PKPKM
JUKEMA
Volume 4 | Nomor 1 | Februari 2018: 280 - 301
Jurnal
Kesehatan
Masyarakat
Aceh
Aceh Public Health Journal
JUKEMA
Aceh Public Health Journal
p-ISSN: 2088-1592 | e-ISSN: 2549-6425
Volume 4, Nomor 1, Februari 2018: 280 - 301
Editor-in-chief| Kepala Editor
Prof. Asnawi Abdullah, MHSM., MSc.HPPF., DLSHTM., PhD.
Deputy Editor-in-chief| Deputi Kepala Editor Dr. Aulina Adamy, MSc.
International Board of Advisors| Mitra Bestari
Nizam Ismail, MPH., PhD. | Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Indonesia Dr. Adang Bachtiar, MPH., DSc. | Universitas Indonesia, Indonesia Dr. Hermansyah, MPH. | Poltekkes Kemenkes NAD, Indonesia Dr. Ede Surya Darmawan, MDM. | Universitas Indonesia, Indonesia
Fachmi Ichwansyah, MPH., HR.Dp. PhD. | Loka Litbang. Biomedis Aceh, Indonesia Prof. Dr. Ridwan, MKes., MSc.PH. | Universitas Hasanuddin, Indonesia
Hanifa M. Denny, MPH., PhD. | Universitas Diponegoro, Indonesia Defriman Djafri, MPH, PhD. | Universitas Andalas, Indonesia
Prof. Dr. Irnawati Marsaulina, MS. | Universitas Sumatera Utara, Indonesia Prof. Budi Utomo, MPH., PhD. | Universitas Indonesia, Indonesia
Dr. Lal B. Rawal, Med., MA., MPH., PhD. | BRAC University, Bangladesh Assoc. Prof. Dr. Victor Hoe Chee Wai | UKM, Malaysia
Prof. Johannes U. Just Stoelwinder | Monash University, Australia
Dr. Krishna Hort, MMBS., DTCH., DRCOG., MCH., FAFPHM. | University of Melbourne,Australia Editorial Board| Dewan Penyunting
Fauzi Ali Amin, MKes. Farida Hanum, MSi. Vera Nazhira Arifin, MPH.
Editorial Administrator| Administrasi Editor Surna Lastri, MSi.
Layout| Tata Letak Agustina, SST., M.Kes.
Penerbit:
Pusat Kajian dan Penelitian Kesehatan Masyarakat (PKPKM)
Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Lantai II, Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) Jl. Muhammadiyah No.93, Bathoh, Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh
Telp. (0651) 31054, Fax. (0651) 31053
Email: [email protected] atau [email protected]
Website: http://pps-unmuha.ac.id/pusat-kajian-dan-penelitian-kesehatan-masyarakat/
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (Aceh Public Health Journal) atau disingkat dengan JUKEMA merupakan kumpulan jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian atau yang setara dengan hasil penelitian di bidang ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan. Jurnal ini diterbitkan 2 x dalam setahun (Februari dan Oktober) oleh PKPKM UNMUHA.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh
Aceh Public Health Journal
Volume 4, Nomor 1, Februari 2018: 280 – 301 Editorial:
Tingginya Angka Anemia pada Ibu Hamil di Aceh
Eulisa Fajriani 280-281
Karakteristik Bidan dan Kualitas Pelayanan Persalinan di Puskesmas PONED Kabupaten Aceh Besar
Sri Wahyuni, Melania Hidayat, dan Aulina Adamy 282-286
Kematian Neonatal di Ruang Perinatologi RSUD Tgk. Chik Di Tiro Sigli Periode April 2014 sampai Maret 2016
Erlinawati, Asnawi Abdullah, dan Faisal Abdurrahman 287-291 Determinan Health Literacy pada Ibu Menyusui di RSUD dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh
Namira Yusuf, Sri Rahayu Sanusi, dan Defriman Djafri 292-296 Determinan Penggunaan Partograf oleh Bidan pada Pertolongan Persalinan di Puskesmas Terpencil Kabupaten Pidie
Marzaleni, Melania Hidayat, dan Hafnidar A. Rani 297-301 Template JUKEMA
Editorial:
TINGGINYA ANGKA ANEMIA PADA IBU HAMIL DI ACEH
High Anemia Numbers in Pregnant Women in Aceh
Eulisa Fajriani1
Direktur AKBID Muhammadiyah Banda Aceh, Aceh, Indonesia
Pada wilayah kerja Puskesmas Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya tahun 2017 memiliki angka anemia yang tinggi, dari hasil data Dinas Kesehatan Pidie Jaya melaporkan jumlah ibu hamil yang mengalami anemia ringan sebanyak 388 orang dan sekitar 51 orang mengalami anemi berat. Namun, dari hasil penelitian didapatkan mengkonsumsi tablet Fe, Pekerjaan, Pengetahuan, dan pola makan adalah faktor-faktor yang menyebabkan anemia pada wanita atau pada ibu hamil. Karakteristik ibu hamil dengan anemia pada kehamilan memiliki hubungan dengan mengkonsumsi tablet Fe, pengetahuan, pekerjaan dan pola makan ibu hamil. Anemia yang terjadi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kekurangan zat besi.
Zat besi adalah garam besi dalam bentuk tablet atau kapsul yang apabila dikonsumsi secara teratur dapat meningkatkan jumlah sel darah merah. Wanita hamil mengalami pengenceran sel darah merah sehingga memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk sel darah merah janin. Mengkonsumsi zat besi sangat berguna pada ibu hamil, dalam hal ini sangat berhubungan dengan tingkat anemia pada ibu hamil.
Adapun faktor pekerjaan yang dilakukan ibu hamil dalam sector informal dengan beban kerja fisik yang relatif lebih berat, menyebabkan seseorang mengeluarkan banyak keringat. Hal ini mengakibatkan peningkatakan pengeluaran zat besi bersama keringat. Wanita hamil yang melakukan beban kerja berat memerlukan banyak sekali makanan untuk kondisi kesehatan tubuhnya walaupun untuk energinya, sehingga zat-zat gizi yang dibutuhkan harus tercukupi. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan ibu anemia yang secara tidak langsung sangat berbahaya bagi ibu hamil pada masa kehamilannya.
Pola makan pada ibu hamil juga memberikan pengaruh kepada ibu hamil. Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.
Anemia juga bisa dicegah dengan mengatur jarak kehamilan. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan, maka akan makin banyak
kehilangan zat besi dan menjadi makin anemia. Jika persediaan cadangan fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar jarak antar kehamilan tidak terlalu pendek, minimal lebih dari 2 tahun.
Tingkat pengetahuan ibu hamil yang rendah akan mempengaruhi bagaimana ibu hamil menjaga kehamilannya. Pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang kesehatan khususnya anemia akan berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil pada pelaksanaan program pencegah anemia dengan mengkonsumsi tablet tambah darah. Pemberian tablet besi dalam program penanggulangan anemia gizi telah dikaji dan diuji secara ilmiah dengan dosis dan ketentuan. Namun, program pemberian tablet besi pada wanita hamil yang menderita anemia kurang menunjukan hasil yang nyata. Hal ini disebabkan oleh kepatuhan minum tablet besi yang tidak optimal, oleh karena itu tingkat kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet fe harus selalu dipantau.
KARAKTERISTIK BIDAN DAN KUALITAS PELAYANAN
PERSALINAN DI PUSKESMAS PONED KABUPATEN ACEH BESAR
Charakteristics of midwife and quality or delivery service in public health centers (essential basic emergency obstetric and newborn care) Aceh Besar District
Sri Wahyuni1,Melania Hidayat2, danAulina Adamy3
1,2,3Magister Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, 23245
[email protected],[email protected]2,[email protected]3
ABSTRAK
Latar Belakang: Angka kematian Ibu (AKI) di Indonesia merupakan yang tertinggi di wilayah ASEAN pada
tahun 2014. Demikian di Aceh AKI masih terbilang tinggi dan Aceh Besar merupakan salah satu daerah menyumbang AKI terbanyak. Salah satu upaya untuk menurunkan AKI adalah dengan melahirkan di puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED), namun penelitian menunjukkan bahwa dengan meningkatkan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan tidak dapat menurunkan AKI apabila kualitas pelayanan yang diberikan kurang baik atau buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristi bidan dan kualitas pelayanan persalinan di Puskesmas PONED Aceh Besar. Metode: Penelitian ini bersifat
observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi adalah seluruh bidan yang menolong persalinan pada ibu bersalin yang berkunjung di Puskesmas PONed Aceh Besar dan mendapatkan 43 bidan sebagai sampel selama pengambilan data 20 Desember sampai 15 Januari 2017. Analisis data menggunakan uji chi-square.
Hasil: Tidak ada hubungan antara umur dengan kualitas pelayanan persalinan dengan nilai P-value 0,132; tidak
ada hubungan antara pendidikan dengan kualitas pelayanan persalinan dengan nilai P-value 0,089; terdapat hubungan yang bermakna antara lama masa kerja dengan kualitas pelayanan persalinan dengan nilai P-value 0,020; terdapat hubungan yang bermakna antara status kepegawaian dengan kualitas pelayanan persalinan dengan nilai P-value 0,024; dan tidak ada hubungan antara pelatihan dengan kualitas pelayanan persalinan di puskesmas PONED Kabupaten Aceh Besar. Kesimpulan: Diharapkan kepada petugas kesehatan dapat
meningkatkan kualitas pelayanan persalinan terutama di penanganan komplikasi dan kegawatdaruratan.
Kata kunci: Karakteristik, Kualitas Pelayanan, Persalinan, Puskesmas PONED
ABSTRACT
Background: The maternal mortality rate (AKI) in Indonesia is the highest in the ASEAN region in 2014. Thus
in Aceh AKI is still relatively high and Aceh Besar is one of the regions contributing the most AKI. One effort to reduce AKI is by giving birth at community health centers/puskesmas with Basic Emergency Obstetric Neonatal Services (PONED), but research shows that increasing childbirth in health care facilities cannot reduce AKI if the quality of services provided is not good or bad. This study aims to determine the characteristics of midwives and the quality of delivery services at Puskesmas PONED in Aceh Besar. Method: This study was observational analytic with cross-sectional design. The population was all midwives who helped deliver births to mothers who visited the Puskesmas PONED in Aceh Besar and received 43 midwives as samples during data collection December 20 to January 15, 2017. Analysis of the data using the chi-square test. Results: There is no relationship between age and quality of delivery services with a P-value of 0,132; there is no relationship between education and the quality of delivery services with a P-value of 0,089; there is a significant relationship between the length of work period and the quality of delivery services with a P-value of 0,020; there is a significant relationship between employment status and quality of delivery services with a P-value of 0,024; and there is no relationship between training and the quality of delivery services at PONED puskesmas in Aceh Besar District. Conclusion: It is expected that health workers can improve the quality of delivery services, especially in the management of complications and emergencies.
PENDAHULUAN
Secara global, estimasi angka kematian Ibu (AKI) mengalami penurunan yang signifikan dalam 15-25 tahun terakhir, dengan perkiraan 289.000 kematian di seluruh dunia pada tahun 20131. AKI di
Indonesia merupakan yang tertinggi bila dibandingkan dengan AKI di negara-negara ASEAN lainnya yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012. AKI di Malaysia dan Vietnam adalah masing-masing 160 per 100.000 kelahiran hidup2. Berdasarkan Profil Kesehatan
Provinsi Aceh Tahun 2015, daerah terbanyak memberi kontribusi AKI di Aceh adalah Kabupaten Aceh Utara sebanyak 15 kematian ibu. Sedangkan Aceh Singkil, Aceh Besar dan Banda Aceh masing-masing menyumbang 6 kematian ibu3.
Hasil Riskesdas4, persalinan di fasilitas
kesehatan adalah 70,4 persen dan masih terdapat 29,6 persen di rumah/lainnya. Capaian tersebut mengindikasikan akses yang baik kepelayanan kesehatan tetapi belum mengindikasikan kualitas pelayanan5. Penelitian menunjukkan
bahwa dengan meningkatkan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan tidak dapat menurunkan AKI apabila kualitas pelayanan yang diberikan buruk6.
Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan intervensi yang efektif dapat mencegah atau menangani komplikasi ibu dan bayi yang kurang memadai7. Dari hasil
Analisis WHO (2013), bahwa tidak cukup untuk mengurangi AKI tanpa memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan ibu secara keseluruhan8. Minimal di fasilitas
kesehatan seperti puskesmas yang mampu memberikan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Belum seluruh Puskesmas mampu untuk memberikan pelayanan dasar tersebut, sehingga minimal pada saat ibu melahirkan di puskesmas terdapat tenaga yang dapat segera merujuk jika terjadi komplikasi9.
Di Aceh Besar terdapat beberapa
Puskesmas PONED10. Berdasarkan
laporan dari beberapa puskesmas tersebut tercatat jumlah kematian ibu dan bayi di tahun 2016 berjumlah 1 orang di Puskesmas Ingin Jaya dan 1 orang di Puskesmas Darul Imarah. Sementara itu, Kematian Bayi Baru Lahir terjadi di Puskesmas Montasik 1 orang dan Puskesmas Seulimum 2 orang.
Berdasarkan permasalahan di atas penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kepuasan pasien berdasarkan 5 hubungan kareakteristik individu bidan dengan kualitas pelayanan persalinan di puskesmas-puskesmas PONED di Kabupaten Aceh Besar.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik melalui pendekatan
cross sectional. Populasi dalam penelitian
ini adalah bidan yang melakukan pertolongan persalinan pada ibu bersalin berdasarkan jumlah kunjungan rata-rata perbulan di masing-masing puskesmas PONED sebagai berikut:
1. Puskesmas Darul Imarah 8 persalinan; 2. Puskesmas Ingin Jaya 8 persalinan; 3. Puskesmas Montasik 7 persalinan; 4. Puskesmas Sukamakmur 5 persalinan;
dan
5. Puskesmas Seulimum 15 persalinan. Sampel didapatkan melalui teknik
accidental sampling dengan jumlah
sampel 43 bidan. Adapun kriteria inklusi adalah: ibu bersalin yang melakukan kunjungan persalinan di puskesmas PONED dan ibu bersalin dengan jenis persalinan normal maupun yang mengalami komplikasi.
Data primer dalam penelitian dengan pengamatan dan wawancara langsung kepada bidan yang bertugas di Puskesmas PONED dengan menggunakan Safe
Childbirth Checklist persalinan aman
WHO Tahun 201511. Analisis data
menggunakan uji chi-squere dan pengujian analisa data dengan menggunakan SPSS versi 23.
HASIL PENELITIAN
Hubungan Variabel Karakteristik
Bidan dengan kualitas Pelayanan
Persalinan di Puskesmas PONED
Bidan yang berumur lebih dari 42 tahun memberikan kualitas pelayanan persalinan baik (90,5%). Sebaliknya, kualitas pelayanan persalinan buruk, dengan umur kurang dari 42 tahun (31,8%). Akan tetapi, variabel umur memperoleh P-value sebesar 0,132 berarti tidak ada hubungan bermakna dengan kualitas pelayanan persalinan.
Kualitas pelayanan persalinan baik dilakukan oleh bidan berpendidikan DIV (100%) sementara kualitas pelayanan persalinan buruk diberikan oleh bidan dengan pendidikan DI/DIII (27,3%). Pendidikan bidang memperoleh nilai
P-value sebesar 0,089 yang berarti tidak ada
hubungan bermakna dengan kualitas pelayanan persalinan.
Status kepegawaian PNS memberikan kualitas pelayanan persalinan baik (84,6%). Sedangkan kualitas pelayanan persalinan buruk diberikan oleh pegawai Non PNS (75%). Variabel status kepegawaian memperoleh P-value sebesar 0,024 yang berarti ada hubungan bermakna dengan kualitas pelayanan persalinan.
Variabel lama masa kerja ≥10 tahun memberikan kualitas pelayanan persalinan baik (87,9%) dan kualitas pelayanan persalinan buruk diberikan oleh bidan dengan <10 tahun (50%). Hasil nilai
P-value sebesar 0,020 berarti ada hubungan
bermakna antara lama masa kerja dengan kualitas pelayanan proses persalinan.
Bidan yang pernah mengikuti pelatihan APN memberikan kualitas pelayanan proses persalinan yang baik (79,1%) walau terdapat 20,9% bidan yang mengikuti pelatihan APN tetapi memberikan kualitas pelayanan persalinannya buruk. Nilai
P-value tidak ada dikarenakan pelatihan
dianggap nilai konstan.
Tabel 1. Hubungan Variabel Umur, Pendidikan, Status Kepegawaian, Lama Masa Kerja, Pelatihan terhadap Kualitas Pelayanan Persalinan di Puskesmas PONED
Variabel Kualitas Pelayanan persalinanBuruk Baik Total P-value
n % n % N % Umur 0,132 < 42 7 31,8 15 68,2 22 100 ≥ 42 2 9.5 19 90,5 21 100 Total 9 20,9 34 79,1 43 100 Pendidikan 0,089 DI/DIII 9 27,3 24 72,7 5 100 DIV 0 0 10 100 10 100 Total 9 20,9 34 79,1 43 100 Setatus Kepegawaian 0,024 Non PNS 3 75 1 25 4 100 PNS 6 15,4 33 84,6 39 100 Total 9 20,9 34 79,1 43 100
Lama Masa Kerja
0,020 2-10 Tahun 5 50 5 50 10 100 ≥ 10 Tahun 4 12,1 29 87,9 33 100 Total 9 20,9 34 79,1 43 100 Pelatihan Konstan Tidak Pernah 0 0 0 0 0 0 Pernah 9 20,9 34 79,1 43 100 Total 9 20,9 34 79,1 43 100
PEMBAHASAN
Hubungan Umur dengan Kualitas Pelayanan Persalinan oleh Bidan
Usia yang lebih tua cenderung memiliki kualitas pelayanan proses persalinan yang lebih baik dibandingkan dengan usia yang lebih muda, hal ini mendukung teori bahwa produktifitas karyawan yang sudah lama bekerja di sebuah instansi artinya sudah bertambah usia, bisa mengalami peningkatan karena pengalaman, dan lebih bijaksana dalam pengambilan keputusan12. Namun
demikian, hasil survei di Amerika Serikat menunjukkan 93% pekerja usia lanjut sama baiknya dengan usia muda13.
Kekuatan fisik sangat diperlukan dalam melakukan pertolongan persalinan yang cepat dan tepat, hal ini untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan yang dapat terjadi selama proses persalinan.
Hubungan Pendidikan dengan Kualitas Pelayanan Persalinan oleh Bidan
Asumsi peneliti bahwa berdasarkan kurikulum DIII Kebidanan dengan DIV Kebidanan tidak jauh berbeda, masing-masing kurikulum terdapat mata kuliah tentang pertolongan persalinan, sehingga memiliki spesifikasi keahlian yang sama.
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia nomor
369/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan14 mencantumkan bahwa
bidan yang melaksanakan praktik adalah bidan dengan kualifikasi pendidikan DIII kebidanan. Tetapi kenyataannya masih banyak bidan dengan kualifikasi pendidikan DI. Meskipun kualifikasi DI, kinerjanya tidak kalah dibandingkan dengan bidan yang telah DIII. Hal ini dimungkinkan karena umumnya pendidikan bidan tersebut dengan dasar SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) sehingga ada kompetensi tentang asuhan perawatan secara umum dan tentunya pengalaman mereka jauh lebih banyak
dibandingkan yang lulus setelah tahun 200014.
Hubungan Status Kepegawaian dengan Kualitas Pelayanan Persalinan oleh Bidan.
Bidan PNS memiliki masa kerja yang lebih lama dibandingkan dengan Bidan Non PNS. Bidan yang lulus PNS adalah bidan yang melakukan bakti dalam kurun waktu tertentu di Puskesmas atau sebelumnya merupakan bidan PTT yang melakukan bakti di desa. Selain itu juga bekerja di instansi kesehatan lainnya seperti Bidan Praktek Swanta, sehingga bidan PNS memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan bidan Non PNS
Hubungan Lama Masa Kerja dengan Kualitas Pelayanan Persalinan oleh Bidan
Masa kerja berkaitan erat dengan pengalaman-pengalaman yang didapat selama dalam menjalankan tugas. Karyawan yang berpengalaman dipandang lebih mampu dalam melaksanakan tugas. Makin lama kerja seseorang kecakapan mereka akan lebih baik karena sudah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan. Masa kerja bidan di puskesmas PONED ini rata-rata di atas 10 tahun. Ini memperlihatkan bidan yang menangani kasus-kasus pesalinan baik yang normal maupun yang tidak normal sudah cukup berpengalaman.
Hubungan Pelatihan dengan Kualitas Pelayanan Persalinan oleh Bidan
Asumsi peneliti buruknya kualitas persalinan dikarenakan sebagian besar bidan di puskesmas PONED belum mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan. Padahal ini sangat membantu bidan dalam menangani kasus-kasus dengan komplikasi persalinan seperti preeklamsi. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan untuk
kasus preeklamsi hampir seluruhnya dirujuk ke rumah sakit tanpa dilakukan penanganan awal.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan karakteristik umur, bidang dengan usia yang lebih tua cenderung melakukan kualitas pelayanan persalinan yang baik. Karakteristik pendidikan bidan dengan jenjang pendidikan DI, DIII dan DIII cenderung dapat melakukan kualitas pelayanan proses persalinan dengan baik. Karakteristik lama masa kerja, bidan yang masa kerjanya ≥10 tahun cenderung melakukan kualitas pelayanan proses persalinan lebih baik. Berdasarkan karakteristik status kepegawaian, bidan PNS lebih cenderung melakukan kualitas pelayanan persalinan lebih baik dibandingkan dengan bidan yang Non PNS. Sementara, pelatihan APN tidak berhubungan dengan kualitass pelayanan proses persalinan.
Saran
Disarankan bagi pengelola puskesmas agar dapat melakukan evaluasi berkala untuk menilai pelaksanaan pelayanan persalinan serta mengevaluasi ketersediaan obat-obat penunjang, khususnya yang berhubungan dengan kegawat daruratan, seperti obat MGSO4 untuk penangannan preeklamsia. Memberikan kesempatan bidan untuk dapat mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan kemajuan ilmu kebidanan terkini, agar skill dari tenaga kesehatan terus terasah dapat menolong persalinan dengan kualitas yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. WHO., Trends in Meternal Mortality: 1990 to 2013. Estimates Developed by WHO, UNICEF, UNFPA and the World Bank.
Geneva, WHO; 2014.
2. Depkes RI., Profil Kesehatan Indonesia , Jakarta; 2013.
3. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh.,
Profil Kesehatan Provinsi Aceh,
Aceh; 2014.
4. Depkes RI., Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan 2005-2025, Jakarta; 2009.
5. Miller S, et. Al., Quality of Care in Istitutionalized Deliveries: the Paradox of Dominican Republic;
2003.
6. G. B., An Assessment of the Safe Delivery Incentive Program at a Tertiery Level Hospital in Nepal. J Nepal Health Res Counc; 2012
7. Souza J.P., Moving Beyond Essestial Interventions for Reduction Of Maternal Mortality (the WHO Multy-Country Survey on Maternal and Newborn Health): a Cross-Sectional Study, 2012
8. Depkes RI., Riset Kesehatan Dasar,
Jakarta; 2013
9. Dinas Kesehatan Aceh Besar., Profil Dinas Kesehatan Aceh Besar, Aceh
Besar; 2014
10. Spector, et. al., Improving Quality of Care for Maternal and Newborn Health: Prospective Pilot Study of the WHO Safe Childbirth Checklist Program, 2012
11. Siagian S.P., Manajemn Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT. Bumu
Aksara; 2008.
12. Budioro, Pengantar Administrasi Kesehatan Masyarakat, Semarang:
Universitas Diponegoro; 2011.
13. Kep Men Kes RI .no.
369/Menkes/SK/III/2007., Tentang Standar Profesi Bidan, Jakarta; 2007.
14. Suriani E., Analisis Karakteristik Individu dan Faktor Interinsik yang
Berhubungan dengan Kinerja
Bidan Desa Pelaksana Poliklinik Kesehatan Desa dalam Pelayanan Kesehatan Dasar di Kabupaten Kendal, Tesis,. Bandung; 2007.
KEMATIAN NEONATAL DI RUANG PERINATOLOGI RSUD TGK.
CHIK DI TIRO SIGLI PERIODE APRIL 2014 SAMPAI MARET 2016
Neonatal Death in the Perinatology Room of RSUD Tgk. Chik Di Tiro Sigli Period 2014 April until March 2016
Erlinawati1,Asnawi Abdullah2, danFaisal Abdurrahman3
1,2,3Magister Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, Aceh, 23245
[email protected],[email protected]2,[email protected]3
ABSTRAK
Latar Belakang:Dari seluruh kematian neonatal di Indonesia sebanyak 46,2% meninggal pada masa neonatus (usia di bawah 1 bulan). Data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tgk. Chik Di Tiro di Kabupaten Sigli menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kematian neonatal pada tahun 2015. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian neonatal.Metode: Penelitian ini bersifat analitik
melalui pendekatan retrospektif dengan rancangan penelitian case control dengan rasio 1:2. Populasi adalah neonatal berumur 0-28 hari di Ruang Rawat Perinatologi RSUD Tgk. Chik Ditiro selama periode April 2014 sampai dengan Maret 2016. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Hasil: Didapatkan
bahwa ada hubungan usia ibu (OR:2,4; P-value 0,001), preeklamsia-eklamsia (OR: 9,8; P-value 0,001), BBLR (OR: 3,6; P-value 0,001), ketuban pecah dini (OR: 1,9; P-value 0,001) dengan kematian neonatal. Tidak ada hubungan paritas (OR: 1,2; P-value 0,507), plasenta previa (OR: 1,3; P-value 0,429), asfiksia (OR: 1,4; P-value 0,137) dengan kematian neonatal. Faktor yang paling dominan yang berhubungan dengan kematian neonatal adalah preeklamsia-eklamsia (OR: 7,2; P-value 0,001). Kesimpulan: Bagi RSUD Tgk. Chik Ditiro sebagai
masukan dalam mengambil kebijakan kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk mencegah terjadinya komplikasi maternal dan menurunkan kematian neonatal.
Kata Kunci: Faktor Risiko, Kematian Neonatal
ABSTRACT
Background: All neonatal deaths in Indonesia, 46.2% died in the neonatal period (under 1 month of age). Data
from the Regional General Hospital (RSUD) Tgk. Chik Di Tiro in Sigli Regency showed that there was an increase in neonatal deaths in 2015. The purpose of this study was to determine the factors associated with neonatal death. Method: This study was analytical through a retrospective approach with a case control study design with a ratio of 1: 2. The population is neonatal aged 0-28 days in the Perinatology Nursing Room, RSUD Tgk. Chik Di Tiro during the period April 2014 to March 2016. Sampling uses random sampling techniques.
Results: It was found that there was a relationship between maternal age (OR: 2,4; P-value 0,001),
preeclampsia-eclampsia (OR: 9,8; P-value 0,001), LBW (OR: 3,6; P-value 0,001), premature rupture of membranes (OR: 1,9; P-value 0,001) with neonatal death. There was no parity relationship (OR: 1,2; P-value 0,507), placenta previa (OR: 1,3; P-value 0,429), asphyxia (OR: 1,4; P-value 0,137) with neonatal death. The most dominant factor associated with neonatal death was preeclampsia-eclampsia (OR: 7,2; P-value 0,001).
Conclusion: For RSUD Tgk. Chik Ditiro as input in taking health policies related to maternal and child health
to prevent the occurrence of maternal complications and reduce neonatal mortality.
PENDAHULUAN
Angka Kematian Neonatal (AKN) dari 32,3 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2005 turun menjadi 15,5 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 20151. Akan
tetapi AKN di Indonesia masih tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya5.
Indonesia telah menyepakati untuk meningkatkan kesehatan reproduksi wanita Indonesia, pentingnya safe motherhood meliputi masa sekitar kehamilan, persalinan dan pascasalin2.
AKN banyak berusia di bawah satu tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Neonatal baru lahir adalah neonatal yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran berbeda seperti neonatal saat di dalam rahim3. Masalah utama
neonatal pada masa perinatal dapat menyebabkan kematian, kesakitan dan kecacatan4.
Kematian neonatal dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi. Variabel antara yang mempengaruhi meliputi faktor maternal, kesehatan perorangan, lingkungan, gizi, luka dan pengendalian kesehatan perorangan.6 Kondisi
pertumbuhan janin di dalam uterus, kualitas pemeriksaan antenatal, penyakit ibu waktu hamil, penanganan persalinan dan perawatan sesudah lahir7. Kondisi
neonatalnya sendiri yaitu Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), neonatal prematur, dan kelainan congenital, asfiksia, kurangnya kesadaran akan kesehatan ibu8,10. Faktor plasenta antara lain kelainan
tali pusat, lepasnya plasenta, ketuban pecah dini, vasa previa. Terdapat faktor-faktor lain, seperti kelainan kongenital, afaksia neonatorum, insufiensi plasenta, perlukaan kelahiran, dan lain-lain. Dua hal yang banyak menentukan penurunan kematian neonatal ialah tingkat kesehatan gizi dan mutu pelayanan kebidanan yang tinggi di seluruh negeri9.
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, dari seluruh kematian neonatal di Indonesia sebanyak 46,2% meninggal
pada masa neonatal (usia dibawah 1 bulan). Penyebab kematian neonatal sebagian besar karena gangguan pernafasan/asfiksia (35,9%) dan neonatal BBLR (32,4%)11.
Profil kesehatan Provinsi Aceh pada tahun 2015 dilaporkan jumlah kematian pada neonatal sebanyak 982 orang dengan penyebab di antaranya: penyakit asfiksia, BBLR, gangguan kelainan saluran pernafasan, kelainan cacat kongenital, gangguan kelainan partus, demam, gangguan kelainan jantung, gangguan kelainan saluran cerna, aspirasi, diare, pneumonia, sepsis, infeksi serta penyakit lainnya12.
Data kesehatan Kabupaten Pidie pada tahun 2012 jumlah neonatal lahir adalah 8.532 jiwa dan AKN berjumlah 101 kasus3.
Survei pendahuluan yang peneliti lakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tgk. Chik Di Tiro di Sigli bahwa AKN April 2014 sampai dengan Maret 2015 berjumlah 61 kasus. Terjadi peningkatan kasus kematian neonatal pada tahun 2015 dengan data AKN pada April 2015 sampai Maret 2016 berjumlah 100 kasus.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat analitik melalui pendekatan retrospektif dengan rancangan penelitian case control. Populasi adalah neonatal berumur 0-28 hari di Ruang Rawat Perinatologi RSUD Tgk. Chik Di Tiro periode April 2014 sampai Maret 2016. Kelompok kasus adalah persalinan mengalami kematian neonatal dan kelompok kontrol adalah persalinan neonatal hidup. Teknik pemilihan sampel untuk kelompok kasus dengan mengambil total populasi persalinan yang mengalami kematian neonatal berjumlah 161 orang. Sampel dalam kelompok kontrol diambil secara probality sampling dengan perbandingan 1:2. Pengumpulan data pada penelitian ini berupa lembaran observasi data rekam medik. Analisa univariat, bivariat dan multivariat menggunakan program Stata 13.
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Hubungan Usia Ibu, Paritas Ibu, Preeklamsia, Asfiksia, BBLR, Ketuban Pecah Dini (KPD) dan Plasenta Previa dengan Kematian Neonatal
Variabel Kasus Neonatal Kontrol Total OR P-Value
f % f % Usia Ibu Risiko 59 36,6 63 19,6 122 2,4 0,001 Tidak risiko 102 63,4 259 80,4 361 Paritas Ibu Risiko 125 77,6 241 74,8 336 1,2 0,507 Tidak risiko 36 22,4 81 25,2 117 Preeklamsia Ada 40 24,8 9 2,8 49 9,8 0,001 Tidak ada 121 75,2 313 97,2 434 Asfiksia Asfiksia 111 68,9 200 62,1 311 1,4 0,137 Tidak asfiksia 50 31,1 122 37,9 172 BBLR BBLR 92 57,1 91 28,3 183 3,6 0,001 Normal 69 42,9 231 71,7 300 KPD KPD 86 53,4 120 37,3 206 1,9 0,001 Tidak KPD 75 46,6 202 62,7 277 Plasentaprevia Plasenta previa 17 10,6 27 8,4 44 1,3 0,429 Tidak ada 144 89,4 295 91,6 439
Hubungan Usia Ibu dengan Kematian Neonatal
Ibu hamil berumur di bawah 20 tahun dapat meningkatan risiko persalinan komplikasi. Demikian juga ibu berumur di atas 35 tahun mempunyai risiko untuk mengalami komplikasi kehamilan9.
Penelitian sebelumnya oleh Prabamurti (2008), Sari (2012), dan Suparjono (2003)
menunjukkan ada korelasi antara umur ibu dengan kematian neonatal13,14,15. Asumsi
peneliti, usia ibu mempengaruhi terjadinya kematian neonatal disebabkan oleh kondisi fisik ibu dan pemenuhan nutrisi selama hamil tidak terpenuhi dan kurangnya perawatan masa hamil.
Hubungan Paritas dengan Kematian Neonatal
Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Penelitian oleh Prabamurti (2008) dan Sari (2012) menunjukkan bahwa ada korelasi antara paritas ibu dengan kematian neonatal13,14.
Asumsi peneliti bahwa kematian neonatal cenderung meningkat pada paritas yang berisiko dibuktikan dari hasil penelitian ini menunjukkan ibu dengan primipara lebih banyak mengalami kematian neonatal dari pada ibu dengan multipara dan grande multipara pada kelompok kasus dan juga kelompok kontrol.
Hubungan Preklamsia dengan
Kematian Neonatal
Dampak preklamsia dapat menyebabkan aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta, sehingga terjadi gangguan
pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin.8 Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian Miske (2015) mendapatkan riwayat obstetrik16. Asumsi peneliti, kematian
neonatal cenderung meningkat pada ibu hamil menderita preklamsia dibuktikan dari hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa ibu dengan pre eklamsia lebih banyak mengalami kematian neonatal dari pada ibu yang tidak mengalami preklamsia.
Hubungan Asfiksia dengan Kematian Neonatal
Asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat neonatal yang tidak dapat bernafas teratur17. Hasil penelitian ini tidak sejalan
dengan penelitian Prabamurti (2008), Yuliawati (2013), dan Mahmudah (2010) dimana persentase neonatal mengalami asfiksia lebih banyak meninggal pada usia neonatal, sedangkan neonatal tidak asfiksia kasus yang hidup lebih banyak, dibandingkan dengan yang mati13.
Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya karena kejadian asfiksia banyak juga terdapat pada kelompok kontrol sehingga tidak menunjukkan sebagai faktor risiko kematian neonatal.
Hubungan BBLR dengan Kematian Neonatal
Penelitian yang dilakukan oleh Neatasi (2009), Prabamurti (2008), dan Hermin (2013) menunjukkan bahwa ada hubungan BBLR13,. Peneliti dapat berasumsi bahwa BBLR dapat berpengaruh pada kematian neonatal disebabkan karena neonatal belum cukup matur, gizi kurang, dan daya tahan tubuh yang lemah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok kasus lebih banyak terdapat persentase BBLR dibandingkan dengan kelompok control. Ini berarti BBLR memiliki andil yang besar dalam meningkatkan risiko kematian neonatal.
Hubungan KPD dengan Kematian Neonatal
Peneliti dapat berasumsi bahwa KPD merupakan salah satu faktor penentu terhadap kematian neonatal dilihat dari persentase KPD lebih tinggi pada kasus dibandingkan pada kelompok kontrol dengan neonatal hidup. Dari hal ini dapat dilihat perbandingan antara kejadian KPD terhadap kejadian kematian neonatal lebih rendah dari pada jumlah kelahiran yang tidak mengalami KPD dan kematian neonatal, sehingga hal ini mempengaruhi tingkat hubungan antara KPD dengan kematian neonatal.
Hubungan Plasenta Previa dengan Kematian Neonatal
Pemeriksaan USG berulang perlu dilakukan secara berkala dalam asuhan intranatal atau antenata.9. Menurut asumsi
peneliti plasenta previa tidak selalu menjadi risiko utama kematian neonatal. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian persentase kejasian plasenta previa tidak jauh berbeda pada kelompok kasus (neonatal mati) dan kelompok control (neonatal hidup). Ini menunjukkan bahwa pada kematian neonatal tidak berhubungan dengan plasenta previa.
Tabel 2. Faktor Risiko Dominan yang
Berhubungan dengan Kematian
Neonatal Kematian Neonatal OR P 95% CI Usia ibu 1,7 0,034 1,0-2,9 Preeklamsia 7,3 0,000 3,2-16,8 BBLR 3,4 0,000 5,1-5,5 KPD 2,1 0,002 1,3-3,2
Hasil uji statistik menunjukkan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kematian neonatal adalah preklamsia. Mengindikasikan bahwa preklamsia adalah faktor risiko paling dominan 7 kali lipat neonatal meninggal dibandingkan
dengan faktor risiko lainnya.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu, paritas, preeklamsia, asfiksia, BBLR, KPD dengan kematian neonatal. Sementara kejadian plasenta previa tidak menunjukkan meningkatkan kematian neonatal. Dari semua faktor yang menunjukkan hubungan kematian neonatal, preeklamsia sebagai faktor yang paling dominan.
Saran
Rumah sakit agar dapat meningkatkan pendidikan kesehatan pada ibu hamil untuk menghindari faktor risiko hamil pada usia terlalu muda atau atau terlalu tua, paritas tinggi, preeklamsia, BBLR, KPD dan plasenta previa dan rajin melakukan kunjungan antenatal care.
DAFTAR PUSTAKA
1 Kemenkes. Profil Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2012.
2 Achadi. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Departemen
Kesehatan Masyarakat FKUI; 2008. 3 Saifuddin B. Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 1, editor. Jakarta Pusat:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2010.
4 BPS. Angka Kematian Neonatal. In:
Statistik B.P., editor. 2013.
5 Depkes R. Profil Kesehatan RI.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2005.
6 Simbolon D. Kelangsungan Hidup Neonatal di Perkotaan dan Pedesaan Indonesia. KESMAS, Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional. 2006.
7 Winkjosastro. Ilmu Kebidanan. 4,
editor. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2013.
8 Abdullah A. Faktor risiko kematian neonatal di Provinsi Nusa Tenggara Timur: A matched Case-Control Study. Australia Indonesia Partneership
for Maternal and Neonatal Health. 2015. 9 Kemenkes. Profil Kesehatan Republik Indonesia 2013. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2014.
10 Dinkes Prov. Aceh. Profil Kesehatan Provinsi Aceh 2015. Banda Aceh:
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh; 2015. 11 Prabamurti P.P. Analisis Faktor
Risiko Status Kematian Neonatal Studi Kasus Kontrol di Kecamatan Losari Kabupaten Brebes Tahun 2006. Jurnal Promosi Kesehatan
Indonesia. 2006;Vol. 3 / No. 1 / Januari 2008.
12 Sari. Faktor resiko yang mempengaruhi kematian neonatal di RSIA Pertiwi Makassar. Program
Studi D3 Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar. Volume 1 Nomor 2 Tahun 2012; 2012.
13 Suparjono. Beberapa Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian
Kematian Perinatal di Kabupaten Kulon Progo; 2003.
14 Miske. Faktor Risiko Kejadian Kematian Janin Dalam Rahim Di Rskdia Siti Fatimah Makassar.
Bagian Epidemiologi FKM Universitas Hasanuddin; 2015.
15 Mahmudah. Analisis Faktor Ibu Dan Bayi Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kematian Perinatal Di Kabupaten Batang Tahun 2010.
Jurusan IKM Fakultas Ilmu Keolahragaan; 2010.
16 Neatasi. Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kematian
Neonatal di Kota Kupang Tahun 2009. MKM Vol. 6 No. 2 Juni 2012.
DETERMINAN HEALTH LITERACY PADA IBU MENYUSUI
DI RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN DI BANDA ACEH
Health Literacy Determinant Towards Breasfeeding in dr. Zainoel Abidin General Hospital in Banda Aceh
Namira Yusuf1,Sri Rahayu Sanusi2, danDefriman Djafri3
1Magister Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, Aceh, 23245 2Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
3Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas
[email protected],[email protected]2,3[email protected] ABSTRAK
Latar Belakang: Capaian pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif di Provinsi Aceh pada tahun 2013 adalah
49,6% yang menunjukkan belum mencapai angka yang diharapkan yaitu sebesar 80%. Hal ini berkaitan dengan
health literacy yang rendah sehingga berpengaruh buruk pada perilaku kesehatan. Penelitian ini akan mengkaji
determinan Health literacy pada ibu menyusui di Ruang Serunee 3 di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) di Banda Aceh.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu post partum di ruang Serune 3 RSUDZA. Jumlah sampel sebanyak 70 orang pengambilan sampel secara accidental sampling. Hasil:
Hasil uji statistik tidak ada hubungan usia dengan health literacy (P-value = 0,425), ada pengaruh pendidikan (P-value = 0,029), pekerjaan (P-value = 0,034), pendapatan (P-value = 0,007), wilayah tempat tinggal (p
value= 0,000), peran keluarga (P-value = 0,024), peran petugas kesehatan (P-value = 0,019), informasi dari
media (P-value = 0,001) terhadap health litercy pada ibu menyusui.Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian
ini pendidikan, wilayah tempat tinggal dan media merupakan faktor yang paling berpengaruh dengan health
literacy pada ibu menyusui di Ruang Serunee 3 RSUDZA Banda Aceh. Kata Kunci: Determinan, Health, Literacy, Ibu Menyusui.
ABSTRACT
Background: The achievement of exclusive breastfeeding (ASI) in Aceh Province in 2013 was 49.6% which
showed that it had not reached the expected rate of 80%. This is related to low health literacy which has a negative effect on health behavior. This study will examine the determinants of Health literacy in nursing mothers in the Serunee Room 3 at the Regional General Hospital, dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) in Banda Aceh.
Method: This study was an observational analytic study using a cross sectional design. The population in the
study were all post partum mothers in the Serune 3 RSUDZA room. The number of samples is 70 people taking samples by accidental sampling. Results: Statistical test results have no correlation between age and health literacy (P-value = 0.425), there is an influence of education (P-value = 0.029), occupation (P-value = 0.034), income (p value = 0.007), area stay (P-value = 0,000), family role (P-value = 0.024), the role of health workers (P-value = 0.019), information from the media (P-value = 0.001) on literacy in nursing mothers. Conclusion: The conclusion of this study is education, residential area and media are the most influential factors with health literacy in nursing mothers in Serunee Room 3 RSUDZA Banda Aceh.
PENDAHULUAN
Angka pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif pada bayi hanya mencapai angka 30,2%. Sedangkan persentase cakupan pemberian ASI ekslusif di Provinsi Aceh adalah 49,6%1. Angka yang relatif masih
sedikit. Padahal dengan ASI dan menyusui baik ibu dan bayinya akan mendapatkan banyak manfaat.
Informasi yang diberikan pemerintah dan tenaga kesehatan pada ibu tentang promosi ASI akan mempengaruhi keputusan ibu untuk pemberian makan bayi terutama dalam hal pemberian ASI. Meskipun demikian di Inggris promosi kampanye ASI sering dilaksanakan dan sangat mendidik perempuan tentang manfaat ASI, hal ini tidak menghalangi mereka untuk memberikan susu formula pada bayinya2.
Di Indonesia, data mengenai health
literacy masih sangat terbatas. Namun
terdapat bukti yang menjelaskan kondisi terkait health literacy yang rendah. Penelitian di Semarang menunjukkan bahwa kurangnya kesadaran untuk mengakses pelayanan kesehatan, tidak ada rasa ingin tahu akan informasi kesehatan yang dibutuhkan dan tidak menerapkan informasi yang telah didapat untuk membuat keputusan dalam hal kesehatan3. METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan desain cross-sectional.
Populasi adalah seluruh ibu post partum di ruang Serune 3 di Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUDZA). Jumlah sampel sebanyak 70 orang sampel diambil secara
accidental sampling. Hasil penelitian
dianalisis menggunakan uji statistik
chi-square (α 0,05).
HASIL PENELITIAN
Hasil statistik univariat dan bivariat dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan
distribusi frekuensi health literacy pada ibu menyusui di RSUDZA menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki
health literacy rendah (58,6%), usia
dewasa (77,1%), pendidikan menengah (60%), tidak bekerja (62,9%), pendapatan rendah (60%), tinggal di wilayah pedesaan (57,1%), peran keluarga kurang (72,9%), peran petugas kurang (64,3%), dan peran media cukup (55,7%).
PEMBAHASAN
Hubungan Usia dengan Health Literacy
Diperoleh kesimpulan tidak terdapat hubungan usia dengan health literacy
(P-value = 0,425) sejalan dengan hasil
penelitian Irma4. Menurut peneliti, karena
pada saat ini akses informasi terhadap berbagai media sangat mudah, sehingga semua kalangan baik muda maupun dewasa sudah dapat mengakses informasi tentang kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan responden usia muda maupun dewasa sama-sama memiliki
health literacy yang rendah.
Hubungan Pendidikan dengan Health
Literacy
Penelitian ini menunjukkan semakin tinggi pendidikan maka health literacy yang dimiliki juga akan semakin tinggi
(P-value = 0,029). Tingkat pendidikan
mempengaruhi kualitas seseorang dalam mengakses informasi kesehatan yang tersedia baik informasi online maupun media cetak. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Irma4 menunjukkan tidak
adanya hubungan antara umur dengan
health literacy seseorang.
Hubungan Pekerjaan dengan Health
Literacy
Terdapat hubungan antara ibu yang bekerja dengan health literacy. Hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas di luar rumah maka health literacy yang
dimiliki juga akan semakin tinggi (P-value = 0,034). Diasumsikan responden yang memiliki pekerjaan mempunyai akses
informasi yang lebih baik. Jenis pekerjaan mempengaruhi tingkat health literacy seseorang5.
Tabel 1. Hubungan Usia, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Wilayah Tinggal, Petugas Kesehatan, dan Media terhadap Health Literacy pada Ibu Menyusui di RSUDZA Tahun 2016
Variabel TinggiHealth LiteracyRendah n P-value
Usia Muda 8 (50%) 8 (50%) 16 0,425 Dewasa 21 (38,9%) 33 (61,1%) 54 Pendidikan Tinggi 16 (57,1%) 12 (42,9%) 28 0,029 Menengah 13 (93,1%) 29 (69,0%) 42 Pekerjaan Bekerja 15 (57,7%) 11 (42,9%) 26 0,034 Tidak bekerja 14 (31,8%) 30 (68,2%) 44 Pendapatan Tinggi 17 (60,7%) 11 (39,3%) 28 0,007 Rendah 12 (28,6%) 30 (71,4%) 42 Wilayah Perkotaan 23 (76,7%) 7 (36,8%) 19 0,001 Pedesaan 6 (15,0%) 34 (85,%) 40 Peran keluarga Baik 12 (62,3%) 7 (36,8%) 19 0,001 Kurang 17 (33,3%) 34 (66,7%) 51 Petugas kesehatan Baik 15 (60,0%) 10 (40,0%) 25 0,019 Kurang 14 (31,1%) 31 (68,9%) 45 Media Cukup 23 (59,0%) 16 (41,0%) 39 0,001 Kurang 6 (19,4%) 25 (80,6%) 31
Hubungan Pendapatan dengan Health
Literacy
Hasil penelitian ini menunjukkan semakin tinggi pendapatan keluarga maka
health literacy yang dimiliki juga akan
semakin tinggi (P-value = 0,007). Diasumsikan responden yang memiliki tingkat pendapatan tinggi akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena memiliki beberapa kemudahan seperti mudah mendapatkan pendidikan dan informasi. Penelitian di berbagai negara menunjukkan keterkaitan antara pendapatan yang rendah dengan tingkat
health literacy yang rendah juga6. Namun,
berbeda dengan penelitian Irma4
bahwasanya uang saku tidak berhubungan dengan health literacy.
Hubungan Wilayah dengan Health
Literacy
Hasil penelitian menunjukkan semakin dekat tempat tinggal dengan perkotaan maka health literacy yang dimiliki juga akan semakin tinggi (P-value = 0,001) serupa dengan penelitian Oktarina7. Hasil
penelitian dapat diasumsikan responden yang tinggal di wilayah perkotaan
memiliki kemudahan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan informasi kesehatan, media informasi seperti brosur, majalah dan koran yang memuat artik Ten tentang ASI eksklusif lebih mudah dijumpai di perkotaan.
Hubungan Keluarga dengan Health
Literacy
Hasil penelitian menunjukkan semakin baik dukungan keluarga maka health
literacy yang dimiliki juga semakin tinggi
(P-value = 0.024). Ayah berperan dalam proses menyusui dengan memberikan dukungan moral dan kasih sayang maka informasi lebih mudah diterima. Penelitian Februhartanty8 dan Syecha9 menunjukkan
ada hubungan antara peran ayah dengan keberihasilan menyusui. Komunikasi yang terjalin secara intens menyebabkan informasi yang didapatkan dari keluarga termasuk sering didapat, termasuk dalam hal kesehatan
Hubungan Peran Petugas Kesehatan dengan Health Literacy
Hasil penelitian menunjukkan semakin baik peran petugas kesehatan maka health
literacy yang dimiliki juga akan semakin
tinggi (P-value = 0,019). Ditemukan tidak semua responden memperoleh informasi kesehatan dari petugas kesehatan terutama responden yang berasal dari wilayah pedasaan sementara informasi dari tenaga kesehatan sangat mudah dipahami oleh responden. Penelitian Ishikawa10
menunjukkan kemelekan pasien berhubungan dengan proses komunikasi dengan tenaga kesehatan.
Hubungan Media dengan Health
Literacy
Hasil penelitian menunjukkan semakin banyak informasi yang diperoleh dari media maka health literacy yang dimiliki juga akan semakin tinggi (P-value = 0,001) sama dengan penelitian Syecha9. Diketahui
responden cukup memperoleh informasi dari media internet kemudian diikuti media cetak dan hanya sebagian kecil memperoleh dari media radio dan televisi. Seiring perkembangan teknologi informasi, internet memiliki peran yang penting dalam penyebaran informasi kesehatan12.
Internet menawarkan akses informasi kesehatan yang bersifat universal dan terbaru, serta makin tak terhalang tempat dan waktu13.
Faktor Dominan yang Berhubungan dengan Health Literacy
Hasil analisis multivariat diketahui variabel pendidikan, wilayah tempat tinggal dan media informasi merupakan variabel yang paling berhubungan dengan
health literacy. Sementara penelitian
Nazmi14 menunjukkan beberapa faktor
berhubungan dengan literacy kesehatan adalah status rumah/tempat tinggal dan pendidikan.
Menurut peneliti responden yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi memiliki skor literacy kesehatan yang lebih baik dari pada yang berpendidikan rendah. Pendidikan tinggi lebih banyak ditemui pada masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, karena fasilitas pendidikan di perkotaan memiliki jumlah dan kualitas lebih baik. Responden yang tinggal di wilayah perkotaan maka akses terhadap informasi juga semakin baik karena akses ke sarana informasi di perkotaan lebih mudah. Hal ini dapat dilihat dengan tersedianya fasilitas internet seperti wifi di warung kopi, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya. Keputusan-keputusan kesehatan yang baik memerlukan informasi kesehatan yang komprehensif, dapat diakses serta sesuai dengan kebutuhan dan latar belakang sosial budaya individu11.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendidikan, pekerjaan, peran keluarga,
peran petugas kesehatan dan media berhubungan dengan health literacy pada ibu menyusui di Ruang Serunee 3 di RSUDZA. Hasil analisis multivariat menunjukkan pendidikan, wilayah tempat tinggal dan media merupakan faktor yang paling berhubungan dengan health literacy.
Perlu adanya penyuluhan aktif atau perkumpulan terhadap ibu hamil dan ibu menyusui tentang ASI. Serta optimalisasi sumber informasi yang digemari oleh ibu untuk mendapatkan informasi kesehatan sesuai sosial budaya seperti bahasa, media, serta cara penggunaannya.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. Kemenkes. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kemenkes RI; 2013.
2. Gillis DE. Exploring Dimensions of
Health Literacy: A Case Study of Interventions to Promote and Support Breastfeeding: University of
Nottingham; 2009.
3. Fajar WR. Health Literacy Klien Voluntary Counselling and Testing (Vct) di Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang Tahun 2014. Skripsi,
Fakultas Kesehatan. 2015.
4. Irma MD. Hubungan Karakteristik dengan Health Literacy Mahasiswa
Universitas Dian Nuswantoro
Semarang Tahun 2016. Skripsi,
Fakultas Kesehatan. 2016.
5. Nurjanah SS, Enny Rachmani.Health
Literacy pada Mahasiswa
Kesehatan, Sebuah Indikator
Kompetensi Kesehatan yang
Penting Semarang: Universitas Dian
Nuswantoro; 2015.
6. Edward O, D Walter Rasugu. Health
literacy and Immigrants in Canada: Determinants and Effects on Health Outcomes: Canadian Council on Learning; 2010.
7. Oktarina O, Hanafi F, Budisuari MA.
Hubungan antara Karakteristik
Responden, Keadaan Wilayah
dengan Pengetahuan, Sikap
terhadap HIV/AIDS pada
Masyarakat Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 2009;12(4).
8. Februhartanty J, Muslimatun S, Utomo B, Suradi R. Strategic Roles of
Fathers in Optimizing Breastfeeding Practices (a Study in an Urban Setting of Jakarta). Annals of
Nutrition and Metabolism. 2009;55:233-4.
9. Syecha PN. Hubungan Akses
Informasi Kesehatan Dengan
Health Literacy Mahasiswa
Universitas Dian Nuswantoro
Semarang. Skripsi, Fakultas
Kesehatan. 2016.
10. Santosa KS. Faktor–Faktor yang
Berhubungan dengan Tingkat
Kemelekan Kesehatan Pasien
Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Kiara. Universitas Indonesia Jakarta.
2012.
11. Nutbeam D. Health Literacy as a
Public Health Goal: a Challenge for Contemporary Health Education and Communication Strategies into the 21st century. Health promotion
international. 2000;15(3): 259-67. 12. McCray AT. Promoting health
literacy. Journal of the American Medical Informatics Association.
2005;12(2):152-63.
13. White S. Assessing the Nation’s
Health Literacy. Key Concepts And Findings Of The National Assessment Of Adult Literacy.
Chicago, IL: sAmerican Medical Association. 2008.
14. Nazmi R, PBazargan. Journal Of
Behavioral Sciences In Asia. Journal of Behavioral Sciences in Asia.
DETERMINAN PENGGUNAAN PARTOGRAF OLEH BIDAN PADA
PERTOLONGAN PERSALINAN DI PUSKESMAS TERPENCIL
KABUPATEN PIDIE
Determinants of the Use of Partograph in Delivery Aid by Midwife in Remote Community Health Centers in Pidie District
Marzaleni1,Melania Hidayat2, danHafnidar A. Rani3
1,2,3Magister Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, 23245
[email protected],[email protected]2,[email protected]3
ABSTRAK
Latar Belakang: Partograf merupakan alat bantu dalam pemantauan kemajuan persalinan, namun tingkat
penggunaan partograf di Kabupaten Pidie masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan penggunaan partograf oleh bidan pada pertolongan persalinan di puskesmas terpencil di Kabupaten Pidie pada tahun 2016. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Populasi adalah bidan penolong persalinan dengan total sample, sejumlah 55 orang. Uji chi-square digunakan untuk bivariat dan logistic regresi untuk multivariat. Hasil:
Penggunaan partograf oleh bidan dipengaruhi oleh pengetahuan (P-value = 0,005), persepsi tentang manfaat partograf (P-value = 0,016), form partograf (P-value = 0,005), dan pelatihan (P-value = 0,001). Lama bekerja tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan penggunaan partograf oleh bidan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa determinan yang mempengaruhi penggunaan partograf oleh bidan adalah adanya ketersediaan form partograf (OR 65,1). Kesimpulan: Ketersediaan formulir partograf sangat mempengaruhi
penggunaan partograf oleh bidan pada pertolongan persalinan di Puskesmas terpencil Kabupaten Pidie diikuti beberapa faktor yang lainnya. Disarankan kepada Dinas Kesehatan memastikan pengetahuan dan persepsi terhadap manfaat partograf dievaluasi sejak dari pendidikan, dan menjamin ketersediaan formulir di setiap ruang bersalin.
Kata Kunci: Partograf, Bidan, Puskesmas Terpencil.
ABSTRACT
Background: The partography is a tool in monitoring the progress of labor, but the level of use of partograph
in Pidie District is still very low. This study aims to determine the determinant of the use of partograph by midwives in childbirth assistance in remote health centers in Pidie District in 2016. Method: This study was descriptive analytic with cross-sectional design. Data collection using a questionnaire. The population is a birth attendant midwife with a total sample of 55 people. Chi-square test was used for bivariate and logistic regression for multivariate. Results: The use of partograph by midwives was influenced by knowledge (P-value = 0,005), perceptions of the benefits of partograph (P-value = 0,016), form partograph (P-value = 0,005), and training (P-value = 0,001). The duration of work did not show a significant effect on the use of partograph by midwives. Multivariate analysis showed that the determinant affecting the use of partograph by midwives was the availability of partograph forms (OR 65,1). Conclusions: The availability of partograph forms strongly influenced the use of partograph by midwives in delivery assistance in the remote Puskesmas of Kabupaten Pidie followed by several other factors. It is recommended that the Department of Health ensure that knowledge and perceptions of the benefits of partographs have been evaluated since education, and guarantee the availability of forms in each delivery room.
PENDAHULUAN
Partograf berperan penting dalam mencegah kematian ibu dan janin serta memantau kemajuan proses persalinan, sehingga penolong persalinan dapat membuat keputusan klinis agar dapat memberikan tindakan yang tepat dan memadai1,4. Menurut WHO salah satu
penyebab terjadinya kematian ibu dan janin disebabkan penolong persalinan tidak menggunakan partograf2.
Diperkirakan 20% persalinan mengalami komplikasi yang mengancam jiwa. Penggunaan partograf pada kala I akan menghindari terjadinya pecah rahim (ruptura uteri), asfiksia janin, cacat otak dan fisik pada janin, serta infeksi3. Pada
kala II, partograf dapat mencegah terjadinya partus lama, sedangkan pada kala III partograf berfungsi untuk mencegah terjadinya perdarahan dengan pemantauan his dan obat–obatan yang harus diberikan, dan pada kala IV partograf berfungsi sebagai alat untuk memantau perdarahan yang disebabkan oleh robekan jalan lahir dan atonia uteri3.
Survey Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menemukan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 359/100.000 kelahiran hidup7,
angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di Asean. Jumlah AKI di provinsi Aceh tahun 2012 sebanyak 170 kasus dan daerah terbanyak yang berkontribusi adalah salah satunya Kabupaten Pidie 226.
Penggunaannya di Kabupaten Pidie masih minim, bahkan beberapa puskesmas tidak menyediakan partograf di ruang bersalin5. Belum semua bidan yang
menolong persalinan menggunakan partograf sehingga kemungkinan terlambat dalam mendeteksi dini kelainan pada ibu dapat terjadi7. Dari beberapa survei di
rumah sakit rujukan didapatkan bahwa hanya Kabupaten Pidie dalam satu tahun terakhir tidak lagi melampirkan partograf dalam melakukan rujukan7.
Pentingnya pemantauan persalinan
secara tepat sangat dibutuhkan untuk dapat menurunkan kematian ibu dan bayi. Terlebih di daerah terpencil dimana setelah terdeteksi kelainan pada ibu dan janin juga kemungkinan hambatan yang didapat dalam perjalan menuju rumah sakit rujukan, seperti longsor. Di Kabupaten Pidie bidan yang melakukan pertolongan persalinan masih belum menggunakannya secara maksimal, sehingga kelainan pada ibu tidak dapat di deteksi secara dini9.
Tujuan penelitian ini menganalisis penggunaan partograf oleh bidan saat persalinan di puskesmas terpencil di Kabupaten Pidie dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaannya.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian kuantitatif ini dengan desain
cross-sectional study. Sampel adalah total population yaitu seluruh bidan yang
menolong persalinan di puskesmas-puskesmas terpencill dalam wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie dengan jumlah 55 orang. Pengumpulan data menggunakan data primer yaitu dengan penyebaran kuesioner oleh peneliti melalui metode wawancara. Data diolah dengan mengunakan aplikasi program STATA 13.Analisis data dilakukan secara statistik meliputi analisis univariat, bivariat dan multivariat.
HASIL PENELITIAN Analisis Univariat
Analisa univariat menunjukkan proporsi mayoritas pada bidan yang menggunakan partograf pada saat persalinan sebesar 43,6%, bidan dengan masa kerja baru sebesar 52,7%, bidan yang mengikuti pelatihan partograf sebesar 41,9%, ketersediaan formulir partograf sebesar 61,8%, bidan dengan pengetahuan tinggi sebesar 49,1%, dan bidan yang berpesepsi baik terhadap manfaat partograf sebesar 67,2%.
Analisis Bivariat
Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara masa kerja dengan penggunaan partograf (P = 0,368). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara ketersediaan formulir dengan penggunaan partograf oleh bidan saat persalinan (P = 0,001). Ada hubungan
antara pelatihan bidan dengan penggunaan partograf (P = 0,006). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan partograf oleh bidan saat persalinan (P = 0,005). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara persepsi bidan terhadap manfaat partograf dengan penggunaan partograf dengan P = 0,016.
Tabel 2. Pengaruh Masa Kerja, Ketersediaan Formulir, Pelatihan, Pengetahuan, dan Persepsi Manfaat dengan Penggunaan Partograf oleh Bidan
Variabel Ya (%)Penggunaan PartografTidak (%) Total % P-value
Masa Kerja Baru 11 (37.9) 18 (62.7) 29 (100) 0,368 Lama 13 (50) 13 (50) 26 (100) Ketersediaan Formulir Tersedia 23 (67,6) 11 (32,3) 34 (100) 0,001 Tidak tersedia 1 (4) 20 (95,2) 21 (100) Pelatihan Ada 15 (65,2) 8 (34,8) 23 (100) 0,006 Tidak ada 9 (28,1) 23 (71,9) 32 (100) Pengetahuan Tinggi 17 (62,9) 10 (37) 27 (100) 0,005 Rendah 7 (25) 21 (75) 28 (100) Persepsi Manfaat Baik 12 (50) 6 (33,3) 18 (100) 0,016 Kurang 12 (32,4) 25 (67,5) 37 (100)
Hasil Analisis Multivariat
Tabel 2. Determinan Penggunaan Partograf oleh Bidan
Variabel OR P CI 95% Ketersediaan Form 65.13 0.002 4.49–43.8 Pengetahuan Bidan 11.43 0.009 1.81–71.87 Persepsi Manfaat Partograf 11.20 0.019 1.47–84.98
Ketersediaan formulir memilki hubungan bermakna dengan penggunaan partograf oleh bidan dengan OR 65.13. Artinya jika adanya ketersediaan partograf maka mempunyai kecenderungan 65.13 kali bidan akan menggunakan partograf pada pertolongan persalinan dibandingkan
tidak ada.
PEMBAHASAN
Hubungan Masa Kerja dengan
Penggunaan Partograf
Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara masa kerja bidan dengan penggunaan partograf. Hasil yang berbeda didapatkan pada penelitian oleh Oktavia (2013) dimana ada hubungan antara masa kerja dengan kelengkapan pengisian lembar partograf di Ngemplak Bayolali10.
Pengaruh Pelatihan dengan
Penggunaan Partograf
Ada hubungan antara pelatihan dengan penggunaan partograf oleh bidan dimana
bidan pernah mengikuti pelatihan berjumlah lebih yang menggunakan partograf (65.2%) dibandingkan bidan yang tidak (28.1%). Kompetensi berarti bidan yang telah dilatih akan mengetahui langkah, urutan yang benar dan tepat dalam melaksanakan prosedur pertolongan persalinan11. Bidan tidak menggunakan
partograf disebabkan belum mengetahui cara menggunakan partograf karena minimnya pelatihan. Nyamtema et al. (2008) mengungkapkan buruknya pengelolaan persalinan mengindikasikan perlunya pelatihan in-service tentang pentingnya dokumentasi dan audit partograf secara teratur12.
Pengaruh Ketersediaan Formulir
dengan Penggunaan Partograf
Penelitian menunjukkan ada hubungan antara ketersediaan formulir dengan penggunaan partograf oleh bidan yang sejalan dengan penelitian Amartha (2017)13. Gans-Lartey et al. (2013),
menyatakan kelengkapan sarana dan prasarana dalam memberikan pelayanan merupakan dukungan penting untuk mencapai kinerja sebuah intitusi14. Dalam
teori Green, ketersediaan sumber daya sarana dan prasarana berkaitan dengan pelayanann kesehatan untuk menjaga mutu pelayanan yang diberikan15.
Pengaruh Pengetahuan dengan
Penggunaan Partograf
Penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan bidan dengan penggunaan partograf oleh bidan (P = 0.005) sama dengan penelitian Widia (2014)20 dan Mobiliu (2011)17.
Toemandoek et al. (2015) menyebutkan bidan dapat mengisi partograf secara baik dan benar dikarenakan pada saat pendidikan sudah dipersiapkan untuk menolong secara profesional dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap profesi16. Jacqueline P. (2015) juga
mengatakan pengetahuan dan kemampuan
dalam mengisi partograf diperlukan oleh tenaga kesehatan untuk mematau kesehatan ibu bersalin18.
Pengaruh Persepsi Manfaat dengan Penggunaan Partograf
Penelitian menunjukkan ada hubungan persepsi manfaat terhadap penggunaan partograf oleh bidan (P = 0,016). Bidan yang mempunyai persepsi baik terhadap manfaat partograf cenderung menggunakan partograf dibandingkan bidan yang mempunyai persepsi kurang baik terhadap manfaat partograf. Seorang bidan dalam melakukan perilaku positif dengan selalu menggunakan partograf setiap menolong persalinan bidan tersebut sudah pasti mempunyai persepsi yang baik15.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Penggunaan partograf sebagai alat pantau proses persalinan masih sangat sedikit digunakan, dimana bidan di puskesmas terpencil hanya 43.6% menggunakan partograf pada saat proses persalinan dan 56.3% bidan belum menggunakannya. Selanjutnya tidak adanya pengaruh masa kerja dengan pengisian partograf. Determinan faktor adalah pelatihan, ketersediaan formulir partograf, pengetahuan, dan persepsi bidan terhadap manfaat partograf di puskesmas terpencil di Kabupaten Pidie.
Saran
Disarankan kepada bidan dalam melakukan pertolongan persalinan harus sesuai prosedur tetap asuhan pertolongan persalinan normal, dan perlunya bidan
update ilmu melalui pelatihan dan seminar.
DAFTAR PUSTAKA