• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Ajar Diklat Kompetensi bagi Guru SMK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahan Ajar Diklat Kompetensi bagi Guru SMK"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien, Puji Syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa yang senantiasa selalu melimpahkan Rahmat, Taufiq dan Hidayahnya kepada kita semua baik nikmat kesehatan maupun kesempatan dalam memberikan motivasi dan inspirasi sehingga terselesainya bahan ajar ini.

Program Diklat Teknis bagi Guru – Guru SMK sebagai kegiatan yang akan menambah kompetensi Guru tersebut , maka kami diharuskan menyusun bahan ajar, sebagai salah satu bahan informasi untuk Program Diklat dimaksud, maka kami menyusun bahan ajar tersebut dengan judul: “Merancang gambar Susunan dan Detail ”

Bahan ajar ini ditulis berdasarkan informasi yang didapatkan dari Referensi dan Modul serta bacaan lainnya yang mendukung. Selain itu bahan ajar ini juga dapat dipergunakan untuk penyampaian keterampilan, sikap dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam suatu proses pembelajaran. Penekanan utamanya adalah tentang apa yang dapat dilakukan seseorang setelah mengikuti pelatihan. Salah satu karakteristik yang paling penting dari pelatihan yang berdasarkan kompetensi adalah penguasaan individu secara aktual di tempat kerja.

Pada struktur pembahasan tulisan ini kemungkinan jauh dari sasaran dan kesempurnaan yang diharapkan, maka kami selaku penulis mengharapkan kritikan yang membangun dan respon positif agar tulisan ini akan lebih spesifik dan terstruktur.

(2)
(3)

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 2.1. Contoh gambar kerja……….. 6

Gambar 2.2. Contoh gambar susunan...……….. 7

Gambar 2.3. Contoh gambar kerja satu pandangan..……….. 8

Gambar 2.4. Contoh gambar kerja dua pandangan...……….. 9

Gambar 2.5. Contoh bagian standar yang dimodifikasi……….. 10

Gambar 2.6. Lambang metode e…...……….. 10

Gambar 2.7. Proses metode e…...……….. 11

Gambar 2.8. Lambang metode a…...……….. 11

Gambar 2.9. Proses metode a...……….. 11

Gambar 2.10. Pemilihan pandangan..……….. 12

Gambar 2.11. Jumlah pandangan...……….. 12

Gambar 2.12. Posisi gambar ……...……….. 12

Gambar 2.13. Pandangan setempat……….. 13

Gambar 2.14. Ujung poros berpenampang bujur sangkar..……….. 13

Gambar 2.15. Gambar yang diperpendek...……….. 13

Gambar 2.16. Penggambaran bagian yang terulang...……….. 14

(4)

A. Latar Belakang

Bahan ajar ini akan mempelajari tentang prinsip – prinsip dasar menggambar SUSUNAN dan DETAIL. Mempelajari prinsip dasar ini pada gambar adalah suatu hal yang sangat penting untuk diketahui bagi seorang teknik untuk merancang sebuah gambar yang sesuai dengan standar kerja dengan memanfaatkan keterampilan tangan yang memadukan cara berpikir untuk menjelmakan sebuah pedoman yang dapat dimengerti oleh orang lain.

B. Deskripsi Singkat

Sesuai dengan judul materi bahan ajar ini penulis mencoba membahas tentang dasar-dasar gambar proyeksi orthogonal, gambar susunan dan detail yang selama ini merupakan prinsip – prinsip dasar gambar teknik sebagai pengetahuan dan keterampilan khususnya guru – guru SMK yang menjadi salah satu kompetensi yang perlu ditingkatkan. Hasil yang akan didapat setelah mempelajari bahan ajar ini Peserta diklat akan mampu menggambar susunan dan detail dengan penyajian gambar kerja untuk pekerjaan pemesinan.

C. Tujuan Pembelajaran

1) Kompetensi dasar

Setelah mengikuti materi ini, peserta diklat mampu menerapkan gambar kerja di bidang Pemesinan dengan baik.

2) Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan dapat :

a. Menggambarobjek sederhana dengan mempergunakan Proyeksi Ortogonal b. Membuat gambar kerja (Gambar susunan dan Detail) dengan menggunakan

objek Benda.

D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

1. Gambar Kerja

A. Ruang Lingkup Gambar Kerja B. Gambar Susunan

C. Gambar Detail

D. Penyajian gambar kerja

BAB I

(5)

E. Petunjuk Belajar

Setelah selesai mempelajari Bahan Ajar ini, peserta diklat mampu menggambar dengan baik. Bahan Ajar ini merupakan pokok – pokok mengenai prinsip dasar proyeksi pada gambar teknik. Untuk mempelajari Bahan Ajar ini langkah – langkah yang harus diperhatikan dan dilakukan antara lain :

1. Persiapkan alat dan bahan sebagai berikut : a. Meja gambar.

b. Penggaris.

c. Sablon huruf, bentuk ( geometri ). d. Pensil.

e. Kertas gambar.

f. Peralatan lainnya : Penghapus, Jangka, Busur, Pita isolasi, dsb.

2. Bacalah dengan seksama setiap bab dan menjawab pertanyaan atau latihan dalam setiap bab. Apabila belum dapat menjawabnya dengan sempurna, hendaknya peserta diklat mengulang materi yang belum dikuasai.

3. Buatlah rangkuman sesuai dengan pemahaman anda untuk setiap bab yang dapat mencerminkan isi materi keseluruhan dari bab tersebut.

4. Cermatilah langkah – langkah kerja pada setiap kegiatan belajar sebelum mengerjakan, bila belum jelas tanyakan kepada Instruktor/ Fasilitator.

(6)

A. RUANG LINGKUP GAMBAR KERJA

Gambar kerja adalah gambar teknik yang dapat menginformasikan/ memberikan petunjuk tentang pengerjaan suatu benda kerja. Oleh sebab itu, gambar kerja harus memuat segala sesuatu yang berkaitan dengan pembuatan/ pengerjaan benda yang akan dibuat, yaitu;

 bentuk benda  dimensi/ ukuran

 tanda pengerjaan/ proses pengerjaan benda  toleransi

Suatu gambar kerja sedikitnya berupa sketsa (freehand sketching) dalam bentuk gambar pictorial dan orthogonal yang dilengkapi dengan ukuran, sehingga dengan demikian operator/ tukang dapat mengerjakan benda tersebut.

Gambar kerja, biasa juga disebut gambar kerja bengkel merupakan alat bantu yang berisi informasi lengkap untuk membuat suatu produk. Gambar kerja untuk suatu alat yang lengkap memerlukan :

(a) gambar susunan (gambar rakitan/assembly drawing); (b) gambar bagian (detail).

Bentuk yang rumit ternyata sulit untuk diinformasikan dengan gambar tiga dimensi, misalkan bagian-bagian yang terhalang atau gambar sebuah ulir. Dengan alasan tersebut maka gambar kerja pada umumnya digambar menggunakan proyeksi ortogonal (gambar dua dimensi).

Indikator keberhasilan : Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan bahwa :

Peserta dapat menggambar susunan dan detail objek sedehana dengan

mempergunakan prinsip dasar Gambar Teknik.

BAB II

(7)

Gambar 2.1. Contoh Gambar Kerja

B. GAMBAR SUSUNAN

Gambar susunan merupakan gambar lengkap dari suatu alat/mesin, gabungan dari gambar bagian yang terpasang. Semua bagian yang perlu diperlihatkan dengan jelas, diberi nomor melalui garis petunjuk (garis tipis kontinu), diinformasikan pula daftar bagiannya dalam kepala gambar dengan urutan sebagai berikut.

(a) Bagian-bagian berukuran besar yang harus dibuat (b) Bagian-bagian berukuran lebih kecil yang harus dibuat (c) Bagian-bagian standar yang dimodifikasi

(d) Bagian-bagian standar yang dibeli.

Jika tempat cukup, daftar bagian dibuat satu lembar dengan gambar susunan tetapi apabila tempat tidak cukup, daftar bagian dapat dibuat terpisah pada kertas berukuran A4.

(8)

Ukuran utama harus dicantumkan pada kolom ukuran yang tersedia.

(a) Untuk bahan asal balok: tebal x lebar x panjang, misalkan 10 x 20 x 50 (b) Untuk bentuk silindris : diameter terbesar x panjang, misalkan 20 x 40 (c) Untuk baja profil: lambang diikuti ukuran – panjang, misalkan 60.60.6-2000

(9)

C. GAMBAR DETAIL (Bagian)

Gambar bagian adalah gambar dari setiap komponen yang akan dibuat/ dibeli, bagian dari suatu gambar susunan atau suatu konstruksi.

Satu gambar bagian sebaiknya digambar dalam satu lembar kertas kecuali :

 Jika dua komponen atau lebih harus dikerjakan dalam satu mesin atau berpasangan, antara lain punch and die.

 Beberapa komponen yang disambung dengan pengelasan dan hasilnya dianggap menjadi satu bagian.

Informasi yang perlu disampaikan pada gambar bagian yang akan dibentuk dengan pemesinan, yaitu :

 Skala, sejelas mungkin, gambar sama dengan benda kerja, 1:1; gambar diperbesar; 2:1; 5:1; 10:1; gambar diperkecil; 1:2; 1:5; 1:10; 1:20; 1:50.

 Proyeksi jumlahnya menurut kejelasan gambar dalam pandangan orang teknik.  Pemberian ukuran yang perlu untuk pengerjaan.

 Toleransi linier

 Kondisi permukaan, sekasar mungkin tetapi masih memenuhi fungsinya.  Jika diperlukan, toleransi geometri.

(10)
(11)

Komponen standar atau komponen yang akan dibeli seperti baut tidak perlu digambar, kecuali jika komponen tersebut akan diubah (dimodifikasi), bagian yang dimodifikasi tersebut harus digambarkan untuk keperluan pengerjaan modifikasi, sedangkan bentuk aslinya digambarkan dengan garis rantai titik ganda tipis.

Gambar 2.5. Contoh Bagian Standar yang Dimodifikasi

Untuk menggambar detail biasanya bendanya diproyeksikan secara orthogonal pada tiap– tiap bidang proyeksi untuk memperlihatkan benda tersebut pada bidang dua dimensi dengan menggabungkan gambar–gambar proyeksi tersebut dapatlah diperoleh gambaran jelas dari benda yang dimaksud.

Menurut ISO, gambar dua dimensi yang standar ialah metode proyeksi sudut pertama (first angle projection/proyeksi eropa/metode e) dan metode proyeksi sudut ketiga (third angle

projection/proyeksi amerika/metode a), penggunaan kedua cara ini tergantung dari kebiasaan

masing-masing perusahaan.

Jika hasil – hasil gambar proyeksi sudut pertama dan proyeksi sudut ketiga dibandingkan, maka akan terlihat bahwa gambar yang satu merupakan kebalikannya gambar yang lain, dilihat dari segi susunannya.

(12)

Gambar 2.7. Proses metode e

Lambang untuk metode a, biasanya disimpan pada bagian bawah dari ruang gambar atau pada kepala gambar.

Gambar 2.8. lambang metode a

(13)

D. PENYAJIAN PADA GAMBAR KERJA

Pemilihan pandangan

Pandangan suatu benda yang memberikan informasi terbanyak, dinyatakan sebagai pandangan utama atau pandangan depan.

Jumlah pandangan

Jumlah pandangan (termasuk potongan) yang dibutuhkan disesuaikan dengan keperluan tanpa dapat menimbulkan keraguan, misalnya untuk benda silindris dengan bentuk yang sederhana cukup digambar satu pandangan.

Posisi gambar

Posisi gambar, terutama pandangan depan harus digambarkan sesuai dengan kedudukan utama saat dibuat ( proses pembuatannya di mesin )

Gambar 2.12. posisi gambar

Gambar 2.10. Pemilihan pandangan

(14)

Pandangan setempat

apabila cara penyajian dapat dilakukan tanpa menimbulkan keraguan, maka diperbolehkan memberikan pandangan setempat, sebagai ganti pandangan utuh untuk benda simetri. Pandangan setempat harus digambarkan dengan metode proyeksi sudut ketiga (metode a), tidak bergantung pada cara penyajian yang dipakai pada gambar.

Gambar 2.13. pandangan setempat

Ujung poros berpenampang bujursangkar

untuk menghindari pernggambaran pandangan atau potongan tambahan, ujung poros berpenampang bujursangkar, dapat ditunjukan dengan diagonal, dibuat dari garis tipis kontinyu.

Gambar 2.14. ujung poros berpenampang bujur sangkar

Pandangan yang terselang (diperpendek)

untuk menghemat ruangan, suatu benda yang panjang dapat digambarkan sebagian dengan memotongnya. Batas pemotongan bagian-bagian ini digambarkan berdekatan satu dengan yang lain, menggunakan garis tipis kontinyu bergelombang.

(15)

Penggambaran bagian yang berulang

Apabila dalam suatu gambar terdapat beberapa bagian gambar yang mempunyai bentuk dan ukuran sama, cara penggambarannya dapat disederhanakan dengan menggambarkan satu bagian yang berulang. Walaupun demikian, jumlah, macam dan letak bagian berulang harus ditunjukkan.

Gambar 2.16. penggambaran bagian yang berulang

Elemen digambarkan dalam skala yang lebih besar

Dalam hal skala yang terlalu kecil, sehingga rincian suatu bagian benda tidak dapat ditunjukkan atau diberi ukuran, maka bagian tersebut dapat dibingkai dengan garis tipis kontinyu dan diberi pengenal dengan huruf besar. Bagian yang dibingkai, digambarkan dengan skala yang lebih besar, dengan disertai skala dan huruf pengenalnya.

(16)

E. RANGKUMAN

1. Gambar kerja, biasa juga disebut gambar kerja bengkel merupakan alat bantu yang berisi informasi lengkap untuk membuat suatu produk. Gambar kerja untuk suatu alat yang lengkap memerlukan :

a. Gambar susunan (gambar rakitan/assembly drawing); b. Gambar Detail (Bagian).

2. Gambar susunan merupakan gambar lengkap dari suatu alat/ Mesin, gabungan dari gambar bagian yang terpasang. Smua bagian yang perku diperhatikan dengan jelas, diberi nomor melalui garis petunjuk (garis tipis kontinu), diinformasikan pula daftar bagiannya dalam kepala gambar.

3. Gambar detail (bagian) adalah gambar dari setiap komponen yang akan dibuat/ dibeli, bagian dari suatu gambar susunan atau suatu konstruksi. Satu gambar detail (bagian) sebaiknya digambar dalam satu lembar kertas.

4. Komponen standar atau komponen yang akan dibeli seperti baut tidak perlu digambar kecuali jika komponen tersebut akan diubah (dimodifikasi).

5. Menurut ISO ( International Standard Organization ) gambar dua dimensi yang standard ialah metode Proyeksi sudut pertama ( First Angle Projection/ Proyeksi Eropa/Metode E ) dan metode Proyeksi sudut ketiga ( Third Angle Projection/ Proyeksi Amerika/ Metode A )

F. LATIHAN

1. Gambar kerja adalah….

2. Apa yang dimaksud dengan gambar susunan.

(17)

4. Berdasarkan gambar susunan berikut ini, rancanglah gambar detailnya lengkap dengan ukuran dan informasi – informasi penting yang dibutuhkan dalam proses pembuatannya dibengkel.

(18)

A. KESIMPULAN

Dalam rangka peningkatan kualitas yang bertumpu pada kompetensi dibidang teknik dapat diupayakan melalui pendidikan dan latihan. Merancang Gambar Susunan dan Detail salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sekolah menengah kejuruan. Pemahaman yang kurang akan menimbulkan masalah ketika harus dijelaskan kepada peserta didik. Pentingnya penerapan Gambar Kerja menuntut kita memahami prisip dasar Gambar Susunan dan Detail, baik pengertian secara umum maupun penjabarannya serta penerapannya pada dunia kerja.

Langkah yang pertama penulis mengungkapakan hal yang mendasari prinsip dasar Gambar Kerja yang meliputi gambar Susunan dan Detail.

Langkah yang kedua penulis juga mengungkapkan bahwa rumitnya benda tiga dimensi sehingga ada informasi yang tidak lengkap maka perlunya penjabaran secara lengkap oleh gambar 2 dimensi dalam bentuk penyajian gambar kerja

B. IMPLIKASI

Dimungkinkan setelah peserta diklat mengerjakan soal – soal dan latihan dalam Bahan Ajar Merancang Gambar Susunan dan Detail, nilainya masih kurang dari 70 %, maka peserta diklat disarankan untuk mendalami kembali materi Bahan Ajar ini.

Diharapkan indikator keberhasilan pembelajaran peserta diklat dapat mengembangkan belajar yang optimal.

Selanjutnya peserta diklat mampu menjawab inovasi perkembangan tentang menggambar teknik, memecahkan masalah – masalah yang timbul untuk menjawab tantangan global baik didunia pendidikan kejuruan maupun didunia industri di Indonesia.

(19)

C. TINDAK LANJUT

(20)

DAFTAR PUSTAKA

1. Narayana, Dr. K.L. dan Dr. P. Kannaiah, K. Venkata Reddy. MACHINE DRAWING.

New Age Publihsers New Delhi 2006.

2. Stirling, Norman.” An Introduction to Technical Drawing. DELMAR PUBLISHERS NEW YORK 1977.

3. Sato, G. Takeshi dan N. Sugiarto Hartanto, “Menggambar Mesin Menurut Standar ISO, PT. Pradnya Paramita Jakarta, 1986

(21)

BIO DATA PENULIS

Penulis dilahirkan di P. Brayan - Medan, 07 Mei 1977 merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Setelah lulus dari STM tahun 1995 melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara di Jurusan Teknik Mesin dan selesai pada tahun 2001. Sejak tahun 2007 s.d sekarang Penulis adalah salah satu Instruktor di Departemen Teknik Mesin PPPPTK bidang Bangunan dan Listrik Medan.

Sebelumnya pernah menjadi Guru di SMK Swasta di Medan tahun 2001 – 2003 setelah itu menjadi Karyawan PT. Genta Nusa Gemilang yang merupakan Sub.Kontraktor dari PT. INALUM di Kuala Tanjung – Asahan tahun 2003 – 2005.

Gambar

Gambar 2.1. Contoh Gambar Kerja
Gambar 2.2. Contoh Gambar Susunan
Gambar 2.3. Contoh gambar kerja satu pandangan
Gambar 2.4. Contoh Gambar Kerja Dua Pandangan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diktat ajar Diktat ajar , dapat didefinisikan sebagai bahan ajar untuk , dapat didefinisikan sebagai bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pengajar

Kesimpulan penelitian adalah: (1) bahan ajar yang digunakan saat ini berupa modul dan jobsheet belum optimal dalam pembelajaran, (2) hasil dari pengembangan ini adalah berupa

Hasil menunjukkan bahwa bahan ajar IPA berbasis inkuiri yang diimplementasikan dalam Diklat inkuiri berjenjang telah mendukung pemikiran dan pertanyaan kritis karena

Penyuluhan dan sosialisasi ini bertujuan untuk mendesimenasikan panduan penyusunan bahan ajar Bahasa Indonesia yang inovatif berbasis animasi dan contoh bahan ajar teks

Uji coba dilakukan untuk mengetahui implementasi bahan ajar modul dan keefektifan bahan ajar modul dalam penelitian. Implementasi bahan ajar modul diuji

referensi bagi pembelajaran menulis dongeng, Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar yang dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran dengan

Tugas Analisa Bahan Ajar - Modul Ajar Penguatan Kurikulum

Powerpoint Bahan Presentasi Materi Modul