• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pesan-Pesan Simbolik Dalam Upacara Panjang Jimat Di Keraton Kasepuhan Cirebon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pesan-Pesan Simbolik Dalam Upacara Panjang Jimat Di Keraton Kasepuhan Cirebon"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

PESAN-PESAN SIMBOLIK DALAM UPACARA PANJANG JIMAT

DI KERATON KASEPUHAN CIREBON

(Studi Etnografi Komunikasi Dalam Upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon)

Diajukan untuk memperoleh gelar strata 1 (S1) Pada

Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Humas

Oleh :

SelvyYuliana

41807041

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI HUMAS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG

(2)

ii

KERATON KASEPUHAN CIREBON

(Studi Etnografi Komunikasi dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pesan-pesan simbolik dalam tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dimunculkan pertanyaan tentang bagaimana aspek linguistic dalam tradisi Panjang Jimat, bagaimana aspek interaksi social dalam tradisi Panjang Jimat, bagaimana aspek kebudayaan dalam tradisi Panjang Jimat dan pesan-pesan simbolik dalam tradisi Panjang Jimat.

Tipe penelitian ini adalah kualitatif. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah studi etnografi komunikasi dengan teknik analisis deskriptif. Sebagian besar data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi serta didukung oleh studi literature. Informan yang didapatkan sebanyak 4 orang yang berstatuskan sebagai bagian dari keraton kasepuhan dan warga kota Cirebon. Setelah dilakukan wawancara, peneliti melakukan kategorisasi dari pertanyaan yang diajukan dan hasil tersebut di analisis secara deskriptif menurut observasi serta wawancara kecil untuk memastikan bahwa informan mengetahui banyak tentang tradisi Panjang Jimat.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada umumnya informan yang berpengalaman mengabdi di Keraton Kasepuhan sejak lama. Aspek linguistic dalam tradisi Panjang Jimat yaitu menggunakan bahasa verbal bahasa kromo inggil atau jawa babasan dan bahasa Indonesia, sedangkan bahasa non verbalnya yaitu pakaian adat yang dipakai dan adat jalan jongkok pada saat upacara Pnajang Jimat berlangsung. Aspek interaksi socialnya yaitu persepsi masyarakat yang menyambut gembira upacara tahunan ini yang biasa disebut dengan muludan dan situasi yang terjadi pada saat upacara Panjang Jimat berlangsung khidmat karena acara sacral. Nilai yang terkandung dalam tradisi Panjang Jimat adalah untuk mengingat 2 kalimat syahadat dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

(3)

THE PALACE KASEPUHAN CIREBON

(Ethnographic Study of Communication in the Ceremony of Panjang Jimat in the Palace Kasepuhan Cirebon)

By :

Selvy Yuliana NIM. 41807041

This research under the guidance of

Ferry Darmawan, S.Sos., M.Ds.

This study aims to determine the symbolic messages in the tradition of Panjang Jimat in the Kasepuhan Cirebon. To achieve that goal then raised the question of how the linguistic aspects of the tradition Panjang Jimat, how aspects of social interaction in the tradition of Panjang Jimat, how aspects of culture in the tradition of Panjang Jimat and the symbolic messages in the tradition of Panjang Jimat.

This type of research is qualitative. While research method used is an ethnographic study of communication with descriptive analysis techniques. Most of the data collected through interviews and observations and supported by literature studies. Informants who earned as much as 4 people who domiciled as part of the palace and the town of Cirebon Kasepuhan. After the interviews, researchers conducted a categorization of the questions asked and the results are analyzed descriptively according to a small observation and interviews to ensure that informants know much about the Panjang Jimat traditions.

The results of these studies show that in general informants who served in the Palace Kasepuhan experienced for a long time. Linguistic aspects of the tradition of Panjang Jimat is using verbal language or Java language kromo inggil babasan and the Indonesian language, while non-verbal language that is customary clothing worn and custom street squat at Panjang Jimat the ceremony took place. Socialnya interaction aspects of society that welcomed the perception of this annual ceremony is usually called Muludan and situations that occur during a solemn ceremony took place because the Panjang Jimat sacred event. The value contained in the tradition of Panjang Jimat is to remember two sentences creed and celebrate the birth of Prophet Muhammad.

(4)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada TUHAN YME, atas berkat rahmat-NYA peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dan tidak lupa kepada kedua orang tua peneliti yang memberikan dukungan baik moril maupun materi yang tak terhingga besarnya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Dengan Restu dan Doa, peneliti akan tunjukan yang terbaik untuk Bapak Abdul Karim dan Ibu Titin Suprihatin. Terima kasih yang tak terbatas atas segala dukungan dan motivasinya. Dari membantu mulai awal penelitian bolak-balik ke keraton Kasepuhan hingga akhir penelitian. Insyaallah ananda akan menjadi anak yang bisa dibanggakan dan membahagiakan keluarga. Amien.

Penyusunan skripsi ini dibuat berdasarkan hasil penelitian penulis di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Dalam kesempatan ini, peneliti mengucapkan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penelitian sehingga tersusun skripsi ini : 1. Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs.,M.A. Selaku Dekan FISIP Universitas

Komputer Indonesia.

2. Drs. Manap Solihat, S.Sos.,M.Si. selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations Universitas Komputer Indonesia. 3. Ferry Darmawan, S.Sos.,M.Ds. selaku Dosen Pembimbing Usulan

Penelitian dan skripsi.

(5)

vii

5. Pak Iman, Pak RM. Hafid Permadi, Pak Thamrin, Pak Ade, selaku informan peneliti.

6. Feni Dwi Novitasari dan M. Ahdi Maulidin, adik-adikku tersayang yang telah banyak membantu dengan saran dan perhatian serta kasih sayangnya, dan sepupu-sepupuku terima kasih banyak.

7. Buat Semua teman-teman di ilmu komunikasi UNIKOM, dari IK-1 dan IK-Humas 3 yang telah membantu dalam segala hal.

8. Buat teman-teman sepermainan dan seperjuangan Yuning, Mia, Nung, Fryska, Ratih, EP 16 dan Azhii yang telah menemani dan membantuku dalam segala suka dan duka selama ini.

9. Buat Semua Pihak yang telah membantu penulis, yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu namanya terimakasih atas semangat dan bantuan serta sarannya terima kasih banyak.

Semoga nasehat doa restu dan bantuan serta amal kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari TUHAN YME. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini, baik isi maupun bentuk penyajiannya masih jauh dari kesempurnaan sehingga masih banyak kekurangan yang perlu diberi saran dan kritik dari semua pihak penulis harapkan agar dapat bermanfaat bagi penulis khususnya maupun bagi pembaca sekalian.

Bandung, Juli 2011

(6)

1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Cirebon merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki sejarah dan kebudayaan yang menarik untuk diminati. Terbentuknya akulturasi budaya Cirebon yang menjadi ciri khas masyarakat hingga dewasa ini lebih disebabkan oleh factor geografis dan historis. Dalam konteks ini, sebagai daerah pesisir, Cirebon sejak sebelum dan sesudah masuknya pengaruh islam merupakan pelabuhan yang penting di pesisir utara Jawa. Dalam posisinya yang demikian Cirebon menjadi sangat terbuka bagi interaksi budaya yang luas dan dalam. Cirebon menjadi tempat bertemunya berbagai suku, agama dan bahkan antar bangsa.

Cirebon kota kecil ini, memiliki corak budaya yang kaya karena menjadi persimpangan lalu lintas niaga sejak dulu. Persis terletak diperbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, baik bahasa maupun budayanya agak khas yaitu “Tidak

Jawa, Tidak Sunda” atau “Ya Jawa, Ya Sunda”. Cirebon menerima pengaruh

manapun dan meramunya menjadi budaya yang unik, sekaligus kaya warna bangunan bersejarah disini.

(7)

Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati I. Dan sebutan nama Pakungwati berasal dari Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Kemudian diperluas dan diperbaharui oleh Sunan Gunung Jati pada tahin 1483 M. Kini, Keraton Kasepuhan sangat potensial sebagai objek wisata, baik sebagai wisata sejarah maupun sebagai wisata budaya. Sebagai situs sejarah dan situs budaya dengan nilai estetika religious yang tinggi. Lokasi Keraton Kasepuhan terletak di kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon.

Yang menjadi sorotan utama dari Keraton Kasepuhan adalah salah satunya tradisi Panjang Jimat yang biasa diadakan setahun sekali pada bulan Robiul Awal dalam kalender Hijriyah sebagai tanda untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW atau disebut dengan “Muludan” oleh masyarakat Cirebon. Panjang Jimat tradisi Maulid Nabi di Keraton Cirebon sudah ada sejak zaman Khalifah Sholahudin Al Ayubi 1993 M, tujuannya tidak lain untuk mengenang dan selalu meneladani Nabi Muhammad SAW.

(8)

Bagi sebagian orang Islam tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebagai salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Di tanah Jawa sendiri tradisi ini telah ada sejak zaman walisongo, pada masa itu tradisi Maulid Nabi dijadikan sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam dengan menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat. Pada saat ini tradisi Maulid/Mauludan di Jawa disamping sebagai bentuk perwujudan cinta umat kepada Rasul juga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Walisongo.

(9)

Di Cirebon upacara Maulid Nabi (selanjutnya disebut dengan Panjang Jimat) dilaksanakan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Syarief Hidayatullah. PProsesi adat "Panjang Jimat" adalah refleksi dari proses kelahiran

Nabi Muhammad SAW dan merupakan acara puncak dari serangkaian kegiatan Maulud Nabi Muhamad di Keraton Kasepuhan Cirebon. “Panjang” berarti

sederetan iring-iringan berbagai benda pusaka dalam prosesi itu dan “Jimat” berarti “siji kang dirumat” atau satu yang dihormati yaitu kalimat sahadat “La Illa

ha Illahah” sehingga arti gabungan dua kata itu adalah sederetan persiapan

menyongsong kelahiran nabi yang teguh mengumandangkan kalimat sahadat kepada umat di dunia. Pada umumnya masing-masing upacara terdiri atas kombinasi berbagai macam unsur upacara seperti berkorban, berdo‟a, bersaji

makan bersama, berprosesi, semadi, dan sebagainya. Urutannya telah tertentu sebagai hasil ciptaan para pendahulunya yang telah menjadi tradisi (AB Usman dkk, 2004: 205).

(10)

Rhamadon (Ramadhan). Upacara ritual individu diantaranya adalah upacara pada masa kehamilan disebut dengan Siraman,Nenamu (selamatan kelahiran bayi), upacara hari kelahiran, upacara pernikahan, upacara kematian.

(11)

Pencucian terlihat dilakukan di sebuah bak besar yang dilakukan oleh para kaum, yaitu penjaga masjid Agung Keraton Kasepuhan. Setelah dicuci, piring-piring dan guci tersebut dilap menggunakan kain putih bersih oleh kerabat keraton.Dampak langsung dari upacara ini adalah terbukanya peluang usaha dadakan selama 7 hari berturut-turut, sangat ramai sebut saja seperti sebuah pasar malam, hanya saja selain barang-barang biasa, diperjual belikan juga berbagai makanan dan cinderamata khas cirebon.

Seperti yang telah diketahui bahwa upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan sudah ada sejak jaman dahulu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Cirebon. Hal ini khususnya dikarenakan masyarakat masih memegang teguh adat istiadat ataupun kebiasaan akan tradisi yang diwariskan turun temurun. Secara prinsip, upacara Panjang Jimat tetap dilakukan dari tahun ke tahun, namun dalam pelaksanaannya lebih ditingkatkan yakni dilaksanakan dengan lebih besar, meriah, diisi dengan program pembangunan dan dikaitkan dengan pariwisata. Terdapat suatu indikasi bahwa hal ini disebabkan karena sudah memasuki jaman globalisasi yang serba modern.

(12)

disesaki oleh berbagai pedagang, mulai dari pedagang makanan, pakaian, barang antik, mainan anak, peralatan rumah tangga, dan sebagainya.

Spradley menjelaskan focus perhatian etnografi adalah pada apa yang individu dalam suatu masyarakat lakukan (perilaku), kemudian apa yang mereka bicarakan (bahasa), dan terakhir apakah ada hubungan antara perilaku dengan apa yang seharusnya dilakukan dalam masyarakat tersebut, sebaik apa yang mereka buat atau mereka pakai sehari-hari (artifak). Fokus penelitian etnografi adalah keseluruhan perilaku dalam tema kebudayaan tertentu.

Pada etnografi komunikasi, yang menjadi focus perhatian adalah perilaku komunikasi dalam tema kebudayaan tertentu, jadi bukan keseluruhan perilaku seperti dalam etnografi. Perilaku komunikasi dalam etnografi komunikasi adalah perilaku dalam konteks social cultural. Asumsi dasar Skinner adalah perilaku mengikuti hukum-hukum perilaku (lawfulness of behavior) perilaku dapat diramalkan dan perilaku dpat dikontrol.

Prof. DR. Harsya Bachtiar mengatakan budaya dengan berbagai macam simbolnya yang berisikan “kepercayaan” pengetahuan nilai-nilai dan aturan-aturan jelas mempengaruhi pemikiran, perasaan, sikap dan perilaku setiap manajer sebagai manusia yang berhubungan dengan manusia-manusia lainnya.

Sehingga dari latar belakang diatas dapat dirumuskan “Bagaimana Pesan-pesan Simbolik dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon(Studi Etnografi Komunikasi Dalam Tradisi Panjang Jimat di

(13)

1.2Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka identifikasi masalah yang penulis kemukakan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana aspek linguistik dalam tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon ?

2. Bagaimana aspek interaksi sosial dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon ?

3. Bagaimana aspek kebudayaan dalam tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon ?

4. Bagaimana pesan-pesan simbolik dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon ?

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Penelitian dimaksudkan untuk menggambarkan secara mendalam tentang pesan-pesan simbolik dalam tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

(14)

2. Untuk mengetahui aspek interaksi sosial dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.

3. Untuk mengetahui aspek kebudayaan dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.

4. Untuk mengetahui pesan-pesan simbolik dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.

1.4Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sebagai rujukan bagi peneltian-penelitian selanjutnya sehingga mampu menunjang perkembangan dalam bidang ilmu komunikasi dan menambah wawasan serta referensi pengetahuan tentang pesan-pesan simbolik dalam tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon khususnya.

1.4.2 Kegunaan Praktis

a. Kegunaan bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang Ilmu Komunikasi khususnya tentang pesan-pesan simbolik dan etnografi komunikasi.

a. Kegunaan bagi Akademik

(15)

melakukan penelitian pada kajian etnografi komunikasi dan budaya. Juga memberikan kesadaran kepada masyarakat agar lebih peduli dan terus menjaga nilai-nilai historis yang masih tersimpan di Keraton Kasepuhan karena selain sebagai asset di bidang pariwisata, juga sebagai asset pendidikan bagi generasi mendatang.

1.5 Kerangka Pemikiran

1.5.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

Komunikasi dalam kehidupan manusia terasa sangat penting, karena dengan komunikasi dapat menjembatani segala bentuk ide yang akan disampaikan seseorang. Dalam setiap melakukan komunikasi unsur penting diantaranya adalah pesan, karena pesan disampaikan melalui media yang tepat, bahasa yang di mengerti, kata-kata yang sederhana dan sesuai dengan maksud, serta tujuan pesan itu akan disampaikan dan mudah dicerna oleh komunikan.

Adapun pesan itu menurut Onong Uchjana Effendy, menyatakan bahwa pesan adalah: “suatu komponen dalam proses komunikasi berupa

(16)

Sedangkan Abdul Hanafi menjelaskan bahwa pesan itu adalah “produk fiktif yang nyata yang di hasilkan oleh sumber–encoder”. (Siahaan, 1991:62). Kalau berbicara maka“pembicara”itulah pesan, ketika menulis surat maka “tulisan surat” itulah yang dinamakan pesan. Pesan dapat dimengerti dalam tiga unsur yaitu kode pesan, isi pesan dan wujud pesan.

1. Kode pesan adalah sederetan simbol yang disusun sedemikian rupa sehingga bermakna bagi orang lain. Contoh bahasa Indonesia adalah kode yang mencakup unsur bunyi, suara, huruf dan kata yang disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai arti.

2. Isi pesan adalah bahan untuk atau materi yang dipilih yang ditentukan oleh komunikator untuk mengomunikasikan maksudnya.

3. Wujud pesan adalah sesuatu yang membungkus inti pesan itu sendiri, komunikator memberi wujud nyata agar komunikan tertarik akan isi pesan didalamnya. (Siahaan,1991:62).

(17)

Etnografi komunikasi menurut Spradley yang dikutip oleh Kuswarno, adalah perilaku komunikasi dalam tema kebudayaan tertentu, jadi bukan keseluruhan perilaku seperti etnografi.

Menurut Deddy Mulyana etnografi komunikasi lebih terfokus pada sosiolinguistik dan budaya dari suatu peristiwa komunikasi berbeda dengan etnografi sebagai sebuah metode yang meliputi materi pembahasan yang lebih luas.

Model komunikasi dari sudut pandang etnografi komunikasi menjadi penting karena :

1. Untuk membedakan bagaimana etnografi komunikasi memandang perilaku komunikasi dan peristiwa komunikasi dari ilmu yang lain.

2. Untuk mempermudah pemahaman bagaimana etnografi komuniikasi dalam memandang perilaku komunikasi dan peristiwa komunikasi.

(18)

Gambar 1.1

Model Etnografi Komunikasi

Aspek linguistic Tindak ujaran

Tindak ujaran Peristiwa Komunikasi pemolaan komunikasi

Tindak ujaran aspek kebudayaan

Aspek interaksi social

Sumber : Kuswarno, 2008.

1.5.2 Kerangka Pemikiran Konseptual

Dari definisi menurut Onong Effendy, menyatakan bahwa pesan adalah: “suatu komponen dalam proses komunikasi berupa paduan dari

(19)

Dan semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan symbol-simbol. Contohnya seperti pesan yang terkandung dalam pencucian piring-piring panjang sebelum upacara Panjang Jimat/Pelal yang memiliki pesan tersendiri bagi masyarakat Cirebon khususnya agar selalu memiliki hati yang bersih ditandai dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan memiliki makna arti dari maksud pencucian piring-piring tersebut yang sejarahnya diturunkan secara turun temurun. Salah satunya adalah piring-piring panjang, beras yang dibungkus oleh kain putih. Perilaku setiap orang yang memiliki tanggung jawab mengemban tugas sebagai „abdi dalem‟ tidaklah mudah karena dibutuhkan keseriusan

dan kesetiaan dalam upacara Panjang Jimat ini, karena menyangkut dengan tata karma dan komunikasi dengan para leluhur yang patut untuk di jaga dan dilestarikan.

(20)

berlangsung, juga peran yang terlibat dalam upacara Panjang Jimat. Dan aspek kebudayaan mencakup stuktur social, nilai dan sikap, peta / skema kognitif ,proses enkulturasi (transmisi pengetahuan dan keterampilan) mencakup nilai yang terkandung dalam tradisi Panjang Jimat dan sikap dari para abdi dalemnya itu sendiri dalam mengemban tugas sebagai pembawa perangkat alat upacara Panjang Jimat.

Hasil percampuran budaya Cirebon yang membuat kota ini memiliki kekhasan dalam sejarah dan peninggalan-peninggalan baik itu berupa benda atau tradisi yang diturunkan secara turun temurun, ditambah dengan bentuk bangunan dan alur sejarah dari berdirinya Keraton Kasepuhan yang membuat masyarakat Cirebon memiliki keunikan, terutama dalam komunikasi.

1.6 Pertanyaan Penelitian

1. Aspek linguistik dalam tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon

a) Bagaimana bahasa verbal dan nonverbal yang digunakan pada saat upacara tradisi Panjang Jimat ?

2. Aspek interaksi social dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon

a) Bagaimana persepsi masyarakat mengenai upacara tradisi Panjang Jimat ?

(21)

c) Siapa yang berhak menyeleksi petugas atau bagian dari upacara tradisi Panjang Jimat ?

d) Peran apa saja yang terdapat dalam upacara tradisi panjang Jimat ?

e) Bagaimana hubungan komunikasi antar abdi dalem pada saat upacara tradisi Panjang Jimat ?

3. Aspek kebudayaan dalam Tradisi Panjang Jimat ?

a) Bagaimana struktur social bagi tamu undangan yang hadir pada saat upacara tradisi Panjang Jimat ?

b) Apakah ada batasan antara keluarga keraton dengan tamu undangan dan abdi dalem pada saat upacara Panjang Jimat ? c) Apa nilai yang terkandung tradisi Panjang Jimat

d) Bagaimana sikap abdi dalem dalam menjalani tugasnya ?

e) Hal-hal apa saja yang dilarang dilakukan pada saat upacara tradisi Panjang Jimat berlangsung ?

4. Pesan-pesan simbolik dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon

a) Symbol apa saja yang terdapat dalam upacara tradisi Panjang Jimat ?

(22)

c) Apakah ada pesan khusus yang terkandung dalam tradisi Panjang Jimat ?

1.7 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif studi etnografi komunikasi. Karena metode ini dapat menggambarkan, menjelaskan dan membangun hubungan dari kategori-kategori dan data yang ditemukan. Hal ini sesuai dengan tujuan dari studi etnografi komunikasi untuk menggambarkan, menganalisis dan menjelaskan perilaku komunikasi dari suatu kelompok social.

Sesuai dengan dasar pemikiran etnografi komunikasi, yang menyatakan bahwa saluran komunikasi yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan struktur berbicara, dan kebudayaan suatu kelompok masyarakat.

Dengan demikian, etnografi komunikasi membutuhkan alat atau metode penelitian yang bersifat kualitatif untuk dapat memahami objek kajiannya itu. Penelitian (berparadigma) kualitatif mengasumsikan bahwa perilaku dan makna yang dianut sekelompok manusia hanya dapat dipahami melalui analisis atas lingkungan alamiah (natural setting) mereka.

(23)

penjelasannya mengenai metode penelitian kualitatif melalui definisi penelitian kualitatif dari Kirk dan Miller, yang menyebutkan bahwa sebagai tradisi tertentu dalam ilmu social metode penelitian kualitatif secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri, dan berhubungan dengan orang-orang tersebut, baik dalam bahasannya maupun dalam peristilahannya. Etnografi komunikasi sangat relevan termasuk dalam ranah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif akan menuntun etnografi komunikasi untuk memahami bagaimana bahasa, komunikasi, dan kebudayaan saling bekerja sama untuk menghasilkan perilaku komunikasi yang khas. Etnografi komunikasi juga merupakan ilmu sekaligus metode penelitian dalam ilmu social.

1.8 Subjek dan Informan Penelitian 1.8.1 Subjek Penelitian

(24)

1.8.2 Informan Penelitian

Tabel 1.1 Informan penelitian

No Nama Jabatan

1 Bapak Iman Sugiman Pengelola Keraton Kasepuhan Cirebon 2 Bapak RM. Hafid

Permadi

Koordinator kemantren baju hitam Keraton kasepuhan Cirebon 3 Bapak Thamrin Iskandar Koordinator kemantren baju putih

Keraton Kasepuhan Cirebon 4 Ade Permadi Salah satu warga kota Cirebon

1.9 Teknik Pengumpulan Data

a. Interview atau wawancara

Esterberg sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Sugiyono dalam bukunya memahami penelitian kualitatif mendefinisikan interview sebagai berikut.

“a meeting of two persons to exchange information and idea

through question and responses, resulting in communication and joint constructionog meaning about a particular topic”.

(25)

Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu.

b. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen dapat berupa tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

c. Studi Pustaka

Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan menggunakan buku atau referensi sebagai penunjang penelitian, dan dengan melengkapi atau mencari data-data yang diperlukan peneliti dari literature, referensi, majalah, makalah, internet dan lainnya.

1.10Teknik Analisis Data

(26)

serta Spradley. Miles and Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu reduction, data display, dan conclusion drawing/verivication. Berikut adalah model interaktif dalam analisis data.

Gambar 1.2

Komponen dalam analisis data (interactive model)

Sumber : Miles dan Huberman, 1984

1.11Lokasi dan Waktu Penelitian 1.11.1 Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data dalam penyusunan laporan penelitian ini, maka peneliti melakukan penelitian di Keraton Kasepuhan Cirebon yang beralamatkan Jl. Kasepuhan, kelurahan kasepuhan, kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Data collection

Data Reduction

Data display

Conclusions:

(27)

1.11.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini terhitung dari bulan Februari 2011 hingga bulan Juli 2011.

Tabel 1.2

Jadwal Kegiatan penelitian 2011

No Kegiatan Bulan

Februari Maret April Mei Juni Juli

1 TAHAP

PERSIAPAN

Pengajuan Judul

Persetujuan Judul

2 TAHAP

PENELITIAN

Wawancara

3 TAHAP

PENYUSUNAN

Pengolahan Data

Analisis Data

Penyusunan

4 SIDANG

(28)

1.12 Sistematika Penulisan

Sistematika penelitian dibuat untuk member gambaran umum tentang penelitian yang dilakukan dan untuk member kejelasan mengenai hasil penelitian dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini membahas mengenai latar belakang masalah penelitian dan identifikasi masalah penelitian, maksud penelitian dan tujuan kegunaan penelitian (meliputi; kegunaan teoritis, kegunaan praktis), kerangka pemikiran (meliputi; kerangka pemikiran teoritis,kerangka pemikiran konseptual), pertanyaan penelitian, metode penelitian, subjek dan informan penelitian atau narasumber (meliputi: subjek penelitian, informan penelitian), teknik pengumpulan data, teknik analisa data, lokasi dan waktu penelitian (meliputi; lokasi penelitian, waktu penelitian), dan diakhiri dengan sistematika penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

(29)

BAB III OBJEK PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan mengenai objek penelitian mengenai Keraton Kasepuhan Cirebon dan lain-lain.

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti akan membahas semua data-data yang telah diperoleh dari informan dan data lapangan yang terkumpul, mencakup tentang deskripsi identitas informan, deskripsi hasil penelitian, dan pembahasan mengenai hasil penelitian.

BAB V

(30)

25

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Ilmu Komunikasi

2.1.1 Definisi Ilmu Komunikasi

Komunikasi adalah salah satu syarat bagi berlangsungnya hubungan antar manusia atau interaksi social diantara sesame manusia, karena pada dasarnya, manusia tidak bisa hidup sendirian, manusia adalah mahluk social yang harus selalu berkomunikasi dengan manusia lain. Oleh karena itu, komunikasi merupakan hal biasa terjadi di dalam kehidupan manusia. Seseorang melakukan komunikasi karena ingin mengadakan hubungan dengan lingkungannya.

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama”, communication atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Para pakar komunikasi mendefinisikan komunikasi secara berbeda, berikut beberapa definisi tentang komunikasi:

Menurut Effendy komunikasi berarti “proses penyampaian pesan

(31)

Carl I. Hovland mendefinisikan “komunikasi adalah proses yang

memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambing-lambang verbal) untuk merubah perilaku orang lain (komunikan).” (Mulyana, 2007: 68)

Harold Lasswell menjelaskan bahwa “(Cara yang baik untuk

menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Atau siapa mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?” (Mulyana, 2007: 68)

Pendapat para ahli tersebut mwmwbrikan gambaran bahwa komponen-komponen pendukung komunikasi termasuk efek yang ditimbulkan, antara lain adalah:

1. Komunikator (komunikator, source, sender) 2. Pesan (message)

3. Media (channel)

4. Komunikan (komunikan receiver) 5. Efek (effect)

(32)

penyampaian dari komunikator terhadap komunikan, tetapi lebih dari itu setiap kegiatan komunikasi mempunyai media yang mampu menimbulkan suatu efek tertentu bagi tujuan atau sasaran.

2.1.2 Unsur-unsur Komunikasi

Komunikasi akan terjadi bila telah memenuhi unsur-unsur yang terdapat didalamnya. Artinya, komunikasi hanya bisa terjadi kalau didukung oleh adanya sumber, pesan, media, penerima, dan efek. Unsur-unsur ini bisa juga disebut komponen atau elemen komunikasi. Untuk melihat unsur-unsur komunikasi berikut beberapa unsur komunikasi menurut Cangara:

Gambar 2.1

Unsur-unsur Komunikasi

Sumber: Cangara, 1988

MEDIA PENERIMA EFEK

PESAN SUMBER

(33)

Keterangan: 1. Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Sumber sering disebut pengirim, komunikator atau dalam bahasa inggrisnya disebut source,sender,decoder.

2. Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Isi pesan bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau proganda. Dalam istilah asing pesan diterjemahkan dengan kata message, content, atau information 3. Media

Media ialah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Selman atau media komunikasi terbagi atas media massa dan media nirmassa. Nirmassa merupakan komunikasi tatap muka sedangkan media massa menggunakan saluran yang berfungsi sebagai alat yang dapat menyampaikan pesan secara massal.

4. Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai atau negara.

(34)

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh bisa diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.(Cangara, 2004:21-25).

2.1.3 Fungsi Komunikasi

Komunikasi memiliki beberapa fungsi. Menurut Effendy ada empat fungsi utama dari kegiatan komunikasi, yaitu:

1. Menginformasikan (to inform)

Adalah memberikan informasi kepada masyarakat, memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide atau pikiran dan tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain

2. Mendidik (to educate)

Adalah komunikasi merupakan sarana pendidikan, dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada orang lain sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan

3. Menghibur (to entertain)

(35)

4. Mempengaruhi (to influence)

Adalah fungsi mempengaruhi setup individu yang berkomunikasi, tentunya berusaha Baling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan apa yang diharapkan.(Wendy, 1997 : 36).

2.1.4 Pengertian Media Komunikasi

Media komunikasi adalah semua sarana yang dipergunakan untuk memproduksi, memproduksi mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi. Jenis media komunikasi berdasarkan fungsinya media komunikasi dibagi menjadi 3 yakni :

a) Fungsi Produksi, ialah media komunikasi yang berguna untuk menghasilkan informasi, contohnya adalah komputer pengolah kata word processor;

b) Fungsi Reproduksi, ialah media komunikasi yang kegunaannya untuk memproduksi ulang dan menggandakan informasi, misalnya audio tapes recorder dan videotapes.

(36)

Berdasarkan bentuknya media komunikasi dibagi menjadi 3 yaitu :

a) Media Cetak, ialah segala barang cetak yang dapat dipergunakan sebagai sarana penyampaian pesan, contohnya seperti surat kabar, leaflet, brosur, bulletin dan sebagainya.

b) Media Visual atau Media Pandang, artinya untuk menerima pesan yang disampaikan digunakan indera penglihatan, Misalnya film, televisi, lukisan, foto, pameran, dll

c) Media Audio, untuk menerima pesan yang disampaikan dengan menggunakan indera pendengaran, seperti radio, telepon, tape recorder dan sebagainya.

d) Media Audio-Visual, ialah media komunikasi yang dapat dilihat sekaligus ddengar. Jadi untuk dapat mengakses informasi yang disampaikan, digunakan indera penglihatan dan pendengaran sekaligus. Yang termasuk dalam jenis ini adalah tv dan film.

Berdasarkan jangkauan penyebaran informasi terbagi menjadi 2 yaitu media komunikasi external dan media komunikasi internal.

Media Komunikasi Eksternal adalah media komunikasi yang dipergunakan untuk menjalin hubungan dan menyampaikan informasi dengan pihak-pihak yang berada di luar perkantoran. Media komunikasi eksternal yang sering digunakan antara lain :

(37)

saham, konsumen, pelanggan, mitra kerja, dan sebagainya. Contohnya adalah majalah perusahaan, bulletin, brosur dan leaflet. Media eksternal cetak ini berfunghsi sebagai :- Media Penghubung;- Sarana menyampaikan keterangan-keterangan kepada kalayak- Media Pendidikan- Sarana membentuk opini publik- Sarana membangun citra.

2. Radio merupakan media audio yang mampu mengirimkan pesan berupa informasi lisan (suara) kepada khalayak. Beberapa perkatoran memilih memanfaatkan radio untuk menyampaikan informasi secara luas kepada khalayak sasaran. Penggunaan media radio oleh suatu perusahaan dapat dilakukan dengan mendirikan pemancar, mengisi acara pada stasiun radio, TV Kepentingan perusahaan untuk menyampaikan pesan kepada public melalui televisi dapat ditempuh dengan memasang iklan, mengundang wartawan atau reporter televisi agar memuat berita tentang kegiatan perusahaan atau dapat pula mengajukan permohonan untuk mengisi acara

3. Telepon Sebagai media komunikasi, telepon sangat penting untuk menyampaikan dan menerima informasi lisan secara cepat dengan pihak public eksternal

(38)

menyurat merupakan salah satu kegiatan penting diperusahaan. Banyak informasi yang keluar masuk perusahaan melalui media surat, karena surat merupakan media komunikasi yang efektif apabila yang terkait tidak dapat berhubungan secara langsung atau lisan. Internet merupakan media komunikasi berbasis komputer teknlogi informasi. Internet banyak dipilih oleh perusahaan guna menjalin kemampulan dalam menjangkau khalayak. Keunggulan media komunikasi internet adalah

a) Mudah, cepat dan murah dengan jangkauan dunia

b) Tidak ada birokrasi baik secara teknis maupun non teknis

c) Tersebar di berbagai pelosok kota

Media Komunikasi Internal adalah semua sarana penyampaian dan penerimaan informasi di kalangan public internal perusahaan, dan

biasanya bersifat non komersial. Penerima maupun pengirim informasi adalah orang dalam atau orang dalam tau public internal, terdiri atas pimpinan, angota, pegawai, maupun unit-unit kertja yang ada di dalam perusahaan tersebut, Jenis media yang dipergunakan secara internal ini antara lain :

a. Telepon

(39)

c. Papan pengumuman

d. House Journal Bentuknya dapat berupa majalah bulanan, profil perusahaan, prospectus, bulletin dan tabloid.

e. Printed material Media komunikasi dan publikasi berupa barang-barang cetakan seperti booklet, pamlet, kop surat, logo, kartu nama dan memo.

f. Media pertemuan dan pembicaraan

2.2 Tinjauan Tentang Pesan-pesan Simbolik 2.2.1 Definisi Pesan Simbolik

Komunikasi dalam kehidupan manusia terasa sangat penting, karena dengan komunikasi dapat menjembatani segala bentuk ide yang akan disampaikan seseorang. Dalam setiap melakukan komunikasi unsur penting diantaranya adalah pesan, karena pesan disampaikan melalui media yang tepat, bahasa yang di mengerti, kata-kata yang sederhana dan sesuai dengan maksud, serta tujuan pesan itu akan disampaikan dan mudah dicerna oleh komunikan.

Adapun pesan itu menurut Onong Uchjana Effendy, menyatakan bahwa pesan adalah: “suatu komponen dalam proses komunikasi berupa

(40)

lambang, bahasa/lambang-lambang lainnya disampaikan kepada orang lain”.(Effendy, 1989:224).

Sedangkan Abdul Hanafi menjelaskan bahwa pesan itu adalah “produk fiktif yang nyata yang di hasilkan oleh sumber–encoder”. (Siahaan, 1991:62). Kalau berbicara maka“pembicara”itulah pesan, ketika menulis surat maka “tulisan surat” itulah yang dinamakan pesan. Pesan dapat dimengerti dalam tiga unsur yaitu kode pesan, isi pesan dan wujud pesan.

1. Kode pesan adalah sederetan simbol yang disusun sedemikian rupa sehingga bermakna bagi orang lain. Contoh bahasa Indonesia adalah kode yang mencakup unsur bunyi, suara, huruf dan kata yang disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai arti.

2. Isi pesan adalah bahan untuk atau materi yang dipilih yang ditentukan oleh komunikator untuk mengomunikasikan maksudnya.

3. Wujud pesan adalah sesuatu yang membungkus inti pesan itu sendiri, komunikator memberi wujud nyata agar komunikan tertarik akan isi pesan didalamnya. (Siahaan,1991:62).

(41)

melibatkan tiga unsure, yakni symbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih, dan hubungan antara symbol dengan rujukan. Ketiga hal ini merupakan dasar bagi smeua makna simbolik.

Symbol itu sendiri meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau kita alami. Symbol yang digunakan dalam hal ini adalah istilah-istilah yang digunakan dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Tidak kurang, symbol adalah istilah analitis dari istilah budaya antropologi, seperti etnografi, masalah deskriptif dan budaya. Setiap masyarakat memiliki memiliki cadangan bahan yang tidak terbatas untuk mencipatakan symbol.

(42)

megurangi kompleksitas dalam pengalaman manusia. Melakukan menyederhanakan kompleksitas pengalaman dengan menggunakan symbol-simbol yang memperlakukan corak-corak yang berbeda seolah-olah corak itu adalah merah, kuning, biru dan lain-lain. Tanpa kategori simbolik kita akan diperbudak dalam kekhususan itu.

2.3 Tinjauan Tentang Tradisi Upacara Panjang Jimat 2.3.1 Definisi Tradisi Upacara Panjang Jimat

Tradisi merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang. Tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk berbuat sesuatu dan mengulang sesuatu sehingga menjadi kebiasaan.

Tradisi (Bahasa Latin: traditio, “diteruskan”) atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat,biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

(43)

merupakan cara yang terbaik untuk menyelesaikan persoalan. Biasanya sebuah tradisi tetap saja dianggap sebagai cara atau model terbaik selagi belum ada alternatif lain. Misalnya dalam acara tertentu masyarakat sangat menggemari kesenian rabab.Rabab sebagai sebuah seni yang sangat digemari oleh anggota masyarakat karena belum ada alternatif untuk menggantikannya disaat itu. Tapi kerena desakan kemajun dibidang kesenian yang didukung oleh kemajuan teknologi maka bermunculanlah berbagai jenis seni musik. Dewasa ini kita sudah mulai melihat bahwa generasi muda sekarang sudah banyak yang tidak lagi mengenal kesenian rabab. Mereka lebih suka seni musik dangdut misalnya.

(44)

sebuah tradisi. Tentu saja sebuah tradisi akan pas dan cocok sesuai situasi dan kondisi masyarakat pewarisnya.

Selanjutnya dari konsep tradisi akan lahir istilah tradisional. Tradisional merupakan sikap mental dalam merespon berbagai persoalan dalam masyarakat. Didalamnya terkandung metodologi atau cara berfikir dan bertindak yang selalu berpegang teguh atau berpedoman pada nilai dan norma yang belaku dalam masyarakat. Dengan kata lain setiap tindakan dalam menyelesaikan persoalan berdasarkan tradisi.

Seseorang akan merasa yakin bahwa suatu tindakannya adalah betul dan baik, bila dia bertindak atau mengambil keputusan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Dan sebaliknya, dia akan merasakan bahwa tindakannya salah atau keliru atau tidak akan dihargai oleh masyarakat bila ia berbuat diluar tradisi atau kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakatnya. Disamping itu berdasarkan pengalaman (kebiasaan)nya dia akan tahu persis mana yang menguntungkan dan mana yang tidak. Di manapun masyarakatnya tindakan cerdas atau kecerdikan seseorang bertitik tolak pada tradisi masyarakatnya.

(45)

kegenerasi selanjutnya secara dinamis. Artinya proses pewarisan kebudayaan merupakan interaksi langsung (berupa pendidikan) dari generasi tua kepada generasi muda berdasarkan nilai dan norma yang berlaku. Proses pendidikan sebagai proses sosialisasi, semenjak bayi anak belajar minum asi, anak belajar tingkah laku kelompok dengan tetangga dan di sekolah. Anak menyesuaikan diri dengan nilai dan norma dalam masyarakat dan sebagainya.

Setiap anak harus belajar dari pengalaman di lingkungan sosialnya, dengan menguasai sejumlah keterampilan yang bermanfaat untuk merespon kebutuhan hidupnya. Dengan demikian dalam masyarakat banyak kebiasaan dan pola kelakuan yang dipelajari, seperti bahasa, ilmu pengetahuan seni dan budaya. Ini berarti juga bahwa konten pendidikan tidak bisa terlepas dari tradisi. Terjadinya proses internalisasi dalam diri setiap anggota masyarakat sudah pasti landasannyatradisional, yang meliputi sikap mental, cara berfikir dan cara bertindak menyelesaikan persoalan hidup.

(46)

kelahiran Nabi Muhammad. Sebutan Panjang Jimat sendiri adalah berasal dari dua kata yaitu Panjang dan Jimat. Panjang yang artinya lestari dan Jimat yang berarti pusaka. Jadi, secara etimologi, panjang jimat berarti upaya untuk melestarikan pusaka paling berharga milik umat Islam selaku umat Nabi Muhammad yaitu dua kalimat syahadat. Atau kalau merujuk pada utak atik gatuk dalam bahasa Jawa Cirebon, jimat yang dimaksud adalah siji kang dirohmat yakni, lafadz Syahadat itu sendiri. Tahun lalu juga sebenarnya Portal Cirebon juga sudah membahas secara lengkap mengenai panjang jimat ini.

Pada puncak malam 12 Rabiul Awal, yang oleh masyarakat Cirebon disebut dengan malam pelal inilah diadakan ritual seremonal Panjang Jimat dengan mengarak berbagai macam barang yang sarat akan makna filosofis, diantaranya barisan orang yang mengarak nasi tujuh rupa atau nasi jimat dari Bangsal Jinem yang merupakan tempat sultan bertahta ke masjid atau mushala keraton, yang memiliki makna filosofis sebagai hari kelahiran nabi yang suci yang dilambangkan melalui nasi jimat ini. Nasi jimat sendiri konon berasal dari beras yang disisil (proses mengupas beras dengan tangan dan mulut) selama setahun oleh abdi keraton perempuan yang sepanjang hidupnya memutuskan untuk tidak pernah menikah atau disebut juga dengan perawan sunti.

(47)

kemudian nadaran, manggar, dan jantungan yang merupakan simbol dari betapa agung dan besarnya orang yang dilahirkan pada saat itu, yakni Nabi Muhammad SAW. selanjutnya, di belakang orang-orang yang membawa jantungan dan sebagainya itu, menyusul barisan abdi dalem keraton yang membawa air mawar dan kembang goyang yang melambangkan air ketuban dan ari-ari sang jabang. Kemudian di barisan berikutnya, ada abdi dalem keraton yang pembawa air serbat yang disimpan di 2 guci yang melambangkan darah saat bayi dilahirkan. Kemudian 4 baki yang menjadi lambang 4 unsur yang ada dalam diri manusia, yakni angin, tanah, api dan air.

Iring-iringan ini yang berawal dari Bangsal Prabayaksa akan menuju satu tempat yakni Langgar Agung di mana nantinya akan di sambut oleh pengawal pembawa obor yang yang bisa dimaknai sebagai sosok Abu Thalib, sang paman nabi ketika beliau menyambut kelahiran keponakannya lahir yang pada saatnya kemudian tumbuh menjadi manusia agung pengemban amanat dari Tuhan untuk menyebarkan agama Islam.

(48)

Pengajian dipimpin imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu makanan tadi disantan bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat yang berjubel-jubel di luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar menyentuh tangan PRA Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila berhasil menyentuh calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam kehidupannya. Tak heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal keraton.

2.3 Tinjauan Tentang Studi Etnografi Komunikasi 2.3.1 Definisi Studi Etnografi Komunikasi

Studi etnografi komunikasi adalah pengembangan dari antropologi linguistic yang dipahami dalam konteks komunikasi. Studi ini diperkenalkan pertama kali oleh Dell Hymes pada tahun 1962, sebagai kritik terhadap ilmu linguistic yang terlalu memfokuskan diri pada fisik bahasa saja. Definisi etnografi komunikasi itu sendiri adalah pengkajian peranan bahasa dalam perilaku komunikatif suatu masyarakat, yaitu cara-cara bahasa dipergunakan dalam masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya.

(49)

acuan untuk memberikan tempat bahasa dalam suatu kebudayaan haruslah difokuskan pada komunikasi bukan pada bahasa. Bahasa hidup dalam komunikasi, bahasa tidak akan mempunyai makna jika tidak dikomunikasikan.

Pada hakikatnya, etnografi komunikasi adalah salah satu cabang dari antropologi, khususnya antropologi budaya. Definisi etnografi itu sendiri adalah uraian terperinci mengenai pola-pola kelakuan suatu suku bangsa dalam etnologi (ilmu tentang bangsa-bangsa). Etnografi komunikasi ini lahir karena baik antropologi maupun linguistic sering mengabaikan sebagian besar bidang komunikasi manusia, dan hanya menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai topic tertentu saja. Jadi komunikasi sering dipandang sebagai hal yang subsider.

(50)

Oleh karena itu, membahas etnografi komunikasi tidak dapat dipisahkan dari antropologi, sebagai ilmu induk yang membantu dalam proses kelahirannya. Namun demikian, ia juga membutuhkan analisis linguistic, interaksi (sosiologi), dan komunikasi untuk menjelaslan fenomena-fenomena komunikasi yang ditemuinya. Etnografi komunikasi telah menjelma menjadi disiplin ilmu baru yang mencoba untuk merestrukturisasi perilaku komunikasi dan kaidah-kaidah di dalamnya, dalam kehidupan social yang sebenarnya.

2.3.2 Sejarah Latar Belakang Etnografi Komunikasi

Etnografi komunikasi banyak mengambil latar belakang dari etnografi, pertama kali dikembangkan oleh Malinowski. Nama-nama seperti A.R. Radcliffe Brown, Bronislaw Malinowski, Boas dan John Wesley Powell (The Bureau of American Ethnogy / BAE), telah memimpin ilmuwan social, khususnya antropologi, kepada deskripsi perilaku manusia dilingkungan aslinya.

(51)

dengan tegas menyatakan bahwa ada hubungan antara bahasa dengan beberapa aspek kebudayaan, dimana bahasa itu hidup dan dipertukarkan.

Deskripsi-deskripsi para etnografer dan sosiolinguistik mengenai bahasa itulah yang kemudian menuntun pada lahirnya etnografi komunikasi. Semua deskripsi itu telah menuntun pada kesadaran bagaimana kosa kata dan sketsa budaya dalam bahasa, dibatasi oleh suatu kebudayaan tertentu. Selain itu, bahasa juga ternyata merefleksikan organisasi social, kaidah-kaidah interaksi, kamus etnologi, konsep tanaman dan binatang, penciptaan mitos, dan cerita rakyat dalam suatu kebudayaan.

2.3.3 Model Komunikasi Etnografi Komunikasi

Etnografi komunikasi sangat percaya bahwa setiap individu di belahan dunia manapun ketika berkomunikasi akan dipengaruhi dan diatur oleh kaidah-kaidah sosiokultural dari mana ia berasal dan dimana ia berkomunikasi. Sehingga dalam penjelasannya, etnografi komunikasi memandang perilaku komunikasi sebagai perilaku yang lahir dari interaksi tiga keterampilan yang dimiliki setiap individu sebagai mahluk social. Ketiga keterampilan ini terdiri dari keterampilan linguistic, keterampilan interaksi, dan keterampilan budaya.

(52)

ketiga keterampilan ini sebagai kompetensi berkomunikasi. Sehingga melalui penjelasan tersebut dapat digambarkan model komunikasi etografi komunikasi, sebagai sebuah model untuk melihat perilaku komunikais dalam sebuah peristiwa komunikasi.

Penggambaran model komunikasi darisudut pandang etnografi komunikasi menjadi penting karena:

1. Untuk membedakan bagaimana etnografi komunikasi memandang perilaku komunikasi dan peristiwa komunikasi dari ilmu yang lain. 2. Untuk mempermudah pemahaman bagaimana etnografi komunikasi dalam memandang perilaku dan peristiwa komunikasi. 3. Sebagai panduan dalam melakukan penelitian etnografi

komunikasi.

Diagram 2.1 Model Etnografi Komunikasi Aspek linguistic Tindak ujaran

Tindak ujaran Peristiwa Komunikasi Pemolaan komunikasi

Tindak ujaran aspek

kebudayaan

Aspek interaksi sosial Sumber : Kuswarno, 2008.

(53)

1. Tindak ujaran adalah tindakan yang berfungsi interaksi tunggal, seperti pernyataan, permohonan, perintah, atau bahasa non verbal.

2. Menggambarkan aspek-aspek yang mempengaruhi sebuah peristiwa komunikasi.

3. Peristiwa komunikasi adalah keseluruhan perangkat komponen komunikasi yang utuh. Dimulai dengan dengan tujuan utama komunikasi, topic umum yang sama, dan leibatkan partisipan yang sama, yang secara umum menggunakan varietas bahasa yang sama, mempertahankan tone yang sama dan kaidah-kaidah yang sama untuk berinteraksi, dan dalam setting yang sama. Sebuah peristiwa berakhir bila ada perubahan dalam batasan-batasannya, misalnya ketika terdapat keheningan, atau perubahan posisi tubuh partisipan komunikasi (komunikan). Sehingga yang menjadi komponen komunikasi (unit komunikasi) dalam etnografi komunikasi menurut Hymes adalah : tipe peristiwa, topic, tujuan atau fungsi, setting, partisipan, bentuk pesan, isi pesan, urutan tindakan, kaidah interaksi dan norma interpretasi.

(54)

pengorganisasian elemen-elemen itu), dan makna varian-varian dalam situasi tertentu.

5. Aspek interaksi social mencakup persepsi ciri-ciri penting dalam situasi komunikatif, seleksi dan interpretasi bentuk-bentuk yang tepat untuk situasi, peran, dan hubungan tertentu (kaidah untuk penggunaan ujaran), norma-norma interaksi dan interpretasi, dan strategi untuk mencapai tujuan.

6. Aspek kebudayaan mencakup struktur social, nilai dan sikap, peta/skema kognitif, proses enkulturasi (transmisi pengetahuan dan keterampilan).

7. Sebagai kata ganti menghasilkan.

8. Pola komunikasi adalah hubungan-hubungan khas dan berulang antar komponen komunikasi.

Kesimpulannya, focus penelitian atnografi adalah keseluruhan perilaku dalam tema kebudayaan tertentu. Pada etnografi komunikasi, yang menjadi focus perhatian adalah perilaku komunikasi dalam tema kebudayaan tertentu, jadi bukan keseluruhan perilaku seperti dalam etnografi. Adapun perilaku yang dimaksud dengan perilaku komunikasi menurut ilmu komunikasi adalah tindakan atau kegiatan seseorang, kelompok, atau khalayak, ketika terlibat dalam proses komunikasi.

(55)
(56)

51

BAB III

OBJEK PENELITIAN

3.1 Tinjauan Tentang Keraton Kasepuhan Cirebon

3.1.1 Sejarah Singkat Cirebon

Sejarah kemunculan Cirebon dapat dikaji dari berbagai sumber yang ditemukan. Deskripsi dari sumber-sumber tersebut beragam namun tetap dapat ditarik benang merah yang sebenarnya. Terdapat kemungkinan pada awalnya daerah Cirebon berada di bawah kekuasaan Raja Sunda di Galuh dan Pajajaran. Dari Purwaka Caruban Nagari didapatkan keterangan bahwa pada awalnya Cirebon adalah sebuah daerah yang bernama Tegal Alang-Alang yang kemudian disebut Lemah Wungkuk dan setelah dibangun oleh Raden Walangsungsang diubah namanya menjadi Caruban (Atja, 1986: 161).

Dari penemuan sebuah prasasti yang diberi nama Huludayeuh tidak berangka tahun yang ditemukan di desa Cikahalang blok Huludayeuh Kecamatan sumber Kabupaten Cirebon pada tahun 1991 diperoleh sebuah informasi baru. Isi prasasti ini untuk memperingati jasa “Ratu Purana (Sri

Baduga) Sri Maharaja Ra ( tu) (ha ) ji Ri Pakwan Sia Sain ra (tu) (de) wata” yang memberikan kemakmuran bagi seluruh kerajaan. Kehadiran

(57)

menjadi suatu bukti bahwa daerah tersebut masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pajajaran (Djafar, 1994: 3-11). Kemudian pada perkembangan selanjutnya dengan dipelopori oleh Syarif Hidayatullah Cirebon memisahkan dirinya dari kerajaan Sunda, akan dipaparkan di Sejarah Keraton kasepuhan. Berita-berita tentang Cirebon selanjutnya diperoleh dari sumber Portugis yaitu berita dari Tome Pires yang menyebut Cirebon dengan Corobam. Menurut catatan Pires, Cirebon adalah sebuah pelabuhan yang indah dan selalu ada empat sampai lima kapal yang berlabuh di sana. Hasil bumi yang utama adalah beras selain mengahsilkan bahan makanan lainnya (Cortesao, 1967: 183). Adanya kegiatan perdagangan di wilayah Jawa Barat juga dicatat dalam berita Tome Pires, kerajaan Sunda memiliki enam buah pelabuhan yaitu Banten, Pontang, Cigede, Tanara, Calap, dan Cimanuk. Selain penyebutan pelabuhan di kerajaan Sunda Pires juga menyebutkan bahwa ada sejumlah pelabuhan lainnya di wilayah Jawa yaitu Japura, Tegal, Semarang, Demak, Jepara, Rembang, Tuban, Giri, Surabaya, dan Cirebon (Cortesao, 1967: 170-181).

(58)

menarik yang perlu digaris bawahi adalah peran Cirebon sebagai kota pelabuhan dagang yang ramai dikunjungi oleh bangsa dari negeri lainnya. Keadaan seperti ini mendukung Cirebon menjadi sebuah kota yang menerima kedatangan orang-orang asing yang sudah pasti membawa pengaruh baru baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun dalam bidang agama, adat dan budaya. Pengaruh baru dalam bidang agama, adat, dan budaya inilah yang akan dibahas di makalah ini sebagai awal mula kemunculan peringatan Maulid Nabi atau yang dikenal sebagai upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.

3.1.2 Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon dengan luas 16 hektar yang dibatasi oleh tembok Keraton, tidak termasuk Alun-alun dan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Untuk sampai ke sana dari Jalan Lemah Wungkuk kita dapat berjalan lurus ke arah Selatan sampai tiba di Alun-alun Keraton Kasepuhan. Dari Alun-alun Keraton inilah kita dapat melihat kompleks Keraton Kasepuhan yang terletak persis di sebelah Selatan Alun-alun.

(59)

awalnya ketika Pangeran Walangsungsang mencari ilmu agama Islam di daerah Tegal Alang-Alang ini, kemudian beliau melihat potensi daerah pesisir ini kaya akan udang dan bisa dijadikan pelabuhan dagang sehingga secara resmi Pangeran Walangsungsang mendirikan kampung Cirebon (PRA. Arif Natadiningrat, 2009).

(60)

tersebut yaitu Keraton Kasunanan, Keraton Kasepuhan, dan Keraton Kanoman. Keraton Kasepuhan mengambil tempat di kompleks bekas Keraton Pakungwati, dan sejak itu berkembang terus sampai ke selatan.

3.1.3 Nama-nama Bangunan di Keraton Kasepuhan

Pada abad XV (+ 1430) Pangeran Cakrabuana putra mahkota Pajajaran membangun Keraton yang kemudian diserahkan kepada putrinya Ratu Ayu Pakungwati, maka keraton dinamai Keraton Pakungwati (hingga sekarang dikenal dengan sebutan Dalem Agung Pakungwati).

Ratu Ayu Pakungwati kemudian menikah dengan sepupunya Syech Syarif Hidayatullah (putra Ratu Mas Larasantang adik Pangeran Cakrabuana) lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, kemudian Sunan Gunung Jati dinobatkan sebagai Pimpinan atau Kepala Negara di Cirebon dan bersemayam di Keraton Pakungwati. Semenjak itu Cirebon merupakan pusat pengembangan agama Islam di Jawa dengan adanya Wali Sanga yang dipimpin Sunan Gunung Jati dan peninggalan-peninggalannya diantaranya Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

(61)

Keraton baru disebelah barat daya Dalem Agung Pakungwati, keraton ini dinamai Keraton Pakungwati dan beliaupun bergelar Panembaha pakungwati I. Keraton Pakungwati mengambil dari nama Ratu Ayu Pakungwati Putri P. Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati, Putri ini cantik rupawan dan berbudi luhur dapat mendampingi suami di bidang pembinaan Negara dan Agama juga penyayang rakyat.

Pada + tahun 1549 Masjid Agung Cipta Rasa kebakaran, Ratu Ayu Pakungwati yang sudah tua itu turut memadamkan api, api dapat dipadamkan namun ratu Ayu Pakungwati kemudian wafat. Semenjak itu nama/sebutan Pakungwati dimuliakan dan diabadikan oleh nasab Sunan Gunung Jati. Pada + tahun 1679 didirikan Keraton Kanoman oleh Sultan Anom I (Sultan Badridin) maka semenjak itu Keraton Pakungwati disebut Keraton kasepuhan hingga sekarang dan sultannya bergelar Sultan sepuh. Kasepuhan artinya tempat yang sepuh/tua, jadi antara Kasepuhan dan Kanoman itu awalnya yang tua dan yang muda (kakak beradik). Lokasi bangunan Keraton Kasepuhan membujur dari utara ke selatan atau menghadap ke utara, karena keraton-keraton di Jawa semuanya menghadap ke utara artinya menghadap magnet dunia, arti falsafahnya sang raja mengharapkan kekuatan.

Urut-urutan Baluarti :

(62)

Semenjak zaman Sunan Gunung Jati, alun-alun depan Keraton dinamai Sangkala Buwana, di tengah-tengahnya tumbuh sepasang baeringin jenggot, namun semenjak tahun 1930 beringin itu sudah tidak ada lagi.

2. Masjid Agung

Sebelah barat alun-alun berdiri bangunan masjid yang dibangun pada tahun 1422 S, atau 1500 M. oleh Wali Sanga dan masjid itu dinamai Sang Cipta Rasa, Sang= keagungan, Cipta=dibangun, Rasa=digunakan, artinya bangunan besar ini pergunakanlah untuk ibadah dan kegiatan agama.

3. Panca Ratna

(63)

permainan ini, biasanya melihat dari Siti Inggil dengan para pengiringnya.

4. Panca Niti

Sebelah timur jalan menuju Keraton beridir bangunan tanpa dinding dinamai Panca Niti. Panca=jalan, Niti = dari kata Nata atau Raja namun yang dimaksud disini Atasan.

a) Tempat perwira yang sedang melatih perang-perangan pada prajurit

b) Tempat istirahat setelah berbaris.

c) Tempat jaksa yang akan menuntut hukuman mati terdakwa kepada hakim, dan apakah terdakwa itu dapat Grasi dari Raja.

d) Tempat petugas yang mengatur keramaian atau pentasan yang diadakan Negara.

5. Kali Sipadu

Sebelah selatan Panca Ratna dan Panca Niti membentang selokan dari barat ke timur yang dinamai kali Sipadu berfungsi sebagai pembatas antara umum dan penghuni baluarti Keraton Kasepuhan. 6. Kreteg Pangrawit

(64)

jembatan ini diharapkan yang bermaksud baik-baik saja yang telah diperiksa oleh kemitan Panca Ratna.

7. Lapangan Giyanti

Setelah melewati jembatan pangrawit sebelah barat jalan ada lapangan yang dinamai lapangan Gayanti, yang dahulunya Taman yang dibangun oleh Pangeran Arya Carbon Kararangen (P. Giyanti).

8. Siti Inggil

Sebelah timur lapangan Giyanti berdiri bangunan dari bata merah berbentuk podium dinamai siti Ingil. Sit = tanah, Inggil = tinggi (dari bahasa Cirebon). Siti Inggil dikelilingi tembok bata merah berupa candi Bentar. Candi = tumpukan, Bentar = bata. Tiap pilar diatasnya ada Candi Laras. Candi = tumpukan, Laras = sesuai. Artinya peraturan itu harus sesuai dengan ketentuan hukum. 9. Pengada

(65)

genggam artinya 5 orang petugas saling menggenggam atau bersatu (bertanggung jawab bersama dalam menjalankan tugas). Didepan Pengada sebelah selatan ada Pintu Gerbang Pengada, dahulunya berdaun pintu seroja kayu dan dijaga 2 orang Laskar bertombak. Sebelah timur gerbang pengada ada gerbang bentar, disitu ada penjaga lonceng maka gerbang itu disebut Gerbang Lonceng, sekarang loncengnya sudah tak ada lagi.

10.Kemandungan

Masuk gerbang pengada kita akan sampai ke halaman yang dinamai Kemandungan, dahulunya di dekat gerbang lonceng ada bangunan dinamai Gedung Kemandungan= andalan (cagaran), gedung ini untuk penyimpanan senjata (alat perang), sebelah selatannya ada sumur yang dinamai Sumur Kemandungan untuk mencuci senjata (alat perang) pada setiap tanggal 1 s/d 10 Muharram. Sekarang gedung kemandungannya sudah tidak ada dan senjatanya dipindahkan ke Gedung Musium.

11.Langgar Agung

Sebelah barat kemandungan berdiri bangunan yang dinamai langgar Agung = Mushola, untuk tempat sholat orang-orang dalam, sholat taraweh, sholat Idul Fitri dan Idul Adha Sultan, Kerabat dan Kaum dalem.

(66)

dipukul sebagai isyarat untuk memperingatkan masuknya waktu sholat agar semuanya mengerjakan sholat. Ada hadist berbunyi : Ajilu bisholati qoblal fawt wa ajilu qoblal mawt = bersholatlah sebelum lewat waktunya dan bertaubatlah sebelum mati.

Langgar Agung sampai sekarang masih dipergunakan untuk pelaksanaan selamatan bubur slabuk pada tanggal 10 Muharram, apem pada tanggal 15 safar, Mauludan pada tanggal 12 Rabiul awal (ba‟da sholat isya s/d selesai), tajilan pada bulan Ramadhan, selamatan lebaran pada tanggal 1 Syawal dan penyembelihan Qurban pada tanggal 8 Dzulhijah (Idul Adha) oleh pihak Keraton. 12.Pintu Gledegan

Dari kemandungan arah ke selatan melalui gerbang yang dinamai pintu gledegan sekarang berdaun pintu teralis dari besi, dahulu dijaga 2 orang Laskar/Prajurit bertombak, bila ada orang yang masuk diperiksa dengan suara mengeledeg seperti petir maka gerbang ini dinamai Pintu Gledegan.

13.Taman Bunderan Dewan Daru

(67)

cahaya, artinya : jadilah orang yang menerangi sesame mereka yang masih hidup dalam rasa kegelapan.

Ditaman ini terdapat Nandi (patung lembu kecil) = lambing kepercayaan atau hindu sebagai koleksi. Pohon Soka sebagai lambing suka (hidup bersuka hati). Patung 2 ekor macan putih merupakan lambing pajajaran. Meja dan bangku batu sama dengan yang dihalaman depan Siti Inggil. Buah meriam persembahan dari Prabu Kabunangka Pakuan, meriam ini dinamai Ki Santoma dan Nyi Santomi.

14.Museum Benda Kuno

Sebelah barat Taman Bunderan Dewandaru berdiri bangunan museum yang pernah dipugar oleh department P&K Dinas Purbakala pada tahun 1974-1975, dan bentuknya dirubah menjadi bentuk huruf E tapi tembok tengahnya (yang atas pilarnya ada memolo bungan teratai kudup) masih asli. Pintu pengunjung wisata masuk dari pintu sebelah selatan dan keluar dari pintu sebelah utara. Museum ini untuk penyimpanan barang-barang antic peninggalan sejarah seperti barang kerajinan dari dalam dan luar negeri, alat upacara adat dan juga senjata sebagai koleksi diantaranya :

(68)

Kawung Anten dinikah Sunan Gunung Jati. Degung ini merupakan duplikat dari Degung Pusaka Pajajaran.

b) Seperangkat Gamelan berlaras Slendro dan Wayang Purwa dari Cirebon tahun 1748 peninggalan Sultan Sepuh IV. Gamelan ini dinamai Si Ketuyung.

c) Vitrin I : berisi Pagoda Grakenuntuk tempat jamu, Peti Kandaga dari Suasa untuk tempat perhiasan dan kaca Rias (cermin) semua peninggalan tahun 1506.

d) 4 buah Rebana peninggalan Sunan Kalijaga tahun 1412 dan Genta (bel) yang dinamai Bergawang, dahulu sebagai tanda pelantikan Sunan Gunung Jati Syekh Syarif Hidayatullah dinobatkan sebagai Sultan Auliya Negara Cirebonoleh Dewan Wali Sanga, menguasai daerah Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka pada tahun 1429.

(69)

f) Vitrin II : berisi tempat tinta dari China tahun 1697, Ani-ani untuk potong padi. Gelas minum dari VOC tahun 1745. Alat upacara Raja yaitu: 2 buah Jantungan, 2 buah Manggaran dan 2 buah nagan terbuat dari perak (sekarang digunakan untuk upacara Gerebeg Mulud), Standar Lilin Kristal dari Prancis 1738, Lumbung padi (miniature) terbuat dari uang kepeng China, 4 buah Kerang buntet dari Laut Banda, Ukiran kayu berbentuk naga badannya saling melilit disebut Naga Tunggul Wulungkepercayaan dulu sebagai tumbal (mascot), Naga Tunggul Wulung itu pengawalnya, 3 Pohaci (Dwei padi), satu set perhiasan pengantin untuk Putra Raja tahun 1526 terbuat dari logam kinunan sari.

g) Vitrin III : berisi 24 buah baju logam disebut Harnas/Malin juga disebut Baju Kere dari Portugis tahun 1527.

h) 3 buah peti kayu berukir dari China dan 6 buah peti dari Mesir pada zaman Sunan Gunung Jati.

i) Vitrin IV : berisi Kujang, Cundrik Pedang dari Trisula. j) Vitrin V : berisi beberapa buah mata tombak.

k) Vitrin VI : berisi Bedil berlidi (penyocok mesiu) dari Mesir, Bedil dobel loop dan pedang dari Portugis.

Gambar

Gambar 1.1 Model Etnografi Komunikasi
Tabel 1.1 Informan penelitian
Gambar 1.2
Tabel 1.2 Jadwal Kegiatan penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

STUDY ETHNOMATHEMATICS PADA KALENDER ABOGE (ALIF, REBO, WAGE) SEBAGAI PENENTU WAKTU HARI – HARI BESAR ISLAM DAN UPACARA ADAT DI KERATON KASEPUHAN CIREBON. Universitas

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya mengenai strategi pengembangan wisata budaya yang ada di Keraton Kasepuhan dalam upaya

WAGE) SEBAGAI PENENTU WAKTU HARI – HARI BESAR ISLAM DAN UPACARA ADAT DI KERATON KASEPUHAN CIREBON ” ini dan seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya

Penulisan skripsi ini dilatar belakangi dengan Kebudayaan Aceh sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam semuanya berakar pada nilai-nilai keIslaman Namun dalam hal

Jadi hubungan antara komunikasi dan kebudayaan sungguh sangat erat, jika dikaitkan dengan kegiatan budaya dan praktek adat tradisi upacara kematian saurmatua bagi

Secara garis besar makna filosofis dari aturan sikap di atas, mengandung nilai seperti apa yang dituangkan dalam Serat Wulangreh dan Serat Raja Kapakapa, bahwa seorang abdi

Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik), maupun yang menyangkut nilai dan

Jadi hubungan antara komunikasi dan kebudayaan sungguh sangat erat, jika dikaitkan dengan kegiatan budaya dan praktek adat tradisi upacara kematian saurmatua bagi