Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
PEMERTAHANAN BAHASA SIMALUNGUN
DI KABUPATEN SIMALUNGUN
TESIS
Oleh
RAMLAN DAMANIK
077009021/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
PEMERTAHANAN BAHASA SIMALUNGUN
DI KABUPATEN SIMALUNGUN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Magister Humaniora dalam Program Studi Linguistik pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
RAMLAN DAMANIK
077009021/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
Judul Tesis : PEMERTAHANAN BAHASA SIMALUNGUN DI KABUPATEN SIMALUNGUN
Nama Mahasiswa : Ramlan Damanik Nomor Pokok : 077009021
Program Studi : Linguistik
Menyetujui Komisi Pembimbing,
(Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D.) (Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.) Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc.)
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 Telah duiji pada
Tanggal 4 Agustus 2009
PANITIA PENGUJI TESIS
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 ABSTRAK
Penelitian mengenai pemertahanan bahasa daerah Simalungun sudah dilakukan dan penelitian ini termasuk dalam penelitian sosiolinguistik. Responden yang dijaring dalam penelitian ini sebanyak 60 responden yang berdomisili di Kabupaten Simalungun dan dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok remaja, kelompok dewasa dan kelompok orang tua, serta pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran daftar pertanyaan dan metode yang dilakukan adalah ametode deskriptif dan dianalisis secara kuantitatif. Analisis meliputi frekuensi penggunaan bahasa. Untuk mendeskripsi pemertahanan bahasa responden, ranah-ranah penggunaan bahasa yang dikaji dalam penelitian ini adalah bahasa yang dipergunakan pada ranah keluarga, ranah pergaulan, ranah pendidikan, ranah pemerintahan, ranah transsaksi, ranah pekerjaan dan ranah tetangga.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa sikap penutur terhadap bahasa Simalungun cenderung positif berkisar 70% pada setiap ranah. Pemertahanan yang terendah terjadi pada ranah pemerintahan yang persentasenya berkisar 50%. Secara keseluruhan dari semua kelompok (remaja, dewasa dan orang tua) persentase pemertahanan bahasa Simalungun adalah 75,00% atau sekitar 47 responden.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 ABSTRACT
A research of Simalungun dialect preservation has been conducted and this was a sociolinguistic research. The respondent of this research consisted of 60 peoples living in Simalungun district and classified inti three groups, i.e., : adolescence. Adult and parents. And collection of data was made by distribution of questionnaires and this research used a descriptive met hod and analyzed quantitatively. The analysis included the frequency of language use. To describe the language preservation of the respondents, the domains of language use assessed in the research included the language spoken or used in domains of family, socialization, education, government, transaction, work, and neighbour.
The findings of the research indicated that the attitude of speakers on Simalungunlanguage tended to be positive, approximately 70 %, in each domain. The lowest preservation was found in governmental domain. The lowest preservationdomain, approximately 50 %. Overally, of all groups ( adolescent, adult and parents), the percentage of Simalungun language preservation was 75 %, or approximately 47 respondnts
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Penelitian ini tentang pemertahanan bahasa Simalungun di Kabupaten Simalungun dilakukan sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatra Utara. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran atau deskripsi mengenai pemertahanan bahasa Simalungun di Kabupaten Simalungun.
Penelitian yang bersifat kebahasaan ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam bidang kajian linguistik, serta dapat menjadi masukan atau rujukan bagi para peneliti selanjutnya yang tertarik dalam kajian yang sama.
Saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat diharapkan untuk kesempurnaan tulisan ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi banyak orang.
AMIN
Medan, Juli 2009
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang atas izin dan ridho yang telah diberikanNya sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
Pada kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Rektor USU, Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM & H.Sp.A(K), yang telah memberi kesempatan dan bantuan biaya pendidikan selama saya mengikuti Pendidikan Program Magister pada Sekolah Pascasarjana USU.
2. Direktur Sekolah Pascasarjana USU, Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc. yang telah memberi perhatian dan dukungan selama saya mengikuti Pendidikan S-2 pada Sekolah Pascasarjana USU.
3. Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D selaku Ketua Program Studi Linguistik dan Sekretaris Program Studi Linguistik Bapak Drs. Umar Mono, M.Hum. yang telah memberi perhatian dan bimbingan selama saya mengikuti pendidikan hingga selesai pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
5. Para Dosen saya yang mengajar di Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang membekali ilmu pengetahuan dan membuka cakrawala berpikir ilmiah. Semoga jasa baik beliau semua dalam mendidik dibalas Allah dengan pahala yang banyak.
6. Khusus kepada Istriku tercinta Idawati, S.H. serta anak-anakku: Ratih Maghfira Damanik, dan Syifa Salsabila Damanik. Ayah ucapkan terima kasih atas pengorbanan, dorongan, kesabaran dan kesetiaan yang diberikan sehingga studi Ayah dapat terselesaikan.
7. Kedua Almarhum orang tua saya yang semasa hidupnya banyak mengajarkan cara hidup yang baik dihadapan Allah. Untuk semua abang, kakak-kakak dan adik-adik saya terima kasih atas doanya
8. Kepada semua teman-teman angkatan 2007 khususnya Elisten Parulian Sigiro, Abanganda Jamorlan Siahaan, Abanganda Amhar Kudadiri, saya ucapkan terima kasih atas kerja sama yang baik, saling membantu selama menjalani proses belajar di Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana USU.
Akhir kata saya berharap semoga dukungan, bantuan, pengorbanan dan budi baik yang diberikan kepada saya dari berbagai pihak hendaknya mendapat balasan dan ridho yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.
Medan, Juli 2009
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 RIWAYAT HIDUP
N a m a : Ramlan Damanik
Tempat/Tgl Lahir : P.Siantar 2 February 1963 A g a m a : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Perwira No. 5 P. Siantar
Pendidikan : SD Negeri Latihan I , P. Siantar , tahun 1976 SMP MURNI , Padang, tahun 1979
SMA Negeri I , Padang, tahun 1983
S-1 Sastra Daerah Fakultas Sastra, USU tahun 1988
Pekerjaan : Pada tahun 1991 diterima menjadi PNS di Fak. Sastra USU jurusan Sastra Daerah Fak. Sastra USU sampai sekarang.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT... ii
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH... iv
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Masalah Penelitian ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7
2.1 Kerangka Teori ... 7
2.2 Konsep Pemertahanan Bahasa ... 9
2.3 Beberapa Hasil Penelitian yang Relevan ... 10
BAB III METODE PENELITIAN ... 13
3.1 Metode dan Tekhnik ... 13
3.2 Perhitungan Persentase ... 14
3.3 Variabel Penelitian ... 16
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
3.5 Tahapan Kegiatan... 19
BAB IV TOPOGRAFI KABUPATEN SIMALUNGUN ... 21
4.1 Letak Geografi ... 21
4.2 Peta Kabupaten Simalungun ... 23
4.3 Keadaan Bahasa ... 25
BAB V TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 26
5.1 Identitas Sosial Responden ... 26
5.2 Pembahasan Pemertahanan Bahasa Simalungun Pada Kelompok Remaja .... 32
5.3 Pembahasan Pemertahanan Bahasa Simalungun Pada Kelompok Dewasa ... 47
5.4 Pembahasan Pemertahanan Bahasa Simalungun Pada Kelompok Orang Tua ... 60
5.5 Pembahasan Pemertahanan Bahasa Simalungun Pada Ketiga Kelompok (Remaja, Dewasa Dan Orang Tua) ... 73
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 76
6.1 Simpulan ... 76
6.2 Saran... 79
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1. Kecamatan di Wilayah Kabupaten Simalungun... 22
2. Jumlah responden menurut jenis kelamin (N= 60)... 26
3. Usia Responden (N= 60) ... 27
4. Pekerjaan Responden ( N= 60) ... 27
5. Pendidikan Responden (N = 60) ... 28
6. Perkawinan Responden ( N=60) ... 29
7. Tempat lahir Responden ( N=60) ... 29
8. Penguasaan terhadap bahasa Simalungun (N=60) ... 31
9. Daftar Intra kelompok di Lingkungan Tempat Tinggal Responden ( N= 60) ... 31
10. Remaja Jika Berbicara Dengan Kakek Menggunakan Bahasa (N=20) ... 32
11. Remaja Jika Berbicara Dengan Nenek (N=20) ... 33
12. Remaja Jika Berbicara Dengan Ayah ( N=20) ... 33
13. Remaja Jika Berbicara Dengan Ibu (N=20) ... 34
14. Remaja Jika Berbicara Dengan Saudara (N=20) ... 35
15. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Pergaulan (N=20) ... 36
16. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Pendidikan (N=20) ... 38
17. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Pemerintahan (N=20) ... 40
18. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Transaksi (N=20) ... 41
19. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Tetangga (N=20) ... 43
20. Kesimpulan Penggunaan bahasa pada kelompok remaja (N=20) ... 46
21. Kelompok Dewasa jika berbicara dengan Kakek (N=20) ... 48
22. Kelompok Dewasa Jika berbicara dengan nenek (N=20 ) ... 48
23. Kelompok Dewasa Jika Berbicara Dengan Ayah (N=20) ... 49
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
25. Kelompok Dewasa Jika Berbicara Dengan Saudara (N=20) ... 50
26. Kelompok Dewasa Jika Berbicara Dengan Suami/Istri (N=20) ... 50
27. Jika Berbicara Dengan Anak (N= 9) ... 51
28. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Pergaulan (N=20) ... 52
29. Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Pekerjaan (N=20) ... 54
30. Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Pemerintahan ( N=20) ... 54
31. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Transaksi (N=20) ... 55
32. Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Tetangga (N=20) ... 56
33. Kesimpulan Penggunaan Bahasa Pada Kelompok Dewasa (N=20) ... 59
34. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Kakek Menggunakan Bahasa (N=20) ... 61
35. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Nenek Menggunakan Bahasa (N=20) ... 61
36. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Ayah Menggunakan Bahasa (N=20)... 62
37. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Ibu Menggunakan Bahasa (N=20)... 62
38. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Suami/Istri Menggunakan Bahasa (N=20) ... 63
39. Orang Tua Jika Berbicara dengan Anak menggunakan Bahasa (N=20)... 63
40. Orang Tua jika Berbicara dengan Saudara menggunakan Bahasa (N=20) ... 64
41. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Pergaulan (N=20) ... 65
42. Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Pekerjaan (N=20)... 66
43. Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Pemerintahan ( N=20)... 67
44. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Transaksi (N=20)... 68
45. Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Tetangga (N=20)... 69
46. Kesimpulan Penggunaan bahasa pada kelompok orang tua ( N = 20)... 71
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
1. Variabel Bebas dan Variabel Terikat ... 17
2. Peta Kabupaten Simalungun ... 23
3. Diagram Bulat Penggunaan Bahasa Simalungun ... 46
4. Diagram Bulat Penggunaan Bahasa pada Kelompok Dewasa ... 59
5. Diagram Bulat Penggunaan Bahasa pada Kelompok Orang Tua .... 72 6. Diagram Bulat Kesimpulan Penggunaan Bahasa pada Semua
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Halaman 1. Kuesioner ... 83 2. Tabulasi Data ... 90 3. Tabel Pemertahanan Bahasa Simalungun di Kabupaten
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting bagi manusia. Oleh karena itu hubungan antara bahasa dan pemakai (penuturnya) perlu dikaji. Banyak fenomena yang menarik berkaitan dengan hubungan antara bahasa dengan penuturnya. Seperti, (1) jumlah penutur pendukung suatu bahasa (aspek demografis kebahasaan), (2) jumlah variasi bahasa berdasarkan masyarakat penuturnya, (3) sejumlah segi lainnya yang berkaitan langsung dengan masalah pembinaan dan pengembangan bahasa serta pemertahanan sebuah bahasa. Belakangan ini, masalah kepunahan bahasa menjadi topik yang sangat menarik dalam sosiolinguistik terapan, khususnya perencanaan bahasa (language planning). Konsep perencanaan bahasa haruslah menjadi fokus perhatian supaya bahasa-bahasa daerah tidak punah.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
suatu perencanaan agar apa yang dilakukan melalui pembinaan dapat dicapai sesuai harapan orang atau lembaga yang melaksanakannya (Moeliono, 1985:86).
Sebagai suku bangsa yang multietnik diasumsikan bahwa sebahagian warga negara Indonesia pada umumnya paling sedikit menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa daerah (bahasa ibu) dan bahasa Indonesia dalam interaksi sosial budayanya. Bahasa daerah dipakai untuk keperluan komunikasi antarwarga sesuku, meskipun dalam kegiatan komunikasi tertulis antarwarga sesuku sebahagian besar menggunakan bahasa Indonesia, tetapi untuk kegiatan komunikasi antarsuku, bahasa Indonesia memegang peranan yang amat penting (Isman, 1978). Di samping itu, bahasa Indonesia dipakai pula untuk keperluan penyampaian ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan formal sedangkan bahasa daerah hampir tidak dipakai sama sekali kecuali di beberapa daerah yang masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar
Setiap bahasa di dunia ini tidak luput dari tantangan termasuk bahasa daerah. Tantangan itu perlu diantisipasi dengan perencanaan, pemikiran konseptual, intelektual dan penuh kearifan. Tantangan yang dimaksud di sini bisa bersifat internal dan bisa juga bersifat eksternal. Tantangan yang bersifat eksternal antara lain arus globalisasi. Tantangan internal antara lain datangnya dari penutur bahasa sebenarnya yang bersumber dari sikap, kesadaran berbahasa yang kemudian tercermin dalam perilaku berbahasa (Pateda, 1990).
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
antara lain sifat, karekteristik, keadaan, penutur, dan juga faktor lain yang menjadi kendala atau pendorong berkembangnya bahasa yang dimaksud. Satu hal di antara berbagai hal yang ada itu diamati dan hasilnya menjadi masukan yang sangat berguna untuk mendukung informasi secara keseluruhan tentang bahasa yang direncanakan itu.
Salah satu hal yang menarik untuk diamati adalah telaah terhadap pemertahanan bahasa dalam masyarakat multilingual. Pengkajian pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa biasanya mengarah kepada hubungan di antara perubahan atau kemantapan yang terjadi pada kebiasaan berbahasa dengan proses psikologis,sosial, dan budaya yang sedang berlangsung pada saat masyarakat bahasa yang berbeda berhubungan satu sama lain. Bahwa bahasa atau ragam bahasa kadang-kadang digunakan oleh penutur di dalam situasi interaksi antar kelompok tertentu banyak menarik perhatian orang. Namun, baru pada tahun 60-an ikhwal pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa diakui sebagai bidang penyelidikan yang sistematis di antara para pengamat perilaku bahasa (Fishman ,1964:73) .
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
Pemertahanan bahasa banyak ditentukan oleh kerentanan masyarakat terhadap proses industrialisasi, urbanisasi, politik bahasa nasional dan tingkat mobilisasi anggota masyarakat bahasa.
Pergeseran bahasa dan pemertahanan bahasa sebenarnya seperti dua sisi mata uang, bahasa menggeser bahasa lain atau bahasa yang tak tergeser oleh bahasa lainnya, bahasa yang tergeser adalah bahasa yang tidak mampu mempertahankan diri. Kedua kondisi itu merupakan akibat dari pilihan bahasa dalam jangka panjang dan bersifat kolektif. Pergeseran bahasa berarti suatu guyup (komunitas) meninggalkan bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain. Bila pergeseran sudah terjadi para warga guyup itu secara kolektif memilih bahasa baru. Dalam pemertahanan bahasa, guyup itu secara kolektif menentukan untuk melanjutkan memakai bahasa yang sudah biasa dipakai.
Kabupaten Simalungun yang merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah Sumatera Utara yang saat ini dihuni oleh berbagai macam kelompok etnis dan latar belakang sosial budaya yang berbeda beda dalam berkomunikasi secara umum menggunakan bahasa Indonesia, tetapi dalam interaksi antaretnis mereka menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing. Sehubungan dengan itu, Nababan (1984) berpendapat bahwa sikap bahasa kelompok etnis akan turut berperan di dalam peralihan bahasa tersebut serta usaha untuk mempertahankan bahasa dan membina bahasa.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
rumah pada umumnya menggunakan bahasa Indonesia bukan bahasa etnis orang tua. Terlihat bahwa dominan pemakaian bahasa Simalungun semakin menyempit karena telah diisi oleh bahasa Indonesia. Keadaan ini dipertegas oleh Siregar (1998) pada hasil penelitiannya yang mengatakan bahwa bahasa daerah sampai pada retensi yang paling rendah karena bahasa tersebut tidak lagi dipergunakan, bahkan di ranah yang paling pribadi pun seperti di rumah, bahasa daerah mulai kehilangan fungsi dan perannya.
Kenyataan di atas memotivasi untuk melakukan penelitian tentang pemertahanan bahasa daerah, seperti yang kita ketahui melalui data dari Pusat Bahasa (2008), dijumpai 746 buah bahasa daerah yang terdapat dan tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai wilayah Merauke. Sejalan dengan itu, bahasa Simalungun termasuk satu diantara bahasa daerah yang terdapat di dalamnya.
Menurut daerah pemakaiannya bahasa Simalungun ini diidentikkan dengan wilayah Kabupaten Simalungun yang berada di Sumatera Utara. Walaupun begitu, pemakaian bahasa Simalungun tidak hanya terbatas pada wilayah kabupaten Simalungun, ada kemungkinan juga dipakai ditempat lain di mana ada perantau warga Simalungun, seperti di Serdang Bedagai, Deli Serdang, Karo, dan Tobasa.
1.2 Masalah Penelitian
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 1. Di ranah manakah bahasa Simalungun digunakan?
2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penggunaan bahasa Simalungun? 3. Bagaimanakah pemertahanan bahasa Simalungun sebagai lingua franca pada
masyarakat penuturnya?
1.3 Tujuan Penelitian.
Sejalan dengan masalah yang ada dalam penelitian, maka penelitian ini bertujuan:
1. mendeskripsi ranah penggunaan bahasa Simalungun.
2 mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi pengunaan bahasa Simalungun dan 3. menginvestigasi peran bahasa Simalungun sebagai lingua franca pada masyarakat
penutur bahasa Simalungun di Kabupaten Simalungun
1.4 Manfaat Penelitian
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teori
Penelitian ini secara khusus menggambarkan masalah multilingualisme, multilingualisme tidak dapat berdiri sendiri, tetapi selalu berkaitan dengan antara lain, pemakaian dan sikap bahasa. Multilingualisme juga berhubungan dengan kehidupan masyarakat yang tampak pada adanya perbendaharaan bahasa (linguistic repertoire)
Sikap berbahasa merupakan tata keyakinan yang berhubungan dengan bahasa yang berlangsung relatif lama, tentang suatu objek bahasa yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu yang disukainya (Anderson, 1974:34:35). Sikap terhadap suatu bahasa dapat pula dilihat dari bagaimana keyakinan penutur terhadap suatu bahasa; bagaimana perasaan penutur terhadap bahasa itu; bagaimana kecenderungan bertindak tutur (speech act) terhadap suatu bahasa.
Kontak antarbahasa dan pemakainnya dengan segala latar belakang sosialnya memberikan pandangan tentang adanya keragaman pilihan dan pilihan bahasa dapat seragam dan dapat pula tidak seragam.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
Domain merupakan konteks institusional tertentu yang menyebabkan varietas yang satu lebih tepat digunakan daripada varietas yang lainnya. Ketepatan itu merupakan hubungan antara faktor lokasi, topik dan partisipan. Sebagai domain keluarga terlihat jelas bila penutur berbicara dengan keluarganya tentang sebuah topik sehari-hari di rumah.
Pemilihan bahasa oleh seorang individu akan melibatkan situasi psikologis. Artinya situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan individu (personal needs), kedua berhubungan dengan latar belakang individu (background situation) dan ketiga berhubungan dengan kedekatan situasi (immediate situation). Pilihan bahasa melibatkan sikap loyalitas bahasa. Sikap loyalitas ditunjukkan oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh fungsi bahasa itu sendiri. Garvin dan Mathiot dalam Fishman (1968) berpendapat bahwa bahasa ragam baku mempunyai fungsi sebagai pemersatu dan pemisah prestise dan fungsi sebagai kerangka acuan. Fungsi pemersatu dan pemisah dapat menumbuhkan sikap loyalitas bahasa dan fungsi prestise menumbuhkan sikap bangga dan fungsi kerangka acuan menimbulkan sikap kesadaran terhadap kaidah bahasa. Loyalitas bahasa dapat bertahan apabila didukung oleh kondisi sosial dan ekonomi yang mantap. Sebaliknya pergeseran bahasa akan terjadi bila ada bahasa yang nilainya lebih tinggi dari bahasa lainnya (Dorian ,1980).
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
umur, jenis kelamin, tingkat dan sarana pendidikan dan latar belakang sosial ekonomi.
2.2 Konsep Pemertahanan Bahasa
Keanekabahasaan merupakan dan mungkin saja menjadi gejala yang dapat menumbuhkan persaingan antarbahasa sehingga selalu saja ada kemungkinan bahasa-bahasa tertentu yang tidak sanggup bertahan dalam persaingan sehingga menjadi punah. Persoalan keanekabahasaan menjadi menarik bagi pemerhati /peneliti sosiolinguistik, yang berkaitan dengan pemertahanan VS kepunahan bahasa. Membahas pemertahanan erat kaitannya dengan kepunahan bahasa artinya adanya interaksi bahasa menimbulkan adanya upaya pemertahaanan. Jika hal tersebut gagal, maka bahasa yang mengalami pergeseran itu akan perlahan-lahan menjadi punah, Sumarsono (1995:173).
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
terjadinya percakapan, merupakan kombinasi antara partisipan, topik, dan tempat (misalnya, keluarga, pendidikan, tempat kerja, keagamaan, dsb.). Ranah yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini adalah ranah kekeluargaan, pergaulan, pekerjaan, pendidikan, pemerintahan, transaksi, dan tetangga.
Berhasil tidaknya suatu pemertahanan bahasa bergantung pada dinamika masyarakat pemakai bahasa tersebut dalam kaitannya terhadap perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat tersebut. Pemertahanan bahasa banyak ditentukan oleh kerentanan masyarakat terhadap proses industrialisasi, urbanisasi, politik bahasa nasional, dan tingkat mobilisasi anggota masyarakat bahasa itu.
2.3 Beberapa Hasil Penelitian yang Relevan
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
Selain itu, Sumarsono (1993) telah pula meneliti pemertahanan bahasa Melayu Loloan di Bali. Menurutnya, masyarakat gayup Loloan adalah masyarakat yang dwibahasawan karena hampir setiap anggota gayup tersebut mampu menguasai bahasa gayup yang lain. Dengan demikian, di dalam gayub Loloan, bahasa Melayu Loloan dan bahasa Indonesia membentuk situasi diglosia. Bahasa Melayu Loloan hanya berperan dalam ranah rumah tangga, ketetanggaan, dan agama. Akhirnya Sumarsono menyimpulkan bahwa dalam kenyataannya diglosia itu cenderung ‘bocor’. Maksudnya, pemakai bahasa Indonesia sudah mulai merembes ke ranah rumah tangga, ketetanggaan, dan kekariban.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009
Kajian sosiolinguistik yang hampir senada dengan itu telah dilakukan oleh Lumintaintang dalam Astar dkk. (2003:2) tentang pola pemakaian bahasa dalam lingkungan rumah tangga perkawinan campur Jawa-Sunda di daerah Jakarta. Dalam kajian tersebut Lumintaintang menemukan pola berbahasa antaranggota dalam rumah tangga yang berkaitan dengan latar belakang sosial dan situasioanal para penuturnya.
Ramlan Damanik : Pemertahanan Bahasa Simalungun Di Kabupaten Simalungun, 2009 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode dan Tekhnik
3.2 Perhitungan Persentase
Dalam menganalisis data dilakukan dengan cara penghitungan persentase mengikuti pola perhitungan Muhajir (1979), yaitu perhitungan yang didasarkan pada jumlah jawaban yang masuk. Pertimbangannya adalah bahwa setiap pertanyaan mungkin tidak akan dijawab oleh responden. Angka persentase akan disajikan dalam dua angka dibelakang koma.
Setelah dianalisis, data dalam penelitian ini disusun dalam bentuk tabel. Penyusunan dalam bentuk tabel atau tabulasi ini merupakan tahap lanjutan dalam rangkaian proses analisis data (Koentjaraningrat, 1993). Data yang telah masuk mula-mula dicatat, lalu disesuaikan dengan pengelompokan yang telah dilakukan kemudian ditarik dalam angka-angka gabungan yang dipakai sebagai dasar analis. Dari hasil pengolahan data tersebut akan terlihat kecenderungan-kecenderungan tertentu yang kemudian dimasukkan ke dalam tabel-tabel tabulasi dan grafik. Hasil tabulasi faktor-faktor identitas sosial seperti kesukuan, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan latar belakang sosial ekonomi responden.
klasifikasi secara kuantitatif dari objek penelitian, dalam hal ini, peneliti hendak meneliti apakah bahasa Simalungun itu masih bertahan atau tidak bertahan. Adapun setiap pertanyaan (indikator) yang terdapat dalam kuesioner yang diberikan kepada responden dijawab dengan menggunakan pilihan jawaban: Responden masih menggunakan bahasa 1. Bahasa Simalunggun, 2. Bahasa Daerah Lainnya, 3. Bahasa Indonesia, 4. Bahasa Asing. Kemudian, dibuatlah standar penilaian dalam bentuk interval, yaitu:
1) Jika jawaban responden menggunakan bahasa Simalungun persentasenya 51%--100% dianggap bahwa bahasa Simalungun masih bertahan.
2) Jika jawaban responden menggunakan bahasa Sinmalungun persentase 0%--50% dinterpretasikan bahasa Simalungun tidak bertahan.
3.3 Variabel Penelitian
Dalam penelitian pemertahanan bahasa ini variabel yang akan diteliti adalah penggunaan bahasa, untuk penggunaan bahasa responden, menggunakan beberapa variabel yakni variabel bebas dan terikat dan yang menjadi perhatian adalah ranah penggunaan bahasa dan mitra bicara (interlokutor), semuanya dalam bentuk hubungan- peran, lokasi (tempat) dan peristiwa bahasa yang sesuai untuk keperluaan penelitian pola penggunaan bahasa. Dengan demikian, penelitian ini mengungkapkan bagaimana hubungan dua variabel, yakni variabel ranah penggunaan bahasa Simalungun dan variabel yang diduga berpengaruh terhadap ranah penggunaan bahasa Simalungun, yakni faktor usia, pekerjaan, pendidikan, jenis kelamin, kawin antarsuku, agama, loyalitas bahasa dan tempat lahir. Variabel usia, pekerjaan, pendidikan, jenis kelamin, kawin antarsuku, agama, loyalitas bahasa dan tempat lahir merupakan varabel bebas dan penggunaan bahasa Simalungun, dalam ranah kekeluargaan, pergaulan, pekerjaan, pendidikan, pemerintahan, transaksi, dan tetangga sebagai variabel terikat.
1) Usia 2) Pekerjaan 3) Pendidikan 4) Jenis kelamin 5) Perkawinan 6) Agama
7) Loyalitas bahasa 8) Tempat lahir
Ranah Pengunaan Bahasa 1) Kekeluargaan
2) Pergaulan 3) Pekerjaan 4) Pendidikan 5) Pemerintahan 6) Transaksi 7) Tetangga
Variabel bebas Variabel terikat
Gambar 1 : Variabel Bebas dan Variabel Terikat 3.4 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah masyarakat penutur asli bahasa Simalungun yang berdomisili di wilayah Kabupaten Simalungun. Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, yakni untuk mengetahui tingkat pemertahanan bahasa Simalungun di Kabupaten Simalungun. Berkaitan dengan itu, karena keterbatasan waktu penelitian maka populasi penelitian ini hanya mengambil beberapa pemercontoh (sample) sebagian objek yang diteliti atau hanya meneliti elemen sampel bukan seluruh elemen populasi.
desain pemercontoh yang lazim dalam penelitian pada umumnya, yakni menentukan pemercontah dengan cara acak-berlapis. Jumlah pemercontoh ditetapkan enam puluh responden dari populasi dengan cara menstratifikasi populasi berdasarkan tingkat generasi (remaja, dewasa, dan orang tua), yakni dua puluh responden per generasi yang terdiri atas sepuluh laki-laki dan sepuluh perempuan.
Berkaitan dengan pemercontoh yang dipilih, pemilihan responden juga dilakukan berdasarkan syarat-syarat penentuan responden yang memenuhi syarat. Samarin (1988:55), mengatakan bahwa seseorang yang meneliti suatu bahasa dengan tujuan menemukan deskripsi bahasa itu sebenarnya memerlukan tidak lebih seorang informan yang baik.
Syarat-syarat pemilihan responden yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan kriteria sebagai berikut:
1) penutur asli bahasa Simalungun berusia 17 sampai dengan 60 tahun yang tinggal di wilayah kabupaten Simalungun
2) tidak pernah atau tidak lama meninggalkan tempat asal, 3) berasal dari masyarakat tutur dialek Simalungun, 4) setidak-tidaknya berpendidikan SD,
5) dapat berbahasa Indonesia,
6) sehat dan tidak mempunyai cacat wicara, 7) bersedia menjadi responden,
10)tidak mempunyai kecurigaan apa pun terhadap penelitian yang dilakukan.
3.5 Tahapan Kegiatan
Penelitian ini dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan, yakni mulai dari tahap persiapan penelitian, penyediaan data, pemerosesan data, analisis data, dan tahap penyusunan laporan.
A. Pada tahap persiapan yang dilakukan adalah 1) memilih salah satu lokasi penelitian,
2) memilih beberapa responden yang sesuai dengan kriteria responden yang baik, dan
3) membuat kisi-kisi kuesioner yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pemertahanan bahasa Simalungun.
B. Pada tahap penyediaan data yang dilakukan adalah
1) meminta responden untuk mengisi kuesioner yang telah dipersiapkan.
C. Pada tahapan pemerosesan data kegiatan yang dilakukan adalah
1) membersihkan data, artinya memeriksa kembali jawaban responden, apakah setiap pertanyaan dijawabnya; kalau dijawab, apakah cara menjawabnya betul,
D. Pada tahap analisis data yang dilakukan adalah
1) melakukan skoring atau pemberian angka, khususnya kepada data yang diklasifikasikan dan menghitungnya untuk setiap jawaban responden,
2) menggolongkan kategori jawaban dalam tabel-tabel, baik tabel frekuensi maupun tabel skor atau nilai.
3) mendeskripsikan hasil-hasil perhitungan tersebut dalam bentuk tabel dan grafik, dan
4) membuat interpretasi hasil pengolahan tersebut dalam bentuk pernyataan-pernyataan verbal sesuai dengan masalah penelitian.
E. Selanjutnya, tahapan penyusunan laporan yang mempunyai kegiatan sebagai berikut:
1) penulisan laporan dan melengkapi data yang kurang, 2) pengetikan laporan,
BAB IV
TOPOGRAFI KABUPATEN SIMALUNGUN
4.1 Letak Geografis
Daerah Kabupaten Simalungun terletak di Provinsi Sumatera Utara bagian tengah, yaitu di Lereng Bukit Barisan yang ditandai dengan puncak Dolok Sipiso-piso, Dolok Singgalang, Dolok Simbolon, dan Dolok Simarjarunjung. Kabupaten Simalungun terletak antara 02036-03018 Lintang Utara dan 98032-99035 Bujur Timur, rata-rata 369 meter di atas permukaan laut.
Batas wilayah Kabupaten Simalungun adalah sebagai berikut.
1. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Serdang Badagai 2. Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tanah Karo 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah: Kabupaten Toba Samosir 4. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Batubara
Luas wilayah Kabupaten Simalungun adalah 4.386,6 km2 atau 6.12 % dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara, dan terdiri dari 31 kecamatan, 21 kelurahan, dan 310 desa / nagori. Kecamatan yang memiliki luas wilayah terbesar terdapat di Kecamatan Raya dengan luas 335.60 Km2 dan wilayah terkecil di Kecamatan Haranggaol Horisan 34.50 Km2.
Tabel 1. Kecamatan di Wilayah Kabupaten Simalungun
Jawa Maraja Bah Jambi Bandar
4. 2 Peta Kabupaten Simalungun
PETA KABUPATEN SIMALUNGUN
Sumber data: Simalungun Dalam Angka2008
Sumber Data : Simalungun dalam Angka 2008
Penduduk Kabupaten Simalungun sebanyak 841.198 jiwa yang tersebar di 31 kecamatan, dengan perbandingan penduduk laki-laki dan penduduk perempuan (sex ratio) sebesar 100.48.
perekonomian Kabupaten Simalungun terdapat sebesar 18.86% pada tahun 2006 (Simalungun dalam Angka 2008)
4.3 Keadaan Bahasa
BAB V
TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5. 1 Identitas Sosial Responden
Berdasarkan jumlah responden pada penelitian ini adalah 60 orang terdiri atas 20 orang responden remaja, 20 orang responden dewasa, dan 20 orang responden orang tua.
Jawaban yang diperoleh pada tabel 2 di bawah ini, untuk menentukan jenis kelamin responden, merupakan jawaban atas pertanyaan berikut:
Apa jenis kelamin Anda?
Tabel 2. Jumlah responden menurut jenis kelamin (N= 60)
No. Jenis Kelamin Banyaknya
1 Laki-laki 30 ( 50,00%)
2 Wanita 30 ( 50,00%)
Jumlah 60 ( 100,00%)
Data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket untuk ketiga kelompok responden ini meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, tempat lahir. Variabel usia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu (1) 17—20 tahun (remaja), (2) 21—40 tahun (dewasa), (3) 41 tahun keatas( orang tua).
Berapakah usia Anda saat ini ?
Tabel 3. Usia Responden (N= 60)
No. Usia Jumlah %
1 <20 20 33,33%
2 21—40 20 33,33%
3 >41 20 33,33%
Jumlah 60 100,00%
Pekerjaan sebagai variabel penelitian ini dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu pegawai negeri, wiraswasta, petani, dan lainnya. Dari hasil penyebaran kuesioner didapat hasil bahwa dari 60 responden sebanyak 7 responden (11,66%) bekerja sebagai pegawai negeri, 15 responden (25,00%) bekerja sebagai wiraswasta, 11 responden (18,33%) bekerja sebagai petani dan 27 responden (45,00%) bekerja sebagai pelajar. Untuk memperoleh data mengenai pekerjaan responden seperti terlihat pada tabel 4, pertanyaan yang disajikan adalah sebagai berikut.
Apakah pekerjaan Anda ?
Tabel 4. Pekerjaan Responden ( N= 60)
Variabel pendidikan dibagi menjadi 4, yaitu sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan pertama (SLTP), sekolah lanjutan atas (SLTA), dan akademi/perguruan tinggi (A/PT), dan dari hasil penyebaran kuesioner didapat hasil bahwa dari 60 responden sebanyak 12 responden (20,00%) tamat Akademi/Perguruan Tinggi, 36 responden (60,00%) tamat SLTA, 11 responden (18,33%), dan hanya 1 responden (1,66%) yang tamat SD.
Jawaban yang disajikan dala tabel 5 di bawah ini merupakan jawaban atas pertanyaan sebagai berikut.
Pendidikan tertinggi yang Anda peroleh adalah?
Tabel 5. Pendidikan Responden (N = 60)
Berdasarkan status perkawinan paara responden pada penelitian ini dikelompokkan atas dua status, yakni responden yang sudah kawin dan yang belum kawin. Selanjutnya, pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh jawaban pada tabel 6 adalah sebagai berikut.
Tabel 6. Perkawinan Responden ( N=60)
Dan hasil yang didapat dari penyebaran kuesioner dari 60 responden (100,00%) sebanyak 31 responden ( 51,66% ) mengaku sudah kawin, dan 29 responden ( 48,34% ) mengaku belum berumah tangga ( kawin).
Tempat lahir dikelompokkan atas dua yaitu, (1) di wilayah kabupaten Simalungun (2) di luar wilayah kabupaten Simalungun, dan dari 60 responden sebanyak 50 responden ( 83,33%) lahir di wilayah Kabupaten Simalungun dan 10 responden ( 16,67% ) yang lahir di luar wilayah Kabupaten Simalungun.
Untuk memperoleh jawaban untuk mengetahui tempat lahir responden pertanyaan yang disajikan adalah:
Dimanakah tempat lahir Anda?
Dengan demikian, data yang berkaitan dengan tempat lahir responden dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.
Tabel 7. Tempat lahir Responden ( N=60)
No Tempat Lahir f %
1. 2.
Di kabupaten Simalungun Di luar Kabupaten Simalungun
50 10
83,33% 16,67%
Paling tidak terdapat sepuluh bahasa daerah yang digunakan di wilayah Kabupaten Simalungun, latar belakang kebahasaan seperti ini semakin heterogen karena kedudukan Kabupaten Simalungun sebagai kabupaten yang besar dan pintu gerbang jika kita datang dari daerah kabupaten yang bertetangga dengan kabupaten Simalungun untuk menuju ibukota propinsi Sumatera Utara. Hampir semua kelompok etnik Batak dan sebahagian etnik yang ada di Indonesia dapat di jumpai di kabupaten ini walaupun jumlah anggota masing-masing kelompok etnik itu bervariasi antara yang satu dengan yang lainnya. Walaupun banyak kelompok etnik yang lain mendiami wilayah kabupaten Simalungun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Simalungun oleh para responden pada dasarnya cukup tinggi.
Tabel 8. Penguasaan terhadap bahasa Simalungun (N=60)
Bisa Sedikit-sedikit Tidak bisa
58 96,6600% 2 3,34% 0 0,00%
Jawaban yang disajikan dalam tabel 8 merupakan jawaban atas pertanyaan berikut:
Apakah Anda dapat berbahasa Simalungun?
Dalam hal hubungan intrakelompok, dari 60 responden ( 100,00%) yang mengaku bahwa di lingkungan tempat tinggalnya banyak yang sesuku Simalungun sebanyak 49 responden (81,60%), dan yang mengaku agak banyak yang tinggal sesama suku Simalungun sebanyak 8 responden (13,33%) dan yang mengaku sedikit yang tinggal sesama suku Simalungun hanya 3 responden (5,00%). Data ini disajikan pada tabel 9 berikut ini.
Tabel 9. Daftar Intra Kelompok di Lingkungan Tempat Tinggal Responden ( N= 60)
Banyak Agak banyak Sedikit
49 81,60% 8 13,33% 3 5,00%
Jawaban yang disajikan pada tabel 9 merupakan jawaban atas pertanyaan sebagai berikut:
Apakah di lingkungan tempat tinggal Anda terdapat orang yang sesuku
5.2 Pembahasan Pemertahanan Bahasa Simalungun Pada Kelompok Remaja Pembahasan pemertahanan bahasa Simalungun didasarkan atas ranah-ranah penggunaan bahasa seperti ranah keluarga, tetangga, pendidikan, pemerintahan, transaksi, pergaulan, pekerjaan dan dikelompokkan pada tiga kelompok pengguna bahasa Simalungun, antara lain kelompok remaja, dewasa dan orang tua.
Berdasarkan jumlah responden kelompok remaja terdiri atas 20 responden dan terbagi atas 10 remaja wanita dan 10 remaja laki-laki dan diperoleh jawaban tentang penggunaan bahasa Simalungun responden pada ranah :
1. Ranah keluarga: pada ranah keluarga sebanyak 17 responden (85,00%) dari 20 responden (100,00%) menggunakan bahasa Simalungun jika berbicara dengan kakeknya sedangkan 3 (15,00%) responden menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan kakeknya.
Bahasa yang digunakan responden remaja yang disajikan pada tabel 10 merupakan pengakuan atau jawaban responden berdasarkan pertanyaan berikut.
Bahasa apakah yang Anda pakai bila berbicara dengan kakek anda ?
Tabel 10. Remaja Jika Berbicara Dengan Kakek Menggunakan Bahasa (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
Jika berbicara dengan nenek sebanyak 17 responden (85,00%) dari 20 responden (100,00%) menggunakan bahasa Simalungun, 2 responden (10,00%) menggunakan bahasa Indonesia dan 1 responden (5,00%) menggunakan bahasa daerah lain. Untuk memperoleh jawaban responden pada tabel 11 di bawah ini, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut.
Bahasa apakah yang Anda pakai bila berbicara dengan nenek Anda ?
Tabel 11. Remaja Jika Berbicara Dengan Nenek (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Jika berbicara dengan ayah sebanyak 18 responden (90,00%) dari 20 (100,00%) remaja yang menjadi responden menggunakan bahasa Simalungun, 1 responden (5,00%) menggunakan bahasa Indonesia, dan 1 responden (5,00%) menggunakan bahasa daerah lain. Hal itu dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 12. Remaja Jika Berbicara Dengan Ayah ( N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
Jawaban yang disajikan pada tabel 12 di atas merupakan jawaban atas pertanyaan berikut.
Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara dengan ayah Anda ?
Jika berbicara dengan ibu sebanyak 18 responden (90,00%) remaja menggunakan bahasa Simalungun, 1 responden (5%) menggunakan bahasa Indonesia, 1 responden (5%) menggunakan bahasa Daerah lain. Hal itu dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 13. Remaja Jika Berbicara Dengan Ibu (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Jawaban atas data pada tabel 13 di atas diperoleh berdasarkan pertanyaan sebagai berikut.
Bahasa apakah yang Anda pakai jika berbicara dengan ibu Anda?
Jika berbicara dengan saudara, 19 responden (95,00%) remaja menggunakan bahasa Simalungun sedangkan 1 responden (5,00%) menggunakan bahasa Daerah lain. Data tersebut seperti terdapat pada tabel 14. sementara itu, pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut.
Tabel 14. Remaja Jika Berbicara Dengan Saudara (N=20)
No. Bahasa Jumlah Persentase
1
2. Ranah Pergaulan: untuk mengetahui pemakaian bahasa Simalungun pada ranah pergaulan, pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah sebagai berikut.
a. Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara dengan sesuku?
b. Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara dengan teman yang tidak sesuku dengan Anda?
c. Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara dengan yang lebih tua dan sesuku dengan Anda?
d. Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara dengan yang lebih tua dan tidak sesuku dengan Anda?
e. Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara dengan yang lebih muda dan sesuku dengan Anda ?
f. Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara dengan yang lebih muda dan tidak sesuku?
Berdasarkan pertanyaan diatas, jawaban yang diberikan responden dapat dilihat pada tabel 15 berikut ini.
Tabel 15. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Pergaulan (N=20) Penggunaan Bahasa Bicara dengan teman sesuku
Bicara dengan teman tidak sesuku
Bicara dengan yang tua dan sesuku
Bicara dengan yang tua dan tidak sesuku
Bicara dengan yang muda dan
sesuku
Bicara dengan yang muda dan tidak sesuku
18 (90,00%) ---
1 (5,00%) 1 (5,00%)
1 (5,00%) 19 (95,00%)
Berdasarkan jawaban yang ada pada tabel 15 di atas, remaja pada ranah pergaulan jika berbicara dengan teman sesuku yang masih mempertahankan bahasa Simalungun yaitu sebanyak 17 responden (85,00%) , bahasa Indonesia 3 ( 15,00%), dan jika berbicara pada teman tidak sesuku 18 responden ( 90,00%) memakai bahasa Indonesia dan 2 responden (10,00%) memakai bahasa daerah yang lain. Responden remaja jika berbicara dengan yang lebih tua dan sesuku 19 responden (95,00%) masih memakai bahasa Simalungun, 1 responden (5,00%) memakai bahasa daerah lain, dan jika berkomunikasi dengan yang lebih tua dan tidak sesuku 2 responden (10,00%) memakai bahasa Simalungun, 2 responden (10,00%) memakai bahasa daerah lain dan 16 responden (80,00%) menggunakan bahasa Indonesia.
Hal yang menggembirakan adalah presentase jika berbicara dengan yang lebih muda 18 responden (90,00%) dalam berkomunikasi memakai bahasa Simalungun dan hanya 2 responden ( 10,00%) menggunakan bahasa selain bahasa Simalungun, sedangkan jika bicara dengan yang lebih muda dan tidak sesuku 19 responden (95,00%) memakai bahasa Indonesia dan hanya 1 responden (5,00%) yang memakai bahasa daerah lain.
90,00% = 270,00 % : 3 = 90,00%, pemakaian bahasa Daerah lain 3,33% dan pemakaian bahasa Indonesia 6,67%
3. Ranah Pekerjaan: sebanyak 20 responden dalam penelitian ini belum bekerja, dikarenakan keduapuluh responden tersebut masih berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa.
4. Ranah Pendidikan: Penggunaan bahasa pada ranah pendidikan dapat dilihat pada tabel 15 dan berdasarkan pertanyaan berikut:
a. Di sekolah bahasa apakah yang Anda pakai jika berbicara dengan teman sekolah yang sesuku?
b. Bahasa apakah yang Anda pergunakan jika berbicara di sekolah dengan yang bukan sesuku?
c. Bahasa apakah yang Anda pergunakan dengan teman sekolah Anda jika berada di luar sekolah?
Tabel 16. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Pendidikan (N=20) Penggunaan Bahasa Bicara dengan teman sesuku
Bicara dengan teman tidak sesuku Bicara dengan teman sekolah diluar sekolah dan sesuku
menggunakan bahasa Indonesia, dengan interlokutor teman tidak sesuku di sekolah 1 responden (5,00%) menggunakan bahasa Simalungun dan 19 responden ( 95,00%) menggunakan bahasa Indonesia dan dengan interlokutor teman sesuku di luar sekolah 15 responden (75,00%) menggunakan bahasa Simalungun dan 5 responden ( 25,00%) menggunakan bahasa Indonesia. Dan dari tabel 15 terlihat bahwa pada ranah pendidikan persentase pemakaian bahasa Simalungun pada kelompok remaja jika berbicara dengan teman sesuku adalah 65,00% + 75,00% = 140,00% : 2 = 70,00% (14 responden) , pemakaian bahasa Indonesia jika berbicara dengan sesuku adalah 35,00% + 25,00% = 60,00% :2 = 30,00%( 6 responden)
5. Ranah Pemerintahan: data yang diambil untuk mengolah pemertahanan bahasa Simalungun pada ranah pendidikan dengan cara membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
a. Jika Anda ke Bank, kantor PLN, dan kantor PAM dan Instansi Pemerintahan untuk membayar rekening listrik atau air bahasa apakah yang Anda pergunakan jika Anda kenali sesuku dengan Anda?
b. Jika Anda ke Bank, kantor PLN, PAM dan instansi pemerintah untuk membayar rekening listrik atau air bahasa apakah yang Anda pergunakan jika Anda kenali tidak sesuku dengan Anda?
Tabel 17. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Pemerintahan (N=20)
Dikenal sesuku Dikenal tidak sesuku Penggunaan
Dari jawaban yang diperoleh seperti terlihat pada tabel 17 penggunaan bahasa Simalungun dari dua puluh responden hanya 11 responden (55,00%) yang menggunakan bahasa Simalungun dalam ranah pemerintahan dan 1 responden (5,00%) memakai bahasa Daerah lain dan 8 responden (40,00%) mengunakan bahasa Indonesia. Pada ranah pemerintahan pada kelompok remaja penggunaan bahasa Simalungun hampir saja tidak bertahan, dari dua puluh responden hanya 11 responden (55,00%) yang menggunakan bahasa Simalungun sesama interlokutornya.
Hal ini disebabkan oleh politik bahasa nasional yang oleh pemerintah dihimbau agar penggunaan bahasa Nasional, yaitu bahasa Indonesia pada situasi resmi seperti di pemerintahan dapat ditingkatkan.
6. Ranah transaksi: Penggunaan bahasa responden menurut ranah transaksi, disajikan pada tabel 18, berdasarkan jawaban yang diberikan responden atas pertanyaan-pertanyaan berikut :
b. Bahasa apakah yang Anda pergunakan di warung jika membeli dan Anda kenali sesuku dengan Anda?
c. Bahasa apakah yang Anda pergunakan di warung jika membeli sesuatu dan tidak sesuku dengan Anda?
d. Jika Anda ke pasar membeli sesuatu bahasa apa yang Anda pergunakan dan Anda kenali sesuku dengan Anda ?
Jawaban yang diperoleh atas pertanyaan di atas dapat terlihat pada tabel 18 berikut ini.
Tabel 18. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Transaksi (N=20) Penggunaan Bahasa Dengan sopir angkot dan sesuku
Belanja di warung dan sesuku Belanja di warung dan tidak sesuku Belanja di pasar dan sesuku
Simalungun, 1 responden ( 5,00%) memakai bahasa daerah lain dan 2 responden ( 10,00%) memakai bahasa Indonesia dalam melakukan transaksi dengan sesuku. Jika melakukan transaksi dengan yang tidak sesuku 3 responden (15,00%) memakai bahasa Simalungun, 2 responden (10,00%) memakai bahasa Daerah lain. Di pasar dari dua puluh responden sebanyak 17 (85,00%) dalam transaksi memakai bahasa Simalungun jika berbicara dengan teman sesuku, 1 responden (5,00%) memakai bahasa daerah lain dan 2 responden (10,00%) memakai bahasa Indonesia jika bertransaksi dengan teman yang sesuku.
Kesimpulan pada ranah transaksi berdasarkan tabel 18 penggunaan bahasa Simalungun pada ranah transaksi, remaja jika berbicara dengan yang sesuku adalah 65,00% + 85,00% + 85,00% = 235,00% : 3 = 78,33% atau jika dibuat jumlah respondennya adalah 78,33%/100% X 20 responden sama dengan 16 responden, dan penggunaan bahasa Daerah lain 5,00% atau jika dibuat berdasarkan jumlah respondennya adalah 5% / 100% X 20 sama dengan 1 responden dan pemakaian bahasa Indonesia ada sekitar 16,67% atau jika dibuat berdasarkan jumlah respondennya sama dengan 16,67% / 100% X 20 responden=3 responden.
7. Ranah tetangga: Penggunaan bahasa Simalungun pada ranah tetangga pada kelompok remaja berdasarkan kuiseoner yang dibagi kepada responden dan didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
b. Bahasa apa yang Anda pakai jika berbicara dengan tetangga yang tidak sesuku?
c. Bahasa apa yang Anda pakai bila ada perkumpulan warga Simalungun.di lingkungan Anda?
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan diatas diperoleh jawaban seperti pada tabel 19 berikut ini.
Tabel 19. Penggunaan Bahasa Pada Ranah Tetangga (N=20) Penggunaan Bahasa Bahasa yang dipakai dengan
tetangga yang sesuku
19(95,00%) 1( 5,00%)
Bahasa yang dipakai dengan tetangga yang tidak sesuku
4(20,00%) 2( 10,00%) 14(70,00%)
Bahasa yang dipakai pada perkumpulan Simalungun di lingkungan tempat tinggal
17(85,00%) 3(15,00%)
lingkungan responden 17 responden (85,00%) menggunakan bahasa Simalungun dan hanya 3 responden (15,00%) menggunakan bahasa Indonesia. Berdasarkan tabel 18 dapat diambil kesimpulan bahwa remaja Simalungun yang menggunakan bahasa Simalungun jika berbicara dengan tetangga yang sesuku 95,00% + 85,00% = 180,00% : 2 = 90,00% atau jika diambil berdasarkan jumlah respondennya adalah 90,00%/100,00% X 20 responden = 18 responden dan dalam berkomunikasi dengan sesukunya yang menggunakan bahasa Indonesia hanya 10,00% atau jika dibuat berdasarkan respondennya adalah 10,00%/100% X 20 responden = 2 responden.
16 responden, penggunaan bahasa Daerah lain 5,00% atau 1 responden dan pemakaian bahasa Indonesia ada sekitar 16,67% atau 3 responden jika berbicara dengan teman sesuku 90,00% atau 18 responden pada ranah tetangga pada kelompok remaja memakai bahasa Simalungun dalam berkomunikasi dengan sesukunya dan hanya 10,00% atau 2 responden yang memakai bahasa Indonesia).
Maka jumlah rata-rata serta persentase penggunaan bahasa Simalungun, bahasa daerah lain serta bahasa Indonesia pada semua ranah pada kelompok remaja adalah: jumlah seluruh persentase dibagi banyaknya ranah
Rumus yang digunakan adalah X = ∑ X n
∑X = jumlah seluruh persentase pada semua ranah n = banyaknya ranah
X = rata-rata
Jumlah persentase dan responden pengguna bahasa Simalungun pada kelompok remaja adalah:
(89,00%+90,00%+70,00%+55,00%+78.33%+90,00%= 472.3% : 6 =77,70%) 77,70% X 20 = 15 responden
Jumlah presentase dan responden pengguna bahasa Daerah lain pada kelompok remaja adalah:
Jumlah presentase dan responden pengguna bahasa Indonesia pada kelompok remaja adalah :
(7,00%+6,60%+30,00%+40,00%+16,67%+10,00% = 110,2%: 6= 18,3%) 18,30 % X 20 = 4 responden
Dengan demikian, uraian data di atas dapat dilihat pada tabel 20 di bawah ini. Tabel 20. Kesimpulan Penggunaan bahasa pada kelompok remaja (N=20) Bahasa Simalungun Bahasa Daerah Lain Bahasa Indonesia
15 77,70% 1 4,30% 4 18,00%
.
Diagram Bulat Penggunaan bahasa Simalungun pada kelompok remaja N =20
Gambar 3 : Diagram Bulat Penggunaan Bahasa Simalungun Keterangan:
1. Persentase penggunaan bahasa Simalungun 0,00%--50% ditafsirkan bahasa Simalungun tidak bertahan.
2. Persentase penggunaan bahasa Simalungun 51%--100% ditafsirkan bahasa Simalungun bertahan
Bahasa Simalungun
Bahasa IDaerah Lain
Bahasa Indonesia
77,7% 18,0%
Berdasarkan data pada tabel di atas dapat diinterpretasikan bahwa pemertahanan bahasa Simalungun pada kelompok usia remaja masih terlaksana. Hal itu ditunjukan dengan persentase penggunaan bahasa Simalungun pada kelompok itu masih tinggi, yakni 77,70% atau sebanyak 15 responden. Dikatakan demikian, dengan dasar skala pengukuran dalam menghitung bertahan tidaknya bahasa Simalungun pada kelompok remaja digunakan dengan skala pengukuran dengan cara menghitung nilai tengah atau median , yakni dihitung dari setengah jumlah responden.
Pada kelompok remaja responden ada 20 (100,00%) maka bertahan tidaknya bahasa Simalungun diukur berdasarkan rumus 20 (100,00%) : 2 = 10 (50,00%), maka <10 (< 50,00%) bermakna bahasa Simalungun tidak bertahan dan sebaliknya >10 (> 50,00% bermakna bahasa Simalungun masih bertahan. Dalam kelompok ini dari 20 responden sebanyak 15 responden atau 77,70% menggunakan bahasa Simalungun dalam berinteraksi dengan sesukunya dan ini menunjukkan bahwa bahasa Simalungun masih bertahan pada kelompok remaja.
pertanyaan-pertanyaan yang disajikan pada kelompok remaja. Berdasarkan jumlah responden kelompok dewasa ini terdiri atas 10 dewasa wanita dan 10 dewasa laki-laki dan diperoleh jawaban tentang penggunaan bahasa Simalungun responden pada ranah 1. Ranah Keluarga
Pada ranah keluarga sebanyak 20 responden (100,00%) menggunakan bahasa Simalungun jika berbicara dengan kakeknya. Hal itu dapat dilihat pada tabel 21 berikut ini.
Tabel 21. Kelompok Dewasa jika berbicara dengan Kakek (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Sementara itu, seluruh responden (100,00%) berbahasa Simalungun jika berbicara dengan Nenek responden. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini.
Tabel 22. Kelompok Dewasa Jika berbicara dengan nenek (N=20 )
No Bahasa Jumlah Persentase
Selanjutnya, sebanyak 18 responden (90,00%) menggunakan bahasa Simalungun jika berbicara dengan ayah dan 2 responden (10,00%) menggunakan bahasa Indonesia. Hal itu dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini.
Tabel 23 Kelompok Dewasa Jika Berbicara Dengan Ayah (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Dari dua puluh responden sebanyak 19 responden (95,00%) jika berbicara dengan ibunya dominan memakai bahasa Simalungun dan hanya 1 responden (5,00%) memakai bahasa Indonesia. Selanjutnya, data itu dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 24. Kelompok Dewasa Jika Berbicara Dengan Ibu ( N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
Selanjutnya, dari 20 responden sebanyak 18 responden (90,00%) jika berbicara dengan ibunya dominan memakai bahasa Simalungun dan 2 responden (10,00%) memakai bahasa Indonesia. Selanjutnya, data itu dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 25. Kelompok Dewasa Jika Berbicara Dengan Saudara (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Kelompok dewasa dari 20 responden hanya 2 responden (10,00%) yang menggunakan bahasa Indonesia dan 18 responden (90,00%) memakai bahasa Simalungun. Kelompok dewasa selanjutnya jika responden berbicara dengan suami/istri, dari 20 responden ternyata hanya 11 responden yang sudah menikah dan 9 responden belum menikah. Tabel 25 berikut ini mengambarkan data di atas.
Tabel 26. Kelompok Dewasa Jika Berbicara Dengan Suami/Istri (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
Kelompok dewasa dari 20 responden yang diambil dalam penelitian ini, 8 responden belum menikah, 3 belum mempunyai anak. Jadi responden dalam ranah keluarga jika berbicara dengan anak hanya 9 responden. Lihat tabel 26 berikut.
Tabel 27. Jika Berbicara Dengan Anak (N= 9)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Kelompok dewasa jika berbicara dengan anaknya, 5 responden (55,00%) dari 9 responden memakai bahasa Simalungun dan 4 responden (45,00%) memakai bahasa Indonesia sedangkan 11 responden tidak menjawab, karena belum mempunyai anak dan ada yang belum berumah tangga.
penggunaan bahasa Simalungun ada 55,00% atau 11 responden maka secara kumulatif dapat diambil kesimpulan penggunaan bahasa Simalungun pada kelompok dewasa di ranah keluarga adalah 100,00% + 100,00% + 90,00%+ 95,00% + 90,00% + 90,00% + 55,00% = 620,00% : 7 = 88,70% atau sama dengan 17 responden, dan 15,80% atau 3 responden menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, hal ini merupakan kegembiraan bagi kelompok etnik Simalungun yang dominan responden masih memakai bahasa Simalungun pada ranah keluarga, karena pemertahanan bahasa yang terakhir ada pada ranah keluarga.
2. Ranah Pergaulan
Tabel 28. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Pergaulan (N=20) Penggunaan Bahasa Bicara dengan teman sesuku
Bicara dengan teman tidak sesuku Bicara dengan yang tua dan sesuku Bicara dengan yang tua dan tidak sesuku
Bicara dengan yang muda dan sesuku
memakai bahasa Indonesia dan 1 responden (5,00%) memakai bahasa daerah yang lain. Responden kelompok dewasa jika berbicara dengan yang lebih tua dan sesuku 20 responden (100,00%) masih memakai bahasa Simalungun, dan jika berkomunikasi dengan yang lebih tua dan tidak sesuku 3 responden (15,00%) memakai bahasa Simalungun, 17 responden (85,00%) memakai bahasa Indonesia.
Hal yang menggembirakan adalah presentase jika berbicara dengan yang lebih muda 18 responden (90,00%) dalam berkomunikasi memakai bahasa Simalungun dan hanya 2 responden ( 10,00%) menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan jika bicara dengan yang lebih muda dan tidak sesuku 19 responden (95,00%) memakai bahasa Indonesia dan hanya 1 responden (5,00%) yang memakai bahasa daerah lain.
3. Ranah Pekerjaan
Tabel 29 Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Pekerjaan (N=20) Penggunaan Bahasa
Bicara dengan teman sesuku Bicara dengan teman tidak sesuku
17(85,00%) 1(5,00%) 1(5,00%)
2(10,00%) 19(95,00%) Pada ranah pekerjaan intensitas pemakaian bahasa Simalungun cukup tinggi dari 20 responden sebanyak 17 responden (85,00%) masih menggunakan bahasa Simalungun dengan teman sesuku dan hanya 2 responden (10,00%) memakai bahasa I ndonesia dan 1 responden (5,00%) memakai bahasa daerah lain.
4. Ranah Pendidikan
Seluruh responden tidak lagi bersekolah, jadi pada kelompok dewasa ranah pendidikan tidak ada.
5. Ranah Pemerintahan
Tabel 30. Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Pemerintahan ( N=20)
Dikenal sesuku Dikenal tidak sesuku
Pada ranah pemerintahan penggunaan bahasa Simalungun cenderung tidak dominan, dari 20 responden hanya 10 responden (50,00%) yang menggunakan bahasa Simalungun dan 10 responden (50,00%) lagi menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan sesuku.
6. Ranah Transaksi
Tabel 31. Penggunaan Bahasa Simalungun Pada Ranah Transaksi (N=20) Penggunaan Bahasa Dengan sopir angkot dan sesuku
Belanja di warung dan sesuku Belanja di warung dan tidak sesuku
Secara keseluruhan berdasarkan data kuiseoner yang dibagi kepada responden penggunaan bahasa Simalungun pada kelompok dewasa dan dalam ranah transaksi adalah 85,00% + 90,00% + 85,00% = 260,00% : 3 = 86,67% atau jika dibuat berdasarkan jumlah respondennya adalah 86,87% / 100,00% X 20 responden =17 responden sedangkan 10,00% atau jika dibuat jumlah respondennya berdasarkan banyaknya responden 10,00% / 100,00 % X 20 responden = 2 responden menggunakan bahasa Indonesia dan 3,33% / 100,00 % X 20 responden = 1 responden mengunakan bahasa Daerah lain.
7. Ranah Tetangga
Penggunaan bahasa Simalungun pada ranah tetangga dan pada kelompok dewasa berdasarkan pertanyaan yang diberikan didapat jawaban-jawaban seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 32 Penggunaan Bahasa Simalungun pada Ranah Tetangga (N=20) Penggunaan Bahasa Bahasa yang dipakai dengan
tetangga yang sesuku
Bahasa yang dipakai dengan tetangga yang tidak sesuku
Bahasa yang dipakai pada perkumpulan Simalungun di
dengan tetangga, hanya 1 responden(5,00%) menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan pada perkumpulan di lingkungan tempat tinggal seluruh responden atau 20 (100,00%) memakai bahasa Simalungun jika berkomunikasi dengan tetangga.
Dari data tabel 31 pada ranah tetangga pada kelompok dewasa yang menggunakan bahasa Simalungun dengan sesuku Simalungun adalah 95,00% + 100,00% = 195,00% : 2 = 97,50% atau jika dibuat bedasarkan jumlah respondennya adalah 97,50%/100,00% X 20 responden = 19 responden dan hanya 2,50% atau sama dengan 1 responden yang menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan sesuku .
berbicara dengan teman sesuku dan pada ranah transaksi penggunaan bahasa Simalungun sekitar 86,67% atau 17 responden dan 3,37% atau 1 responden menggunakan bahasa Daerah lain, dan 10,00% atau 2 responden menggunakan bahasa I ndonesia jika bertransaksi dengan sesuku. Pada ranah tetangga 97,50% atau 19 responden memakai bahasa Simalungun jika berhubungan dengan sesuku dan hanya 2,50% atau 1 responden yang mengunakan bahasa I ndonesia jika berbicara dengan teman sesuku.
Maka jumlah rata-rata serta persentase penggunaan bahasa Simalungun, bahasa daerah lain serta bahasa Indonesia pada semua ranah pada kelompok dewasa adalah: jumlah seluruh persentase dibagi banyaknya ranah.
Rumus yang digunakan adalah X = ∑ X n
∑X = jumlah seluruh persentase pada semua ranah n = banyaknya ranah
X = rata-rata
Jumlah persentase dan responden pengguna bahasa Simalungun pada kelompok dewasa adalah :
( 88,70%+95,00%+85,00%+55,00%+86,67%+97,50% = 507,8 : 6 =84,60%) 84,60% X 20 = 17 responden
(5,00%+ 3,33% = 8,33%: 2 = 4,10 %) 4,10% X 20 = 1 responden
Jumlah persentase dan responden pengguna bahasa Indonesia pada kelompok dewasa adalah:
( 15,80%+5,00%+10,00%+45,00%+10,00%+2,50%= 88% : 6 = 15,00 %) 15,00% X 20 = 2 responden
Tabel 33. Kesimpulan Penggunaan Bahasa Pada Kelompok Dewasa (N=20) Bahasa Simalungun Bahasa Daerah Lain Bahasa Indonesia
17 84,60% 1 4,20% 2 10,00%
Diagram Bulat Penggunaan Bahasa Pada Kelompok Dewasa (N=20)
Gambar 4 : Diagram Bulat Penggunaan Bahasa Pada Kelompok Dewasa
Kesimpulan Penggunaan bahasa pada kelompok dewasa (N=20)
Bahasa Simalungun
Bahasa Daerah lain
Bahasa Indonesia
84,60% 10,00%
Keterangan:
a. Persentase penggunaan bahasa Simalungun 0,00%--50% ditafsirkan bahasa Simalungun tidak bertahan.
b. Persentase penggunaan bahasa Simalungun 51%--100% ditafsirkan bahasa Simalungun bertahan
Berdasarkan data pada tabel di atas dapat diinterpretasikan bahwa pemertahanan bahasa Simalungun pada kelompok usia dewasa masih terlaksana. Hal itu ditunjukan persentase penggunaan bahasa Simalungun pada kelompok dewasa masih bertahan, yakni 80,80% atau jika diambil berdasarkan banyaknya responden adalah, 80,00%/100,00% X 20 responden = 16 responden. Dikatakan bertahan adalah dengan dasar skala pengukuran dalam menghitung bertahan tidaknya bahasa Simalungun pada kelompok dewasa digunakan dengan skala pengukuran dengan cara menghitung nilai tengah atau median , yakni dihitung dari setengah jumlah responden. Pada kelompok dewasa responden ada 20 (100,00%) maka bertahan tidaknya bahasa Simalungun diukur berdasarkan rumus 20 (100,00% ) : 2 = 10 (50,00%), maka < 10 ( < 50,00%) bermakna bahasa Simalungun tidak bertahan dan sebaliknya > 10( >50,00%) bermakna bahasa Simalungun masih bertahan. Dalam kelompok ini dari 20 responden sebanyak 16 responden atau 80,80% menggunakan bahasa Simalungun dalam berinteraksi dengan sesukunya dan ini menunjukkan bahwa bahasa Simalungun masih bertahan pada kelompok dewasa.
Pada kelompok orang tua ada ranah yang tidak dijumpai yaitu ranah pendidikan, responden pada kelompok ini tidak ada lagi yang bersekolah, ranah-ranah yang dijumpai antara lain: ranah keluarga, ranah pergaulan, ranah pekerjaan, ranah transsaksi, ranah pemerintahan dan ranah tetangga, dan data yang diambil untuk memperoleh jawaban pada kelompok ini sama dengan data yang dipakai pada kelompok remaja dan kelompok dewasa. Dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut.
1. Ranah keluarga: pengolahan data pada semua ranah adalah berdasarkan data yang sama pada kelompok remaja dan kelompok dewasa. Pada ranah keluarga yang diolah adalah bahasa apa yang dipakai jika berbicara dengan kakek,nenek, ayah, ibu, suami/istri, saudara, anak. Jawabannya dapat dilihat pada tabel 33 di bawah ini.
Tabel 34. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Kakek Menggunakan Bahasa (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Pada kelompok orang tua, dua puluh responden (100,00%) menggunakan bahasa Simalungun jika berbicara dengan kakek.
No Bahasa Jumlah Persentase
Pada kelompok orang tua seluruh responden atau 20 responden (100,00%) menggunakan bahasa Simalungun jika berbicara dengan nenek.
Tabel 36. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Ayah Menggunakan Bahasa (N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase
1
Pada kelompok orang tua yang berusia diatas 40 tahun jika berbicara dengan ayah sebanyak 17 responden(85,00%) memakai bahasa Simalungun, sedangkan yang 3 responden (15,00%) memakai bahasa Indonesia, lihat tabel 35 di atas.
Tabel 37. Orang Tua Jika Berbicara Dengan Ibu Menggunakan Bahasa ( N=20)
No Bahasa Jumlah Persentase