• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

9

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Informasi Akuntansi

Sistem informasi akuntansi memanfaatkan teknologi informasi dalam menyediakan informasi bagi para pengguna melalui pengolahan data. Sistem informasi akuntansi merupakan bagian daripada sistem informasi perusahaan yang memiliki tujuan, kegunaan, dan komponen yang mendukungnya, serta siklus transaksi yang terdapat pada sistem informasi akuntansi.

2.1.1 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi

Gelinas dan Dull (2008: 14) mengemukakan bahwa, “Accounting

information system (AIS) is a specialized subsystem of the IS. The purpose of this separate AIS was to collect, process, and report information related to the financial aspects of business events.”

Considine, Parkes, Olesen, Blount, dan Speer (2012: 12) berpendapat bahwa, “Accounting Information System is the application

of technology to the capturing, verifying, storing, sorting, and reporting of data relating to an organisation’s activities.”

Setelah memahami beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi adalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang mengumpulkan, memverifikasi, memproses, menyimpan, mengurutkan, dan melaporkan data keuangan dengan tujuan untuk menghasilkan informasi keuangan yang berguna untuk mendukung proses pengambilan keputusan.

2.1.2 Kegunaan Sistem Informasi Akuntansi

M. Slamet Wibowo menerjemahkan kegunaan sistem informasi akuntansi menurut Rama, Dasaratha V dan Frederick L.Jones (2008: 6), yaitu:

1. Membuat laporan yang berisi informasi yang berguna bagi pihak eksternal perusahaan seperti para investor, kreditur, dinas pajak, badan-badan pemerintah, dan yang lainnya.

(2)

2. Membantu para manajer dalam melakukan aktivitas rutin operasional dalam suatu siklus operasi perusahaan.

3. Mendukung proses pengambilan keputusan pada seluruh tingkat manajemen, baik yang dilakukan secara rutin maupun tidak.

4. Mendukung dalam pembuatan suatu perencanaan dan juga dalam melakukan pengendalian terhadap setiap aktivitas yang dilakukan. 5. Mendukung pelaksanaan pengendalian internal yang meliputi

kebijakan, aturan, prosedur, dan sistem informasi yang digunakan untuk melindungi aset perusahaan dari kerugian atau pencurian dan menjaga keakuratan data keuangan perusahaan.

2.1.3 Komponen Sistem Informasi Akuntansi

Terdapat enam komponen yang membentuk sistem informasi akuntansi menurut Romney dan Steinbart (2006: 6) yaitu:

1. People (orang), yang berinteraksi langsung untuk mengoperasikan

sistem dan melakukan berbagai fungsi.

2. Procedures and instruction (prosedur dan instruksi), baik manual dan

otomatis mancakup pengumpulan, pemrosesan dan penyimpanan data mengenai kegiatan organisasi.

3. Data (data), meliputi semua data transaksi yang terjadi mengenai

proses bisnis organisasi.

4. Software (perangkat lunak), yang digunakan untuk memproses dan

mengolah data organisasi.

5. Information technology infrastructure (infrastruktur teknologi

informasi), meliputi komputer, peralatan komunikasi jaringan dan peralatan lainnya yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memproses data, serta kemudian mengirimkan data tersebut lengkap dengan informasi yang dihasilkan.

6. Internal controls and security measures (pengendalian internal dan

tingkat keamanan), yang menjaga keamanan data pada sistem.

2.1.4 Siklus Transaksi pada Sistem Informasi Akuntansi

Menurut Romney dan Steinbart (2006: 29), siklus pemrosesan transaksi pada sistem merupakan suatu rangkaian aktivitas yang

(3)

dilakukan perusahaan dalam melakukan bisnisnya, mulai dari proses pembelian, produksi, hingga penjualan barang dan jasa. Siklus transaksi pada perusahaan dapat dibagi kedalam lima subsistem, yaitu:

1. Revenue cycle (siklus pendapatan), yang terdiri dari transaksi

penjualan dan penerimaan kas.

2. Expenditure cycle (siklus pengeluaran), yang terdiri dari peristiwa

pembelian barang untuk dijual kembali atau bahan baku diproduksi dan pengeluaran kas.

3. Human resource / payroll cycle (siklus penggajian / sumber daya

manusia), yang terdiri dari peristiwa yang berhubungan dengan perekrutan dan pembayaran atas pemakaian tenaga kerja.

4. Production cycle (siklus produksi), yang terdiri dari peristiwa yang

berhubungan dengan pengubahan bahan mentah menjadi barang jadi yang siap dipasarkan.

5. Financing cycle (siklus pembiayaan), yang terdiri dari transaksi

dimana perusahaan menjual bagian kepemilikan perusahaan kepada investor, perusahaan meminjam sejumlah uang kepada kreditor, dan membayar sejumlah dividen kepada investor, serta membayar pinjaman beserta bunga kepada kreditor.

2.2 Teori-teori Produksi

Proses produksi merupakan proses yang paling utama dalam perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Proses produksi dilakukan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi yang nantinya akan dipasarkan ke masyarakat. Sebelum melakukan proses produksi, perlu adanya perencanaan dan pengendalian atas produksi agar perusahaan mampu mengelola harga pokok produksi seminimal mungkin.

2.2.1 Pengertian Produksi

Menurut Groover (2005: 1), produksi merupakan suatu kegiatan yang berisi kumpulan orang, peralatan, dan aturan-aturan yang dikelola sedemikian rupa untuk melaksanakan operasi-operasi manufaktur dalam sebuah pabrik.

(4)

Hall (2013: 15) menjelaskan bahwa aktivitas produksi terjadi di dalam siklus pengkonversian bahan baku, tenaga kerja, dan aktiva tetap yang digunakan untuk menghasilkan suatu barang jadi.

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa produksi merupakan proses mengubah bahan baku, tenaga kerja dengan menggunakan peralatan dalam rangka untuk menghasilkan barang jadi.

2.2.2 Pengertian Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi menurut Hansen dan Mowen yang diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary (2009: 60), yakni harga pokok produksi mencerminkan total biaya barang yang diselesaikan selama periode yang berjalan. Biaya yang dibebankan pada barang yang telah selesai hanya biaya manufaktur yang terdiri dari biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead.

Menurut Raiborn dan Kinney yang diterjemahkan oleh Rahmat Hilman (2011: 61), harga pokok produksi sama dengan biaya yang ada pada area konversi pada permulaan periode ditambah biaya produksi (bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead) yang terjadi selama periode dikurangi biaya barang yang belum terselesaikan yang ada pada area konversi di akhir periode. Harga pokok produksi ditunjukkan pada laporan manajemen internal yang disebut laporan harga pokok produksi; jumlahnya sama dengan harga pokok pembelian dalam sebuah perusahaan ritel. Jika harga pokok produksi ditambahkan dengan persediaan barang jadi maka dapat ditentukan biaya barang yang tersedia untuk dijual pada periode berjalan; biaya barang yang tersedia untuk dijual dikurang dengan saldo persediaan barang jadi akhir merupakan harga pokok penjualan pada laporan laba rugi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa harga pokok produksi adalah biaya yang keluar untuk menghasilkan suatu barang jadi dan menjadi landasan dalam menetapkan harga jual suatu produk.

2.2.3 Fungsi Harga Pokok Produksi

Menurut Mulyadi (2005: 65) harga pokok produksi yang dikalkulasi pada jangka waktu tertentu yang sudah ditentukan merupakan

(5)

sebuah informasi, dimana informasi tersebut bermanfaat bagi manajemen untuk:

1. Menentukan Harga Jual Produk

Biaya produksi dihitung dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan informasi biaya produksi per satuan produk. Dalam penetapan harga jual, biaya produksi per unit merupakan salah satu informasi yang dipertimbangkan disamping informasi biaya lain serta informasi nonbiaya.

2. Memantau Realisasi Biaya Produksi

Jika rencana produksi untuk jangka waktu tertentu telah ditetapkan, maka manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan di dalam pelaksanaan rencana produksi tersebut. Maka dari itu, akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait biaya produksi yang keluar dalam jangka waktu tertentu untuk memantau apakah proses produksi mengkonsumsi total biaya produksi sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya.

3. Menghitung Laba atau Rugi Kotor

Untuk mengetahui apakah sebuah kegiatan produksi dan pemasaran dalam periode waktu tertentu mampu menghasilkan laba bruto atau rugi bruto, maka manajemen membutuhkan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi produk dalam periode tertentu.

4. Menentukan Harga Pokok Persediaan Produk Jadi dan Produk Dalam Proses Disajikan dalam Neraca

Dalam tugasnya manajemen memiliki pertanggungjawaban terhadap keuangan periodik, yakni dalam menyajikan laporan keuangan, diantaranya neraca dan laporan laba rugi. Di dalam neraca, manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan produk jadi dan harga pokok produk yang pada tanggal neraca masih dalam proses.

(6)

2.2.4 Sistem Perhitungan Harga Pokok Produksi

Menurut Witjaksono (2006: 25), “Sistem perhitungan harga pokok membahas mengenai tata cara atau metode penyajian informasi biaya produk dan jasa berdasarkan informasi dari sistem akumulasi biaya dan sistem biaya.” Secara garis besar terdapat 2 (dua) macam alternatif sistem perhitungan harga pokok, yakni:

1. Full Costing / Absorption Costing

Di dalam sistem perhitungan full costing / absorption costing, seluruh biaya produksi variabel dan biaya produksi tetap dibebankan ke produk.

2. Variabel Costing

Di dalam sistem perhitugan variabel costing, hanya biaya produksi variabel saja yang dibebankan ke produk.

2.3 Sistem Produksi

Aktivitas produksi pada suatu perusahaan tidak terlepas dari penggunaan sistem yang mendukung. Terdapat beberapa jenis proses manufaktur yang akan dijelaskan berikut ini.

2.3.1 Pengertian Sistem Produksi

Goldberg dan Askin (2006: 19) mengemukakan bahwa “The set of

resources and procedures involved in converting raw material into products and delivering them to customers defined the production system”, yakni sistem produksi adalah suatu set sumber daya dan

prosedur yang terlibat dalam mengkonversi bahan baku menjadi produk dan memberikannya kepada pelanggan.

2.3.2 Jenis Proses Manufaktur

Menurut Hansen dan Mowen yang diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary (2009: 306), dalam perusahaan dengan sistem proses, maka unit-unit produksi umumnya melalui setiap departemen atau proses. Dalam setiap departemen, bahan baku, tenaga kerja, dan overhead mungkin dibutuhkan. Saat penyelsaian proses tertentu, barang setengah jadi dipindahkan ke departemen berikutnya. Setelah melewati departemen

(7)

terakhir, barang selesai diproduksi. Berikut adalah jenis-jenis proses manufaktur:

1. Proses berurutan (sequential processing), yaitu pola pemrosesan dengan unit yang melewati dari suatu proses ke proses lainnya dalam serangkaian susunan.

Gambar 2.1 Proses Manufaktur Berurutan Sumber: Hansen dan Mowen (2009: 306)

2. Proses paralel (parallel processing), yaitu pola pemrosesan dengan dua atau lebih proses berurutan yang disyaratkan untuk menghasilkan sebuah barang jadi.

Gambar 2.2 Proses Manufaktur Paralel Sumber: Hansen dan Mowen (2009: 307)

2.4 Biaya

Kegiatan produksi yang dilakukan perusaahaan tentu memunculkan biaya. Biaya tersebut dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk. Berikut ini adalah penjelasan mengenai biaya dan pengelompokan biaya, serta sistem perhitungan biaya.

2.4.1 Pengertian Biaya

Pengertian biaya menurut Mursyidi (2010: 213) adalah “suatu pengorbanan yang dapat mengurangi kas atau harta lainnya untuk mencapai tujuan, baik yang dapat dibebankan pada saat ini maupun pada saat yang akan datang.”

(8)

Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 30), “akuntan telah mendefinisikan biaya sebagai suatu nilai tukar, pengeluaran, atau pengorbanan yang dilakukan untuk menjamin perolehan manfaat. Dalam akuntansi keuangan, pengeluaran atau pengorbanan pada tanggal akuisisi dicerminkan oleh penyusutan atas kas atau aset lain yang terjadi pada saat ini atau di masa yang akan datang.”

Menurut Hansen dan Mowen yang diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary (2009: 47), “biaya adalah kas atau setara kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa depan bagi organisasi.”

Dapat disimpulkan bahwa biaya adalah sesuatu berupa kas atau setara kas yang dikorbankan untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan dapat membawa manfaat bagi organisasi untuk mencapai tujuannya.

2.4.2 Klasifikasi Umum Biaya

Menurut Garrison, Norren, dan Brewer (2013: 26) yang diterjemahkan oleh Kartika Dewi, terdapat beberapa klasifikasi umum biaya yang meliputi: klasifikasi biaya menurut fungsi pokok perusahaan, konsep akuntansi keuangan, komponen laporan keuangan, prediksi perilaku biaya, pembebanan biaya ke obyek biaya, dan pembuatan keputusan.

2.4.2.1 Klasifikasi Biaya Menurut Fungsi Pokok Perusahaan

Garrison, Norren, dan Brewer (2013: 26) yang diterjemahkan oleh Kartika Dewi menyatakan bahwa terdapat beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur yang membagi biaya produksinya ke dalam 2 (dua) kategori besar, antara lain:

1. Biaya Produksi

Perusahaan manufaktur membagi biaya produksi ke dalam tiga kategori:

(9)

a. Bahan Langsung (Direct Material)

Merupakan bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan produk. Bahan baku merupakan semua jenis bahan yang digunakan dalam pembuatan produk. Bahan langsung merupakan bahan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari produk jadi, dan dapat ditelusuri secara fisik dengan mudah ke produk tersebut.

b. Tenaga kerja langsung (Direct Labor)

Istilah tenaga kerja langsung (Direct Labor) digunakan untuk merepresentasikan biaya tenaga kerja yang dapat ditelusuri dengan mudah ke produk jadi. Sedangkan, biaya tenaga kerja yang tidak dapat ditelusuri secara fisik dalam pembuatan produk disebut tenaga kerja tidak langsung dan diperlakukan sebagai bagian biaya overhead pabrik. Sebutan lain dari tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja manual (touch labor) karena dengan upaya atau sentuhan tenaga kerja tersebut, maka proses produksi berlangsung.

c. Biaya overhead pabrik (Manufacturing Overhead)

Biaya ini mencakup seluruh biaya produksi yang tidak termasuk dalam bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik terdiri dari bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, listrik dan penerangan, pemeliharaan dan perbaikan peralatan produksi, depresiasi, pajak properti, asuransi fasilitas-fasilitas produksi, dan lain-lain. Hanya biaya-biaya yang berkaitan dengan operasi pabrik yang termasuk ke dalam kategori biaya overhead produksi. Bila biaya overhead pabrik ditambah dengan biaya tenaga kerja langsung, maka akan menjadi biaya konversi (conversion cost). Istilah tersebut muncul dari fakta bahwa biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik terjadi dalam proses konversi. Gabungan antara biaya tenaga kerja

(10)

langsung dengan bahan langsung disebut biaya utama (prime cost).

2. Biaya Nonproduksi

Terdapat klasifikasi secara umum mengenai biaya nonproduksi, yaitu:

a. Biaya pemasaran atau penjualan

Mencakup seluruh biaya yang timbul untuk menangani pesanan konsumen dan upaya menyampaikan produk atau jasa kepada konsumen. Biaya-biaya tersebut disebut pemerolehan pesanan (ordergetting) dan pemenuhan pesanan (order-filling). Biaya pemasaran meliputi pengiklanan, pengiriman, perjalanan dalam rangka penjualan, komisi penjualan, gaji untuk bagian penjualan, dan biaya penyimpanan (gudang) produk jadi.

b. Biaya administrasi

Meliputi pengeluaran eksekutif, organisasional, dan klerikal yang berkaitan dengan manajemen umum organisasi. Contoh dari biaya administrasi ini adalah gaji eksekutif, akuntansi umum, kesekretariatan, humas, dan biaya sejenis yang terkait dengan administrasi umum organisasi secara keseluruhan.

(11)

Gambar 2.3 Ringkasan Terminologi Biaya Sumber: Garrison, Norren, dan Brewer (2010: 29)

2.4.2.2 Klasifikasi Biaya Menurut Konsep Akuntansi Keuangan Garrison, Norren, dan Brewer (2013: 28) yang diterjemahkan oleh Kartika Dewi mengklasifikasikan biaya menurut konsep akuntansi keuangan menjadi:

1. Biaya Produk (Product Cost)

Biaya produk meliputi seluruh biaya yang berhubungan dengan proses pemerolehan atau pembuatan suatu produk. Dalam kasus manufaktur, biaya ini terdiri atas bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Biaya produk dianggap “melekat” pada unit produk pada saat barang dibeli atau diproduksi, dan biaya tersebut tetap melekat pada barang yang kemudian menjadi persediaan yang menunggu untuk dijual.

2. Biaya Periodik (Period Cost)

Biaya periodik adalah semua biaya yang tidak termasuk ke dalam biaya produk. Biaya periodik akan dimasukkan ke dalam laporan laba rugi dan diakui beban pada periode terjadinya dengan menggunakan peraturan akuntansi akrual.

(12)

Biaya periodik tidak termasuk biaya pembelian maupun produksi barang. Contoh biaya periodik adalah sewa kantor, komisi penjualan, dan seluruh beban penjualan dan administrasi.

2.4.2.3 Klasifikasi Biaya untuk Memprediksi Perilaku Biaya

Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2013: 30), perilaku biaya umumnya dibagi menjadi 3 (tiga), antara lain: 1. Biaya Tetap

Biaya tetap merupakan biaya yang secara total tidak berubah walaupun aktivitas bisnis meningkat atau menurun. Misalnya

overhead pabrik memasukkan item seperti supervisi,

penyusutan, sewa, asuransi properti, pajak properti. 2. Biaya Variabel

Biaya variabel didefinisikan sebagai biaya yang secara total meningkat secara proporsional terhadap peningkatan dalam aktivitas dan menurun secara proporsional terhadap penurunan dalam aktivitas. Misalnya, biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, beberapa perlengkapan, beberapa tenaga kerja tidak langsung, alat-alat kecil, pengerjaan ulang, dan unit-unit yang rusak. Biaya variabel biasanya dapat diidentifikasikan langsung dengan aktivitas yang menimbulkan biaya.

3. Biaya Semivariabel

Biaya semivariabel adalah biaya yang memperlihatkan baik karakteristik-karakteristik dari biaya tetap maupun biaya variabel. Contoh biaya tersebut adalah biaya listrik, air, gas, bensin, perlengkapan, pemeliharaan, beberapa tenaga kerja tidak langsung, asuransi jiwa kelompok untuk karyawan, biaya pensiun, pajak penghasilan, biaya perjalanan dinas, dan biaya hiburan.

(13)

2.4.2.4 Klasifikasi Biaya untuk Pembebanan Biaya ke Obyek Biaya Menurut Horngren, Datar, dan Foster yang diterjemahkan oleh Desi Adhariani (2013: 46), penelurusan biaya serta pengalokasian biaya terbagi menjadi:

1. Biaya Langsung

Biaya langsung terkait dengan suatu obyek biaya dan dapat dilacak ke obyek biaya tertentu dengan cara yang layak secara ekonomi (biaya efektifitas). Istilah biaya terlacak (cost

tracing) digunakan untuk menggambarkan pembebanan biaya

langsung atas suatu obyek biaya. 2. Biaya Tidak Langsung

Biaya tidak langsung berkaitan dengan suatu obyek biaya namun tidak dapat dilacak ke obyek biaya tertentu dengan cara yang layak secara ekonomis (biaya efektifitas). Istilah alokasi biaya (cost allocation) digunakan untuk menggambarkan pembebanan biaya tidak langsung pada suatu obyek biaya.

2.4.2.5 Klasifikasi Biaya untuk Pengambilan Keputusan

Garrison, Norren, dan Brewer (2013: 47) mengklasifikasikan biaya yang dipergunakan untuk mengambil suatu keputusan yaitu:

1. Biaya Diferensial (Differential Cost)

Keputusan dibuat selalu berkaitan dengan proses pemilihan satu alternatif dari berbagai alternatif yang ada. Setiap alternatif memiliki pertimbangan biaya dan manfaat yang harus dibandingkan dengan alternatif yang lainnya. Perbedaan biaya antara dua laternatif disebut biaya diferensial. Perbedaaan penghasilan antara dua alternatif disebut pendapatan diferensial.

Biaya diferensial disebut juga dengan biaya inkremental (incremental cost). Meskipun secara teknis yang dimaksud dengan biaya inkremental adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan kenaikan biaya yang terjadi akibat adanya perubahan

(14)

dari suatu alternatif ke alternatif lainnya. Sedangkan penurunan biaya sering disebut biaya dekremental (decremental cost).

2. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)

Biaya kesempatan atau biaya peluang merupakan manfaat potensial yang akan hilang bila salah satu alternatif telah dipilih dari sejumlah alternatif yang tersedia. Biaya kesempatan tidak selalu dicatat dalam catatan akuntansi, tetapi merupakan biaya yang harus selalu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Setiap alternatif biaya memiliki biaya kesempatan yang melekat padanya.

3. Biaya Tertanam (Sunk Cost)

Biaya tertanam merupakan biaya yang telah terjadi dan tidak dapat diubah oleh keputusan apa pun yang dibuat saat ini ataupun masa yang akan datang. Biaya tertanam bukanlah biaya diferensial, oleh karenanya biaya tertanam dapat diabaikan dalam pembuatan keputusan.

2.4.3 Sistem Akumulasi Biaya

Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 174), tujuan penting dari sistem akumulasi atau perhitungan biaya adalah untuk menentukan berapa besaran biaya dari suatu barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Sistem perhitungan biaya sebaiknya ekonomis untuk dioperasikan dan membebankan sejumlah biaya ke setiap produk sedemikian rupa sehingga merefleksikan biaya dari sumber daya yang digunakan untuk memproduksi produk tersebut. Sistem akumulasi biaya terdiri dari job order costing dan process costing.

2.4.3.1 Job Order Costing

Menurut Hansen dan Mowen yang diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary (2009: 290), job order costing merupakan suatu sistem perhitungan biaya yang memungkinkan suatu biaya dikumpulkan dan dibebankan ke dalam unit produksi untuk setiap pekerjaan atau pesanan.

(15)

Menurut Carter dan Usry yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 124) mengemukakan bahwa job order costing merupakan metode perhitungan biaya yang mengakumulasikan biaya untuk setiap pesanan, setiap batch, atau setiap lot.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa job order costing melakukan perhitungan biaya produksi dengan cara mengakumulasikan biaya-biaya berdasarkan pekerjaan atau pesanan. Untuk menghitung biaya berdasarkan pesanan secara efektif, pesanan tersebut harus dapat diidentifikasi secara terpisah agar rincian atau detail dari perhitungan biaya berdasarkan pesanan sesuai dengan usaha yang dikeluarkan atau diperlukan, dan harus menjelaskan perbedaan penting dalam biaya per unit suatu pesanan dengan pesanan lain.

Gambar 2.4 Arus Dokumen dalam Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan Sumber: Garrison, Norren, dan Brewer (2010: 99)

2.4.3.2 Process Costing

Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 124), sistem perhitungan biaya berdasarkan proses (process

costing) adalah suatu metode dimana biaya diakumulasikan

berdasarkan proses produksi atau berdasarkan departemen.

Menurut Hansen Mowen yang diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary (2009: 291), sistem perhitungan biaya berdasarkan proses adalah suatu proses yang mengakumulasikan biaya produksi berdasarkan proses untuk satu periode waktu tertentu.

(16)

Output proses dalam periode tersebut akan diukur dan biaya per

unit dihitung dengan membagi biaya prosesnya dengan output pada periode terkait.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa process costing adalah sistem perhitungan biaya berdasarkan proses, dimana komponen-komponen biaya seperti bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik dibebankan ke pusat biaya. Biaya yang dibebankan ke setiap unit ditentukan dengan membagi total biaya yang dibebankan ke pusat biaya dengan total unit yang diproduksi. Pusat biaya biasanya berupa departemen, tetapi bisa juga pusat pemrosesan dalam satu departemen.

2.5 Metode Tradisional

2.5.1 Pengertian Metode Tradisional

Dalam sistem biaya tradisional, menurut Bustami dan Nurlela (2012: 23) biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik baik bersifat variabel maupun tetap, menjadi biaya produk. Sistem biaya tradisional mengasumsikan produk-produk dan volume produksi yang terkait merupakan penyebab timbulnya biaya.

Sistem akuntansi biaya tradisional mengklasifikasikan biaya menjadi biaya langsung dan biaya tidak langsung, dan untuk pembebanan biaya menggunakan ukuran volume produksi, jam kerja langsung atau jam mesin. Dalam pengalokasian biaya overhead pabrik ke produk, dilakukan sistem pembebanan dua tahap. Tahap pertama adalah estimasi biaya overhead pabrik dalam pusat biaya (cost centre) atau departemen, baik departemen produksi maupun departemen jasa, kemudian biaya dalam pusat biaya atau departemen jasa dialokasikan ke departemen produksi dengan menggunakan metode alokasi bertahap tidak timbal balik, atau metode alokasi kontinyu, dengan pengukuran dan dasar alokasi tertentu. Pada tahap kedua, biaya departemen jasa yang telah dialokasikan ke departemen produksi, akan ditentukan pemicu biaya yang tepat untuk tiap-tiap departemen produksi, umumnya pada metode ini menggunakan unit related, seperti: jumlah unit yang diproduksi, jam kerja langsung, atau jam mesin.

(17)

2.5.2 Kelemahan Metode Tradisional

Menurut Rudianto (2013: 159), dengan berkembangnya dunia tekhnologi, mulai dirasakan bahwa sistem akuntansi biaya tradisional tidak mampu lagi menghasilkan biaya produk yang akurat. Hal ini terjadi karena beberapa hal, antara lain:

1. Sistem akuntansi biaya tradisional terlalu menekankan pada tujuan penentuan harga pokok yang dijual. Akibatnya, sistem ini hanya menyediakan informasi yang relatif sangat sedikit untuk mencapai keunggulan dalam persaingan global.

2. Dalam kaitannya dengan biaya overhead, sistem akuntansi biaya tradisional terlalu memusatkan pada distribusi dan alokasi biaya

overhead ketimbang berusaha keras mengurangi pemborosan dengan

menghilangkan aktivitas yang tidak berniai tambah.

3. Sistem akuntansi biaya tradisional beranggapan bahwa biaya ditimbulkan oleh faktor tunggal, seperti volume produk atau jam kerja langsung sehingga tidak mencerminkan sebab akibat biaya.

4. Sistem pembebanan biaya yang selama ini dilakukan pada akuntansi biaya tradisional menimbulkan adanya distorsi biaya, ini terlihat pada penggunaan unit related, padahal pada kenyataannya ada aktivitas yang dikendalikan oleh batch related dan products sustaining related, seperti setup dan inspeksi. Penyebab distorsi lainnya adalah, adanya perbedaan rasio konsumsi atau jasa yang diberikan oleh departemen jasa untuk setiap macam produk yang dihasilkan. Distorsi tersebut mengakibatkan konflik pada kegiatan pembuatan keputusan.

5. Sistem biaya tradisional memang memperhatikan biaya total perusahaan, tetapi mengabaikan “below the line expenses”, seperti biaya penjualaan, biaya distribusi, biaya riset dan pengembangan, serta biaya administrasi. Biasanya biaya-biaya ini tidak dibebankan ke pasar, pelanggan, saluran distribusi, atau bahkan produk yang berbeda.

(18)

2.6 Activity Based Costing

2.6.1 Pengertian Activity Based Costing

Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 528), perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (Activity Based Costing – ABC) didefinisikan sebagai suatu metode perhitungan biaya dimana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebih faktor yang tidak berkaitan dengan volume (non-volume-related factor). Jika dibandingkan dengan akuntansi biaya tradisional, ABC mewakili penerapan penelusuran biaya yang lebih menyeluruh dan mendetail. Perhitungan biaya produk dengan metode tradisional menelusuri hanya biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung ke setiap unit output. Tetapi, ABC mengakui bahwa banyak biaya-biaya lain yang pada kenyataannya dapat ditelusuri, tidak ke unit output, tetapi ke aktivitas yang diperlukan untuk memproduksi output.

Menurut Raiborn dan Kinney yang diterjemahkan oleh Rahmat Hilman (2011: 150), Activity Based Costing (ABC) adalah sistem akuntansi biaya yang berfokus pada aktivitas organisasi dan pengumpulan biaya-biaya berdasarkan sifat pokok yang masih mendasari tingkat beberapa overhead yang telah ditetapkan kemudian dihitung menggunakan berbagai macam pemicu biaya dalam aktivitas suatu organisasi.

Dapat disimpulkan bahwa activity based costing merupakan salah satu metode perhitungan biaya dimana biaya overhead dialokasikan sesuai dengan aktivitas masing-masing kegiatan sehingga biaya yang dihasilkan lebih akurat dan mencerminkan biaya yang sesungguhnya.

2.6.2 Tingkatan Biaya dan Pemicu pada Activity Based Costing

Dalam Activity Based Costing (ABC), dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya overhead disebut sebagai penggerak atau pemicu (driver). Pemicu sumber daya (resource driver) adalah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya dari suatu sumber daya ke berbagai aktivitas berbeda yang menggunakan sumber daya tersebut. Pemicu aktivitas (activity driver) adalah suatu dasar yang digunakan

(19)

untuk mengalokasikan biaya dari suatu aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek biaya final (final cost object) lainnya. Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 528), tingkatan biaya yang ada pada

Activity Based Costing (ABC), yakni:

1. Tingkat Unit

Biaya tingkat unit (unit-level cost) adalah biaya yang pasti akan meningkat ketika satu unit diproduksi. Biaya ini adalah satu-satunya biaya yang selalu dapat dengan akurat dibebankan secara proporsional terhadap volume. Contoh-contoh dari biaya tingkat unit mencakup biaya listrik, jika mesin-mesin bertenaga listrik digunakan untuk memproduksi setiap unit, biaya pemanasan jika setiap unit mengalami proses pemanasan, dan biaya petugas inspeksi jika setiap unit memerlukan inspeksi. Pemicu tingkat unit (unit-level driver) merupakan ukuran aktivitas yang bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi dan dijual.

2. Tingkat Batch

Tingkatan agregasi yang lebih tinggi berikutnya adalah batch. Biaya tingkat batch (batch-level cost) adalah biaya yang disebabkan oleh jumlah batch yang diproduksi dan dijual. Contoh dari biaya tingkat

batch mencakup biaya persiapan dan sebagian besar dari biaya

penanganan bahan baku. Pemicu tingkat batch (batch-level driver) adalah ukuran aktivitas yang bervariasi dengan jumlah batch yang diproduksi dan dijual. Contoh dari pemicu tingkat batch adalah persiapan, jam persiapan, pesanan produksi, dan permintaan bahan baku.

3. Tingkat Produk

Tingkatan berikutnya di atas batch adalah produk. Biaya tingkat produk (product-level cost) adalah biaya yang terjadi untuk mendukung sejumlah produk berbeda yang dihasilkan. Biaya tersebut tidak harus dipengaruhi oleh produksi dan penjualaan dari satu batch atau satu unit lebih banyak. Pemicu tingkat produk (product-level

driver) adalah ukuran aktivitas yang bervariasi dengan jenis produk

(20)

4. Tingkat Pabrik

Beberapa tingkatan biaya dan pemicu dapat terjadi di atas tingkatan produk. Hal ini mencakup tingkat lini produk, tingkat proses, tingkat departemen, dan tingkat pabrik. Biaya tingkat pabrik (plant-level

cost) adalah biaya untuk memelihara kapasitas di lokasi produksi.

Luas lantai yang ditempati sering kali disebut dengan pemicu tingkat pabrik (plant-level driver)untuk membebankan biaya tingkat pabrik.

2.6.3 Perbandingan antara Activity Based Costing dengan Sistem Perhitungan Biaya Tradisional

Tanpa memedulikan jumlah departemen, tempat penampungan biaya overhead, maupun dasar alokasi berbeda yang digunakan, sistem perhitunga biaya tradisional ditandai oleh penggunaan yang eksklusif dari ukuran yang berkaitan dengan volume atau ukuran tingkat unit sebagai dasar untuk mengalokasikan overhead ke output. Oleh karena itu, sistem tradisional juga disebut dengan sistem berbasis unit (unit-based system).

Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 532) Sistem ABC mengharuskan penggunaan tempat penampungan overhead lebih dari satu, tetapi tidak setiap sistem dengan tempat penampungan biaya lebih dari satu merupakan sistem ABC.

Perbedaan lain antara sistem tradisional dan sistem ABC. Jumlah tempat penampungan biaya overhead dan dasar alokasi cenderung lebih banyak di sistem ABC, tetapi hal ini sebagian besar disebabkan karena banyak sistem tradisional menggunakan satu tempat penampungan biaya atau satu dasar alokasi untuk semua tempat penampungan biaya.

Perbedaan umum antara sistem ABC dan sistem tradisional adalah homogenitas dari biaya dalam satu tempat penampungan biaya. ABC mengharuskan perhitungan tempat penampungan biaya dari suatu aktivitas, maupun identifikasi atas suatu pemicu aktivitas untuk setiap aktivitas yang signifikan dan mahal. Perbedaan lain antara sistem ABC dengan sistem tradisional adalah bahwa semua sistem ABC merupakan sistem perhitungan biaya dua tahap, sementara sistem tradisional bisa merupakan sistem perhitungan satu atau dua tahap.

(21)

2.6.4 Manfaat Activity Based Costing

Bustami dan Nurlela (2012: 29) mengungkapkan bahwa para manajemen puncak akan setuju untuk menerapkan suatu sistem yang baru di lingkungan organisasi mereka, jika mereka percaya bahwa mereka akan memperoleh manfaat yang lebih, jika dibandingkan dengan sistem yang lama. Manfaat yang diperoleh dalam penerapan Activity

Based Costing (ABC), antara lain:

1. Memberi kemudahan dalam pengambilan keputusan karena Activity

Based Costing (ABC) menyediakan informasi biaya yang

berhubungan dengan berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk atau jasa layanan, bagi manajemen akan memperoleh kemudahan dalam mendapat informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan yang akan diambil dalam aktivitas perusahaan secara menyeluruh.

2. Memperbaiki kualitas pengambilan keputusan. Para manajemen puncak yang telah menerapkan Activity Based Costing (ABC), percaya bahwa semakin akurat perhitungan biaya atau jasa layanan yang digunakan Activity Based Costing (ABC), akan mengurangi kemungkinan kesalahan dalam pengambilan keputusan.

3. Memungkinkan manajamen melakukan perbaikan secara terus menerus. Banyak perusahaan berusaha untuk mengurangi biaya, guna menawarkan produk atau jasa layanan beraneka yang diinginkan oleh pelanggan. Tetapi untuk menghasilkan produk atau jasa layanan yang beraneka akan meningkatkan biaya. Dengan menggunakan Activity

Based Costing (ABC), biaya yang dikeluarkan akan terlihat dengan

jelas pada setiap aktivitas, dimana biaya yang tidak mempunyai nilai tambah bagi pelanggan akan di eliminasi lebih cepat.

4. Activity Based Costing (ABC) menyajikan biaya produk yang lebih

akurat dan informatif, yang menuju pada pengukuran kemampuan peroleh laba atas produk yang lebih akurat dan keputusan-keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebih baik mengenai harga jual, lini produk, pasar pelanggan, dan pengeluaran modal.

(22)

2.6.5 Kelemahan Activity Based Costing

Menurut Bustami dan Nurlela (2012:29), mengimplementasikan

Activity Based Costing (ABC) adalah sebuah tantangan yang mana akan

terdapat berbagai kendala, seperti:

1. Penerapan Activity Based Costing lebih mahal.

Dibandingkan dengan sistem biaya tradisional, ABC membutuhkan berbagai ukuran aktivitas yang harus dikumpulkan, diperiksa, dan dimasukkan ke dalam sistem. Hal ini mungkin kurang sebanding dengan tingkat keakuratan yang didapat, sehingga mengakibatkan biaya yang tinggi.

2. Sulitnya merubah pola kebiasaan manajer.

Membutuhkan waktu untuk dapat merubah pola kebiasaan manajer karena para manajer sudah terbiasa menggunakan sistem biaya tradisional dalam operasinya, maka dengan perubahan pola ini kadangkala mendapat perlawanan dari para karyawan. Kalau hal ini terjadi maka penerapan Activity Based Costing (ABC) akan mengami kegagalan.

2.6.6 Tahapan Penerapan Activity Based Costing

Garrison dan Noreen (2010: 319) mengemukakan bahwa tahapan untuk menerapkan Activity Based Costing yakni:

1. Mendefinisikan Aktivitas, Pul Biaya Aktivitas, dan Pengukuran Aktivitas.

Langkah utama yang pertama dalam menerapkan sistem ABC adalah mengidentifikasikan aktivitas yang akan menjadi dasar sistem tersebut. Prosedur umum untuk melakukannya adalah melakukan wawancara terhadap semua orang yang terlihat atau setidaknya semua supervisor dan manajer dalam departemen yang menimbulkan

overhead dan meminta mereka untuk menggambarkan aktivitas

utama yang mereka lakukan. Biasanya akan diperoleh aktivitas dengan jumlah yang banyak, dimana pada sistem ABC, semakin banyak jumlah aktivitas semakin akurat perlakuan terhadap biaya. Sebaliknya, diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk merancang, menerapkan, memelihara, dan menggunakan sistem yang kompleks

(23)

yang melibatkan sejumlah besar aktivitas. Konsekuensinya, aktivitas yang banyak tersebut dikurangi dengan menggabungkan aktivitas-aktivitas yang sejenis. Ketika mengombinasikan aktivitas-aktivitas dalam sistem ABC, aktivitas seharusnya digabung bersamaan pada level yang sesuai. Aktivitas tingkat batch tidak sharusnya dikombinasikan dengan aktivitas tingkat unit atau aktivitas tingkat produk dengan tingkat batch.

2. Membebankan Biaya ke Pul Biaya Aktivitas.

Alokasi tahap pertama (first-stage allocation) dalam sistem ABC adalah proses pembebanan biaya overhead fungsional yang berasal dari jurnal umum perusahaan ke pul aktivitas. Alokasi tahap pertama biasanya berdasarkan hasil tanya jawab dengan pegawai yang terkait langsung dengan aktivitas.

3. Menghitung Tarif Aktivitas

Tarif aktivitas akan didapat setelah total biaya dari masing-masing pul biaya aktivitas diketahui. Setelah itu, akan dihitung besarnya tarif dengan cara membagi total biaya per pul biaya aktivitas dengan penggerak biayanya. Tarif aktivitas akan digunakan untuk membebankan biaya overhead setiap produk.

4. Membebankan Biaya Overhead ke Objek Biaya Menggunakan Tarif. Langkah ke empat dalam penerapan ABC disebut alokasi tahap kedua (second-stage allocation). Dalam alokasi tahap kedua, tarif aktivitas digunakan untuk membebankan biaya overhead masing-masing produk.

5. Menyiapkan Laporan Manajemen.

Pada tahap ini, laporan manajemen yang berkaitan dengan hasil perhitungan menggunakan metode ABC disiapkan. Laporan ini membantu perusahaan dalam merumuskan rencana strategis mengenai produk.

2.7 Analisis dan Perancangan Berorientasi Obyek

Pendekatan beriorientasi obyek sendiri menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 60) adalah suatu pendekatan pengembangan sistem yang

(24)

memandang sistem informasi sebagai sekumpulan obyek yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk menyelesaikan tugas-tugas.

Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2005: 60), analisis dan perancangan berorientasi obyek (Object Oriented Analysis and Design – OOAD) antara lain merupakan kombinasi komponen berikut:

1. Object-Oriented Analysis (OOA) mendefinisikan semua jenis obyek yang

melakukan pekerjaan dalam sistem dan menunjukkan interaksi pengguna yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

2. Object-Oriented Design (OOD) mendefinisikan semua jenis obyek yang

diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang dan perangkat yang ada dalam sistem serta menunjukkan bagaimana obyek-obyek tersebut saling berinteraksi dalam menyelesaikan tugas.

3. Object-Oriented Programming (OOP) adalah pembuatan bahasa

pemrograman yang menggambarkan setiap aktifitas yang dilakukan oleh obyek. Selain itu, dalam object oriented programming terjadi pengiriman pesan antar obyek yang saling berhubungan.

2.7.1 Unified Modeling Language (UML)

Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 48) mendefinisikan Unified

Modeling Language (UML) sebagai seperangkat model konstruksi dan

notasi yang dibuat dalam pengembangan berorientasi obyek. Model yang dicakup dalam metode pengembangan sistem adalah perumpamaan input, output, proses, data, obyek, interaksi antar obyek, lokasi, jaringan, dan peralatan.

2.7.2 Unified Process (UP)

Unified Process (UP) adalah salah satu metode yang digunakan

dalam pengembangan sistem, yang merupakan sebuah metode pengembangan sistem berorientasi obyek. Metode ini sudah menjadi salah satu metode yang banyak digunakan dalam pengembangan sistem berorientasi obyek.

Perancangan Unified Process (UP), Unified Modeling Language (UML) models, tools, dan teknik-teknik bermanfaat untuk memperkuat

(25)

contoh praktik terbaik dari banyak metode yang digunakan dalam pengembangan sistem, seperti:

1. Pengembangan secara iteratif

2. Penjabaran dan pengelolaan system requirements 3. Pengunaan arsitektur komponen

4. Pembuatan model visual 5. Verifikasi kualitas 6. Pengendalian perubahan

UP memperkenalkan pendekatan baru untuk siklus hidup pengembangan sistem, dimana pendekatan tersebut menggabungkan perulangan (iterations) dan tahapan (phases), yang disebut dengan siklus hidup UP (UP life cycle). UP mendefinisikan empat tahapan siklus hidup yaitu: inception, elaboration, construction, dan transition.

Gambar 2.5 UP Disciplines

Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 264)

1. Business Modeling

Tujuan utama dari business modeling discipline adalah untuk memahami dan mengkomunikasikan sifat dari lingkungan bisnis dimana sistem tersebut akan dibuat. Analis harus memahami masalah saat ini dan perbaikan yang memungkinkan dari sistem yang baru. Tiga aktivitas utama dalam business modeling:

(26)

a. Memahami lingkungan bisnis b. Membuat system vision c. Membuat business models

2. Requirements

Tujuan utama dari requirements discipline adalah untuk memahami dan mendokumentasikan kebutuhan bisnis dan persyaratan proses sistem yang baru. Aktivitas yang termasuk dalam requirements

discipline adalah:

a. Mengumpulkan informasi secara detil

b. Mendefinisikan kebutuhan / persyaratan fungsional c. Mendefinisikan kebutuhan / persyaratan non fungsional d. Memprioritaskan kebutuhan

e. Membangun user interface dialogs f. Mengevaluasi kebutuhan dengan users

3. Design

Tujuan dari design discipline adalah untuk merancang sistem berdasarkan kebutuhan yang telah didefinisikan sebelumnya.

High-level design terdiri dari kegiatan membangun struktur arsitektural

untuk komponen software, databases, user interface, dan lingkungan operasional. Low-level design memerlukan atau membutuhkan pembangunan detailed classes, methods, dan struktur yang dibutuhkan dalam pembangunan software. Terdapat beberapa aktivitas di dalam design dicipline. 6 (enam) aktivitas utama dalam

design discipline tersebut antara lain:

a. Merancang support service architecture dan deployment

environment

b. Merancang software architecture c. Merancang use case realizations d. Merancang database

e. Merancang system and user interfaces f. Merancang keamanan sistem dan kontrol

4. Implementation

Implementation discipline adalah tahap mengimplementasikan sistem

(27)

komponen software, memperoleh komponen software, dan mengintegrasikan komponen software.

5. Testing

Pada tahap testing, dilakukan proses pengecekan atau pengetesan terhadap sistem yang telah diimplementasikan. Terdiri dari unit

testing, integration testing, usability testing, dan user acceptance testing.

6. Deployment

Deployment discipline mengacu kepada aktivitas yang dibutuhkan

agar sistem berjalan secara operasional. Terdiri dari aktivitas memeperoleh hardware dan software sistem, package and install komponen, melatih user, dan convert and initialize data.

2.8 System Development Life Cycle

O’Brien (2006: 510) menjelaskan bahwa biasanya System Development

Life Cycle (SDLC) ini digunakan untuk pengembangan sistem yang besar,

dimana SDLC merupakan serangkaian tahapan-tahapan pekerjaan yang dilakukan oleh analis sistem dan programmer dalam membangun sebuah sistem. SDLC juga merupakan alat untuk manajemen proyek yang bermanfaat untuk merencanakan, memutuskan, dan mengontrol proses pengembangan suatu sistem. Tahapan-tahapan siklus pengembangan sistem informasi ini adalah:

1. Investigasi sistem

Produk yang dihasilkan adalah berupa studi kelayakan. Untuk mendapatkan hasil tersebut, diperlukan beberapa tahapan, antara lain:

a. Menentukan bagaimana cara untuk menanggapi peluang dan prioritas bisnis.

b. Melakukan studi kelayakan untuk menentukan apakah sistem bisnis yang baru merupakan solusi yang layak dan lebih baik.

c. Mengembangkan rencana manajemen proyek dan mendapatkan persetujuan manajemen.

2. Analisis sistem

Produk yang dihasilkan adalah persyaratan fungsional. Untuk mendapatkan hasil tersebut, diperlukan beberapa tahapan, antara lain:

(28)

a. Menganalisis kebutuhan sistem informasi karyawan, pelanggan, dan pemilik kepentingan bisnis lainnya.

b. Mengembangkan persyaratan fungsional sistem yang dapat memenuhi prioritas bisnis dan kebutuhan semua pemilik kepentingan.

3. Desain sistem

Produk yang dihasilkan adalah spesifikasi sistem. Untuk mendapatkan hasil tersebut, diperlukan tahapan yakni:

a. Mengembangkan spesifikasi hardware, software, orang-orang, jaringan, dan data, serta produk informasi yang dapat memenuuhi persyaratan fungsional dari sistem yang diusulkan.

4. Implementasi Sistem

Produk yang dihasilkan adalah berupa sistem operasional. Untuk mendapatkan hasil tersebut, diperlukan beberapa tahapan, antara lain: a. Mengembangkan hardware dan software

b. Menguji sistem, dan melatih orang-orang untuk mengoperasikan dan menggunakannya.

c. Melakukan konversi ke sistem bisnis yang baru.

d. Mengelola pengaruh perubahan sistem terhadap pengguna akhir. 5. Pemeliharaan Sistem

Produk yang dihasilkan adalah sistem yang diperbaiki. Untuk mendapatkan hasil tersebut, diperlukan tahapan yakni:

a. Mengawasi, mengevaluasi, dan memodifikasi, serta memelihara sistem bisnis agar sesuai dengan kebutuhan.

2.9 Modeling and The Requirement Dicipline

2.9.1 Requirement Dicipline

2.9.1.1 System Requirements

Dalam proses pengembangan suatu sistem, kebutuhan pengguna serta fungsi yang diharapkan pengguna harus diidentifikasi secara jelas. Semua kebutuhan pengguna dan fungsi yang harus ada pada sistem disebut system

requirements. Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005:

130), secara umum system requirements terbagi ke dalam 2 (dua) kategori, antara lain:

(29)

1. Functional Requirement

Meliputi semua aktivitas yang harus ditangani oleh sistem atau fungsi-fungsi yang harus ada di dalam sistem.

2. Nonfunctional Requirement

Meliputi karakteristik sistem selain aktivitas yang harus ada pada sistem. Nonfunctional requirement terbagi menjadi 5 (lima) bagian, yaitu:

a. Technical Requirement

Mendefinisikan karakteristik operasional terkait dengan lingkungan organisasi, hardware, dan software.

b. Performance requirement

Mencakup karakteristik operasional yang berhubungan dengan pengukuran beban kerja, seperti waktu respon. c. Usability Requirement

Menjelaskan karakteristik operasional yang terkait dengan user, seperti user interface, prosedur kerja, bantuan online, dan dokumentasi.

d. Reliability Requirement

Mencakup karakteristik operasional yang terkait dengan ketergantungan suatu sistem, pencatatan semua kejadian atau event, pemrosesan kesalahan, serta deteksi dan perbaikan kesalahan.

e. Security Requirement

Menjelaskan pembagian akses setiap user pada fungsi-fungsi yang ada di dalam sistem.

2.9.1.2 Activity Diagram

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 144),

activity diagram adalah diagram alur kerja sederhana yang

menggambarkan aktivitas dari user (atau sistem) yang berbeda-beda, pihak yang melakukan tiap aktivitas, dan aliran yang berurutan dari aktivitas dan ke aktivitas tersebut. Activity adalah langkah terkecil yang terdapat dalam sebuah prosedur yang membahas mengenai pekerjaan atau hal yang dilakukan

(30)

seseorang pada bagian tertentu di perusahaan. Adapun beberapa simbol yang digunakan dalam mendesain activity

diagram, yaitu:

1. Swimlane, merupakan suatu bentuk persegi yang

merepresentasikan aktivitas-aktivitas yang diselesaikan setiap agen.

2. Synchronization Bar, merupakan notasi yang memiliki

fungsi untuk memisahkan (split) atau menyatukan (join) urutan jalur aktivitas .

3. Starting Activity (Pseudo), merupakan notasi yang

menunjukkan dimulainya suatu aktivitas.

4. Transition Arrow, merupakan notasi berbentuk anak

panah yang mendeskripsikan arah perpindahan dari suatu aktivitas ke aktivitas berikutnya.

5. Activity, merupakan notasi yang mendeskripsikan

aktivitas-aktivitas.

6. Ending Activity (Pseudo), merupakan notasi yang

menunjukkan diakhirinya suatu aktivitas.

7. Decision Activity, merupakan notasi yang

mendeskripsikan kondisi dari suatu aktivitas.

Jones dan Rama (2008: 61) menyatakan bahwa activity

diagram dibagi ke dalam dua jenis, yaitu overview activity diagram dan detailed activity diagram.

1. Overview Activity Diagram

Overview diagram menampilkan gambaran tingkat tinggi

dari proses bisnis dengan mendokumentasikan beberapa

event utama, urutan dari event-event tersebut, dan arus

informasi di antara event tersebut.

2. Detailed activity diagram

Detailed activity diagram menampilkan gambaran yang

lebih detil dari aktivitas yang merupakan bagian dari satu atau dua event yang ada di dalam overview activity

(31)

Gambar 2.6 Activity Diagram Symbols Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 145)

Gambar 2.7 Activity Diagram

(32)

2.9.2 Event Table and Domain Classes

2.9.2.1 Event Table

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 167) event adalah sesuatu yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu yang dapat digambarkan dan berharga untuk diingat.

Event dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) tipe, antara lain:

1. External Event

Event yang terjadi diluar sistem, dan biasanya dimulai oleh external agent. External agent adalah orang atau unit

organisasi yang menyediakan atau menerima data dari sistem, tetapi belum tentu mereka adalah pengguna sistem secara langsung. Contoh dari external event adalah “pelanggan mendaftar sebagai member”. Pelanggan merupakan external agent, dan mendaftar sebagai member adalah kegiatan yang mempengaruhi sistem.

2. Temporal Event

Event yang terjadi karena tercapainya suatu titik waktu

tertentu. Sistem akan menghasilkan output yang dibutuhkan tanpa harus diperintah. Dengan kata lain,

external agent tidak membuat permintaan ke sistem, tetapi

sistem harus menghasilkan output ketika informasi tersebut dibutuhkan. Contoh dari temporal event adalah sistem penjualan yang menghasilkan laporan penjualan bulanan, dengan event berupa “saat untuk menghasilkan laporan penjualan.”

3. State Event

Event yang terjadi ketika sesuatu kondisi terjadi di dalam

sistem sehingga memicu adanya kebutuhan untuk pemrosesan. Sebagai contoh, jika stok persediaan berada dibawah reorder point, maka state event yang dihasilkan dapat berupa “telah mencapai reorder point.”'

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 174), event

table adalah sebuah katalog dari use case yang mendaftar event-event ke dalam baris dan informasi mengenai setiap

(33)

event ke dalam kolom-kolom. Informasi yang terdapat dalam event table merupakan aspek penting atas peristiwa tertentu

dan menghasilkan use case.

Diawali dan diakhirinya event ditandai dengan telah berakhirnya tanggung jawab atas apa yang dilakukan orang atau aktor yang melakukan event dan adanya rentang waktu antara suatu event dan event berikutnya.

Kolom-kolom yang berisi informasi yang ditampilkan dalam event table terdiri dari:

1. Event: peristiwa yang menyebabkan sistem melakukan

respon.

2. Trigger: sinyal yang memberitahu sistem bahwa event

telah terjadi karena adanya data yang harus diproses atau karena suatu titik waktu tertentu.

3. Source: pihak external agent atau aktor yang memberikan

data ke dalam sistem.

4. Use Case: apa yang dilakukan sistem ketika event terjadi.

5. Response: output yang dihasilkan sistem.

6. Destination: external agent menerima hasil atau output dari

sistem.

Gambar 2.8 Event Table

(34)

2.9.2.2 Domain Model Class Diagram

Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2005: 184),

domain model class diagram merupakan sebuah diagram UML

yang menunjukkan hal-hal yang penting dalam pekerjaan user seperti: domain classes, asosiasi, dan atributnya.

Dalam class diagram, sebuah class digambarkan dengan bentuk kotak. Kotak ini terdiri dari dua bagian, yaitu nama

class di bagian atas dan atribut-atribut dari class tersebut di

bagian bawah. Sedangkan hubungan antar class digambarkan dengan garis penghubung antar class.

Gambar 2.9 UML Domain Class Symbol with names and

attributes

Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 185)

Gambar 2.10 Domain Model Class Diagram Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 187)

(35)

Hubungan antar class yang digambarkan dengan garis penghubung disebut multiplicity of association, yang dapat dibedakan menjadi enam jenis dalam gambar sebagai berikut:

Gambar 2.11 Multiplicity of Association Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 186)

Dalam class diagram, juga dikenal hierarki berdasarkan karakteristik class yang sama. Hierarki berguna untuk menyusun class mulai dari karakteristik yang umum hingga karakteristik yang khusus. Class yang memiliki karakteristik umum disebut superclass. Sedangkan class yang memiliki karakteristik khusus disebut subclass. Sebuah subclass dapat memiliki karakteristik superclassnya dengan penurunan karakteristik atau inheritance.

Generalization adalah pengelompokan hal-hal

berdasarkan jenis yang sama, contohnya ada banyak jenis kendaraan seperti mobil, motor, sepeda, pesawat, dan sebagainya. Sedangkan specialization adalah pengkategorian jenis-jenis hal yang berbeda, sebagai contoh jenis khusus dari mobil adalah mobil sport, sedan, jeep, dan sebagainya.

Generalization / specialization hierarchy digunakan untuk

(36)

Gambar 2.12 Generalization / Specialization Hierarchy Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 190)

Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 191) mengungkapkan pula bahwa dalam hierarki class diagram terdapat whole-part hierarchies yang merupakan hierarki yang menyusun class-class sesuai dengan komponen-komponen yang terkait. Whole-part hierarchies sendiri dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Aggregation

Hubungan antara obyek dengan bagian-bagiannya dimana setiap bagian dapat terpisah-pisah.

(37)

Gambar 2.13 Whole-part Hierarchy (Aggregation) Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 192)

2. Composition

Hubungan dimana bagian-bagian yang ada tidak dapat dipisahkan dengan obyeknya.

Gambar 2.14: Whole-part Hierarchy (Composition) Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 193)

2.9.3 Use Case Modeling and Detailed Requirements

2.9.3.1. Use Case Diagram

Use case merupakan pendekatan visual yang dapat

digunakan untuk proses pemodelan dalam pengembangan sistem. Use case menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 166) merupakan aktivitas yang dilakukan sistem yang biasanya berupa respon terhadap permintaan pengguna.

Dalam penggambaran use case diagram, digunakan beberapa simbol atau notasi untuk merepresentasikan setiap

(38)

pengguna dan apa yang dilakukan sistem untuk merespon permintaan pengguna.

Gambar 2.15 Use Case Notation

Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 215)

Gambar 2.16 Use Case Diagram

Sumber : Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 216)

2.9.3.2. Use Case Description

Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2005: 220) use

case description adalah penjelasan terperinci mengenai proses

dari suatu use case. Terdapat 3 (tiga) jenis pendeskripsian dalam use case description yaitu:

(39)

1. Brief Description

Brief description digunakan untuk use case yang sangat sederhana dan diperuntukkan sistem yang dibangun berskala kecil.

Gambar 2.17 Brief Description Use Case Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005:221)

2. Intermediate Description

Intermediate description merupakan pengembangan dari brief description untuk menggambarkan aliran internal dari

aktifitas untuk sebuah use case. Exception dapat didokumentasi jika diperlukan.

Gambar 2.18 Intemediate Description Use Case Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005:222)

(40)

3. Fully Developed Description

Fully developed description merupakan sebuah metode

yang paling formal yang digunakan dalam mendokumentasikan use case.

Gambar 2.19 Fully Developed Description Use Case Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 223)

2.9.3.3. System Sequence Diagram

Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2005: 213) system

sequence diagram adalah diagram yang menggambarkan

(41)

sistem utama. System sequence diagram digunakan untuk menjelaskan alur, baik ke dalam ataupun ke luar, informasi dari sistem yang telah diautomisasi. Sistem itu sendiri diperlakukan sebagai object tunggal yang dinamakan dengan :System. Penggunaan notasi dalam sequence diagram terdiri dari:

1. Lifeline

Merupakan garis vertikal yang membentang untuk menunjukkan waktu hidup dari sebuah obyek.

2. Object

Merupakan simbol yang menggambarkan pengguna sistem atau sistem yang telah terotomatisasi.

3. Input message

Merupakan garis horizontal yang menunjukkan pesan masuk dari pengguna atau user.

4. Output message

Merupakan garis horizontal putus-putus yang menunjukkan respon dari pesan yang dimasukkan oleh pengguna.

Gambar 2.20 System Sequence Diagram Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005, 229)

(42)

Gambar 2.21 System Sequence Diagram for Repeating Message Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 230)

2.10 Design Dicipline

2.10.1 Design Activities and Environment

2.10.1.1 Deployment Environment

Deployment environment terdiri dari beberapa komponen

seperti hardware, software, dan networking yang membuat suatu sistem dapat berjalan. Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 270) mengelompokkan deployment environment ke dalam 2 (dua) bagian, antara lain:

(43)

1. Single Computer Architecture

Merupakan suatu perangkat sistem komputer yang menjalankan software secara tunggal. Adapun karakteristik sistem informasi yang dijalankan pada arsitektur ini adalah mudah dirancang, dibangun, dioperasikan dan dikelola.

Gambar 2.22 Single Computer Architecture Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 271)

2. Multitier Computer Architecture

Merupakan tipe arsitektur yang mengeksekusi suatu proses dalam beberapa komputer. Jenis arsitektur ini terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :

a. Clustered Architecture

Merupakan arsitektur yang menggunakan beberapa komputer dengan model dan produksi yang sama.

Gambar 2.23 Clustered Architecture Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 271)

(44)

b. Multicomputer Architecture

Merupakan arsitektur yang menggunakan beberapa komputer dengan spesifikasi yang berbeda-beda.

Gambar 2.24 Multicomputer Architecture Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 271)

Deployment architecture dikelompokkan menjadi dua

bagian menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 272), yaitu:

1. Centralized Architecture

Arsitektur yang menggambarkan distribusi sistem komputer pada suatu lokasi. Arsitektur ini umumnya digunakan untuk proses aplikasi berskala besar, seperti

real-time application.

2. Distributed Architecture

Arsitektur yang menggambarkan distribusi sistem komputer pada beberapa lokasi dengan menggunakan jaringan komputer.

2.10.1.2 Software Architecture

Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 277) membagi

software architecture ke dalam 2 (dua) bagian, yaitu:

1. Client/server Architecture

Arsitektur jenis ini membagi software ke dalam dua bagian, yaitu client dan server. Server berfungsi sebagai

(45)

alat untuk mengolah sumber informasi, sedangkan client berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan server. 2. Three-layer Client/server Architecture

Arsitektur ini merupakan pengembangan dari arsitektur

client/server yang terbagi menjadi 3 lapisan, yaitu:

a. Data Layer

Merupakan layer untuk mengatur penyimpanan data pada suatu database.

b. Business Logic Layer

Merupakan layer yang mengimplementasikan aturan dan prosedur dari suatu proses bisnis.

c. View Layer

Merupakan layer yang menerima input dan menampilkan output sebagai hasil dari proses yang berjalan.

Gambar 2.25 Three-layer Architecture Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 280)

2.10.2 Use Case Realization: The Design Discipline within UP Iterations

2.10.2.1 First-Cut Design Class Diagram

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 309),

first-cut class diagram adalah pengembangan dari domain class

diagram setelah melalui dua tahap, yaitu dengan

mendeskripsikan atribut dengan tipe dan nilai awal dan menambahkan navigation visibility arrows, yang merupakan arah untuk menunjukkan kemampuan suatu obyek yang dapat berinteraksi dengan obyek lain.

(46)

Gambar 2.26 First-cut Class Diagram Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 311)

Penggunaan navigation visibility terbagi ke dalam 2 (dua) bagian, yaitu:

1. Attribute Navigation Visibility

Terbentuk ketika class memiliki atribut yang mereferensikan obyek lain.

Gambar 2.27 Attribute Navigation Visibility Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 307)

(47)

2. Parameter Navigation Visibility

Terbentuk ketika class sesuai dengan parameter yang mereferensikan obyek lain. Parameter tersebut diteruskan melalui method call.

Terdapat beberapa petunjuk mengenai penetapan

navigation visibility seperti:

1. Hubungan one-to-many yang menandakan adanya

superior - subordinate relationship. Nagivasi berarah dari superior ke subordinate. Contohnya: dari Order ke

OrderItem.

2. Mandatory relationships, dimana obyek pada class tidak

dapat berdiri tanpa adanya obyek dari class lain. Navigasi berarah dari independen class ke dependen class. Contohnya: dari Customer ke Order.

3. Saat suatu obyek membutuhkan informasi dari obyek lain, maka panah navigasi mengarah kepada obyek yang membutuhkan informasi.

4. Navigation arrows mungkin untuk mengarah kepada dua

arah.

2.10.3 Designing The User Interface Layer

2.10.3.1 User Interface

Interface merupakan tempat sistem informasi

menangkap input dan menghasilkan output, serta terjadinya

input dan output antara sistem dengan lingkungannya

(Satzinger, Jackson dan Burd 2005: 442). Terdapat 2 (dua) tipe

interface, yaitu:

1. User Interface

Merupakan bagian dari sistem informasi yang membutuhkan interaksi dari user untuk menghasilkan input dan output.

Gambar

Gambar 2.3 Ringkasan Terminologi Biaya  Sumber: Garrison, Norren, dan Brewer (2010: 29)
Gambar 2.4 Arus Dokumen dalam Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan  Sumber: Garrison, Norren, dan Brewer (2010: 99)
Gambar 2.5 UP Disciplines
Gambar 2.6 Activity Diagram Symbols  Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 145)
+7

Referensi

Dokumen terkait

“Dengan pemahaman dan persepsi yang dimiliki oleh konsumen itu akan menentukan suatu ciri khas atau asosiasi produk yang unik” (Aaker 1996:70). Kabupaten Garut dapat menciptakan

Sinyal Audio Output dari Studio Pro1, Pro 2 dan Pro 4 ke MCR adalah DIGITAL dengan Media Kabel FIBER OPTIC..

Sejalan dengan hal tersebut, Mulyani (2013: 2-3) menge- mukakan bahwa kedalaman materi dalam buku teks harus menyesuaiakan dengan KD dalam kurikulum dan tingkat

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka peneliti menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh secara simultan dan secara parsial antara gaya

Usaha kecil dan menengah merupakan salah satu bidang yang memberikan sumbangan dalam memacu tingkat pertumbuhan ekonomi, karena daya serap tenaga kerja pada usaha kecil

3) Pukul 08.30 WIT haluan sejati kapal dirubah oleh Tersangkut Mualim I, dari haluan 015 ⁰ menjadi 035 ⁰ tanpa memberitahukan kepada Tersangkut Nakhoda dan tanpa

Penggunaan regularisasi dengan persentil L1 dan L2 pada model regresi respons Gamma dapat memprediksi curah hujan ekstrim lebih baik daripada kedua regularisasi itu

Kinerja seseorang dapat meningkat ketika kepuasan kerja orang tersebut berada pada posisi yang tinggi (Tobing 2009). Berdasarkan latar belakang yang sudah