Pengaruh Earning Per Share dan Dividend Per Share Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Go Public di Indonesia

98 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

SKRIPSI

PENGARUH EARNING PER SHARE DAN DIVIDEND PER SHARE TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN GO PUBLIC DI

INDONESIA

OLEH

NAMA : MUHAMMAD IZHAR ARIEF

NIM : 060503083

DEPARTEMEN : AKUNTANSI

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Universitas Sumatera Utara

(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Earning Per

Share dan Dividend Per Share Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Go Public di Indonesia” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang

dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain

dalam konteks penulisan skripsi untuk Program Reguler S-1 Departemen

Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data

dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas dan benar adanya.

Apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima

sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.

Medan, Agustus 2010 Yang membuat pernyataan,

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

nikmat dan kemudahannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat

waktu guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Sumatera Utara.

Shalawat beriring salam penulis hadiahkan kepada Rasulullah SAW yang

syafa’atnya diharapkan di akhirat kelak.

Sepanjang proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak

bantuan, dukungan, serta do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam

kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, MEc. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak dan Ibu Dra. Mutia Ismail,

MM, Ak. selaku Ketua Departemen dan Sekretaris Departemen Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Rustam, MSi, Ak selaku Dosen Pembimbing. Terima kasih atas

semua waktu dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis selama

proses penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Wahidin, Msi, Ak selaku Dosen Pembanding/ Penguji I dan Ibu

Risanti, MSi, Ak selaku Dosen Pembanding/ Penguji II atas

(4)

5. Kedua orang tua penulis, Ayahanda H. Mashurdin Situmorang, MSi, Ak

dan Ibunda Hj. Azneini Lubis, Mpd terima kasih atas semua kasih sayang,

do’a, dukungan, didikan, dan semangat yang sangat berarti. Semoga

penulis dapat menjadi anak yang dapat dibanggakan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena

itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca

untuk penulisan selanjutnya. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini

bermanfaat bagi para pembacanya.

Medan, Agustus 2010 Yang membuat pernyataan,

(5)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada pengaruh antara antara

earning per share dan dividend per share terhadap harga saham baik secara

parsial maupun simultan pada perusahaan perusahaan go public di Indonesia. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah earning per

share dan dividend per share. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

harga saham. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006-2008. dimana jumlah populasi yang digunakan adalah sebanyak 397 perusahaan.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive

sampling dimana jumlah amatan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 26

sampel dengan 78 amatan. Pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi dan multikolineritas) dan uji hipotesis (uji t, uji F dan uji determinasi).

Hasil uji koefisien determinasi menunjukkan nilai adjusted R2 adalah sebesar 6%. Dengan demikian besarnya pengaruh yang diberikan oleh variabel earning

per share dan dividend per share terhadap harga saham adalah sebesar 6%.

Sedangkan sisanya sebesar 94% adalah dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil uji simultan diperoleh kesimpulan variabel earning per share dan dividend per share berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil uji parsial diperoleh variabel earning per

share tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dan variabel dividend per share tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham

(6)

ABSTRACT

This research has a purpose to see that there is an effect between earning per share and dividend per share to stock price neither parsial nor simultant ratio to the company in listed in Indonesia Stock Exchange. The independend variable are earning per share and dividend per share and the dependend variable is stock price. The population that is used in this research is all company that listed in Indonesia Stock Exchange since 2006-2008.

The sample was selected by purposive sampling method. The sample that was obtained amount 26 sampel with 78 observations. Analyze model that we use is multiple regression. Classic asumtion tests that we use are normality test, multicolinerity test, autocorrelation test and heteroscedastisity test. Hipothesist test that is used are F-test, t-test and Adjusted R square.

The Result of coefficient determination test show that adjusted R Square is 6%. It is show that the effect of earning per share and dividend per share is 6% to stock price. While the orther 94 % is explained by the other . earning per share and dividend per share as simultant have no effect to stock price . earning per share as partial have no significant effect to stock price . dividend per share as partial have no significan effect to stock price.

(7)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ... i

KATA PENGANTAR ... ii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Perumusan Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis ... 6

1. ... S aham ... 6

(8)

b... J

enis-Jenis Saham ... 7

2. ... E arning Per Share ... 8

3. Dividend Per Share ... 10

4. Harga Saham . ...11

B. Tinjauan Penelitian terdahulu ... 15

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian ... 16

1. Kerangka Konseptual ... 16

2. Hipotesis Penelitian... 18

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 19

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 19

C. Jenis dan Sumber Data ... 21

D. Metode Pengumpulan Data ... 22

E. Defenisi Operasional Dan Pengukuran Variabel ... 22

F. Metode Analisis Data ... 24

1. ... Uji Asumsi Klasik ... 24

2. ... Uji Hipotesis... 27

(9)

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Analisis Statistik Deskriptif ... 31

B. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 32

1. ... H

asil Uji Normalitas Data ... 32

2. ... H

asil Uji Heteroskedastisitas... 37

3. ... H

asil Uji Autokorelasi ... 39

4. ... H

asil Uji Multikolinearitas ... 40

C. ... H

asil Pengujian Hipotesis... 41

1. ... U

ji Koefisien Determinasi ... 41

2. ... H

asil Pengujian Simultan (uji F) ... 42

3. ... H

asil Pengujian Parsial (uji t) ... 43

D. ... P

(10)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 47

B. Keterbatasan ... 47

C. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 15

Tabel 3.1 Sampel Penelitian ... 20

Tabel 3.2 Daftar Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel... 23

Tabel 4.1 Statitstik Deskriptif ... 31

Tabel 4.2 One–Sample Kolmogorov–Smirnov Test (Sebelum Tranformasi) ... 36

Tabel 4.3 One–Sample Kolmogorov–Smirnov Test (Setelah Transformasi) ... 37

Tabel 4.4 Hasil Uji Heteroskedastisitas... 38

Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi ... 40

Tabel 4.6 Hasil Uji Multikolinearitas ... 41

Tabel 4.7 Uji Koefisien Determinasi ... 42

Tabel 4.8 Hasil Uji F ... 43

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 17

Gambar 4.1 Grafik Histogram (sebelum Tranformasi) ... 33

Gambar 4.2 Grafik P-P Plot (sebelum Tranformasi) ... 33

Gambar 4.3 Grafik Histogram (setelah Tranformasi) ... 34

Gambar 4.4 Grafik P-P Plot (setelah Tranformasi) ... 35

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Lampiran i Populasi Penelitian...51

Lampiran ii Sampel Penelitian ... 70

Lampiran iii Data Penelitian ... 71

Lampiran iv Statistik Deskriptif ... 72

Lampiran v Uji Normalitas ( Sebelum Transformasi) ... 73

Lampiran vi Data Variabel Penelitian (Setelah Transformasi) ... 75

Lampiran vii Uji Normalitas ( Setelah Transformasi) ... 77

Lampiran viii Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 79

Lampiran ix Hasil Uji Autokorelasi ... 80

Lampiran x Hasil Uji Multikolinearitas ... 81

(14)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada pengaruh antara antara

earning per share dan dividend per share terhadap harga saham baik secara

parsial maupun simultan pada perusahaan perusahaan go public di Indonesia. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah earning per

share dan dividend per share. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

harga saham. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006-2008. dimana jumlah populasi yang digunakan adalah sebanyak 397 perusahaan.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive

sampling dimana jumlah amatan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 26

sampel dengan 78 amatan. Pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi dan multikolineritas) dan uji hipotesis (uji t, uji F dan uji determinasi).

Hasil uji koefisien determinasi menunjukkan nilai adjusted R2 adalah sebesar 6%. Dengan demikian besarnya pengaruh yang diberikan oleh variabel earning

per share dan dividend per share terhadap harga saham adalah sebesar 6%.

Sedangkan sisanya sebesar 94% adalah dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil uji simultan diperoleh kesimpulan variabel earning per share dan dividend per share berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil uji parsial diperoleh variabel earning per

share tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dan variabel dividend per share tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham

(15)

ABSTRACT

This research has a purpose to see that there is an effect between earning per share and dividend per share to stock price neither parsial nor simultant ratio to the company in listed in Indonesia Stock Exchange. The independend variable are earning per share and dividend per share and the dependend variable is stock price. The population that is used in this research is all company that listed in Indonesia Stock Exchange since 2006-2008.

The sample was selected by purposive sampling method. The sample that was obtained amount 26 sampel with 78 observations. Analyze model that we use is multiple regression. Classic asumtion tests that we use are normality test, multicolinerity test, autocorrelation test and heteroscedastisity test. Hipothesist test that is used are F-test, t-test and Adjusted R square.

The Result of coefficient determination test show that adjusted R Square is 6%. It is show that the effect of earning per share and dividend per share is 6% to stock price. While the orther 94 % is explained by the other . earning per share and dividend per share as simultant have no effect to stock price . earning per share as partial have no significant effect to stock price . dividend per share as partial have no significan effect to stock price.

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Perkembangan yang pesat pada pasar modal saat ini sangat menarik perhatian

investor/para pemilik modal untuk berinvestasi di pasar modal. Para

investor/pemilik modal dapat membeli dan menjual saham melalui bursa efek.

Ketidakpastian berinvestasi dalam instrumen saham mendorong para investor

untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan terhadap jenis saham yang akan

dibeli. Setiap keputusan investor akan didasarkan pada analisis yang baik.

Analisis tersebut memerlukan informasi, salah satunya informasi yang diperoleh

investor adalah laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan. Analisis

laporan keuangan tersebut didasarkan oleh hasil kinerja perusahaan yang

digambarkan ukuran tertentu, ukuran yang umum digunakan adalah rasio

keuangan.

Rasio keuangan banyak macamnya, diantaranya yang digunakan investor

adalah Earning Per Share dan Dividend Per Share. Analisis yang menggunakan

Dividen Per Share merupakan salah satu analisis yang digunakan investor dalam

menentukan harga saham suatu perusahaan, karena semakin besar tingkat

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan akan mempengaruhi

harga saham, demikian pula sebaliknya. Penelitian ini mengenai Pengaruh

Earning Per Share (EPS) dan Dividend Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham

(17)

Return yang dapat dinikmati investor yang berinvestasi dalam istrumen

saham ada dua, yaitu capital gain dan dividen. Capital gain akan diperoleh

setelah terjadi transaksi dimana harga jual saham lebih tinggi dari harga belinya,

sedangkan dividen merupakan bagian keuntungan yang diberikan kepada investor

berdasarkan laba bersih yang diperoleh perusahaan. Kebijakan dividen inilah yang

akan menetapkan berapa besar bagian dari laba bersih yang menjadi laba yang

ditahan.

Untuk memperoleh pendapatan (return) yang diinginkan, seorang investor

perlu melakukan analisis penilaian terhadap kinerja perusahaan sebelum membuat

keputusan untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Analisis

penilaian saham yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan untuk

melakukan investasi meliputi analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis

mengenai penilaian yang akan dibahas dalam penilitian ini adalah analisis

fundamental. Salah satu cara yang digunakan dalam analisis ini adalah analisis

laporan keuangan dalam bentuk rasio – rasio keuangan. Banyak terdapat rasio

keuangan yang dapat menunjukkan tingkat kinerja suatu perusahaan, diantaranya

adalah Earning Per Share (EPS) dan Dividend Per Share (DPS).

Perhitungan Earning Per Share menunjukkan kemampuan suatu perusahaan

dalam menghasilkan laba untuk tiap lembar sahamnya atau merupakan suatu

gambaran mengenai sejumlah rupiah yang akan didapat oleh investor dari setiap

jumlah saham yang dimilikinya. Oleh karena itu, dengan mengetahui Earning

Per Share suatu perusahaan maka investor dapat menilai potensi pendapatan yang

(18)

Dengan demikian, EPS dapat mencerminkan pendapatan di masa yang akan

datang, EPS merupakan suatu indikator yang berpengaruh terhadap harga saham,

karena laba perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi penilaian investor

akan keadaan perusahaan. Dimana apabila EPS meningkat, investor menganggap

perusahaan mempunyai prospek yang cerah di masa yang akan datang, sehingga

akan meningkatkan harga saham suatu perusahaan. Selain itu, semakin tinggi nilai

EPS tentu saja menggembirakan pemegang saham, karena semakin besar laba

yang disediakan oleh perusahaan untuk pemegang saham.

Dividend Per Share dipilih dengan pertimbangan, semakin besar tingkat

kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan dividen per lembar saham

bagi pemilik, maka akan memberikan korelasi yang positif terhadap harga saham

perusahaan yang berimbas pada indeks harga saham. Hal ini akan mempengaruhi

investor dalam membuat keputusannya di pasar modal. Ini sesuai dengan Signally Theory yang menyatakan bahwa dividen menunjukkan sinyal prospek suatu

perusahaan dimasa yang akan datang. Terdapat argumen yang menyatakan bahwa

bukan dividen itu sendiri yang menyebabkan kenaikan atau penurunan harga

saham, tetapi prospek perusahaan, yang ditunjukkan oleh meningkatnya atau

menurunnya dividen yang dibayarkan, yang menyebabkan perubahan harga

saham. Teori ini dikenal sebagai Teori informasi dari dividen (information

Content of Dividend Theory).

Pendapatan bagi pemegang saham dilihat dari besarnya penerimaan

pembagian dividen. Pendapatan dividen diukur dari besarnya DPS. DPS adalah

(19)

karena DPS menghitung sebagai besar dividen yang akan diterima oleh investor

pada setiap lembar saham yang dimilikinya, harga saham yang digunakan adalah

harga penutupan mengingat bentuk pasar modal di indonesia yang termasuk

kategori lemah (weak form) dimana semua informasi dimasa lalu akan tercermin

pada harga saham sekarang.

Penelitian mengenai harga saham telah dilakukan oleh Denny (2008) yang

menguji pengaruh DPS dn ROE terhadap harga saham, pada lima perusahaan

sektor pertambangan periode 2002-2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

DPS dan ROE, berpengaruh signifikan terhadap harga saham baik secara parsial

maupun secara simultan. Penelitian lain dilakukan oleh Reyna (2008) yang

menguji pengaruh ROE dan EPS terhadap harga saham industri barang konsumsi

periode 2002-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ROE secara parsial

tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Sedangkan secara

simultan kedua variabel tersebut, ROE dan EPS berpengaruh secara signifikan

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul “Pengaruh Earning Per Share dan Dividend Per Share

Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Go Public di Indonesia”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, penulis

merumuskan permasalahan sebagai berikut: “Apakah ada pengaruh antara

earning per share dan dividend per share terhadap harga saham baik secara

(20)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada pengaruh antara antara

earning per share dan dividend per share terhadap harga saham baik secara

parsial maupun simultan pada perusahaan perusahaan go public di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan dan pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti sehingga

dapat diperoleh gambaran lebih jelas mengenai kesesuaian di lapangan

dengan teori yang ada.

2. Bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi

atau masukan dalam pengambilan keputusan investasi.

3. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi di

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis 1. Saham

a. Pengertian Saham

Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan

perusahaan sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen

atau distribusi lain yang dilakukan peusahaan kepada pemegang

sahamnya, termasuk hak klaim atas aset perusahaan, dengan prioritas

setelah hak klaim pemegang surat berharga lain dipenuhi jika terjadi

likuiditas.

Husnan (2002:303), menyebutkan bahwa “sekuritas (saham)

merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak

yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau

kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai

kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya.”

Sedangkan, menurut Tandelilin (2001:18) “saham merupakan surat bukti

bahwa kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham.”

Jadi, saham adalah surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal

yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan

Terbatas (PT), dimana saham tersebut menyatakan bahwa pemilik saham

(22)

b. Jenis-jenis saham

Berdasarkan cara pengalihannya, saham pada dasarnya dapat

dibedakan menjadi dua jenis, yaitu

1) Saham atas unjuk (bearer stock)

Di atas sertifikat saham ini tidak dituliskan nama pemiliknya.

Dengan pemilikan atas saham atas unjuk, seorang pemilik sangat

mudah untuk mengalihkan atau memindahkannya kepada orang lain

karena sifatnya mirip dengan uang. Pemilik saham atas unjuk ini harus

berhati-hati membawa dan menyimpannya, karena jika saham tersebut

hilang, maka pemilik tidak dapat meminta gantinya.

2) Saham atas nama (registered stock)

Di atas sertifikat saham dituliskan nama pemiliknya. Cara

peralihan dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya

dicatat dengan buku perusahaan yang khusus memuat daftar nama

pemegang saham. Jika saham tersebut hilang, pemilik dapat meminta

gantinya.

Sedangkan, berdasarkan manfaat yang diperoleh oleh pemilik, saham

juga dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1) Saham biasa

Saham biasa merupakan sumber keuangan utama yang harus ada

(23)

Kane, Markus (2002:97) menjelaskan pengertian saham biasa adalah

“kepemilikan atas hak sekuritas oleh pemilik modal perusahaan akan

diumumkan kepada masyarakat. Pemilik berhak menentukan apakah

akan menerima dividen atau menduduki posisi di dalam perusahaan”.

2) Saham preferen

Saham preferen memiliki hak untuk didahulukan dalam pembagian

laba dan sisa aset dalam likuidasi dibandingkan dengan saham biasa.

Perbedaannya dengan saham biasa adalah saham preferen yang

memiliki dividen yang tetap, namun seperti halnya saham, saham

preferen tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Menurut Fakhrudin

(2001:12) “saham preferen merupakan saham yang memiliki

karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa

menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga dan obligasi), tetapi

juga bisa mendatangkan hasil yang dikehendaki investor.”

2. Earning Per Share

Ukuran kemampuan peusahaan dalam menghasilkan laba akan membuat

investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan, karena hal itu

mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memberikan keuntungan

kepada pemegang sahamnya yang dapat dilihat dari Earning Per Share (EPS).

Earning per share menunjukkan pendapatan untuk tiap lembar saham biasa.

Pada saat saham preferen untuk menentukan jumlah yang akan dibagikan

kepada pemegang saham biasa. Apabila tidak terdapat dividen saham preferen,

(24)

dikurangi pajak dan saham preferen dengan jumlah saham biasa yang beredar.

Earning per share adalah indikator yang baik untuk menilai kinerja operasi

perusahaan. Makin tinggi nilai earning per share perusahaan, menunjukkan

bahwa saham perusahaan mempunyai keuntungan yang besar untuk tiap

lembar sahamnya.

Rasio earning per share merupakan bagian dari rasio profitabilitas yang

merupakan ikhtisar dari data informasi akuntansi yang berisi informasi yang

bermanfaat. Menurut Aliminsyah dan Padji (2005:62), “Earning per share

adalah angka yang merupakan salah satu indikator tentang nilai perusahaan.

Angka ini dihitung sebagai laba bersih dibagi dengan jumlah lembar saham

yang beredar.” EPS dirumuskan sebagai berikut:

x 100%

Pada rumus di atas, dapat dikemukakan bahwa perhitungan menggunakan

bagian laba khusus untuk pemegang saham biasa. Apabila tidak terjadi

perubahan jumlah saham beredar maka sebagai penyebut dalam persamaan

tersebut adalah jumlah lembar saham biasa pada akhir tahun. Namun, apabila

terdapat penerbitan saham baru, pemecahan saham maka jumlah saham biasa

sebagai penyebut adalah rata-rata tertimbang jumlah saham beredar. Earning

per share memiliki arti sangat penting bagi perusahaan karena menyangkut

laba yang diperoleh oleh tiap pemegang saham dalam perusahaan tersebut.

Kebanyakan perusahaan menampilkan earning per share pada halaman depan

(25)

investor yang telah terlebih dahulu menanamkan modalnya di perusahaan

tersebut tidak berpindah ke perusahan lain.

3. Dividend Per Share

Menurut Warren (1999:122). “dividend per share merupakan ukuran untuk

menunjukkan sejauh mana laba dibagikan kepada pemegang saham”.

Sedangkan menurut Riyanto (1995:269), “dividend per share digunakan untuk

mengukur berapa jumlah rupiah yang akan diberikan kepada pemilik saham

dari keuntungan tiap lembar saham”. Dividend Per Share merupakan bagian

dari rasio keuangan yang sering dilihat para calon investor maupun investor

untuk menilai keuangan suatu perusahaan.

Dividend per share merupakan rasio yang mengukur seberapa besar

dividen yang dibagikan dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar

pada tahun tertentu. Rasio ini memberikan gambaran mengenai seberapa besar

laba yang dibagikan dalam bentuk dividen kepada pemegang saham untuk tiap

lembar saham. Rasio ini dihitung dengan membagi jumlah dividen yang

dibayarkan dengan jumlah saham yang beredar. Dividend per share (DPS)

dapat dirumuskan sebagai berikut:

x 100%

Perusahaan yang dividend per share-nya lebih tinggi dibandingkan dengan

perusahaan-perusahaan sejenis akan lebih diminati oleh investor, karena

investor akan memperoleh kepastian modal yang ditanamkannya, yakni hasil

(26)

memperhatikan kebutuhan investasinya, sehingga perusahaan perlu

menetapkan kebijakan dividennya yang berkaitan dengan penentuan

pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan untuk dibayarkan kepada

pemegang saham sebagai dividen dan untuk digunakan dalam perusahaan

yang akan diperlukan untuk investasi perusahaan.

4. Harga saham

a. Pengertian harga saham

Harga saham merupakan salah satu indikator pengelolaan perusahaan.

Keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan akan memberikan kepuasan

bagi investor yang rasional. Harga saham yang cukup tinggi akan

memberikan keuntungan, yaitu berupa capital gain dan citra yang lebih

baik bagi perusahaan sehingga memudahkan bagi manajemen untuk

mendapatkan dana dari luar perusahaan. Harga saham menurut Susanto

(2002:12), yaitu “harga yang ditentukan secara lelang kontinu.”

Sedangkan, menurut Sartono (2001:70), “harga pasar saham terbentuk

melalui mekanisme permintaan dan penawaran di pasar modal”.

Harga saham mengalami perubahan naik turun dari satu waktu ke

waktu yang lain. Perubahaan tersebut tergantung pada kekuatan

permintaan dan penawaran. Apabila suatu saham mengalami kelebihan

permintaan, maka harga saham akan cenderung naik. Sebaliknya, apabila

kelebihan penawaran, maka harga saham cenderung turun. Apabila suatu

saham mengalami kelebihan permintaan, maka harga saham akan

(27)

saham cenderung turun. Sehingga perubahan harga saham mempunyai

pola tertentu dan pola tersebut akan berulang.

b. Analisis terhadap harga saham

Penilaian atas saham merupakan suatu mekanisme untuk merubah

serangkaian variabel ekonomi atau variabel perusahaan yang diamati

menjadi perkiraan tentang harga saham. Variabel-variabel ekonomi

tersebut misalnya laba perusahaan, dividen yang dibagikan, aset

perusahaan, variabilitas laba dan sebagainya. Secara umum ada dua

analisis yang sering digunakan dalam melakukan analisis saham, yaitu

analisis teknikal (technical analysis) dan analisis fundamental

(fundamental analysis).

1) Analisis teknikal

Analisis teknikal merupakan analisis yang memperhatikan

perubahan harga saham dari waktu ke waktu. Analisis ini akan

menentukan nilai saham dengan menggunakan data pasar dari saham,

seperti harga dan volume transaksi saham. Harga suatu saham akan

ditentukan oleh penawaran (supply) dan permintaan (demand) terhadap

saham tersebut.

Menurut Widoatmodjo (2005:77), “analisis teknikal merupakan

salah satu metode penilaian saham dengan mengamati pembentukan

harga saham dengan berbagai varian yang mungkin terjadi

(28)

mengasumsikan bahwa harga saham mencerminkan informasi yang

ditujukan oleh perubahan harga di waktu lalu sehingga perubahan

harga saham mempunyai pola tertentu dan pola tersebut akan berulang.

Analisis teknikal biasanya menggunakan data yang dianalisis

dengan menggunakan grafik atau program komputer. Dengan

mengamati grafik tersebut dapat diketahui bagaimana kecenderungan

harga, memperkirakan kemungkinan waktu dan jarak kecenderungan,

serta memilih saat yang paling menguntungkan untuk masuk dan

keluar pasar.

2) Analisis fundamental

Analisis fundamental merupakan alat analisis yang sangat

berhubungan dengan kondisi keuangan perusahaan. Widoatmodjo

(2007:263) menyatakan bahwa “analisis fundamental sebenarnya

merupakan metode analisis saham dengan melakukan penilaian atas

laporan keuangan.” Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006:189),

“analisis fundamental merupakan salah satu cara melakukan penilaian

saham dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator terkait

kondisi makro ekonomi dan kondisi industri suatu perusahaan”.

Dengan demikian analisis fundamental merupakan analisis yang

berbasis pada data riil untuk mengevaluasi atau memproyeksikan nilai

suatu saham.

Analisis fundamental mencoba memperhitungkan harga saham di

(29)

fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan

datang dan (2) menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut

sehingga diperoleh taksiran harga saham. Beberapa data atau indikator

yang umum digunakan dalam analisis fundamental adalah :

pendapatan, laba, pertumbuhan penjualan, imbal hasil atau

pengembalian ekuitas, margin laba, dan data-data keuangan lainnya

sebagai sarana untuk menilai kinerja perusahaan dan potensi

pertumbuhan perusahaan di masa mendatang.

Dalam analisis fundamental terdapat dua model penilaian terhadap

nilai saham yang sering digunakan para analisis sekuritas menurut

Kamaruddin (2004:81), yaitu:

Pendekatan nilai sekarang (present value)

Pendekatan nilai sekarang atau disebut juga dengan kapitalisasi laba (capitalization of income method), melibatkan proses kapitalisasi nilai-nilai masa depan yang didiskontokan menjadi nilai sekarang. Jika investor percaya bahwa nilai perusahaan bergantung pada prospek perusahaan di masa datang dan prospek ini merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan aliran kas masa depan, maka nilai perusahaan dapat ditentukan dengan mendiskotokan nilai-nilai arus kas (cash flow) di masa depan menjadi nilai-nilai sekarang.

Pendekatan Price Earning Ratio (PER)

Alternatif lain selain menggunakan arus kas atau dividen dalam menghitung nilai fundamental atau nilai intrinsik saham adalah dengan menggunakan nilai laba perusahaan (earnings). Salah satu pendekatan yang populer adalah dengan menggunakan nilai pendapatan untuk memperkirakan nilai intrinsik, yaitu dengan pendekatan Price Earnings Ratio (PER), atau disebut juga dengan

earnings multiplier.

Analisis fundamental umumnya dilakukan dengan tahapan

melakukan analisis ekonomi terlebih dahulu, diikuti dengan analisis

(30)

tersebut. Analisis fundamental didasarkan atas pemikiran bahwa

kondisi perusahaan tidak hanya dipengaruhi faktor internal tetapi juga

faktor-faktor eksternal, yaitu kondisi ekonomi dan industri.

B. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Tinjauan Penelitian terdahulu dalam penelitian ini meliputi penelitian yang

dilakukan oleh Raymond (2007) , Nurmala (2006), Denny (2008), Liestyana

(2008) dan Silvana (2009). Tinjauan penelitian terdahulu dalam penelitian ini

dapat dijelaskan pada tabel 2.1 sebagai berikut.

Tabel 2.1 terhadap harga saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. periode 2002-2006. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan analisis regresi dan korelasi dapat disimpulkan bahwa kedua variabel independen tersebut mempunyai hubungan yang kuat.

N menggunakan analisis korelasi Rank Spearman dan pengujian hipotesis dapat diketahui bahwa kebijakan dividen (Earning per share dan dividend per share) yang ditetapkan oleh ketiga perusahaan otomotif yang menjadi sampel penelitian tidak mempengaruhi harga saham menunjukkan bahwa DPS dan ROE

(31)

terhadap Harga

harga saham baik secara parsial maupun secara simultan. menunjukkan bahwa ROE secara

parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan EPS secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Sedangkan secara simultan kedua variabel tersebut, Return On Equity dan Dividend Per Share berpengaruh secara signifikan.

yaitu dividend per share mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu harga saham pada perusahaan barang konsumsi yang go public.

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian 1. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan suatu model yang menerangkan

bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor penting yang telah

diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka konseptual akan

menghubungkan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian, yaitu

variabel independen dan variabel dependen. Dalam penelitian ini variabel

independen adalah Earning Per Share (EPS) dan Dividend Per Share (DPS).

Sedangkan variabel dependen adalah harga saham. Adapun kerangka

(32)

Earning Per Share (EPS) menunjukkan pendapatan untuk tiap lembar

saham biasa. Earning per share merupakan laba bersih setelah dikurangi

pajak (Earning After Tax) dan dikurangi saham preferen dibagi dengan jumlah

saham beredar. Earning per share adalah indikator yang baik untuk menilai

kinerja operasi perusahaan. Makin tinggi nilai earning per share perusahaan,

menunjukkan bahwa saham perusahaan mempunyai keuntungan yang besar

untuk tiap lembar sahamnya, keuntungan yang besar per lembar saham akan

mengakibatkan permintaan terhadap saham perusahaan meningkat karena EPS

yang besar akan menarik minat para investor, dengan meningkatnya

permintaan maka harga saham juga akan meningkat.

Dividen merupakan bagian keuntungan bersih setelah pajak dibagi dengan

jumlah saham yang beredar, karena dividen merupakan salah satu keuntungan

investasi melalui saham, maka pihak manajemen perusahaan perlu

memperhatikan kebijakan dividen yang akan ditetapkan dalam rangka

meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk

kepemilikan saham, jika pembagian dividen perusahaan cukup besar maka Harga

Saham (Y)

Earning per Share

(X1)

Dividend per Share

(X2)

H1

H2

(33)

akan menarik minat investor sehingga meningkatkan permintaan, dan pada

akhirnya akan meningkatkan harga saham.

2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah posisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji

secara empiris (Erlina, 2007:41). Hipotesis dari penelitian ini adalah:

H1 : earning per share berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.

H2 : dividend per share berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.

H3 : earning per share dan dividend per share berpengaruh secara

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain kausal yang berguna untuk menganalisis

hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana

suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya (Umar, 2001:63).

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Menurut Erlina (2008:75) “populasi adalah sekelompok orang, kejadian,

segala seseuatu yang mempunyai karakteristik tertentu”. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh perusahaan go public pada tahun 2006-2008.

Sampel adalah bagian populasi yang digunakan untuk memperkirakan

karakteristik populasi (Erlina, 2008:75). Sampel yang digunakan dalam penelitian

ini ditentukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan

sampel berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria pengambilan sampel yang ditetapkan

oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan tersebut terdaftar di BEI selama periode 2006-2008.

2. Perusahaan tersebut mempublikasikan laporan keuangan lengkap selama

periode 2006-2008.

3. Perusahaan tersebut menghasilkan laba (earning) selama periode

2006-2008.

4. Perusahaan tersebut telah membayarkan dividen kas selama periode

(35)

5. Perusahaan tidak pernah ter-delisting selama periode 2006-2008.

ode Nama Perusahaan Sampel

.

A DM

PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk

2 .

U NSP

PT. Bakrie Sumatera Plantations Tbk

.

B NBA

PT. Bank Bumi Artha Tbk

4 .

B DMN

PT. Bank Danamon Tbk

.

B NII

PT. Bank International Indonesia Tbk

.

B MRI

PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk

.

B LTA

PT. Berlian Laju Tanker Tbk

.

B FIN

PT. BFI Finance Indonesia Tbk

.

PT. Fast Food Indonesia Tbk

1.

G GRM

PT. Gudang Garam Tbk

2.

B RAM

PT. Indo Kordsa Tbk

3.

K REN

PT. Kresna Graha Sekurindo Tbk

4.

M FIN

PT. Mandala Multifinance Tbk

5.

M YOR

PT. Mayora Indah Tbk

6.

PT. Metrodata Electronics Tbk

8.

M LBI

PT. Multi Bintang Indonesia Tbk

(36)

9. UIS 2 0.

B ATA

PT. Sepatu Bata Tbk

2

PT. Sumi Indo Kabel Tbk

2 3.

S MRA

PT. Summarecon Agung Tbk

2 4.

T SPC

PT. Tempo Scan Pacific Tbk

2 5.

T URI

PT. Tunas Ridean Tbk

2 6.

U NTR

PT. United Tractor Tbk

Sumber: Peneliti 2010

Berdasarkan kriteria yang dikemukakan di atas, dari 397 populasi perusahaan

go public yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 26 perusahaan

yang terdaftar di BEI pada periode 2006-2008.

C. Jenis dan Sumber Data

Peneliti menggunakan data sekunder dalam penelitian ini. Data sekunder

merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut, misalnya dalam bentuk

tabel, grafik, diagram, gambar dan sebagainya sehingga lebih informatif jika

digunakan oleh pihak lain. (Umar, 2003:60). Penulis mengumpulkan data

penelitian melalui situs Bursa Efek Indonesia, yaitu softcopy Indonesian Capital

Market Directory (ICMD) 2008. Adapun data yang dibutuhkan dalam penelitian

ini adalah:

(37)

2. Informasi mengenai dividen yang dibagikan perusahaan selama periode

2006-2008.

3. Informasi mengenai harga saham penutupan (closing price) perusahaan

pada akhir tahun periode 2006-2008.

4. Informasi keuangan lainnya yang berhubungan dengan variabel penelitian.

Data dalam penelitian ini adalah kombinasi antara data time series dengan data

cross section. Data time series disebut juga data deret waktu, merupakan

sekumpulan data dari suatu fenomena tertentu yang didapat dalam beberapa

interval waktu tertentu, misalnya dalam waktu mingguan, bulanan, atau tahunan.

Sedangkan, data cross section atau sering disebut data satu waktu merupakan

sekumpulan data suatu fenomena tertentu dalam satu kurun waktu tertentu (Umar,

2003:70).

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi,

dimana peneliti mempelajari, mengklasifikasikan, dan menganalisis data sekunder

berupa laporan keuangan setiap perusahaan sampel selama periode penelitian

(tahun 2006 dan tahun 2008). Sumber data adalah softcopy Indonesian Capital

Market Directory (ICMD) 2008

E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

(38)

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh besarnya

variabel independen. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah harga saham. Harga saham dalam penelitian ini adalah harga penutupan

saham (closing price) pada setiap akhir periode.

2. Variabel independen

Menurut Erlina (2008:43) variabel independen adalah variabel yang dapat

mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai hubungan

positif dan negatif bagi variabel dependen lainnya. Variabel independen yang

digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel indikator, yaitu:

a. Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share atau laba per lembar saham merupakan ukuran

kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar

saham pemilik. Laba yang digunakan adalah laba bagi pemilik, yaitu EAT

(Earning After Tax). Earning per share dapat dirumuskan sebagai berikut:

b. Dividend Per Share (DPS)

Dividend per share atau dividen per lembar saham merupakan ukuran

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kepastian dari modal yang

ditanamkannya, yaitu berupa dividen. Dividen merupakan distribusi laba

kepada para pemegang saham dalam bentuk aktiva atau saham perusahaan

(39)

Dari pejelasan di atas, maka variabel-variabel yang akan diteliti dapat

dioperasionalisasikan sebagai berikut:

Tabel 3.2

Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variab el

Defenisi

Operasional Pengukuran kala

Variabe

F. Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini, metode analisis data dilakukan dengan menggunakan

metode analisis statistik dan menggunakan software SPSS 16.0.

1. Uji Asumsi Klasik

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini model analisis

regresi sederhana dengan menggunakan bantuan software SPSS for windows

version.16. Penggunaan metode analisis regresi dalam pengujian hipotesis,

(40)

tidak. Uji asumsi Klasik terdiri atas uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji

multikolineritas dan uji autokorelasi.

a. Uji Normalitas

Menurut Gozali (2005: 110),”Uji Normalitas bertujuan untuk menguji

apakah dalam model regresi, variabel pengganggu memiliki distribusi

normal”. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai

residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji

statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara

untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu

dengan analsis grafik dan uji statistik.

1) Analisis Grafik

Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah

dengan melihat grafik histrogram yang membandingkan antara data

observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun

demikian hanya dengan melihat histogram hal ini dapat menyesatkan

khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode yang lebih handal

adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan

distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan

membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data residual akan

dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual

normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan

mengikuti garis diagonalnya.

(41)

Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas

residua l adalah uji statistik non-parametrik. Kolmogorov-smirnov(K-S).

Uji KS dibuat dengan membuat hipotesis :

Ho : data residua l berdistribusi normal,

Ha : data residual tidak berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi ditemukan korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika

variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak

ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen sama dengan

nol. Multikolineritas dapat juga dilihat dari (1) nilai tolerance dan

lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini

menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh

variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel

independen menjadi variabel dependen dan diregres terhadap variabel

independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen

yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi

nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi ( karena VIF=1/

tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

multikolineritas adalah nilai tolerance <0.10 atau sama dengan nilai VIF>

10.

(42)

Uji ini memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variabel dari residual suatu pengamatan ke

pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke

pengamatan lainnya tetap, maka disebut dengan heteroskedastisitas. Untuk

melihat ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat

grafik Scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen dengan

residualnya. Jika ada pola seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu

yang teratur maka terjadi heteroskedastisitas. Namun, jika tidak ada pola

yang jelas serta titik menyebar ke atas dan di bawah angka 0 pada sumbu

Y, berarti tidak terjadi heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi

linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka

dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena

observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.

Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas

dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada

data runtut waktu (times series) karena ”ganguan” pada seorang individu/

kelompok cenderung mempengaruhi ”gangguan” pada individu/ kelompok

yang sama pada periode berikutnya.

Pada data crossection (silang waktu), masalah autokorelasi relatif

(43)

individu. Kelompok yang berbeda berasal dari invidu kelompok yang

berbeda. Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah dalam

autokorelasi di antaranya adalah dengan Uji Durbin Watson pada buku

stastistik relevan. Menurut Sunyoto (2009:91), Pengambilan keputusan

ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut:

1) angka D-W di bawah –2 berarti ada autokorelasi

positif,

2) angka D-W di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada

autokorelasi,

3) angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi

negatif.

2. Uji Hipotesis

Hipotesis diuji dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, dengan

persamaan sebagai berikut:

Keterangan:

= Harga saham

(44)

= koefisien regresi

= Earning Per Share

= Dividend Per Share

= error (kesalahan pengganggu)

Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji koefisien determinasi, uji

F dan uji t.

a. Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai

koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R² yang kecil

berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi

variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti

variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang

dibutuhkan untuk memprediksi variabel-variabel dependen,. Secara umum

koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relative rendah

karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan,

sedangkan untuk data runtun waktu (Time series) biasanya mempunyai

nilai koefisien determinasi yang tinggi. Koefisien determinan berkisar

antara nol sampai dengan satu (0 ≤ R² ≤ 1). Hal ini berarti R²=0

menunjukkan tidak adanya pengaruh antara variabel independen terhadap

variabel dependen, bila R² semakin besar mendekati 1 menunjukkan

semakin kuatnya pengaruh variabel independen terhadap variabel

(45)

semakin kecilnya pengaruh variabel independen terhadap variabel

dependen.

b. Uji F

Uji ini pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen

yang dimasukkan dalam model ini mempunyai pengaruh secara bersama –

sama terhadap variabel dependen.

Bentuk pengujiannya :

Ho: b1 = b2 = 0, artinya variabel independen secara simultan tidak

berpengaruh terhadap variabel dependen.

Ha: b1, b2, ≠ 0, artinya semua variabel independen secara simultan

berpengaruh terhadap variabel dependen.

Kriteria pengambilan keputusan :

Jika probabilitas < 0.05, maka Ha diterima,

Jika probabilitas > 0.05, maka Ha ditolak.

c. Uji t

Uji statistik t disebut juga sebagai uji signifikan individual. Uji ini

menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel independen secara parsial

terhadap variabel dependen.

Bentuk pengujiannya adalah :

Ho:b1 = 0, artinya suatu variabel independen secara parsial tidak

berpengaruh terhadap variabel dependen.

Ha : b1 ≠ 0, artinya variabel independen secara parsial berpengaruh

(46)

Kriteria pengambilan keputusan :

Jika probabilitas < 0.05 maka Ha diterima

Jika probabilitas > 0.05, maka Ha ditolak.

(47)

BAB IV

ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif ini memberikan gambaran mengenai nilai minimum, nilai

maksimum, nilai rata-rata, dan standart deviasi untuk data yang digunakan dalam

penelitian:

Tabel 4.1 Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Earning_Per_Share 78 7 12120 774.18 1992.382

Dividen_Per_Share 78 1 15000 556.78 1977.047

Harga_Saham 78 60 55000 6171.14 12968.154

Valid N (listwise) 78

Berdasarkan data dari tabel 4.1 dapat dijelaskan bahwa:

a. variabel earning per share (EPS) memiliki nilai minimum (terkecil) 7, nilai maksimum (terbesar) 12120, mean (nilai rata-rata) 774.18 dan Standart

Deviation (simpangan baku) variabel ini adalah 1992.383,

b. variabel deviden per share (DPS) memiliki nilai minimum (terkecil) 1, nilai maksimum (terbesar) 15000, mean (nilai rata-rata) 556.78 dan Standart

(48)

c. variabel harga saham (HS) memiliki nilai minimum (terkecil) 60 nilai maksimum (terbesar) 55000, mean (nilai rata-rata) 6171.14 dan Standart

Deviation (simpangan baku) variabel ini adalah 12968.154,

B. Hasil Uji Asumsi Klasik 1. Hasil Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak,

dengan membuat hipotesis sebagai berikut:

Ho : data residual terdistribusi normal,

Ha : data residual terdistribusi tidak normal.

Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi apakah residual

berdistribusi normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik.

Pada penelitian ini akan digunakan kedua cara tersebut.

a) Analisis Grafik

Analisis grafik dapat digunakan dengan dua alat, yaitu grafik

histogram dan grafik P-P Plot. Data yang baik adalah data yang memiliki

pola distribusi normal. Pada grafik histogram, data yang mengikuti atau

mendekati distribusi normal adalah distribusi data dengan bentuk lonceng.

Pada grafik P-P Plot, sebuah data dikatakan berdistribusi normal apabila

titik-titik datanya tidak menceng ke kiri atau ke kanan, melainkan

(49)

Gambar 4.1 Grafik Histogram

Gambar 4.2 Grafik P-P Plot

Dengan melihat tampilan grafik histogram, penulis melihat bahwa

(50)

yang menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi secara normal. Pada

grafik P-P Plot terlihat titik-titik tidak menyebar di sekitar garis diagonal

dan jauh dari garis diagonal. Kedua grafik tersebut menunjukkan bahwa

model regresi menyalahi asumsi normalitas.

Pada penelitian ini penulis menggunakan metode transformasi data

untuk menormalkan data penelitian. Menurut Ghozali (2005:32), “data

yang tidak terdistribusi secara normal dapat ditransformasikan agar

menjadi normal”. Salah satu trasformasi data yang dapat dilakukan adalah

dengan mentransformasikan data ke LG10 atau logaritma 10 atau LN.

Hasil transformasi data dapat dilihat pada lampiran vi. Setelah dilakukan

transformasi, penulis melakukan pengujian ulang terhadap uji normalitas

untuk melihat kembali apakah data penelitian ini telah berdistribusi normal

atau tidak. Berikut hasil uji normalitas data setelah transformasi:

(51)

Gambar 4.4 P-Plot

Dari grafik histogram dan normal probability plot pada gambar 4.3 dan

gambar 4.4 di atas terlihat bahwa setelah dilakukan transformasi data ke

logaritma natural (Ln) terlihat bahwa grafik histogram memperlihatkan

pola distribusi yang normal, dan grafik P-P Plot memperlihatkan titik-titik

menyebar di sekitar/mengikuti arah garis diagonal yang menunjukkan pola

distribusi normal.

b) Uji Statistik

Pengujian normalitas data dengan hanya melihat grafik dapat

menyesatkan kalau tidak melihat secara seksama, sehingga kita perlu

melakukan uji normalitas data dengan menggunakan statistik agar lebih

meyakinkan. Untuk memastikan apakah data di sepanjang garis diagonal

berdistribusi normal, maka dilakukan uji Kolmogorov-Smirnov (1 sample

KS) dengan melihat data residualnya apakah berdistribusi normal atau

tidak. Jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka data tersebut

(52)

distribusi data adalah tidak normal. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov dapat

dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2

Hasil uji Kolmogorov-Smirnov pada penelitian ini menujukkan

probabilitas = 0,000. Dengan demikian, data pada penelitian ini tidak

berdistribusi normal karena probabilitas < 0.05. Hasil transformasi data

dapat dilihat pada lampiran vi. Setelah dilakukan transformasi, penulis

melakukan pengujian ulang terhadap uji normalitas untuk melihat kembali

apakah data penelitian ini telah berdistribusi normal atau tidak.

Hasil uji Kolmogorov-Smirnov pada tabel 4.3. Pada penelitian ini

menujukkan probabilitas = 0,917. Dengan demikian, data pada penelitian

ini berdistribusi normal dan dapat digunakan untuk melakukan Uji-t dan

Uji-F karena 0,917> 0,05 (H0 diterima). Berikut hasil uji normalitas data

setelah transformasi:

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 78

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation 8.14219001E3

Most Extreme Differences Absolute .323

Positive .323

Negative -.308

Kolmogorov-Smirnov Z 2.852

Asymp. Sig. (2-tailed) .000

(53)

Tabel 4.3

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized

Residual

N 78

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation .76614200

Most Extreme Differences Absolute .063

Positive .045

Negative -.063

Kolmogorov-Smirnov Z .555

Asymp. Sig. (2-tailed) .917

a. Test distribution is Normal.

2. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Menurut Ghozali (2005:105), “Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji

apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas

dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah

yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. Kebanyakan

data crosssection mengandung situasi heteroskedastisitas karena data ini

menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (kecil,sedang,dan besar)”.

Pengujian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji grafik dengan

melihat grafik scatterplot yaitu dengan cara melihat titik-titik penyebaran pada

(54)

dengan nilai absolute residual (absut) sebagai variabel dependennya.

Perumusan hipotesis adalah :

H0 : tidak ada heteroskedastisitas,

Ha : ada heteroskedastisitas.

Jika signifikan < 0,05 maka Ha diterima (ada heteroskedastisitas) dan jika

signifikan > 0,05 maka H0 diterima (tidak ada heteroskedastisitas).

Gambar 4.5

Uji Heteroskedastisitas (scatterplot) Tabel 4.4

Hasil Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) .575 .187 3.067 .003

LN_Earning_Per_Share .067 .078 .281 .860 .392

(55)

Pada gambar 4.5 tentang grafik scatterplot diatas terlihat titik-titik

menyebar secara acak tidak membentuk sebuh pola tertentu yang jelas serta

tersebar baik diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu y. Hal ini berarti

tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi sehingga model regresi

layak dipakai untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel

dependen. Dari tabel 4.4 diatas kita dapat melihat bahwa nilai signifikansi

untuk variabel ln earning per share adalah 0,392 (>0.05). nilai signifikansi

untuk variabel ln deviden per share adalah 0,265 (>0.05). Dari hasil ini maka

dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas karena

variabel independennya memiliki signifikan lebih besar dari 0,05

3. Hasil Uji Autokorelasi

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model linear ada

korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan periode

t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah yang bebas dari

autokorelasi. Masalah autokorelasi umumnya terjadi pada regresi yang

datanya time series. Untuk mendeteksi masalah autokorelasi dapat dilakukan

dengan menggunakan uji Durbin Watson. secara umum panduan mengenai

angka Durbin-Watson dapat diambil patokan sebagai berikut:

1) angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif,

2) angka D-W di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi,

(56)

Tabel 4.5

Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .143a .020 -.006 .42891 1.303

a. Predictors: (Constant), LN_Deviden_Pershare, LN_Earning_Per_Share

b. Dependent Variable: LN_Harga_Saham

Tabel 4.4 memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 1.303 Angka ini

terletak diantara -2 dan +2, dari pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa

tidak terjadi autokorelasi positif maupun autokorelasi negatif dalam penelitian

ini.

4. Uji Multikolineritas

Menurut Ghozali (2005:91), “Uji multikolinearitas dilakukan untuk

menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel

bebas (independen)”. Adanya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari

tolerance value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF). Batas tolerance

value adalah 0,1 dan batas VIF adalah 10. Apabila tolerance value < 0,1 atau

VIF > 10 = terjadi multikolinearitas. Apabila tolerance value > 0,1 atau VIF <

10 = tidak terjadi multikolinearitas. Hasil pengujian terhadap multikolinearitas

(57)

Tabel 4.6

a. Dependent Variable: LN_Harga_Saham

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa tidak ada satupun

variabel bebas yang memiliki nilai VIF lebih dari 10 dan tidak ada yang

memiliki tolerance value lebih kecil dari 0,1.Jadi dapat disimpulkan bahwa

penelitian ini bebas dari adanya multikolinearitas. Dari hasil analisis, didapat

nilai VIF untuk variabel earning per share adalah 8.146 (<10) dan nilai

tolerance sebesar 0.123 (>0,1), nilai VIF untuk variabel deviden per share

adalah 8.146 (<10) dan nilai tolerance sebesar 0.123 (>0.1). Hasil ini maka

dapat disimpulkan bahwa semua variabel bebas yang dipakai dalam penelitian

ini lolos uji gejala multikolinearitas.

C. Hasil Pengujian Hipotesis 1. Uji Koefisien Determinasi

Besarnya kontribusi antara sumbangan yang diberikan oleh variabel

earning per share dan dividen per share terhadap harga saham pada

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat diketahui dari nilai

koefisien determinasi ganda atau R2. Dalam penelitian ini penulis

(58)

(2005:83),”oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan

nilai pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak seperti nilai

R2 ,nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen

ditambahkan kedalam model”. Adjusted R2 pada intinya mengukur seberapa

jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Dalam hal ini adjusted R2 digunakan untuk mengetahui seberapa besar

pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengukuran

koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.7 sebagai berikut:

Tabel 4.7

a. Predictors: (Constant), LN_Deviden_Pershare,

LN_Earning_Per_Share

b. Dependent Variable: LN_Harga_Saham

Besarnya Adjusted R2 berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan SPSS 16 diperoleh sebesar 0,006. Dengan demikian besarnya pengaruh yang

diberikan oleh variabel deviden per share dan earning per share terhadap

harga saham adalah sebesar 6%. Sedangkan sisanya sebesar 94 % adalah

dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

2. Hasil pengujian Simultan (Uji F)

Uji F digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara

bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji F dapat dicaridengan

(59)

jugamembandingkan hasil dari probabilitas value. Jika probabilitas value >

0,05maka Ho ditolak dan jika probabilitas value < 0,05 maka Ha diterima.

berdasarkan tabel 4.8 dibawah ini terlihat bahwa:

Tabel 4.8 Hasil Uji F

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .287 2 .143 .779 .462a

Residual 13.798 75 .184

Total 14.084 77

a. Predictors: (Constant), LN_Deviden_Pershare, LN_Earning_Per_Share

b. Dependent Variable: LN_Harga_Saham

Pada tabel Anova dapat diketahui nilai dengan nilai probabilitas value dalam

penelitian ini adalah 0,25 yang berarti angka ini berada diatas 0,05. Kesimpulan

yang dapat diambil adalah variabel dividen per share dan earning per share

secara simultan (bersama) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

3. Hasil Pengujian Parsial (Uji t)

Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel

terikat yaitu antara dividen per share dan earning per share terhadap harga

saham dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap koefisien regresi yaitu

dengan uji t. Berdasarkan perhitungan SPSS versi 16 for windows yang dapat

dilihat pada tabel 4.9, dapat diketahui nilai probabilitas value masing-masing

variabel independen terhadap variabel dependen. Jika probabilitas value > 0.05

maka Ho ditolak dan dan jika probabilitas value < 0,05 maka Ha diterima.

(60)

Tabel 4.9

a. Dependent Variable: LN_Harga_Saham

Variabel earning per share berpengaruh positif dan tidak signifikan

terhadap terhadap harga saham. Hal ini dapat terlihat dari nilai signifikan

0.392 diatas (lebih besar) 0.05. Variabel dividen per share berpengaruh

negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham. Hal ini dapat terlihat dari

nilai signifikan 0.265 diatas (besar) 0.05. Dari tabel 4.9 diatas dapat diperoleh

model persamaan regresi berganda sebagai berikut:

Y = 0.575 +0.067X1 +0.74 X2 +e

Keterangan:

a. Nilai konstanta adalah 0.575 artinya apabila variabel earning per share dan deviden per share bernilai nol (tidak ada) maka harga saham akan

bernilai sebesar sebesar 0.575,

b. Nilai koefisien earning per share adalah 0.067 artinya Setiap kenaikan

earning per share akan meningkatkan nilai harga saham sebesar 0.067. c. Nilai koefisien deviden per share adalah 0.74 artinya setiap kenaikan

Figur

Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Tabel 2 1 Tinjauan Penelitian Terdahulu . View in document p.30
Tabel 3.1 Sampel Perusahaan
Tabel 3 1 Sampel Perusahaan . View in document p.35
tabel, grafik, diagram, gambar dan sebagainya sehingga lebih informatif jika
tabel, grafik, diagram, gambar dan sebagainya sehingga lebih informatif jika . View in document p.36
Tabel 3.2 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Tabel 3 2 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel . View in document p.39
Gambar 4.1 Grafik Histogram
Gambar 4 1 Grafik Histogram . View in document p.49
Gambar 4.2 Grafik P-P Plot
Gambar 4 2 Grafik P P Plot . View in document p.49
Gambar 4.3 Histogram
Gambar 4 3 Histogram . View in document p.50
Gambar 4.4  P-Plot
Gambar 4 4 P Plot . View in document p.51
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.52
Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.53
Gambar 4.5 Uji Heteroskedastisitas (scatterplot)
Gambar 4 5 Uji Heteroskedastisitas scatterplot . View in document p.54
Tabel 4.4 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Tabel 4 4 Hasil Uji Heteroskedastisitas . View in document p.54
Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi
Tabel 4 5 Hasil Uji Autokorelasi . View in document p.56
Tabel 4.6 Hasil Uji Multikolineritas
Tabel 4 6 Hasil Uji Multikolineritas . View in document p.57
Tabel 4.7 Hasil Pengujian Determinasi
Tabel 4 7 Hasil Pengujian Determinasi . View in document p.58
Tabel 4.8 Hasil Uji F
Tabel 4 8 Hasil Uji F . View in document p.59
Tabel 4.9 Hasil Uji t
Tabel 4 9 Hasil Uji t . View in document p.60

Referensi

Memperbarui...