (2000) mengenai pengaruh bladder training
dengan proses pemulihan inkontinensia urin pasien stroke diperoleh lama
inkontinensia urin rata-rata 13,11 hari pada pasien yang diberi bladder training
sedangkan di ruangan kontrol 22,7 hari.
Melihat akibat yang dapat ditimbulkan, maka peneliti tertarik untuk
melihat pengaruh bladder training terhadap minimalisasi terjadinya inkontinensia
2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang dapat dirumuskan
bagaimana pengaruh bladder training terhadap minimalisasi inkontinensia urin
pada pasien paska kateterisasi di Rumah sakit Haji Adam Malik Medan.
3. Tujuan Penelitian 3.1Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh bladder training terhadap minimalisasi
inkontinensia urin pada pasien paska kateterisasi di Rumah sakit Haji Adam
Malik Medan.
3.2 Tujuan Khusus dari penelitian ini adalah untuk:
1.Mengetahui karateristik pasien yang menggunakan kateter urin.
2.Mengetahui inkontinensia urin yang terjadi pada pasien setelah
dilakukan bladder training.
3.Mengetahui inkontinensia urin yang terjadi pada pasien yang tidak
dilakukan bladder training.
4.Membandingkan inkontinensia yang terjadi pada pasien yang dilakukan
bladder training dan pada pasien yang tidak dilakukan bladder training.
4. Manfaat Penelitian
4.1Untuk Praktek Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi perawat dalam
melakukan bladder training pada pasien yang dipasang kateter untuk
4.2 Untuk Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan atau sumber
informasi mengenai latihan bladder training pada pasien dengan
pemasangan kateter.
4.3 Untuk Penelitian Keperawatan
Dapat dijadikan sebagai bahan masukan atau sumber data bagi penelti lain
yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai latihan bladder
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pemasangan Kateter Urin
Pemasangan kateter urin merupakan tindakan keperawatan dengan cara
memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan
membantu memenuhi kebutuhan eliminasi dan sebagai pengambilan bahan
pemeriksaan (Hidayat, 2006). Tindakan pemasangan kateter urin dilakukan
dengan memasukan selang plastik atau karet melalui uretra ke dalam kandung
kemih. Kateter memungkinkan mengalirnya urin yang berkelanjutan pada klien
yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau klien yang mengalami obstruksi.
Kateter juga menjadi alat untuk mengkaji haluaran urin per jam pada klien yang
status hemodinamiknya tidak stabil (Potter dan Perry, 2002 ).
Kateterisasi urin membantu pasien dalam proses eliminasinya.
Pemasangan kateter menggantikan kebiasaan normal dari pasien untuk berkemih.
Penggunaan kateter intermiten dalam waktu yang lama dapat menyebabkan pasien
mengalami ketergantungan dalam berkemih (Craven dan Zweig, 2000).
1.1Tipe Kateterisasi
Menurut Hidayat pemasangan kateter dengan dapat bersifat sementara atau
menetap. Pemasangan kateter sementara atau intermiten catheter (straight kateter)
dilakukan jika pengosongan kandung kemih dilakukan secara rutin sesuai dengan
kateter) dilakukan apabila pengosongan kateter dilakukan secara terus menerus
(Hidayat, 2006).
a. Kateter sementara (straight kateter)
Pemasangan kateter sementara dilakukan dengan cara kateter lurus yang
sekali pakai dimasukkan sampai mencapai kandung kemih yang bertujuan untuk
mengeluarkan urin. Tindakan ini dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit. Pada
saat kandung kemih kosong maka kateter kemudian ditarik keluar, pemasangan
kateter intermitten dapat dilakukan berulang jika tindakan ini diperlukan, tetapi
penggunaan yang berulang meningkatkan resiko infeksi (Potter dan Perry, 2002 ).
Pemasangan kateter sementara dilakukan jika tindakan untuk
mengeluarkan urin dari kandung kemih pasien dibutuhkan. Efek samping dari
penggunaan kateter ini berupa pembengkakan pada uretra, yang terjadi saat
memasukkan kateter dan dapat menimbulkan infeksi (Thomas, 2007).
Beberapa keuntungan penggunaan kateterisasi sementara yang
dikemukakan oleh Japardi (2000) antara lain:
1) Mencegah terjadinya tekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang
mengakibatkan aliran darah ke mukosa kandung kencing dipertahankan
seoptimal mungkin
2) Kandung kencing dapat terisi dan dikosongkan secara berkala seakan-akan
berfungsi normal.
3) Bila dilakukan secara dini pada penderita cedera medula spinalis, maka
penderita dapat melewati masa syok spinal secara fisiologis sehingga fedback
ke medula spinalis tetap terpelihara
Kerugian kateterisasi sementara ini adalah adanya bahaya distensi
kandung kemih, resiko trauma uretra akibat kateter yang keluar masuk secara
berulang, resiko infeksi akibat masuknya kuman-kuman dari luar atau dari ujung
distal uretra (flora normal) (Japardi, 2000).
b. Keteter menetap (foley kateter)
Kateter menetap digunakan untuk periode waktu yang lebih lama. Kateter
menetap ditempatkan dalam kandung kemih untuk beberapa minggu pemakaian
sebelum dilakukan pergantian kateter. Pemasangan kateter ini dilakukan sampai
klien mampu berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama pengukuran urin
akurat dibutuhkan (Potter dan Perry, 2005).
Pemasangan kateter menetap dilakukan dengan sistem kontinu ataupun
penutupan berkala (clamping). Pemakaian kateter menetap ini banyak
menimbulkan infeksi atau sepsis. Bila menggunakan kateter menetap, maka yang
dipilih adalah penutupan berkala oleh karena kateterisasi menetap yang kontinu
tidak fisiologis dimana kandung kencing yang selalu kosong akan mengakibatkan
kehilangan potensi sensasi miksi serta terjadinya atrofi serta penurunan tonus otot
kandung kemih (Japardi, 2000).
Kateter menetap terdiri atas foley kateter (double lumen) dimana satu
lumen berfungsi untuk mengalirkan urin dan lumen yang lain berfungsi untuk
mengisi balon dari luar kandung kemih. Tipe triple lumen terdiri dari tiga lumen
yang digunakan untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, satu lumen untuk
memasukkan cairan ke dalam balon dan lumen yang ketiga dipergunakan untuk
melakukan irigasi pada kandung kemih dengan cairan atau pengobatan (Potter dan
1.2Indikasi Kateterisasi
Kateterisasi sementara digunakan pada penatalaksanaan jangka panjang
klien yang mengalami cidera medulla spinalis, degenerasi neuromuscular, atau
kandung kemih yang tidak kompeten, pengambilan spesimen urin steril,
pengkajian residu urin setelah pengosongan kandung kemih dan meredakan rasa
tidak nyaman akibat distensi kandung kemih (Perry dan Potter, 2005). Menurut
Hidayat (2006) kateterisasi sementara diindikasikan pada klien yang tidak mampu
berkemih 8-12 jam setelah operasi, retensi akut setelah trauma uretra, tidak
mampu berkemih akibat obat sedative atau analgesic, cidera pada tulang belakang,
degerasi neuromuscular secara progresif dan pengeluaran urin residual.
Kateterisasi menetap (foley kateter) digunakan pada klien paskaoperasi
uretra dan struktur di sekitarnya (TUR-P), obstruksi aliaran urin, obstruksi uretra,
pada pasien inkontinensia dan disorientasi berat (Hidayat, 2006).
2. Inkontinensia Urin
2.1Defenisi Inkontinensia Urin
Produksi urin pada setiap individu berbeda. Pada umumnya produksi urin
seimbang dengan pemasukan cairan, namun ada beberapa faktor yang ikut
mendukung jumlah urin dalam satu hari. Faktor yang mempengaruhi produksi
urin adalah jumlah cairan yang masuk ketubuh, kondisi hormone, saraf sensori
perkemihan, kondisi sehat sakit, tingkat aktivitas, sedangkan pola buang air kecil
dapat dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang, usia, penggunaan obat-obatan dan
Inkontinensia urin merupakan kehilangan kontrol berkemih yang bersifat
sementara atau menetap. Klien tidak dapat mengontrol sfingter uretra eksterna.
Merembesnya urine dapat berlangsung terus menerus atau sedikit sedikit (Potter
dan Perry, 2005). Menurut Hidayat (2006), inkontinensia urin merupakan
ketidakmampuan otot sfingter eksternal sementara atau menetap untuk
mengontrol ekskresi urin. Secara umum penyebab inkontinensia dapat berupa
proses penuaan, pembesaran kelenjar prostat, penurunan kesadaran, dan
penggunaan obat narkotik atau sedatif.
Inkontinensia tidak harus dikaitkan dengan lansia. Inkontinensia dapat
dialami setiap individu pada usia berapa pun walaupun kondisi ini lebih umum
dialami oleh lansia. Inkontinensia yang berkelanjutan memungkinkan terjadi
kerusakan pada kulit. Sifat urin yang asam mengiritasi kulit. Pasien yang tidak
dapat melakukan mobilisasi dan sering mengalami inkontinensia beresiko terkena
luka dekubitus (Potter dan Perry, 2005).
Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak
yang merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah
terus, risiko terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat
menimbulkan rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera
ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin
(Hariyati, 2000).
Penatalaksanaan inkontinensia dengan menggunakan tindakan non
farmakologis dapat dilakukan dengan cara menggunakan terapi perilaku,
pengaturan makanan dan minuman, bladder training, penguatan otot panggul.
pemasukan cairan dapat menimbulkan dehidrasi dan konstipasi. Dengan
mengubah jenis makanan dan minuman dapat membantu seperti membatasi
minuman yang mengandung cafein, alcohol dan minuman. Kafein dapat
mengiritasi kandung kemih dan meningkatkan frekuensi untuk berkemih yang
akan memperburuk inkontinensia (Parker, 2007).
2.2 Tipe inkontinensia Urin
Ada beberapa tipe dari inkontinensia urin yaitu: inkontinensia dorongan,
inkontinensia total, inkontinesia stress, inkontinensia refleks, inkontinensia
fungsional (Hidayat, 2006).
a. Inkontinensia Dorongan
Inkontinensia dorongan merupakan keadaan dimana seseorang mengalami
pengeluaran urin tanpa sadar, terjadi segera setelah merasa dorongan yang kuat
setelah berkemih. Inkontinensia dorongan ditandai dengan seringnya terjadi miksi
(miksi lebih dari 2 jam sekali) dan spame kandung kemih (Hidayat, 2006). Pasien
Inkontinensia dorongan mengeluh tidak dapat menahan kencing segera setelah
timbul sensasi ingin kencing. Keadaan ini disebabkan otot detrusor sudah mulai
mengadakan kontraksi pada saat kapasitas kandung kemih belum terpenuhi.
Frekuensi miksi menjadi lebih sering dan disertai dengan urgensi. Inkontinensia
tipe ini meliputi 22% dari semua inkontinensia pada wanita (Purnomo, 2008).
Beberapa penyebab terjadinya inkontinensia urin dorongan disebabkan
oleh penurunan kapasitas kandung kemih, iritasi pada reseptor rengangan kandung
atau kafein, peningkatan konsentrasi urin, dan distensi kandung kemih yang
berlebihan. (Hidayat, 2006).
b. Inkontinensia Total
Inkontinensia total merupakan keadaan dimana seseorang mengalami
pengeluaran urin yang terus menerus dan tidak dapat diperkirakan. Kemungkinan
penyebab inkontinensia total antara lain: disfungsi neorologis, kontraksi
independen dan refleks detrusor karena pembedahan, trauma atau penyakit yang
mempengaruhi saraf medulla spinalis, fistula, neuropati (Hidayat, 2006).
c. Inkontinensia Stress
Menurut Hidayat (2006) inkontinensia tipe ini ditandai dengan adanya urin
menetes dengan peningkatan tekanan abdomen, adanya dorongan berkemih, dan
sering miksi. Inkontinensia stress terjadi disebabkan otot spingter uretra tidak
dapat menahan keluarnya urin yang disebabkan meningkatnya tekanan di
abdomen secara tiba-tiba. Peningkatan tekanan abdomen dapat terjadi sewaktu
batuk, bersin, mengangkat benda yang berat, tertawa (Panker, 2007).
Keluar urin dari uretra pada saat terjadi tekanan intraabdominal,
merupakan jenis inkontinensia yang paling banyak prevalensinya 8-33%. Pada
pria kelainan uretra yang menyebabkan inkontinensia biasanya adalah kerusakan
sfingter uretra eksterna pasca prostatektomi (Purnomo, 2008). Inkontinensia stress
jarang ditemukan pada laki-laki. Namun apabila hal ini ditemukan maka
membutuhkan tindakan pembedahan untuk penanganannya (Parker, 2007).
Inkontinensia stress ini paling sering ditemukan pada wanita dan dapat
disebabkan oleh cidera obstetrik, lesi kolum vesika urinaria, kelainan ekstrinsik
d. Inkontinensia Refleks
Inkontinensia refleks merupakan keadaan di mana seseorang mengalami
pengeluaran urin yang tidak dirasakan, terjadi pada interval yang dapat
diperkirakan bila volume kandung kemih mencapai jumlah tertentu. Inkontinensia
tipe ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kerusakan neurologis (lesi medulla
spinalis). Inkontinensia refleks ditandai dengan tidak adanya dorongan untuk
berkemih, merasa bahwa kandung kemih penuh, dan kontraksi atau spasme
kandung kemih tidak dihambat pada interval teratur (Hidayat, 2006).
e. Inkontinensia Fungsional
Inkontinensia fungsional merupakan keadaan seseorang yang mengalami
pengeluaran urin secara tanpa disadari dan tidak dapat diperkirakan. Keadaan
inkontinensia ini ditandai dengan tidak adanya dorongan untuk berkemih, merasa
bahwa kandung kemih penuh, kontraksi kandung kemih cukup kuat untuk
mengeluarkan urin (Hidayat,2006).
Inkontinensia fungsional merupakan inkontinensia dengan fungsi saluran
kemih bagian bawah yang utuh tetapi ada faktor lain, seperti gangguan kognitif
berat yang menyebabkan pasien sulit untuk mengidentifikasi perlunya urinasi
(misalnya, demensia Alzheimer) atau gangguan fisik yang menyebabkan pasien
sulit atau tidak mungkin menjangkau toilet untuk melakukan urinasi (Smeltzer,
3. Bladder Training
3.1 Defenisi Bladder Training
Bladder training merupakan latihan kandung kemih sebagai salah satu
upaya mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan (Lutfie,
2008). Orzeck dan Ouslander (1987 dalam Hariyati 2000) mengatakan bahwa
bladder training merupakan upaya mengembalikan pola buang air kecil dengan
menghambat atau merangsang keinginan buang air kecil. Bladder training
merupakan tindakan yang bermanfaat dalam mengurangi frekuensi dari
inkontinensia. Bladder training banyak digunakan untuk menangani inkontinensia
urin di komunitas. Latihan ini sangat efektif dan memiliki efek samping yang
minimal dalam menangani masalah inkontinensia urin. Dengan bladder training
diharapkan pola kebiasaan disfungsional, memperbaiki kemampuan untuk
menekan urgensi dapat diubah dan secara bertahap akan meningkatkan kapasitas
kandung kemih dan memperpanjang interval berkemih. (Glen, 2003).
Terdapat tiga macam metode bladder training, yaitu kegel exercises
(latihan pengencangan atau penguatan otot-otot dasar panggul), delay urination
(menunda berkemih), dan scheduled bathroom trips (jadwal berkemih)
Suhariyanto (2008). Latihan kegel (kegel exercises) merupakan aktivitas fisik
yang tersusun dalam suatu program yang dilakukan secara berulang-ulang guna
meningkatkan kebugaran tubuh. Latihan kegel dapat meningkatkan mobilitas
kandung kemih dan bermanfaat dalam menurunkan gangguan pemenuhan
kebutuhan eliminasi urin. Latihan otot dasar panggul dapat membantu
refleks menghambat kontraksi kandung kemih. (Kane, 1996 dalam Nursalam
2006).
Metode bladder training dengan jadwal berkemih dapat dilakukan dengan
cara membuat jadwal berkemih setiap bangun pagi, setiap dua jam pada siang dan
sore hari, setiap empat jam pada malam hari dan sebelum tidur malam.
Memberikan cairan sesuai kebutuhan 30 menit sebelum waktu berkemih,
membatasi minum (150-200 cc) setelah makan malam. Kemudian secara bertahap
periode waktu berkemih dapat ditambah. Dibutuhkan kerjasama dengan keluarga
untuk keberhasilan metode ini (Hariyati, 2000).
Bladder training dapat dilakukan dengan latihan menahan kencing
(menunda untuk berkemih). Pada pasien yang terpasang keteter, bladder training
dapat dilakukan dengan mengklem atau mengikat aliran urin ke urin bag
(Hariyati, 2000). Bladder training dilakukan sebelum kateterisasi diberhentikan.
Tindakan ini dapat dilakukan dengan menjepit kateter urin dengan klem kemudian
jepitannya dilepas setiap beberapa jam sekali. Kateter di klem selama 20 menit
dan kemudian dilepas. Tindakan menjepit kateter ini memungkinkan kandung
kemih terisi urin dan otot detrusor berkontraksi sedangkan pelepasan klem
memungkinkan kandung kemih untuk mengosongkan isinya. (Smeltzer, 2001).
3.2 Tujuan Bladder Training
Tujuan dari bladder training (melatih kembali kandung kemih) adalah
mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi
pengeluaran air kemih (Perry dan Potter, 2005). Bladder training bertujuan untuk
Latihan ini dilakukan pada pasien setelah kateter terpasang dalam jangka waktu
yang lama (Suharyanto, 2008)
Karon (2005) menyatakan tujuan dilakukan bladder training adalah:
a. Membantu klien mendapat pola berkemih rutin.
b. Mengembangkan tonus otot kandung kemih sehingga dapat mencegah
inkontinensia.
c. Memperpanjang interval waktu berkemih.
d. Meningkatkan kapasitas kandung kemih.
e. Melatih kandung kemih untuk mengeluarkan urin secara periodic
f. Mengontrol faktor-faktor yang mungkin meningkatakan jumlah episode
inkontinensia.
3.3 Indikasi Bladder training
Bladder training dapat dilakukan pada pasien yang mengalami
inkontinensia, pada pasien yang terpasang kateter dalam waktu yang lama
sehingga fungsi spingter kandung kemih terganggu (Suharyanto, 2008). Bladder
training juga bisa dilakukan pada pasien stroke, bladder injury, dan pasien dengan
pemasangan kateter yang lama (Orzeck dan ouslander, 1987 dalam Hariyati,
2000).
Bladder training efektif digunakan dalam menangani masalah
inkontinesia dorongan, inkontinensia stress atau gabungan keduanya yang sering
disebut inkontinensia campuran. Penelitian yang dilakukan oleh Fantl (1991)
mengenai efektivitas bladder training didapatkan, bahwa sebanyak 50 % dari
kontinen. Sedangkan penelitian yang dilakukan Hariyati (2000) untuk melihat
pengaruh bladder training dengan proses pemulihan inkontinensia urin pasien
stroke diperoleh lama inkontinensia urin rata-rata 13,11 hari pada pasien yang
diberi bladder training sedangkan di ruangan kontrol 22,7 hari.
3.4Prosedur Bladder Training
Prosedur kerja dalam melakukan bladder training menurut Suharyanto
(2008) yaitu:
1) Melakukan cuci tangan
2) Mengucapkan salam
3) Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien
4) Menciptakan lingkungan yang nyaman dengan menutup ruangan atau tirai
ruangan.
5) Mengatur posisi pasien yang nyaman.
6) Memakai sarung tangan.
7) Melakukan pengukuran volume urin pada kantong urin dan kosongkan
kantong urin.
8) Klem atau ikat selang kateter sesuai dengan program (selama 1-2 jam)
yang memungkinkan kandung kemih terisi urin dan otot destrusor
berkontraksi, supaya meningkatkan volume urin residual.
9) Anjurkan pasien untuk minum (200-250 cc)
10)Tanyakan pada klien apakah terasa ingin berkemih setelah 1 jam.
11)Buka klem atau ikatan dan biarkan urin mengalir keluar.
13)Mengukur volume urin dan perhatikan warna dan bau urin
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
1. Kerangka Penelitian
Kerangka penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini
menggambarkan pengaruh bladder training terhadap minimalisasi terjadinya
inkontinensia urin pada pasien post kateter urin di Rumah sakit Haji Adam Malik
Medan. Bladder training dalam penelitian ini menjadi variabel bebas sedangkan
minimalisasi terjadinya inkontinensia urin menjadi variabel terikat. Secara
skematis kerangka penelitian tersebut digambarkan sebagai berikut:
Skema 3.1 Kerangka penelitian pengaruh bladder training terhadap minimalisasi terjadinya inkontinensia urin pada klien post kateter di rumah sakit Haji Adam Malik Medan
2. Defenisi Operasional Variabel Penelitian
3. Hipotesa
Hipotesa yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesa alternatif (Ha),
yaitu ada pengaruh bladder training dalam minimalisasi inkontinensia urin pada
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimen. Penelitian
diawali dengan membagi responden menjadi dua kelonpok. Satu kelompok
(kelompok intervensi) diberi latihan bladder training dan kelompok yang lain
(kelompok kontrol) tidak dilakukan latihan bladder training. Setelah pemberian
intervensi akan dilakukan kembali pengukuran inkontinensia urin, selanjutnya
hasil pengukuran kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Desain penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh bladder training terhadap
minimalisasi terjadinya inkontinensia urin paska kateterisasi di Rumah Sakit Haji
Adam Malik Medan.
2. Populasi dan Sampel Penelitian 2.1Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti
(Notoatmodjo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah klien yang sedang di
rawat di rumah sakit haji Adam Malik Medan yang sedang dipasang kateter.
2.2 Sampel penelitian
Penentuan jumlah sampel menggunakan tabel power analysis karena populasi tidak diketahui. Dalam penelitian ini ditetapkan level of significance (α) sebesar 0,05, dengan effect size (γ) sebesar 0,80 sehingga didapat besar sampel
Tehnik pengambilan sampel pada penelitian adalah dengan menggunakan non
probability sampling dengan metode purposive sampling, yaitu suatu tehnik
penetapan sampel dengan yang dikehendaki peneliti sehingga sampel tersebut
dapat mewakili karateristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam,
2003). Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah:
a) Pasien berumur 18-70 tahun
b) Pasien sedang dipasang kateter
c) Bersedia menjadi responden
d) Pasien dapat berkomunikasi dengan baik
e) Pasien yang diarawat di RA dan RB
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Tempat yang menjadi lokasi penelitian adalah Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan dengan alasan rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit
untuk pendidikan, dan merupakan rumah sakit rujukan dengan jumlah pasien yang
besar sehingga yang dapat mendukung penelitian. Waktu penelitian dilaksanakan
pada bulan Juli-Agustus 2009.
4. Pertimbangan Etik
Sebelum dilakukan penelitian, diajukan surat permohonan izin penelitian
kepada instansi dari PSIK FK USU dan Rumah Sakit Adam Malik Medan. Surat
persetujuan juga diberikan kepada responden penelitian.
Responden yang menjadi sampel diberitahukan tentang tujuan penelitian,
menjaga kerahasiaan responden maka pada lembar kuesioner tidak dicantumkan
nama responden.
Data yang diperoleh akan digunakan semata-mata demi perkembangan
ilmu pengetahuan dan tidak akan dipublikasikan ke pihak lain. Selanjutnya setelah
penelitian dilakukan, peneliti akan menyerahkan satu eksemplar hasil penelitian
yang telah dilakukan pada instansi tempat penelitian dilakukan.
5. Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data berupa kuesioner data
demografi, format latihan bladder training dan kuesioner inkontinensia urin.
Kuesioner data demografi memuat data mengenai diri pribadi responden, antara
lain jenis kelamin, umur, penyakit yang diderita oleh responden. Instrumen
inkontinensia urin disusun dimodifikasi dari instrumen dari Long Island Center
for Inkontinence and Voiding Dysfunction. Kuesioner inkontinensia urin terdiri
dari sepuluh pertanyaan dengan pilihan jawaban ya dan tidak (dichotomy). Untuk
jawaban Tidak diberi nilai 1 dan untuk jawaban Ya diberi nilai 2. Sehingga
didapat nilai tertinggi 20 dan nilai terendah 10. Semakin tinggi skor yang didapat
semakin menunjukkan kecenderungan terhadap terjadinya inkontinensia urin.
Berdasarkan rumus Sudjana (1992):
Panjang kelas (P)= rentang kelas =10 =5 banyak kelas 2
Maka berdasarkan perhitungan maka 10-15 tidak inkontinensia, dan 16-20
Format bladder training berisikan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam
melaksanakan bladder training pada pasien yang dipasang kateter urin dengan
menggunakan prosedur bladder training dari Suharyanto (2008).
6. Validitas Instrumen
Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memberikan hasil yang relatif
sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok subjek yang sama (Azwar,
2003). Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Uji
validitas ini merujuk pada sejauh mana sebuah instrumen penelitian memuat
rumusan-rumusan sesuai dengan isi yang dikehendaki menurut tujuan tertentu
(Setiadi, 2007).
7. Pengumpulan Data
Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti menjalankan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengajukan surat permohonan izin untuk melakukan penelitian kepada
institusi pendidikan yakni program studi ilmu keperawatan.
2. Mengirim surat izin penelitian yang diperoleh ke tempat dimana akan
dilakukan penelitian.
3. Setelah mendapat izin dari rumah sakit yang bersangkutan, peneliti
melakukan pengambilan data.
4. Peneliti meminta kesediaan calon responden untuk mengikuti penelitian
peneliti. Selama kegiatan penelitian nama responden tidak dicantumkan
dan sebagai gantinya peneliti menggunakan nomor responden.
5. Sebelum meminta calon responden mengisi kuesioner penelitian, peneliti
menjelaskan terlebih dahulu manfaat penelitian dan cara pengisian
kuesioner dan meminta responden yang bersedia untuk menandatangani
informed concert.
6. Setelah mendapat persetujuan, pengumpulan data dimulai. Peneliti
menjelaskan tujuan manfaat, prosedur pengumpulan data pada calon
responden. Pasien yang sesuai kriteria dan bersedia menjadi responden
diberikan inform consent. Kuesioner data demografi diisi oleh peneliti
dengan melakukan wawancara pada responden atau keluarganya.
Kemudian peneliti membagi responden menjadi dua kelompok.
Selanjutnya kelompok intervensi diberikan bladder training sedangkan
satu kelompok lagi tidak diberi bladder training. Bladder training
dilakukan dengan mengklem kateter selama 1-2 jam. Peneliti melakukan
bladder training 4 kali sehari selama 6 hari. Kemudian dilakukan evaluasi
inkontinensia urin setelah intervensi dilakukan.
8. Analisa Data
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, peneliti melakukan
pengolahan data atau analisa data dengan mengecek kelengkapan data dan
memastikan semua data telah diisi sesuai dengan petunjuk. Kemudian dilakukan
coding yaitu mengubah data dalam bentuk huruf menjadi angka untuk
Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan tehnik komputerisasi. Hasil
pengolahan data demografi berupa umur, jenis kelamin, dan penyakit yang
diderita disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. Metode
statistik untuk analisa data yang digunakan untuk melihat pengaruh bladder
training terhadap minimalisasi terjadinya inkontinensia urin adalah: uji chi squre .
Uji chi square digunakan untuk membandingkan inkontinensia yang terjadi pada
kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan komputerisasi.
Menurut Hastono (2001), dari kedua uji tersebut diperoleh nilai p, yaitu
nilai yang menyatakan besarnya peluang hasil penelitian. Peluang hasil penelitian
BAB 5 PEMBAHASAN
1.Hasil Penelitian
Bab ini akan menguraikan hasil penelitian serta pembahasan mengenai
pengaruh bladder training terhadap minimalisasi inkontinensia urin paska
kateterisasi. Pengumpulan data dilakukan dari tanggal 27 Juli sampai dengan 27
Agustus 2008 dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Responden dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi yang dilakukan latihan bladder
training dan kelompok kontrol yang tidak dilakukan bladder training.
1.1Deskripsi Karateristik Responden
Hasil data karateristik responden pada tabel 5.1 menunjukkan dari 15
orang kelompok intervensi sebanyak 6 orang (40%) berada pada umur 40-60
tahun. Responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 9 orang (60%) dan
jenis kelamin perempuan sebanyak 6 orang (40%). Responden menderita penyakit
stroke sebanyak 10 orang (66,7%).
Sedangkan hasil penelitian pada kelompok kontrol menunjukkan 7 orang
(46,7%) berada pada umur 18-40 tahun. Responden dengan jenis kelamin
perempuan 8 orang (53,3%) dan responden dengan jenis kelamin laki-laki
sebanyak 7 orang (46,7%). Responden menderita penyakit stroke sebanyak 9
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi kelompok intervensi dan kontrol berdasarkan data demografi di RSUP Haji Adam Malik Medan bulan Juli-Agustus 2009 (N=30)
Intervensi Kontrol
Karateristik frekuensi (%) frekuensi (%)
Umur
18-40 tahun 5 33,3 5 33,3 41-60 tahun 6 40,0 7 46,7 >60 tahun 4 26,7 3 20,0
Jenis Kelamin
Laki-laki 9 60 7 46,7 Perempuan 6 40 8 53,3
Penyakit
Stroke 10 66,7 9 60,0 Gagal ginjal 4 26,7 4 26,7 Ca servik 1 6,7 2 13,3
1.2Inkontinensia Urin Kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Tabel 5.2 menunjukkan dari 15 orang responden kelompok intervensi
sebanyak 3 orang mengalami inkontinensia dan 12 orang tidak mengalami
inkontinensia. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 15 orang responden 13
Tabel 5.2 Inkontinensia Urin Kelompok Intervensi Dan Kontrol di RSUP Haji Adam Malik Medan bulan Juli-Agustus 2009 (N=30)
Intervensi Kontrol Frekuensi % Frekuensi % Inkontinensia 3 20 13 86,7 Tidak inkontinensia 12 80 2 13,3
1.3Pengaruh Bladder Training terhadap Minimalisasi Inkontinensia
Tabel 5.3 Analisa Perbedaan terjadinya inkontinensia pada kedua kelompok setelah dilakukan bladder training di RSUP Haji Adam Malik Medan bulan Juli-Agustus 2009 (N=30)
Kelompok
Dari tabel 5.3 dapat dianalisa bahwa ada sebanyak 3 orang (20%)
kelompok intervensi mengalami inkontinensia, sedangkan kelompok kontrol yang
mengalamai inkontinensia 13 orang (86,7%). Hasil uji statistik diperoleh nilai
p=0,00 maka disimpulkan terdapat pengaruh bladder training terhadap
artinya kelompok kontrol mempunyai peluang 0,038 untuk mengalami
inkontinensia dibandingkan dengan kelompok intervensi.
2. Pembahasan
2.1 Karateristik Responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 orang kelompok intervensi
sebanyak 5 orang (33,3%) berada pada umur 18-40 tahun, 40-60 tahun sebanyak
6 orang (40,0%) dan sebanyak 4 orang (26,7%) berada pada umur >60 tahun,
sedangkan hasil penelitian pada kelompok kontrol menunjukkan 5 orang (33,3%)
berada pada umur 18-40 tahun, 7 orang (46,7%) berumur 40-60 tahun dan
sebanyak 3 orang berumur >60 tahun . Menurut Smeltzer (2001) inkontinensia
dapat mengenai individu dari segala usia meskipun sering dijumpain pada lansia.
Inkontinensia bukan konsekuensi normal dari proses penuaa, namun perubahan
traktus urinarius yang berkaitan dengan usia merupakan predisposisi bagi lansia
untuk mengalami inkontinensia. Hasil penelitian di Amerika juga menjelaskan
bahwa dua puluh lima persen wanita antara usia 30-59 tahun mengalami
inkontinensia urin, sementara pada individu berusia 60 tahun atau lebih sebesar
15%-30% menderita inkontinensia urin (Vitriana, 2002). Penelitian tahun 1995
terhadap kelompok usia 60-an atau lebih menunjukkan, 18 persen pria dan 38
persen wanita tidak dapat mengendalikan kebocoran urinnya. Hal ini
menunjukkan, prevalensi inkontinensia urin semakin meningkat dengan semakin
bertambahnya usia (PDPERSI, 2001).
Responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 9 orang (60%) dan
responden dengan jenis kelamin perempuan 8 orang (53,3%) dan responden
dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 7 orang (46,7%). Menurut Smeltzer
(2001) inkontinensia urin merupakan kondisi yang sering dijumpain pada wanita.
Usia, jenis kelamin serta jumlah persalinan per vaginam pada wanita yang pernah
dialami sebelumnya merupakan faktor risiko yang sudah dipastikan secara parsial
menyebabkan peningkatan insiden inkontinensia pada wanita. Marcell (2003)
menambahkan bahwa wanita dua kali lebih sering menderita inkontinensia
dibandingkan dengan laki-laki. Robert (2006) berpendapat bahwa kejadian
inkontinensia bertambah dengan peningkatan usia namun inkotinensia dapat
ditemukan pada wanita muda dan usia dewasa madia. Sebanyak 20-50% wanita
dewasa madia menderita inkontinensia. Menurut Budi (2001) ada beberapa faktor
risiko inkontinensia urin, salah satunya yaitu jenis kelamin. Inkontinensia urin
biasanya terjadi dua sampai tiga kali lebih sering pada wanita dibandingkan pria.
Perbedaan jenis kelamin ini nyata terlihat diantara orang dewasa di bawah usia
enam puluh.
Inkontinensia urin umum terjadi pada pasien stroke sehingga pasien
kurang dapat mengontrol kandung kemih. Hal ini disebabkan bagian otak yang
mengontrol bagian perkemihan mengalami gangguan. Pada pasien paska stroke
juga dapat mengalami atonik kandung kemih dengan kerusakan sensasi dalam
respon terhadap pengisian kandung kemih, bahkan dapat terjadi kehilangan
kontrol spingter urinarius eksternal (Aini, 2007).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi inkontinensia urine paska
serangan stroke cukup tinggi. Pada hari pertama perawatan, angka kejadiannya
sedangkan 1 bulan setelah serangan menjadi 12-19%. Hasil penelitian yang
Mehool (2001) di south london stroke register (SLSR) pada tahun 1995
didapatkan angka sekuele inkontinensia urine pada pasien stroke berkisar antara
40% pada 7-10 hari pertama, 19% pada 3 bulan pertama 15 % pada tahun pertama
dan 10% pada tahun kedua. Faktor penyebab inkontinensia urine pada pasien
stroke terbanyak disebabkan oleh terputusnya jalur neuromicturition yang
berakibat kandung kemih mengalami peningkatan refleks (bladde hyperreflexia
(Harianto 2006).
2.2 Pengaruh Bladder training terhadap Minimalisasi Inkontinensia Urin Hasil penelitian menunjukkan dari 15 orang responden kelompok
intervensi sebanyak 3 orang mengalami inkontinensia dan 12 orang tidak
mengalami inkontinensia. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 15 orang
responden 13 orang mengalami inkontinensia dan 2 orang tidak mengalami
inkontinensia. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,00 (p<0,05). Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa latihan bladder training bermanfaat dalam
menangani inkontinensia urin pada pasien yang dipasang kateter. Hasil ini
didukung oleh penelitian Fantl (1991) diperoleh sebanyak 50 % dari sampel
percobaan menjadi mampu mengontrol kencing, dan 12 % menjadi total kontinen.
Penelitian ini sesuai dengan pernyataan bahwa bladder training bermanfaat dalam
menangani masalah inkontinensia urin (Wallace, 2004). Menurut Smeltzer (2001)
bladder training pada pasien yang sedang terpasang kateter membantu pasien
mengkontraksikan otot kandung kemih. Tindakan bladder training dengan
berkontraksi. Sedangkan pada saat klem dilepaskan otot kandung kemih untuk
mengosongkan isinya. Sehingga otot detrusor dapat berkontraksi seperti normal
dan pasien dapat mengeliminasi urinnya setelah keteter dilepaskan. Hasil
penelitian ini didukung penelitian yang dilakukan Hariyati (2000) menggunakan
uji t test diperoleh nilai p=0,012. Hal ini menunjukkan ada perbedaan bermakna
terhadap pemulihan inkontinensia urin pada pasien yang bladder trainingnya
BAB 6
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Bab ini menguraikan hasil penelitian dalam bentuk kesimpulan dan
rekomendasi atau saran.
1. Kesimpulan Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan dari 15 orang responden kelompok
intervensi sebanyak 3 orang mengalami inkontinensia dan 12 orang tidak
mengalami inkontinensia. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 15 orang
responden 13 orang mengalami inkontinensia dan 2 orang tidak mengalami
inkontinensia. Penelitian ini menggunakan uji chi square yang menggambarkan
inkontinensia pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dan diperoleh
p=0,00 (p<0,05). Responden yang termasuk dalam kelompok intervensi tidak
mengalami inkontinensia setelah dilakukan bladder training. Sehingga dapat
dikatakan bahwa bladder training memberikan pengaruh terhadap minimalisasi
inkontinensia.
2. Rekomendasi
2.1Rekomendasi untuk Praktek Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh perawat untuk melakukan
bladder training pada pasien yang sedang dipasang kateter untuk meminimalkan
2.2Rekomendasi untuk Pedidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dalam pendidikan
keperawatan untuk melakukan bladder training pada pasien yang sedang dipasang
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. (2008). Tehnik prosedural keperawatan: Konsep dan applikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika.
Aini, F. (2007). Asuhan keperawatana pada ny. S.k dengan Stroke hemoragik di RSCM Jakarta. Diakses dari http:www.digilib.ui.ac.id pada tanggal 29 Agustus 2009
Azwar, S. (2003). Reabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Budi. (2001). Faktor risiko inkotinensia urin diakses dari
pada tanggal 28 Agustus 2009
Craven, D. D dan Zweig S. (2000). Urinary catheter management. Diakses dari
Coppolaa, L. et all. (2002). Urinary incontinence in the elderly: relation to cognitive and motor function. Diakses dari
pada tanggal 10 September 2009
Fantl, J. F. (1991). Efficacy of bladder training in older women with urinary incontinence. Diakses dari
tanggal 5 Maret 2009.
Glen, J. (2003). Restorative nursing bladder training program: recommending a strategy. Diakses dari http:www.proquest.umi.com/pqdwb pada tanggal
21 Maret 2009.
Harianto, U. K. (2006). Perbandingan efektivitas tolterodine dengan Amitriptilin pada pasien stroke akut dengan inkontinensia Urin. Diakses dari
Hariyati, Tutik S. (2000). Hubungan antara bladder retraining dengan proses pemulihan inkontinensia urin pada pasien stoke. Diakses dari
tanggal 25 Februari 2009
Hidayat, A. Alimul. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia: aplikasi konsep dan proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Hoeman, S. P. (2002). Rehabilitation nursing. 3rd edition. St Louis. Philadelpia: Mosby
Japardi. (2000). Manifestasi neurologis gangguan miksi. Diakses dari tanggal 18 Februari 2009
Karon, S. (2005). A team approach to bladder retraining: A pilot study. Diakses dari http:www.proquest.umi.com/pqdwb pada tanggal 16 Maret 2009
Long, Barbara C. (1996). Perawatan medikal bedah (Suatu pendekatan proses keperawatan) 3. Bandung: Yayasan IAPK Pajajaran Bandung.
Lutfie, Syarief Hasan. (2008). Penatalaksanaan rehabilitasi neurogenic bladder. Cermin Dunia kedokteran 165. Volume 35. No. 6
Notoadmodjo, Soekidjo. (2002). Metodologi penelitian kesehatan. Ed. Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2003). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan: pedoman skripsi, tesis dan instrument penelitian
keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Nursalam. (2006). Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem perkemihan. Jakarta: Salemba Medika
PDPERSI. (2001). Inkontinensia urin, lebih sering diidap wanita. Diakses dari
tanggal 4 Maret 2009
(2002). Sekitar 5,8 persen penduduk indonesia idap inkontinensia urin.
Diakses dari tanggal 4 Maret 2009
Parker, K. F. (2007). The management of urinary inkontinence. Diakses dari
Polit and Hungler. (1995). Nursing research principles and metods. Sixth Edition. Philadelpia: Lippincott.
Potter, Patricia A. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: Proses dan praktik. Ed. 4. Jakarta: EGC
Purnomo, B. B. (2008). Dasar dasar urologi. Ed. 2. Jakarta: CV Infomedika
Robert, M. et all. (2006). Conservative management of urinary incontinence. Diakses dari
Rochani. (2002). Penduduk indonesia idap inkontinensia urin. Diakses dari
Setiadi. (2007). Konsep dan penulisan riset keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Smeltzer, Susan C. (2001). Buku ajar keperawtan medikal bedah Brunner & Suddarth. Ed. 8. Jakarta: EGC
Smith, J. M. (2003). Indwelling catheter management: from habit-based to evidence-based practice. Diakses dari
Suryahanto, T. (2008). Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem perkemihan. Jakarta: Trans Info Media.
Tarwoto dan Wartonah. (2004). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan. Ed.1. Jakarta: Salemba Medika
The Joanna Briggs Institute. (2000). Management of short term indwelling urethral catheters to prevent urinary tract infections. Diakses dari
Thomas, E. L. (2007). Male external catheter and internal catheter. Diaksesdari
pada tanggal 21
Maret 2009
Lampiran 1
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN
Pengaruh Bladder Training Terhadap Minimalisasi Inkontinensia Urin Paska Kateterisasi di RSUP Haji Adam Malik Medan
Oleh
Fransiska A. Sinaga
Saya adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran USU yang sedang melakukan penelitian sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Ilmu Keperawatan USU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bladder training terhadap minimalisasi inkontinensia urin paska kateterisasi di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Untuk keperluan tersebut, saya mohon kesediaan saudara/i untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Saya juga mengharapakan tanggapan dan jawaban yang diberikan sesuai dengan keluhan yang saudara/i rasakan tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Saya juga menjamin kerahasian jawaban dan identitas saudara/i atas informasi yang bapak dan ibu berikan. Partisipasi saudara/i dalam penelitian ini bersifat suka rela. saudara/i bebas untuk ikut atau tidak untuk menjadi peserta dalam penelitian ini tanpa ada sanksi apapun.
Jika saudara/i bersedia, silahkan menandatangani formulir ini. Terima kasih atas partisipasi saaudara/i dalam penelitian ini.
Nama :
Lampiran 2
KUISIONER PENELITIAN
Kode responden
A. KUISIONER DATA DEMOGRAFI
Petunjuk pengisian
Bapak/ibu diharapkan untuk menjawab setiap pertanyaan yang tersedia dengan
memberikan tanda cek (V) pada tempat yang tersedia.
1. Umur
18-40 tahun
40-60 tahun
>60 tahun
2. Jenis kelamin
Laki-laki
perempuan
3. Penyakit yang diderita
B. KUISIONER INKONTINENSIA URIN
Petunjuk pengisian
Bapak/ibu diharapkan :
1. Menjawab setiap pertanyaan yang tersedia dengan memberikan tanda cek
(V) pada tempat yang tersedia.
2. Semua pertanyaan harus dijawab
NO. DAFTAR PERNYATAAN YA TIDAK
Urin saya keluar sebelum saya mencapai kamar
mandi
Urin saya keluar tanpa saya sadari
Urin saya keluarnya menetes
Saya merasa sulit menahan kencing
Urin saya keluar saat saya terawa, bersin, batuk
Ketika saya berkemih urin keluar dengan
terputus-putus.
Saya ingin berkemih padahal baru saja saya
berkemih
Saya merasa sakit saat berkemih
Saya merasa puas setelah saya selesai berkemih
Saya merasa penuh pada daerah kandung kemih
Saya merasa penuh pada daerah kandung
C. FORMAT BLADDER TRAINING
Prosedur kerja dalam melakukan bladder training menurut Suharyanto (2008)
yaitu:
1. Melakukan cuci tangan
2. Mengucapkan salam
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien
4. Menciptakan lingkungan yang nyaman dengan menutup ruangan atau tirai
ruangan.
5. Mengatur posisi pasien yang nyaman.
6. Memakai sarung tangan.
7. Klem atau ikat selang kateter (selama 1-2 jam) yang memungkinkan kandung
kemih terisi urin dan otot destrusor berkontraksi, supaya meningkatkan
volume urin residual.
8. Menganjurkan pasien untuk minum (200-250 cc)
9. Tanyakan pada klien apakah terasa ingin berkemih setelah 1 jam.
10. Buka klem atau ikatan dan biarkan urin mengalir keluar.
11. Mengulangi langkah no 7 selama 4 kali (4 siklus).
Lampiran 4
Tabel Frekuensi Kelompok Intervensi
Lampiran 5
perlakuan * hasil Crosstabulation
Risk Estimate
Value
95% Confidence Interval
Lower Upper
Odds Ratio for perlakuan
(intervensi / kontrol) .038 .005 .271
For cohort hasil =
inkontinensia .231 .082 .647
For cohort hasil = tidak
inkontinensia 6.000 1.611 22.344
Lampiran 6
CURRICULLLUM VITAE
Nama : Fransiska A. Sinaga
Tempat/Tanggal lahir : Bangun, 12 September 1986
Agama : Katolik
Alamat Rumah : Jl. Harmonika No.38 Padang Bulan, Medan Riwayat Pendidikan : 1. SD RK 7 Pematangsiantar
2. SMP CR 1 Pematangsiantar