dan Kepuasan Komunikasi Karyawan PT INALUM di Kuala Tanjung)
SKRIPSI
ARDIANSYAH
080904041
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
MEDAN
EMPLOYEE RELATIONS DAN KEPUASAN KOMUNIKASI
(Studi Korelasional Kegiatan Employee Relations dalam Bentuk Rapat Rutin
dan Kepuasan Komunikasi Karyawan PT INALUM di Kuala Tanjung)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
ARDIANSYAH
080904041
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip
maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian
hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses
sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama: ...
NIM: ...
Tanda Tangan: ...
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Ardiansyah
NIM : 080904041
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul : EMPLOYEE RELATIONS DAN KEPUASAN KOMUNIKASI
(Studi Korelasional Kegiatan Employee Relations dalam bentuk
Rapat Rutin dan Kepuasan Komunikasi Karyawan PT INALUM di
Kuala Tanjung)
Medan, Desember 2013
Dosen Pembimbing Ketua Departemen Ilmu komunikasi
Drs. Safrin, M.Si Dra. Fatma Wardy Lubis, MA
NIP: 196110011987011001 NIP: 196208281987012001
Dekan
Prof. Dr. Badaruddin, M.Si
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini diajukan oleh : ...
Nama : ...
NIM : ...
Departemen : ...
Judul Skripsi : ...
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Majelis Penguji
Ketua Penguji :...
Penguji : ...
Penguji Utama : ...
Ditetapkan di : ...
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
rahmat dan salam serta shalawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
Akhirnya penulis sampai pada detik terselesaikannya skripsi di penghujung masa
kuliah ini.
Skripsi yang berjudul “Employee Relations dan Kepuasan Kerja” ini
membahas komunikasi dalam organisasi dengan tujuan untuk mengetahui apakah
terdapat hubungan antara kegiatan employee relations dalam bentuk rapat rutin
dan kepuasan komunikasi karyawan. Di dalam penulisannya tentu penulis
mencoba berusaha sebaik mungkin, meskipun pada akhirnya kesempurnaan
penulisan mustahil tanpa adanya perbaikan. Oleh karena itu, penulis menyadari
dan mengharapan koreksi dan masukan untuk perbaikan skripsi ini sehingga
menjadi lebih baik.
Perjuangan dan berbagai kesulitan telah penulis rasakan selama penulisan
skripsi ini. Oleh karena itu penulis sangat ingin berterima kasih kepada semua
yang telah memberikan bimbingan serta dukungan kepada penulis sehingga
mampu menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut.
Mama dan Ayah yang sangat penulis sayangi, untuk segala dukungan,
perhatian, dan kasih sayang selama ini tidak mungkin penulis mampu membalas
sampai kapanpun. Kepada adik-adik Faisal Febriansyah dan Malvin Hermansyah
yang menjadi motivasi bagi penulis.
Kepada seluruh saudara yang sudah memberikan perhatian kepada penulis
khususnya keluarga (Alm.) Mochtar Lubis yang menyediakan tempat tinggal
berikut segala bantuan yang sampai detik ini penulis masih terima.
Kepada seluruh Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang
telah memberikan segala ilmu paling berharga kepada kami para mahasiswa.
Kepada Dosen Pembimbing Bapak Safrin, M.Si yang sudah memberikan
khususnya Ibu Neng Ratnawaty yang selalu membantu selayaknya orangtua
penulis. Kepada Kak Rahayu Azis dan Bang Ari Cesar Nugraha yang telah
banyak membantu di saat-saat krisis. Kepada Dikri Abdilanov atas fasilitas selama
pembuatan skripsi. Kepada Bang Anugrah Huseini yang memberikan berbagai
dukungan dan semangat. Kepada Novita Sari Wulandari atas perhatian dan
semangatnya. Kepada Ratna Sari Ferwinda yang sering mengingatkan kuliah.
Kepada teman-teman di USU, UISU, UMA, UDA, UI, Budi Luhur, Bina
Nusantara dan semua yang tidak mungkin penulis sebutkan satu-persatu atas
bantuan maupun dukungan sehingga selesainya skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan
selama ini. Amin.
Akhirnya, semoga karya ilmiah yang penulis persembahkan ini berguna
dan menambah wawasan bagi para pembacanya dan penulis sendiri. Terima kasih
Medan, Desember 2013
Penulis,
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Ardiansyah
NIM : 080904041
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
... ... ... ... ...
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-eksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : ... Pada Tanggal : ...
Yang Menyatakan,
ABSTRAK
Ardiansyah
EMPLOYEE RELATIONS DAN KEPUASAN KOMUNIKASI
Salah satu bentuk employee relations di sebuah perusahaan adalah rapat rutin. Rapat rutin merupakan aktivitas yang melibatkan komunikasi tatap muka antara pihak manajemen dan karyawan. Rapat rutin juga menciptakan iklim komunikasi yang positif di dalam perusahaan. Penelitian ini meneliti hubungan antara variabel-variabel yang kemudian hubungan-hubungan tersebut dinamakan korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi positif yang kuat antara variabel employee relations (�) dan kepuasan komunikasi (�) dengan nilai koefisien (�) 0,763 dan signifkan pada taraf kepercayaan 90%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa employee relations memberikan pengaruh sebesar 58,22% terhadap kepuasan komunikasi karyawan dan 41,78% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian.
Kata kunci: employee relations, kepuasan komunikasi, rapat rutin, korelasi, hubungan, kuantitatif, perusahaan.
Regular meeting is one of employee relations activities in a company. Regular meeting is an activity that involves face-to-face communication between management and employees. Regular meetings also creates a positive communication climate within the company. This study investigated the relationship between the variables which then these relations is called the correlation. The results showed a strong and positive correlation between employee relations (�) and communication satisfaction (�) with coefficient (�) 0.763 and significant at 90% confidence level. This study concludes that employee relations give effect to the employee communication satisfaction of 58.22% and 41.78% is influenced by other variables outside this research.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... v
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Penelitian ... 5
1.3 Pembatasan Penelitian ... 5
1.4 Tujuan Penelitian ... 5
1.5 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori... 7
2.1.1. Komunikasi ... 7
2.1.2. Public Relations ... 10
2.1.3. Komunikasi Organisasi ... 12
2.1.4. Employee Relations ... 15
2.1.5. Kepuasan Komunikasi Organisasi ... 18
2.2 Kerangka Konsep ... 19
2.3 Variabel Penelitian ... 20
2.4 Definisi Operasional ... 21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 30
3.2 Metode Penelitian ... 33
3.3 Populasi dan Sampel ... 34
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.5 Teknik Analisis Data ... 36
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 39
4.2 Analisis Tabel Tunggal ... 42
4.2.1. Karakteristik Responden ... 43
4.2.2. Employee Relations ... 46
4.2.3. Kepuasan Komunikasi ... 57
4.3 Pengujian Hipotesis ... 67
4.4 Hasil Koefisien Determinan ... 69
4.5 Pembahasan ... 69
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 72
5.2 Saran Responden Penelitian ... 73
5.3 Saran dalam Kaitan Akademis ... 73
5.4 Saran dalam Kaitan Praktis ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 75
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Variabel Penelitian 20
2.2 Operasionalisasi Konsep 21
3.1 Interpretasi Nilai � 37
4.1 Case Processing Summary 39
4.2 Reliability Statistics 40
4.3 Item-Total Statistics 40
4.4 Data Usia Responden 43
4.5 Data Jenis Kelamin Responden 43
4.6 Data Status Pernikahan Responden 44
4.7 Data Tingkat Pendidikan Responden 44
4.8 Data Lama Bekerja Responden 45
4.9 Data Departemen Responden 45
4.10 Keterbukaan Karyawan Menyampaikan Pesan kepada
Atasan 46
4.11 Keterbukaan Atasan Mendengarkan Saran dan
Laporan dari Karyawan 47
4.12 Suasana Komunikasi yang Terbuka dengan Atasan 47
4.13 Antusiasme Atasan terhadap Informasi yang Diterima 48
4.14 Saran atau Masukan untuk Keputusan Atasan 49
4.15 Peluang Menyampaikan Saran Perbaikan 49
4.16 Kesempatan Berkomunikasi dengan Rekan Sekerja 50
4.17 Berkonsultasi Membahas Masalah Pekerjaan dengan
Rekan Sekerja 51
4.18 Keterbukaan Susasana Komunikasi sesama Karyawan 51
4.19 Kemudahan Karyawan Mendapatkan Informasi
Pekerjaan dari Rekan Sekerja 52
4.20 Rasa Saling Pengertian dalam Berkomunikasi sesama
Rekan Sekerja 53
4.22 Motivasi oleh Pimpinan 54
4.23 Kepercayaan dan Kejujuran Pimpinan dalam
Menyampaikan Pesan-Pesan 55
4.24 Konsultasi dan Informasi Kebijakan Perusahaan oleh
Pimpinan 55
4.25 Kejelasan Pimpinan Menyampaikan Informasi
Kebijakan, Aktifitas dan Pengembangan Perusahaan 56
4.26 Kepuasan Karyawan atas Informasi yang Disampaikan
Pimpinan 57
4.27 Pengaruh Komunikasi terhadap Komitmen Kerja 58
4.28 Kesediaan dan Wawasan Pimpinan atas Saran dan
Laporan Masalah 58
4.29 Bimbingan Pimpinan dalam Pemecahan Masalah 59
4.30 Informasi Pekerjaan 60
4.31 Informasi Peraturan dan Kebijakan Perusahaan 60
4.32 Kesempatan Berkomunikasi 61
4.33 Kepuasan Mengartikan dan Memahami Informasi dari
Media PerusahaanPerusahaan 62
4.34 Kesempatan Berkomunikasi mengenai Desas-Desus di
Lingkungan Kerja 62
4.35 Kebebasan dan Keterbukaan Komunikasi antar Rekan
Sekerja 63
4.36 Kemudahan Mendapatkan Informasi mengenai
Perusahaan 64
4.37 Kecepatan dan Kejelasan Informasi Perusahaan 64
4.38 Kepuasan terhadap Informasi dari Pimpinan 65
4.39 Ketertarikan terhadap Informasi dari Pimpinan 66
4.40 Sistem Penilaian Kerja 66
4.41 Penilaian Kinerja oleh Pimpinan 67
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1 Kuesioner 78
2 Tabulasi Data Survei 82
ABSTRAK
Ardiansyah
EMPLOYEE RELATIONS DAN KEPUASAN KOMUNIKASI
Salah satu bentuk employee relations di sebuah perusahaan adalah rapat rutin. Rapat rutin merupakan aktivitas yang melibatkan komunikasi tatap muka antara pihak manajemen dan karyawan. Rapat rutin juga menciptakan iklim komunikasi yang positif di dalam perusahaan. Penelitian ini meneliti hubungan antara variabel-variabel yang kemudian hubungan-hubungan tersebut dinamakan korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi positif yang kuat antara variabel employee relations (�) dan kepuasan komunikasi (�) dengan nilai koefisien (�) 0,763 dan signifkan pada taraf kepercayaan 90%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa employee relations memberikan pengaruh sebesar 58,22% terhadap kepuasan komunikasi karyawan dan 41,78% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian.
Kata kunci: employee relations, kepuasan komunikasi, rapat rutin, korelasi, hubungan, kuantitatif, perusahaan.
Regular meeting is one of employee relations activities in a company. Regular meeting is an activity that involves face-to-face communication between management and employees. Regular meetings also creates a positive communication climate within the company. This study investigated the relationship between the variables which then these relations is called the correlation. The results showed a strong and positive correlation between employee relations (�) and communication satisfaction (�) with coefficient (�) 0.763 and significant at 90% confidence level. This study concludes that employee relations give effect to the employee communication satisfaction of 58.22% and 41.78% is influenced by other variables outside this research.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Komunikasi memainkan peranan terpenting dalam kehidupan manusia.
Dengan berkomunikasi manusia dapat menyamakan persepsi dan mengatur
strategi dalam memecahkan masalah-masalah dalam kehidupannya. Komunikasi
berlangsung dalam berbagai tingkatan baik individu, kelompok maupun
organisasi. Dalam sebuah organisasi, kegiatan komunikasi menjadi suatu proses
yang kompleks karena melibatkan seluruh bagian di dalam organisasi baik dari
pimpinan ke karyawan dan sebaliknya serta sesama karyawan.
Setiap organisasi memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai baik yang
sifatnya profit maupun non-profit. Perusahaan merupakan salah satu bentuk dari
organisasi. Sebuah perusahaan memiliki tujuan yang akan dicapai dengan adanya
sumber daya produksi yang memadai. Salah satu sumber daya yang penting dalam
suatu perusahaan adalah karyawan. Jika karyawan mampu berpartisipasi dengan
baik dalam memberikan dukungan terhadap perusahaan, maka tujuan-tujuan
perusahaan akan lebih mudah dicapai. Kualitas kerja seorang karyawan akan baik
apabila adanya hubungan komunikasi yang baik juga baik verbal maupun
non-verbal antara karyawan dengan pihak manajemen perusahaan sebagai wakil dari
perusahaan.
Komunikasi merupakan kunci dari sebuah organisasi. Sebuah organisasi
tidak mungkin berjalan tanpa adanya komunikasi. Dalam hal koordinasi kerja
pastinya membutuhkan komunikasi, tanpa adanya komunikasi yang baik,
koordinasi kerja tidak akan berjalan lancar. Informasi yang disampaikan atasan
kepada bawahan haruslah jelas dan begitu juga sebaliknya, sehingga ada suatu
kesepahaman dalam melaksanakan tugas dan pada akhirnya menciptakan hasil
kerja yang maksimal dalam mencapai tujuan perusahaan.
Untuk membentuk kerjasama yang baik antara organisasi dan para
anggota, maka dibutuhkan bentuk hubungan serta komunikasi yang baik antara
Apabila tidak ada komunikasi, koordinasi kerja tidak dapat dilakukan. Menurut
S.K. Bonar (1993) komunikasi dalam organisasi merupakan bentuk interaksi
pertukaran pesan antar anggota organisasi, baik komunikasi secara verbal maupun
non verbal. Dalam fungsi public relations terdapat berbagai macam bentuk
hubungan yang dapat dilakukan. Diantaranya yang umum dilakukan adalah
community relations, government relations, consumer relations, investor
relations, media relations dan employee relations. Semua bentuk
hubungan-hubungan tersebut diatur oleh public relations, dengan tujuan untuk mencapai
pengertian publik (public understanding), kepercayaan publik (public confidence),
dukungan publik (public support), dan kerjasama publik (public cooperation).
Employee relations bisa diartikan sebagai “hubungan dengan karyawan”
merupakan bentuk dari internal public relations. Bentuk hubungan ini perlu
dilakukan untuk membangun keharmonisan, saling pengertian dan loyalitas antara
karyawan dan (pihak manajemen) perusahaan dengan menciptakan komunikasi
dua arah yang baik.
Dalam pelaksanaannya, komunikasi yang dilakukan antara perusahaan dan
karyawan biasanya memiliki aturan dan tata cara yang telah ditetapkan oleh
perusahaan, seperti di dalam bentuk durasi berkomunikasi, waktu berkomunikasi,
tempat, bahasa yang digunakan, cara penyampaian dan sebagainya. Penerapan
aturan dan tata cara berkomunikasi karyawan dibuat sedemikian rupa, sehingga
memudahkan proses penyampaian informasi, disamping
pertimbangan-pertimbangan lain seperti estetika dan etika.
Aktivitas employee relations yang berlangsung di dalam perusahaan secara
langsung akan memengaruhi iklim komunikasi dalam perusahaan tersebut. Iklim
komunikasi merupakan hasil persepsi bersifat objektif yang dimiliki karyawan
terhadap unsur-unsur komunikasi dalam perusahaan yang memengaruhi kualitas
kegiatan berkomunikasi. Dengan kata lain, apabila karyawan menilai employee
relations yang dimiliki perusahaan mampu memberikan pengaruh positif terhadap
iklim komunikasi, maka akan memengaruhi partisipasi dan perilaku karyawan
Karyawan dalam suatu perusahaan menjadikan iklim komunikasi sebagai
bahan pertimbangan atas perilaku dan keputusannya. Iklim komunikasi dalam
suatu perusahaan juga memengaruhi loyalitas dan kualitas kerja seorang
karyawan, apakah ia akan bekerja dengan jujur, kreatif dan inovatif atau tidak
bahkan inisiatif seorang karyawan terhadap tugas-tugasnya juga dipengaruhi oleh
iklim komunikasi.
Tujuan employee relations sendiri adalah untuk menciptakan suatu
keterbukaan serta hubungan baik antara perusahaan dan karyawan sehingga akan
memotivasi karyawannya untuk meningkatkan produktivitas kerja, sehingga
perusahaan mampu mencapai tujuan-tujuan perusahaan.
Seperti yang diketahui, iklim komunikasi sangat memengaruhi tindakan
atau keputusan seorang karyawan dalam berkomunikasi. Dengan begitu kita
mengetahui bahwa iklim komunikasi memengaruhi kepuasan komunikasi seorang
karyawan. Kepuasan komunikasi yang menjadi perhatian adalah kepuasan
individu terhadap lingkungan komunikasinya dan untuk menunjang kepuasan
komunikasi karyawan, maka perusahaan melakukan kegiatan employee relations.
Menurut McNamara(1997), keterampilan mengelola rapat merupakan
perjalanan menuju komunikasi yang efektif yang merupakan salah satu
prinsip-prinsip pokok komunikasi informal organisasi. (hlm. 107)
Sedangkan Frank Jefkins (2005) memberikan penjelasan.
Pertemuan-pertemuan dinas yang melibatkan para staff dan karyawan, baik itu yang
diselenggarakan di kantor pusat maupun di kantor-kantor cabang, dan juga
konferensi tingkat nasional, merupakan kegiatan berkumpul yang bermanfaat
untuk menggalang kebersamaan dan keakraban, sekaligus untuk menciptakan
hubungan yang baik antara pihak manajemen dengan para karyawan. Dalam
acara-acara tersebut, berlangsung suatu bentuk komunikasi yang paling efisien,
yakni komunikasi tatap muka. (hlm. 176-177)
Dengan demikian, pelaksanaan rapat secara rutin di dalam sebuah
perusahaan mampu menjadi salah satu faktor usaha menciptakan employee
relations yang baik.
Sebagai lokasi penelitian, peneliti memilih Smelter PT INALUM Kuala
pertimbangan PT INALUM berada di urutan ke 24 kapasitas produksi aluminium
terbesar dari 43 negara penghasil aluminium di dunia (U.S. Geological Survey.
Mineral Commodity Summaries, January 2012)dengan jumlah karyawan smelter
mencapai 1.988 orang dan mengadakan rapat rutin baik di setiap divisi maupun
antar divisi produksi.
PT INALUM berdiri sejak tahun 1976 dan terus mengalami peningakatan
kemampuan produksi yang juga berdampak pada kenaikan keuntungan
perusahaan. Peningkatan-peningkatan yang dialami perusahaan ini tentunya tidak
terlepas dari hasil kerja yang diberikan oleh seluruh karyawan perusahaan. Tanpa
adanya peningkatan kemampuan kerja karyawan maka mustahil akan mampu
memenuhi standar yang dibutuhkan oleh sistem produksi yang pastinya juga lebih
tinggi dari sebelumnya.
Dalam usaha meningkatkan kinerja perusahaan, PT INALUM secara rutin
mengadakan rapat koordinasi dengan melibatkan satu divisi maupun seluruh
divisi. Pelaksanaan rapat rutin sendiri memiliki tujuan utama agar setiap bagian
produksi mengetahui kebijakan-kebijakan yang telah dibuat perusahaan agar
setiap karyawan mampu bekerja memenuhi ekspektasi perusahaan.
Rapat yang dilakukan PT INALUM juga dilakukan untuk mengetahui
perkembangan terbaru dari setiap bagian produksi baik yang sifatnya peningkatan
(improvement) maupun sifatnya hambatan (obstacle). Dengan mengetahui
perkembangan yang ada maka perusahaan nantinya akan mampu membuat
kebijakan terbaru sebagai respon dalam bentuk instruksi. Selain itu, rapat yang
dilakukan juga sebagai usaha untuk saling mengenal dan mengakrabkan
individu-individunya sebagaimana terlihat dari penglihatan pribadi bahwa para karyawan
pada suatu kesempatan saling menyapa dan berbincang menandakan mereka
memiliki hubungan yang cukup dekat meskipun berbeda divisi dan tingkatan
kerja.
Dengan adanya indikasi seperti ini membawa peneliti melihat rapat rutin
yang merupakan kesempatan para karyawan dari berbagai divisi dan tingkatan
kerja, saling berkomunikasi tatap muka bisa merupakan bentuk dari employee
penelitian mengenai hubungan kegiatan employee relations dan kepuasan
komunikasi karyawan smelter PT INALUM Kuala Tanjung Kab. Batu Bara.
1.2 Perumusan Penelitian
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka dapat ditarik perumusan
penelitian sebagai berikut:
a. Adakah hubungan antara kegiatan employee relations dalam bentuk rapat
rutin dan kepuasan komunikasi karyawan Smelter PT INALUM Kuala
Tanjung Kab. Batu Bara?
b. Faktor-faktor dari employee relations apakah yang memengaruhi
kepuasan komunikasi Karyawan?
1.3 Pembatasan Penelitian
Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas, maka
peneliti membuat pembatasan masalah agar lebih spesifik, yakni:
a. Penelitian ini hanya terbatas pada pengaruh employee relations dalam
bentuk rapat rutin terhadap kepuasan komunikasi karyawan.
b. Objek penelitian ini adalah seluruh karyawan perusahaan PT INALUM
yang termasuk dalam pegawai tetap dan bukan outsourcing dari
perusahaan lain dan bekerja di Smelter atau pabrik peleburan.
c. Lokasi penelitian adalah Smelter PT INALUM Kuala Tanjung Kabupaten
Batu Bara.
Periode penelitian adalah selama kurang lebih empat minggu pada bulan
Juli 2013.
1.4 Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui adakah hubungan antara kegiatan employee relations
dalam bentuk rapat rutin dan kepuasan komunikasi karyawan Smelter PT
INALUM Kuala Tanjung Kab. Batu Bara,
b. Untuk mengetahui seberapa besar employee relations memengaruhi
kepuasan komunikasi.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yakni:
a. Manfaat akademis, yakni sebagai bahan referensi dan memperluas kajian
studi Komunikasi terutama dalam studi komunikasi organisasi di
lingkungan Universitas,
b. Manfaat teoritis, adalah harapan agar penelitian ini dapat menambah
wawasan peneliti mengenai komunikasi terutama dalam bidang public
relations,
c. Manfaat praktis, diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi
bahan dalam membangun employee relationship perusahaan yang
BAB II
URAIAN TORITIS
2.1 Kerangka Teori
2.1.1 Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication
berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis
yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. Menurut
Wilbur Schramm, komunikasi akan berhasil apabila pesan yang
disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of
reference), yakni panduan pengalaman dan pengertian (collection of
experiences and meanings) yang pernah diperoleh komunikan (Effendy,
1992, hlm. 13).
Proses komunikasi dapat dibandingkan dengan tata cara produksi
dan konsumsi. Proses ini melibatkan produksi makna (production of
meaning), melalui penggunaan bahan-bahan mentah yang terdiri dari
kata-kata, gambar-gambar, lambang-lambang, dan tindakan-tindakan
komunikator, serta konsumsi makna (consumtion of meaning) melalui
pendengaran, penglihatan, sentuhan, perasaan, dan penciuman yang
dilakukan oleh khalayak. (Moore, 2005, hlm. 88)
Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai penyampaian
pesan yang dilakukan oleh seorang komunikator kepada komunikan untuk
menciptakan kesamaan pengertian. Lebih lanjut, beberapa ahli
memberikan definisi yang beragam mengenai komunikasi.
Moore (2005) dalam bukunya me jelaskan, “komunikasi
melibatkan 3 unsur: pengirim (sender), media komunikasi, dan penerima
(receiver). Keefektifan komunikasi bergantung pada ketiga unsur ini. Jika
si pengirim tidak kompeten atau pesan yang disampaikan tidak jelas, maka
si penerima tidak akan memahami makna dari tanda-tanda yang diberikan,
Everett M Rogers memberikan definisi, “komunikasi adalah proses
di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih,
dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.” (Cangara, 1998,
hlm. 18)
Lasswell memberikan sebuah formulasi yang banyak digunakan
dalam ilmu komunikasi yakni “Who Says What in Which Channel to Whom
with What Effect?” yang menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima
unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan, yaitu :
a. Komunikator ( communicator, source, sender ) adalah orang yang
menyampaikan pesan atau informasi.
b. Pesan (message) adalah pernyataan yang didukung oleh lambang,
bahasa, gambar dan sebagainya.
c. Media (channel) adalah sarana atau saluran yang mendukung pesan
bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya, maka
diperlukan media sebagai penyampai pesan.
d. Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient) adalah
orang yang menerima pesan atau informasi yang disampaikan
komunikator.
e. Efek (effect, impact, influence) adalah dampak sebagai pengaruh dari
pesan.
Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut komunikasi adalah
suatu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan
melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 1992, hlm. 10)
Jika komunikasi dipandang sebagai suatu proses, maka komunikasi
yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang berlangsung secara dinamis.
Sesuatu yang didefinisikan sebagai proses, berarti unsur-unsur yang ada di
dalamnya bergerak aktif, dinamis dan tidak statis.
Menurut Effendy komunikasi sebagai proses terbagi dua tahap
yakni:
a. Proses komunikasi primer adalah proses penyampaian pikiran dan
lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer
dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar,
warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu
“menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada
komunikan.
b. Proses komunikasi sekunder adalah proses penyampaian pesan
oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau
sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai
media pertama. Proses ini termasuk sambungan dari proses primer
untuk menembus dimensi ruang dan waktu, dalam prosesnya
komunikasi sekunder ini akan semakin efektif dan efisien karena
didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih, yang
ditopang oleh teknologi-teknologi lainnya. (Effendy, 1992, hlm.
11)
Definisi-definisi yang dikemukakan di atas tentunya belum
mewakili semua definisi komunikasi yang telah dibuat oleh banyak pakar,
namun sedikit banyaknya telah tergambarkan seperti apa yang
diungkapkan oleh Shanon dan Weaver (1949) bahwa komunikasi adalah
bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya,
sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi
menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan,
seni dan teknologi (Cangara, 2005, hlm. 20).
Lebih lanjut, dalam melakukan hubungan komunikasi dua arah
yang baik antara manajemen dan karyawan didasarkan pada asas-asas
sebagai berikut:
a. Manajemen harus bersedia secara sadar memberikan informasi
kepada karyawannya. Setiap pelaksana harus memahami bahwa
komunikasi merupakan tanggung jawab utama, dan dalam evaluasi
pelaksanaan secara keseluruhan, tanggung jawab komunikasi yang
b. Komunikasi harus berfungsi sebagai suatu sistem yang lengkap
antara manajemen dan karyawan.
c. Papan tertulis harus digunakan untuk menghindari penyimpangan
arti yang mungkin terjadi dalam komunikasi lisan.
d. Pesan harus disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang
lazim yang sesuai dengan tingkat pendidikan karyawan.
e. Media komunikasi harus dipilih dan pesan harus disiapkan oleh
komunikator yang berpengalaman. Terutama yang terpenting
bahwa komunikasi tentang infomasi penting tidak dipercayakan
kepada orang dengan pengalaman komunikasi yang terbatas.
f. Komunikasi jangan secara sengaja disalah gunakan atau disesatkan
tetapi harus faktual, saksama, dan tidak memihak.
g. Informasi harus diberikan tepat pada waktunya dan pesan harus
disampaikan dengan cepat untuk menghindari kesalahpahaman. h. Pengulangan adalah penting dalam komunikasi karyawan yang
baik. Informasi harus diulang dalam cara yang berlainan agar
mudah dipahami.
i. Informasi harus dikomunikasikan dalam jumlah yang kecil agar
mudah dipahami.
j. Tanggung jawab terhadap komunikasi karyawan yang bersifat
formal harus diserahkan kepada staf humas. ( Moore, 2005, hlm.
350)
2.1.2 Public Relations
Menurut definisi kamus terbitan Institute of Public Relations (IPR),
yakni sebuah lembaga humas terkemuka di Inggris dan Eropa, terbitan
bulan November 1987, “ humas adalah keseluruhan upaya yang
dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka
menciptakan dan memeliharaniat baik dan saling pengertian antara suatu
organisasi dengan segenap khalayaknya”. (Anggoro, 2002, hlm. 2)
Grunig dan Hunt (1984) mengatakan, “public relations (PR) adalah
organisasi dan publik,” (hlm. 6e) dan Fraser P. Seitel (2007) menjelaskan,
“public relations juga berkaitan dengan usaha suatu organisasi atau
individu meningkatan perhatian khalayaknya menggunakan topik
kepentingan umum dan berita yang secara tidak langsung membutuhkan
bayaran.” (hlm. 10e)
Studi yang dilakukan oleh Gina Furia Rubel di tahun 2007
menjelaskan bahwa sasaran dari public relations sebuah perusahaan secara
umum adalah untuk mempersuasi publik, investor, partner, karyawan, dan
orang-orang yang memiliki kepentingan untuk mengubah pandangannya
mengenai perusahaan, kepemimpinannya, produk, atau keputusan
politisnya. Aktivitas umum termasuk berbicara dalam pertemuan,
memenangkan penghargaan industri, bekerja dengan pers, dan komunikasi
karyawan.
Pada pertemuan asosiasi-asosiasi humas seluruh dunia di Mexico
City, Agustus 1978 telah menetapkan humas adalah suatu seni sekaligus
disiplin ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan,
memprediksikan setiap kemungkinan konsekuensi dari setiap kegiatannya,
memberi masukan dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, dan
mengimplementasikan program-program tindakan yang terencana untuk
melayani kebutuhan organisasi dan atau kepentingan khalayaknya.
(Anggoro, 2002, hlm. 2)
Berdasarkan ciri khas kegiatan public relations, maka fungsi public
relations menurut Cutlip, Centre dan Canfield adalah:
a. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan
organisasi,
b. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dengan
menyebarkan informasi dari organisasi ke publiknya dan
menyalurkan opini publik pada organisasi,
c. Melayani publik dan memberikan sumbangan saran kepada
d. Membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan
publiknya, sebagai khalayak sasarannya. (Kusumastuti, 2002, hlm.
23-24)
Menurut Jefkins (1992), public relations adalah sesuatu yang
merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana, baik ke dalam
maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam
rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling
pengertian. (hlm. 9) Jefkins (2005) menjelaskan bahwa ada tiga hal yang
sangat memengaruhi tingkat efektifitas humas internal, yaitu:
a. Keterbukaan pihak manajemen,
b. Kesadaran pengakuan pihak manajemen akan nilai dan arti penting
komunikasi dengan pegawai,
c. Keberadaan seorang manajer komunikasi (kepala humas) yang
tidak hanya ahli dan berpengalaman, tetapi juga didukung oleh
sumber daya teknis. (hlm. 172)
2.1.3 Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam
suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantung satu sama lain
meliputi arus komunikasi vertikal dan horizontal. (Sendjaja, 1994)
Komunikasi organisasi menurut Goldhaber didefinisikan sebagai
proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam suatu jaringan
hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi
lingkungan yang tidak pasti atau yang saling berubah-ubah. (Arni
Muhammad, 2002, hlm. 67) Komunikasi organisasi adalah proses
penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara, dan
mengubah organisasi. (Pace dan Faules, 2001, hlm. 33)
Proses komunikasi memiliki peranan penting di dalam sebuah
organisasi. Dengan komunikasi sebuah organisasi dapat melakukan
yang diutarakan oleh Redding dan Sanborn, "Communication organization
is sending and receiving information in complex organizations. Included
in this field is communication Internally, human relations, union relations
managers, communication downward or communication from superiors
upward communication/communication from subordinates to superiors,
horizontal communication or communications of people–people in the
same level, listening, writing, and communication evaluation program”.
(Masmuh, 2008, hlm. 5)
Komunikasi akan selalu terjadi dalam setiap kegiatan organisasi
dengan tujuan untuk menciptakan saling pengertian dan kerjasama pada
setiap anggota organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Seiring
dengan pernyataan Roger (1976), “komunikasi adalah darah kehidupan
yang mengalir dalam organisasi. Komunikasi meliputi seluruh kegiatan
dalam organisasi yang dapat menghasilkan alat kerja yang penting di mana
akan timbul saling pengertian serta kerjasama di antara anggota
organisasi.” (hlm. 6)
Aliran informasi dapat membantu menentukan iklim dan moral
organisasi, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada aliran informasi.
Tantangan dalam komunikasi organisasi adalah bagaimana menyampaikan
informasi keseluruh bagian organisasi dan bagaimana menerima informasi
dari seluruh bagian organisasi. (Pace dan Faules, 2001, hlm. 170) Untuk
menjalankan dan mencapai tujuan tersebut maka dalam organisasi terdapat
empat arah formal aliran informasi dalam organisasi. Keempat aliran
informasi itu adalah:
a. Komunikasi ke bawah, yaitu dalam sebuah organisasi bahwa
informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada
mereka yang berotoritas lebih rendah. Biasanya kita beranggapan
bahwa informasi bergerak dari manajemen kepada para pegawai;
namun, dalam organisasi kebanyakan hubungan ada pada
kelompok manajemen. (hlm. 184) Komunikasi ini berlangsung
mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi
dari atas ke bawah ini adalah; pemberian atau penyampaian
instruksi kerja (job instruction); penjelasan dari pimpinan tentang
mengapa suatu tugas perlu dilaksanakan (job retionnale);
penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang
berlaku (procedures and practices); pemberian motivasi kepada
karyawan untuk bekerja lebih baik. (Sendjaja, 2002, hlm. 4.5) b. Komunikasi ke atas, dalam sebuah organisasi bahwa informasi
mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang
lebih tinggi (penyelia). (Pace dan Faules, 2001, hlm. 189) Semua
karyawan dalam perusahaan kecuali pimpinan mungkin akan
melakukan komunikasi ke atas. Meminta informasi kepada
seseorang yang memiliki otoritas lebih tinggi, memberikan
permohonan atau komentar merupakan alasan tujuan dari
komunikasi ini. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini
adalah, penyampaian informasi tentang pekerjaan ataupun tugas
yang sudah dilaksanakan; penyampaian informasi tentang
persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat
diselesaikan oleh bawahan; penyampaian saran-saran perbaikan
dari bawahan; penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya
sendiri maupun pekerjaannya. (Sendjaja, 2002, hlm. 4.5)
c. Komunikasi horizontal, komunikasi ini terdiri dari penyampaian
informasi di antara rekan-rekan sejawat dalam unit kerja yang
sama. Unit kerja meliputi individu-individu yang ditempatkan pada
tingkat otoritas yang sama dalam organisasi dan mempunyai atasan
yang sama. (Pace dan Faules, 2001, hlm. 195) Fungsi arus
komunikasi horisontal ini adalah; memperbaiki koordanasi tugas;
upaya pemecahan masalah; saling berbagi informasi; upaya
memecahkan konflik; dan membina hubungan melalui kegiatan
bersama.
d. Komunikasi lintas saluran, komunikasi ini muncul dari keinginan
dengan individu yang tidak menduduki posisi atasan maupun
bawahan mereka.
Empat aliran informasi yang telah disebutkan di atas merupakan
komunikasi yang terdapat dalam organisasi dan ke empat aliran informasi
tersebut juga terdapat dalam kegiatan employee relations.
Secara fungsional kegiatan komunikasi di dalam suatu perusahaan
adalah:
• Untuk memepngaruhi setiap tindakan ke arah kemajuan dan
kesejahteraan perusahaan (the welfare of the enterprise).
• Komuniksi adalah sesuatu yang penting untuk meningkatkan
fungsi manajerial di perusahaan secara internal (internal
functioning). (Harold Koontz 1990)
2.1.4 Employee Relations
Lewis, Thornhill, dan Saunders (2003) menjelaskan bahwa pada
awalnya employee relations merupakan bidang studi yang lebih dikenal
dengan nama Industrial Relations namun telah mengalami perubahan
definisi yang dapat dikatakan menjadi lebih luas. Industrial relations
menjadi lebih dikenal dengan istilah employment relations atau employee
relations menimbang pemakaian istilahnya pada hubungan karyawan
non-industri. (hlm.3)
Menurut Kasali (1990), sasaran humas adalah sasaran komunikasi
manajemen. Dalam usaha mencapai tujuan manajemen secara efektif, salah satunya adalah hubungan dengan karyawan (employee relations)
sebagai publik internal. Rhenald Kasali mengatakan bahwa, public
relations adalah suatu pendekatan strategis dengan menggunakan
konsep-konsep komunikasi dengan cara membujuk (persuasive). Tugas public
relations adalah membina hubungan yang baik dengan berbagai pihak.
Employee relations merupakan kegiatan penting dari internal
public relations seperti yang dikemukakan oleh Frank Jefkins dalam
bukunya Public Relations (1992), bahwa publik internal atau employee
relations tersebut sama pentingnya dengan external public relations,
karena kedua bentuk hubungan masyarakat tersebut diumpamakan sebagai
dua sisi mata uang yang mempunyai arti yang sama dan saling terkait erat
satu sama lain.
Inti dari kegiatan employee relations dapat kita pahami dari definisi
employee relations oleh Yulianita (2005), “Employee relations yaitu
kegiatan public relations untuk memelihara hubungan, khususnya antara
manajemen dengan para karyawannya.”(hlm. 59)
Berdasarkan ciri khas kegiatan public relations, maka fungsi public
relations menurut Cutlip, Centre dan Canfield adalah:
a. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan
organisasi.
b. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dengan
menyebarkan informasi dari organisasi ke publiknya dan
menyalurkan opini publik pada orgaisasi.
c. Melayani publik dan memberikan sumbangan saran kepada
pimpinan manajemen demi kepentingan umum.
d. Membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan
publiknya, sebagai khalayak sasarannya. (Kusumawati, 2002, hlm.
23-24)
Studi yang dilakukan Moore pada tahun 2005 menjelaskan bahwa
koordinasi yang erat antara seksi hubungan karyawan dengan seluruh staf
serta bagian pelaksanaan organisasi adalah penting. Kegagalan dalam
menyajikan informasi kepada karyawan tentang kebijakan dan
perkembangan perusahaan yang memengaruhi kepentingannya, akan
menimbulkan kesalah pahaman, desas-desus palsu, dan kecaman. Apabila
membuat asumsinya sendiri, yang mungkin salah, atau mereka akan
mendengarkan sumber dari luar, yang mungkin memberikan informasi
yang tidak tepat. (hlm. 347)
Para karyawan juga ingin menyatakan pendapatnya kepada
manajemen tentang pekerjaan, kondisi pekerjaan, dan hal-hal lain yang
mempengaruhi kepentingannya. Pelaksanaan komunikasi dua arah yang
memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengajukan pertanyaan
dan memberikan usulan kepada manajemen adalah penting. (Moore, 1988,
hlm. 5)
Cutlip, Center dan Broom (1985) dalam buku Effective Public
Relations mengatakan, “No organization relationship are as important as
those with employee all levels”. (hlm. 311) Pernyataan tersebut
mengatakan bahwa, tidak ada hubungan komunikasi yang lebih penting
dari hubungan antar karyawan pada semua tingkatan. Tujuan kegiatan
employee relations adalah untuk mengenal, menyusun, dan kemudian
memelihara hubungan yang harmonis antara organisasi dengan para
karyawannya, yang manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua belah pihak
yaitu pimpinan dan karyawan.
Sebagaimana bahwa employee relations adalah merupakan salah
satu bentuk dari aktivitas internal public relations, maka berkaitan dengan
itu Frank Jefkins mengatakan bahwa, “internal public relations is
therefore one of the keys to successful management, requiring open
management and closing the gap between the two sides.” Dengan
demikian berarti bahwa, internal public relations kemudian menjadi salah
satu kunci menuju manajemen sukses, menuntut pengelolaan terbuka dan
menutup celah antara manajemen dan karyawan. (Jefkins, 1994, hlm. 355)
Jefkins (2005) dalam bukunya menyebutkan ada tiga hal yang
sangat memengaruhi tingkat efektifitas humas internal, yaitu:
a. Keterbukaan pihak manajemen.
b. Kesadaran pengakuan pihak manajemen akan nilai dan arti penting
c. Keberadaan seorang manajer komunikasi (kepala humas) yang
tidak hanya ahli dan berpengalaman, tetapi juga didukung oleh
sumber daya teknis. (hlm. 172)
Dengan kata lain, rapat juga merupakan usaha untuk melakukan
koordinasi yang erat antara seksi hubungan karyawan dengan seluruh staf
serta bagian pelaksanaan organisasi agar tidak muncul kesalah pahaman,
desas-desus palsu atau bahkan kecaman yang dapat memengaruhi
hubungan publik internal.
2.1.5 Kepuasan Komunikasi Organisasi
Pace dan Faules (2001) menjelaskan kepuasan adalah suatu konsep
yang biasanya berkenaan dengan kenyamanan, jadi kepuasan dalam
komunikasi berarti anda merasa nyaman dengan pesan-pesan, media dan
hubungan-hubungan dalam organisasi. Kenyamanan memiliki
kecenderungan, dalam hal ini kadang-kadang menyebabkan individu lebih
menyukai cara-cara pelaksanaan terbaru, yang sering kali gagal
menghasilkan peningkatan kinerja tugas. Sedangkan Redding
menyebutkan bahwa kepuasan komunikasi adalah semua tingkat kepuasan
seorang karyawan mempersepsi lingkungan komunikasi secara
keseluruhan. (hlm. 162-165)
Arni Muhammad (2002) mendefinisikan, “kepuasan komunikasi
karyawan adalah semua tingkat kepuasan seorang karyawan mempersepsi
lingkungan komunikasi secara keseluruhan.” (hlm. 88)
Analisis paling komprehensif mengenai kepuasan komunikasi
organisasi dilakukan oleh Downs dan Hanzen sebagai bagian dari usaha
mereka untuk mengembangkan suatu instrumen untuk mengukur kepuasan
komunikasi. Mereka mengidentifikasi delapan dimensi kepuasan
komunikasi yang stabil, yaitu:
a. Sejauh mana komunikasi dalam organisasi memotivasi dan
merangsang para pegawai untuk memenuhi tujuan organisasi dan
b. Sejauh mana para pimpinan terbuka pada gagasan, mau
mendengarkan dan menawarkan bimbingan untuk memecahkan
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan,
c. Sejauh mana para individu menerima informasi tentang lingkungan
kerja saat itu,
d. Sejauh mana pertemuan-pertemuan diatur dengan baik, pengarahan
ditulis singkat dan jelas, dan jumlah komunikasi dalam organisasi
cukup.
e. Sejauh mana terjadinya desas desus dan komunikasi horizontal yang
cermat dan mengalir bebas,
f. Sejauh mana informasi tentang organisasi sebagai suatu keseluruhan
memadai,
g. Sejauh mana para karyawan responsif terhadap komunikasi ke
bawah dan memperkirakan kebutuhan pimpinan,
h. Sejauh mana pegawai merasa bahwa mereka mengetahui bagaimana
mereka dinilai dan bagaimana kinerja mereka dihargai.
Menurut Down, kuesioner kepuasan komunikasi adalah pusaka
berharga. Dilandasi suatu proses pengembangan yang kokoh, memiliki
orientasi teoritis yang kaya, dan digunakan dalam berbagai situasi
organisasi. Kuesioner ini terbukti merupakan sarana berguna, fleksibel,
dan efisien untuk meninjau komunikasi organisasi.(Pace dan Faules, 2001,
hlm. 164)
2.2 Kerangka Konsep
Menurut Nawawi (1995), kerangka konsep sebagai hasil pemikiran yang
rasional merupakan uraian yang bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan
hasil yang dicapai dan dapat menghantarkan penelitian pada rumusan hipotesa.
(hlm. 40)
Employee relations yang meliputi rapat rutin melibatkan seluruh hubungan
komunikasi antar publik internal perusahaan (pihak perusahaan dan karyawan)
meliputi bentuk komunikasi downward (dari pihak perusahaan ke karyawan),
upward (dari karyawan ke pihak perusahaan), dan linear (sesama karyawan).
Gambar 2.1
Kerangka konsep
2.3 Variabel Penelitian
Dari kerangka konsep yang ada maka dapat ditarik variabel penelitian
sebagai berikut:
Tabel 2.1
Variabel Penelitian
VARIABEL
TEORITIS VARIABEL OPERASIONAL
Variabel Bebas (X)
Sejauh mana komunikasi dalam organisasi
memotivasi dan merangsang para karyawan untuk
memenuhi tujuan organisasi dan untuk berpihak
kepada organisasi.
Sejauh mana para pimpinan terbuka pada
gagasan, mau mendengarkan dan menawarkan
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Sejauh mana para individu menerima informasi
tentang lingkungan kerja saat itu.
Sejauh mana pertemuan-pertemuan diatur dengan
baik, pengarahan ditulis singkat dan jelas, dan
jumlah komunikasi dalam organisasi cukup.
Sejauh mana terjadinya desas desus dan
komunikasi linear yang cermat dan mengalir
bebas.
Sejauh mana informasi tentang organisasi sebagai
suatu keseluruhan memadai.
Sejauh mana para karyawan responsif terhadap
komunikasi ke bawah dan mempeerkirakan
kebutuhan pimpinan.
Sejauh mana karyawan merasa bahwa mereka
mengetahui bagaimana mereka dinilai dan
bagaimana kinerja mereka dihargai.
2.4 Definisi Operasional
Definisi operasional menurut Singarimbun dan Effendi (1995) merupakan
penjabaran lebih lanjut tentang konsep yang telah dikelompokkan dalam kerangka
konsep. Definisi operasional adalah suatu petunjuk pelaksanaan mengenai
bagaimana cara mengukur suatu variabel. (hlm. 46)
Untuk menggambarkan definisi operasional secara lengkap dan rinci maka
akan dibuat ke dalam tabel operasionalisasi konsep sebagai berikut:
Tabel 2.2
Operasionalisasi konsep
Pengukuran variabel dan indikator
employee relations dan kepuasan komunikasi.
VARIABEL DIMENSI INDIKATOR SKALA
Employee
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
3. Cukup (3-4 kali)
2. Jarang (1-2 kali)
dengan jelas dan
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
3. Cukup (3-4 kali)
suatu eputusan oleh
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
3. Cukup (3-4 kali)
2. Jarang (1-2 kali)
rekan kerja.
5. Sangat sering (7-8 kali)
4. Sering (5-6 kali)
1. Sangat tidak puas
Komunikasi antara
1. Sangat tidak puas
pimpinan
1. Sangat tidak puas
Kesediaan
1. Sangat tidak puas
Sejauh
1. Sangat tidak puas
Karyawan merasa
1. Sangat tidak puas
pertemuan-1. Sangat tidak puas
Informasi yang
1. Sangat tidak puas
Sejauh
1. Sangat tidak puas
Komunikasi antara
1. Sangat tidak puas
Sejauh
1. Sangat tidak puas
suatu
1. Sangat tidak puas
Sejauh
1. Sangat tidak puas
Karyawan selalu
1. Sangat tidak puas
Sejauh
1. Sangat tidak puas
Karyawan puas
2.5 Hipotesis
Sebagai asumsi awal penelitian maka diajukan beberapa hipotesis sebagai
berikut:
H0 : Tidak terdapat hubungan antara pelaksanaan employee relations dalam
bentuk rapat rutin terhadap kepuasan komunikasi karyawan PT INALUM.
Ha : Terdapat hubungan antara pelaksanaan employee relations dalam bentuk
rapat rutin terhadap kepuasan komunikasi karyawan PT INALUM.
Dalam bentuk statistik dapat dituliskan sebagai berikut:
Ha : �≠ 0
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
PT Indonesia Asahan Alumunium atau disingkat PT INALUM adalah
perusahaan yang didirikan pada tanggal 6 Januari 1976. PT INALUM
memperoleh Status Badan Hukum sejak tahun didirikan untuk jangka waktu 76
tahun sejak tanggal tersebut.
Pada awal masa pemerintahan Presiden Soeharto, pemerintah mulai
memikirkan tentang suatu proyek prioritas yang nantinya diperkirakan akan
menjadi sangat penting bagi kehidupan masyarakat, yakni pembangunan
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Pemikiran pemerintah ini bukan tanpa
alasan, sebab potensi sungai yang membentang deras mulai dari Danau Toba
sampai Pesisir Selat Malaka diketahui mampu memenuhi konsumsi listrik di masa
mendatang, bahkan sejak pendudukan Hindia Belanda sudah ada pengerjaan
PLTA di sungai ini walaupun mengalami kegagalan. Namun sayang, proyek masa
depan ini membutuhkan biaya besar dan pemerintah tidak dapat secara mandiri
melaksanakan proyek tersebut. Maka dari itu, pemerintah membuat suatu
penawaran investasi kepada pihak asing namun akan menjadi sulit karena
kebutuhan listrik pada masa itu belum menjadi kebutuhan utama.
Kesempatan yang sangat langka muncul dari Pemerintah Jepang yang
bersedia membantu terlaksananya pembangunan jangka panjang tersebut dengan
investasi utama yang pada akhirnya menjadi aset penting bagi negara pada saat ini
yakni proyek peleburan alumunium yang mana kebutuhan listriknya mampu
dipasok PLTA yang akan dibangun.
Prediksi akan kebutuhan listrik 36 tahun silam terbukti pada saat ini dan
jika dibandingkan biaya pembangunan Pembangkit Listrik di masa ini menjadi
jauh lebih mahal dari biaya pembangunan pada masa itu. Pasokan listrik yang
dihasilkan dari PLTA Asahan yang besar tidak hanya dinikmati oleh masyarakat
bahan baku yang paling berpengaruh bagi sekitar 80 perusahaan domestik maupun
asing.
Ruang lingkup PT INALUM adalah pada bidang industri alumunium dan
tenaga listrik. Untuk kepentingan tersebut Perseroan dapat melaksanakan kegiatan
usaha:
a. Membangun dan mengusahakan Pabrik Peleburan Alumunium di Kuala
Tanjung untuk menghasilkan, membuat dan mengelola alumunium,
produk karbon dan produk lain yang sehubungan dengan itu untuk
memasarkan segala produk dimaksud di dalam negeri serta
mengekspornya.
b. Membangun dan mengusahakan Pembangkit Listrik Tenaga Air di
Paritohan untuk membangkitkan tenaga listrik dan menyalurkan ke Pabrik
Peleburan Alumunium dan prasarana lainnya yang akan dibangun oleh
Perseroan.
PT INALUM terdiri dari:
a. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Terletak di Sungai Asahan di Paritohan, Kecamatan Pintu Pohan,
Kabupaten Toba Samosir. PLTA Inalum yang terletak di sepanjang Sungai
Asahan terdiri dari:
• Bendungan Pengatur (Regulating Dam) yang terletak di Siruar,
14,6km dari Danau Toba. Bendungan ini berfungsi untuk
menyediakan persediaan air yang mencukupi di dalam danau dan
mengatur air keluar dari Danau Toba ke Sungai Asahan. Tipe
bendungan ini adalah beton massa dengan ketinggian 39 m panjang
71 m.
• Bendungan Penadah Air Siguragura (Siguragura Intake Dam) yang
terletak di Simorea, 9 km di hilir Bendungan Pengatur. Tipe
panjang 173 m. bendungan ini berfungsi untuk mengatur pasokan
air ke stasiun pembangkit listrik Siguragura (Siguragura Power
Station) yang berada 200 m di dalam perut bumi dengan empat unit
generator. Total kapasitas tetap keempat generator tersebut adalah
203 MW. Pembangkit listrik Siguragura ini merupakan PLTA
bawah tanah pertama di Indonesia.
• Bendungan Penadah Air Tangga (Tangga Intake Dam) yang terletak di Tangga, ± 8 km di hilir Bendungan Siguragura atau 500
m di hulu Air Terjun Tangga. Tipe bendungan ini adalah beton
massa berbentuk busur dengan ketinggian 82 m dan panjang 125
m. bendungan ini merupakan bendungan busur pertama di
Indonesia. PLTA Tanggayang berada + 1,7 km di hilir Bendungan
Tangga berada di atas permukaan tanah dan memilki 4 unit
generator. Total kapasitas tetap PLTA Tangga ini adalah 223 MW.
Kemudian tenaga listrik yang dihasilkan stasiun pembangkit listrik
Siguragura dan Tangga disalurkan melalui jaringan transmisi sepanjang
120 km dengan jumlah menara 271 buah dengan tegangan 275 KV ke
Power Plant di Kuala Tanjung. Melalui gardu induk Kuala Tanjung
tegangannya diturunkan menjadi 33 KV untuk didistribusikan ke tiga
tungku reduksi dan gedung penunjang lainnya. Masing-masing gedung
tungku reduksi mempunyai 2 unit penyearah silikon dengan 37 KA dan
800 V.
Sesuai dengan perjanjian induk kelebihan tenaga listrik dengan
batasan max 50 MW diserahkan kepada pemerintah melalui PLN.
Kelebihan tenaga listrik tegangan 275 KV ini disalurkan melalui gardu
induk Kuala Tanjung ke gardu induk PLN untuk didistribusikan ke
masyarakat melaui jaringan transmisi 150 KV.
b. Pabrik Peleburan Aluminium
Terletak di Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu
• Pabrik Karbon (Carbon Plant) • Pabrik Reduksi (Reduction Plant) • Pabrik Penuangan (Casting Plant)
Pembangunan PT INALUM merupakan suatu prestasi besar pemerintah
pada masanya karena pembangunan yang dilakukan PT INALUM membutuhkan
teknologi dengan biaya yang besar sehingga tidak semua negara mampu
menyelenggarakannya.
Pembangunan dengan teknologi yang rumit pastinya membutuhkan tenaga
manusia yang handal dan kompeten sehingga banyak staf dan karyawan Indonesia
yang mendapat kesempatan untuk belajar mengenai teknik konstruksi sampai ke
negara Jepang demi memenuhi standar tersebut.
Produksi alumunium yang mampu dihasilkan oleh tungku-tungku pabrik
saat ini mencapai 249.000 ton alumunium per tahun dengan efisiensi yang
meningkat hingga lebih dari 92%, sangat jauh dari angka estimasi desain awal
pabrik yang hanya mampu menghasilkan sekitar 225.000 ton alumunium per
tahun.
Penelitian ini dilaksanakan di Smelter PT INALUM Kuala Tanjung
Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara, P.O. Box 1/ Kuala Tanjung 21257.
Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi
yang dipilih memiliki konsentrasi populasi dan intensitas rapat rutin satu atau
antar divisi yang lebih banyak daripada lokasi lainnya seperti di Medan, Jakarta,
maupun di Paritohan.
3.2 Metode Penelitian
Tipe pada penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan pendekatan
kuantitatif. Penelitian korelasional digunakan untuk meneliti hubungan di antara
variabel-variabel, dan hubungan dari variabel-variabel itu disebut sebagai
korelasi. Husein Umar (2002) dalam bukunya Metode Penelitian Organisasi
mengataan, “penelitian korelasional adalah dirancang untuk menentukan tingkat
hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Perbedaan utama
sekedar deskripsi.” (hlm. 45)Sedangkan Jalaluddin Rakhmat (2001) dalam
bukunya Metode Penelitian Komunikasi mengatakan, “metode korelasi bertujuan
untuk meneliti sejauh mana variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi pada
faktor lain. Bila hanya dua variabel yang dihubungkan, korelasinya disebut
korelasi sederhana (simple correlation).” (hlm. 27)
Penelitian ini merupakan korelasi sederhana karena hanya
menghubungkan dua variabel, yaitu variabel employee relations dan kepuasan
komunikasi.
Sedangkan untuk pengumpulan data penulis menggunaan metode
penelitian survei. Metode survei adalah riset yang diadakan untuk memperoleh
fakta-fakta tentang gejala-gejala atas permasalahan yang timbul. Kajiannya tidak
perlu mendalam sampai menyelidiki kenapa gejala-gejala tersebut ada atau sampai
menganalisis hubungan-hubungan atas gejala-gejala. Fakta-fakta yang ada lebih
digunakan untuk pemecahan masalah daripada digunakan untuk pengujian
hipotesis. Survei dapat bermanfaat, misalnya, untuk membandingkan
kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah ditentukan. Survei dapat dilakukan
dengan cara sensus maupun sampling. (Umar, 2002, hlm. 44)
Selain itu dasar pemilihan metode survei untuk memperoleh fakta-fakta
dan mencari keterangan secara faktual untuk menjawab permasalahan dalam
penelitian ini juga diperkuat dengan pernyataan Moekizat (1994) sebagai berikut:
“Riset survei adalah suatu metode ilmiah untuk mengumpulkan dan
memeriksa data yang tepat, yang seobjektif-objektifnya mengenai masalah
tertentu, dengan cara sistematik, kemudian menganalisis dan menafsirkan data
tersebut untuk memperbaiki kondisi-kondisi yang telah ada. Riset survei sebagian
besar berhubungan dengan pembuatan laporan deskriptif secara objektif dan
sebagaimana data itu benar-benar tampak. Hal ini menuntut agar peneliti mencatat
data seperti yang sesungguhnya ada, tanpa prasangka dan ketidak telitian”. (hlm.
26-27)
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan produksi tetap di
smelter PT INALUM Kuala Tanjung. Jumlah total populasi adalah 1.988 orang
yang berada dalam tiga pabrik utama, yakni:
• Pabrik Reduksi (Reduction Plant) • Pabrik Karbon (Carbon Plant) • Pabrik Penuangan (Casting Plant)
Dikarenakan Jumlah jumlah populasi yang sangat besar maka penggunaan
teknik total sampling tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu dalam penelitian
ini penulis menggunakan teknik sampling dengan rumus Taro Yamane dengan
tingkat presisi 10% serta tingat kepercayaan 90%. (Yamane, 1967)
� = �
1 +�(�)2
Keterangan:
� = sampel
� = populasi
� = presisi (pada penelitian ini ditetapkan sebesar 10%)
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan sumber data yang akan digunakan pada penelitian ini maka
data dibagi menjadi dua, yakni:
a. Data Primer
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data primer
menggunakan kuesioner. Husein Umar mengatakan bahwa angket
(kuesioner) adalah suatu cara pengumpulan data dengan menyebarkan
daftar pertanyaan kepada responden, dengan harapan mereka akan
memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut. (Arsyad dan Soeratno,
1995, hlm. 74-75)
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh
organisasi yang bukan pengolahnya. (hlm. 76) Sumber-sumber data
sekunder ada berbagai macam antara lain dari surat-surat pribadi, buku
harian, notulen rapat, sampai dokumen-dokumen resmi berbagai instansi
pemerintah. (hlm. 77) Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari
studi kepustakaan, buku-buku, dan literatur-literatur yang berhubungan
dengan objek dan permasalahan penelitian.
3.5 Teknik Analisis Data
Untuk melakukan analisa data mengenai hubungan antara variabel X dan
variabel Y pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik statistik dengan
menggunakan analisa korelasi. Sutrisno Hadi (2004) menjelaskan, “bilamana
kenaikan nilai variabel X selalu disertai kenaikan nilai variabel Y, dan sebaliknya,
turunnya nilai variabel X selalu diikuti oleh turunnya nilai variabel Y, maka
hubungan seperti itu disebut hubungan yang positif. Akan tetapi sebaliknya,
bilamana nilai variabel X yang tinggi selalu disertai oleh variabel Y yang rendah
nilainya, dan sebaliknya, bilamana nilai variabel X yang rendah selalu diikuti oleh
nilai variabel Y yang tinggi, hubungan antara kedua variabel itu disebut hubungan
negatif.” (hlm. 233)
Teknik statistik yang digunakan dalam analisa korelasi pada penelitian ini
menggunakan korelasi Pearson Product Moment, yaitu salah satu teknik yang
dikembangkan oleh Karl Pearson untuk menghitung koefisien korelasi. Riduwan
(2004) menjelaskan bahwa kegunaan uji Pearson Product Moment atau analisis
korelasi adalah untuk mencari hubungan variabel bebas (X) dengan variabel
terikat (Y) dan data berbentuk interval dan ratio.Rumus yang dikemukakan adalah
sebagai berikut:
�= �(∑ ��)−(∑ �). (∑ �)
��� ∑ �2− (∑ �)2�. {� ∑ �2− (∑ �)2}
Keterangan:
� = Koefisien korelasi �
� = Nilai dalam distribusi variabel �
� = Nilai dalam distribusi variabel �
� = Banyaknya pasangan nilai �dan nilai � (banyaknya subjek)
Korelasi Pearson Product Moment dilambangkan �, dengan ketentuan nilai
� tidak lebih dari harga ( -1 ≤ � ≤ +1 ). Apabila � = -1 artinya korelasi negatif sempurna, � = 0 artinya tidak ada korelasi, dan � = 1 berarti korelasinya sempurna
positif (sangat kuat). (Riduwan, 2004) Atau dengan kata lain, koefisien korelasi
itu bergerak antara 0,000 sampai +1,000 atau diantara 0,000 sampai -1,000,
tergantung kepada arah korelasi, nihil, positif, atau negatif. Koefisien yang
bertanda positif menunjukan arah korelasi yang positif. Koefisien yang bertanda
negatif menunjukan arah korelasi yang negatif. Sedang koefisien yang bernilai
0,000 menunjukan tidak adanya korelasi antara � dan �. (Sutrisno,
2004)Sedangkan nilai � akan dibandingkan dengan tabel interpretasi nilai �
sebagai berikut:
Tabel 3.1
Interpretasi Nilai �
Interval
Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat rendah
0,20 – 0,339 Rendah
0,40 – 0,599 Cukup
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat kuat
Untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi pada penelitian ini akan
menggunakan alat bantu software SPSS 15.0.
Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel �
terhadap variabel �, ditentukan dengan rumus koefisien determinan sebagai
��= �2. 100%
Keterangan:
�� = Besarnya koefisien penentu (determinan)
� = Koefisien korelasi (Riduwan, 2004, hlm. 218)
Sedangkan untuk menguji tingkat signifikansi dari nilai � yang didapat
terhadap hipotesa dapat dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama adalah
dengan menggunakan rumus ttest atau thitung dan dengan ketentuan tingkat
kesalahan (α) 0,1 dengan rumus derajat bebas (df) = � −2:
thitung = √� −
2
�
√1− �2
Kaidah pengujian:
Jika thitung≥ dari ttabel maka signifikan.
Jika thitung≤ dari ttabel maka tidak signifikan.
Sedangkan cara yang kedua dapat dilakukan dengan menggunakan nilai
probabilitas. Santosa dan Anshari (2005) menerangkan, “apabila suatu korelasi
memiliki nilai probabilitas kurang dari 0,1 atau �< 0,1 maka hubungan korelasi
tersebut adalah signifikan.” (hlm. 92)
Untuk mendapatkan hasil uji signifikansi digunakan nilai probabilitas,
yang didapat dengan menggunakan alat bantu software SPSS 15.0.
(3,3)