BAB I PENDAHULUAN 01 - 1
BAB I PENDAHULUAN 01 - 2
1.1. Latar Belakang Penyusunan RPKPP Kota Tasikmalaya
Latar belakang pekerjaan penyusunan RPKPP Kota Tasikmalaya secara sistematis terkait dengan runutan “Mengapa” RPKPP perlu disusun, “Apa” Kawasan Prioritas dan Apa RPKPP dan “Bagaimana”proses penyusunan RPKPP dilakukan.
“Mengapa” RPKPP perlu disusun dijelaskan dalam KAK melalui dua penjelasan sebagai berikut: 1. Bahwasanya Kawasan Permukiman sebagaimana disebutkan dalam PP No. 26 Tahun 2008
merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Kawasan permukiman memegang peranan yang cukup penting dalam mengarahkan perkembangan kota, pengembangan kawasan fungsional akan membutuhkan kawasan permukiman untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk yang beraktifitas di dalam kawasan yang tersebut.
2. Bahwasanya kompleksitas permasalahan permukiman perkotaan perlu segera ditangani mengingat perkembangan kawasan permukiman sangat rentan terhadap adanya perkembangan yang tidak terkendali yang pada akhirnya akan menyebabkan munculnya permukiman kumuh yang berdampak pada meningkatnya kesenjangan masyarakat serta angka kriminalitas dan rendahnya kesehatan masyarakat.
Adapun “bagaimana” RPKPP disusun dijelaskan dalam KAK melalui penegasan 2 (dua) hal berikut: 1. Penanganan permasalahan permukiman perkotaan perlu dilakukan melalui penanganan
kawasan prioritas sebagaimana direkomendasikan dalam Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP), Hal ini mengandung arti bahwa RPKPP merupakan model penanganan permukiman yang berbasis pada kawasan.
2. Penyusunan RPKPP dilakukan sebagai proses bantuan teknis pendampingan dari Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum. Hal tersebut mengandung arti bahwa proses penyusunan RPKPP dilakukan melalui perencanaan partisipatif yang melibatkan pemangku kepentingan secara aktif.
Sedangkan “apa” Kawasan Permukiman Prioritas dalam KAK dijelaskan melalui penegasan 2 (dua) hal berikut :
1. Pertama terkait dengan definisi Kawasan Permukiman Prioritas, disebutkan sebagai:
a. Bagian dari suatu wilayah administrasi pemerintahan yang memiliki karakteristik dan atau persoalan khusus yang menyebabkan kawasan tersebut perlu diprioritaskan atau diberikan perhatian khusus dalam penanganannya;
b. Kesalahan mengantisipasi pola penanganan dan pemberian priotitas pada kawasan dengan kebutuhan khusus tersebut akan berdampak terhadap proses dan capaian tujuan pembangunan perkotaan secara keseluruhan.
2. Kedua terkait dengan jenis-jenis Kawasan Permukiman Prioritas yaitu meliputi:
a. Kawasan permukiman dan lingkungan perumahan kumuh dalam areal perkotaan yang memiliki nilai ekonomis dan atau strategis tinggi, yang apabila ditangani dapat meningkatkan nilai kawasan serta memberikan manfaat bagi peningkatan perekonomian wilayah atau kota yang bersangkutan.
b. Kawasan permukiman dengan fungsi khusus dalam skala pembangunan wilayah kota atau wilayah yang lebih luas. Termasuk dalam kriteria ini seperti kawasan pariwisata, kawasan konservasi kultural, kawasan agro industri, dan sejenisnya.
c. Kawasan permukiman potensi bencana (alam maupun konflik sosial) yang perlu diselesaikan segera agar program lain dapat diselenggarakan pada waktunya.
d. Kawasan ‘peralihan’ dipinggiran areal perkotaan, yang berfungsi sebagai hinterland atau penyangga bagi kawasan perkotaan. Pada umumnya kawasan tersebut berubah menjadi kawasan permukiman baru yang perlu diperhatikan perkembangannya. Hal ini akan terkait pada pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar permukiman perkotaan.
· Perkembangan yang tidak terkendali
· Permukiman kumuh
· Kesenjangan dan
kemiskinan masyarakat kota
· Kriminalitas
· Tingkat kesehatan yg buruk
Perlunya Penanganan Secara Khusus
· Kompleksitas permasalahan yg tinggi
· Penanganan secara spesifik
· Penanganan berdasar skala prioritas
· Penanganan berbasis kawasan pada kawasan prioritas
Pendampingan penyusunan RPKPP Kota Tasikmalaya
· Sinkron dengan Strategi Sektor Perkim Kota (SPIPP)
· Berdasarkan prioritas dan kebutuhan kota secara komprehensif
· Berbasis pada penanganan kawasan
· Menjadi acuan bagi perguliran program penanganan kawasan pada sektor keciptakaryaan
7
EFEKTIFITAS PENANGANAN BERBASIS NON KAWASAN
· Programe driven
· Project oriented
· Berbasis pada komponen program
· Permasalahan kawasan tidak secara tuntas terselesaikan Permasalahan Permukiman
Perkotaan
URGENSI KAWASAN PERMUKIMAN 1
· Pengarah perkembangan kota
· Mengakomodasi pertumbuhan penduduk akibat kegiatan pada kawasan fungsional perkotaan
2
SPPIP KOTA TASIKMALAYA
TAHUN 2012
· Karakteristik atau persoalan khusus sehingga diprioritaskan
· Penanganan sangat terkait dengan arah kebijakan dan perkembangan kota
· Ragam dan jenis : kaw. kumuh pusat kota, kaw. permukiman dgn fungsi khusus; kaw. potensi bencana; kaw. hinterland
Kawasan Permukiman Prioritas
3
4
5
6
BAB I PENDAHULUAN 01 - 3
Hal penting yang konsultan pandang perlu ditambahkan dalam latar belakang kerangka acuan adalah terkait pertanyaan kunci “Apa itu RPKPP?”
a. RPKPP merupakan suatu hal yang baru bagi suatu kota,selama ini bentuk penanganan kawasan permukiman yang ada seringkali belum didasarkan pada prioritas maupun kebutuhan kota secara komprehensif dan belum sepenuhnya berbasis pada penanganan kawasan;
b. RPKPP merupakan bentuk penanganan kawasan permukiman yang bersifat strategis, berakar dari persoalan nyata yang dihadapi kawasan permukiman perkotaan dan komprehensif dengan kebutuhan kota;
c. RPKPP merupakan rencana yang memuat rencana aksi program strategis untuk penanganan persoalan permukiman dan pembangunan infrastruktur keciptakaryaan.
d. RPKPP disusun berdasarkan pada prioritas strategis pengembangan kota dan perlu mengacu pada Strategi Pembangunan Kota (SPK), Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) dan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Daerah (RP3KP) yang ada. SPPIP dan RP3KP ini menjadi acuan utama bagi penetapan kawasan yang akan diprioritaskan dan dasar arahan bagaimana persoalan pembangunan yang terdapat pada kawasan permukiman prioritas tersebut harus diselesaikan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan 4 (empat) kata kunci yang melatarbelakangi penyusunan RPKPP di Kota Tasikmalaya:
(i) RPKPP sebagai model penanganan berbasis kawasan, (ii) hasil perencanaan SPPIP Kota
Tasikmalayatahun 2012 akan menjadi acuan dalam penyusunan RPKPP Kota Tasikmalayatahun 2013,
(iii) penyusunan RPKPP dilakukan melalui proses pendampingan, dan
(iv) program strategis dan rencana aksi yang dihasilkan akan menjadi dasar bagi investasi perguliran program dan kegiatan penanganan kawasan dalam 5 tahun kedepan.
1.2. Lingkup Wilayah
1.2.1. Definisi dan Lingkup Kawasan Kajian dalam RPKPP
Lingkup wilayah dipahami sebagai wilayah perencanaan pekerjaan penyusunan RPKPP yaitu pada kawasan prioritas permukiman di Kota Tasikmalaya sebagaimana yang direkomendasikan dalam perencanaan yang dihasilkan dalam SPPIP Kota Tasikmalaya yang disusun pada tahun 2012. Pada kawasan prioritas tersebut, selanjutnya akan dipilih lokasi yang akan didetailkan perencanaannya hingga Detail Engineering Design (DED) yang akan diimplementasikan pada tahun pertama.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, lingkup wilayah terdiri dari 2 (dua)yaitu :
1. Lingkup Wilayah untuk Rencana Penanganan Kawasan Prioritas, yaitu lingkup wilayah pada perencanaan hingga kedalaman hingga 1:5.000. Ditetapkan pada kawasan permukiman prioritas terpilih berdasarkan arahan SPPIP dan merupakan hasil kesepakatan bersama.
2. Lingkup wilayah untuk kawasan pengembangan tahap pertama. merupakan lokasi yang berada pada kawasan prioritas dengan kedalaman rencana hingga 1:1.000 disertai dengan perencanaan teknisnya (DED).
1.2.2. Penetapan Kawasan Prioritas berdasarkan SPPIP Kota Tasikmalaya
Berdasarkan hasil perhitungan scoring pada tahapan sebelumnya selanjutnya dapat direkomendasikan beberapa lokasi yang dapat diprioritaskan penanganannya. Dasar utama dari pertimbangan pemilihan kawasan tersebut adalah urgenitas permasalahan serta ragam penangannyannya yang terkait dengan bidang kecipta karyaan.
Berikut adalah profil calon kawasan permukiman prioritas dalam SPPIP Kota Tasikmalaya.
EMPAT KATAKUNCI LATAR BELAKANG
PENYUSUNAN RPKPP
·
RPKPP sebagai model penanganan
berbasis kawasan yang sinergis dengan
arah kebijakan dan pengembangan kot.a
·
SPPIP Kota Tasikmalay tahun 2012 sebagai
acuan dalam penyusunan RPKPP Kota
Tasikmalaya tahun 2013.
·
RPKPP disusun melalui proses
perencanaan partisipatif.
·
Hasil perencanaan RPKPP menjadi dasar
bagi investasi penanganan kawasan.
BAB I PENDAHULUAN 01 - 4
Gambar 1.2Kawasan permukiman prioritas dalam SPPIP Kota Tasikmalaya 2012
Tabel 1.1 Kawasan Prioritas Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan di Kota Tasikmalaya
RANGKING NAMA KAWASAN PRIORITAS TIPOLOGI KAWASAN KELURAHAN LUAS (Ha)
1
Kawasan Permukiman Padat
Perkotaan 1. Lokasi permukiman merupakan Kawasan kumuh dan padat perkotaan
2. Kawasan permukiman dengan pertumbuhan yang cepat dan
cenderung tidak teratur
· Panglayungan · Lengkongsari · Sukamanah · Argasari · Cilembang 235,5 Ha 2
Kawasan Permukiman Padat
Perdagangan dan Jasa Lokasi permukiman merupakan Kawasan padat perkotaan di sekitar wilayah pusat perdagangan dan jasa
· Tawangsari · Yudanegara · Empangsari · Cikalang · Nagarawangi 1.166,55 Ha 3 Kawasan Permukiman
Pendukung Kegiatan Agribisnis Penggunaan didominasi lahan pertanian ·· Purbaratu Awipari · Mangkubumi 879,80 Ha 4 Kawasan Permukiman Pendukung Kegiatan Minapolitan 1. Penggunaan didominasi lahan pertanian 2. Kawasan permukiman polanya mengumpul dan menyebar sporadis · Parakannyasag · Sukalaksana · Cibunigeulis 838,60 Ha 5
Kawasan Permukiman Basis
Home Industri Kawasan permukiman pendukung kegiatan home industry bordir-kelom · Cibeuti · Talagasari · Sukahurip · Mulyasari 1.060,10 Ha 6 Kawasan Permukiman
Pengembangan Baru 1. Permukiman didominasi oleh klaster-klaster perumahan kecil 2. Didominasi oleh permukiman terencana oleh developer 3. Permukiman dengan kepadatan bangunan yang rendah 4. Pola penyebaran permukiman pada beberapa jalan utama
· Setiamulya · Tamanjaya · Margasari · Sumelap · Gunung Gede · Gunung Tandala 2.025,50 Ha
BAB I PENDAHULUAN 01 - 5
1.2.3. Kawasan Prioritas yang Ditangani melalui RPKPP 2013
Berdasarkan hasil SPPIP di atas, maka kawasan prioritas terpilih yang ditangani melalui RPKPP 2013 ini adalah Kawasan Padat Perkotaan yang terdiri dari beberapa kelurahan yaitu: Panglayungan,
Lengkongsari, Sukamanah, Argasari, dan Cilembang. Kawasan ini memiliki cirri antara lain:
· Luas kawasan 235,5 Ha
· Lokasi permukiman merupakan Kawasan kumuh dan padat perkotaan
· Beberapa kawasan permukiman perkotaan masih belum memperhatikan estetika visual lingkungan permukiman.
· Kawasan strategis (berada di Pusat Kota)
· Kondisi Infrastruktur tidak terlalu memadai dengan minimnya kepemilikan jamban keluarga, pola hidup sehat dan dalam pengelolaan persampahan yang masih membuang sampah ke sumber air atau dengan cara dibakar.
· Bangunan rumah tidak permanen sejumlah 3.098 dari total bangunan rumah 25.435 atau sekitar 12,18%
· Merupakan kawasan dalam RTBL permukiman kumuh (2009)
· Kawasan permukiman dengan pertumbuhan yang cepat dan cenderung tidak teratur
BAB I PENDAHULUAN 01 - 6
1.3. Kedudukan dan Sistematika Laporan Akhir
1.3.1. Kedudukan Laporan Akhir dalam Sistem Pelaporan Pekerjaan
Sistem pelaporan merupakan representasi dari progres dan hasil yang telah dicapai pada setiap tahapan, dari proses awal hingga akhir pelaksanaan kegiatan. Sistem pelaporan pekerjaan pada prinsipnya terkait dengan skema serta progres pekerjaan yang telah dilakukan dan mencerminkan bobot penyerapan output yang telah dicapai pada setiap tahapan pelaporan.
Kondisi tersebut menyiratkan bahwa setiap laporan merupakan milestone dari sebuah tahapan kegiatan yang telah dilewati yang selanjutnya dapat terukur dari muatan materi dari setiap laporan yang telah diserahkan, sebagaimana dijelaskan pada Gambar berikut (skematis kaitan sistem pelaporan dengan progres penyerapan Output).
Gambar 1.4 Skematis Kaitan Sistem Pelaporan dengan Progres Penyerapan Output
1.3.2. Sistematika Laporan Akhir
Laporan Akhir memuat seluruh hasil pelaksanaan pekerjaan hingga menjelang akhir pekerjaan. Karenanya, materi Laporan Akhir disusun mengacu pada proses kegiatan hingga menghasilkan keluaran-keluaran yang diharapkan, dengan sistematika sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN,
Memuat penjelasan yang menjadi acuan awal pekerjaan terkait latar belakang pekerjaan, sasaran, dan sistematika laporan.
BAB 2 KAJIAN MIKRO RPKPP KOTA TASIKMALAYA BERDASARKAN SPPIP DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG LAINNYA ,
Berisikan hasil kajian kebijakan yang mempengaruhi penyusunan RPKPP Kota Tasikmalaya. BAB 3 PROFIL, POTENSI, MASALAH, DAN KEBUTUHAN PENANGANAN KAWASAN
PERMUKIMAN PRIORITAS,
Merupakan proses identifikasi potensi dan permasalahan yang ada di kawasan prioritas, yang menjadi dasar konsepsi rencana penanganan kawasan prioritas
BAB 4 KONSEP DAN RENCANA PENANGANAN KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS,
Merupakan konsepsi penanganan kawasan prioritas yang disusun berdasarkan hasil-hasil kajian potensi, persoalan serta kebutuhan kawasan, yang dijabarkan pula kedalam Rencana Aksi Program
BAB 5 KONSEP DAN RENCANA PENANGANAN KAWASAN PEMBANGUNAN TAHAP 1,
Mencakup proses pemilihan kawasan pembangunan Tahap-1, untuk kemudian dijabarkan kedalam konsepsi dan rencana bagi penanganan Tahap 1.
BAB 6 DETAIL ENGINEERING DESAIN,
Bab yang merincikan hasil penyusunan DED bagi Kawasan Pembangunan Tahap 1 yang disertai dengan ilustrasi 3-Dimensi untuk kebutuhan implementasi rencana.
BULAN KE- 1
LAPORAN ANTARA
Lap. Pendahuluan
= LAPORAN BULANAN
= BOBOT PENYERAPAN OUTPUT K E T E R A N G A N : LAPORAN AKHIR SEMENTARA LAPORAN AKHIR 20% 50% 100% Mobilisasi Tim Metoda & Rencana Kerja Survey lapangan dan Penyusunan Profil Kawasan
BULAN KE- 2 BULAN KE- 3 BULAN KE- 4 BULAN KE- 5 BULAN KE- 6 BULAN KE- 7
Analisis dan perumusan Konsep, Strategi,
Blok Plan, dan Rencana Aksi
Kawasan
Potensi,Masalah dan Kebutuhan serta Konsep dan
Strategi Penanganan KPT 1 Site Plan KPT 1, Rencana Penanganan KPT 1 dan penyepakatan Komponen DED DED Komponen Tahun Pertama Pada KPT 1 Sosialisasi dan Penyepakatan Hasil 80%