ABSTRAK
BAYU DWI SANTOSO. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Juvenil Lobster Pasir Panulirus homarus di dalam Wadah yang Berbeda Warna. Dibimbing oleh
Dadang Shafruddin dan Yuni Puji Hastuti.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan warna wadah yang baik bagi kelangsungan hidup (KH) dan pertumbuhan lobster pasir selama pemeliharaan 66 hari. Lobster yang digunakan berbobot antara 0,36±0,06 g. Jumlah lobster pasir yang ditebar dalam setiap wadah adalah sebanyak 10 ekor. Wadah yang digunakan berupa box fiber putih sebanyak 16 buah, masing-masing berkapasitas 80 liter. Sebanyak 8 buah wadah dicat dengan warna hitam dan 8 wadah berwarna putih. Pakan diberikan 3 kali, pagi, siang, dan sore. Setiap box dilengkapi dengan sistem aerasi dan tempat persembunyian (shelter) berupa jaring. Sistem pengairan menggunakan sistem flow through, setiap hari dilakukan penyifonan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan warna wadah yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan lobster pasir (p>0,05). KH pada perlakuan wadah berwarna putih dan hitam masing-masing berkisar 12,5±4,63% dan 16,25±7,44%. Pertumbuhan bobot pada wadah berwarna putih dan hitam masing-masing berkisar 0,64±0,24 g dan 0,64±0,42 g. Laju pertumbuhan spesifik lobster pasir yang dipelihara pada wadah berwarna putih dan hitam masing-masing berkisar 1,54±0,39 % dan 1,41±0,78 %. Frekuensi molting pada pelakuan warna wadah putih dan hitam masing-masing 14±2,39 kali dan 14,75±1,67 kali.
ABSTRACT
BAYU DWI SANTOSO. Growth and Survival of Juvenile Sand Lobster
Panulirus homarus Maintained in Different Color of The Rearing Tank. Supervised by Dadang Shafruddin and Yuni Puji Hastuti.
The research aimed to determine the effect of tank color on growth and survival of the sand lobster. Lobster in body weight of 0.36±0.06 g were stocked at density of 10 lobster in each tank. The tank were used is white fiber box as much as 16 box with capacity 80 L. Eight tank painted with black color and the others with white color. Daily, the lobster fed three times, in morning, afternoon and evening. Every morning the bottom waste was siphoned out (once a day). Each tank was equipped with aeration system and hiding substrat (shelters). Watering system used was flow through system. The results showed that the color of the container did not give a significantly different effect on survival and growth of sand lobster. Survival on the white tank ranges from 12.5±4.63%, the Black-colored tank ranges from 16.25±7.44%. Growth weights on the white tank ranges from 0.64±0.24 g, the Black-colored tank ranges from 0.64±0.42 g. The specific growth rate of lobster on the white tank ranges from 1.54±0.39 %, the Black-colored tank ranges from 1.41±0.78 %. The frequency of molting on the white tank ranges 14±2.39 times, in color black-colored tank ranges from 14.75±1.67 times.
1
I. PENDAHULUAN
Udang merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya yang memiliki
ekonomis tinggi. Udang termasuk komoditas yang sudah dikenal dan sangat diminati oleh masyarakat. Terdapat banyak jenis udang yang tersebar di alam.
Mulai dari perairan laut, payau, hingga perairan tawar. Salah satu udang yang
memiliki ekonomis tinggi adalah lobster air laut.
Permintaan lobster air laut di dunia mengalami peningkatan sekitar 15 %
per tahun (Jones, 2008). Kenaikan permintaan ini dipengaruhi oleh pasar
internasional, terutama China, sebagai negara tujuan ekspor. Ekspor merupakan
salah satu tujuan pemasaran lobster air laut. Hongkong dan Taiwan adalah tujuan
pasar utama, meskipun beberapa produk juga dijual langsung ke utara China,
Singapura, dan Jepang. Volume yang terjual tidak diketahui, tetapi kemungkinan
besar tidak lebih dari 2 500 ton per tahun (Jones, 2008).
Sebagian besar kebutuhan lobster ukuran konsumsi dipenuhi dari hasil
tangkapan di alam. Tingginya permintaan akan lobster dikhawatirkan akan
menimbulkan penangkapan berlebih (over-fishing). Penangkapan berlebih akan berdampak pada kapasitas induk (broodstock) sebagai penghasil benih untuk budidaya. Selain akan menimbulkan penangkapan berlebih, jumlah lobster hasil
tangkapan di alam juga tidak menentu. Hal ini dipengaruhi oleh musim tangkap.
Begitu pula dengan kualitasnya, ukuran lobster cenderung beragam.
Terdapat dua jenis lobster yang umum dikembangkan di Indonesia, yaitu lobster pasir Panulirus homarus dan lobster mutiara P. ornatus. Benih lobster
yang dibudidayakan adalah benih hasil tangkapan di alam. Perbandingan
ketersediaan dari lobster pasir dan lobster mutiara adalah 3:1. Perbandingan ini
dapat bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi lobster pasir semakin
berlimpah di seluruh daerah. Harga lobster pasir dapat mencapai Rp300 000/kg
untuk lobster berukuran 100 g hingga 250 g. Sedangkan lobster mutiara dengan
ukuran kecil dihargai rendah (<Rp200 000/Kg) (Jones, 2008). Lobster pasir
memiliki kualitas yang baik untuk diolah dalam masakan, dikarenakan memiliki
2 Diperlukan kegiatan budidaya untuk menjaga ketersediaan induk lobster di
alam. Melalui kegiatan budidaya, diharapkan kebutuhan lobster untuk pasar
ekspor maupun domestik akan terpenuhi, baik dalam jumlah, kualitas, maupun
kontinuitas. Untuk saat ini, kegiatan budidaya lobster terpusat di Nusa Tenggara
Barat. NTB memiliki sumberdaya lobster yang cukup potensial. Pesisir dan laut
NTB seluas 29 159.04 km2, di dalamnya terdapat ekosistem terumbu karang
seluas 3 601 km2, yang merupakan habitat alami lobster yang kondisinya masih
baik (Idris et al.,2001).
Terbukti sulit untuk menjaga kelangsungan hidup lobster pasir pada
kegiatan budidaya. Angka kematian selama fase puerulus sangat tinggi, terutama
disebabkan oleh kanibalisme. Hal ini sesuai dengan pengalaman di Vietnam dan
Australia. Kelangsungan hidup lobster dari fase puerulus hingga juvenil ukuran 2
cm berkisar 40 sampai 50%. Sedangkan kelangsungan hidup pada fase juvenil
berkisar antara 60 sampai 90% (Jones, 2007). Tingkat kanibalisme ini akan berkurang seiring dengan pertumbuhan lobster.
Upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi tingginya tingkat
kanibalisme adalah dengan penggunaan shelter pada wadah pemeliharaan lobster.
Shelter diperlukan sebagai tempat persembunyian udang yang sedang molting, serta memperluas area untuk udang menempel (Khasani, 2008). Jaring shelter
perlu disediakan dalam wadah pemeliharaan selama kegiatan budidaya sebagai
cara yang sederhana dan efektif untuk meningkatkan kelangsungan hidup lobster
dengan mengurangi persaingan antara lobster yang lemah dan lobster yang lebih
dominan. Bobot dan pertumbuhan panjang karapas lobster secara signifikan tidak
terpengaruh oleh adanya shelter, tetapi cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan wadah pemeliharaan tanpa shelter apapun (Nguyen et al., 2008).
Lobster pasir adalah spesies yang berhabitat di karang, yang banyak
ditemukan di terumbu karang dan pantai berbatu. Lobster pasir ditemukan di
kedalaman 1 sampai 50 m. Lobster pasir aktif pada malam hari, paling aktif dari
senja hingga fajar (FAO, 2007). Untuk menciptakan suasana lingkungan yang
menyerupai kondisi habitat lobster, maka dilakukan rekayasa lingkungan. Salah
3 Warna wadah akan mempengaruhi intensitas cahaya dan panjang
gelombang yang dipantulkan kembali. Keberadaan cahaya yang terlalu intensif
dapat membuat beberapa spesies organisme akuatik menjadi stres dan mati (Boeuf
& Bail, 1999). Pada larva udang galah Macrobracium rosenbergii (de Man), intensitas cahaya yang tinggi dalam bentuk cahaya langsung dapat menurunkan
selera makan dan menyebabkan kematian massal. Pada tangki pemeliharaan
berdinding putih, larva udang galah hanya mampu mencapai stadia enam
(Aquacop, 1977).
Warna wadah juga mempengaruhi lama waktu dari respons cortisol.
Cortisol adalah produk akhir utama dari hypothalamus-pituitari-sel interrenal
(HPI) pada ikan teleostei. Hormon ini memberikan tindakan fisiologis dan diukur
dalam darah ikan untuk mengevaluasi respons stres terhadap beberapa rangsangan
termasuk pada ikan jundia Rhamdia quelen. Pada ikan jundia dalam perlakuan
wadah putih memiliki kadar cortisol yang tetap tinggi selama 24 jam setelah
aplikasi stressor, sedangkan ikan dalam wadah biru kadar cortisol dapat
berkurang hingga ke konsentrasi sebelum stres selama 12 jam. Penjelasan yang
memungkinkan terhadap kondisi ini adalah wadah biru lebih gelap daripada
wadah putih, diduga disebabkan pantulan cahaya yang lebih rendah dan transmisi
pada dinding wadah. Wadah dengan dinding putih lebih terang dan jernih,
dikarenakan ikan jundia memiliki kebiasaan nocturnal, lingkungan dengan
dinding putih tidak nyaman dan mempengaruhi perilaku ikan. Baik wadah putih
maupun biru memberikan visualisasi yang baik terhadap pakan, sehingga pilihan
terhadap lingkungan gelap untuk ikan jundia diduga lebih berhubungan dengan
kebiasaan nocturnalnya (Barcellos et al., 2009).
Setiap jenis ikan memiliki reaksi yang berbeda terhadap penggunaan
warna wadah. Pada ikan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) memiliki laju
pertumbuhan harian tertinggi pada warna wadah hitam dibandingkan warna putih
dan biru muda (Sofronios et al., 2004). Sedangkan pada ikan mas laju
pertumbuhan harian tertinggi pada warna wadah putih dibandingkan warna hitam
dan hijau (Papoutsoglou et al., 2000).
Atas dasar pengetahuan di atas penggunaan wadah yang memiliki warna
4 kelangsungan hidup dan pertumbuhan lobster ini, sehingga dapat dijadikan acuan
untuk pemeliharaan lobster yang baik pada waktu berikutnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan
terbaik juvenil lobster pasir yang dipelihara secara terkontrol dalam wadah dengan
5
II. BAHAN DAN METODE
2.1 Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua perlakuan dan masing-masing menggunakan delapan ulangan, yaitu :
1) Perlakuan A dengan warna wadah putih
2) Perlakuan B dengan warna wadah hitam
Model Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Yij = µ + σi + εij
Keterangan :
Yij = Data hasil pengamatan pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
µ = Nilai tengah dari pengamatan
σi = Pengaruh aditif dari perlakuan ke-i
εij = Pengaruh galat hasil percobaan pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
2.2 Prosedur Kerja 2.2.1 Persiapan Wadah
Wadah yang digunakan berupa box fiber putih sebanyak 16 buah dengan kapasitas 80 liter. Sebanyak 8 buah wadah dicat dengan warna hitam dan 8 wadah
tetap dengan warna dasar putih. Bagian atas box diberi tutup fiber untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke media pemeliharaan. Setiap box
dilengkapi dengan sistem aerasi dan tempat persembunyian (shelter) berupa jaring. Wadah disimpan di dalam hatchery (in door).
2.2.2 Ukuran dan Padat Tebar
Lobster yang digunakan adalah juvenil lobster pasir yang berasal dari
Gerupuk (Lombok Tengah) dan Awang (Lombok Tengah). Juvenil lobster pasir
ini merupakan hasil tangkapan di alam. Juvenil yang digunakan berbobot
0.36±0.06 g. Jumlah juvenil lobster pasir yang ditebar dalam setiap wadah adalah
6
2.2.3 Pengelolaan Pakan
Pada umumnya kegiatan budidaya lobster menggunakan ikan rucah sebagai
pakan. Namun dalam penelitian ini digunakan dua jenis pakan, yaitu basal moist pellet (pelet basah) dan ikan rucah. Jumlah pakan ditentukan berdasarkan feeding rate (FR). FR yang digunakan adalah sebesar 45% dari biomassa. Frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore sebesar 33.3% dari
jumlah total pakan dalam sehari. Pakan basal moist pellet diberikan pada saat pagi dan sore hari, sedangkan ikan rucah diberikan pada saat siang hari. Komposisi
dari basal moist pellet dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Komposisi basal moist pellet dalam penelitian
Komposisi %
disaring dialirkan terus-menerus ke setiap wadah pemeliharaan dengan rerata
pergantian air 1L/ 32 detik/ 80L atau 1.875 lpm/ m3. Untuk menjaga kualitas air,
dilakukan penyifonan kotoran lobster dan sisa pakan setiap hari.
2.3 Parameter Penelitian
Data yang dikumpulkan selama penelitian meliputi jumlah ikan, bobot
tubuh, jumlah pakan, jumlah lobster molting, serta kualitas air. Penghitungan
jumlah lobster dilakukan setiap hari dengan cara menghitung semua populasi
lobster yang hidup pada setiap wadah pemeliharaan (sensus). Pengukuran bobot
tubuh dilakukan pada hari ke-0, 16, 29, 41, 52 dan 66 dengan melakukan
7 pemeliharaan. Pengukuran jumlah pakan dilakukan setiap hari dengan
menggunakan timbangan digital. Jumlah lobster molting diperoleh dari
pengamatan berdasarkan cangkang yang terlepas dari tubuh dan diakumulasikan
hingga pada akhir perlakuan. Pengukuran kualitas air dilakukan setiap hari
meliputi suhu dan pH serta mingguan meliputi DO, salinitas, amonia (NH3), dan
nitrit (NO2-). Selanjutnya data hasil pengukuran parameter tersebut digunakan
untuk menentukan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, frekuensi
molting, dan analisa kualitas air.
2.3.1 Kelangsungan Hidup
Pengamatan tingkat kelangsungan hidup lobster dilakukan setiap hari
dengan frekuensi satu kali sehari, dengan cara menghitung jumlah lobster yang
masih hidup pada setiap wadah pemeliharaan. Perhitungan tingkat kelangsungan
hidup dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut :
Dimana,
SR = Tingkat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah udang yang hidup pada akhir penelitian (ekor)
N₀ = Jumlah udang yang hidup pada awal penelitian (ekor)
2.3.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Pengamatan laju pertumbuhan spesifik lobster dilakukan pada hari ke-16,
29, 41, 52 dan 66 dengan cara mengukur biomassa lobster. Perhitungan laju
pertumbuhan spesifik lobster selama penelitian dilakukan dengan menggunakan
persamaan berikut :
Dimana,
α = Laju pertumbuhan spesifik (%) t = Lama pemeliharaan (hari)
Wt = Rerata bobot akhir benih (gram)
8
2.3.3 Frekuensi Molting
Menurut Lee dan Wickins (2002) frekuensi molting merupakan jumlah
frekuensi munculnya lobster yang melakukan molting selama perlakuan.
Frekuensi ini dilakukan dengan pengamatan cangkang bekas molting. Data
diperoleh dari pengamatan berdasarkan cangkang yang terlepas dari tubuh lobster
dan diakumulasikan hingga pada ahir perlakuan.
2.3.4 Kualitas Air
Parameter fisika yang diukur selama penelitian meliputi suhu dan salinitas,
sedangkan parameter kimia yang diukur meliputi pH, oksigen terlarut (DO),
amonia (NH3), nitrit (NO2-). Parameter suhu, pH dan salinitas diukur secara in
situ. Analisis oksigen terlarut (DO), amonia (NH3) dan nitrit (NO2-) dilakukan di
Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan, Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa
Tenggara Barat. Metode yang digunakan dalam pengukuran ini disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Metode pengukuran parameter fisika kimia air
Parameter Satuan Metode
Suhu ºC Termometer
pH Unit pH meter digital
Salinitas g/l Refraktometer
Oksigen terlarut mg/l Titrimetri
Amonia mg/l Spektrofotometri
Nitrit mg/l Spektrofotometri
2.3.5 Analisis Data
Data yang dikumpulkan selama penelitian meliputi jumlah lobster akhir,
bobot tubuh, frekuensi molting, dan kualitas air. Data hasil pengukuran parameter tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kelangsungan hidup, laju
pertumbuhan, pertumbuhan bobot, dan frekuensi molting. Parameter yang diuji
secara statistik adalah bobot lobster sebelum dan setelah penelitian, laju pertumbuhan lobster, dan kelangsungan hidup (KH) lobster, sedangkan data
9 deskriptif. Data beberapa parameter yang telah diperoleh kemudian ditabulasi dan
diolah menggunakan software Microsoft Excel 2007, data dianalisis menggunakan
10
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Pelaksanaan penelitian selama pemeliharaan 66 hari diperoleh parameter
yang diuji menggunakan uji statistik antara lain kelangsungan hidup (KH), laju
pertumbuhan spesifik (LPS), dan frekuensi molting (Tabel 3). Parameter lain yang
diperoleh adalah kualitas air.
Pada perlakuan wadah berwarna putih kelangsungan hidup berkisar
12.5±4.63%, sedangkan pada perlakuan wadah berwarna hitam sintasan berkisar
16.25±7.44%. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi terjadi pada perlakuan wadah
berwarna hitam sebesar 30% (Gambar 2). Hasil uji statistik menunjukkan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda tidak memberikan pengaruh
11 Keterangan :
Gambar 1. Kelangsungan hidup (%) lobster pasir Panulirus homarus yang dipelihara selama 66 hari.
Keterangan : Huruf yang sama (a) menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05)
Gambar 2. Histogram kelangsungan hidup (%) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda.
3.1.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Setelah masa pemeliharaan selama 66 hari, rerata pertumbuhan bobot lobster
pasir yang dipelihara pada wadah berwarna putih dan hitam berkisar antara
0.64±0.24 g dan 0.64±0.42 g. Pada akhir pengamatan pertumbuhan bobot rata-rata
tertinggi dicapai pada perlakuan wadah berwarna hitam yakni sebesar 1.18 g
(Tabel 3). Hasil uji statistik menunjukkan perlakuan warna wadah pemeliharaan
yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p>0.05) terhadap
pertumbuhan bobot lobster pasir.
12 Keterangan :
Gambar 3. Bobot rata-rata (g) lobster pasir Panulirus homarus selama 66 hari pemeliharaan.
Keterangan : Huruf yang sama (a) menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05)
Gambar 4. Histogram pertumbuhan bobot (g) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda.
Laju pertumbuhan spesifik lobster pasir yang dipelihara pada wadah
berwarna putih berkisar 1.54±0.39%. Sedangkan pada wadah berwarna hitam
berkisar 1.41±0.78%. Laju pertumbuhan spesifik tertinggi terjadi pada perlakuan
wadah berwarna hitam sebesar 2.19 % (Gambar 5). Hasil uji statistik
menunjukkan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda tidak
memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p>0.05) terhadap laju pertumbuhan spesifik lobster pasir.
13 Keterangan : Huruf yang sama (a) menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05)
Gambar 5. Histogram laju pertumbuhan spesifik (%) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah yang berbeda.
3.1.3 Frekuensi Molting
Frekuensi molting lobster pasir pada pelakuan warna wadah berwarna
putih berkisar 14±2.39 kali. Sedangkan pada perlakuan warna wadah berwarna
hitam berkisar 14.75±1.67 kali. Frekuensi molting tertinggi dicapai pada
perlakuan wadah berwarna putih sebesar 18 kali. Rata-rata frekuensi molting
tertinggi dicapai pada perlakuan wadah berwarna hitam (Gambar 6).
Gambar 6. Histogram frekuensi molting Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah yang berbeda.
Tabel 4. Kualitas air selama pemeliharaan Warna
dasar wadah suhu (
0
C) pH DO (mg/L) Amonia
(mg/L)
Nitrit (mg/L)
Salinitas (g/L)
Putih 27-29 7.2-7.3 4.00-5.20 0.010-0.130 < 0.02 30-34
14 Suhu air pemeliharaan untuk perlakuan warna wadah putih dan hitam
berkisar antara 27-29ºC. Nilai pH air pemeliharaan antara perlakuan berkisar
7.2-7.4. Oksigen terlarut air pemeliharaan berkisar antara 3.70-5.60 mg/L. Nilai
amonia air pemeliharaan berkisar antara 0.010-0.130 mg/L. Nilai nitrit air
pemeliharaan <0.02 mg/L. Untuk salinitas air pemeliharaan berkisar antara 30-34
g/L.
3.2 Pembahasan
Kematian seringkali ditemukan dalam produksi lobster pasir, terutama pada
fase puerulus. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka kematian ini.
Beberapa faktor itu di antaranya adalah kondisi lingkungan, kanibalisme, dan
kualitas air. Oleh karena itu diperlukan suatu pencegahan untuk meminimalkan
faktor-faktor pemicu kematian pada lobster pasir.
Warna suatu benda akan timbul apabila benda tersebut menyerap panjang
gelombang cahaya tertentu dan memantulkan panjang gelombang lain dari cahaya yang sama. Setiap warna memiliki dua karakteristik, yaitu intensitas warna
(brightness) dan intensitas cahaya (lightness) (Wetzel, 1975). Pada wadah warna putih sebagian besar cahaya dipantulkan kembali dan tidak diserap oleh wadah.
Hal ini menyebabkan lobster mencari tempat berlindung, mengingat sifat lobster
yang aktif mencari makan di malam hari (nokturnal). Pada kondisi seperti ini,
lobster cenderung berkumpul pada satu titik, di mana intensitas cahaya pada titik
tersebut cukup sedikit, yaitu di dekat saluran outlet. Berkumpulnya lobster pada satu titik ini menyebabkan intensitas kontak fisik antar lobster cukup tinggi. Sifat
biologi lobster yang teritorial menyebabkan terjadinya persaingan. Kontak fisik
dan persaingan ini memperbesar peluang terjadinya kanibalisme. Berbeda dengan
wadah warna hitam, intensitas cahaya yang masuk ke media pemeliharaan
cenderung lebih sedikit (lampiran 6). Sebagian besar cahaya akan diserap oleh
wadah. Kondisi lingkungan yang cenderung gelap menyebabkan lobster aktif
bergerak dan tidak berkumpul pada satu titik. Sehingga intensitas kontak fisik
antar lobster dapat berkurang. Namun, rendahnya derajat kelangsungan hidup
pada semua perlakuan terutama dikarenakan sifat kanibalisme. Hal ini sesuai
15 adalah sifat saling memakan sesama lobster (Priyambodo et al., 2011). Kanibalisme umumnya terjadi pada saat molting (ganti kulit). Pada saat molting,
lobster berada pada kondisi yang lemah, sehingga mudah sekali diserang dan
dimangsa oleh lobster lain. Namun tidak jarang kematian juga disebabkan karena
gagal molting. Angka kematian yang tinggi juga terjadi di Vietnam dan Australia.
Tingkat kelangsungan hidup lobster dari puerulus hingga fase lobster muda
berukuran 2.5 cm berkisar 60%.
Untuk mengurangi kanibalisme pada penelitian ini, ke dalam wadah
budidaya ditambahkan shelter. Shelter diperlukan untuk persembunyian udang yang sedang moulting, sehingga mampu mengurangi tingkat kanibalisme, dan memperluas area untuk udang menempel (Khasani, 2008). Habitat lobster di alam
banyak terdapat di perairan dengan terumbu karang, lobster sering bersembunyi di
balik terumbu karang untuk berlindung. Untuk menghasilkan kondisi lingkungan
pemeliharaan yang menyerupai kondisi habitat asli lobster, ditambahkan shelter
sebagai tempat berlindung lobster. Jaring shelter dapat disediakan dalam wadah
pemeliharaan selama kegiatan budidaya sebagai cara yang sederhana dan efektif
untuk meningkatkan kelangsungan hidup lobster dengan mengurangi persaingan
antara lobster yang lemah dan lobster yang lebih dominan. Bobot dan
pertumbuhan panjang karapas lobster secara signifikan tidak terpengaruh oleh
adanya shelter, tetapi cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan wadah pemeliharaan tanpa shelter apapun (Nguyen et al., 2008).
Laju pertumbuhan spesifik lobster pasir yang dipelihara pada wadah
berwarna putih berkisar 1.54±0.39%. Sedangkan pada wadah berwarna hitam
berkisar 1.41±0.78%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa warna wadah
pemeliharaan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap laju pertumbuhan spesifik lobster pasir. Pada wadah berwarna putih,
pertumbuhan bobot lobster pasir selama 66 hari pemeliharaan berkisar antara
0.64±0.24 g. Sedangkan pada wadah pemeliharaan berwarna hitam berkisar antara
0.64±0.42 g. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan warna wadah
pemeliharaan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata
16 yang dapat bertahan dan mendominasi. Selain dari pakan yang telah diberikan,
berkurangnya populasi akibat kanibalisme diduga dapat meningkatkan
pertumbuhan lobster.
Langkah awal pertumbuhan lobster ditandai dengan terjadinya pergantian
kulit (molting). Proses ini biasanya diikuti dengan pertumbuhan dan berat badan
(Priyambodo et al., 2011). Pertumbuhan lobster sebagai hewan Crustacea sangat erat kaitannya dengan aktifitas molting (Widiarso, 2011). Cahaya terang akan
menghambat aktivitas molting pada larva Lobster Amerika, dan larva yang
tumbuh pada lingkungan gelap memiliki bobot yang relatif lebih berat dibanding
lingkungan terang (Hadley, 1906; Templeman, 1936; Eagles et al., 1984). Pada lobster pasir metamorf molting dari fase larva 3 hingga fase postlarva telah
terbukti terjadi dengan frekuensi tertinggi selama fase gelap dari fotoperiod
(Aiken & Waddy, 1995). Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian,
frekuensi molting lobster pasir pada perlakuan warna wadah putih berkisar 14±2.39 kali, hampir sama dengan perlakuan warna wadah hitam yang berkisar
14.75±1.67 kali.
Penelitian ini dilakukan di hatchery (in door) yang mendapat sumber cahaya berupa sinar matahari. Sinar matahari dapat masuk ke dalam hatchery melalui jendela yang terdapat di sisi kanan dan kiri serta pintu utama hatchery. Pengukuran intensitas cahaya menggunakan lux meter pada perlakuan warna
wadah hitam dan putih menunjukkan 10 lux dan 30 lux. Pada penelitian Hoang et al. (2001) tentang ―Influences of light intensity and photoperiod on moulting and growth of Penaeus merguiensis cultured under laboratory conditions‖ perbedaan
intensitas cahaya yang diikuti dengan perbedaan pertumbuhan dan kelangsungan
hidup mencapai 675 lux. Dengan demikian kesamaan nilai kelangsungan hidup
dan pertumbuhan pada penelitian ini disebabkan perbedaan intensitas cahaya tidak
terlalu besar.
Perlakuan warna wadah pemeliharaan tidak mempengaruhi kualitas air
pemeliharaan. Suhu air pemeliharaan untuk perlakuan warna wadah putih dan
hitam berkisar antara 27-29ºC. Suhu air yang cukup stabil ini ditunjang pula
17 juvenile spiny lobster dan spiny lobster dewasa. Lobster dapat tumbuh dengan baik pada perairan dengan suhu hangat daripada perairan dengan suhu dingin.
Kisaran suhu yang cenderung stabil ini tidak akan membuat lobster mengalami
gangguan dalam adaptasi terhadap perubahan lingkungan sehingga
menguntungkan dalam pemanfaatan energi untuk metabolisme dan pertumbuhan
(Akbar, 2008).
Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat di perairan (Boyd, 1988).
Salinitas air pemeliharaan berkisar antara 30-34 g/L. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Effendi (2003) di mana nilai salinitas perairan laut berkisar 30-40 g/L.
Oksigen terlarut air pemeliharaan berkisar antara 3.70-5.60 mg/L. Menurut
McNeely (1979) kadar oksigen terlarut di perairan laut berkisar antara 11 mg/L
pada suhu 0ºC dan 7 mg/L pada suhu 25ºC. Kadar oksigen terlarut akan berkurang
seiring meningkatnya suhu dan salinitas pada perairan. Kadar oksigen terlarut
dalam media pemeliharaan dijaga dengan menambahkan sistem aerasi pada setiap wadah pemeliharaan.
Nilai pH air pemeliharaan antara perlakuan berkisar 7.2-7.4. Nilai pH yang
kurang dari 5 sangat buruk bagi kehidupan udang karena dapat menyebabkan
kematian, sedangkan pH di atas 9 dapat menurunkan nafsu makan (Merrick,
1993). Nilai amonia air pemeliharaan berkisar antara 0.01-0.13 mg/L. Amonia dan
garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air (Effendi, 2003). Kotoran yang
dikeluarkan oleh lobster merupakan limbah aktivitas metabolisme yang
menghasilkan amonia. Toksisitas amonia terhadap organisme akuatik akan
meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu (Effendi,
2003). Menurut McNeely (1979), pada perairan alami kadar amonia biasanya
kurang dari 0.1 mg/L. Jika kadar amonia bebas lebih dari 0.2 mg/L, perairan
bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan (Sawyer & McCarty, 1978). Avertebrata
air lebih toleran terhadap toksisitas amonia daripada ikan (Effendi, 2003),
sehingga lobster lebih toleran terhadap toksisitas amonia.
Nilai nitrit air pemeliharaan <0.02 mg/L. Kadar nitrit pada perairan relatif
kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat (Effendi, 2003). Perairan alami
19
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Pemeliharaan lobster pasir Panulirus homarus selama 66 hari menunjukkan bahwa perlakuan warna wadah hitam dan putih tidak memberikan pengaruh yang
berbeda nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik,
dan pertumbuhan bobot.
4.2 Saran
Untuk mendapatkan perbedaan kelangsungan hidup dan pertumbuhan
juvenil lobster pasir perlu dilakukan penelitian di dalam/ di luar ruangan dengan
PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP JUVENIL
LOBSTER PASIR
Panulirus homarus
DI DALAM WADAH
YANG BERBEDA WARNA
BAYU DWI SANTOSO
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP JUVENIL LOBSTER
PASIR Panulirus homarus DI DALAM WADAH YANG BERBEDA WARNA
adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Januari 2013
ABSTRAK
BAYU DWI SANTOSO. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Juvenil Lobster Pasir Panulirus homarus di dalam Wadah yang Berbeda Warna. Dibimbing oleh
Dadang Shafruddin dan Yuni Puji Hastuti.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan warna wadah yang baik bagi kelangsungan hidup (KH) dan pertumbuhan lobster pasir selama pemeliharaan 66 hari. Lobster yang digunakan berbobot antara 0,36±0,06 g. Jumlah lobster pasir yang ditebar dalam setiap wadah adalah sebanyak 10 ekor. Wadah yang digunakan berupa box fiber putih sebanyak 16 buah, masing-masing berkapasitas 80 liter. Sebanyak 8 buah wadah dicat dengan warna hitam dan 8 wadah berwarna putih. Pakan diberikan 3 kali, pagi, siang, dan sore. Setiap box dilengkapi dengan sistem aerasi dan tempat persembunyian (shelter) berupa jaring. Sistem pengairan menggunakan sistem flow through, setiap hari dilakukan penyifonan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan warna wadah yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan lobster pasir (p>0,05). KH pada perlakuan wadah berwarna putih dan hitam masing-masing berkisar 12,5±4,63% dan 16,25±7,44%. Pertumbuhan bobot pada wadah berwarna putih dan hitam masing-masing berkisar 0,64±0,24 g dan 0,64±0,42 g. Laju pertumbuhan spesifik lobster pasir yang dipelihara pada wadah berwarna putih dan hitam masing-masing berkisar 1,54±0,39 % dan 1,41±0,78 %. Frekuensi molting pada pelakuan warna wadah putih dan hitam masing-masing 14±2,39 kali dan 14,75±1,67 kali.
ABSTRACT
BAYU DWI SANTOSO. Growth and Survival of Juvenile Sand Lobster
Panulirus homarus Maintained in Different Color of The Rearing Tank. Supervised by Dadang Shafruddin and Yuni Puji Hastuti.
The research aimed to determine the effect of tank color on growth and survival of the sand lobster. Lobster in body weight of 0.36±0.06 g were stocked at density of 10 lobster in each tank. The tank were used is white fiber box as much as 16 box with capacity 80 L. Eight tank painted with black color and the others with white color. Daily, the lobster fed three times, in morning, afternoon and evening. Every morning the bottom waste was siphoned out (once a day). Each tank was equipped with aeration system and hiding substrat (shelters). Watering system used was flow through system. The results showed that the color of the container did not give a significantly different effect on survival and growth of sand lobster. Survival on the white tank ranges from 12.5±4.63%, the Black-colored tank ranges from 16.25±7.44%. Growth weights on the white tank ranges from 0.64±0.24 g, the Black-colored tank ranges from 0.64±0.42 g. The specific growth rate of lobster on the white tank ranges from 1.54±0.39 %, the Black-colored tank ranges from 1.41±0.78 %. The frequency of molting on the white tank ranges 14±2.39 times, in color black-colored tank ranges from 14.75±1.67 times.
PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP JUVENIL
LOBSTER PASIR
Panulirus homarus
DI DALAM WADAH
YANG BERBEDA WARNA
BAYU DWI SANTOSO
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan
pada
Departemen Budidaya Perairan
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Juvenil Lobster Pasir Panulirus homarus di dalam Wadah yang Berbeda Warna
Nama Mahasiswa : Bayu Dwi Santoso
Nomor Pokok : C14080092
Disetujui
Diketahui
Ketua Departemen Budidaya Perairan
Tanggal Lulus:
Pembimbing 1
Ir. Dadang Shafruddin, M.Si. NIP. 19551015 1980031 004
Pembimbing 2
Yuni Puji Hastuti, S.Pi., M.Si. NIP. 19810604 2007012 001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat,
hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
skripsi ini. Shalawat serta salam tak lupa tercurah ke Rasulullah Muhammad
SAW dan kita semua sebagai pengikutnya hingga akhir zaman. Karya tulis ilmiah
yang berjudul ―Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Juvenil Lobster Pasir
Panulirus homarus di dalam Wadah yang Berbeda Warna‖ ini merupakan hasil karya penulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan
pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Juli 2012 bertempat di
Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini terdapat
banyak kekurangan yang dikarenakan oleh keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan yang dimiliki. Berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak,
karya tulis ilmiah ini berhasil penulis selesaikan. Untuk itu, penulis ingin
menyampaikan ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya.
2. Ibunda Kustini Widiastuti dan Ayahanda Edi Santoso tercinta yang
selalu memberikan do’a, dukungan, dan dorongan bagi penulis untuk
menyelesaikan penelitian ini. Devi Novi Astuti, saudari perempuan
penulis yang memberikan semangat dan dukungan moral tanpa henti.
3. Ir. Dadang Shafruddin, M.Si, selaku Pembimbing Utama yang telah
mendampingi, membimbing, memberikan arahan dan masukan dalam
proses penelitian dan penyusunan karya tulis ilmiah ini.
4. Yuni Puji Hastuti, S.Pi., M.Si. selaku Pembimbing Kedua yang telah
membimbing, memberikan arahan dan masukan dalam proses penelitian
dan penyusunan karya tulis ilmiah ini.
5. Arsyad Sujangka selaku Pembimbing Lapang yang telah mendampingi,
6. Prof. Dr. D. Djokosetiyanto selaku penguji utama dan Dr. Alimuddin,
S.Pi, M.Sc selaku Perwakilan Komisi Pendidikan Departemen pada
pelaksanaan Ujian Akhir yang telah memberikan banyak masukan dan
arahan.
7. Seluruh dosen khususnya staf dosen Budidaya Perairan yang tanpa
pamrih memberikan ilmu serta pengalamannya dalam empat tahun
penulis belajar di Institut Pertanian Bogor.
8. Kepala Tata Usaha beserta staf pelaksana Departemen Budidaya
Perairan yang telah membantu dan bekerja sama dalam menyelesaikan
karya tulis ilmiah ini.
9. Nik Sakilidis, Simon Irvin, dan Scott Shanks selaku perwakilan dari
ACIAR Australian Centre for International Agricultural Research, serta
Samsul, Bayu Priyambodo, dan semua jajaran Balai Budidaya Laut
Lombok atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk dapat bergabung dalam penelitian lobster.
10.Ahmad Fauzan, Nurina, Riska, Muttaqin, Aldilla, Tubagus Fikri,
Mayyanti, Ima, Titi, Lita, Jenni, Adit, Randi, Dendi seluruh rekan-rekan
di Budidaya Perairan 45, Fitri, Yeyen, Siti Soraya, rekan-rekan di
Budidaya Perairan 46, rekan-rekan Universitas Mataram, Ahmad Fadli
Firsya, Arif Agus Nogroho, Busrol Karim, Pardi, Priagung Wicaksono,
Samsu Nur, dan Suryo Aji.
11.Semua pihak yang telah memberi dukungan dalam penyelesaian karya
tulis ilmiah ini.
Semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak. Amin ya Rabbal’ alamin.
Bogor, Januari 2013
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lumajang 27 September 1989 dari ibu Kustini
Widiastuti dan ayah Edi Santoso. Penulis merupakan anak kedua dari dua
bersaudara.
Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah SMA Negeri 2 Lumajang
dan lulus tahun 2008. Pada tahun yang sama, penulis lulus seleksi masuk IPB
melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan
memilih Mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah mengikuti IPB Go Field
2010, kegiatan magang di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar
(BPBAT) Cijengkol Subang pada 2011, dan kegiatan magang di Balai Budidaya
Laut Lombok pada tahun 2011. Selain itu, selama menjadi mahasiswa, penulis
juga aktif menjadi Pengurus Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA),
Wakil Ketua Ikatan Keluarga Lumajang (IKALULU) pada 2009, dan Ketua
Ikatan Keluarga Lumajang (IKALULU) pada 2010. Tugas akhir dalam
pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul
i 2.3.2 Laju Pertumbuhan Spesifik ... 7 2.3.3 Frekuensi Molting ... 8 2.3.4 Kualitas Air ... 8 2.3.5 Analisis Data ... 8
III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 10
3.1Hasil ... 10
ii
DAFTAR TABEL
1. Penentuan komposisi basal moist pellet dalam penelitian ... 6 2. Metode pengukuran parameter fisika kimia air ... 8
3. Nilai parameter uji... 10
iii
DAFTAR GAMBAR
1. Kelangsungan hidup (%) lobster pasir Panulirus homarus yang dipelihara selama 66 hari ... 11
2. Histogram kelangsungan hidup (%) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda... 11
3. Bobot rerata (g) lobster pasir Panulirus homarus selama 66 hari pemeliharaan ... 12 4. Histogram pertumbuhan bobot (g) Panulirus homarus dengan perlakuan
warna wadah pemeliharaan yang berbeda... 12
5. Histogram laju pertumbuhan spesifik (%) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah yang berbeda ... 13
6. Histogram frekuensi molting Panulirus homarus dengan perlakuan warna
iv
DAFTAR LAMPIRAN
1. Data sampling bobot rerata (g) lobster pasir Panulirus homarus pada perlakuan warna wadah putih dan hitam selama 66 hari pemeliharaan ... 24
2. Tingkat kelangsungan hidup (%) Panulirus homarus selama pemeliharaan 66 hari... 24
3. Laju pertumbuhan spesifik (%) Panulirus homarus selama pemeliharaan 66 hari... 25
4. Pertambahan bobot (g) Panulirus homarus selama pmeliharaan 66 hari ... 25 5. Data kualitas air selama penelitian ... 26
6. Data intensitas cahaya selama penelitian ... 26
7. Hasil uji T-Test pada parameter kelangsungan hidup (%) ... 27
8. Hasil uji T-Test pada parameter pertumbuhan bobot mutlak (g) ... 28 9. Hasil uji T-Test pada parameter laju pertumbuhan spesifik (%) ... 29
1
I. PENDAHULUAN
Udang merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya yang memiliki
ekonomis tinggi. Udang termasuk komoditas yang sudah dikenal dan sangat diminati oleh masyarakat. Terdapat banyak jenis udang yang tersebar di alam.
Mulai dari perairan laut, payau, hingga perairan tawar. Salah satu udang yang
memiliki ekonomis tinggi adalah lobster air laut.
Permintaan lobster air laut di dunia mengalami peningkatan sekitar 15 %
per tahun (Jones, 2008). Kenaikan permintaan ini dipengaruhi oleh pasar
internasional, terutama China, sebagai negara tujuan ekspor. Ekspor merupakan
salah satu tujuan pemasaran lobster air laut. Hongkong dan Taiwan adalah tujuan
pasar utama, meskipun beberapa produk juga dijual langsung ke utara China,
Singapura, dan Jepang. Volume yang terjual tidak diketahui, tetapi kemungkinan
besar tidak lebih dari 2 500 ton per tahun (Jones, 2008).
Sebagian besar kebutuhan lobster ukuran konsumsi dipenuhi dari hasil
tangkapan di alam. Tingginya permintaan akan lobster dikhawatirkan akan
menimbulkan penangkapan berlebih (over-fishing). Penangkapan berlebih akan berdampak pada kapasitas induk (broodstock) sebagai penghasil benih untuk budidaya. Selain akan menimbulkan penangkapan berlebih, jumlah lobster hasil
tangkapan di alam juga tidak menentu. Hal ini dipengaruhi oleh musim tangkap.
Begitu pula dengan kualitasnya, ukuran lobster cenderung beragam.
Terdapat dua jenis lobster yang umum dikembangkan di Indonesia, yaitu lobster pasir Panulirus homarus dan lobster mutiara P. ornatus. Benih lobster
yang dibudidayakan adalah benih hasil tangkapan di alam. Perbandingan
ketersediaan dari lobster pasir dan lobster mutiara adalah 3:1. Perbandingan ini
dapat bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi lobster pasir semakin
berlimpah di seluruh daerah. Harga lobster pasir dapat mencapai Rp300 000/kg
untuk lobster berukuran 100 g hingga 250 g. Sedangkan lobster mutiara dengan
ukuran kecil dihargai rendah (<Rp200 000/Kg) (Jones, 2008). Lobster pasir
memiliki kualitas yang baik untuk diolah dalam masakan, dikarenakan memiliki
2 Diperlukan kegiatan budidaya untuk menjaga ketersediaan induk lobster di
alam. Melalui kegiatan budidaya, diharapkan kebutuhan lobster untuk pasar
ekspor maupun domestik akan terpenuhi, baik dalam jumlah, kualitas, maupun
kontinuitas. Untuk saat ini, kegiatan budidaya lobster terpusat di Nusa Tenggara
Barat. NTB memiliki sumberdaya lobster yang cukup potensial. Pesisir dan laut
NTB seluas 29 159.04 km2, di dalamnya terdapat ekosistem terumbu karang
seluas 3 601 km2, yang merupakan habitat alami lobster yang kondisinya masih
baik (Idris et al.,2001).
Terbukti sulit untuk menjaga kelangsungan hidup lobster pasir pada
kegiatan budidaya. Angka kematian selama fase puerulus sangat tinggi, terutama
disebabkan oleh kanibalisme. Hal ini sesuai dengan pengalaman di Vietnam dan
Australia. Kelangsungan hidup lobster dari fase puerulus hingga juvenil ukuran 2
cm berkisar 40 sampai 50%. Sedangkan kelangsungan hidup pada fase juvenil
berkisar antara 60 sampai 90% (Jones, 2007). Tingkat kanibalisme ini akan berkurang seiring dengan pertumbuhan lobster.
Upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi tingginya tingkat
kanibalisme adalah dengan penggunaan shelter pada wadah pemeliharaan lobster.
Shelter diperlukan sebagai tempat persembunyian udang yang sedang molting, serta memperluas area untuk udang menempel (Khasani, 2008). Jaring shelter
perlu disediakan dalam wadah pemeliharaan selama kegiatan budidaya sebagai
cara yang sederhana dan efektif untuk meningkatkan kelangsungan hidup lobster
dengan mengurangi persaingan antara lobster yang lemah dan lobster yang lebih
dominan. Bobot dan pertumbuhan panjang karapas lobster secara signifikan tidak
terpengaruh oleh adanya shelter, tetapi cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan wadah pemeliharaan tanpa shelter apapun (Nguyen et al., 2008).
Lobster pasir adalah spesies yang berhabitat di karang, yang banyak
ditemukan di terumbu karang dan pantai berbatu. Lobster pasir ditemukan di
kedalaman 1 sampai 50 m. Lobster pasir aktif pada malam hari, paling aktif dari
senja hingga fajar (FAO, 2007). Untuk menciptakan suasana lingkungan yang
menyerupai kondisi habitat lobster, maka dilakukan rekayasa lingkungan. Salah
3 Warna wadah akan mempengaruhi intensitas cahaya dan panjang
gelombang yang dipantulkan kembali. Keberadaan cahaya yang terlalu intensif
dapat membuat beberapa spesies organisme akuatik menjadi stres dan mati (Boeuf
& Bail, 1999). Pada larva udang galah Macrobracium rosenbergii (de Man), intensitas cahaya yang tinggi dalam bentuk cahaya langsung dapat menurunkan
selera makan dan menyebabkan kematian massal. Pada tangki pemeliharaan
berdinding putih, larva udang galah hanya mampu mencapai stadia enam
(Aquacop, 1977).
Warna wadah juga mempengaruhi lama waktu dari respons cortisol.
Cortisol adalah produk akhir utama dari hypothalamus-pituitari-sel interrenal
(HPI) pada ikan teleostei. Hormon ini memberikan tindakan fisiologis dan diukur
dalam darah ikan untuk mengevaluasi respons stres terhadap beberapa rangsangan
termasuk pada ikan jundia Rhamdia quelen. Pada ikan jundia dalam perlakuan
wadah putih memiliki kadar cortisol yang tetap tinggi selama 24 jam setelah
aplikasi stressor, sedangkan ikan dalam wadah biru kadar cortisol dapat
berkurang hingga ke konsentrasi sebelum stres selama 12 jam. Penjelasan yang
memungkinkan terhadap kondisi ini adalah wadah biru lebih gelap daripada
wadah putih, diduga disebabkan pantulan cahaya yang lebih rendah dan transmisi
pada dinding wadah. Wadah dengan dinding putih lebih terang dan jernih,
dikarenakan ikan jundia memiliki kebiasaan nocturnal, lingkungan dengan
dinding putih tidak nyaman dan mempengaruhi perilaku ikan. Baik wadah putih
maupun biru memberikan visualisasi yang baik terhadap pakan, sehingga pilihan
terhadap lingkungan gelap untuk ikan jundia diduga lebih berhubungan dengan
kebiasaan nocturnalnya (Barcellos et al., 2009).
Setiap jenis ikan memiliki reaksi yang berbeda terhadap penggunaan
warna wadah. Pada ikan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) memiliki laju
pertumbuhan harian tertinggi pada warna wadah hitam dibandingkan warna putih
dan biru muda (Sofronios et al., 2004). Sedangkan pada ikan mas laju
pertumbuhan harian tertinggi pada warna wadah putih dibandingkan warna hitam
dan hijau (Papoutsoglou et al., 2000).
Atas dasar pengetahuan di atas penggunaan wadah yang memiliki warna
4 kelangsungan hidup dan pertumbuhan lobster ini, sehingga dapat dijadikan acuan
untuk pemeliharaan lobster yang baik pada waktu berikutnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan
terbaik juvenil lobster pasir yang dipelihara secara terkontrol dalam wadah dengan
5
II. BAHAN DAN METODE
2.1 Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua perlakuan dan masing-masing menggunakan delapan ulangan, yaitu :
1) Perlakuan A dengan warna wadah putih
2) Perlakuan B dengan warna wadah hitam
Model Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Yij = µ + σi + εij
Keterangan :
Yij = Data hasil pengamatan pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
µ = Nilai tengah dari pengamatan
σi = Pengaruh aditif dari perlakuan ke-i
εij = Pengaruh galat hasil percobaan pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
2.2 Prosedur Kerja 2.2.1 Persiapan Wadah
Wadah yang digunakan berupa box fiber putih sebanyak 16 buah dengan kapasitas 80 liter. Sebanyak 8 buah wadah dicat dengan warna hitam dan 8 wadah
tetap dengan warna dasar putih. Bagian atas box diberi tutup fiber untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke media pemeliharaan. Setiap box
dilengkapi dengan sistem aerasi dan tempat persembunyian (shelter) berupa jaring. Wadah disimpan di dalam hatchery (in door).
2.2.2 Ukuran dan Padat Tebar
Lobster yang digunakan adalah juvenil lobster pasir yang berasal dari
Gerupuk (Lombok Tengah) dan Awang (Lombok Tengah). Juvenil lobster pasir
ini merupakan hasil tangkapan di alam. Juvenil yang digunakan berbobot
0.36±0.06 g. Jumlah juvenil lobster pasir yang ditebar dalam setiap wadah adalah
6
2.2.3 Pengelolaan Pakan
Pada umumnya kegiatan budidaya lobster menggunakan ikan rucah sebagai
pakan. Namun dalam penelitian ini digunakan dua jenis pakan, yaitu basal moist pellet (pelet basah) dan ikan rucah. Jumlah pakan ditentukan berdasarkan feeding rate (FR). FR yang digunakan adalah sebesar 45% dari biomassa. Frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore sebesar 33.3% dari
jumlah total pakan dalam sehari. Pakan basal moist pellet diberikan pada saat pagi dan sore hari, sedangkan ikan rucah diberikan pada saat siang hari. Komposisi
dari basal moist pellet dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Komposisi basal moist pellet dalam penelitian
Komposisi %
disaring dialirkan terus-menerus ke setiap wadah pemeliharaan dengan rerata
pergantian air 1L/ 32 detik/ 80L atau 1.875 lpm/ m3. Untuk menjaga kualitas air,
dilakukan penyifonan kotoran lobster dan sisa pakan setiap hari.
2.3 Parameter Penelitian
Data yang dikumpulkan selama penelitian meliputi jumlah ikan, bobot
tubuh, jumlah pakan, jumlah lobster molting, serta kualitas air. Penghitungan
jumlah lobster dilakukan setiap hari dengan cara menghitung semua populasi
lobster yang hidup pada setiap wadah pemeliharaan (sensus). Pengukuran bobot
tubuh dilakukan pada hari ke-0, 16, 29, 41, 52 dan 66 dengan melakukan
7 pemeliharaan. Pengukuran jumlah pakan dilakukan setiap hari dengan
menggunakan timbangan digital. Jumlah lobster molting diperoleh dari
pengamatan berdasarkan cangkang yang terlepas dari tubuh dan diakumulasikan
hingga pada akhir perlakuan. Pengukuran kualitas air dilakukan setiap hari
meliputi suhu dan pH serta mingguan meliputi DO, salinitas, amonia (NH3), dan
nitrit (NO2-). Selanjutnya data hasil pengukuran parameter tersebut digunakan
untuk menentukan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, frekuensi
molting, dan analisa kualitas air.
2.3.1 Kelangsungan Hidup
Pengamatan tingkat kelangsungan hidup lobster dilakukan setiap hari
dengan frekuensi satu kali sehari, dengan cara menghitung jumlah lobster yang
masih hidup pada setiap wadah pemeliharaan. Perhitungan tingkat kelangsungan
hidup dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut :
Dimana,
SR = Tingkat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah udang yang hidup pada akhir penelitian (ekor)
N₀ = Jumlah udang yang hidup pada awal penelitian (ekor)
2.3.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Pengamatan laju pertumbuhan spesifik lobster dilakukan pada hari ke-16,
29, 41, 52 dan 66 dengan cara mengukur biomassa lobster. Perhitungan laju
pertumbuhan spesifik lobster selama penelitian dilakukan dengan menggunakan
persamaan berikut :
Dimana,
α = Laju pertumbuhan spesifik (%) t = Lama pemeliharaan (hari)
Wt = Rerata bobot akhir benih (gram)
8
2.3.3 Frekuensi Molting
Menurut Lee dan Wickins (2002) frekuensi molting merupakan jumlah
frekuensi munculnya lobster yang melakukan molting selama perlakuan.
Frekuensi ini dilakukan dengan pengamatan cangkang bekas molting. Data
diperoleh dari pengamatan berdasarkan cangkang yang terlepas dari tubuh lobster
dan diakumulasikan hingga pada ahir perlakuan.
2.3.4 Kualitas Air
Parameter fisika yang diukur selama penelitian meliputi suhu dan salinitas,
sedangkan parameter kimia yang diukur meliputi pH, oksigen terlarut (DO),
amonia (NH3), nitrit (NO2-). Parameter suhu, pH dan salinitas diukur secara in
situ. Analisis oksigen terlarut (DO), amonia (NH3) dan nitrit (NO2-) dilakukan di
Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan, Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa
Tenggara Barat. Metode yang digunakan dalam pengukuran ini disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Metode pengukuran parameter fisika kimia air
Parameter Satuan Metode
Suhu ºC Termometer
pH Unit pH meter digital
Salinitas g/l Refraktometer
Oksigen terlarut mg/l Titrimetri
Amonia mg/l Spektrofotometri
Nitrit mg/l Spektrofotometri
2.3.5 Analisis Data
Data yang dikumpulkan selama penelitian meliputi jumlah lobster akhir,
bobot tubuh, frekuensi molting, dan kualitas air. Data hasil pengukuran parameter tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kelangsungan hidup, laju
pertumbuhan, pertumbuhan bobot, dan frekuensi molting. Parameter yang diuji
secara statistik adalah bobot lobster sebelum dan setelah penelitian, laju pertumbuhan lobster, dan kelangsungan hidup (KH) lobster, sedangkan data
9 deskriptif. Data beberapa parameter yang telah diperoleh kemudian ditabulasi dan
diolah menggunakan software Microsoft Excel 2007, data dianalisis menggunakan
10
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Pelaksanaan penelitian selama pemeliharaan 66 hari diperoleh parameter
yang diuji menggunakan uji statistik antara lain kelangsungan hidup (KH), laju
pertumbuhan spesifik (LPS), dan frekuensi molting (Tabel 3). Parameter lain yang
diperoleh adalah kualitas air.
Pada perlakuan wadah berwarna putih kelangsungan hidup berkisar
12.5±4.63%, sedangkan pada perlakuan wadah berwarna hitam sintasan berkisar
16.25±7.44%. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi terjadi pada perlakuan wadah
berwarna hitam sebesar 30% (Gambar 2). Hasil uji statistik menunjukkan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda tidak memberikan pengaruh
11 Keterangan :
Gambar 1. Kelangsungan hidup (%) lobster pasir Panulirus homarus yang dipelihara selama 66 hari.
Keterangan : Huruf yang sama (a) menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05)
Gambar 2. Histogram kelangsungan hidup (%) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda.
3.1.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Setelah masa pemeliharaan selama 66 hari, rerata pertumbuhan bobot lobster
pasir yang dipelihara pada wadah berwarna putih dan hitam berkisar antara
0.64±0.24 g dan 0.64±0.42 g. Pada akhir pengamatan pertumbuhan bobot rata-rata
tertinggi dicapai pada perlakuan wadah berwarna hitam yakni sebesar 1.18 g
(Tabel 3). Hasil uji statistik menunjukkan perlakuan warna wadah pemeliharaan
yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p>0.05) terhadap
pertumbuhan bobot lobster pasir.
12 Keterangan :
Gambar 3. Bobot rata-rata (g) lobster pasir Panulirus homarus selama 66 hari pemeliharaan.
Keterangan : Huruf yang sama (a) menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05)
Gambar 4. Histogram pertumbuhan bobot (g) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda.
Laju pertumbuhan spesifik lobster pasir yang dipelihara pada wadah
berwarna putih berkisar 1.54±0.39%. Sedangkan pada wadah berwarna hitam
berkisar 1.41±0.78%. Laju pertumbuhan spesifik tertinggi terjadi pada perlakuan
wadah berwarna hitam sebesar 2.19 % (Gambar 5). Hasil uji statistik
menunjukkan perlakuan warna wadah pemeliharaan yang berbeda tidak
memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p>0.05) terhadap laju pertumbuhan spesifik lobster pasir.
13 Keterangan : Huruf yang sama (a) menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05)
Gambar 5. Histogram laju pertumbuhan spesifik (%) Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah yang berbeda.
3.1.3 Frekuensi Molting
Frekuensi molting lobster pasir pada pelakuan warna wadah berwarna
putih berkisar 14±2.39 kali. Sedangkan pada perlakuan warna wadah berwarna
hitam berkisar 14.75±1.67 kali. Frekuensi molting tertinggi dicapai pada
perlakuan wadah berwarna putih sebesar 18 kali. Rata-rata frekuensi molting
tertinggi dicapai pada perlakuan wadah berwarna hitam (Gambar 6).
Gambar 6. Histogram frekuensi molting Panulirus homarus dengan perlakuan warna wadah yang berbeda.
Tabel 4. Kualitas air selama pemeliharaan Warna
dasar wadah suhu (
0
C) pH DO (mg/L) Amonia
(mg/L)
Nitrit (mg/L)
Salinitas (g/L)
Putih 27-29 7.2-7.3 4.00-5.20 0.010-0.130 < 0.02 30-34
14 Suhu air pemeliharaan untuk perlakuan warna wadah putih dan hitam
berkisar antara 27-29ºC. Nilai pH air pemeliharaan antara perlakuan berkisar
7.2-7.4. Oksigen terlarut air pemeliharaan berkisar antara 3.70-5.60 mg/L. Nilai
amonia air pemeliharaan berkisar antara 0.010-0.130 mg/L. Nilai nitrit air
pemeliharaan <0.02 mg/L. Untuk salinitas air pemeliharaan berkisar antara 30-34
g/L.
3.2 Pembahasan
Kematian seringkali ditemukan dalam produksi lobster pasir, terutama pada
fase puerulus. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka kematian ini.
Beberapa faktor itu di antaranya adalah kondisi lingkungan, kanibalisme, dan
kualitas air. Oleh karena itu diperlukan suatu pencegahan untuk meminimalkan
faktor-faktor pemicu kematian pada lobster pasir.
Warna suatu benda akan timbul apabila benda tersebut menyerap panjang
gelombang cahaya tertentu dan memantulkan panjang gelombang lain dari cahaya yang sama. Setiap warna memiliki dua karakteristik, yaitu intensitas warna
(brightness) dan intensitas cahaya (lightness) (Wetzel, 1975). Pada wadah warna putih sebagian besar cahaya dipantulkan kembali dan tidak diserap oleh wadah.
Hal ini menyebabkan lobster mencari tempat berlindung, mengingat sifat lobster
yang aktif mencari makan di malam hari (nokturnal). Pada kondisi seperti ini,
lobster cenderung berkumpul pada satu titik, di mana intensitas cahaya pada titik
tersebut cukup sedikit, yaitu di dekat saluran outlet. Berkumpulnya lobster pada satu titik ini menyebabkan intensitas kontak fisik antar lobster cukup tinggi. Sifat
biologi lobster yang teritorial menyebabkan terjadinya persaingan. Kontak fisik
dan persaingan ini memperbesar peluang terjadinya kanibalisme. Berbeda dengan
wadah warna hitam, intensitas cahaya yang masuk ke media pemeliharaan
cenderung lebih sedikit (lampiran 6). Sebagian besar cahaya akan diserap oleh
wadah. Kondisi lingkungan yang cenderung gelap menyebabkan lobster aktif
bergerak dan tidak berkumpul pada satu titik. Sehingga intensitas kontak fisik
antar lobster dapat berkurang. Namun, rendahnya derajat kelangsungan hidup
pada semua perlakuan terutama dikarenakan sifat kanibalisme. Hal ini sesuai
15 adalah sifat saling memakan sesama lobster (Priyambodo et al., 2011). Kanibalisme umumnya terjadi pada saat molting (ganti kulit). Pada saat molting,
lobster berada pada kondisi yang lemah, sehingga mudah sekali diserang dan
dimangsa oleh lobster lain. Namun tidak jarang kematian juga disebabkan karena
gagal molting. Angka kematian yang tinggi juga terjadi di Vietnam dan Australia.
Tingkat kelangsungan hidup lobster dari puerulus hingga fase lobster muda
berukuran 2.5 cm berkisar 60%.
Untuk mengurangi kanibalisme pada penelitian ini, ke dalam wadah
budidaya ditambahkan shelter. Shelter diperlukan untuk persembunyian udang yang sedang moulting, sehingga mampu mengurangi tingkat kanibalisme, dan memperluas area untuk udang menempel (Khasani, 2008). Habitat lobster di alam
banyak terdapat di perairan dengan terumbu karang, lobster sering bersembunyi di
balik terumbu karang untuk berlindung. Untuk menghasilkan kondisi lingkungan
pemeliharaan yang menyerupai kondisi habitat asli lobster, ditambahkan shelter
sebagai tempat berlindung lobster. Jaring shelter dapat disediakan dalam wadah
pemeliharaan selama kegiatan budidaya sebagai cara yang sederhana dan efektif
untuk meningkatkan kelangsungan hidup lobster dengan mengurangi persaingan
antara lobster yang lemah dan lobster yang lebih dominan. Bobot dan
pertumbuhan panjang karapas lobster secara signifikan tidak terpengaruh oleh
adanya shelter, tetapi cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan wadah pemeliharaan tanpa shelter apapun (Nguyen et al., 2008).
Laju pertumbuhan spesifik lobster pasir yang dipelihara pada wadah
berwarna putih berkisar 1.54±0.39%. Sedangkan pada wadah berwarna hitam
berkisar 1.41±0.78%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa warna wadah
pemeliharaan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap laju pertumbuhan spesifik lobster pasir. Pada wadah berwarna putih,
pertumbuhan bobot lobster pasir selama 66 hari pemeliharaan berkisar antara
0.64±0.24 g. Sedangkan pada wadah pemeliharaan berwarna hitam berkisar antara
0.64±0.42 g. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan warna wadah
pemeliharaan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata
16 yang dapat bertahan dan mendominasi. Selain dari pakan yang telah diberikan,
berkurangnya populasi akibat kanibalisme diduga dapat meningkatkan
pertumbuhan lobster.
Langkah awal pertumbuhan lobster ditandai dengan terjadinya pergantian
kulit (molting). Proses ini biasanya diikuti dengan pertumbuhan dan berat badan
(Priyambodo et al., 2011). Pertumbuhan lobster sebagai hewan Crustacea sangat erat kaitannya dengan aktifitas molting (Widiarso, 2011). Cahaya terang akan
menghambat aktivitas molting pada larva Lobster Amerika, dan larva yang
tumbuh pada lingkungan gelap memiliki bobot yang relatif lebih berat dibanding
lingkungan terang (Hadley, 1906; Templeman, 1936; Eagles et al., 1984). Pada lobster pasir metamorf molting dari fase larva 3 hingga fase postlarva telah
terbukti terjadi dengan frekuensi tertinggi selama fase gelap dari fotoperiod
(Aiken & Waddy, 1995). Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian,
frekuensi molting lobster pasir pada perlakuan warna wadah putih berkisar 14±2.39 kali, hampir sama dengan perlakuan warna wadah hitam yang berkisar
14.75±1.67 kali.
Penelitian ini dilakukan di hatchery (in door) yang mendapat sumber cahaya berupa sinar matahari. Sinar matahari dapat masuk ke dalam hatchery melalui jendela yang terdapat di sisi kanan dan kiri serta pintu utama hatchery. Pengukuran intensitas cahaya menggunakan lux meter pada perlakuan warna
wadah hitam dan putih menunjukkan 10 lux dan 30 lux. Pada penelitian Hoang et al. (2001) tentang ―Influences of light intensity and photoperiod on moulting and growth of Penaeus merguiensis cultured under laboratory conditions‖ perbedaan
intensitas cahaya yang diikuti dengan perbedaan pertumbuhan dan kelangsungan
hidup mencapai 675 lux. Dengan demikian kesamaan nilai kelangsungan hidup
dan pertumbuhan pada penelitian ini disebabkan perbedaan intensitas cahaya tidak
terlalu besar.
Perlakuan warna wadah pemeliharaan tidak mempengaruhi kualitas air
pemeliharaan. Suhu air pemeliharaan untuk perlakuan warna wadah putih dan
hitam berkisar antara 27-29ºC. Suhu air yang cukup stabil ini ditunjang pula