• Tidak ada hasil yang ditemukan

Design of Sustainable Dry-land Transmigration Development System.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Design of Sustainable Dry-land Transmigration Development System."

Copied!
290
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Lahan kering (dry-land) merupakan salah satu sumberdaya lahan (land resources) potensial yang tersebar luas di Indonesia. Jenis lahan ini tersebar di pulau-pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan beberapa pulau lain. Lahan kering sudah digunakan oleh bangsa Indonesia sebagai tempat bercocok tanam tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun untuk penggembalaan dan penggunaan-penggunaan lain.

Pembukaan lahan kering di luar Pulau Jawa secara terencana menjadi pemukiman baru dilakukan pertama kali pada tahun 1905, yang dikenal dengan program “kolonisasi” di Gedong Tataan yang waktu itu merupakan daerah karesidenan Lampung. Para pemukimnya, sebanyak 155 KK, berasal dari daerah Karanganyar, Kebumen, dan Purworejo, yang pada waktu itu secara administratif termasuk dalam wilayah Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. Dalam perkembangan selanjutnya pada beberapa dekade kemudian, program ini kemudian dikenal sebagai “program transmigrasi”.

Program transmigrasi merupakan salah satu program pembangunan yang dicanangkan oleh Pemerintah sejak beberapa dekade. Pada garis besarnya, program ini dilaksanakan untuk memeratakan persebaran penduduk diantara berbagai wilayah di Indonesia. Dalam realisasinya, pembangunan transmigrasi telah membuka peluang lapangan kerja, terutama bagi komunitas petani gurem, buruh tani, nelayan, pengangguran, perambah hutan, peladang berpindah, mayarakat terasing dan masyarakat yang permukimannya tergusur oleh proyek pembangunan pemerintah yang digunakan untuk pelayanan publik. Sejak transmigrasi dimulai melalui program kolonisasi sampai tahun 2004, sektor transmigrasi telah terealisasi membuka lapangan kerja kepada 1.236.487 KK (http://www.nakertrans.go.id, 03/10/2005).

Sebagian besar lahan di Indonesia merupakan lahan-lahan yang bersifat marjinal. Pada satu sisi, lahan marjinal masih tersedia cukup luas, namun di sisi lain disadari, bahwa upaya pemanfaatan lahan-lahan seperti ini merupakan usaha yang tidak mudah dan memerlukan upaya khusus, sesuai dengan keterbatasan pada masing-masing jenis sumberdaya tersebut. Oleh karena itu,

(2)

dengan berbagai upaya teknologi, pembangunan transmigrasi perlu diarahkan untuk memanfaatkan lahan marjinal (marginally land) yang masih tersedia cukup luas di luar Pulau Jawa. Pembukaan lahan eks padang alang dan lahan-lahan yang bertopografi bergelombang – berbukit menjadi salah satu alternatif.

Pada pembangunan permukiman transmigrasi yang berbasis lahan, kepada setiap Kepala Keluarga (KK) diberikan Lahan Pekarangan (LP) dan Lahan Usaha (LU) sebagai hak milik yang bersertifikat. Lahan tersebut diperuntukkan untuk pemukiman dan area untuk usaha tani guna memenuhi kebutuhan hidup yang berkelanjutan.

Sejak tahun 1950 sampai tahun ke-4 Pelita VI telah dibuka LP dan LU seluas ± 4.000.000 ha, kurang lebih 42% merupakan lahan kering yang awalnya ditumbuhi alang – alang dan gulma lainnya. Lahan yang telah dibuka tersebut ditanami tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, rumput pakan ternak dan lainnya. Produksi lahan-lahan ini telah berkontribusi menunjang program swasembada pangan dan industri perkebunan terutama kelapa sawit dan karet.

Meskipun demikian, ternyata banyak kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program transmigrasi ini. Keragaman latar belakang transmigran yang hanya memiliki sumberdaya faktor produksi berupa tenaga kerja, rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan, keterampilan, pendapatan, tingginya tingkat kemiskinan dan keterbelakangan diduga berdampak terhadap ketidakmampuan mereka dalam mengelola sumberdaya lahan secara tepat dan berkelanjutan (Yudohusodo, 1988). Pembukaan LP, LU, Fasilitas Umum (FU) dan pembukaan Jalan Penghubung (JPH) dan Jalan Poros (JPR) yang biasanya dilakukan dengan menggunakan alat berat berupa buldozer, grader, traktor dan lainnya, umumnya merusak lapisan atas tanah (top soil) yang merupakan awal dari terjadinya degradasi lahan (land degradation).

(3)

transmigrasi ke lahan bera yang ditumbuhi alang - alang merupakan indikasi terjadinya degradasi lahan. Lahan usaha transmigran yang dibuka pada tahun 1980 dan 1983, ternyata pada tahun 1991 kurang lebih 82 % telah ditinggalkan dan ditumbuhi alang – alang. Hal ini terjadi antara lain karena para transmigran mempunyai kendala keterbatasan modal sehingga tidak mampu mempertahankan produktivitas lahannya. Hasil penelitian seperti ini juga diperoleh oleh Holden dan Simanjuntak (1993) dalam penelitiannya di WPP VII Rengat. Penelitian di lokasi yang sama oleh Lanya (1996) menyimpulkan bahwa pada lahan miring yang berbahan induk batuan sedimen telah terjadi degradasi morfologi tanah. Dalam kondisi demikian, semakin lama lahan diusahakan semakin berat tingkat degradasinya. Kehilangan tanah di lapisan atas dikuantifikasikan sebesar 2 cm/tahun. Tanpa pemberian input dan tanpa upaya perlakukan sesuai dengan kaidah konservasi, lahan demikian hanya akan dapat bertahan selama dua tahun. Dalam perhitungan juga dinyatakan bahwa dalam kondisi pengusahaan demikian, empat tahun merupakan batas kritis, sedangkan pengusahaan dalam jangka enam tahun atau lebih akan menyebabkan penurunan produktivitas tidak dapat balik, artinya lahan tersebut sudah tidak menguntungkan secara ekonomis dan tidak mencukupi kebutuhan pangan keluarga petani.

Menurut kriteria Dent (1993) lahan yang mengalami proses penurunan produksi seperti diatas disebut sebagai lahan yang terdegradasi akibat pengaruh manusia, yang fenomena degradasi tanahnya disebabkan oleh erosi air. Lai, Hal, dan Miller (1989) menyimpulkan bahwa degradasi lahan akibat kehilangan tanah lapisan atas berimplikasi terhadap kehilangan unsur hara, yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas.

(4)

sifat fisik dan kimia tanahnya kurang menguntungkan, sangat rentan terdegradasi jika pengelolaannya dilakukan dengan kurang hati-hati.

Belajar dari fakta-fakta tersebut diatas, menunjukkan bahwa pengelolaan lahan kering di daerah transmigran merupakan kegiatan yang sangat kompleks dan dinamis. Kompleks karena melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (multi stake holder), seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Wilayah Propinsi Pemerintah kabupaten, masyarakat transmigran, dan masyarakat sekitar/penduduk asli. Melihat kenyatan tersebut maka dibutuhkan sebuah paradigma baru dalam pembinaan dan pengelolaan lahan kering transmigran. Pembinaan dan pengelolaan harus dilakukan secara holistik-integratif dengan melibatkan masyarakat transmigran sebagai stake holder utamanya. Hal ini sangat penting dalam pengelolaan lahan kering, terutama pada lahan-lahan dengan kemiringan 8-30% atau lebih. Pemberdayaan transmigran merupakan upaya menciptakan suasana yang memungkinkan potensi transmigran dapat berkembang dengan cara mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki untuk mengelola sumberdaya lahan marginal secara berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan penelitian komprehensif mengenai permasalahan pembinaan dan pemberdayaan transmigrasi secara tersistem, yang akan dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan perubahan baik pada tataran kebijakan, strategi maupun implementasi.

1.2. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian adalah mengembangkan rancang bangun model sistem pengembangan transmigrasi di lahan kering yang selanjutnya dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi kebijakan sistem pengembangan transmigrasi lahan kering berkelanjutan. Tujuan penelitian secara spesifik adalah: 1. Menganalisis kondisi existing transmigrasi lahan kering secara ekologi,

ekonomi, sosial dan kelembagaan transmigrasi lahan kering.

2. Menyusun suatu model sistem pengbangan pemberdayaan transmigrasi lahan kering secara terpadu dengan melibatkan masyarakat transmigran. 3. Merumuskan kebijakan dan skenario strategis untuk pengembangan

(5)

1.3. Kerangka Pemikiran

Pembangunan transmigrasi, baik yang dilaksanakan sebelum maupun pada pasca era reformasi ini, belum seluruhnya terencana dan terlaksana secara sistematis dan komprehensif. Hal ini tercermin, antara lain dari pola rekruitmen calon transmigran yang belum berbasis kompetensi yang sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. Demikian juga, perencanaan pembangunan pemukiman masih cukup banyak yang belum berbasis pada karakteristik spesifik sumberdaya alamnya. Perencanaan juga belum sepenuhnya memanfaatkan tingkat ilmu pengetahuan (knowledge) yang telah dicapai dalam hal teknologi pemanfaatan sumberdaya, dan diduga masih cukup banyak dilakukan oleh orang-orang yang kurang memperhatikan masalah etika dan moral (moral hazard).

Salah satu contoh praktek kurang menguntungkan ditinjau dari sisi kelestarian sumberdaya adalah fakta bahwa pembukaan lahan di pemukiman baru umumnya dilakukan dengan menggunakan alat berat. Sementara itu, operasional pembukaan lahan juga belum sepenuhnya memperhatikan rekomendasi Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) yang disiapkan sebelum dilakukannya pembukaan lahan.

Hal-hal tersebut telah menghasilkan antara lain lahan yang miskin unsur hara karena lapisan atasnya tergusur dan terkelupas. Wilayah yang semula direncanakan merupakan jalur hijau juga tidak jarang ikut dibuka. Kondisi seperti ini, terutama pada lahan dengan bentuk wilayah bergelombang sampai berbukit, sangat berpotensi mengakibatkan terjadinya erosi dalam skala yang luas, sehingga daya tangkap air dan produktivitas lahan menurun dengan cepat.

Disamping berbagai kekurangan dari sisi sumberdaya fisik, tinjauan dari sisi sosial-ekonomi dan budaya di lokalita transmigrasi juga masih belum menunjukkan hal yang belum menggembirakan. Pembinaan ekonomi (economic), sosial budaya (social culture) dan lingkungan (enviroment) serta pelatihan yang diberikan sampai saat ini masih belum disusun berdasarkan Rentekbinuntuk setiap lokasi.

(6)

untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Keadaan tersebut telah menyebabkan banyaknya Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) bermasalah terus meningkat. Berdasarkan daftar UPT Binaan, saat ini ada 162 UPT lahan kering yang tersebar di pulau-pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Propinsi NTB dan NTT. Kurang lebih 60% lahan transmigran merupakan lahan tidur, artinya lahan yang tidak atau belum dikelola secara maksimal pada setiap musim tanam. Jumlah tenaga kerja yang cukup besar di lokasi transmigrasi belum sepenuhnya dapat berimplikasi pada produksi yang tinggi, karena daya nalar (sense making) yang rendah, kesiapan dibidang pengelolaan lahan yang relatif rendah, keterbatasan penguasaan teknologi tinggi, jiwa wiraswasta yang relatif rendah, permodalan yang sangat terbatas serta pengetahuan yang terbatas tentang peluang pasar komoditi unggulan.

Menghadapi berbagai keterbatasan tersebut, saatnya diperlukan kebijakan dan kearifan pemerintah dalam pemberdayaan transmigran. Menurut BPS (2000), luas lahan kering di Indonesia mencapai 138.646.215 ha. Sejumlah ± 43.605.194 orang penduduk Indonesia memiliki matapencaharian sebagai petani, dimana ± 30 juta orang merupakan petani lahan kering. Sebagian besar dari petani lahan kering tersebut hidup dibawah garis kemiskinan. Komunitas transmigran lahan kering digambarkan sebagai masyarakat yang relatif tertinggal dan kadangkala terpinggirkan.

Kentalnya kesan kemiskinan, terjadinya degradasi lahan kering, keterbelakangan usaha pertanian, dan ketidakberdayaan transmigran diduga akan tetap berlangsung selama usaha tani mereka tidak diarahkan untuk mencapai kemandirian, misalnya melalui upaya-upaya pengembangan agribisnis dan agroindustri. Tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa diperlukan perbaikan di segala lini untuk menunjang perkembangan perekonomian usaha tani lahan kering. Diperlukan pula investasi yang cukup besar untuk pemberdayaan transmigran. Langkah menuju hal tersebut dapat dilakukan, antara lain melalui peningkatan wadah kelembagaan (institution) masyarakat transmigran yang didahului dengan Rentekbin yang akurat, penyediaan teknologi, penyediaan input sarana produksi, perbaikan manajemen dan organisasi pembelajaran (learning organization).

(7)

sumberdaya, d) lemahnya institusi UPT, e) kurang maksimalnya peran stakeholders dalam pengembangan sistem pengelolaan lahan kering. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang sistematik dan holistik untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pendekatan masalah yang diuraikan diatas disajikan pada Gambar 1.

Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang ingin ditelaah dan dicari pemecahannya dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana model sistem pemberdayaan transmigrasi lahan kering secara terpadu dan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat setempat ?

2. Bagaimana rumusan kebijakan dan skenario strategi untuk pengembangan pemberdayaan transmigrasi lahan kering yang berkelanjutan ?

Pendekatan yang digunakan untuk melakukan penelaahan dan pencarian solusi penanganannya dilakukan dengan pendekatan sistem, dengan didasarkan pada berbagai hasil analisis terhadap aspek ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan transmigrasi lahan kering dengan menggunakan contoh kasus di unit permukiman transmigrasi lahan kering, sebagaimana disajikan dalam kerangka pikir pada Gambar 2.

(8)

Gambar 1 Kerangka Pemikiran Pendekatan Masalah

Rekruitmen Catrans • Blm berdasarkan

kompetensi • Rentekrah minim

Komunitas • Petani gurem • Buruh tani • Nelayan • Pengangguran • Perambah hutan • Peladang berpindah • Masy. Terasing • Masy. kena proyek pem.

Kompetensi rendah • Tenaga kerja • Pendidikan rendah • Keterampilan rendah • Motivasi rendah.

Finansial rendah • Pendapatan rendah • Modal rendah • Kesejahteraan rendah • Tingkat kemiskinan tinggi

Pelatihan Catrans (minim) Catrans

Pertumbuhan Penduduk Migrasi

RTSP/ RTUPT

S. Fisik

S. Kimia

S. Biologi

Lahan Marjinal

L C

eks padang alang2 eks hutan konversi lainnya

Alat berat • Buldozer • Grader • traktor

RTSP / RTUPT • Kurang diperhatikan

• Tidak memperhatikan aspek fisik/kesuburan • Jalur hijau ikut di buka

Curah hujan tinggi

Lapisan atas tergusur bahan organik / hilang

LP LU

Penempatan

I

II

(9)

Sifat Kimia

• Kandungan P rendah (fiksasi P tinggi • Reaksi tanah masam

• Unsur hara miskin

Sifat Biologi

• Bahan organik rendah (……%)

Degradasi lahan / air

III

Pembinaan Marjinal • waktu

• varietas • jumlah • kualitas • waktu • kualitas • jumlah • waktu • kualitas • jumlah

bibit / benih Obat-obatan pertanian pupuk / kaptan Musim tanam Kemampuan mengolah lahan

Input rehabilitas lahan air tidak ada Tanpa

Rentek Bin / Top down Kompetensi Organizer/ CD Worker Semua Organizer/ CD Worker Keberadaan Organizer/ CD Worker Kompetensi / Keterampilan Trans.

Pembelajaran / Pelatihan • Pemerintahan • Usahatani • Teknologi pedesaan • Kelembagaan • Manajemen

• Tanpa Ka. UPT • Kades / Sekdes • Kurang arif / bijak

• Usahatani • Motivasi • Teknologi • Manajemen Sosial budaya Tanpa Rentek Bin / Top down

Sifat Fisik

• Tepografi dominan ( 8-30 % ) • Erosi 1,4-2,8 cm/tahun • Tekstur

• Pemadatan

• Daya tangkap / serap air rendah • Kedalaman lapisan olah

B

(10)

Produktivitas LP dan LU rendah

Kompetensi transmigran ( rendah )

• Pengetahuan / keterampilan pengelolaan LK • Penguasaan teknologi

• Jiwa wirausaha rendah • Pengetahuan peluang pasar

• Relatif tertinggal / kadang tersingkirkan • Tak berdaya

Finansial • Modal terbatas

• Pendapatan Rp. 1.851.953 s/d Rp. 3.635.413 /kk/thn (1988) • Pengeluaran Rp. 3.757.000 / kk/thn

(1988)

• Pendapatan Rp. 5.115.000/thn ( 2 046 k b ) Produktivitas tanaman

pangan rendah Kw/Ha • Padi gogo 15,03 (gabah

kering giling)

• Jagung 18,53 (pipilan) • K.kedelai 6,98 (biji

kering)

• K. tanah 8,47 (biji kering)

• K. hijau 6,53 (biji

UPT Bermasalah • 56 UPT (1992) • 230 UPT (162 UPT-LK 60

% lahan tidur) (2004) • 122.394 ha bergelombang

– berbukit (kemiringan > 15 % (1999)

• 5.093 ha lahan marginal (2003)

Pendapatan trans Terus menurun

Degradasi lahan dan air berkelanjutan

Dari Usaha Tani Dari luar Usaha Tani

IV

B

Regulasi Peningkatan Keterampilan Kehidupan Transmigran

Peningkatan Kualitas Organiser

Perbaikan Penyiapan Lahan

Perbaikan Input Usaha Tani, Sosial,

Budaya

(11)

Gambar 2. Metaforma Sistem Pemberdayaan Transmigran/si Berkelanjutan pada Lahan Kering sebagai Sebuah Closed Loop Control System (Siller, T. 2001, dimodifikasi oleh Ginting B.D, 2007)

Pengelo laan Tanah

Pengelo laan Tanaman Kebi j akan

Pemberdayaan

Capasity Bui ldi ng

Aparat UPT/ Desa

Transmigran/ Kel ompok/ Organi ser

Kompetensi Keterampilan

Learni ng Organi zati on Knowledge Creation

Institutional Development Konservasi LK Kesesuai an Lahan Pok Produksi Lahan Pok Konserv asi, Pok Tani Pok Koper asi Komoditi Unggulan

VISI KEHIDUPAN TRANSMIGRAN/ SI

• UU No. 15 Th. 1997 Bab VIII, Pasal 32, 33 tentang Pembi naan Masyarakat Transmi grasi dan Pembi naan Li ngkungan Permuki man Transmigrasi.

• PP No. 2 Th. 1999 Bab VIII, Pasal 51, tentang Pembi naan Masyarakat Transmigrasi Umum. • UU No. 32 Th… tentang Otonomi Daer ah

Permodelan Sistem Dinamis, Anal isis Prospektif Strategi Sistem Pemberdayaan Transmigran/ si LK Berkelanj utan Pemberdyaan

Transmigran/ si Berkelanj utan pada LK Ekologi SOSBUD Ekonomi

(+) Kual i tas Kehidupan

Transmigran/ si Meni ngkat Secara

Berkelanj utan

Kondisi Nyata Saat ini

Anal isis Mendal am Data dan Informasi Perkembangan

Transmigran/ si

(-) Gab

(12)

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain:

1. penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Perencanaan Pemberdayaan Transmigrasi Lahan Kering.

2. penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan penyusunan rencana detail dan implementasi pemberdayaan transmigrasi lahan kering pada umumnya dan sebagai percontohan desain dan model sistem pemberdayaan transmigrasi lahan kering.

3. penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengembangan sistem pengelolaan lahan kering sehingga dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penelitian selanjutnya.

1.5. Novelty (Kebaharuan) Penelitian

(13)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan (empowerment) berasal dari bahasa Inggris dengan kata dasar to empower. Menurut Merriam-Webster Online Dictionary (2006) to empower diartikan sebagai to promote the self-actualization or influence of (meningkatkan aktualisasi diri atau pengaruh terhadap sesuatu). Sedangkan Narayan (2002) mengartikan pemberdayaan sebagai peningkatan modal dan kemampuan dari rakyat yang lemah untuk berpartisipasi dalam bernegosiasi dengan mempengaruhi mengawasi dan mengendalikan tanggung jawab kelembagaan yang mempengaruhi hidupnya.

Pemberdayaan merupakan suatu proses dimana pekerja diberi peningkatan sejumlah otonomi dan keleluasaan, dalam hubungannya dengan pekerjaan mereka (Greenberg dan Baron, 1997). Menurut Wibowo (2004), pemberdayaan adalah suatu proses untuk menjadikan orang lebih berdaya atau lebih berkemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan cara memberikan kepercayaan dan kewenangan sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab. Sedangkan pemberdayaan transmigran (Depnakertrans, 2004), diartikan sebagai suatu proses untuk menjadikan transmigran lebih berdaya atau lebih berkemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan cara memberikan kepercayaan dan kewenangan sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawabnya.

Menurut Prijono dan Pranarka (1996), pemberdayaan masyarakat mengandung makna mengembangkan, memandirikan, menswadayakan, dan memperkuat posisi tawar-menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan.

Menurut Karsidi (2002) pemberdayaan masyarakat (community empowerment) adalah upaya untuk memberikan motivasi dan dorongan kepada masyarakat agar mampu menggali potensi dirinya dan berani bertindak memperbaiki kualitas hidupnya, antara lain melalui pendidikan untuk penyadaran dan pemapanan diri mereka.

Pemberdayaan/pengembangan masyarakat petani berarti menciptakan kondisi hingga petani (yang lemah) dapat menyumbangkan kemampuannya

(14)

secara maksimal untuk tujuannya. Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu (Wibowo 2002). Djohani (1996) juga mengartikan pemberdayaan masyarakat sebagai pengembangan kemampuan masyarakat agar secara berdiri sendiri memiliki keterampilan untuk mengatasi masalah-masalah mereka sendiri. Merujuk pada penjelasan tersebut, maka pemberdayaan merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada manusia, dengan mengedepankan azas partisipasi (paticipacy), musyawarah dan keadilan (equity), yang dalam prosesnya memberikan suatu kemudahan (akses) sehingga pada akhirnya dicapai kemajuan dan kemandirian

(15)

prosedural yang menyebabkan masyarakat dapat meningkatkan kehidupannya. Dengan kata lain, pemberdayaan merupakan sistem yang berinteraksi dengan lingkungan sosial dan fisik.

Pemberdayaan merupakan proses belajar yang produktif dan reproduktif. Produktif artinya mampu mendayagunakan potensi diri dan lingkungannya, sedangkan reproduktif berarti mampu mewariskan nilai-nilai kearifan. Setiap generasi yang berdaya harus mampu mewariskan nilai kearifan kepada generasi berikutnya, utamanya nilai-nilai pembebasan diri dari keterbelakangan dan kemiskinan serta kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungan.

Menurut Vitalaya dalam Pambudy dan Adhi (2000), pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui pengembangan kelembagaan pembangunan dan pengembangan sistem Tiga-P (Pendampingan, penyuluhan, dan pelayanan). Pendampingan berfungsi untuk menggerakkan partisipasi total masyarakat, penyuluhan berfungsi merespon dan memantau perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat,dan pelayanan berfungsi sebagai unsur pengendali ketepatan distribusi aset sumberdaya fisik dan non-fisik yang diperlukan masyarakat.

(16)

lingkungan dimana setiap individu dapat menggunakan kemampuan dan energinya untuk meraih tujuan organisasi. Ini merupakan metoda untuk mendorong terjadinya inisiatif dan respon, sehingga semua permasalahan yang dihadapi dapat dipecahkan secepatnya dan sefleksibel mungkin di titik mana masalah tersebut ditemukan. Empowerment murni memerlukan waktu yang tidak sedikit, tapi dirasakan berdesir di seluruh organisasi dan menyebabkan perubahan di seluruh bagian organisasi. Para pakar menyatakan bahwa diperlukan waktu 2 sampai 5 tahun untuk mencapai perubahan secara fundamental. Lazimnya, 3 bulan pertama digunakan untuk menyusun kelompok-kelompok dan melakukan temu kerja dengan para manajer untuk menciptakan kesadaran akan pemberdayaan. Tiga bulan berikutnya melatih karyawan di garis depan yakni memprakarsai kelompok-kelompok proyek fungsi silang dan menyusun program manajemen kinerja pencatatan. Selanjutnya pada 3 bulan ketiga, membentuk tim–tim menejemen mandiri di beberapa bagian yang ditekuni. Pemberdayaan dimulai dari pimpinan tertinggi, sehingga seorang pemimpin yang berpemberdayaan mengacu kepada visi, realita, orang dan keberanian yang dikenal sebagai berlian kepemimpinan (Cook dan Macaulay, 1996). Organisasi yang berpemberdayaan tersebut haruslah didukung oleh suatu learning organization yang berfikir sistematis.

2.2. Strategi Pemberdayaan Masyarakat

(17)

Sejalan dengan hal tersebut diatas, Karsidi (2002) memperjelas secara lebih tegas pendekatan strategis dalam pemberdayaan masyarakat sebagai berikut:

a) Proses pembelajaran rakyat harus dimulai dengan tindakan mikro, namun memiliki konteks makro dan global. Dialog mikro-makro harus terus menerus menjadi bagian dari pembelajaran masyarakat agar berbagai pengelolaan mikro dapat menjadi policy input dan policy reform sehingga memiliki dampak yang lebih luas.

b) Pengembangan sektor ekonomi strategis dilakukan sesuai dengan kondisi lokal. Yang dimaksud produk strategis (unggulan) di sini tidak hanya produksi yang ada di masyarakat seperti laku di pasaran, tetapi juga unggul dalam hal bahan baku dan teknis produksinya serta memiliki keterkaitan sektoral yang tinggi.

c) Mengganti pendekatan kewilayahan administratif dengan pendekatan kawasan, karena pemberdayaan masyarakat tidak mungkin didasarkan atas kewilayahan administratif. Pendekatan kewilayahan administratif adalah pendekatan birokrasi/kekuasaan sedangkan pendekatan kawasan berarti lebih menekankan pada kesamaan dan perbedaan potensi yang dimiliki oleh suatu kawasan tertentu. Pendekatan ini akan memungkinkan terjadinya pemberdayaan masyarakat dalam skala besar disamping keragaman model yang didasarkan atas keunggulan kawasan satu terhadap yang lainnya. Lebih lanjut akan dimungkinkan terjadinya kerja sama antar kawasan yang lebih produktif.

d) Membangun kembali kelembagaan masyarakat. Peran serta masyarakat menjadi keniscayaan bagi semua upaya pemberdayaan masyarakat, jika tidak dibarengi dengan munculnya kelembagaan sosial, ekonomi dan budaya yang benar-benar diciptakan oleh masyarakat itu sendiri.

(18)

Temuan-temuan lokal harus mendapatkan pengakuan sejajar dengan inovasi baru dari luar.

f) Pengembangan kesadaran, perlunya diketahui aspek politik dan ekonomi, sehingga bukan hanya yang berorientasi bantuan teknis. Penyuluhan yang berorientasi pada sasaran merupakan pendekatan yang sangat penting sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat.

g) Membangun jaringan ekonomi strategis, yang berfungsi mengembangkan kerja sama dalam mengatasi keterbatasan yang dimiliki kelompok ekonomi satu dengan lainnya baik dalam bidang produksi, pemasaran, teknologi dan permodalan. Disamping itu, jaringan strategis juga berfungsi sebagai pembelajaran sasaran penyuluhan.

h) Kontrol kebijakan pemerintah agar benar-benar mendukung upaya pemberdayaan masyarakat. Sebagai contoh adalah keikutsertaan organisasi petani dalam proses pengambilan keputusan tentang kebijakan pertanian. i) Menerapkan model pembangunan berkelanjutan, agar setiap peristiwa

pembangunan mampu secara terus menerus mengkonservasi daya dukung lingkungan sehingga daya dukung lingkungan dapat dipertahankan untuk mendukung pembangunan bagi generasi mendatang.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, sasaran strategi pemberdayaan masyarakat bukanlah sekedar peningkatan pendapatan semata, melainkan juga merupakan upaya membangun basis ekonomi yang bertumpu pada usaha tani, kebutuhan masyarakat dan sumber daya lokal yang handal. Disamping itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat harus pula diarahkan pada upaya-upaya untuk menciptakan proses pembangunan ekonomi yang lebih demokratis dan berkeadilan serta menjamin terciptanya kemandirian dan berkelanjutan.

Dalam kerangka tersebut, keberhasilan upaya pemberdayaan masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan masyarakat melainkan juga dari aspek-aspek penting dan mendasar lainnya. Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pemberdayaan masyarakat antara lain:

1) Pengembangan organisasi/kelompok masyarakat yang dikembangkan dan berfungsi dalam mendinamiskan kegiatan produktif masyarakat.

2) Pengembangan jaringan strategis antar kelompok/organisasi masyarakat yang terbentuk dan berperan dalam pengembangan masyarakat.

(19)

informasi pasar, permodalan, serta teknologi manajemen termasuk didalamnya kemampuan lobi ekonomi.

4) Jaminan atas hak-hak masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal. 5) Pengembangan kemampuan teknis dan manajerial kelompok masyarakat

sehingga berbagai masalah teknis dan organisasi dapat dipecahkan dengan baik.

6) Terpenuhinya kebutuhan hidup dan meningkatnya kesejahteraan hidup mereka serta kemampuan menjamin kelestarian daya dukung lingkungan bagi pembangunan.

2.3. Perkembangan Transmigrasi Lahan Kering

Perubahan politik dan lingkungan strategis antar era pembangunan telah mendorong upaya-upaya intelektual, pakar dan birokrat untuk membangun kesamaan persepsi mengenai transmigrasi, yang dilakukan dengan melibatkan stakeholder, LSM dan lainnya. Namun demikian, sejauh ini hasilnya belum dapat menjawab strategi lingkungan secara komprehensif. Strategi dan rencana fisik pemukiman telah relatif baik, namun rencana konservasi tanah dan air belum disadari sebagai sesuatu yang perlu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan lokasi dengan lahan marjinal, bertopografi dengan lereng 8-30%. Di hamparan LP dan LU di lokasi transmigrasi lahan kering masih ditemui lahan terdegradasi. Hal ini diduga disebabkan karena kurang cermatnya penyusunan RTSP, disamping teknik–teknik pembukaan lahan yang kurang memperhatikan aspek fisik dan kesuburan lahan. Gambaran tersebut merupakan tantangan berat untuk usaha tani dalam memenuhi kebutuhan hidup transmigran.

Sementara itu, perkembangan pembinaan yang diberikan oleh pemerintah dari waktu ke waktu belum ditetapkan berdasarkan Rentekbin. Upaya kearah perbaikan aksi pembinaan sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1992, namun hal tersebut juga baru sebatas konsep. Kebanyakan birokrat pelaksana masih berpikir paket–paket pembinaan yang cukup diberikan dengan norma standar tanpa memperhatikan karakteristik lahan (land characteristics) dan kompetensi petugas UPT dan transmigran.

(20)

diberikan program pendampingan dan pemberian input stimulan terutama saprodi dan pembentukan kelembagaan. Ternyata, dalam kurun waktu 2–3 tahun, UPT-UPT tersebut dapat menjadi lebih baik, tercermin dari pendapatan per KK per tahun yang telah mencapai atau melampui 3,000 kg setara beras (Kep. Men. Trans Nomor : 269/MEN/1984).

Pada tahun 1999, Pusdatin Transmigrasi melaporkan bahwa pada saat itu terdapat seluas 122,394 ha lahan bertopografi dengan kemiringan lebih besar dari 15%. Lahan ini diduga sangat berpotensi terdegradasi terutama oleh aliran permukaan dan erosi tanah. Lembaga yang sama pada tahun 2003 menginformasikan bahwa berdasarkan hasil pengolahan data di 115 UPT, terdapat sejumlah 3,261 KK (11.7%) transmigran yang melakukan mutasi keluar UPT, terdapat 20 kasus masalah tanah yang belum terselesaikan, adanya lahan marjinal seluas 5,093 ha dan adanya masalah status lahan sebesar 1,690 ha. Disamping itu, jumlah, keberadaan dan kompetensi perangkat pemerintah desa maupun sarananya tidak memadai, sehingga pelayanan kepada transmigran rendah. Perkembangan usaha tani juga rendah, tercermin dari rerata produktivitas tanaman padi yang hanya 15.03 kw/ha, jagung 18.53 kw/ha, kedelai 6.98 kw/ha, kacang tanah 8.47 kw/ha, kacang hijau 6.53 kw/ha, ubi kayu 66.27 kw/ha, ubi jalar 36.1 kw/ha. Pengeluaran rataan transmigran adalah sebesar Rp. 3,757,000,-/KK/tahun, padahal hasil survei tahun 1998, dilaporkan pendapatan transmigran berkisar Rp. 1,851,953,- sampai Rp. 3,635,413,-/KK/tahun.

(21)

2.4. Lahan Kering Sebagai Basis Usaha Tani Transmigrasi a. Batasan transmigrasi

Dalam penelitian ini, ada tiga terminologi transmigrasi yang digunakan, yakni :

1) Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di wilayah pengembangan transmigrasi atau lokasi permukiman transmigrasi.

2) Transmigran adalah warga negara Indonesia yang berpindah secara sukarela ke kawasan transmigrasi atau lokasi permukiman transmigrasi melalui pengaturan dan pelayanan pemerintah.

3) Transmigrasi Lahan Kering adalah transmigrasi, dimana transmigran bermukim di kawasan transmigrasi atau permukiman transmigrasi di lahan kering dengan pola usaha pokok tanaman pangan, PIR-Trans, HTI (dalam penelitian ini difokuskan pada tanaman pangan).

b. Tahap - tahap Pembinaan Transmigrasi

Menurut pasal 49 PP No. 2/1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi, disebutkan bahwa ada tiga tahap pembinaan dalam transmigrasi yaitu : 1) Tahap Penyesuaian, yang ditujukan untuk adaptasi dengan lingkungan;

tahap ini berlangsung selama 1.5 tahun

2) Tahap Pemantapan, yang ditujukan untuk peningkatan kemampuan dan pemenuhan kebutuhan hidup transmigran; tahap ini berlangsung selama 1.5 sampai dari 2 tahun.

3) Tahap Pengembangan, yaitu tahapan untuk pengembangan usaha produktif secara mandiri; tahap ini berlangsung kurang lebih selama 2 tahun.

c. Karakteristik Lahan Kering

(22)

Ciri-ciri lahan kering menurut Rukmana (1995) dan Departemen Pertanian (1998), adalah :

1) Peka terhadap erosi, terutama bila keadaan tanahnya miring atau tidak tertutup tumbuh-tumbuhan.

2) Tingkat kesuburan rendah, baik kandungan unsur hara, bahan organik maupun reaksi tanah serta kapasitas tukar kationnya.

3) Sifat fisik tanahnya kurang baik, tercermin dari struktur yang padat, lapisan tanah atas dan lapisan tanah bawah memiliki kelembaban yang rendah, sirkulasi udara agak lambat dan kemampuan menyimpan air rendah.

Freebairn (2004b) menyatakan bahwa penggunaan jerami sebagai mulsa dapat digunakan untuk menurunkan aliran permukaan dan meningkatkan kandungan karbon organik tanah. Zheng et al. (2004) dan Terra at al. (2006) mendukung pendapat tersebut dan menyatakan bahwa peningkatan karbon organik tanah pada lahan yang berada di bawah program konservasi cenderung menurunkan koefisien erodibilitas tanah dan aliran permukaan dibandingkan dengan program pengeloaan konvesional.

Shaver et al. (2002), Baker et al. (2004) dan Lado et al. (2004) menyatakan bahwa pemberian bahan organik dan penggunaan tanaman penutup tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Peningkatan jumlah porositas makro tanah melalui pemberian bahan organik dapat menurunkan kekuatan tanah (soil strength) dan bobot isi tanah. Sebaliknya pengaruh pemberian bahan organik dan penggunaan tanaman penutup tanah dapat meningkatkan kapasitas menahan air tanah, kandungan bahan organik, dan stabilitas agregat tanah.

(23)

Perbaikan sifat fisik tanah dapat dilakukan melalui perbaikan pola tanam, pemberian bahan organik, pemupukan, dan pengolahan tanah (Gicheru et al., 2004; Humberto et al., 2005). Pendapat tersebut mendukung Grant et al. (2001), Kladivko (2001), Takken et al. (2001), dan Imhoff et al. (2002) yang menyatakan bahwa rotasi tanaman dengan menggunakan jenis tanaman kacang-kacangan (legume) dapat meningkatkan nisbah C/N tanah pada lapisan permukaan, menurunkan laju erosi tanah dan aliran permukaan, memperbaiki kekuatan tarik tanah (tensile strength), dan mengurangi pemadatan tanah.

Pengaruh pengelolaan lahan dalam jangka panjang terhadap perubahan sifat fisik dan kimia tanah telah dipelajari oleh Hooker et al. (2005), Kubota et al. (2005), Tomer et al. (2006), dan Manna et al. (2006) yang menyatakan bahwa pengolahan tanah, pemberian bahan organik, dan rotasi tanaman dapat menekan kehilangan lapisan olah tanah oleh erosi, meningkatkan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, mengurangi pemadatan tanah bertekstur liat ,dan menurunkan daya hantar air tanah bertekstur pasir.

Arsyad (2000) menyatakan bahwa pola tanam tumpang gilir dan pemberian mulsa pada areal budidaya palawija dapat menurunkan faktor tanaman (C) dan faktor pengelolaan (P) sehingaa erosi tanah dapat dikendalikan. Lebih lanjut Wu dan Tiessen (2002), Grandy et al. (2002), Huang et al. (2003), Chapplot dan Bissonnais (2003), dan Turley et al. (2003) menyatakan bahwa degradasi struktur tanah pada lahan yang dikelola secara intensif dapat diperbaiki melalui praktek pengelolaan lahan dengan menerapkan rotasi tanaman, pemberian kompos, dan pupuk kandang.

Perubahan perilaku fisik tanah sebagai akibat perbedaan pola tanam campuran antara leguminoceae dan rumput-rumputan dengan pola tanam jagung dan kedelai secara monokultur telah dipelajari oleh Seobi et al. (2005). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bobot isi tanah (bulk density) pada perlakuan pola tanam campuran leguminoceae dan rumput-rumputan turun sebesar 2,3% dibanding dengan pola tanam jagung dan kedelai secara monokultur. Zotarelli et al. (2005) menyatakan bahwa rotasi tanaman antara gandum dan kedelai dapat memperbaiki stabilitas agregat tanah dan ruang pori tanah.

(24)

seperti untuk pertanian; (b) elevasinya; (c) topografinya; (d) iklimnya; dan berdasarkan kemasaman tanahnya.

Berdasarkan topografinya, lahan kering di Indonesia dibedakan menjadi 4 (empat) kelompok yaitu : a) lahan datar berombak dengan lereng 3–8%; kelompok ini menempati areal seluas 31.478.000 ha; b) lahan berombak-bergelombang dengan lereng 8 – 15 %, menempati areal seluas 24.290.000 ha; c) lahan berbukit dengan lereng 15 – 30 %, menempati areal seluas 36.871.000 ha; dan d) lahan bergunung dengan lereng >30 %, meliputi areal seluas 51.306.000 ha (Hidayat dan Anny, 2002, dimodifikasi).

d. Agribisnis Tanaman Pangan di Lahan Kering

Sistem agribisnis mengandung pengertian sebagai rangkaian kegiatan beberapa sub-sistem yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Sub–sub-sistem tersebut adalah : 1) sub-sistem faktor input pertanian (input factor sub-sistem); 2) sub-sistem produksi pertanian (production sub-sistem); 3) sub-sistem pengolahan hasil pertanian (processing sub-sistem); 4) sub-sistem pemasaran, baik untuk faktor produksi, hasil produksi maupun hasil olahannya (marketing sub-system); dan 5) sub-sistem kelembagaan penunjang (supporting institution sub-system ) (Krisnamurthi dan Saragih, 1992).

(25)

Jika dilakukan pengelompokan, kegiatan pertanian (budidaya) akan dimasukkan sebagai usaha tani (on-farm activities) sedangkan pengadaan sarana produksi, agroindustri pengolahan, pemasaran dan jasa–jasa penunjang dikelompokkan dalam kegiatan luar usaha tani (off-farm activities). 1) Status dan Peranan Agribisnis Kecil

Pengertian agribisnis yang telah dijelaskan pada awal tulisan ini mengandung dua dimensi penting. Pertama, agribisnis mengandung pengertian fungsional, yaitu sebagai rangkaian fungsi-fungsi kegiatan untuk memenuhi kegiatan manusia. Kedua, sistem agribisnis mengandung pengertian struktural, yaitu sebagai kumpulan unit usaha yang melaksanakan fungsi dari masing-masing sub-sistem. Unit usaha tersebut dapat berbentuk usaha seorang petani dengan usaha taninya yang tidak berbadan usaha hingga perusahaan besar milik swasta atau negara dengan bentuk PT, CV, Perum, koperasi atau bentuk-bentuk lain. Unit usaha tersebut dapat juga memiliki sifat homogen atau heterogen, berteknologi tinggi atau tradisional, komersial atau subsisten, padat modal atau padat tenaga kerja, dan berbagai keragaman sifat lainnya. Dengan demikian, pengertian sistem agribisnis tidak hanya mencakup kegiatan “bisnis pertanian“ yang “besar” dan dengan modal yang kuat tetapi termasuk juga kegiatan-kegiatan skala kecil dan lemah. Unit kegiatan skala kecil tersebut, atau yang dikenal dengan usaha pertanian rakyat, telah memberikan sumbangan yang cukup besar baik dilihat dari jumlah unit kegiatan, luas lahan, produksi yang dihasilkan, keragaman jenis kegiatan, kesempatan kerja yang diciptakan, maupun sumbangannya terhadap pendapatan daerah dan nasional. Agribisnis kecil merupakan ciri bentuk agribisnis di Indonesia pada saat sekarang dan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, dalam strategi pengembangan sistem agribisnis sebagai wujud dari pengembangan pertanian maka pengembangan unit usaha kegiatan skala kecil ini harus ditempatkan sebagai objek sekaligus subjek utama.

2) Sub-sistem Kegiatan Usaha Tani

(26)

modal, lahan, ketrampilan, penguasaan teknologi, aksesibilitas terhadap pasar, bargaining position, dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut bermuara pada rendahnya tingkat pendapatan dan kesulitan untuk berkembang.

Identifikasi masalah kemiskinan yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa kantong-kantong kemiskinan di pedesaan berhubungan erat dengan keragaan kegiatan sub-sistem usaha tani. Dengan demikian, pengembangan sub-sistem agribisnis ini harus merupakan prioritas dalam pengembangan sistem agribisnis di UPT-TPLK.

3) Sub-Sistem Kegiatan Luar Usaha Tani

Sub-sistem luar usaha tani yang memegang peranan yang sangat besar dalam sistem agribisnis di Indonesia maupun negara – negara berkembang lainnya adalah layanan dalam bidang pengolahan dan pemasaran. Sub-sistem ini umumnya berciri capital/technological intensive dan telah memberikan sumbangan yang besar pada nilai tambah kegiatan ekonomi pertanian dan pedesaan. Di banyak negara Asia dan Amerika Latin, kegiatan luar usaha tani ini memberikan sumbangan hingga 20 dan 30 persen terhadap total kesempatan kerja pedesaan dan peningkatan sekitar 30 persen pada tahun 1970-an dan 1980-an, sedangkan kesempatan kerja kegiatan usaha tani sendiri hanya meningkat sekitar 14 persen pada kurun waktu yang sama. Di samping itu, pendapatan perkapita dari kegiatan luar usaha tani tumbuh sekitar 14 persen per tahun, sedangkan dari kegiatan usaha tani hanya 3% per tahun. Keterkaitan kegiatan tersebut telah lebih meningkatkan laju pertumbuhan pendapatan per kapita di pedesaan. Di samping itu, Asia dan Amerika Latin memiliki elastisitas permintaan atas pendapatan untuk produk-produk pertanian yang telah mendapatkan pengolahan lanjut yang lebih besar dari produk pertanian mentah. Fenomena tersebut belum terjadi di Afrika.

(27)

(industri dengan 5 – 19 pekerja) menyerap 14 persen, dan industri besar (industri dengan lebih dari 20 pekerja) menyerap 32.2 persen. Dari tahun 1975 hingga 1986, penyerapan tenaga kerja oleh industri kecil meningkat sekitar 20 persen per tahun, sedangkan peningkatan pada industri besar hanya sekitar 16 persen (Tambunan,1989).

Besarnya kegiatan usaha tani sebenarnya menunjukkan potensi pasar domestik yang besar. Namun demikian, kegiatan-kegiatan luar usaha tani tersebut sering luput dari pandangan kita karena terlalu “silau“ oleh orientasi ekspor. Seharusnya pengembangan pasar domestik, terutama dalam bentuk kegiatan–kegiatan non-usahatani, dapat merupakan bentuk tahapan antara sebelum menuju ke pasar internasional. Hal ini didukung oleh berbagai masalah yang sekarang dihadapi dalam perdagangan internasional seperti mutu, kontinuitas, dan sebagainya, yang sebenarnya dapat lebih mudah diatasi dengan mengembangkan kegiatan domestik yang dapat melaksanakan fungsi-fungsi tata niaga (penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, sortasi, grading, dan sebagainya).

e. Penelitian dan Telaahan Terdahulu 1) Agribisnis.

Pembangunan bidang pertanian tetap menjadi prioritas dalam program pembangunan di Indonesia dengan tujuan utama terciptanya peningkatan produksi, pendapatan dan kesempatan kerja. Di sektor pangan, pembangunan pertanian diarahkan untuk mengatasi kekurangan pangan melalui peningkatan produksi secara nasional. Upaya peningkatan produksi ini pada gilirannya diharapkan akan membawa kepada peningkatan pendapatan masyarakat secara keseluruhan. Program pembangunan transmigrasi tanaman pangan secara politis dan kebijakan pemerintah merupakan salah satu elemen dalam program peningkatan produksi dan kesempatan kerja nasional.

(28)

juga pemilik modal, mempunyai kesempatan yang lebih besar terhadap akses teknologi maju, sehingga dapat lebih memperluas usaha taninya.

Pengembangan revolusi hijau yang dilakukan di Pulau Jawa di lahan sawah telah mengakibatkan petani terperangkap dalam situasi ketergantungan yang semakin tinggi dalam penggunaan input modern. Harga input produksi dan kebutuhan konsumsi meningkat, sementara harga hasil produksi pertanian tidak mampu mengimbangi tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga sehingga petani berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Nasib petani transmigran tanaman pangan di lahan kering saat ini dapat dikatakan hampir sama dengan kondisi petani pada revolusi hijau tersebut, walaupun rataan luas lahan transmigran lebih luas dibandingkan rataan petani sawah di Pulau Jawa. Jika di Pulau Jawa tidak efektifnya program revolusi hijau lebih disebabkan karena kurangnya kebijakan tentang penataan/pembaharuan agraria dan penataan kelembagaan sosial ekonomi masyarakat di pedesaan, maka di lokasi transmigrasi belum adanya kebijakan pemberdayaan transmigran yang sesuai karakteristik lokasi, belum tertatanya pranata kelembagaan, belum diterapkannya strategi pencegahan dan penanganan degradasi lahan, merupakan beberapa penyebabnya.

Lahan yang berproduksi tinggi untuk suatu komoditi dapat diperoleh jika ditunjang oleh tanah yang subur, ketersediaan air yang cukup, energi matahari dan suhu yang memungkinkan dan aerasi yang baik. Menurut Djaenudin dan Sudjadi (1987), tanah yang digunakan untuk lokasi transmigrasi di Kalimantan dan Sumatera pada umumnya tergolong tanah masam. Faktor iklim di lahan-lahan ini sebenarnya bukan merupakan penghambat bagi usahatani, sebaliknya curah hujan yang tinggi pada lahan dapat menimbulkan erosi. Kendala utama dalam pengelolaan usahatani di tanah masam, adalah miskinnya unsur hara dan terjadinya fiksasi P yang tinggi.

(29)

miskin akibat penggusuran tanah secara mekanik dapat diatasi dengan pemberian dolomit, kapur dan pupuk fosfat.

Penelitian pengelolaan tanah dan tanaman sistem lahan kering pada tanah Podsolik menunjukkan bahwa selama 5 tahun berturut–turut, hasil pola tanam tumpang sari lebih baik dari pada tanaman tunggal secara bergantian. Sedangkan penelitian Nugroho (1988) di Kuamang Kuning menunjukkan bahwa lereng, kedalaman lapisan olah dan tekstur tanah berpengaruh nyata terhadap bobot tanaman jagung. Meskipun demikian, pengaruh pemupukan lebih besar terhadap produksi (bobot gabah kering panen) dari pada pengaruh lereng, kedalaman lapisan olah dan kelas tekstur tanah. Sedangkan penelitian Irawan, Soemardjo dan Adhi (1989), menunjukkan bahwa produktivitas tanah ditentukan oleh asal bahan induk, lereng dan sarana produksi. Selanjutnya Syaiful, Tastra dan Syarifuddin (1984) menyimpulkan bahwa permasalahan produktivitas lahan di daerah transmigrasi lahan kering ditentukan oleh kesuburan tanah, kemampuan pengelolaan tanah oleh petani, pembukaan lahan, waktu tanam, ketepatan waktu, dosis pupuk dan sarana yang tersedia.

Pembangunan pemukiman transmigrasi dengan pendekatan agribisnis sebenarnya telah lama dilaksanakan, namun dalam perkembangannya masih banyak hal yang perlu dicermati ulang. Bagian yang banyak menghadapi masalah adalah pembinaan sistem usahatani atau budidaya. Permasalahan yang dihadapi antara lain berupa keterbatasan keterampilan dan penguasaan teknologi (masalah kompetensi sumber daya transmigran dan pendamping (organizer), keterbatasan modal dan tenaga mengelola lahan usaha, karena usaha tani berciri land base. Untuk itu aspek keragaman lingkungan (fisik, ekonomi, dan sosial budaya) menjadi sangat strategis untuk diperhatikan dalam perencanaan dan implementasi (Depnakertrans, 1999). Diperlukan penetapan komoditas unggulan dan komoditas pertanian lain yang dapat dipadukan sebagai penyangga (buffer) bagi kelangsungan rumah tangga transmigran pada tahap konsolidasi berupa aktivitas mix farming yang sesuai dengan kelayakan usaha.

(30)

kw/ha, kacang kedelai 6.98 kw/ha, kacang tanah 8.47 kw/ha, dan kacang hijau 6.53 kw/ha. Menurut data dari Depertemen Pertanian, produktifitas rerata nasional tahun 2003 dan 2004 berturut-turut adalah sebagai berikut: a) padi ladang 24.03 kw/ha dan 24.73 kw/ha (gabah kering giling); b) jagung 24.04 kw/ha dan 27.02 kw/ha (pipilan); c) ubi jalar 94.66 kw/ha dan 95.69 kw/ha (umbi basah); d) ubi kayu 126.73 kw/ha dan 130.53 kw/ha (umbi basah); e) kacang kedelai 11.67 kw/ha dan 11.93 kw/ha (biji kering); f) kacang tanah 10.92 kw/ha dan 11.51 kw/ha (biji kering); kacang hijau 9.70 kw/ha dan 9.7 kw/ha (biji kering), (http://www.deptan.go.id/ ditjen tp/sit Prod Aklin 04.htm).

Menurut Abdurachman et al. (1997), petani lahan kering tidak mungkin hidup jika ekonomi rumah tangga hanya tergantung kepada hasil tanaman. Oleh karena itu pendekatan yang tepat adalah melalui pendekatan sistem usahatani yang memadukan komoditas tanaman pangan dengan tanaman tahunan dan ternak dalam suatu model usaha tani yang sesuai, dengan mempertimbangkan keserasian sumber daya yang dimiliki petani. Contoh model usahatani terpadu antara lain meliputi padi gogo dan palawija yang diatur penanamannya dalam pola setahun disesuaikan dengan musim tanam seluas 1 ha, tanaman karet 1 ha (siap sadap), dan ternak yang awalnya terdiri atas 1 ekor sapi, 3 ekor kambing, dan 11 ekor ayam buras. Dengan modal tersebut, ternyata pendapatan petani meningkat dari Rp. 1.4 juta/tahun pada tahun 1988/1989 menjadi Rp. 2.3 juta/tahun pada tahun 1990/1991, sedangkan pendapatan petani yang tidak menerapkan teknologi model usahatani tersebut berkisar antara Rp.1.1 juta s/d 1.2 juta/tahun. Dalam model usahatani tersebut, terdapat interaksi komplementer antara pengusahaan tanaman dengan tanah. Selanjutnya Akhadiarto et al. (1997) mendukung hal tersebut dan menyatakan bahwa dengan adanya sistem usahatani terpadu, akan diperoleh keuntungan antara lain : a) meningkatkan populasi ternak; b) meningkatnya produksi buah-buahan; c) membuka lapangan kerja di pedesaan; d) berhasilnya konservasi tanah dan air; dan e) meningkatnya pendapatan petani lahan kering.

(31)

mencapai masing-masing 8 ton/ha, 1.9 ton/ha dan 6.0 ton/ha (berat basah dengan tongkol). Tanpa pembuatan teras dan tanpa pemberian kompos, produksi cabe hanya sebesar 2.0 ton/ha, kedelai 0.7 ton/ha dan jagung 1.0 ton/ha (berat basah dengan tongkol). Selanjutnya Saragih et al. (1991) menyatakan bahwa dengan melakukan pergiliran pola tanam, peningkatan kualitas dan kuantitas input, dan perbaikan perencanaan usahatani oleh kelompok dalam usahatani lahan kering dapat dihasilkan rata-rata produksi tanaman pangan sebesar 4,062.4 kg/ha/tahun setara padi, lebih tinggi dari produksi tanaman pangan kontrol yakni 2,630.7 kg/ha/tahun setara padi. Hasil penelitian Tuherkih et al. (1997/1998) pada lahan kering di Pauh Menang Propinsi Jambi memberikan produktifitas hasil kacang tanah varietas Kelinci yang cukup tinggi, yakni 1.92 ton/ha (polong kering), diikuti oleh varietas Pelanduk (1.78 ton/ha) dan Gajah (1.73 ton/ha). Mereka menyimpulkan bahwa ketiga varietas tersebut mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan pada lahan kering yang bersifat masam.

2) Degradasi Lahan.

Degradasi tanah atau lahan (soil or land degradation) merupakan proses berkurangnya atau hilangnya kegunaan suatu tanah atau lahan dalam usaha meningkatkan produksi pertanian dan kehutanan. Menurut Lai (1994), kerusakan tanah/lahan dapat disebabkan oleh pemadatan tanah, erosi, desertifikasi, penurunan tingkat kesuburan, keracunan dan pemasaman tanah, kelebihan garam di permukaan tanah, dan polusi tanah. Sedangkan menurut Oldeman (1999), faktor–faktor yang mempengaruhi degradasi tanah/lahan adalah: a) pembukaan lahan (deforestation) dari penebangan kayu hutan secara berlebihan untuk kepentingan secara domestik; b) penggunaan lahan untuk peternakan/penggembalaan secara berlebihan (over grasing); c) aktivitas pertanian dalam penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan. Penggunaan lahan yang tidak mempertimbangkan kaidah–kaidah konservasi tanah dan air akan berakibat mempercepat proses degradasi lahan yang terdapat di bagian hulu daerah aliran sungai.

(32)

produktivitas lahan adalah untuk : a) mengidentifikasi sejak awal masalah–masalah dan alternatif teknologi atau pendekatan untuk memperbaiki dampak dari pengelolaan lahan yang salah; b) mengevaluasi keragaan teknologi atau program pengelolaan lahan yang digunakan untuk memperbaiki masalah tersebut; dan c) menyediakan bahan bagi pembuat kebijakan dan perencanaan pembangunan pertanian untuk menyusun dan memperbaiki kebijakan–kebijakan dan program– program pembangunan pertanian (FAO dan IIRR, 1955, dalam Santoso, et al., 2001). Selanjutnya Santoso et al. (2001) menjelaskan pengguna dari pemantauan kualitas dan produktivitas lahan adalah termasuk petani, masyarakat, penyuluh, peneliti, pembuat kebijakan, dan perencanaan pembangunan. Petani, pengambil kebijakan dan organiser mungkin tidak menyadari pentingnya kualitas lahan petani. Hal ini diduga karena keterbatasan pengetahuan (knowledge). Secara kasat mata, dampak dari kegiatan pertanian atau degradasi lahannya tidak terjadi dengan segera dan tidak mudah dilihat. Juga diketahui bahwa dampak pengelolaan lahan tidak terbatas hanya pada lahan yang dikelola saja, tetapi berpengaruh pada areal yang lebih luas dibawahnya yakni berupa eutropism, polusi, banjir dan lain-lainnya. Pemantauan kualitas dan produktivitas lahan perlu dilakukan berulang kali secara teratur dalam jangka waktu lama.

(33)

a) Indikator adalah statistik lingkungan yang mengukur atau mencerminkan status kondisi lingkungan atau perubahan kondisinya (misalnya erosi dalam ton/ha).

b) Kriteria ialah standar atau aturan (model, uji atau ukuran) yang menentukan penilaian atas kondisi lingkungan (misalnya dampak erosi terhadap hasil tanaman, kualitas air dsb).

c) Batas kritis yaitu tingkatan–tingkatan dimana diluar batas tersebut sistemnya akan mengalami perubahan nyata; titik-titik dimana rangsangan akan menimbulkan respon (misalnya level dimana di luar batas tersebut erosi sudah tidak dapat ditolerir lagi).

(34)

Proses Degradasi Lahan

Erosi Tanah yang dipercepat Pemadatan Tanah Keadaan anaerob Pengurasan Kesuburan Tanah Pemasaman Tanah Keadaan Salin dan Sodik Degradasi Biologis

• Keadaan tanah lapisan atas yang tersisa

• Tanah ber- batu

• Warna tanah

• Tekstur tanah

• Kapasitas air tersedia

• Kandungan bahan organik tanah

• Kandungan CaCO3

• Akar – akar

pohon muncul

• Berat Isi (BD)

• Ketahanan pemadatan

• Porositas

• Laju infiltrasi

Surface ponding

• Akar – akar

tanaman

• Tingkat kebasahan

• Permeabi-litas

• Warna tanah

• Karat tanah

• Pori drainase

• Tanaman –

tanaman hidromorfis

• Kandungan unsur hara

• Gejala-gejala tanaman

• Tingkat –

tingkat keracunan unsur hara

• pH

• Al dapat di-tukar

• Kemasaman total

• Tanaman –

tanaman toleran

• Warna tanah

• Konduktivi-tas listrik

• Struktur tanah

• SAR

• Permeabili-tas

• Tanaman – tanaman holomorfik

• Kandungan bahan organik tanah

• Keaneka- ragaman biologis

• Aktivitas cacing tanah

• Struktur tanah

[image:34.842.105.779.112.425.2]
(35)

Dalam penelitian ini, tidak semua indikator degradasi lahan sebagaimana disajikan pada Gambar 3 diteliti, karena terdapat indikator-indikator yang perubahannya memerlukan waktu yang relatif lama. Dalam penelitian ini hanya dipilih beberapa indikator yang dinilai penting dan perlu diteliti untuk menilai kualitas dan produktivitas lahan dengan bentuk wilayah bergelombang sampai dengan berbukit. Indikator yang diamati adalah: erosi, pemadatan tanah, air, kesuburan, kemasaman, salinitas dan sodisitas, dan degradasi biologis (kadar bahan organik dan struktur tanah), produksi tanaman pangan, hortikultura, buah-buahan dan tanaman perkebunan yang dibudidayakan transmigran.

f. Pembangunan Berkelanjutan

Munasinghe (1993), menyatakan bahwa dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development) terkandung tiga aspek utama, yaitu aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Hal ini berarti bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan bagi generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya.

Pembangunan berkelanjutan menurut Dahuri (2003) mengandung tiga dimensi utama, yaitu dimensi ekonomi, dimensi sosial dan dimensi ekologi. Melalui suatu public decision, porsi ke-tiga dimensi tersebut harus disepakati dan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi masyarakat. Sitorus (2003) berpendapat bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk dapat memenuhi kebutuhannya.

2.5. Sosial Budaya

Menurut Surmayanto (1997), jenis penggunaan tanah di suatu wilayah atau negara, berkaitan erat dengan kepadatan penduduk, struktur perekonomian, kondisi biofisik lingkungan serta keragaan geografis dan geopolitiknya.

(36)

(Mather, 1986). Aspek pendidikan dapat dilihat dari tingkat pendidikan kepala keluarga yang diukur dari lamanya mereka mengikuti pendidikan secara formal. Hal ini penting mengingat daya serap pikiran dan daya adaptasi terhadap lingkungan ditentukan oleh wawasan yang dimiliki yang diperoleh dari bangku sekolah. Selain itu tingkat pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang bermanfaat untuk pengembangan bakat maupun minat untuk berinovasi. Disamping aspek pendidikan, aspek umur juga dapat mempengaruhi prilaku penggunaan lahan, karena usia dapat menunjukkan tingkat usia produktifitas kepala rumah tangga dan pengalaman didalam budidaya usaha tani. Pengetahuan yang dikuasai kepala rumah tangga dan dibutuhkan didalam pengambilan keputusan untuk penggunaan lahan dapat meliputi pengetahuan ilmiah moderen maupun pengetahuan tradisional atau budaya lokal masyarakat asli (traditional knowledge) yang telah berkembang secara turun temurun dalam suatu komunitas disuatu wilayah tertentu.

Menurut Barlow (1986) penggunaan lahan dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan utana seperti faktor fisik lahan, faktor ekonomi, faktor kelembagaan. Faktor kelembagaan yang dimaksud meliputi aspek kondisi sosial budaya, dan tradisi masyarakat, kepercayaan yang dianut masyarakat serta kebijaksaan pemerintah. Ditinjau dari aspek ekonomi, yang erat mempengaruhi prilaku penggunaan lahan meliputi aspek struktur pembiayaan dari jenis komoditi, kemantapan, sistem pemasaran (Wijayanto, 2001). Menurut Natural Resources Managemen (1996), perilaku pemilihan alternatif penggunaan lahan juga dipengaruhi oleh sikap terhadap berbagai manfaat atau nilai dari sumber daya alam dan faktor suku.

(37)

Paling tidak ada empat pilar atau modal yang menopang kehidupan masyarakat, yaitu modal manusia (human capital), alam dan lingkungan (natural capital), prasarana (produced or contructed capital) dan sosio-budayanya (Social Capital and Culture: as Master Keys to Development; Kliksberg, 1999). Dalam perspektif pembangunan pedesaan terpadu, keempat pilar harus dilihat dalam satu kesatuan (Kostov dan Lingrad, 2001), dan sering kali penyelenggara pembangunan pedesaan alpa dalam menempatkan aspek sosio-budaya (Social Capital: The Missing Link?; Grootaert, 1998) sebagai salah satu faktor kuncinya. Bisa dipahami jika kondisi lingkungan (atau natural capital) akan ikut menentukan dinamika sosio-budaya setempat akan sangat menentukan kestabilan dan keberadaan kondisi lingkungan hidup setempat.

Seorang ahli ekologi kebudayaan, Julian H. Steward (1995), mengajukan pendapat bahwa dari waktu ke waktu masyarakat mempunyai daya kreasi untuk melakukan adaptasi budaya (misalnya dalam bentuk akulturasi) terhadap lingkungannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa antara aspek budaya masyarakat dan lingkungannya terjadi hubungan yang saling mempengaruhi. Hal ini pula yang memberikan gambaran, dengan menggunakan kekuatan pikiran dan pengetahuan yang dimilikinya, (organisma) manusia dalam batas tertentu mempunyai peran yang menentukan dalam pengelolaan (agro)ekosistemnya. Penguatan aspek (atau modal) sosio-budaya sangat penting untuk meningkatkan kreativitas masyarakat (Fischer et al., 2002) dan sangat penting pula untuk mewujudkan pembangunan pedesaan terpadu (Kostov dan Lingrad, 2001) berbasis agroekosistem setempat.

(38)

aspek sosio-budaya dalam perspektif perubahan atau pemberdayaan masyarakat dalam dimensi jangka panjang dan pada ukuran sistem sosial yang relatif besar.

2.6. Pengembangan Ekonomi Rakyat

Pada tataran ekonomi makro, pemberdayaan ekonomi pedesaan harus disinergikan dengan sistem atau kebijakan pemerintah. Sistem atau kebijakan tersebut dikategorikan dengan ekonomi kerakyatan, yaitu kebijakan atau sistem ekonomi yang mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat dalam proses pembangunan. Keterlibatan semua stakeholders dalam pembangunan ekonomi regional dan promosi pendekatan dari bawah (bottom up approach) secara aktif merupakan bagian kebijakan pemerintah dalam pembangunan wilayah untuk membangun kembali ekonomi berkelanjutan (Hughes et al., 2002).

Berbeda dengan ekonomi perkotaan (urban economic) yang bertumpu pada penguasaan kapital dengan ciri keterbukaan antar pelaku ekonomi yang tidak memiliki batas (borderless), maka ekonomi pedesaan (rural economic) adalah ekonomi pribumi (people’s economy is endogenous economy), bukan aktivitas perekonomian yang berasal dari luar aktivitas masyarakat. Ekonomi pedesaan didefinisikan sebagai perekonomian atau perkembangan ekonomi kelompok masyarakat yang berkembang relatif lambat, sesuai dengan kondisi yang melekat pada masyarakat tersebut sebagai masyarakat pedesaan. Ekonomi pedesaan lebih bersifat operasional dan mikro. (Basri,1999)

Strategi pengembangan ekonomi pedesaan diupayakan dengan cara memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat di pedesaan terlibat secara aktif dalam proses pembangunan pedesaan. Pembangunan atau modernisasi pedesaan bukan sekedar menjadikan desa tradisional menjadi modern. Pembangunan dan modernisasi adalah suatu usaha dan kegiatan yang sangat operasional dengan mengejar tujuan yang nyata dalam jangka waktu tertentu.

(39)

upaya untuk menyusun aturan main ekonomi yang adil, yaitu menempatkan ekonomi rakyat pada posisi yang sederajat dengan usaha menengah dan besar.

Pemihakan (affirmative actions) tidak berarti memenangkan yang lemah, tetapi agar persaingan berjalan sehat dan seimbang (in a level playing field), antara ekonomi konglomerat yang minoritas dengan ekonomi rakyat yang mayoritas. Meskipun demikian, dibutuhkan prakondisi agar bisa sampai pada keadaan di mana partisipasi rakyat dalam pembangunan berjalan secara optimal antara lain: (1) ketiadaan kesenjangan kemampuan dan produktivitas, (2) kesempatan atau akses yang proporsional terhadap sumber dana dan daya antar pelaku ekonomi di pedesaan, dan (3) adanya kemitraan antar sesama pelaku ekonomi pedesaan.

Pemberdayaan ekonomi rakyat berkelanjutan sekurang-kurangnya mencakup tiga dimensi yaitu tujuan ekonomi, tujuan sosial, dan tujuan ekosistem (Anwar dan Rustiadi, 2000)

2.7. Pemodelan dengan Metoda Sistem Dinamik

Maarif dan Tanjung (2003), menyatakan bahwa model merupakan abstraksi dari suatu sistem yang dikembangkan untuk tujuan studi. Untuk membuat suatu model diperlukan beberapa tahapan sebagai berikut : a) penetapan struktur model yang meliputi system boundary, entity, atribut dan aktivitas; b) pemenuhan data/info yang meliputi nilai atribut serta mendefinisikan hubungan dalam aktivitas, yang biasanya dituangkan dalam bentuk flowchart.

(40)

bentuk abstraksi atau penyederhanaan yang sengaja dibuat manusia untuk menirukan suatu gejala alam yang nyata.

Model dimaksudkan sebagai gambaran dari sistem yang ada di alam, sehingga suatu model adalah penyederhanaan sistem interaksi antar komponen di alam dengan meniadakan komponen yang pengaruhnya kecil. Model yang dibuat oleh peneliti hanyalah menggambarkan sebagian dari komponen yang ada di alam, sehingga hasil dari suatu analisis model selalu memiliki kesalahan atau ketidaktepatan. Karena itu suatu model harus dinilai validitasnya atau tingkat kebenarannya. Apabila uji validasi dari suatu model rendah berarti model tersebut tidak dapat dipakai. Kesalahan dari model yang rendah validitasnya umumnya adalah karena kesalahan dalam memilih komponen yang dimasukkan atau dibuang. Beberapa penelitian menggunakan kriteria validitas model sebagai berikut : a) kebenaran > 95% disebut sangat baik; b) kebenaran 85 – 94% disebut cukup baik; c) kebenaran 75 - 84% disebut baik; dan d) kebenaran < 74% disebut tidak baik (Suratmo, 2002).

a. Pendekatan Sistem dan Berpikir Sistemik

Sistem menurut Marimin (2004), adalah sekelompok metoda, prosedur, teknik atau objek yang berhubungan dan terorganisir, saling berkaitan satu sama lain, yang membentuk kesatuan secara menyuluruh dalam rangka mencapai tujuan atau sub-tujuan. Arti lainnya, sistem adalah kumpulan tertentu, mesin dan metoda yang terorganisir untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem oleh Suryadi dan Ramdhan (2002), diartikan sebagai suatu disiplin untuk melihat secara keseluruhan dan keterkaitan dibanding sesuatu yang berdiri sendiri, meninjau pola perubahan dibanding tinjauan statis. Sedangkan Samsudin (2001), mengemukakan sistem adalah setiap fenomena, baik struktural maupun fungsional yang memiliki paling sedikit dua komponen yang saling berinteraksi.

Berdasarkan pendapat para ahli sistem tersebut penulis mengartikan bahwa sistem adalah suatu tata keteraturan menilik hubungan searah dan timbal balik di alam nyata (tatanan normatif) yang berproses secara alamiah atau rancangan manusia untuk mencapai suatu hasil final atau hasil derivatif.

Menurut Patten (1972), analisis sistem ialah serangkaian teknik yang mencoba untuk :

(41)

2. Menjelaskan interaksi proses-proses yang berpengaruh terhadap sistem secara keseluruhan yang diakibatkan karena adanya berbagai masukan. 3. Menduga atau meramal apa yang mungkin terjadi pada sistem bila

beberapa faktor yang ada dalam sistem berubah.

Pendekatan sistem ialah suatu pendekatan analisis organisatoris yang menggunakan ciri-ciri sistem sebagai titik tolak analisis. Manajemen sistem dapat diterapkan dengan mengarahkan perhatian kepada berbagai ciri dasar sistem yang perubahan dan gerakannya akan mempengaruhi keberhasilan suatu sistem (Marimin, 2004)

Tujuan analisis sistem menurut Suryadi dan Ramdhani (2002) ialah untuk mendidik para pengambil keputusan untuk berfikir dengan cara yang teratur dan menyeluruh, lebih dari sekedar menyusun formula, atau bermain dengan angka-angka dan komputer. Analisis Sistem ialah suatu keterampilan memanfaatkan perangkat komputer secara kreatif.

Suratno (2002) menyatakan bahwa analisis sistem merupakan kajian untuk memahami ciri, perilaku atau cara kerja dari interaksi fungsional antar berbagai komponen yang ada. Penyederhanaan komponen dan interaksi dapat dilakukan dengan menghilangkan komponen-komponen yang kurang berpengaruh atau pengaruh interaksinya kecil. Cara penyederhanaan ini disebut sebagai model.

Berpikir sistemik (systems thinking) adalah sebuah disiplin baru untuk memahami konteksitas dan perubahan-perubahan (Maani dan Cavana, 2000). Berfikir sistemik mempunyai tiga dimensi yaitu, paradigma, bahasa dan metodologi. Syarat awal untuk berfikir sistemik adalah adanya kesadaran untuk mengapresiasi dan memikirkan suatu kejadian sebagai sebuah sistem. Kejadian apapun, baik fisik maupun non-fisik, difikirkan sebagai unjuk kerja atau dapat berkaitan dengan unjuk kerja dari keseluruhan interaksi antar unsur dalam batas lingkungan tertentu (Muhammadi, et al., 2001).

(42)

Analisis kebijakan. Kelima langkah tersebut dapat digambarkan secara skematis yang disajikan dalam Gambar 4.

1

2

5

3

Gambar 4. Langkah-langkah dalam berfikir sistemik (Sumber: Muhammadi et al., 2001) b. Metoda Sistem Dinamik

Metoda sistem dinamik pertama kali diperkenalkan oleh Forrester pada sekitar tahun 1950 di Massachussets Institute of Technology, Amerika Serikat. Metoda ini dikembangkan dari ilmu keteknikan (control system), khususnya tentang kontrol automatis (cybernetics) (Muhammadi et al., 2001). Ada dua keuntungan pendekatan dengan sistem model dinamik (Muhammadi, et al., 2001), pertama dapat menyederhanakan masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana, dan kedua dapat memperidiksi perilaku sistem pada masa yang akan datang, sehingga memudahkan untuk mempersiapkan strategi secara lebih dini.

Metoda sistem dinamik berhubungan erat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang trend atau pola perilaku dinamik (sejalan dengan berjalannya waktu) dari sebuah sistem yang kompleks. Penggunaan sistem dinamik diarahkan kepada bagaimana dengan memahami perilaku sistem tersebut, orang dapat meningkatkan efektifitas dalam merencanakan suatu kebijakan dan pemecahan masalah yang timbul. Selanjutnya, Muhammadi et al., (2005) menyatakan bahwa tujuan sistem dinamik adalah untuk :

[image:42.595.173.443.130.332.2]
(43)

2) mengoptimalkan hasil kerja sistem (setelah difahami cara kerja masing-masing unsur sistem); dan

3) meramalkan kinerja sistem di masa yang akan datang berdasarkan hasil kerja yang optimal.

Obyek yang dimodelkan dalam metoda sistem dinamik adalah struktur informasi sistem. Model tersebut berisi aktor-aktor, sumber-sumber informasi, dan jaringan aliran informasi yang menghubungkan keduanya. Analogi fisik dan matematik untuk struktur informasi itu dapat di buat dengan mudah. Sebagai analogi fisik, sumber informasi adalah suatu gudang (tempat penyimpanan) sedangkan keputusan (menambah atau mengurangi barang) adalah aliran yang masuk ke dalam atau ke luar dari gudang. Dalam analogi matematik gudang (sumber informasi) dinyatakan sebagai variabel keadaan, sedangkan keputusan merupakan turunan dari variabel keadaan tersebut (Muhammadi et al., 1995 dalam Soesilo, 2005).

Muhammadi et al., (2001) menyatakan bahwa pembuatan model dan simulasi model sebagai bagian dari metode sistem dinamik dilakukan melalui beberapa tahap yakni : 1) pembuatan konsep; 2) pembuatan model; 3) simulasi model; 4) validasi model; dan 5) analisis kebijakan

Tahap-tahap tersebut secara sederhana dapat dibuat menjadi sebuah diagram yang disajikan pada Gambar 5.

1

5 4

2

3

[image:43.595.148.475.472.701.2]
(44)

Tahap-tahap pembuatan dan simulasi model sebagaimana disajikan pada Gambar 5 di atas, secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Pembuatan konsep

Tahap pertama adalah mengenali permasalahan, mencari siapa yang menanganinya, dan mengapa masalah tersebut terjadi. Salah satu yang menarik dari system dynamic ini adalah mempelajari ulang permasalahan untuk mendapatkan solusi. Pada tahap ini suatu kejadian dipelajari sehingga mendapatkan suatu pola. Setelah mendapatkan suatu pola, maka kita dapat merumuskan suatu permasalahan. Pola tersebut dinamakan mental model.

Setelah memahami permasalahan, maka mental model yang dihasilkan dijabarkan dalam sebuah model diagram yang disebut dengan diagram lup kausal atau Causal Loop Diagram (CLD). Causal loop diagram adalah pengungkapan tentang kejadian hubungan sebab akibat (causal relationship) ke dalam bahasa gambar tertentu. Tanda panah digunakan untuk menggambarkan hubungan, saling mengait sehingga membentuk sebuah causal loop, dimana hulu panah mengungkapkan sebab dan ujung panah mengungkapkan akibat.

2) Pembuatan Model

Setelah CLD terbentuk, kemudian dibangun sebuah model komputer yang disebut dengan diagram alir atau Stock Flow Diagram (SFD). Pada tahap ini dapat dipilih satu dari beberapa perangkat lunak yang tersedia (antara lain Dynamo Professional, Vensim, Power Sim, Stella, Ithink, My Strategi). CLD diterjemahkan lebih luas dengan menggunakan simbol-simbol komputer sesuai dengan perangkat lunak yang dipilih. Simbol-simbol tersebut meliputi Simbol-simbol yang menggambarkan stock, level, flow, rate, auxiliary, dan constant.

3) Memasukkan Data ke Dalam Model (Data Input)

Gambar

Gambar 3. Indikator – indikator tanah, air dan tanaman yang berkaitan dengan proses – proses yang sangat berpengaruh pada degradasi lahan (Sumber : Lai, 1994)
Gambar 4. Langkah-langkah dalam berfikir sistemik
Gambar 5. Tahap-tahap Pembuatan dan Simulasi Model                       (Sumber: Soesilo, 2005)
Tabel 1. Biaya Transportasi dari UPT Rantau Pandan SP 1 ke Lokasi-
+7

Referensi

Dokumen terkait