• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Diagram Alur Improvement

Pada proses improvement ini menguraikan tentang alur jalannya improvement kursi pengemudi dari segi ergonomic pada Bus HINO RK-260. Diagram alur improvement ini diperlukan untuk mempermudah penulis dalam melakukan tahapan-tahapan improvement, sehingga tujuan dari improvement bisa tercapai dengan benar. Diagram alur improvement ini merupakan gambaran secara umum proses improvement dari mulai mulai observasi kursi pengemudi pada bus RK-260, pengukuran kursi, sampai pada tahap kesimpulan. Langkah-langkah improvement:

1. persiapan pembuatan alat dimana penulis berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan pihak – pihak yang terkait untuk menuangkan ide membuat atau memodifikasi kursi bagi pengemudi bus untuk kenyamanan saat berkendara.

2. Ketika ide pembuatan atau memodifikasi kursi ergonomic telah disetujui oleh dosen pembimbing dan pihak – pihak yang terkait, maka penulis melanjutkan dengan mencari literature atau jurnal yang berkaitan dengan kursi ergonomic guna menambah wawasan dan masukan pada memodifikasi kursi tersebut.

3. Langkah selanjutnya penulis merancang miniature kursi dengan skala kecil guna mempermudah penulis melakukan tahapan – tahapan selanjutnya.

(2)

4. Setelah pembuatan miniature kursi telah jadi, kemudian penulis membuat rangkaian kursi ergonomic ini dengan memperhitungkan panjang, tinggi dan lebar kursi ergonomic ini, serta menambahkan fitur – fitur yang bermanfaat untuk kenyamanan bagi pengemudi disaat berkendara dengan menempuh jarak yang cukup jauh.

5. Ketika rangkaian kursi yang telah selesai, penulis membuat rangkaian kelistrikan guna menunjang kelayakan kursi ergonomis ini saat digunakan oleh pengemudi. 6. Setelah rangkaian kursi dan rangkaian kelistrikan sudah terpasang satu sama lain

dan berfungsi, maka penulis melakukan pengujian pada pengendara bus – bus dengan rute dan waktu tempuh yang berbeda – beda.

7. Kemudian penulis memasukkan data – data yang diperoleh kedalam tabel dan grafik guna mendapatkan perbedaan antara sebelum dan sesudah memakai kursi pengemudi ergonomic ini guna mendapatkan data yang akurat.

(3)

Gambar 3.1 Diagram Alur Improvement Kursi Pengemudi 3.2 Skema Alur Pengujian

3.2.1 Mulai

Dalam tahap mulai ini penulis mencoba mencari literaur-literatur tentang sabuk pengaman. Mulai dari tentang sabuk pengaman, komponen sabuk pengaman serta perkembangan sabuk pengaman dari tahun ketahun termasuk teknologi-teknologi canggih yang dipasang atau digunakan pada sabuk pengaman seperti saat ini. Mulai Persiapan Pembuatan Miniatur Kursi Pengemudi Seat Driver Ergonomic System (SDES) Instalasi Alat YES NO Pengujian YES NO Data Hasil Uji Kesimpulan Selesai

(4)

3.2.2 Persiapan

Tahap persiapan merupakan tahap dimana penulis mulai memikirkan tentang pembuatan alat serta komponen apa saja yang dibruhkan dalam pembuatan alat SDES. Serta penulis juga semakin mengembangkan pemikiran penulis agar dalam pembuatan alat SDES ini dapat bekerja dengan baik sehingga hasil yang didapatkan pun sesuai dengan tujuan penulis serta pembuatan alat ini sesuai dengan judul tugas akhir yang penulis ajukan.

3.2.3 Pembuatan

Penulis memulai pembuatan dalam tahap ini, pembuatan miniature kursi pengemudi, pembuatan alat SDES serta instalasi alat pada kendaraan.

 Pembuatan Miniature Kursi Pengemudi

Pada pembuatan miniature kursi pengemudi, penulis menggunakan bahan besi sebagai bahan yang paling utama dalam pembuatan kerangka atau meja dimana kerangka ini mempunyai fungsi untuk menahan atau menopang miniature kursi pengemudi serta box alat SDES.

(5)

Gambar 3.2 Kerangka Penopang Kursi Pengemudi

(6)

 Pembuatan Alat SDES (Seat Driver Ergonomic System)

Selain pembuatan miniature kursi pengemudi, penulis juga membuat alat SDES atau hal yang sangat penting dalam pembuatan kursi pengemudi ini.

Gambar 3.4 SDES (Seat Driver Ergonomic System)

Dalam alat SDES ini banyak berbagai komponen yang digunakan, dimana komponen ini mempunyai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh penulis. Dalam pembuatan rangkaian komponen SDES ini penulis meminta bantuan kepada seseorang yang profesional dan ahli dalam merangkai komponen sehingga dapat bekerja dan berfungsi sesuai dengan kebutuhan penulis.

(7)

 Instalasi Alat SDES (Seat Driver Ergonomic System)

Saat alat SDES ini sudah selesai pengerjaanya serta pembuatan miniature sabuk pengaman sudah selesai maka penulis melakukan percobaan cara kerja dari alat SDES ini untuk diinstalasi pada miniature sabuk pengaman.Dalam pemasangan alat SDES pada mesin motor yang digunakan sebagai alat peraga penulis melakukan beberapa tahapan pada saat instalasi alat SDES ini, berikut beberapa tahapanya :

1. yang pertama penulis lakukan dalam instalasi alat SDES ini adalah pengambilan arus listrik yang ada pada bagian Ignition Switch yang terhubung pada aki atau baterai pada kendaraan,

Gambar 3.5 Push Button

Penulis menghubungkan 2 kabel pada alat SDES ke 2 switch yang berfungsi sebagai memaju mundurkan kursi pengemudi serta mengubah posisi senderan pada kursi pengemudi. Tujuan dari pengambilan arus listrik pada kunci kontak dikarenakan kunci kontak pada saat diputar kerah on maka aki atau battery yang ada digunakan dapat aktif sehingga alat SDES ini dapat langsung aktif ataupun bekerja. Alat SDES ini bekerja pada tegangan 12V DC. Pengambilan arus listrik ini dengan memutus

(8)

kabel yang ada pada kunci kontak yang berfungsi untuk menghidupkan atau mengaktifkan listrik yang terhubung dengan aki atau battery lalu disambungkan dengan kabel yang ada pada alat SDES untuk mengaktifkan alat SDES ini.

2. Setelah melakukan pengambilan arus listrik pada bagian kunci kontak, penulis menggunakan gear penggerak pada kursi pengemudi sebagai komponen pembantu untuk membantu merubah posisi kursi pengemudi agar lebih mudah posisi ergonomic.

Gambar 3.6 Sambungan Gear Penggerak dengan Alat SDES

3. Saat penyambungan kabel yang ada pada kunci kontak dan alat SDES sudah mulai tersambung dengan benar, maka penulis mencoba mengaktifkan alat SDES dengan memutar kunci kontak kearah on sehingga alat SDES aktif yang ditandai menyalanya LED yang terpasang pada box SDES.

(9)

Gambar 3.7 Box SDES

Setelah dilakukan pemasangan sensor yang sudah terhubung dengan alat SDES, maka penulis merapikan posisi box SDES agar terlihat rapih dan penulis mencoba untuk menjalankan fungsi dari alat SDES ini.

(10)

3.2.4 Pengujian SDES (Seat Driver Ergonomic System)

Setelah tahap pembuatan selesai dilakukan dan setelah penulis melakukan penelitian tentang penggunaan kursi pengemudi terhadap 4 pengemudi bus HINO RK-260 yang ada di PEMDA DKI, maka penulis melakukan pengujian terhadap kursi pengemudi dengan cara memasangkan alat SDES ini pada bus HINO RK-260 yang mereka kendarai sehari-hari sesuai dengan hari operasional bus tersebut. Dalam pemasangan alat SDES ini penulis meminta bantuan pemasangan alat SDES ini kepada seseorang yang berwenang dalam perawatan-perawatan bus ini dikarenakan dengan peraturan yang berlaku di PEMDA DKI tersebut. Dalam proses pemasangan tidak jauh beda dengan pemasangan pada alat peraga yang sudah dijelaskan sebelumnya. Tetapi ada beberapa perbedaan pada pemasangan alat SDES ini. Yang dilakukan oleh penulis adalah memasangkan sensor pada bagian bawah kursi pengemudi yang diletakkan pada bawah senderan kursi pengemudi yang bertujuan untuk memberikan peringatan kepada pengemudi bahwa posisi senderan kusi pengemudi memiliki sudut kemiringan senderan pengemudi yang kurang ergonomis, sehingga dapat mengurangi terjadinya kelelahan serta sakit pada bagian postur tubuh tertentu pada pengemudi.

3.2.5 Data Hasil Uji

Setelah melakukan pengujian terhadap 4 pengemudi bus yang ada di PEMDA DKI, maka penulis mendapatkan hasil yang cukup memuaskan dimana tujuan dari pembuatan kursi pengemudi ini dapat terpenuhi dan sesuai dengan keinginan penulis. Dari hasil data yang didapat oleh penulis sebelum dan sesudah pemasangan alat SDES ini pada bus HINO RK-260 sebagai berikut :

(11)

 Sebelum Pemasangan Alat SDES pada bus HINO RK-260 Sebelum dilakukan pemasangan alat SDES yang dilakukan oleh penulis terhadap 4 bus yang dikemudikan oleh para pengemudi. Penulis mendapatkan hasil keluhan pada bagian kursi pengemudi yang dijadikan rata – rata dari 4 pengemudi bus sebesar 35%, dimana keluhan pada kursi pengemudi ini pengemudi merasakan kelelahan dan sakit pada bagian postur tubuh tertentu dikarenakan posisi sudut senderan pada kursi pengemudi kurang nyaman, sehingga pengemudi hanya mampu menempuh jam operasional selama 4 jam disetiap harinya.

 Sesudah Pemasangan Alat SDES pada bus HINO RK-260 Setelah dilakukan pemasangan alat SDES pada 4 bus tersebut maka penulis mendapatkan hasil yang memuaskan dikarenakan keluhan – keluhan yang sering dirasakan oleh pengemudi berkurang dan pengemudi mampu menpuh jam operasional selama 8 jam disetiap harinya. Dari hasil pemasangan alat SDES pada kursi pengemudi dapat membantu untuk mengurangi keluhan – keluhan yang sering dirasakan oleh pengemudi.

3.2.6 Kesimpulan

Setelah dilakukannya pengujian terhadap 4 pengemudi bus yang ada di PEMDA DKI, dan penulis mendapatkan dari hasil data uji yang dilakukan dengan Sebelum dan Sesudah pemasangan alat SDES ini maka penulis dapat disimpulkan bahwa posisi sudut kemiringan pada kursi pengemudi dapat mempengaruhi kondisi tubuh pengemudi sehingga dapat mengganggu aktifitas dalam berkendara. Tetapi sesudah pemasangan alat SDES ini pengemudi merasakan perbedaan pada kondisi

(12)

tubuh pada saat mengendarai bus dimana pengemudi dapat mencapai jam operasional yang jauh lebih lama dari sebelumnya.

3.3 Metode Pengujian

Dalam melakukan pengujian ini dilakukan dengan 2 cara, yaitu: 3.3.1 Pengujian Waktu Tempuh pada Pengemudi (Jam)

Pada pengujian ini penulis mengambil data dengan melakukan pendataan waktu tempuh (jam) pada pengemudi. Apabila hasil data sudah didapat pada bus dengan No.Pol. B 7122 EQ, maka dilakukan pengujian yang sama pada bus dengan No.Pol. B 7577 EQ, B 7120 EQ dan B 7309 EQ dengan rute operasional yang berbeda – beda.

3.3.2 Pengujian Waktu Tempuh Operasional (22 Hari)

Pada pengujian ini penulis mengambil data dengan melakukan pendataan waktu tempuh target operasional (22 Hari). Apabila hasil data sudah didapat pada bus dengan No.Pol. B 7122EQ, maka dilakukan pengujian yang sama pada bus dengan No.Pol. B 7577 EQ, B 7120 EQ dan B 7309 EQ dengan rute operasional yang berbeda – beda.

3.4 Langkah-langkah Pembuatan Kursi Pengemudi dari Segi Ergonomic 1. Melakukan pengukuran-pengukuran teknik pada kursi sebelum modifikasi. 2. Melakukan pembuatan miniatur kursi pengemudi.

(13)

4. Pengaplikasian Seat Driver Ergonomic System (SDES) sensor pada kursi pengemudi.

3.5 Langkah-langkah Pembuatan Seat Driver Ergonomi System (SDES)

1. Membuat desain Printed Circuit Board (PCB) sesuai dengan gambar skema rangkaian yang sudah di desain sebelumnya.

2. Mengatur input (12 V) untuk memastikan rangkaian yang dipakai.

3. Proses pemasangan komponen-komponen ke Printed Circuit Board (PCB) atau perakitan.

4. Cek hasil rangkaian.

(14)

3.6 Skema Box Seat Driver Ergonomi System (SDES)

Gambar 3.9 Skema Box Seat Driver Ergonomic System (SDES)

3.7 Komponen Seat Driver Ergonomic System (SDES) 3.7.1 IC Regulator

Gambar 3.10 IC Regulator

Push button LED indikator

relay IC regulator Resistor IC Transistor Diode Kondensator Elektrolit

(15)

IC LM7812 adalah kode regulator yang bekerja pada tegangan positif yang berarti mereka menghasilkan tegangan output positif. IC LM7812 memiliki tiga kaki. Dari tampak depan, maka kaki pertama (kaki paling kiri jika dilihat dari depan) adalah input positif, kaki berikutnya atau kaki kedua adalah negative dan kaki ketiga sebagai outputnya. IC LM7812 ini mendukung tegangan input berapa saja di atas tegangan output yang diinginkan mencapai maksimum 35 – 40 V, tergantung pada merek dan biasanya outputnya 1 atau 1,5 ampere.

3.7.2 Integrated Circuit (IC)

Gambar 3.11 Integrated Circuit (IC)

Integrated Circuit atau biasa disingkat IC adalah suatu komponen elektrolik yang dibuat dari bahan semi konduktor, dimana IC merupakan gabungan dari beberapa komponen seperti resistor, kapasitor, diode dan transistor yang terintgritasi menjadi sebuah rangkaian berbentuk chip kecil. IC digunakan untuk beberapa keperluan pembuatan peralatan elektrolik agar mudah dirangkai menjadi peralatan yang berukuran relatif kecil.

(16)

3.7.3 Printed Circuit Board (PCB)

Gambar 3.12 Printed Circuit Board (PCB)

Printed Circuit Board atau biasa disingkat PCB adalah sebuah papan yang digunakan untuk mendukung semua komponen-komponen elektronika yang berada diatasnya. Papan PCB juga memiliki jalur-jalur konduktor yang terbuat dari tembaga dan berfungsi untuk menghubungkan antara suatu komponen dengan komponen lainnya.

3.7.4 Resistor

(17)

Resistor merupakan komponen elektronik yang memiliki dua pin dan di desain untuk mengatur tegangan listrik dan arus listrik, dengan resistensi tertentu (tahanan) dapat memproduksi tegangan listrik di antara kedua pin, nilai tengangan terhadap resistansi berbanding lurus dengan arus yang mengalir, berdasarkan hokum Ohm.

3.7.5 LED indikator

Gambar 3.14 LED Indikator

Lampu LED atau kepanjangannya Light Emitting Diode adalah suatu lampu indicator dalam perangkat elektronika yang biasanya memiliki fungsi untuk menunjukkan status dari perangkat elektronnika tersebut.

(18)

3.7.6 Buzzer

Gambar 3.15 Buzzer

Buzzer adalah suatu komponen elektronika yang berfungsi untuk mengubah getaran listrik menjadi getaran suara.

3.7.7 Box

Gambar 3.16 Box

Box berfungsi untuk melindungi rangkaian system elektonika, agar tidak terjadi konsleting listrik

(19)

3.7.8 Relay

Gambar 3.17 Relay

Relay adalah saklar (switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen elektromekanikal (electromechanical) yang terdiri dari dua bagian utama yakni: electromagnet (Coil), dan menikal (seperangkat kontak saklar atau switch

3.7.9 Sensor

Sensor adalah alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan sering berfungsi untuk mengukur magnitude sesuatu. Sensor adalah jenis transduser yang digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik.

3.7.10 Diode

(20)

Diode adalah komponen aktif dua kutub yang pada umumnya bersifat semikonduktor yang memperbolehkan arus listrik mengalir ke satu arah (kondisi panjar maju) dan menghambat arus dari arah sebaliknya (kondisi panjar mundur).

3.7.11 Kondensator Elektrolit (Elco)

Gambar 3.19 Kondensator Elektrolit (Elco)

Kondensator Elektrolit atau biasa disingkat Elco adalah kondensator yang biasanya berbentuk tabung, mempunyai dua kutub kaki berpolaritas positif dan negative, ditandai oleh kaki yang panjang positif sedangkan yang pendek negative atau yang dekat tanda minus (-) adalah kaki negative, nilai kapasitasnya dari 0,47µF

(mikroFarad) sampai ribuan mikroFarad dengan voltase kerja dari beberapa volt hingga ribuan volt.

(21)

3.7.12 Reed Switch

Gambar 3.20 Reed Switch

Reed Switch adalah sebuah saklar listrik yang dioperasikan oleh medan magnet. Bagiannya terdiri dari sepasang kontak logam mengandung besi dalam amplop tertutup rapat dalam kaca. Dalam keadaan biasa kontak terbuka, kontak akan menutup ketika medan magnet terdeteksi. Setelah medan magnet ditarik dari saklar, saklar reed akan kembali ke posisi semula.

3.7.13 Transistor

Gambar 3.21 Transistor

Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai pemutus dan penyambung (switching), stabilitasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya.

(22)

3.7.14 Push Button

Gambar 3.22 Push Button

Push Button adalah saklar tekan yang berfungsi sebagai pemutus atau penyambung arus listrik dari sumber arus ke beban listrik.

3.8 Rangkaian Pembuatan Seat Driver Ergonomic System (SDES)

(23)

Ignition Switch

F. 5A

Gambar 3.24 Rangkaian Seat Driver Ergonomic System (SDES)

Pada gambar diatas merupakan rangkaian arus listrik buzzer pada alat kursi pengemudi bus RK260. Piranti elektronik ini berfungsi sebagai pengontrol seat driver agar posisi pengemudi mendapatkan posisi nyaman dan membuat pengemudi tidak cepat capek pada saat berkendara. Rangkaian elektronik ini dilengkapi dengan sensor yang berfungsi sebagai input laporan awal ke rangkaian yang mana pada saat posisi duduk pada pengemudi merasa tidak nyaman berdasarkan atas standar yang telah ditentukan pada alat ini, maka sensor akan akan langsung membaca kondisi tersebut. Sehingga pengemudi akan segera memposisikan kursi pengemudi yang nyaman, aman, serta menjaga keselamatan saat mengemudi kendaraan.

Rangkaian ini dilengkapi dengan buzzer yang mana buzzer ini akan berbunyi, jika laporan yang diterima dari SDES pada kondisi atau posisi yang tidak benar. Contoh adalah posisi tubuh pengemudi pada saat duduk terlalu miring kekanan atau terlalu miring kekiri atau bisa juga posisi tubuh pengemudi saat duduk terlalu tegak, sehingga posisi tubuh bagian punggung menjadi tidak nyaman. Buzzer tidak akan berhenti

Baterai

SDES

Buzzer Sensor

Seat Driver

(24)

berbunyi sebelum posisi tubuh pengemudi saat duduk belum memposisikan tubuhnya dengan benar.

Alat ini dirancang dengan tujuan banyak postur tubuh dengan posisi duduk yang nyaman, maka pengemudi tidak akan cepat lelah dan capek. Sehingga postur tubuh keselamatan dalam berkendara dapat dikondisikan sebagai tujuan utama. Yang dimaksud dengan posisi mengemudi yang benar yaitu dimana posisi tubuh pengemudi pada bagian paha dan betis memiliki sudut yaitu 110° dan pada posisi tubuh pengemudi pada bagian lengan atas dan lengan bawah memiliki sudut 120°.

3.9 Spesifikasi Kendaraan

Tabel 3.1. Spesifikasi Bus HINO RK-260

HINO RK-260

Kemampuan Kekuatan Tanjakan (tan %) 35,7

Mesin Model J08E-UF Tipe Mesin 4 langkah Segaris; Direct Injection; Turbo Charge Intercooler Tenaga Maks. (PS/rpm) 260/2.500 Momen Puntir Maks. (Kgm/rpm) 76/1.500

Jumlah Silinder 6

Diameter x Langkah Piston (mm) 112 x 130 Isi Silinder (cc) 7.684

(25)

Kopling

Tipe

Pelat Kering Tunggal dengan Coil Spring;

Hydraulic Operation; Dilengkapi Clutch Booster. Diameter (mm) 380 Transmisi Tipe MF06S

Perbandingan Gigi (ke-1) 8,189

(ke-2) 5,34 (ke-3) 3,076 (ke-4) 1,936 (ke-5) 1,341 (ke-6) 1 (mundur) 7,142 Kemudi

Tipe Integral Power

Steering Radius Putar Min. (m) 9,2 Sumbu Depan Reverse Elliot, I-Section Beam Belakang Full-floating, single reduction, single speed by

(26)

hypoid gearings

Perbandingan Gigi Akhir 4,3

Rem

Rem Utama

Full Air dengan Sirkuit Ganda; Lead & Trail Shoe Rem Pelambat

Terletak Pada Pipa Gas Buang. Rem Parkir

Spring Brake Pada Roda Belakang

Roda & Ban Ukuran Rim 20 x 7,00t

Ukuran Ban 10,00 - 20 - 14PR

Sistem Listrik Aki (V - Ah) 12V - 120Ah x 2 Tangki Solar Kapasitas (L) 270

Dimensi

Jarak Sumbu Roda WB (mm) 6.000 Total Panjang OL (mm) 11.270 Lebar OW (mm) 2.440 Tinggi OH (mm) 1.865 Lebar Jejak Depan FR Tr (mm) 2.040 Belakang RR Tr (mm) 1.840 Julur Depan FOH (mm) 2.200 Belakang ROH (mm) 3.070 Suspensi Depan & Belakang Rigid axel dengan

(27)

Daun semi-elliptical; Couble Acting Shock

Absorber dengan Stabilizer Berat Chassis Depan (Kg) 1.270 Belakang (Kg) 3.780 Total (Kg) 5.050 GVWR (Kg) 14.200

3.10 Cara Pemasangan Kursi Pengemudi Ergonomic

Agar kursi pengemudi ergonomic dapat bekerja dengan baik, kita harus melakukan pemasangan kursi pengemudi ergonomic dengan cara yang benar. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemasangan adalah:

1. Lakukan pengambilan power setelah kunci kontak atau ignition switch, yang terhubung dengan relay supply power yang bergantung pada kunci kontak. Hal ini untuk memastikan bahwa kursi pengemudi ergonomic dapat diaktifkan dan dimatikan bersamaan dengan keseluruhan system.

2. Lakukan koneksi kabel menggunakan skun dan konektor pada kabel sehingga kapanpun anda menginginkan system kembali ke standar, yang anda lakukan hanyalah mengganti sensor dan kabelnya, dan tidak perlu mengganti cable harness. Letakkan buzzer di bagian dashboard untuk memudahkan pengemudi mendapatkan peringatan setiap posisi duduk pengemudi tidak benar, dengan suara sinyal yang cukup keras.

(28)

3.11 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Kursi Pengemudi dalam Berkendara

Dalam berkendara pengemudi harus memperhatikan beberapa hal penting pada kursi pengemudi. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan pada kursi pengemudi dalam berkendara:

1. Dimulai dengan mengatur tempat duduk bagian bawah. Diatur tidak terlalu jauh dari posisi pedal-pedal. Ketika kaki kiri sedang mengoperasikan pedal koling, kaki dapat menapak secara maksimal kelantai kendaraan. Selain itu, ketika kaki kiri sedang mengoperasikan pedal kopling tumit masih bisa menempel pada permukaan lantai.

2. Selanjutnya dalam posisi normal, kedua kaki diatur agar tidak terlalu menekuk. Kondisi menekuk berjam-jam akan membuat sirkulasi darah pada bagian kaki tidak lancer. Konsekuensinya adalah kepenatan. Hal ini ternyata mempengaruhi kualitas konsentrasi. Dengan demikian kepenatan harus dapat diantisipasi dengan baik. 3. Kemudian atur posisi badan dengan menggunakan pengaturan kursi pengemudi.

Caranya tempatkan salah satu tangan pada titik paling jauh dari linkar kemudi. Yaitu (jika kemudi diibaratkan sebuah jam) pada jam 12, tangan harus lurus dan pergelangan tangan tepat di jam 12. Maka jarak badan anda sudah tepat.

4. Pada posisi normal kedua tangan diletakkan pada posisi aman yaitu pada jam 9 – 3 senderung antara 10 – 2. Dengan posisi ini maka pengoperasian setir akan leluasa. Jika terjadi tabrakan, badan pengemudi tidak terlalu dekat dengan kolom setir. Sehingga benturan keras pun pada badan dapat terhindar. Dalam keadaan mobil bergerak liar pengemudi pun akan dapat mengolah roda kemudinya tanpa harus menggerakkan punggungnya keluar dari backrest atau sandaran kursi.

(29)

Posisi duduk dimana punggung kadang menempel kadang tidak menempel pada sandaran adalah indikasi posisi duduk yang terlalu jauh dari lingkaran kemudi. Sebaliknya ketika tangan sedang menarik ke bawah dan siku menempel pada perut, maka ini menandai bahwa posisi duduk terlalu dekat.

Gambar

Gambar 3.1 Diagram Alur Improvement Kursi Pengemudi                                            3.2  Skema Alur Pengujian
Gambar 3.2 Kerangka Penopang Kursi Pengemudi
Gambar 3.4 SDES (Seat Driver Ergonomic System)
Gambar 3.5 Push Button
+7

Referensi

Dokumen terkait

Usulan penelitian merupakan kegiatan penelitian masing-masing Dosen di lingkungan Fakultas Pertanian UGM bersama dengan mahasiswa yang menjadi bimbingan skripsi dosen tsb3. Dosen

Secara rinci, pada tahap perencanaan ini, prosedur tindakan yang dilakukan peneliti adalah (1) membagi guru dalam beberapa kelompok kecil, (2) peneliti memberikan

Adapun judul tesis adalah “ Perbedaan Pengaruh Pemberian Infus HES dengan Berat Molekul 40 kD dan 200 kD Terhadap Plasma Prothrombin Time dan Partial Thromboplastin Time : Kajian

Adapun yang termasuk ke dalam data primer adalah (1) data variabel penelitian yang terdiri dari : kinerja kepala sekolah, budaya sekolah, pengetahuan tentang manajemen, iklim

Berdasarkan data di atas, penulis menarik simpulan bahwa ada dua (2) tindakan antisosial yang dilakukan Yuno, yaitu tidak peduli dengan keselamatan orang lain

Jadi dalam penelitian ini fenomena yang akan diteliti adalah mengenai keadaan penduduk yang ada di Kabupaten Lampung Barat berupa dekripsi, jumlah pasangan usia

Dengan demikian, barang-barang yang tergolong ke dalam kategori A akan mendapat prioritas dalam penanganan dan untuk selanjutnya, perhitungan penghematan biaya

Paling tidak terdapat tiga macam bentuk pengendalian konflik, yakni : 1) Konsiliasi, iaitu pengendalian konflik yang dilakukan dengan melalui lembaga-lembaga tertentu