Laporan Pengantar Tugas Akhir
PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK
DK 38315/Tugas Akhir Semester II 2014-2015
Oleh:
Sandri Nur Pasha 51911042
Program Studi Desain Komunikasi Visual
FAKULTAS DESAIN
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
iii KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan tugas akhir yang berjudul
“PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL KOMUNIKASI ORANG TUA DAN
ANAK”.
Penulisan laporan tugas akhir ini merupakan bagian dari tugas dan syarat untuk
menyelesaikan mata kuliah tugas akhir di Universitas Komputer Indonesia
(UNIKOM). Penulis merasa masih memiliki kekurangan dalam materi yang
disampaikan. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang telah
membaca laporan ini demi penyempurnaan pembuatan laporan tugas akhir ini.
Penulis berharap bagi semua pihak yang sudah memberikan bantuan dalam
penyusunan laporan tugas akhir ini diberi imbalan yang setimpal oleh Allah SWT.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi
pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang diharapkan
dapat tercapai.
Bandung, Agustus 2015
iv ABSTRAK
PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK
Oleh :
Sandri Nur Pasha 51911042
Program Studi Desain Komunikasi Visual
Masalah mengenai komunikasi antara orang tua dan anak ini terjadi dalam lingkup
keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ketika orang tua sudah merasa
cukup mendidik anaknya dengan memberikan keinginan anaknya. Tugas orang
tua memang memenuhi kebutuhan anaknya akan tetapi dalam masalah yang
dibahas ini orang tua sudah merasa sudah cukup memberikan perhatian dengan
memberikan setiap keinginan anaknya, tapi pada kenyataannya anak yang cara
didiknya seperti itu akan menjadi lemah secara mental maupun emosi. Untuk
menghindari hal tersebut terjadi maka diperlukan kesadaran orang tua mengenai
dalam memperhatikan dan mendidik anaknya yang masih dalam tahap
berkembang.
Kampanye sosial dirasakan menjadi solusi yang tepat untuk menyadarkan perilaku
orang tua dalam komunikasi dan perhatian padaa naknya. Orang tua yang sibuk
bekerja tidak terlalu memperhatikan hal kecil disekitarnya dan hanya focus pada
pekerjaannya di kantor sehari-hari. Maka dari itu perancangan kampanye ini akan
mengajak orang tua dan anaknya melakukan kegiatan bersama dalam rangka
memperbaiki komunikasi orang tua dan anak sehingga pesan utama akan lebih
mudah sampai pada para orang tua.
v ABSTRACT
DESIGN OF SOCIAL CAMPAIGN COMMUNICATION PARENT AND CHILDREN
By :
Sandri Nur Pasha 51911042
Study Programme Visual Communication Design
The issue of communication between parents and children that happen in nuclear
family consisting of father, mother and child. When parents think they are already
enough to educate their children by giving their wishes. Parents have
responsibility to fulfill their child needs but the problem is the parents think
already felt enough to give attention by giving their child want, but in reality
children that the way they’ve been thought they would be mentally and
emotionally weak. To avoid this happen it would require the awareness of parents
regarding educate their children who are still in the developing stage.
Social campaign will be the perfect solution to realize the behavior of parents in
communication and attention in children. Parents are busy working and just focus
on their job in the office. Therefore the design for this campaign will encourage parents and children do activities together to improve communication with parents and children, so the parents will be easier to get the main message.
vi DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR PENYATAAN ORISINALITAS ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II KAMPANYE SOSIAL KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK ... 4
II.1 Definisi Komunikasi ... 4
II.1.1. Unsur-unsur Komunikasi ... 4
II.1.2 Definisi Keluarga... 6
II.1.3 Peran Orang Tua ... 8
II.1.4 Sistem Sosial Budaya Keluarga Indonesia ... 9
II.2 Komunikasi Orang Tua dan Anak ... 12
II.2.1 Faktor Penyebab Kurangnya Komunikasi Orang Tua dan Anak ... 12
II.3 Hasil Riset ... 13
II.3.1 Akibat Kurangnya Komunikasi Orang Tua dan Anak ... 15
II.3.2 Komunikasi yang perlu dilakukan Orang Tua dan Anak ... 16
II.3.3 Waktu Komunikasi Orang Tua dan Anak ... 17
vii
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL ... 29
III.1 Strategi Perancangan ... 29
III.1.1 Tujuan Komunikasi ... 29
III.1.2 Pendekatan Komunikasi ... 29
III.1.3 Materi Pesan ... 30
III.1.4 Gaya Bahasa ... 31
III.1.5 Khalayak Sasaran Perancangan... 32
III.1.6 Strategi Kreatif ... 36
III.1.7 Strategi Media ... 38
III.1.7.1 Pemilihan Media ... 39
III.1.8 Strategi Distribusi ... 40
BAB IV TEKNIK PRODUKSI DAN APLIKASI MEDIA ... 46
viii
IV.3.6 Booth ... 54
IV.3.7 Mug ... 55
IV.3.8 Kalender ... 56
IV.3.9 Notebook ... 57
IV.3.10 Stiker ... 59
IV.3.11 Gantungan Kunci ... 60
IV.3.12 Page Facebook... 61
IV.3.13 Twitter ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63
1 BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Stephen & Karena (2008) menjelaskan “komunikasi merupakan salah satu aspek
penting dan kompleks untuk kehidupan manusia. Manusia sangat dipengaruhi
oleh komunikasi yang dilakukannya dengan manusia lain, baik yang sudah
dikenal maupun yang belum dikenal sama sekali”. Komunikasi memiliki peran
yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena itu perhatian lebih sangat
diperlukan terhadap komunikasi sesama manusia.
Adapun komunikasi antara orang tua dan anak dalam keluarga inti yang terjadi
saat ini mulai berubah karena dampak dari perkembangan teknologi yang semakin
maju dan perilaku orang tua terhadap anak saat ini. Akan tetapi dampak yang
sangat berpengaruh disini adalah dampak dari perkembangan teknologi yang
sangat berpengaruh pada perilaku remaja yang masih dalam usia labil dan belum
bisa membedakan mana yang baik untuk diikuti dan mana yang tidak. Dalam hal
ini peran orang tua sangat diperlukan karena orang tua sebagai orang dewasa yang
mengawasi perilaku anaknya yang belum dewasa dan menerima berbagai
informasi dan pengaruh dari luar.
Maka dari itu komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat diperlukan
agar orang tua bisa melakukan pencegahan lebih awal sebelum anak sampai pada
tahap yang mengkhawatirkan seperti berbuat kriminal, memakai narkoba atau
terlibat dalam pergaulan bebas. Akan tetapi sepertinya saat ini orang tua sudah
mulai melupakan kewajibannya yaitu mendidik dan mengajarkan anak untuk
menjadi anak yang baik. Orang tua cenderung hanya bekerja dan bekerja. Orang
tua tidak memberikan waktunya kepada anak. Bahkan orang tua berpikir sudah
merasa cukup dengan memberikan apa yang anak inginkan. Orang tua harus
mengontrol tontonan dan apa yang anak lihat di internet dan orang tua harus dapat
memberikan alasan yang dapat dipahami anak atas tontonan yang mereka tidak
2 sekitar pada anak maka anak akan dapat memilih mana yang baik dan yang tidak
baik bagi mereka sehingga orang tua dapat menghalau hal-hal negatif terjadi.
Solusi yang dibutuhkan dari permasalahan komunikasi orang tua dan anak ini
adalah menyadarkan orang tua untuk mau memahami hati dan pikiran anaknya
agar orang tua dapat menasihati dan mengawasi anak dalam penggunaan fasilitas
yang telah diberikan pada anak.Orang tua perlu sadar kalau anak akan merasa
nyaman jika orang tua lebih perhatian dalam hal-hal positif yang dilakukan
anaknya, bukan hanya hal-hal negatif yang dilakukan anaknya. Orang tua harus
berperan sebagai teman yang senang tiasa mau mendengarkan suka dan duka yang
dialami anaknya.
I.2 Identifikasi Masalah
Berikut ini adalah identifikasi masalah yang berhasil disimpulkan berdasarkan
latar belakang sebelumnya :
• Anak lebih suka mencurahkan isi hatinya di media sosial atau orang lain dibandingkan pada orang tua.
• Orang tua sudah merasa cukup dengan memberikan materi pada anaknya.
• Orang tua lebih sering bertanya mengenai masalah sekolah, tidak terlalu tertarik pada kesukaan anaknya.
• Orang tua melupakan pentingnya peran orang tua bagi pendidikan anaknya.
• Anak memerlukan perhatian yang lebih saat akan memasuki lingkungan sosialnya.
I.3 Rumusan Masalah
Bagaimana cara mensosialisasikan pentingnya meningkatkan kesadaran orang tua
untuk komunikasi yang lebih baik dengan anaknya?
I.4 Batasan Masalah
Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas pada permasalahan, maka
ditentukan batasan masalah ini terfokus pada perilaku orang tua pada anak, agar
3 I.5 Tujuan Perancangan
• Meningkatkan kesadaran orang tua untuk komunikasi yang lebih baik pada anaknya
• Memberikan informasi mengenai cara berkomunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
I.6 Manfaat Penelitian/Perancangan Adapun manfaat penelitian ini, yaitu:
• Dapat dijadikan sumbangan bagi dunia ilmu pengetahuan agar dapat berguna bagi mereka yang membutuhkannya, terutama dibidang yang terkait dengan
sosial dan keluarga.
• Membantu masyarakat memahami cara komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
4
BAB II
KAMPANYE SOSIAL KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK
II.1 Definisi Komunikasi
Rogers & D.Lawrence Kincald (1981) menjelaskan “komunikasi adalah suatu
proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran
informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling
pengertian yang mendalam”. Proses komunikasi merupakan hubungan dengan
adanya suatu petukaran informasi (pesan), dan adanya perubahan sikap dan
tingkah laku serta kebersamaan dalam menciptakan saling pengertian dan
orang-orang yang ikut serta didalamnya.
Shannon & Weaver (1949) menjelaskan “bahwa komunikasi adalah bentuk
interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau
tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa
verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi wajah, lukisan, seni dan teknologi”. Oleh
karena itu jika seseorang berada dalam situasi berkomunikasi, orang tersebut
memiliki beberapa kesamaan dengan orang lain, seperti kesamaan bahasa atau
kesamaan arti dan simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi.
II.1.1 Unsur-unsur Komunikasi
Menilai faktor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya dalam
mendukung terjadinya proses komunikasi. Unsur-unsur komunikasi yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
• Sumber
Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau
pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari
satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi
5
• Pesan
Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang
disampaikan pengirim pada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara
tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya berupa ilmu pengetahuan,
hiburan, informasi, nasihat atau propaganda.
• Media
Media yang dimaksud di sini adalah alat yang digunakan untuk memindahkan
pesan dari sumber pada penerima.Terdapat beberapa pendapat mengenai
saluran atau media.Ada yang menilai bahwa media bisa bermacam-macam
bentuknya, misalnya media antarpribadi pancaindra dianggap sebagai media
komunikasi. Selain indra manusia, ada juga saluran komunikasi seperti
telepon, surat, telegram yang digolongkan sebagai media komunikasi
antarpribadi.
• Penerima
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh
sumber.Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk
kelompok, partau atau negara.Penerima juga biasa disebut dengan berbagai
istilah.Seperti khalayak, sasaran, komunikan.
• Pengaruh
Pengaruh atau efek adalan perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan,
dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh
ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang (De Fleur,
1982). Oleh karean itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan
keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat
penerimaan pesan.
• Tanggapan Balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah suatu bentuk
daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan
balik bisa juga berasal dari unsur seperti pesan dan media, meski pesan belum
6
• Lingkungan
Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat memengaruhi
jalannya komunikasi.Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yaitu
linkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis dan dimensi
waktu.
II.1.2 Definisi Keluarga
Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti
"anggota") adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki
hubungan darah. Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia
yang hidup bersama sebagai satu kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan
biasanya selalu ada hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya,
tinggal bersama dalam satu rumah yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga
dan dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut Departemen Kesehatan RI (1988), “Keluarga merupakan unit terkecil
dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantungan”.
Ciri-ciri keluarga, sebagai berikut:
• Terdiri dari orang-orang yang memiliki ikatan darah.
• Anggota keluarga biasanya hidup bersama dalam suatu rumah dan membentuk satu rumah tangga.
• Memiliki satu kesatuan orang-orang yang berinteraksi dan saling berkomunikasi, yang memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak
dan saudara.
7
Bentuk keluarga berdasarkan jenis anggota keluarga :
• Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
• Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambahkan sanak saudara. Misalnya : kakek, nenek dan lain-lain.
• Keluarga berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
• Keluarga duda/janda (Single Family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
• Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup bersama dalam satu atap.
• Keluarga kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa pernikahan tapi membentuk suatu keluarga.
Gambar II.1 Keluarga Inti (Orang tua dan anak)
Sumber : Dokumen Pribadi
Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia “Orang tua adalah orang yang sudah
berumur, orang yang usianya sudah banyak, orang yang sudah lama hidup di
dunia; ayah dan ibu. Anak adalah keturunan dari ayah dan ibu (keturunan yang
8
II.1.3 Peran Orang Tua
Ahmadi (2004) menjelaskan “keluarga merupakan lingkungan sosial pertama
yang dikenalkan kepada anak. Dalam keluarga, orangtua mengenalkan nilai-nilai
kebudayaan kepada anak dan di sinilah dialami interaksi dan disiplin pertama
yang dikenalkan kepada anak dalam kehidupan sosial”. Adanya interaksi antara
anggota keluarga yang satu dengan yang lain menyebabkan seorang anak
menyadari dirinya sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk
sosial, dalam keluarga anak akan menyesuaikan diri dengan kehidupan bersama,
yaitu saling tolong menolong dan mempelajari adat istiadat yang berlaku dalam
masyarakat. Hal tersebut akan diperkenalkan oleh orang tua yang akhirnya
dimiliki oleh anak. Perkembangan seorang anak di dalam keluarga sangat
ditentukan oleh kondisi situasi keluarga dan pengalaman-pengalaman yang
dimiliki orangtuanya.
Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses
sosialisasi individu atau seseorang. Kondisi-kondisi yang menyebabkan
pentingnya peranan keluarga dalam proses sosialisasi anak, ialah:
• Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota-anggotanya berinteraksi langsung secara tetap. Dalam kelompok yang demikian
perkembangan anak dapat diikuti dengan seksama oleh orang tuanya dan
penyesuaian secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.
• Orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak karena merupakan buah cinta kasih hubungan suami isteri. Anak merupakan
perluasan biologis dan sosial orang tuanya. Motivasi kuat ini melahirkan
hubungan emosional antara orang tua dengan anak. Penelitian-penelitian
membuktikan bahwa hubungan emosional lebih berarti dan efektif daripada
hubungan intelektual dalam proses sosialisasi.
• Oleh karena hubungan sosial di dalam keluarga itu bersifat relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat penting terhadap proses sosialisasi anak
9
Dalam keluarga, orang tua mencurahkan perhatian untuk mendidik anaknya agar
anak tersebut memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar melalui
penanaman disiplin sehingga membentuk kepribadian yang baik bagi si anak.
Oleh karena itu, orang tua sangat berperan untuk:
• Selalu dekat dengan anak-anaknya,
• Memberi pengawasan dan pengendalian yang wajar, sehingga jiwa anak tidak merasa tertekan,
• Mendorong agar anak dapat membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk, pantas dan tidak pantas dan sebagainya
• Ibu dan ayah dapat membawakan peran sebagai orang tua yang baik serta menghindarkan perbuatan dan perlakuan buruk serta keliru di hadapan
anak-anaknya, dan
• Menasihati anak-anaknya jika melakukan kesalahan serta menunjukkan dan mengarahkan mereka ke jalan yang benar.
Menurut pola sosialisasi dalam keluarga dibagi menjadi 2, yaitu:
• Pola sosialisai represif, menekankan pada pemberian hukuman pada setiap tindakan salah atau menyimpang yang dilakukan oleh anak. Penekanan pada
komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan
sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga.
• Pola sosialisasi partisipatoris, menekankan pada pemberian imbalan saat anak berperilaku baik. Selain itu hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam
proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan
pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi
adalah anak dan orang tua mengutamakan keinginan anak. (Jeager, 2004: h.33)
Pola mengasuh anak di dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh sistem nilai,
norma, dan adat istiadat yang berlaku pada masyarakat tempat keluarga itu
tinggal. Jadi, kepribadian dan pola perilaku yang terdapat pada berbagai
10
II.1.4 Sistem Sosial Budaya Keluarga Indonesia
Menurut Edward B. Tylor “kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,
yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai
anggota masyarakat”. Perubahan sosial budaya dapat terjadi bila sebuah
kebudayaan melakukan kontak dengan kebudayaan asing. Perubahan sosial
budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam
suatu masyarakat.
Pola tindak sistem sosial budaya Indonesia:
• Gotong Royong
Persatuan dan kesatuan hanya terwujud melalui gotong royong, suatu sikap
kebersamaan dan tenggang rasa, baik dalam suka maupun duka, kehidupan
keluarga dan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Dengan gotong royong
itu setiap orang menemui dirinya dalam persatuan dan kesatuan dalam
pribadi/keluarga maupun masyarakat.
• Prasaja
Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat tidak akan terwujud apabila
kehidupan yang sederhana, hemat, cermat, disiplin, profesional dan tertib
dilaksanakan. Kesederhanaan itu bahkan memudahkan terjadinya gotong
royong yang mewujudkan kesatuan dan persatuan.
• Musyawarah untuk Mufakat
Mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan golongan atau
perorangan dapat menemui perbedaan yang tidak dapat diakhiri dengan
perpecahan dan perpisahan, maupun pertentangan.Agar persatuan dan
kesatuan tetap terbina, maka musyawarah untuk mufakat tentang
kepemimpinan, pengelolaan dan pengenalian adalah syarat mutlak.
• Kesatria
Persatuan dan kesatuan, maupun keadilan sosial tidak dapat terwujud tanpa
keberanian, kejujuran, kesetiaan, pengabdian dan perjuangan yang tidak
11
tanah air, bangsa dan negara maupun sikap perjuangan dan profesional dapat
berlangsung sepanjang masa.
• Dinamis
Kehidupan pribadi/keluarga, bangsa dan negara juga bersifat dinamis sesuai
dengan zaman, sehingga waktu sangat penting dalam rangka persatuan dan
kesatua, maupun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Zainal
Muttaqin, 2010)
Marx Weber menjelaskan ”merupakan dasar pengesahan (legitimacy) daripada
struktur kekuasaan (authority) suatu masyarakat. Nilai-nilai adalah pembentukan
mentalitas yang dirumuskan dari tingkah laku manusia sehingga menjadi sejumlah
anggapan yang hakiki, baik dan perlu dihargai sebagaimana mestinya”. Sistem
nilai mendasar hubungan-hubungan sosial di antara para anggota suatu
masyarakat bangsa. Maka sistem nilai yang harus diwujudkan atau
diselenggarakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
ditemukan di dalam proses pertumbuhan panacasila sebagai dasar falsafah atau
ideologi negara. Nilai atau nilai-nilai merupakan gabungan semua unsur
kebudayaan yang terkandung di dalam pancasila harus dijadikan sebagai program,
piagam atau pedoman untuk membimbing perilaku ataupun dari semua manusia
Indonesia di dalam kehidupan sehari-hari. Struktur tata nilai kehidupan pribadi
atau keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara meliputi berikut ini :
• Nilai agama atau kepercayaan terhadapa Tuhan Yang Maha Esa (iman);
• Nilai dan kebenaran atau kenyataan dan keindahan yang bersumber dari kala dan rasa manusia (cipta dan rasa);
• Nilai moral atau kebaikan yang bersumber dari kehendak atau kemauan (karsa dan etika);
• Nilai vital (peragaan kehidupan), yaitu nilai-nilai yang terkait dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk kegiatan dan aktivitas manusia.
Struktur nilai tersebut di atas bagi bangsa dan negara Indonesia telah menyatu
dalam pancasila sebagai dasar negara, ideologi bangsa, dan negara serta falsafah
12
II.2 Komunikasi Orang Tua dan Anak
Menurut Yulia Singgih D. Gunarsa & Singgih D. Gunarsa (2012) berpendapat
bahwa:
Saat ini orang tua tanpa disengaja telah membiarkan pengaruh luar yang negatif merusak anaknya, orang tua yang sudah membanting tulang dan mencari nafkah dan dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginan anaknya sudah merasa berhasil sebagai orang tua yang dapat membahagiakan anaknya tetapi lupa mempehartikan anaknya ketika anak sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. (h.14)
Cara orang tua yang berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan tugas dan pekerjaan
masing-masing telah menyebabkan anak menganggap tidak ada kesatuan lagi
dalam keluarganya, terutama hubungan orang tua dan anak.Karena tidak adanya
kesatuan antara orang tua dan anak, maka anak kehilangan pegangan.Hubungan
dengan ayah atau ibu menjadi sangat jarang dan kaku.
II.2.1 Faktor Penyebab Kurangnya Komunikasi Orang Tua dan Anak
Adapun faktor yang menyebabkan komunikasi orang tua dan anak di saat ini
menjadi berkurang adalah sebagai berikut:
• Orang tua memberikan fasilitas dengan mengikuti perkembangan karena merasa komunikasi akan lebih mudah jika anak diberikan alat komunikasi
yang canggih tapi anak yang diberikan akses tanpa pengawasan dan nasihat
akan mengganggu perkembangan anak dalam proses belajarnya karena
fitur-fitur canggih yang ada di dalam gadget.
Gambar II.2 Anak Remaja dengan Smartphone nya
13
• Orang tua yang telah membanting tulang untuk memberikan dan sedapat mungkin memenunhi keinginan dan permintaan anak, di “mata anak”
merupakan orang tua yang tidak kenal waktu, terus saja bekerja dan mengejar
karier, tanpa mengingat kebutuhan anak, yakni “perhatian” dari orang tua.
Gambar II.3 Kamar Anak
Sumber: Dokumen Pribadi
II.3 Hasil Riset Berdasarkan Data Lapangan Dan Referensi
Berdasarkan hasil riset lapangan yang telah dilakukan pada kelompok anak remaja
yang berusia 13-19 tahun dikalangan kelas menengah, didapatkan kesimpulan
bahwa anak lebih suka mencurahkan isi hatinya pada teman dekat dan media
seperti media sosial melalui komputer maupun smartphone.Akan tetapi bukan
karena anak remaja ini tidak dekat dengan orang tua mereka melainkan anak
remaja ini mendapatkan fasilitas yang baik yang telah diberikan orang tua mereka
yang tujuan awalnya diberikan pada anak untuk menunjang pendidikan dan
mempermudah komunikasi jika memiliki peralatan canggih.
Akan tetapi pada kenyataannya berdasarkan dari hasil riset, orang tua yang sudah
memberikan fasilitas seperti komputer, internet dan smartphone ini tidak banyak
memperhatikan hal apa saja yang dilakukan anak saat menggunakannya. Ada
orang tua yang memberikan nasihat pada anak saat sebelum dan sesudah
menggunakannya tapi lebih banyak orang tua tidak memberikan nasihat atau
arahan yang baik dalam memakai fasilitas yang sudah diberikan ini.Penggunaan
smartphone oleh anak remaja Indonesia saat ini pun sangat dipengaruhi oleh
14
komunikasi dan teknologi yang digunakan dan dimilikinya saat ini karena banyak
orang disekitarnya menggunakannya, terutama teman-temannya yang sudah lebih
dulu menggunakannya.
Tabel II.1 Anak tidak akrab lagi dengan orang tuanya saat ini
Tabel II.2 Kurangnya pengawasan Orang tua pada Anak
Persentase Berdasarkan Jawaban Responden
64% tidak akrab akrab 34%
Persentase Berdasarkan Jawaban Responden
15
II.3.1 Akibat Kurangnya Komunikasi Orang Tua dan Anak
Akibat dari kurangnya komunikasi orang tua dan anak dalam penggunaan fasilitas
seperti internet dan alat berteknologi tinggi seperti komputer, laptop atau
smartphone adalah sebagai berikut:
• Mengganggu perkembangan anak, menurunnya konsentrasi belajar. Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di handphone (HP) seperti : kamera,
permainan, internet akan mengganggu anak dalam perkembangan mental dan
emosinya.
• Anak menjadi bersikap individualis karena tidak mendapatkan pendidikan mengenai sosialisasi yang baik langsung dari orang tuanya, anak menjadi tidak
peduli pada sekitarnya.
• Adanya efek radiasi pada anak dari handphone yang akan menganggu kesehatan anak karena otak anak masih dalam proses berkembang dan
penyakit seperti Tumor otak, apalagi pada anak remaja karena akan
membutuhkan waktu yang lama untuk melihat dampaknya.
• Ada juga tindak kejahatan yang dapat menimpa anak setelah menggunakan internet di komputer atau smartphone nya. Anak remaja yang masih dalam
masa mencari jati diri dan cenderung masih mengikuti teman-teman
disekitarnya akan sangat rawan mengalami tindak kejahatan seperti penipuan
di media sosial, pergaulan bebas dan lain-lain.
Adapun akibat dari kurangnya komunikasi orang tua dan anak berdasarkan data
lapangan adalah sebagai berikut:
• Penggunaan fasilitas seperti komputer, internet dan smartphone yang diberikan orang tua pada anak, tidak diawasi langsung oleh orang tua.
• Fasilitas teknologi yang lengkap dirumah membuat anak menggunakannya tanpa ada batasan waktu saat berada dirumah.
• Anak yang terpengaruh orang lain dan teman-temannya dalam penggunaan smartphone ataupun internet menjadi tidak nyaman mengobrol dengan orang
tuanya karena menjadi lebih nyaman dengan smartphone nya.
16
tidak kenal waktu saat menggunakannya dan berpengaruh pada waktu
belajarnya.
II.3.2 Komunikasi yang Perlu Dilakukan Orang Tua dan Anak
Kartino Kartono (1995) menjelaskan “Anak usia remaja 13-19 tahun masih
membutuhkan sosok orang dewasa disekitarnya, terutama orang tua karena anak
masih sering merasa cemas, bersikap ragu-ragu dan kurang pengalaman. Penilaian
anak remaja mengenai masalah kebenaran masih belum mantap, karena penilaian
sangat dipengaruhi sikap kekanak-kanakan”.
Sikap anak yang cenderung masih labil karena emosi dan mentalnya belum kuat
ini haruslah menjadi perhatian utama orang tua dalam memberikan fasilitas seperti
internet, komputer dan smartphone pada penggunaannya. Penggunaan yang
berlebihan dapat membuat anak mengalami “matang semu”, maksudnya adalah
anak akan tumbuh sehat secara fisik dan terlihat baik dari luar saja tapi sebenarnya
mental dan emosinya masih kurang karena penggunaan alat-alat seperti komputer
atau smartphone secara belebihan diusianya yang masih sangat muda dan tidak
mendapat pengawasan langsung dari orang tua mengenai batasan waktu dalam
penggunaannya atau memberikan nasihat mengenai hal yang boleh dilihat dan
tidak boleh dilihat oleh anak saat menggunakan internet. (Yee-Jin Shin, 2014)
Maka komunikasi yang perlu dilakukan oleh orang tua dan anak dalam menyikapi
perubahan jaman seperti saat ini terutama dalam perkembangan teknologi
komunikasi dan informasi adalah sebagai berikut:
• Orang tua harus dapat menjelaskan dampak baik dan buruk dalam penggunaan internet maupun smartphone agar anak tidak bertindak diluar batas seperti
melakukan hal yang menyimpang atau tindakan kriminal.
• Orang tua harus lebih memperhatikan waktu penggunaan fasilitas yang diberikan sehingga waktu belajar anak atau waktu anak bersama keluarga
17
• Kesehatan anak juga harus menjadi hal utama yang diperhatikan orang tua karena bahaya radiasi dari handphone dan juga kesehatan mata anak dalam
penggunaan komputer yang berlebihan.
• Orang tua harus berusaha menjadi teman anak dengan meluangkan waktu agar bisa mengawasi anak secara langsung tetapi tidak dengan bersikap
memerintah yang akan membuat anak merasa tidak nyaman.
II.3.3 Waktu Komunikasi Orang Tua dan Anak
Berdasarkan hasil riset yang sudah dilakukan ternyata waktu komunikasi antara
orang tua dan anak terjadi tidak kurang dari satu jam. Bagi orang tua yang
memiliki anak yang masih berusia remaja atau masih sekolah maka waktu
bertemu mereka yang paling sering adalah ketika saat pagi hari sebelum anak
berangkat sekolah, sore atau malam hari ketika orang tua pulang kerja dan hari
libur akhir pekan atau tanggal mereka.
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (2012) menjelaskan “waktu komunikasi orang tua dan
anak sangat penting terutama dalam mendengarkan anak. Ketika anak
membutuhkan komunikasi yang baik dengan orang tuanya, orang tua harus
bersikap terbuka atau bersedia mendengarkan semua yang ingin dikatakan oleh
anak karena berbicara adalah sebuah kebutuhan”. Karena merupakan kebutuhan,
lebih banyak orang lebih suka berbicara dibandingkan hanya mendengarkan saja.
Berbicara adalah kebutuhan mendasar setiap manusia, termasuk anak-anak.
II.3.4 Indikator Ketidakakraban Komunikasi Orang Tua dan Anak
Indikator dari ketidakakraban yang terjadi antara orang tua dan anak adalah
sebagai berikut:
• Orang tua dan anak sudah bersikap masing-masing dalam kehidupan sehari-hari terutama saat disehari-hari libur, ketika ada waktu bersama tapi ternyata saat ini
orang tua dan anak lebih memilih melakukan kegiatan masing-masing.
18
• Orang tua tidak sadar betapa pentingnya melakukan pengawasan pada anak yang sudah diberikan fasilitas lengkap seperti internet dan smartphone.
II.3.5 Definisi Kampanye
Rogers & Storey (1987) menjelaskan “serangkaian tindakan komunikasi yang
terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak
yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu merupakan
definisi kampanye”. Merujuk pada definisi diatas maka setiap kegiatan dalam
kampanye komunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yaitu; tindakan
kampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak terentu, jumlah
khalayak sasaran yang besar, biasanya dipusatkan dalam kurun waktu tertentu dan
melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi.
Di samping keempat ciri pokok diatas, kampanye juga memiliki karakteristik lain,
yaitu sumber yang jelas, yang menjadi penggagas, perancang, penyampai
sekaligus penanggung jawab suatu produk kampanye, sehingga setiap individu
yang menerima pesan kampanye dapat mengindentifikasi bahkan mengevaluasi
kredibilitas sumber pesan tersebut setiap saat.
Perloff (1993) menjelaskan “pesan-pesan kampanye juga terbuka untuk
didiskusikan, bahkan gagasan-gagasan pokok yang melatarbelakangi
diselenggarakannya kampanye juga terbuka untuk dikritisi”. Keterbukaan seperti
ini dimungkinkan karena gagasan dan tujuan kampanye pada dasarnya
mengandung kebaikan untuk publik. Sebagian kampanye bahkan ditujukan
sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan umum. Karena sifatnya yang
terbuka dan isi pesannya tidak ditujukan untuk menyesatkan khalayak, maka tidak
diperlukan tindakan pemaksaan dalam upaya untuk mempengaruhi publik. Segala
tindakan dalam kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi yakni
mengajak dan mendorong publik untuk menerima atau melakukan sesuatu yang
dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Dengan demikian kampanye pada prinsipnya
adalah contoh tindakan persuasi secara nyata. Dalam ungkapan “Campaigns
19
Menurut Charles U. Larson (1992) “membagi jenis kampanye ke dalam tiga
kategori yakni: product-oriented campaigns, candidate oriented campaigns dan
ideologically or cause oriented campaigns”.
• Product-oriented campaigns atau kampanye yang berorientasi pada produk umumnya terjadi dilingkungan bisnis. Istilah lain yang sering dipertukarkan
dengan kampanye jenis ini adalah commercial campaigns atau corporate
campaign. Motivasi yang mendasarinya adalah memperoleh keuntungan
financial. Cara yang ditempuh adalah dengan memperkenalkan produk dan
melipatgandakan penjualan sehingga diperoleh keuntungan yang diharapkan.
• Candidate-oriented campaigns atau kampanye yang berorientasi pada kandidat umumnya dimotivasi oleh hasrat untuk meraih kekuasaan politik.
Karena itu jenis kampanye ini dapat pula disebut sebagai political campaigns
(kampanye politik). Tujuannya antara lain adalah untuk memenangkan
dukungan masyarakat terhadap kandidat-kandidat yang diajukan partai politik
agar dapat menduduki jabatan politik yang diperebutkan lewat proses
pemilihan umum.
• Ideologically or cause oriented campaigns adalah jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi
perubahan sosial. Karena itu kampanye jenis ini dalam istilah Kolter disebut
sebagai social change campaigns, yakni kampanye yang ditujukan untuk
menangani masalah-masalah sosial melalui perubahan sikap dan perilaku
publik terkait.
Menurut Venus Antar, 2004 terdapat beberapa definisi tentang kampanye,
diantaranya :
• Sebagai salah satu usaha yang terencana dan berjalan untuk memberikan informasi, mendidik, atau meyakinkan masyarakat untuk tujuan khusus.
• Menggunakan berbagai lambang untuk mempengaruhi manusia sedemikian rupa sehingga tingkah laku yang ditimbulkan karena pengaruh tersebut sesuai
20
• Rencana kegiatan komunikasi pemasaran yang berkesinambungan dan dilaksanakan berdasarkan suatu jadwal yang menunjukan suatu peran atau
berbagai media (televisi, radio, majalah, surat kabar, dan film).
• Kampanye publik merupakan aktifitas komunikasi di dalam menyampaikan pesan melalui jaringan saluran komunikasi secara terpadu, dan mengorganisir
aktivitas komunikasi tersebut dengan tujuan menghasilkan dampak pada
individu-individu dalam jumlah besar, dan atau kelompok masyarakat sesuai
dengan target yang ingin dicapai, pada satuan waktu tertentu.
Dari definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu kampanye adalah
aktivitas komunikasi yang terencana untuk memberikan informasi, mendidik,
meyakinkan dan mempengaruhi individu-individu dalam jumlah besar atau
kelompok masyarakat dengan menggunakan berbagai media (televisi, radio,
majalah, surat kabar, dan lain sebagainya) agar memenuhi target yang ingin
dicapai pada satuan waktu tertentu.
II.3.6 Jenis-jenis Kampanye
Kampanye dapat dibedakan menurut jenisnya menjadi 4 macam, yaitu :
1. Kampanye Sosial
Suatu kegiatan berkampanye yang mengkomunikasikan pesan-pesan yang
berisi tentang masalah sosial kemasyarakatan, dana bersifat non komersil.
Tujuan dari kampanye sosial adalah untuk menumbuhkan kesadaran
masyarakat akan gejala-gejala sosial yang sedang terjadi Kriteria penentuan
21
Gambar II.4 Kampanye Sosial
Sumber:
https://www.pinterest.com/pin/539235755359694513/(09/04/2015/17.32)
• Non Komersil.
• Tidak bersifat keagamaan.
• Tidak bermuatan politik.
• Berwawasan nasional.
• Diperuntukan bagi semua masyarakat.
• Diajukan oleh organisasi yang telah diakui dan diterima.
• Dapat diiklankan.
• Memiliki dampak dan kepentingan tinggi sehingga mendapat dukungan media lokal maupun nasional
2. Kampanye Bisik.
Kampanye yang dilakukan melalui gerakan untuk melawan atau mengadakan
aksi secara serentak dengan menyiarkan kabar angin dan tanpa visual.
3. Kampanye Promosi.
Kegiatan kampanye yang dilaksanakan dalam rangka promosi untuk
22
Gambar II.5 Poster promosi super market
Sumber:
http://www.superindo.co.id/promosi/promosi_khusus/hadiah_super/(09/04/2015/17.4
2)
4. Kampanye Politik.
Kampanye yang menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat agar
masyarakat memperoleh informasi tentang apa dan bagaimana suatu partai,
program maupun visinya. Dengan demikian masyarakat dapat memahami
maksud dan tujuan dari partai tersebut untuk menentukan dipilih atau tidak.
Gambar II.7 Kampanye politik
Sumber:
23
II.3.7 Model Alur Komunikasi Harold D Laswell
Mulyana (2002) menyatakan “Model adalah representasi suatu fenomena, baik
nyata ataupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena
tersebut”. Jadi model bukanlah fenomena atau realitas itu sendiri. Model hanya
gambaran tentang fenomena atau realitas yang telah disederhanakan. Model hanya
mengambil aspek atau ciri-ciri tertentu dari realitas yang dianggap umum, penting
dan relevan. Karena alasan ini maka sebuah konstruksi model tidak pernah
sempurna. Namun begitu, model memiliki manfaat untuk memudahkan
pemahaman tentang proses berlangsungnya suatu hal.
Model komunikasi untuk kampanye Harold D Laswell adalah salah satu dari
model alur komunikasi untuk kampanye yang prosesnya mendekati kampanye
sosial yang ditujukan dilakukan untuk solusi dari meningkatkan kesadaran orang
tua untuk berkomunikasi lebih terbuka dengan anaknya.
Tabel II.3 Model Komunikasi Harold D. Laswell
Menurut Cangara (2014), Harold D Laswell memperkenalkan lima formula
komunikasi untuk terjadinya komunikasi , yaitu :
• Who, yaitu berkenaan dengan siapa yang berbicara.
• Say What, yaitu pesan apa yang ingin disampaikan.
• In What Channel, yaitu melalui saluran seperti apa.
• To Whom, yaitu pesan ditujukan untuk siapa.
• With What Effect, yaitu pengaruhnya seperti apa. (h. 46).
II.4 Target Khalayak
Menurut Antar Vernus “Khalayak terdiri dari kelompok-kelompok atau sub-sub
kelompok yang disamping memiliki sejumlah kesamaan sekaligus juga memiliki
keragaman baik dari segi demografis, maupun psikografis”. Keragaman inilah
24
yang memunculkan perbedaan keinginan, kebutuhan dan cara mereka merepons
lingkungan. Atas dasar ini maka menjadi tidak realistis bila memperkelakukan
mereka sama.
Menurut teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori
perkembangan psiko-sosial. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan
psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah
perasaan sadar yang dikembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson,
perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru
yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya
bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu
perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut
sebagai teori perkembangan psikososial.
Erikson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang
bertingkat/bertahapan. Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui
oleh manusia.
1. Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun)
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri. Fokus terletak
pada Panca Indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan
pelukan.
2. Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa
'nakal'-nya. sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering
berlari-lari dalam Sekolah Minggu.Namun kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu
saja, karena ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan
kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), sehingga yang diperlukan
justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik
dan mentalnya. Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang
25
3. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)
Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga
berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan
inisiatif/ide, sampaipada hal-hal yang berbau fantasi.Mereka sudah lebih bisa
tenang dalam mendengarkan Firman Tuhan di Sekolah Minggu.
4. Industri/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)
Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk
belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan
menuntut perhatian.
5. Fidelity-Identitas><KebingunganPeran(12-20 tahun)
Mempertanyakan diri. Siapa aku, bagaimana saya cocok? Di mana aku akan
hidup? Erikson percaya, bahwa jika orang tua membiarkan anak untuk
mengeksplorasi, mereka akan menyimpulkan identitas mereka
sendiri. Namun, jika orang tua terus mendorong dia untuk menyesuaikan diri
dengan pandangan mereka, para remaja akan menghadapi kebingungan
identitas.
6. Keintiman><Isolasi (20-24 tahun)
Ini adalah tahap pertama dari pembangunan dewasa. Perkembangan ini
biasanya terjadi pada dewasa muda, yaitu antara usia 20 sampai 24. Kencan,
pernikahan, keluarga dan persahataban yang penting selama tahap dalam
kehidupan mereka. Dengan behasil membentuk hubungan penuh kasih dengan
orang lain, individu dapat mengalami cinta dan keintiman. Mereka yang gagal
untuk membentuk hubungan yang langgeng mungkin merasa terisolasi dan
sendirian.
7. Generativitas><stagnasi (25-64 tahun)
Ini adalah tahap kedua dari masa dewasa dan terjadi antara usia 25-64. Selama
ini orang biasanya menetap dalam hidup mereka dan tahu apa yang penting
bagi mereka. Seseorang baik membuat kemajuan dalam karir mereka atau
menginjakringan dalam karir mereka dan tidak yakin apakah ini adalah apa
yang mereka ingin lakukan selama sisa hidup mereka bekerja. Juga selama
waktu ini, seseorang menikmati membesarkan anak-anak mereka dan
26
seseorang tidak nyaman dengan cara hidup mereka mengalami
kemajuan, mereka biasanya menyesal tentang keputusan dan merasakan rasa
tidak berguna.
8. Egointegritas><putus asa (65 tahun > )
Tahap ini mempengaruhi kelompok usia 65 dan, selama waktu ini individu
telah mencapai bab terakhir dalam hidup mereka dan pensiun mendekati atau
telah terjadi. Banyak orang, yang telah mencapai apa yan gpenting bagi
mereka, melihat kembali kehidupan mereka dan merasa prestasi besar dan rasa
integritas. Sebaliknya, mereka yang memiliki waktu sulit selama pertengahan
masa dewasa mungkin melihat ke belakang dan merasakan perasaan putus asa.
Berdasarkan Teori Erik H. Erikson mengenai fase-fase dewasa dalam
perkembangan jiwa manusia dalam psikologi pekermbangan, target audiens untuk
kampanye sosial ini adalah sebagai berikut:
• Demografis :
Usia sekitar 30-50 tahun
Jenis Kelamin pria dan wanita
Pendidikan SMA- Perguruan Tinggi
• Psikografis :
Orang dewasa/orang tua yang kesehariannya menghabiskan waktu diluar
rumah, bekerja dikantor. Status sosialnya dari kelas menengah sampai
menengah keatas. Merupakan orang dewasa yang biasanya selama ini menetap
dalam hidup mereka dan tahu apa yang penting bagi mereka. Juga selama
waktu ini, seseorang menikmati membesarkan anak-anak mereka dan
berpartisipasi dalam kegiatan, yang memberikan mereka rasa tujuan dan yang
giat bekerja untuk membahagiakan keluarga dan anaknya, pekerja keras.
• Geografis :
Daerah Bandung kota, yang merupakan tempat paling padat penduduk dan
paling banyak orang dewasa yang menghabiskan waktunya di tempat
27
II.5 Analisa
Metode analisa yang digunakan dalam masalah ini adalah 5W + 1H yang
ditemukan oleh Rudyard Kipling.
Tabel II.4 Analisis Data Menggunakan 5W1H
What Komunikasi orang tua dan anak
Why
Oang tua melupakan pentingnya
memperhatikan anak dalam penggunaan
fasilitas seperti internet dan gadget
dimana anak masih belum bisa
membedakan mana yang baik dan
buruk sendiri.
Anak juga menjadi lupa waktu bersama
keluarga, maka dari itu perhatian
berupa waktu bersama dengan orang tua
menjadi sangat penting.
When Masalah ini terjadi sejak maraknya
pengguna smartphone saat ini dan akses
internet yang semakin mudah.
Where
Rumah adalah tempat utama paling
seringnya terjadi masalah komunikasi
orang tua dan anak ini.
Who
Orang tua yang sibuk bekerja dan anak
remaja 13-19 tahun yang kurang
perhatian
How
Untuk memperbaiki komunikasi orang
tua dan anak yang tidak berjalan dengan
baik ini, orang tua harus mulai sadar
seperti apa komunikasi yang baik
28
Dalam permasalahan sosial ini kampanye sosial bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran komunikasi yang lebih baik antara orang tua dan anak. Hal ini menjadi
perlu dilakukan karena kesadaran akan hal tersebut masih rendah dan akibat dari
ketidakmampuan orang tua untuk menyadari kekuranganya dalam mendidik
anaknya, permasalahan ini diangkat karena orang tua juga perlu sadar akan
kekurangannya dalam mendidik terutama disini adalah komunikasi. Alasan
kampanye sosial dipilih sebagai media komunikasi karena bersifat khusus dan
sering berkaitan dengan masyarakat juga merupakan media komunikasi yang juga
bersifat ajakan.yang nanti akan langsung ditujukan pada orang tua, untuk mulai
memperhatikan anak-anaknya terutama dalam komunikasidan bagaimana orang
29 BAB III
STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL
III.1 Strategi Perancangan
Kampanye sosial adalah aktivitas komunikasi yang terencana untuk memberikan
informasi, mendidik, meyakinkan dan mempengaruhi individu-individu dalam
jumlah besar atau kelompok masyarakat dengan menggunakan berbagai media
(televisi, radio, majalah, surat kabar, dan lain sebagainya) agar memenuhi target
yang ingin dicapai pada satuan waktu tertentu. (Venus Antar, 2004)
Strategi perancangan yang akan dilakukan dan diuraikan dari permasalahan
mengenai komunikasi orang tua dan anak, yaitu membuat media kampanye yang
akan dilakukan selama satu tahun dengan tahap pertama pada empat bulan
pertama yaitu bertujuan untuk mengingatkan dan mengajak orang tua untuk mulai
memperhatikan anaknya dalam kegiatan sehari-hari dengan melakukan aktivitas
keluarga dirumah yang menyenangkan. Orang tua diharapkan bisa berkomunikasi
yang baik dengan anak agar tidak melupakan tata nilai yang ada di Indonesia
karena terpengaruh budaya luar melalui pemberian fasilitas seperti internet atau
smartphone.
III.1.1 Tujuan Komunikasi
Adapun tujuan komunikasi dari kampanye ini adalah sebagai berikut:
• Menyadarkan para orang tua terutama yang sibuk bekerja untuk peduli pada komunikasi yang baik dengan anak.
• Melakukan kampanye berupa aktivitas keluarga yang menyenangkan yang sangat dipengaruhi perkembangan jaman yang sedang banyak digandrungi
banyak orang.
III.1.2 Pendekatan Komunikasi
John Wistrand (1974) berpendapat bahwa “desain harus merupakan desain
keseluruhan yang melihat pada proyek atau produk, dan mencoba
30 yang berguna dan tidak hanya menentukan penampilan saja. kesan petama adalah
kepentingan yang harus dipertimbangkan berbagai bidang sehingga menjadi lebih
baik dan benar-benar berguna.
Pendekatan komunikasi yang akan dilakukan dalam perancangan kampanye sosial
mengenai komunikasi orang tua dan anak ini akan dimulai dengan pendekatan
emosional yang betujuan membangkitkan sisi negatif atau positif dari emosi target
khalayak sehingga dapat memotivasi dan melakukan reaksi yang diharapkan dari
kampanye ini.
Gambar III.1 Poster Melalui Pendekatan Emosional Bagi Perokok Sumber : pixshark.com(26/04/2015/23.03)
Diatas ini adalah salah satu contoh gambar poster sebagai referensi dari
pendekatan komunikasi secara emosional, karena menunjukan akibat kedepannya
bagi perokok jika terus menerus merokok.
III. 1.3 Materi Pesan
Dalam penyampaian kampanye sosial ini dibutuhkan materi pesan yang akan
disampaikan sebagai pesan dari kegiatan kamapanye ini. Adapun materi yang
ingin disampaikan adalah: “Kebahagiaan lahir dan batin anak seharusnya masih
31 III. 1.4 Gaya Bahasa
Gaya bahasa terbagi menjadi bahasa verbal dan non verbal. Bahasa verbal atau
secara lisan, yaitu komunikasi yang dilakukan dengan cara berbicara kepada satu
sama lain. pada jenis komunikasi ini dipergunakan pengucapan maupun
bunyi-bunyian serta telinga pendengaran sebagai sensasi dengar. Bahasa lisan
menggunakan bahasa yang biasa dipakai atau syang di dengar seperti bahasa
daerah, bahasa Indonesia, bahasa prokem, bahasa gaul, dsb. Sedangkan bahasa
nonverbal merupakan bagian dari komunikasi yang disampaikan secara visual.
(Kusrianto, 2009)
• Verbal
Gaya bahasa yang digunakan dalam kampanye sosial mendukung komunikasi
yang baik antara orang tua dan anak adalah bahasa verbal. Dimana dengan
menggunakan bahasa Indonesia yang santai dan umum ditelinga khalayak
sasaran dapat mempengaruhi khayalak sasaran. Meoliono (1979) “Mengarah
pada majas retorik adalah gaya bahasa berupa kalimat tanya yang tidak
memerlukan jawaban, tujuannya untuk memberikan penegasan, sindiran atau
menggugah”. Tujuannya dirasa sangat cocok dengan kampanye sosial ini yaitu
mengungkapkan secara langsung perbandingan analogis yang ada.
• Non Verbal
Visual yang akan digunakan dalam kampanye sosial ini adalah fotografi. Rudy
W. Herlambang menjelaskan “fotografi sangat efektif untuk mengesankan
keberadaan suatu tempat, orang atau produk. Sebuah foto mempunyai
kekuasaan walaupun realita yang dilukiskan kadangkala jauh dari keadaan
yang sesungguhnya”. Kelebihan dengan menggunakan fotografi, yaitu:
• Memperoleh image objek sebenarnya dengan proporsi yang dapat diatur baik warna, cahaya, maupun detailnya.
• Pengaruh model sangat kuat untuk menarik minat konsumen sehingga pengambilan gambar untuk mengangkat karakter model dapat
32
• Menunjang kebutuhan informasi dalam bentuk visual dalam media cetak maupun elektronik.
Adapun alasan pemilihan visual menggunakan fotografi berdasarkan khalayak
sasaran yang merupakan orang dewasa. Berdasarkan teori perkembangan dewasa
menurut Anderson bahwa orang dewasa dan matang memiliki sifat yang objektif
yaitu berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan
kenyataan dan memiliki kemauan yang realistis.
Maka dari itu fotografi yang menghasilkan visual yang sebenarnya dirasa akan
langsung menggugah perasaan khalayak sasaran yang lebih mengedepankan
kenyataan dan realitas yang apa adanya.
III. 1.5 Khalayak Sasaran Perancangan
• Consumer Insight
Pria atau wanita dewasa, sudah berumah tangga, 30-50 tahun seorang pegawai
kantor baik negeri maupun swasta dikalangan menengah.
Orang tua mengharapkan anaknya dapat menjadi anak yang sopan santunnya
tinggi, penurut dan tidak kekurangan kasih sayang jika komunikasi dengan
anak dapat berjalan dengan baik. Sedangkan jika komunikasi tidak berjalan
dengan baik orang tua khawatir anak akan menjadi tertutup, mendapatkan
pengaruh buruk dari luar seperti melalui fasilitas internet atau smartphone
yang sudah diberikan orang tuanya dan juga tidak hormat lagi pada orang
33 Gambar III.2 Suasana Ruang Kerja Pegawai Kantor
Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar III.3 Suasana Ruang Kerja Pegawai Kantor 2
Sumber: Dokumen Pribadi
• Consumer Journey
Tabel III.1 Consumer Journey
Waktu Aktifitas Konsumen
Tempat Point Of Contact
04.30
05.00
Bangun Tidur
Mandi
Kamar Tidur
Kamar Mandi
Kasur, Bantal,
Guling, Selimut,
Meja Rias,
Lemari Baju,
Jam Alarm
36
III. 1.6 Strategi Kreatif
Dibutuhkan strategi kreatif untuk dapat menarik khalayak sasaran kampanye yaitu
orang tua yang sibuk bekerja. Mengajak orang tua untuk melakukan kegiatan yang
menyenangkan dengan anak ketika berada dirumah untuk membuat komunikasi
orang tua dan anak lebih baik. Kegiatan yang akan dilakukan ini adalah berupa
event untuk yang mengajak untuk mengunggah foto kebersamaan antara orang tua
dan anak dalam kegiatan yang menyenangkan dan setelah foto diunggah akan
diberikan hadiah menarik bagi foto terbaik, berupa liburan keluarga di tempat
wisata Kampung Gajah yang menyediakan banyak wahana menarik yang bisa
dimainkan bersama. Adapun sosialisasi event melalui media dengan penggunaan
visual yang berbeda-beda pada media utama dan setiap media pendukung
dimaksudkan agar masyarakat lebih mudah menangkap maksud dari hubungan
antara headline dan visual.
Khalayak sasaran tidak akan langsung diminta mengunggah foto begitu saja.
Khalayak sasaran akan mendapatkan informasinya terlebih dulu dimulai dari
37 dan anak, lalu booth yang akan ditempatkan di tempat ramai seperti mall, car free
day, toserba, toko buku dan tempat ramai yang biasa didatangi khalayak sasaran.
Booth akan menyediakan informasi berupa brosur lalu khalayak sasaran akan
diarahkan pada pemberian gimmick untuk mendukung kampanye dengan
mengikuti page facebook kampanye. Setelah itu diharapkan khalayak sasaran
akan mengunggah foto kebersamaan orang tua dan anak di page facebook dan
juga diharapkan menyebarkan keberadaan kampanye sosial ini di media sosialnya.
• Copywriting “Keluarga Peduli”
• Pembuatan Tagline
Konsep kreatif dari pembuatan taglineini berdasarkan khalayak sasaran yang
masih belum menyadari pentingnya kebersamaan bersama anak maka dari itu
adapun slogan headline yang ingin disampaikan dalam kampanye sosial ini
adalah sebagai berikut:
“Kalau begini lebih baik, kenapa engga?”
Ajakan ini ingin mengatakan bahwa kebersamaan orang tua dan anak dapat
dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa harus beralasan atau
mempermasalahkan apapun. Setelah khalayak membaca ini diharapkan dapat
menggugah perasaan dan kesadaran khalayak sasaran.
• Pencarian Visual
Pencarian gagasan visual berdasarkan pesan yang ingin disampaikan oleh
kampanye sosial yaitu: “Kebahagiaan lahir dan batin anak seharusnya masih
dalam tuntunan orang tua ketika anak masih dalam proses beranjak dewasa dan
membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya”. Visual yang diharapkan
adalah yang memberikan kesan menyenangkan tetapi juga dapat menggugah
hati dan pikiran khalayak sasaran. Gambaran yang ingin ditampilkan adalah
situasi yang bahagia dan menyenangkan ketika orang tua dan anak melakukan
38 kebersamaan orang tua dan anak satu sama lain dan tidak menutup
kemungkinan komunikasi verbal pun akan berjalan dengan baik.
III. 1.7 Strategi Media
Rohani (1997) menjelaskan “media adalah medium yang digunakan untuk
membawa/menyampaikan suatu pesan di mana medium ini merupakan jalan atau
alat dengan suatu pesan berjalan antara komunikator dengan komunikan”.
Media yang akan digunakan dipilih berdasarkan AISAS (Attention, Interest,
Search, Action & Share), karena saat ini sudah terjadi pergeseran perilaku
konsumen, yaitu setelah mengetahui keberadaan suatu event atau produk,
konsumen atau khalayak sasaran akan terlebih dulu mencari informasi mengenai
event atau produk tersebut lebih dulu sebelum mengikuti event atau membeli
produknya. Gambaran media yang akan digunakan dalam kampanye sosial ini
adalah media sosialisasi seperti poster, booth, flyer, billboard dan spandukyang
akan mengajak khalayak sasaran untuk mengunggah foto kebersamaan bersama
keluarganya di media dan bagi pemenang akan mendapatkan hadiah utama yang
menarik.
Kegiatan ini diharapkan dapat mendekatkan orang tua dan anak dalam komunikasi
dengan melakukan aktivitas keluarga yang menyenangkan karena anak terlahir
dengan keyakinan belajar itu menyenangkan karena bermain. (Setyawan, 2014,
h.107)
Tabel III.2 Pemilihan Media Berdasarkan AISAS
Attention Interest Search Action Share
39 III. 1.7.1 Pemilihan Media
• Poster, Iklan display yang dicetak pada kertas. Akan ditempel di kantor, supermarket dan tempat-tempat orang dewasa atau orang tua melakukan
kegiatan sehari-hari. Alasan media ini dipilih karena dapat dilihat dengan
mudah, baik tagline, visual maupun informasinya.
• Booth, panggung mini beserta aksesoris didalamnya yang digunakan sebagai ajang promosi produk, jasa, branding maupun sosial. Akan diletakkan di mall
atau tempat banyak orang berkumpul dan juga untuk memberikan informasi
juga gimmick yang disediakan.
• X-Banner, Penyampai informasi berbentuk banner dengan penyangga X. Akan ditempatkan bersama dengan booth dan memberikan informasi yang
lebih jelas mengenai kegiatan kampanye yang sedang dilakukan.
• Spanduk/Umbul-umbul, Kain rentang slogan/tagline produk, jasa maupun sosial. Akan dipasang dipinggir jalan raya di daerah perkantoran dan daerah
sekitar lalu lintas seperti lampu merah karena ukuran yang besar maka akan
lebih mudah dilihat olah khalayak sasaran yang setiap hari melewati jalan
raya.
• Billboard, media yang besar dan akan ditempatkan dijalan raya atau jalan tol tempat khalayak sasaran akan dapat melihatnya dengan mudah dan jelas.
• Brosur Selebaran yang akan diberikan pada khalayak sasaran untuk memberikan informasi detail yang lebih jelas mengenai kampanye sosial ini.
• Merchandise, Promosi prduk dengan mencantumkan logo perusahaan atau produk. Merchandise disini berupa:
Mug Set “Keluarga”, pada mug ini akan bertuliskan ayah, ibu, kakak dan
adik yang dimaksudkan untuk menunjukan mug ini milik siapa dalam suatu
keluarga dan agar keakraban orang tua dan anak akan lebih baik karena
memiliki benda pakai yang sama. Alasan mug ini dipilih karena untuk orang
dewasa bisa digunakan dirumah maupun kantor dan dapat menjadi pengingat
mengenai keluarganya.
40
• Notebook, notebook dipilih karena digunakan untuk menulis catatan dan dapat menjadi media pengingat yang baik karena digunakan setiap
diperlukan.
• Stiker, kertas tempelan yang dapat di tempel dimana saja sesuai keinginan.
• Kalender, bagi orang tua yang bekerja dikantor kalender duduk akan lebih mudah dilihat ketika bekerja karena diletakkan diatas meja kerja.
• Gantungan kunci, media ini dapat digunakan sebagai media pengingat yang dapat ditempelkan pada beberapa benda yang digunakan sehari-hari
seperti kunci rumah, kunci motor, kunci kamar dan lain-lain.
• Internet, berupa media sosial seperti facebookdan twitter. Tempat orang tua dan anak akan mengunggah fotonya dan mendapatkan informasi yang lebih
jelas mengenai kampanye sosial ini.
III. 1.8 Strategi Distribusi
Berdasarkan target audien yang tinggal di kota Bandung dan sibuk bekerja, maka
penyebaran media berdasarkan pada waktu jam istirahat kantor di mall, toko buku,
akhir pekan, acara mingguan seperti car free day, dan hari libur yang
berhubungan dengan keluarga seperti hari ibu atau hari anak. Pada hari-hari
seperti itulah waktu yang cocok untuk melakukan kampanye sosial
komunikasiorang tua dan anak. Waktu penyelenggaraan kampanye ini akan
lakukan selama 4 bulan, pada bulan Juli sampai Oktober. Alasannya pada bulan
Juli bertepatan dengan hari anak nasional yang sangat cocok dengan tujuan
kampanye yaitu mengingatkan orang tua tentang komunikasi yang baik dengan
anak. Dibawah ini adalah tabel distribusi dan penyebaran kampanye sosial yang
41 Tabel III. 3 Jadwal Penyebaran Kampanye Sosial Tahap Reminding
Tabel III. 2 Jadwal Penyebaran Kampanye Sosial Tahap Persuading
III. 2 Konsep Visual
Konsep visual merupakan konsep yang dimulai dari pendekatan verbal dan
diwujudkan dalam bentuk visual. Dalam konsep visual kampanye ini disesuaikan
dengan segmentasi khayalak sasaran yaitu orang dewasa berusia 30-40 tahun,
pegawai kantor swasta maupuan negeri. Visual yang akan ditonjolkan disini
adalah fotografi yang menurut Menurut Rudy W. Herlambang, fotografi
42 khalayak sasaran yang lebih mengedepankan kenyataan dan realitas yang apa
adanya. Adapun warna solid cerah yang dipakai untuk memberikan kesan yang
tidak terlalu serius karena kampanye ini bertujuan mengajak orang tua untuk lebih
dekat dengan anak.
III. 2.1 Format Desain
Format desain yang digunakan bersifat asimetris, dimana letak unsur visual
berbeda-beda. Baik gambar, headline, atau teks letaknya berubah sesuai
komposisi media yang digunakan. Adapun penggunaan keseimbangan asimetris
untuk memberikan kesan yang tidak kaku atau santai. (Lia Anggraini & Kirana
Nathalia, 2014, h.76)
III. 2.2 Tata Letak (Lay Out)
Lay out yang digunakan pada setiap media kampanyenya yaitu, portrait dan
landscape. Unsur-unsur seperti logo kampanye atau lembaga yang mendukung
penempatannya akan disesuaikan dengan tata letak objek utama pada visual.
Begitu juga penjelasan rinci mengenai kampanye sosial ini juga akan disesuaikan
lagi mengikuti visualnya.
III. 2.3 Huruf
Adapun jenis huruf yang digunakan disini adalah sans serif yang melambangkan
kesederhaan, lugas, dan masa kini. (Lia Anggraini & Kirana Nathalia, 2014, h.60)
Kemudian font yang digunakan dalam poster kampanye sosial Keluarga Peduli ini
adalah yaitu:
o Rumpelstiltskin, sebagai headline, sesuai sebagai font headline karena tidak terlalu formal dengan bentuk huruf yang tidak beraturan tapi tetap terbaca
dengan jelas. Agar ajakan bagi orang tua untuk menghabiskan waktu bersama
43
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
abcdefghijklmnopqrstuvwxyz 0123456789
.,;:/?&[]!#$%()*<>
o glen bold, digunakan untuk bodycopy dan keterangan karena juga bentuk huruf yang tidak terlalu formal tapi tetap terbaca dengan jelas maka dari itu
sesuai untuk menjelaskan keterangan yang panjang.
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
0123456789
III. 2.4 Ilustrasi
Visual yang akan digunakan dalam kampanye sosial ini adalah fotografi. Menurut
Rudy W. Herlambang, fotografi sangat efektif untuk mengesankan keberadaan
suatu tempat, orang atau produk. Sebuah foto mempunyai kekuasaan walaupun
realita yang dilukiskan kadangkala jauh dari keadaan yang sesungguhnya.
Kelebihan dengan menggunakan fotografi, yaitu:
• Memperoleh image objek sebenarnya dengan proporsi yang dapat diaturbaik warna, cahaya, maupun detailnya.
• Pengaruh model sangat kuat untuk menarik minat konsumen sehingga pengambilan gambar untuk mengangkat karakter model dapat dimanfaatkan
untuk keperluan komunikasi visual periklanan.
44 Gambar III.4 Poster Kampanye Komunikasi Orangtua dan Anak
Sumber: Dokumen Pribadi
III. 2.5 Warna
Sulastri Darmaprawira W.A. (2002) berpendapat “bahwa warna mempunyai
pengaruh terhadap emosi dan asosiasinya terhadap macam-macam pengalaman,
maka setiap warna mempunyai arti perlambangan dan makna yang bersifat mistik.
Warna secara emosional mempunyai simbol sesuai dengan fungsi dan
penerapannya”.
Eko Nugroho (2008) menyatakan bahwa dalam psikologis warna, “warna diyakini
mempunyai dampak psikologis terhadap manusia. Dampak tersebut dapat
dipandang dari berbagai aspek, baik aspek pancaindera, aspek budaya, dan
lain-lain”.
Warna yang dipilih dalam kampanye sosial keluarga peduli ini adalah:
• Biru Muda
Warna biru muda menurut psikologi memiliki arti kernihan pikiran dan
45
• Biru Tua
Warna biru menurut psikologi memiliki sifat dingin dan damai lalu
melambangkan harapan, keakraban dan kebersamaan.
• Kuning
Warna kuning menurut psikologi memiliki sifat terang, ceria, dan hidup, lalu
melambangkan keceriaan dan kegembiraan.
Gambar III.5 Warna Pada Poster