• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran diri wanita karir yang belum menikah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran diri wanita karir yang belum menikah"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Oleh

ERSYAU SAPTIANISARI

103070028991

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Psikc>logi (S.Psi)

Pembimbing I

Oleh

ERSYALI SAPTIANISARI.

103070028991

Di Bawah Bimbingan:

Pembimbing II

Yufl Adriani, M.Psi,Psi

FAKULTAS PSIKOLOGI

"

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

MENIKAH telah diujikan dalam sidang munaqasyah fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 27 Desember 2007. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.

Jakarta, 27 Desember 2007

Sidang Munaqasyah

M.Si

Anggota: Penguji I

M.Si

Pembimbing I

エセァNms[@

NIP. 150 215 283

Sekretaris Merangkap Anggota

M.Si NIP. 150 238 773

Penguji II

セセセᄋ@

Neneng Tati Sumiati. M.Si NIP. 150 300 679

Pembimbing II

セ@

(4)

Kebutuhan pribadi yang mendasar dari setiap orang adalah untuk

menganggap dirinya sebagai pribadi yang berharga.

(Lawrence J. Crabb Jr)

Kualitas kehidupan kita

10%

ditentukan oleh apa yang 1'erjadi pada diri

kita, dan

90'/'o

ditentukan oleh bagaimana kita mencmggapi

kejadian-kejadian tersebut.

(Andrias Harefa)

Allah tak pernah menjanjikan langit senantiasa biru, seluruh jalan hidup

dipenuhi bunga-bunga. Allah tidak menjanjikan matahc1ri tanpa hujan;

kebahagiaan tanpa kesedihan, kedamaian tanpa penderitaan. Tapi

percayalah bahwa Allah memberikan kita kekuatan setillp hari, cita-cita

dan cinta untuk menjalani hidup dan kerja keras untUJk selalu maju.

(Pepatah Lama)

SR,_,ripsi

ini

セーLャヲ・、ゥサ。ウゥAサァョ@

untul(,

Papa, :Mama/(,u tersaya11{]

(5)

(A) Fakultas Psikologi (8) Desember 2007 (C) Ersyali Saptianisari

(D) Gambaran Diri Wanita Karir yang Belum Menikah (E) xiv + 83 halaman

(F) Latar belakang:

Dari tahun ke tahun semakin meningkat wanita tidak menikah di Indonesia. lni disebabkan oleh tingkat pendidikan yang tinggi, dan lapangan pekerjaan yang luas dari tahun sebelumnya. Kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan meniti karir pada wanita perkotaan membuat mereka tidak tergesa-gesa dalam menentukan pilihan untuk berumah tangga. Bagi sebagian masyarakat, wanita yang berusia 30 tahun atau lebih dan belum menikah, akan diberi label yang kurang enak, seperti tidak laku, perawan tua, sibuk mengejar karir dan sebagainya. Terkadang orang tua pun turut merasa malu kalau putri mereka belum menikah. Adanya masyarakat yang cenderung memberikan penilaian yang negatif terhadap wanita yang belum menikah, dapat menyebabkan wanita ini juga memiliki pikiran yang negatif terhadap dirinya. Dari sinilah muncul problem kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Dari penjelasan diatas dapat diasumsikan bahwa pada wanita karir yang belum menikah biasanya memiliki perasaan dan pikiran negatif, seperti menjaga jarak dengan lingkungan sekitar, kurang percaya diri. Untuk itulah seringkali akan muncul masalah yang berkaitan dengan

gambaran diri yang tidak benar. Namun, di lain pihak banyak pula masyarakat ataupun orang tua yang menganggap wanita yang belum menikah sebagai hal yang biasa saja, sehingga wanita yang belum menikah tersebut tetap memiliki rasa percaya diri.

Gambaran diri adalah penjelasan akan keadaan diri sendiri maupun pikiran kita tentang pandangan orang lain terhadap diri kita. Definisi sederhana atas gambaran diri adalah jawaban individu atas

(6)

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Subyel< penelitian dipilih dengan menggunakan purposive sampling (sampel bertujuan). Peneliti memilih

3

wanita karir berusia madya dan belum menikah. Teknik

pengumpulan data adalah wawancara dan observasi. Peneliti juga menggunakan alat bantu berupa tape recorder dan alat tulis. Setelah data dianalisa dan diinterpretasi, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 2 dari

3

subyek memiliki gambaran diri yang baik. Sementara

1

subyek lainnya memiliki gambaran diri yang tidak benar. Karena memiliki gambaran diri yang tidak benar ini hubungannya dengan sesama akan terhambat.

Bagi wanita karir yang belum menikah, teruslah b13rkarya. Diharapkan kepada masyarakat agar tidak memberikan penilaian negatif pada wanita karir yang belum menikah.

(7)

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan nikmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarganya,

sahabat-sahabatnya dan para pengikutnya.

Selama pembuatan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami penulis, baik yang menyangkut pengaturan waktu, pengumpulan bahan-bahan, dan lain sebagainya. Namun berkat kesungguhan disertai dorongan juga bantuan dari berbagai pihak, maka segala kesulitan itu dapat penulis hadapi.

Selanjutnya penulis sampaikan rasa horrnat dan terima kasih yang mendalam kepada:

1. lbu Dra. Hj. Netty Hartati, M.Si, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, serta lbu Dra. Hj. Zahrotun Nihayah, M.Si, Pembantu Dekan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Prof. DR. Hamdan Yasun, M.Si, dosen pembirnbing akadernik. 3. lbu Dra. Hj. Fadhillah Suralaga, M.Si, Pembimbing 1, yang telah

membimbing penulis dengan penuh perhatian dan keikhlasan serta selalu memberikan motivasi kepada penulis sehingga karya tulis ini selesaL

4. lbu Yufi Adriani, M.Psi, Psi, Pembimbing 2, yang selalu meluangkan waktu, mencurahkan pikiran serta menghadapi penulis dengan penuh kesabaran, sehingga karya tulis ini dapat terwujud.

5. Semua dosen yang telah memberikan berbagai disiplin ilmu dan membimbing penulis selama kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Semua pihak akademik dan perpustakaan, yang selalu membantu penulis dalam mendapatkan inforrnasi dan memenuhi kebutuhan yang penulis butuhkan untuk penelitian ini .

(8)

9. Kepada semua teman-teman psikologi angkatan 2003 yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih banyak atas persahabatannya yang indah selama ini. Sukses buat kalian!

10. Kepada semua responden, terima kasih telah meluangkan waktunya.

Keep up the good work girl .. !

11. Terima kasih buat orang-orang yang pernah penulis temui, baik yang penulis kenal maupun yang hanya melihat di televisi atau hanya membaca karyanya, karena telah memberikan banyak inspirasi untuk penulis.

12. I'd like to thank to Allah SWT again, especially for blessing me with this great opportunity and for giving me the strength to overcome my 20-something life dilemmas! Cheers .. !

13. Last but surely not least, thank to myself! YES .. ! I can do it! You go girl!

Penulis menyadari bahwa skripsi ini banyak kekurangan-kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritikan dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan skripsi ini. Dan hanya kepada Allah-lah akhirnya penulis berserah diri.

Jakarta, Desember 2007

(9)

Halaman Judul ... i

Halaman Persetujuan ... ii

Halaman Pengesahan ... iii

Motto dan Dedikasi. ... iv

Abstrak ... v

Kata Pengantar . . . .. .. . . .. . . .. . . .. .. . .. .. .. .. . .. .. .. .. . .. .. .. . .. .. .. .. .. .. .. .. . .. . .. .. vii

Daftar lsi ... ix

Daftar Tabel ... xii

Daftar Gambar ... xiii

Daftar Lampiran ... xiv

BAB1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1

1.2. ldentifikasi Masalah... ... .. . .. . .. . .. ... 5

1.3. Pembatasan dan Perumusan Masalah... .... .. .... .. . . .. .. . . .. 5

1.3.1. Pembatasan masalah .. .. .. .. .. .. .. . . .. . .. .. .. .. .. .. .. . ... 5

1.3.2. Perumusan masalah .. .. . .. .. .. .. .. . .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. 6

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian... .... .. .. . .. .. . .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. 6

1.4.1. Tujuan penelitian ... 6

1.4.2. Manfaat penelitian ... 7

(10)

2.1.3. Jenis-jenis konsep diri ... 13

2.1.4. Pandangan wanita tentang karir ... 16

2.1.5. Pandangan wanita tentang pria ... 17

2.1.6. Pandangan wanita tentang pernikahan dan keluarga .... 19

2.1.7. Dewasa madya ... 22

2.2. Wanita Karir... .... . . .. . . .. . . .. .. . . .. .. . . . .. . . .. 23

2.2.1. Definisi wanita karir ... 23

2.2.2. Kategori wanita karir ... 25

2.2.3. Manfaat berkarir bagi wanita ... 26

2.3. Pernikahan... .. . . .. ... .. .. . . ... ... . . . ... . . . ... . . .. . . .. . . 27

2.3.1. Definisi pernikahan ... 27

2.4. Kerangka Berpikir.... .. .... .. ... .. . . .. . .. . . 29

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis penelitian... .. . . .. . ... .. .. . ... . . . .. . . .. . . .. . . . ... . . .... 32

3.1.1. Pendekatan dan metode penelitian ... 32

3.2. Pengambilan subyek ... 33

3.2.1. Subyek penelitian ... 33

3.3. Teknik Pengumpulan Data... 35

3.3.1. Wawancara .. . . 35

3.3.2. Observasi ... 36

3.4. lnstrumen Pengumpulan Data ... 38

3.4.1. Pedoman wawancara . . . .. . . 38

3.4.2. Lembar observasi . . . .. 40

[image:10.595.33.458.95.682.2]
(11)

BABS

4.1. Gambaran Um um Subyek Penelitian... .. 45

4.2. Analisa Kasus Per Subyek... . 46

4.2.1. Kasus MM... 46

4.2.2. Kasus RS . . . ... . . 57

4.2.3. Kasus EL ... 66

4.3. Analisa Antar Kasus... .. . . .. . . . .. . . .. .. . .. . . .. . . ... . . . .. . 75

PENUTUP 5.1. Kesimpulan... .. . . .. .. . . .. . . .. . . ... . . 78

5.2. Diskusi... 79

5.3. Saran... 82

DAFT AR PUST AKA

(12)
[image:12.595.49.442.140.496.2]
(13)
[image:13.595.76.442.156.490.2]
(14)

Pengantar Wawancara Lampiran

2

Pernyataan Kesediaan Lampiran 3

Data Kontrol Lampiran 4

Lembar Observasi Lampiran 5

(15)

1.1. Latar Beiakang Masalah

Berdasarkan kenyataan yang peneliti perhatikan sendiri akhir-akhir ini, baik di media televisi maupun di lingkungan sekitar peneliti sendiri, bahwa cukup banyak wanita yang saat ini memilih untuk bekerja dan berkarir. Dalam media

cetak Pelita yang terbit pada hari Kamis 14 Juni 2007, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, mengatakan bahwa "60% dari 30 juta pengusaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia kini dikuasai oleh

wanita".

Fenomena itu menggambarkan semakin besamya jumlah wanita yang

bekerja dan semakin banyaknya wanita yang berhasil memasuki jenis-jenis pekerjaan yang selama ini jarang bahkan ada yang sama sekali belum pernah dimasuki kaum hawa. Mulai dari posisi pimpinan negara, top

(16)

Menurut data sensus dari Biro Pusat Statistik pada tahun 1980-2000 yang dibuat berdasarkan kelompok usia penduduk, wanita yang belum menikah jumlahnya adalah sebagai berikut:

Batas Usia 1980 1985 1990 2000 2005

30-34 60.216 113.356 156.799 598.945 873.526

35-39 31.537 48.683 73.456 201.163 549.781

40-44 19.494 27.204 38.165 82.980 197.874

45-49 12.138 19.599 25.267 30.745 36.923

Dari data tersebut menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun semakin meningkat wanita tidak menikah di Indonesia. lni disebabkan oleh tingkat

pendidikan yang tinggi, dan lapangan pekerjaan yang luas dari tahun

(17)

Perubahan zaman memang turut mewarnai sikap pada wanita. Kesetaraan pendidikan, kesempatan kerja, penghasilan yang bagus, luasnya キ。キ。セ。ョ@

dan cara berpikir global telah membuat wanita semakin percaya diri dan mandiri. Sehingga kalau sebelumnya masyarakat menganggap peran wanita

yang sebenar-benarnya adalah peran domestik atau peran di dalam rumah, saat ini sudah merupakan hal yang biasa bila wanita juga dapat mengerjakan

pekerjaan lain selain pekerjaan rumah . Dradjat S Soemitro, staf pengajar Fakultas Psikologi Sosial UI, mengatakan bahwa "Kini peran gender tradisional berubah menjadi gender modern" (www.e-psikologi.com).

Jadi, kalau dulu wanita hanya cocok dianggap sebagai ibu rumah tangga

yang juga selalu ikut berpartisipasi melakukan kegiatan ekonomis yang menjadi sumber penghasilan bagi keluarga, misalnya dalam masyarakat tani, wanita-lah yang melakukan kegiatan seperti menanam padi, memelihara

tanaman, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan mencangkul, berburu, dilakukan oleh pria. Sekarang ini, kegiatan yang tadinya hanya dianggap cocok

dilakukan oleh pria, dapat pula dilakukan oleh wanita.

(18)

Terkadang orang tua pun turut rnerasa rnalu kalau putri mereka belurn rnenikah. Adanya rnasyarakat yang cenderung rnernberikan penilaian yang negatif terhadap wanita yang belurn rnenikah, dapat rnenyebabkan wanita ini juga rnerniliki pikiran yang negatif terhadap dirinya. Dari sinilah rnuncul

problem kurang percaya diri, dan hobi rnengkritik diri sendiri.

Dari penjelasan diatas dapat diasurnsikan bahwa pada wanita karir yang belurn rnenikah biasanya rnerniliki perasaan dan pikiran negatif, seperti

rnenjaga jarak dengan lingkungan sekitar, kurang percaya diri. Untuk itulah seringkali akan muncul masalah yang berkaitan dengan garnbaran diri yang tidak benar. Narnun, di lain pihak banyak pula rnasyarakat ataupun orang tua

yang menganggap wanita yang belum menikah sebagai hal yang biasa saja, sehingga wanita yang belum menikah tersebut tetap merniliki rasa percaya diri.

Dari beberapa penjelasan di atas, rnaka peneliti tertarik untuk rnelakukan

(19)

1.2. ldentifikasi Masalah

ldentifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut? 1. Apakah yang dimaksud dengan gambaran diri?

2. Siapakah yang dimaksud dengan wanita karir? 3. Faktor apa yang mempengaruhi gambaran diri?

4. Bagaimana gambaran diri wanita karir yang belum menikah?

1.3. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.3.1. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis membuat pembatasan masalah. Hal ini

bertujuan untuk menghindari terjadinya perluasan materi yang akan dibahas.

Adapun pembatasan masalahnya adalah sebagai berikut:

1. Gambaran Diri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pikiran

(20)

2. Wanita karir yang dimaksud dalam penelitian ini adalah wanita yang memperoleh atau mengalami per1<embangan dan kemajuan dalam pekerjaan, jabatan, dan lain-lain. Bekerja apa saja, asal

mendatangkan suatu kemajuan dalam kehidupannya, itulah yang dinamakan karir (Pandji Anoraga, 2006).

3. Belum menikah yakni belum pemah melakukan upacara pengikatan

janji nikah (Olds, 1986).

1.3.2. Perumusan Masalah

Bertolak dari hal di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah: Bagaimanakah gambaran diri wanita karir yang belum menikah?

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4.1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan dan agar penelitian ini menjadi lebih terarah secara jelas, maka perlu ditetapkan tujuannya sebagai berikut:

(21)

1.4.2. Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang psikologi mengenai gambaran diri

wanita karir yang belum menikah. Sedangkan manfaat praktis dalam

penelitian ini adalah memberikan informasi kepada wanita karir dan kepada masyarakat tentang gambaran diri wanita karir yang belum menikah. Serta dapat dipakai sebagai pedoman di dalam penelitian secara lebih lanjut.

1.5. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini mengacu pada pedoman

penyusunan dan penulisan skripsi Fakultas Psikologi (UIN) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2004). Penulisan penelitian ini dibagi menjadi beberapa bab yang terdiri atas:

1. Bab 1: Pendahuluan, yang meliputi: latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

(22)

dan dewasa madya. Wanita karir yang terdiri dari definisi wanita karir, dan manfaat berkarir bagi wanita. Pernikahan yang terdiri dari definisi

pernikahan, dan kerangka berpikir.

3. Bab 3: Metodologi Penelitian, yang meliputi: jenis penelitian yang terdiri dari pendekatan dan metode penelitian. Subyek penelitian yang terdiri dari teknik pengambilan subyek dan karakteristik subyek. Teknik pengumpulan data yang terdiri dari metode dan instrumen pengumpulan data, teknik

analisa data, serta prosedur penelitian.

4. Bab 4: Presentasi dan analisa data, yang meliputi: gambaran umum subyek. Analisa kasus per subyek, yang terdiri dari イゥョセQォ。ウ。ョ@ hasil

observasi subyek, ringkasan hasil wawancara subyek, dan analisa data hasil wawancara serta analisa antar kasus.

(23)

2.1. Gambaran Diri

[image:23.595.28.446.152.482.2]

2.1.1. Definisi gambaran diri

Gambaran diri berawal dari pengertian diri atau self itu sendiri. Robert E.L Faris (dalam Sarlito, 1997) mengatakan bahwa "Ma11 is not born with a self, or

'

with conciousness of self. Each person becomes

oh

object to himself by

virtue of an active process of discovery the material for building a conception of self is acquired in the process of interaction with other persons. The self is defined in the reactions of others." Pendapat di atas menunjukkan bahwa self

(24)

kita tentang pandangan orang lain terhadap diri kita (Valentina, 2004). Definisi sederhana atas gambaran diri adalah jawaban individu atas pertanyaan berikut "what do you believe people think about you?" Jadi, apa yang orang lain nilai tentang diri kita. Gambaran diri ini turut menentukan seperti apa diri kita jadinya (Edwin Louis, 2005). Gambaran diri ini terbentuk bertahun-tahun selama kita hidup. Meskipun demikian, hal ini

dapat diubah dan diganti sesuai dengan gambaran diri yang diinginkan.

Sehubungan dengan gambaran diri ini, kita harus membedakannya dengan istilah konsep diri. Gambaran diri terbentuk berdasarkan penglihatan orang lain terhadap diri kita; jadi, pandangan dari luar. Sebaliknya konsep diri, merupakan sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri; jadi pandangan dari dalam (Valentina, 2004).

Faktor-faktor yang mempengaruhi gambaran diri: 1. lnteraksi dengan orang lain

(25)

2. Self talk

Self talk adalah kata-kata dari diri sendiri yang kita ォ。エ。セ。ョ@ kepada diri kita sendiri, akibat dari apa yang orang lain katakan mengenai kita. Pada saat seseorang mengalami tekanan-tekanan, stress yang disebabkan oleh pendapat orang lain maka self talk akan muncuL

3. Kemampuan berpikir

Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir yang baik, tidak akan

menerima begitu saja apa yang orang lain katakan mengenai dirinya.

[image:25.595.34.446.171.481.2]

Faktor -faktor tersebut di atas akan menciptakan kepercayaan-kepercayaan yang benar ataupun tidak benar di dalam diri kita dan akhirnya yang akan mengontrol hidup kita (Edwin Louis, 2005).

Gambar diri yang tidak benar akan membuat kita tidak rnenjadi manusia yang utuh serta menghambat hubungan kita dengan sesama. Padahal sebagai

makhluk sosial, kita harus berinteraksi dengan makhluk hidlup yang lain.

Sebaliknya, dengan memiliki gambaran diri yang benar, seseorang memberi nilai yang tinggi kepada dirinya sendiri (Valentina, 2004).

Menurut Rallers (1949) gambaran diri wanita karir dan belum menikah dapat dilihat melalui aspek diri dan hal-hal diluar diri wanita karir yang berkaitan, ini

(26)

Pandangan wanita tentang pria, dan pandangan wanita tentang pernikahan dan keluarga. lndividu dinyatakan memiliki gambaran Giri yang benar atau tidak benar jika minimal tiga dari empat hal tersebut di atas tidak mengalami atau mengalami masalah (Rallers, 1949).

Dari beberapa pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa gambaran

diri wanita karir belum menikah dilihat dari konsep diri wanita karir, pandangan wanita tentang karir, pandangan wanita tentan!l pria, dan pandangan wanita tentang pernikahan dan keluarga.

2.1.2. Definisi konsep diri

Goss dan O'Hair (dalam Sarlito, 1997) menyatakan bahwa "Suatu konsep diri mengacu pada cara kita menilai diri kita sendiri, seberapa besar kita berpikir

bahwa diri kita berharga sebagai seseorang." William D Brooks

mengemukakan konsep diri sebagai "Self-concept then, can be defined as those physical, socia:, and psychological of ourselves" (William D Brooks,

1971).

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa

(27)

Pandangan dari dalam yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek

psikologis.

2.1.3. Jenis-jenis Self Concept

Menurut Calhoun dan Acocella (1995) mengatakan bahwa ada dua jenis self

concept, yaitu:

a.

Positive Self Concept

Ciri pokok dalam konsep diri yang positif adalah adanya penerimaan diri. Konsep diri ini bersifat stabil dan bervariasi dan meliputi informasi baik yang bersifat positif maupun negatif akan diri individu tetapi individu dapat

menerima dan memahami kenyataan yang beraneka ragam tentang dirinya. Terkadang individu merasa kecewa terhadap sesuatu hal, tetapi bukan berarti menjadi penyesalan yang berlarut-larut.

Menurut brool<s dan Emmert (dalam Rakhmat, 2003) individu yang memiliki konsep diri yang positif mempunyai ciri-ciri antara lain:

(28)

3.

Mampu memperbaiki diri, karena ia sanggup mengungkapkan

aspel<-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha untuk mengubahnya.

b. Negative Self Concept

Calhoun dan Acocella (1995) mengatakan bahwa konsep diri negatif memiliki dua tipe yaitu tipe yang pertama dimana individu dengan konsep diri ini memiliki pandangan yang tidak teratur, dan tidak stabil dengan dirinya. Dia benar-benar tidak tahu siapa dia, apa kekuatan dan

kelemahannya, atau apa yang dia hargai dalam hidupnya. Tipe kedua justru

kebalikan dari tipe pertama dimana konsep diri menjadi terlalu teratur dan terlalu stabil yang mungkin disebabkan karena didikan orang tua yang terlalu keras sehingga individu menciptakan citra diri ケ。ョセQ@ tidak

mengizinkan adanya penyimpangan dari aturan-aturan yang ada.

Menurut Brooks dan Emmert (dalam Rakhmat, 2003) individu yang memiliki

konsep diri yang negatif mempunyai ciri-ciri antara lain:

1. Peka terhadap kritik.

2. Responsif terhadap pujian, meskipun ia berpura-pura menghindarinya, 3. Hiperkritis terhadap orang lain.

(29)

5. Pesimis terhadap kompetisi.

Berdasarkan pendapat para ahli, maka peneliti menarik kesimpulan untuk dijadikan indikator-indikator yang akan diukur dalam penelitian ini, bahwa

(30)

2.1.4. Pandangan Wanita tentang Karir

Situasi bagi wanita telah sangat berubah, kini wanita tidak lagi terbatas hanya pada melahirkan dan merawat anak-anak serta melakukan tugas-tugas

rumah tangga.

Karir menjadi bagian yang sangat penting untuk mengembangkan potensi

juga perubahan ke arah yang lebih baik bagi wanita dan usia dewasa lainnya.

Bagi wanita yang memandang karir adalah hal yang penting atau wanita dengan aspirasi karir, mmah dan hubungan pribadi hanyalah sedikit bagian dalam hidupnya. Dengan mengembangkan keahlian dan potensinya dalam pekerjaan, ia merasa puas dan bahagia. (Paula Nicolson, 1996)

Studi tentang kepuasaan hidup wanita yang belum menikah namun berkarir yang pernah dilakukan oleh Ferree (1976) menunjukkan, bahwa wanita yang bekerja dan berkarir menunjukkan tingkat kepuasan hidup sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja.

(31)

Berdasarkan pendapat para ahli, maka peneliti menarik kesimpulan untuk dijadikan indikator-indikator yang akan diukur dalam penelitian ini, bahwa pandangan wanita tentang karir dilihat dari kepuasan hidupnya dalam

berkarir.

2.1.5. Pandangan Wanita tentang Pria

Kebanyakan wanita saat ini, memandang pacaran atau pernikahan sebagai kebutuhan sosial dan bukan kebutuhan pribadi, hanya fifostyle yang bisa dipamerkan, dan menolak ketidaksempurnaan. Padahal, tidak ada satu manusia pun yang diciptakan sempurna.

Setyo mengatakan bahwa beberapa alasan wanita belum menikah adalah karena: banyak wanita yang berusaha mendapatkan pasangan dengan

memandang faktor fisiknya, jika pria tersebut tidak tampan dan atletis, maka usaha wanita tersebut untuk berkenalan akan dihindarL Selain itu, banyak pula wanita yang memandang pria berdasarkan tingkat inilelligensia dan materinya. Tidak sedikit pula orang tua yang terlalu idealis dalam

menentukan calon suami untuk sang anak, sehingga banyak pria enggan

(32)

Sifat yang dicari oleh orang pada pasangannya pun berbeda-beda. Pada

umumnya, seseorang tertarik dengan individu yang memiliki karakteristik

yang sama daripada karakteristik yang berbeda. Begitu pula halnya dengan

wanita. Hanya pada beberapa orang saja, perbedaan mungkin akan menarik. M.salnya, seorang yang introvert mungkin akan berharap untuk dekat dengan seorang yang ekstrovert (Berndt dan Perry, 1990).

Validasi konsensual (consensual validation) memberikan sebuah penjelasan mengapa seorang individu tertarik kepada orang yang rnemiliki kesarnaan

dengannya. Sikap dan perilaku kita didukung ketika sikap dan perilaku orang

lain sarna dengan kita; sikap dan perilaku mereka rnenguatkan sikap dan

perilaku kita. Juga, karena orang lain yang tidak mirip tidak sama dengan kita, dengan dernikian lebih tidak dikenali. Kita mungkin lebih dapat

rnengontrol orang lain yang sarna dengan kita, yang sikap dan perilakunya dapat kita prediksi. Dan irnplikasinya dari kesamaan adalah kita akan menikrnati interaksi dengan orang lain dalam kegiatan yang saling

menguntungkan, dirnana sebagian besar rnemerlukan pasangan dengan perilaku dan sikap yang sarna (Santrock, 2002).

(33)

pada saat-saat yang tidak bisa dilupakan dan sangat menekan (Santrock,

2002).

Berdasarkan pendapat para ahli, maka peneliti menarik kesimpulan untuk

dijadikan indikator-indikator yang akan diukur dalam penelitian ini, bahwa pandangan wanita tentang pria dilihat dari pemah atau tidaknya individu memiliki hubungan dekat dengan seorang pria, saat-saat menyenangkan, dan saat-saat menekan ketika menjalani suatu hubungan.

2.1.6. Pandangan Wanita tentang Pernikahan dan Kellllarga

Berpasangan (couple) adalah dua individu dari dua keluarga yang berbeda bersatu untuk membentuk satu sistem keluarga yang baru (Hillary, 2003).

Pernikahan biasanya digambarkan sebagai bersatunya dua individu, tapi

pada kenyataannya adalah persatuan dua sistem keluar9a secara

keseluruhan.

Dengan berkeluarga, seseorang dituntut untuk bertanggung jawab, memberi kasih sayang untuk generasi yang lebih muda, berfungsi sebagai orang tua yang kompeten bagi anak, dan ini secara sukses menuntut komitmen waktu s セ「。ァ。ゥ@ orang tua, memahami peran sebagai orang tua, dan menyesuaikan

(34)

Stinnett dan DeFrain (dalam Hillary, 2003) mengatakan bahwa untuk

membentuk sebuah keluarga yang bahagia, merek« harus meluangkan waktu bersama, memiliki komunikasi yang baik, menunjul<kan perhatian

kepada yang lainnya, juga harus menjaga ibadahnya.

Beberapa ahli pernikahan dan ke!uarga percaya bahwa pernikahan

mencerminkan fenomena yang berbeda-beda bagi perempuan dan lal<i-laki.

Suatu studi tentang beberapa wanita Cina Amerika yang tidak menil<ah mengatakan bahwa hasil observasi terhadap pernikahan orang tua mereka membuat mereka enggan untuk menikah (Hillary, 2003). Selain itu,

pekerjaan rumah tangga bagi wanita sering membuat khawatir, melelahkan, hina, berulang-ulang, terisolasi, tidak pernah sPlesai, tidak dapat dihindari,

dan tidak dihargai, maka, tidak heran bila banyak perempuan yang memiliki perasaan bercampur aduk terhadap pekerjaan rumah tangga (Santrock, 2002).

(35)

Bagi wanita, rasa aman, kesetiaan dan dayet tarik emosional antara yang satu dengan yang lainnya adalah lebih penting dalam pernikahan. Rasa aman secara emosional dinilai sebagai faktor terpenting dalam hubungan cinta dan pernikahan, diikuti oleh rasa hormat, komunikasi, perilaku menolong,

hubungan seksual. dan kesetiaan.

Wanita yang secara ekonomi mandiri tidak memiliki kebutuhan ekonomis untuk menikah, atau tidak membutuhkan orang lain, maka mereka merasa tekanan yang lebih sedikit untuk menikah. Mereka mungldn menikah untuk alasan-alasan yang lain (Santrock, 2002).

Mereka berpendapat, pernikahan dan berkarir akan mengakibatkan kerugian

atau stress, dikarenakan adanya tuntutan waktu dan tenaga tambahan, konflik antara peran pekerjaan dan peran keluarga, persaingan kompetitif antara istri dan suami, dan jika keluarga itu memiliki anak-anak, apakah

perhatian terhadap kebutuhan anak sudah dipenuhi (Santrock, 2002).

Berdasarkan pendapat para ahli, maka peneliti menarik kesimpulan untuk dijadikan indikator-indikator yang akan diukur dala1n penelitian ini, bahwa

(36)

2.1.7. Dewasa Madya

Masa dewasa adalah masa yang penuh dengan perubahan, perputaran, dan pergeseran, adanya kegagalan, keberhasilan dalam karir dan kehidupan. (J.

W. Santrock, 2002)

Menurut Erikson, masa dewasa madya adalah masa berprestasi.

Menurutnya, selama usia madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (stagnasi). Yang mendorong orang berhasil mencapai puncak pada masa ini ialah karena adanya kemauan yang kuat untuk berhasil pada masa ini.

Meskipun batas-batas usia dewasa madya tidak ditentukan secara tegas, Santrock menganggap usia dewasa madya sebagai periode perkembangan yang dimulai kira-kira pada usia 35-45 tahun hingga memasuki usia 60-an. Bagi banyak orang, paruh kehidupan adalah suatu masa menurunnnya

ketcrampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode

dimana orang menjadi semakin sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkurangnya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu titik ketika individu berusaha meneruskan :.;esuatu yang berarti pada generasi

(37)

Terdapat komitmen yang lebih besar terhadap pekerjaan seiring

bertambahnya usia. Pada masa dewasa madya ini, orang bekerja dengan lebih serius, tingkat ketidakhadiran yang dapat dihindarkan semakin sedikit, d< n lebih banyak mencurahkan diri pada pekerjaan. Berbeda dengan orang dewasa yang lebih muda, yang masih mengadakan percobaan dengan kerja mereka, masih mencari jabatan yang tepat. (Rhodes, 1983)

2.2. Wanita Karir

2.2.1. Definisi wanita karir

Gibson menyatakan bahwa "Karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan ''.

Dengan demikian, karir seorang individu melibatkan rangkaian pilihan dari

berbagai macam kesempatan. Jika ditinjau dari sudut pandang organisasi, karir melibatkan proses dimana orang memperbaharui dirinya sendiri untuk

menuju efektivitas karir yang merupakan batas dimana rangkaian dari sikap karir dan perilaku dapat memuaskan seorang individu (Gibson, 1989).

(38)

Wanita karir adalah wanita yang memperoleh atau men1Jalami perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan, jabatan, dan lain-lain. Sebutan untuk wanita karir ini bukan hanya untuk mereka yang bekerja di kantor, bekerja apa saja asal mendatangkan suatu kemajuan dalam kehidupannya, itulah karir. (Pandji

Anoraga, 2006)

Di sini memang ada kaitannya dengan pendapatan. Karena kehidupan yang maju menunjukkan adanya peningkatan dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi lebih baik. Nah, untuk rnenjadi lebih baik diperlukan biaya. Tidak mungkin hanya dipikir-pikir saja kemudian terjadi

peningkatan atau kemajuan dalam hidup.

Pendapatan pastilah menjadi motif utama, namun kebosanan, dan keinginan

untuk minat yang baru mungkin terlibat juga. (Santrock, 2002)

Jadi, arti kata pertama dari wanita karir, jelas berh1..bun1Jan dengan bekerja. Berhubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan uang. Kemudian arti

(39)

2.2.2. Kategori wanita karir

Flanders (dalam Mudzhar, 2000) membedakan wanita karir menjadi tiga kategori, yaitu sebagai beri!rnt:

1. Wanita tunggal dan tidak mempunyai anak. Wanita ini memilih untuk tidak menikah untuk pengembangan karirnya, terutama pada usia dua puluhan

dan awal tiga puluhan. Kebanyakan para wanita karir ini melakukannya !<arena ュ・セ・ォ。@ merasa cocok.

2. Wanita bekerja yang menikah tanpa anak. Keuntungan bagi wanita karir yang rnenikah tanpa anak adalah bahwa ia mempunyai pasangan yang

mendukungnya dan membantunya dengan urusan rumah tangga, ia

kurang mempunyai masalah keuangan karena penghasilan ganda, tidak ada anak yang menyita waktunya dan mengurangi kinerja atau prospek

karirnya.

3. Wanita karir sebagai ibu. Dengan kemungkinan perencanaan keluarga dan kesempatan yang Jebih terbuka bagi wanita, jumlah wanita yang

menggabung karir dan peranan ibu semakin meningkat.

(40)

2.2.3. Manfaat berkarir bagi wanita

Menurut Flanders (dalam Mudzhar, 2000) manfaat berkarir bagi wanita

adalah:

a.Mendukung ekonomi keluarga. Dalam hal ini untuk rnembantu kedua orang tua, misalnya: memenuhi keperluan rumah tangga, ataupun membiayai

keperluan pribadi.

b.Meningkatnya harga diri dan pemantapan identitas. Bekerja,

mernungkinkan seorang wanita rnengekspresikan dirinya sendiri, dengan

cara yang kreatif dan produktif, untuk menghasilkan sesuatu yang

rnendatangkan kebanggaan terhadap diri sendiri, terutama jika prestasinya tersebut mendatangkan perhargaan dan umpan balik yang positif.

c.Pemenuhan kebutuhan sosial. Dengan bekerja, seorang wanita dapat rnemenuhi kebutuhan akan kebersarnaan dan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas.

(41)

Studi tentang kepuasaan hidup wanita yang belum menikah namun berkarir

yang pernah dilakukan oleh Ferree ( dalam Paula Nicolson, 1996)

menunjukkan, bahwa wanita yang bekerja menunjukkan tingkat kepuasan hidup sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja.

Dunia kantor yang diserahkan pada wanita akan melahi;rkan suasana

perawatan yang semarak. Wanita cenderung lebih terikat pada kewajiban nyata, karena pada dasarnya lebih terikat dan bersatu dengan sekelilingnya,

sedangkan pria lebih terikat pada hal yang bersifat proyek yang secara

finansial akan menguntungkannya.

2.3.

Pernikahan

2.3.1.

Definisi pernikahan

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata "nikah", pertama sebagai perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri dengan resrni,

arti yang kedu2 sebagai perkawinan.

(42)

Jika kita lihat menurut istilah, pernikahan memiliki batasan-batasan dalam mendefinisikannya tergantung pada pendekatan yang digunakan oleh tokoh-tokoh atau 01·ang-orang yang mendefinisikan arti pernikahan tersebut.

Ellis mengatakan bahwa pernikahan adalah suatu ikatan antara pria dan wanita yang kurang lebih permanent, ditentukan oleh kebudayaan dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan (Ellis, 1944).

Sebaliknya, belum menikah atau dalam status lajang menurut arti secara harfiah, secara umum dalam Bahasa Indonesia adalah seseorang yang

memiliki status pernikahan yang belum pernah menikah. Peter (dalam Hillary, 2003) mengatakan bahwa "Wanita lajang adalah wanita yang belum pernah menikah."

(43)

2.'\. Kerangka Berpikir

Bagi sebagian wanita metropolis yang modern, masa belum menikah {dalam status lajang) bukan lagi masa penantian yang meresahk:an. Tapi justru

sebaliknya, "Mumpung masih sendiri, bekerjalah dan nikrnati hidup

sepuas-puasnya," begitu kata mereka (www.google.com).

Manusia mempunyai kebutuhan akan aktualisasi diri, clan menemukan makna hidupnya melalui aktivitas yang dijalaninya. Beke1ja dan berkarir

adalah salah satu sarana atau jalan yang dapat dipergunakan oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya. Dengan berkarya, berkreasi, mencipta,

mengekspresikan diri, mengembangkan diri dan orang lain, membagikan ilmu dan pengalaman, menghasilkan sesuatu, serta mendapatkan penghargaan, penerimaan, prestasi, adalah bagian dari proses penemuan dan pencapaian kepenuhan diri (Abraham maslow,

1954).

Kebutuhan akan aktualisasi diri melalui karir, adalah merupakan salah satu

(44)

Namun, masih ada perbedaan dalam memandang wanita karir yang belum dan yang sudah menikah. Bagi sebagian masyarakat, wanita yang berusia 30

tahun atau lebih dan belum menikah, akan diberi label yan9 kurang enak,

seperti tidak laku, perawan tua, sibuk mengejar karir, takut menikah, dan lain sebagainya. Terkadang orang tua pun turut merasa malu kalau putri mereka belum menikah. Adanya masyarakat yang cenderung memberikan penilaian yang negatif terhadap wanita yang belum menikah, dapat rnenyebabkan wanita ini juga memiliki pikiran yang negatif terhadap dirinya. Dari sinilah muncul problem kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri.

Dari penjelasan diatas dapat diasumsikan bahwa pada wanita karir yang belum menikah biasanya memiliki perasaan dan pikiran ne9atif, seperti

menjaga jarak dengan lingkungan sekitar, kurang percaya diri. Untuk itulah seringkali akan muncul masalah yang berkaitan dengan gambaran diri yang

tidak benar. Namun, di lain pihak banyak pula masyarakat ataupun orang tua yang menganggap wanita yang belum menikah sebagai hal yang biasa saja,

sehingga wanita yang belum menikah tersebut tetap memiliki rasa percaya diri.

(45)

Gambar

2.1.

[image:45.595.28.443.140.495.2]

Bagan gambaran diri wanita karir yang belum menikah

Gambaran Diri Wanita Karir yang Belum Menikah:

- konsep diri - pandangan wanita

tentang karir

- pandangan tentang pria

- - - - Gambaran diri yang benar

Seseorang memberi nilai yang tinggi pada dirinya sendiri

- _ Gambaran diri yang tidak benar

Hubungan seseorang den!ian sesamanya

- pandangan tentang akan terhambat, menjadi manusia yang tidak utuh

pemikahan dan keluarga

Railers menyatakan bahwa individu dinyatakan memiliki gambaran diri yang benar jika minimal terdapat tiga dari empat hal di atas (konsep diri,

(46)

3.1.

Jenis Penelitian

3.1. Pendekatan dan Metode Penelitian

Peneliti memilih penelitian kualitatif dalam menjawab permasalahan, karena penelitian ini berusaha memahami melalui sudut pandang subyek penelitian. Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, yaitu ingin mengetahui gambaran diri wanita karir yang belum menikah. Maka menurut

peneliti pendekatan penelitian yang tepat adalah dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yan9 lebih menekankan pada manfaat dan pengumpulan informasi dengan cara mendalami

fenomena yang diteliti (Moleong, 2004). Penelitian kualitatif menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara,

c>tatan lapangan, dan sebagainya. Pendekatan kualitatif mencoba

(47)

adalah metode studi kasus. Studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bila

peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan

diselidiki dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fonomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata (Yin,2006).

3.2. Pengambilan Subyek

3.2.1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian diambil dengan menggunakan pendekatan purposive

sample (sampel bertujuan). Sampel bertujuan dilakukan dengan cara pengambilan sampel didasarkan atas tujuan tertentu (Moleong, 2004). Pengambilan sampel penelitian didasarkan atas ciri-ciri, sifat atau karakteristik yang ditentukan oleh peneliti.

Adapun karakteristik subyek yang diambil adalah:

1. Wanita belum menikah usia 35 tahun sampai 41 tahun.

(48)

penurunan fisik dan dianggap kurang aman bila menjalani kehamilan dan

persalinan pertama. 2. Memiliki karir.

Dalam hal ini, peneliti tidak memilih wanita karir yang bekerja di kantor, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Pandji Anoraga bahwa sebutan wanita karir ini bukan hanya untuk mereka yang bekerj<3 di kantor, bekerja

apa saja asal mendatangkan suatu kemajuan dalam ォeセィゥ、オー。ョョケ。L@ itulah karir (Pandji Anoraga, 2006).

3.

Sudah berkarir minimal selama 5 tahun.

Dipilihnya wanita yang sudah berkarir minimal selama 5 tahun adalah

karena peneliti menganggap dalam rentang waktu tersebut seseorang telah memiliki pengalaman yang cukup dan telah mernperoleh kemajuan dalam pekerjaan dan hidupnya. Dalam rentang waktu

:5

tahun, seseorang

diperkirakan telah memperoleh kemajuan dan perkembangan dalam pekerjaannya (Uken Junaedi, 2005).

4. Berada di wilayah Bogor, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.

Peneliti memilih subyek di wilayah tersebut agar peneliti dapat dengan mudah melakukan penelitian dan dapat dengan mudah menghubungi subyek kembali jika ada data yang terlewat atau kurang.

(49)

3.3.

Teknik Pengumpulan

Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara sebagai metode utama dan observasi sebagai metode

pendukung.

3.3.1. Wawancara

Menurut Banister (dalam Poerwandari, 1998) wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkesan topik yang

diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal

yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain.

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, yang dilal<ukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang rnengajul<an

pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong, 2.00f).

I 1formasi tentang gambaran diri wanita karir yang belurn menikah ini al<an

(50)

Dengan demikian peneliti dituntut bagaimana membuat subyek lebih terbuka dan leluasa dalam memberi informasi atau data, untuk mengemukakan

pengetahuan dan pengalamannya terutama yang berkaitan dengan informasi

sebagai jawaban terhadap permasalahan penelitian, sehingga terjadi semacam diskusi, obrolan santai, spontanitas atau alamialh dengan subyek

, /

penelitian sebagai pemecah masalah dan peneliti sebagai pemancing timbulnya permasalahan agar muncul wacana yang detail

3.3.2. Observasi

lstilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti melihat dan

memperhatikan. lstilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul dan mernpertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut (Poerwandari, 1998). Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian ーウゥォッャッAセゥウL@ dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam

konteks alamiah (Banister dkk dalam Poerwandari, 1998).

(51)

Walgito (1999) mengatakan bahwa dalam observasi di kenal dua jenis

observasi, yaitu:

a. Observasi Partisipan

Merupakan observasi dimana observer atau peneliti ikut ambil bagian dalam situasi atau keadaan yang akan diobservasi, ッ「ウ・セイカ・イ@ ikut sebagai pemain tidak hanya sebagai penonton.

b. Observasi Non Partisipan

Dalam observasi ini observeratau peneliti tidak ikut ambil bagian secara langsung dalam situasi yang ditelitinya. Peneliti atau observertidak

sebagai pemain tetapi sebagai penonton.

(52)

3.4. lnstrumen Pengumpulan Data

3.4.1. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara adalah daftar pertanyaan mengenai tema-tema atau

topik yang harus tercakup dalam sebuah wawancara. Pec!oman wawancara digunakan sebagai pegangan bagi pewawancara agar tetap pada tujuan penelitian, juga berfungsi untuk mengingatkan akan topik··topik yang ingin digali serta memudahkan kalegorisasi dalam melakukan analisis data. Pedornan ini disusun berdasarkan konsep-konsep teoritis yang telah dibangun dalam kajian pustaka.

\Nawancara yang akan dilakukan bersifat terbuka dan mendalam dengan

menggunakan pedoman wawancara umum. Digunakan wawancara terbuka

untuk memberikan kesempatan bagi subjek agar dapat rnengekpresikan diri dalam memberi jawaban dan memperluas jawabannya. Dalam wawancara yang sesungguhya, pewawancara tidak perlu memberikan pertanyaan secara urut dan ketat mengikuti pedoman wawancara, tet<1pi diberikan peluang untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan subjek yang dihadapi,

(53)

Hal ini penting dalam usaha peneliti menjalin hubungan yang baik dengan

subjek, membangun rasa percaya subjek kepada peneliti, memperjelas

pertanyaan yang akan diajukan bilamana diperlukan, serta pada akhirnya mendapatkan informasi selengkap mungkin dari subjek sesuai dengan tujuan

[image:53.595.23.466.164.586.2]

penelitian.

Tabel 3.1. Blue PrintWawancara Gambaran Diri

Aspek lndikator Sub lndikator

Gamba ran 1. Konsep diri 1. 1 Aspek fisik

diri wanita 1.2 Aspek sosial

kariryang 1.3 Aspek psikologis

be!um

menikah 2. Pandangan wanita 2. 1 Kepuasan dalam berkarir tentang karir 2.2 Potensi dan keahlian 3. Pandangan wanita 3.1 Hubungan dekat dengan

tentang pria pria

3.2 Saat-saat menyenangkan 3.3 Saat-saat menekan 4. Pandangan wanita 4.1 Penclapat indiviclu

tentang pernikahan dan men!ienai pernikahan keluarga 4.2. Manfaat menikah

(54)

3.4.2. Lembar Observasi

Lembar observasi dibuat dalam bentuk catatan lapangan yang berfungsi untuk mencatat hal-hal penting yang relevan dengan permasalahan penelitian yang tidak dapat diperoleh melalui proses wawancara. Lembar observasi ini digunakan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting, dapat membantu menerangkan lebih lanjut yang diperoleh atau berpengaruh

terhadap jalannya wawancara. Hal-hal yang dicatat meliputi setting, tempat wawancara berlangsung, lama wawancara, hal-hal yang terjadi selama wawancara yang mungkin berpengaruh terhadap hasil wawancara,

penampilan subjek secara keseluruhan, respon subjek terhadap pertanyaan-pertanyaan dan cara menyampaikan informasi.

Dalam catatan subjek, peneliti juga mencatat point-point penting, menarik atau kurang jelas mengenai kasus subjek yang muncul selama wawancara

disertai komentar atau pertanyaan peneliti, catatan ini berguna untuk

(55)

Selain instrumen penelitian, peneliti menggunakan beberapa alat bantu

dalam pengumpulan data, yaitu:

a. Tape Recorder

Selain mengggunakan pedoman wawancara, untuk mempermudah

pengumpulan data peneliti menggunakan tape recorder atau a lat perekam

dan tentunya kaset untuk merekam semua pembicaraan selama wawancara. Alat ini digunakan agar peneliti dapat lebih berkonsentrasi dalam wawancara. Penggunaan alat perekam ini harus seizin subjek penelitian terlebih dahulu, sehingga proses pengumpulan data dapat berjalan dengan baik tanpa adanya gangguan dari kedua belah pihak.

b. Alat Tulis

(56)

3.5.

Tekhnik analisa data

Dalam penelitia11 kualitatif, metode apapun yang digunakan maka data-data

yang diperoleh merupakan kata-kata dan bukan angka-angka. Analisis data merupakan proses untuk membuat data yang dikumpulkan menjadi teratur, terstruktur dan bermakna. Menurut Patton (dalam Moleong, 2004) analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya dalam

suatu pola, kategori, dan suatu uraian dasar. Pada tahap ini yang dilakukan adalah kegiatan menganalisa data yang dipersiapkan dari proses

pengumpulan data (wawancara dan observasi).

Data yang dipero!eh akan dianalisa dengan menggunakan teknik analisa data

kualitatif. Poerwandari (2001) memberikan beberapa tahapan yang diperlukan dalam menganalisa data kualitatif, tahapan tersebut adalah: 1. Mengorganisasikan data

Setelah peneliti mendapatkan data dari subyek melalui wawancara dengan

alat perekam, kemudia peneliti merubahnya ke dalam transkip verbatim (dalam bentuk tulisan). Karena datanya yang beragam dan banyak, data

harus diorganisasikan dengan rapi, sistematis dan len9kap. 2. Mengelompokkan data

(57)

mengorganisasikan dan mensistematisasikan data secara lengkap dan mendetail, sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik.

3. Analisis kasus

Analisis yang pertama dilakukan adalah melakukan analisis terhaclap masing-masing kasus. Analisis dilakukan melalui hasil wawancara yang diungkap responden. Tahap yang kedua adalah melakukan analisa antar

kasus yang tujuannya untuk mengungkap perbedaan dan persamaan antar

subyek serta menyimpulkannya.

4. Menguji Asumsi

Setelah kategori dan pola data tergambar dengan jelas, pada tahap ini kategori yang telah di dapat melalui analisis di tinjau kembali berdasarkan landasan teori yang dijabarkan pada bab sebelumnya, sehingga data yang diperoleh dapat dicocokkan apakah ada kesamaan antara landasan teori

dengan data yang didapat.

3.6. Prosedur Penelitian

Sistem penelitian secara operasional dijelaskan sebagai berikut: 1.Tahap persiapan penelitian

Langkah awal yang dilakukan peneliti adalah membuat pedoman

(58)

berisi pertanyaan-pertanyaan mendasar yang nantinya akan berkembang ketika wawancara berlangsung. Kemudian peneliti mencari calon subjek yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian. Selanjutnya peneliti meminta kesediaannya dan kemudian membuat kesepakatan dengan subjek tersebut mengenai waktu dan tempat untuk melakukan wawancara.

2.Tahap pelaksanaan penelitian

Sehari sebelum waktu pertemuan yang telah ditentukan, peneliti

menghubungi subjek untuk memastikan kembali janji pertemuan yang telah direncanakan. Peneliti juga mempersiapkan pedoman wawancara dan panduan observasi. Setelah peneliti bertemu dengan subyek, peneliti

memperkenalkan diri dan secara singkat menjelaskan maksud penelitian, hal ini penting untuk membuat subyek merasa nyaman dan bebas dalam

menjawab pertanyaan. Selanjutnya peneliti mulai observasi dan

mewawancarai subyek mengikuti pedoman wawancara dan observasi yang telah peneliti siapkan sebelumnya.

3. Tahap penyelesaian penelitian

Setelah peneliti mendapatkan data-data yang diperlukan, peneliti mengolah

(59)

Analisa hasil penelitian ini terdiri dari gambaran umum subyek, analisa kasus

per subyek dan analisa antar kasus.

4.1. Gambaran Umum Subyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap individu yang berkarir dan belum menikah,

subyek penelitian terdiri dari 3 (tiga) orang wanita. Untuk rnelihat secara umurn tentang identitas subyek, di bawah ini terdapat identitas subyek yang

[image:59.595.27.459.118.673.2]

namanya berupa inisial, hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan subyek.

Tabel 4.1

GAMBARAN UMUM SUBYEK

セ@

Subyek I Subyek II

k (MM) (RS)

Usia 35 tahun 35 tahun

Pekerjaan Karyawati swasta Karyawati Swa Lama bekerja 11 tahun 15 tahun

Pendidikan Si Diploma3

Subyek Ill (EL) 41 tahun

st'3 Wiraswasta 7 tahun

(60)

4.2. Analisa Kasus Per Subyek

4.2.1. Kasus MM

a. Ringkasan Hasil Observasi Subyek

Proses wawancara yang dilakukan dengan MM berlangsung selama 1 jam 45 menit, hari sabtu, 8 September 2007 bertempat di kediaman MM pada pukul

13.00-14.45 wib. Sebelumnya kami telah membuat kesepakatan untuk bertemu pada jam dan tempat yang telah ditentukan sendiri oleh subjek.

Peneliti tiba di kediaman MM pada pukul 12. 45, lalu subyek mengajak peneliti masuk ke dalam kamarnya yang terlihat rapi, semua benda

diletakkan pada tempatnya, tidak ada satu benda pun yang terlihat tercecer.

Subyek sempat mengeluh dengan keadaan mukanya yang kemerahan dan mengelupas "duuh, dari kemarin saya nggak ke kantor nih, dokter bilang alergi, karena merah-merah gini, saya jadi segan kemana-mana ", ucapnya.

Ciri-ciri fisik yang tampak pada subyek ketika wawancara adalah, MM berkulit kuning langsat dan bertubuh kurus tinggi, ia memiliki bentuk wajah yang oval dan rambut yang lurus panjang, ia mengenakan kaos putih berlengan pendek

(61)

wawancara. Posisi duduk MM dekat dengan peneliti, subyek tidak banyak

melakukan perubahan posisi duduk.

MM terlihat kooperatif dan tegas dalam menjawab setiap pertanyaan, subyek menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang singkat pada setiap

pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

MM tampak santai selama jalannya proses wawancara, walaupun beberapa kali tampak mengelus mukanya.

Peneliti mengenal MM karena peneliti dan MM pernah mengikuti seminar

yang sama, akan tetapi peneliti dan MM tidak mengenal dengan dekat.

Menjadi subyek di penelitian ini adalah atas keinginan MM sendiri.

b. Ringkasan Hasil Wawancarc. Subyek MM

Latar Belakang MM

MM adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. la bekerja sebagai sekretaris di perusahaan yang bergerak di bidang ekspor import, di daerah Cilandak. Sebelumnya MM kuliah di Politeknik lnstitut Teknologi Bandung (ITB) jurusan

(62)

Wanita keturunan Jawa ini sudah tidak tinggal bersama l<edua orang tuanya, ia hanya berkunjung ke rumah orang tuanya pada hari libur kerja. Terkadang

MM suka kesal kalau orang tuanya ribut dengan masalahnya yang sampai saat ini belum memiliki pasangan. Karena ia anak paling kecil, dan semua kakak-kakaknya sudah menikah dan berkeluarga. Walaupun cukup sering merasa kesal dengan kedua orang tuanya, namun MM mengaku ingin membahagiakan mereka, yakni dengan terus berusaha mencari pasangan

hidup.

Saat ini MM menyewa rumah di daerah Jakarta Timur. la juga membeli rumah di daerah Bekasi, namun sampai saat ini belum ditempati karena

belum selesai.

Wanita yang lahir pada tanggal 1 Juli 1972 ini mengaku senang membaca, travelling, dan belanja. Terkadang ia juga suka memasak dan mencoba

resep-resep baru kalau ia sedang jenuh dengan tugas-tugasnya di kantor.

(63)

c. Analisa Data Hasil Wawancara Kasus MM

Gambaran Diri

1. Konsep Diri

Saat ini MM sudah cukup merasa nyaman dengan dirinya sendiri. la senang

merawat diri, ke salon, karena dengan melakukan hal tersebut akan

meningkatkan rasa percaya dirinya.

Hal ini terungkap dalam pernyataan MM

"Maksudku sih saya tetap pada the way I "'Yl, saya senang merawat diri di salon, walau gak upgrade kita jadi model minimal increase percaya diri, dan yang penting saya merasa nyaman dengan diri saya sendiri."

Hubungan MM dengan sahabat-sahabatnya sangat baik, ia memiliki 5 orang sahabat yang benar-benar dekat dengannya.

"Sangat baik, salah satu kegembiraan saya, saya mempunyai lebih dari 5 orang sahabat yang benar-benar dekat."

Selain sahabat, ia juga selalu menjaga komunikasi dengan teman-temannya

yang lain.

"Keep in touch, lewat sms ama telepon mungkin da/am beberapa bu/an sekali kita ketemu."

(64)

menikah, ia masih merasa kaya dan memiliki banyak anugerah dalam hal

lain.

"Ya ... kesendirian, tapi itu saya rasakan kadang-kadang aja. Ka/au orang disekitar terutama ortu ribut dengan ma sa/ah saya, ya kadang-kadang bete .. but aftera/11 ok with my life."

"Karena saya sangat percaya akan jalan Tuhan, dan sampai saat ini saya merasa bagaimanapun keadaan saya yang tie/um menikah, hidup saya masih terasa kaya dan ban yak anuger:;ih dalam ha/ lain."

Dari beberapa pernyataan MM diatas, peneliti menarik kesimpulan bahwa sikap penerimaan diri MM menunjukkan gejala konsep diri yang positif, seperti dikemukakan oleh Calhoun dan Acocella (1995), bahwa ciri pokok dalam konsep diri yang positif ini adalah adanya penerimaan diri. Walaupun

terkadang MM merasakan kesendirian, dan menerima informasi negatif terutama dari orang tua tentang dirinya, tetapi ia tidak menyesali

keadaannya.

2. Pandangan tentang Karir

MM mengaku senang bekerja, dengan bekerja ia mendapatkan uang, fasilitas, networking dan aktualisasi diri. Sampai saat ini MM sudah merasa cukup puas dengan apa yang telah dicapainya sampai saat ini, ia sudah

(65)

Hal ini terungkap dalam pernyataan MM "Saya senang bekerja".

"Ka/au buat saya sendiri, pekerjaan adalah peker}aan. Sarana untuk mendapatkan uang dan media aktualisasi diri. Saya berusaha bekerja sebaik-baiknya, disiplin dengan menjaga kredibilitas diri. Tetapi saya nggak pemah menganggap pekerjaan adalah hidup saya seutuhnya." "Pertama, uang dan fasilitas, selain itu networking dan aktualisasi diri." "So far ya, wa/au ga berlebih, saya sudah bisa mencukupi diri sendiri plus bersenang-senang. I have my own house at Bekasi, nyicil sih .. "

Walaupun senang bekerja, ia juga pernah merasa jenuh dengan

pekerjaannya, ia mengaku sering mengalami kesulitan dalam menjalani tugas - tugasnya di kantor. Walaupun hanya bekerja sebagai sekretaris, namun ia

merasa dituntut untuk dapat mengerjakan banyak hal dalam waktu yang sama. Suatu saat nanti ia ingin memiliki bisnis sendiri.

"Sa ya senang bekerja, tapi ada saatnya juga jenuh ... Ka/au bisa memilih saya juga suatu saat ingin mempunyai bisnis sendiri dan berdiri sendiri."

" Yang paling repot karena pekerjaan saya sangat multitasking". "Saya kerja sama orang Expatriate from Poland, dia punya bisnis ekspor import, resminya cuma sekretaris by the way tapi kerjaan saya seperti yang punya, hee .. he .. dari operasional, finance, administration, kadang - kadang sampe urusan rumah, pokoknya seksi repot. Saya kaya dituntut bisa mengerjakan banyak ha/ dalam waktu bersamaan, hapal segala macam ya pusing juga tapi kalau dah terbiasa ya jalan -jalan aja".

(66)

dengan apa yang dikatakan Paula Nicolson (1996) bahwa bagi wanita karir, dengan mengembangkan keahlian dan potensinya dalam pekerjaan, ia

merasa puas dan bahagia.

3. Pandangan tentang Pria

MM mengaku tertarik pada pria dengan melihat fisiknya. Hal ini terungkap dalam pernyataan MM

"Fisik, tapi terns bembah, tapi benar-benar karena chemistry".

MM pernah berhubungan dekat dengan seorang pria, menurutnya saat-saat menyenangkan dari hubungan itu adalah kebersamaan.

"Ya."

"Kebersamaan."

MM tidak pernah mengalami trauma atau saat-saat menekan dalam menjalani hubungan, kalau sam'Jai saat ini ia belum memiliki pasangan adalah karena perbedaan keyakinan, dan beberapa halangan lain, seperti alasan orang tua yang tidak setuju, atau karena MM merasa sudah tidak cocok lagi dengan pasangannya.

"Yang pasti nggak ada kenangan yang menyakitkan".

(67)

"Sa ya selalu kebentur perbedaan keyakinan, ka/au Sya/i tau

saya

dari golongan minoritas ... dan kebanyakan teman-teman saya juga pun ya masa/ah ini Kalaupun ketemu dengan yang seiman tetap kalau gak jodoh ya gak bisa dipaksa juga .. (diam sebentar) ada aja

halangannya."

"Hm .. orang tua juga bisa gak setuju, terus ada perbedaan sifat, prinsip dalam hidup caile ... Kadang-kadang rasanya gak sejalan lagi aja."

Saat ini, MM mengaku sudah terbiasa hidup mandiri, ia takut bila ia memiliki pasangan nanti, ia menjadi orang yang egois dan sulit berbagi dengan orang

lain.

"Karena terbiasa mandiri,

saya

takut menjadi agak egois dan sulit berbagi ketika sudah bersama orang lain ... bukan bersifat material tentunya .. "

Dari beberapa pernyataan MM, peneliti menarik kesimpulan bahwa MM adalah wanita yang memandang pria untuk kebutuhan sosial, karena MM

memandang pria melalui penampilan fisik dan kesamaan karakteristiknya. Dr Setyo (www.cahyamediablogspot.com) mengatakan bahwa wanita yang berusaha mendapatkan pria dengan memandang faktor fisiknya, adalah wanita yang memandang pacaran atau pernikahar sebagai kebutuhan sosial,

dan bukan kebutuhan pribadi.

(68)

individu yang memiliki karakteristik yang sama daripada karakteristik yang

berbeda.

4. Pandangan tentang Pernikahan dan Keluarga

MM mengaku ingin menikah. la memandang pernikahan se,bagai suatu bentuk kornitmen, agar ia bisa bersama dan berbagi selamanya denuan orang lain. Dengan menikah, ia berharap hidupnya akan menjadi lebih lengkap.

Hal ini terungkap dalam pernyataan MM

"Menjadi orang terakhir di ke/ompok saya yang menikah ". "Komitmen untuk bisa bersama dan berbagi selamanya"

"Kelengkapan kebahagiaan, dalam arti bukan mencari kesenangan atau kebahagiaan tapi hidup menjadi lebih lengkap .. "

Namun, karena sudah terbiasa hidup mandiri, MM merasa takut bila ia memiliki pasangan nanti, ia menjadi orang yang egois dan sulit berbagi

dengan orang lain.

"Karena terbiasa mandiri, saya takut menjadi agak egois dan sulit berbagi ketika sudah bersama orang lain. .. bukan f)ersifat material tentunya .. "

Orang tua MM berharap agar MM cepat menikah dan rnemberikan cucu pada mereka.

(69)

Dari beberapa pernyataan MM diatas, peneliti menarik kesimpulan bahwa wanita yang memandang pernikahan sebagai alasan agar hidupnya menjadi

lebih lengkap, maka mereka merasa tidak terlalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Seperti yang dijelaskan oleh Santrock (2002), bahwa wanita

(70)

MM pada masa dewasa madya ]

Senang bekerja sebagai sarana untuk mendapatkan penghasilan

dan aktualisasi diri

Tidak menganggap pekerjaan

l

adalah hidup seutuhnya

Memiliki keinginan untuk menikah

Hambatan

セ@

セ@

Sudah terbiasa Takutegois

セ@

セ@

[image:70.595.84.441.137.508.2]
(71)

4.2.2. Kasus RS

a. Ringkasan Hasil Observasi Subyek

Proses wawancara yang dilakukan dengan RS berlangsung selama 1 jam 5 menit, hari Minggu, 9 September 2007 bertempat di rumah RS pada pukul

15.05-16.00 wib. Sebelumnya kami telah membuat kesepakatan untuk bertemu pada jam dan tempat yang telah ditentukan sendiri oleh subyek.

Sesampainya peneliti di rumah RS, subyek langsung mengajak peneliti masuk ke dalam kamarnya. Dinding kamar RS berwarna biru muda, di atas meja kerjanya ter!ihat beberapa buku yang tidak diletakkan pada tempatnya.

Sebelum memulai wawancara RS menyalakan AC di kamarnya, ia

mengatakan bahwa cuaca siang itu cukup panas. RS terlil1at begitu ramah,

sangat antusias juga kooperatif terhadap proses wawancara.

(72)

Pada saat proses wawancara berlangsung terdapat kehadiran pihak lain yaitu pembantu RS yang masuk ke dalam kamar dan menanyakan sesuatu pada

RS.

RS tampak santai dan tenang selama jalannya proses wawancara, di akhir

wawancara RS menanyakan pada peneliti apakah masih ada pertanyaan

yang belum terjawab oleh RS.

Peneliti mengenal RS karena peneliti sebelumnya pernah tinggal di Bogor, dan RS adalah tetangga peneliti.

b. Ringkasan Hasil Wawancara Subyek RS

Latar Belakang RS

RS adalah anak pertama dari 4 (empat) bersaudara. Saat ini RS bekerja di

dua tempat sekaligus, sebagai sekretaris di l<antor ayahnya, dan sebagai staff di tempat ia bekerja. Oulu RS pernah kuliah di S1 Manajemen, tapi karena mengaku bosan, kuliahnya tidak dilanjutkan. Tapi kemudian ia mengambil 03 Manajemen retail. Wanita yang menyukai warna biru ini

mengaku bahagia, karena dengan pendidikannya yang diploma, ia mendapat

(73)

Wanita keturunan Jawa dan Sunda ini tinggal bersama ayah dan adik-adiknya. RS dilahirkan di Surabaya pada tahun 1971. \bu RS sudah

meninggal sejak ia masih ku\iah, sejak ibunya meninggal, RS lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. la mengaku bahagia, karena 2 tahun yang lalu ia memiliki ibu lagi. Wanita yang sering bercerita pada ayahnya

mengenai masalah pekerjaar. ini mengaku senang berkumpul dengan teman-temannya. la juga senang melukis dan berenang. Cukup sering juga ia mengikuti berbagai kegiatan sosial.

[image:73.595.40.450.165.483.2]

c. Analisa Data Hasi! Wawancara Kasus RS

Gambaran Diri

1. Konsep Diri

RS menyukai penampilan fisiknya. Hal ini terungkap dalarn pernyataan RS

"Aku bersyukur karena tidak ada bagian tub "Jhku yang cacat." "Ya, aku menyukainya."

RS juga rnerniliki sahabat, hubungan RS dengan sahabat-sahabatnya sarnpai

saat ini cukup baik.

"Aku juga punya sahabat, kita sahabatan udah 10 tahun, sampai saat ini kita baik-baik aja, da/am keadaan susah dan senang kita selalu berbagi."

(74)

"Kadang-kadang, tapi kalo me/ihat bagaimana perjuangan orang tersebut, aku jadi mikir, masak iya aku mampu seperti dia. Dan pada akhimya, aku mensyukuri kondisiku saat ini."

Dari beberapa pernyataan RS diatas, peneliti menarik kesimpulan bahwa RS

memiliki konsep diri yang positif, ini sesuai dengan apa yang dikatakan

Calhoun dan Acocella (1995), bahwa ciri pokok dalam konsep diri yang positif ini adalah adanya penerimaan diri. Walaupun terKadang RS merasakan ingin

menjadi orang lain, namun ia tidak menyesali keadaan dirinya, ia mensyukuri

kondisinya saat ini.

2. Pandangan tentang Karir

RS mengaku sangat menikmati pekerjaannya, RS menyarankan agar apapun pekerjaan kita, harus belajar untuk dinikmati, agar segalanya jadi mudah. Dengan be:<erja dan berkarir, ia mendapatkan pengetahuan dan pengalaman

yang tidak ia dapat dari sekolah, kuliah, ataupun tempat lain. RS mengaku sudah sukses dan puas dalam karirnya, namun menurutnya masih banyak hal yang perlu ia pelajari. RS juga mengaku pernah mengalami kesulitan menjalani tugas-tugasnya, namun ia berusaha untuk santai menjalaninya, karena menurutnya itu adalah resiko dari pekerjaan.

Hal ini terungkap dalam pernyataan RS

(75)

''Pengetahuan dan pengalaman yang tidak aku dapat dari sekolah, ku/iah, atau tempat lain."

"Tentu saja pemah, tapi ya santai saja, itu kan resiko pekerjaan" "Oah sukses dan udah puas banget, tapi masih banyak ha/ yang perfu dipelajarin"

Dari beberapa pernyataan RS, peneliti menarik kesimpulan bahwa saat ini, RS merasa sukses dan sangat puas dengan apa yang telah ia capai

sekarang. Namun ia merasa masih banyak hal yang perlu ia pelajari. lni sesuai dengan apa yang dikatakan Paula Nicolson (1996) bahwa bagi wanita

karir, dengan mengembangkan keahlian dan potensinya dalam pekerjaan, ia merasa puas dan bahagia.

3. Pandangan tentang Pria

Saat ini RS sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang pria, ia mengenal pria tersebut lewat chatting. RS pernah mengirimkan fotonya pada

pria tersebut, namun pria tersebut mengiriminya fot·) pals.u. Walaupun tidak pernah bertemu secara langsung, namun RS mengaku keputusannya untuk m.:inerima pria tersebut bukan suatu kesalahan, karena pria tersebut

pengertian, perhatian, penuh tanggung jawab, dan dapat menerima

Gambar

Gambaran Diri... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Tabel 3.1 Blue print wawancara gambaran diri
Gambar 2.1 Bagan gambaran diri wanita karir yang belum menikah
Gambaran diri berawal dari pengertian diri atau self itu sendiri. Robert E.L
+7

Referensi

Dokumen terkait

On initial render, the ProShowOneDeckTag is responsible for creating a new instance of the new renderer-specific component subclass ( ProShowOneDeck ) and transferring all JSP

output yang diperoleh bernilai negatif (-) dan nilai Exp (β) atau odds ratio yang diperoleh 0,998 yang menunjukkan bahwa petani yang memiliki produksi yang

Berdasarkan data angket tingkat partisipasi responden melakukan kegiatan memajang kagamimochi di rumah, terdapat 24 persen responden tidak pernah melakukan kegiatan memajang

Tahap akhir adalah menyusun status kerusakan tanah dengan metode skoring frekuensi relatif (SFR), yaitu perbandingan jumlah sampel tanah yang tergolong rusak dari

Jika pesanan terjadi atau suatu order jual bertemu dan cocok dengan order beli lainnya, maka pialang tersebut akan menelpon dealer yang ada di kantor perusahaan Efek

Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan publik merupakan suatu rangkaian proses pengambilan

Persentase capaian kinerja program PD bidang Infrastruktur SDA dan ekonomi dengan capaian 75% 50% 50% 1 Penyusunan dokumen perencanaan subbidang infrastruktur