EFEKTIVITAS TERAPI PERILAKU KOGNITIF DISTRAKSI
TERHADAP INTENSITAS NYERI PASIEN DENGAN
FRAKTUR FEMUR YANG TERPASANG TRAKSI
DI RUMAH SAKIT PUTRI HIJAU TINGKAT II
MEDAN TAHUN 2012
SKRIPSI
OlehYOU WANDA FADLANI 111121109
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
Judul :Efektivitas Terapi Prilaku Kognitif Distraksi Terhadap Intensitas Nyeri Pasien Dengan Fraktur Femur Yang Terpasang Traksi di Rumah Sakit Putri Hijau TK II Medan
Peneliti :You Wanda Fadlani NIM :111121109
Fakultas :Keperawatan Universitas Sumatera Utara Tahun :2013
Abstrak
Fraktur atau patah tulang merupakan suatu kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Pada penderita fraktur, nyeri merupakan masalah yang paling sering dijumpai. Tujuan dari terapi perilaku kognitif adalah untuk merubah cara berfikir tentang nyeri agar respon tubuh dan pikiran lebih baik ketika mengalami nyeri. Terapi berfokus pada perubahan pikiran tentang penyakit dan kemudian membantu menjadi suatu koping positif bagi pasien terhadap penyakitnya, terapi kognitif dan perilaku ini sangat berpengaruh terhadap penurunan nyeri.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan terapi prilaku kognitif distraksi terhadap intensitas nyeri pasien fraktur khususnya yang terpasang traksi. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen pre-post test. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan besar sampel 24 responden. Analisa yang digunakan dalam pengolahan data adalah uji Wilcoxon dan Mann whitney. Hasil pre-post terapi menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (z = -4,474 p = 0,000). Melihat hasil ini diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya perawat dapat menjadi motivator dan fasilitator bagi pasien nyeri fraktur untuk mengurangi nyeri yang dirasakan salah satunya dengan terapi distraksi.
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr wb
Alhamdulilahirabbil’alamin, segala puji syukur penulis panjatkan kepada
Allah SWT yang telah menyertai penulis untuk menyelesaikan skripsi ini yang
berjudul “Efektivitas Terapi Perilaku KognitifDistraksi Terhadap Pasien Nyeri
Fraktur di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Medan”.Skripsi ini disusun sebagai
salah satu syarat bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai
gelar sarjana di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
Penyusunan skripsi ini telah banyak mendapat bantuan, bimbingan, dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes sebagai Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
2. Erniaty, S.Kp, MNS selaku PD I Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
3. Ikhsanuddin Ahmad Harahap, S.Kp, MNS selaku dosen pembimbing yang
penuh keikhlasan dan kesabaran telah memberikan arahan, bimbingan, dan
ilmu yang bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.
4. Rika Endah Nurhidayah, S.Kp, M.Pd, Ikram,S.kep. NS, M.kep sebagai
penguji I dan Rosina Tarigan , S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, CWCC penguji II
yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun dan bermanfaat
5. Lufthiani, S.kep, Ns, M.kes sebagai pembimbing akademik peneliti saat
perkuliahan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
6. dr. Mochammad Munif Kolonel Ckm Direktur Rumah Sakit Putri Hijau
Tingkat II Medan yang telah memberikan izin penelitian.
7. Ayah dan ibu atas doa dan dukungan yang berarti buat saya, semoga saya
dapat memberikan yang terbaik buat agama, keluarga, bangsa dan negara.
8. Devi alistriani, Adi susilo Purba dan Teguh Irawan selaku Abang dan
Kakak Tersayang.
9. Nina olivia, S.Kep Ns, M.Biomed dan Deny Susanti S.Kep Ns, selaku
dosen dan keluarga yang memberi motivasi dalam penyusunan skripsi ini.
10.Dedy Hertino SE, Risnan Helmi Nasution Amk, Nova Triandini Spd,
Muhammad Yusufi SH, Evon Suchata SE, Prakawa Kusuma SE, yang
banyak memberikan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.
11.Rekan-rekan mahasiswa S1 Ekstensi Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara, khususnya stambuk 2011 yang telah memberikan
semangat dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga ALLAH SWT melimpahkan berkatNya kepada semua pihak yang
telah banyak membantu penulis. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat
bermanfaat nantinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Medan, Februari 2013
DAFTAR ISI Halaman Judul
Lembar Pengesahan
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... iv
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang ... 1
2. Pertanyaan Penelitian ... 4
3. Tujuan Penelitian ... 4
4. Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Fraktur ... 6
1.1.Defenisi Fraktur ... 6
1.2.Jenis Fraktur ... 6
1.2.1 Fraktur terbuka (fraktur kompleks) ... 6
a. Fraktur greenstick ... 7
b. Fraktur kominutif ... 7
c. Fraktur Transversal ... 7
d. Fraktur oblik ... 8
e. Fraktur patologi ... 8
f. Fraktur Stres dan lelah ... 8
g. Fraktur spiral ... 8
h. Fraktur impaksi ... 8
i. Fraktur efisis ... 8
1.2.2 Fraktur tertutup (fraktur simpel) ... 9
1.3 Manifestasi klinis ... 10
1.3.1 Nyeri ... 10
1.3.2 Hilangnya fungsi deformitas ... 10
1.3.3 Pemendekan ekstremitas ... 11
1.3.4 Krepitus ... 11
1.3.5 Pembengkakan dan perubahan warna ... 11
1.4 Komplikasi Fraktur ... 11
1.4.1 Komplikasi awal ... 11
a. Syok ... 12
b. Sindrom emboli lemak ... 12
c. Sindrom kompartemen ... 13
1.4.2 Komplikasi lanjut ... 13
a. Non-union ... 13
b. Mal-union ... 14
c. Nekrosis avaskular ... 14
e. Osteoporosis ... 14
1.5 Tahap penyembuhan tulang ... 14
1.5.1 Proses hematom ... 15
1.5.2 Proses proliferasi ... 15
1.5.3 Proses Pembentukan callus ... 15
1.5.4 Proses konsolidasi(Penggabungan) ... 15
1.5.5 Proses remodeling ... 16
1.6 Penatalaksanaan fraktur ... 16
1.6.1 Reduksi fraktur ... 16
1.6.2 Imobilisasi fraktur ... 17
1.6.3 Pengembalian fungsi ... 17
2. Nyeri 2.1 Defenisi Nyeri ... 18
2.2 Teori Nyeri ... 18
2.3 Klasifikasi Nyeri ... 19
2.3.1 Berdasarkan sumber nyeri ... 19
2.3.2 Berdasarkan penyebab nyeri ... 20
2.3.3 Berdasarkan durasi nyeri ... 21
2.4 Fisiologi Nyeri ... 24
2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri ... 25
2.5.1 Usia ... 25
2.5.2 Jenis kelamin ... 25
2.5.3 Kultur ... 25
2.5.4 Makna nyeri ... 26
2.5.5 Ansietas ... 26
2.5.6 Pengalaman masa lalu ... 26
2.5.7 Pola koping ... 26
2.5.8 Support keluarga dan sosial ... 26
2.6 Pengukuran Intensitas Nyeri ... 27
2.6.1 Visual Analog Scale (VAS) ... 27
2.6.2 Verbal Numerical Rating Scale (VNRS) ... 28
2.6.3 Kategori sakit ... 28
2.6.4 Skala wajah wong dan barker ... 29
2.7 Nyeri pada fraktur ... 29
3. Terapi Perilaku Kognitif Distraksi ... 30
3.1 Terapi distraksi dalam penanganan nyeri ... 30
3.2 Teknik terapi perilaku kognitif distraksi imajinasi terbimbing ... 30
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual ... 32
3.2 Defenisi Operasional Penelitian ... 33
3.2.1 Terapi perilaku kognitif distraksi……… ... 33
3.2.2 Intensitas nyeri……… ... 33
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian ... 35
4.2 Populasi dan Sampel ... 35
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 36
4.4 Pertimbangan Etik ... 36
4.5 Instrumen Penelitian ... 37
4.6 Alat dan Bahan ... 37
4.7 Teknik Pengumpulan Data ... 38
4.8 Analisa Data ... 38
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil 5.1.1 Karakteristik Demografi ... 40
5.1.2 Intensitas Nyeri Sebelum Terapi Distraksi pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ... 42
5.1.3 Intensitas Nyeri Sesudah terapi Distraksi pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ... 43
5.1.4 Perbedaan Intensitas Nyeri Pada kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ... 44
a. Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi Distraksi Pada kelompok Intervensi ... 44
b. Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi Distraksi Pada kelompok Kontrol ... 45
c. Perbedaan Intensitas Nyeri Sesudah Terapi Distraksi Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ... 46
5.2 Pembahasan 5.2.1 Karakteristik Demografi Responden ... 48
5.2.2 Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi Distraksi Pada kelompok Intervensi ... 50
5.2.3 Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi Distraksi Pada kelompok Kontrol ... 51
5.2.4 Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi Distraksi Pada kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ... 51
5.2.5 Perbedaan Intensitas Nyeri Sesudah Terapi Distraksi Pada kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ... 52
BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 6.1 Kesimpulan ... 54
6.2 Rekomendasi ... 55
6.2.1 Bagi Pendidikan Keperawatan ... 55
6.2.2 Bagi Praktek Keperawatan ... 55
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Lampiran 1 : Inform Consent Lampiran 2 : Instrumen Penelitian Lampiran 3 : Protokol Panduan Terapi Lampiran 4 : Jadwal Tentatif Penelitian Lampiran 5 : Rencana Anggaran penelitian Lampiran 6 : Curriculum Vitae
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografi Responden kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau ... 42
Tabel 2 Hasil pengukuran intensitas nyeri sebelum terapi distraksi pada
kelompok intervensi dan kelompok kontrol ... 43
Tabel 3 Hasil pengukuran intensitas nyeri sesudah terapi pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol ... 44
Tabel 4 Hasil pengukuran intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi pada
kelompok intervensi ... 45
Tabel 5 Hasil pengukuran intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi pada
kelompok kontrol ... 46
Tabel 6 Hasil Uji Paired t-test intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi
distraksi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol ... 46
Tabel 7 Hasil pengukuran intensitas nyeri sesudah terapi pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol ... 47
Tabel 8 Hasil uji independent t-test untuk intensitas nyeri sesudah terapi distraksi
Judul :Efektivitas Terapi Prilaku Kognitif Distraksi Terhadap Intensitas Nyeri Pasien Dengan Fraktur Femur Yang Terpasang Traksi di Rumah Sakit Putri Hijau TK II Medan
Peneliti :You Wanda Fadlani NIM :111121109
Fakultas :Keperawatan Universitas Sumatera Utara Tahun :2013
Abstrak
Fraktur atau patah tulang merupakan suatu kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Pada penderita fraktur, nyeri merupakan masalah yang paling sering dijumpai. Tujuan dari terapi perilaku kognitif adalah untuk merubah cara berfikir tentang nyeri agar respon tubuh dan pikiran lebih baik ketika mengalami nyeri. Terapi berfokus pada perubahan pikiran tentang penyakit dan kemudian membantu menjadi suatu koping positif bagi pasien terhadap penyakitnya, terapi kognitif dan perilaku ini sangat berpengaruh terhadap penurunan nyeri.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan terapi prilaku kognitif distraksi terhadap intensitas nyeri pasien fraktur khususnya yang terpasang traksi. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen pre-post test. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan besar sampel 24 responden. Analisa yang digunakan dalam pengolahan data adalah uji Wilcoxon dan Mann whitney. Hasil pre-post terapi menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (z = -4,474 p = 0,000). Melihat hasil ini diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya perawat dapat menjadi motivator dan fasilitator bagi pasien nyeri fraktur untuk mengurangi nyeri yang dirasakan salah satunya dengan terapi distraksi.
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Fraktur atau patah tulang merupakan suatu kondisi terputusnya kontinuitas
jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh
rudapaksa.Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung
dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat, 2005). Pierce (2003) juga mengatakan
bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang terjadi akibat tekanan yang
kuat diberikan pada tulang normal atau tekanan yang sedang pada tulang yang
terkena penyakit, misalnya osteoporosis.
Pada keadaan fraktur, jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh dimana akan
terjadi edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur
tendon, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah (Brunner, 1997).
Kerusakan-kerusakan diatas menimbulkan beberapa manifestasi klinis yang khas,
salah satunya yaitu nyeri.
Pada penderita fraktur, nyeri merupakan masalah yang paling sering dijumpai
(Murwani, 2009). Foley dick, 2000 mengumpulkan data sebanyak 85% pasien
fraktur mengelihkan nyeri. Nyeri dapat dibedakan menjadi dua, yakni nyeri akut
dan nyeri kronis. Nyeri akut datangnya tiba-tiba atau singkat, dapat hilang dengan
sendiri, dapat diprediksi, dan merupakan reaksi fisiologi akan sesuatu yang
Nyeri pada fraktur bersifat kronis, nyeri kronis tidak dapat diprediksi
sehingga membuat pasien frustasi dan seringkali mengarah pada depresi psikologi
(Purwandari, 2008). Pasien nyeri fraktur yang mengalami stres, maka tekanan
darahnya akan meningkat dan denyut jantungbekerja semakin cepat, sehingga
dapat menurunkan sistem imun yang berdampaknegatif bagi tubuh (Syaifuddin,
1997).
Maka untuk mengurangi nyeri, strategi penatalaksanaan nyeri harus
mencakup pendekatan farmakologis dan non farmakologis. Teknik farmakologis
dapat digunakan bersama dengan penatalaksanaan nonfarmakologis untuk
mengurangi nyeri. Salah satu cara terapi non farmakologis untuk mengurangi
nyeri pada pasien nyeri kronis adalah dengan terapi perilaku kognitif. Dalam
penggunaan terapi perilaku dan terapi kognitif selalu digunakan bersamaan,
karena kedua terapi tersebut saling mendukung kebersamaannya untuk
mengurangi nyeri(Norman, 2009). Terapi perilaku kognitif mencakup teknik
relaksasi, manajemen stres, distraksi dan cara lain untuk membantu pasien dalam
mengatasi nyeri yang dirasakan(Murwani, 2009).
Tujuan dari terapi perilaku kognitif adalah untuk merubah cara berfikir
tentang nyeri agar respon tubuh dan pikiran lebih baik ketika mengalami nyeri.
Terapi berfokus pada perubahan pikiran tentang penyakit dan kemudian
membantu menjadi suatu koping positif bagi pasien terhadap penyakitnya, terapi
kognitif dan perilaku ini sangat berpengaruh terhadap penurunan nyeri. Salah satu
yang mampu mendistraksikan pola pikir pasien dari rasa nyeri yang dirasakan
sehingga timbul rasa nyaman bagi pasien (Murwani, 2009).
Musik dapat mempengaruhi hidup dan seseorang dengan memberikan rasa
santai dan nyaman atau menyenangkan, disamping sebagai hiburan musik juga
dapat menyembuhkan stres, depresi dan rasa nyeri. Musik terbukti dapat
menurunkan denyut jantung, hal ini membantu menenangkan dan merangsang
bagian otak yang terkait ke aktivitas emosi dan nyeri (Muttaqin, 2008)
Perawat menghabiskan lebih banyak waktu bersama pasien dibandingkan
dengan tenaga perawat profesional lainnya,maka perawat mempunyai kesempatan
untuk membantu manghilangkan nyeri dan efek yang membahayakan (Smeltzer &
Bare, 2002). Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai
situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan
kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan, kenyamanan adalah kebutuhan
dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. Pernyataan
tersebut didukung oleh Kolcaba (1994) yang mengatakan bahwa kenyamanan
adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia.
Pada saat ini penelitian tentang terapi perilaku kognitif untuk mengurangi
nyeri pada pasien nyeri kronis belum begitu diketahui oleh perawat maupun
masyarakat khususnya di Medan. Berdasarkan hal inilah, maka penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian tentang efektifitas terapi perilaku kognitif pada
2. Pertanyaan penelitian
2.1 Bagaimana intensitas nyeri sebelum terapi distraksi pasien denganfraktur
femur yang terpasang traksi di Rumah Sakit Putri Hijau Tingkat II Medan?
2.2 Bagaimana intensitas nyeri sesudah terapi distraksi pasien dengan fraktur
femur yang terpasang traksi di Rumah Sakit Putri Hijau Tingkat II Medan?
2.3 Bagaimana perbedaan intensitas nyeri pasien fraktur femur yang terpasang
traksi sebelum dan sesudah mendapatkan terapi distraksi di Rumah Sakit Putri
Hijau Tingkat II Medan?
3. Tujuan Penelitian
3.1Untuk mengidentifikasi intensitas nyeri sebelum terapi distraksi pasien
dengan fraktur femur yang terpasang traksi.
3.2Untuk mengidentifikasi intensitas nyeri sesudah terapi distraksi
pasiendengan fraktur femur yang terpasang traksi.
3.3Untuk mengidenfikasi perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudahterapi
distraksi pasien dengan fraktur femur yang terpasang traksi.
4. Manfaat Penelitian
4.1Bagi pendidikan keperawatan
Hasil penelitian dapat dijadikan bahan masukan (sumber informasi)
sertadasar pengetahuan bagi para mahasiswa-mahasiswa keperawatan dan
dapatdijadikan sebagai suatu materi latihan dalam menangani pasien nyeri
4.2Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bukti nyata akan
efekCBT(Cognitive Behaviour Therapy) terhadap nyeri sehingga dapat
dijadikan sebagai suatu intervensi keperawatan untuk menurunkan nyeri
pada pasien-pasien yang mengalami nyeri.
4.3Bagi Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian dapat menjadi data dasar untuk penelitian selanjutnya
danuntuk menambah referensi tentang terapi perilaku kognitif dan
dapatdilanjutkan pada peneletian-penelitian penatalaksanaan pada
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Fraktur1.1 Defenisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang
dapat diabsorbsinya (Brunner, 1997). Fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidajat, 2003).
Fraktur dapat disebabkan oleh trauma langsung misalnya benturan pada
lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa
trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan
tulang klavikula atau raius distal patah. Meskipun tulang patah, jaringan
sekitarnya juga akan terpengaruh mengakibatkan edema jaringan lunak,
perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf dan
kerusakan pembuluh darah.
1.2 Jenis Fraktur
1.2.1 Fraktur terbuka (fraktur kompleks)
Fraktur terbuka adalah fraktur yang terdapat hubungan antara fragmen tulang
1997, fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat
ringannya luka dan berat ringannya patah tulang yaitu grade I : Fraktur dengan
luka bersih kurang dari 1cm panjangnya, grade II : Fraktur dengan luka lebih luas
tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif dan grade III : Fraktur yang sangat
terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan
yang paling berat.
Ada beberapa jenis fraktur terbuka(fraktur kompleks) diantaranya:
a. Fraktur greenstick
Fraktur greenstick adalah fraktur dimana salah satu sisi tulang patah
sedang sisi lainnya membengkok, fraktur ini biasanya terjadi pada anak karena
tulang anak bersifat fleksibel, sehingga fraktur dapat berupa bengkokan tulang di
satu sisi dan patahan korteksdi sisi lainnya. Tulang juga dapat melengkung tanpa
disertai patahan yang nyata(Pradip, 2005)
b. Fraktur kominutif
Fraktur kominutif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa
fragmen(multiple fraktur), garis patah pada fraktur ini lebih dari satu dan saling
berhubungan (Pradip, 2005).
c. Fraktur transversal
Fraktur transversal adalah fraktur sepanjang garis tengah tulang, garis
patahan tulang tegak lurus. Terdapat sumbu panjang tulang, fraktur semacam ini
d. Fraktur oblik
Fraktur oblik adalah fraktur yang membentuk sudut dengan garis tengah
tulang dan lebih tidak stabil dibandingkan dengan transversal. Fraktur semacam
ini cenderung sulit diperbaiki (Arif, 2005).
e. Fraktur patologi
Fraktur patologi adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang memeng
telah memiliki kelainan, seringkali terjadi setelah trauma trivial, misalnya
penyakit paget, osteoporosis, atau tumor (Brunner, 1997).
f. Fraktur stress dan lelah
Fraktur stres dan lelah adalah fraktur akibat trauma minor berulang dan
kronis. Daerah yang rentan antara lain metatarsal kedua atau ketiga, batang tibia
proksimal, fibula, dan batang femoral (pada pelari jarak jauh dan penari
balet(Pradip, 2005).
g. Fraktur spiral
Fraktur spiral adalah fraktur memuntirseputar batang tulang, arah garis
pada fraktur spiral memuntir diakibatkan oleh adanya trauma rotasi pada tulang
(Brunner, 1997).
h. Fraktur impaksi
Fraktur impaksi adalah fraktur dengan fragmen-fragmen saling tertekan
satu sama lain, tanpa adanya garis fraktur yang jelas (Pradip, 2005)
i. Fraktur efisis
Fraktur efisis adalah fraktur epifisis pada anak dibawah usia 16 tahun.
Salter Harris yaitutipe 1 : epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis, tetapi
periosteumnya masih utuh, tipe 2 : periosteum robek disatu sisi sehingga epifisis
dan cakram epifisis lepas sama sekali dari metafisis, tipe 3 : patah tulang cakram
epifisis yang melalui sendi, tipe 4 : terdapat fragmen patahan tulang yang garis
patahnyategak lurus cakram epifisis dan tipe 5 : terdapat kompresi pada sebagian
cakram epifisis yang menyebabkan kematian dari sebagian cakram tersebut
(Sjamsuhidajat, 2003).
1.2.2 Fraktur tertutup (fraktur simpel)
Fraktur tertutup adalah fraktur yang apabila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar atau tidak terjadi perlukaan kulit (Arif, 1999).
Pasien dengan fraktur tertutup (sederhana) harus diusahakan untuk kembali ke
aktivitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan pengembalian
kekuatan penuh dan mobilitas mungkin memerlukan waktu sampai
berbulan-bulan (Brunner, 2002).
Pada fraktur tertutup, ada klasifikasi tersendiri yang di dasarkan pada
keadaan jaringan lunak sekitarnya yaitu:
a. Tingkat 0 : Fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
b. Tingkat 1 : Fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
c. Tingkat 2 : Fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
d. Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
resiko terjadinya sindroma kompartemen. (Mansjoer, Arif.et al, 2000,
Price. Suria A 1995)
1.3 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan eksteremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan
warna(Brunner, 2002).
1.3.1 Nyeri
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di
imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah
yang dirancang intuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang (Brunner,
1997).
1.3.2 Hilangnya fungsi tubuh
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alamiah(gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti
normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabakan
deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan
membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi
dengan baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritas tulang tempat
1.3.3 Pemendekan Ekstremitas
Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
1.3.4 Krepitus
Saat ekstremitas diperiksa dengan palpasi, teraba adanya derik
tulang(krepitus) yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
Uji krepitus dapat menyebabkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
1.3.5 Pembengkakan dan perubahan warna
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini terjadi setelah
beberapa jam atau hari setelah cedera.
1.4 Komplikasi
1.4.1 Komplikasi awal
Komplikasi awal (dini) setelah fraktur adalah syok, yang bisa berakibat
fatal dalam beberapa jam setelah cedera, emboli lemak, yang dapat terjadi dalam
48 jam atau lebih dan sindrom kompartemen yang berakibat kehilangan fungsi
ekstremitas permanen jika tidak ditangani segera.
Komplikasi awal lainnya yang berhubungan dengan fraktur adalah infeksi,
tromboemboli, emboli paru, yang dapat menyebabkan kematian beberapa minggu
a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat perdarahan (baik kehilangan
darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan ekstrasel
kejaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstremitas, toraks, pelvis, dan vertebra. Penanganan syok meliputi mempertahankan volume darah, mengurangi
nyeri yang diderita pasien, memasang pembebatan yang memadai, melindungi
pasien dari cedera lebih lanjut (Brunner, 1997)
b. Sindrom Emboli Lemak
Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam darah karena
tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin
yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilisasi asam lemak dan
memudahkan terjadi globula lemak dalam aliran darah.
Globula lemak akan bergabung dengan terombosit membentuk emboli,
yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil yang memasok ke otak, paru,
ginjal, dan organ lain. Gambaran khasnya berupa hipoksia, takipnea, takikardi,
dan pireksia. Dengan adanya emboli sistemik pasien nampak pucat, tampak ada
ptekie pada membran pipi dan kantung konjungtiva, diatas dada dan lipatan ketiak
depan. Lemak bebas dapat ditemukan dalam urine bila emboli mencapai ginjal
dapat terjadi gagal ginjal. Perubahan kepribadian, gelisah , iritabilitas, atau
konfusi pada pasien yang mengalami fraktur merupakan petunjuk untuk
dilakukannya pemeriksaan gas darah. Penyumbatan pada pembuluh darah kecil
meningkatkan tekanan pembuluh darah meningkat, kemungkinan mengakibatkan
transport oksigen, mengakibatkan hipoksia, terjadi peningkatan kecepatan
respirasi, nyeri dada prekordial, batuk, dispnea, dan edema paru akut.
c. Sindrom Kompartemen
Sindrom kompartemen merupakan masalah yang terjadi saat perfusi
jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini
bisa disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang
membungkus otot terlalu ketat atau gips(balutan) yang terlalu menjerat dan
peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan sehubungan
dengan berbagai masalah(iskemi, cedera remuk, penyuntikan bahan penghancur
jaringan).
Pencegahan dan penatalaksanaan sindrom kompartemen dapat dicegah
dengan mengontrol edema yang dapat dicapai dengan meninggikan ekstremitas
yang cedera setinggi jantung dan memberikan kompres es setelah cedera sesuai
resep, Bila terjadi sindrom kompartemen, balutan yang kuat harus dilonggarkan
(Brunner, 1997).
1.4.2 Komplikasi Lanjut
Selain komplikasi awal(dini) terdapat komplikasi lanjut fraktur diantaranya:
a. Non-union
Non-union merupakan akibat imobilisasi yang tidak adekuat atau adanya
fraktur patologis, non union terjadi karena adanya konsolidasi pada fase
pembentukan kalus yang dimulai minggu ke 4-8 dan berakhir pada minggu ke
Pseudoarthrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga terjadi sama – sama
dengan infeksi disebut infected pseudoarthrosis (Pradip, 2005)
b. Mal-union
Mal-union adalah penyembuhan dengan angulasi yang buruk, keadaan ini
dikatakan buruk karena fraktur sembuh pada saatnya, tetapi terdapat deformitas
yang terbentuk angulasi, varus / valgus, rotasi, kependekan atau union secara
menyilang misalnya pada fraktur radius dan ulna.
c. Nekrosis avaskular
Nekrosis avaskular merupakan gangguan aliran darah yang mengakibatkan
kematian tulang, lokasi yang paling sering terkena adalah kaput femur dan kaput
talus.
d. Osteoartritis
Proses degeneratif dini pada sendi akibat malaligment yang buruk, pada
keadaan ini, sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan
ujung-ujung tulang penyusun sendi.
e. Osteoporosis
Osteoporosis merupakan akibat penggunaan tulang yang tidak benar, dan
bentuk yang paling berat, atrofi sudeck, dapat menyebabkan nyeri dan
pembengkakan jaringan lunak(Pradip, 2005).
1.5 Tahap penyembuhan tulang
Proses penyembuhan fraktur bervariasi sesuai dengan ukuran tulang
keseluruhan, atau kebutuhan nutrisi yang cukup. Berdasarkan proses
penyembuhan fraktur, maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.5.1 Proses hematom.
Proses hematom merupakan proses terjadinya pengeluaran darah hingga
terbentuk hematom (bekuan darah) pada daerah terjadinya fraktur tersebut, dan
yang mengelilingi bagian dasar fragmen. Hematom ini kemudian akan menjadi
medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler sehingga hematom
berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler didalamnya (Sjamsuhidajat,
2005).
1.5.2 Proses proliferasi.
Pada proses ini, terjadi perubahan pertumbuhan pembuluh darah menjadi
memadat, dan terjadi perbaikan aliran pembuluh darah (Pakpahan, 1996).
1.5.3 Proses pembentukan callus
Pada orang dewasa antara 6-8 minggu, sedangkan pada anak-anak 2
minggu. Callus merupakan proses pembentukan tulang baru, dimana callus dapat
terbentuk diluar tulang (subperiosteal callus) dan didalam tulang (endosteal
callus). Proses perbaikan tulang terjadi sedemikian rupa, sehingga trabekula
yang dibentuk dengan tidak teratur oleh tulang imatur untuk sementara bersatu
dengan ujung-ujung tulang yang patah sehingga membentuk suatu callus tulang
(Smeltzer & Bare, 2002).
1.5.4 Proses konsolidasi (penggabungan).
Perkembangan callus secara terus-menerus, dan terjadi pemadatan
tulangseperti sebelum terjadi fraktur, konsolidasi terbentuk antara 6-12
minggu (ossificasi) dan antara 12-26 minggu (matur). Tahap ini disebut
denganpenggabungan atau penggabungan secara terus-menerus (Smeltzer &
Bare, 2002).
1.5.5 Proses remodeling.
Proses remodeling merupakan tahapan terakhir dalam penyembuhan
tulang, dan proses pengembalian bentuk seperti semula. Proses terjadinya
remodeling antara 1-2 tahun setelah terjadinya callus dan konsolidasi
(Smeltzer & Bare, 2002).
1.6 Penatalaksanaan fraktur
Pengelolaan patah tulang secara umum mengikuti prinsip pengobatan
kedokteran pada umumnya, yaitu yang pertama dan utama adalah jangan cederai
pasien (premium non nocere). Cedera tambahan pada pasien terjadi akibat
tindakan yang salah dan/atau tindakan yang berlebihan (Sjamsuhidajat, 2007)
Prinsippenanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi
dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
1.6.1 Reduksi fraktur
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti pengembalian fragmen tulang pada
kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup pada kebanyakan kasus
saling berhubungan). Ekstremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan
sementas gips, bidai dan alat lain dipasang oleh dokter (Brunner, 1997). Reduksi
juga dapat dilpertahankan dengan memasang traksi (Sjamsuhidajat, 2007).
Reduksi terbuka pada fraktur tertentu memerlukan pendekatan bedah,
fragmen tulang direduksi alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup,
plat, paku, atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen
tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solit terjadi. Alat ini
dapat diletakkan disisi tulang atau dipasang melalui fragmen tulang atau langsung
kerongga sum-sum tulang. Alat tersebut menjaga aproksimal dan fiksasi yang
kuat bagi fragmen tulang (Brunner, 1997).
1.6.2 Imobilisasi fraktur
Imobilisasi fraktur, setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus di
imobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna dan interna
(Sjamsuhidajat, 2003).
1.6.3 Pengembalian fungsi
Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, reduksi dan imobilisasi
harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (pengkajian
2. Nyeri
2.1 Defenisi Nyeri
Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual. Stimulus nyeri
dapat berupa stimulus yang bersifat fisik dan/atau mental, sedangkan kerusakan
dapat terjadi pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seorang individu(Mahon,
1994).Murwani, 2008 menyatakan bahwa nyeri adalah mekanisme perlindungan
bagi tubuh dalam hal ini adalah sebagai kontrol atau alarm terhadap bahaya.
Melzack dan Casey (1968)mengemukakan bahwa, nyeri bukan hanya suatu
pengalaman sensori belaka tetapi juga berkaitan dengan motivasi dankomponen
affektif individunya.
2.2 Teori Nyeri
Teori nyeri yang diterima saat ini salah satunya adalah teori Gate
Control.Menurut teori ini, sensasi nyeri dihantar sepanjang saraf sensoris menuju
ke otak dan hanya sejumlah sensasi atau pesan tertentu dapat dihantar melalui
jalur sarafini pada saat bersamaan.
Teori Gate Control menyatakan bahwa sinaps pada akar dorsal yang
dikenal sebagai substansia gelatinosa berperan sebagai gerbang yang dapat
meningkatkan atau menurunkan rangsang nyeri dari saraf perifer ke otak. Gerbang
ini terbuka atau tertutup tergantung input dari serabut saraf besar dan kecil.
Peningkatan aktivitas serabut saraf kecil akan membuka gerbang dan
serabut saraf besar akan menutup pintu gerbang sehingga sensasi nyeri tidak
sampai ke otak (Guyton, l990).
Serabut serat A-Beta berdiameter terbesar dan berespon secara maksimal
pada sentuhan ringan dan atau rangsang pergerakan merupakan serat saraf spinalis
bermielin dengan ambang tinggi dan berkecepatan antara 30-90 meter perdetik
dalam menghantarkan impuls sedangkan serabut serat A-Delta merupakan serat
saraf bermielin dan berdiameter kecil yang menghantarkan impuls pada kecepatan
rendah yaitu antara 6-30 meter perdetik sedangkan serabut saraf C yang tidak
bermielin memiliki kecepatan konduksi 0,5-20 meter perdetik (Guyton, 1990).
Serabut saraf A-Delta dan C berespons secara maksimal terhadap nyeri. Pada
mekanisme teori ini, serabut saraf A-Beta yang menyampaikan sensasi sentuhan
akan melewati mekanisme gerbang. Ketika diaktifkan, serabut saraf ini akan
berlomba dengan serabut saraf A-Delta maka gerbang akan tertutup bagi impuls
nyeri pada serabut saraf A-Delta sehingga memblok impuls nyeri. Bila gerbang
tertutup impuls nyeri terhambat, bila gerbang terbuka sebagian, beberapa impuls
nyeri dapat masuk. Bila gerbang terbuka maka nyeri akan dirasakan.
2.3Klasifikasi Nyeri
2.3.1 Berdasarkan Sumber Nyeri
Sumber nyeri bisa berasal dari mana saja yaitu kulit, ligamen, otot
a. Cutaneus/ superfisial
Cutaneus/ superfisial adalah nyeri yang mengenai kulit/ jaringansubkutan.
Biasanya bersifat burning (seperti terbakar). Contoh: terkena ujungpisau atau
gunting.
b. Deep somatic/ nyeri dalam
Deep somatic/ nyeri dalam adalah nyeri yang muncul dari
ligament,pembuluh darah, tendon dan saraf. Nyeri menyebar & lebih lama
daripadacutaneus. Contoh: sprain sendi.
c. Visceral (pada organ dalam)
Visceral (pada organ dalam) adalah stimulasi reseptor nyeri dlmrongga
abdomen, cranium dan thorak. Biasanya terjadi karena spasme otot,iskemia, dan
regangan jaringan (Tamsuri, 2007).
2.3.2 Berdasarkan penyebab nyeri
Nyeri yang dialami oleh pasien dapat disebabkan hal-hal tertentu,
olehkarena itu berdasarkan penyebabnya, nyeri dapat dibedakan atas 2 kategori,
yakni:
a. Fisik
Penyebab nyeri secara fisik adalah merupakan nyeri yang berasal dari
bagian tubuh seseorang dan ini terjadi karena stimulus fisik serta nyeri ini dapat
dilihat secara langsung dari morfologi tubuh yang berubah (Contoh:
b. Psycogenic
Nyeri psycogenic terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah
diidentifikasi, bersumber dari emosi/psikis dan biasanya tidak disadari. (Contoh:
orang yang marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya). Biasanya nyeri
terjadi karena perpaduan 2 sebab tersebut.
2.3.3 Berdasarkan durasi nyeri
Lama/durasi nyeri yang dialami oleh pasien sangat beraneka ragam, hal
initentu sangat mengganggu aktivitas dari penderita nyeri tersebut. Untuk
itulahmaka perlu diambil tindakan secepat mungkin untuk mengurangi
danmenghilangkan nyeri. Sedangkan berdasarkan lamanya nyeritersebut
dapatdibedakan atas 2 yaitu nyeri akut dan nyeri kronik (Smeltzer & Bare, 2002).
a. Nyeri akut
Nyeri akut terjadi setelah terjadinya cedera akut,, atau intervensi bedah dan
memiliki awitan yang cepat dengan intensitas yang bervariatif (ringan sampai
berat) dan berlangsung untuk waktu singkat (meinhart & McCafery, 1983). Nyeri
akut mengidentifikasi bahwa kerusakan atau cedera telah terjadi, hal ini menarik
perhatian pada kenyataannya bahwa nyeri ini benar terjadi dan mengajarkan
kepada kita untuk menghindari situasi serupa yang secara potensial menimbulkan
nyeri (Smeltzer & Bare, 2002).
Nyeri akut berlangsung beberapa jam dalam sehari, dan sering disertai
dengan tanda-tanda fisik seperti detak jantung cepat, berkeringat, pucat, dan
gangguan tidur. Contoh nyeri akut termasuk rasa sakit dari lengan yang patah atau
Nyeri akut berdurasi singkat, memiliki onset yang tiba-tiba, dan
terlokalisir. Nyeri ini biasanya diakibatkan oleh trauma, bedah, atau inflamasi.
Hampir semua individu pernah merasakan nyeri ini, seperti saat sakit kepala, sakit
gigi, tertusuk jarum, terbakar, nyeri oto, nyeri saat melahirkan, nyeri sesudah
tindakan pembedahan (Prasetyo, 2010).
Nyeri akut terkadang disertai oleh aktivitas sistem saraf simpatis yang
akan memperlihatkan gejala-gejala seperti peningkatan respirasi, peningkatan
denyut jantung, diaphoresis dan dilatasi pupil. Klien yang mengalami nyeri akut
akan memperlihatkan respon emosi dan prilaku seperti menangis, mengerang
kesakitan, mengerutkan wajah atau menyeringai. Klien akan melaporkan secara
verbal adanya ketidaknyamanan berkaitan dengan nyeri yang dirasakan (Prasetyo,
2010). Cedera atau penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat sembuh secara
spontan atau dapat memerlukan pengobatan. (Smeltzer & Bare, 2002).
b. Nyeri Kronis
Nyeri kronis adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang
suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung diluar waktu penyembuhan yang
diperkiran dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cedera spesifik.
Nyeri kronis dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tepat dan
sering sulit untuk diobatinya karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon
terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. (Smeltzer & Bare, 2002).
Nyeri kronik berlangsung lebih lama dari pada nyeri akut, intensitasnya bervariasi
(ringan sampai berat) dan biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan (Prasetyo,
Nyeri kronis dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu nyeri kronik
maligna dan nyeri kronik nonmaligna. Karakteristik nyeri kronis adalah
penyembuhannya tidak dapat diprediksi meskipun penyebabnya mudah
ditentukan , nyri kronis dapat menyebabkan klien merasa putus asa dan frustasi.
Klien yang mengalami nyeri kronis mungkin menarik diri dan mengisolasi diri.
Nyeri ini menimbulkan kelelahan mental dan fisik (Tamsuri, 2006), diambil dari
wardani (2011).
Berikut dibawah ini perbedaan antara nyeri akut dan nyeri kronis, yang
dikutip dari Port CM. Pathophysiologi ; Concepts of Altered health State, ed. Ke-
4, Philadelphia, JB Lippincott, 1995.
Karakteristik Nyeri Akut Nyeri Kronis
Tujuan Memperingatkan klien terhadap adanya cedera/masalah
Memberikan alasan pada klien untuk mencari, informasi berkaitan dengan perawatan dirinya.
Awitan Mendadak Terus
menerus/intermittent Durasi
Intensitas
Durasi singkat (dari beberapa detik sampai 6 bulan)
Ringan sampai berat
Durasi lama (6 bulan/lebih)
Ringan sampai berat Respon
Otonom
• Frekuensi jantung
meningkat, volume sekuncup meningkat
• Tekanan darah meningkat
• Dilatasi pupil meningkat
• Tegangan otot meningkat
• Motilitas gastrointestinal menurun
• Alira saliva menurun
• Tidak terdapat respon otonom
• Vital sign dalam batas normal
Respon Psikologis
Anxietas • Depresi
• Keputusasaan
• Mudah
Fisik/Prilaku • Mengerutkan dahi
• Menyeringat
• Mengeluh sakit
• Kelesuan
• Penurunan libido
• Kelelahan/kelemahan
• Mengeluh sakit hanya ketika dikaji
Contoh Nyeri bedah, Trauma Nyeri kanker, arthritis, euralgia.
2.4 Fisiologi Nyeri
Menurut Torrance & Serginson (1997), ada tiga jenis sel saraf dalam
proses penghantaran nyeri yaitu sel saraf aferen atau neuron sensori, serabut
konektor atau interneuron dan sel saraf eferen atau neuron motorik. Sel-sel saraf
ini mempunyai reseptor pada ujungnya yang menyebabkan implus nyeri
dihantarkan ke sumsum tulang belakang dan otak. Reseptor-reseptor ini disebut
nosiseptor dan sangat khusus dan memulai implus yang merespon perubahan fisik
dan kimia tubuh.
Stimulus pada jaringan akan merangsang nosireseptor yang merupakan
zat-zat yang terdiri dari prostaglandin, histamin, bradikinin, leukotrien, substansi
P, dan enzim proteolitik. Zat-zat kimia ini akan mensensasi ujung saraf dan
menyampaikan implus ke otak (Torrance & Serginson, 1997).
Serabut saraf perifer yang membawa sensasi ke otak dibedakan atas tiga
bentuk, serabut saraf A-alfa dan A-beta yaitu serabut saraf besar yang bermielin.
Serabut saraf A-delta adalah serabut saraf halus, bermielin. Serabut saraf C, tidak
dibungkus oleh mielin. Serabut ini halus dan hantarannya lambat yang membawa
senasasi neyri tumpul (Torrance & Serginson, 1997).
dalam kulit dan organ internal, terdapat interkoneksi neuron dalam kornu dorsalis
yang ketika diaktifkan, menghambat atau memutuskan transmisi informasi yang
menyakitkan.
2.5 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri
2.5.1 Usia
Usia merupakan faktor yang menentukan respon seseorang terhadap
respon rasa nyeri. Seorang anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga
perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang
melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada
lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap
nyeri adalah hal yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit
berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2.5.2 Jenis kelamin
Potter (1997) mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak berbeda secara
signifikan dalam merespon nyeri.
2.5.3 Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon
ternadap nyeri. Suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat
yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak
2.5.4 Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri
dan bagaimana mengatasinya. Hal ini juga berhubungkan dengan nyeri yang
meningkat (Potter, 1997).
2.5.5 Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi seseorang terhadap nyeri dan nyeri bisa
menyebabkan seseorang cemas. Hal ini merupakan hubungan timbal balik yang
dapat dialami penderita nyeri. Bayangan akan rasa nyeri yang hebat tentu saja
membuat cemas (Potter, 1997).
2.5.6 Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat
ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya.
Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu
dalam mengatasi nyeri.
2.5.7 Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan
sebaliknya pola koping yang maladaptif akan menyulitkan seseorang mengatasi
nyeri.
2.5.8 Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota
keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan, dan
dan kesembuhan yang akan diperoleh setelah menjalani terapi dapat lebih efektif
dalam proses mengatasi nyeri yang dialami oleh pasien (Harahap, 2006).
2.6 Pengukuran Intensitas Nyeri
Menurut Perry & Potter (1993), nyeri tidak dapat diukur secara objektif
misalnya dengan X-Ray atau tes darah. Namun tipe nyeri yang muncul dapat
diramalkan berdasarkan tanda dan gejalanya. Kadang-kadang perawat hanya bisa
mengkaji nyeri dengan berpatokan pada ucapan dan perilaku pasien. Pasien
diminta untuk menggambarkan nyeri yang dialaminya tersebut sebagai nyeri
ringan, sedang atau berat. Bagaimanapun makna dari istilah tersebut berbeda
antara pasien dan perawat. Tipe nyeri tersebut juga berbeda pada setiap waktu,
oleh karena itu perlu dilakukan waktu pengukuran yang berbeda. Misalnya
pengukuran nyeri pada saat belum dilakukan terapi dan setelah pemberian terapi
kepada pasien (Potter & Perry, 1993).
Gambaran skala nyeri merupakan makna yang dapat diukur. Gambaran skala
nyeri tidak hanya berguna dalam mengkaji beratnya nyeri, tetapi juga dalam
mengevaluasi perubahan kondisi anda (Potter & Perry, 1993).
Ada 3 cara mengkaji intensitas nyeri yang biasanya digunakan, antara lain:
2.6.1 Visual Analog Scale (VAS)
Digunakan garis 10 cm batas antara daerah yang tidak sakit ke sebelah kiri
Tidak sakit(no pain) Sakit tidak dapat dibayangkan
2.6.2 Pain Numerical Rating Scale (PNRS)
Sama dengan VAS hanya diberi skor 0-10 daerah yang paling sakit dan
kemudian diberi skala (Mc Kinney et al, 2000).
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
No pain Mild pain Moderate pain Worst possible
2.6.3 Kategori sakit
Pada pengukuran nyeri dengan kategori sakit, nyeri terbagi atas tidak sakit,
ringan, moderat, sangat sakit, sakit sekali (very severe) dan sakit yang tak dapat
dibayangkan.
2.6.4 Skala wajah wong dan barker
Skala nyeri enam wajah dengan ekspresi yang berbeda, menampilkan
wajah bahagia hingga wajah sedih, digunakan untuk mengekspresikan rasa nyeri.
Skala ini biasanya dipergunakan mulai anak usia 3 (tiga) tahun (Potter & Perry,
2005).
Skala wajah untuk nyeri
2.7 Nyeri Pada Fraktur
Nyeri yang terjadi pada fraktur, merupakan salah satu manifestasi klinis yang
ditimbulkan oleh banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh fraktur. Kerusakan
jaringan dan pergeseran fragmen tulang merupakan salah satu penyebab
timbulnya rasa nyeri pada fraktur (Brunner, 2005).
Sjamsuhidajat (2005), mengatakan bahwa nyeri yang timbul pada fraktur
dapat bersumber dari penatalaksanaan terhadap fraktur tersebut. Pernyataan ini
juga diperkuat oleh suyono (2003) yaitu penatalaksanaan fraktur yang tidak
efektif merupakan salah satu penyebab nyeri pada fraktur. Penatalaksanaan yang
fraktur, disamping itu harus didukung dengan beberapa terapi farmakologis dan
nonfarmakologis yang tepat (Murwani, 2009).
3. Terapi Perilaku kognitif(CBT/ Cognitif Behavior Theraphy)
3.1 Terapi Distraksi Dalam Penanganan Nyeri
Teknik distraksi adalah salah satu cara untuk mengurangi nyeri dengan
mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang lain sehingga kesadaran klien
terhadap nyerinya berkurang(Murwani, 2009). Stimulus yang menyenangkan dari
luar juga dapat merangsang sekresiendorfin, sehingga stimulus nyeri yang
dirasakan oleh pasien menjadi berkurang.Peredaan nyeri secara umum
berhubungan langsung dengan partisipasi aktifindividu, banyaknya modalitas
sensori yang digunakan dan minat individu dalamstimulasi, oleh karena itu,
stimulasi otak akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri.
Tujuan dari terapi distraksi adalah memberikan kenyamanan kepada pasien
dengan berbagai tekhnik, kenyamanan pasien di dapat dari terangsangnya sekresi
endorfin yang mampu mendistraksi persepsi nyeri pasien (Murwani, 2009)
3.2Teknik Terapi Perilaku Kognitif Distraksi Imajinasi Terbimbing
Imajinasi terbimbing adalah sebuah teknik distraksi yang bertujuan untuk
mengurangi stress dan meningkatkan perasaan tenang dan damai serta merupakan
obat penenang untuk situasi yang sulit dalam kehidupan. Imajinasi terbimbing
atau imajinasi mental merupakan suatu teknik untuk mengkaji kekuatan pikiran
saat sadar maupun tidak sadar untuk menciptakan bayangan gambar yang
Imajinasi terbimbing merupakan salah satu jenis dari teknik distraksi
sehingga manfaat dari teknik ini pada umumnya sama dengan manfaat dari teknik
distraksi yang lain. Para ahli dalam bidang teknik imajinasi terbimbing
berpendapat bahwa imajinasi merupakan penyembuh yang efektif. Teknik ini
dapat mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan dan membantu tubuh
mengurangi berbagai macam penyakit seperti depresi, alergi dan asma
(Holistic-online,2006).
Imajinasi terbimbing pada penelitian ini yaitu menggunakan distraksi
dengan mendengarkan musik instrumen, karena musik merupakan salah satu
menurunkan rasa nyeri fisiologis,stres, kecemasan, menurunkan tekanan darah
dan mengubah persepsi waktu (Sjamsuhidajat, 2009 dikuti dari Guzetta, 1989).
Jihan (2009) meneliti efektifitas mendengarkan musik pada nyeri pasien kanker
payudara yang dilakukan pada 16 orang sampel, dengan waktu pemberian 3 x
dalam seminggu, dan hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat
perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi dengan mendengarkan
BAB III
KERANGKA PENELITIAN
3.1 Kerangka Konseptual
Pada dasarnya penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas
teknik terapi perilaku kognitif distraksi pada pasien dengan nyeri yang disebabkan
oleh fraktur (patah tulang). Untuk mengetahui efektivitas tersebut maka
dibutuhkan suatu penelitian yang diawali dengan pemeriksaan kondisi awal atau
sebelum dilakukannya terapi dan kondisi akhir atau sesudah dilakukan terapi.
Modifikasi perilaku kognitif didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia
dipengaruhi oleh pemikiran, perasaan, proses fisiologis, serta konsekuensinya
pada perilaku. Jadi bila ingin mengubah perilaku yang maladaptif dari manusia,
maka tidak hanya sekedar mengubah perilakunya saja, namun juga menyangkut
aspek kognitifnya. Terapi perilaku kognitif memiliki berbagai prosedur pelatihan,
termasuk di dalamnya terapi distraksi.
Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan
perawatan kesehatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan banyak pasien
terutama pasien dengan nyeri kronis. Nyeri merupakan suatu keadaan subjektif
dimana seseorang memperlihatkan rasa tidak nyaman secara verbal atau non
verbal.
Melalui penelitian ini akan dilihat bagaimana dampak yang dirasakan sebelum
dan setelah pasien mendapatkan terapi perilaku kognitif distraksi pada pasien
merumuskan kerangka konseptual sebagai berikut:
Skema Kerangka Penelitian
Gambar 1. Skema Kerangka Penelitian
3.2 Defenisi Operasional Penelitian
3.2.1 Terapi perilaku kognitif distraksi
Terapi perilaku kognitif distraksi adalah suatu teknik penanganan nyeri
non farmakologi dengan cara pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke
stimulus yang lain. Teknik terapi distraksi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan mendengarkan musik instrumen daerah, terapi dilakukan sebanyak
3 kali selama tiga hari terhadap 1 orang responden yang menjadi kelompok
intervensi, sementara pada kelompok kontrol terapi diberikan 1 kali selama satu
hari. Terapi diberikan pada saat dilakukan penggantian perban traksi.
3.2.2 Intensitas nyeri
Suatu sensasi akut yang tidak menyenangkan yang dirasakan oleh pasien
dengan fraktur femur yang terpasang traksi pada tingkatan nyeri tertentu yang
diukur dengan skala numeric nyeri 0-10 yang dibagi menjadi 4 kategori yaitu: 0
tidak ada nyeri, 1-3 nyeri ringan, 4-6 nyeri sedang dan 7-10 nyeri hebat yang Terapi Perilaku
Kognitif Distraksi
Post Test
Nyeri Fraktur Pre Test
diukur sebelum dan sesudah terapi prilaku kognitif sebanyak 3 kali berturut-turut
pada pagi, siang dan malam hari.
3.3 Hipotesa Penelitian
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka dapat ditentukan hipotesis dari
penelitian ini, yakni:
Ho1. Terdapat perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi distraksi
pasien dengan fraktur femur yang terpasang traksi.
Ha1. Tidak terdapat perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi
distraksi pasien dengan fraktur femur yang terpasang traksi.
Ho2. Terdapat perbedaan intensitas nyeri antara kelompok intervensi dengan
kelompok kontrol pasien denganfraktur femur yang terpasang traksi.
Ha2. Tidak terdapat perbedaan intensitas nyeri antara kelompok intervensi dan
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen,
pretest, post test desain pada kelompok intervensi yang bertujuan
untukmengetahui pengaruh terapi perilaku kognitif distraksi terhadap penurunan
nyeri padapasien nyeri fraktur.
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian (Arikunto, 2006), populasi
pada penelitian ini adalah pasien fraktur yang dirawat di Rumah Sakit Putri Hijau
Tingkat II Medan. Berdasarkan jumlah pasien pada bulan april 2012 sebanyak 24
orang.
4.2.1 Sampel
Menurut Arikunto (2006) jika subjeknya kurang dari 100 maka
pengambilan sampel dengan cara total samplingyaitu dilakukan dengan
mengambil seluruh responden dengan kriteria yaitu pasien fraktur femur yang
mengalami nyeri akut dan terpasang traksi, tidak mengalami penurunan
kesadaran, terdiagnosa olehdokter dengan fraktur, dan bersedia menjadi
responden. Sampel pada penelitian ini sebanyak 24 orang responden yang terdiri
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Tingkat II Putri HijauMedan
tepatnya di ruang VIII Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Medan.
Alasanpeneliti memilih rumah sakit ini karena rumah sakit tersebut merupakan
rumahsakit pendidikan dan diperkirakan jumlah populasi yang cukup banyak
sehinggamemungkinkan peneliti mendapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan.
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2012 dan membutuhkan waktu
selama 3 minggu.
4.4 Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah mendapat izin dari program studi ilmu
kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan Direktur Rumah
Sakit Tingkat II Putri Hijau Medan. Menurut Nursalam (2003), ada beberapa
pertimbangan etik yang harus diperhatikan pada penelitian ini, yaitu Self
Determination responden diberi kebebasan untuk menentukan apakah bersedia
atau tidak untuk mengikuti kegiatan penelitian secara sukarela, ananomity
yaituselama kegiatan penelitian, nama dari responden tidak digunakan. Sebagai
gantinya peneliti menggunakan nama inisial responden, informed consent adalah
seluruh responden bersedia menandatangani lembar persetujuan setelah peneliti
menjelaskan tujuan, manfaat, dan harapan peneliti terhadap responden, setelah
responden memahami semua penjelasan peneliti, confidentialityadalah peneliti
menjamin kerahasiaan informasi responden dan kelompok data tertentu yang
responden bebas dari rasa sakit, baik secara fisik dan tekanan psikologis diluar
dari nyeri kronis yang tengah dialami. Apabila nyeri pasien fraktur bertambah
hebat, maka terapi segera dihentikan dan melapor kepada petugas jaga atau orang
yang lebih berkompeten menanganinya.
4.5 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah data demografi yang
terdiri dari umur, jenis kelamin, suku bangsa, kehadiran orang terdekat dan lama
waktu dirawat. Kuesioner skala pengukuran intensitas nyeri menggunakan pain
numerical rating scale. Terdiri dari skor 0 – 10 daerah yang paling sedikit dan
kemudian diberi skala. Mulai dari skor ( 0 – 1) tidak ada nyeri, (2 – 3)
menyatakan nyeri minimal, (4 – 6) menyatakan nyeri sedang, (7 – 10) menyatakan
nyeri berat.
4.6 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam mendukung penelitian ini adalah
dengan menggunakan MP4 (Multimedia Player 4) yakni sejenis alat elektronik
yang bisa mengeluarkan suara musik untuk pemberian instruksi terapi.Merk MP4
yang digunakan yaitu Sony.
4.7 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengajukan permohonan izin
mengirimkan permohonan izin yang diperoleh ke Rumah Sakit Tingkat II Putri
Hijau Medan.
Setelah mendapat izin dari rumah sakit, peneliti melakukan pengumpulan
data penelitian yakni dengan cara menjelaskan kepada calon responden dan
keluarga calon responden tentang tujuan dan manfaat penelitian. Responden yang
bersedia, diminta untuk menandatangani lembar persetujuan. Sebelum intervensi
responden diminta untuk menunjukkan nyeri yang dirasakan pada skala nyeri (pre
test), kemudian peneliti memberikan terapi perilaku kognitif distraksi kepada
responden, setelah terapi selesai, peneliti meminta kembali kepada responden
untuk menunjuk nyeri yang dirasakan pada skala nyeri (post test), data yang
didapatkan merupakan hasil terapi yang dilakukan terhadap 12 orang kelompok
kontrol dan 12 orang kelompok intervensi. Pada kelompok intervensi, diberikan 3
kali selama 3 hari sedangkan pada kelompok kontrol 1 kali dalam sehari.
4.8 Analisa Data
Analisa data terapi distraksi dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu
Persiapan yaitu mengecek nama dan kelengkapan identitas data responden
penerima terapi distraksi dan memastikan semua data telah terisi, tabulasi yaitu
mengklarifikasi data dengan mentabulasikan data yang telah dikumpulkan, setelah
dilakukan pemeriksaan dan tabulasi data, maka dilakukan analisa data yaitu
a. Analisis Univariat
Analisa univariat adalah analisis yang dilakukan untuk satu variabel atau
per variabel atau disebut juga dari analisis berdistribusi tunggal. Analisa univariat
dilakukan untuk mendapat gambaran data tentang demografi dan intensitas nyeri
sebelum dan sesudah diberikan terapi yang selanjutnya dipaparkan dalam bentuk
tabel distribusi frekuensi dan persentase.
b. Analisis Bivariat.
Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk menganalisis
hubungan dua variabel. Analisis bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat. Sebelum dilakukan analisis bivariat terlebih
dahulu diuji distribusi normal data.Untuk mengidentifikasi perbedaan intensitas
nyeri sebelum dan sesudah terapi perilaku kognitif distraksi pada kedua
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian efektivitas terapi perilaku
kognitif (Cognitive Behavior Therapy) distraksi pada pasien fraktur yang
terpasang traksi di Rumah Sakit Putri Hijau Tingkat II Medan. Penelitian ini
dilaksanakan mulai dari tanggal 17 Juli 2012 sampai dengan 29 September 2012
di Rumah Sakit Putri Hijau Medan dengan jumlah responden sebanyak 24 orang.
Hasil penelitian ini menguraikan karakteristik demografi responden, intensitas
nyeri sebelum dan sesudah distraksi serta perbedaan intensitas nyeri antara
kelompok intervensi dan kelompok kontrol pasien dengan fraktur femur yang
terpasang traksi.
5.1.1 Karakteristik Demografi
Jumlah responden dalam penelitian ini yaitu 24 orang responden yang
terdiri dari 12 orang responden kelompok intervensi dan 12 orang responden
kelompok kontrol. Pada kelompok intervensi, hampir seluruh dari responden
(66,6%) berusia dewasa awal dan hampir sebagian responden (33,4) berusia
dewasa pertengahan, keseluruhan responden(100%) adalah laki-laki. Berdasarkan
suku bangsa, pada kelompok intervensi menunjukkan setengah dari
responden(50%) adalah suku batak, hampir setengah responden(33,4%) suku jawa
dan aceh (16,6%). Jumlah responden pada kelompok intervensi yang menyatakan
seluruh responden (83,4%) telah dirawat selama 1 minggu dan sebagian kecil
respinden (16,6%) telah dirawat selama 2 minggu.
Sedangkan pada kelompok kontrol, hampir seluruh dari responden(83,4%)
berusia dewasa awal dan sebagian kecil responden (16,6%) berusia dewasa
pertengahan, keseluruhan responden(100%) adalah laki-laki. Berdasarkan suku
bangsa, pada kelompok kontrol menunjukkan hampir setengah responden(41,6%)
suku jawa, batak (33,4%), padang(8,3%) dan sebagian kecil responden(16,6%)
suku aceh. Pada kehadiran orang terdekat kelompok kontrol, sebagian besar
responden(66,6%) menyatakan kehadiran orang terdekat adalah istri atau anak,
sebagian kecil responden orang tua(25%) dan lain-lain(8,4%). Sedangkan
berdasarkan lama rawatan sebagian besar responden(58,4%) telah dirawat selama
1 minggu dan hampir setangah responden(41,6%) telah dirawat selama 2 minggu.
Hasil pengukuran karakteristik demografi lebih lengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 1: Distribusi Frekuensi Karakteristik DemografiResponden kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau (n=12)
No Karakteristik Intervensi Kontrol
Frekuensi Persentase (%)
Frekuensi Persentase (%)
1 Usia
Dewasa Awal (21– 30 tahun)
Dewasa Pertengahan (31 – 45 tahun)
Mean : 28,17 SD : 6,394
8 4 66,6 33,4 10 2 83,4 16,6
2 Jenis Kelamin
- Laki-laki 12 100 12 100
3 Suku Bangsa
- Jawa - Batak - Padang - Aceh 4 6 - 2 33,4 50 - 16.6 5 4 1 2 41,6 33,4 8,3 16,6
4 KehadiranOrang Terdekat
- Orangtua
- Istri / anak
- Lain-lain 4 3 5 33,4 25 41,6 3 8 1 25 66,6 8,4
5 Lama Dirawat
- 1 Minggu
- 2 Minggu
10 2 83,4 16,6 7 5 58,4 41,6
5.1.2 Intensitas Nyeri Sebelum Terapi Distraksi Mendengarkan musik Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol
Sebelum terapi distraksi dilakukan, responden diminta untuk menunjukkan
skala nyeri yang dirasakan. Berdasarkan pengukuran nyeri yang dilakukan
sebelum terapi pada kelompok intervensi, sebanyak setengah responden(50%)
menunjukkan nyeri pada rentang beratdan setengah responden(50%) menyatakan
kelompok kontrol intensitas nyeri sebelum dilakukan terapi adalah sebagian
responden(58,3%) menyatakan intensitas nyeri pada rentang sedang dan hampir
sebagian responden(41,7%) pada rentang berat (M=7,42 SD=0,51). Hasil
pengukuran intensitas nyeri sebelum terapi distraksi pada kelompok intervensi
[image:53.595.115.510.281.376.2]dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2: Hasil pengukuran intensitas nyeri sebelum terapi distraksi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Sebelum Terapi (Kelompok Intervensi)
Sebelum Terapi (Kelompok Kontrol)
Intensitas Nyeri Frekuensi
(n)
Persentase (%)
Intensitas Nyeri Frekuensi
(n)
Persentase (%) Ringan (2-4)
Sedang (5-7) Berat (8- 10)
- 6 6 0 50 50 Ringan (2-4) Sedang (5-7) Berat (8-10) - 7 5 0 58,3 41,7
(M=7,5 SD=0,52) (M=7,42 SD=0,51)
5.1.3 Intensitas Nyeri Sesudah Terapi Distraksi Mendengarkan Musik Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol
Setelah terapi distraksi diberikan, responden diminta untuk menunjukkan
skala nyeri yang dirasakan. Berdasarkan pengukuran nyeri yang dilakukan
sesudah terapi diberikan pada kelompok intervensi, hampir seluruh dari
responden(86,67%) menunjukkan nyeri pada rentang ringan dan hampir sebagian
responden(33,33%) menyatakan intensitas nyeri berada pada rentang
sedang(M=4,0 SD=0,85). Sedangkan pada kelompok kontrol intensitas nyeri
setelah diberikan terapi adalah hampir seluruh dari responden(86,7%) menyatakan
intensitas nyeri pada rentang sedang dan hampir sebagian responden(33,3%)
menyatakan rentang berat (M=7,3 SD=0,49). Hasil pengukuran intensitas nyeri
Tabel 3: Hasil pengukuran intensitas nyeri sesudah terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Sesudah Terapi (Kelompok Intervensi)
Sesudah Terapi (Kelompok Kontrol)
Intensitas Nyeri Frekuensi
(n)
Persentase (%)
Intensitas Nyeri Frekuensi
(n)
Persentase (%) Ringan (2-4)
Sedang (5-7) Berat (8- 10)
8 4 - 86,7 33,3 0 Ringan (2-4) Sedang (5-7) Berat (8-10) - 8 4 0 86,67 33,33
(M=4,0 SD=0,85) (M=7,3 SD=0,49)
5.1.4 Perbedaan Intensitas Nyeri Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol
a. Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi Distraksi Mendengarkan Musik pada Kelompok Intervensi
Sebelum terapi distraksi diberikan, terlebih dahulu dilakukan pengukuran
intensitas nyeri yang dirasakan responden. Berdasarkan pengukuran nyeri yang
dilakukan diperoleh bahwa sebanyak setengah (50%) responden menunjukkan
nyeri pada rentang sedang dan setengah dari responden(50%) menunjukkan nyeri
pada rentang berat. Sesudah terapi distraksi diberikan, pengukuran intensitas nyeri
dilakukan kembali. Dari hasil pengukuran nyeri tersebut diperoleh hampir seluruh
dari responden(86,67%) responden menunjukkan nyeri pada rentang ringan dan
hampir sebagian dari responden(33,33%) menunjukkan nyeri pada rentang